Anda di halaman 1dari 202

FIELD

MANAGEMENT

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENERGI DAN SUMBER


DAYA MINERAL SEKOLAH TINGGI ENERGI DAN MINERAL Akamigas
STEM Akamigas
Cepu, 24 Oktober 2014

BAB I
INDUSTRI

INDUSTRI
1.

Pengertian :
Istilah Industri mempunyai pengertian beragam antara lain :

Keterampilan dalam suatu upaya / usaha kerajinan.


Suatu kelompok badan usaha yang mencari laba.
Kegiatan pembuatan barang manufacturing sebagai suatu keseluruhan.
Suatu usaha/ kerja yang sistimatis khususnya dalam menciptakan nilai.
Suatu kelompok usaha kerajinan, badan usaha atau pembuatan barang khususnya
yang menggunakan banyak tenaga kerja dan modal terutama dalam menghasilkan

barang/jasa.
Suatu kelompok badan usaha yang menciptakan / menumbuhkan barang ekonomi
atau jasa sejenisnya.
Pada umumnya pengertian industri lebih mengarah pada usaha pencapaian nilai lebih
suatu barang jasa sebelum barang / jasa tersebut sampai ditangan konsumen.
2.

Pengelompokan Industri.
Keperluan manusia selalu berubah dan bertambah sehingga menimbulkan makin
banyaknya jumlah dan jenis usaha sebagai industri, maka pengelompokannya dapat
dilihat dari pelbagai sisi antara lain :
1. Kepemilikan : pemerintah swasta
2. Besarnya modal : besar kecil
3. Jumlah barang yang diproduksi : banyak sedikit
4. Mutu barang : tahan lama cepat rusak
5. Kependudukan dan nilai ekonomis : strategis biasa
6. Peralatan : modern tradisional.
7. Kegunaan hasil : barang jadi setengah jadi.
8. Jenjang pertumbuhan ; awal dewasa.
9. Sumber bahan baku : ekstratif genetic.
10. Jenjang pengerjaan : hulu hilir
11. Penyelesaian bahan baku : primer sekunder
12. Lingkungan politis : kapitalis sosialis.

3.

Penggolongan Industri :
Memperhatikan apa yang ditangani, industri dapat digolongkan kedalam golongan :
2

a. Pertanian, kehutanan, perikanan; langsung terkait dengan alam yang sumber


dayanya dapat diperbaharui, bahan bakunya dipasok alam yang menghasilkan
tanpa pertolongan manusia. Manusia hanya menuai.
b. Ekstratif industri ini juga berkaitan dengan alam namun sumber dayanya tak
dapat diperbaharui.
c. Pembuatan barang ( manufaktur ) pada hakekatnya industri ini adalah proses
pengalihan / pengubahan material bahan baku menjadi barang lain baik secara
mekanik atau kimia. Bahan yang diolah termasuk hasil pertanian, kehutanan
maupun perikanan dan barang yang dihasilkan umumnya barang habis pakai.
d. Konstruksi mirip dengan ada tetapi pada golongan ini hasil produksinya tahan
lama dengan mendatangkan keuntungan dalam jangka waktu yang lama.
e. Angkutan, perhubungan, kemudahan ketiga industri dalam golongan ini
menjadi prasyarat bagi adanya industri lain dimana :
1. Angkutan, penyedia kemudahan dalam memindahkan barang.
2. Perhubungan, sarana telepon kemudahan mendapatkan informasi
3. Listrik dan air prasyarat dalam kehidupan industri
f. Pendanaan ; sistim pendanaan finacing yang menjadi perantara antara pembeli
dan penjual, penabugan dan penanam modal, pengambil resiko dan penghindar
resiko.
g. Jasa : menjual kemudahan dalan bentuk jasa bukan barang.
4.

Sumber daya industri.


Industri memerlukan pasokan / masukkan sumber daya yang tidak hanya satu
bentuk / jenis. Penggabungan sumber daya itu dapat beraneka ragam / berubah sejalan
dengan perkembangan masa atau teknologi.
1. Sumber daya alami masukan ini disediakan oleh alam, baik terbarui atau tidak.
2. Tenaga kerja mempunyai kedudukan unik karena sebagai masukan, ia juga
menentukan jenis keluaran ( sebagai anggota masyarakat ).
3. Modal baik berupa uang maupun barang modal ( benda ekonomi yang digunakan
untuk memupuk kekayaan juga termasuk teknologi ).
4. Pengelolaan yang menggarap sehingga masukan yang lain dapat tertangani
secara berdayaguna.

5.

Penempatan Industri.
Faktor dasar bagi letak industri adalah pasar, tenaga kerja, angkutan, bahan bakar,
bahan baku dan kemudahan lain. Perlu diperhatikan pula nilai yang tak terukur
3

( sikap penduduk, pemimpin formal / informal, tenaga kerja dan industri yang telah ada
/ berdiri, bobot faktor tersebut berbeda untuk tiap industri.
6.

Peran industri dalam perekonomian nasional.


Pertumbuhan jumlah manusia yang cepat memerlukan tambahan pangan yang hanya
dihasilkan dari lahan yang terbatas sehingga walau jumlah hasil dapat bertambah tetapi
tidak akan dapat melampui titik maksimumnya, demikian pula harga / nilai yang
diperoleh. Disisi lain industri yang bertambah jumlahnya akan menambah
nilai / harga barang / jasa yang dihasilkan. Dengan demikian pendapatan pemerintah
akan bergeser dari sektor pertanian ke sektor industri, dari sektor sumber daya alami ke
sektor barang dan jasa.

STRUKTUR INDUSTRI.
1.

Dalam ilmu ekonomi kebutuhan masyarakat disebut barang yang dapat berupa ;
a. Benda ; mempunyai wujud, baik bahan mentah maupun bahan jadi.
b. Jasa : tidak berwujud
Benda mula mula diperoleh dari sumber daya alam terdiri dari sector pertanian
( tanaman pangan, perkebunan kehutanan, peternakan, perikanan ) dan sumber daya
pertambangan, agar dapat bermanfaat sumber daya yang diperoleh harus diubah
menjadi benda dari wujud satu ke wujud lain yang dilakukan oleh industri.

Dilihat dari tingkat proses pengalihan wujud barang, industri harus dibedakan antara :
1. Industri Primer
Ialah industri yang kegiatannya ditujukan untuk memperoleh bahan mentah dari
sumber daya alam, baik genetic maupun ekstratif, industri yang bergerak dalam
bidang ini terlibat dalam kegiatan tingkat pertama.
2. Industri Sekunder.

Ialah industri yang mengolah lebih lanjut bahan baku yang dipasok dari industri
primer. Industri sekunder merubah bahan baku menjadi bahan jadi dan disebut
sebagai industri manufaktur, misalnya dari kayu gelondongan menjadi papan
( phisik ) atau dari bijih besi menjadi besi lempengan ( chemical ). Industri
manufaktur ini biasanya memberikan nilai tambah ( added Value ).
3. Industri Tersier.
Ialah industri yang menyelenggarakan pelbagai pelayanan jasa yang meliputi :
a. Pemasaran modal barang yang dihasilkan industri primer maupun sekunder.
b. Pemuasan / pemenuhan kebutuhan kelompok maupun perseorangan.
2.

Perekonomian suatu Negara didukung oleh pelbagai sektor kegiatan. Pendapatan


Negara sebagian berasal dari hasil yang dijual oleh kegiatan tersebut. Sesuai
perubahan / kemajuan peradaban setelah melewati masa pengembangan dan kemudian
terbentuk pasar, pendapatan Negara terutama ditopang oleh pertanian kemudian oleh
industri atau gabungan kedua dalam pelbagai perbandingan.
Sektor industri yang terdiri dari kegiatan industri primer, sekunder dan tersier
mempunyai sumbangan

dalam

perolehan yang menunjang pendapatan Negara,

besar kecilnya sumbangan masing masing industri tersebut dalam kegiatan


ekonomi keseluruhan berbeda untuk tiap Negara bahkan dalam satu Negara perbedaan
ini dapat terjadi dari waktu ke waktu.
Besarnya pendapatan Negara dari kegiatan masing masing industri ( primer sekunder
dan tersier ) disebut sebagai struktur industri dan jika dilihat sebagai suatu sistim,
maka jika pendapatan Negara adalah suatu keseluruhan pendapatan dari industri adalah
sistim dan kegiatan primer, sekunder dan tersier adalah subsistim.
3.

Industri primer, sekunder, dan tersier masing - masing dan tingkat perkembangan
( cepat lambat, tinggi rendah ) tidak perlu sama. Dengan demikian terjadi
perubahan diantara ketiga kegiatan industri tersebut dan juga dalam masing masing
kegiatan tetapi perubahan itu akan memberikan kontribusi kedalam pendapatan
Negara, sehingga dapat disimpulkan bahwa jika semula Negara memperoleh sumber
pendapatan terutama dari industri primer, peran tersebut dapat digantikan oleh industri
sekunder atau tersier maka dapat dikatakan ada pergantian atau perubahan struktur
5

industri. Pergantian atau perubahan struktur ini ialah perubahan nisbi ( relative
importance) dari pelbagai kegiatan perekonomian ( = salah satu sector perekonomian
adalah industri). Dimana hakekatnya perubahan struktur ini merujuk pada variasi laju
4.

pertumbuhan pelbagai sektor yang langsung berkaitan.


Perubahan struktur dapat terjadi karena kekuatan pasar dan kebijaksanaan pemerintah
dimana keduanya menuntun pada perubahan yang bersifat umum berlaku menyeluruh
dikegiatan industri.
Kekuatan pasar yang bersifat umum misalnya kebijakan keuangan ( fiscal, pajak, kurs,
valuta), proteksi dan upah tenaga kerja. Sedang yang bersifat khusus dapat dicontohkan
pananaman modal ( PMA, PMDN ), pembelanjaan pemerintah dan aturan persaingan.

PENGELOLAAN INDUSTRI
1.

Dalam suatu sistim ekonomi terdapat 4 proses dalam penanganan barang :


a. Penyediaan bahan baku yang diperlukan dalam ekonomi modern umpama bahan
tambang dan bahan bakar, makanan dari tumbuhan maupun hewan, bahan tenun,
kayu, batu, pasir, kulit dsb.
b. Pemrosesan bahan baku menjadi bentuk lain, bahan olahannya, baik barang jadi
maupun setengah jadi dilakukan di pabrik.
c. Pembagian / pengiriman ( distribusi ) bahan baku dan bahan olahannya ke para
pengguna.
d. Jasa yang melayani semua kegiatan tersebut.
Dalam melakukan kegiatan ekonomi ada suatu esensi yang harus dipahami dengan
baik ialah bahwa pelaku ekonomi ( manusianya ) menjadi obyek sekaligus subyek
ekonomi, ia membuat barang dan menjual jasa untuk orang lain tetapi juga
menerima / mendapatkan barang dan membeli jasa orang lain.

2.

Kegiatan a dan b diatas merupakan lingkup industri, untuk memenuhi keperluan dan
keinginan manusia ada ratusan ribu pabrik yang mengolah dan menghasilkan barang
olahan . pabrik - pabrik tersebut berbeda pemilik dan cara kerjanya.
Industri dalam belbagai bentuknya mempunyai pemilik, pemiliknya

dapat

perseorangan, persekutuan dagang, perseroan terbatas, koperasi, perusahaan Negara


6

( perum, perjan, persero ) dan perusda. Kepemilikan tersebut ikut nenentukan


bentuk / cara pengelolaan sedang pengelolaan harus memahami struktur dasar industri
3.

karena hal itu menentukan kondisi produksinya.


Definisi dari pengelolaan adalah koordinasi dari faktor produksi untuk memenuhi
tujuan organisai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengelolaan ialah suatu proses
yang melibatkan pelbagai macam pelaksanaan.
Faktor produksi yang harus dikoordinasi ialah :
a. Tanah, sumber daya alam yang menjadi sumber bahan baku.
b. Modal sumber daya dana dalam bentuk apapun.
c. Tenaga kerja, terlatih atau tidak. Sumber daya yang merubah bahan baku menjadi
barang olahan.
d. Pengelolaan ( management entrepreneurship ) sumber daya yang menyatukan
ketiga faktor diatas menjadi barang jasa yang diperlukan.
Faktor produksi modal (b) bisa dipecah menjadi dana / uang dan permesinan.

4.

Dalam definisi pengelolaan disebut adanya organisasi, merupakan sekelompok


manusia

yang

mencari

mencapai

tujuannya.

Sehingga

mereka

perlu

diarahkan / koordinasi usaha mereka yang terlibat. Dengan cara :


a. Memisahkan pengelolaan menjadi 3 jenjang pertanggung jawaban yaitu :
Pengelola puncak (top management ) :

yang mengkoordinasi usaha tingkat

tertinggi bertanggung jawab terhadap atas seluruh kegiatan perusahaan.


Pengelola ini menentukan kebijaksanaan dan rencana perluasan usaha serta
hal hal baru.
Pengelola menengah ( middle management ) : yang bertanggung jawab atas
bagian perusahaan dan mencakup operasi / pelaksanaan kegiatan tertentu,
membuat rencana untuk melaksanakan kebijaksanaan pengelola puncak.
Pengelola pengawasan ( supervisory management ) : yang bertanggung jawab
atas bagian kecil yang khusus dari organisai. Pengelola ini bertanggung jawab
atas penugasan pekerjaan ( job assisment ) kepada orang tertentu, menilai hasil
kerja mereka dan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
b. Memisahkan pengelolaan dalam fungsi dasar agar dengan demikian tiap bagian
dari kerja memperoleh perhatian yang cukup.
7

Fungsi dasar pengelolaan pada intinya ialah Perencanaan, Pelaksanaan dan


Pengkajian atau Perencanaan , Pengaturan ( pengorganisasian ), Pengarahan,
Pengawasan / pengendalian ( controlling ) atau Perencanaan, Pengaturan,
Pengarahan / komando, Koordinasi, Pengendalian / Pengawasan.
5.

Dalam suatu industri yang menjadi pusat terpenting adalah barang yang akan dijual ,
demi produk industri itulah berkisar Organisasi pengelolaan , pabrik, kelengkapan
bahan dan tenaga kerja karena produklah yang menjadi sumber laba dan yang menjadi
perangsang orang bekerja untuk mencapai daya guna dengan menberikan produk yang
lebih banyak dan lebih tinggi mutunya, baik produk itu berupa barang atau jasa.
Pengelola harus mengetahui produknya meyakini adanya permintaan terhadapnya,
menyiapkan

perusahaannya

untuk

menangani,

menemukan

bagan

pembuatan / penyediaan barang, ongkosnya, harganya dan menjaga dari persaingan


yang merugikan.
6.

Konsumen para pemakai, umumnya membeli berdasarkan hal berikut :


a. Penampilan ; menarik
b. Kemudahan memakai ; dapat segera dipergunakan.
c. Manfaat ; memenuhi keinginan.
d. Keawetan ; dapat digunakan dalam waktu yang lama.
e. Ongkos penggunaan ; murah dan perawatan
f. Harga ; sesuai dengan urgensi
g. Banyak jenis dan ukuran ; jenis ukuran dan memenuhi pelbagai keinginan.
Untuk barang setengah jadi masih ditambah lagi dengan ;
a. Kecocokan, keawetan, mutu ; memenuhi syarat untuk dijadikan barang jadi
b. Pasokan yang mantap memenuhi permintaan bersinambung dalam jumlah yang
diperlukan.
c. Harga barang bila jadi apakah masih bisa dijual dengan harga bersaing.

7.

Dalam garis besar beberapa hal yang dihadapi pengelola industri.


a. Pengelolaan Pelaksanaan kerja ( Operation Management ):
o Struktur pengelolaan
o Analisa pelaksanaan kerja.
8

o Resiko dan perkiraan


o Pembelajaan
b. Perencanaan sumber daya:
o Penelitian dan pengembangan
o Fasilitas fisik.
o Perencanaan produksi
o Produktivitas kerja
c. Pengendalian ( Control ) barang hasil:
o Aliran barang hasil
o Aliran material
o Kendali jumlah
o Kendali mutu
Pengelolaan tenaga kerja:
o Penerimaan dan pelatihan
o Hubungan karyawan dan pengelola
o Kerja dan upah
o Motivasi.
d. Koordinasi organisai:
o Pemasaran.
o Pengendalian intern
o Tantangan

BAGIAN II
CIRI - CIRI PERUSAHAAN MINYAK

10

CIRI - CIRI PERUSAHAAN MINYAK


Pengusahaan sesuatu mempunyai kaitan erat dengan apa yang diusahakan dan kemudian
menjadi cirinya. Pengusahaan minyak bumi mempunyai ciri berikut:
Resiko tinggi ( high risk )
Ungkapan terkenal mining is gambling pun berlaku bagi pengusahaan minyak. Kegiatan
mencari cadangan memerlukan dana tanpa ada yang menjamin bahwa yang dicari itu dapat
ditemukan dan mempunyai cadangan yang besar ( Pan American Oil Com habis US$ 30
juta untuk eksplorasi didaerah Jambi dan Riau selama 1962 1966 tanpa menemukan
minyak / gas).
Perlu diperhatikan:
a.

Resiko ini hanya berkaitan dengan kembalinya dana yang telah dikeluarkan karena

b.

semua pembelanjaan dinyatakan dalam /dengan uang.


Industri memperhitungkan masa ekonomis 15 tahun.

Memerlukan Teknologi Tinggi ( High Risk ).


Untuk menemukan struktur dibawah tanah diperlukan pengolahan dan telaah geologi yang
tidak selalu mudah. Daerah yang mengalami pelipatan muda masih dapat dikenali
strukturnya dari kenampakan permukaan ( Geomorphologynya), tetapi untuk daerah tua
dan rumit pengenalanya tentu menjadi sukar.
Adanya jebakan hanya dapat dibuktikan dengan melakukan pemboran sumur. Letak
jebakan ini dapat :
-

Dangkal hingga Dalam

Bawah tanah darat maupun bawah air

Daerah panas sampai dingin

Padang pasir sampai hutan belantara

Ini semua meminta resiko persyaratan khusus ysng mengacu pada perkembangan teknik.
Jenis minyak bumi ( Aspaltis,Parafinis, campuran ) maupun sifat ( kental, encer ) meminta
penangan yang berbeda sejak mengeluarkan dari bumi, menimbun, mengangkut/ mengirim
sampai mengolahnya.
11

Cadangan minyak yang dapat ditambang berkisar antara 15 60 % dari volume yang ada
ditempat (cadangan volumetris). Usaha untuk menguras agar dapat diperoleh hasil
mendekati 100 % terus dilaksanakan; usaha ini memerlukan keteknikan yang makin
canggih dan makin mahal.
Produk mix

yang selalu berubah mengikuti permintaan pasar juga menuntut agar

pengolahan selalu mengupayakan agar peralatannya dapat selalu menghasilkan optimal.


Memerlukan Modal Besar (Padat Modal, Capital Intensive).
Dari uraian butir 1 dan 2
Diatas jelas bahwa pengusahaan minyak bumi memerlukan modal besar / banyak ditambah
lagi:
-

Penyebaran tempat permintaan

Keadaan geografi negara ( Negara kepulauan, benua )

Wawasan strategi

Pemasaran minyak bumi dan hasilnya.

Kemajuan Teknologi.

Maka makin besar modal yang harus ditanamkan dan diperlukan.


Dari sudut permodalan tak ada sebuah perusahaan yang mapu membiayai semua keperluan
untuk kegiatan tersebut dari milik sendiri/secara sendiri. Namun karena dana harus selalu
ada tersedia. Diusahakan pinjaman. Jadi dalam pengusahaan minyak pinjam meminjam
bukan suatu hal yang bersifat negatip. Hal ini perlu diketahui dan disadari sehingga tidak
menjebak seseorang menjadi keliru menafsirkan.
Perusahaan minyak raksasa.
Pengertian :
a.

Perusahaan Integrated adalah perusahaan yang melakukan seluruh tahap


pengusahaan sejak eskplorasi sampai pemasaran.

b.

Perusahaan Independent adalah perusahaan yang melakukan hanya salah satu tahap
pengusahaan.

c.

Perusahaan raksasa adalah perusahaan yang berciri: Integrated

Pasarnya tersebar diantar banyak Negara


12

Mempunyai merek / reputasi terkenal.

Pengesahaan Tambang bersifat saling terkait (interrelated) dan saling tergantung


(interdependent) dalam usaha pemenuhan barang. Pengertian Interelated ialah integrasi
vertikal (vertical intergration) menunjukkan kesinambungan usahan dari satu tahap ke tahap
lanjutanya.
Tujuan integrasi vertikal adalah:
-

Mendapatkan kesempatan untuk memperoleh laba rerata dari tahap pengusahaan


yang berbeda derajat keuntungannya.

Lebih menjalin rangkaian usahanya:

a.

Integrasi kedepan (forward integration):

pengolahan yang punya pasar mantap dan dapat bekerja teratur dan berkesinambungan
sesuai daya olahnya.
b.

Integrasi kebelakang (Backward Integration): pemasaran lebih merasa aman jika

perusahaan memiliki pengolahan sendiri dan pengolahan merasa aman jika perusahaan
memiliki lapangan.
Suatu perusahaan yang menjual olahan dipasar pasti berusaha tidak terlempar keluar dalam
waktu dekat, justru ia berusaha mendapatkan bagian pasar (market share) yang besar,
sehingga begitu besarnya bagian pasar tesebut ia dapat mempengaruhi harga, pada tingkat
ini konsentrasi horisontal umumnya dimungkin oleh suatu perusahaan besar yang dapat
mereratakan laba/rugi usahanya dari hasil diperbagai tempat kawasan (hasil korporat).
Baginya keadaan yang kurang menguntungkan disalah satu tahap pengusahaan tidak
berpengaruh pada hasil keseluruhan usahanya.
Struktur industri migas.
1.

Dalam kehidupannya manusia membedakan benda berwujud (barang) untuk

memenuhi keperluan jasmani dan barang tidak berujud (jasa) untuk memenuhi kebutuhan
rohaninya. Makin tinggi peradabannya kebutuhan tersebut makain banyak baik jumlah
maupun jenisnya.

13

2.

Barang dan jasa tersebut dengan meningkatnya peradaban tidak dibuat sendiri tetapi

dihasikan oleh suatu usaha (bussines). Usaha ialah segala kegiatan yang terkait dalam
penyediaan barang dan jasa yang diperlukan atau diinginkan masyarakat. Usaha ini tidak
harus yang mengutamakan laba walau pada hakekatnya usaha tersebut membeli jasa dan
menjualnya.
3.

Untuk dapat menawarkan barang dan jasa, suatu usah mempunyai fungsi:

Mendapatkan barang baku

Mengalah bahan baku menjadi barang jadi atau setengah jadi.

Penyebaran (distribusi) barang ke konsumen.

Usaha yang melakukan pengubahan dan pengolahan bahan disebut industri. Dari
tersedianya bahan baku maka terdapat:
-

Industri Esktratip : Industri yang bahan bakunya tak terbarui

Industri Genetik : Industri yang bahan bakunya dapat diperbarui, dipertingggi

jumlahnya oleh manusia dengan pembudidayaan


4.

Bagi industri ekstratip proses penanganan bahan meliputi tahap:

Bagian Hulu:

Eksplorasi

Eksploitasi

Bagian Hilir:
o

Pengolahan

Pemasaran

Angkutan

Bagian Hulu ialah yang mencari dan memproduksikannya jika bahan baku ditemukan.
Bagian Hilir ialah yang mengolah / menjadikan barang jadi dalam jumlah dan mutu yang
sesuai permintaan pasar kemudian memasarkan dengan harga bersaing.
Angkutan dapat meliputi dalam bagian hulu atau bagian hilir maupun antar bagian tersebut.
Khusus untuk industri minyak bumi perlu diingat sifat umum berikut :
-

Minyak bumi adalah fluida cair

Ditemukan dalam bentuk yang tidak diinginkan/diperlukan.

Ditemukan di daerah yang tidak memerlukannya


14

Ditemukan tidak secara langsung.

5.

Penataan usaha perminyakan tidak lepas dari keadaan tersebut diatas.

Bagian hulu terkait tempat minyak ditemukan dan terkait oleh alam sehingga tidak dapat
ditentukan oleh kehendak manusia, karena prosesnya eksplorasi dan eksploitasi disatukan
dibawah satu satuan kerja (unit operasi).
Bagian Hilir mempunyai persyaratan yang berbeda, bagian ini harus dekat dengan
dipisahkan dan konsumen. Tetapi tidak mustahil bahwa pengolahan dan pemasaran tidak
memnuhi syarat tersebut sehingga tempat pengolahan terpisah dari tempat pemasaran
sehingga pada baian hilir kedua unit tersebut. Berdiri sendiri.
6.

Pengusahaan gas bumi umumnya terkait erat dengan pengusahaan minyak bumi

sehingga walau ada genesis yang berbeda belum diusahakan pencarian khusus bagian hulu
masih sama dengan yang di minyak bumi. Baru pada bagian hilir yang dipengaruhi
peruntukannya terjadi perbedaan penataan.
7.

Pengusahaan panas bumi sejauh mengenai uap bumi, berbeda dengan pengusahaan

minyak bumi dan gas bumi.


Uap yang berasal dari panas bumi berkaitan dengan rangkaian gunung berapi dan
kenampakannya lebih jelas. Umumnya tenaga uap digunakan sebagai sumber tenaga
pembangkit listrik, pengadaan dan pemasaran listrik berbeda jauh dengan pemasaran migas.
Khusus di Indonesia eksplorasi dan pengembangan serta pengadaan uap bumi diserahkan
kepada perusahaan minyak bumi dan atau kontraktornya sedang pengadaan dan pemasaran
listrik diserahkan kepada perusahaan listrik Negara jadi kegiatan hulu dan kegiatan hilir
ditangani oleh dua perusahaan yang berlainan.
Dasar Falsafah Pengusahaan Migas.
1.

Cadangan migas adalah suatu bahan tambang yang besarnya tak terbarui, dan manusia
harus mengusahakan agar bahan ini :
a. Bermanfaat dalam waktu yang lama
b. Dieksploitasi sebanyak banyaknya
c. Diusahakan dengan ongkos serendah rendahnya.

2.

Karena tak terbarui cara penambahannya hanya dapat dilakukan dengan setiap waktu
menambah penemuan baru dari tempat lain.
15

Jika Besarnya cadangan = N (m3)


Penyerapan = Y (%/thn)
Maka produksinya = NY (m3/thn)
Jumlah NY m3/thn ini yang harus diperoleh untuk pengganti agar tingkat produksi dapat
dipertahankan. Jelas bahwa makin lama suatu penemuan baru diperoleh maka makin besar
pula jumlah penemuan yang diperlukan.
3.

Penambahan cadangan diperoleh dengan:


a. Eksplorasi : paling umum dilakukan, memerlukan lahan baru dan biaya tinggi.
b. Pengusahaan Tahap dua (secondary recovery) : tak memerlukan lahan baru,
perlukan teknologi tinggi
c. Pengusahaan tahap lanjut (enhanced recovery) : tak memerlukan lahan baru, perlu
teknologi tinggi

4.

Dalam merencanakan kegiatan eksplorasi (terlepas dari dana dan teknik yang
digunakan) perlu ditelaah aspek:
a. Besarnya cadangan:
-

Yang mungkin besar jumlahnya tetapi belum tentu diperoleh

Yang mungkin tak besar jumlahnya tapi kemungkinan ditemukan besar

b. Geologi :
-

Pengaruh dikawasan / tempatan (local,lensa)

Migrasi dan jebakan.

c. Pelaksanaan kerja (operasional)


-

Dekat dengan kemudahan yang ada

Dimanapun

d. Pelaku.
5.

Sekali sudah diketahui besarnya cadangan yang ditemukan, maka tugas pengusahaan
dimulai jajaran eksploitasi harus menelaah:
a. Menguntungkan atau tidaknya pengusahaan.
b. Kemana hasil akan dibawa.
c. Tersedia tidaknya pelaku

16

Kuasa dan Pengusahaan Pertambangan.


1.

Tiap Negara mempunyai ketentuan pokok yang mengatur siapa pemilik bahan tambang
yang berada di bumi negaranya, pengaturan selanjutnya ialah bagaimana menetukan
cara penambangan.

2.

Perundangan disuatu negara dapat menimbulkan kritik negara lain dan dapat
memancing kerincuhan politik, bagi negara bekas jajahan yang rasa kebangsaannya
tinggi pengusahaan oleh perusahaan asing kurang disukai dan ini menambah rumit
persoalan.

3.

Pemerintah dapat menyodorkan jenis kontrak untuk kuasa dari pengusahaan


pertambangan dengan syarat berat malah kadang sukar diterima akal, mitra usaha
dalam hal ini perusahaan minyak yang akan menenam modalnya berusaha melunakkan
bunyi kontrak dan terjadilah tawar menawar, karena kedua pihak sama sama ingin
menemukan kekayaaan bumi (migas) untuk mempertinggi harkat dan martabat.

4.

Eksplorasi hanya dapat dilakukan jika ada kebebasan bertindak untuk usaha itu.
Tahapan ini penuh resiko dan karenanya perlu dorongan menemukan cadangan atau
tidak. Pengenalan daerah yang telah diteliti tetap akan memberikan sesuatu yang
positif.

5.

Hal - hal yang menjadi kerangka suatu perjanjian/kontrak pertambangan ialah :


a. Luas Wilayah Pertambangan.
Untuk kegiatan eksplorasi wilayah harus luas untuk memberi kemungkinan kepada
pemegang wilayah kuasa pertambangan menemukan cadangan dalam jumlah yang
sesuai dengan resiko yang diambil. Dapat dimasukkan ketentuan adanya wilayah yang
harus dikembalikan setelah selang waktu tertentu. Hal ini masuk akal karena majunya
survey dapat diketahui daerah yang potensial atau kurang potensial.
Luas wilayah hendaknya mempertimbangkan :
-

Daerah yang sudah dikenal geologinya atau belum.

Dekat atau jauh dengan daerah yang sudah pasti mengandung hidrokarbon.

Mudah/sukar mencapai daerah tersebut.

Kemungkinan menemukan hidrokarbon.

b. Lama Masa Eksplorasi.


