Anda di halaman 1dari 350

PRA RANCANGAN PABRIK

UNIT PEMURNIAN METIL ESTER HASIL


TRANSESTERIFIKASI MENJADI BIODIESEL SAWIT
DENGAN KAPASITAS 50 TON/HARI
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Teknik

OLEH :
WAHYU HIDAYAT
NIM : 080425048

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2009

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
kesehatan, kemampuan dan kesabaran kepada Penulis sehingga dapat menyelesaikan
Tugas Akhir dengan judul Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester
Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit berkapasitas 50 ton/hari.
Tugas Akhir ini ditulis untuk melengkapi salah satu syarat mengikuti ujian
Sarjana Teknik di Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera
Utara.
Penulis berterima kasih kepada Orang Tua dan keluarga Penulis atas doa,
bimbingan dan materi yang diberikan hingga saat ini, Dalam menyelesaikan Tugas
Akhir ini Penulis banyak menerima bantuan, bimbingan dan fasilitas dari berbagai
pihak yaitu:
1. Ibu Ir. Renita manurung, MT, selaku Dosen Pembimbing I dan juga Ketua
Departemen Teknik Kimia yang telah banyak memberikan masukan, arahan
dan bimbingan selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2. Ibu Maya Sarah, ST.MT, selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak
memberikan masukan, arahan dan bimbingan selama menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
3. Bapak Dr. Eng. Ir. Irvan, MSi, selaku Koordinator Tugas Akhir yang telah
memberikan bimbingan dan masukan kepada Penulis dalam penyelesaian
Tugas Akhir ini.
4. Staf Pengajar Departemen Teknik Kimia atas ilmu yang diberikan kepada
Penulis sehingga Penulis dapat mengerjakan Tugas Akhir ini.
5. Para Pegawai Departemen Teknik Kimia atas bantuan dan kemudahan
administratif yang diberikan.
6. Rekan Penulis dalam penyelesaian Tugas Akhir yakni Royan Fadlah
(Kakaroto).
7. Sahabat Penulis Bang Jen, bang rudi, Rusdi Fauzan, Zulham Effendi, Jumri
Prico, Ardi, Afridjal, Sandra Maylini Hanastasya, Hamida pohan dan Rini Tri
Astuti yang selalu ada pada saat Penulis membutuhkan pertolongan.
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

8. Teman-teman Teknik Kimia Extension Stambuk 2005/06 yang tidak dapat


disebutkan satu persatu yang juga telah memberikan semangat kepada
penulis.
Penulis menyadari Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dikarenakan
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Penulis, untuk itu Penulis mengharapkan
saran dan kritik yang membangun. Semoga Tugas Akhir ini bisa bermanfaat bagi
para pembaca.

Medan, Mei 2009


Penulis,

(Wahyu Hidayat)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

INTISARI
Pra-rancangan Pabrik Pemurnian Metil Ester hasil Transesterifikasi menjadi
biodiesel sawit ini direncanakan berkapasitas bahan baku crude metil ester 17.500
ton/tahun dengan hari operasi 350 hari/tahun.
Ada 4 tahapan proses pada proses pemurnian metil ester ini. Pertama proses
pemisahan, yaitu metil ester di endapkan (settling ) didalam tangki pemisah dan akan
terbentuk dua lapisan, lapisan atas metil ester dan lapisan bawah gliserol. Selanjutnya
proses pencucian, setelah dipisahkan dari gliserol metil ester dicuci dengan air yang
bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa gliserol dan senyawa-senyawa lainya.
Proses pengeringan, dilakukan dengan tujuan untuk mengeluarkan air yang
tercampur didalam metil ester untuk mendapatkan kemurnian 99,99%. Akhir dari
proses ini adalah filtrasi, proses ini bertujuan untuk menghilangkan partikel-partikel
pengotor biodiesel yang terbentuk selama proses berlangsung.
Lokasi pabrik direncanakan didirikan di daerah Kecamatan Labuhan Deli
yang merupakan hilir Sungai Deli, Sumatera Utara dengan luas 9830 m2.
Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pengoperasian pabrik ini berjumlah 100
orang karyawan dengan bentuk badan usaha Perseroan Terbatas (PT) dan struktur
organisasi adalah sistem garis dan staff.
Hasil analisa terhadap aspek ekonomi pabrik ini adalah sebagai berikut:
a. Total modal investasi

: Rp. 273.501.875.700,-

b. Biaya Produksi (per tahun)

: Rp. 63.026.306.180,-

c. Hasil penjualan (per tahun)

: Rp. 158.659.187.400,-

d. Laba bersih

: Rp. 66.960.516.850,-

e. Profit Margin (PM)

: 60,27 %

f. Break Even Point (BEP)

: 33,45 %

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

g. Return on Investment (ROI)

: 24,48 %

h. Pay Out Time (POT)

: 4,08 tahun

i. Return on Network (RON)

: 40,80 %

j. Internal Rate of Return (IRR) : 33,43%


Dari hasil analisa aspek ekonomi, maka dapat disimpulkan bahwa Praperancangan pabrik pemurnian metil ester hasil transesterifikasi menjadi biodiesel
sawit berkapasitas 17.500 ton/tahun layak untuk didirikan.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.

INTISARI

iii

DAFTAR ISI...

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR GAMBAR..

xi

BAB I

PENDAHULUAN...........................................................................

I-1

1.1

Latar Belakang..................................................................................

I-1

1.2

Perumusan Masalah...........................................................................

I-2

1.3

Tujuan Perancangan Pabrik...............................................................

I-2

1.4

Manfaat Perancangan........................................................................

I-2

TINJAUAN PUSTAKA DAN DESKRIPSI PROSES.....................

II-1

2.1

Biodiesel............................................................................................

II-1

2.2

Proses Pembuatan Metil ester...........................................................

II-3

2.2.1 Pirolisis.............................................................................................

II-4

2.2.2 Transesterifikasi...............................................................................

II-5

2.2.3 Pengendalian Reaksi Balik Transesterifikasi...................................

II-6

BAB II

2.3

Biodiesel............................................................................................

II-7

2.4

Bahan Baku Biodiesel Sawit.............................................................

II-8

2.5

Variabel Proses yang mempengaruhi produksi biodiesel.................. II-11

2.5.1 Katalis..............................................................................................

II-11

2.5.2 Suhu Reaksi...................................................................................... II-12


2.5.3 Pengadukan......................................................................................

II-12

2.5.4 Kandungan Asam Lemak Bebas ..................................................... II-12


2.6

Parameter Spesifik Kualiti Kontrol Biodiesel dari minyak nabati... II-12

2.6.1 Kandungan ester............................................................................... II-13


2.6.2 Gliserol Bebas.................................................................................. II-13
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

2.6.3 Mono-, Di-, dan Trigliserida ........................................................... II-13


2.6.4 Metanol...................................... .....................................................

II-14

2.6.5 Bilangan Iodin................................................................................... II-14


2.6.6 Bilangan Asam.................................................................................. II-14
2.7

Sifat-sifat Bahan................................................................................ II-15

2.8

Deskripsi Proses................................................................................ II-18

BAB III

NERACA MASSA..........................................................................

III-1

3.1

Tangki Pemisah (H-110).................................................................

III-1

3.2

Tangki Pencuci I (M-210)...............................................................

III-1

3.3

Tangki Pemisah I (H-212)...............................................................

III-2

3.4

Tangki Pencuci II (M-220)..............................................................

III-2

3.5

Tangki pemisah II (H-222)..............................................................

III-3

3.6

Tangki Pencuci III (M-230)............................................................

III-3

3.7

Tangki Pemisah III (H-232).............................................................

III-4

3.8

Vibrating Filter (VD-310)................................................................

III-4

3.9

Proses Filtrasi (P-410).....................................................................

III-5

BAB IV

NERACA PANAS...........................................................................

IV-1

4.1

Neraca Panas....................................................................................

IV-1

4.1.1 Vaccum Drier (VD-310)..................................................................

IV-2

4.1.2 Cooler (E-312)................................................................................

IV-2

BAB V

SPESIFIKASI ALAT........................................................................

V-1

5.1

Tangki Bahan Baku Metil Ester (F-111)...........................................

V-1

5.2

Tangki Penyimpanan Gliserol (F-113)............................................

V-1

5.3

Tangki Penyimpanan Air (F-214).....................................................

V-1

5.4

Dekanter-I (H-110)...........................................................................

V-2

5.5

Tangki Pencuci-I (M-210)................................................................

V-2

5.6

Dekanter-II (H-212).........................................................................

V-3

5.7

Tangki Pencuci-II (M-220)..............................................................

V-3

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

5.8

Dekanter-III (H-222)........................................................................

V-3

5.9

Tangki Pencuci -III (M-230)...........................................................

V-4

5.10

Dekanter-IV (H-232)....................................................................

V-4

5.11

Vacuum Dryer (VD-310).................................................................

V-5

5.12

Cooler (E-312)................................................................

V-5

5.13

Vibrating Filter (P-410....................................................................

V-5

5.14

Tangki Produk Biodiesel (F-411)......................................................

V-6

5.15

Pompa -1 (L-112)..............................................................................

V-6

5.16

Pompa -2 (L-114)..............................................................................

V-6

5.17

Pompa -3 (L-L-215)..........................................................................

V-7

5.18

Pompa -4 (L-211)..............................................................................

V-7

5.19

Pompa -5 (L-213)..............................................................................

V-7

5.20

Pompa -6 (L-221)..............................................................................

V-8

5.21

Pompa -7 (L-223)..............................................................................

V-8

5.22

Pompa -8 (L-231)..............................................................................

V-8

5.23

Pompa -9 (L-233)..............................................................................

V-9

5.24

Pompa -10 (L-234)...........................................................................

V-9

5.25

Pompa -11 (L-313)...........................................................................

V-9

BAB VI

INSTRUMENTASI DAN KESELAMATAN KERJA.................... VI-1

6.1

Instrumentasi....................................................................................

VI-1

6.2

Keselamatan Kerja Pabrik................................................................ VI-18

BAB VII

UTILITAS........................................................................................ VII-1

7.1

Kebutuhan Uap................................................................................. VII-1

7.2

Kebutuhan Air.................................................................................. VII-2

7.3

Pengolahan Air................................................................................. VII-3

7.4

Kebutuhan Bahan Kimia................................................................... VII-9

7.5

Kebutuhan Listrik............................................................................. VII-9

7.6

Kebutuhan Bahan Bakar.................................................................. VII-10

7.7

Unit Pengolahan Limbah.................................................................. VII-10

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

BAB VIII

LOKASI DAN TATA LETAK PABRIK......................................... VIII-1

8.1

Lokasi Pabrik.................................................................................... VIII-1

8.2

Tata Letak Pabrik............................................................................. VIII-3

8.3

Perincian Luas Tanah....................................................................... VIII-4

BAB IX

ORGANISASI DAN MANAJEMEN PERUSAHAAN..

IX-1

9.1

Organisasi Perusahaan..............................................

IX-1

9.2

Uraian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab ....

IX-3

9.3

Tenaga Kerja dan Jam Kerja....

IX-8

9.4

Sistem Penggajian............................................................................

IX-8

ANALISA EKONOMI.

X-1

10.1

Modal Investasi.

X-1

10.2

Biaya Produksi Total (BPT)..

X-3

10.3

Total Penjualan..

X-5

10.4

Perkiraan Rugi/Laba Usaha.......

X-5

10.5

Analisa Aspek Ekonomi....

X-5

KESIMPULAN

XI-1

BAB X

BAB XI

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN A

PERHITUNGAN NERACA MASSA.

LA-1

LAMPIRAN B

PERHITUNGAN NERACA PANAS.

LB-1

LAMPIRAN C

SPESIFIKASI ALAT

LC-1

LAMPIRAN D

SPESIFIKASI PERALATAN UTILITAS..

LD-1

LAMPIRAN E

PERHITUNGAN ANALISA EKONOMI..

LE-1

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

DAFTAR TABEL
Tabel 1.2

Perkiraan Konsumsi Biodiesel dan BBM Tiap tahun.........................

I-1

Tabel 2.1

Syarat utama biodiesel ester alkil.......................................................

II-2

Tabel 2.2

Sifat-sifat Metil Ester..........................................................................

II-3

Tabel 2.3

Sifat Fisika-Kimia Biodiesel dan Petrodiesel.....................................

II-4

Tabel 2.4

Kondisi Proses Transesterifikasi........................................................

II-5

Tabel 2.5

Komposisi Asam Lemak dari CPO, Olein, Stearin, PKO..................

II-10

Tabel 3.1

Neraca Massa di Tangki Pemisah (H-110).........................................

III-1

Tabel 3.2

Neraca Massa di Tangki Pencuci I (M-210).......................................

III-1

Tabel 3.3

Neraca Massa di Tangki Pemisah I (H-212)......................................

III-2

Tabel 3.4

Neraca Massa di Tangki Pencuci II (M-220).....................................

III-2

Tabel 3.5

Neraca Massa di Tangki Pemisah II (H-222).....................................

III-3

Tabel 3.6

Neraca Massa di Tangki Pencuci III (M-230)....................................

III-3

Tabel 3.7

Neraca Massa di Tangki Pemisah IV (H-232)....................................

III-4

Tabel 3.8

Neraca Massa di Vibrating Filter (P-410)..........................................

III-4

Tabel 4.1

Neraca Panas di Vacuum Dryer (VD-310).........................................

IV-2

Tabel 4.2

Neraca Panas di Cooler (E-312)........................................................

IV-2

Tabel 6.1

Daftar Penggunaan Instrumentasi pada Pra Rancangan


Pabrik Pemurnian Metil Ester.............................................................

VI-4

Tabel 7.1

Kebutuhan Uap pada Alat...................................

VII-1

Tabel 7.2

Kebutuhan Air Proses pada berbagai alat...........................................

VII-2

Tabel 7.3

Sifat Fisika air bawah tanah di KIM II Medan...................................

VII-3

Tabel 7.4

Kandungan Bahan Kimia air bawah tanah.........................................

VII-3

Tabel 8.1

Perincian Luas Tanah.......................................

VIII-4

Tabel 9.1

Jumlah Tenaga Kerja Beserta Tingkat Pendidikannya......

IX-8

Tabel 9.2

Jadwal Kerja Shift.

IX-10

Tabel 9.3

Gaji Karyawan........

IX-11

Tabel LB.1 Harga Cp Setiap Gugusan...............................................................

LB-2

Tabel LE.1 Harga Indeks Marshall dan Swift........

LE-2

Tabel LE.2 Estimasi Harga Peralatan Proses.........

LE-5

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tabel LE.3 Estimasi Harga Peralatan Utilitas........

LE-6

Tabel LE.4 Estimasi Harga Peralatan Dalam Negeri........

LE-7

Tabel LE.5 Perincian Harga Bangunan dan Sarana Lainnya......

LE-9

Tabel LE.6 Rincian Biaya Sarana Transportasi......

LE-10

Tabel LE.7 Perincian Gaji Pegawai Pabrik Pemurnian Metil Ester.....

LE-15

Tabel LE.8 Perincian Biaya Kas.........

LE-17

Tabel LE.9 Perincian Modal Kerja.........

LE-18

Tabel LE.10 Aturan Depresiasi UU RI No.17 Tahun 2000.....

LE-20

Tabel LE.11 Perhitungan Biaya Depresiasi UU RI No.17 Tahun 2000...

LE-19

Tabel LE.12 Data Hasil Perhitungan Internal Rate Of Return (IRR)...

LE-27

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1

Skema Reaksi Transesterifikasi Trigliserida dengan metanol......

II-7

Gambar 2.2

Mekanisme katalisa basa dalam Transesterifikasi........................ II-11

Gambar 6.1

Diagram Balok Sistem Pengendalian Feedback........................... VI-4

Gambar 6.2

Instrumen pada Pompa..... ........................................................... VI-5

Gambar 6.3

Instrumentasi pada Tangki............................................................ VI-6

Gambar 6.4

Instrumentasi pada Dekanter.......................................................... VI-6

Gambar 6.5

Instrumentasi pada Vaccum Drier ................................................ VI-7

Gambar 6.6

Instrumentasi pada Cooler............................................................. VI-7

Gambar 6.7

Tingkat Kerusakan Pada Suatu Pabrik........................................

Gambar 7.1

Proses Pengolahan Limbah......................................................... VII-13

VI-8

Gambar 8.1 Tata Letak Pra Rancangan Pabrik Pemurnian Metil Ester hasil
Transesterifikasi menjadi Biodiesel Sawit....................................... VIII-8
Gambar 9.1

Struktur Organisasi Pabrik Pemurnian Metil Ester..................... IX-13

Gambar LC.1 Ukuran Tangki..................................................................... LC-2


Gambar LE.1 Break Even Chart Pabrik Biodiesel. LE-27

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di tengah krisis bahan bakar saat ini, bermunculan berbagai pemikiran untuk
mengembangkan sumber energi alternatif, salah satunya adalah biodiesel. Biodiesel
merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak
diesel atau solar. Selain merupakan sumber energi alternatif, biodiesel juga
merupakan sumber energi yang dapat mengeliminasi emisi gas buang dan efek
rumah kaca (Hambali, 2006).
Komoditas perkebunan penghasil minyak nabati di Indonesia yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel cukup banyak, diantaranya minyak
kelapa sawit, minyak kelapa dan jarak pagar. Salah satu minyak nabati yang
digunakan sebagai bahan baku adalah minyak kelapa sawit atau yang lebih dikenal
dengan nama CPO (Crude Palm Oil). Produksi CPO di Indonesia mengalami
peningkatan setiap tahun. Sebagai produsen CPO terbesar yang kedua didunia,
Indonesia sangat potensial sebagai produsen biodiesel dengan memanfaatkan minyak
yang berbasis sawit.
Jumlah kebutuhan biodiesel akan sangat besar di dalam negri dan luar negri.
Direktorat Jendral Energi dan Sumber Daya Mineral, melaporkan perkiraan
konsumsi tiap tahun di Indonesia seperti pada tabel 1.1 dibawah ini.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tabel 1.2 Perkiraan Konsumsi Biodiesel dan BBM di Indonesia Tiap Tahun
BBM
No

Biodiesel

(juta kL)

Penggunaan
Biodiesel (%)

Keterangan

(juta kL)

Industri

20

1,2

PLN

12

20

2,4

Transportasi

26

0,52

44

42

4,12

Total Konsumsi
(Sumber : Irawan, G. 2006)

Dari tabel diatas, di Indonesia diperkirakan pemakaian solar per tahun 44 juta
kiloliter dengan total kebutuhan biodiesel secara nasional mencapai 4.120.000
kiloliter. Sementara kemampuan produksi biodiesel pada tahun 2006 baru 110.000
kiloliter/tahun. Pada 2007 baru akan ditingkatkan kapasitasnya sekitar 200.000
kiloliter/tahun sampai 400.000 kiloliter/tahun. (Irawan, G. 2006).
1.2. Perumusan Masalah
Melihat kelangkaan bahan bakar solar yang akhir akhir melanda Indonesia,
maka perlu di cari alternatif lain yang dapat diperbaharui (renewable) dan dapat
mengeliminasi emisi gas buang dan efek rumah kaca, dan bahan bakar yang
memenuhi kriteria itu ialah biodiesel walaupun harga yang dihasilkan biasanya
relatif lebih mahal ataupun hampir sama dari bahan bakar solar. Untuk itu diadakan
studi rancangan unit pemurnian metil ester menjadi biodiesel sawit.
1.3. Tujuan Rancangan
Tujuan rancangan unit pemurnian metil ester hasil transesterifikasi menjadi
biodiesel sawit adalah untuk mendapatkan hasil biodiesel yang murni dan dapat
memproduksi suatu sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui serta
mengaplikasikan ilmu teknik kimia yang meliputi neraca masa, neraca energi dan
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

operasi teknik kimia serta tidak ketinggalan pula aspek ekonomi dari pembuatan
biodiesel tersebut.

1.4. Manfaat Rancangan


Pembuatan biodiesel merupakan alternatif lain mengenai pemanfaatan CPO
(Crude Palm Oil) secara lain. Selain itu, pembuatan biodiesel

ini diupayakan

sebagai energi alternatif yang mana kelangkaan bahan bakar minyak saat ini melanda
Indonesia bahkan dunia.
Manfaat lain yang mungkin dicapai adalah terbukanya lapangan kerja dan
memacu rakyat untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan pada akhirnya akan
meningkatkan kesejahteraan mereka.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metil Ester


Metil ester asam lemak adalah senyawa yang berumus molekul Cn-1H2(n-1)COOCH3 dengan nilai n yang umum adalah angka genap diantara 8 sampai 24 dan nilai
r (jumlah ikatan rangkap) lazimnya 0, 1, 2, dan 3.
Pada awalnya metil ester dan turunannya dapat digunakan sebagai surfaktan
untuk bahan makanan dan non makanan. Beberapa industri hilir menggunakan metil
ester sebagai bahan kosmetika, deterjen, sabun mandi, farmasi, plastik dan barang
jadi karet. Namun dalam dua dekade terakhir, metil ester banyak direkomendasikan
sebagai komponen minyak diesel alternatif atau yang lebih dikenal dengan nama
biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat
menyerupai minyak diesel/solar. Secara kimia biodiesel termasuk dalam golongan
monoalkil ester atau metil ester dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 20
yang mengandung oksigen.
Biodiesel mempunyai sifat fisika dan kimia yang sama dengan petroleum diesel
sehingga dapat digunakan langsung pada mesin diesel atau dicampur dengan
petroleum diesel. Walaupun kandungan kalori biodiesel serupa dengan petroleum
diesel, tetapi karena biodiesel mengandung oksigen, maka flash pointnya lebih tinggi
sehingga tidak mudah terbakar. Disamping itu biodiesel tidak mengandung sulfur
dan senyawa benzene yang karsinogenik sehingga biodiesel merupakan bahan bakar
yang lebih bersih dan lebih mudah ditangani dari pada petroleum diesel.
Kelebihan biodiesel bila dibandingkan dengan petroleum diesel antara lain :
Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi
yang jauh lebih baik (free sulfur dan smoke number rendah).
Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan yang terbarukan.
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Biodiesel lebih aman dan tingkat toksisitasnya 10 kali lebih rendah


dibandingkan dengan petroleum diesel. Biodiesel tidak menambah efek rumah
kaca seperti halnya petroleum diesel karena emisi yang dihasilkan dapat terurai
secara alamiah (biodegradable).
Mereduksi polusi tanah serta melindungi kelestarian perairan dan sumber air
minum.
Syarat utama biodiesel menurut Badan Standarisasi Nasional adalah :
Tabel 2.1 Syarat utama biodiesel ester alkil
NO

PARAMETER

SATUAN

NILAI

Massa jenis pada 40oC

Kg/m3

850-890

Viskositas kinematik pada 40oC

Mm2/s(cSt)

2,3-6,0

Angka setana

Titik nyala (mangkok tertutup)

Min. 100

Titik kabut

Maks.18

Min. 51
C
C

Korosi lempeng tembaga (3 jam

Maks. No 3

pada 50oC
Residu karbon

dalam contoh asli, atau


-

%-massa

dalam 10% ampas

Maks.0,05
Maks. 0,30

distilasi
8

Air dan sendimen

%-Volume

Maks.0,05

Temperatur distilasi 90%

Maks.360

10

Abu tersulfatkan

%-massa

Maks. 0,02

11

Belerang

ppm-m (mg/kg)

Maks.100

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

12

Fosfor

ppm-m (mg/kg)

Maks. 10

13

Angka asam

Mg-KOH/g

Maks. 0,8

14

Gliserol bebas

%-massa

Maks.0,02

15

Gliserol total

%-massa

Maks. 0,24

16

Kadar ester alkil

%-massa

Min.96,5

17

Angka iodium

18

Uji Halpen

%-massa (gI2/100g)

Maks. 115

Negatif

(Sumber : Badan Standarisasi Nasional, 2006)


Sedangkan sifat-sifat metil ester dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.2 Sifat-sifat metil ester
PARAMETER

NILAI

Titik didih

> 200o

Titik nyala

100oC

Titik embun

-11 16oC

Densitas pada 25oC

0,885 gr/ml

Viskositas pada 20oC

7,5 Cp

Spesifik gravity

0,87-0,89

Angka asam

0,7-1 mg KOH/gr

(Sumber : Perry, 1999)


2.2 Proses Pembuatan Metil Ester
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Biodiesel sawit secara kimia didefenisikan sebagai metil ester turunan


minyak nabati dengan rantai C antara 12-20. biodiesel memiliki kesamaan sifat fisika
dan kimia dengan minyak diesel baik secara murni biodiesel atau dalam bentuk
campuran dengan petrodiesel.
Saat ini pengembangan produk biodiesel lebih diarahkan pada bentuk metil
ester dari minyak nabati. Dalam bentuk metil ester maka berat molekul, titik beku,
titik didih, dan viskositas minyak akan menjadi lebih rendah. Teknologi produksi
yang intensif dikembangkan adalah proses transesterifikasi antara minyak nabati
dengan alkohol. Disamping produksi biodiesel, proses ini juga menghasilkan
senyawa gliserin (12%) yang merupakan produksi samping yang bernilai ekonomi
tinggi.
Tabel 2.3 Sifat Fisika-Kimia Biodiesel dan Petrodiesel
No

Sifat Fisika-Kimia

Biodiesel

Petrodiesel

Komposisi

Metil ester asam lemak

Hidrokarbon

Densitas, g/ml

0,8624

0,8750

Viskositas, cSt

5,55

4,0

Flash Point, oC

172

98

Bilangan Setana

62,4

53

Engine Power, BTU

128.000

130.000

Engine Torque

sama

Sama

Lubrikasi

Lebih tinggi

Lebih rendah

Lebih rendah CO2, total

Lebih tinggi CO2,

Hidrokarbon, SO2 dan

total Hidrokarbon,

NOX

SO2 dan NOX

Penyimpanan

Tidak mudah terbakar

Lebih mudah
terbakar

Sifat

Terbarukan

Tidak terbarukan

9
Emisivitas

10
11

(Sumber : Pakpahan, 2001)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Biodiesel dapat diproduksi dengan beberapa proses antara lain (Mittelbach, 2004) :

Pirolisis

Transesterifikasi

Adapun uraian prosesnya adalah sebagai berikut :


2.2.1 Pirolisis
Pirolisis merupakan reaksi dekomposisi termal yang berlangsung tanpa
adanya oksigen. Pirolisis minyak nabati biasanya menggunakan katalis garam logam.
Proses ini disebutkan dapat menghasilkan biodiesel dengan nilai setana yang tinggi,
namun dengan standar baku mutu biodiesel yang semakin ketat, viskositas biodiesel
yang dihasilkan dengan pirolisis dilaporkan sangat tinggi (Mittelbach, 2004) dan
karakteristik titik tuang yang rendah.
2.2.2 Transesterifikasi
Proses transesterifikasi merupakan proses pembuatan biodiesel yang paling
banyak dikembangkan. Tahapan reaksi transesterifikasi gliserida dengan matanol
berlangsung dengan skema berikut :

CH 2-O-COR1

CH- O- COR2

CH2 -O- COR1

+ CH3 OH

CH2-O- COR3
Trigliserida

CH-O- COR2

+ R3 - COOCH3

CH2 -OH
Metanol

Digliserida

Metil ester

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

CH2- O - COR1

CH2 -O- COR1

CH-O- COR2 + CH3 OH

CH-OH

CH2 -OH
Digliserida

Metanol

CH2 -OH
Monogliserida

R2 - COOCH3

Metil ester

Tabel 2.4 Kondisi proses Transesterifikasi


High Pressure Transesterification

Low Pressure
Transesterification

Tekanan

Sampai 90 bar

Sampai 10 bar

suhu

Sampai 250oC

Sampai 100oC

Alkali (homogen)
Katalis

Asam (homogen)
Oksida (heterogen)

( Sumber : Ahn, dkk (1995) dan Auld, dkk (1995))


Proses transesterifikasi pada suhu dan tekanan tinggi dengan katalis asam
memiliki konversi yang tinggi dan sangat cocok untuk bahan baku minyak nabati
yang mengandung asam lemak bebas tinggi, namun proses ini memerlukan biaya
produksi yang tinggi.
Proses transesterifikasi pada suhu dan tekanan rendah (60oC-80oC) dan 10
bar) merupakan proses produksi biodiesel yang paling digunakan. Katalis alkali
merupakan katalis yang paling cocok digunakan untuk proses ini.
Transesterifikasi dengan menggunakan supercritical methanol pada 350oC
dan 43 MPa (Kusdiana dan Saka, 2004) merupakan alternatif memperpendek
rangkaian proses esterifikasi-transesterifkasi minyak sawit mentah, disebutkan
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

temperatur dan tekanan reaksi yang tinggi tanpa katalis dapat menghasilkan metil
ester dan gliserol tanpa memerlukan proses pemurnian, dan asam lemak bebas yang
terdapat dalam kandungan minyak juga terkonversi menjadi metil ester.
Pengendalian transesterifikasi dipertahankan tetap berlangsung kekanan untuk
meningkatkan produk biodiesel. Reaksi dikendalikan dengan menggunakan alkohol
berlebih

dan

memisahkan

hasil

samping

CH2-O-COR1

CH-OH

gliserol

yang

terbentuk.

CH2-OH

+ 3CH3OH

CH-OH

+ R1-COOCH3

CH2-OH

CH2-OH
Metanol

Monogliserida

Metil Ester

Gliserol

Reaksi menyeluruh :

CH2-OH

CH2-O-COR1

CH-O-COR2

CH-OH

3CH3OH

3 R1-COOCH3

CH2-OH

CH2-O-COR3
Trigliserida

Metanol

Metil Ester

Gliserol

Gambar 2.1 Skema Reaksi Transesterifikasi Trigliserida dengan metanol


Proses ini adalah reaksi gliserida dengan alkohol. Reaksi ini menghasilkan
metil ester dan gliserol dengan menggunakan katalis asam atau basa. Reaksi
transesterifikasi merupakan reaksi yang dapat balik (reversible) sehingga
pengendalian

terhadap

jalannya

reaksi

adalah

sangat

penting.

Produksi

transesterifikasi ini adalah gliserol (12%) sebagai hasil samping.


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Produksi biodiesel dengan proses transesterifikasi dapat diaplikasikan langsung


pada minyak sawit

mentah maupun minyak sawit

yang sudah terolah.

