Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Konservasi energi akan mendatangkan manfaat bukan hanya untuk


masyarakat yang konsumsi energi per kapitanya telah sangat tinggi, namun juga
oleh negara yang konsumsi energi per kapitanya rendah, seperti Indonesia. Dengan
melakukan konservasi maka seolah-olah kita menemukan sumber energi baru.
Bila Indonesia dapat menghemat konsumsi BBMnya sekitar 10 persen saja, maka
itu berarti menemukan lapangan minyak baru yang dapat memproduksi sekitar
150.000 barel per hari, yang dalam kenyataannya membutuhkan biaya yang cukup
besar untuk eksplorasi dan memproduksinya. Biaya yang dapat dihemat dengan
melakukan konservasi sangat besar.
Konservasi energi bermanfaat bukan hanya untuk menekan konsumsi dan
biaya konsumsi energi, namun juga memberikan dampak yang lebih baik terhadap
lingkungan. Sebagai dimaklumi, sumber utama pemanasan global yang
dikhawatirkan masyarakat planet bumi kini adalah pembakaran bahan bakar fosil,
atau aktivitas manusia yang berkaitan dengan penggunaan energi. Kegiatan
pembakaran bahan bakar fosil, misalnya yang ditunjukkan oleh kegiatan
transportasi, menghasilkan berbagai polutan seperti COx, NOx maupun SOx di
samping partikel debu yang mengotorkan udara.
Salah satu faktor yang membuat konservasi energi tidak berkembang di
Indonesia adalah adanya pandangan di kalangan masyarakat bahwa Indonesia
adalah negara yang dianugerahi dengan kekayaan sumberdaya energi yang
berlimpah, dan karena itu menggunakan energi secara hemat tidak dianggap
sebagai sebuah keharusan. Pemahaman konservasi energi sebagai tindakan praktis
juga belum berkembang di kalangan masyarakat karena masih langkanya
penyebarluasan informasi atau kampanye mengenai teknik-teknik konservasi
energi. Peraturan perundang-undangan mengenai konservasi energi pun belum
dikembangkan. Demikian pula, pembentukan Badan Khusus di kalangan
pemerintah/ swasta yang menangani masalah konservasi energi juga belum
didirikan.
Kerugian karena tidak menerapkan program konservasi energi sebetulnya
sudah dirasakan di tanah air. Berapa kerugian karena tidak melakukan konservasi
energi dengan benar merupakan angka yang belum pernah kita hitung. Penyakit
yang dilahirkan dari pola konsumsi BBM nasional yang tidak sehat (subsidi
BBM, penyelundupan, pengoplosan, serta biaya politik yang ditimbulkannya)
sedikit banyak dapat diatasi bila kita melakukan konservasi energi dengan ketat,

khususnya di sektor transportasi. Rugi-rugi (losses) dalam pengusahaan listrik


nasional dapat ditekan bila kesadaran melakukan efisiensi dan konservasi energi
telah berkembang di kalangan masyarakat dan perusahaan listrik itu sendiri.
Banyak industri dapat menekan biaya produksi mereka bila perhatian mengenai
bagaimana dapat menggunakan energi secara hemat dipraktekkan dalam kegiatan
industri sehari-hari.
Bersama dengan meningkatnya kesejahteraan hidup manusia di seluruh
dunia, maka meningkat pula penggunaan energi yang tak dapat diperbaharui
(bensin, solar, minyak tanah, batubara dan lainnya) maupun energi yang dapat
diberbaharui (matahari, angin, panas bumi, dll).
1.2
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini rumusan masalah yang ada diantaranya :
1. Apakah yang dimaksud konservasi
2. Apakah perbedaan konservasi energi dan effisiensi?
3. Bagaimanakah kebijakan dan undang-undang yang mengatur konservasi
energi?
4. Apa saja teknologi yang dapat diterapkan dalam konversi energi?
1.3
Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini diantaranya adalah agar pembaca :
1. Dapat memahami pengertian konservasi
2. Dapat mengetahui perbedaan konservasi energi dengan efisiensi
3. Dapat mengetahui bagaimana undang undang dan kebijakn pemerintah
dalam konservasi energi
4. Dapat mengetahui maksud dari konservasi energi beserta teknologi ramah
lingkungan yang di gunakan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Konservasi dan Efisiensi Energi

Konservasi energi adalah pengguanaan energi dengan efisiensi dan


rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang memang benar-benar
diperlukan. Upaya konservasi energi diterapkan pada seluruh tahap pemanfaatan,
mulai dari pemanfaatan sumber daya energi sampai pada pemanfaatan terakhir,
dengan menggunakan teknologi yang efisien, dan membudayakan pola hidup
hemat energy (Pramonohadi. 2005).
Konservasi energi dapat di definisikan sebagai kegiatan pemanfaatan
energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang
memang benar-benar diperlukan untuk menunjang pembangunan nasional.
penggunaan energi yang optimal sesuai kebutuhan sehingga akan menurunkan
biaya energi yang dikeluarkan (hemat energi hemat biaya). Tujuan Konservasi
Energi adalah untuk memelihara kelestarian sumber daya alam yang berupa
sumber energi melalui kebijakan pemilihan teknologi dan pemanfaatan energi
secara efisien, rasional, untuk mewujudkan kemampuan penyediaan energi.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi
Energi, definisi konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan terpadu
guna melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi
pemanfaatannya. Efisiensi merupakan salah satu langkah dalam pelaksanaan
konservasi energi. Efisiensi energi adalah istilah umum yang mengacu pada
penggunaan energi lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah layanan atau output
berguna yang sama. Penghematan energi dapat dicapai dengan penggunaan energi
secara efisien dimana manfaat yang sama diperoleh dengan menggunakan energi
lebih sedikit, ataupun dengan mengurangi konsumsi dan kegiatan yang
menggunakan energi. Penghematan energi dapat menyebabkan berkurangnya
biaya, serta meningkatnya nilai lingkungan, keamanan negara, keamanan pribadi,
serta kenyamanan. Organisasi-organisasi serta perseorangan dapat menghemat
biaya dengan melakukan penghematan energi, sedangkan pengguna komersial dan
industri dapat meningkatkan efisiensi dan keuntungan dengan melakukan
penghemaan energi.
Penghematan energi adalah unsur yang penting dari sebuah kebijakan
energi. Penghematan energi menurunkan konsumsi energi dan permintaan energi
per kapita, sehingga dapat menutup meningkatnya kebutuhan energi akibat
pertumbuhan populasi. Hal ini mengurangi naiknya biaya energi, dan dapat
mengurangi kebutuhan pembangkit energi atau impor energi. Berkurangnya
permintaan energi dapat memberikan fleksibilitas dalam memilih metode produksi
energi.

Selain itu, dengan mengurangi emisi, penghematan energi merupakan bagian


penting dari mencegah atau mengurangi perubahan iklim. Penghematan energi
juga memudahkan digantinya sumber-sumber tak dapat diperbaharui dengan
sumber-sumber yang dapat diperbaharui. Penghematan energi sering merupakan
cara paling ekonomis dalam menghadapi kekurangan energi, dan merupakan cara
yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan meningkatkan produksi
energi.
Menurut Pramonohadi, potensi konservasi energi di semua sektor memiliki
peluang penghematan sangat besar, yaitu antara 10% -35%. Penghematan dapat
direalisasikan dengan cara mudah, dapat mencapai 10-15%, sedangkan
penghematan dengan investasi dapat meraih sampai 30%. Pemanfaatan energi
dengan lebih efisien dapat dicapai melalui: penggunaan teknologi hemat energi,
penerapan budaya hemat energi, penerapan konversi energi meliputi perencanaan,
pengoperasian, dan pengawasan pemanfaatan energi.
Keberhasilan program penghematan energi tentu saja akan berdampak
positif dalam proses penyediaan energi. Potensi penghematan energi di industri
misalnya berkisar antara 10% (industri semen, kapur, batu bata, keramik) sampai
dengan 35% (industri kertas, besi, baja). Penghematan ini bergantung pada: proses
utama: pembakaran, peleburan, pemanasan/uap, utilitas: panas langsung, mekanis,
panas uap, alat dapur-burner, listrik-diesel, boiler-burner, teknik konservasi: waste
heat recovery, perbaikan isolasi panas, co generation.Pada umumnya,
penghematan melalui cara teknis lebih memberikan hasil yang memadai. Bila
program konservasi dilakukan dengan sungguh-sungguh, secara nasional, jumlah
penyediaan energi dapat dikurangi secara berarti, cadangan energi dapat
digunakan dalam waktu lebih panjang.
Pelaksanaan konservasi energi
pengelolaan energi yaitu:

