Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya
seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel
tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.
Keberadaan

garam-garaman

mempengaruhi

sifat

fisis

air

laut

(densitas,

kompresibilitas, titik beku, temperatur dimana densitas menjadi maksimum)


beberapa tingkat tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya serap
cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat
ditentukan oleh jumlah garam di laut adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan
tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%),
natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan
sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium
dan florida. Tiga sumber utama dari garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan
di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal
vents) di laut dalam. salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam
gram pada setiap kilogram air laut.
Unsur hara (garam-garaman) yang terkandung dalam air laut berpengaruh
terhadap pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman, yang ditentukan
oleh dua faktor utama yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor
lingkungan yang sangat menentukan lajunya pertumbuhan, perkembangan dan
produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam
tanah. Semua tanaman hijau memerlukan seperangkat dasar hara mineral yang sama
dan berbagai unsur digunakan oleh tanaman yang berbeda untuk menghasilkan
tujuan akhir yang sama. Tanaman tingkat tinggi membutuhkan 16 jenis hara esensial
yang terdiri atas kelompok hara makro dan mikro, meskipun pengelompokan tersebut

masih diperdebatkan karena hara mikro tertentu dapat menjadi hara makro untuk
tanaman lain.
Diantaranya 105 unsur yang ada di atas permukaan bumi, ternyata baru 16
unsur yang mutlak diperlukan oleh suatu tanaman untuk dapat menyelesaikan siklus
hidupnya dengan sempurna. Ke 16 unsur tersebut terdiri dari 9 unsur makro dan 7
unsur mikro. 9 unsur makro dan 7 unsur mikro inilah yang disebut sebagai unsurunsur esensial. Unsur-unsur esensial ini berkaitan dengan pembuatan pupuk,
diantaranya sebagai bahan dasar dan harus melalui pengolahan lebih lanjut.
Pada umumnya pupuk yang mengandung garam-garaman tersebut (Na, Mg,
Ca, K) berpengaruh baik terhadap tanaman misalnya pada kalsium, pada proses
sintesa protein dibutuhkan untuk pembelahan dan pembesaran sel-sel tanaman, di
samping dapat menetralkan asam-asam organik yang dihasilkan pada proses
metabolisme tanaman sehingga tanaman terhindar dari keracunan. Selain
berpengaruh pada pembentukan Net pada tanaman melon, elemen ini berperan dalam
menaikkan pH.
Dengan demikian unsur yang terdapat dalam air laut sebagian besar dapat
digunakan sebagai bahan pembuat pupuk.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah unsur hara yang terdapat dalam air laut?
2. Apa saja sifat fisika dan kimia laut ?
1.3 Tujuan
1.

Untuk mengetahui unsur hara yang terdapat dalam air laut.

2.

Untuk mengetahui sifat-sifat fisika dan kima penyusun air laut.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Air Laut sebagai Sumber Hara
Air laut mengandung banyak ion mengakibatkan tingginya salinitas.
Distribusi hara di dalam air laut dipengaruhi oleh sirkulasi air laut, proses biologi
dan mineralisasi serta regenerasi nutrisi dengan adanya migrasi hewan dan suplai
dari daratan. Rata-rata konsentrasi garam-garam terlarut di air laut berkisar 3.5%,
namun konsentrasi tersebut tergantung pada lokasi dan laju evaporasi. Konsentrasi
ion utama terlarut bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lain, namun secara proporsi
relatifnya konstan. Air laut sudah banyak digunakan untuk mengairi tanaman yang
toleran terhadap salinitas (halophytes) pada daerah-daerah dekat pantai. Mengingat
tingginya kandungan kation, air laut dapat digunakan sebagai salah satu sumber
hara bagi tanaman termasuk tanaman yang sensitif terhadap kadar garam yang
tinggi.