Transesterifikasi yang menggunakan bahan baku minyak sawit mentah dengan kadar
asam lemak bebas tinggi memerlukan dua tahapan proses yaitu esterifikasi dengan
menggunakan katalis asam, kemudian gliserida yang sudah netral ditransesterifikasi
dengan katalis basa.
2.3 Biodiesel
Pada prinsipnya biodiesel diproduksi melalui reaksi transesterifikasi antara
trigliserida dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis
basa, sehingga biodiesel secara ilmiah dikenal dengan metil ester.
Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun
dan dibuat dari minyak nabati. Secara kimia biodiesel termasuk dalam golongan
mono alkil ester atau metil ester dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 20.
hal ini yang membedakannya dengan petroleum diesel yang komponen utamanya
adalah hidrokarbon (Darnoko, 2003).
Biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang serupa dengan petroleum
diesel sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan
petroleum diesel. Walaupun kandungan kalori biodiesel serupa dengan petroleum
diesel, tetapi karena biodiesel mengandung oksigen, maka flash point nya lebih
tinggi sehingga tidak mudah terbakar. Disamping itu, biodiesel tidak mengandung
sulfur dan senyawa benzene yang karsinogenik sehingga biodiesel merupakan bahan
bakar yang lebih bersih dan lebih mudah ditangani dibandingkan dengan petroleum
diesel (Darnoko, 2003).
Kelebihan biodiesel bila dibandingkan dengan petroleum diesel, antara lain :
a. Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang
jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah), sesuai dengan isu-isu global
(Didiek, 2004).

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

b. Cetane number lebih tinggi (51-62) dibandingkan dengan petroleum diesel (42)
sehingga menghasilkan suara mesin yang lebih halus (Darnoko, 2003).
c. Energi yang dihasilkan oleh biodiesel serupa dengan petroleum diesel (128.000
BTU vs 130.000 BTU), sehingga engine torque dan tenaga kuda yang dihasilkan
juga sama (Darno, 2003).
d. Menghasilkan tingkat pelumasan mesin yang lebih tinggi dibandingkan
petroleum diesel (Darnoko, 2003).
e. Pada dasarnya tidak perlu ada modifikasi mesin diesel apabila bahan bakarnya
menggunakan biodiesel (Darnoko, 2003).
f. Biodiesel tidak menghasilkan uap yang berbahaya pada suhu kamar dan dapat
disimpan pada tangki yang sama dengan petroleum diesel (Darnoko, 2003).
g. Biodiesel dibuat dari bahan terbarukan (renewable) sehingga dapat mengurangi
impor dan penggunaan bahan bakar minyak bumi (Darnoko, 2003).
h. Biodiesel dapat mengurangi emisi karbon monoksida, hidroksida total, partikel,
dan sulfur dioksida (Darnoko, 2003).

2.4 Bahan Baku Biodiesel Sawit


Ide penggunaan minyak nabati sebagai pengganti untuk bahan bakar diesel
telah dipertunjukan oleh seorang penemu mesin diesel, Rudolph Diesel, pada tahun
1900an. Sejak itu, penelitian di daerah ini dilanjutkan dengan berbagai bahan bakar
yang diturunkan dari lemak hewani dan lemak nabati (biofuel) yang telah diuji secara
luas sebagai bahan bakar alternatif (Foglia, 2000).
Untuk

mengatasi

masalah-masalah (viskositas tinggi dan

pengotoran

penyumbatan injector bahan bakar) yang berhubungan dengan penggunaan


trigliserida secara utuh sebagai bahan bakar diesel, minyak atau lemak diubah
menjadi alkil ester yang sederhana (yang paling umum adalah metil ester atau etil
ester). Saat ini, biodiesel adalah istilah yang diterapkan untuk alkil ester asam lemak
(FAME = fatty acid metil ester) yang digunakan sebagai pengganti bahan bakar
diesel yang terbuat dari minyak bumi.
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Biodiesel sawit dapat dibuat dari hampir semua fraksi sawit seperti Crude Palm
Oil (CPO), Palm Kernel Oil (PKO), Refined Bleached and Deodorized Palm Oil
(RBDPO), dan Olein. Faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan
baku adalah kandungan asam lemak bebasnya dan harganya. Untuk minyak sawit
yang mengandung asam lemak bebas > 1% perlu dilakukan perlakuan pendahuluan
berupa penetralan atau penghilangan asam lemak (deasidifikasi). Proses ini dapat
dilakukan dengan penguapan, saponifikasi, atau esterifikasi asam dengan katalis
padat (Darnoko, 2003).
Adapun bahan baku berbasis CPO yang berpeluang menjadi bahan baku
biodiesel adalah sebagai berikut :
1. CPO off grade/minyak kotor, dengan kadar FFA 5-20%
2. CPO parit, dengan kadar FFA 20-70%
3. Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), dengan kadar FFA > 70%
4. Minyak goreng bekas
5. Stearin dan crude stearine
Disamping CPO masih ada lebih dari 40 jenis minyak nabati yang potensial
sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia, misalnya minyak jarak pagar, minyak
kelapa, minyak kedelai, minyak kapok, sehingga pengembangan biodiesel dapat
disesuaikan oleh potensi alam setempat (Darnoko, 2003).
Berikut ini adalah beberapa komposisi asam lemak dari minyak sawit, fraksi
olein, dan fraksi stearin dari minyak sawit serta minyak inti sawit pada table 2.1
berikut.
Tabel 2.5 Komposisi Asam Lemak dari CPO, Olein, stearin, dan PKO
Jenis Asam Lemak

CPO

Olein

Stearin

PKO

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Asam Lenak jenuh


C6 : 0

0-0,8

C8 : 0

2,4-6,2

C10 : 0

2,6-5,0

C12 : 0

0-0,4

0,1-0,5

0,1-0,4

41,0-55,0

C14 : 0

0,6-1,7

0,9-1,4

1,1-1,8

14,0-18,0

C16 : 0

41,1-47,0

38,5-41,7

50,0-73,8

6,5-10,0

C18 : 0

3,7-5,6

4,0-4,7

4,4-5,6

1,3-3,0

C20 : 0

0-0,8

0,2-0,6

0,3-0,6

0-0,6

0,1-0,3

<0,05-0,1

38,2-43,5

40,7-43,9

15,6-33,9

12,0-19,0

6,6-11,9

10,4-13,4

3,2-8,5

1,0-3,5

0-0,5

0,1-0,6

0,1-0,5

Asam lemak tak jenuh


tunggal
C16 : 1
C18 : 1
Asam lemak tak jenuh
ganda
C18 : 2
C18 : 3

(Sumber : Darnoko, 2003)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

2.5 Variabel Proses yang mepengaruhi produksi biodiesel dengan proses


transesterifikasi
2.5.1 Katalis
Transesterifikasi berlangsung dengan menggunakan katalis asam atau basa.
Katalis basa merupakan katalis yang paling banyak digunakan dalam proses
transesterifikasi dibanding katalis asam.
Freedman dkk (1984) melaporkan penggunaan katalis basa NaOH 1% (berat)
rasio molar minyak kedelai terhadap metanol 1:6 menghasilkan konversi biodiesel
93-98% sedangkan penggunaan katalis H2SO4 1% (berat) menghasilkan konversi 5560%.

Pengaruh

jenis

katalis

ini

juga

mempengaruhi

kecepatan

reaksi

transesterifikasi. Freedman dkk (1984) menyebutkan katalis basa NaOBu (natrium


butoksi) sudah mencapai konversi 78-80% biodiesel pada 2 menit pertama,
sedangkan katalis asam relatif sangat lambat, konversi yang dicapai hanya mencapai
15-20% pada 25 menit pertama reaksi.
Senyawa alkoksida yaitu senyawa campuran alkohol dengan katalis logam basa
jauh lebih reaktif dalam menyerang rantai karbonil karbon gliserida dibanding
senyawa campuran katalis asam dan alkohol. Inisiasi nukleofilik ini menghasilkan
senyawa intermediet tetrahedral.
Mekanisme transesterifikasi menggunakan katalis basa adalah sebagai berikut :

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

R1

OR2

R1

OCH3

OR2

OCH3
O

R1

OR2

R1

OCH3

OR2

OCH3

OR2

CH3OH

R2OH

OCH3

Gambar 2.2 Mekanisme katalisa basa dalam Transesterifikasi Trigliserida dengan


metanol (dikutip dari Mittelbach, 2004)
2.5.2 Suhu Reaksi
Suhu reaksi mempengaruhi kecepatan pembentukan biodiesel pada reaksi
transesterifikasi. Freedman dkk (1984) mengemukakan setelah 0,1 jam reaksi suhu
reaksi 32, 45 dan 60 C memberikan konversi biodiesel 64, 87 dan 94% kelarutan
gliserida dalam alkohol (Noureddini dan Zhu, 1997) meningkat seiring dengan
pertambahan suhu, sehingga meningkatkan homogenasi fasa reaksi yang dapat
menggiatkan perpindahan massa.
2.5.3 Pengadukan
Homogenasi antara gliserida dan alkohol merupakan masalah yang sangat
perlu diperhatikan pada reaksi transesterifikasi, pada kenyataannya alkohol
merupakan pelarut yang sangat buruk untuk gliserida (Mittelbach, 2004) sehingga
reaksi transesterifikasi tidak berlangsung baik terutama pada awal reaksi.
Pengadukan (virgous mixing) dilaporkan sebagai salah satu cara untuk mencapai
homogenasi antara gliserida dan alkohol.
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Sifat immisicible antara gliserida dan alkohol sangat tidak menguntungkan


pada proses perpindahan massa antara komponen alkohol dan gliserida. Besar
pengadukan dengan nilai 3100, 6200 dan 12.400 pada variasi suhu 50, 60 dan 70
C memberikan konversi pembentukan biodiesel 80-90% pada akhir reaksi
(Noureddini dan Zhu, 1997). Pengaruh pengadukan terutama pada awal reaksi
transesterifikasi, unutk = 3100 pembentukan biodiesel berjalan lambat hanya
mencapai 5-10% untuk 5 menit pertama, peningkatan bilangan menghasilkan
peningkatan pembentukan biodiesel. Turbulensi mempengaruhi homogenitas fasa
minyak dan alkohol yang mempercepat perpindahan massa.
2.5.4 Kandungan Asam Lemak Bebas
Jumlah

kandungan

asam

lemak

bebas

hanya

berpengaruh

pada

transesterifikasi yang memakai bahan baku minyak sawit yang sudah terolah dan
memakai katalis logam basa. Kadar asam lemak bebas
1% akan menimbulkan
reaksi samping pada transesterifikasi, yaitu reaksi penyabunan.
Asam lemak bebas lebih reaktif bereaksi dengan katalis basa menghasilkan
sabun dibandingkan trigliserida dan rekasi berlangsung secara nonreversible (Yurcel
dan Turkay, 2003). Reaksi asam lemak bebas dengan katalis logam basa
menghasilkan reaksi safonifikasi. Hal ini akan memberikan masalah baru pada tahap
pemurnian biodiesel, dimana gliserol akan sulit dipisahkan dari biodiesel hasil reaksi
safonifikasi menghasilkan sabun yang dapat mengemulsi campuran biodiesel dan
gliserol.
2.6 Parameter Spesifik Kualitas Kontrol Biodiesel dari Minyak Nabati
Secara kimia, biodiesel termasuk dalam golongan mono alkyl atau metil ester
dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 20.
Komisi di negara-negara Eropa dalam konferensi biodiesel untuk standarisasi
baku mutu biodiesel di Austria telah menetapkan beberapa Negara pengguna bahan
baker biodesel.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

2.6.1 Kandungan ester


Kandungan sam lemak ester dalam biodisel minimum 96,5% (Mol/mol).
Kandungan ester dalam biodisel sangat mempengaruhi dasar bilangan setana.
Bilangan setana menunjukkan kemampuan minyak diesel terbakar secara mandiri
dalam ruang bakar mesin diesel. Bilangan setana yang relatif tinggi mempersingkat
waktu yang diperlukan minyak diesel untuk menyala.
2.6.2 Gliserol Bebas
Kandungan gliserol bebas yang diperbolehkan maksimum 0,02% (Mol/mol).
Jumlah gliserol bebas dalam kandungan biodiesel merupakan parameter bagi
keberhasilan

purivikasi

biodiesel.

Gliserol

dalam

biodiesel

dalam proses

penyimpanan dapat menyerang senyawa polar seperti air, monogliserida, sabun yang
dapat mnenyebabkan korosi non ferrous pada logam terutama logam tembaga,
kromum, seng. Gliserol juga dapat menyebabkan kangker deposit pada saringa bahan
baker yang dapat meningkatkan emisi aldehit.
2.6.3 Mono-, Di-, Dan Trigelerida Dan Ttal Gliserol
Kandungan Mono-. D-, Dan Trigeliserida yang diperoleh 0,80%, 0,20%
(mol/mol) dan total gliserol maksimum 0,25% (mol/mol). Total gliserol disini
adalah jumlah total gliserol yang terikat pada mono, Di, dan trigliserida. Biodiesel
yang memiliki kandungan mono, Di, Trigliserida lebih dari baku mutu dapat
menyebabkan coking dan pembentukan deposit pada injector nozzle, piston dan
katup pada mesin.
2.6.4 Metanol
Kandungan methanol dalam biodiesel maksimum 0,20% (mol/mol).
Methanol sisa dalam biodiesel dipisahkan dengan menggunakan kolom destilasi atau
dengan melakukan pengulangan dalam pencucian produk biodiesel. Kandungan
methanol sangat mempengaruhi keselamatan dalam proses penyimpanan dan proses
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

distribusi biodiesel, parameter ini berhubungan dengan flash point biodiesel


(Mittelbach, 2004)
2.6.5 Bilangan Iodin
Besar bilangan iodin adalah 120 (g I 2/100 g). bilangan iodin menunjukkan
total ikatan tidak jenuh di dalam senyawa asam lemak. Biodiesel dengan kandungan
bilangan iodin yang tinggi akan mengakibatkan tendensi polimerisasi dan
pembentukan deposit pada injector, nozzle dan cincin piston pada saat mulai
pembakaran. Senyawa tidak jenuh juga dapat menurunkan stabilitas biodiesel
terhadap oksidasi yang dapat menurunkan kualitas lubrikasi.
2.6.6 Bilangan Asam
Maksimum bilangan asam yang diperbolehkan adalah 0 ,5 mg KOH/g asam
lemak. Bilangan asam menunjukkan jumlah asam mineral dan asam lemak bebas
dalam biodiesel. Kandungan asam lemak bebas yang tinggi dapat menjadi
katalisator. Terjadinya reaksi hidrolitik secara autokatalitik yang memecahkan ikatan
ester, korosi dan deposit pada mesin.
2.7 Sifat-sifat Bahan
2.7.1 Metil Ester
1. Wujud

: Cairan kental kekuningan

2. Titik nyala

: 185oC (1 atm)

3. Titik didih

: 273oC (1 atm)

4. Titik beku

: -2oC (1 atm)

5. Titik tuang

: -20oC (1 atm)

6. Kandungan Sulfur

: 0,012% berat

7. Kandungan nitrogen : 7 ppm


8. Panas pembakaran

: -17500 Btu/lb, -40510 Kj/Kg

9. Spesifik Gravity

: 0,876 gr/ml

10. Bilangan Iodine

: 100-120 g/100g

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

11. Kandungan abu

: 0,01% massa

12. Bilangan Setana

: 59,7

( www.nist.com )

2.7.2 Refined Bleached and Deodorized Palm Olein (RBDPO)


1. Asam lemak bebas

: 0,2% Max

2. Kelembaban

: 0,15%Max

3. Nilai peroksida

: 1,5 Meg/Kg Max

4. Berwarna putih
5. Pada temperatur kamar berwujud padat
( Duta Nusantara & Subsidiaries, 2002 )
2.7.3 Air (H2O)
1. Merupakan cairan yang tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau
2. Merupakan elektrolit lemah dan dapat terionisasi menjadi H3O+ dan OH+
3. Berat Molekul

: 18,016 gr/mol

4. Titik nyala

: 0oC

5. Viscositas

: 0,01002 cp

6. Densitas

: 1 gr/ml

7. Panas Spesifik

: 1 kal/gr

8. Tekanan uap

: 760 mmHg

9. Tegangan permukaan : 73 dyne/cm


10. Panas Laten

: 80 kal/gr

11. Indeks bias

: 1,333

12. Mempunyai kemampuan katalitik tertentu, terutama pada oksidasi logam


( Orthmer, 1987 )
2.7.4 Potassium Hidroksida (KOH)
1. Berat Molekul

: 56,1 gr/mol

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

2. Spesifik Gravity

: 2,044 gr/ml

3. Titik Lebur

: 38oC (1 atm)

4. Titik Didih

: 1320oC (1 atm)

5. Kelarutan dalam air Dingin

: 97 cc (0oC)

6. Kelarutan dalam air panas

: 178 cc (100oC)

7. Tidak berwarna
8. larut dalam air
9. Larut dalam alkohol dan metil ester
10. Mampu menyerap CO2 dari udara
11. Dapat digunakan sebagai regensia
12. Tidak larut dalam NH3
( Orthmer, 1987 )
2.7.5 Metanol (CH3OH)
1. Warna

: Bening

2. Densitas dD20

: 0,7893

3. Titik beku

: -114,1 oC ( 1 atm )

4. Titik didih

: 78,32 oC ( 1 atm )

5. Temperatur kritis

: 243,1 oC ( 1 atm )

6. Tekanan kritis

: 63 atm

7. Volum kritis

: 0,167 lt/mol

8. Viskositas ( 20 oC )

: 1,17 cp

9. Indeks Bias nD20

: 1,36143

10. Panas penguapan

: 200,6 kal/gr

11. Titik nyala

: 70oF

12. Kapasitas panas cairan : Cp = 0,54247 + 1314 x 10-6t + 485 x 10-8 t2


13. Merupakan cairan yang mudah menguap
14. Mudah terbakar
15. Merupakan hasil sintesis kimia dan fermentasi atau proses biosintetik
16. Bereaksi dengan asam sulfat pekat dan alkil halide
( Orthmer, 1987 )
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

2.7.6 Gliserol
1. Titik beku

: 18,17 oC

2. Titik didih

: 147,9 oC

3. Densitas
4. Indeks Bias nD

: 1,2582 gr/ml
20

5. Tekanan uap

: 1,47399 ( gliserol 100% )


: 0,0025 mmHg ( 50oC )
0,195 mmHg ( 100oC )
46,0 mmHg ( 200oC )

6. Viskositas

: 1499 cp ( 20oC )

7. Kapasitas panas

: 0,5795 kal/gr ( 20oC )

8. Panas penguapan

: 21,060 kal/mol ( 55oC )

9. Panas pembentukan

: 159,60 kkal/grmol

10. Konduktivitas panas : 0,00068kal/cm2 oC


11. Titik nyala

: 177oC ( 1 atm )

12. Titik api

: 204oC

13. Larut sempurna dalam air dan alkohol


14. Sedikit larut dalam eter, etil asetat, dioxine, tidak dapat larut dalam
hidrokarbon
( www.nist.com )

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

BAB III
NERACA MASSA

Kapasitas produksi

: 50 ton/hari

Basis Perhitungan

: 1 jam operasi

Satuan operasi

: kg/jam

3.1 Tangki Pemisah (H-110)


Tabel 3.1 Neraca Massa pada tangki pemisah (H-110)
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 1

Metil Ester

2
3

Alur 2

Alur 3

3211,245

3211,245

Metanol

414,166

82,834

331,332

Trigliserida

132,499

26,5

105,999

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Gliserol

364,583

72,917

291,666

KOH

32,499

6,5

25,999

Sabun

4,999

3,999

Air

6,666

1,333

5,333

Jumlah

4166,66

191,084

3975,573

Jumlah

4166,66

4166,66

3.2 Tangki Pencuci I (M-210)


Tabel 3.2 Neraca Massa pada tangki pencuci I (M-210)
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 3

Metil Ester

Alur 4

Alur 5

3211,245

3211,245

Metanol

331,332

331,332

Trigliserida

105,999

105,999

Gliserol

291,666

291,666

KOH

25,999

25,999

Sabun

3,999

3,999

Air

5,333

1192,672

1198.005

3975,573

1192,672

5168,245

Jumlah

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Jumlah

5168,245

5168,245

3.3 Tangki Pemisah I (H-212)


Tabel 3.3 Neraca Massa pada tangki pemisah I (H-212)
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 5

Metil Ester

Alur 6

Alur 7

3211,245

3211,245

Metanol

331,332

298,199

33,133

Trigliserida

105,999

95,4

10,599

Gliserol

291,666

262,499

29,167

KOH

25,999

23,4

2,599

Sabun

3,999

3,6

0,399

Air

1198.005

1078,204

119,801

5168,245

1761,302

3406,943

Jumlah
Jumlah

5168,245

5168,245

3.4 Tangki Pencuci II (M-220)


Tabel 3.4 Neraca Massa pada tangki pencuci II (M-220)
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 7

Alur 8

Alur 9

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Metil Ester

3211,245

3211,245

Metanol

33,133

33,133

Trigliserida

10,599

10,599

Gliserol

29,167

29,167

KOH

2,599

2,599

Sabun

0,399

0,399

Air

119,801

1022,083

1141,884

Jumlah

3406,943 1022,083

Jumlah

4429,026

4429,026
4429,026

3.5 Tangki Pemisah II (H-222)


Tabel 3.5 Neraca Massa pada tangki pemisah II (H-222)
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 9

Metil Ester

Alur 10

Alur 11

3211,245

3211,245

Metanol

33,133

29,82

3,313

Trigliserida

10,599

9,54

1,059

Gliserol

29,167

26,25

2,917

KOH

2,599

2,34

0,259

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Sabun

Air

0,399

0,36

0,039

1141,884

1027,696

114,188

Jumlah

4429,026

Jumlah

4429,026

1096,006

3333,02

4429,026

3.6 Tangki Pencuci III (M-230)


Tabel 3.6 Neraca Massa pada tangki pencuci III (M-230)
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 11

Metil Ester

Alur 12

Alur 13

3211,245

3211,245

Metanol

3,313

3,313

Trigliserida

1,059

1,059

Gliserol

2,917

2,917

KOH

0,259

0,259

Sabun

0,039

0,039

Air

114,188

999,906

1114,094

Jumlah
Jumlah

3333,02

999,906
4332,926

4332,926
4332,926

3.7 Tangki Pemisah III (H-232)


Tabel 3.5 Neraca Massa pada tangki pemisah III (H-232)
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 13

Metil Ester

Alur 14

Alur 15

3211,245

3211,245

Metanol

3,313

3,313

Trigliserida

1,059

1,059

Gliserol

2,917

2,917

KOH

0,259

0,259

Sabun

0,039

0,039

Air

1114,094

1081,981

32,113

Jumlah

4332,926

Jumlah

4332,926

1089,568

3243,358

4332,926

3.8 Vacum Drier (VD-310)


Tabel 3.6 Neraca Massa pada Vaccum Drier (VD-310)
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 15

Metil Ester

Air
Jumlah

Alur 16

Alur 17

3211,245

3211,245

32,113

31,792

0,321

3243,358

31,792

3211,566

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Jumlah

3243,358

3243,358

3.9 Proses Filtrasi (P-410)


Tabel 3.7 Neraca Massa pada Filtrasi (P-410)
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 18

Biodiesel

Air

Zat-zat pengotor
Jumlah
Jumlah

Alur 19

Alur 20

3211,245

3208,034

0,321

0,321

3,211

3211,566
3211,566

3,211

3208,355
3211,566

BAB IV
NERACA PANAS

4.1

NERACA PANAS

Basis perhitungan

: 1 jam operasi

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Satuan operasi

: kJ/jam

Temperatur referensi : 25oC = 298 K

Perhitungan neraca panas ini menggunakan rumus-rumus perhitungan dan


data-data sebagai berikut :

Perhitungan Panas Bahan Masuk (Qin) dan keluar (Qout)

Q = mi . Cp i . dT ......................(4-1)

BP
Q = Fi Cp l i dT + H vl +
298

Cp
dT
.................(4-2)
g
i
BP

Keterangan : Persamaan (2) di atas merupakan perhitungan panas bahan yang disertai
perubahan fasa (phase transition) (Reklaitis,1983).
Dimana :
Q

: Jumlah panas (kJ/jam)

mi = Ni = Fi : Jumlah bahan yang masuk (kg/jam)


Cpi

: Kapasitas panas masuk (kJ/kg K)

Cpli

: Kapasitas panas cairan masuk (kJ/kg K)

Cpgi

: Kapasitas panas gas masuk (kJ/kg K)

dT

: Perubahan suhu (K)

H VL

: Panas Laten (kJ/kg)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

4.1.1 VACUUM DRYER (VD-310)


Tabel 4.1 Neraca Panas di Vacuum Dryer (VD-310)
IV-1
Masuk (kJ/jam)
Panas umpan

2553,111

Panas steam

101075,8

Panas produk

Keluar (kJ/jam)

103628,911
103628,911

103628,911

4.1.2 COOLER (E-312)


Tabel 4.2 Neraca Panas di Cooler (E-312)
Masuk (kJ/jam)
Panas umpan

22662,444

Panas produk

3021,6

Panas yang dilepas

Keluar (kJ/jam)

19640,844
22662,444

22662,444

BAB V
SPESIFIKASI ALAT

5.1 Tangki Bahan Baku Crude Metil Ester (F-111)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Fungsi

: Tempat menyimpan metil ester untuk keperluan proses


selama 30 hari.

Jenis

: Tangki penyimpan dengan tutup dan alas datar.

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas datar dan tutup ellipsoidal.

Bahan Konstruksi

: Carbon Steel, SA-285 grade C.

Jumlah

: 3 unit

Volume

: 4049,843 m3

Diameter tangki

: 5,052 m

Tinggi tangki

: 17,682 m

Tebal tangki

: 1 in

5.2 Tangki Penyimpanan Gliserol (F-113)


Fungsi

: Menampung produk gliserol kotor dari hasil tangki


pemisahan (H-110).

Bahan Konstruksi

: Carbon Steel, SA-285, Grade C

Bentuk

: Silinder tegak dengan tutup datar dan alas datar

Jumlah

: 3 unit

Volume

: 112,372 m3

Diameter tangki

: 3,168 m

Tinggi tangki

: 4,752 m

Tebal tangki

: 5/8 in

5.3 Tangki Penyimpanan Air (F-214)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Fungsi

:Menampung air dari utilitas yang akan dialirkan ke


tangki pencuci

5.4

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar.

Bahan

: stainlees, SA-240 Tipe 316.

Jumlah

: 3 unit

Volume tangki

: 1408,886 m3

Diameter tangki

: 7,361 m

Tinggi tangki

: 11,042 m

Tebal tangki

: 1 in

Dekanter-I (H-110)
Fungsi

: Memisahkan metil ester dari gliserol dan senyawa


lainnya berdasarkan densitasnya .

5.5

Bentuk

: Horizontal silinder

Bahan

: Carbon Steel, SA-285 Grade C

Jumlah

: 1 unit

Volume

: 5,829 m3

Diameter

: 1,594 m

Tinggi

: 2,391 m

Tebal

: in

Tangki Pencuci-I (M-210)


Fungsi

: Tempat tercampurnya metil ester hasil keluaran

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

dekanter dengan air.


Jenis

: Tangki pencampur berpengaduk marine propeller


tiga daun dengan tutup ellipsoidal.

5.6

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas datar dan tutup ellipsoidal

Bahan konstruksi

: Stainlees steel, SA-240 Tipe 304, 18 Cr-8Ni

Waktu tinggal

: 1 jam

Volum tangki

: 6,848 m3

Diameter tangki

: 1,736 m

Tinggi tangki

: 3,038 m

Tebal tangki

: 1/20 in

Daya pengaduk

: Hp

Dekanter-II (H-212)
Fungsi

: Memisahkan metil ester dari air pencuci dan


zat-zat sisa seperti gliserol dan senyawa lainya.

Bentuk

: Horizontal silinder

Bahan

: Carbon Steel, SA-285 Grade C

Jumlah

: 1 unit

Volume

: 24,588 m3

Diameter

: 2,575 m

Tinggi

: 3,863 m

Tebal

: in

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

5.7

Tangki Pencuci-II (M-220)


Fungsi

: Tempat tercampurnya metil ester hasil keluaran


dekanter dengan air.

Jenis

: Tangki pencampur berpengaduk marine propeller


tiga daun dengan tutup ellipsoidal.

5.8

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas datar dan tutup ellipsoidal

Bahan konstruksi

: Stainlees steel, SA-240 Tipe 304, 18 Cr-8Ni

Waktu tinggal

: 1 jam

Volum tangki

: 5,990 m3

Diameter tangki

: 1,661 m

Tinggi tangki

: 2,907 m

Tebal tangki

: 1/20 in

Daya pengaduk

: Hp

Dekanter-III (H-222)
Fungsi

: Memisahkan metil ester dari air pencuci dan


zat-zat sisa seperti gliserol dan senyawa lainya.

Bentuk

: Horizontal silinder

Bahan

: Carbon Steel, SA-285 Grade C

Jumlah

: 1 unit

Volume

: 33,161 m3

Diameter

: 2,846 m

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

5.9

Tinggi

: 4,269 m

Tebal

: in

Tangki Pencuci- III (M-230)


Fungsi

: Tempat tercampurnya metil ester hasil keluaran


dekanter dengan air.

Jenis

: Tangki pencampur berpengaduk marine propeller


tiga daun dengan tutup ellipsoidal.

5.10

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas datar dan tutup ellipsoidal

Bahan konstruksi

: Stainlees steel, SA-240 Tipe 304, 18 Cr-8Ni

Waktu tinggal

: 1 jam

Volum tangki

: 5,875 m3

Diameter tangki

: 1,649 m

Tinggi tangki

: 2,885 m

Tebal tangki

: 1/20 in

Daya pengaduk

: Hp

Dekanter-IV (H-232)
Fungsi

: Memisahkan metil ester dari air pencuci dan


zat-zat sisa seperti gliserol dan senyawa lainya.