Penyediaan Energi

Pengusahaan Energi

Pemanfaatan Energi

Konservasi Sumber Daya Energi

mencakup

seluruh

aspek

dalam

Oleh karena itu kita perlu melakukan efesiensi energi sebagai suatu
langkah koneservasi energi. Efisiensi energi adalah istilah umum yang mengacu
pada penggunaan energi lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah layanan atau
output berguna yang sama. Adapun langkah kongritnya dapat dilakukan dengan :
1. Informasi
Informasi dibutuhkan agar konservasi energi dapat berjalan lancar. Informasi
di sini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau
melakukan kegiatan konservasi energi. Kegiatan ini yang bisa dilakukan
dengan berbagai macam cara, contohnya kampanye hemat energi. Dalam

melakukan kampanye dipilih media yang representatif, dengan isi pesan


yang dapat dimengerti. Misalnya melalui media massa elektronik berupa
iklan-iklan. Informasi pada iklan bisa berupa ajakan atau pun peringatan
sehingga masyarakat memandang permasalahan energi tak hanya masalah
negara, kelompok, lembaga tertentu saja, tetapi menjadi masalah kita semua.
2. Intensif
Intensif adalah kegiatan yang diberikan untuk mendorong para pengguna
energi menerapkan program konservasi energi. Intensif di sini menyangkut
program keringanan pajak, keringanan bea masuk, keringanan peminjaman
tanah, dan sebagainya. Hal tersebut dilakukan atas dasar agar kegiatan
konservasi energi tidak mengalami kesulitan dan bisa berjalan lancar. Jika
penemuan-penemuan baru dihasilkan, semua pihak mendukung dan
membantu agar penemuan tersebut dapat diproduksi sesuai dengan
kebutuhan, sekaligus tidak dipersulit.
3. Pengaturan
Pengaturan dilakukan agar program konservasi energi dapat dijalankan
secara menyeluruh dan terpadu. Pengaturan menyangkut pengaturan atau
pembagian segala hal agar tidak terjadi ketimpangan dengan sistematis yang
teratur. Seperti penggunaan energi yang berlebihan dikurangi. Walaupun
menyangkut peraturan dari pemerintah, namun yang terpenting adalah
kesadaran individu mengenai konservasi energi. Kesadaran apabila sudah
tidak ada energi yang tersedia maka yang dirugikan adalah anak cucu di masa
mendatang.
4. Harga Energi
Dengan peningkatan permintaan bahan bakar (BBM) dan semakin
berkurangnya bahan bakaryang tersedia, mendorong masyarakat untuk
melakukan penghematan energi, serta melakukan beberapa uji terhadap
bahan hemat energi alternatif. Harga energi yang semakin hari semakin
melambung tinggi dan terbatasnya sumber energi, menjadi alasan yang
pendorong para ilmuwan, peneliti, dan masyarakat untuk melakukan
eksperimen guna mendapatkan bahan bakar yang murah, mudah didapat,
praktis dan aman. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu solusi yang
terbaik.
2.2

Asal Mula Konservasi Energi


1. Cadangan Energi Fosil Terbatas
Efisiensi energi membantu mengurangi penggunaan energi fosil seperti batu
bara, minyak bumi dan gas bumi yang selama ini peranannya sangat
dominan. Energi fosil, yang merupakan jenis energi tidak terbarukan, suatu
saat akan habis jika terus dieksploitasi. Dengan menghemat penggunaan

energi fosil, pemerintah dapat menyimpannya sebagai cadangan dalam


rangka menjaga ketahanan energi nasional.
2. Mengurangi Kerusakan Lingkungan Hidup
Efisiensi energi merupakan solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca
dan kerusakan lingkungan hidup. Saat ini, sebagian besar energi yang
digunakan di Indonesia berasal dari pembakaran energi fosil yang
menyebabkan polusi gas rumah kaca dan mengakibatkan pemanasan global,
perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup.
3. Mengurangi Subsidi Pemerintah untuk Energi Fosil
Saat ini subsidi pemerintah untuk energi fosil mencapai Rp 98,96 triliun
rupiah (Tahun 2009). Jika kita berhasil menggunakan energi secara
efisien, maka subsidi pemerintah untuk energi fosil dapat dikurangi dan
dialokasikan untuk upaya konservasi energi lainnya seperti investasi
pengembangan sumber energi terbarukan dan pengembangan teknologi
efisien energi.
4. Memberikan Keuntungan bagi Pengguna Energi
Menggunakan energi secara efisien berdampak langsung pada pengurangan
biaya yang dikeluarkan oleh pengguna energi. Industri barang dan jasa
menjadi lebih produktif dan kompetitif jika biaya pemakaian energi dapat
ditekan. Pada sektor rumah tangga, penghematan energi juga mengurangi
biaya pemakaian listrik suatu rumah tangga. Dana tersebut dapat
dialokasikan untuk hal-hal lain seperti biaya keperluan sehari-hari, uang
bulanan sekolah serta biaya kesehatan.
2.3

Efisiensi Energi di Indonesia

Dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang pesat, Indonesia


berkepentingan untuk mengelola dan menggunakan energi se-efektif dan seefisien mungkin. Menurut data Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia
meningkat dari 5,7% pada tahun 2005 menjadi 5,9% pada tahun 2010, dan
diproyeksikan mencapai 6,2% pada tahun 2011. Sementara populasi Indonesia
yang kini mencapai 229 juta penduduk diperkirakan akan meningkat menjadi lebih
dari 230 juta pada tahun 2011.
Semua pertumbuhan ini tentunya disertai dengan meningkatnya kebutuhan
energi akibat bertambahnya jumlah rumah, beragam bangunan komersial serta
industri. Jika diasumsikan rata-rata pertumbuhan kebutuhan listrik adalah sebesar
7% per tahun selama kurun waktu 30 tahun, maka konsumsi listrik akan meningkat
dengan tajam, contohnya pada sektor rumah tangga, konsumsi akan meningkat
dari 21,52 Gwh di tahun 2000 menjadi sekitar 444,53 Gwh pada tahun 2030.

Terdapat empat sektor utama pengguna energi, yaitu sektor rumah


tangga, komersial, industri dan transportasi. Saat ini pengguna energi terbesar
adalah sektor industri dengan pangsa 44,2%. Konsumsi terbesar berikutnya adalah
sektor transportasi dengan pangsa 40,6%, diikuti dengan sektor rumah tangga
sebesar 11,4% dan sektor komersial sebesar 3,7%.
Sampai saat ini, sumber energi yang digunakan sebagian besar masih
berasal dari fosil, yaitu minyak bumi sebesar 46,9%, batu bara sebanyak 26,4%
dan gas alam sebesar 21,9%. Sementara tenaga air (hidro) dan energi terbarukan
lainnya hanya sekitar 4,8% dari total sumber daya energi yang termanfaatkan.
2.4

Kondisi Penggunaan Energi

Dari data tercatat, konsumsi energi di Asia Tenggara 375 MTOE pada
tahun 2007 lalu, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5.2% per tahun, maka
diperkirakan nilai tersebut akan naik hampir tiga kali lipat menjadi 1,018 MTOE
pada tahun 2030. Data yang perlu dicermati, pada tahun 2007 tersebut Indonesia
mencatat konsumsi energi 145.9 MTOE atau hampir 40%, dan persentase ini naik
menjadi 44% pada tahun 2030, dimana diperkirakan konsumsi energi Indonesia
adalah 448.9 MTOE.
Pertumbuhan konsumsi energi ini di dorong oleh pesatnya pertumbuhan
konsumsi sektor transportasi yang diperkirakan mencapai 7.5% per tahun atau
sekitar 30% dari total kebutuhan pada tahun 2030. Konsekuensinya konsumsi
minyak dan produk turunannya diperkirakan melonjak hingga 43% dari total
konsumsi energi di tahun 2030.
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar sumber energi
berasal dari batu bara, minyak bumi dan gas alam yang merupakan sumber energi
tidak terbarukan, sedangkan hanya 2,4% dari keseluruhan sumber energi yang
menggunakan sumber energi lain yang dapat diperbaharui.
Faktanya adalah selain sumber energi tersebut tidak terbarukan,
penggunaan energi ini juga menimbulkan dampak pencemaran yang cukup besar.
Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Lingkungan
Perserikatan Bangsa-Bangsa diperoleh bahwa setiap 100kWh listrik yang
dihasilkan dari batubara akan menghasilkan emisi 80-105 kilogram
karbondioksida dan gas rumah kaca lain. Kemudian Energy Analysis and Policy
Office (EAPO) mencatat bahwa emisi karbon yang dihasilkan dari penggunaan
listrik adalah sekitar 26% dari total emisi Indonesia. Oleh sebab itu dapat
disimpulkan bahwa dengan melakukan penghematan penggunaan listrik akan
mengurangi emisi karbon secara signifikan.