17

Berhubungan erat dengan wilayah kuasa pertambangan dapat 3 4 tahun atau lebih.
c. Kewajiban bekerja (working obligation) selama masa eksplorasi.
Ada kewajiban melakukan kegiatan eksplorasi yang harus dipenuhi yang tidak
dipenuhi selama kewajiban tersebut masih bersifat wajar.
d. Masa peralihan dari eksplorasi ke pengembangan (eksploitasi).
Perlu dinyatakan sejak awal adanya hak mengembangkan hidrokarbon yang
ditemukan.
e. Masa pengusahaan.
Pemegang wilayah selalu berkeinginan mengambil hidrokarbon selama mungkin,
biasanya masa ini ditetapkan tetapi dapat diperpanjang.
f. Sewa, Royalti dan pajak.
Sewa wilayah : pembayaran dilakukan setiap tahun, persatuan luas. Sewa ini rendah
pada masa eksplorasi bertambah setelah masa pengembangan.
Royalti : dibayar menurut harga tetap untuk produksi tiap ton/kg, Dibayar menurut %
produksi.
Pajak : menentukan berapa perolehan masing masing (perusahaan dan negara).
g. Cara menentukan Tingkat komersil penemuan.
Kriteria harus jelas sejak semula apa/berapa penemuan yang dianggap pas
(marginal) cukup menguntungkan atau merugi.
h. Hak untuk menjual / mengekspor hidrokarbon.
Perusahaan tentu ingin memenuhi keperluannya sendiri yang mungkin berkaitan
dengan kewajiban international, sehingga baginya layak disediakan hak menjual dan
mengekspor secara bebas. Termasuk kewajibannya untuk memenuhi pasaran setempat.
i. Pengaturan jika menemukan gas.
Walau penemuan gas sekarang mempunyai sendiri, tetapi karena penanganan gas
berbeda dengan penanganan minyak maka perlu ketentuan sendiri. Ada hal hal yang
berlaku di minyak tetapi tidak di gas.
j. Pengembalian ongkos (cost recovery).
Perusahaan punya hak mengambil/mendapatkan kembali atas beberapa jenis
pembelanjaannya. Harus jelas dapat dan berapanya, perlu dibatasi berapanya atau
tidak.
k. Pengendalian Operasional.
18

Siapa,bagaimana, apa batasannya. Pemilikan barang/peralatan/kelengkapan usaha.


l. Tata cara pembukuan.
Bagaiman pengadminitrasiannya. Dimana dilakukan pemanfaatan jasa, peralatan dan
tenaga kerja. Lebih luas penanam modal jelas akan berusaha menggunakan dari Negara
asalnya, berbeda dengan aspirasi negara tempat usaha.
m. Penyelesaian perselisihan.
Dimana, oleh siapa mengenai apa saja.
6.

Bentuk perjanjian
a. Konsesi
-

Bentuk paling kuna

Masa 75 99 tahun.

Pemegang konsesi berkuasa untuk bertindak apa saja terhadap wilayah dan hasilnya

Negara tempat perusahaan berusaha menerima royalti, pajak pendapatan dan bonus.

Pengelolaan sepenuhnya ditangan pemegang konsesi.

b. Patungan.
-

Oleh perusahaan pendatang dan perusahaan setempat/pemerintah.

Negara mempunyai wewenang

Mitra asing membayar bonus dan pembelanjaan eksplorasi yang dapat diminta
kembali jika hidrokarbon ditemukan.

c. Bagi keuntungan (profit sharing).


-

Yang dijadikan titik tolak ialah pembagian laba.

Ada batasan ongkos produksi.

Laba bersih dibagi.

Manajemen ditangan pengusaha.

d. Bagi hasil (Production Sharing).


-

Yang dijadikan titik tolak adalah produksi hidrokarbon.

Mitra usaha menyediakan dana untuk eksplorasi dan produksi.

Produksi setelah dikurangi ongkos yang diminta kembali dibagi

e. Kontrak Jasa.
-

Perusahaan/mitra dibayar untuk jasa yang diserahkan. Biasanya ini management


contract
19

Mitra biasanya tak langsung punya perhatian terhadap penemuan hidrokarbon.

f. Kontrak resiko (Risk Contract).


-

Mitra membayar/mengongkosi eksplorasi dan produksi serta menjual hidrokarbon


kepada negara dengan harga yang disetujui.

7.

Pembayaran boleh dengan hidrokarbon.

Pengilangan.
Pengilangan sangat berbeda dengan eksplorasi dan produksi karena:
-

Pengilangan hanya dapat dibangun jika telah diketahui besar produksi, mutu, jenis
dan lokasi penemuan hidrokarbon.

Untuk memenuhi permintaan pasar dan agar syarat keekonomian dicapai suatu
kilang harus memasak dalam jumlah banyak memerlukan peralatan/perlengkapan
canggih.

Kilang harus tetap terbuka untuk menerima/mengolah minyak berbagai jenis dan
sifat yang tak ada di negara penghasilnya.

Pengusahaan Minyak Bumi.


1.

Minyak Bumi adalah bahan galian yang tak terbarui. Yang dapat dikeluarkan dengan
cara pengusahaan biasa (primary recovery ) rata rata 30 % dari yang berada di batuan
cadangan.

2.

Bahan galian tersebut ditemukan didalam bumi, di bawah permukaan tanah darat
maupun bawah air (sungai danau, selat, laut)

3.

Sejak ditemukan, cepat lambatnya pengembangan dan pengusahaan lapangan


dipengaruhi oleh:
a. Ada tidaknya permintaan (jenis, jumlah)
b. Tersedia tidaknya sarana penghasil (penimbunan, pengangkutan)
c. Mudah susahnya cara menghasilkan (sifat minyak, gangguan alamiah).

Dengan demikian selang waktu dari eksplorasi keeksploitasi dapat berjarak pendek (satu
dua tahun), dapat juga panjang (lebih dari 10 tahun).
4.

Dari segi keekonomian untuk dapat diusahakan syarat yang harus dipenuhi antara lain
ialah:
20

a. Cadangan harus dapat menopang ongkos (modal dan pengusahaan).


b. Masih memberikan keuntungan layak walau ada peraturan fiscal apapun.
c. Masa kekonomian sekurang kurangnya 15 tahun.
5.

Pemanfaatan gas (jika ada) sejak awal harus sudah dipikirkan, karena gas sudah dapat
diolah untuk berbagai keperluan.

6.

Dari segi operasi produksi, laju produksi harus dapat direncanakan dengan baik.
Rencana disusun tidak hanya memperhitungkan demi memenuhi permintaan, tetapi
juga harus memperhatikan:

7.

Perolehan terbesar dari cadangan (maximum yield)

Memenuhi kaidah keekonomian

Dari segi operasi kesinambungan produksi harus tetap dijaga terus menerus. Suatu
gejolak produksi (berhenti, turun drastis) akan sangat mempengaruhi berbagai pihak.

8.

Perlu diperhatikan bahwa:


a. Penurunan produksi (decline) pada tahun tahun pertama (kesatu kelima),
biasanya besar. Pada tahun kesatu dapat mencapai 40 50 %, kemudian berangsur
angsur turun kemudian mantap ditingkat tertentu untuk selang waktu yang lama.
b. Penurunan

produksi

erat

kaitannya

dengan

kinerja

cadangan

(reservoir

performance), menelaah kinerja/ulah cadangan harus dimulai sejak dini terlambat


sedikit dapat berakibat fatal.
-

Perawatan sumur baik diatas maupun dibawah tanah, kerja ulang dan perangsangan

(stimulasi) perlu direncanakan sebaik baiknya untuk dapat mempertahankan atau


menunjang kesinambungan produksi.
9.

Biaya pengembangan lapangan merupakan biaya terbesar (60 70%) terserap untuk
pemboran sumur, penekanan ongkos membor (umpama perenggangan / spacing,
penggususan/cluster, membeli atau menyewa perabot dan sebagainya) harus selalu
diperhatikan.

10. Ongkos produksi pada tingkat awal terutama pada jika sumurnya sembur alam
(flowing well), umumnya rendah.
Faktor lain yang tidak boleh dilupakan adalah :
-

Kemampuan produksi (productivity) sumur tidak selalu sama tetapi makin tinggi
produktivitasnya makin murah biaya produksi persatuan volume.
21

Sarana pengukur, menyalur dan menampung hendaknya sesuai dengan laju produksi.

Langkah peningkatan laju produksi dengan kerja ulang atau perangsangan akan
mempercepat pengurasan (asklerasi) atau penambahan cadangan (additional recovery).

11.

Biaya umum hendaknya selalu diawasi dengan ketat. Biasanya makin lama makin
banyak keperluan yang timbul untuk berbagai sarana yang tidak langsung menunjang
hasil dan pada akhirnya menambah besar biaya umum.

Pengusahaan Gas Bumi


1.

Secara umum hal yang dilakukan pada pengusahaan minyak bumi juga berlaku pada
pengusahaan gas bumi.

2.

Tambahan yang perlu dilihat:


a. Sebagai bahan bakar, gas termasuk bersih (hampir semua komponennya terbakar
tidak menimbulkan polusi)
b. Jumlah yang dapat dikeluarkan dari dalam bumi tergantung besarnya tekanan dasar.
c. Pengangkutan jarak jauh dengan pipa adalah cara yang terbaik, hati hati bila
saluran masuk perairan yang lebar/panjang
d. Dengan makin majunya teknologi gas makin banyak kegunaannya, selain sebagai
bahan bakar dalam berbagai bentuk (Compressed Natural Gas/CNG, Liquefied
Natural Gas / LNG, Liquefied Petroleum Gas/LPG, seperti apa adanya). Gas juga
menjadi bahan baku dalam berbagai industri ( jelag/Carbon Black, pupuk Nitrogen,
Asam Belerang, Besi baja, metanol dsb).
e. Gas lebih mudah terbakar, sehingga pengamanan terhadap bahaya kebakaran harus
lebih diperhatikan.
f. Untuk pemasaran gas perlu dipahami bahwa:

3.

Pengembangan pemasarannya memerlukan waktu yang lama.

Pasokan (supply) harus terjamin.

Kontrak jual beli mencakup jangka panjang.

Letak sumber terhadap pembeli mempengaruhi harga.

Tergantung pemanfaatan gas yang diserahkan kepada pengguna dapat seperti apa
adanya atau harus memenuhi persyaratan tertentu yang menyangkut:
-

Komposisi gas (digunakan untuk pabrik pupuk atau besi baja)


22

Mutu (Kandungan belerang, air dan titik embun hidrokarbon) mempengaruhi


peralatan serta keamanan.

4.

Penangan gas setelah pembersihan pertama (lumpur, air kondensat) dapat ditingkatkan
dengan berbagai cara di:
Dekat sumber

a.

Di lokasi sumur (perlu ruang dan tempat pembersihan sebanyak sumur


yang ada).

b.

Di stasiun pengumpul.

c.

Di lokasi khusus yang berbeda dilapangan produksi.


Di tempat lain

5.

a.

Apakah ada lokasi untuk itu ?

b.

Apakah infrastruktur mencukupi

Langkah/tindakan untuk memenuhi mutu ialah:


a.

Pengeringan gas kandungan H2S dan CO2 menimbulkan korosi jika gas
mengandung air, karena gas harus dikeringkan. Sekaligus mencegah mencegah
pembentukan hydrat (hydrate). Sebagai pengering digunakan active alumina atau
saringan molekul (molecular sieve).

b.

Pencegahan hydrat jika yang ditangani gas basah, diperlukan injeksi methanol atau
glycol.

c.

Sweetening gas (menyingkirkan H2S juga CO2 hinggga 4 ppm) akan mempertinggi
keamanan penggunaan diperumahan dan pembakaran.

d.

Pengendalian titik embun hidrkarbon mencegah terkumpulnya hidrokarbon cair


disaluran pipa dapat menyebabkan peralatan pengukur terganggu, alat pembakar
mendapat aliran bahan bakar yang tidak menentu.

e.

Nilai kalor dan komposisi gas ditingkatkan dengan membuang zat pengotor
impuritis atau hydrocarbon yang nilai C nya tinggi, karena cairan dengan C tinggi
mungkin jumlahnya cukup menarik.

6.

Pemanfaatan gas.
Unsur/komponen gas alam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, kelompok
unsur yang umum ialah:
a. Turunan methane
23

Di reform menjadi H

Di crack menjadi Acetylene

Disesuaikan dengan unsusr H2S dan CO2 yang ikut

Reaksi langsung

b. Turunan dari Ethane dicrack menjadi ethylene.


c. Turunan dari hydrokarban yang lebih tinggi
-

Penyerapan LPG

Aromat yang diperoleh dari mereform dan ekstraksi C6

d. Turunan Sulphur
7.

Harga jual gas bumi akan mengikuti berbagai pola antara lain:
-

Ditentukan pemerintah (kebijakan umum, pasok keluar berbeda dengan yang dalam
negeri, badan usah diberi harga subsidi)

Berdasarkan kepada nilai kalornya

Dikaitkan dengan harga bahan bakar minyak tertentu atau minyak mentah tertentu

Eksplorasi
1.

Wilayah Eksplorasi dapat dilihat dari berbagai sudut :


a. Letak geografi (Kondisi, iklim)
-

Darat

Perairan

b. Adanya hidrokarbon Panas bumi


-

Daerah belum tersentuh

Daerah sudah dikenal

c. Resiko usaha
2.

Rencana eksplorasi meliputi tahap :


a. Pengumpulan bahan keterangan (data)
b. Kajian bahan keterangan (data)
c. Pembuktian cadangan

Dalam tahap (a.) dilakukan penyelidikan geologi, geofisika, geokimia, pemetaan udara,
sekaligus dikumpulkan kondisi wilayah. Pelaksanaan kerja diawali dengan penyelidikan
pengenalan (reconnaissance) dan jika ada wilayah dianggap berpotensi dilakukan
24

penyelidikan rinci (detail survey). Penyelidikan rinci biasanya sudah merupakan gabungan
dari beberapa jenis penyelidikan.
Hasil penyelidikan rinci dipelajari, dikaji. Jika hasil kajian memberikan harapan maka
ditetapkan satu titik pemboran yang diusulkan ke pimpinan.
Pemboran pada hakekatnya untuk membuktikan ada tidaknya kandungan yang dicari dan
merupakan satu satunya cara pembuktian.
3.

Keberhasilan eksplorasi tidak dapat segera mengusahakan lapangan menjadi lapangan


produksi, harus mempertimbangkan:
a.

Perundangan/pengaturan yang mengikat.

b.

Keperluan/peralatan produksi

c.

Dana yang tersedia

4.

Tahap eksplorasi memerlukan biaya yang tidak sedikit, terutama pada tahap
pemboran. Karena itu dari keuntungan usaha harus disisihkan untuk eksplorasi dan
dapat menghabiskan 30 % dari keuntungan.

5.

Seluruh tahap eksplorasi dapat dikerjakan oleh perusahaan sendiri atau dikontrakkan.
Biasanya tahap kajian dan penentuan titik lokasi dilakukan perusahaan sendiri.
Keekonomian usahapun perlu diperhitungkan dan diterapkan semaksimal mungkin.

6.

Tiap pembuktian kandungan lapisan kemungkinan untuk gagal, dengan demikian


perusahaan harus selalu menyiapkan langkah pilihan 9 alternatif untuk menjaga
kesinambungan pencarian sumber daya.

7.

Dalam mengelola eksplorasi pun berlaku prinsip : upaya dan usah biaya minimal
memperoleh hasil maksimum dalam sistim pengelolaan bagian eksplorasi akan
bertanggung jawab atas perencanaan, kemajuan kerja, pengendalian dana dan
pelaporan hasil. Namun dalam urusan pemboran bagian ini harus bekerja sama dangan
bagian lain.

8.

Pemboran eksplorasi yang menemukan isi lapisan seperti yang diharapkan dapat minta
tambahan pemboran kajian (appraisal). Jika bagian eksplorasi sudah puas dengan data
yang diperlukan, termasuk jumlah cadangan yang dihitung, maka struktur diserahkan
kepada bagain eksploitasi untuk dikembangkan.

Eskploitasi
25

1.

Pengusahaan lapangan minyak gas panas bumi pada hakekatnya adalah mengelola
cadangan sedemikian sehingga dari sumber daya itu dapat diperoleh hasil tertinggi
(nilai/harga, jumlah fluida, )

2.

Secara ekonomi, pendapatan dan pengusahaan lapangan NpV harus memenuhi berbagai
ukuran:
-

Mengembalikan biaya penemuan (investasi), D

Mengembalikan biaya pengusahaan (Operation Cost), E

Mengembalikan modal yang ditanam (reinvestmen), C

Memperoleh Keuntungan (Profit), P


Sehingga:
NpV = D + E + C + P

Dimana:

NP = Produksi kumulatif
V = Harga

3.

Secara Teknis, pengusahaan lapangan diawali dengan telah kelayakan setelah


pencarian dan menemukan bahan yang dicari. Temuan ini dihitung berapa besarnya
dan layak tidaknya dikembangkan.

4.

Biaya pengusahaan akan dipengaruhi oleh:


a. Letak geografi lapangan (darat, perairan)
b. Letak jarak dari lapangan yang sudah menghasilkan
c. Letak dari titik serah ke pembeli
d. Banyaknya sumur yang dibor
e. Jenis dan sifat fluida, cara menghasilkan, pengolahan lapangan dan sebagainya.
f. Prasarana umum.

5.

Factor factor pada point 4 akan berpengaruh kapan waktu dan cepat lambatnya
pengembangan lapangan.

6.

Tahap pengembangan lapangan menunjukkan penanaman modal yang besar yang


mungkin melibatkan pihak ketiga. Kadangkala pihak ketiga tidak hanya terlibat dalam
pemodalan tetapi juga sampai pelaksanaan pengusahaannnya

7.

Dalam pengelolaan perusahaan bagian eksploitasi akan bertanggung jawab atas


perhitungan keekonomian, perencanaan kerja pengembangan, pemantauan kemajuan
kerja, pelaporan hasilnya, kajuan kinerja/ulah sumur lapangan dan sebagainya.
26

8.

Pengelolaan cadangan selalu mengacu kepada perolehan fluida sebanyak banyaknya.


Para pelaksana akan disibukkan oleh tugas sehari harinya. Mereka perlu dukungan
dalam segala aspek terutama dalam menangani cadangan dan hasilnya. Untuk itu
keberadaan lembaga riset adalah mutlak.

Eksploarsi dan Eskploitasi


1.

Dilihat dari urutan kegiatan, usaha pengembangan migas/panas bumi itu melalui tahap
pencarian/penentuan (ekplorasi), pengusahaan (eksploitasi), pengolahan (refining), dan
penjualan (marketing).

Memusatkan hanya pada dua urutan pertama, maka sebagai kegiatan proyek terlihat
tahapan berikut:
a. Pencariaan dan pra-kajian (exploration and pre-evaluation)
b. Kajian (evaluation)
c. Garis besar rencana (definition)
d. Pemolaan/rekayasa (design)
e. Pembangunan fisik (construction)
f. Menghasil/operasi (operation)
Apakah kegiatan proyek itu berjalan berurutan (selesai a lalu b), bersama-sama/serentak,
atau tumpang tindih (over lap)?
2.

Dikaitkan dengan pengertian perusahaan, pencariaan itu berarti memburu sesuatu


(ialah cadangan) yang mungkin ada atau tidak ada. Tenggang waktu antara pendek mau
pun panjang, dan ongkos penemuannya pun akan berbeda jauh antara satu dengan yang
lain.

3.

Untuk tahap pra-kajian tidak tersedia banyak waktu. Walau demikian tak berarti bahwa
masukan, lalu boleh semaunya. Terutama yang menyangkut pembiayaan.

Langkah penting yang perlu diambil dalam tahap ini antara lain:
a.

Penilaian awal (preliniary assessment) terhadap cadangan yang berpotensi (potential


recoverable reserves), biaya pengembangan, dan untung-rugi prospek.
27

b.

Penyiapan rencana pemboran sumur pembatas (deliniation), untuk menentukan luas


lapangan penghasil, daya menghasil, dan biaya terkait.

c.

Penyiapan kerja telaah terinci untuk tahap kajian dan garis besar rencana penanganan
proyek, perkiraan waktu terpendek untuk meyelesaikan pekerjaan tersebut berdasar
terselesaikannya pemboran pembatas (dengan hasilnya), kiraan tenaga kerja yang
diperlukan dan biaya telaah itu.

d.

Persetujuan pemimpin untuk membor sumur pembatas tambahan dan rencana


kajian/garis besar rencana.

4.

Tahap kajian segera dimulai dengan keterangan-keterangan yang diperoleh dari sumur
penemu dan disesuaikan dengan tambahan keterangan dari sumur pembatas. Pengujian
dan pengeboran sumur terbatas biasanya memakan waktu yang banyak, namun bukan
yang terbanyak karena pemilihan tempat sarana dan kemudahaan juga memakan waktu
yang panjang. Kegiatan ini terutama untuk mengumpulkan keterangan sebanyakbanyaknya dan pembuatan pola awal (preliminary design).

Hal penting dalam tahap ini antara lain :


a.

Pemerian cadangan : sifat batuan dan fluidanya.

b.

Besar cadangan : besar cadangan dan daya menghasilkanya menetukan jumlah sumur
yang akan dibor, pola menghasil, pengusahaan lanjutan.

c.

Telaah sarana menghasil/pengolah lapangan.


Tahap garis besar rencana menunjukan bahwa cadangan yang ditemukan itu

menguntungkan (comercial). Dalam tahap ini pola dasar (conceptual design) akan dikaji
antara lain untuk:
a. Penentuan persyaratan pola dan falsafah pelaksanaan (operating philosophies).
b. Penyiapan pengolahan awal dan bagan alir, plot plan, persyaratan untuk pemolaan
konstruksi.
c. Penyiapan persyaratan rinci untuk peralatan penting yang mungkin memerlukan
waktu penyerahan lama.
d. Analisa dampak lingkungan.
5.

Tahap konstruksi merupakaan pelaksanaan pembangunan dari semua rencana. Ini


meliputi pelaksanaan pemboran pengembangan, pembangunan saluran, sarana
menghasil, sarana pembantu (perkantoran, perbengkelan, pembangkit tenaga listrik,
28

perumahan, dan sebagainya), ialah yang langsung maupun tidak langsung terkait
produksi.
6.

Tahap produksi diawali dengan mengalirnya hasil sumur dari kepala sumur menuju
tempat penampungannya.

29

BAGIAN III
KEEKONOMIAN INDUSTRI

30

KEEKONOMIAN INDUSTRI
1.

Usaha dalam bentuk apapun memerlukan pengelolaan. Pengelolaan tiap jenis usaha
mempunyai tujuan yaitu pemanfaatan sumber daya terencana untuk menciptakan
ekonomi yang cukup untuk mendapatkannya kembali dalam waktu tertentu dengan
memperoleh keuntungan sebatas yang diperbolehkan. Dalam jangka panjang hasil
pemanfaatan sumber daya itu haruslah suatu kenaikan tingkat ekonomi pemiliknya
dengan selalu memanfaatkan sumber daya lebih lanjut ( berkesinambungan ).

2.

Keekonomian berurusan dengan produksi, penyaluran dan penggunaan barang serta


bagaimana ekonomi itu bergerak.
Suatu badan usaha selalu mencari :

Efisiensi teknik dengan mencegah pemborosan dalam upaya memperoleh keluaran

maksimum dari suatu kumpulan (set) masukan.


Efisiensi ekonomi yaitu memilih keluaran dan cara produksi yang akan
mendatangkan keuntungan terbesar yang layak diperoleh.
Jadi badan usaha selalu berusaha memperkecil ongkos / pengeluaran dan
memperbesar laba.

3.

Dengan menggunakan ukuran tersebut diatas, maka dunia usaha dapat dipandang
sebagai suatu sistim aliran dana. Usaha itu merupakan rangkaian keputusan manajemen
untuk menyebar sumber daya agar memperoleh laba. Dalam artian luas keputusan
tersebut mencakup :
a. Penanaman modal dari sumber daya / kekayaan
b. Penanganan usaha dengan bantuan sumber daya itu
c. Pembelanjaan yang tepat dalam menjadikan sumber daya.

4.

Membicarakan sumber daya dalam dunia usaha dalam maka akan terbayang tentang
dana ( fund ). Dalam arti yang luas dana adalah sejumlah uang tunai atau aktiva yang
dengan segera dapat diubah menjadi uang tunai dan yang sudah dipusahkan
31

/dicadangkan untuk suatu maksud tertentu, sedang dalam arti sempit dana adalah uang
tunai yang tersedia untuk digunakan. Dana dalam arti sempit ini lebih umum dan
mudah dipahami karena uang itu gambaran termudah untuk menunjukkan nilai
ekonomi, dapat langsung ditukar dengan barang dan jasa, lagi pula transsaksi dunia
usaha selalu melibatkan uang.
5.

Maju mundurnya suatu usaha selalu diamati moleh banyak orang dengan sudut
pandang yang berbeda :
a. Pemilik usaha / sumber daya ingin tahu laba yang diperoleh sekarang maupun
jangka panjang yang dicerminkan oleh pendapatan serta besar kecilnya deviden
yang akan diterima .
b. Para penyedia dana jangka pendek dan panjang memperhatikan kemampuan usaha
untuk membayar pinjaman beserta bunga dengan teratur dan nilai harta
kekayaannya.
c. Pemerintah berkepentingan dalam penerimaan pajak.
d. Buruh/ karyawan memperhitungkan kemampuan membayar upah dari usaha itu.
e. Masyarakat mengharapkan kemampuan itu untuk ikut berperan serta dalam kegiatan
sosial masyarakat.
f. Pimpinan usaha / manajemen adalah pengelola usaha yang mengatur agar usah itu
memperoleh laba dan memanfaatkan sumber daya secara efisien
Karena perhatian yang berbeda tersebut, maka indikator pengamatan keekonomian
yang digunakan juga berbeda.

6.

Dipandang dari sudut pengelolaan tiap badan usah selalu memprhitungkan:


a. Penangaman modal sumber daya
b. Jalannya usah ( operations ) dengan dukungan sumber day tersebut.
c. pembelanjaan ( financing )yang tepat untuk memprolehsumber daya itu.
Pengelolaan pada umumnya :

Akan menempatkan sumber daya dengan terencana untuk mengupayakan agar


sejalan dengan waktu

Memperoleh nilai ekonomis cukup besar untuk mengembalikan sumber daya itu
dan masih ada keuntungan yang lebih.

Pembelanjaan sumber daya haruslah perbaikan posisi ekonomi para pelakunya


termasuk kemampuan untk melanjutkan pemanfaatan sumber daya.
32

7. Tanda maju mundurnya usaha akan tergantung kepada sudut pandang yang digunakan.
a. Dari jalannya usaha : petunjuk yang dapat diamati ialah jumlah barang yang dijual.
Pendapatan dari penjualan ini akan mengakibatkan laba tau rugi. Laba/ rugi usaha
dinyatakan dengan uang. Diketahui dari keluar masuknya uang, laba juga skaligus
menunjukkan tata kerja yang baik, tetapi laba/rugi umumnya baru diperoleh setelah
semua kejadian berlalu dan tidak dapat diulang.
Gambaran cash flow secara sederhana terlihat seperti dibawah ini :
Pendapatan kotor
:A
Ongkos ongkos
:B Laba kotor (A B )
:C
Penyusutan
:D Laba kena pajak (C- D)
:E
Pajak
:F
Laba bersih ( E F )
:G
Penyusutan
:D +
Pendapatan bersih ( G + D )

:H

b. Dari penanaman modal ( capital investment ) : tujuan menanam modal ialah untuk
memperoleh keuntungan ekonomi dikemudian hari sehingga modal yang ditanam
dapat kembali. Penanaman modal barlaku untuk waktu yang panjang / lama
sehingga untuk memutuskan apakah modal akan ditanam atau tidak memerlukan
langkah yang hati hati . masa waktu yang akan datang selalu mengandung
perubahan dan ketidak pastian dalam banyak hal. Jadi dalam membuat perkiraan,
asumsi asumsi yang digunakan akan sangat mempengaruhi perhitungan. Paling
tidak dalam penentuan penanaman modal harus diperhatikan jenis dan tempat
menanam modal, laba usaha yang akan diraih dan kurun waktu memetik laba.
Dalam usaha perminyakan yang salah satu cirinya padat modal dan resiko.
Penanaman modal dibagian hulu menghendaki kajian yang mendalam, terhadap hal
ini terdapat beberapa cara untuk mengkaji apakah penanaman modal tersebut
mempunyai kemungkinan memperoleh keuntungan yang layak, walau banyak
petunjuk untuk melihat suatu keuntungan tetapi tidak ada satu cara yang dapat
menunjukkan perolehan laba yang sempurna dan memenuhi persyaratan.
33

Pada umumnya kajian dilihat dengan indicator :


Waktu Impas (Pay Out Time )
Perhitungan lama waktu dari modal yang ditanam dapat kembali jika pendapatan rata
rata suatu kurun waktu diketahui atau secara definisi waktu impas adalah
perbandingan modal tertanam ( investasi ) dengan pendapatan pertahun.
Penghasilan atas bunga tertanam ( PAPM , return on investmen ) cara ini tidak
memperhatikan waktu impas, hanya membandingkan jumlah yang kembali
( pendapatan kumulatip ) dibagi dengan modal yang ditanam.
PENANAMAN MODAL.
1. Secara umum, modal adalah kekayaan dalam bentuk harta benda atau perlengkapan
yang dapat dipakai dalam produksi atau penciptaan nilai, arti yang lebuh luas ialah
persediaan dana atau aktiva berharga yang dimiliki badan usaha, sedang dalam arti
sempit adalah uang atau aktiva yang di alirkan kepada badan usah oleh para
pemiliknya untuk dipakai dalam mengurus badan usaha.
2. Dalam sitim neraca pembukuan modal dibagi menjadi harta kekayaan bergerak
( current asset ), uang tunai, tanggungan, barang baku diperusahaan / persediaan,
rekening , nota yang pembayarannya

akan diterima dan tak bergerak

( fixed asset, plant property equipment ; tanah gedung, alat produksi )


3. Sebagian modal ini ditanam digunakan untuk menghasilkan barang.

Sehingga

menanam modal berarti penempatan dana modal dalam perusahaan dalam jangka
waktu tertentu agar memperoleh hasil yang teratur dengan keamanan yang maksimum.
Jadi penanaman modal ialah suatu ikatan yang mengaitkan dana yang ada sekarang
untuk menerima pengembalian dimasa yang akan datang ( expectation )
4. Pertimbangan untuk menanam modal harus didahului analisa yang secara umu
dipergunakan untk :
a. Pemilihan ( screening ) : apakah proyek yang diusulkan memenuhi syarat
penerimaan baku yang ditetapkansemula ( preset standard of acceptance ) . misalnya
34

kebijakan bahwa usul proyek penurunan ongkos hanya diterima jika ada laba 20 %
sebelum pajak.
b. Penentuan ( Preference ) : penentuan antara beberapa tindakan yang setara, missal
menentukan jenis perabot bor untu pemboran tertentu.
5. Modal yang ditanam dapat berujud :
a. Barang yang tetap ad pada waktu proyek telah selesai dan masih mempunyai harga.
b. Barang yang meliputi harta benda susut ( depreciable asset ). Dalam hal ini
perolehan yang didapat harus dapat mengembalikan modal yang ditanam.
6. Penanaman modal yang perlu dianalisa umumnya meliputi :
- Pengurangan ongkos ( cost reduction )
- Perluasan pabrik / lapangan
- Pemilihan peralatan.
- Beli atau sewa ( Buy or lease).
- Penggantian alat.
-

Pendirian fasilitas produksi.

7. Pada hakekatnya persetujuan atas usul proyek merupakan pengawasan tahap awal,
selanjutnya

pengawasan

diteruskan

mulai

perencanaan

sampai

penyelesaian

pembangunan fisik dan hasil yang diperoleh.