Bentuk

: Horizontal silinder

Bahan

: Carbon Steel, SA-285 Grade C

Jumlah

: 1 unit

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

5.11

Volume

: 35,043 m3

Diameter

: 2,898 m

Tinggi

: 4,347 m

Tebal

: in

Vacuum Dryer (VD-310)


Fungsi

: Mengurangi kandungan air pada metil ester yang tidak dapat


dipisahkan di dekanter.

Bentuk : Silinder Tegak dengan tutup atas dan bawah ellipsoidal


Bahan

5.12

: High-tensile steel for heavy-wall, SA-302, Gr. B

Volume tangki

: 5,004 m3

Diameter tangki

: 1,515 m

Tinggi tangki

: 3,031 m

Tebal tangki

: 5/8 in

Cooler (HE 101)


Fungsi

: Menurunkan temperatur larutan yang keluar dari vacuum dryer


sebelum dimasukkan ke dalam Vibrating filter.

5.13

Jenis

: Double pipe exchanger

Dipakai

: 2 x 1 in IPS

Luas

: 24,287 ft2

Panjang

: 60 ft

Vibrating Filter (P-410)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Fungsi

: Memisahkan partikel-partikel pengotor dari metil ester

Bentuk

: Vibrating Filter

Bahan konstruksi

: ALL 316 Stainless Steel

Jumlah

: 1 unit

Kapasitas

: 3243,358 kg/jam

Kondisi operasi

: -Temperatur = 330C
-Tekanan

= 1 atm

Kondisi fisik :

5.14

- Laju alir bahan

: 38,49 l/min

- Tekanan

: 21 kg/cm2

- Bukaan filter

: 10 micron

- Berat

: 13,2 kg

Tangki Produk Biodiesel (F-411)


Fungsi

: Menampung produk biodiesel.

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar.

Bahan Konstruksi

: Carbon Steel, SA-285, Grade C

Jumlah

: 5 unit

Lama Penyimpanan : 15 hari


Volume tangki

: 1608,762 m3

Diameter tangki

: 6,489 m

Tinggi tangki

: 9,734 m

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tebal tangki
5.15

: 1 in

Pompa 1 (L-112)
Fungsi

: Mengalirkan bahan baku crude metil ester dari


penyimpanan (F-111) ke tangki pemisah (H-110).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik : 1,302.10-3 m3/s

5.16

Diameter pipa

: 0,044 m

Daya pompa

: Hp

Pompa 2 (L-114)
Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pemisahan (H-110)


ke tangki pencucian-I (M-210).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commersial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik : 1,245 x 10-3 m3/s

5.17

Diameter pipa

: 0,043 m

Daya pompa

: Hp

Pompa 3 (L-215)
Fungsi

: Mengalirkan air panas dari tangki penyimpanan air


(F-214) ke tangki pencucian-I (M-210)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik : 9,061.10-4 m3/s

5.18

Diameter pipa

: 0,038 m

Daya pompa

: Hp

Pompa 4 (L-211)
Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pencucian-I


(M-210) ke tangki pemisahan-I (H-212).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik : 1,585.10-3 m3/s

5.19

Diameter pipa

: 0,048 m

Daya pompa

: Hp

Pompa 5 (L-213)
Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pemisahan-I (H-212)


ke tangki pencucian-II (M-220).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik : 1,104.10-3 m3/s


Diameter pipa

: 0,041 m

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Daya pompa
5.20

: Hp

Pompa 6 (L-221)
Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pencuci-II (M-220)


ke tangki pemisahan-II (H-222).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik : 1,387.10-3 m3/s

5.21

Diameter pipa

: 0,046 m

Daya pompa

: Hp

Pompa 7 (L-223)
Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pemisahan-II


(H-222) ke tangki pencuci-III (M-230).

5.22

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik

: 1,076.10-3 m3/s

Diameter pipa

: 0,040 m

Daya pompa

: Hp

Pompa 8 (L-231)
Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pencuci-III (M-230)


ke tangki pemisahan-III (H-232).

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

5.23

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik

: 1,359.10-3 m3/s

Diameter pipa

: 0,045 m

Daya pompa

: Hp

Pompa 9 (L-233)
Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pemisah-III


(H-232) ke tangki Vaccum drier (VD-310).

5.24

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik

: 1,048.10-3 m3/s

Diameter pipa

: 0,040 m

Daya pompa

: Hp

Pompa 10 (L-234)
Fungsi

: Mengalirkan air buangan sisa pencucian yang mengandung


senyawa-senyawa sisa seperti gliserol,metanol dan lain-lain
dari dekanter menuju utilitas

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik : 1,104.10-3 m3/s


Diameter pipa

: 0,042 m

Daya pompa

: Hp

5.25 Pompa 11 (L-313)


Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari cooler (E-312) menuju


ke vibrating filter (P-410).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Laju alir volumetrik : 1,189.10-3 m3/s


Diameter pipa

: 0,042 m

Daya pompa

: Hp

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

BAB VI
INSTRUMENTASI DAN KESELAMATAN KERJA

6.1 Instrumentasi
Alat instrumentasi merupakan salah satu bagian yang paling penting dalam suatu
pabrik. Instrumentasi adalah rangkaian peralatan yang dipakai didalam suatu proses
kontrol untuk mengatur jalannya proses agar diperoleh hasil sesuai dengan yang
diharapkan. Dengan adanya alat kontrol maka dapat diketahui dan dikoreksi segala
kesalahan ataupun penyimpangan proses yang mungkin terjadi.
Fungsi instrumentasi adalah sebagai penunjuk (indikator), pencatat (recorder),
pengontrol (controller),dan pemberi tanda bahaya (alarm). Peralatan instrumentasi
biasanya bekerja dengan tenaga mekanis atau tenaga listrik dan pengontrolannya
dapat dilakukan secara manual ataupun otomatis. Penggunaan instrumen pada suatu
peralatan proses tergantung pada pertimbangan ekonomis dan sistem peralatan itu
sendiri. Pada pemakaian alat-alat instrumen juga harus ditentukan apakah alat-alat
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

tersebut dipasang diatas papan instrumen dekat peralatan proses (kontrol manual)
atau disatukan di dalam suatu ruang kontrol pusat (control room) yang dihubungkan
dengan bangsal peralatan (kontrol otomatis).
Alat-alat kontrol yang biasa dipakai pada peralatan proses antara lain :
1. Temperature Controller (TC), yaitu alat untuk mengetahui suhu aliran atau
suhu operasi suatu alat dan dapat mengendalikan suhu operasi sesuai dengan
kondisi yang diinginkan.
2. Pressure Control (PC), yaitu alat untuk mengetahui tekanan suatu aliran dan
tekanan pada peralatan yang sedang beroperasi dan sebagai alat untuk
mengendalikan tekanan operasi sesuai yang diinginkan.
3. Flow Controller (FC), yaitu alat untuk mengukur debit aliran sesuai dengan
yang diinginkan.
4. Level Controller (LC), yaitu alat untuk mengendalikan tinggi cairan dalam
suatu alat sehingga tidak melebihi yang diinginkan.
Secara umum, kerja dari alat-alat instrumentasi dapat dibagi dua bagian yaitu operasi
secara manual dan operasi secara otomatis. Penggunaan instrumentasi pada suatu
peralatan proses bergantung pada pertimbangan ekonomis dan sistem peralatan itu
sendiri. Pada pemakain alat-alat instrumentasi juga harus ditentukan apakah alat-alat
itu dipasang pada peralatan proses ( manual control) atau disatukan dalam suatu
ruang kontrol yang dihubungkan dengan bagian peralatan (automatic control).
Menurut sifatnya konsep dasar pengendalian proses ada dua jenis, yaitu :
1. Pengendalian secara manual
Tindakan pengendalian yang dilakukan oleh manusia. Sistem pengendalian
ini merupakan sistem yang ekonomis karena tidak membutuhkan begitu banyak
instrumentasi dan instalasinya. Namun pengendalian ini berpotensi tidak praktis dan
tidak aman karena sebagai pengendalinya adalah manusia yang tidak lepas dari
kesalahan.
2. Pengendalian secara otomatis

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Berbeda dengan pengendalian secara manual, pengendalian secara otomatis


menggunakan instrumentasi sebagai pengendali proses, namun manusia masih
terlibat sebagai otak pengendali. Banyak pekerjaan manusia dalam pengendalian
secara manual diambil alih oleh instrumentasi sehingga membuat sistem
pengendalian ini sangat praktis dan menguntungkan.
Hal-hal yang diharapkan dari pemakaian alat-alat instrumentasi adalah :

Kualitas produk dapat diperoleh sesuai dengan yang diinginkan.

Pengoperasian sistem peralatan lebih mudah.

Sistem kerja lebih efisien.

Penyimpangan yang mungkin terjadi dapat diketahui dengan cepat.


Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam instrumen-instrumen adalah

(Timmerhaus, 2004) :
1. Range yang diperlukan untuk pengukuran.
2. Level instrumentasi.
3. Ketelitian yang dibutuhkan.
4. Bahan konstruksinya.
5. Pengaruh pemasangan instrumentasi pada kondisi proses.
6.1.1 Tujuan Pengendalian
Tujuan perancangan sistem pengendalian pabrik pemurnian metil ester hasil
transesterifikasi adalah sebagai keamanan operasi pabrik yang mencakup :

Mempertahankan variabel-variabel proses seperti temperatur dan tekanan tetap


berada dalam rentang operasi yang aman dengan harga toleransi yang kecil.

Mendeteksi situasi berbahaya kemungkinan terjadinya kebocoran alat dan


sebagainya. Pendeteksian dilakukan dengan menyediakan alarm dan sistem
penghentian operasi secara otomatis (automatic shut down systems).

Mengontrol setiap penyimpangan operasi agar tidak terjadi kecelakaan kerja


maupun kerusakan pada alat proses.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

6.1.2 Jenis-Jenis Pengendalian dan Alat Pengendali


Sistem pengendalian yang digunakan pada pabrik ini menggunakan dan
mengkombinasikan beberapa tipe pengendalian sesuai dengan tujuan dan
keperluannya :
1. Feedback control
Perubahan pada sistem diukur (setelah adanya gangguan), hasil pengukuran
dibandingkan dengan set point, hasil perbandingan digunakan untuk mengendalikan
variabel yang dimanipulasi.
2. Feedforward control
Besarnya gangguan diukur (sensor pada input), hasil pengukuran digunakan
untuk mengendalikan variabel yang dimanipulasi.
3. Adaptive control
Sistem pengendalian yang dapat menyesuaikan parameternya secara otomatis
sedemikian rupa untuk mengatasi perubahan yang terjadi dalam proses yang
dikendalikannya, umumnya ditandai dengan adanya reset input pada controller
(selain set point pada input dari sensor)

4. Inferential control
Seringkali variabel yang ingin dikendalikan tidak dapat diukur secara langsung,
sebagai solusinya digunakan sistem pengendalian dimana variabel yang terukur
digunakan untuk mengestimasi variabel yang akan dikendalikan, variabel terukur dan
variabel tak terukur tersebut dihubungkan dengan suatu persamaan matematika.
Pengendalian yang banyak digunakan adalah jenis feedback (umpan balik)
berdasarkan pertimbangan kemudahan pengendalian. Diagram balok untuk sistem
pengendalian ini secara umum dapat dilihat pada Gambar 6.1. berikut ini.

gangguan
(disturbances)
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
Elemen
+
USU Repository
2009 controller
Pengendali
Proses

Akhir

measuring

Gambar 6.1 Diagram Balok Sistem Pengendalian Feedback


Tabel 6.1 Daftar penggunanan instrumentasi pada Perancangan Unit Pemurnian
Metil ester Hasil Transesterifikasi menjadi Biodiesel Sawit
No

Nama alat

1.

Tangki bahan

Instrumentasi
LC

baku, tangki

Kegunaan
Mengontrol ketinggian cairan dalam
tangki

pencampur, dan
tangki produk
2.

Pompa

FC

Mengontrol laju alir cairan dalam pipa

5.

Cooler

TC

Mengontrol temperatur dalam cooler

6.

Dekanter

LC

Menunjukkan tinggi cairan dalam dekanter

TI

Mengontrol temperatur dalam vacuum


dryer

7.
Vacuum Dryer

LC

Mengontrol ketinggian cairan di dalam


vacuum dryer

PICA

Untuk mengatur tekanan di dalam vacuum


dryer

Contoh jenis-jenis instrumentasi yang digunakan pada pra-rancangan pabrik


pemurnian metil ester :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

1. Pompa
Variabel yang dikontrol pada pompa adalah laju aliran (flow rate). Untuk
mengetahui laju aliran pada pompa dipasang flow controller (FC) yang berfungsi
untuk mengendalikan aliran agar kecepatan alirnya seperti yang diharapkan. Jika laju
aliran pompa lebih besar dari yang diinginkan maka secara otomatis katup
pengendali (control valve) akan menutup atau memperkecil pembukaan katup.

FC

Gambar 6.2 Instrumentasi pada pompa

2. Tangki bahan baku, tangki pencampur, dan tangki produk


Tangki dapat berfungsi untuk tempat penyimpanan atau penampungan zat cair.
Pada tangki ini dilengkapi dengan level control (LC) yang berfungsi untuk
mengontrol ketinggian cairan di dalam tangki. Prinsip kerja dari level control (LC)
ini adalah dengan menggunakan pelampung (floater) sehingga isi tangki dapat
terlihat dari posisi jarum penunjuk di luar tangki yang digerakkan oleh pelampung.
Pengontrolan ketinggian permukaan cairan ini dilakukan dengan mengatur laju
cairan yang masuk atau keluar dari tangki. Jika isi tangki tinggal sedikit, maka diisi
dengan menggunakan pompa yang dilengkapi dengan valve yang berfungsi sebagai
flow control (FC).

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

LC
FC

Gambar 6.3 Instrumentasi pada tangki

3. Instrumentasi dekanter
Dekanter dapat berfungsi untuk tempat pemisahan zat cair berdasarkan
densitasnya. Pada dekanter ini dilengkapi dengan level control (LC) yang berfungsi
untuk mengontrol ketinggian cairan di dalam dekanter.

Ventilasi

ZB

LC
ZA1

ZT

ZA2

Zat cair
Ringan

Zat cair
Berat

Gambar 6.4 Instrumentasi pada dekanter

4. Vacuum dryer
Pada alat ini instrumen yang terpasang adalah pengontrol suhu, tekanan, dan
ketinggian. Pressure indicator control alarm (PICA) merupakan alat yang memiliki
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

tiga fungsi yaitu mengatur tekanan di dalam vacuum drier dengan cara mengatur
jumlah fluida yang keluar dari alat ini sehingga valve akan terbuka/tertutup, memberi
sinyal pada pressure control (PC) untuk mengukur tekanan sesuai dengan tekanan set
point dan membunyikan alarm ketika tekanan tidak sesuai dengan takanan set point.
Sedangkan pemasangan temperature indicator (TI) bertujuan untuk memberikan
sinyal ketika temperatur sistem tidak berada pada temperatur set point. Selain itu
dengan adanya kedua alat pengontrol tersebut maka tekanan dan temperatur dapat
dipertahankan. Pada alat ini juga terdapat level control (LC) yang bertujuan untuk
mengendalikan ketinggian cairan di dalam vacuum dryer sehingga tidak terjadi
kelebihan muatan cairan.

PICA
LC
TI

Gambar 6.5 Instrumentasi pada vacuum drier


5. Cooler
Temperature controler (TC) pada cooler berfungsi untuk mengatur besarnya
suhu didalam cooler dengan cara mengatur banyaknya air pendingin yang dialirkan.
Jika temperatur dibawah kondisi yang diharapkan (set point)., maka valve akan
terbuka lebih besar dan jika temperatur di atas kondisi yang diharapkan maka valve
akan terbuka lebih kecil.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

TC

Gambar 6.6 Instrumentasi pada cooler


6.2

Keselamatan Kerja Pabrik


Aktifitas masyarakat umumnya berhubungan dengan resiko yang dapat

mengakibatkan kerugian pada badan atau usaha. Karena itu usaha-usaha


keselamatan merupakan tugas sehari-hari yang harus dilakukan oleh seluruh
karyawan. Keselamatan kerja dan keamanan pabrik merupakan faktor yang perlu
diperhatikan secara serius. Dalam hubungan ini bahaya yang dapat timbul dari
mesin, bahan baku dan produk, sifat zat, serta keadaan tempat kerja harus
mendapat perhatian yang serius sehingga dapat dikendalikan dengan baik untuk
menjamin kesehatan karyawan.
Perusahaan yang lebih besar memiliki divisi keselamatan tersendiri. Divisi
tersebut mempunyai tugas memberikan penyuluhan, pendidikan, petunjukpetunjuk, dan pengaturan agar kegiatan kerja sehari-hari berlangsung aman dan
bahaya-bahaya yang akan terjadi dapat diketahui sedini mungkin, sehingga dapat
dihindarkan (Bernasconi, 1995).
Statistik menunjukkan bahwa angka kecelakan rata-rata dalam pabrik kimia
relatif tidak begitu tinggi. Tetapi situasi beresiko memiliki bentuk khusus, misalnya
reaksi kimia yang berlangsung tanpa terlihat dan hanya dapat diamati dan
dikendalikan berdasarkan akibat yang akan ditimbulkannya. Kesalahan-kesalahan
dalam hal ini dapat mengakibatkan kejadian yang fatal (Bernasconi, 1995).

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Dari 330 peristiwa

300

Hanya kerusakan
benda

28

Cedera ringan

Cedera berat sampai


cedera mematikan

Gambar 6.7 Tingkat kerusakan di suatu pabrik


Kerusakan (badan atau benda) dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa dikehendaki
dan diduga sebelumnya. Keadaan atau tindakan yang bertentangan dengan aturan
keselamatan kerja dapat memancing bahaya yang akut dan mengakibatkan terjadinya
kerusakan.
Untuk menjamin keselamatan kerja, maka dalam perencanaan suatu pabrik
perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu :
Lokasi pabrik

Sistem pencegahan kebocoran

Sistem perawatan

Sistem penerangan

Sistem penyimpanan material dan perlengkapan

Sistem pemadam kebakaran


Disamping itu terdapat beberapa peraturan dasar keselamatan kerja yang

harus diperhatikan pada saat bekerja disetiap pabrik-pabrik kimia, yaitu tidak
boleh merokok atau makan, dan tidak boleh minum-minuman keras (beralkohol)
selama bertugas.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Bahaya dan tindakan-tindakan yang tidak memperhatikan keselamatan akan


mengakibatkan kerusakan. Yang menjamin keselamatan kerja sebetulnya adalah
pengetahuan mengenai bahaya sedini mungkin, sehingga pencegahan dapat
diupayakan sebelum bahaya tersebut terjadi.
Berikut ini upaya-upaya pencegahan terhadap bahaya-bahaya yang mungkin
terjadi pada pabrik pemurnian metil ester dapat dilakukan dengan cara :
1. Pencegahan terhadap kebakaran

Memasang sistem alarm pada tempat yang strategis dan penting, seperti
power station, laboratorium dan ruang proses.

Mobil pemadam kebakaran harus selalu dalam keadaan siap siaga di fire
station.

Fire hydrant ditempatkan di daerah storage, proses, dan perkantoran.

Fire extinguisher disediakan pada bangunan pabrik untuk memadamkan api


yang relatif kecil.

Smoke detector ditempatkan pada setiap sub-stasiun listrik untuk mendeteksi


kebakaran melalui asapnya.

2. Memakai peralatan perlindungan diri


Di dalam pabrik disediakan peralatan perlindungan diri, seperti :

Pakaian pelindung
Pakaian luar dibuat dari bahan-bahan seperti katun, wol, serat, sintetis, dan
asbes. Pada musim panas sekalipun tidak diperkenankan bekerja dengan
keadaan badan atas terbuka.

Sepatu pengaman
Sepatu harus kuat dan harus dapat melindungi kaki dari bahan kimia dan
panas. Sepatu pengaman bertutup baja dapat melindungi kaki dari bahaya
terjepit. Sepatu setengah tertutup atau bot dapat dipakai tergantung pada jenis
pekerjaan yang dilakukan.

Topi pengaman

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Topi yang lembut baik dari plastik maupun dari kulit memberikan
perlindungan terhadap percikan-percikan bahan kimia, terutama apabila
bekerja dengan pipa-pipa yang letaknya lebih tinggi dari kepala, maupun
tangki-tangki serta peralatan lain yang dapat bocor.

Sarung tangan
Dalam menangani beberapa bahan kimia yang bersifat korosif, maka para
operator diwajibkan menggunakan sarung tangan untuk menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan.

Masker
Berguna untuk memberikan perlindungan terhadap debu-debu yang berbahaya
ataupun uap bahan kimia agar tidak terhirup.
(Bernasconi, 1995)

3. Pencegahan terhadap bahaya mekanis

Sistem ruang gerak karyawan dibuat cukup luas dan tidak menghambat
kegiatan kerja karyawan.

Alat-alat dipasang dengan penahan yang cukup kuat

Peralatan yang berbahaya seperti ketel uap bertekanan tinggi, reaktor


bertekanan tinggi dan tangki gas bertekanan tinggi, harus diberi pagar
pengaman.

4. Pencegahan terhadap bahaya listrik

Setiap instalasi dan alat-alat listrik harus diamankan dengan pemakaian


sekring atau pemutus hubungan arus listrik secara otomatis lainnya.

Sistem perkabelan listrik harus dipasang secara terpadu dengan tata letak
pabrik, sehingga jika ada perbaikan dapat dilakukan dengan mudah.

Memasang papan tanda bahaya yang jelas pada daerah sumber tegangan
tinggi.

Kabel-kabel listrik yang letaknya berdekatan dengan alat-alat yang beroperasi


pada suhu tinggi harus diisolasi secara khusus.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Setiap peralatan atau bangunan yang menjulang tinggi harus dilengkapi


dengan penangkal petir yang dibumikan.
(Bernasconi, 1995)

5. Menerapkan nilai-nilai disiplin bagi karyawan

Setiap karyawan bertugas sesuai dengan pedoman-pedoman yang diberikan


dan mematuhi setiap peraturan dan ketentuan yang diberikan.

Setiap kecelakaan kerja atau kejadian yang merugikan segera dilaporkan ke


atasan.

Setiap karyawan harus saling mengingatkan akan perbuatan yang dapat


menimbulkan bahaya.

Setiap ketentuan dan peraturan harus dipatuhi.

6. Penyediaan poliklinik di lokasi pabrik


Poliklinik disediakan untuk tempat pengobatan akibat terjadinya kecelakaan
secara tiba-tiba, misalnya menghirup gas beracun, patah tulang, luka terbakar,
pingsan/syok dan lain sebagainya.
Apabila terjadi kecelakaan kerja, seperti terjadinya kebakaran pada pabrik,
maka hal-hal yang harus dilakukan adalah :
1. Mematikan seluruh kegiatan pabrik, baik mesin maupun listrik.
2. Mengaktifkan alat pemadam kebakaran, dalam hal ini alat pemadam
kebakaran yang digunakan disesuaikan dengan jenis kebakaran yang terjadi,
yaitu (Bernasconi, 1995) :
Instalasi pemadam dengan air
Untuk kebakaran yang terjadi pada bahan berpijar seperti kayu, arang,
kertas, dan bahan berserat. Air ini dapat disemprotkan dalam bentuk
kabut. Sebagai sumber air, biasanya digunakan air tanah yang dialirkan
melalui pipa-pipa yang dipasang pada instalasi-instalasi tertentu di sekitar
areal pabrik. Air dipompakan dengan menggunakan pompa yang bekerja
dengan instalasi listrik tersendiri, sehingga tidak terganggu apabila listrik
pada pabrik dimatikan ketika kebakaran terjadi.
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Instalasi pemadam dengan CO2


CO2 yang digunakan berbentuk cair dan mengalir dari beberapa tabung
gas yang bertekanan yang disambung secara seri menuju nozel-nozel.
Instalasi ini digunakan untuk kebakaran dalam ruang tertutup, seperti
pada tempat tangki penyimpanan dan juga pemadam pada instalasi listrik.

BAB VII
UTILITAS

Utilitas merupakan unit penunjang utama dalam memperlancar jalannya suatu


proses produksi. Dalam suatu pabrik, utilitas memegang peranan yang penting.
Karena suatu proses produksi dalam suatu pabrik tidak akan berjalan dengan baik
jika utilitas tidak ada.

Oleh sebab itu, segala sarana dan prasarananya harus

dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menjamin kelangsungan operasi suatu


pabrik.
Berdasarkan kebutuhannya, utilitas pada unit pemurnian metil ester hasil
transesterifikasi menjadi biodiesel sawit adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan uap (steam)
2. Kebutuhan air
3. Kebutuhan bahan kimia
4. Kebutuhan tenaga listrik
5. Kebutuhan bahan bakar
6. Unit pengolahan limbah

7.1 Kebutuhan uap (steam)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Uap digunakan dalam pabrik sebagai media pemanas. Kebutuhan uap pada
unit pemurnian metil ester hasil transesterifikasi menjadi biodiesel sawit dapat dilihat
dari tabel di bawah ini.
Tabel 7.1 Kebutuhan Uap pada Alat
Nama Alat

Kebutuhan Uap (kg/jam)

Vacuum Dryer

43,841

Total

43,841

Steam yang digunakan adalah saturated liquid dengan temperatur 100oC dan
tekanan 1 atm. Jumlah total steam yang dibutuhkan adalah 43,841 kg/jam.
Tambahan untuk faktor keamanan diambil sebesar 20% dan faktor kebocoran sebesar
10% (Perry, 1999) maka :
Total steam yang dibutuhkan = (1 + faktor keamanan) x Kebutuhan uap
= (1,2) x 43,841 kg/jam = 52,609 kg/jam.
Diperkirakan 80% kondensat dapat digunakan kembali (Evans,1978), sehingga:
Kondensat yang digunakan kembali = 80% 52,609 kg/jam
= 42,087 kg/jam
Kebutuhan air tambahan untuk ketel = 20% 52,609 kg/jam
= 10,521 kg/jam

7.2 Kebutuhan Air

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Dalam proses produksi, air memegang peranan penting, baik untuk


kebutuhan proses maupun kebutuhan domestik. Adapun kebutuhan air pada unit
pemurnian metil ester hasil transesterifikasi menjadi biodiesel sawit dapat di lihat
dari tabel dibawah ini.
Tabel 7.2 Kebutuhan Air Proses pada berbagi Alat
Nama Alat

Kebutuhan Air (kg/jam)

Cooler

187,816

Tangki Pencuci I

1192,672

Tangki Pencuci II

1022,083

Tangki Pencuci III

999,906

Total

3402,477

Kebutuhan air domestik


Kebutuhan air domestik untuk tiap orang/shift adalah 40 100 ltr/hari.
(MetCalf, et.all, 1984)
Diambil 100 ltr/hari x

1hari
= 4.16 4 liter/jam
24 jam

air = 1000 kg/m3 = 1 kg/liter


Jumlah karyawan = 100 orang
Maka total air domestik = 4 x 100 = 400 ltr/jam x 1 kg/liter = 400 kg/jam
Maka total kebutuhan air yang diperlukan pada pengolahan awal tiap jamnya adalah :
= Air proses + 20% kebutuhan steam + Air berbagai kebutuhan
= 3402,477 + (0,2) 52,609 x kg/jam + 400
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 3812,999 kg/jam

7.3 Pengolahan Air


Pengolahan air pabrik terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1. Pengendapan
2. Klarifikasi
3. Filtrasi
4. Demineralisasi
5. Deaerasi

Kebutuhan air untuk perancangan pabrik biodiesel ini diperoleh dari air
bawah tanah. Kualitas air tanah dapat dilihat pada tabel 7.3 dan 7.4.
Tabel 7.3 Sifat fisika air bawah tanah di KIM II Medan
No

Parameter

Range (mg/liter)

Padatan terlarut

32,80

Kekeruhan

290 NTU

Suhu

30,60 oC

Daya hantar listrik

66,20 us/cm

pH

7,100

Tabel 7.4 Kandungan bahan kimia air bawah tanah di KIM II Medan
No

Bahan Kimia

Range (mg/liter)

Alumunium

0,020

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Besi

2,250

Flourida

0,200

Klorida

4,000

Mangan

0,150

Nitrat

0,470

Oksigen terlarut (DO)

Seng

0,040

Sulfat

0,000

10

Sulfit

0,065

11

Tembaga

0,000

12

BOD

6,000

13

COD

14,000

14

Alkalinitas

29,000

15

Kesadahan

36,000

16

Nitrit

0,003

sumber : Laporan PDAM KIM II Medan (2001)


7.3.1 Pengendapan
Pengendapan merupakan tahap awal dari pengolahan air. Pada bak
penampungan, partikel-partikel padat yang berdiameter besar (berkisar antara 10
mikron 10 mm) akan mengendap secara grafitasi tanpa bantuan bahan kimia,
sedangkan partikel-partikel yang lebih kecil akan terikut bersama air menuju unit
pengolahan selanjutnya.
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

7.3.2 Klarifikasi
Klarifikasi merupakan proses penghilangan kekeruhan di dalam air. Air dari
bak penampungan dialirkan ke dalam clarifier setelah diinjeksikan larutan alum, Al2
(SO4)3 dan larutan soda abu, Na2CO3. Larutan alum berfungsi sebagai koagulan
utama dan larutan soda abu sebagai koagulan tambahan yang berfungsi sebagai
bahan pembantu untuk mempercepat pengendapan dan penetralan pH.
Setelah pencampuran yang disertai pengadukan maka akan terbentuk flokflok yang akan mengendap ke dasar clarifier karena gaya grafitasi, sedangkan air
jernih pada lapisan atas dipompakan ke penyaring pasir (sand filter) untuk
penyaringan (filtrasi).
Pemakaian larutan alum umumnya hingga 50 ppm terhadap jumlah air yang
akan diolah, sedangkan perbandingan pemakaian alum dan soda abu
= 1 : 0,54 (Bauman,1971).
Total kebutuhan air

= 3812,999 kg/jam

Pemakaian larutan alum

= 50 ppm

Pemakaian larutan soda abu

= 0,54 x 50

Larutan alum yang dibutuhkan

= 50.10-6 x 3823,833 = 0,191 kg/jam

Larutan soda abu yang dibutuhkan

= 27.10-6 x 3823,833 = 0,103 kg/jam

= 27 ppm

7.3.3 Filtrasi
Filtrasi berfungsi untuk memisahkan flok dan koagulan yang masih terikut
bersama air. Pada proses ini juga dilakukan penghilangan warna air dengan
menambahkan karbon aktif pada lapisan pertama yaitu lapisan pasir. Penyaring pasir
(sandfilter) yang digunakan terdiri dari tiga lapisan yaitu :
a. Lapisan I terdiri dari pasir hijau (green sand) setinggi 24 in

= 60,96 cm

b. Lapisan II terdiri dari antrakit setinggi 12,5 in

= 31,75 cm

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

c. Lapisan III terdiri dari batu kerikil (gravel) setinggi 7 in

= 17,78 cm

Bagian bawah alat penyaring dilengkapi dengan strainer sebagai penahan.