2.5

Undang-Undang & Peraturan Terkait Konservasi dan Efisiensi Energi


di Indonesia

Berikut adalah kumpulan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang


berkaitan dengan efisiensi dan konservasi energi di Indonesia:

Instruksi Presiden No 13 Tahun 2011 tentang Penghematan Energi dan Air


Instruksi Presiden No. 2/2008 tentang Penghematan Energi dan Air
Keputusan Presiden No. 43/1991 tentang Konservasi Energi
Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional
Peraturan Menteri ESDM No 06 Tahun 2011 tentang Label Tanda Hemat
Energi untuk Lampu Swabalast
Peraturan Menteri ESDM No 13 Tahun 2010 tentang Standar Kompetensi
Manajer Energi di Bidang Industri
Peraturan Menteri ESDM No 14 Tahun 2010 tentang Standar Kompetensi
Manajer Energi Bidang Bangunan Gedung
Peraturan Menteri ESDM No. 7/2010 tentang Tarif Dasar Listrik
Peraturan Pemerintah No. 70/2009 tentang Konservasi Energi
Law No. 30/2007 on Energy

Pada bagian akhir makalah, kami lampirkan Peraturan Pemerintah No. 70/2009
tentang Konservasi Energi.
2.6

Visi Pemerintah Dalam konservasi Energi

Gambar 2.1 Diagram Arah Kebijakan Energi

Agar lebih efektif dan efisien dalam pengelolaan sumber daya energi, pemerintah
memiliki strategi yang disebut Visi 25/25, yang secara garis besar merupakan
tekad untuk:

Meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan menjadi 25% pada tahun


2025.
Visi ini melampaui target sebesar 17% yang ditetapkan oleh pemerintah
ebelumnya dalam Perpres No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Saat ini
pangsa energi terbarukan hanya sebesar 4% dari total sumber daya energi yang
dimanfaatkan.

Mengurangi permintaan energi sebesar 33,85% terhadap skenario keadaan


normal (BAU/Business as Usual) pada tahun 2025.
Saat ini permintaan energi adalah sebesar 1,131 juta SBM dan diperkirakan pada
tahun 2025 akan meningkat menjadi 4,300 juta SBM. Dengan berbagai upaya
diharapkan permintaan energi dapat ditekan menjadi 2,852 juta SBM.
Arah kebijakan utama pemerintah meliputi:
1.
Konservasi Energi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dan
pemanfaatan energi (Demand Side).
2.
Diversifikasi Energi untuk meningkatkan pangsa energi baru terbarukan
dalam bauran energi nasional (Supply Side).
2.7

Perubahan Paradigma Pengelolaan Energi

Gambar 2.2 Perubahan Paradigma Pengelolaan Energi

Saat ini, pemerintah berusaha untuk mengubah paradigma pengelolaan energi


nasional yang sebelumnya dititikberatkan pada sisi persediaan menjadi sisi
permintaan. Sebelumnya pengelolaan energi didasarkan pada sisisupply dimana
pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan energi, berapa pun jumlah dan
biayanya melalui pengelolaan sumber energi fosil. Energi fosil juga terus
disubsidi guna memenuhi kebutuhan energi. Energi terbarukan hanyalah
alternatif dan tidak diprioritaskan dalam eksplorasi maupun pemanfaatannya.
Penggunaan energi oleh sektor rumah tangga, industri, komersial dan transportasi
sangat boros akibat kurangnya penekanan pada efisiensi energi.
Pemerintah mulai mengubah paradigma pengelolaan energi dengan
menitikberatkan pada sisi demand. Pemerintah mengelola permintaan energi
dengan cara memastikan bahwa kebutuhan dan penggunaan energi pada sektor
rumah tangga, industri, komersial dan transportasi benar-benar efisien. Hal ini
terwujud saat pengguna energi mengubah perilakunya menjadi lebih hemat
energi serta menggunakan teknologi yang lebih efisien. Selain itu penyediaan dan
pemanfaatan energi terbarukan dimaksimalkan dan bila perlu disubsidi. Energi
fosil digunakan sebagai penyeimbang dan sumber energi fosil yang belum
termanfaatkan dapat dijadikan cadangan bagi generasi penerus.
2.8

Sumber Energi Dan Pemanfaatannya

Sumber energi merupakan salah satu sumber daya alam. Sumber daya alam dapat
dibagi dalam 2 kelompok, yaitu; sumber daya alam terbarui dan sumber daya
alam tak terbarui. Demikian juga dengan sumber energi yang dapat
dikelompokkan dalam sumber energi terbarui dan sumber energi tak terbarui.
a. Sumber energi terbarui adalah sumber energi yang dapat digunakan
tanpa batas waktu karena dapat dipulihkan dalam waktu cepat. Sumber
energi tersebut tidak bisa habis. Misalnya tenaga air (karena terjadinya
siklus air), panas bumi, biomassa, angin dan sinar matahari langsung.
Pemanfaatan sumber energi terbarui sampai saat ini masih sangat
terbatas, hal ini disebabkan oleh keterbatasan teknologi dan besarnya
biaya yang dibutuhkan untuk mengubah energi tersebut menjadi energi
listrik atau yang lainnya. Sebagai contoh; pemakaian solar sel sebagai
sumber listrik, pemakaian angin sebagai sumber energi listrik dan
sebagainya.
b. Sumber energi tak terbarui adalah sumber energi yang keberadaannya
sangat terbatas, karena proses pembentukannya memerlukan waktu
yang sangat panjang (jutaan tahun). Proses pembentukannya kembali
berjalan sangat lama dibandingkan dengan eksploitasinya, sehingga
sumber energi tersebut dapat habis. Sumber energi tak terbarui dibedakan

menjadi 2 kelompok, yaitu bahan bakar fosil dan bahan bakar nuklir.
Bahan bakar fosil berupa minyak bumi, gas bumi dan batubara yang
selama jutaan tahun terbentuk dan tersimpan di dalam bumi yang berasal
dari mikroorganisme, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Proses
pembentukan sumber energi fosil memerlukan tekanan dan suhu tinggi
yang terdapat di dalam perut bumi. Eksploitasi sumber energi fosil pada
saat ini sangat tinggi tanpa mengingat proses pembentukannya kembali
sehingga suatu saat bahan bakar tersebut akan habis.
Bahan bakar nuklir berasal dari Uranium, energi yang dihasilkan dari
uranium tidak dilepaskan melalui proses pembakaran, tetapi melalui
proses reaksi pemisahan inti atom yang pada akhirnya akan menghasilkan
energi panas tinggi. Pada PLTN, energi panas tersebut digunakan untuk
memanaskan air sehingga terbentuk uap sebagai penggerak turbin untuk
menggerakan generator listrik sebagai sumber energi listrik yang kita
gunakan.
2.9

Dampak Pemanfaatan Energi

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa polusi air, udara, dan


tanah, beriring dengan faktor lingkungan lain, menjadi penyebab 40 persen
kematian manusia di dunia, kata pakar ekologi dari Universitas Cornell di
Amerika Serikat (AS), David Pimentel memperkirakan, tiap tahunnya sekitar 62
juta kematian atau 40 persen dari total kematian di umat manusia di dunia
disebabkan oleh faktor lingkungan, terutama zat polutan organik dan kimiawi
yang terakumulasi dalam udara yang dihirup dan air yang diminum setiap hari.
Air yang terkontaminasi dengan kotoran bisa menjadi media transmisi penyakit
saluran pencernaan seperti kolera, gangguan usus (yang bisa bercampur dengan
masalah kesehatan lain bisa menimbulkan malnutrisi), dan berbagai penyakit lain
yang telah membunuh jutaan orang tiap tahun, terutama anak-anak.
Menurut data penelitian tahun 2004 oleh Pusat Populasi, sekitar 2,2 juta
bayi dan anak meninggal tiap tahun akibat diare, sebagian besar diakibatkan
kontaminasi air dan makanan. Masih menurut data itu, air yang terpapar zat
polutan di Afrika dan India menyebabkan kematian 1,4 juta orang tiap tahun.
Mereka meninggal akibat penyakit- penyakit seperti kolera dan disentri. Dalam
pengambilan dan pemakaian sumber energi dari alam selalu menimbulkan
dampak terhadap lingkungan, misalnya udara dan iklim, perairan dan tanah.
a. Dampak terhadap udara dan iklim
Pada pembakaran sumber energi fosil (minyak bumi, batubara dll) selain
menghasilkan energi juga menimbulkan emisi karbon dioksiada (CO2),
emisi nitrogen oksida (NOx), emisi sulfur dioksida (SO2), emisi

metana (CH4) dan lain lain yang menyebabkan pencemaran udara dan
mengakibatkan adanya hujan asam, efek rumah kaca, smoog dan
pemanasan global sampai penipisan lapisan ozon.
b. Dampak terhadap perairan
Eksploitasi minyak bumi, khususnya dalam hal penampungan dan
pengangkutan minyak bumi yang tidak layak mengakibatkan bocornya
tangker minyak atau kecelakaan lain yang mengakibatkan tumpahnya
minyak kelaut, sungai atau tanah. Hal ini menyebabkan pencamaran
perairan.
c. Dampak terhadap tanah
Dampak penggunaan energi terhadap tanah dapat diketahui misalnya dari
pertambangan batubara dan pembuangan sampah nuklir. Masalah yang
berkaitan dengan lapisan tanah muncul terutama dalam pertambangan
batubara sistem open cast (galian terbuka). Penambangan sitem ini
memerlukan lahan yang sangat luas. Perlu diketahui bahwa lapisan
batubara terdapat di tanah yang subur, sehingga bila tanah tersebut
digali amaka tidak akan dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian
atau hutan untuk selama waktu tertentu.
Masalah lain timbul terhadap tanah adalah sampah nuklir. Sampah nuklir
merupakan semua sisa bahan (padat atau cair) yang dihasilkan dari
proses pengolahan uranium. Sampah ini bersifat radioaktif sehingga tidak
bisa dibuang atau dihilangkan seperti sampah domestik lainnya. Perlu
waktu yang lama untuk dapat menghilangkan sifat radioaktif sampah
ini sehingga tidak membahayakan bagi kehidupan.
2.10