PENANAMAN MODAL SWASTA.
1. Sifat modal swasta ;
- Tidak terbatas, banyak Negara maju masih meminjam dari Negara lain.
- Diperoleh dari tabungan masyarakat dan perusahaan swasta yang
mengharapakan mendapat / menerima pengembalian modal yang ditanam
sesuai dengan resiko yang terkait.
-

Tertarik oleh keekonomian kesempatan penanaman modal. Resiko terhadap


ketidak tentuan politik tetap diperhitungkan modal tidak akan ditanam jika
ketidak tentuan itu jauh melewati daya tarik keekonomian

2. Untuk menariknya maka :


- Harus ada kemantapan hokum dan perundangan mengenai penanaman
modal asing karena penanam modal harus membuat rencana sebelumnya
35

apalagi

perusahaan

minyak

raksasa

besar

( menyediakan pasar ekspor, mengkoordinir penanaman modal dalam


-

angkutan pengolahan dan sebagainya ).


Insentip harus diperbesar / disesuaikan dengan memperhatikan inflasi dan
keperluan untuk mengeluarkan lebih banyak dana / uang untuk menemukan

lapangan yang lebih kecil dan lebih mahal.


Modal asing minta diperlakukan seperti padi, ditanam dibiarkan tumbuh
untuk menjadi benih pada kesempatan mendatang.
UNSUR KAJIAN KEKEKONOMIAN.

I.
1.

TUJUAN.
Usaha pertambangan mempartaruhkan modal besar, modal itu berasal dari pelbagai
sumber.

Begitu cadangan ditemukan maka menjadi milik sipenemu dan wajib menurus miliknya
dan membuat kajian terhadap miliknya, untu membuat kajian ini melibatkan banyak
ahli.
2.

Kajian evaluasi dapat dikatakan sebagai analisa yang teratur, tk memihak dan terencana
dari semua bahan informasi untuk menentukan harga / nilai harta pemilik.

3.

Kajian diperlukan / digunakan untuk :


a. Tukar menukar / jual beli wilayah kuasa pertambangan ( WKP ), pemegang WKP
boleh melepas WKP nya sejauh undang undang membenarkan.
b. Untuk memperoleh pinjaman : perusahaan minyak besar pun masih memerlukan
tambahan dana pada saat saat tertentu yang dapat diperoleh dari pinjaman dan
pinjaman memerlukan aggunan/ jaminan. Cadangan yang ditemukan dapat
dijadikan anggunan.
c. Kebijakan eksplorasi dan eksploitasi selanjutnya terutama dikaitkan dengan usaha
memperoleh daerah baru.

36

d. Putusan pimpinan agar dapat mengambil keputusan yang tepat, pimpinan


memerlukan bahan pendukung yang baik, in formasi yang dsajikan harus
memungkinkan pimpinan membuat pertimbangan utnuk mengambilkan pilihan.
e. Pembukuan dan perpajakan hal hal khusus yang berlaku, pajak rangkap royalty, tat
penyusutan dan sebagainya yang dapat diperhitungkan sekali jalan.
f. Persetujuan unitisasi ( unitization ) ; jika suatu struktur kebetulan terbagi menjadi
beberapa bagian pelbagai perusahaan, untuk menekan ongkos tiap perusahaan
dilakukan usaha penyatuan pengelolaan produksi / tata menghasilkan.
g. Kajian terhadap peraturan / perundangan ini merupakan factor bukan keekonomian
dan bukan keteknikan tetapi dapat mempengaruhi cadangan. Contoh peraturan
lingkungan hidup daya tarik perpajakan, riset, ijin uji coba.

II.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAJIAN.


Dalam melakukan kajian / evaluasi perlu diperhatikan pelbagai faktor yang dapat
mempengaruhi hasil kajian baik memberikan nilai positip maupun negatip. Beberapa
faktor yang harus diperhatikan adalah :

1. Keadaan ekonomi umum : kekuatan pasar ( permintaan dan penawaran ) tergantung


daya beli masyarakat dan ini mempengaruhi harga dan nilai barang. Daya beli didasari
tingkat keadaan ekonomi umum.
2. Kekuatan pasar : lebih ditekankan kepada kekuatan pasar setempat ( antara lain dekat
jauh angkutan, sumber barang, permintaan yang mantap, persaingan dengan komoditas
lain )
3. Nilai uang : nilai nyata uang uang berubah dengan perpajakan, waktu untuk
mengembalikan, ongkos menggunakan, daya beli kini dan yang akan datang serta
penyediaan ( availability ).
4. Ongkos produksi ( pemboran, pengembangan dan menghasilkan ) : penanaman modal
harus memperhitungkan laba. Apakah laba yang diperhitungkan akan diperoleh masih
sama dengan rencana perusahaan secara keseluruhan.
37

5. Harga pasar ( fair market value ) : untuk menjual / menukar harta milik harus berdasar
ketentuan pasar yang berlaku. Harga pasar adalah harga yang penjualnya mau melepas
dan pembeli mau menerima dan keduanya terkena perpajakan yang berlaku.
6. Arti milik dalam organisasi : tergantung jenis organisasi / perusahaan, maka nilai / arti
sesuatu milik dapat berbeda jauh.
7. Biaya pengembangan sampai menghasilkan ; suatu penemuan cadangan tak ada artinya
jika tak dikembangkan . biaya ini harus diperhatikan besar kecilnya sehingga Nampak
perimbangan dalam kegiatan usaha keseluruhan. Apakah penanaman modal itu masih
menguntungkan.
8. Cadangan : Perhitungan cadangan dan merencanakan laju produksinya suatu penemuan
adalah usaha keteknikan yang paling banyak menyita waktu. Walaupun cadangan dapat
menghasilkan atau tidak menghasilkan dan besarnya cadangan ditentukan oleh istilah
berdasarkan keadaan ekonomi dan teknologi cadangan itu saat ditemukan.
9. Laju produksi : menentukan untung rugi yang akan diperoleh, karena itu penting
artinya bagi suatu perusahaan dan persoalan yang dapat timbul ialah memperkirakan
kemampuan menghasilkan cadangan di kemudian hari dan menyelaraskan dengan
kemungkinan peraturan kebijakan. Justru perubahan kebijakan yang sering sukar
diterka karena berkaitan dengan politik dan ekonomi. Jangka waktu yang diperlukan
untuk memperoleh hasil dari cadangan juga harus diperhitungkan dengan modal yang
ditanam.

III.

RESIKO DAN KETIDAK PASTIAN.

1. Resiko adalah suatu kemungkinan kerugian. Ketidak pastian adalah keadaan jangka
panjang yang tumbuh dan dapat berakibat positip maupun negatip terhadap suatu
usaha. Kedua hal ini saling berkaitan dengan eratnya dalam menentukan keuntungan.
2. Tiap kajian mempunyai cara perhitungan. Hasil yang diinginkan dari suatu kajian ialah
memperoleh nilai terendah yang mengandung resiko terkecil.

38

Untuk ahli teknik hal ini adalah yang tersulit, karena umumnya akan memilih pada
tebaran / range dari besaran yang diperlukan dan tebaran ini bebas.
3. Ada beberapa factor yang mengharuskan penggunaan cara resmi dalam menaksir
resiko :
a. Dalam mencari cadangan yang besar timbul resiko makin tinggi harga makin
mahal / tinggi waktu pengembalian dana makin lama.
b. Perpajakan dan pembatasan neraca pembayaran yang memperkecil rate of internal
capital return dan kemampuan membiayai penanaman modal baru dari modal
dalam negeri.
c. Prospek untuk menyebar ( pilihan ) resiko makin sedikit.
4. Beberapa Jenis resiko yang terkait untuk kajian :
a. Perangkaan yang diperoleh dan dipergunakan.
b. Masa mendatang yang dapat diperkirakan ( permintaan, penawaran, perubahan
teknologi )
c. Masa mendatang tak dapat diperkirakan ( perang, perubahan politik, bencana alam).
d. Kekeliruan manusia, ( human error ).
Jika untuk point a dan b masih dapat dibaca perangkaannya, tetapi untuk butir c dan d
perangkaan itu tidak ada,
DANA DAN PENGEMBALIAN
1. Dalam melaksanakan pengusahaan pimpinan perusahaan perlu mengetahui hal berikut:
a. Modal :
- Apakah bagi perusahaan disediakan modal cukup untuk menjalankan usahanya.
- Siapakah pemilik modal.
b. Peruntukan pendapatan dan penumpukkan cadangan :
- Apa kuasa perusahaan atas penggunaan pendapatan dan keuntungannya ( seluruh
keuntungan

boleh digunakan menurut kepentingan usaha dan menanamkan

kembali atau diserahkan ke pemilik ).


39

c. Rencana anggaran belanja dan penanaman modal ( investasi ) :


- Apa anggaran harus disetujui pimpinan ( direksi ) atau dikendalikan dari yang lebih
atas.
d. Pinjaman
- Apa perlu meminjam modal.
- Apa untuk meminjam baik dari dalam maupun luar negeri harus ada ijin.
- Apa pengaruh debt equity ratio.
2. Dari ketentuan yang diperoleh, pimpinan baru dapat menetapkan kebijaksanaan dalam
mengelola dana. Tentu saja pengelolaan tersebut tidak boleh lepas dari kaidah yang
berlaku disuatu Negara.

ONGKOS ( BIAYA, COST ).


1.

Biaya ialah jumlah uang yang dibayarkan atau dibelanjakan untuk mendapatkan suatu
barang olahan ( Produk ) atau jasa dalam kurun waktu tertentu.
Pembuatan barang atau jasa oleh suatu industry umumnya meliputi proses panjang dan
berliku apalagi yang dibuat itu mempunyai jenis dan ukuran berbeda. Pengelola tidak
cukup hanya mengetahui ongkos secara keseluruhan tetapi masih memerlukan
besarnya ongkos yang dibelanjakan / dikeluarkan untuk tiap jenis dan ukuran barang /
jasa yang disiapkan. Hal ini besar manfaatnya dalam menghadapi persaingan pasar.

2.

Cara yang digunakan untuk mengetahui ongkos pembuatan produk tersebut ada 2
macam :
a. Ongkos tercatat /( dibukukan recorded cost )
Berdasarkan perhitungan atas biaya yang nyata nyata telah dibelanjakan /
dikeluarkan untuk mewujudkan produk yang akan dijual.
b. Ongkos penetapan ( predeterminated cost ) :

40

Berdasarkan pada perhitungan yang disiapkan sebelum membuat barang / jasa


suatu perkiraan berdasarkan pada barang baku yang ditentukan.
3.

Bagi suatu industri yang membuat barang tentunya cara menyediakan hasil yang akan
dijual berbeda dengan yang menyediakan jasa ( yang akan dibicarakan adalah
pembuatan barang ).
Pembuatan barang olahan ( manufacturined product ) apa saja dengan mengunakan
proses apapun, pabrik memerlukan bahan baku yang harus dibeli / diadakan. Bahan
baku ini diubah menjadi barang olahan melalui proses yang menggunakan tenaga kerja
( manusia ). Tahap ini diperlukan pengeluaran uang untuk upah tenaga kerja , diluar
unsur tersebut masih diperlukan pengeluran lain agar usaha yang ditangani dapat
berjalan. Dengan demikian ongkos yang dikeluarkan berupa barang , bahan
baku,tenaga kerja dan lain lain.
Tenaga kerja dapat : tenaga kerja langsung ( direct labour ) dan tenaga kerja tak
langsung ( indirect Labour ). Demikian pula bahan baku dibedakan ada yang diolah
langsung menjadi produk ( direct material ) dan yang digunakan untuk keperluan lain
( bahan tak langsung indirect material ).
Biaya untuk tenaga kerja langsung dan bahan langsung disebut ongkos pokok / ongkos
utama ( prime cost , flat cost ).
Pengeluaran lain ialah diluar ongkos utama misalnya sewa gedung, biaya telpon,
listrik, pajak, assuransi, yang tidak dapat dimasukan dalam ongkos produksi barang
disebut biaya umum ( overhead cost ) dan sejauh pengeluaran biaya ini terkait dengan
kegiatan pembuatan barang atau kepentingan pembuatan barang maka biaya tersebut
dapat dibebankan kepada harga jual produk.
Pengeluaran untuk menjual barang, direksi, komisi dan sebagainya juga merupakan
biaya umum yang harus ditanggung tetapi pembebanannya menjadi rumit jika produk
yang dibuat tidak hanya satu. Jika tidak ada ketentuan umum yang berlaku maka cara
dan besarnya pembebanan kepada tiap jenis bahan olahan dan diserahkan kepada
bagian usaha masing masing- masing . pada dasarnya pengeluaran itu dapat
41

dikelompokkan

dalam

biaya

admintrasi

( administration cost ) dan biaya pemasaran (selling cost ).


4.

Dengan memperhatikan hal diatas dalam menghasilkan produk terdapat pengeluaran


yang mudah ditelusuri ialah mengenai biaya bahan dan tenaga kerja langsung, makin
banyak jumlah produk yang dihasilkan makin besar pengeluaran yang diperlukan, jadi
pengeluaran tergantung dari jumlah produk / barang yang demikian disebut dengan
ongkos berubah ( variable cost ).
Disamping ongkos yang berubah ada ongkos yang besarnya tidak berubah jika ada
perubahan , perubahan tersebut tidak begitu sering terjadi sehingga dianggap tidak
berubah. Ongkos ini disebut ongkos tetap ( fixed cost ) yaitu ongkos yang harus tetap
dikeluarkan demi keberadaan usaha itu contoh ongkos ini misalnya : asuransi ,ongkos
gedung, sewa peralatan.

5.

Dipandang dari sudut peredaran barang maka usaha akan memperoleh laba jika
pendapatan dari banyaknya barang terjual ( revenue ) lebih besar dari dari pengeluaran
( cost ), jika pendapatan sama dengan pengeluaran maka Tercapai titik impas ( break
even point ).

ONGKOS PENGUSAHAAN ( OPERATING COST )


1.

biaya yang dibelanjakan untuk memproduksikan sumur setelah penyelesaian disebut


ongkos pengusahaan . ongkos ini dipisahan menjadi :
a. ongkos pengangkatan ( lifting cost ) :
ialah ongkos yang langsung dibelanjakan untuk mengangkat fluida dari dasar sumur
ke permukaan dan menyalurkannya ke saluran alir ( flow line ). Ongkos ini dipecah
menjadi menjadi ongkos untuk keperluan bawah tanah subsurface didalam
sumur ) dan ongkos dipermukaan.
Bagian terbesar ongkos pengangkatan adalah ongkos untuk perawatan sumur dan
tidak tergantung pada jumlah fluida yang diangkat tetapi umumnya pada lama
sumur menghasilkankan karenanya ongkos pengangkatan dinyatakan bulan dan
sumur ( well month ). Didalam ongkos ini termasuk biaya umum/
b. Ongkos menghasilkan lain :
42

Adalah ongkos yang dibelanjakan untuk mengangkut fluida dari sumur ke terminal
dilapangan. Pemebelanjaan ini mencakup pengawasan hasil, ongkos mengumpulkan
fluida, ongkos menimbun, ongkos pemisahan air, pembersihan lapangan dan lain
lain.
Ongkos perbaikan sumur ( well repair ) termasuk dalam pos ini bukan di ongkos
pengangkatan, demikian pula ongkos perangsangan.
2.

Ongkos angkut ( dari terminal ke titik jual ):


Adalah pembelanjaan yang timbul sejak fluida masuk pipa penyalur meninggalkan
terminal lapangan sampai titik jual yang disetujui, dapat pagar pabrik pengolahan,
dermaga , kapal tanker dan sebagainya.

3.

Biaya umum ( overhead )


Biaya ini umumnya merupakan bagian terbesar dar pembelanjaan perusahaan minyak ,
biaya ini adalah pemebelanjaan terbesar yang diperuntukkan pengusahaan pada
umumnya, tanpa adanya kaitan langsung dengan pembelanjaan baik untk pengusahaan
maupun modal.
Biaya umum ini penanganannya berbeda antara perusahaan yang satu dengan yang lain
tergantung dari jenis sifat perusahaan. Biaya ini selalu diusahakan ditekan.

BIAYA UMUM PRODUKSI


1. Bagian admintrasi.
- Manajemen, secretariat, keuangan, humas dan sebagainya.
2. Kepegawaian dan tunjangan.
- Admintrasi kepegawaian.
- Perumahan , asrama dan sebagainya,
- Kemudahan olah raga, rekreasi.
- Sekolah dan pelatihan.
- Kesehatan dan sanitasi.
- Gas dan penyaluran untuk perumahan.
- Angkutan, air bersih dan jasa lain
- Ongkos penerimaan, pelatihan, pemindahan dan PHK
- Ganti rugi jasa.
3.

Ongkos cuti.

Jasa umum.
43

4.

Pergudangan, ongkos kehilangan suku cadang.


Biaya umum keteknikan, angkutan bengkel, pemadam kebakaran, topografi,

telekomunikasi, dan sebagainya.


Jasa yang dikenakan pada biaya umum.

Perawatan gedung jalan, pembersihan komplek perumahan dan sebagainya.

Pengeluaran umum :
- Pengeluaran adminitrasi, assuransi, ganti rugi
- Pajak ( diluar yang dipastikan )
- Ongkos membongkar / meninggalkan harta benda modal termasuk sumur.
- Perawatan lapangan yang ditinggalkan baik sementara maupun selamanya.
BIAYA PRODUKSI

BEBAN
Langsung

POS BIAYA
- pengangkatan ( lifting ) atas tanah

RINCIAN
Sembur alam
Sembur buatan
Sumur pompa bwh
tanah
injeksi air,gas ,uap,
insitu combustion, dll
Pemisahan
air,
&

- Pengusahaan thp dua


- Penanganan, angkutan Pengukuran
pengumpulan

pembuangan air,
garam, pasir dsb
reparasi / perangsangan
/ penyelidikan sumur,

- Ongkos lain tata usaha,

sewa tanah / konsesi.


- Royalty
Tak langsungbiaya umum

pembayaran
biaya umum lapangan

ELEMENEN BIAYA ( COST ELEMEN ).


1. Dipandang dari cara pembelanjaan biaya, maka ada :
-Biaya langsung ialah biaya yang dibelanjakan untuk pelaksanaan kerja.
-Biaya tak langsung ialah biaya yang timbul untuk mendukung pelaksanaan kerja,
biaya ini sering disebut dengan biaya umum atau overhead.
2. Baik biaya langsung maupun tak langsung terdiri dari pelbagai pengeluaran dan
menurut jenisnya digolongkan dalam :
a. Gaji / upah.
44

Berlaku bagi karyawan perusahaan dan kecuali uang yang diterima termasuk
pembayaran menurut peraturan yang berlaku seperti :
- Dana pensiun.
- Dana assuransi
- Dana kecelakaan kerja.
- Sakit.
- Cuti dan libur.
- Kerja lembur.
- Jasa produksi.
Tidak dalam biaya fasilitas / tunjangan yang diberikan kepada karyawan :
- Rumah sakit.
- Balai pertemuan.
- Perumahan
- Wisma
- Sekolah
- Angkutan karyawan.
Yang semuanya masuk dalam kelompok biaya umum
b. Kontrak .
Pengeluaran bagi pihak ketiga untuk kerja yang dilaksanakan atau jasa yang
diberikan berdasarkan kontrak, masuk dalam golongan ini adalah kontrak
penyerahan barang, sewa peralatan.
c. Material.
Material terdiri dari pengeluaran gudang, beban langsung dan buatan sendiri,
material yang dikeluarkan dari gudang diberi harga sesuai dengan yang tertera di
kartu suku cadang ( stock card price ). Material buatan sendiri diberi harga harga
sebesar biaya langsung pembuatannya ( cost of manufacturing ).
d.

Barang sendiri.
Untuk minyak mentah, gas dan hasil pengolahan yang dicatat sebagai produksi atau
perpindahan dari fungsi lain diberi harga sebesar harga penyerahan untuk ekspor
atau pengolahan jika barang tersebut dimanfaatkan untuk bahan bakar atau
keperluan umum.

e. Lain lain.
Dalam golongan ini mencakup pengeluaran pengeluaran diluar yang diatas.
Jika pengeluaran dibagi dalam pengeluaran tetap dan variable maka :
45

Yang tetap : ongkos pegawai


Biaya umum tertentu
Variable
: jumlah sumur
tingkat besarnya produksi.

Perlu diperhatikan pula daya menghasilkan sumur yang berbeda dari lapangan ke
lapangan, jumlah cara pengangkatan ( lifting method ) yang terbanyak dan hal lain
yang menyulitkan dalam analisa.
Dalam perhitngan ongkos produksi adalah jumlah total ongkos dibagi dengan
jumlah produksi sehingga diperoleh unit cost misalnya $/ Bbl, Rp/m 3 atau dalam
satuan yang dikehendaki.
Sedang jumlah produksi yang dimaksud adalah produksi yang ditampung dan
diketahui besarnya ( terukur ).

BIAYA PENGEBORAN.
BEBAN

KEPERLUAN

POS BIAYA

RINCIAN

Langsung

Persiapan

Jalan dan tapak

jalan masuk
Tapak/anjungan
Bongkarpasang
Saluran
Ganti rugi.

Pemboran

Membuat lubang Pasang memasang

Barang habis pakai :


Atas tanah
Bawah tanah
Perawatan alat
Kontrak
Lumpur
Bahan bakar
Pelumas, gemuk
Listrik,uap air.

Selubung

Casing dan

(casing)

Penyemenan

Kajian bawah tanah

pengurasan Logging
Penyelesaian
stimulasi,

46

penyelesaian dan uji


sumur
Gaji upah

gaji upah awak bor, biaya umum bor.

Angkutan

lewat darat,laut, udara

Kelengkapan sumur

Pindah alat.

atas tanah

kepala sumur dsb

Bawah tanah

perlengkapan lifting

Perkemahan.

Kemudahan, jasa bangunan

Tak langsung
Penutupan
Biaya

biaya Umum
biaya umum pusat

biaya umum lapangan


Penyusutsn fasilitas umum

Perpajakan

penyusutan

perabot
kelengkapan

bor

dan
angkutan

darat,laut udara alat berat


dan khusus serta lain
lain.

47

BAGIAN IV
TEORI KEEKONOMIAN

48

FIELD MANAGEMENT
Kompetensi mata kuliah FM :
Agar para mahasiswa mampu melakukan perhitungan keekonomian (proyeksi cash
flow) dari suatu prospek pengembangan lapangan migas pada sektor hulu (eksplorasi dan
produksi) selanjutnya mampu melakukan analisa dari beberapa kesempatan penanaman
modal (investasi) dari suatu / beberapa lapangan dan akhirnya diharapkan dapat mengambil
keputusan (decision making) yang paling tepat.
Daftar Isi FM:
I. Pendahuluan
II. Review beberapa metode perhitungan cadangan
2. l.Metode analog
2.2. Metode yolurnetrik
2.3. Metode material balance
2.4. Metode decline curve
2.5. Metode simulasi
III. Cash Flow Analisis
3.1. Pengertian cash flow dan net cash flow
3.2 Bentuk cash flow pada proyek migas
3.3. Net cash flow dan profit
3.4 Cash flow dan pajak (taxes)
3.5. Depresiasi (penyusutan)
-

Straight Line Methode

Declining Balance Methode

Unit of production Methode

Sum of the year Methode

3.6. Cash flow analysis dan inflasi


3.7 Contoh perhitungan cash flow dan project financing
49

IV.Indikator ekonomi
4.1. Konsep "present value"
4.2. Jenis indikator ekonomi
-

Pay out time (POT)

Net present value (NPV)

Internal rate of return (ERR) -> ROR

Profit to investment ratio (PIR)

Discounted profit to investment ratio (DPR)

V. Pola FISCAL pada proyek migas


5.1.Pola royalty / Tax
5.2. Pola production sharing contract (PSC)
-

Model PSC di Indonesia

VI. Analisa Resiko pada eksplorasi migas


6.1. Dasar-dasar probabilitas dan statistik
6.2. Jenis - jenis distribusi probabilitas dan nilai tunggal
6.3. Parameter berharga tunggal
6.4. Konsep expected value
6.5. Analisa resiko
6.6. Analisa sensitivitas
Referensi:
-

Poul D. Newendorp

" Decision Analysis for petroleum exploration "


Penn Well Brooks Tulsa, Oklahoma
-

GuyAllinson

" Economics of petroleum exploration and production "


Petroconsultant Australasia Pty 1992.

50

BAB I
PENDAHULUAN
Didalam pengelolaan lapangan migas ada 3 bagian pokok yang satu sama lain
berkaitan erat. Ketiga pokok tersebut yaitu :
1. Engineer (keteknikan)
2. Ilmu ekonomi
3. Regulasi / peraturan yang berlaku saat itu
Hubungan dari ketiga pokok diatas dapat dilihat pada diagram Venn
berikut :
Engineering

Pada bagian engineering akan diperoleh masukan-masukan dengan besaranbesaran reservoar dan besaran-besaran produksi misalnya besarnya reserve atau cadangan,
besarnya produksi per tahun, kapan di pasang pompa, dll.
Pada bagian ilmu ekonomi akan dibicarakan beberapa konsep ilmu ekonomi
seperti indikator ekonomi, nilai sekarang dari uang (present value), inflasi, faktor
penyusutan dari modal dll.
Pada bagian Regulasi akan dibicarakan mengenai besarnya pajak, besarnya
pembagian keuntungan antara pemenntah dan kontraktor dan beberapa aturan lain yang
berlaku pada project migas. Didalam proyek pengembangan migas dicirikan :
1. padat teknologi
51

2. padat modal
3. penuh resiko
Usaha yang demikian pada umumnya perusahaan akan menuntut keuntungan yang
besar.
Resiko ada beberapa macam yaitu :
1. Resiko engineering (keteknikan)

yaitu resiko yang berkaitan dengan kemungkinan biaya eksplorasi maupun biaya
pengembangan lebih mahal dari yang diperkirakan semula.
2. Resiko eksplorasi
Yaitu resiko yang berkaitan dengan eksplorasi yang tidak menemukan cadangan
baru.
Ex : geologist dan geofisika -> cadangan -> bor eksplorasi -> dry hole
3. Resiko pasar
Yaitu resiko yang berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan-perubahan
harga material seperti harga casing, pipe line, rig, dll.
4. Resiko kebijakan (regulasi)
Yaitu resiko yang berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan kebijakan
pemerintah pemerintah.
Ex ; ganti presiden / menteri -> ganti aturan
Oleh karena itu suatu perusahaan minyak pada umumnya tidak hanya beroperasi
pada suatu negara tertentu saja tetapi pada umumnya akan berusaha pada beberapa negara.
Sistem

pengusahaan

migas

(energi

tak terbarukan) sangat spesifik yang

digambarkan sbb :

52

dapat

Ket: ROI -> Rate on investment (laju pengembalian modal)

Cadangan terbukti adalah perkiraan hidrokarbon

yang dapat diproduksikan

dari

akumulasi hidrokarbon di dalam reservoir yang diketahui pada waktu tertentu, pada kondisi
ekonomi saat itu, dengan operasi yang berlaku dengan peraturan pemerintah pada saat itu
dan kekomersialannya sudah dibuktikan melalui tes-tes produksi. Cadangan ini
diperkirakan berdasarkan dari informasi geologi rekayasa dan ekonomi pada waktu
perkiraan.
Cadangan yang belum terbukti adalah

cadangan

yang

ditentukan

berdasarkan

perkiraan secara teoritis belum dibuktikan keberadaannya melalui sumur eksplorasi.


Catatan :
Economic limit : besarnya biaya produksi yang menyebabkan operation cost = pendapatan
Cadangan

: jumlah minyak yang dapat diproduksikan

IOIP

: jumlah hidrokarbon yang ada di reservoir

Marginal

: cadangan dalam jumlah yang kecil

Cadangan terbukti akan bertambah besar dengan adanya kegiatan eksplorasi


sehingga akan mengakibatkan cadangan yang belum terbukti berkurang. Sedangkan
53

cadangan terbukti akan berkurang dengan semakin meningkatnya produksi akibat adanya
kenaikkan

permintaan

hidrokarbon.

Dengan

bertambahnya

produksi

maka

laju

pengembalian modal (ROI) akan bertambah besar sehingga menghasilkan tambahan


investasi yang dapat memacu kegiatan eksplorasi.
Peranan teknologi akan mengurangi biaya sehingga akan memperbesar ROI
sedangkan lingkungan akan mengurangi ROI tetapi reklamasi dari lingkungan bekas
tambang minyak harus dilakukan.
Pajak yang memang merupakan kewajiban perusahaan yang harus dibayar akan
mengurangi laju pengembalian modal.
Sebagai dasar untuk bisa melakukan analisa keekonomian dari suatu project migas harus
dibuat proyeksi cash flow selama umur dari lapangan tersebut. Sedangkan yang dimaksud
dengan cash flow adalah : laju penerimaan (cash-in) dan laju pengeluaran (cash-out) pada
periode waktu tertentu. Pada industri migas bentuk cash flow sangat kompleks. Hal ini
disebabkan karena umur dari lapangan bisa > 25 tahun dimana harus bisa ditentukan /
diperkirakan biaya yang harus dikeluarkan dan kapan biaya tersebut harus dikeluarkan.
Didalam cash flow akan dibicarakan antara lain :
-

bagaimana menghitung pajak

bagaimana menghitung inflasi

bagaimana menghitung pengembalian pinjaman dan bunga

bagaimana menghitung depresiasi (penyusutan) dari capital

Setelah cash flow dibuat selanjutnya dengan indikator ekonomi yang merupakan single atau
pengukur tunggal (POT, NPV, ROR, PIR, DPR) maka dapat diketahui tingkat keuntungan
maupun POT dari proses pengembangan migas tersebut dan akhirnya bisa diambil suatu
keputusan apakah mau mengembangkan lapangan atau ditinggal.