Selama pemakaian, daya saring sand filter akan menurun. Untuk itu diperlukan
regenerasi secara berkala dengan cara pencucian balik ( back washing). Dari sand
filter, air dipompakan ke tangki utilitas-02, kemudian didistribusikan untuk berbagai
keperluan.
Untuk air umpan ketel masih diperlukan pengolahan lebih lanjut, yaitu proses
demineralisasi (softener) dan deaerasi. Untuk air domestik (laboratorium, kantin dan
tempat ibadah, poliklinik serta perkantoran) dilakukan proses klorinasi, yaitu
mereaksikan air dengan klor untuk membunuh kuman-kuman di dalam air. Klor yang
digunakan biasanya berupa kaporit, Ca(ClO)2. Khusus untuk air minum, setelah
dilakukan proses klorinasi diteruskan ke penyaring air (water treatment system)
sehingga air yang keluar dari penyaring merupakan air sehat dan memenuhi syaratsyarat air minum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Saat ini telah tersedia
beberapa jenis water treatment system di pasaran, sehingga dapat dipilih salah satu
yang memenuhi persyaratan.
Total kebutuhan air yang memerlukan proses klorinasi = 400 kg/jam
Kaporit yang digunakan direncanakan mengandung klorin 70 %

(Gordon, 1968)

Kebutuhan klorin = 2 ppm dari berat air yang diproses


Total kebutuhan kaporit = (2.10-6 x 400 kg/jam) / 0,7 = 1,143 x 10-3 kg/jam

7.3.4 Demineralisasi
Air untuk umpan ketel harus murni dan bebas dari garam-garam terlarut.
Untuk itu perlu dilakukan proses demineralisasi.
Alat demineralisasi dibagi atas :
1. Penukar Kation (Cation Exchanger)
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Penukar kation berfungsi untuk mengikat logam-logam alkali dan


mengurangi kesadahan air yang digunakan. Proses yang terjadi adalah pertukaran
antara kation Al, Fe, Mn dan Zn yang larut dalam air dengan kation hidrogen dari
resin. Resin yang digunakan bermerek Doulite C-20. Reaksi yang terjadi:
Na2R + Al2+

AlR + 2 Na+

Na2R + Fe2+

FeR + 2 Na+

Na2R + Mn2+

MnR + 2 Na+

Untuk regenerasi dipakai NaCl berlebih dengan reaksi :


AlR + 2 NaCl

Na2R + AlCl2

FeR + 2 NaCl

Na2R + FeCl2

MnR + 2 NaCl

Na2R + MnCl2

2. Penukar Anion (Anion Exchanger)


Penukar anion berfungsi untuk menukar anion negatif yang terdapat dalam air
dengan ion hidroksida dari resin. Resin yang digunakan bermerek Dowex 2. reaksi
yang terjadi:
2 ROH + SO3-

RSO3 + 2 OH-

ROH + NO3-

RNO3 + OH-

Untuk regenerasi dipakai larutan NaOH dengan reaksi:


RSO3 + NaOH

NaSO3 + 2 ROH

RNO3 + NaOH

Na2NO3 + ROH

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Perhitungan Kesadahan Kation


Perhitungan kesadahan kation, air tanah KIM II Medan mengandung kation
2+

Al , Fe2+, Mn2+, Zn2+ masing - masing 0,02 ppm, 2,25 ppm, 0,15 ppm, 0,04 ppm
(Tabel 7.4).
Konversi :

1 gr/galon = 17,1 ppm

Total kesadahan kation = 0,02 + 2,25 + 0,15 + 0,04


= 2,46 ppm x

1 gr / galon
17,1 ppm

= 0,1438 gr/galon
Jumlah air yang diolah = 10,521 kg/jam
= 10,521kg/jam / 1000 kg/m3 x 264,17 galon/m3
= 2,779 galon/jam
Kesadahan air

= 0,1438 gr/galon x 2,779 galon/jam x 24 jam/hari


= 9,592 gr/hari
= 0,009 kg/hari

Volume Exchanger yang digunakan memiliki EC (Exchanger Capacity)


= 1 lb/ft3 = 0,4536 kg/ft3
Volume Cation Exchanger =

(Larry & Barron, 1982)

Kesadahan Total
EC

= 0,009 kg/hari / 0,4536 kg/ft3 = 0,021 ft3/hari


Direncanakan menggunakan resin 0,1 ft3
Jumlah air yang dapat diolah

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

(Resin x EC )
=
x jumlah air umpan
Total kesadahan air

= (0,1 ft3 x 0,4536 kg/ ft3 / 0,009 kg/hari) x10,521kg/jam x 24jam/hari


= 1272,620 kg
Waktu regenerasi =

Air yang diolah


= 1332,495 kg /1,224 kg/jam = 1088,639 jam
Air tambahan

Untuk regenerasi digunakan NaCl yang pemakaiannya sebanyak 6 lb/ft3 untuk setiap
regenerasi (Larry & Barron, 1982), maka:
Kebutuhan NaCl

= 6 lb/ ft3 x 0,021ft3/ hari x 1 hari/24 jam x 1 kg/ 2,2046 lbm


= 0,0023 kg/regenerasi

Perhitungan Kesadahan Anion


Air KIM II mengandung anion F-, Cl-, NO3-2, NO2-,SO3- masing-masing 0,2 ppm,
4,0 ppm, 0,47 ppm, 0,003 ppm, 0,065 ppm.
Konversi :

1 gr/galon = 17,1 ppm

Total kesadahan anion = 0,2 + 4,0 + 0,47 + 0,003 + 0,065


= 4,738 ppm x

1 gr / galon
= 0,2771 gr/gallon
17,1 ppm

Jumlah air yang diolah = 10,521 kg/jam


= 10,521kg/jam / 1000 kg/m3 x 264,17 galon/m3
= 2,779 galon/jam
Kesadahan air

= 0,2771 gr/galon x 2,779 galon/jam x 24 jam/hari


= 18,483 gr/hari

= 0,018 kg/hari

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Volume Exchanger yang digunakan memiliki EC (Exchanger Capacity)


= 2 lb /ft3 = 0,9072 kg/ft3
Volume cation exchanger:=

(Larry & Barron, 1982)

Kesadahan total
= 0,018 kg/hari / 0,9072 = 0,019
EC

ft3/hari
Direncanakan akan menggunakan resin sebanyak : 0,1 ft3
Jumlah air yang dapat diolah

(Resin x EC) x jumlah air umpan


=

Total kesadahan air

= ( 0,1 ft3 x 0,9072 kg/ft3 / 0,018 kg/hari ) x 10,521kg/jam x 24


jam/hari
= 1272,983kg

Waktu regenerasi =

Air yang diolah


= 1272,983 kg / 10,521 kg/jam = 120,994 jam
Air tambahan

Untuk regenerasi digunakan NaOH yang pemakaiannya sebanyak 5 lb/ft3 untuk


setiap regenerasi (Larry & Barron, 1982), maka:
Kebutuhan NaOH
= 5 lb/ft3 regenerasi x 0,019 ft3/hari x 1 hari/24 jam x 1kg / 2,2046 lb
= 0,0017 kg/regenerasi
7.3.5 Deaerasi
Air hasil demineralisasi dipompakan ke deaerator. Deaerator berfungsi untuk
memanaskan air yang keluar dari alat penukar ion (ion exchanger) sebelum dikirim
sebagai umpan ketel. Pada deaerator ini , air dipanaskan hingga 90oC supaya gas-gas
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

yang terlarut dalam air, seperti O2 dan CO2 dapat dihilangkan, sebab gas-gas tersebut
dapat menyebabkan korosi. Pemanasan ini juga berfungsi untuk mencegah perbedaan
suhu di dalam ketel sehingga beban ketel dapat dikurangi. Pemanasan dilakukan
dengan menggunakan koil pemanas di dalam deaerator.

7.4

Kebutuhan bahan kimia


Kebutuhan bahan kimia adalah sebagai berikut:

7.5

Al2 (SO4)3

= 0,191 kg/jam

Na2CO3

= 0,103 kg/jam

Kaporit

= 0,00114 kg/jam

NaCl

= 0,0023 kg/hari

NaOH

= 0,0017 kg/hari

Kebutuhan listrik
Perincian kebutuhan listrik diperkirakan sebagai berikut:
1. Unit proses

= 6 hp

2. Unit utilitas

= 11,5 hp

3. Ruang kontrol dan laboratorium

= 20 hp

4. Penerangan dan Kantor

= 20 hp

5. Bengkel

= 30 hp

6. Perumahan

= 40 hp

Total kebutuhan listrik = 6 + 11,5 + 20 + 20 + 30 + 40


= 127,5 hp x 0,7457 kW/hp = 95,076kW

Untuk cadangan diambil 20 %, maka:


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Listrik yang dibutuhkan

= 1,2 x 95,076 kW
= 114,092 kW

Efisiensi generator : 80 % (Perry, 1997)


Maka : Daya output generator = 114,092 / 0,8 = 142,615 kW

7.6

Kebutuhan bahan bakar


Bahan bakar yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik adalah minyak

solar karena solar mempunyai nilai bakar yang tinggi.


Keperluan bahan bakar :
a. Bahan bakar untuk generator :
Nilai bahan bakar solar

: 19.860 Btu/lbm

(Perry,1997)

Densitas bahan bakar solar

: 0,89 kg/l

Daya output generator

: 142,615kW

Daya generator yang dihasilkan

= 142,615kW x (3.413 Btu/jam)/kW


= 486.744,995Btu/jam

Jumlah bahan bakar

= 486.744,995 Btu/jam / 19.860 Btu/lbm


= 24,508 lbm/jam x 0,45359 kg/lbm
= 11,116 kg/jam

Kebutuhan solar

= 11,116 kg/jam / 0,89 kg/ltr


= 12,490 liter/jam

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

7.7

Unit Pengolahan Limbah


Limbah suatu pabrik harus diolah sebelum dibuang ke badan air atau

atmosfer,

karena

limbah

mengandung

bermacam-macam

zat

yang

dapat

membahayakan alam sekitarnya maupun manusia itu sendiri, seperti : metil ester,
gliserol, etanol, sabun, KOH, trigliserida, asam palmitat, dan lain-lain. Demi
kelestarian lingkungan hidup, maka setiap pabrik harus mempunyai unit pengolahan
limbah.
Sumber-sumber limbah cair pabrik pembuatan biodiesel ini meliputi:
1. Limbah cair hasil sisa proses produksi
Dari proses pabrik tidak ada limbah yang terbuang, tetapi bila terjadi kebocoran
dianggap sebagai limbah.
2. Limbah cair hasil pencucian peralatan pabrik
Limbah ini diperkirakan mengandung kerak dan kotoran-kotoran yang melekat
pada peralatan pabrik
3. Limbah laboratorium
Limbah yang berasal dari laboratorium ini mengandung bahan-bahan kimia yang
digunakan untuk menganalisa mutu bahan baku yang dipergunakan untuk
penelitian dan pengembangan proses.
Perhitungan untuk Sistem Pengolahan Limbah
Diperkirakan jumlah air buangan pabrik:

Dari pencucian peralatan pabrik


Limbah cair hasil pencucian peralatan pabrik = 100 liter/jam

Dari laboratorium diperkirakan

Dari sisa proses produksi

= 50 liter/jam

Limbah cair sisa proses produksi = 31,792 kg/jam / 1 kg/liter = 55,585


liter/jam
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Total air buangan

= 100 + 50 + 31,792
= 181,792 ltr/jam = 0,181 m3/jam

Asumsi menggunakan BOD5 pabrik oleokimia :


BOD5 = 507 mg/l

(P.T. SOCI, Februari 2006)

Dari nilai BOD5 di atas, maka dipilihlah pengolahan limbah cair pabrik
pembuatan etil ester dengan menggunakan activated sludge (sistem Lumpur aktif).
Selain itu, metode ini mudah dalam penggunaannya dan murah dalam pengadaannya.
Juga mengingat cara ini dapat menghasilkan effluent dengan BOD yang lebih rendah
(20-30 mg/l) dan karakteristik limbah proses yang mayoritas campuran berjenis
limbah organik (Perry, 1997).
7.7.1 Bak Penampungan
Fungsi : tempat menampung air buangan sementara dan menetralkan pH limbah.
Laju volumetrik air buangan

= 0,181 m3/jam

Waktu penampungan air buangan

= 7 hari

Volume air buangan

= 0,181 x 7 x 24 = 30,408 m3

Direncanakan digunakan 1 buah bak penampungan, dengan bak terisi 90% bagian.
Volume bak = 30,408 / 0,9 = 33,786m3
Direncanakan : - panjang bak (P)
- tinggi bak (T)
maka, volume bak
33,786

= 2 x lebar bak (L)


= lebar bak (L)

=PxLxT
= 2L x L x L
L = 2,565 m = 2,6 m

Sehingga :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Panjang bak

= 2.L = 5,2 m

Lebar bak

= 2,6 m

Tinggi bak

= 2,6 m

Luas

= 13,520 m2

7.7.2 Bak Penetralan


Limbah pabrik yang terdiri dari bahan-bahan organik biasanya mempunyai
pH = 5 (Hammer, 1986). Limbah pabrik yang terdiri dari bahan-bahan organik harus
dinetralkan sampai pH = 6 (Kep.42/MENLH/10/1998).
Laju volumetrik air buangan

= 0,181 m3/jam

Waktu penampungan air buangan

= 3 hari

Volume air buangan

= 0,181 x 3 x 24 = 13,032 m3

Direncanakan digunakan 1 buah bak penampungan, dengan bak terisi 90% bagian.
Volume bak = 13,032 m3 / 0,9 = 14,48 m3
Direncanakan : - panjang bak(P)
- tinggi bak (T)
maka, volume bak

= 2 x lebar bak (L)


= lebar bak (L)

=PxLxT

14,48 = 2L x L x L
L = 1,934m 2 m
Sehingga :
Panjang bak

= 2L = 4 m

Lebar bak

=2m

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tinggi bak

=2m

Luas

= 8 m2

7.7.3 Bak Pengendapan


Laju volumetrik air buangan

= 0,181 m3/jam

Waktu penampungan air buangan

= 2 hari

Volume air buangan

= 0,181 x 2 x 24 = 8,688 m3

Direncanakan digunakan 1 buah bak penampungan, dengan bak terisi 90% bagian.
Volume bak = 8,688 m3 / 0,9 = 9,653 m3
Direncanakan : - panjang bak(P)
- tinggi bak (T)
maka, volume bak
9,653

= 2 x lebar bak (L)


= lebar bak (L)

=PxLxT
= 2L x L x L
L = 1,689 m 1,7 m

Sehingga :
Panjang bak

= 2L = 3,4 m

Lebar bak

= 1,7 m

Tinggi bak

= 1,7 m

Luas

= 5,78 m2

Kecepatan terminal pengendapan


Hukum Stokes
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

V=

( s ) g Dp 2
18

(Foust,1960)

Dimana :
V = Kecepatan terminal pengendapan
s = Densitas partikel Na2CO3 pada 300 C = 1,987 gr/cm3

(Perry,1997)

= Densitas air pada 300 C = 0,9957 gr/cm3

(Perry,1997)

Dp = Diameter partikel = 0,002 cm

(Perry,1997)

g = Percepatan gravitasi = 980 cm/s2


= Vioskositas air pada 300 C = 0,01 gr/cm.s

(Perry,1997)

sehingga;
(1,987 0,9957) (980) (0,002) 2
V=
18 (0,01)
= 0,0216 cm/s
Waktu pengendapan (W) =

H x100
V x 60

= 1,7 x 100 / 0,0216 x 60 = 131,172 menit = 2 jam

7.7.4 Pengolahan Limbah dengan Sistem Activated Sludge ( Lumpur Aktif)


Proses lumpur aktif merupakan proses aerobik, pada proses ini mikroba
tumbuh dalam flok (lumpur) yang terdispersi, pada flok inilah akan terjadi proses
degradasi. Proses lumpur aktif berlangsung dalam reaktor dengan pencampuran
sempurna dilengkapi dengan umpan balik (recycle) lumpur dan cairannya. Biasanya,

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

mikroba yang digunakan merupakan kultur campuran. Flok biologis tersebut akan
diresirkulasi kembali ke tangki aerasi.
Data :
Laju Volumetrik (Q) : 0,181 m3/jam = 181 ltr/jam = 4344 ltr/hari
BOD5 (So) = 507 mg/l
Efisiensi (E)

(P.T. SOCI, Februari 2006)


: 95 %

(Metcalf et.al, 1991)

Koefisien cell yield (Y) : 0,8 mg VSS/mg BOD5

(Metcalf at.al, 1991)

Koefisien endogenous decay (Kd) : 0,025 hari-1

(Metcalf et.al, 1991)

Mixed Liquor Suspended Solid

: 400 mg/l

(asumsi)

Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (x): 300 mg/l

(asumsi)

Direncanakan:
Waktu tinggal sel (c) = 10 hari
1. Penentuan BOD Effluent (S)

E=

So S
x 100
So

E.So
100
95 x 507
= 507
= 25,35 mg/l
100

S = So

(Metcalf et.al,1991)

2. Penentuan volume bak aerasi (Vr)

Vr =

c x Q x Y (So S)
X(1 + k d x c )

(10 hari) x (4344,6 ltr/hari) x (0,8) x (507 25,35) mg/l


(300 mg/l)(1+ 0,025 x 10)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 44.635,468 liter = 44,635 m3

3. Penentuan ukuran bak aerasi


Direncanakan :
Panjang bak aerasi (P)

= 2 x Lebar bak (L)

Tinggi bak aerasi (T)

= Lebar bak (L)

Maka volume bak adalah


V =PxLxT
44,635 m3 = 2 L x L x L
L

= 2,815m

Faktor kelonggaran = 0,5 m di atas permukaan air

(Metcalf et.al, 1991)

Jadi dimensi bak aerasi adalah sebagai berikut:


Panjang

= 5,63 m

Lebar

= 2,815 m

Tinggi

= (1,455 + 0,5 ) = 1,955 m

4. Penentuan jumlah flok yang diresirkulasikan (Qr)


Tangki sedimentasi
Q

Tangki Aerasi

Q + Qr

Qe
Xe
Qw

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Qr,Xr

Asumsi:

Qw, Xr

Xe = Konsentrasi volatile suspended solid pada effluent


(Xe diperkirakan 0,1 % dari konsentrasi volatile suspended solid pada tangki aerasi)
(Metcalf et.al, 1991)
Xe = 0,001 X = 0,001 x 300 mg/l = 0,3 mg/l
Xr = Konsentrasi volatile suspended solid pada waste sludge
(Xr diperkirakan 99,9 % dari konsentrasi volatile suspended solid pada tangki aerasi)
(Metcalf et.al, 1991)
Xr = 0,999 X = 0,999 x 300 mg/l = 299,7 mg/l
Qe = Q = 4.344 ltr/hari = 4,344 m3/hari
Px = Qw x Xr

(Metcalf et.al, 1991)

Px = Yobs x Q x (So-S)

(Metcalf et.al, 1991)

Dimana :
Px = Net waste activated sludge yang diproduksi setiap hari (kg/hari)
Yobs = Observed yield (gr/gr)

Yobs =
Yobs =

Y
1+ (kd x c )

0,8
= 0,64
1+ (0,025 hari 1 )(10 hari )

Px = (0,64)( 4,344 m3/hari) (507-25,35) mg/ltr


= 1339,064m3.mg/ltr.hari

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Neraca massa pada tangki sedimentasi


Sudut pada tangki sedimentasi = 30o
Akumulasi = jumlah massa masuk jumlah massa keluar
0

= (Q + Qr) X QeXe - QwXr

= QX + QrX Q(0,001X) - Px

Qr =
=

QX (0,001 - 1) + Px
X
(4,344 m3/hari)(300 mg/ltr) (0,001 - 1) + ( 1339,064 m3 .mg/ltr.hari)
300 mg/ltr

= 0,123 m3 / hari

5. Penentuan waktu tinggal di bak aerasi ()


Vr
44,635 m 3
= =
=10,275 hari
Q 4,344 m 3 /hari
6. Penentuan daya yang dibutuhkan

Tipe aerator yang digunakan : surface aerator dengan laju transfer

Kedalaman air = 2,81 m dari tabel 10-11 Metcalf et.al, 1991 diperoleh daya
aeratornya 10 hp

7.7.5 Tangki Sedimentasi


Fungsi :

mengendapkan

flok

biologis

dari

tangki

aerasi

dan

sebagian

diresirkulasikan kembali ke tangki aerasi


Bentuk : persegi panjang, alas berbentuk kerucut
Bahan konstruksi : Beton
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kondisi operasi : kondisi ruang


Laju volumetrik air buangan = (4,344 + 0,123) m3/hari
= 4,467 m3/hari
Waktu tinggal air = 2 jam = 0,083 hari
Volume bak (V) = 4,467 m3/hari x 0,083 hari = 0,372 m3
Bak terisi 90 %, maka volume bak = 0,372/ 0,9 = 0,413 m3
Perancangan bak yang direncanakan adalah sebagai berikut :
Panjang bak (P) = 2 x Tinggi bak (T)
Lebar bak (L)

= Tinggi bak (T)

Maka, volume bak adalah


V
0,413 m3
T

=PxLxT
=2TxTxT
= 0,591 m 0,6 m

Sehingga :
Panjang bak = 2 x T = 1,2 m
Lebar bak

= 0,6 m

Luas bak

= 0,72 m2

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

BAB VIII
LOKASI DAN TATA LETAK PABRIK

8.1

Lokasi Pabrik
Pemilihan lokasi pabrik harus tepat berdasarkan perhitungan biaya produksi

dan distribusi yang minimal serta pertimbangan sosiologi dan budaya masyarakat
disekitar lokasi pabrik (Peters, 2004). Alasan pemilihan lokasi pabrik perlu
diperhitungkan pula biaya pengiriman, transportasi, sarana dan prasarana di daerah
lokasi pendirian pabrik serta kebijakan yang berlaku di daerah setempat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan daerah pendirian Pabrik
Pemurnian biodiesel sawit yang direncanakan berlokasi di Kecamatan Labuhan Deli
yang merupakan hilir Sungai Deli, Sumatera Utara diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Faktor Utama, yang meliputi Pemasaran, Transportasi, Kebutuhan Air,
Kebutuhan tenaga listrik dan bahan bakar, serta Tenaga Kerja.
2. Faktor Khusus, yang meliputi Biaya Lahan Pabrik, Kondisi Iklim dan Cuaca,
Sosial Masyarakat.

8.1.1 Faktor Utama


Adapun yang termasuk di dalam faktor utama pendirian Pabrik Pemurnian
Metil Ester hasil transesterifikasi menjadi biodiesel sawit adalah sebagai berikut :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

a) Pemasaran
Kebutuhan Biodiesel terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun
dengan semakin banyaknya permintaan, sehingga pemasarannya tidak akan
mengalami hambatan. Lokasi pendirian pabrik dekat dengan Pelabuhan
Belawan sehingga produk dapat dipasarkan baik dalam maupun luar negeri.
b) Transportasi
Penyediaan bahan baku dan penjualan produk dapat dilakukan melalui jalan
darat maupun laut. Lokasi yang dipilih dalam rencana pendirian pabrik ini
merupakan kawasan perluasan industri, yang dekat dengan sarana Pelabuhan
Belawan. Selain itu, fasilitas transportasi darat dari industri ke tempat sekitar
juga sangat baik dan dekat dengan jalan tol.

c) Kebutuhan Air
Kebutuhan air diperoleh dari Sungai Deli yang mengalir di sekitar pabrik
untuk proses, sarana utilitas dan keperluan domestik.
d) Kebutuhan Tenaga Listrik dan Bahan Bakar
Dalam pendirian suatu pabrik, tenaga listrik dan bahan bakar adalah faktor
penunjang yang paling penting. Pembangkit listrik utama untuk pabrik adalah
menggunakan generator diesel yang bahan bakarnya diperoleh dari
pertamina. Selain itu, kebutuhan listrik juga dapat diperoleh Perusahaan
Listrik Negara (PLN) Medan.
e) Tenaga Kerja
Sebagai kawasan industri, daerah ini merupakan salah satu tujuan para
pencari kerja. Tenaga kerja ini merupakan tenaga kerja yang produktif dari
berbagai tingkatan baik yang terdidik maupun yang belum terdidik.

8.1.2 Faktor Khusus


Adapun faktor-faktor khusus dalam pendirian Pabrik Pemurnian Metil Ester
adalah sebagai berikut :
a) Biaya Lahan Pabrik

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Lahan yang tersedia untuk lokasi pabrik masih cukup luas dan dalam harga
yang terjangkau.
b) Kondisi Iklim dan Cuaca
Indonesia sebagai negara tropis hanya memiliki 2 musim yakni : musim
kemarau dan musim hujan. Kondisi iklim dan cuaca di lokasi pabrik juga
relatif stabil. Sehingga pada saat penyimpanan bahan baku tidak memiliki
kendala. Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan
lainnya hampir tidak pernah terjadi sehingga memungkinkan pengoperasian
pabrik berjalan lancar.
c) Sosial Masyarakat
Sikap masyarakat diperkirakan akan mendukung pendirian Pabrik Pemurnian
Metil Ester karena akan menambah penghasilan dan tersedianya lapangan
kerja bagi penduduk sekitar. Selain itu pendirian pabrik ini diperkirakan tidak
akan mengganggu keselamatan dan keamanan masyarakat di sekitarnya.
8.2

Tata Letak Pabrik


Tata letak peralatan dan fasilitas dalam suatu rancangan pabrik merupakan

syarat penting untuk memperkirakan biaya secara akurat sebelum mendirikan pabrik
yang meliputi desain sarana perpipaan, fasilitas bangunan, jenis dan jumlah peralatan
dan kelistrikan. Hal ini secara khusus akan memberikan informasi yang dapat
diandalkan terhadap biaya bangunan dan tempat sehingga dapat diperoleh
perhitungan biaya yang terperinci sebelum pendirian.
Tata letak pabrik disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan jalannya
proses produksi serta turut mempertimbangkan aspek keamanan dan lingkungan.
Untuk mempermudah jalannya proses produksi, unit-unit dalam pabrik diatur
sedemikian rupa sehingga unit yang saling berhubungan jaraknya berdekatan.
Dengan demikian pipa yang digunakan dapat sependek mungkin dan energi yang
dibutuhkan untuk mendistribusikan aliran dapat diminimalisir. Untuk keamanan, area
perkantoran terletak cukup jauh dari areal proses.
Desain yang rasional harus memasukkan unsur lahan proses, storage
(persediaan) dan lahan alternatif (areal handling) dalam posisi yang efisien dan
mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

a) Urutan proses produksi


b) Distribusi ekonomis pada pengadaan air, steam, proses, tenaga listrik dan
bahan baku
c) Pemeliharaan dan perbaikan
d) Keamanan (safety) terutama dari kemungkinan kebakaran dan keselamatan
kerja
e) Bangunan yang meliputi luas bangunan, kondisi bangunan dan konstruksinya
yang memenuhi syarat
f) Fleksibilitas dalam perencanaan tata letak pabrik dengan mempertimbangkan
kemungkinan perubahan dari proses/mesin, sehingga perubahan-perubahan
yang dilakukan tidak memerlukan biaya yang tinggi.
g) Masalah pembuangan limbah cair.
h) Service area, seperti kantin, tempat parkir, ruang ibadah, dan sebagainya
diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu jauh dari tempat kerja

Pengaturan tata letak pabrik yang baik akan memberikan beberapa


keuntungan, seperti berikut :
1. Mengurangi jarak transportasi bahan baku dan produksi, sehingga
mengurangi material handling
2. Memberikan ruang gerak yang lebih leluasa sehingga mempermudah
perbaikan mesin dan peralatan yang rusak atau di-blowdown
3. Mengurangi ongkos produksi
4. Meningkatkan keselamatan kerja
5. Mengurangi kerja seminimum mungkin
6. Meningkatkan pengawasan operasi dan proses agar lebih baik

8.3

Perincian Luas Tanah


Luas tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya pabrik diuraikan dalam

Tabel 8.1 dibawah ini :

Tabel 8.1 Perincian Luas Tanah Pabrik Pemurnian Metil Ester


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

No

Nama Bangunan

Ukuran (m)

Luas (m2)

Area Tangki Bahan Baku

20 x 15

300

Area Tangki produk

25 x 20

500

Area Proses

100 x 35

3.500

Laboratorium

10 x 10

100

- Pengolahan Air

50 x 34

1.700

- Ruang Boiler

10 x 10

100

- Pengolahan Limbah

30 x 20

600

- Ruang Generator

20 x 5

100

- Ruang Kontrol

10 x 10

100

Utilitas

Tabel 8.1 Perincian Luas Tanah Pabrik Pemurnian Biodiesel .(Lanjutan)


No

Nama Bangunan

Ukuran (m)

Luas (m2)

- Kantor

20 x 20

400

- Musholla

5 x 10

50

- Poliklinik

10 x 5

50

- Kantin

10 x 10

100

- Perpustakaan

10 x 10

100

- Aula

30 x 10

300

- Lapangan Olah Raga

20 x 35

700

Fasilitas

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Gudang

20 x 10

200

Bengkel

15 x 10

150

Unit Pemadam Kebakaran

10 x 10

100

10

Pos Satpam

2,5 x 2

11

Parkir/Taman

275

12

Jalan/Parit

400

Total

9830

BAB IX
ORGANISASI DAN MANAJEMEN PERUSAHAAN

Masalah organisasi merupakan hal yang penting di dalam perusahaan, hal ini
menyangkut

efektifitas

dalam

peningkatan

kemampuan

perusahaan

dalam

memproduksi dan mendistribusikan produk yang dihasilkan. Dalam upaya


meningkatkan efektifitas dan kinerja perusahaan maka pengaturan atau manajemen
harus menjadi hal yang mutlak. Tanpa manajemen yang efektif dan efisien tidak akan
ada organisasi yang berhasil cukup lama. Dengan adanya manajemen yang teratur
baik dari kinerja sumber daya manusia maupun terhadap fasilitas yang ada secara
organisasi akan berkembang.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