Pengembangan Kebijakan Dan Strategi Konservasi Energi


Nasional

Sektor energi merupakan sektor strategis mengingat keterkaitannya


dengan ekonomi dan lingkungan. Energi sangat diperlukan guna melaksanakan
pembangunan perekonomian, namun dengan tetap mempertimbangkan aspek
nlingkungan agar tercipta pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu
sumberdaya alam yang ada seharusnya dieksplorasi dan dieksploitasi dengan
mempertimbangkan prinsip-prinsip perlindungan terhadap kesinambungan
lingkungan dan ekosistem yang ada. Dunia kini juga telah bersepakat untuk
melakukan kegiatan mengantisipasi gejala pemanasan global (global warming)
dengan melakukan banyak perjanjian internasional (termasuk Protokol Kyoto,
1997) serta berbagai upaya lain di bidang teknologi maupun perdagangan untuk
menekan kemungkinan terjadinya pemanasan global tersebut. Disadari benar

bahwa penyebab terbesar dari persoalan pemanasan global adalah pembakaran


bahan bakar fosil (fossil fuels), dan karena itu upaya-upaya untuk menyediakan
bahan bakar alternatif yang lebih akrab lingkungan (environmentally friendly)
perlu terus diupayakan.
Sebagai negara yang ekonominya sedang tumbuh, konsumsi energi di
Indonesia terus meningkat dengan kecepatan pertumbuhan yang sangat tinggi
untuk berbagai jenis bahan bakar, terutama untuk BBM dan tenaga listrik. Selain
tingkat pertumbuhan yang tinggi, konsumsi energi di Indonesia ditandai dengan
ketergantungan yang sangat besar terhadap bahan bakar fosil (terutama minyak
bumi), yang mengakibatkan sangat mahalnya biaya penyediaan energi serta
dampak yang tidak sehat terhadap lingkungan. Kebutuhan energi yang tumbuh
sangat tinggi di Indonesia belum dapat terlayani dengan baik, terutama karena
penyediaan infrastruktur untuk mencari, membangkitkan, dan mendistribusikan
energi tersebut belum dapat dilakukan secepat perkembangan permintaan yang
terjadi. Akses rakyat terhadap energi juga masih merupakan masalah besar di
Indonesia.
Bauran energi (energy mix) yang tidak sehat secara nasional di Indonesia
memperlihatkan bahwa minyak bumi masih mendominasi pemanfaatan energi
nasional Bila melihat kekayaan sumberdaya energi di Indonesia yang beraneka
ragam, gejala bauran energi yang tidak sehat yang terus terjadi di Indonesia
termasuk fuel mix yang berbiaya mahal sesungguhnya merupakan suatu ironi.
Pada sisi lain potensi energi baru terbarukan yang ada sangat memadai
namun belum optimal pemanfaatannya. Potensi panas bumi, mikro hidro, surya
dan biomassa belum sepenuhnya dimanfaatkan terutama untuk pembangkit
listrik khususnya pada sistem Luar Jawa Madura Bali (Jamali) dan daerah
perdesaan, perbatasan dan terpencil. Lebih lanjut berdasarkan intensitas dan
elastisitas energi saat ini Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negaranegara lain termasuk Asia dan ASEAN. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia
termasuk negara yang boros penggunaan energi dan tidak produktif. Namun hal
ini harus dicermati lebih jauh mengingat tingkat produktifitas juga terkait dengan
penciptaan nilai tambah yang berdimensi multi sektor.
Oleh karena itu saat ini diperlukan langkah-langkah untuk
mengembangkan dan memantapkan kebijakan strategis energi yang ada. Salah
satunya yang utama adalah konservasi energi. Kebijakan konservasi bertujuan
memelihara kelestarian sumber daya yang ada melalui penggunaan sumber daya
secara bijaksana bagi tercapainya keseimbangan antara pembangunan,
pemerataan dan pengembangan lingkungan hidup. Upaya konservasi energi
diarahkan untuk meningkatkan pembangunan yang merata dan berkelanjutan.
Dalam hubungan dengan itu akan dikembangkan penggunaan teknologi produksi

dan penggunaan energi yang lebih efisien dari segi teknis, ekonomis dan
kesehatan lingkungan. Usaha konservasi energi harus didukung dan dilaksanakan
oleh semua pemangku kepentingan dari semua sektor. Untuk menunjang
kebijakan ini perlu disusun pengaturan pelaksanaan secara praktis dan mudah
agar tujuan konservasi dapat dicapai secara optimal.
2.11 Teknologi Konservasi Energi
Untuk menjalankan konservasi energi dilakukan teknologi konservasi
energi, dimana teknologi konservassi energi merupakan pengembangkan melalui
pemanfaatan energi secara efisien dan rasional, serta memanfaatkan sumber daya
alam yang berupa sumber energi alternatif.
Para ilmuwan di bidang iklim telah menyajikan bukti-bukti meyakinkan
bahwa pemanasan global benar-benar terjadi. Pemanasan global bertanggung
jawab atas aktivitas angin topan yang kuat, mencairnya es di kutub, dan telah
menyebabkan perubahan drastis terhadap pola iklim kita yang mengakibatkan
kekeringan, banjir, dan gelombang panas yang hebat di seluruh dunia. Untuk
mengatasi krisis ini, usaha bersama secara global diperlukan untuk mengurangi
emisi karbon. Untuk mencapai tujuan ini, peningkatan efisiensi energi adalah
salah satu tindakan pelaksanaan yang paling mudah diambil.
Berita baiknya adalah ada banyak cara untuk menghemat energi yang telah
terbukti berhasil dan tidak mahal biayanya. majalah Newsweek terbitan 29
Januari Tahun Emas 4 (2007) menguraikan tujuh cara yang bisa memberikan
dampak positif terbesar dalam menyelamatkan dunia dari pemanasan global
melalui efisiensi energi:
a. Menggunakan bahan insulasi yang efektif
Pemanas dan penyejuk ruangan menyedot 36% dari energi total dunia.
Sebagaimana diperlihatkan oleh prototipe rumah-rumah 'nol-energi'
di Swiss dan Jerman, penggunaan bahan insulasi yang mutakhir dapat
menurunkan atau bahkan menghapuskan pemakaian alat pemanas dan
pendingin udara; dan jumlah penghematannya bisa besar sekali.
Di samping bahan insulasi yang baik, rumah nol energi juga
menggunakan sumber energi yang dapat diperbarui, seperti energi
matahari.

Gambar 2.3 Rumah dengan Panel Surya


b. Mengganti bola lampu pijar

Gambar 2. 4 Sebuah lampu neon hemat energi berbentuk spiral.


Penerangan menghabiskan 20% listrik dunia, dimana 40%-nya
digunakan untuk menyalakan lampu pijar, sementara lampu pijar
memboroskan sebagian besar energi yang dikonsumsinya untuk
menghasilkan panas yang tidak diperlukan. Dibanding dengan lampu
pijar, lampu neon tidak hanya menggunakan listrik 75% hingga 80%
lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah cahaya yang sama, tetapi lampu
neon juga tahan 10 kali lebih lama.
c. Memperbaiki efisiensi pertukaran panas
Hanya sedikit dari energi yang dipompakan ke dalam ketel air, alat
pemanas ruangan, alat pendingin ruangan, serta sistem pemanasan dan
pendinginan lainnya, yang benar-benar digunakan untuk mengubah
temperatur. Solusi lain yang lebih efisien adalah menggunakan pompa
panas yang dapat memindahkan dan menggunakan panas dari udara
luar atau tanah untuk memanaskan sebuah bangunan atau persediaan
airnya. Sistem ini dapat dibalik untuk mendinginkan bangunan juga.
d. Merancang kembali infrastruktur energi pabrik
Pabrik industri di seluruh dunia menghabiskan sekitar sepertiga energi
dunia. Kesempatan untuk menghemat energi sangat besar. Misalnya,
pabrik penghasil baja di Jepang seperti Mitsubishi Heavy Industries
telah menjadi pionir sejak tahun 1980-an.