54

BAB II
REVIEW METODE PERHITUNGAN CADANGAN
Besaran reservoar yaitu cadangan hidrokarbon (minyak & gas) merupakan besaran yang
diperlukan untuk mengetahui prospek dan tidaknya suatu lapangan. Lapangan-lapangan
yang memiliki cadangan yang kecil (marginal field) akan memberikan keuntungan yang
kecil pula sebaliknya untuk reservoar yang memiliki cadangan yang besar (giant field) akan
memberikan tingkat keuntungan yang besar pula.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya cadangan yaitu :
2.1

Metode Analog
Metode ini digunakan untuk memperkirakan besarnya cadangan dimana pada

lapangan tersebut belum dilakukan pemboran eksplorasi tetapi diidentikkan / dianalogkan


dengan

lapangan-lapangan

disekitarnya

yang

masih

didalam

suatu

lingkungan

pengendapan.
Sebagai contoh : besarnya porositas dan saturasi air analog dengan lapngan-lapangan
sekitarnya sehingga besarnya cadangan dapat dihitung:
Cadangan = (l-Swi)RF bbl/acre-ft
2.2

Metode Volumetrik
Pada metode ini batas reservoar baik arah vertikal maupun horizontal sudah dapat

diketahui dari sumur pengembangan sehingga volume pori dari seluruh resvoar sudah dapat
dihitung. Rumusnya :
N

= Ah (l-Swi).RF
= Vb (1-Swi).RF
= Vp(1 -Swi).RF

55

Pada metode volumetrik reservoar dianggap homogen serta besarnya porositas dan
saturasi merupakan harga rata-rata. Untuk memperhitungkan faktor heterogenitas reservoar
dapat dilakukan dengan membagi reservoar ke dalam grid-grid kecil atau cell dimana
masing-masing grid dianggap homogen. Dengan menggunakan peta iso-porositas, isosaturasi, dan peta isopach maka akan diketahui besarnya h (ketebalan), porositas, dan
saturasi masing-masing grid.
2.3

Metode Material Balance


Pada metode matbal didasarkan pada kesetimbangan materi (minyak, gas, air)

yang berada di dalam reservoar antara materi yang diproduksikan dengan materi yang
masuk kedalam reservoar maupun yang tinggal dalam reservoar.
a. Diasumsikan bahwa tekanan dan temperatur sama disemua titik didalam reservoir
(homogen).
b. Prosesnya yang terjadi adalah isothermal yang berarti temperatur didalam
reservoir selama produksi berlangsung dianggap konstan,
c. Terjadi kesetimbangan fasa secara sempurna, artinya pada suatu tekanan tertentu
didalam reservoir sudah tidak ada transfer masa
d. Fluida reservoir dianggap tidak bereaksi dengan batuan dalam hal ini kalau ada reaksi
maka akan ada kehilangan minyak tapi hal ini diabaikan.
e. Reservoirnya merupakan satu kesatuan
Bentuk umum persamaan matbal untuk reservoir dengan tenaga dorong kombinasi
dari depletion drive, gas cap drive dan water drive adalah sebagai berikut:

56

Pada persamaan di atas tidak ditemukan data batuan sehingga persamaan matbal digunakan
apabila reservoar sudah diproduksikan dan tekanan reservoar telah mengalami penurunan
dari tekanan initial.

2.4

Metode Decline Curves


Pada metode ini didasarkan pada plot data produksi versus waktu. Sedangkan

persyaratannya adalah :
2.4.1.

produksi telah mengalami penurunan

2.4.2.

tidak ada perubahan metode produksi

2.4.3.

reservoar berproduksi pada kapasitasnya

Ada beberapa tipikal decline yaitu:


a. exponential decline
b. harmonic decline
c. hyperbolic decline
Dimana masing masing tipikal mempunyai bentuk persamaan berbeda.

57

58

BAB III
CASH FLOW ANALYSIS
Prediksi cash flow dari suatu project pengembangan migas meruapakan dasar untuk
melakukan analisa ekonomi dari kesempatan investasi pengembangan lapangan tersebut.
Bentuk proyeksi cash flow bisa sangat sederhana, bisa juga sangat kompleks karena harus
memperhitungkan besarnya pendapatan dan pengeluaran yang akan datang dan kapan
waktu perolehan maupun biaya tersebut harus dikeluarkan.
Proyeksi cash flow pada industri migas bisa lebih dari 25 tahun sehingga sangat
kompleks.
3.1. Definisi cash flow
Cashflow adalah gambaran laju penerimaan dan laju pengeluaran pada periode waktu
tertentu selama umur project.
Net cash flow adalah selisih antara laju pendapatan dengan laju pengeluaran pada periode
waktu tertentu.
Net cash flow = cash revenue - cash expended
Example cash flow:

Cash revenue
Cash expended
Net cash flow

Tahun 1
+100
-10
+90

Tahun 2
+150
-20
+130

Tahun 3
+125
-100
+25

Tahun 4
+100
-20
+80

Tahun 5
+75
-100
-25

3.2. Bentuk cash flow pada industri migas


Bentuk cash flow pada industri migas dikarakteristikkan pada awal proyek
memerlukan biaya capital yang cukup besar dan ini bisa terjadi beberapa tahun sebelum
lapangan tersebut berproduksi dan menghasilkan cash revenue dari hasil penjualan minyak
maupun gas. Sedangkan biaya operasi (operation cost) pada umumnya lebih kecil jika
59

dibanding dengan capital cost dan juga lebih kecil jika dibanding dengan pendapatan pada
awal-awal produksi.
Ada beberapa elemen biaya didalam cash flow industri migas yaitu :
1. Gross revenue (pendapatan kotor)
2. Capital cost
3. Operating cost
4. Abandont cost
5. Pajak (Taxes)
A. Gross revenue
Pendapatan kotor dari proyek migas diperoleh dari hasil penjualan produksi minyak, gas,
maupun condensat. Besarnya gross revenue pada awal produksi pada umumnya besar
selanjutnya akan mengalami penurunan sesuai dengan karakteristik produksi dari suatu
reservoir.
Example perhitungan gross revenue:

Crude

oil

Tahun 1
production 10

Tahun 2
8

Tahun 3
6

(MMbbl)
Crude oil price ($MM)
Crude oil revenue

20
200

21
168

22
132

Gas production

50

50

50

Gas price ($/MCF)


Gas revenue

2.5
125

2.6
130

2.7
135

21
84
488

22
66
333

Condensat

production 5

(MMbbl)
Condensat price ($/MM)
Gross revenue

20
100
425

60

Cat+:
Besarnya produksi minyak rata-rata per tahun dapat dihitung dari produksi rata-rata harian
(BOPD) dikalikan 365 hari.
B. Capital cost
Capital cost dicirikan dikeluarkan satu kali (one off cost) pada saat dimulainya
project dan pada umumnya cukup besar. Kadang-kadang capital cost dikeluarkan beberapa
tahun sebelum diperoleh pendapatan.
Yang termasuk dalam capital cost adalah :
- biaya pemboran
-

pembelian tanker

konstruksi platform

pembelian proses facilities

pembelian well head dan flow line

pembangunan kantor dan camp

dan beberapa pembelian bahan lain yang sifatnya merupakan aset

C. Operating cost
Operating cost dikarakteristikkan adalah pengeluaran yang terjadi secara periodik
yang digunakan untuk mempertahankan produksi lapangan. Yang termasuk dalam
operating cost yaitu :
-

membayar gaji karyawan

biaya pemeliharaan pearalatan

biaya work over

biaya overheads kantor

- dll yang bersifat periodik


Besarnya biaya operasi dapat dinyatakan dalam bentuk :
$/tahun atau $/bbl

example :
5 $/bbl -> artinya untuk memproduksi minyak 1 bbl diperlukan biaya operasi 5 $.
1500 $/tahun -> artinya di dalam 1 tahun produksi diperlukan biaya operasi sebesar 1500
$/tahun
SOAL : Diketahui operating cost = 1500 $ / tahun

Produksi minyak (bbl)


Harga minyak ($/bbl)
Pendapatan
Biaya operasi

1
500
50
25000
1500

2
400
50
20000
1500

3
300
50
15000
1500

4
200
50
10000
1500

D. Abandont cost
Abundant cost adalah biaya yang harus dikeluarkan pada akhir proyek yang digunakan
untuk biaya reklamasi / perbaikan lingkungan setelah lapangan tersebut ditutup.
Biaya abandont cost dapat merupakan komponen yang penting di dalam cash flow dapat
pula masuk ke dalam biaya platform, pada onshore untuk perbaikkan lingkungan.
E. Taxes (pajak), Royalty
Selain capital cost dan operating cost perusahaan masih harus membayar kepada
pemerintah (Goverment Take) yang dapat berupa pajak atau royalty. Di Indonesia tidak
dikenal adanya royalty tetapi dinyatakan dalam bentuk lain yaitu dalam bentuk FTP (First
Tranche Periode) yaitu sebesar 20 % dari produksi tahunan. Sedangkan dalam bentuk
pajak sudah diatur di dalam peraturan pemerintah di mana perusahaan sebagai wajib pajak.
Bentuk goverment take pada masing-masing negara akan berbeda satu sama lain. Pada
umumnya besarnya pajak bisa mencapai 50 % lebih dari net cash flow.

Example:
Tahun
1
Perhitungan :

Produksi
100.000

FTP
20.000

FTP

: 20% x 100.000

= 20.000

Gross produksi

: produksi FTP

= 100.000 20.000

Gross Produksi
80.000

= 80.000
3.3. Net Cash Flow dan Profit

Net cash flow dan profit kadang-kadang disalahartikan mempunyai pengertian


yang sama tetapi sebetulnya secara konseptual keduanya sangat berbeda. Pada net cash
flow merupakan perkiraan besarnya uang yang diterima maupun yang dikeluarkan lebih
aktual/ riil. Sedangkan pada profit merupakan ukuran yang bersifat artificial yang
digunakan pada umumnya untuk melihat sehat tidaknya financial/ keuangan
perusahaan.
Secara diagram perbedaan tersebut dapat digambarkan sbb:
Net Cash Flow

Keterangan :

Net cash flow -> capital expenditure diperhitungakan langsung untuk menentukan net cash
flow sedangkan depresiasi untuk memperhitungkan pajak.
Profit

-> depresiasi capital diperhitungkan langsung.

Oleh karena itu, karena net cash flow lebih bersifat realistik (dapat memberikan gambaran
besarnya pendapatan dan pengeluaran serta waktu kapan diterima dan dikeluarkan) maka di
dalam analisa keekonomian migas digunakan konsep net cash flow.
Example 1:
Suatu perusahaan akan menginvestasikan sebesar $ 100 MM pada tahun pertama. Dari
perkiraan perusahaan akan memperoleh income sebesar $ 40 MM setiap tahun mulai tahun
ke-2 s/d tahun ke-5. Biaya operasi diperkirakan sebesar $ 10 MM per tahun mulai dan
tahun ke-2 s/d tahun ke-5. Bila depresiasi dengan menggunakan metode garis lurus, hitung
besarnya net cash flow per tahun dan besarnya profit per tahun !

Penyelesaian :

Diketahui : capital
Income

= $ 100 MM
= $ 40 MM dari thn ke-2 s/d thn ke-5

Operating cost = $ 10 MM dari thn ke-2 s/d thn ke-5


Ditanya : Net cash flow sebelum dikenai pajak ?
Jawab :
1
-100

Capital ($MM)
Income ($MM)
Operating cost
($MM)
Net cash flow

-100

+40
-10

+40
-10

+40
-10

+40
-10

+30

+30

+30

+30

($MM)
Depresiesi dengan metoda garis lurus, maka persamaan yang digunakan :
Di = K/N
Dimana

: K = capital
N = jumlah tahun depresiasi
I/N = R

Dimana : R = depresiasi rate


Maka :

Di = K/N
Di = K.R

Dari soal diketahui N = 4


R = 1/N = = 0.25

Di = K.R = 100 x 0.25 = 25

Income ($MM)

1
0

2
+40

3
`+40

4
+40

5
+40

Depresiasi
Operating cost ($MM)
Profit ($MM)
Cat:

0
0
0

-25
-10
5

-25
-10
5

-25
-10
5

-25
-10
5

Pada metoda depresiasi garis lurus besarnya depresiasi tiap tahun tetap.

3.4. Net cash flow dan pajak


Pada example 1 di atas menunjukkan perhitungan net cash flow sebelum pajak.
Untuk perhitungan net cash flow sesudah pajak maka harus dihitung terlebih dahulu
besarnya pajak yang harus dibayar per tahunnya.
Sesuai pada data example 1 maka perhitungan NCF sesudah pajak sbb :
Perhitungan paiak

Income ($MM)
Depresiasi
Operating cost ($MM)
Taxable income
Fax 40 %

1
0
0
0
0
0

2
+40
-25
-10
5
2

Untuk menghitung pajak sbb:


Contoh pada tahun ke-2 yaitu : 40% x 5 = 2
Jadi besarnya pajak diperhitungkan dari taxable income

3
`+40
-25
-10
5
2

4
+40
-25
-10
5
2

5
+40
-25
-10
5
2

Perhitungan NCF sesudah pajak

1
0
0
0
0
0

Income ($MM)
Depresiasi
Operating cost ($MM)
Pajak
Net cash flow

2
+40
-25
-10
-2
+28

3
`+40
-25
-10
-2
+28

4
+40
-25
-10
-2
+28

5
+40
-25
-10
-2
+28

Persamaan yang digunakan :


NCF = Income opex pajak

Cat + :
Besarnya taxable income tergantung pada depresiasi yang digunakan, contohnya pada
Production Sharing Contract menginginkan harga depresiasi yang besar sehingga
mereka dapat membayar pajak kecil.
Berikut contoh perhitungan jiika suatu perusahaan menanamkan modalnya 2 kali (data
sama dengan ex 1) :
Matrik perhitungan depresiasi

Capital I
Capital II
Depresiasi total

1
100

200

2
25
50
75

3
25
50
75

4
25
50
75

5
25
50
75

Sehingga untuk perhitungan NCFnya sama seperti sebelumnya hanya saja depresiasi
yang digunakan adalah depresiasi totalnya.
Dalam perhitungan pajak di atas depresiasi dari capital dimulai pada tahun ke-2 dimana
sudah diperoleh pendapatan. Bila depresiasi dilakukan pada tahun ke-1 (belum
diperoleh pendapatan) cara ini disebut perhitungan pajak "Loss Carry Forward".
Berikut contoh Loss Carry Forward (data sesuai dengan example 1):
Loss Carry Forward

Income
Depresiasi
Operating cost

1
0

2
+40

3
+40

4
+40

5
+40

-25

-25

-25

-25

-25

-10

-10

-10

-10

Net revenue

-25

30

Loss carry forward

-25

-20

-15

-10

20

Taxable income

20

Tax 40%
Keterangan

Depresiasi dimulai pada tahun ke-1 sehingga pada tahun ke-5 bernilai nol
Net revenue = income + depresiasi + operating cost
Loss carry forward -> Tahun ke-1 = -25
Tahun ke-2 = -25+5 = -20
Tahun ke-3 = -20+5 = -15
Tahun ke-4 = -15+5 = -10
Tahun ke-5 = -10+30 = 20

Rumus :
LCF = LCFawai + (Net revenue)^ berikutnya

Taxable income -> LCF yang bernilai positif

Tax diperhitungkan dari Taxable income

Perhitungan Net Cash Flow :

Capital
Income
Operating cost
Pajak
Net cash flow

1
-100
0
0
0
-100

+40
-10
0
30

+40
-10
0
30

+40
-10
0
30

+40
-10
0
22

Dari contoh diatas terlihat begitu kritis penentuan waktu dimulainya depresiasi
terhadap besarnya pajak dan kapan pajak tersebut dibayarkan.
3.5. Depresiasi

Ada beberapa metode perhitungan depresiasi yang sering digunakan di dalam industry
migas. Depresiasi digunakan pada perhitungan pajak maupun besarnya pembagian
keuntungan (profit sharing). Metode perhitungan tersebut:
a. Straight Line (metode garis lurus)
b. Metode Declining Balance
c. Metode Double Declining Balance
d. Unit of production
e. Sum of the year methode
A. Metode garis lurus
Contoh 1 :
Diketahui :Capital cost = $ 100 MM
Jumlah tahun depresiasi (umur proyek) = 4 tahun
Hitunglah depresiasi per tahun (Di)!
Penyelesaian :
Rumus yang digunakan :
Di = K/N
R = 1/N = = 0.25

Di = K.R = 100 x 0.25 = 25

Nilai capital
Depresiasi
Nilai akhir capital

1
100
25
75

2
75
25
50

Ket :

Pada metode ini besarnya depresiasi tetap tiap tahunnya.

Nilai akhir capital = nilai awal capital - depresiasi

3
50
25
25

4
25
25
0

Pada metode straight line ini dikarakteristikkan:


1. Besarnya depresiasi per tahun tetap
2. Nilai akhir dari capital = 0

B. Metode Declining Balance


Contoh = contoh 1

Nilai awal capital


Depresiation rate
Depresiasi (Di)
Nilai akhir capital

1
100
0.25
25
75

2
75
0.25
18.7
56.3

3
56.3
0.25
14.1
42.2

1
2
3
Nilai awal capital
K
K(1-R)
K(1-R)2
Depresiasi (Di)
K.R
K.R(1-R)
K.R(1-R)2
Nilai akhir capital K(1-R)
K(1-R)2
K(1-R)3
Jadi rumus umum yang digunakan untuk Declining Balance yaitu:
Di = K.R(1-R)i-1

4
42.2
0.25
10.5
31.7

4
K(1-R)3
K.R(1-R)3
K(1-R)4

Pada metode ini dikarakteristikkan :


1. Depresiasi akan mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya
2. Nilai capital di akhir tahun project mempunyai nilai tidak sama dengan nol,
inilah yang disebut salvage value
C. Metode Double Declining Balance

Pada metoda ini merupakan modifikasi dari metode declining balance. Besarnya
depresiation rate (R) dikalikan 2 (di double).
Rumus yang dipakai yaitu :
Di = K.2R(l-2R)i-1
Dimana:
K = capital
Di = depresiasi
R = depesiation rate
Contoh :
Hitung De untuk soal yang sama dengan data pada ex
1 ! Penyelesaian : D6 = 100 x 2 x 0,25 (1 -2 x 0,25)6-1=
1.5625
D. Unit of Production Methode
Pada metode ini unit of production depresiasi dari kapital akan sebanding dengan unit
produksi/ satuan produksi yang dihasilkan. Metode ini banyak digunakan pada
perusahaan-perusahaan yang bergerak didalam tambang (sumber daya alam).
Contoh A:
Suatu lapangan diperkirakan memiliki cadangan sebesar 50 MMBBL. Besarnya
produksi yang akan dihasilkan selama 4 tahun produksi adalah sebagai berikut:

Produksi

Tahun

(MMBBL)
20
15
10
5

1
2
3
4

Besarnya capital yang dibutuhkan sebesar $ 100 MM. Hitung besarnya depresiasi dari
capital bila didepresiasi selama 4 tahun.
Penyelesaian :
Diketahui: Cadangan = 50 MMBBL
Capital = $ 100 MM
Tahun depresiasi (N) = 4 tahun
Persamaan yang digunakan :
Depresiation rate (R) = Produksi pada tahun ke-i / reserve -> Di = K . R
Di

Contoh

Produksi

pada

perhitungan

Produksi

tahun

ke-i

pada
pada

reserve

tahun

tahun

ke-1

ke-i

20/50x100%

K
:

reserve

40

Di = K.R= 100x0.4 = 40
Atau
Di = Produksi pada tahun ke-i / reserve x K Di = 20/50x100 = 40
Perhitungan untuk tahun berikutnya dalam tabulasi berikut:
Produksi (MMBBL)
R(%)
Di

1
20
40
40

2
15
30
30

3
10
20
20

4
5
10
10

E. Sum-of the year methode


Pada metoda ini hampir sama dengan metode unit of production dimana besarnya
depresiasi pada tahun-tahun awal akan besar,
mengalami penurunan.

kemudian pada tahun berikutnya

Contoh = Contoh A
Penyelesaian :
Rumus yang digunakan:

Di =

xK

Atau

Di =

Contoh perhitungan pada tahun ke-3:

D3

20

Perhitungan untuk tahun lainnya dalam tabulasi berikut:


1
Sum of the year 10
(Thn (1+2+3+4))
Remaining year
R (%)
Di (SMM)

4
40
40

3
30
30

2
20
20

1
10
10

Berikut contoh perhitungan jika capital diinvestasikan lebih dari sekali:

Tahun

capital

100

160

120

Depresiasi
1

25

25

25

25

40

40

40

30

30

97

97

25

67

Jadi, intinya : Jika modal diinvestasikan lebih dari sekali maka perhitungan harus dibuat
dalam matrik depresiasi seperti diatas.
3.6. Net cash flow dan Inflasi
Pada contoh perhitungan Net cash flow sebelumnya besarnya capital cost dan operating
cost didasarkan pada harga-harga barang pada waktu sekarang. Kenyataan di lapangan
akan ada kenaikan harga dari barang-barang aset misal: wellhead, harga drill pipe,
casing dsb. Sebagi akibat adanya kenaikan harga baja (steel) karena inflasi. Untuk itu,
di dalam perhitungan net cash flow faktor inflasi (kenaikan harga barang) perlu
diperhitungkan.

Contoh B:
Besarnya capital yang didasarkan pada tahun sekarang untuk mengembangkan
lapangan minyak adalah sebesar $ 250 MM yang terbagi pada tahun ke-1 sebesar $ 100
MM dan tahun ke-2 sebesar $ 150 MM. Sedangkan biaya operasi yang diperkirakan
dengan harga sekarang sebesar $ 20 MM mulai tahun ke-3 s/d tahun ke-5. Bila
diperkirakan besarnya escalation rate akibat inflasi sebear 5 % per tahun, maka hitung
besarnya kenaikan harga capital (escalated capital) dan kenaikan operating cost
(escalated opex).
Penyelesaian :

Persamaan

yang

digunakan
(1

yaitu

:
rate)i-1

(escalation factor)i

escalation

escalation capital

= (escalation factor).(real capital)

escalation opex

= (escalation factor).(real opex)

Perhitungan dalam tabulasi berikut :

Real capital ($MM)

100

150
20

20

20

5%

5%

5%

5%

1.103

1.157

1.216

22.06

23.14

24.32

Real opex ($MM)


Escalation rate
Escalation factor

1.05

Escalation capital

100

157.5

Escalation opex

SOAL1:
Sebuah perusahaan minyak akan mengembangkan lapangan minyak "RISKI" dari hasil
studi reservoar diperkirakan besarnya cadangan minyak 4180 MBBL. Proyeksi produksi
dari lapangan ini diperkirakan sbb :
Tahun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Produksi
(MBBL)
215
425
740
825
710
525
350
150
130
110

Bila investasi pada tahun ke-0 sebesar $ 9500 M yang terdiri dari capital $ 6500 M dan
non-capital sebesar $ 3000 M. Biaya operasi sebesar $ 175 M/ tahun. Harga minyak
dianggap tetap sebesar $ 20/BBL. Sedangkan besarnya pajak 52 % dari taxable income.
Ditanyakan :
a. Hitung besarnya depresiasi / tahun selama 10 tahun engan menggunakan metode
garis lurus, declining balance dan double declining balance !
b. Hitung net cash flow per tahun dari prospek tersebut diatas setelah pajak !
(Gunakan perhitungan depresiasi dengan metode declining balance)

Penyelesaian :
a. Metode garis lurus
Persamaan yang digunakan : Di = K. R
K = $ 6500 M
R = 1/N= 1/10 = 0.1
Perhitungan dalam tabulasi sbb:
Tahun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Produksi (MBBL)
215
425
740
825
710
525
350
150
130
110

Di
650
650
650
650
650
650
650
650
650
650

Metode declining balance


Persamaan yang digunakan : Di = K.R(1-R)i-1
K = $6500 M

R = 0.1
Perhitungan dalam tabulasi berikut:
Tahun

Produksi (MBBL)

Di

215

650

425

585

740

527

825

474

710

426

525

530

350

345

150

311

130

280

10

110

252

Metode double declining balance


Persamaan yang digunakan yaitu : Di = K.2R(1-2R)i-1
K = $ 6500 M
R = 0.1

Perhitungan dalam tabulasi berikut :

Tahun

Produksi (MBBL)

Di

215

1300

425

1040

740

832

825

666

710

532

525

426

350

341

150

273

130

218

10

110

174

b. Menghitung net cash flow


Persamaan yang digunakan yaitu :
Income = (produksi).(harga minyak)
Di = K.R(1-R)i-1
Taxable income = (income) - (depresiasi) (opex)
Tax = 52 %.(taxable income)
NCF = (income) (opex) (tax)

Perhitungan dalam tabulasi berikut :


Investasi
Th
n

Produks
i (Mbbl)

Incom
e ($M)

capital
($M)

non
capital
($M)

6500

3000

opex
($M)

Di
($M
)

Tax
income
($M)

Tax
52%
($M)

NCF
undiscount
ed ($M)

-9500

215

4300

175

650

3475

1807

2318

425

8500

175

585

7740

4024.8

4300.2

740

14800

175

527

14098.
5

7331.2
2

7293.78

825

16500

175

474

15851.
15

8242.5
9

8082.41

710

14200

175

426

13598.
54

7071.2
4

6953.76

525

10500

175

530

9941.1
8

5169.4
1

5155.59

350

7000

175

345

6479.5
6

3369.3
7

3455.63

150

3000

175

311

2514.1
1

1307.3
4

1517.66

130

2600

175

280

2145.2

1115.5

1309.5

10

110

2200

175

252

1773.1
8

922.05

1102.95
31989.48

Perhitungan Net cash flow dengan investasi pinjam dari Bank


Field Data
1
Income
($MM)

100

100

100

100

Capital

100

Opex
NCF

-100

10

10

10

10

90

90

90

90

Financial
calculation
Loan

100

Balance start

100

110

82.5

55

27.5

Interest year

10

11

8.25

5.5

2.75

27.5

27.5

27.5

27.5

82.5

55

27.5

Repayment
Balance at end

110

Tax calculation
Income
Opex
Depresiation

100

100

100

100

10

10

10

10

25

25

25

11

8.25

5.5

2.75

56.7

59.5

27.3

25

Interest
Net revenue

-25

54

LCF

-25

29

Tax income

29

56.7

59.5

27.3

Tax (40%)

11.6

22.6

23.8

34.9

Cat : Pada tahun ke-3 tidak ada loss carry forward karena nilai loss carry forward
pada tahun ke-2 sudah positif (+).

BAB IV
INDIKATOR EKONOMI

Pada Bab III telah dibahas bagaimana membuat atau menkonstruksi cash flow
pada suatu prospek pengembangan lapangan migas. Perhitungan Net Cash Flow pada
Bab II belum dapat digunakan untuk mengambil keputusan apakah akan dikembangkan
atau ditinggalkan lapangan tersebut. Untuk itu masih suatu indikator ekonomi yang
diperlukan untuk bisa mengukur tingkat keuntungan maupun membandingkan tingkat
keuntungan yang akan diperoleh dari berbagai kesempatan investasi pengembangan
migas dari beberapa lapangan. Maka pada Bab IV akan dibicarakan beberapa parameter
ekonomi yang sering digunakan pada prospek pengembangan migas yaitu antara lain :
1. POT (Pay Out Time)
2. NPV (Net Present Value)
3. ROR (Rate of Return)
4. DPR (Discounted Profit to Invesment Ratio)
5. PIR (Profit to Invesment Ratio)
Suatu indikator ekonomi dikatakan baik apabila mempunyai karakteristik sbb :
a. Harus bisa membandingkan dan merangking tingkat keuntungan dari

setiap

kesempatan investasi
b. Parameter ekonomi harus bisa menyatakan "Time Value" dari capital perusahaan
c. Harus dapat mengukur tingkat keuntungan meskipun kecil
d. Secara kuantitatif harus bisa memperhitungkan faktor resiko (probabilitas)
Cat + : Time Value -> nilai uang dulu dan sekarang.
Konsep "Time Value of Money" (nilai uang terhadap waktu)

Besarnya nilai uang yang akan dieroleh pada waktu yang akan datang bila dibawa
kenilai sekarang maka disebut sebagai Nilai Uang Sekarang (Present Value), artinya
besarnya nilai uang akan tergantung pada waktu kapan uang itu diterima maupun
dibayarkan. Ada dua konsep yaitu :
1. Discounting
Pada konsep ini semua nilai uang yang diterima pada waktu yang akan dating (Future
Value / FV) dibawa ke nilai sekarang (Present Value / PV). Persamaan yang
digunakan yaitu :
PVn = FV.

Dimana :
= discount factor

= discount rate, %
2. Compounding
Pada konsep ini semua nilai uang yang sekarang di bawa ke nilai uang ke waktu yang
akan dating. Persamaan yang digunakan yaitu :
FVn = PV.(1+r)n
Berikut ini gambar yang menunjukkan discounting dan Compounding pada
konsep Time Value of Money :

Contoh :
Hitung FV pada tahun ke-3 jika diketahui PV = $ 100, r = 10%!
Penyelesaian :
FVn = 100.(1+0.1)3
FVn = 100.(1.1)3
FVn = $133.1
Hitung PV pada tahun ke 3 jika diketahui FV = $133.1, r = 10%!
Penyelesaian :

PVn = 133.1 x

= 133.1 x

= $100

Jenis jenis indicator Ekonomi


A) Pay Out Time (POT) atau Pay Back Periode
Yaitu indicator ekonomi yang menunjukkan berapa lama investasi akan kembali.
Berikut ini gambar NCF yang menunjukkan POT:

Kelemahan dari POT:


Tidak bisa menunjukkan berapa besarnya keuntungan yang akan diperoleh perusahaan.
Contoh menghitung POT: (data sesuai soal 1)
Tahun ke-0 s/d tahun ke-2 -9500 + 2318 + 4300.2 = -2881.8
Tahun ke-0 s/d tahun ke-3 -9500 + 2318 + 4300.2 + 7293.8 = 4412
POT

= 2 tahun + 4412 / 7293.8


= 2 tahun + 0.6
= 2.6 tahun
= 2 tahun 7 bulan

B) Present value (NPV)


Yaitu jumlah aljabar dan semua Net Cash Flow yang dibawa ke nilai sekarang.
Secara matematis:

NPV = NCF0 +

+ +

Contoh : (sesuai soal 1)

Besarnya discount rate =15%, Maka hitung besarnya Net Present Valuenya !
Penyelesaian :
Persamaan yang digunakan : NPV = NCF0 +

+ +

Perhitungan dalam tabulasi sbb :

Thn

Produksi
(Mbbl)

NCF undiscounted
($M)

Discount
factor R =
10%

-9500

NCF
discounted
-9500

215

2318

0.87

1860.06

425

4300.2

0.76

3268.15

740

7293.78

0.66

4813.89

825

8082.41

0.57

4606.97

710

6953.76

0.49

3407.34

525

5155.59

0.43

2216.9

350

3455.63

0.38

1313.14

150

1517.66

0.33

500.83

130

1309.5

0.28

366.66

10

110

1102.95

0.25

275.74

31989.48

NPV =
13129.68

Artinya:
Apabila harga NPV (+) berarti lapangan tersebut prospek untuk dikembangkan.
sebaliknya jika NPV (-) berarti lapangan tersebut tidak perlu dikembangkan. Di
dalam pemelihan kriteria di dalam NPV diambil harga NPV terbesar dan berharga
positif(+).

C) Rate of Return (ROR)/RIR


Didefinisikan sebagai bunga (discount rate) yang mengakibatkan harga NPV sama dengan nol
(NPV = 0). Secara matematis :

NPV = NCF0 +

+ +

Besarnya Rate of Return dapat dihitung dengan menggunakan Triall & Erorr yang
menghasilkan NPV = 0. Untuk memudahkan perhitungan dapat dilakukan dengan cara
ekstrapolasi dengan prosedur sbb :
1. Anggap suatu harga r tertentu (misal ri)
2. Hitung besarnya discount factor
3. Hitung besarnya NPV (misal NPVi)
4. Ambil harga r yang baru (misal rj)
5. Ulangi perhitungan mulai langkah 2 dan 3
6. Plot harga NPV vs discount rate
7. Ekstrapolasi kurva sampai memotong garis NPV = 0
Setelah didapat r maka hitung lagi discount factor dan NPVnya pada r yang didapat dari
grafik, jika harganya (-) maka r terlalu besar maka cari lagi harga r sehingga NPV = 0. Harga
ROR tidak bisa dihitung apabila harga NCF semuanya (+). Harga ROR dalam suatu proyek
bisa mempunyai harga 2 ROR. Hal ini terjadi apabila pada tengah waktu umur proyek ada
investasi lagi.