9.1 Organisasi Perusahaan


Perkataan organisasi berasal dari kata latin Organum yang dapat berarti alat,
anggota tubuh. James D Mooney, mengatakan organisasi adalah bentuk setiap
perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Dari pendapat ahli yang
dikemukakan di atas dapat diambil arti kata organisasi, yaitu kelompok orang yang
secara sadar bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan menekankan
wewenang dan tanggungjawab masing masing. (Sutarto, 2002)
Secara ringkas ada tiga unsur utama dalam organisasi yaitu sebagai berikut :
1. Adanya sekelompok orang
2. Adanya hubungan dan pembagian tugas
3. Adanya tujuan yang ingin dicapai
Menurut pola hubungan kerja, serta lalu lintas wewenang dan tanggungjawab,
maka bentuk-bentuk organisasi itu dapat dibedakan atas (Siagian, 1992) :
1. Bentuk organisasi garis
2. Bentuk organisasi fungsional
3. Bentuk organisasi garis dan staf
4. Bentuk organisasi fungsional dan staf

9.1.1 Bentuk Organisasi Garis


Ciri dari organisasi garis adalah organisasi masih kecil, jumlah karyawan
sedikit, pimpinan dan semua karyawan saling kenal dan spesialisasi kerja belum
begitu tinggi.
Kebaikan bentuk organisasi garis, yaitu
a) Kesatuan komando terjamin dengan baik, karena pimpinan berada diatas satu
tangan.
b) Proses pengambilan keputusan berjalan dengan cepat karena jumlah orang
yang diajak berdiskusi masih sedikit atau tidak ada sama sekali.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

c) Rasa solidaritas diantara para karyawan umumnya tinggi karena saling


mengenal.
Kekurangan bentuk organisasi garis, yaitu :
a) Seluruh kegiatan dalam organisasi terlalu bergantung kepada satu orang
sehingga kalau seseorang itu tidak mampu maka seluruh organisasi akan
terancam kehancuran
b) Kecenderugan pimpinan bertindak secara otoriter
c) Karyawan tidak mempunyai kesempatan untuk berkembang

9.1.2 Bentuk Organisasi Fungsional


Ciri-ciri dari organisasi fungsional adalah segelintir pimpinan tidak mempunyai
bawahan yang jelas sebab setiap atasan berwenang memberi komando kepada setiap
bawahan, sepanjang ada hubungannya dengan fungsi atasan tersebut
Kebaikan bentuk organisasi fungsional adalah sebagai berikut :
a) Pembagian tugas-tugas jelas
b) Spesialisasi karyawan dapat dikembangkan dan digunakan semaksimal
mungkin
c) Digunakan tenaga-tenaga ahli dalam berbagai bidang sesuai dengan fungsifungsinya
Keburukan bentuk organisasi fungsional yaitu sebagai berikut :
a) Karena adanya spesialisasi, sukar mengadakan penukaran atau pengalihan
tanggungjawab kepada fungsinya
b) Para karyawan mementingkan bidang pekerjaannya sehingga sukar
dilaksanakan koordinasi

9.1.3 Bentuk Organisasi Garis dan Staf


Kebaikan bentuk organisasi garis dan staf adalah sebagai berikut :
a) Dapat digunakan oleh setiap organisasi yang besar, apapun tujuannya,
betapapun luas tugasnya dan kompleks susunan organisasinya

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

b) Pengambilan keputusan yang sehat lebih mudah diambil, karena adanya staf
ahli
Keburukan bentuk organisasi garis dan staf, adalah sebagai berikut :
a) Karyawan tidak saling mengenal, solidaritas sukar diharapkan.
b) Karena rumit dan kompleksnya susunan organisasi, koordinasi kadangkadang sukar diharapkan

9.1.4 Bentuk Organisasi Fungsional dan Staf


Bentuk organisasi fungsional dan staf, merupakan kombinasi dari bentuk
organisasi fungsional dan bentuk organisasi garis dan staf. Kebaikan dan keburukan
dari bentuk organisasi ini merupakan perpaduan dari bentuk organisasi yang
dikombinasikan (Siagian, 1992).
Dari uraian diatas dapat diketahui kebaikan dan keburkan dari beberapa bentuk
organisasi. Setelah mempertimbangkan baik dan buruknya maka pada PraRancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Tranesterifikasi Menjadi
Biodiesel Sawit menggunakan bentuk organisasi garis dan staf.

9.2

Uraian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab

9.2.1 Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)


Pemegang kekuasaan tertinggi pada struktur organisasi garis dan staf adalah
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilakukan minimal satu kali dalam
setahun. Bila ada sesuatu hal, RUPS dapat dilakukan secara mendadak sesuai dengan
jumlah forum. RUPS dihadiri oleh pemilik saham, Dewan Komisaris dan General
Manager.
Hak dan wewenang RUPS adalah sebagai berikut :
1. Meminta pertanggungjawaban Dewan Komisaris dan General Manager lewat
suatu sidang.
2. Dengan musyawarah dapat mengganti Dewan Komisaris dan General
Manager serta mengesahkan anggota pemegang saham bila mengundurkan
diri.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

3. Menetapkan

besar

laba

tahunan

yang

diperoleh

untuk

dibagikan,

dicadangkan, atau ditanamkan kembali.

9.2.2 Dewan Komisaris


Dewan komisaris dipilih dalam RUPS untuk mewakili para pemegang saham
dalam mengawasi jalannya perusahaan. Dewan komisaris ini bertanggung jawab
kepada RUPS. Tugas-tugas dewan komisaris antara lain :

Mengadakan pertemuan tahunan para pemegang saham.

Meminta laporan pertanggungjawaban direktur secara periodik.

Melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dan


pelaksanaan tugas direktur.

Menentukan garis besar kebijaksanaan perusahaan

9.2.3 Manager
Manager merupakan pimpinan tertinggi yang diangkat oleh Dewan
Komisaris. Adapun tugas-tugas Manager adalah sebagai berikut :
1. Memimpin dan membina perusahaan secara efektif dan efisien
2. Menyusun dan melaksanakan kebijaksanaan umum pabrik sesuai dengan
kebijaksanaan RUPS
3. Mengadakan kerjasama dengan pihak luar demi kepentingan perusahaan
4. Mewakili perusahaan dalam mengadakan hubungan maupun perjanjianperjanjian dengan pihak ketiga
5. Merencanakan dan mengawasi pelaksanaan tugas setiap personalia yang
bekerja pada perusahaan.
Dalam melaksanakan tugasnya, Manager dibantu oleh Kepala Bagian Finansial
dan Marketing, Kepala Bagian SDM/Umum, Kepala Bagian Teknik dan Kepala
Bagian Produksi.

9.2.4 Kepala Bagian Produksi


Kepala Bagian Produksi bertanggungjawab langsung kepada Manager.
Dalam

menjalankan tugasnya

Kepala Bagian Produksi mengkoordinir segala

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

kegiatan yang berhubungan dengan proses baik di bagian produksi maupun utilitas.
Dalam menjalankan tugasnya manager produksi dibantu oleh tiga kepala Seksi,
yaitu: Kepala Seksi Proses, Kepala Seksi Laboratorium, Kepala Seksi Utilitas

9.2.5 Kepala Bagian Teknik


Kepala Bagian Teknik bertanggung jawab langsung kepada Manager dalam
mengkoordinir segala kegiatan yang berhubungan dengan masalah teknik baik di
lapangan maupun di kantor. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Bagian Teknik
dibantu oleh dua kepala seksi, yaitu : Kepala seksi Instrumentasi dan Kepala seksi
Maintenance dan Listrik.

9.2.6 Kepala Bagian SDM/Umum


Kepala Bagian SDM/Umum bertanggung jawab langsung kepada Manager
dalam mengawasi dan mengatur karyawan. Dalam menjalankan tugasnya Kepala
Bagian SDM/Umum dibantu oleh tiga Kepala Seksi, yaitu : Kepala Seksi Personalia,
Kepala Seksi General Affair, dan Kepala Seksi Keamanan.

9.2.7 Kepala Bagian Finansial dan Marketing


Kepala Bagian finansial dan marketing bertanggung jawab langsung kepada
Manager. Tugasnya mengkoordinir segala kegiatan yang berhubungan dengan
pemasaran dan keuangan. Dalam menjalankan tugasnya Kepala bagian Finansial dan
Marketing dibantu oleh dua kepala Seksi, yaitu Kepala Seksi Marketing dan Kepala
Seksi Pembelian.

9.2.8 Kepala Seksi Utilitas

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kepala Bagian Utilitas bertanggung jawab kepada Manager Produksi.


Tugasnya adalah untuk mengkoordinir dan mengawasi segala kegiatan utilitas
meliputi pengolahan air dan limbah.

9.2.9 Kepala Seksi Proses


Kepala seksi Proses bertanggung jawab kepada Manager Produksi. Tugasnya
adalah untuk mengkoordinir dan mengawasi segala kegiatan proses meliputi operasi
dan research dan development.

9.2.10 Kepala Seksi Laboratorium


Kepala Bagian Laboratorium bertanggung jawab kepada Manager Produksi.
Tugasnya adalah untuk mengkoordinir dan mengawasi segala kegiatan laboratorium.

9.2.11 Kepala Seksi Maintanance dan Listrik


Kepala seksi Maintenance dan Listrik bertanggung jawab kepada Kepala
Bagian Teknik. Tugasnya adalah mengkoordinir segala kegiatan pemeliharaan,
pengamanan, perawatan dan perbaikan peralatan listrik serta menyusun program
perawatan, pemeliharaan serta penggantian peralatan proses.

9.2.12 Kepala Seksi Instrumentasi


Kepala Seksi Keamanan bertanggung jawab kepada Kepala Bagian Teknik.
Tugasnya adalah menyusun program perawatan, pemeliharaan serta penggantian
peralatan instrumentasi proses.

9.2.13 Kepala Seksi Personalia


Kepala seksi Personalia bertanggung jawab kepada Kepala Bagian
SDM/Umum. Tugasnya adalah mengawasi dan memperhatikan kinerja serta
kesejahteraan karyawan.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

9.2.14 Kepala Seksi General Affair


Kepala seksi General Affair bertanggung jawab kepada Kepala Bagian
SDM/Umum. Tugasnya untuk menjalin hubungan perusahaan dengan masyarakat
setempat dan hubungan perusahaan dengan karyawan.

9.2.15 Kepala Seksi Keamanan


Kepala seksi Keamanan bertanggungj awab

kepada Kepala Bagian

SDM/Umum. Tugasnya adalah untuk menjaga keamanan perusahaan beserta


karyawan perusahaan.

9.2.16 Kepala Seksi Marketing


Kepala seksi Marketing bertanggung jawab kepada Kepala Bagian Finansial
dan Marketing. Tugasnya adalah untuk mengkoordinir dan mengawasi segala
kegiatan penjualan dan promosi produk.

9.2.17 Kepala Seksi Pembelian


Kepala Seksi Pembelian dan Penjualan bertanggung jawab kepada Kepala
Bagian Finansial dan Marketing. Tugasnya adalah untuk mengkoordinir dan
mengawasi segala kegiatan pembelian bahan baku, bahan penolong, dan segala
keperluan perusahaan.

9.2.18 Kepala Seksi Keuangan


Kepala Seksi Keuangan bertanggung jawab kepada Kepala Bagian Finansial
dan Marketing. Tugasnya adalah untuk mengkoordinir dan mengawasi segala bentuk
keuangan perusahaan.

9.2.19 Sekretaris
Sekretaris di angkat oleh direktur untuk mengenai masalah-masalah
administrasi perusahaan. Sekretris bertanggung jawab langsung kepada direktur
perusahaan. Tugas, tanggung jawab serta hubungan antara masing-masing jabatan

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

yag terdapat pada pabrik unit pemurnian metil ester ini digambarkan dalam suatu
struktur organisasi.
9.3

Tenaga Kerja dan Jam Kerja


Jumlah tenaga kerja pada Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil

Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit ini direncanakan sebanyak 100 orang.


Status tenaga kerja pada perusahaan ini dibagi atas :
1. Tenaga kerja bulanan dengan pembayaran gaji sebulan sekali
2. Tenaga kerja harian dengan upah yang dibayar 2 minggu sekali
3. Tenaka kerja honorer/kontrak dengan upah dibayar sesuai perjanjian kontrak

9.3.1 Jumlah dan Tingkat Pendidikan Tenaga Kerja


Dalam melaksanakan kegiatan perusahaan di Pabrik Unit Pemurnian Metil
Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit dibutuhkan susunan tenaga
kerja seperti pada susunan struktur organisasi. Adapun jumlah tenaga kerja beserta
tingkat pendidikan yang disyaratkan dapat dilihat pada Tabel 9.1 di bawah ini.

Tabel 9.1 Jumlah Tenaga Kerja Beserta Tingkat Pendidikannya


Jabatan

Jumlah

Pendidikan

Dewan Komisaris

Teknik/ Ekonomi (S2)

Manager

Teknik Kimia (S1/S2)

Sekretaris

Sekretaris (D3)

Kepala Bagian Finansial dan Marketing

Akuntansi/Managemen (S1)

Kepala Bagian SDM/Umum

Managemen Perusahaan (S1)

Kepala Bagian Teknik

Teknik Mesin (S1)

Kepala Bagian Produksi

Teknik Kimia (S1) / (DIV)

Kepala Seksi Marketing

Akuntansi/Managemen (S1)

Kepala Seksi Pembelian

Akuntansi/Managemen (S1)

Kepala Seksi Personalia

Psikologi (S1)

Kepala Seksi General Affair

Teknik Industri (S1)

Kepala Seksi Keamanan

Pensiunan ABRI

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kepala Seksi Maintenance dan Listrik

Teknik Elektro (S1)

Kepala Seksi Instrumentasi

Teknik Mesin (S1)

Kepala Seksi Laboratorium

Kimia FMIPA (S1)

Kepala Seksi Proses

Teknik Kimia (S1) / (DIV)

Kepala Seksi Utilitas

Teknik Kimia (S1) / (DIV)

Kepala Seksi Keuangan

Akuntansi/Managemen (S1)

Karyawan Produksi

24

T.Kimia (DIV)/Politeknik

Karyawan Teknik

15

T.Kimia (DIV)/Politeknik

Karyawan Keuangan dan Personalia

Keuangan (D3)

Karyawan Pemasaran dan Penjualan

Keuangan (D3)

Dokter

Kedokteran (S1)

Perawat

Akademi Perawat (D3)

Petugas Kebersihan

SMU

Petugas Keamanan

SMU/Pensiunan TNI

Supir

STM/SMU

Buruh Angkat

SMU

Jumlah

100

9.3.2 Pengaturan Jam Kerja


Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel
Sawit ini direncanakan beroperasi 350 hari pertahun dengan 24 jam operasi tiap
harinya. Berdasarkan pengaturan kerja, karyawan dapat digolongkan menjadi dua
golongan, yaitu :
1. Karyawan non-shift, yaitu karyawan yang berhubungan langsung dengan
proses produksi maupun tidak langsung, misalnya : bagian produksi, bagian
administrasi, bagian gudang, dan lain-lain.
Jam kerja karyawan non-shift ditetapkan 7 jam per hari dan 5 hari per
minggu. Selebihnya dianggap lembur. Perincian jam kerja non-shift adalah
sebagai berikut :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Senin-Kamis
-

Pukul 09.00 12.00 WIB Waktu kerja

Pukul 12.00 13.00 WIB Waktu istirahat

Pukul 13.00 16.00 WIB Waktu kerja

Jumat
-

Pukul 08.30 11.30 WIB Waktu kerja

Pukul 11.30 14.00 WIB Waktu istirahat

Pukul 14.00 17.00 WIB Waktu kerja

2. Karyawan shift, yaitu karyawan yang berhubungan langsung dengan proses


produksi yang memerlukan pengawasan secara terus-menerus selama 24 jam,
misalnya : bagian utilitas, dan keamanan. Perincian jam kerja shift adalah
sebagai berikut :
-

Shift I

: Pukul 07.00 15.00 WIB

Shift II

: Pukul 15.00 23.00 WIB

Shift III

: Pukul 23.00 07.00 WIB

Jam kerja bergiliran berlaku bagi karyawan. Untuk memenuhi kebutuhan


pabrik, setiap karyawan shift dibagi menjadi empat regu dimana tiga regu
kerja dan satu regu istirahat. Pada hari minggu dan libur nasional karyawan
shift tetap bekerja dan libur 1 hari setelah tiga kali shift. Jadwal kerja
karyawan shift dapat dilihat pada tabel 9.2 dibawah ini.

Tabel 9.2 Jadwal Kerja Shift


Regu

Hari
1

10

11

12

II

II

II

III

III

III

III

II

II

II

III

III

III

III

III

II

II

II

II

II

II

III

III

III

9.3.3 Kesejahteraan Tenaga Kerja


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Besarnya gaji dan fasilitas kesejahteraan tenaga kerja tergantung pada tingkat
pendidikan, jumlah jam kerja dan resiko kerja. Untuk mendapatkan hasil kerja yang
maksimal dari setiap tenaga kerja diperlukan dukungan fasilitas yang memadai.
Fasilitas

yang

tersedia pada

Pabrik Unit

Pemurnian Metil Ester

Hasil

Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit ini adalah sebagai berikut :


1. Fasilitas cuti tahunan
2. Tunjangan hari raya dan bonus
3. Tunjangan kecelakaan kerja
4. Tunjangan kematian, yang diberikan kepada keluarga tenaga kerja yang
meninggal dunia baik karena kecelakaan bekerja maupun di luar pekerjaan
5. Penyediaan sarana transportasi/bus karyawan
6. Penyediaan tempat ibadah, balai pertemuan dan sarana olahraga
7. Pelayanan kesehatan secara cuma-cuma
8. Penyedian seragam dan alat-alat pengaman (sepatu, seragam, helm, kaca
mata dan sarung tangan).
9. Beasiswa kepada anak-anak karyawan yang berprestasi.

9.4. Sistem Penggajian


Penggajian karyawan didasarkan kepada jabatan, tingkat pendidikan,
pengalaman kerja, dan resiko kerja. Perincian gaji karyawan adalah sebagai berikut :
Tabel. 9.3 Gaji karyawan
Jabatan

Jumlah

Gaji/bulan

Jumlah

(Rp)

Gaji/bulan (Rp)

Dewan Komisaris

18.000.000

36.000.000

Manager

7.000.000

7.000.000

Sekretaris

5.000.000

5.000.000

5.000.000

5.000.000

Kepala Bagian SDM/Umum

5.000.000

5.000.000

Kepala Bagian Teknik

5.000.000

5.000.000

Kepala Bagian Produksi

5.000.000

5.000.000

Kepala Bagian Finansial dan


Marketing

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kepala Seksi Marketing

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Pembelian

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Personalia

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi General Affair

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Keamanan

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Maintenance dan Listrik

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Instrumentasi

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Laboratorium

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Proses

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Utilitas

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Keuangan

4.000.000

4.000.000

Karyawan Produksi

24

2.000.000

48.000.000

Karyawan Teknik

15

2.000.000

30.000.000

Karyawan Keuangan dan Personalia

2.000.000

14.000.000

Karyawan Pemasaran dan Penjualan

2.000.000

14.000.000

Dokter

3.500.000

3.500.000

Perawat

1.500.000

3.000.000

Petugas Kebersihan

1.000.000

6.000.000

Petugas Keamanan

1.500.000

13.500.000

Supir

1.250.000

5.000.000

Buruh Angkat

900.000

5.400.000

Jumlah

100

254.400.000

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

BAB X
ANALISIS EKONOMI

Estimasi profitabilitas dari suatu rancangan pabrik kimia perlu dilakukan guna
mengetahui kelayakan berdirinya suatu pabrik kimia. Selain berorientasi pada profit,
uji kelayakan suatu pabrik secara ekonomi dapat dilihat dari parameterparameter
sebagai berikut :
1. Modal Investasi / Capital Investment (CI)
2. Biaya Produksi Total / Total Cost (TC)
3. Margin Keuntungan / Profit Margin (PM)
4. Titik Impas / Break Even Point (BEP)
5. Laju Pengembalian Modal / Return On Investment (ROI)
6. Waktu Pengembalian Modal / Pay Out Time (POT)
7. Laju Pengembalian Internal / Internal Rate of Return (IRR)

10.1 Modal Investasi


Modal investasi adalah seluruh modal untuk mendirikan pabrik dan mulai
menjalankan usaha sampai mampu menarik hasil penjualan. Modal investasi terdiri
dari :
10.1.1 Modal Investasi Tetap / Fixed Capital Investment (FCI)
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Modal investasi tetap adalah modal yang diperlukan untuk menyediakan segala
peralatan dan fasilitas manufaktur pabrik. Modal investasi tetap ini terdiri dari :
a. Modal Investasi Tetap Langsung (MITL) / Direct Fixed Capital Investment
(DFCI), yaitu modal yang diperlukan untuk mendirikan bangunan pabrik,
membeli dan memasang mesin, peralatan proses dan peralatan pendukung
yang diperlukan untuk operasi pabrik. Modal investasi tetap langsung ini
meliputi :
a. Modal untuk tanah
b. Modal untuk bangunan dan sarana
c. Modal untuk peralatan proses
d. Modal untuk peralatan utilitas
e. Modal untuk instrumentasi dan alat kontrol
f. Modal untuk perpipaan
g. Modal untuk instalasi listrik
h. Modal untuk insulasi
i. Modal untuk inventaris kantor
j. Modal untuk perlengkapan kebakaran dan keamanan
k. Modal untuk sarana transportasi
Dari hasil perhitungan pada Lampiran E.1.1 diperoleh Modal Investasi Tetap
Langsung (MITL) sebesar Rp. 138.319.805.300,-

b. Modal Investasi Tetap Tidak Langsung (MITTL) / Indirect Fixed Capital


Investment (IFCI), yaitu modal yang diperlukan pada saat pendirian pabrik
(construction

overhead)

dan

semua

komponen

pabrik

yang

tidak

berhubungan secara langsung dengan operasi proses. Modal investasi tetap


tidak langsung ini meliputi :
a. Modal untuk pra-investasi
b. Modal untuk engineering dan supervisi
c. Modal biaya legalitas
d. Modal biaya kontraktor (Contractors fee)
e. Modal untuk biaya Tidak terduga (Contigencies)
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Dari hasil perhitungan pada Lampiran E.1.2 diperoleh Modal Investasi Tetap
Tidak Langsung (MITTL) sebesar Rp. 37.346.347.430,Maka Total Modal Investasi Tetap (MIT) adalah sebesar :
Total MIT

= MITL +MITTL
= (Rp. 138.319.805.300,- + Rp. 37.346.347.430,-)
= Rp. 175.666.152.700,-

10.1.2 Modal Kerja / Working Capital (WC)


Modal kerja adalah modal yang diperlukan untuk memulai usaha sampai
mampu menarik keuntungan dari hasil penjualan dan memutar keuangannya. Jangka
waktu pengadaan biasanya antara 3 4 bulan, tergantung pada cepat atau lambatnya
hasil produksi yang diterima. Dalam perancangan ini jangka waktu pengadaan modal
kerja diambil 3 bulan. Modal kerja ini meliputi :
a. Modal untuk biaya bahan baku proses dan utilitas
b. Modal untuk kas
Kas merupakan cadangan yang digunakan untuk kelancaran operasi dan
jumlahnya tergantung pada jenis usaha. Alokasi kas meliputi gaji pegawai,
biaya administrasi umum dan pemasaran, pajak dan biaya lainnya.
c. Modal untuk mulai beroperasi (Start-Up)
d. Modal untuk piutang dagang
Piutang dagang adalah biaya yang harus dibayar sesuai dengan nilai
penjualan yang dikreditkan. Besarnya dihitung berdasarkan lamanya kredit
dan nilai jual tiap satuan produk.
Dari hasil perhitungan pada Tabel LE.9 diperoleh Modal Kerja sebesar
Rp. 97.835.722.960,Total Modal Investasi

= Modal Investasi Tetap + Modal Kerja


= Rp. 175.666.152.700,- + Rp. 97.835.722.960,= Rp. 273.501.875.700,-

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Modal ini berasal dari :


1. Modal Sendiri
Besarnya modal sendiri adalah 60% dari total modal investasi, sehingga
modal sendiri adalah sebesar Rp. 164.101.125.400.,-

2. Pinjaman dari Bank


Besarnya modal sendiri adalah 40% dari total modal investasi, sehingga
pinjaman dari bank adalah sebesar Rp. 109.400.750.300,-

10.2 Biaya Produksi Total (BPT) / Total Cost (TC)


Biaya produksi total merupakan semua biaya yang digunakan selama pabrik
beroperasi. Biaya produksi total meliputi :
10.2.1 Biaya Tetap / Fixed Cost (FC)
Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak tergantung pada jumlah
produksi, meliputi sebagai berikut :
a. Gaji Tetap Karyawan
b. Bunga Pinjaman Bank
c. Depresiasi dan Amortisasi
d. Biaya Perawatan Tetap
e. Operating Supply
f. Laboratory Charge
g. Biaya Hak Paten dan Royalti
h. Biaya Asuransi
i.

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

j.

General Expances, yang meliputi :

Biaya Administrasi

Biaya Pemasaran dan Distribusi

Biaya Research and Development

Dari hasil perhitungan pada Lampiran E.3.1 diperoleh Biaya Tetap (FC) sebesar
Rp. 48.074.901.320,Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

10.2.2 Biaya Variabel / Variabel Cost (VC)


Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya tergantung pada jumlah produksi.
Biaya variabel meliputi sebagai berikut :
a. Biaya Bahan Baku Proses dan Utilitas
b. Biaya Variabel Tambahan, meliputi biaya perawatan dan penanganan
lingkungan, pemasaran dan distribusi
c. Biaya variabel lainnya.
Dari hasil perhitungan pada Lampiran E.3.2 diperoleh Biaya Variabel (VC) sebesar
Rp. 14.951.404.860,Total biaya produksi = Biaya tetap + Biaya variabel
= Rp. 48.074.901.320,- + Rp 14.951.404.860,= Rp. 63.026.306.180,-

10.3 Total Penjualan (Total Sales)


Hasil penjualan Biodiesel
= 3208,355 kg/jam x 24 jam/hari x 350 hari/tahun x Rp.5.500,- /kg
= Rp. 148.226.001.000,Hasil penjualan Gliserol
= 191,084 kg/jam x 24 jam/hari x 350 hari/tahun x Rp.6.500,- /kg
= Rp. 10.433.186.400,-

10.4 Perkiraan Rugi/Laba Usaha


Dari hasil perhitungan pada Lampiran E.4, E.4.1, E.4.2 diperoleh sebagai
berikut :
Laba sebelum Pajak (Bruto)

= Rp. 95.632.881.220,-

Pajak Penghasilan (PPh)

= Rp. 28.672.364.370,-

Laba setelah Pajak (Netto)

= Rp. 66.960.516.850,-

10.5 Analisa Aspek Ekonomi


10.5.1 Profit Margin (PM)
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Profit Margin atau net profit menunjukkan pada perhitungan profitabilitas


(dalam persen). Dihitung pada Lampiran E.5.1 dari perbandingan antara keuntungan
sebelum pajak terhadap total penjualan.
PM =

Laba sebelum pajak


x 100 %
Total Penjualan

95.632.881.220
x 100 %
158.659.187.400

= 60,27 %
Dari hasil perhitungan diperoleh profit margin sebesar 60,27 %. Maka Prarancangan Pabrik Pemurnian Biodiesel ini memberikan keuntungan.

10.5.2 Break Even Point (BEP)


Break Even Point adalah keadaan kapasitas produksi pabrik saat hasil
penjualan hanya dapat menutupi biaya produksi. Dari hasil Perhitungan Lampiran
E.5.2, dalam keadaan ini pabrik tidak untung dan tidak rugi.
BEP =

Biaya Tetap
x 100 %
Total Penjualan Biaya Variabel

BEP =

48.074.901.320
x 100 % = 33,45 %
158.659.187.400 14.951.404.860

Kapasitas produksi pada titik BEP

= 33,45 % x 35.000 ton/tahun


= 11.707,5 ton/tahun

Nilai penjualan pada titik BEP

= 33,45 % x Rp. 158.659.187.400,= Rp. 53.071.498.190,-

Dari data feasibilities (Peters, dkk. 2004) diperoleh data sebagai berikut :
BEP 50 %, pabrik layak (feasible)
BEP 70 %, pabrik kurang layak (infeasible)
Dari perhitungan diperoleh BEP sebesar 33,45 %. Maka Pra-Rancangan Pabrik
ini cukup layak.

10.5.3 Return On Investment (ROI)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Return on Investment adalah besarnya persentase pengembalian modal tiap


tahun dari penghasilan bersih. Perhitungan dalam Lampiran E.5.3 sebagai berikut :
ROI

Laba setelah pajak


x 100 %
Total modal Investasi

ROI

66.960.516.850
x 100 %
273.501.875.700

= 24,48 %

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui laju pengembalian modal investasi total
dalam pendirian pabrik. Kategori resiko pengembalian modal tersebut adalah sebagai
berikut :
ROI 15 %, resiko pengembalian modal rendah
15 % ROI 45 %, resiko pengembalian modal rata-rata
ROI 45 %, resiko pengembalian modal tinggi.
Dari hasil perhitungan diperoleh ROI sebesar 24,48 % sehingga pabrik yang
akan didirikan ini termasuk resiko laju pengembalian modal rata-rata.
10.5.4 Pay Out Time (POT)
Pay Out Time adalah angka yang menunjukkan berapa lama waktu
pengembalian modal, dihitung pada lampiran E.5.4 dengan membandingkan besar
total investasi dengan penghasilan bersih setiap tahun. Untuk itu, pabrik dianggap
beroperasi pada kapasitas setiap tahun.
POT

1
x 1 Tahun
ROI

POT

1
x 1 Tahun
0,2448

POT

= 4,08 Tahun

Dari hasil perhitungan didapat bahwa seluruh modal investasi akan kembali
setelah 4,08 tahun operasi.