Mereka mengurangi lebih dari 70% energi dengan menggunakan panas


dari tungku peleburan baja untuk menggerakkan turbin yang
menghasilkan tenaga listrik.
Pabrik BASF yang baru di China - panas yang dihasilkan dari satu proses
kimia digunakan untuk menggerakkan proses selanjutnya atau
menciptakan tenaga listrik untuk proses lainnya, yang berarti
mengoptimalkan efisiensi energi.

Gambar 2.5 Infrastruktur Energi Pabrik


e. Mengendarai kendaraan ramah lingkungan
25% energi dunia - termasuk dua pertiga produksi tahunan minyak bumi
- digunakan untuk transportasi. Seseorang dapat meningkatkan efisiensi
penggunaan bahan bakar sebesar 6% hanya dengan menjaga agar ban
mobilnya tidak kempes. Mobil hibrida bertenaga bensin-listrik dapat
menambah jarak tempuh 20% lebih jauh daripada model konvensional.
Teknologi diesel modern injeksi langsung yang bersih dan bertenaga juga
dapat menambah jarak tempuh hingga 40% lebih jauh dibanding
mobil bertenaga bensin.
f. Menggunakan peralatan rumah tangga yang hemat energi
Lebih dari separuh dari seluruh energi yang mengalir ke rumah digunakan
untuk menggerakkan peralatan rumah tangga. Hal itu menghasilkan 20%
emisi karbon dunia. Pabrik-pabrik alat rumah tangga telah meningkatkan
efisiensi lemari es dan peralatan rumah tangga lainnya sebesar 70% sejak
tahun 1980-an, tetapi masih ada peluang peningkatan. Dengan memakai
peralatan yang hemat energi, rumah tangga dapat menghemat sebagian
besar uang, karena peralatannya lebih tahan lama, dan mengurangi
konsumsi listrik dunia untuk rumah tangga sebesar 43%.

Lemari es hemat energi LG Panorama - di samping menggunakan


teknologi efisiensi energi, juga tidak ada pintu besar yang dapat membuat
udara dingin keluar.
g. Menemukan cara kreatif untuk membiayai investasi hemat energi
Perusahaan layanan publik dan layanan energi dapat membayar biaya
pemasangan alat hemat energi sebagai imbalan atas penghematan
tagihan-layanan-umum pelanggan yang ditanggung bersama. Dalam
sebuah pendekatan baru, layanan publik California memberi potongan
harga ekstra kepada para konsumen karena mengurangi pemakaian listrik
sebesar 10% atau lebih. Dengan cara ini, perusahaan layanan publik
mendapat keuntungan dengan menurunkan kebutuhan puncak pemakaian
listrik, yang berarti menghindari perlunya mendirikan pabrik pembangkit
tenaga listrik tambahan yang menelan biaya jutaan dolar.
Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan energi
terbaharukan meliputi pemakaian energi alternatif dengan memanfaatan
limbah menjadi biogas, biodiesel, biomass, pengembangan energi angin,
energi panas bumi (geothermal), dan pembangkit micro dan picohidro.
Fuel cell meliputi pengembangan hidrogen dari air maupun air laut
sebagai bahan bakar alternatif .
Secara umum, konservasi dan efisiensi energi dapat dilakukan dengan melakukan
penghematan energi, baik energi yang secara langsung kita gunakan maupun
energi tersamar yang kita gunakan pada saat kita membeli dan menafaatkan
sebuah produk. Pada lingkup institusi, tindakan penghematan energi dapat
dikategorikan sebagi berikut:
a. Organisasi
Langkah yang diambil dalam pengorganisasian membutuhkan dana yang
relatif sedikit dan sudah menunjukkan adanya penghematan biaya dan
energi, namun dalam pelaksanaannya sangatlah sulit jika dilihat dari
perlunya perubahan perilaku pemakainya.
Contohnya
dengan
memasang slogan matikan lampu jika tidak digunakan atau
matikan air jika bak sudah penuh dan lain sebagainya.
b. Instalasi (teknik peralatan)
Membutuhkan biaya yang relatif rendah sampai menengah dan sudah
menunjukkan adanya penghematan biaya dan energi, penghematan energi
pada peralatan dapat ditekan dengan membeli peralatan baru untuk
menggantikan yang lama atau melengkapinya. Namun dalam

pelaksanaannya cukup sulit dalam mengubah perilaku pemakai dan


memerlukan waktu impas yang agak lama. Misalnya menggunakan
peralatan yang membutuhkan daya yang rendah, menggunakan
timer/pengatur waktu dan lain sebagainya.
c. Fisik bangunan (perencanaan hemat energi)
Membutuhkan biaya yang relatif mahal, karena harus melakukan
perubahan pada bangunan/renovasi atau membuat bangunan baru
sehingga penghematan energinya besar. Tindakan ini memiliki waktu
impas jangka menengah sampai jangka panjang dan sangat mudah
dalam mangubah perilaku pemakainya. Namun tindakan ini sangat jarang
dilakukan karena keterbatasan dana.
Tindakan

Investasi

Merubah Perilaku

Organisasi
Instalasi
Fisik bangunan

mahal

sulit

Tetapi secara garis besar manusia dapat melakukan konservasi energi


yang memanfaatkan energi alam. Contoh pemanfaatan energi yang erasal
dari alam ini, yaitu:

Energi Air ( mikrohidro )

Energi Angin

Energi Surya

Biodisel
A.

Energi Air (mikrohidro)

Mikrohidro adalah istilah yang digunakan untuk instalasi pembangkit


listrik yang mengunakan energi air. Kondisi air yang bisa dimanfaatkan
sebagai sumber daya (resources) penghasil listrik adalah memiliki
kapasitas aliran dan ketiggian tertentu dad instalasi. Semakin besar
kapasitas aliran maupun ketinggiannya dari istalasi maka semakin besar
energi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.

Biasanya Mikrohidro dibangun berdasarkan kenyataan bahwa adanya air


yang mengalir di suatu daerah dengan kapasitas dan ketinggian yang
memadai. Istilah kapasitas mengacu kepada jumlah volume aliran air
persatuan waktu (flow capacity) sedangan beda ketingglan daerah aliran
sampai ke instalasi dikenal dengan istilah head. Mikrohidro juga dikenal
sebagai white resources dengan teluemahan bebas bisa dikatakan "energi
putih". Dikatakan demikian karena instalasi pembangkit listrik seperti ini
mengunakan sumber daya yang telah disediakan oleh alam dan ramah
lingkungan. Suatu kenyataan bahwa alam memiliki air terjun atau jenis
lainnya yang menjadi tempat air mengalir. Dengan teknologi sekarang
maka energi aliran air beserta energi perbedaan ketinggiannya dengan
daerah tertentu (tempat instalasi akan dibangun) dapat diubah menjadi
energi listrik.
Seperti dikatakan di atas, mikrohidro hanyalah sebuah istilah. Mikro
artinya kecil sedangkan hidro artinya air. Dalam, prakteknya istilah ini
tidak merupakan sesuatu yang baku namun bisa dibayangkan bahwa
Mikrohidro, pasti mengunakan air sebagai sumber energinya. Yang
membedakan antara istilah Mikrohidro dengan Miniihidro adalah output
daya yang dihasilkan. Mikrohidro menghasilkan daya lebih rendah dari
100 W, sedangkan untuk minihidro daya keluarannya berkisar antara 100
sampai 5000 W. Secara teknis, Mikrohidro memiliki tiga komponen
utama yaitu air (sumber energi), turbin dan generator. Air yang mengalir
dengan kapasitas tertentu disalurkan clan ketinggian tertentu menuju
rumah instalasi (rumah turbin). DI rumah instalasi air tersebut akan
menumbuk turbin dimana turbm' sendin, dipastikan akan mencrima
energi air tersebut dan mengubahnya menjadi energi mckanik berupa
berputamya poros turbin. Poros yang berputar tersebut kemudian
ditransmisikan ke generator dengan mengunakan kopling. Darl generator
akan dthaslikan energi listrik yang ak-an masuk ke sistem kontrol arus
listrik sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban).
Begitulah secara ringlcas proses Mikrohidro merubah energi aliran dan
ketinggian air menjadt energi listrik.
Terdapat sebuah peningkatan kebutuhan suplai daya ke daerah-daerah
pedesaan di sejumlah negara, sebagian untuk mendukung industriindustri, dan sebagian untuk menyediakan penerangan di malam hari.
Kemampuan pemerintah yang terhalang oleh biaya yang tinggi dari
perluasan jaringan listrik, sering membuat Mikro Hidro memberikan
sebuah alternatif ekonomi ke dalam jaringan. Ini karena Skema Mikro
Hidro yang mandiri menghemat biaya dari jaringan transmisi, dan karena
skema perluasan jaringan sering memerlukan biaya peralatan dan

pegawai yang mahal. Dalam kontrak, Skema Mikro Hidro dapat didisain
dan dibangun oleh pegawai lokal dan organisasi yang lebih kecil dengan
mengikuti peraturan yang lebih longgar dan menggunakan teknologi
lokal seperti untuk pekerjaan irigasi tradisional atau mesin-mesin buatan
lokal. Pendekatan ini dikenal sebagai Pendekatan Lokal. Gambar 1
menunjukkan betapa ada perbedaan yang berarti antara biaya pembuatan
dengan listrik yang dihasilkan.