Contoh : (sesuai soal 1)


Diketahui :
Asumsi

: r1 = 40 %
: r2 = 45 %

Persamaan yang digunakan yaitu :


Discount factor =

NPV = 0 = NCF0 +

+ +

Perhitungan dalam tabulasi sbb :


Thn

Produksi
minyak
(Mbbl)

NCF
undiscounted
($M)

Discount
factor R =
10%

-9500

NCF
discounted (r
= 40%) ($M)

Discount
factor

-9500

NCF discounted
(r = 40%)
($M)
-9500

215

2318

0.71

1655.71

0.69

1598.62

425

4300.2

0.51

2193.98

0.48

2045.28

740

7293.78

0.36

2658.08

0.33

2392.48

825

8082.41

0.26

2103.92

0.23

1828.39

710

6953.76

0.19

1292.94

0.15

1084.88

525

5155.59

0.13

684.72

0.11

554.72

350

3455.63

0.09

327.82

0.07

256.42

150

1517.66

0.07

102.84

0.05

77.67

130

1309.5

0.05

63.38

0.04

46.22

10

110

1102.95

0.03

38.13

0.02

26.85

31989.48

NPV =
1621.52

NPV = 411.53

Plot rasumsi versus NPV :


r (%)

NPV
($M)

40

1621.52

45

411.53

Menghitung besarnya NPV pada ROR = 46.926 % :

Thn

Produksi
NCF
Discount
minyak undiscounted
factor
(Mbbl)
($M)
R = 40%

NCF
discounted
(r = 40%)
($M)

-9500

-9500

215

2318

0.681

1577.665

425

4300.2

0.463

1992.009

740

7293.78

0.315

2299.623

825

8082.41

0.215

1734.388

710

6953.76

0.146

1015.609

525

5155.59

0.099

512.4912

350

3455.63

0.068

233.7958

150

1517.66

0.046

69.88521

130

1309.5

0.031

41.04097

10

110

1102.95

0.021

23.52715
NPV =
0.034463

D) Discounted Profit to Investment Ratio (DPR)


Pada DPR nilai uang belum dibawa ke nilai sekarang. Secara matematis :
DPR =

Contoh : (sesuai soal 1)


DPR =

DPR = 1.382

E) Profit to Investment Ratio (PIR)


Pada PIR nilai uang dibawa ke nilai sekarang. Secara matematis :
PIR =

Contoh : (sesuai soal 1)


PIR =

= 3.367

BAB V
POLA FISCAL DALAM INDUSTRI MIGAS SEKTOR HULU
(Eksplorasi dari Produksi)

Pada Bab sebelumnya pada perhitungan Cash Flow belum terlihat adanya
pengaruh pemerintah di dalam pola Fiscal pada industri Migas di sekitar Hulu.
Keikutsertaan pemerintah di dalam eksplorasi dan produksi lapangan dinyatakan di
dalam bentuk "Goverment Take" (pendapatan pemerintah).
Goverment Take = Net Revenue - Net Cash Flow dari kontraktor
Sedangkan besarnya Net Revenue :

Net Revenue = Gross Revenue -

Jika dinyatakan dalam persentase:


% Government take =

% Goverment Take =

Besarnya Government Take untuk masing masing yang didasarkan pada NPV Net
Revenue adalah sebagai berikut :
Indonesia

92%

Australia

69%

Papua Nugini

81%

Brunei

80%

Thailand

93%

Malaysia

94%

Ada dua bentuk pola Fiscal yang umum digunakan di dunia pada industri Migas yaitu :
1. Pola Royalty
2. Pola Production Sharing Contract (PSC)
A. Pola Royalty / Taxes
Pada pola Royalty ketentuan-ketentuan sudah diatur di dalam bentuk UU
maupun peraturan-peraturan dari Negara yang bersangkutan. Ketentuan-ketentuan di
dalam Royalty akan diperlakukan sama pada semua kontraktor yang akan melakukan
eksplorasi

maupun

mengembangkan

lapangan

Migas

pada

Negara

tersebut.

Hidrokarbon yang ada di dalam Negara tersebut pada system Royalty seolah-olah
dipunyai oleh kontraktor. Ada beberapa Negara yang menggunakan system Royalty
yaitu : Australia, Papua Nugini, Inggris, Thailand, Norwegia, New Zealand.

B. Pola PSC
Ketentuan-ketentuan di dalam PSC pada umumnya tidak diatur di dalam bentuk
UU tetapi didasarkan pada negosiasi antara pemerintah dan perusahaan (kontraktor)
terutama pada besarnya pembagian keuntungan (Profit Sharing Split) secara detail.
Minyak dan gas yang ada di dalam reservoir pada prinsipnya dimiliki oleh pemerintah.
Beberapa negara yang menggunkan pola PSC yaitu : Cina, India, Indonesia, Malaysia,
Vietnam dan Filipina.

Perbedaan Pola Royalty dan PSC yaitu :


Royalty
1. Diatur dalam UU
2. Minyak dimiliki kontraktor

PSC
1. Diatur / didasarkan pada negosiasi
2. Minyak milik pemerintah

A. Struktur Pola Royalty / Taxes

B. Struktur Pola PSC

Pola FISCAL (PSC) di Indonesia

Dasar hokum yang mendasari pelaksanaan kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi
yaitu:
1. UUD 1945 pasal 33 yang menyatakan bahwa Kekayaan alam yang menguasai hajat
hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat.
2. UU Migas tahun 2000
1) FTP
FTP merupakan bentuk insentif baru yang diberikan pemerintah kepada kontraktor agar
kontraktor mau berdatangan ke Indonesia. 20 % dari Gross Revenue akan disisihkan
terlebih dahulu yang nantinya akan dibagi antara kontraktor dengan pemerintah.
Besarnya pembagian FTP mengikuti aturan sbb :
Gross Revenue

Contractor Share

Production Rate

(Before

(After

(BOPD)

Tax)

tax)

< 50.000

48.0769%

25%

50.000 - 150.000

38.4615%

20%

> 150.000

28.8462%

15%

Pre-Tax Share =

Contoh : Pre Tax Share =

= 48.0769%

2) Cost Recovery
Selain FTP kontraktor akan memperoleh kembali semua biaya capital, non-capital
maupun opex yang termasuk di dalm cost recovery. Selain cost recovery kontraktor
akan mendapatkan investment credit dari capital cost. Apabila didalam satu tahun

besarnya gross revenue setelah dikurangi FTP tidak cukup untuk membayar cost
recovery pada tahun tersebut maka semua biaya yang belum dicover / dibayarkan dapat
dibayarkan pada tahun berikutnya.
3) Profit Oil
Adalah besarnya profit setelah dikurangi FTP dan cost recovery yang akan dibagi antara
contractor dan pemerintah. Besarnya pembagian telah diatur didalam "Indonesian PSC
Oil Sharing Arrangements".
4) DMO (Domestic Market Obligation)
25 % dari bagian profit oil contractor harus dijual kepada pemerintah dengan harga 10
% dari harga pasar yang digunakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. DMO
akan diberlakukan setelah 5 tahun perusahaan tersebut berproduksi.
Contoh Kasus:
PERTANYAAN:
Suatu perusahaan minyak akan mengembangkan lapangan dengan pola PSC. Dari studi
reservoar diberikan pola produksi sebagai berikut:
Tahun
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Produksi
(MMbbl)
1
2
3
8
7
6
5
4
3
2
1

Besarnya investasi pada tahun ke nol adalah $100 MM. Biaya produksi $57 bbl. Harga
minyak $207 bbl. Investasi terdiri dari 50 % capital dan 50 % non-capital. Apabila
Share After Tax untuk kontraktor adalah 15 %, besarnya tax 48 %, depresiasi

menggunakan metode garis lurus selama 5 tahun, investment credit 20 % dari capital
dan kontraktor harus

memberikan

DMO

yang berlaku

sekarang (dibeli

oleh

pemerintah dengan harga 10 % harga pasar setelah 5 tahun produksi).

Ditanyakan :
a. NCF kontraktor tiap tahun
b. Indikator ekonomi: POT, NPV pada r = 10 %, ROR, DPR dan PIR
c. Bagaimana pendapat saudara tentang prospek pengembangan lapangan ini dari sisi
kontraktor. Diasumsikan : Tidak memperhitungkan FTP dan escalasi.
PENYELESAIAN
a. Menghitung NCF contractor tiap tahun
Persamaan yang digunakan yaitu :
Gross revenue = produksi x harga minyak
Depresiasi (Di) = K.R
Cost recovery (CR) = non-capital + depresiasi + opex + unrecovered
Contractor share (CS) = (share after tax/(1-tax)) x Equity to be split
Domestic Market Obligation (DMO) = 0,25 x (after tax/(1 - tax)) x 0,9 x Gross
revenue
Net contract share (NCS) = (contractor share + investment credit - DMO) x (1 - tax)
Expenditure (Exp) = capital + non-capital + opex
Total contractor share (TCS) = NCS + recoverable - investment credit
Net Cash Flow contractor = TCS - Exp

Th
n

Prod
Oil

Gross
Rev

Investas
i

D
i

Opex
($MM

IG
($MM

C
R

Re
c

ES

CS

DM
O

NC
S

TCS

E
p

No
n
(MMbb
l)

($MM
)

0
1

Ca
p
50

ca
p

50

20

1
0

6
5

20

5.2

15.
2

10

7
5

40

40

20

6
5

65

15

4.3
3

2.2
5

67.
3

50

11
0

31.
7

16.
5

66.
5

45

95

27.
4

14.
3

59.
3

9.4
5

39.
5

7.8
8

32.
9

10

40

1
0

80

1
0

40

5
0

35

4
5

30

90

26

7.7
9

25

75

21.
6

6.4
9
5.1
9

6.3

26.
3

3.8
9

4.7
3

19.
7

13.
2

6.5
8

160

1
0

140

1
0

120

30

3
0

100

25

2
5

20

60

17.
3

15

45

13

2.6

3.1
5

1.3

1.5
8

80

20

2
0

60

15

1
5

10

30

8.6
5

15

4.3
3

10

40

10

1
0

11

20

b. Menentukan indicator ekonomi


1) Pay Out Time (POT)
POT = 3 tahun + 12.55/26.5
POT = 3 tahun + 0.4736

POT = 3.4736 tahun


POT = 3 tahun 6 bulan
2) NPV pada r = 10%
Persamaan yang digunakan yaitu :
NPV = NCF0 + NCF1/(1+r)1 + NCF2/(1+r)2 + ... + NCFn/(1+r)n
Perhitungan dalam tabulasi sbb :
Produksi
Discount
minyak
NCFcontractor factor
Thn (MMbbl) ($MM)
r = 10%
0

-100

Discounted
NCFcontractor
-100

10.2 0.90909091

9.272727

30 0.82644628

24.79339

47.25

0.7513148

35.49962

26.5 0.68301346

18.09986

24.25 0.62092132

15.05734

9.45 0.56447393

5.334279

7.875 0.51315812

4.04112

6.3 0.46650738

2.938996

4.725 0.42409762

2.003861

10

3.15 0.38554329

1.214461

11

1.575
71.275

3) Rate of return (ROR)


Asumsi :

r1 = 5%
r2 = 15%
r3 = 15.1%

0.3504939

0.552028
18.80768

Persamaan yang digunakan yaitu


NPV = NCF0 +

+ +

Perhitungan dalam tabulasi sbb:


Produksi
Discount
minyak
NCFcontractor factor
Thn (MMbbl) ($MM)
r = 5%
0
-100
1
1
10.2 0.95238095
2
2
30 0.90702948
3
4
47.25 0.8638376
4
8
26.5 0.82270247
5
7
24.25 0.78352617
6
6
9.45 0.7462154
7
5
7.875 0.71068133
8
4
6.3 0.67683936
9
3
4.725 0.64460892
10
2
3.15 0.61391325
11
1
1.575 0.58467929
71.275

Discounted
NCFcontractor
r = 5%
-100
9.714286
27.21088
40.81633
21.80162
19.00051
7.051736
5.596615
4.264088
3.045777
1.933827
0.92087
NPV = 41.35653

Produksi
Discount
Discounted
minyak
NCFcontractor factor
NCFcontractor
Thn (MMbbl) ($MM)
r = 15%
r = 15%
0
-100
-100
1
1
10.2 0.86956522
8.869565
2
2
30 0.75614367
22.68431
3
4
47.25 0.65751623
31.06764
4
8
26.5 0.57175325
15.15146
5
7
24.25 0.49717674
12.05654
6
6
9.45 0.4323276
4.085496
7
5
7.875 0.37593704
2.960504
8
4
6.3 0.32690177
2.059481
9
3
4.725 0.28426241
1.34314
10
2
3.15 0.24718471
0.778632
11
1
1.575 0.21494322
0.338536
71.275
NPV = 1.395303

Produksi
Discount
Discounted
minyak
NCFcontractor factor r = NCFcontractor r
Thn (MMbbl) ($MM)
15.1%
= 15.1%
0
-100
-100
1
1
10.2 0.86880973
8.861859
2
2
30 0.75483035
22.64491
3
4
47.25 0.65580395
30.98674
4
8
26.5 0.56976885
15.09887
5
7
24.25 0.49502072
12.00425
6
6
9.45 0.43007882
4.064245
7
5
7.875 0.37365667
2.942546
8
4
6.3 0.32463655
2.04521
9
3
4.725 0.28204739
1.332674
10
2
3.15 0.24504552
0.771893
11
1
1.575 0.21289793
0.335314
71.275
NPV = 1.088516
Plot grafik r vs NPV
NPV
r (%)
($MM)
5 41.3565344
15 1.3953025
15.1 1.08851654

Menghitung NPV pada ROR = 15.429%


Produksi
NCFcontractor
Thn minyak
($MM)
(MMbbl)
0
-100
1
1
10.2
2
2
30
3
4
47.25
4
8
26.5
5
7
24.25
6
6
9.45
7
5
7.875
8
4
6.3
9
3
4.725
10
2
3.15
11
1
1.575
71.275

Discount
factor r =
15.429%
0.86633342
0.75053359
0.65021233
0.56330067
0.48800619
0.42277607
0.36626504
0.31730764
0.27489422
0.23815004
0.20631734

4) DPR
Persamaan yang digunakan yaitu :
DPR = (NPV) / (investasi)
DPR = 18.8076 / 100
DPR = 0.188

5) PIR
Persamaan yang digunakan yaitu :
PIR = undiscounted net cash / investasi
PIR = 71.275 / 100
PIR = 0.71275

Discounted
NCFcontractor
r = 15.429%
-100
8.836601
22.51601
30.72253
14.92747
11.83415
3.995234
2.884337
1.999038
1.298875
0.750173
0.32495
NPV = 0.089366

BAGIAN V
KONTRAK INDUSTRI
PERMINYAKAN

3.3.5. Sistem Kontrak Migas di Indonesia


3.3.5.1. Kontrak Bagi Hasil (PSC) di Indonesia
Kontrak perminyakan di Indonesia dimulai dengan Kontrak Karya dan kemudian
tahun 1971 diberlakukan Kontrak Bagi Hasil. Perbedaan kontrak Karya dan Kontrak
Bagi Hasil adalah pada Kontrak Bagi Hasil manajemen ada di tangan pemerintah,
dimana setiap kegiatan kontraktor harus dengan persetujuan pemerintah. Pada Kontrak
Bagi Hasil berlaku pre, current, dan post audit. pada Kontrak Karya hanya berlaku post
audit saja. Tugas utama kontraktor di Kontrak Karya adalah membayar pajak.
Untuk mengelola migas pihak ketiga dapat melakukan kerjsama dengan
pemerintah (BP Migas) melalui kontrak kerjasama migas yang pada dasarnya adalah
Kontrak Bagi Hasil. Sebelum satu pihak mengajukan minat untuk melakukan kontrak
bidang perminyakan seyogyanya mengerti perilaku (konsep dasar) bisnis perminyakan.
Ibarat mau melamar seseorang seyogyanya kita mengetahui perilaku orang tersebut.
Seperti bisnis lainnya maka bisnis migas adalah untuk mencari untung maka
perlu dikenal indikator- indikator keuntungan, disamping itu kita perlu membandingkan
aspek yang kita amati tersebut dengan alternatif- alternatif lain,k sehingga perlu
diketahui cara untuk menentukan pilihan dari alternatif- alternatif yang ada.
Keuntungan adalah fungsi produksi (cadangan), harga, biaya, dan pajak.
Pengetahuan tentang penentuan besaran- besaran tersebut wajib diketahui. Industri
migas adalah industri yang beresiko.
Kontrak yang berisi hak dan kewajiban pihak terkait termasuk penyelesaian
apabila terjadi ketidaksepakatan wajib diketahui. Prosedur pelelangan dan kewajibankewajiban yang harus dipenuhi peserta lelang perlu diketahui oleh yang bersangkutan.
Kontrak yang akan dibahas adalah Kontrak Bagi Hasil, Kontrak Bagi Hasil- FTP (First
Tranche Petroleum), JOB (Joint Operating Body) , TAC (Technical Assistance
Contract) dan KSO (Kerja Sama Operasi). Gambar 7.4. adalah Skema Bagi Hasil
dengan sistem PSC Standar.

Gambar 3.13.
Diagram Alir Kontrak Bagi Hasil Standar (PDF Ekonomi Migas,2009)
Hal-hal yang penting dalam Production Sharing Contract (PSC) di Indonesia :
a. Pihak-pihak dalam KPS, BP Migas dan Perusahaan Swasta (Nasional/Asing)
sebagai Kontraktor.
b. Prinsip-prinsip Production Sharing Contract (PSC) :
1. BP Migas bertanggung jawab atas Manajemen Operasi.
2. Kontraktor melaksanakan operasi menurut Program Kerja Tahunan yang sudah
disetujui Pemerintah.
3. Kontraktor menyediakan seluruh dana dan teknologi yang dibutuhkan dalam
operasi perminyakan.
4. Kontraktor menanggung biaya dan risiko operasi.
5. Kontraktor akan menerima kembali seluruh biaya operasi setelah produksi
komersial.
6. Produksi yang telah dikurangi biaya produksi, dibagi Pemerintah dan
Kontraktor.
7. Kontraktor diijinkan mengadakan eksplorasi selama 6 sampai 10 tahun, dan
eksploitasi 20 tahun atau lebih (jangka waktu kontrak 30 tahun).

8. Kontraktor mengajukan Program dan Anggaran Tahunan untuk disetujui


Pertamina.
9. Kontraktor wajib menyisihkan/mengembalikan sebagian wilayah kerjanya
kepada pemerintah.
10. Seluruh barang operasi/peralatan yang diimpor dan dibeli kontraktor menjadi
milik Pemerintah setelah tiba di Indonesia kecuali yang disewa.
11. Seluruh data yang didapatkan dalam operasi menjadi milik Pemerintah.
12. Kontraktor adalah subyek pajak penghasilan dan wajib menyetorkannya secara
langsung kepada Negara.
13. Kontraktor wajib mengalihkan 10% Interest-nya setelah produksi komersial
kepada Perusahaan Swasta Nasional yang ditunjuk BP Migas.
Dalam perkembangan dan pelaksanaannya, KPS mengalami perubahanperubahan beberapa prinsip-prinsip pokoknya. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan
akibat dari situasi perminyakan baik di dalam maupun di luar negeri.
Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, prinsip-prinsip KPS dapat di
kelompokkan sebagai berikut:
3.3.5.1.1. Kontrak Production Sharing (KPS) Generasi I (1964 -1977)
Kontrak ini merupakan bentuk awal KPS. Pada tahun 1973 / 1974 terjadi
lonjakan harga minyak dunia, sehingga Pemerintah menetapkan kebijaksanaan bahwa
sejak tahun 1974, Kontraktor wajib melaksanakan pembayaran tambahan kepada
Pemerintah.
Prinsip-prinsip pokok KPS Generasi I adalah sebagai berikut :
1. Manajemen operasi ditangan Pertamina;
2. Kontraktor menyediakan seluruh biaya Operasi perminyakan;
3. Kontraktor akan memperoleh kembali seluruh biaya operasinya, dengan
ketentuan maksimum 40% setiap tahun;
4. Dari 60% dibagi menjadi:
Pertamina

: 65%

Kontraktor

: 35%

5. DMO tanpa grace period (masa penangguhan pembayaran kembali / hutang )

6. Pertamina membayar pajak pendapatan Kontraktor kepada Pemerintah.


7. Kontraktor wajib memenuhi kebutuhan BBM untuk dalam negeri secara
proporsional (maksimum 25% bagiannya) dengan harga US $ 0.20/barel;
8. Semua peralatan dan fasilitas yang dibeli oleh Kontraktor menjadi milik
Pertamina;
9. Dari interest Kontraktor ditawarkan kepada Perusahaan Nasional Indonesia
setelah lapangan dinyatakan komersial.
10. Sejak tahun 1974 sampai 1977, Kontraktor diwajibkan memberikan tambahan
pembayaran kepada Pemerintah.
3.3.5.1.2. Kontrak Production Sharing (KPS) Generasi II (1978 - 1987)
Pada tahun 1976 Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan IRS Ruling yang
antara lain menetapkan bahwa penyetoran 60% Net Operating Income KPS (yang sesuai
UU No.8 Tahun 1971 merupakan pembayaran pajak Pertamina dan Kontraktor)
dianggap sebagai pembayaran royalty, sehingga disarankan agar Kontraktor membayar
pajak secara langsung kepada Pemerintah. Di samping itu perlu diterapkan Generally
Accepted Accounting Procedure (GAP), dimana pembatasan pengembalian biaya
operasi (Cost Recovery Ceiling) 40%/tahun dihapuskan. Untuk KPS yang berproduksi
dilakukan amandemen.
Prinsip-prinsip pokok KPS Generasi II adalah sebagai berikut :
1. Tidak ada pembatasan pengembalian biaya operasi (Cost Recovery) yang
diperhitungkan oleh Kontraktor.
2. Setelah dikurangi biaya-biaya pembagian hasil menjadi:
Minyak

: 65,91 % untuk Pertamina,


: 34,09 % untuk Kontraktor,

Gas

: 31,80 % untuk Pertamina,


: 68,20 % untuk kontraktor.

3. Investment Credit (IC) 20%.


4. DMO dengan harga pasar untuk 5 tahun.
5. Kontraktor membayar pajak 56% secara langsung kepada Pemerintah.

6. Pada tahun 1984, peraturan perundang-undangan pajak baru berlaku untuk KPS
dengan tarif pajak 48% dan diberlakukan mulai tahun 1987, dengan demikian
pembagian hasil berubah menjadi:
Minyak
Gas

71,15% untuk Pertamina

28.25% untuk Kontraktor

42.31% untuk Pertamina

57.64% untuk Kontraktor

7. Bagian bersih setelah dikurangi pajak:


Minyak

Indonesia/Kontraktor = 85/15

Gas

Indonesia/Kontraktor = 70/30

8. Kontraktor mendapat insentif :


a. Harga ekspor penuh minyak mentah Domestic Market Obligation setelah
lima tahun pertama produksi.
b. Insentif pengembangan 20% dari modal yang dikeluarkan untuk fasilitas
produksi.
3.3.5.1.3. Kontrak Production Sharing (KPS) Generasi ke-III (1988-Sekarang)
Pada tahun 1984 Pemerintah menetapkan Peraturan Perundang-undangan Pajak
Baru untuk KPS dengan tarif 48%. Namun peraturan tersebut baru dapat diterapkan
terhadap KPS yang ditandatangani pada tahun 1988, karena dalam perundanganperundangan yang dilakukan, pihak Kontraktor masih mempunyai kecenderungan untuk
menggunakan peraturan perpajakan yang lama. Dengan demikian pembagian hasil
berubah menjadi:
Minyak

: 71,15% untuk Pertamina,


: 28,85% untuk Kontraktor

Gas

: 42,31% untuk Pertamina,


: 57,69% untuk Kontraktor.

Bagian bersih setelah dikurangi pajak:


Minyak

: Pertamina/Kontraktor = 85/15

Gas

: Pertamina / Kontraktor = 70/30

Untuk lebih menarik minat para investor asing menanamkan modalnya di bidang
usaha pertambangan migas di Indonesia yang nampak mulai mengalami penurunan

akibat tidak menentunya harga minyak di pasar dunia, maka Pemerintah mengeluarkan
beberapa paket insentif sebagai berikut:

Paket Insentif 23 September 1988


Sesuai Surat Menteri Pertambangan dan Energi No. 3985/139/M.DJM/88
tanggal 23 September 1988, Pemerintah mengeluarkan Paket Insentif Pertama. Pada
Paket Insentif yang Pertama di tetapkan hal-hal sebagai berikut:
1. Pemberian Investment Credit, dengan syarat bahwa pemerintah harus
memperoleh 49% dari pendapatan kotor tidak berlaku lagi.
2. Penetapan Komersialisasi, Jaminan minimum 25% dari pendapatan kotor untuk
Pemerintah tidak diperlukan.
3. Harga DMO, 10% dari harga ekspor setelah selesai 60 bulan pertama produksi.
4. Penyisihan minyak pertama (First Tranche Petroleum/FTP), 20% dari produksi
disisihkan sebelum dikurangi biaya operasi dibagi antara Pertamina dan
Kontraktor.
5. Pembagian Produksi antara Pemerintah/ Pertamina dan Kontraktor di daerah
Frontier,

s/d 50 MBOPD = 80/20

50-150 MBOPD = 85/15

150 MBOPD lebih = 90/10

6. Tatacara Perizinan disederhanakan.


Paket Insentif 23 Februari 1989
Sesuai Surat Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 0857/39/M.DJM/89
tanggal 7 Maret 1989, Pemerintah mengeluarkan Paket Insentif Kedua yang mulai
berlaku tanggal 23 Pebuari 1989. Pada Paket Insentif Kedua ditetapkan hal-hal sebagai
berikut:
1. Pembagian Produksi Pemerintah/ Pertamina dan Kontraktor untuk lapangan
marginal dan tertiary (EOR) :

- Pada wilayah konvensional: 80/20 dan pada wilayah frontier 75/25.


2. Pembagian produksi di daerah Pre-Tertiary dan Laut Dalam (deep water).
3. Pembagian tambahan untuk produksi di frontier.
4. Investment Credit untuk laut dalam: 110% minyak dan 55% Gas.
5. Perpanjangan masa eksplorasi: 6 tahun - 1 x 4 tahun.
6. Harga Gas: Diorientasikan pada komersialitas pengembangan lapangan.
7. Akses data: Tidak terbatas pada lahan yang ditenderkan.
8. Perolehan data lapangan dilakukan oleh Pertamina dan terbuka bagi Kontraktor
Paket Insentif 31 Agustus 1992
Sesuai Surat Menteri Pertambangan dan Energi No.3052/39/M.DJM/1992
tanggal 31 Agustus 1992, Pemerintah mengeluar-kan Paket Insentif Ketiga. Paket ini
ditetapkan hal-hal sebagai berikut:
1. Depresiasi atas biaya barang modal ditetapkan separuh (50%) dari masa manfaat
tiap jenis asset tanpa memperhitungkan besarnya cadangan gas.
2. Investment Credit untuk pengembangan cadangan Pra Tersier: 110% minyak dan
gas.
3. Investment Credit untuk laut dalam antara 200 m sampai dengan 1.500 m: 110%
minyak dan gas.
4. Investment Credit untuk laut dalam > 1.500 m: 125% minyak dan gas.
5. Harga DMO 15% dari harga ekspor.
6. Pembagian hasil gas pada wilayah konvensional 65/35 dan pada wilayah frontier
60/40.
7. Pembagian hasil gas untuk pengembangan lapangan pada laut dalam (>1.500 m)
pada lahan lama 60/40 dan pada lahan baru (Frontier) 55/45.
8. Pembagian hasil minyak pada daerah frontier 80/20.
9. Pembagian hasil minyak untuk pengembangan lapangan pada laut dalam (>1.500 m)
pada wilayah frontier 75/25.
Paket Insentif 1 Januari 1994
Sesuai Surat Menteri Pertambangan dan Energi No. 01/39/M.DJM/94 tanggal 1
Januari 1994, Pemerintah mengeluarkan Paket Insentif Keempat. Pada Paket Insentif
Keempat ditetapkan hal-hal sebagai berikut:

1. Pembagian hasil setelah pajak untuk minyak 65/35.


2. Pembagian hasil setelah pajak untuk gas 60/40.
3. Harga DMO 25% harga ekspor.
4. Penyisihan minyak pertama (FTP) 15% dari produksi disisihkan sebelum di kurangi
biaya operasi kemudian di bagi antara Pertamina dan Kontraktor.
Kebijaksanaan negara dalam kontrak bagi hasil ini sangat menentukan jalannya
eksplorasi

maupun

eksploitasi

minyak.

Sedikitnya

prosentasi

minyak

yang

dikompensasi pada kontraktor dan besarnya pajak akan mengakibatkan turunnya


kegiatan eksplorasi dan pengembangan. Bila hal ini terjadi maka perlu dilakukan
diregulasi untuk menyegarkan kegiatan eksplorasi.
Secara umum, perbedaan PSC generasi pertama sampai sekarang dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel III-19
Perbedaan PSC Generasi I-III (W. Partowidagdo, 2004))
PSC Generasi I

PSC Generasi II

(19651978
(1978 1988)
- cost recovery dibatasi - tidak ada pembatasan cost
sebesar 40%

recovery

PSC Generasi III


(1988 sekarang)
- mulai diberlakukan First
Tranche Petroleum (FTP)

- bagian kontraktor adalah - bagian kontraktor adalah - DMO bervariasi antara


35% bersih
- DMO
period

tanpa

15% bersih

harga ekspor

grace - investment credit 20%


- DMO dgn harga pasar
untuk 5 tahun

3.3.5.2. Sistem Kontrak Bagi Hasil FTP (FTP-Production Sharing Contract)


Seperti telah ditulis sebelumnya bahwa Indonesia adalah Negara pertama yang
menerapkan Sistem Kontrak Bagi Hasil. Di Indonesia sistem ini terus berkembang dan
berkembang mengikuti zamannya, sampai pada generasi terakhir daripada sistem ini
yaitu, First Tranche Petroleum Production Sharing Contracts.
FTP- Production Sharing Contract ini mempunyai pengertian bahwa adanya
pembagian awal sebesar 20% dari revenue antara kontraktor dan Indonesia dengan
formula yang sudah ditentukan.
Gambaran yang jelas tentang FTP- Production Sharing Contract ini dapat dilihat
pada diagram alir Gambar 3.14. Diagram alir Gambar 3.14, ini adalah pengembangan

dari diagram alir yang ditulis oleh Guy Allinson. Untuk memahami diagram alir pada
Gambar 3.14. dapat diuraikan tentang defenisi, pengertian, perhitungan seperti tertera
dibawah ini, yaitu:
3.3.5.2.1. Pendapatan Kotor (Gross Revenue)
Gross revenue merupakan hasil perkalian total produksi dengan harga minyak.
Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
Gross Re venue Total Pr oduksi * H arg aMinyak

............................(3-48)

3.3.5.2.2. First Tranche Petroleum (FTP)


Tagihan pertama kali dari hasil produksi yakni sebesar 20% dari gross revenue
dinamakan First Tranche Petroleum (FTP). Kontraktor dan Pemerintah Indonesia
kemudian membagi FTP ini dengan formula pembagian sebagai tertera pada Tabel VII2. Pada Tabel V11-2, terlihat bahwa besarnya bagian kontraktor tergantung pada
produksi minyak per harinya, tapi hal ini tidak berlaku pada gas bumi, karena pada gas
bumi besarnya bagian kontraktor adalah 57.6923% tanpa melihat jumlah produksinya.
Hubungan antara pembagian keuntungan sebelum pajak (share before tax)
dengan pembagian keuntungan setelah dikenai pajak (share after tax) dapat dilihat pada
Persamaan 5-19, berikut:
ShareBefor eTax

ShareAfter Tax
1 Tax ................................................