Pada data tabel 1 di atas menunjukkan bahwa terdapat 14 jenis ion pada air
laut. Dari jumlah itu, konsentrasi klorida dan natrium terdapat dalam jumlah yang
sangat tinggi. Hal inilah yang menyebabkan tingginya salinitas air laut. Di samping
itu sulfat, magnesium (Mg), calsium (Ca) dan kalium (K) juga terdapat dalam
konsentrasi yang cukup tinggi dibandingkan unsur lainnya. Tingginya kandungan
nutrien yang terdapat pada air laut, khususnya unsur-unsur yang dibutuhkan
tanaman seperti Mg, Ca dan K memberi petunjuk bahwa air laut dapat menjadi
salah satu sumber alternatif nutrien bagi tanaman. Berkaitan dengan tingginya
salinitas air laut, tantangan yang dihadapi adalah upaya untuk memanfaatkan unsurunsur hara tersebut dengan menurunkan kandungan Na dan Cl sampai pada level
yang tidak merugikan pada tanaman. Di samping itu unsur Na juga dapat
dimanfaatkan sebagai unsur hara untuk jenis-jenis tanaman tertentu yang
membutuhkannya baik sebagai unsur tambahan/menguntungkan maupun sebagai
pengganti sebagian dari kebutuhan akan unsur K.
2.2. Sifat Fisika Laut
a. Cahaya
Cahaya matahari merupakan energi penggerak utama bagi seluruh ekosistem
termasuk di dalamnya ekosistem perairan. Cahaya matahari menghasilkan panas
sebesar 10

26

Kalori/detik, namun hanya sebagian kecil dari panas tersebut yang

mampu diserap dan masuk ekosistem perairan. Dari bagian kecil yang memasuki
ekosistem perairan hanya sebagian kecil yang mampu diserap oleh organisme

autotrop seperti fitoplankton. Cahaya adalah sumber energi dasar bagi pertumbuhan
organisme autotrop terutama fitoplankton yang pada gilirannya mensuplai makanan
bagi seluruh kehidupan di perairan. Proses produksi di laut dimulai dari oraganisme
autotrop yang mampu menyerap energi matahari. Tingkatan produksi di laut
digambarkan dengan bentuk piramida makanan yang menunjukan tingkatan tropic
atau rantai makanan antara produser dan consumer. Organisme autotrop menempati
dasar piramida yangmenunjukkan bahwa organisme ini memiliki jumlah terbesar
dan menjadi penopang seluruh kehidupan pada tingkat tropic di atasnya. Fungsi
ekosistem yang optimal harus ditunjang oleh adanya cahaya matahari. Ekosistem
yang baik harus mampu mendukung kehidupan di dalamnya. Salah satu ukuran
kualitas suatu ekosistem adalah terselenggaranya proses produksi atau produktivitas
primer yang mempersyaratkan adanya cahaya untuk keberlangsungannya.
Semakin tinggi nilai produktivitasnya maka semakin besar pula dayadukungnya
bagi kehidupan komunitas penghuninya. Sebaliknya produktivitas primer yang
rendah menunjukkan daya dukung yang rendah pula. Produktivitas primer dapat
didefinisikan sebagai laju penyimpanan energi radiasi matahari melalui aktivitas
fotosintesis yang dilakukan produser primer yang mampu memanfaatkan zat-zat
anorganik dan merubahnya menjadi bahan organik (Odum,1971; Barnes dan
Hughes, 1982;Wetzel,1983).
Pada ekosistem akuatik sebagian besar produktivitas primer dilakukan oleh
fitoplankton (Wetzel, 1983; Parson dkk, 1984). Steeman-Nielsen (1975) menyatakan
bahwa kurang lebih 95% produksi primer di laut berasal dari fitoplankton.
Pada prinsipnya warna laut ditentukan oleh interaksi dari insiden cahaya dengan
substansi atau partikel yang ada di dalam air. Spektrum cahaya yang memasuki air
akan di absopsi dan direfleksi. Absopsi terhadap cahaya dilakukan oleh molekulmolekul air sendiri dan oleh bahan-bahan yang terkandung didalamnya seperti
bahan terlarut dan bahan tersuspensi terutama plankton.
Cahaya yang diserap/diabsopsi akan dirubah menjadi energi bahang. Cahaya yang
diabsopsi energinya berkurang dan daya tembusnya menurun secara gradual
berdasarkan kedalaman. Cahaya juga akan direfleksikan kembali apabila memasuki
air. Refleksi pada perairan alami sangatlah komplek dan refleksi kompleks kesegala
arah dikenal dengan istilah scattering. Spektrum warna cahaya matahari yang