10.5.5 Return On Network (RON)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Return on Network merupakan perbandingan laba setelah pajak dengan modal


sendiri. Perhitungan yang ada pada Lampiran E.5.5 sebagai berikut :
RON =

Laba setelah pajak


x 100 %
Modal sendiri

RON =

66.960.516.850
x 100 %
164.101.125.400

RON = 40,80 %

10.5.6 Internal Rate of Return (IRR)


Internal Rate of Return adalah rata-rata pengembalian yang dapat diterima atas
investasi modal (www.wikipedia.com). Apabila tingkat return sebuah pabrik lebih
tinggi dari suku bunga bank yang berlaku maka pabrik tersebut merupakan investasi
yang baik. Dari perhitungan Tabel LE.10 diperoleh IRR sebesar 33,34 %. Nilai ini
lebih besar dari suku bunga bank yaitu pada kisaran 16% sehingga dapat dikatakan
Pabrik Pemurnian metil ester hasil Transesterifikasi menjadi Biodiesel Sawit
merupakan investasi yang baik.

BAB XI
KESIMPULAN

Dari hasil analisa perhitungan pada Pra Rancangan Pabrik Pemurnian Metil
Ester hasil Transesterifikasi menjadi Biodiesel Sawit ini diperoleh beberapa
kesimpulan, yaitu :
1. Pabrik direncanakan beroperasi selama 350 hari pertahun, 24 jam sehari dengan
kapasitas bahan baku metil ester 17.500 ton/tahun.
2. Lokasi pabrik direncanakan didirikan di daerah Kecamatan Labuhan Deli yang
merupakan hilir Sungai Deli, Sumatera Utara dengan luas 9830 m2.
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

3. Bentuk badan usaha yang direncanakan adalah Perseroan Terbatas (PT) dan
bentuk organisasi yang direncanakan adalah sistem garis dan staff, dengan
jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 100 orang.
4. Hasil analisa ekonomi :
a. Total modal investasi

: Rp. 273.501.875.700,-

b. Biaya Produksi (per tahun)

: Rp. 63.026.306.180,-

c. Hasil penjualan (per tahun)

: Rp. 158.659.187.400,-

d. Laba bersih

: Rp. 66.960.516.850,-

e. Profit Margin (PM)

: 60,27 %

f. Break Even Point (BEP)

: 33,45 %

g. Return on Investment (ROI)

: 24,48 %

h. Pay Out Time (POT)

: 4,08 tahun

i. Return on Network (RON)

: 40,80 %

j. Internal Rate of Return (IRR) : 33,43 %

5. Berdasarkan data-data di atas maka dapat disimpulkan bahwa perancangan


pabrik Unit Pemurnian metil Ester hasil Transesterifikasi menjadi Biodiesel
Sawit ini layak untuk didirikan.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Harian Analisa, 12 Mei 2009.


Bapedal, Laporan Akhir Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan, SUMUT,
2006.
Badan Standarisasi Nasional, 2006
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Brownell, L.E., and Young, E.H. 1979. Process Equipment Design. Wiley Eastern
Limited. New Delhi.
Considine, Douglas M. 1974. Instruments and Controls Handbook. 2nd Edition.
McGraw Hill Book Company : New York, USA.
Darnoko, D. dan M, Cheryan. 2000a. Continuos Production of Palm Methyl Ester.
JAOCS. 77 (12) : 1269-72
Darnoko, D. dan M, Cheryan. 2000b. Kinetics of Palm Oil Transesterification.
JAOCS. 77 (12) : 1263-67
Darnoko, Siahaan, dkk. 1997. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit.Pusat
Penelitian Kelapa Sawit, Medan
Darnoko, D. T, Herawan dan P. Guritno. 2001. Teknologi Produksi Biodiesel dan
Prospek Pengembangannya di Indonesia. Warta PPKS. 1: 17-27
Foust, Alan S. 1980. Process of Unit Operation. John Wiley and Sons. New York.
Geankoplis, Chistie J. 1997. Transport Process, Momentum, Heat and Mass, Allyn
and Bacon. Boston.
Hammer, M.J. 1986. Water and Wastewater Technology. Edisi 3. Prenticehall. New
York.
Kern, 1950. Process Heat Transfer. McGraw-Hill Book Co. Auckland.
Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Penerbit Universitas Indonesia
Press, Jakarta.
Kirk-Othmer. 1967. Encyclopedia of Chemical Technology. Edisi 2. International
Science. Dursion of John Wiley and Sons. New York.
McCabe Warren dkk. 1985. Unit Operation of Chemical Engineering.Mc.Graw-Hill
International Book Co. New York

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Metcalf & Eddy. 1991. Waste Water Engineering Treatment, Dispsosal, Reuse.
McGraw Hill Book Company : New Delhi.
Manulang, M. (Alih Bahasa). 1988. Dasar-dasar marketing Modern. Edisi 1.
Yogyakarta : Penerbit Liberty.
Mandiri, Bank. 2008. Suku bunga pinjaman tahunan. Medan.
Mittlebach, M. dan C. Remscmidt. 2004. Biodiesel : The Comprehensive Handbook,
1stEdition, Boersedruck Ges.m.b.H, Vienna, Austria.
Nalco. 1979. The Nalco Water Hanbook. McGraw-Hill Book Company. New York.
Pakpahan, A. 2001. Palm Biodiesel : Its Potency, Teknology, Business Prospect And
Environmental Implications in Indonesia. Proccedings International Biodiesel
Workshop. Indonesia, hal 1-12.
Perry, J.H. 1999. Chemical Engineering Handbook. Edisi 7, McGraw-Hill Book Co.
New York.
Peters, M.S., Timmerhaus, K.P., 2004. Plant Design and Economic for Chemical
Engineers. Edisi 4. McGraw-Hill Book Co. Tokyo.
PT. Bratachem. 2008. Medan.
PT. Pertamina. 2008. Solar Industri. www.pertamina.go.id.
Reklaitis, G.V. 1983. Introduction to Material and Energy Balance. John Wiley and
Sons. New York.
Rusjdi, M. 2004. PPh Pajak Penghasilan. Penerbit PT Indeks Gramedia : Jakarta.

Rusdji, M. 2004. PPN dan PPnBM : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Atas Barang
Mewah. Penerbit PT Indeks Gramedia : Jakarta.
Siagian, Sondang P. 1992. Fungsi-fungsi Manajerial. Offset Radar Jaya. Jakarta.
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Smith, J.M, and Vannes, H.C. 2001. Introduction to Chemical Engineering


Thermodinamics. McGraw-Hill Book Co. New York.
Sutarto. 2002. Dasar-dasar Organisasi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Teuku, Buena. 2004 Belajar Merancang Pabrik Kimia, dalam www.chem-isttry.org.
Ulrich, G.D., 1984. A. Guide to Chemical Engineering Process Design and
Economics. John Wiley and Son. New York.
Smith, J.M., 1987. Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics. 3rd
Edition. McGraw-Hill Book Company. New York.
Warta PPKS 2005, vol. 13 (2) : 7-12)
Walas, Stanley M. 1988. Chemical Process Equipment. Butterworth. Departement of
Chemical and Petroleum Enginering University of Kansas.
Waluyo. 2000. Perubahan Perundang-undangan Perpajakan era Reformasi. Salemba
Empat. Jakarta.
Zainun, Buchari. 1987. Organisasi dan Manajemen. Balai Pustaka. Jakarta.
Gianie/litbang kompas (kompas Cyber Media)
Majalahpengusaha.com, 2009
http://www.americanpalmoil.com/pdf/biodiesel/green%20and%20renewable%20fuel.pdf
(12 Maret 2008).
http://www.cambridge.org/us/books/kiple/palmoil.html (12 Maret 2008).
http://www.epu.jpm.my/new%20folder/seminar/industri/(3)%20%20(MPOB%201%20-%203.40pm).pdf (12 Maret 2008).
http://macklin.tmip-unpad.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=332
(25 Februari 2008).
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

http://minyak-kelapa.blogspot.com/2005_08_01_archive.html (12 Maret 2008).


http://palmoilis.mpob.gov.my/publications/opiejv4n1-yusof.pdf (12 Maret 2008).
http://palmoilis.mpob.gov.my/publications/opiejv2n1-1.pdf (12 Maret 2008).
http://www.sentrapolimer.com/index.php?option=com_content&task=view&id=24&
Itemid=50 (25 Februari 2008).

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN NERACA MASSA
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kapasitas produksi

: 50 ton/hari

Basis perhitungan

: 1 jam operasi

50

1hari
ton
1000kg
x
x
= 4166,66 kg/jam
24 jam
hari
1ton

Komposisi produk :

Metil Ester

: 77,07 %

Trigliserida

: 3,18 %

Metanol

: 9,94 %

KOH

: 0,78 %

Sabun

: 0,12 %

Gliserol

: 8,75 %

Air

: 0,01 %

(Sumber, PPKS. Februari 2007)

1. Tangki Pemisah (H-110)


Pada proses pemisahan ini, pemisahan terjadi sebanyak 80 % pada layer atas dan
20 % pada layer bawah. (Sumber, Warta PPKS 2005, vol. 13 (2) : 7-12)
Asumsi : Metil ester seluruhnya keluar pada alur 3
Metil ester 1
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Tangki Pemisah
2

Metil ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Alur 1 :
F1metil ester =

77,07
x 4166,66 = 3211,245 kg/jam
100

F1metanol =

9,94
x 4166,66 = 414,166 kg/jam
100

F1TG

3,18
x 4166,66 = 132,499 kg/jam
100

F1Gliserol =

8,75
x 4166,66 = 364,583 kg/jam
100

F1KOH

0,78
x 4166,66 = 32,499 kg/jam
100

F1sabun

0,12
x 4166,66 = 4,999 kg/jam
100

F1air

0,16
x 4166,66 = 6,666 kg/jam
100

Alur 3 :
F3metil ester = F1metil ester

= 3211,245 kg/jam

F3metanol = 0,8 x 414,166 = 331,332 kg/jam


F3TG

= 0,8 x 132,499 = 105,999 kg/jam

F3gliserol

= 0,8 x 364,583 = 291,666 kg/jam

F3KOH

= 0,8 x 32,499 = 25,999 kg/jam

F3sabun

= 0,8 x 4,999 = 3,999 kg/jam

F3air

= 0,8 x 6,666 = 5,333 kg/jam

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Alur 2 :
F2metanol = F1metanol F3metanol = 414,166 -331,332 kg/jam
F2gliserol

= 72,917 kg/jam

F2KOH

= 6,5 kg/jam

F2sabun

= 1 kg/jam

F2air

= 1,333 kg/jam

F2TG

= 26,5 kg/jam

Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 1

Metil Ester

Alur 2

Alur 3

3211,245

3211,245

Metanol

414,166

82,834

331,332

Trigliserida

132,499

26,5

105,999

Gliserol

364,583

72,917

291,666

KOH

32,499

6,5

25,999

Sabun

4,999

3,999

Air

6,666

1,333

5,333

Jumlah

4166,66

191,084

3975,573

Jumlah

4166,66

4166,66

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

2. Tangki Pencuci I (M-210)


Pada tangki pencuci I (M-210) air yang digunakan adalah sebanyak 30 % dari
banyaknya bahan yang akan dicuci. (Sumber, Warta PPKS 2005, vol. 13 (2) : 7-12)
30
x 3975,573 = 1192,672 kg/jam
100

4
Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Air
5

Tangki Pencuci

Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Alur 4 :
F4air

= 0,3 F3
= 0,3 x 3975,573 = 1192,672 kg/jam

Alur 5 :
F5metil ester = F3metil ester = 3211,245 kg/jam
F5metanol = 331,332 kg/jam
F5TG

= 105,999 kg/jam

F5gliserol

= 291,666 kg/jam

F5KOH

= 25,999 kg/jam

F5sabun

= 3,999 kg/jam

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

F5air

= F3air + F4air = 5,333 + 1192,672 = 1198,005 kg/jam

Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 3

Metil Ester

Alur 4

Alur 5

3211,245

3211,245

Metanol

331,332

331,332

Trigliserida

105,999

105,999

Gliserol

291,666

291,666

KOH

25,999

25,999

Sabun

3,999

3,999

Air

5,333

1192,672

1198.005

3975,573

1192,672

5168,245

Jumlah
Jumlah

5168,245

5168,245

3. Tangki Pemisah I (H-212)


Metil ester diasumsikan seluruhnya keluar pada alur 7. Dari Foust, Allan. 1979,
air yang keluar 5-10 %. Maka diasumsikan air yang keluar pada alur 7 adalah 10 %.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Tangki
Pemisahan

6
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Alur 7 :
F7metil ester = F5metil ester = 3211,245 kg/jam
F7metanol =

10
x 331,332 = 33,133 kg/jam
100

F7TG

10
x 105,999 = 10,599 kg/jam
100

F7gliserol =

10
x 291,666 = 29,167 kg/jam
100

F7KOH

10
x 25,999 = 2,599 kg/jam
100

F7sabun

10
x 3,999 = 0,399 kg/jam
100

F7air

10
x 1198,005 = 119,801 kg/jam
100

Alur 6 :
F6metanol = F5metanol F7metanol = 298,199 kg/jam
F6TG

= 95,4 kg/jam

F2gliserol

= 262,499 kg/jam

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

F2KOH

= 23,4 kg/jam

F2sabun

= 3,6 kg/jam

F2air

= 1078,204 kg/jam
Masuk (kg/jam)

NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 5

Metil Ester

Alur 6

Alur 7

3211,245

3211,245

Metanol

331,332

298,199

33,133

Trigliserida

105,999

95,4

10,599

Gliserol

291,666

262,499

29,167

KOH

25,999

23,4

2,599

Sabun

3,999

3,6

0,399

Air

1198.005

1078,204

119,801

5168,245

1761,302

3406,943

Jumlah
Jumlah

5168,245

5168,245

4. Tangki Pencuci II (M-220)


Pada tangki pencuci II (M-220) air yang digunakan adalah sebanyak 30 % dari
banyaknya bahan yang akan dicuci.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

8 Air
Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Tangki
Pencucian

Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Alur 8 :
F8Air

= 0,3 F7 = 0,3 x 3406,943 = 1022,083 kg/jam

Alur 9 :
F9metil ester = F7metil ester = 3211,245 kg/jam
F9metanol = 33,133 kg/jam
F9TG

= 10,599 kg/jam

F9gliserol = 29,167 kg/jam


F9KOH

= 2,599 kg/jam

F9sabun

= 0,399 kg/jam

F9air

= F7air + F8air = 119,801 + 1022,083 = 1141,884 kg/jam


Masuk (kg/jam)

NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 7

Metil Ester

Alur 8

Alur 9

3211,245

3211,245

Metanol

33,133

33,133

Trigliserida

10,599

10,599

Gliserol

29,167

29,167

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

KOH

2,599

2,599

Sabun

0,399

0,399

Air

119,801

1022,083

1141,884

3406,943

1022,083

4429,026

Jumlah
Jumlah

4429,026

4429,026

5. Tangki Pemisah II (H-222)


Metil ester diasumsikan seluruhnya keluar pada alur 11. Dari Foust, Allan. 1979,
air yang keluar 5-10 %. Maka diasumsikan air yang keluar pada alur 11 adalah 10 %.
Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Tangki
Pemisahan
10

11

Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Alur 11 :
F11metil ester = F9metil ester = 3211,245 kg/jam
F11metanol = 0,1 x 33,133 = 3,313 kg/jam
F11TG

= 0,1 x 10,599 = 1,059 kg/jam

F11gliserol = 0,1 x 29,167 = 2,917 kg/jam


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

F11KOH

= 0,1 x 2,599 = 0,259 kg.jam

F11sabun

= 0,1 x 0,399 = 0,039 kg/jam

F11air

= 0,1 x 1141,884 = 114,188 kg/jam

Alur 10 :
F10metanol = 29,82 kg/jam
F10TG

= 9,54 kg/jam

F10gliserol = 26,25 kg/jam


F10KOH

= 2,34 kg/jam

F10sabun = 0,36 kg/jam


F10air

= 1027,696 kg/jam
Masuk (kg/jam)

NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 9

Metil Ester

Alur 10

Alur 11

3211,245

3211,245

Metanol

33,133

29,82

3,313

Trigliserida

10,599

9,54

1,059

Gliserol

29,167

26,25

2,917

KOH

2,599

2,34

0,259

Sabun

0,399

0,36

0,039

Air

1141,884

1027,696

114,188

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Jumlah

4429,026

Jumlah

4429,026

1096,006

3333,02

4429,026

6.Tangki Pencuci III (M-230)


Pada tangki pencuci III (M-230) air yang digunakan adalah sebanyak 30 % dari
banyaknya bahan yang akan dicuci.

12
Metil Ester
Metanol 11
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Air

Tangki
Pencucian

13

Metil Ester
Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Alur 12 :
F12Air = 0,3 x F11 = 0,3 x 3333,02 = 999,906 kg/jam
Alur 13 :
F13metil ester = F11metil ester = 3211,245 kg/jam
F13metanol = 3,313 kg/jam
F13TG

= 1,059 kg/jam

F13gliserol = 2,917 kg/jam


F13KOH

= 0,259 kg/jam

F13sabun

= 0,039 kg/jam

F13air

= F11air + F12air = 114,188 + 999,906 = 1114,094 kg/jam

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 11

Metil Ester

Alur 12

Alur 13

3211,245

3211,245

Metanol

3,313

3,313

Trigliserida

1,059

1,059

Gliserol

2,917

2,917

KOH

0,259

0,259

Sabun

0,039

0,039

Air

114,188

999,906

1114,094

3333,02

999,906

4332,926

Jumlah
Jumlah

4332,926

4332,926

7. Tangki Pemisah III (H-232)

Metil Ester
Metanol 13
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Tangki
Pemisahan
14

15

99% Metil ester


1% Air

Metanol
Trigliserida
Gliserol
KOH
Sabun
Air

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Alur 15 :
F15metil ester = F13metil ester = 3211,245 kg/jam
1% =

F 15 H 2O
F 15 H 2O + 3211,245

F15H2O = 32,113 kg/jam

Alur 14 :
F14metanol = F13metanol = 3,313 kg/jam
F14TG

= F13TG = 1,059 kg/jam

F14gliserol = F13gliserol = 2,917 kg/jam


F14KOH

= F13KOH = 0,259 kg/jam

F14sabun

= F13sabun = 0,039 kg/jam

F14air

= F13air F15air = 1114,094 - 32,113 = 1081,981 kg/jam

Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 13

Metil Ester

2
3

Alur 14

Alur 15

3211,245

3211,245

Metanol

3,313

3,313

Trigliserida

1,059

1,059

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Gliserol

2,917

2,917

KOH

0,259

0,259

Sabun

0,039

0,039

Air

1114,094

1081,981

32,113

4332,926

1089,568

3243,358

Jumlah
Jumlah

4332,926

4332,926

8. Tangki Penyimpanan Air (F-214)


4
21
Air

Tangki air
panas

Air
Air
Air

12

Alur 21 :
F21air = F4air + F8air + F12air
F21air = 1192,672 + 1022,083 + 999,906
F21air = 3214,661 kg/jam

9. Vaccum Drier

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Air
99% Metil Ester
1% Air

15

16

Vaccum Drier
17

99% Metil Ester


0,01% Air

Alur 17 :
F17metil ester = F15metil ester = 3211,245 kg/jam

F 17 H 2O
0,01% = 17
F H 2O + 3211,245
F17H2O = 0,321 kg/jam
Alur 16 :
F16air = F15air F17air = 32,113 0,321 = 31,792 kg/jam

Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 15

Metil Ester

Air
Jumlah
Jumlah

Alur 16

Alur 17

3211,245

3211,245

32,113

31,792

0,321

3243,358

31,792

3211,566

3243,358

3243,358

10. Proses Filtrasi

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Akhir dari proses adalah filtrasi, proses ini bertujuan untuk menghilangkan
partikel-partikel pengotor biodiesel yang terbentuk selama proses berlangsung.

18
Biodiesel
Air

20
Vibrating
filter

Biodiesel
Air

19
Zat-zat -pengotor
0,1%

Alur 18 :
F18biodiesel = F17biodiesel = 3211,245kg/jam
F18air

= F17air = 0,321 kg/jam

Alur 19 :
F19 =

0,1
x 3211,245 = 3,211 kg/jam
100

Alur 20 :
F20 = F18 F20 = 3211,245 3,211 = 3208,034 kg/jam
F20air = F18air = 0,321 kg/jam
Masuk (kg/jam)
NO

Keluar (kg/jam)

Komponen
Alur 18

Alur 19

Alur 20

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Biodiesel

Air

Zat-zat pengotor
Jumlah

3211,245

3208,034

0,321

0,321

3,211

3211,566

Jumlah

3211,566

3,211

3208,355
3211,566

LAMPIRAN B
PERHITUNGAN NERACA ENERGI
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Basis Perhitungan

: 1 jam operasi

Satuan Operasi

: kJ/jam

Temperatur Basis

: 250C = 298 K

Perhitungan neraca panas ini menggunakan rumus-rumus perhitungan dan data-data


sebagai berikut :
Perhitungan Panas Bahan Masuk (Qin) dan keluar (Qout)

Q = N i . Cp i . dT
BP
Q = Fi Cp l i dT + H vl +
298

Cp
dT

V
i

BP

Keterangan : Persamaan (2) di atas merupakan perhitungan panas bahan yang disertai
perubahan fasa (phase transition) (Reklaitis,1983).
Dimana :
Q

: Jumlah panas (kJ/jam)

Ni = Fi

: Jumlah bahan yang masuk (kg/jam)

Cpi

: Kapasitas panas masuk (kJ/kg K)

Cpli

: Kapasitas panas cairan masuk (kJ/kg K)

Cpgi

: Kapasitas panas gas masuk (kJ/kg K)

dT

: Perubahan suhu (K)

H VL

: Panas Laten (kJ/kg)

Tabel LB.1 Harga Cp Setiap Gugusan


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Gugus

Harga kkal/kmol.K

- CH3

8,8

- CH2 -

7,26

|
5,10
= CH - COOH

19,1

1,76

-H

3,49

- CH2OH

17,5

- CHO

12,65

- COO -

14,49

-O-

8,39

|
C=O

12,66

|
CH=CH

5,10

CH

Sumber : Reid, 1977

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Biodiesel (Metil Ester)


A. Metil Miristat (C15H30O2)
Bm = 242,39 kg/kmol ;

= CH3(CH2)13COOH
= 1(-CH3) + 13(-CH2-) + 1 (-COOH)
= 1(8,8) + 13(7,26) + 1(19,1)
= 122,28 kkal/kmol.oC
= 0,1206 kJ/kg.K

B. Metil Palmitat (C17H34O2)


Bm = 270,44 kg/kmol ;

= CH3(CH2)15COOH
= 1(-CH3) + 15(-CH2-) + 1 (-COOH)
= 1(8,8) + 15(7,26) + 1(19,1)
= 136,8 kkal/kmol.oC
= 0,1209 kJ/kg.K

C. Metil Stearat (C19H38O2)


Bm = 298,49 kg/kmol;

= CH3(CH2)17COOH
= 1(-CH3) + 17(-CH2-) + 1 (-COOH)
= 1(8,8) + 17(7,26) + 1(19,1)
= 151,32 kkal/kmol.oC
= 0,1212 kJ/kg.K

D. Metil Oleat (C19H36O2)


Bm = 296,48 kg/kmol;

= CH3(CH2)8CH = CH(CH2)7COOH
= 1(-CH3) + 15(-CH2-) + 1(CH=CH) + 1(-COOH)
= 1(8,8) + 15(7,26) + 1(5,10) + 1(19,10)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 141,9 kkal/kmol.oC
= 0,1144 kJ/kg.K

Komposisi metil ester dalam % mol :


Metil Miristat

2,3404 %

Metil Palmitat

= 44,0504 %

Metil Stearat

Metil Oleat

= 39,2247 %

Metil Linoleat

Cp total Biodiesel

= 0,0234 (0,1206) + 0,4405 (0,1209) + 0,0475 (0,1212)

4,7513 %

9,6333 %

+ 0,3922 (0,1144) + 0,0963 (0,1075)


= (0,0028 + 0,0533 + 0,0058 + 0,0449 + 0,0104)
= 0,1172 kJ/kg.K

Cp Air dapat diperoleh dari Geankoplis, tabel A.2-5


Data Kapasitas Panas, dan Panas Laten
Kapasitas Panas Gas, Cpv = a + bT + cT2 + dT3 + eT4 (J/mol oK)
Komponen
Air

3,40471E+01

-9,65064E-03

3,29983E-05

-2,04467E-08 4,30228E-12

Sumber : Reklaitis,1983.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kapasitas Panas Liquid (Cairan),Cpl = a + bT + cT2 + dT3 (J/mol oK)


Komponen
Air

1,82964E+01

4,72118E-01

-1,33878E-03

1,31424E-06

Sumber : Reklaitis, 1983.

Panas Laten, HVL air

= 40656,2 (J/mol)

(Reklaitis,1983)

= 2258,67 kJ/kg

NERACA PANAS PADA TIAP ALAT


1. Vaccum Drier (VD-310)
T = 1000C
P = 0,5 atm

T = 850C

Steam 18

Uap air P = 0,5 atm


16

15
Metil ester
Air
T = 300C
P = 0,5 atm

Vaccum Drier

17

Metil ester
Air
T = 850C
P = 0,5 atm

19
Kondensat P = 0,5 atm
T = 1000C

Panas masuk
Q = m .Cp. t
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Jumlah panas masuk (Qmasuk) pada 300C


Komponen

m (kg/jam)

Air
Biodiesel

T (K)

Cp (kJ/kg K)

Qk (kj/jam)

32,113

4,181

671,322

3211,245

0,1172

1881,789

3243,358

2553,111

Panas Keluar
Uap air pada suhu 85oC = 358 K

3,4047 .101 9,65064 .10 3 T + 3,29983 .10 5 T 2 2,04467 .10 8 T 3


373CpV dT = 373 + 4,30228 .10 12 T 4

358

358

dT

9,65064 .10 3 2 3,29983 .10 5 3 2,04467 .10 8 4 358


1
T
T +
T
T
3
,
4047
.
10

2
3
4

4,30228 .10 12 5
T
373
+
5

9,65064.10 3
1
358 2 373 2
3,4047.10 . (358 373)
2

5
2,04467.10 8
3,29983.10
= +
358 3 3733
358 4 373 4
3
4

12
4,30228.10
358 5 3735
+

= ((-510,705) + (52,9096) - (66,1330) + (14,9816) - (1,1527))


= (-510,0995) J/mol
=

- 510,0995 kJ/kmol
= -28,3389 kJ/kg
18 kg/kmol

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

358
373

Panas keluar uap air = F16air Cplair.dT + Hvl + Cpvair.dT


373
298

= 31,792 (kg/jam) [(4,219 kj/kg.K x (373-298)K)


+ 2258,67 kJ/kg + (-28,3389 kJ/kg )]
= 31,792 [2546,756]
= 80966,467 kj/jam
Jumlah panas yang keluar (Qkeluar) pada 850C
Komponen

m (kg/jam)

Air
Biodiesel

Cp (kJ/kg K)

T (K)

Qk (kj/jam)

0,321

4,204

60

80,969

3211,245

0,1172

60

22581,475

3211,566

22662,444

Qs = Qk - Qm
= (22662,444 + 80966,467) 2553,111
= 101075,8 kJ/jam
Dari Tabel steam Reklaitis, 1983 diperoleh :
HV (100oC, 0,5 atm)

= 2646,0 kJ/kg

Hl (100oC, saturated liquid) = 340,5 kJ/kg


Q = Hv - Hl
= 2646 kJ/kg 340,5 kJ/kg = 2305,5 kJ/kg
Massa steam yang diperlukan :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

m=

Qs
Q

101075,8
2305,5

= 43,841 kg/jam

Masuk (kJ/jam)

Keluar (kJ/jam)

Panas umpan

2553,111

Panas steam

101075,8

Panas produk

103628,911
103628,911

103628,911

2. Cooler (E-312)
Air proses
30oC
Air
17
Metil ester
o
85 C

Cooler

Air
Metil ester
33oC

18
o

P = 1 atm, T= 30 c

Air sisa
50oC

Perhitungan panas bahan masuk Cooler (Alur 17) pada 850C


Komponen
Air

m (kg/jam)
0,321

Cp (kj/kg.K)
4,204

T (358-298)
60

Qm (kj/jam)
80,969

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Biodiesel

3211,245

0,1172

60

Total

22581,475
22662,444

Perhitungan panas bahan keluar Cooler (Alur 18) pada 330C


Komponen

m (kg/jam)

Air

Cp (kj/kg.K)

T (306-298)

0,321 4,181

Biodiesel

3211,245 0,1172

Total

Qk (kj/jam)
8

10,737

3010,863
3021,6

Qs

= Qk - Qm
= 3021,6 22662,444
= -19640,844 (tanda negatif berarti melepaskan panas )

Cooler dilengkapi dengan air proses yang masuk pada suhu 300C dan air sisa keluar
pada suhu 500C
50 0 C

Cp .dT
l

= 104,575 kj/kg (Geankoplis, A.2-5)

25 C

Maka massa steam yang diperlukan :


m=

Qs
o

50 C

CP .dT

19640,844kj / jam
104,575kj / kg

25o C

= 187,816 kg/jam

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

LAMPIRAN C
SPESIFIKASI ALAT

LC.1 Tangki Bahan Baku Crude Metil Ester (F-111)


Fungsi

: Tempat menyimpan metil ester untuk keperluan proses


selama 30 hari.

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas datar dan tutup ellipsoidal.

Bahan Konstruksi : Carbon Steel, SA-285 grade C.