(3-49)

Tabel III-20.
Pembagian FTP antara Kontraktor dengan Pemerintah Indonesia (Petroleum
Economic,2009)
Gross Annual Average Production Rate

Contractors Share

(bopd)

Before Tax

After Tax

< 50,000,-

48.08%

25%

50,000,- up to 150,000,-

38.46%

20%

> 150,000,-

28.85%

15%

Dari hasil perhitungan gross revenue dan FTP maka dapat dicari Keuntungan
sisa (Remaining revenue) daripada projek, yaitu:
Remaining revenue = Gross Revenue FTP.....................................(3-50)
3.3.5.2.3. Cost Recovery dan Investment Credit
Dalam rangka meningkatkan penanaman investasi di Indonesia, Pemerintah
Indonesia memberikan insentif-insentif yaitu kontraktor berhak menagih ulang biayabiaya yang dikeluarkan (capital dan operating cost) dibawah ketentuan-ketentuan yang
berlaku.
Recovery dari capital cost biasanya didepresiasikan dengan metode declining
balance selama lebih dari 5 tahun sebesar 25% setiap tahunnya atau dengan metode
straight line dan ditagihkan setelah produksi dimulai.
Investment credit adalah bentuk insentif lain untuk mendatangkan investor ke
Indonesia. Kontraktor berhak mengajukan investment credit sebesar 10% dari capital
expenditure. Investment credit ini akan dibayarkan setelah produksi dimulai.
Apabila jumlah produksi minyak tidak mencukupi untuk membayar biaya yang
ditagih (cost recovery), maka biaya yang tidak tertagih (unrecovered) dapat ditagihkan
pada tahun berikutnya dengan perhitungan-perhitungan sebagai berikut:
IC n

=10% * CAPEX n 1 ........................................................

CR n

= DEPn OPEX n UR1n .................................................... (3-52)

(3-51)

UR1n = NCAP n 1 IC n 1 UR 2 n 1 ........................................... (3-53)


UR2 n = IF(CRn>(Remaining Revenue)n,(CR-Remaining Revenue)n,(3-54)

REC n = IF(CRn>(Remaining Revenue)n,(Remaining Revenue)n,CRn)(3-55)

Keterangan :
ICn

= Investment Credit tahun ke n

CRn

= Biaya yang ditagihkan tahun ke n

DEPn

= Depresiasi tahun ke n

OPEXn

= Operating Cost tahun ke n

UR1n & UR2n = Unrecovered 1& 2 pada tahun ke n


NCAP

= Non Capital

RECn

= Biaya yang terbayar tahun ke n

3.3.5.2.4 Profit Oil atau Equity to be Split

Profit oil atau equity to be split adalah keuntungan dari hasil penjualan minyak
setelah dikurangi FTP dan cost recovery (plus investment credit). Dimana jumlah profit
oil ini kemudian dibagi antar kontraktor dan Pemerintah Indonesia berdasarkan kontrak
yang telah disetujui kedua belah pihak. Tabel III-21 memperlihatkan pembagian yang
biasa dilakukan di Indonesia.
Secara matematis profit oil ini dapat ditulis sebagai berikut:
ESn

= Remaining Revenuen - RECn.............................................. (3-56)

Dimana: Recn = Tagihan yang terbayarkan


Tabel III-21.
Pembagian FTP antara Kontraktor dengan Pemerintah Indonesia (Petroleum
Economic,2009)
Conventional
and

Areas
Existing

Frontier Area

Contracts
Pretertiary or
Water

Pre-tertiary

Depth

Water

Tertiary

>200m

Tertiary

>200m

80/20

80/20

75/25

75/25

or
Depth

Marginal
Discoveries
New Discoveries
-

P<50 Mbopd
50<P<150

85/15

80/20

80/20

75/25

Mbopd

85/15

85/15

85/15

80/20

P>150Mbopd

85/15

90/10

90/10

85/15

3.3.4.2.5. Government Share (GS)


Merupakan bagian dari Equity To be Split (ETS) yang menjadi milik Pemerintah.
Besarnya Government Share (GS) akan tergantung dari persentase bagi hasil sebelum
pajak, sehingga akan mengikuti persamaan sebagai berikut :
GS = % Share X ETS ........................................................................( 3-57 )
3.3.5.2.6. Contractor Share

Contractor share adalah bagian dari kontraktor sebelum dikenai pajak yang
didapat dari hasil pembagian profit oil berdasarkan peraturan yang berlaku kemudian
ditambah dengan FTP untuk kontraktor.

0.15
* ES FTPcontractor .................................................
1 0.48

CS

(3-58)

Gambar 3.14. Diagram Alir Sistem Pembagian FTP-Production Sharing Contract


(Guy Allinson,1992)
3.3.5.2.7. Kebutuhan Minyak Dalam Negeri (Domestic Market Obligation)
Domestic Market Obligation diatur dalam peraturan pemerintah No 35 tahun
2004, Bab V Pasal 46, yaitu kontraktor ikut bertanggungjawab untuk memenuhi

kebutuhan Minyak Bumi untuk keperluan dalam negeri, dimana besaran kewajiban
kontraktor adalah paling banyak 25 % dari bagiannya setelah 5 tahun produksi berjalan.
Besaran tetap dari persentase DMO ini ditetapkan oleh Menteri.
Besarnya DMO ini adalah hasil penjumlahan contractor share dengan FTP ke
kontraktor dikalikan dengan persen kewajiban kontraktor. Hasil perkalian ini kemudian
dikalikan dengan (1-0.1) atau 0.9 , dimana 0.9 adalah faktor pengali bahwa sebesar 10%
dari kewajiban kontraktor dibayar pemerintah berdasarkan harga pasar internasional
atau hanya 90% saja yang diserahkan ke Indonesia. Secara matematis dapat ditulis
sebagai berikut:
DMO = 0.25*(CS)*0.9

........................................................... (3-59)

3.3.5.2.8. Taxable Income (TI)


Taxable Income adalah seluruh pendapatan kontraktor yang dikenai pajak setelah
dipotong biaya-biaya yang dikeluarkan. Besarnya Taxable Income ditentukan oleh
komponen Contractor Share, FTP Contractor, Investment Credit, DDMO, dan besarnya
Interest Recovery jika ada. Semakin besar keempat komponen tersebut, maka semakin
besar pula penerimaan pemerintah.
TI = ( CS DMO ) + IC ...................................................................(3-60)
3.3.5.2.9. Net Contractor Share
Net contractor share adalah penjumlahan contractor share dengan FTPc
dikurangi DMO. Hasil penjumlahan ini kemudian dikalikan dengan faktor pajak
perusahaan. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
NCS

= (CS-DMO-Bonus)*(1-0.48)..............................................(3-61)

3.3.5.2.10. Net Government Take (NGT)


Net Government Take merupakan pendapatan bersih yang diterima pemerintah.
Net Government Take dapat dinyatakan seperti pada rumus dibawah ini :
NGT = GS + DMO + IC ...................................................................(3-62)
Gambar 3.15. adalah perbandingan Government Take di berbagai negara di Asia
Pasifik

Gambar 3.15. Perbandingan Government Take di Berbagai Negara Asia Pasifik


(Daniel Johnston, 2008)
3.3.5.2.11. Bonus
Bentuk lain dari pendapatan Pemerintah Indonesia adalah signature dan
production bonuses. Bonus ini dibayarkan kontraktor pada saat penandatangan kontrak
dan dibayarkan hanya satu kali saja. Besarnya bonus biasanya berdasarkan negosiasi
antara kontraktor dan Pemerintah Indonesia. Estimasi besarnya bonus dapat dilihat pada
Tabel III-22.
Tabel III 22.
Contoh Besaran Bonus Produksi di Indonesia (W. Partowidagdo, 2004)
Production
bopd
25,000
50,000
100,000
200,000

Bonuses
US$ MM
3
5
10
20

Bonus bukan merupakan bagian biaya yang dapat ditagihkan (cost recovery) tapi
besarnya bonus dapat dimasukkan dalam perhitungan net contractor share untuk
mengurangi pajak pendapatan.
3.3.5.2.12. Pajak (Tax)
Besarnya pajak pendapatan untuk minyak dan gas bumi adalah sebesar 48%.
Cost recovery tidak dikenakan pajak tapi 10% pendapatan dari DMO ikut dikenai pajak.
Untuk memperkecil pemotongan pajak, net contractor share dapat dikurangi bonus.

3.3.5.2.13. Total Contractor Share (TCS)


Total contractor share adalah penjumlahan net contractor share setelah
dikurangi pajak dan bonus dengan cost recovery. Secara matematis dapat ditulis sebagai
berikut:
TCS

= CS DMO Bonus * 1 0.48 RECn

= NCS + RECn.....................................................................(3-63)
3.3.5.2.14. Expenses/ Expenditure (Biaya Total)
Expenses adalah biaya yang dikeluarkan oleh kontraktor yang meliputi Capex,
Non Capex dan OPEX. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
EXP

= CAPEX + Non CAPEX + OPEX....................................(3-64)

3.3.5.2.15. Contractor Cash Flow (CCF)


Contractor cash flow adalah selisish antara total contractor share dengan
expenses. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
CCF

= TCS EXP.......................................................................(3-65)

Jumlah CCF jika dibagi dengan total investasi adalah merupakan Profit to Investment
Ratio (PIR) dalam perhitungan indikator ekonomi.
3.3.5.2.16. Discounted Contractor Cash Flow (DCCF)
Discounted contractor cash flow adalah perkalian antara discount factor dengan
contractor cash flow. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
DCCF

= TCS EXP *

1 i n = CCF*DF........................(3-67)

Dimana:
i

= interest rate

= tahun ke n
1

1 i n

= discount factor

Jumlah DCCF adalah merupakan Net Present Value (NPV) dan jika dibagi
dengan total investasi adalah merupakan Discounted Profit to Investment Ratio (DPR)
dalam perhitungan indikator ekonomi.
3.3.5.3. MARR (Minimum Attractive Rate of Return)
MARR (Minimum Attractive Rate of Rerturn) adalah tingkat pengembalian
minimum yang diinginkan. MARR tergantung pada lingkungan, jenis kegiatan, tujuan
dan kebijaksanaan organisasi, dan tingkat resiko dari masing-masing proyek. MARR
biasanya ditentukan oleh kebijakan manajemen setelah mempertimbangkan sekurangkurangnya faktor-faktor berikut:

Jika perusahaan beroperasi dengan modal pinjaman hendaknya bunga tersebut


sekurang-kurangnya melebihi besarnya bunga yang dibayarkan pada pinjaman.

Jika modal datang dari beberapa sumber (dana-dana yang datang dari dalam
pinjaman itu sendiri, hutang jangka panjang maupun jangka pendek dan sumbersumber keuangan yang lain), penentuan biaya modal rata-rata terkadang dipakai
sebagai basis untuk MARR.

Tujuan suatu perusahaan adalah pertumbuhan dari kekayaan total dari yang
dimilikinya dengan kecepatan yang telah ditetapkan oleh pimpinan perusahaan.

Resiko dari eksplorasi minyak dapat diperbandingkan dengan investasi-investasi


yang kurang mengandung resiko seperti pembangkit listrik, kegiatan
pengilangan dan pemasaran. Perlu dicatat bahwa jika resiko dalam eksplorasi
minyak dapat diperkirakan dan dapat dimasukkan dalam perhitungan NPV maka
tidaklah perlu menggunakan MARR yang lebih tinggi dan proyek yang kurang
beresiko. Misalnya untuk kegiatan pengilangan (hilir) MARR adalah 12%, tetapi
untuk kegiatan eksplorasi dan produksi (hulu) MARR-nya adalah 15 20%.

Perusahaan yang lebih bonafide (lebih banyak kesempatan memperoleh proyek)


memiliki MARR yang lebih tinggi. Walaupun demikian perusahaan yang lebih
bonafide biasanya justru mendapat pinjaman yang lebih rendah dari bank karena
lebih dipercaya.

3.3.5.4. Penentuan MARR


MARR dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut:
1.

Berdasarkan Biaya Total


MARR = Biaya modal + profit margin + risk premium ...................(3-68)

Profit margin untuk perusahaan yang lebih bonafide lebih besar, sedangkan risk
premium untuk proyek yang beresiko lebih besar.
2.

Berdasarkan Opportunity Cost


Ditentukan berdasarkan perpotongan kurva permintaan dan pemasukan

investasi. Seperti diketahui makin banyak jumlah investasi yang dilakukan makin
banyak uang yang dikeluarkan. Makin banyak investasi, maka keuntungan marjinalnya
makin menurun sedangkan biaya marjinal untuk memperolehnya makin mahal.
3.3.5.5. Kontrak JOB

JOB (Joint Operating Body) adalah bentuk PSC yang diberlakukan di daerah
yang telah dieksplorasi dimana Pertamina memegang maksimum 50% participating
interest. Pada participating interest dari kontraktor diberlakukan PSC. Kontraktor
menanggung biaya dan dikembalikan dengan 50% uplift oleh Pertamina.

Gambar 3.16.
Skema Kontrak JOB (Joint Operating Body)(W.Partowidagdo,2004)
3.3.5.6. Kontrak TAC (Technical Assistance Contract)
TAC (Technical Assistance Contract) adalah sistem perhitungan bagi hasil yang
dilakukan antara Pertmina dengan kontraktor di lapangan yang sebelumnya dikelola
Pertamina. Disini dipisahkan antara non shareable oil yaitu produksi (kesepakatan)
apabila tidak terdapat investasi dan shareable oil (yang dibagi) yaitu produksi akibat
investasi kontraktor, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.17. sebagai berikut :

Gambar 3.17. Skema


(W.Partowidagdo,2004)

Kontrak

TAC

(Technical

Assistance

Contract)

3.3.5.7. Kontrak KSO (Operation Cooperation Agreement)


KSO merupakan kontrak yang pada dasarnya tetap mengacu dan sejalan dengan
ketentuan yang diatur dalam KKS Pertamina EP sebagai kontrak induknya. Pada
kontrak Kerja Sama Operasi tidak ada transfer of interest dan transfer of operatorship.
Kerangka dasar KSO menempatkan Pertamina sebagai penanggung jawab penuh atas
keseluruhan manajemen operasi dan partner dari Pertamina bertanggung jawab penuh
atas seluruh kegiatan operasional serta menanggung seluruh biaya operasi. Biaya
operasi akan dikembalikan dariGROSS
maksimal
80% produksi untuk tiap tahun berjalan
REVENUE
(OIL PRICE x PROD)

(untuk crude oil)


dan biaya operasi
dikembalikan
dari maksimal 80% produksi untuk
FTP GOVERNMENT
FTP PERTAMINA
(25% x Total FTP)

(75% x Total FTP)

tiap tahun berjalan (untuk natural gas).


+
EQUITY TO BE SPLIT
(GR-FTP)-REC

COST RECOVERY
+

GOVERNMENT
SHARE
(25% x ETS)

PERTAMINA SHARE
(75% x ETS)

PERTAMINA
PORTION
(50% x PTM SHARE)
+

DMO
(25%)

DMO FEE
(100%)

CONTRACTOR
PORTION
(50% x PTM SHARE)

DMO FEE
(25%)

TAXABLE INCOME
+

TAX
(40.5%)

DMO
(25%)

TAXABLE INCOME

TAX
(40.5%)
+

GOV SHARE

PERTAMINA TAKE

CONTRACTOR TAKE

Gambar 3.18.
Skema Kontrak KSO (Operation Cooperation Agreement) (Pertamina EP,2006)

BAGIAN VI
CONTOH PERHITUNGAN
KONTRAK

BAB IV
PERHITUNGAN PERKIRAAN PRODUKSI DAN ANALISA
KEEKONOMIAN PADA BERBAGAI JENIS KONTRAK LAPANGAN ZM
Blok ZM pertama kali dibor pada tanggal 4 Agustus 1992 melalui sumur TGI01. Lapangan ini mempunyai Original Oil In Place (OOIP) sebesar 7.07 MMbbl,
recovery factor sebesar 43% akan memberikan cadangan minyak yang dapat terambil
(recoverable reserve)sebesar 3.04 MMbbl, dengan kumulatif produksi sampai dengan
Januari 2008 sebesar 1.0616 MMbbl maka cadangan minyak yang tersisa sebesar
1.9684 MMbbl. Masih besarnya jumlah cadangan minyak yang tersisa, mendorong
dilakukannya pengembangan pada lapangan ini. Lapangan ZM memiliki 6 buah
sumur yang semuanya merupakan sumur vertikal dengan status sumur suspended.
Perkiraan produksi pada Lapangan ZM dilakukan dengan menggunakan
metode Decline curve. Hasil perkiraan produksi pada setiap sumur dan lapisan yang
telah dipilih kemudian akan dianalisa secara keteknikan kemudian melihat analisa
keekonomian pada Lapangan ZM berdasarkan model kontrak PSC-FTP, PSC-JOB,
dan PSC-KSO. Indikator ekonomi yang akan dianalisa adalah Net Present Value (NPV),
Rate Of Return (ROR), Profit to Investment Ratio (PIR), Discount Profit to Investment
Ratio (DPIR) dan Pay Out Time (POT). Dari berbagai parameter/ indikator ekonomi
tersebut maka akan dilakukan analisa sensitivitas dan pengambilan keputusan model
kontrak mana yang sesuai untuk diterapkan pada pengembangan Lapangan ZM.
4.1. Penentuan Laju Ekonomi Limit (Qel) dan Pemilihan Sumur
Economic limit rate (Q el ) pada lapisan ZM telah ditentukan oleh
perusahaan sebesar 2 bopd/well (60 BOPM). Data-data yang diperlukan untuk
menghitung Qel lapangan X adalah sebagai berikut :
Monthly Operating Cost (OPC)

= US $ 2,500

Working Interest (WI)

=1

Production Tax Rate (PTR)

= 41%

Sales Price (SP)

= US$ 65

Net Revenue Interest (NRI)

=1

Royalthy Interest

=0

Dengan menggunakan data di atas, maka Qel dapat dihitung dengan


menggunakan persamaan J.W. Thompson (persamaan 3-2).
Qel (bbl/day) =

OPC xWI
US $ 2,500
=
30.4

(1

41%) US $ 70 1
30.4 x (1 PTR) x SP x NRI

= 2.00 bbl/ day per sumur.


Pada Lapangan ZM, berdasarkan laju produksi akhir tiap-tiap sumur
didapatkan sebanyak 3 sumur yang memiliki laju produksi akhir di atas economic limit,
yaitu pada sumur TGI-01, TGI-02, TGI-03 dan BNN-01 .
4.2. Perkiraan Profil Produksi Sumur Lapangan ZM dengan Metode Decline
curve
Perkiraan profil produksi tiap sumur pada Lapangan ZM dilakukan
berdasarkan data laju produksi dan dilakukan dengan menggunakan metode Decline
curve. Perkiraan dengan metode Decline curve dapat memberikan nilai jumlah minyak
maksimum yang bisa diproduksikan hingga Qeconomic limit (Ultimated Recovery), cadangan
sisa yang masih dapat diproduksikan sampai economic limit (Npa) dan umur produksi
tiap sumur sampai economic limit (t).
Dalam perkiraan profil produksi dengan menggunakan Metode Decline curve
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut, yaitu :
Performance reservoir pada masa yang akan datang sama dengan performance

reservoir pada masa lalu.


Reservoir berproduksi pada kapasitasnya.
Telah terjadi penurunan produksi minyak.
Tidak ada perubahan metode produksi (lifting method)

Perhitungan profil produksi sumur pada Lapangan ZM hanya dilakukan pada satu
sumur sampel pada tiap lapisan, sedangkan untuk perhitungan profil sumur yang lain
dapat dilihat dalam tabulasi. Sumur sampel yang akan digunakan pada lapisan M adalah
TGI-03, pada lapisan K-1 adalah TGI-02,.pada lapisan H-1 adalah TGI-02.
4.2.1. Penentuan Jenis Decline curve

Berdasarkan grafik sejarah produksi lapisan M, K-1, H-1 dan TAF (Bab II)
maka dapat ditentukan penurunan produksi yang mewakili untuk dilakukan peramalan
atau prediksi dengan metode decline curve pada lapisan M bulan Desember 1992
sampai dengan bulan Juni 1993, pada lapisan K-1 bulan November 1994 sampai dengan
bulan Oktober 1995, pada lapisan H-1 bulan Oktober 1997 sampai dengan bulan
Februari 1998. Penentuan jenis decline dilakukan dengan menggunakan metode Trial &
Error dan Chi-Square test. Metode tersebut dipilih karena memperhitungkan besarnya
selisih antara data actual dengan data forecast atau prediksi, sehingga dapat
meminimalisasi kesalahan yang terjadi dalam menentukan laju penurunan (Di). Jenis
decline curve yang diperoleh berdasarkan hasil analisa data produksi pada periode
tersebut digunakan untuk menentukan Decline rate (Di) dan forecast production.
Pada metode Trial & Error kita menentukan nilai perkiraan laju produksi (q)
pada berbagai harga b, yaitu dari b = 0 s/d b = 1, yang selanjutnya akan dilakukan
pembuatan grafik q vs t. Metode selanjutnya untuk menentukan jenis decline curve yang
paling tepat dari grafik tersebut adalah dilakukan perhitungan dengan menggunakan
metode X2 Chi-Square Test. Pada metode ini dilakukan penentuan laju produksi minyak
(qo) diatas yang paling mendekati dengan laju produksi minyak (qo) aktual dari
perhitungan selisihnya. Langkah-langkah dalam menentukan jenis decline dengan
metode Trial & Error dan Chi-Square Test adalah sebagai berikut :
Menentukan periode waktu yang akan diekstrapolasi, membuat dalam bentuk
1.
tabulasi yang disajikan dalam Tabel-IV.1. sampai Tabel-IV.3.
Mengasumsikan nilai b yang berkisar harga antara 0 s/d 1 (b = 0 untuk eksponential,
2.
b = 0,1 0,9 untuk hyperbolic, b = 1 untuk harmonic).
Mengambil dua titik q sebagai nilai qi dan qt.
3.
Lapisan M

= 18594 BOPM
qt
= 6432 BOPM
t
= 6 bulan
Lapisan K-1
: qi
= 6645 BOPM
qt
= 969 BOPM
t
= 11 bulan
Lapisan TAF
: qi
= 5544 BOPM
qt
= 3294 BOPM
t
= 22 bulan
Menentukan nilai decline rate (Di) dengan menggunakan b pemisalan.
4.

qi

Lapisan M
Untuk b = 0
Di =

qi

qt

Ln

18594

6432
6

Ln

Untuk b = 0,1
qi

Di = qt

b.t

= 0,176925569 per month

0,1

18594

= 6432
6

= 0,18665767 per month

Untuk b = 1
qi
18594

1
Di = qt
= 6432
= 0,315143035 per month
6
t

Lapisan K1
Untuk b = 0
Di =

qi

qt

Ln

= 0.175032305 per month

Untuk b = 0,1
qi

Di = qt

0,1

b.t

6645

969
11

Ln

6645
1

= 969
= 0.193017803 per month
0,1 11

Untuk b = 1
qi
6645

1
Di = qt
= 969
= 0.53250774 per month
11
t

Lapisan TAF (BNN)


Untuk b = 0
Di =

qi

qt

Ln

Untuk b = 0,1

5544

3294
22

Ln

= 0.023664256 per month

qi

Di = qt

b.t

5544

= 3294
22

0,1

= 0.024291083 per month

Untuk b = 1
qi
5544

1
Di = qt
= 3294
= 0.031048187 per month
22
t

Menentukan nilai Qforecast dengan menggunakan persamaan yang ada.


5.

Lapisan M
Untuk b = 0, t = 1
qt = qi . e-D.t
qt = 18594 . e(-0,176925569).1
qt = 15578.84 BOPM
Untuk b = 0,1, t =1
qt = qi . (1 + Di . b . t)-1/b
qt = 18594 . (1 + (0,18665767. 0,1 . 1))-1/0,1
qt = 15454.53 BOPM
Untuk b = 1, t = 1
qt = qi . (1 + Di . t)-1
qt = 18594 . (1 + (0,315143035. 1))-1
qt = 14138.39 BOPM
Lapisan K1
Untuk b = 0, t = 1
qt = qi . e-D.t
qt = 6645 . e(-0.175032305).1
qt = 5578.01 BOPM
Untuk b = 0,1, t =1
qt = qi . (1 + Di . b . t)-1/b
qt = 6645 . (1 + (0.193017803. 0,1 . 1))-1/0,1
qt = 5488.67 BOPM
Untuk b = 1, t = 1
qt = qi . (1 + Di . t)-1
qt = 6645 . (1 + (0.53250774. 1))-1
qt = 4366.03 BOPM
Lapisan TAF (BNN)
Untuk b = 0, t = 1
qt = qi . e-D.t
qt = 5544 . e(0.023664256).1
qt = 5414.35 BOPM
Untuk b = 0,1, t =1

qt = qi . (1 + Di . b . t)-1/b
qt = 5544. (1 + (0.024291083. 0,1 . 1))-1/0,1
qt = 5411.11 BOPM
Untuk b = 1, t = 1
qt = qi . (1 + Di . t)-1
qt = 5544 . (1 + (0.031048187. 1))-1
qt = 5377.05 BOPM
Perhitungan di atas untuk beberapa nilai b yang lain dapat dilihat pada Tabel-IV.1.
sampai Tabel-IV.3.
Menentukan selisih antara Q actual dengan Q forecast (X2) dengan menggunakan

6.
rumus Chi-Square test.
X2 =

fi - Fi 2

Fi

Keterangan :
fi
= data Q actual
Fi
= data Q forecast
Sehingga :
Lapisan M
Untuk b = 0, t = 1
X

fi - Fi

Fi

12900 - 15578.84

15578.84

460.64

Untuk b = 0,1, t =1
X2

fi - Fi 2
Fi

12900 - 15454.53 2
15454.53

422.25

Untuk b = 1, t = 1
X

fi - Fi

Fi

12900 - 14138.39

14138.39

108.47

Lapisan K1
Untuk b = 0, t = 1
X

fi - Fi

Fi

5427 - 5578.01

5578.01

4.09

Untuk b = 0,1, t =1
X2

fi - Fi 2
Fi

5427 - 5578.01 2
5578.01

0.69

Untuk b = 1, t = 1
X

fi - Fi

Fi

5427 - 4336.03

4336.03

274.49

Lapisan TAF (BNN)


Untuk b = 0, t = 1
X2

fi - Fi 2
Fi

4506 - 5414.35 2
5414.35

152.39

Untuk b = 0,1, t =1
X

fi - Fi

Fi

4506 - 5411.11

5411.11

151.40

Untuk b = 1, t = 1
X2

fi - Fi 2
Fi

4506 - 5377.05 2
5377.05

141.11
2

7. Menentukan harga X yang paling kecil. Harga X yang paling kecil menunjukkan
kurva yang paling fit untuk mewakili titik-titik data yang sedang dianalisa dan
menunjukkan derajat kesalahan yang terkecil dari aktualnya.
8. Dari hasil perhitungan di atas (Tabel IV.1-IV.3), maka tipe Decline Curve Analysis
yang sesuai untuk digunakan di Lapisan M adalah Harmonic Decline Curve, di
Lapisan K1 adalah Exponential Decline dan di Lapisan TAF (BNN) adalah
Exponential Decline.
9. Berdasarkan analisa pada persyaratan dan ketentuan Decline Curve Analysis, maka
lapisan yang layak untuk dikembangkan adalah Lapisan M, K1 dan TAF (BNN).
Lapisan H0 tidak dapat dikembangkan karena nilai Np telah berada di bawah
economic limit. Lapisan H1 juga tidak dapat dikembangkan karena lapisan tersebut
tidak memenuhi syarat dari Decline Curve Analysis.

Tabel IV-1.
Penentuan Jenis Decline curve Lapisan M dengan Metode Trial & Error dan Metode Chi-Square Test

Tabel IV-1. (Lanjutan)


Penentuan Jenis Decline curve Lapisan M dengan Metode Trial & Error dan Metode Chi-Square Test

Tabel IV-2.
Penentuan Jenis Decline curve Lapisan K-1 dengan Metode Trial & Error dan Metode Chi-Square Test

Tabel IV-2. (Lanjutan)


Penentuan Jenis Decline curve Lapisan K-1 dengan Metode Trial & Error dan Metode Chi-Square Test

Tabel IV-3
Penentuan Jenis Decline curve Lapisan TAF dengan Metode Trial & Error dan Metode Chi-Square Test

Tabel IV-3. (Lanjutan)


Penentuan Jenis Decline curve Lapisan TAF dengan Metode Trial & Error dan Metode Chi-Square Test

Gambar 4.1.
Decline Curve Analysis Lapisan M

Gambar 4.2.
Decline Curve Analysis Lapisan K1

Gambar 4.3.

Decline Curve Analysis Lapisan TAF (BNN)

Hasil perhitungan ekstrapolasi data dengan metode X 2 Chi-Square Test (Lihat


Tabel IV-1 sampai Tabel IV-3) menunjukkan bahwa jumlah dari X2 yang paling
kecil untuk lapisan M adalah 1166.01 dengan b = 1 dan D = 0.315143035, jenis
decline yang paling tepat untuk lapisan M adalah Harmonic Decline ; untuk
lapisan K1 adalah 2435.92 dengan b = 0 dan D = 0.175032305, jenis decline yang
paling tepat untuk lapisan K1 adalah Exponential Decline; untuk lapisan TAF
(BNN) adalah 1708.16 dengan b = 0 dan D = 0.031048187, jenis decline yang
paling tepat untuk lapisan TAF (BNN) adalah Exponential Decline.
Setelah mendapatkan harga decline dari tiap lapisan, maka hasil
perhitungan tersebut digunakan untuk melakukan peramalan laju produksi tiap
lapisan yang dapat dilihat sebelumnya pada Gambar 4.1. sampai dengan
Gambar 4.3.
Dari Gambar 4.1. sampai dengan Gambar 4.3 dapat diketahui umur
produksi dari masing-masing sumur. Dengan menentukan limit dari laju produksi
tiap sumur sebesar 2 BOPD ( 60 BOPM ) maka dapat diketahui umur produksi
tiap lapisan. Untuk lapisan M akan berakhir pada bulan Desember 2012. Untuk
lapisan K1 akan berakhir pada bulan November 1997. Lapisan TAF (BNN)
berakhir pada bulan November 2020.
Berdasarkan Gambar 4.1. sampai dengan Gambar 4.3 hasil peramalan
dengan menggunakan metode decline curve untuk tiap lapisan maka dapat
diketahui :
Kumulatif produksi (Np) lapisan M sampai dengan Desember 1998 sebesar
262766.1162 STB. Kumulatif produksi lapisan K1 sampai dengan Maret 1997
sebesar 50487.36207 STB. Kumulatif produksi lapisan TAF (BNN) sampai
dengan Januari 2008 adalah sebesar 731229.9 STB.