Gambar 2.6 Skala Ekonomi dari Mikro-Hidro (berdasarkan data tahun


1985)

Gambar 2.7 Komponen-komponen Besar dari sebuah Skema Mikro Hidro


B.

Energi Angin

Turbin Angin Merupakan kincir angin yang digunakan untuk


membangkitkan tenaga listrik dengan menggunakan prinsip konversi
energi kinetik menjadi listrik.

Gambar 2.8 kincir angin


C.

Energi Surya

Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai potensi energi surya yang


cukup besar. Berdasarkan data penyinaran matahari yang dihimpun dari
18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di Indonesia dapat diklasifikasikan
berturut-turut sebagai berikut: untuk kawasan barat dan timur Indonesia
dengan distribusi penyinaran di Kawasan Barat Indonesia (KBI) sekitar
4,5 kWh/m 2 /hari dengan variasi bulanan sekitar 10%; dan di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) sekitar 5,1 kWh/m 2 /hari dengan variasi bulanan
sekitar 9%. Dengan demikian, potesi angin rata-rata Indonesia sekitar 4,8
kWh/m 2 /hari dengan variasi bulanan sekitar 9%.
Untuk memanfaatkan potensi energi surya tersebut, ada 2 (dua) macam
teknologi yang sudah diterapkan, yaitu teknologi energi surya termal dan
energi surya fotovoltaik. Energi surya termal pada umumnya digunakan
untuk memasak (kompor surya), mengeringkan hasil pertanian
(perkebunan, perikanan, kehutanan, tanaman pangan) dan memanaskan
air. Energi surya fotovoltaik digunakan untuk memenuhi kebutuhan
listrik, pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari pendingin di
Puskesmas dengan kapasitas total 6 MW.
Ada dua macam teknologi energi surya yang dikembangkan, yaitu:
Teknologi energi surya fotovoltaik;
Teknologi energi surya termal.

a.

Teknologi Energi Surya Fotovoltaik

Pemanfaatan energi surya khususnya dalam bentuk SHS (s olar home


systems ) sudah mencapai tahap semi komersial.
Komponen utama suatu SESF adalah:

Sel fotovoltaik yang mengubah penyinaran matahari menjadi listrik,


masih impor, namun untuk laminating menjadi modul surya sudah
dkuasai;

Balance of system (BOS) yang meliputi controller, inverter ,


kerangka modul, peralatan listrik, seperti kabel, stop kontak, dan
lain-lain, teknologinya sudah dapat dikuasai;

Unit penyimpan energi (baterai) sudah dapat dibuat di dalam negeri;

Peralatan penunjang lain seperti: inverter untuk pompa, sistem


terpusat, sistem hibrid, dan lain-lain masih diimpor.
Kandungan lokal modul fotovoltaik termasuk pengerjaan enkapsulasi dan
framing sekitar 25%, sedangkan sel fotovoltaik masih harus diimpor.
Balance of System (BOS) masih bervariasi tergantung sistem desainnya.
Kandungan lokal dari BOS diperkirakan telah mencapai diatas 75%.
Sasaran Pengembangan Fotovoltaik di Indonesia
Sasaran pengembangan energi surya fotovoltaik di Indonesia adalah
sebagai berikut: Semakin berperannya pemanfaatan energi surya
fotovoltaik dalam penyediaan energi di daerah perdesaan, sehingga pada
tahun 2020 kapasitas terpasangnya menjadi 25 MW.

Semakin berperannya pemanfaatan energi surya di daerah perkotaan.

Semakin murahnya harga energi dari solar photovoltaic , sehingga


tercapai tahap komersial.

Terlaksananya produksi peralatan SESF dan peralatan


pendukungnya di dalam negeri yang mempunyai kualitas tinggi dan
berdaya saing tinggi.
Peluang Pemanfaatan Fotovoltaik
Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang kecil dan
banyak yang terpencil menyebabkan sulit untuk dijangkau oleh jaringan
listrik yang bersifat terpusat. Untuk memenuhi kebutuhan energi di
daerah-daerah semacam ini, salah satu jenis energi yang potensial untuk
dikembangkan adalah energi surya. Dengan demikian, energi surya dapat
dimanfaatkan untuk p enyedian listrik dalam rangka mempercepat rasio
elektrifikasi desa.
Selain dapat digunakan untuk program listrik perdesaan, peluang
pemanfaatan energi surya lainnnya adalah:
Lampu penerangan jalan dan lingkungan;

Penyediaan listrik untuk rumah peribadatan. SESF sangat ideal untuk


dipasang di tempat-tempat ini karena kebutuhannya relatif kecil.
Dengan SESF 100 /120Wp sudah cukup untuk keperluan penerangan
dan pengeras suara;
Penyediaan listrik untuk sarana umum. Dengan daya kapasitas 400 Wp
sudah cukup untuk memenuhi listrik sarana umum;
Penyediaan listrik untuk sarana pelayanan kesehatan, seperti: rumah
sakit, Puskesmas, Posyandu, dan Rumah Bersalin;
Penyediaan listrik untuk Kantor Pelayanan Umum Pemerintah. Tujuan
pemanfaatan SESF pada kantor pelayanan umum adalah untuk
membantu usaha konservasi energi dan mambantu PLN mengurangi
beban puncak disiang hari;
Untuk pompa air ( solar power supply for waterpump ) yang digunakan
untuk pengairan irigasi atau sumber air bersih (air minum).

Kendala Pengembangan Fotovoltaik di Indonesia


Kendala yang dihadapi dalam pengembangan energi surya fotovoltaik
adalah:

b.

Harga modul surya yang merupakan komponen utama SESF masih


mahal mengakibatkan harga SESF menjadi mahal, sehingga
kurangnya minat lembaga keuangan untuk memberikan kredit bagi
pengembangan SEEF;
Sulit untuk mendapatkan suku cadang dan air accu , khususnya di
daerah perdesaan, menyebabkan SESF cepat rusak;
Pemasangan SESF di daerah perdesaan pada umumnya tidak
memenuhi standar teknis yang telah ditentukan, sehingga kinerja
sistem tidak optimal dan cepat rusak.;
Pada umumnya, penerapan SESF dilaksanakan di daerah perdesaan
yang sebagian besar daya belinya masih rendah, sehingga
pengembangan SESF sangat tergantung pada program Pemerintah;
Belum ada industri pembuatan sel surya di Indonesia, sehingga
ketergantungan pada impor sangat tinggi. Akibatnya, dengan
menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menyebabkan harga
modul surya menjadi semakin mahal.
Teknologi Energi Surya Termal

Selama ini, pemanfaatan energi surya termal di Indonesia masih


dilakukan secara tradisional. Para petani dan nelayan di Indonesia
memanfaatkan energi surya untuk mengeringkan hasil pertanian dan
perikanan secara langsung.

Teknologi dan Kemampuan Nasional


Berbagai teknologi pemanfaatan energi surya termal untuk aplikasi skala
rendah (temperatur kerja lebih kecil atau hingga 60 o C) dan skala
menengah (temperatur kerja antara 60 hingga 120 o C) telah dikuasai dari
rancang-bangun, konstruksi hingga manufakturnya secara nasional.
Secara umum, teknologi surya termal yang kini dapat dimanfaatkan
termasuk dalam teknologi sederhana hingga madya. Beberapa teknologi
untuk aplikasi skala rendah dapat dibuat oleh bengkel pertukangan
kayu/besi biasa. Untuk aplikasi skala menengah dapat dilakukan oleh
industri manufaktur nasional.
Beberapa peralatan yang telah dikuasai perancangan dan produksinya
seperti sistem atau unit berikut:

Pengering pasca panen (berbagai jenis teknologi);

Pemanas air domestic;

Pemasak/oven;

Pompa air (dengan Siklus Rankine dan fluida kerja Isopentane );

Penyuling air ( Solar Distilation/Still );

Pendingin (radiatif, absorpsi, evaporasi, termoelektrik, kompressip,


tipe jet);

Sterilisator surya;

Pembangkit listrik dengan menggunakan konsentrator dan fluida


kerja dengan titik didih rendah.
Untuk skala kecil dan teknologi yang sederhana, kandungan lokal
mencapai 100 %, sedangkan untuk sistem dengan skala industri
(menengah) dan menggunakan teknologi tinggi (seperti pemakaian
Kolektor Tabung Hampa atau Heat Pipe ), kandungan lokal minimal
mencapai 50%.
Sasaran Pengembangan Energi Surya Termal
Sasaran pengembangan energi surya termal di Indonesia adalah sebagai
berikut:
Meningkatnya kapasitas terpasang sistem energi surya termal,
khususnya untuk pengering hasil pertanian, kegiatan produktif
lainnya, dan sterilisasi di Puskesmas.
Tercapainya tingkat komersialisasi berbagai teknologi energi surya
thermal dengan kandungan lokal yang tinggi.
Strategi Pengembangan Energi Surya Termal

Strategi pengembangan energi surya termal di Indonesia adalah


sebagai berikut: Mengarahkan pemanfaatan energi surya termal
untuk kegiatan produktif, khususnya untuk kegiatan agro industri.