Jumlah

: 3 unit

Temperatur (T)

: 30oC

Tekanan (P)

: 1 atm

Perhitungan :
a. Volume :
Kebutuhan metil ester

= 4166,660 kg/jam

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 4166,660

kg
jam
x 24
jam
hari

= 99999,840 kg/hari
Kebutuhan untuk 2 hari

= 99999,840

kg
x 30 hari
hari

= 2.999.995,2 kg
Densitas metil ester,

= Densitas campuran

Lj Massa

% Berat

Densitas, i

Viskositas,

(kg/jam)

(%)

(kg/m3)

i (cP)

Komponen

Metil ester

3211,245

0,771 849,800

20,0334

Metanol

414,166

0,099 791,400

0,650

Trigliserida

132,499

0,032 887,600

16,570

Gliserol

364,583

0,087 1.241,000

190,000

KOH

32,499

0,008 2.019,547

0,000

Sabun

4,999

0,001 860,376

10,710

Air

6,666

0,002 995,650

0,549

4166,660

1,000

Densitas campuran (campuran) = 888,922 kg/m3


Volume metil ester (Vl)

2999995,2kg
888,922kg / m 3

= 3374,869 m3
Faktor kelonggaran (fk)

= 20%

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= (1 + 0,2) x 3374,869 m3

Volume tangki, Vt

= 4049,843 m3

Direncanakan 3 buah tangki, sehingga :


Vt

4049,843
= 1349,947 m3
3

b. Diameter (Dt) dan Tinggi Shell

Hh

Hc

Dt

Hs

Gambar LC-1 Ukuran Tangki

Volume silinder (VS)


V =

1
2
Dt Hs ;
4

Maka Vs =

3
3
3
D t = 1,1775 D t
8

Volume tutup tangki (Vh)


Vh =

asumsi, Hs : Dt = 3 : 2

3
D t = 0,131 Dt3
24

(Brownell & Young , 1959)

Volume tangki (Vt)


Vt

= Vs + Vh

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

1349,947 = 1,1775 Dt3 + 0,131 Dt3


Dt = 10,104 m = 33,149 ft = 397,788 in
r

= 0,5 Dt = 5,052 m = 16,576 ft = 198,912 in

Tinggi silinder (Hs)


Hs =

Hh =

3
3
x Dt = x 10,104 m = 15,156 m
2
2
1
1
x Dt = x 10,104 m = 2,526
4
4

Tinggi total tangki (Ht)


Ht = Hs + Hh = 15,156 + 2,526 = 17,682 m

Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)


Vl

= Vs

Vl

1124,956 m3 =

1
2
D t H cs
4
1
(10,104)2 Hcs
4

1124,956 m3 = 80,141 m2 Hcs


Hcs

= 14,037 m = 46,053 ft = 552,631 in

Tinggi total cairan (Hc)


Hc = Hcs = 14,037 m = 46,053 ft

c. Tebal Shell dan Head


Po = 1 atm = 14,696 psia
Phidrostatis

= g Hc = (888,922 kg/m3) (9,8 m/s2) (14,037 m)


= 122282,423 N/m2 = 17,736 psia

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Poperasi

= Po + Phidrostatis = 14,696 psia + 17,736 psia = 32,432 psia

Pdesain

= (1 + fk) Poperasi = (1 + 0,2) x 32,432 psia

= 38,918 psia

Untuk bahan konstruksi Carbon Steel, SA-285 Gr. C (Timmerhaus, 2004)


S

= 13.750 psia

Ej = 0,85
C = 0,04 in/tahun
n

(Perry, 1999)

= 10 tahun

Cc = 0,04 in/tahun x 10 tahun = 0,4 in

Tebal dinding tangki (tt)


Untuk cylindrical shells :
tt =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(Timmerhaus, 2004)

Dimana :
P = maximum allowable internal pressure
r

= jari-jari dalam tangki (in)

S = maximum allowable working stress


Ej = Joint effeciency
Cc = allowance for corrosion
tdesain =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

(38,918 psia ).(198,912in)


+ 0,4 in
(13750 psiax0,85) (0,6).(38,918 psia )

= 1,063 in
Tebal ellipsoidal head, te
te =

P.D
+ Cc
2S.Ej 0,2.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana : P = 38,918 psia


D = 397,788 in
Sehingga :
te =

(38,918 psia ).(397,788in)


+ 0,4 in
(2 x13750 psiax0,85) (0,2).(38,918 psia )

= 1,063 in

Dari Brownell & Young (1959) dipilih tebal tangki 1 in. Tutup terbuat
dari bahan yang sama dan tebal yang sama dengan dinding tangki.

LC.2 Tangki Penyimpanan Gliserol (F-113)


Fungsi

: Menampung produk gliserol kotor dari hasil tangki


pemisahan (H-110)

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar.

Bahan Konstruksi : Carbon Steel, SA-285, Grade C


Jumlah

: 3 unit

Lama Penyimpanan : 30 hari


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kondisi operasi

: Temperatur (T)

: 30oC

Tekanan (P)

: 1 atm

Tabel LC.2 Komposisi Umpan Masuk Tangki Gliserol


Lj Massa

% Berat

(kg/jam)

(%)

(kg/m3)

(cP)

Komponen

Trigliserida

26,500

0,139

887,600

16,570

1,000

0,005

860,376

10,710

82,834

0,433

791,400

0,650

KOH

6,500

0,034

2.019,547

0,000

Air

1,333

0,007

995,650

0,549

72,917

0,382

1.241,000

190,000

FFA
Metanol

Gliserol

191,084

1,0000

camp = (% Berat x i) = 1469,207 kg/m3 = 91,723 lbm/ft3

Perhitungan :
a. Volume tangki:
191,084kg / jamx30harix

Volume larutan, Vl

=
1469,207

kg
m3

Faktor kelonggaran (fk)

= 20%

Volume tangki, Vt

= (1 + 0,2) x 93,643 m3

24 jam
hari = 93,643 m3

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 112,372 m3

Direncanakan 3 buah tangki sehingga :

112,372m 3
=
= 37,457 m 3
3

VT
b. Diameter dan Tinggi Shell

Volume silinder
V

1
Dt2 Hs (Hs : Dt = 3 : 2)
4

Vs

3
Dt3
8

37,457 m3

3
Dt3
8

Dt

= 3,168 m = 124,723 in

= x Dt

= 62,362 in

Tinggi silinder (Hs)


Hs =

3
3
x Dt = x 3,168 m = 4,752 m
2
2

Tinggi total tangki (Ht)


Ht = Hs = 4,752 m

Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)


Vl

= Vs

Vl

1
2
D t H cs
4

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

1
(3,168)2 Hcs
4

31,214 m3

Hcs

= 3,962 m = 12,998 ft = 155,982 in

Tinggi total cairan (Hc)


Hc = Hcs = 3,962 m = 12,998 ft

c. Tebal Shell dan Head


Po = 1 atm = 14,696 psia
Phidrostatis

= g Hc = (1469,207 kg/m3) (9,8 m/s2) (3,962 m)


= 57045,782 N/m2 = 8,274 psia

Poperasi

= Po + Phidrostatis

= 14,696 psia + 8,274 psia = 22,970 psia

Pdesain

= (1 + fk) Poperasi = (1 + 0,2) x 22,970 psia

= 27,564 psia

Untuk bahan konstruksi Carbon Steel, SA-285 Gr. C (Timmerhaus, 2004)


S

= 13.750 psia

Ej = 0,85
C = 0,04 in/tahun
n

(Perry, 1999)

= 10 tahun

Cc = 0,04 in/tahun x 10 tahun = 0,4 in

Tebal dinding tangki (tt)


Untuk cylindrical shells :

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

tt =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(Timmerhaus, 2004)

Dimana :
P = maximum allowable internal pressure
r

= jari-jari dalam tangki (in)

S = maximum allowable working stress


Ej = Joint effeciency
Cc = allowance for corrosion
tdesain =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P
(27,564 psia ).(62,362in)
+ 0,4in
(13750 psiax0,85) 0,6.(27,564 psia )

= 0,547 in

Tebal ellipsoidal head, te


te =

P.D
+ Cc
2S.Ej 0,2.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana : P = 27,564 psia


D = 124,723 in
Sehingga :
te =

(27,564 psia ).(124,723in)


+ 0,4in
2(13750 psiax0,85) 0,2.(27,564 psia )

= 0,547 in
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Dari Brownell & Young (1959) dipilih tebal tangki 5/8 in. Tutup terbuat dari
bahan yang sama dan tebal yang sama dengan dinding tangki.
LC.3 Tangki Penyimpanan Air (F-214)
Fungsi

: Menampung air dari utilitas yang akan di alirkan ke


tangki pencuci

Jenis

: Tangki penyimpanan dengan tutup dan alas datar serta


dilengkapi dengan koil pemanas

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar.

Bahan Konstruksi : Stainless , SA-240 Tipe 316


Jumlah

: 3 unit

Lama Penyimpanan : 15 hari


Kondisi operasi

: Temperatur (T)

: 55oC

Tekanan (P)

: 1 atm

Data desain :

Laju alir massa = 3214,661 kg/jam

Densitas

= 985,696 kg/m3

Perhitungan :
a. Volum tangki

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

3214,661
=

Volum larutan, V1

kg
jam
x15harix 24
jam
hari
kg
985,696 3
m

= 1174,072 m3
Faktor kelonggaran (fk) = 20 %

= (1 + 0,2) x 1174,072 m3

Volume tangki,VT

= 1408,886 m3

Direncanakan 3 buah tangki, sehingga


VT

1408,886
= 469,629 m3
3

b. Diameter dan tinggi shell


Volum silinder
V

1
Dt 2 Hs ( Hs : Dt = 3 : 2 )
4

Vs

3
Dt 3
8

3
Dt 3
8

469,629
Dt

= 7,361 m = 24,151 ft = 289,799 in

= x 289,799 = 144,899 in

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tinggi silinder (Hs) :


Hs =

3
3
x 7,361 = 11,042 m
xDt =
2
2

Tinggi total tangki (Ht) :


Ht = Hs = 11,042 m
Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)
V1

= Vs

V1

1
Dt 2 Hcs
4

391,357 =

1
(7,361) 2 Hcs
4

391,357 = 42,535 Hcs


Hcs

= 9,201 m

Tinggi total cairan (Hc)


Hc

= Hcs = 9,201 m

c. Tebal Shell dan Head


Po = 1 atm = 14,696 psia
Phidrostatis

= g Hc = (985,696 kg/m3) (9,8 m/s2) (9,201 m)


= 88.880,011 N/m2 = 12,891 psia

Poperasi

= Po + Phidrostatis

= 14,696 psia + 12,891 psia = 27,587 psia

Pdesain

= (1 + fk) Poperasi = (1 + 0,2) x 27,587 psia

= 33,104 psia

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Untuk bahan konstruksi Stainless , SA-240 Tipe 316


S

(Timmerhaus, 2004)

= 11.501 psia

Ej = 0,85
C = 0,04 in/tahun
n

(Perry, 1999)

= 10 tahun

Cc = 0,04 in/tahun x 10 tahun = 0,4 in

Tebal dinding tangki (tt)


Untuk cylindrical shells :
tt =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(Timmerhaus, 2004)

Dimana :
P = maximum allowable internal pressure
r

= jari-jari dalam tangki (in)

S = maximum allowable working stress


Ej = Joint effeciency
Cc = allowance for corrosion
tdesain =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P
=

(33,104 psia ).(144,899in)


+ 0,4in
[(11501 psia.0,85) 0,6(33,104 psia )]

= 0,892 in
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tebal ellipsoidal head, te


te =

P.D
+ Cc
2S.Ej 0,2.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana : P = 33,104 psia


D = 289,799 in
Sehingga :
te =

(33,104 psia ).(289,799in)


+ 0,4in
[2(11501 psia.0,85) 0,2(33,104 psia )]

= 0,891 in

Dari Brownell & Young (1959) dipilih tebal tangki 1 in. Tutup terbuat dari
bahan yang sama dan tebal yang sama dengan dinding tangki.
LC.4 Dekanter - I (H-110)

Ventilasi

ZB
ZA1

ZT

Zat cair
Ringan

Fungsi

ZA2

Zat cair
Berat

: Memisahkan metil ester dari gliserol dan senyawa campuran


lain berdasarkan densitasnya

Bentuk

: Horizontal silinder

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Bahan

: Carbon steel, SA-285, Gr. C

Jumlah

: 1 Unit

Kondisi operasi
Temperatur

: 30oC

Tekanan

: 1 atm = 14,696 psia

Laju alir massa (F) = 4166,66 kg/jam = 9185,818 lbm/jam


Tabel LC.4 Komposisi Umpan Masuk Dekanter

Lj Massa

Metil Ester

Lj Massa

Fasa atas

Fasa bawah

(kg/jam)

(kg/jam)

Komponen
(kg/jam)

Lj Massa

(kg/m )

(cP)

3211,245

849,800

20,0334

3211,245

Metanol

414,166

791,400

0,650

331,332

82,834

Trigliserida

132,499

887,600

16,570

105,999

26,5

Gliserol

364,583

1241,000

190,000

291,666

72,917

KOH

32,499

2019,547

0,000

25,999

6,5

Sabun

4,999

860,376

10,710

3,999

Air

6,666

985,696

0,504

5,333

1,333

4166,660

3975,573

191,084

camp = (% Berat x i) = 888,902 kg/m3 = 55,492 lbm/ft3

Lapisan Bawah (A)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Terdiri dari Trigliserida, sabun, Gliserol, metanol, KOH, dan air.


Laju massa A = 191,084 kg/jam
Densitas lapisan bawah (heavy)
campuran = 1019,977 kg/m3 = 63,675 lbm/ft3

Lapisan Atas (B)


Terdiri dari metil ester, metanol, trigliserida, gliserol, KOH, sabun, dan air
Laju massa B = 3975,573 kg/jam
Densitas lapisan atas (light) :
campuran = 2647,332 kg/m3 = 165,267 lbm/ft3
cara menghitung campuran :
lncampuran = (% berat x ln )
campuran = eln campuran
campuran = 17,219 cp
Perhitungan waktu pemisahan :
t =

6,24
A B

dimana :
t

= waktu paruh (jam)

A, B = densitas zat cair A dan B (lbm/ft3)

= viskositas fasa kontinu (cP)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Maka :

(6,24).(17,219)
= 1,057 jam
(63,675 165,267)lbm / ft 3

t =

Desain Tangki Dekanter


a. Volume tangki

kg
x1,057 jam
jam
= 4,955 m3
kg
888,902 3
m

4166,66
Volume larutan, Vl =

Dekanter 85% penuh, maka volume dekanter yang diperlukan :

Vt =

4,955m 3
= 5,829 m3
0,85

b. Diameter dan Tinggi shell

Volume silinder (Vs)


V =

1
D2Hs ;
4

Maka Vs =

3
D 3 = 1,1775 D 3
8

Volume head dekanter (Vh)


Vh =

asumsi, Hs : D = 3 : 2

3
D = 0,131 D3
24

(Brownell & Young , 1959)

Volume dekanter (Vt)


Vt

= Vs + 2 Vh

5,829 m

= 1,1775 D3 + (2 x 0,131 D3)

D = 1,594 m = 5,229 ft = 62,748 in


r

= 0,5 Dt = 0,797 m = 2,615 ft = 31,380 in

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tinggi silinder (Hs)


Hs =

3
3
x D = x 1,594 m = 2,391 m
2
2

Tinggi total dekanter (Ht)


Ht = Hs = 2,391 m

Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)


Dari Fig. 18.16, Walas, 1988, di dapat harga H/D = 0,8
Maka : Hcs = 0,8 x D = 0,8 x 1,594 m
= 1,275 m = 4,183 ft = 50,196 in

Volume cairan penuh (L)


asumsi, L : D = 5 : 1
sehingga : L =

5
D = 5 x 1,594 m = 7,97 m = 313,779 in
1

Tekanan hidrostatik :
P = gh
= 888,902 kg/m3 x 9,8 m/s2 x 1,275 m
= 11106,830 N/m2 = 1,611 psia
Faktor kelonggaran = 15%
Poperasi

= Po + Phidrostatik

Dimana, Po = 1 atm = 14,696 psi


Poperasi

= 14,696 psi + 1,611 psia = 16,307 psia

Pdesign

= 1,15 x Poperasi = 1,15 x 16,307 psia = 18,753 psia

Digunakan bahan konstruksi Carbon steel, SA-285, Gr C


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

(Tabel 18.5, Walas,1988)


Tekanan izin, S

= 13.700 psi

Ef. Sambungan, Ej = 0,85


C

= 0,04 in/tahun

= 10 tahun

Izin korosi, Cc

(Perry, 1999)

= 0,04 in/tahun x 10 tahun = 0,4 in

Tebal Cylindrical shell dekanter, (Tabel 18.4, Walas,1988)


ts =

PR
+ Cc
SE - 0,6 P
(18,753 psia ).(31,380in)
+ 0,4in = 0,451 in
(13700 psiax0,85) 0,6.(18,753 psia )

Maka dipilih tebal plat tangki = in = 0,5 in


c. Perhitungan lubang keluaran zat cair
Tinggi zat cair, ZT = 1,275 m
Tinggi zat cair berat, ZA1 =

191,084kg / jam
x1,275m = 0,059 m
4166,66

Dari Warren L. McCabe, 1994, hlm. 34


ZA1

Z A2 - Z T ( B / A )
1 - B / A

0,059 m

Z A 2 Z T (2647,332 / 1019,977)
1 (2647,332 / 1019,977)

ZA2

= 3,215 m

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

LC.5 Tangki Pencuci-I (M-210)


Fungsi

: Tempat tercampurnya metil ester hasil keluaran dekanter


dengan air.

Jenis

: Tangki pencampur berpengaduk marine propeller tiga


daun dengan tutup ellipsoidal.

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas datar dan tutup ellipsoidal

Bahan konstruksi : Stainless steel, SA-240 Tipe 304, 18 Cr-8Ni


Waktu tinggal

: 1 jam

Kondisi operasi

Tekanan

: 1 atm

Suhu

: 33oC

Tabel LC.5 Komposisi Umpan Masuk tangki Pencuci pada alur 3, dan 4
Lj Massa

% Berat

Komponen
(kg/jam)
Metil Ester (ME)

(%)

Densitas, i Viskositas,
3

(kg/m )

i (cP)

Ln

3211,245

0,621 849,800

20,0334

2,997

Metanol

331,332

0,064 791,400

0,650

-0,431

Trigliserida

105,999

0,021 887,600

16,570

2,807

Gliserol

291,666

0,056 1241,000

190,000

5,247

KOH

25,999

0,005 2019,547

0,000

Sabun

3,999

0,001 860,376

10,710

2,371

1198,605

0,232 985,696

0,504

-0,685

Air

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

5168,245

Ket :

Cara menghitung densitas campuran

1,000

camp = (% Berat x i) = 905,652 kg/m3 = 56,538 lbm/ft3


cara menghitung viskositas campuran :
lncampuran = (% berat x ln )
campuran = eln campuran
campuran = 5,675 cp
Kondisi Operasi :
Tekanan

: 1 atm

Suhu masuk

: 55oC (untuk suhu air)

Suhu operasi

: 33oC

Faktor kelonggaran

: 20%

Waktu tinggal

: 1 jam

Perhitungan :
a. Volume Tangki
Volume larutan, Vl

5168,245kg / jamx1 jam


= 5,707 m3
3
905,652kg / m

Faktor kelonggaran (fk) = 20%


Volume tangki, Vt

= (1 + 0,2) x 5,707 m3 = 6,848 m3

b. Diameter dan Tinggi Shell


Volume Silinder (Shell)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

V=

Dt 2
Hs , (Hs : Dt = 3 : 2)
4

maka, Vs =

(Brownell, 1959)

3
Dt 3
8

Volume tutup tangki (Ve)


Ve =

1
Dt 3
24

(Brownell, 1959)

Volume tangki (V)


Vt

= Vs + Ve

6,848 m3

10
Dt 3
24

Dt

= 1,736 m = 68,346 in

= x 68,346 in = 34,173 in

Tinggi Silinder (Hs) :


Hs =

3
3
x Dt = x 1,736 m = 2,604 m
2
2

Tinggi head (He) : (He : Dt = 1 : 4)


He =

1
1
x Dt =
x 1,736 m = 0,434 m
4
4

Tinggi total tangki (Ht)


Ht = Hs + He
= 2,604 m + 0,434 m
= 3,038 m
Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Vl

= Vs

Vl

1
Dt2 Hcs
4

5,707 m3

1
(1,736 m )2 Hcs
4

Hcs

= 1,964 m

Tinggi total cairan (Hc)


Hc = Hcs + He = 1,964 m + 0,434 m = 2,398 m
c. Tebal shell dan head
Po = 1 atm = 14,696 psia
Phidrostatis = g Hc

= (905,652 kg/m3) (9,8 m/s2) (2,398 m)


= 21 283,184 N/m2 = 3,087 psia

Poperasi = Po + Phidrostatis = 14,696 psia + 3,087 psia = 17,783 psia


Pdesain = (1 + fk) Poperasi = (1 + 0,2) x 17,783 psia = 21,339 psia

Untuk bahan konstruksi Stainless Steel, SA-240 Tipe 304 (Timmerhaus, 2004)
S

= 18.700 psia

Ej = 0,85

(Peters, 2004)

C = 0,0003 in/tahun

(Perry, 1999)

= 10 tahun

Cc = 0,0003 in/tahun x 10 tahun = 0,003 in

Tebal dinding tangki, tt

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Untuk cylindrical shells :


tt =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(Timmerhaus, 2004)

maka :
tdesain =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P
(21,339 psia ).(34,173in)
+ 0,003in
(18700 psia.0,85) (0,6).(21,339 psia )

= 0,049 in
Tebal ellipsoidal head, te
te =

P.D
+ Cc
2S.Ej 0,2.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana : P = 21,339 psia


D = 68,346 in
Sehingga :
te =

(21,339 psia ).(68,346in)


+ 0,003
[2(18700 psia.0,85) (0,2).(21,339 psia )]

= 0,049 in
Dari Brownell & Young (1959) dipilih tebal tangki 1/20 in. Tutup terbuat dari
bahan yang sama dan tebal yang sama dengan dinding tangki.
d. Pengaduk
Jenis : Marine propeller tiga daun
Kecepatan putaran (N) = 60 rpm = 1 rps

(US Patent)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Effisiensi motor = 80%


Pengaduk di desain dengan standar sebagai berikut :
(McCabe, 1994, Hlm. 235)
Da : Dt = 1 : 3

J : Dt = 1 : 12

W : Da = 1 : 5

L : Da = 1 : 4

E : Da = 1 : 1

Jadi :
Diameter impeller (Da) = 1/3 x Dt = 1/3 x 1,736 m = 0,578 m = 1,896 ft
Lebar Baffle (J)

= 1/12 x Dt = 1/12 x 1,736 m = 0,145 m

Lebar daun impeller (W) = 1/5 x Da = 1/5 x 0,578 m = 0,116 m


Panjang daun impeller (L) = x Da = x 0,578 m = 0,145 m
Tinggi pengaduk dari dasar (E) = Da = 0,578 m
Viskositas campuran (campuran) = 5,675 cP = 5,675.10-3 kg/m.dtk
N = 60 rpm = 1 rps
Daya untuk pengaduk
Bilangan Reynold (NRe) :
NRe =

N x Da 2 x

1rpsx(0,578) 2 x905,652kg / m 3
=
= 53315,215
5,675.10 3 kg / m.dtk
Bilangan Daya (NP) :
Np =

P .g c
. N 3 . Da 5

Untuk NRe = 5,3315 x 105, NP = 5

(Geankoplis,1997)

(Fig 10.6, Walas,1988)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

P=

5.(56,538lbm / ft 3 ).(1) 3 .(1,896 ft ) 5


= 215,273 lbf/ft.s
32,174lbm ft / lb f .s 2

Efisiensi 80 %
P=

215,273
= 269,091 lbf/ft.s = 0,489 Hp
0,8

Digunakan motor penggerak dengan daya standar Hp

LC.6 Dekanter - II (H-212)

Ventilasi

ZB
ZA1

ZT

Zat cair
Ringan

Fungsi

ZA2

Zat cair
Berat

: Memisahkan metil ester dari air pencuci dan zat-zat sisa


seperti gliserol dan senyawa-senyawa lainya

Bentuk

: Horizontal silinder

Bahan

: Carbon steel, SA-285, Gr. C

Jumlah

: 1 Unit

Kondisi operasi
Temperatur

: 33oC

Tekanan

: 1 atm = 14,696 psia

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Laju alir massa (F) = 5168,245 kg/jam = 11393,913 lbm/jam


Tabel LC.6 Komposisi Umpan Masuk Dekanter

Lj Massa

Metil Ester

(kg/m3)

Lj Massa

Fasa atas

Fasa bawah

(kg/jam)

(kg/jam)

Komponen
(kg/jam)

Lj Massa

(cP)

3211,245

849,800

9,983

3211,245

Metanol

331,332

791,400

0,590

33,133

298,199

Trigliserida

105,999

887,600

16,570

10,599

95,4

Gliserol

291,666

1241,000

190

29,167

262,499

KOH

25,999

2019,547

0,000

2,599

23,4

Sabun

3,999

860,376

9,983

0,399

3,6

Air

1198,005

994,703

0,504

119,801

1078,204

5168,245

3406,943

1761,302

camp = (% Berat x i) = 907,353 kg/m3 = 56,646 lbm/ft3

Lapisan Bawah (A)


Terdiri dari Trigliserida, sabun, Gliserol, metanol, KOH, dan air.
Laju massa A = 1761,302 kg/jam
Densitas lapisan bawah (heavy)
campuran = 1003,319 kg/m3 = 62,637 lbm/ft3

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Lapisan Atas (B)


Terdiri dari metil ester, metanol, trigliserida, gliserol, KOH, sabun, dan air
Laju massa B = 3406,943 kg/jam
Densitas lapisan atas (light) :
campuran = 857,06 kg/m3 = 53,506 lbm/ft3
cara menghitung campuran :
lncampuran = (% berat x ln )
campuran = eln campuran
campuran = 6,037 cp
Perhitungan waktu pemisahan :
t =

6,24
A B

dimana :
t

= waktu paruh (jam)

A, B = densitas zat cair A dan B (lbm/ft3)

= viskositas fasa kontinu (cP)

Maka :
t =

6,24.6,037
6,24
=
62,637 53,506
A B

= 4,125 jam

Desain Tangki Dekanter


a. Volume tangki
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Volume larutan, Vl =

5168,245kg / jamx 4,125 jam


= 23,496 m3
3
907,353kg / m

Dekanter 95% penuh, maka volume dekanter yang diperlukan :


Vt =

23,496
= 24,588 m3
0,95

b. Diameter dan Tinggi shell

Volume silinder (Vs)


V =

1
D2Hs ;
4

Maka Vs =

3
D 3 = 1,1775 D 3
8

Volume head dekanter (Vh)


Vh =

asumsi, Hs : D = 3 : 2

3
D = 0,131 D3
24

(Brownell & Young , 1959)

Volume dekanter (Vt)


Vt

= Vs + 2 Vh

24,588 m

= 1,1775 D3 + (2 x 0,131 D3)

D = 2,575 m = 8,45 ft = 101,376 in


r

= 0,5 Dt = 1,287 m = 4,222 ft = 50,668 in

Tinggi silinder (Hs)


Hs =

3
3
x D = x 2,575 m = 3,863 m
2
2

Tinggi total dekanter (Ht)


Ht = Hs = 3,863 m

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)


Dari Fig. 18.16, Walas, 1988, di dapat harga H/D = 0,8
Maka : Hcs = 0,8 x D = 0,8 x 2,575 m
= 2,06 m = 6,758 ft = 81,101 in

Volume cairan penuh (L)


asumsi, L : D = 5 : 1
sehingga : L =

5
D = 5 x 2,575 m = 12,875 m = 506,883 in
1

Tekanan hidrostatik :
P = gh
= 907,353 kg/m3 x 9,8 m/s2 x 2,06 m
= 18317,642 N/m2 = 2,657 psia
Faktor kelonggaran = 15%
Poperasi

= Po + Phidrostatik

Dimana, Po = 1 atm = 14,696 psi


Poperasi

= 14,696 psi + 2,657 psia = 17,353 psia

Pdesign

= 1,15 x Poperasi = 1,15 x 17,353 psia = 19,956 psia

Digunakan bahan konstruksi Carbon steel, SA-285, Gr C


(Tabel 18.5, Walas,1988)
Tekanan izin, S

= 13.700 psi

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Ef. Sambungan, Ej = 0,85


C

= 0,04 in/tahun

= 10 tahun

Izin korosi, Cc

(Perry, 1999)

= 0,04 in/tahun x 10 tahun = 0,4 in

Tebal Cylindrical shell dekanter, (Tabel 18.4, Walas,1988)


ts =

PR
+ Cc
SE - 0,6 P
(19,956 psia ).(50,668in)
+ 0,4in = 0,487 in
(13700 psiax0,85) 0,6(19,956 psia )

Maka dipilih tebal plat tangki = in = 0,5 in

c. Perhitungan lubang keluaran zat cair


Tinggi zat cair, ZT = 2,06 m
Tinggi zat cair berat, ZA1 =

1761,302kg / jam
x 2,06m = 0,702 m
5168,245kg / jam

Dari Warren L. McCabe, 1994, hlm. 34


ZA1

Z A2 - Z T ( B / A )
1 - B / A

0,702 m

Z A 2 2,06(857,06 / 1003,319)
1 (857,06 / 1003,319)

ZA2

= 1,861 m

LC.7 Tangki Pencuci-II (M-220)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Fungsi

: Tempat tercampurnya metil ester hasil keluaran dekanter


dengan air.

Jenis

: Tangki pencampur berpengaduk marine propeller tiga


daun dengan tutup ellipsoidal.