direfleksikan akan memberi warna dari air itu sendiri. Warna yang diserap tidak
akan tampak pada air sebaliknya warna yang direfleksikan akan tampak.
Bahan-bahan pengeruh (turbidity substance) memiliki distribusi tidak merata secara
horizontal. Pada daerah pantai dan muara sungai tingkat kekeruhannya relatif lebih
tinggi daripada laut terbuka. Hal ini disebabkan oleh masuknya bahan-bahan terlarut
maupun tersuspensi dari daratan. Kekeruhan yang tinggi pada daerah pantai
mengakibatkan warna yang ditimbulkan adalah warna-warna dari spectrum cahaya
yang memiliki gelombang panjang. Pada laut terbuka umumnya kekeruhan rendah
dan warna laut yang mendominasi berasal dari spectrum warna biru yang memiliki
gelombang pendek yang sedikit diabsopsi dan lebih banyak di refleksikan.
Penambahan kekeruhan pada air yang jernih akan menggeser warna air dari
spectrum warna biru dengan gelombang pendek menjadi spectrum warna dengan
panjang gelombang lebih tinggi.
Pada air laut yang jernih dimana tingkat kekeruhan rendah, maka spectrum
cahaya biru dengan gelombang yang pendek (pada = 0.477 m) akan menembus
sampai lapisan yang dalam. Dengan kata lain cahaya biru sedikit yang diabsopsi dan
lebih banyak yang di repleksikan, sehingga air yang kita lihat akan berwarna biru.
Dalam hal ini pengaruh selective scattering sangat dominan. Sebaliknya pada air
dengan kekeruhan rendah, warna biru akan banyak diabsopsi sehingga warna yang
direpleksikan adalah warna lain bergantung pada substansi kekeruhan yang ada.
Pada kondisi demikian yang faktor yang sangat penting adalah natural absorption
color dan warna yang dihasilkan bergeser dari biru menjadi biru-kehijauan (bluegreen) dengan panjang gelombang lebih besar dari 0.477 m. Bila kekeruhan
meningkat maka panjang gelombang yang lebih tinggi akan mewarnai perairan
menjadi hijau atau hijau-kuning (green-yellow) dan faktor yang dominan adalah
yellow substance. Apabila tingkat kekeruhan lebih tinggi maka materi tersuspensi
akan menentukan warna air.
Apabila kekeruhan disebabkan oleh adanya materi tersuspensi seperti
fitoplankton maka fitoplankton akan menyerap banyak warna biru dan merah dan
akan merefleksikan warna hijau, karena itu kita melihat air berwarna hijau. Pada
daerah dengan kepadatan fitoplankton atau konsentrasi klorofil yang tinggi akan
memberikan warna air yang berbeda dengan daerah dengan konsentrasi klorofil