Mendorong keterlibatan swasta dalam pengembangan teknologi


surya termal.
Mendor ong terciptanya sistem dan pola pendanaan yang efektif.
Mendorong keterlibatan dunia usaha untuk mengembangkan surya
termal.

Program Pengembangan Energi Surya Termal


Program pengembangan energi surya termal di Indonesia adalah sebagai
berikut:

Melakukan inventarisasi, identifikasi dan pemetaan potensi serta


aplikasi teknologi fototermik secara berkelanjutan.

Melakukan diseminasi dan alih teknologi dari pihak pengembang


kepada pemakai (agro-industri, gedung komersial, dan lain-lain)
dan produsen nasional (manufaktur, bengkel mekanik, dan lainlain) melalui forum komunikasi, pendidikan dan pelatihan dan
proyek-proyek percontohan.

Melaksanakan standarisasi nasional komponen dan sistem


teknologi fototermik.

Mengkaji skema pembiayaan dalam rangka pengembangan


manufaktur nasional.

Meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk


berbagai teknologi fototermik.

Meningkatkan produksi lokal secara massal dan penjajagan untuk


kemungkinan ekspor.

Pengembangan teknologi fototermik suhu tinggi, seperti:


pembangkitan listrik, mesin stirling , dan lain-lain.
Peluang Pemanfaatan Energi Surya Termal
Prospek teknologi energi surya termal cukup besar, terutama untuk
mendukung peningkatan kualitas pasca-panen komoditi pertanian, untuk
bangunan komersial atau perumahan di perkotaan.

Prospek pemanfaatannya dalam sektor-sektor masyarakat cukup


luas, yaitu:

Industri, khususnya agro-industri dan industri pedesaan, yaitu untuk


penanganan pasca-panen hasil-hasil pertanian, seperti: pengeringan
(komoditi pangan, perkebunan, perikanan/peternakan, kayu olahan)
dan juga pendinginan (ikan, buah dan sayuran);

Bangunan komersial atau perkantoran, yaitu: untuk pengkondisian


ruangan ( Solar Passive Building , AC) dan pemanas air;

Rumah tangga, seperti: untuk pemanas air dan oven/ cooker ;

PUSKESMAS terpencil di pedesaan, yaitu: untuk sterilisator,


refrigerator vaksin dan pemanas air.

Kendala Pengembangan Energi Surya Termal


Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan surya termal adalah:

Teknologi energi surya termal untuk memasak dan mengeringkan


hasil pertanian masih sangat terbatas. Akan tetapi, sebagai pemanas
air, energi surya termal sudah mencapai tahap komersial. Teknologi
surya termal masih belum berkembang karena sosialisasi ke
masyarakat luas masih sangat rendah;

Daya beli masyarakat rendah, walaupun harganya relatif murah;

Sumber daya manusia (SDM) di bidang surya termal masih sangat


terbatas. Saat ini, SDM hanya tersedia di Pulau Jawa dan terbatas
lingkungan perguruan.
D.

Biodisel

Biodiesel adalah bahan bakar motor diesel yang berupa ester alkil/alkil
asam-asam lemak (biasanya ester metil) yang dibuat dari minyak nabati
melalui proses trans atau esterifikasi. stilah biodiesel identik dengan
bahan bakar murni. Campuran biodiesel (BXX) adalah biodiesel
sebanyak XX`% yang telah dicampur dengan solar sejumlah 1-XX %.
Latar Belakang Kebutuhan Biodiesel di Indonesia:
Bahan bakar mesin diesel yang berupa ester metil/etil asam-asam lemak.
Dibuat dari minyak-lemak nabati dengan proses metanolisis/etanolisis.
Produk-ikutan: gliserin. Atau dari asam lemak (bebas) dengan proses
esterifi-kasi dgn metanol/etanol. Produk-ikutan : air Kompatibel dengan
solar, berdaya lumas lebih baik. Berkadar belerang hampir
nihil,umumnya < 15 ppm. BXX = camp. XX %-vol biodiesel dengan (100
XX) %-vol solar. Contoh: B5, B20, B100. Sudah efektif memperbaiki
kualitas emisi kendaraan diesel pada level B2.
Keuntungan Pemakaian Biodiesel
Dihasilkan dari sumber daya energi terbarukan dan ketersediaan
bahan bakunya terjamin

Cetane number tinggi (bilangan yang menunjukkan ukuran baik


tidaknya kualitas solar berdasar sifat kecepatan bakar dalam ruang
bakar mesin)

Viskositas tinggi sehingga mempunyai sifat pelumasan yang lebih


baik daripada solar sehingga memperpanjang umur pakai mesin

Dapat diproduksi secara lokal

Mempunyai kandungan sulfur yang rendah

Menurunkan tingkat opasiti asap

2.12

Menurunkan emisi gas buang


Pencampuran biodiesel dengan petroleum diesel dapat
meningkatkan biodegradibility petroleum diesel sampai 500 %.

Negara- Negara yang telah mengembangkan konservasi energi

Salah satu yang banyak menjadi latar belakang banyak negara lebih
peduli terhadap konservasi energi adalah adanya isu global warming yang
disebabkan adanya climate change. Selain itu krisis energi yang semakin terbatas
dianggap
menganggu aktifitas konsumen dan keinginan dunia untuk
keberlangsungan generasi mendatang yang lebih baik. Belum lagi emisi CO2
yang semakinsulitdikendalikan.
Salah satu negara yang peduli terhadap keberlangsungan energi kemudian
melakukan konservasi adalah Norwegia. Negara ini berhasil mengembangkan
pembangkit listrik tenaga air secara maksimal meskipun memiliki cadangan
migas cukup tinggi. Lain lagi dengan Jepang. Paling tidak, kebijakan energi di
Jepang menekankan pada tiga hal yaitu konservasi energi, energi nuklir,dan
energi terbarukan.
Seperti yang pernah ditulis majalah Listrik Indonesia, setelah krisis
minyak pertama 1973, Jepang fokus terhadap penghematan energi dengan
melakukan riset dan pengembangan (R&D). Saat krisis energi kedua 1979,
Jepang memutuskan kebijakan rasionalisasi penggunaan energi dengan
meluncurkan "Undang-undang Konservasi Energi" terutama pada sektor industri,
perkantoran, jasa, dan alat-alat elektronik. Undang-undang yang hingga kini
masih berlaku dengan beberapa perubahan ini memegang peranan penting dalam
proses penghematan energi yang terjadi di Jepang.
Konservasi energi di Jepang sendiri lebih difokuskan pada beberapa
bidang. Misalnya saja sektor industri, transportasi, perumahan dan komersial.
Program unggulan yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang adalah Top Runner
Program yang dimulai pada tahun 1999.
Intinya, pemerintah Jepang dalam program ini, mencari produk
komersial yang terbagi dalam 23 kategori yang memiliki efisiensi energi terbaik,
lalu dengan tenggat waktu 4-6 tahun. kerjasama juga banyak dilakukan kepada
para produsen untuk tetap meningkatkan efisiensi energy dalam
menjalankanusahanya.
Pemerintah Jepang sendiri memiliki komitmen untuk mempromosikan
produk yang efisien energi diantaranya dengan penanda khusus pada produk
tersebut. Sehingga dengan mekanisme pasar yang jelas, para produsen akan