Dengan demikian Remaining Reserve Lapangan ZM adalah :


RR = EUR Np
= 3.04 1.0616 MMbbl
= 1.9684 MMbbl

4.3. Skenario Pengembangan Lapangan


Untuk meningkatkan perolehan minyak pada suatu lapangan maka
diperlukan suatu pengembangan lapangan. Skenario pengembangan lapangan
haruslah sesuai dengan kondisi dan karakteristik dari reservoir sehingga dapat
dicapai hasil perolehan yang maksimal. Semakin baik skenario pengembangan
lapangan yang dipilih maka akan memberikan hasil perolehan yang paling
maksimal.
Terdapat tiga skenario pengembangan lapangan yang telah disiapkan
untuk mengembangkan Lapangan ZM yaitu :
1. Skenario I : Reopening sumur TGI-01, TGI-02, TGI-03, dan TGI-04.
2. Skenario II : Infill Drilling UPN 1 dan UPN 2 (Lapisan M)
3. Skenario III : Reopening + Infill Drilling sumur UPN 1 dan UPN 2 (K1,TAF)
4.3.1. Skenario I
Skenario pertama merupakan base case dari pengembangan Lapangan
ZM yaitu membuka sumur- sumur yang suspended yaitu sumur TGI-01,TGI-02,
TGI-03, TGI-04, dan BNN-01 tanpa adanya penambahan sumur. Karena skenario
pertama merupakan base case dari pengembangan lapangan, maka peramalan
produksi lapangan dari skenario pertama dapat dilihat dari peramalan produksi per
sumur yang telah dihitung pada sub bab sebelumnya.
Dari hasil peramalan produksi per-sumur yang aktif, maka produksi
Lapangan ZM dengan kondisi saat ini tanpa adanya work over, well service dan
penambahan sumur sehingga dapat diketahui performa produksinya yang
merupakan hasil peramalan produksi sumur-sumur yang aktif.
Pada perhitungan sub bab sebelumnya, economic limit rate (Qel) yang
ditentukan oleh perusahaan sebesar 2 BOPD/Well, dengan adanya nilai economic
limit rate (Qel) maka dapat diketahui umur produksi dan jumlah kumulatif
produksi dari masing-masing sumur, sehingga dapat diketahui kumulatif produksi
dari lapangan ZM.
Dari Gambar 4.4. dapat dilihat bahwa umur produksi Lapangan ZM
berakhir pada bulan Juli 2024 dengan kumulatif produksi (Np) yang diperoleh

adalah sebesar 264,735 STB. Selanjutnya untuk laju produksi dan kumulatif
produksi dapat dilihat pada Tabel IV-4 di bawah ini :
Tabel IV-4
Hasil Prediksi Laju Produksi (q) dan Kumulatif Produksi (Np)
Untuk Skenario I
Skenario I
Date
(Year)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Rate
(BOPY)
119039.2398
44057.52951
27392.81809
20013.71433
15149.62359
10889.75218
8291.057291
5876.148774
4238.519166
3190.708154
2401.928156
1808.143706
1361.149647
1024.657694

Np
(BBL)
119039.2
163096.8
190489.6
210503.3
225652.9
236542.7
244833.7
250709.9
254948.4
258139.1
260541
262349.2
263710.3
264735

Gambar 4.4.
Perilaku Produksi Lapangan ZM Skenario I

4.3.2. Skenario II
Skenario kedua merupakan pengembangan dari skenario pertama dengan
melakukan penambahan 2 (dua) sumur Infill Drilling UPN-1 dan UPN-2 di
Lapisan M.
Sebelum meramalkan produksi dari Lapangan ZM, terlebih dahulu
menentukan profil produksi sumur UPN-1 dan UPN-2. Pada Lampiran C dapat
dilihat penentuan tipe decline sumur UPN-1 dan diperoleh tipe penurunan
produksinya adalah Harmonic Decline dengan nilai b = 1 dan D = 0,193544
Peramalan produksi sumur UPN-1 dapat dilakukan dengan analisa
Decline Curve. Peramalan produksi sesudah penambahan sumur UPN-1 dan
UPN-2 dapat dilihat pada Gambar 4.8 dan Lampiran C.
Umumnya radius pengurasan sumur diperoleh dari data PBU atau well
testing, karena minimnya harga well test maka harga jari-jari pengurasan dicari
dengan menggunakan perhitungan manual.
Pada Tabel IV-5. dapat dilihat radius pengurasan untuk sumur-sumur lapangan
ZM.
Tabel IV-5.
Radius Pengurasan Sumur - Sumur Lapangan ZM
No

Well

Np

TGI 01

227706.2

Boi
1.36
5

TGI 02

4279.9

1.44

TGI 03

26035
1.5

1.29

60617

1.44

TGI 04
BNN
01

20230
22

1.29

SKN 01

5553.6

1.29

h
19.68
6
28.21
7

9.843
26.24
8
16.40
5
21.32
6

0.19

0.1466
0.12

0.125
0.19
0.19

Sw
i
0.2
9
0.3
3
0.3
7
0.3
7
0.3
7
0.3
7

1-Swi
0.71
0.67
0.63
0.63
0.63
0.63

ri
6.5
4
9.1
6
4.1
9
8.9
2
5.4
1
6.1
7

Tabel IV-6.
Radius Pengurasan Sumur Usulan Sumur Pengembangan LapanganZM
Proposed Well
N Wel Lay
o
l
er
UPN
1
1
M
UPN
2
2
M
UPN
3
1
K1
UPN
4
2
TAF

Np

Boi
1.36
227706.2 5
26035
1.5
1.29
60617
20230
22

1.44
1.29

h
19.6
86
9.84
3
10.8
6
9.84
3

Swi

1Swi

0.16

0.26

0.74

0.24

0.21

0.79

0.23

0.25

0.75

0.19

0.37

0.63

ri
6.1396
33
3.3351
29
3.8803
85
4.1974
42

Data sumur TGI-01 digunakan untuk menentukan laju produksi dari sumur UPN1 dengan menggunakan persaman Darcy. Data TGI-1 yang digunakan untuk
memprediksi laju produksi sumur Infill Drilling UPN-1 adalah sebagai berikut :
Ko

= 20 mD

= 12.7 ft

Pr

= 1801.49.4 psia

Pwf

= 1699.16 psia

= 0,747 cp

Bo

= 1,29 RB/STB

re

= 6.13 ft

rw

= 0,25 ft dan S= 0
Qo

0,00708 30 12.7 (1801.49 1699.16)


6.13

0,747 1,29 ln
0,75 0
0,25

Qo = 2354.721 BOPM

Setelah diketahui laju produksi awal dari sumur UPN-1, maka produksi
sumur UPN-1 dapat diramalkan dengan metode decline curve dengan
mengasumsikan decline ratenya sama dengan decline rate dari TGI-1 yaitu
0,193544/bulan. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai konstanta harmonic atau
nilai b sebesar 1.0 sehingga dapat disimpulkan bahwa tipe decline TGI-1 adalah
Harmonic Decline. Lokasi sumur sisipan pada skenario II dapat dilihat pada
Gambar 4.7. Dari Gambar 4.8. dapat dilihat bahwa umur produksi Lapangan
ZM berakhir pada bulan April 2025 dengan kumulatif produksi (Np) yang
diperoleh adalah sebesar 381,124 STB. Selanjutnya untuk laju produksi dan
kumulatif produksi dapat dilihat pada Tabel IV-7 di bawah ini :

Tabel IV-7
Hasil Prediksi Laju Produksi (q) dan Kumulatif Produksi (Np)
Untuk Skenario II
2nd Scenario
Date
Rate
(Year)
(BOPY)
1
200050.3379
2
60525.87356
3
33222.04641
4
23651.30747
5
17968.38749
6
13191.49405
7
10236.38912
8
7049.053295
9
5112.793392
10
3678.475649
11
2645.584781
12
1808.143706
13
1361.149647
14
1024.657694
15
598.537194

Np
(BBL)
200050.3
260576.2
293798.3
317449.6
335418
348609.4
358845.8
365894.9
371007.7
374686.2
377331.7
379139.9
380501
381525.7
382124.2

Gambar 4.5.
Perkiraan Profil Produksi Sumur UPN-1

Gambar 4.6.
Perkiraan Profil Produksi Sumur UPN-2

Gambar 4.7.
Lokasi Sumur Sisipan Skenario II

Gambar 4.8.
Perkiraan Profil Produksi Lapangan ZM Dengan Skenario II

4.3.3. Skenario III


Skenario ketiga merupakan pengembangan dari skenario kedua dengan
dilakukan penambahan dua sumur infill yaitu UPN-1 dan UPN-2 di Lapisan K1
dan TAF (BNN).
Penambahan sumur UPN-1 dan sumur UPN-2 akan menambah kumulatif
produksi Lapangan ZM. Metode peramalan yang digunakan pada skenario
ketiga adalah sama dengan skenario kedua, yaitu metode decline curve. Laju
produksi sumur UPN-1 dihitung dengan menggunakan data sumur TGI-2 sebagai
berikut :
Ko

= 25 mD

= 10.86 ft

Pr

= 1949.39 psia

Pwf

= 1671.42 psia

= 0,7471 cp

Bo

= 1,44 RB/STB

re

= 3.88 ft

rw

= 0,2 ft dan S = 0

Qo

0,00708 25 10.86 (1949.39 1671.42)


3.88

= 6725.651 BOPM
0.7471 1.44 ln
0,75 0
0,2

Setelah diketahui laju produksi awal dari sumur UPN-1, maka produksi
sumur UPN-1 dapat diramalkan dengan metode decline curve dengan
mengasumsikan decline ratenya sama dengan decline rate dari sumur TGI-2 yaitu
0,167826/bulan. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai konstanta Exponential atau
nilai b sebesar 0.0 sehingga dapat disimpulkan bahwa tipe decline TGI-1adalah
Exponential. Peramalan produksi sesudah penambahan sumur UPN-1 dan UPN-2
dapat dilihat pada Gambar 4.12.
Pada Gambar 4.10 dapat dilihat hasil peramalan laju produksi sumur
UPN-1. Gambar 4.12 menunjukkan laju produksi hasil peramalan dari skenario
III pengembangan Lapangan ZM menggunakan metode decline curve dengan
laju produksi economic limit sebesar 60 BOPM/Well.

Pada Gambar 4.11 dapat dilihat terjadi penambahan laju produksi pada
bulan Maret 2010 karena terjadi penambahan 2 Sumur Infill. Dengan aktifnya
sumur UPN-1 dan UPN-2 maka produksi Lapangan ZM akan berakhir pada
bulan Maret 2027 dengan kumulatif produksi (Np) sebesar 833,024 STB. Untuk
lokasi dari sumur sisipan di skenario III dapat dilihat dari Gambar 4.12.

Tabel IV-8
Hasil Prediksi Laju Produksi (q) dan Kumulatif Produksi (Np)
Untuk Skenario III
3rd Scenario
Date
Rate
(Year)
(BOPY)
1
200050.3379
2
184976.0234
3
118917.4172
4
85030.91833
5
63981.24526
6
47829.44064
7
36311.43427
8
26678.04538
9
19889.27137
10
15096.87934
11
11019.27311
12
9253.599473
13
6106.438505
14
4596.856205
15
3287.646873

Np
(BBL)
200050.3
385026.4
503943.8
588974.7
652955.9
700785.4
737096.8
763774.9
783664.1
798761
809780.3
819033.9
825140.3
829737.2
833024.8

Gambar 4.9.
Perkiraan Profil Produksi Sumur UPN-1

Gambar 4.10.
Perkiraan Profil Produksi Sumur UPN-2

Gambar 4.11.
Perkiraan Profil Produksi Lapangan ZM Dengan Skenario III

UPN 2
UPN 1

Gambar 4.12.
Lokasi Sumur Sisipan Skenario III

4.4. Analisa Keekonomian


Banyak

aspek

yang

perlu

dipertimbangkan

dalam

pemilihan

skenario

pengembangan. Selain aspek teknik, aspek ekonomi juga merupakan aspek yang sangat
penting dan umumnya aspek inilah yang menjadi dasar pemilihan skenario pengembangan.
Walaupun secara teknis suatu skenario pengembangan memberikan hasil terbaik, tetapi jika
tidak ekonomis maka skenario tersebut tidak dapat dipilih.
Skenario pengembangan yang telah dihitung pada sub bab sebelumnya akan
dianalisa dengan menggunakan indikator keekonomian pada berbagai jenis kontrak
perminyakan yang berlaku saat ini yaitu PSC-FTP, PSC-JOB dan PSC-KSO. Jenis kontrak
yang sesuai akan dilihat dari berbagai aspek yaitu NPV baik NPV untuk Kontraktor dan
Pemerintah, ROR/IRR, POT, PIR, dan DPIR. Skenario yang memiliki keuntungan terbesar
atau dengan kata lain ekonomis, akan dipilih dan direkomendasikan ke perusahaan dan
juga pemerintah.
4.4.1. Analisa Cash Flow PSC-FTP
Data-data yang akan digunakan pada perhitungan keekonomian Lapangan ZM
untuk jenis kontrak PSC-FTP ( Tabel IV-9) merupakan dasar asumsi dan juga mengacu
pada ketentuan kontrak PSC murni yang diberlakukan oleh BP Migas dengan Pertamina
sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Cash flow merupakan gambaran aliran dana masuk (cash in flow) dan dana keluar
(cash out flow) pada periode waktu tertentu. Untuk mengetahui apakah cash flow dari
skenario pengembangan lapangan menguntungkan atau tidak, maka perlu dilakukan
perhitungan net cash flow dari masing-masing skenario pengembangan lapangan.

157

Tabel IV-9
Asumsi Parameter Keekonomian Kontrak PSC-FTP
NO

ECONOMIC PARAMETER

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
15
16

Oil Price
Capital Investment
Non Capital Investment
Operating Cost
Maximum Cost Recovery
Discount Rate
FTP
Government Share
Pertamina Share
DMO
DMO Fee
Income Tax
Depreciation

ASSUMPTION/
ESTIMATE
70
12,300,000.00
1,215,000.00
5,312,099
100
10
20
70
30
25
100
41
Double Declining Balance

UNITS
US$/BBL
US$
US$
US$
%
%
%
%
%
%
%
%
-

Berikut ini merupakan contoh langkah-langkah perhitungan Cash Flow


perusahaan tahun 2010 dengan menggunakan sistem kontrak PSC-FTP untuk skenario
ketiga (tahun pertama):
1. Menghitung produksi minyak tahunan (Annual Production):
2. Memasukkan data investasi seperti
3. Menghitung Depresiasi (Di)
Depresiasi pada perhitungan ini menggunakan metode Double Declining Balance
(DDB)
Di = K.2R.(1 2R) i 1
Dimana :
Di

= Depresiasi pada tahun ke-i

= Capital Cost

= Waktu depresiasi

= 1/N = Depresiasi Rate

= 5 Tahun

Contoh perhitungan depresiasi pada tahun ke 1 :


Di1

= 7,050,000.00 US$ x (2 x 0,20) x [1 (2 x 0,20)] 1 1


= 2,820,000.00 US$

4. Menghitung Operating Cost (Op. Cost)


Op. Cost = budgeting input

158

5. Menghitung Gross Revenue (GR)


GR = Oil Price x Annual Production
Contoh : GR1

= 70 US$/BBL x 200,050 BBL = 14,003,523.66 US$

6. Menghitung Total First Tranche Petroleum (FTP)


FTP = 20 % x GR
Contoh :

FTP1 = 20% x 14,003,523.66 US$ = 2,800,704.73 US$

7. Menghitung First Tranche Petroleum (FTP) to Government


FTP = 70 % x Total FTP
Contoh :

FTP1 = 70% x 2,800,704.73 US$ = 1,960,493.31 US$

8. Menghitung First Tranche Petroleum (FTP) to Contractor


FTP = 30% x Total FTP
Contoh :

FTP1 = 30% x 2,800,704.73 US$ = 840,211.42 US$

9. Menghitung Remaining Revenue


Contoh : RR1 = GR FTP = 14,003,523.66 -2,800,704.73 =11,202,818.92 US$

10. Menghitung Recovarable Cost Recovery (RC)


a. Unrecoverable Cost (UR)
Jika Cri-1 > REC i-1 maka URi = CR i-1- REC i-1
Jika tidak maka URi = Investasi Non Capital i-1
b. Cost Recovery (CR)
Jika (GRi-FTP) > 0 maka CRi = Investasi Non Capitali+Depi+Opexi+URi
c. Recovery (REC)
Jika CRi > (GRi-FTP) maka RECi = (GRi-FTP)
Jika tidak maka RECi = CRi
11. Menghitung Equity to be Split (ETS)
ETS = (RR-REC)
Contoh :

ETS1 = 11,202,818.92 - 4,043,201.35= 7,159,617.57 US$

12. Menghitung Government Share (GS)


GS = 70% x ETS
Contoh :

GS1

= 70% x 7,159,617.57 US$


= 5,011,732.30 US$

14. Menghitung Contractor Share (PS)


CS = 30% x ETS

159

Contoh :

CS1

= 30% x 7,159,617.57 US$


= 2,988,096.69 US$

15. Menghitung Domestic Market Obligation (DMO)


Gross DMO

= percent DMO x PS

DMOfee

= percent DMOfee x Gross DMO

DMO

= Gross DMO DMOfee

Pada proyek ini Pemerintah tidak memberlakukan adanya DMO.


16. Menghitung Taxable Income (TI)
TI

= ( CS DMO )

Contoh : TI1

= (2,988,096.69 US$ 0 US$)


= 2,988,096.69 US$

17. Menghitung Tax (Pajak)


Tax

= Income Tax x TI

Contoh : Tax0 = 41% x 2,988,096.69 US$


= 1,225,119.64 US$
18. Menghitung Net Contractor Take (NCT)
NCT

= TI Tax

Contoh: NCT1 = 2,988,096.69 US$ - 1,225,119.64 US$


= 1,762,558.66 US$
19. Menghitung Net Goverment Take (NGT)
NGT

= GS + FTP to Government +DMO + Tax

Contoh: NGT1 = 5,011,732.30 US$ +1,960,493.31 US$ + 0 US$+1,225,119.64 US$

= 3,185,612.96 US$
20. Menghitung Undiscounted Contractor Cash Flow
a. Cash In (Undisc.TCS)
Undisc.TCS

= REC + NCT

Contoh: Undisc.TCS0 = 4,043,201.35 US$+ 1,762,558.66 US$


= 5,806,178.40 US$
b. Cash Out (Undisc.Exp)
Undisc.Exp

= Inv.Cap + Inv.Non Cap + Opex

Contoh: Undisc.Exp1

= 12,300,000.00US$+1,215,000.00US$ +918,201.35 US$

= 8,273,201.35 US$
c. Net Cash Flow (Undisc.NCF)
160

Undisc.NCF

= Cash In Cash Out

Contoh: Undisc.NCF1 = 5,806,178.40 US$ - 8,273,201.35 US$


= -2,467,022.95 US$
21. Menghitung Cumulatif Undiscounted Contractor Net Cash Flow (Cum. CCF)
Cum.Undisc.NCFn

= Cum.Undisc.NCFn-1 + Undisc.NCFn

Contoh: Cum.Undisc.NCF1 = Cum. Undisc.NCF1-1 + Undisc.NCF1


= -2,467,022.95 US$ + -473,735.09 US$
= -2,940,758.05 US$
22. Menghitung Discount Factor (DF) 10 %
DFn = 1 / (1+i)n
Contoh:

DF1 = 1 / (1+i)1
= 1 / (1+10%)1
= 0.91

23. Menghitung Discounted Contractor Cash Flow


a. Cash In (Disc.TCS)
Disc.TCS
Contoh: Disc.TCS1

= Undisc Cash In x DF
= 5,806,178.40 US$ x 0.91
= 5,278,344.00 US$

b. Cash Out (Disc.Exp)


Disc.Exp
Contoh: Disc.Exp01

= Undisc.EXP x DF
= 8,273,201.35 US$ x 0.91
= 7,521,092.14 US$

c. Net Cash Flow (Disc.NCF)


Disc.NCF
Contoh: Disc.NCF1

= Undisc NCF x DF
= -2,467,022.95 US$ x 0.91
= -2,242,748.14 US$

24. Menghitung Cumulatif Discounted Contractor Net Cash Flow (Cum. CCF)
Cum.Disc.NCFn

= Cum. Disc.NCFn-1 + Disc.NCFn

Contoh: Cum.Disc.NCF1 = Cum. Disc.NCF1-1 + Disc.NCF1


= -2,242,748.14 US$ + -391,516.61 US$
= -2,634,264.75 US$

161

Untuk analisa keekonomian dengan menggunakan Sistem Kontrak PSC-FTP, yang layak
secara Keekonomian untuk dilakukan adalah Skenario III. Skenario I dan II layak secara
teknis untuk dikembangkan akan tetapi kurang layak dari sisi keekonomian. Perhitungan
pertahun dapat dilihat pada Lampiran E. Hasil perhitungan net cash flow skenario III
dapat dilihat pada Tabel IV-10 dan grafik net cash flow dapat dilihat pada Gambar 4.13.
Tabel IV-10
Contractor Net Cash Flow Skenario III
Undiscounted Contractor Cash Flow

Cash In

Cash Out

Net Cash Flow

(TCS)

(EXP)

(NCF)

(US$)

(US$)

(US$)

5,806,178.40

8,273,201.35

-2,467,022.95

5,884,169.00

6,357,904.09

-473,735.09

3,724,184.54

713,669.67

3,010,514.87

2,453,327.42

518,123.67

1,935,203.75

1,723,999.02

433,924.98

1,290,074.04

1,080,327.90

369,317.76

711,010.13

765,309.91

323,245.74

442,064.18

614,239.11

284,712.18

329,526.93

532,467.55

287,557.09

244,910.47

457,313.26

268,387.52

188,925.74

393,368.24

252,077.09

141,291.15

365,678.95

245,014.40

120,664.55

266,945.17

172,425.75

94,519.41

193,891.90

166,387.42

27,504.47

173,360.88

161,150.59

12,210.29

24,434,761.25

18,827,099.31

5,607,661.94

Contractor Net Cash Flow masing-masing skenario III Lapangan ZM dapat dilihat pada
Gambar 4.13.
162

Gambar 4.13.
Grafik Net Cash Flow Skenario III
Gambar 4.14 merupakan Pie Diagram yang akan menunjukkan porsi pemerintah
dan contractor dalam pembagian hasil Crude Oil yang dikenal dengan Net Government
Take dan Net Contractor Take.

163

Gambar 4.14.
Pie Diagram Skenario III PSC-FTP
4.4.2. Analisa Keekonomian PSC-JOB
Analisa keekonomian dilakukan dengan dasar JOB scheme atau Model Joint
Operating Body. Dalam analisa Cash Flow PSC-JOB, ada tiga pihak yang akan dilibatkan
yaitu Government, Pertamina dan Contractor (KPS) yang merupakan mitra Pertamina
dalam mengoperasikan lapangan tersebut. Beberapa asumsi dalam menghitung nilai
keekonomian menggunakan sistem kontrak PSC-JOB dapat dilihat pada Tabel IV-11.
Tabel IV-11
Asumsi Parameter Keekonomian Kontrak PSC-JOB
NO

ECONOMIC PARAMETER

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Oil Price
Capital Investment
Non Capital Investment
Operating Cost
Maximum Cost Recovery
Discount Rate
Overhead Cost
Government Share
Contractor Share
DMO
DMO Fee
Income Tax
Depreciation

ASSUMPTION/
ESTIMATE
70
12,300,000.00
1,215,000.00
5,312,099
100
10
2
70
30
25
10
41
Double Declining Balance

UNITS
US$/BBL
US$
US$
US$
%
%
%
%
%
%
%
%
-

Contoh perhitungan indikator keekonomian pada base case untuk tahun pertama :
1. Menghitung jumlah produksi minyak per tahun dengan menjumlahkan laju produksi
tiap bulannya untuk satu tahun.
2. Menghitung Gross Revenue
(GR)1= Annual Production * Oil Price
(GR)1 = 202,050 bbl * 70 US$
(GR)1 = 14,003,524 US$

164

3. Menghitung Contractor Participation


CP1 = 50%* Gross Revenue
CP1 =50%* 14,003,524 US$
CP1 = 7,001,762 US$
4. Menghitung Pertamina Participation
CP1 = 50%* Gross Revenue
CP1 =50%* 14,003,524 US$
CP1 = 7,001,762 US$
5. Investasi baik Capital maupun Non Capital.
6. Metode depresiasi yang digunakan adalah Declining Balance, nilai depresiasi dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan : Di K . R. (1 - R) i -1
Depresiasi tahun 1

1
1
1-
5
5

11

= 7,050,000

= 2,820,000 US$
7. Menghitung Operating Cost
OPEX1 = Input from budgeting
8. Menghitung biaya Over Head
OH1 = 2% x OPEX
OH1 = 2% x 918,201 US$
OH1 = 18,364 US$
9. Menghitung Unrecovered yang merupakan biaya yang belum terbayarkan di tahun
sebelumnya.
Jika Cri-1 > REC i-1 maka URi = CR i-1- REC i-1
Jika tidak maka URi = Investasi Non Capital i-1
10. Menghitung Cost Recovery (CR)
CR1 =50%*( OPEX +Unrecovered + Intangible + depresiasi + Over Head)
CR1 = 50%*( 918,201 US$+ 0 US$+ 305,000 US$+ 2,820,000 + 18,364)
CR1 = 2,030,783 US$
11. Menghitung Recovery
REC = Jika CR > Max Rec maka Rec = Max Rec
REC = Jika CR < Max maka Rec = CR
12. Menghitung bagian yang akan dibagi ( Equity To be Split )

165

ETS1 = CP REC
ETS1 = 7,001,762 US$ 2,030,783 US$
ETS1 = 4,970,979 US$
13. Menghitung bagian Contractor dan Government ( 70% dan 30% )
Contractor

= 30% x ETS
= 1,491,294 US$

Government

= 70% x ETS
= 3,479,685 US$

14. Menghitung Domestic Market Obligation (DMO) Request


DMO1 = 25% x % Contractor Share
= 25% x 1,491,294
= 372,823 US$
15. Menghitung DMO Fee
DMO Fee0

= 10% x DMO
= 10% x 372,823 US$
= 37,282 US$

16. Menghitung DMO


DMO1

= DMO req DMO fee


= 372,823 US4 - 37,282 US$
= 335,541 US$

17. Menghitung Taxable Income (TI)


TI1 = Contractor Share DMO
= 1,491,294 US$ 335,541
= 1,155,753 US$
18. Menghitung pajak yang harus dibayarkan (TAX)
TAX1 = TI x 41 %
= 1,155,753 US$ x 41%
= 468,080 US$
= IF TI < 0 maka tidak dikenakan pajak
19. Menghitung Carried EP Partner Cost
Carried EP Partner Cost1 = 50% x (Investasi + Opex + OH)

= 50% x (7,355,000 US$+918,201 US$+18,364US$)

166

= 4,145,783 US$
20. Menghitung Pertamina Tax
Tax Pertamina1

= 0% x Pertamina Participation

= 0% x 7,001,762 US$
= 0 US$
21. Menghitung Net Pertamina Take
Tax Pertamina1

= Pertamina Participation-Carried EP Cost-Tax

= 7,001,762 US$ - 4,145,783 US$ - 0 US$


= 2,855,979 US$
22. Menghitung Net Contractor Take
Net Contractor Take1 = TI Tax
= 1,155,753 US$ 468,080 US$
= 687,673 US$
23. Menghitung Total Contractor Take
Total Contractor Take1 = REC + Carried EP Partner Cost + Net Contractor Take
= 2,030,783 US$+ 4,145,783 US$ + 687,673 US$
= 6,864,238 US$
24. Menghitung Total Expenditure
Total Expenditure1 = Capital + Non Capital + OPEX + Overhead
= 7,050,000.00+ 305,000.00+ 918,201 + 18,364US$

= 8,291,565 US$
25. Menghitung Contractor Net Cash Flow
Contractor NCF1

= Total Contractor Take Total Expenditure


= 6,864,238 US$ 8,291,565 US$
= -1,427,327 US$

26. Menghitung Discount Rate


DR0 = 1/(1 + % DR) ^ Tahun ke n
= 1/(1 +10%) ^1
= 0.91
27. Menghitung Discounted Net Cash Flow
Discounted NCF = Contractor NCF x Discout Rate

167

= -1,427,327 US$ x 0.91


= -1,297,570 US$
28. Menghitung Cummulative NCF
Cum.Undisc.NCFn

= Cum.Undisc.NCFn-1 + Undisc.NCFn
= -1,297,570 US$ + -225,272 US$
= -1,522,842 US$

29. Menghitung Total Government Take


Total Government Take1

= Government Share + DMO + Con Tax + PTM Tax

= 3,479,685 + 335,541 +468,080 +0 US$


= 4,283,306 US$

Untuk analisa keekonomian dengan menggunakan Sistem Kontrak PSC-JOB, yang


layak secara Keekonomian untuk dilakukan adalah Skenario III. Skenario I dan II layak
secara teknis untuk dikembangkan akan tetapi kurang layak dari kajian keekonomian.
Perhitungan pertahun dapat dilihat pada Lampiran F. Hasil perhitungan net cash flow
skenario III dapat dilihat pada Tabel IV-12 dan Tabel IV-13 dan grafik net cash flow dapat
dilihat pada Gambar 4.15 dan Gambar 4.16

Tabel IV-12
Contractor Net Cash Flow Skenario III
Total Contractor

Total

NCF

Take

Expenditure

Contractor

($)

($)

($)

6,864,238

8,291,565

-1,427,327

6,102,483

6,375,062

-272,579

2,229,638

725,543

1,504,095

1,463,771

527,286

936,485

1,047,069

441,403

605,665

168

703,165

375,504

327,661

533,301

328,511

204,790

450,072

289,206

160,866

419,903

292,108

127,795

378,499

272,555

105,944

343,270

255,919

87,351

328,015

248,715

79,301

244,975

175,874

69,101

180,233

169,715

10,518

168,922

164,374

4,549

21,457,555

18,933,341

2,524,214

Tabel IV-13
Pertamina Net Cash Flow Skenario III
Carried EP

Tax

Net

Partner Cost

Pertamina

Pertamina Take

($)

($)

($)

4,145,783

2,855,979

3,187,531

3,286,630

362,772

3,799,338

263,643

2,712,439

220,702

2,018,642

169

187,752

1,486,278

164,255

1,106,645

144,603

789,128

146,054

550,070

136,278

392,113

127,959

257,715

124,357

199,519

87,937

125,788

84,858

76,032

82,187

32,881

9,466,671

19,689,198

170

Gambar 4.15.
Grafik Net Cash Flow Pertamina Skenario III

Gambar 4.16.
Grafik Net Cash Flow Contractor Skenario III
Gambar 4.17 merupakan Pie Diagram yang akan menunjukkan porsi pemerintah
dan contractor dalam pembagian hasil Crude Oil yang dikenal dengan Net Government
Take dan Net Contractor Take.