yang lebih rendah. Perbedaan konsentrasi klorofil akan memberikan warna yang
berbeda.
Pada ekosistem perairan alami, siklus produksi dimulai oleh produser. Produser
adalah organisme autotrop yang mampu mensintesa bahan organik yang berasal dari
bahan anorganik melalui proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari.
Produser utama pada ekosistem perairan adalah fitoplankton. Fitoplankton adalah
tumbuhan renik yang memiliki produktivitas tinggi dan menempati dasar dari suatu
piramida makanan di laut.
Sebagai organisme autotrop, fitoplankton berperan sebagai produser primer yang
mampu mentransfer energi cahaya menjadi energi kimia berupa bahan organik pada
selnya yang dapat dimanfaatkan oleh organisme lain pada tingkat tropis diatasnya.
Fitoplankton merupakan produser terbesar pada ekosistem laut. Pada ekosistem
akuatik sebagian besar produktivitas primer dilakukan oleh fitoplankton (Parsons
dkk, 1984). Steeman-Nielsen (1975) menyatakan bahwa kurang lebih 95% produksi
primer di laut berasal dari fitoplankton.
Pada tahapan awal aliran energi, cahaya matahari ditangkap oleh tumbuhan
hijau yang merupakan produser primer bagi ekosistem perairan. Energi yang
ditangkap digunakan untuk melakukan proses fotosintesis dengan memanfaatkan
nutrien yang ada di lingkungannya. Melalui pigmen-pigmen yang ada fitoplankton
melakukan proses fotosintesis. Pigmen-pigmen ini memiliki kemampuan yang
berbeda dalam melakukan penyerapan energi cahaya matahari.
Proses fotosintesis hanya dapat berlangsung bila pigmen fotosintesis menerima
intensitas cahaya tertentu yang memenuhi syarat untuk terjadinya proses tersebut.
Govindjee dan Braun (1974) menyatakan bahwa aksi pertama pada proses
fotosintesis adalah mengabsorpsi cahaya. Tidak semua radiasi elektromagnetik yang
jatuh pada tumbuhan yang berfotosintesis dapat diserap, tetapi hanya cahaya tampak
(visible light) yang memilki panjang gelombang berkisar antara 400 sampai 720 nm
yang diabsorpsi dan digunakan untuk fotosintesis.
Sebagai produser primer, fitoplankton memduduki tingkatan terbawah pada
piramida makanan, artinya fitoplanktonlah yang mendukung seluruh kehidupan di
laut. Dengan kata lain fitoplankton menduduki tropik level paling randah dan
berperan mentransfer energi matahari dan mendistribusikan energi tersebut pada

organisme laut melaui rantai makanan. Apabila dilihat bentuk piramida makanan
maka bisa diartikan bahwa semakin ke atas ukuran individu bertambah sedangkan
jumlah individu menurun. Sebaliknya jumlah fitoplankton jauh lebih besar
dibanding zooplankton dan ikan tetapi ukurannya jauh lebih kecil.
Bahan organik hasil proses fotosintesis dapat dimanfaatkan oleh zooplankton yang
menduduki tropic level kedua pada piramida makanan. Pada tingkat tropik ini
zooplankton berperan sebagai organisme herbivora atau konsumer primer. Sebagian
besar zooplankton memakan fitoplankton atau detritus dan memiliki peran penting
dalam rantai makanan pada ekosistem perairan. Beberapa spesies memperoleh
makanan melalui uptake langsung dari bahan organik yang terlarut. Zooplankton
pada dasarnya mengumpulkan makanan melalui mekanisme filter feeding atau
raptorial feeding. Zooplankton filter feeder menyaring seluruh makanan yang
melewati mulutnya sedangkan pada raptorial feeder sebagian makanannya
dikeluarkan kembali

b. Suhu
BAB III
KESIMPULAN

1. Air laut mengandung unsure hara yang dapat dibutuhkan. Garam-garaman utama
yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%),
magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%)

teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber
utama dari garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas
vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut
dalam. salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada
setiap kilogram air laut.
2. Banyak unsur-unsur esensial, yang ada di dalam tanah, yang mempunyai pengaruh
terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman, diantaranya unsur natrium (Na),
magnesium (Mg), kalsium (Ca), dan kalium (K). Masing-masing unsur esensial
tersebut mempunyai peranan dan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan dan
produksi tanaman.
3. Pada dasarnya pemanfaatan air laut sebagai pengganti pupuk merupakan
penggantian pemakaian kalium menjadi natrium. Kalium merupakan unsur yang
sangat penting bagi tumbuhan namun keberadaannya di alam sangat terbatas, oleh
sebab itu, petani menggunakan pupuk seperti pupuk NPK.
4. Penggunaan air laut sebagai peminimalisir penggunaan pupuk mempunyai beberapa
5. kelebihan dan kekurangan (kendala). Penggunaan hara air laur sangat efektif
mengingat di indonesia saat ini mengalami kelangkaan pupuk bersubsidi bagi para
petani kecil.
Daftar Rujukan
Anonim, 2005. Salinitas Air Laut. (Online), diakses 16 Februari 2016.
Anonim, Pengaruh Unsur Esensial Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman.
(Online), diakses 16 Februari 2016.
Bali Post. 2005. Pupuk Organik Ramah Lingkungan. (Online), diakses 16 Februari
2016.
Prihmantoro, Heru. 2007. Memupuk Tanaman Sayur. (Online), diakses 16 Februari
2016.
Priyotomo, Gadang. 2007. Kandungan Umum Air Laut. (Online), http://gadang-ebookformaterialscience.blogspot.com/2007/12/info-kandungan-umum-airlaut.html, diakses 16 Februari 2016.

Sipayung, Rosita.2003. Stres Garam dan Mekanisme Toleransi Tanaman. (Online),


diakses 11 Maret 2009.
Slavich, Peter, dkk. 2006. Pengkajian Salinitas Tanah Secara Cepat di Daerah yang
Terkena Dampak Tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
(Online) diakses 11 Maret 2009.
Wijayani, Ari dan Indra, Didik. 2004. Deteksi Kahat Hara N, P, K, Mg dan Ca.
(Online), diakses 11 Maret 2009.
Yufdy, M. Prama dan Jumberi, Achmadi. 2006. Pemanfaatan Hara Air Laut untuk
Memenuhi Kebutuhan Tanaman. (Online), diakses 11 Maret 2009.
Yufdy, M. Prama dan Jumberi, Achmadi. 2006. Potensi Penanaman Tanaman Serealia
dan Sayuran pada Tanah Terkena Dampak Tsunami. (Online), diakses 11 Maret
2009.
Alpen, E.L., 1990. Radiation Biophysics. Prentice-Hall International Inc.
New Jersey.
Charton, B dan J. Tietjen. 1989. Seas and Oceans. Collin. Glassglow
andLondon.
Chusing, D.H. 1975. Marine Ecology and Fisheries. Cambridge
University Press.London
Forti.G. 1969. Light Energy Utilization in Photosynthesis. In Goldman,
C.R.Primary Production in Aquatic Environments. University of California
Press. P. 19-34
Govindjee dan B.Z. Braun.1974. Light Absorption, Emission and
Photosynthesis In W.D.P. Stewart (ed.) Algal Physiology and Biochemistry.
Blackwell Scientific Publications. Oxford. p.346-390.
Grahame, J. 1987. Plankton and Fisheries. Edward-Arnold. Australia.
Mann, K.H. 1982. Ecology of Coastal Waters: A System Approach.
Black Well
Scientific Publication. Oxford.
Neale. 1987. Algal Photoinhibition and Photosyntesis in the Aquatic
Environment In D.J. Kyle,. C.B. Osmon dan C.J. Arntzen (Eds). Photoinhibition.
Elsevier.

Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT.


Gramedia Jakarta.
Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. Third edition. W.B. Saunder
Company. Philadelphia. London. Toronto.
Odum, E.P. 1983. Basic Ecology. Saunders College Publishing. Philadelpia.
Parsons, T.R., M. Takahashi dan B. Hargrave. 1984. Biological
Oceanographic Processes. Third edition. Pergamon Press. Oxford.
Sears, F.W. 1949. Optics. Addison-Wesley Publishing Company. Japan.
Steeman-Nielsen, E. 1975. Marine Photosinthesis with Emphasis on the
Ecological Aspect. Elseiver Oceanography Series 13. Elseiver Sci.
Publ. Co. Amsterdam.