bersaing untuk melakukan perbaikan pada produknya dalam hal efisiensi energi.
Program ini ternyata berhasil dengan baik.
Kebijakan tersebut berlanjut terhadap sektor properti pada 1980 yang
direvisi pada 1992 dan 1999. Dalam aturan itu, ditetapkan lima jenis gedung
meliputi kantor, perumahan, hotel, rumah sakit dan sekolah berstandar hemat
energi. Berbagai program ini memangkas konsumsi energinya pada 2010 hingga
14% dari total konsumsi energi mereka pada 2001.
Lain lagi dengan Denmark. Komitmen negara dengan luas wilayah
sekitar 43.100 kilometer persegi dan hanya berpenduduk 5,5 juta jiwa dalam hal
konservasi energi tidak diragukan lagi. Padahal Denmark yang juga dikenal
sebagai salah satu negara produsen sekaligus eksportir minyak dan gas (migas)
dunia dan
berdasarkan penilaian Majalah Forbest dianggap mempunyai
pendapatan tertinggi di dunia, punya sumber minyak dan gas (migas) bumi yang
cukup besar.
Beberapa lokasi migas diantaranya ada di Laut Utara. Lapangan migas di
Denmark pertama kali ditemukan pada 1966. Hanya, produksinya baru mulai
dilakukan pada 1972. Hebatnya, negara ini berkomitmen menjadi negara yang
akan terbebas dari penggunaan energi fosil pada 2050 mendatang. Upaya
Denmark menjadi negara yang bebas dari energi fosil, dengan berbagai tindakan
nyata.
Sejak era 1970-an, Denmark berhasil memanfaatkan energi kincir angin
sebagai pembangkit listrik. Negara tersebut merupakan pionir yang mempopulerkan turbin angin sebagai pembangkit listrik. Kincir angin tenaga listrik di
Denmark pertama kali dibuat Poul La Cour lebih dari satu dasawarsasilam.
Pemerintah Denmark dari waktu ke waktu, secara konsisten memiliki komitmen untuk tetap mendukung pengembangan teknologi turbin angin.
Teknologi dasar mereka pun tetap terpelihara. Ketika energi angin kembali
populer pada awal 1990-an, banyak perusahaan turbin angin Denmark yang
merespon dengan cepat perkembangan tersebut. Akhirnya, perusahaanperusahaan turbin angin negara itu, seperti Vestas and Siemens Wind Power,
mampu merajai pasar turbin angin dunia.Perusahaan-perusahaan turbin angin
Denmark tersebut menguasai sekitar 30% pangsa pasar turbin angin secara
global.
Denmark juga tercatat berhasil dalam program konservasi energi. Ge
dung hemat energi pernah diterapkan Denmark dan terbukti mampu menghemat
pemakaian listrik yang semula memakan sebanyak 170 Kwh per meter persegi

dalam setahun menjadi hanya 100 Kwh per tahun setelah menerapkan teknologi
tersebut.
Di Copenhagen, ibu kota Denmark diwajibkan semua atap bangunan bertingkat dengan kemiringan kurang dari 30 derajat, baik baru atau renovasi dengan
bantuan kredit dari perbankan, harus ditanami. Keluarnya peraturan wajib
tersebut bukan tanpa sebab. Copenhagen sendiri menetapkan target menjadi kota
karbon netral pertama di dunia pada tahun 2025.
Saat ini sekitar 200.000 m2 atap-atap di Copenhagen merupakan atap
datar dan setidaknya 30 bangunan telah menanam rumput di atasnya.
Pertumbuhan bangunan-bangunan baru dengan atap hijau diperkirakan akan
mencapai 5.000 meter per tahunnya, tergantung pada perkembangan kota
tersebut.
Denmark juga bekerja sama dengan beberapa Negara dalam hal
konservasi energi. Misalnya saja Indonesia dalam Energy Efficiency and
Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI). Berupa pilot project
bangunan gedung hemat energi, penyusunan building code dan manajemen
energi di industri dan bangunan gedung dalam rangka mengoptimalkan
penggunaan energi.
Di Benua Australia, ada Australia yang pada 2007 menjadi negara
pertama di dunia yang mencanangkan larangan penggunaan bola lampu pijar
tradisional (dop). Langkah praktis ini dipercaya memperlambat pemanasan
global dan perubahan iklim dengan mengurangi 4 juta ton gas rumah kaca di
Australia pada 2015. Hitung-hitungannya, bila penduduk dunia saat ini serempak
menghentikan penggunaan bola lampu tradisional (dop), listrik yang dihemat
akan mencapai lima kali konsumsi listrik Australia setahun.
2.13

Langkah-langkah penghematan energi

1. Peningkatan Kontrol Pertama, Menyesuaikan Dan Mengoptimalkan


Struktur.
Untuk mengontrol konsumsi energi yang tinggi, industri polusi yang tinggi
pertumbuhan yang berlebihan, mempercepat penghapusan mundur
kapasitas produksi, mempromosikan restrukturisasi industri dan
meningkatkan kebijakan dan langkah-langkah untuk secara aktif
mempromosikan penyesuaian struktur energi, mempromosikan industri
jasa dan industri teknologi tinggi untuk mempercepat pembangunan.

Meningkatkan Investasi
Implementasi Penuh Dari Proyek-Proyek Kunci. Mempercepat
pelaksanaan sepuluh proyek hemat energi utama. Pelaksanaan proyekproyek konservasi air. Mempercepat pembangunan pengendalian
pencemaran air. Promosikan batubara pembangkit listrik pengobatan
sulfur dioksida.Dana konservasi energi pembiayaan multi-channel.
Model Yang Inovatif
mempercepat pembangunan ekonomi melingkar. Memperdalam pilot
ekonomi lingkaran, dan mempromosikan pemanfaatan komprehensif
sumber daya, dan mempromosikan penggunaan sumber daya limbah,dan
komprehensif mempromosikan produksi bersih.
Mengandalkan Teknologi Untuk Mempercepat Pengembangan
Teknologi Dan Promosi
Mempercepat pengembangan teknologi hemat energi, teknologi hemat
energi untuk mempercepat industrialisasi demonstrasi dan promosi,
mempercepat pembentukan hemat energi sistem pelayanan teknis,
mempromosikan perkembangan sehat industri perlindungan lingkungan
untuk memperkuat pertukaran dan kerjasama internasional.
Dasar Yang Kuat Memperkuat Manajemen Konservasi Energi
Membentuk energi akuntabilitas konservasi pemerintah, membangun dan
memperbaiki sistem hemat energi indeks, sistem monitoring dan sistem
evaluasi.
Sebuah Sistem Hukum Yang Kuat
memperkuat pengawasan dan inspeksi penegakan hukum. Meningkatkan
efisiensi energi dan standar lingkungan, hemat energi dan inspeksi
penegakan hukum khusus.
Meningkatkan kebijakan, insentif dan mekanisme menahan dir.
Secara aktif dan terus mendorong reformasi harga produk sumber daya,
meningkatkan energi dan mengurangi emisi kebijakan fiskal,
implementasi kondusif untuk energi kebijakan pajak konservasi.
Langkah Publisitas Untuk Meningkatkan Kesadaran Masyarakat
Terhadap Konservasi
Mengatur Nasional Konservasi Energi Pekan tahunan, Nasional
Perkotaan Konservasi Air Awareness Week dan Hari Lingkungan Hidup
Sedunia, Hari Bumi, kegiatan Hari Kesadaran Air. Gagasan melestarikan
sumber daya dan melindungi lingkungan meresapi semua tingkat
pendidikan sekolah, kesadaran konservasi anak dari usia dini.
Pemerintah untuk memimpin dan memainkan peran teladan dalam
konservasi energi.
Dalam pekerjaan konservasi energi, pemerintah pusat akan memberikan
contoh. Tahun ini, untuk mempromosikan produk hemat energi 50 juta,.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi
Energi, definisi konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan
terpadu guna melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta
meningkatkan efisiensi pemanfaatannya. Pelaksanaan konservasi energi
mencakup seluruh aspek dalam pengelolaan energi yaitu:

Penyediaan Energi
Pengusahaan Energi
Pemanfaatan Energi
Konservasi Sumber Daya Energi

Efisiensi merupakan salah satu langkah dalam pelaksanaan konservasi


energi. Efisiensi energi adalah istilah umum yang mengacu pada
penggunaan energi lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah layanan atau
output berguna yang sama. Di masyarakat umum kadang kala efisiensi
energi diartikan juga sebagai penghematan energi. Arah kebijakan utama
pemerintah meliputi:

Konservasi Energi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dan


pemanfaatan energi (Demand Side).

Diversifikasi Energi untuk meningkatkan pangsa energi baru


terbarukan dalam bauran energi nasional (Supply Side).
Secara garis besar manusia dapat melakukan konservasi energi yang
memanfaatkan energi alam. Contoh pemanfaatan energi yang berasal dari
alam ini, yaitu:

Energi Air ( mikrohidro )

Energi Angin

Energi Surya

Biodisel

DAFTAR PUSTAKA
http://imambudiraharjo.wordpress.com/2009/03/06/teknki-konservasienergi/
http://jumro.blogspot.com/2013/03/kebijakan-konservasi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/konservasi/
http://basoarif10ribu.blogspot.com/2013/02/konservasi-energi.html