171

Gambar 4.17.
Pie Diagram Skenario III PSC-JOB

4.4.3. Analisa Keekonomian PSC-KSO


Data-data asumsi yang digunakan pada perhitungan keekonomian Lapangan
ZM untuk jenis kontrak PSC-KSO dapat dilihat pada Tabel IV-14.
Untuk analisa keekonomian dengan menggunakan Sistem Kontrak PSCKSO, yang layak secara Keekonomian untuk dilakukan adalah Skenario III. Skenario I
layak secara teknis untuk dikembangkan akan tetapi kurang layak dari sisi keekonomian
karena tidak semua indikator keekonomian menunjukkan hasil yang baik. Perhitungan
pertahun dapat dilihat pada Lampiran G. Hasil perhitungan net cash flow skenario III
dapat dilihat pada Tabel IV-15 dan Tabel IV-16.
Tabel IV-14
Asumsi Parameter Keekonomian Kontrak PSC-KSO
NO

ECONOMIC PARAMETER

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Oil Price
Capital Investment
Non Capital Investment
Operating Cost
Maximum Cost Recovery
Discount Rate
FTP (to be shared)
Government Share
Pertamina Share
Pertamina Portion
Contractor Portion
Income Tax
Depreciation
DMO Request
DMO Fee

ASSUMPTION/
ESTIMATE
70
12,300,000.00
1,215,000.00
5,312,099
100
10
20
25
75
50
50
40.5
Double Declining Balance
25
25

UNITS
US$/BBL
US$
US$
US$
%
%
%
%
%
%
%
%
%
%

Berikut ini merupakan contoh langkah-langkah perhitungan Cash Flow


perusahaan tahun 2010 dengan menggunakan sistem kontrak PSC-KSO untuk skenario III
(tahun ke-nol dan tahun pertama):
172

1. Menghitung produksi minyak tahunan (Annual Production):


2. Memasukkan data/ nilai investasi
3. Menghitung Depresiasi (Di)
Depresiasi pada perhitungan ini menggunakan metode Double Declining Balance
(DDB)
Di = K.2R.(1 2R) i 1
Dimana :
Di

= Depresiasi pada tahun ke-i

= Capital Cost

= Waktu depresiasi

= 1/N = Depresiasi Rate

= 5 Tahun

Contoh perhitungan depresiasi pada tahun ke 1 :


Di1

= 7,050,000.00 US$ x (2 x 0,2) x [1 (2 x 0,2)] 1 1


= 2,820,000.00 US$

4. Menghitung Operating Cost (Op. Cost)


Op. Cost1 = 918,201.35 US$
5. Menghitung Gross Revenue (GR)
GR = Oil Price x Annual Production
Contoh : GR1

= 70 US$/BBL x 200,050.34 BBL = 14,003,523.66 US$

6. Menghitung First Tranche Petroleum (FTP) Total


FTP = 20 % x GR
Contoh :

FTP1 = 20% x 14,003,523.66 US$ = 2,800,704.73 US$

7. Menghitung FTP to Government


FTP = 25% x FTP Total
Contoh :

FTP1 = 25% x 2,800,704.73 US$ = 700,176.18 US$

8. Menghitung FTP to Pertamina


FTP = 75% x FTP Total
Contoh :

FTP1 = 75% x 2,800,704.73 US$ = 2,100,528.55 US$

9. Menghitung Remaining Revenue


Contoh : RR1

= GR FTP Total
= 14,003,523.66 US$ - 2,800,704.73 US$= 11,202,818.92 US$

173

10. Menghitung Recovarable Cost Recovery (RC)


d. Unrecoverable Cost (UR)
Jika Cri-1 > REC i-1 maka URi = CR i-1- REC i-1
Jika tidak maka URi = Investasi Non Capital i-1
e. Cost Recovery (CR)
Jika (GRi-FTP) > 0 maka CRi = Investasi Non Capitali+Depi+Opexi+URi
f. Recovery (REC)
Jika CRi > (GRi-FTP) maka RECi = (GRi-FTP)
Jika tidak maka RECi = CRi
11. Menghitung Equity to be Split (ETS)
ETS = (RR-REC)
Contoh :

ETS1 = 11,202,818.92 US$- 4,043,201.35 US$


= 7,159,617.57 US$

12. Menghitung Government Share (GS)


GS = 25% x ETS
Contoh :

GS1

= 25% x 7,159,617.57 US$


= 1,789,904.39 US$

13. Menghitung Pertamina Share (PS)


PS = 75% x ETS
Contoh :

PS1

= 75% x 7,159,617.57 US$


= 7,470,241.73 US$

14. Menghitung Pertamina Portion (PTMP)


PP = 50% x Pertamina Share
Contoh :

PP1

= 50% x 7,470,241.73 US$


= 3,735,120.86 US$

15. Menghitung Contractor Portion (CP)


CP = 50% x Pertamina Share
Contoh :

CP1

= 50% x 7,470,241.73 US$


= 3,735,120.86 US$

16. Menghitung Domestic Market Obligation (DMO) for Contractor


Gross DMO

= percent DMO x Contractor Portion

DMOfee

= percent DMOfee (25%) x Gross DMO(25%)

174

DMO

= Gross DMO DMOfee

DMO1

= 933,780.22 US$- 233,445.05 US$ = 700,335.16 US$

17. Menghitung Domestic Market Obligation (DMO) for Pertamina


Gross DMO

= percent DMO x PTMS

DMOfee

= percent DMOfee x Gross DMO

DMO

= Gross DMO (25%) DMOfee (100%)

DMO

= 0 - 0 = 0 US$

18. Menghitung Taxable Income (TI) for Contractor


TI

= Contractor Portion DMO

Contoh : TI1

= 3,735,120.86 US$ 700,335.16 US$


= 3,039,229.68 US$

19. Menghitung Taxable Income (TI) for Pertamina


TI

= Pertamina Portion DMO

Contoh : TI1

= 3,735,120.86 US$ 0 US$


= 3,735,120.86 US$

20. Menghitung Tax (Pajak) to Contractor


Tax

= Income Tax x TI Contractor

Contoh : Tax1

= 40.5% x 3,034,785.70 US$


= 1,229,088.21 US$

21. Menghitung Tax (Pajak) to Pertamina


Tax

= Income Tax x TI Pertamina

Contoh : Tax1

= 40.5% x 3,735,120.86 US$


= 1,512,723.95 US$

22. Menghitung Net Pertamina Take (NPT)


NPT

= TI to Pertamina Tax to Pertamina

Contoh: NPT1

= 3,735,120.86 US$ - 1,512,723.95 US$


= 2,222,396.91 US$

23. Menghitung Net Contractor Take (NCT)


NCT

= TI to Contractor Tax to Contractor

Contoh: NCT1

= 3,039,229.68 US$ - 1,229,088.21 US$


= 1,805,697.49 US$

24. Menghitung Net Goverment Take (NGT)

175

NGT

= FTP to Gov + GS + DMO to PTM + DMO to Con + Tax to Con +

Tax to PTM
Contoh: NGT1

= 700,176.18 US$ + 1,789,904.39 US$ + 0 US$ + 700,335.16 US$


+ 1,229,088.21 US$ + 1,512,723.95 US$
= 5,932,227.90 US$

25. Menghitung Undiscounted Contractor Cash Flow


a. Cash In (Undisc.TCS)
Undisc.TCS

= REC + NCT

Contoh: Undisc.TCS1

= 4,043,201.35 US$ + 1,805,697.49 US$


= 5,848,898.84 US$

b. Cash Out (Undisc.Exp)


Undisc.Exp

= Inv.Cap + Inv.Non Cap + Opex

Contoh: Undisc.Exp1

= 7,050,000.00US$+305,000.00US$+918,201.35 US$

= 8,273,201.35 US$
c. Net Cash Flow (Undisc.NCF)
Undisc.NCF

= Cash In Cash Out

Contoh: Undisc.NCF1

= 5,848,898.84 US$ - 8,273,201.35 US$


= -2,424,302.51 US$

26. Menghitung Cumulatif Undiscounted Contractor Net Cash Flow (Cum. CCF)
Cum.Undisc.NCFn

= Cum.Undisc.NCFn-1 + Undisc.NCFn

Contoh: Cum.Undisc.NCF2 = Cum. Undisc.NCF1-1 + Undisc.NCF1


= -2,424,302.51 US$ + -436,920.28 US$
= -2,861,222.79 US$
27. Menghitung Undiscounted Pertamina Net Cash Flow
a. Cash In (Undisc.NPT)
Undisc.NPT

= NPT

Contoh: Undisc.TCS1

= 2,222,396.91 US$

b. Cash Out (Undisc.Exp)


Undisc.Exp

= DMO to Pertamina

Contoh: Undisc.Exp0

= 0 US$
= 0 US$

c. Net Cash Flow (Undisc.NCF)

176

Undisc.Pertamina NCF

= Cash In Cash Out

Contoh: Undisc.NCF1

= 2,222,396.91 US$ - 0 US$


= 2,222,396.91 US$

28. Menghitung Cumulatif Undiscounted Pertamina Net Cash Flow (Cum. CCF)
Cum.Undisc.NCFn

= Cum.Undisc.NCFn-1 + Undisc.NCFn

Contoh: Cum.Undisc.NCF2 = Cum. Undisc.NCF1-1 + Undisc.NCF1


= 2,222,396.91 US$ + 1,917,852.54 US$
= 4,137,571.95 US$
29. Menghitung Discount Factor (DF) 10 %
DFn = 1 / (1+i)n
Contoh:

DF1 = 1 / (1+i)1
= 1 / (1+10%)1
= 0.91

30. Menghitung Discounted Contractor Cash Flow


a. Cash In (Disc.TCS)
Disc.TCS

= Undisc Cash In x DF

Contoh: Disc.TCS1

= 5,848,898.84 US$ x 0.91


= 5,317,180.77 US$

b. Cash Out (Disc.Exp)


Disc.Exp

= Undisc.EXP x DF

Contoh: Disc.Exp1

= 8,273,201.35 US$ x 0.91


= 7,521,092.14 US$

c. Net Cash Flow (Disc.NCF)


Disc.NCF

= Undisc NCF x DF

Contoh: Disc.NCF1

= -2,424,302.51 US$ x 0.91


= -2,203,911.37 US$

31. Menghitung Cumulatif Discounted Contractor Net Cash Flow (Cum. CCF)
Cum.Disc.NCFn

= Cum. Disc.NCFn-1 + Disc.NCFn

Contoh: Cum.Disc.NCF1

= Cum. Disc.NCF1-1 + Disc.NCF1


= -2,203,911.37 US$+ -361,091.14 US$
= -2,565,002.51 US$

32. Menghitung Discounted Pertamina Cash Flow

177

a. Cash In (Disc.TCS)
Disc.NPT

= Undisc Cash In x DF

Contoh: Disc.TCS1

= 2,222,396.91 US$ x 0.91


= 2,020,360.83 US$

b. Cash Out (Disc.Exp)


Disc.Exp

= Undisc.EXP x DF

Contoh: Disc.Exp1

= 0 US$ x 0.91
= 0 US$

c. Net Cash Flow (Disc.NCF)


Disc.NCF

= Undisc NCF x DF

Contoh: Disc.NCF1

= 2,222,396.91 US$ x 0.91


= 2,020,360.83 US$

33. Menghitung Cumulatif Discounted Pertamina Net Cash Flow (Cum. CCF)
Cum.Disc.NCFn

= Cum. Disc.NCFn-1 + Disc.NCFn

Contoh: Cum.Disc.NCF1

= Cum. Disc.NCF1-1 + Disc.NCF1


= 2,020,360.83 US$+1,582,789.29 US$
= 3,603,150.12 US$

Untuk analisa keekonomian dengan menggunakan Sistem Kontrak PSC-KSO, yang


layak secara Keekonomian untuk dilakukan adalah Skenario III. Skenario I dan II layak
secara teknis untuk dikembangkan akan tetapi kurang layak dari kajian keekonomian.
Perhitungan pertahun dapat dilihat pada Lampiran G. Hasil perhitungan cash flow
skenario III dapat dilihat pada Tabel IV-15 dan Tabel IV-16 dan grafik net cash flow dapat
dilihat pada Gambar 4.18 dan Gambar 4.19
Tabel IV-15
Contractor Net Cash Flow Skenario III
Undiscounted Contractor Cash Flow

Cash In

Cash Out

Net Cash Flow

(TCS)

(EXP)

(NCF)

(US$)

(US$)

(US$)

5,848,898.84

8,273,201.35

-2,424,302.51

5,920,983.81

6,357,904.09

-436,920.28

178

3,748,157.61

713,669.67

3,034,487.94

2,471,561.60

518,123.67

1,953,437.93

1,738,355.07

433,924.98

1,304,430.09

1,092,146.18

369,317.76

722,828.42

774,568.09

323,245.74

451,322.35

620,770.28

284,712.18

336,058.10

536,948.30

287,557.09

249,391.22

460,437.39

268,387.52

192,049.87

395,338.09

252,077.09

143,260.99

367,148.97

245,014.40

122,134.57

267,781.64

172,425.75

95,355.89

194,558.39

166,387.42

28,170.96

173,656.76

161,150.59

12,506.17

24,611,311.03

18,827,099.31

5,784,211.72

Tabel IV-16
Pertamina Net Cash Flow Skenario III
Undiscounted Pertamina Cash Flow

Cash In

Cash Out

Net Cash Flow

(TCS)

(EXP)

(NCF)

(US$)

(US$)

(US$)

2,222,396.91

0.00

2,222,396.91

1,915,175.04

0.00

1,915,175.04

1,247,123.62

0.00

1,247,123.62

948,575.91

0.00

948,575.91

746,828.42

0.00

746,828.42

614,809.13

0.00

614,809.13

481,627.51

0.00

481,627.51

339,763.82

0.00

339,763.82

233,096.88

0.00

233,096.88

162,522.92

0.00

162,522.92

102,475.07

0.00

102,475.07

179

76,473.32

0.00

76,473.32

43,514.94

0.00

43,514.94

34,671.95

0.00

34,671.95

15,392.21

0.00

15,392.21

9,184,447.65

0.00

9,184,447.65

Gambar 4.18.
Grafik Contractor Net Cash Flow Skenario III

180

Gambar 4.19.
Grafik Contractor Net Cash Flow Skenario III
Gambar 4.20 merupakan Pie Diagram yang akan menunjukkan porsi pemerintah
dan contractor dalam pembagian hasil Crude Oil yang dikenal dengan Net Government
Take dan Net Contractor Take.

Gambar 4.20.
Pie Diagram Skenario III PSC-KSO
4.4.4. Indikator Ekonomi

181

Perlu dilakukan analisa dengan menggunakan indikator keekonomian untuk


mengetahui apakah cash flow dari skenario pengembangan lapangan dapat dikatakan
ekonomis dan layak untuk dikembangkan atau tidak. Suatu skenario dikatakan
menguntungkan atau tidak bisa dilihat dari kumulatif cash flow tiap skenario
pengembangan. Tetapi dalam menganalisa suatu proyek investasi tidak hanya dengan
melihat untung atau tidaknya, perlu dilakukan analisa lebih lanjut mengingat proyek
investasi di dunia perminyakan umumnya berumur puluhan tahun sehingga perlu dilakukan
analisa keekonomian proyek di masa yang akan datang. Analisa indikator ekonomi
dilakukan pada setiap jenis kontrak yang dihitung yaitu PSC-FTP, PSC-JOB, dan PSCKSO yang akan menunjukkan hasil yang berbeda-beda dan tentu saja menarik untuk
dianalisa dan dibahas.
Lima indikator keekonomian yang digunakan untuk mengetahui apakah skenario
pengembangan Lapangan ZM layak dikembangkan atau tidak, yaitu: Pay Out Time
(POT) atau Pay Back Time (PBT), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR)
atau Rate of Return (ROR), Profit to Investment Ratio (PIR) dan Discounted Profit to
Investment Ratio (DPIR).
4.4.4.1.

Pay Out Time (POT)


Pay Out Time merupakan indikator ekonomi yang menunjukkan lama waktu yang

dibutuhkan untuk mengembalikan modal. Semakin cepat modal kembali, semakin baik
skenario tersebut. Tabel IV-17 dan Gambar 4.21- Gambar 4.23 menunjukkan nilai POT
di setiap jenis kontrak yang dianalisa.
Tabel IV-17
POT Skenario III Di Setiap Kontrak
Jenis Kontrak

POT (Tahun)

PSC-FTP

2.98

PSC-JOB

3.21

PSC-KSO

2.94

182

Gambar 4.21.
Grafik Pay Out Time PSC-FTP Skenario III

Gambar 4.22.
Grafik Pay Out Time PSC-JOB Skenario III

183

Gambar 4.23.
Grafik Pay Out Time PSC-KSO Skenario III
4.4.4.2.

Net Present Value (NPV)


Net Present Value merupakan indikator ekonomi yang digunakan untuk

menganalisa cash flow perusahaan di masa yang akan datang. Dalam suatu investasi
dikenal suatu prinsip time value money. Jadi nilai uang di masa sekarang berbeda nilainya
dengan nilai uang di masa depan. Seperti perhitungan NPV pada skenario pengembangan
Lapangan ZM.
Prinsip perhitungan NPV adalah membawa nilai Net Cash Flow (NCF) atau Cash
Flow ke masa sekarang dengan mengalikan Net Cash Flow dengan pertahun discount
factor. Besarnya discount factor tergantung dari besarnya interest rate yang ditentukan
oleh perusahaan. Pada Tabel IV-18 berikut ini dapat dilihat hasil perhitungan NPV dari
setiap skenario pengembangan Lapangan ZM.
Tabel IV-18
NPV Skenario III Di Setiap Kontrak
Jenis Kontrak

NPV (US$)

PSC-FTP

2,834,525

PSC-JOB

1,162,802

PSC-KSO

2,962,388

184

4.4.4.3.

Internal Rate of Return (IRR)


Internal Rate of Return (IRR) atau sering juga disebut ROR merupakan indikator

keekonomian yang dapat mengetahui besarnya interest rate yang maksimum dari suatu
proyek investasi. Nilai IRR dari setiap skenario pengembangan lapangan berada antara satu
dengan yang lainnya. Semakin besar nilai IRR maka semakin baik pula skenario
pengembangan lapangan tersebut. Nilai IRR juga dapat menentukan layak tidaknya suatu
proyek investasi. Biasanya nilai IRR dibandingkan dengan nilai MARR atau minimum
attractive rate of return, biasanya nilai MARR antara satu perusahaan dengan perusahaan
yang lainnya berbeda.
Prinsip perhitungan IRR adalah mencari nilai dari interest rate yang menyebabkan
harga NPV menjadi nol. Harga IRR tidak bisa dihitung apabila semua harga NCF bernilai
positif atau semua harga NCF bernilai negatif. Hasil perhitungan nilai IRR dapat dilihat
pada Tabel IV-19 di bawah ini.
Tabel IV-19
Nilai IRR Pada Skenario III Setiap Jenis Kontrak
Jenis Kontrak

IRR (%)

PSC-FTP

40.54

PSC-JOB

32.40

PSC-KSO

42.33

4.4.4.4.

Profit to Investment Ratio (PIR)


PIR merupakan indikator yang menggambarkan besarnya keuntungan yang akan

diperoleh pada setiap dollar yang diinvestasikan. Prinsip dari perhitungan PIR adalah
membandingkan NCF perusahaan dengan investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Besarnya nilai PIR untuk masing-masing skenario dapat dilihat pada Tabel IV-20 dan
Gambar 4.24.
Tabel IV-20
Nilai PIR Pada Skenario III Setiap Jenis Kontrak
Jenis Kontrak

PIR

PSC-FTP

0.41

185

PSC-JOB

0.18

PSC-KSO

0.43

Gambar 4.24.
PIR dari Skenario III Pada Setiap Jenis Kontrak
4.4.4.5.

Discounted Profit to Investment Ratio (DPIR)


Sama halnya dengan PIR, DPIR merupakan indikator keekonomian yang

menggambarkan besarnya keuntungan yang akan diperoleh pada setiap dollar yang
diinvestasikan. Letak perbedaannya adalah pada nilai NCFnya, pada PIR nilai NCF belum
dibawa ke masa sekarang, sedangkan pada DPIR harga NCFnya sudah dibawa ke masa
sekarang. Sehingga untuk mengetahui prospek skenario di masa yang akan datang, DPIR
lebih sesuai digunakan daripada PIR. Hasil perhitungan DPIR ditunjukkan pada Tabel IV21 dan Gambar 4.25.

186

Tabel IV-21
Nilai DPIR Pada Skenario III Setiap Jenis Kontrak
Jenis Kontrak

DPIR

PSC-FTP

0.21

PSC-JOB

0.09

PSC-KSO

0.22

Gambar 4.25.
DPIR dari Skenario III Pada Setiap Jenis Kontrak
4.4.5. Pemilihan Skenario yang Layak Dikembangkan
Setelah dilakukan perhitungan indikator ekonomi terhadap tiga skenario
pengembangan lapangan yang telah direncanakan, tahap selanjutnya adalah menentukan
skenario manakah yang akan dipilih. Tabel IV-22 menunjukkan perbandingan antara
skenario I, II dan skenario III berdasarkan perhitungan di semua jenis kontrak.
Tabel IV-22
Nilai Indikator Ekonomi di Setiap Jenis Kontrak
Jenis
Kontrak

Skenario I
NPV
ROR
(US$)
(%)

POT
(Tahun)

187

PIR
(Fraksi)

DPIR
(Fraksi)

PSC-FTP
PSC-JOB
PSC-KSO
Jenis
Kontrak
PSC-FTP
PSC-JOB
PSC-KSO
Jenis
Kontrak
PSC-FTP
PSC-JOB
PSC-KSO

465,266
44.54
324,346
48.11
477,391
45.53
Skenario II
NPV
ROR
(US$)
(%)
446,348
20.70
369,226
24.73
471,756
21.33
Skenario III
NPV
ROR
(US$)
(%)
2,834,525 40.54
1,162,802 32.40
2,962,388 42.33

2.3
2.1
2.28

0.12
0.10
0.12

0.12
0.08
0.12

POT
(Tahun)
2.93
2.84
2.91

PIR
(Fraksi)
0.11
0.08
0.11

DPIR
(Fraksi)
0.05
0.04
0.06

POT
(Tahun)
2.98
3.21
2.94

PIR
(Fraksi)
0.41
0.18
0.43

DPIR
(Fraksi)
0.21
0.09
0.22

Dari Tabel IV-23 di bawah dapat diketahui bahwa skenario I (base case) memiliki
estimated ultimated recovery (EUR) lebih sedikit jika dibandingkan dengan skenario II dan
skenario III karena skenario I hanya melakukan reopening dan sumur-sumur existing tanpa
adanya penambahan sumur. Dengan nilai EUR yang lebih sedikit, maka skenario I
memiliki nilai remaining reserve (Npa) yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan
skenario I dan skenario II. Apabila dilihat dari segi teknik (engineering), skenario III dapat
dikatakan lebih baik daripada skenario II dan I karena skenario III memiliki nilai nilai EUR
yang lebih besar, hal ini menunjukkan bahwa skenario III yang telah direncanakan mampu
meminimalkan cadangan minyak tersisa. Tetapi tidaklah cukup menilai baik tidaknya suatu
skenario pengembangan lapangan hanya dari segi teknik saja. Skenario yang akan dipilih
adalah skenario yang mempertimbangkan aspek teknik dan aspek ekonomis. Oleh karena
itu selanjutnya perlu mempertimbangkan aspek ekonomis dari skenario pengembangan
lapangan yang dilakukan.

Tabel IV-23
Nilai Np, Total Investasi dan NCCF di Setiap Jenis Kontrak
Skenario I
Jenis
Kontrak

Np (BBL)

Total
(US$)

PSC-FTP

264,735

3,965,000.00

188

Investasi NCCF
(US$)
470,506

PSC-JOB

264,735

3,965,000.00

406,832

PSC-KSO

264,735

3,965,000.00

484,515

Skenario II
Jenis
Kontrak

Np (BBL)

Total
(US$)

PSC-FTP

381,124

8,265,000.00

891,096

PSC-JOB

381,124

8,265,000.00

713,588

PSC-KSO

381,124

8,265,000.00

920,564

Investasi NCCF
(US$)

Skenario III
Jenis
Kontrak

Np (BBL)

Total
(US$)

PSC-FTP

833,024

13,515,000.00

5,607,662

PSC-JOB

833,024

13,515,000.00

2,524,214

PSC-KSO

833,024

13,515,000.00

5,784,212

Investasi NCCF
(US$)

Dari segi investasi, skenario I memiliki nilai investasi yang lebih sedikit, hal ini
dikarenakan pada skenario I tidak dikeluarkan investasi untuk menambah sumur baru,
investasi yang dikeluarkan pada skenario I adalah investasi untuk operasi produksi minyak
dan general adminstration. Sedangkan investasi yang dikeluarkan pada skenario II dan III
adalah investasi untuk pengembangan lapangan ditambah investasi untuk operasi produksi
minyak dan general administration.
Setelah dilakukan cash flow analysis terhadap tiga skenario pengembangan
lapangan yang telah direncanakan, maka dapat diketahui bahwa skenario III memiliki
NCCF (Net Contractor Cash Flow) yang lebih besar dibandingkan dengan skenario I dan
II walaupun skenario III memiliki nilai investasi yang besar, hal ini dikarenakan skenario
III dilakukan penambahan 2 sumur baru, sehingga terjadi penambahan produksi minyak
yang menyebabkan bertambahnya nilai pendapatan kontraktor. Apabila nilai NCCF
tersebut dibawa ke masa sekarang yaitu dengan mengalikan NCCF dengan discount factor
maka diperoleh suatu nilai NPV (Net Present Value). Nilai NPV lebih dipilih dalam
pengambilan keputusan suatu skenario pengembangan lapangan karena nilai NPV
mempertimbangkan adanya prinsip time value of money dan mempertimbangkan adanya

189

resiko. Oleh karena itu dalam pengambilan keputusan suatu skenario pengembangan
lapangan NPV-lah yang digunakan sebagai pertimbangan.
Dari Tabel IV-23 di atas dapat diketahui bahwa skenario III memiliki nilai NPV
lebih besar bila dibandingkan dengan skenario I dan II. Kemudian apabila ditinjau dari
nilai POT (Pay Out Time), skenario III memberikan nilai POT yang terbaik dibandingkan
dengan skenario I maupun II karena skenario I dan II memiliki nilai POT yang lebih kecil.
Selanjutnya dari nilai IRR (Internal Rate of Return), skenario III menunjukkan nilai IRR
tertinggi yang kemudian diikuti oleh skenario II dan I. Dari nilai PIR (Profit to Investment
Ratio) dan DPIR (Discounted Profit to Investment Ratio), skenario III memiliki nilai PIR
dan DPIR yang lebih baik daripada skenario I dan II. Prinsip PIR dan DPIR adalah hampir
sama, yaitu membandingkan keuntungan dengan besarnya investasi yang dikeluarkan.
Kedua parameter ini menggambarkan keuntungan yang diperoleh dari setiap dollar yang
diinvestasikan. Semakin besar PIR dan DPIR maka semakin baik skenario tersebut. Setelah
mempertimbangkan aspek teknis dan ekonomis, maka diambil suatu keputusan bahwa
skenario pengembangan yang terbaik untuk dikembangkan adalah skenario III.
4.4.6. Analisa Sensitivitas
Analisa sensitivitas diperlukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh faktor
atau parameter-parameter terhadap proyek investasi yang ada. Parameter-parameter yang
sering digunakan untuk analisa sensitivitas adalah produksi, harga dan biaya operasi.
Seperti kita ketahui bahwa dunia perminyakan penuh dengan resiko dan ketidakpastian
sehingga diperlukan suatu analisa sensitivitas.
Dari perhitungan yang telah dilakukan dengan mengganti parameter-parameter
perhitungan seperti produksi minyak, harga minyak, biaya operasi dan investasi diperoleh
hasil analisa sensitivitas POT pada Gambar 4.26 sampai dengan Gambar 4.28,
sensitivitas NPV pada Gambar 4.29 sampai pada Gambar 4.31, sensitivitas ROR pada
Gambar 4.32 sampai dengan Gambar 4.34, sensitivitas PIR terdapat pada Gambar 4.35
sampai pada Gambar 4.37, analisa DPIR terdapat pada Gambar 4.38 sampai dengan
Gambar 4.40, sensitivitas NPV Government terdapat pada Gambar 4.41 sampai dengan
Gambar 4.43 dan sensitivitas Pertamina NPV terdapat pada Gambar 4.44 sampai dengan
Gambar 4.45.

190

Gambar 4.26.
Grafik Sensitivitas POT Jenis Kontrak PSC-FTP

191

Gambar 4.27.
Grafik Sensitivitas POT Jenis Kontrak PSC-JOB

Gambar 4.28.
Grafik Sensitivitas POT Jenis Kontrak PSC-KSO

192

Gambar 4.29.
Grafik Sensitivitas NPV Jenis Kontrak PSC-FTP

Gambar 4.30.
Grafik Sensitivitas NPV Jenis Kontrak PSC-JOB

193

Gambar 4.31.
Grafik Sensitivitas NPV Jenis Kontrak PSC-KSO

Gambar 4.32.
Grafik Sensitivitas ROR Pada Jenis Kontrak PSC-FTP

194

Gambar 4.33.
Grafik Sensitivitas ROR Pada Jenis Kontrak PSC-JOB

Gambar 4.34.
Grafik Sensitivitas ROR Pada Jenis Kontrak PSC-KSO

195

Gambar 4.35.
Grafik Sensitivitas PIR Pada Jenis Kontrak PSC-FTP

Gambar 4.36.
Grafik Sensitivitas PIR Pada Jenis Kontrak PSC-JOB

196

Gambar 4.37.
Grafik Sensitivitas PIR Pada Jenis Kontrak PSC-KSO

Gambar 4.38.
Grafik Sensitivitas DPIR Pada Jenis Kontrak PSC-FTP

197

Gambar 4.39.
Grafik Sensitivitas DPIR Pada Jenis Kontrak PSC-JOB

Gambar 4.40.
Grafik Sensitivitas DPIR Pada Jenis Kontrak PSC-KSO

198

Gambar 4.41.
Grafik Sensitivitas Government NPV Pada Jenis Kontrak PSC-FTP

Gambar 4.42.
Grafik Sensitivitas Government NPV Pada Jenis Kontrak PSC-JOB

199

Gambar 4.43.
Grafik Sensitivitas Government NPV Pada Jenis Kontrak PSC-KSO

Gambar 4.44.
Grafik Sensitivitas Pertamina NPV Pada Jenis Kontrak PSC-JOB

200

Gambar 4.45.
Grafik Sensitivitas Pertamina NPV Pada Jenis Kontrak PSC-KSO

201