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas datar dan tutup ellipsoidal

Bahan konstruksi : Stainless steel, SA-240 Tipe 304, 18 Cr-8Ni


Waktu tinggal

: 1 jam

Kondisi operasi

Tekanan

: 1 atm

Suhu

: 33oC

Tabel LC.7 Komposisi Umpan Masuk tangki Pencuci pada alur 7, dan 8
Lj Massa

% Berat

Komponen
(kg/jam)
Metil Ester (ME)

(%)

Densitas, i Viskositas,
3

(kg/m )

i (cP)

ln

3211,245

0,725 849,800

10,710

2,371

Metanol

33,133

0,007 791,400

0,590

-0,004

Trigliserida

10,599

0,002 891,000

16,570

0,006

Gliserol

29,167

0,006 1244,000

190,000

0,031

KOH

2,599

0,001 2019,548

0,000

Sabun

0,399

10,710

- 864,176

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Air

1141,884

0,258 985,696

4429,026

1,000

Ket :

Cara menghitung densitas campuran

0,504

-0,176

camp = (% Berat x i) = 887,219 kg/m3 = 55,389 lbm/ft3


cara menghitung viskositas campuran :
lncampuran = (% berat x ln )
campuran = eln campuran
campuran = 4,836 cp
Kondisi Operasi :
Tekanan

: 1 atm

Suhu masuk

: 55oC (untuk suhu air)

Suhu operasi

: 33oC

Faktor kelonggaran

: 20%

Waktu tinggal

: 1 jam

Perhitungan :
a. Volume Tangki
Volume larutan, Vl

4429,026kg / jamx1 jam


= 4,992 m3
3
887,219kg / m

Faktor kelonggaran (fk) = 20%


Volume tangki, Vt

= (1 + 0,2) x 4,992 m3 = 5,990 m3

b. Diameter dan Tinggi Shell


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Volume Silinder (Shell)

Dt 2
V=
Hs , (Hs : Dt = 3 : 2)
4
maka, Vs =

(Brownell, 1959)

3
Dt 3
8

Volume tutup tangki (Ve)


Ve =

1
Dt 3
24

(Brownell, 1959)

Volume tangki (V)


Vt

= Vs + Ve

5,990 m3

10
Dt 3
24

Dt

= 1,661 m = 65,393 in

= x 65,393 in = 32,696 in

Tinggi Silinder (Hs) :


Hs =

3
3
x Dt = x 1,661 m = 2,492 m
2
2

Tinggi head (He) : (He : Dt = 1 : 4)


He =

1
1
x Dt =
x 1,661 m = 0,415 m
4
4

Tinggi total tangki (Ht)


Ht = Hs + He
= 2,492 m + 0,415 m
= 2,907 m
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)


Vl

= Vs

Vl

1
Dt2 Hcs
4

4,992 m3

1
(1,661 m )2 Hcs
4

Hcs

= 2,305 m

Tinggi total cairan (Hc)


Hc = Hcs + He = 2,305 m + 0,415 m = 2,720 m
c. Tebal shell dan head
Po = 1 atm = 14,696 psia
Phidrostatis = g Hc

= (887,219 kg/m3) (9,8 m/s2) (2,720 m)


= 23649,709 N/m2 = 3,430 psia

Poperasi = Po + Phidrostatis = 14,696 psia + 3,430 psia = 18,126 psia


Pdesain = (1 + fk) Poperasi = (1 + 0,2) x 18,126 psia = 21,751 psia

Untuk bahan konstruksi Stainless Steel, SA-240 Tipe 304 (Timmerhaus, 2004)
S

= 18.700 psia

Ej = 0,85

(Peters, 2004)

C = 0,0003 in/tahun

(Perry, 1999)

= 10 tahun

Cc = 0,0003 in/tahun x 10 tahun = 0,003 in


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tebal dinding tangki, tt


Untuk cylindrical shells :
tt =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(Timmerhaus, 2004)

maka :
tdesain =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(21,751 psia ).(32,696in)


+ 0,003in
(18700 psiax0,85) 0,6(21,751 psia )

= 0,047 in
Tebal ellipsoidal head, te
te =

P.D
+ Cc
2S.Ej 0,2.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana : P = 21,751 psia


D = 65,393 in
Sehingga :
te =

(21,751 psia ).(65,393in)


+ 0,003in
[2(18700 psiax0,85) 0,2(21,751 psia )

= 0,047 in
Dari Brownell & Young (1959) dipilih tebal tangki 1/20 in. Tutup terbuat dari
bahan yang sama dan tebal yang sama dengan dinding tangki.
d. Pengaduk
Jenis : Marine propeller tiga daun
Kecepatan putaran (N) = 60 rpm = 1 rps

(US Patent)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Effisiensi motor = 80%


Pengaduk di desain dengan standar sebagai berikut :
(McCabe, 1994, Hlm. 235)
Da : Dt = 1 : 3

J : Dt = 1 : 12

W : Da = 1 : 5

L : Da = 1 : 4

E : Da = 1 : 1

Jadi :
Diameter impeller (Da) = 1/3 x Dt = 1/3 x 1,661 m = 0,554 m = 1,816 ft
Lebar Baffle (J)

= 1/12 x Dt = 1/12 x 1,661 m = 0,138 m

Lebar daun impeller (W) = 1/5 x Da = 1/5 x 0,554 m = 0,111 m


Panjang daun impeller (L) = x Da = x 0,554 m = 0,138 m
Tinggi pengaduk dari dasar (E) = Da = 0,554 m
Viskositas campuran (campuran) = 4,836 cP = 4,836 .10-3 kg/m.dtk
N = 60 rpm = 1 rps
Daya untuk pengaduk
Bilangan Reynold (NRe) :
NRe =

N x Da 2 x

1rpsx(0,554m) 2 x887,219kg / m 3
=
= 56307,218
4,836.10 3
Bilangan Daya (NP) :
Np =

P .g c
. N 3 . Da 5

Untuk NRe = 5,6307 x 105, NP = 5

(Geankoplis,1997)

(Fig 10.6, Walas,1988)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

P=

Np. .N 3 .Da 5 5(55,389lbm / ft 3 ).(1) 3 .(1,816 ft ) 5


=
= 170,007 lbf/ft.s
gc
32,174lbm. ft / lbf .s 2

Efisiensi 80 %
P=

170,007
= 212,508 lbf/ft.s = 0,386 Hp
0,8

Digunakan motor penggerak dengan daya standar Hp

LC.8 Dekanter - III (H-222)

Ventilasi

ZB
ZA1

ZT

Zat cair
Ringan

Fungsi

ZA2

Zat cair
Berat

: Memisahkan metil ester dari air pencuci dan zat-zat sisa


seperti gliserol dan senyawa-senyawa lainya

Bentuk

: Horizontal silinder

Bahan

: Carbon steel, SA-285, Gr. C

Jumlah

: 1 Unit

Kondisi operasi
Temperatur

: 33oC

Tekanan

: 1 atm = 14,696 psia

Laju alir massa (F) = 4429,026 kg/jam = 9764,166 lbm/jam


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Tabel LC.8 Komposisi Umpan Masuk Dekanter

Lj Massa

Metil Ester

Lj Massa

Fasa atas

Fasa bawah

(kg/jam)

(kg/jam)

Komponen
3

(kg/jam)

Lj Massa

(kg/m )

(cP)

3211,245

849,800

9,983

3211,245

Metanol

33,133

791,400

0,590

3,313

29,820

Trigliserida

10,599

887,600

16,570

1,059

9,54

Gliserol

29,167

1241,000

190

2,917

26,250

KOH

2,599

2019,547

0,000

0,259

2,34

Sabun

0,399

860,376

9,983

0,039

0,36

Air

1141,884

994,703

0,504

114,188

1027,696

4429,026

3333,02

1096,006

camp = (% Berat x i) = 889,518 kg/m3 = 55,531 lbm/ft3


Lapisan Bawah (A)
Terdiri dari Trigliserida, sabun, Gliserol, metanol, KOH, dan air.
Laju massa A = 1096,006 kg/jam
Densitas lapisan bawah (heavy)
campuran = 996,210 kg/m3 = 62,191 lbm/ft3
Lapisan Atas (B)
Terdiri dari metil ester, metanol, trigliserida, gliserol, KOH, sabun, dan air
Laju massa B = 3333,02 kg/jam
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Densitas lapisan atas (light) :


campuran = 854,208 kg/m3 = 53,326 lbm/ft3

cara menghitung campuran :


lncampuran = (% berat x ln )
campuran = eln campuran
campuran = 8,989 cp
Perhitungan waktu pemisahan :
t =

6,24
A B

dimana :
t

= waktu paruh (jam)

A, B = densitas zat cair A dan B (lbm/ft3)

= viskositas fasa kontinu (cP)

Maka :
t =

6,24.8,989
6,24
=
= 6,327 jam
62,191 53,326
A B

Desain Tangki Dekanter


a. Volume tangki
Volume larutan, Vl =

4429,026kg / jamx6,327 jam


= 31,503 m3
3
889,518kg / m

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Dekanter 95% penuh, maka volume dekanter yang diperlukan :


Vt =

31,503
= 33,161 m3
0,95

b. Diameter dan Tinggi shell

Volume silinder (Vs)


V =

1
D2Hs ;
4

Maka Vs =

3
D 3 = 1,1775 D 3
8

Volume head dekanter (Vh)


Vh =

asumsi, Hs : D = 3 : 2

3
D = 0,131 D3
24

(Brownell & Young , 1959)

Volume dekanter (Vt)


Vt

= Vs + 2 Vh

33,161 m

= 1,1775 D3 + (2 x 0,131 D3)

D = 2,846 m = 9,337 ft = 112,046 in


r

= 0,5 Dt = 1,423 m = 4,668 ft = 56,023 in

Tinggi silinder (Hs)


Hs =

3
3
x D = x 2,846 m = 4,269 m
2
2

Tinggi total dekanter (Ht)


Ht = Hs = 4,269 m

Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)


Dari Fig. 18.16, Walas, 1988, di dapat harga H/D = 0,8
Maka : Hcs = 0,8 x D = 0,8 x 2,846 m

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 2,277 m = 7,469 ft = 89,637 in

Volume cairan penuh (L)


asumsi, L : D = 5 : 1
sehingga : L =

5
D = 5 x 2,846 m = 14,230 m = 560,229 in
1

Tekanan hidrostatik :
P = gh
= 889,518 kg/m3 x 9,8 m/s2 x 2,277 m
= 19849,238 N/m2 = 2,878 psia
Faktor kelonggaran = 15%
Poperasi

= Po + Phidrostatik

Dimana, Po = 1 atm = 14,696 psi


Poperasi

= 14,696 psi + 2,878 psia = 17,574 psia

Pdesign

= 1,15 x Poperasi = 1,15 x 17,574 psia = 20,210 psia

Digunakan bahan konstruksi Carbon steel, SA-285, Gr C


(Tabel 18.5, Walas,1988)
Tekanan izin, S

= 13.700 psi

Ef. Sambungan, Ej = 0,85


C

= 0,04 in/tahun

= 10 tahun

Izin korosi, Cc

(Perry, 1999)

= 0,04 in/tahun x 10 tahun = 0,4 in

Tebal Cylindrical shell dekanter, (Tabel 18.4, Walas,1988)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

ts =

PR
+ Cc
SE - 0,6 P
(20,210 psia ).(56,023in)
+ 0,4in = 0,497 in
(13700 psiax0,85) 0,6(20,210 psia )

Maka dipilih tebal plat tangki = in = 0,5 in


c. Perhitungan lubang keluaran zat cair
Tinggi zat cair, ZT = 2,277 m
Tinggi zat cair berat, ZA1 =

1096,006kg / jam
x 2,277 m = 0,563 m
4429,026kg / jam

Dari Warren L. McCabe, 1994, hlm. 34


ZA1

Z A2 - Z T ( B / A )
1 - B / A

0,563 m

Z A 2 2,277(854,208 / 996,210)
1 (854,208 / 996,210)

ZA2

= 2,032 m

LC.9 Tangki Pencuci-III (M-230)


Fungsi

: Tempat tercampurnya metil ester hasil keluaran dekanter


dengan air.

Jenis

: Tangki pencampur berpengaduk marine propeller tiga


daun dengan tutup ellipsoidal.

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas datar dan tutup ellipsoidal

Bahan konstruksi : Stainless steel, SA-240 Tipe 304, 18 Cr-8Ni


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Waktu tinggal

: 1 jam

Kondisi operasi

Tekanan

: 1 atm

Suhu

: 33oC

Tabel LC.9 Komposisi Umpan Masuk tangki Pencuci pada alur 11, dan 12
Lj Massa

% Berat

Komponen
(kg/jam)
Metil Ester (ME)

Densitas, i Viskositas,
3

(%)

(kg/m )

i (cP)

ln

3211,245

0,741 849,800

10,710

2,371

Metanol

3,313

0,001 791,400

0,590

-0,528

Trigliserida

1,059

- 891,000

16,570

2,807

Gliserol

2,917

0,001 1244,000

190,000

5,247

KOH

0,259

- 2019,548

0,000

Sabun

0,039

- 864,176

10,710

2,371

Air

1114,094

0,257 985,696

0,504

-0,685

4332,926

1,000

Ket :

Cara menghitung densitas campuran


camp = (% Berat x i) = 885,060 kg/m3 = 55,252 lbm/ft3

cara menghitung viskositas campuran :


lncampuran = (% berat x ln )
campuran = eln campuran
campuran = 4,879 cp
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kondisi Operasi :
Tekanan

: 1 atm

Suhu masuk

: 55oC (untuk suhu air)

Suhu operasi

: 33oC

Faktor kelonggaran

: 20%

Waktu tinggal

: 1 jam

Perhitungan :
a. Volume Tangki
Volume larutan, Vl

4332,926kg / jamx1 jam


= 4,896 m3
3
885,060kg / m

Faktor kelonggaran (fk) = 20%


Volume tangki, Vt

= (1 + 0,2) x 4,896 m3 = 5,875 m3

b. Diameter dan Tinggi Shell


Volume Silinder (Shell)

Dt 2
V=
Hs , (Hs : Dt = 3 : 2)
4
maka, Vs =

(Brownell, 1959)

3
Dt 3
8

Volume tutup tangki (Ve)


Ve =

1
Dt 3
24

(Brownell, 1959)

Volume tangki (V)


Vt

= Vs + Ve

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

5,875 m3

10
Dt 3
24

Dt

= 1,649 m = 64,957 in

= x 64,957 in = 32,478 in

Tinggi Silinder (Hs) :


Hs =

3
3
x Dt = x 1,649 m = 2,473 m
2
2

Tinggi head (He) : (He : Dt = 1 : 4)


He =

1
1
x Dt =
x 1,649 m = 0,412 m
4
4

Tinggi total tangki (Ht)


Ht = Hs + He
= 2,473 m + 0,412 m
= 2,885 m
Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)
Vl

= Vs

Hc = Hcs + He = 2,124 m + 0,412 m = 2,536 m

c. Tebal shell dan head


Po = 1 atm = 14,696 psia
Phidrostatis = g Hc

= (885,060 kg/m3) (9,8 m/s2) (2,536 m)


= 21996,219 N/m2 = 3,190 psia

Poperasi = Po + Phidrostatis = 14,696 psia + 3,190 psia = 17,886 psia


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Pdesain = (1 + fk) Poperasi = (1 + 0,2) x 17,886 psia = 21,463 psia

Untuk bahan konstruksi Stainless Steel, SA-240 Tipe 304 (Timmerhaus, 2004)
S

= 18.700 psia

Ej = 0,85

(Peters, 2004)

C = 0,0003 in/tahun

(Perry, 1999)

= 10 tahun

Cc = 0,0003 in/tahun x 10 tahun = 0,003 in

Tebal dinding tangki, tt


Untuk cylindrical shells :
tt =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(Timmerhaus, 2004)

maka :
tdesain =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P
=

(21,463 psia ).(32,478in)


+ 0,003in
(18700 psiax0,85) 0,6(21,463 psia )

= 0,046 in
Tebal ellipsoidal head, te
te =

P.D
+ Cc
2S.Ej 0,2.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana : P = 21,463 psia


D = 64,957 in
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Sehingga :
te =

(21,463 psia ).(64,957in)


+ 0,003in
[2(18700 psiax0,85) 0,2(21,463 psia )

= 0,046 in
Dari Brownell & Young (1959) dipilih tebal tangki 1/20 in. Tutup terbuat dari
bahan yang sama dan tebal yang sama dengan dinding tangki.
d. Pengaduk
Jenis : Marine propeller tiga daun
Kecepatan putaran (N) = 60 rpm = 1 rps

(US Patent)

Effisiensi motor = 80%


Pengaduk di desain dengan standar sebagai berikut :
(McCabe, 1994, Hlm. 235)
Da : Dt = 1 : 3

J : Dt = 1 : 12

W : Da = 1 : 5

L : Da = 1 : 4

E : Da = 1 : 1

Jadi :
Diameter impeller (Da) = 1/3 x Dt = 1/3 x 1,649 m = 0,549 m = 1,803 ft
Lebar Baffle (J)

= 1/12 x Dt = 1/12 x 1,649 m = 0,137 m

Lebar daun impeller (W) = 1/5 x Da = 1/5 x 0,549 m = 0,109 m


Panjang daun impeller (L) = x Da = x 0,549 m = 0,137 m
Tinggi pengaduk dari dasar (E) = Da = 0,549 m
Viskositas campuran (campuran) = 4,879 cP = 4,879 .10-3 kg/m.dtk
N = 60 rpm = 1 rps
Daya untuk pengaduk
Bilangan Reynold (NRe) :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

NRe =

N x Da 2 x

1rps.(0,549m) 2 .(885,060kg / m 3 )
= 54674,722
4,879.10 3 kg / m.s

Bilangan Daya (NP) :


Np =

P .g c
. N 3 . Da 5

(Geankoplis,1997)

Untuk NRe = 5,4674 x 105, NP = 5


P=

(Fig 10.6, Walas,1988)

Np. .N 3 .Da 5 5(55,252lbm / ft 3 ).(1) 3 .(1,803 ft ) 5


=
= 163,603 lbf/ft.s
gc
32,174lbm. ft / lbf .s 2

Efisiensi 80 %
P=

163,603
= 204,504 lbf/ft.s = 0,372 Hp
0,8

Digunakan motor penggerak dengan daya standar Hp

LC.10 Dekanter - IV (H-232)

Ventilasi

ZB
ZA1

ZT

ZA2

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Zat cair
Zat cair
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
Ringan
Berat
USU Repository 2009

Fungsi

: Memisahkan metil ester dari air pencuci dan zat-zat sisa


seperti gliserol dan senyawa-senyawa lainya

Bentuk

: Horizontal silinder

Bahan

: Carbon steel, SA-285, Gr. C

Jumlah

: 1 Unit

Kondisi operasi
Temperatur

: 33oC

Tekanan

: 1 atm = 14,696 psia

Laju alir massa (F) = 4332,926kg/jam = 9552,306 lbm/jam


Tabel LC.8 Komposisi Umpan Masuk Dekanter

Lj Massa

Metil Ester

(kg/m3)

Lj Massa

Fasa atas

Fasa bawah

(kg/jam)

(kg/jam)

Komponen
(kg/jam)

Lj Massa

(cP)

3211,245

849,800

9,983

3211,245

Metanol

3,313

791,400

0,590

3,313

Trigliserida

1,059

887,600

16,570

1,059

Gliserol

2,917

1241,000

190

2,917

KOH

0,259

2019,547

0,000

0,259

Sabun

0,039

860,376

9,983

0,039

1114,094

994,703

0,504

1081,981

Air

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

4332,926

3243,358

1089,568

camp = (% Berat x i) = 887,372 kg/m3 = 55,397 lbm/ft3

Lapisan Bawah (A)


Terdiri dari Trigliserida, sabun, Gliserol, metanol, KOH, dan air.
Laju massa A = 1089,568 kg/jam
Densitas lapisan bawah (heavy)
campuran = 994,724 kg/m3 = 62,098 lbm/ft3
Lapisan Atas (B)
Terdiri dari metil ester, dan air
Laju massa B = 3243,358 kg/jam
Densitas lapisan atas (light) :
campuran = 851,104 kg/m3 = 53,133 lbm/ft3

cara menghitung campuran :


lncampuran = (% berat x ln )
campuran = eln campuran
campuran = 9,796 cp
Perhitungan waktu pemisahan :
t =

6,24
A B

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

dimana :
t

= waktu paruh (jam)

A, B = densitas zat cair A dan B (lbm/ft3)

= viskositas fasa kontinu (cP)

Maka :

(6,24).(9,796)
6,24
=
= 6,818 jam
62,098 53,133
A B

t =

Desain Tangki Dekanter


a. Volume tangki
Volume larutan, Vl =

4332,926kg / jamx6,818 jam


= 33,291 m3
3
887,372kg / m

Dekanter 95% penuh, maka volume dekanter yang diperlukan :


Vt =

33,291
= 35,043 m3
0,95

b. Diameter dan Tinggi shell

Volume silinder (Vs)


V =

1
D2Hs ;
4

Maka Vs =

asumsi, Hs : D = 3 : 2

3
D 3 = 1,1775 D 3
8

Volume head dekanter (Vh)


Vh =

3
D = 0,131 D3
24

(Brownell & Young , 1959)

Volume dekanter (Vt)


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Vt

= Vs + 2 Vh

35,043 m

= 1,1775 D3 + (2 x 0,131 D3)

D = 2,898 m = 9,507 ft = 114,084 in


r

= 0,5 Dt = 1,449 m = 4,754 ft = 57,046 in

Tinggi silinder (Hs)


Hs =

3
3
x D = x 2,898 m = 4,347 m
2
2

Tinggi total dekanter (Ht)


Ht = Hs = 4,347 m

Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)


Dari Fig. 18.16, Walas, 1988, di dapat harga H/D = 0,8
Maka : Hcs = 0,8 x D = 0,8 x 2,898 m
= 2,318 m = 7,604 ft = 91,258 in

Volume cairan penuh (L)


asumsi, L : D = 5 : 1
sehingga : L =

5
D = 5 x 2,898 m = 14,49 m = 570,465 in
1

Tekanan hidrostatik :
P = gh
= 887,372 kg/m3 x 9,8 m/s2 x 2,318 m
= 20157,897 N/m2 = 2,924 psia
Faktor kelonggaran = 15%
Poperasi

= Po + Phidrostatik

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Dimana, Po = 1 atm = 14,696 psi


Poperasi

= 14,696 psi + 2,924 psia = 17,620 psia

Pdesign

= 1,15 x Poperasi = 1,15 x 17,620 psia = 20,263 psia

Digunakan bahan konstruksi Carbon steel, SA-285, Gr C


(Tabel 18.5, Walas,1988)
Tekanan izin, S

= 13.700 psi

Ef. Sambungan, Ej = 0,85


C

= 0,04 in/tahun

= 10 tahun

Izin korosi, Cc

(Perry, 1999)

= 0,04 in/tahun x 10 tahun = 0,4 in

Tebal Cylindrical shell dekanter, (Tabel 18.4, Walas,1988)


ts =

PR
+ Cc
SE - 0,6 P
(20,263 psia ).(57,046in)
+ 0,4in = 0,499 in
(13700 psiax0,85).(20,263 psia )

Maka dipilih tebal plat tangki = in = 0,5 in

c. Perhitungan lubang keluaran zat cair


Tinggi zat cair, ZT = 2,318 m
Tinggi zat cair berat, ZA1 =

1089,568kg / jam
= 0,251 m
4332,926kg / jam

Dari Warren L. McCabe, 1994, hlm. 34

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

ZA1

Z A2 - Z T ( B / A )
1 - B / A

0,251 m

Z A 2 2,318(851,104 / 994,724)
1 (851,104 994,724)

ZA2

= 2,020 m

LC.11 Pompa 1 (L 112)


Fungsi

: Mengalirkan bahan baku crude metil ester dari tangki


penyimpanan (F-111) ke tangki pemisah (H-110).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 888,922 kg/m3 = 55,493 lbm/ft3

(Geankoplis, 1997)

Viskositas ()

= 16,544 cp = 0,011 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 4166,660 kg/jam = 2,552 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,552lbm / s
= 0,046 ft3/s = 1,302 x 10-3 m3/s
55,493lbm / ft 3

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
Dopt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,302 x 10-3 m3/s)0,45.( 888,922 kg/m3) 0,13


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 0,044 m = 1,732 in
Dipilih material pipa commercial steel 2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 2,067 in = 0,172 ft

Diameter Luar (OD)

= 2,375 in = 0,198 ft

Luas Penampang (A)

= 0,0233 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,046 ft 3 / s
=
= 1,974 ft/s
A
0,0233 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (55,493lbm / ft 3 ).(1,974 ft / s ).(0,172 ft )


=

0,011lbm / ft.s

= 1712,857

= 0,0002

(Geankoplis, 1997)

= 0,02

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 10 m = 32,8080 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,172 = 2,236 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,172 = 10,32 ft
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,172 = 2,322 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,172 = 9,288 ft


Panjang pipa total (L) = 32,8080 + 2,236 + 10,32 + 2,322 + 9,288
= 56,974 ft
B. Friksi
F=

f .V 2 .L
(0,02).(1,974) 2 (56,974)
=
= 0,039 ft.lb. f/lbm
2 gc.D
2(32,174).(0,172)

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2
+
g c 2ag c

P
+
+ F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 2,391 m = 7,844 ft

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 7,844 + 0 + 0 + 0,039 = 7,902 ft.lbf/lbm


D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= (7,902 x 0,046 x 55,493)/550


= 0,036 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,036
= 0,065 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.12 Pompa 2 (L 114)


Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pemisahan (H-110)


ke tangki pencucian-1 (M-210).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 882,221 kg/m3 = 55,075 lbm/ft3

Viskositas ()

= 17,082 cp = 0,011 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 3975,573 kg/jam = 2,435 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,435lbm / s
= 0,044 ft3/s = 1,245 x 10-3 m3/s
55,075lbm / ft 3

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
Dopt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,245 x 10-3 m3/s)0,45.( 882,221 kg/m3) 0,13


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 0,043 m = 1,693 in
Dipilih material pipa commercial steel 2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 2,067 in = 0,172 ft

Diameter Luar (OD)

= 2,375 in = 0,198 ft

Luas Penampang (A)

= 0,0233 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,044 ft 3 / s
=
= 1,888 ft/s
A
0,0233 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (55,075lbm / ft 3 ).(1,888 ft / s ).(0,172 ft )


=

0,011lbm / ft.s

= 1625,894

= 0,0002

(Geankoplis, 1997)

= 0,0085

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 10 m = 32,8080 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,172 = 2,236 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,172 = 10,32 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,172 = 2,322 ft


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,172 = 9,288 ft


Panjang pipa total (L) = 32,8080 + 2,236 + 10,32 + 2,322 + 9,288
= 56,974 ft

B. Friksi
F=

f .V 2 .L
(0,0085).(1,888) 2 (56,974)
=
= 0,156 ft.lb. f/lbm
2 gc.D
2(32,174).(0,172)

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 3,038 m = 9,967 ft

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 9,967 + 0 + 0 + 0,156 = 10,123 ft.lbf/lbm

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= (10,123 x 0,044 x 55,075)/550


= 0,045 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,045
= 0,082 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp


LC.13 Pompa 3 (L-215)
Fungsi

: Mengalirkan air panas dari tangki penyimpanan air


(F-214) ke tangki pencucian-1 (M-210).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 985,696 kg/m3 = 61,535 lbm/ft3

Viskositas ()

= 0,504 cp = 0,0003 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 3214,661 kg/jam = 1,968 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

1,968lbm / s
= 0,032 ft3/s = 9,061 x 10-4 m3/s
3
61,535lbm / ft

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
Dopt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (9,061 x 10-4 m3/s)0,45.( 985,696 kg/m3) 0,13


= 0,038 m = 1,496 in
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Dipilih material pipa commercial steel 11/2 in Schedule 40, dengan :


Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,158 ft

Luas Penampang (A)

= 0,01414 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,032 ft 3 / s
=
= 2,263 ft/s
A 0,01414 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (61,535lbm / ft 3 ).(2,263 ft / s ).(0,158 ft )


=

0,0003lbm / ft.s

= 62199.988

= 0,0003

(Geankoplis, 1997)

= 0,0035

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 10 m = 32,8080 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,134 = 1,742 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,134 = 8,04 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

L4 = 0,5 x 27 x 0,134 = 1,809 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,134 = 7,236 ft


Panjang pipa total (L) = 32,8080 + 1,742 + 8,04 + 1,809 + 7,236
= 51,635 ft

B. Friksi

f .V 2 .L
(0,0035).(2,263) 2 .(51,635)
=
= 0,107 ft.lb. f/lbm
F=
2 gc.D
2(32,174).(0,134)

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 3 m = 9,8424 ft

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 9,8424 + 0 + 0 + 0,107 = 9,949 ft.lbf/lbm

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (9,949 x 0,032 x 61,535)/550
= 0,036 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,036
= 0,07 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp


LC.14 Pompa 4 (L 211)
Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pencucian-1


(M-210) ke tangki pemisahan-1 (H-212).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 905,652 kg/m3 = 56,538 lbm/ft3

Viskositas ()

= 7,561 cp = 0,005 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 5168,245 kg/jam = 3,165 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

3,165lbm / s
= 0,056 ft3/s = 1,585 x 10-3 m3/s
3
56,538lbm / ft

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Dopt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,585 x 10-3 m3/s)0,45.( 905,652 kg/m3) 0,13


= 0,048 m = 1,889 in
Dipilih material pipa commercial steel 2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 2,067 in = 0,172 ft

Diameter Luar (OD)

= 2,375 in = 0,198 ft

Luas Penampang (A)

= 0,0233 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,056 ft 3 / s
=
= 2,403 ft/s
A
0,0233 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (56,538lbm / ft 3 ).(2,403 ft / s ).(0,172 ft )


=

0,005lbm / ft.s

= 4673,612

D
f

= 0,0002

(Geankoplis, 1997)

= 0,003

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 6 m = 19,685 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,172 = 2,236 ft

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,172 = 10,32 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,172 = 2,322 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,172 = 9,288 ft


Panjang pipa total (L) = 19,685 + 2,236 + 10,32 + 2,322 + 9,288
= 43,851 ft

B. Friksi

(0,003).(2,403) 2 .(43,851)
f .V 2 .L
=
= 0,069 ft.lb.f/lbm
F=
2(32,174).(0,172)
2 gc.D
C. Kerja yang Diperlukan :
Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 3 m = 9,8424 ft


V 2
Velocity Head,
=0
2g c
Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 9,8424 + 0 + 0 + 0,069 = 9,911 ft.lbf/lbm

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (9,911 x 0,056 x 56,538)/550
= 0,057 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,057
= 0,104 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.15 Pompa 5 (L 213)


Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pemisahan-1


(H-212) ke tangki pencucian-2 (M-220).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 858,466 kg/m3 = 53,592 lbm/ft3

Viskositas ()

= 17,287 cp = 0,012 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 3406,943 kg/jam = 2,086 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,086lbm / s
= 0,039 ft3/s = 1,104 x 10-3 m3/s
3
53,592lbm / ft

Perencanaan Pompa :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Diameter pipa ekonomis :


= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Dopt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,104 x 10-3 m3/s)0,45.( 858,466 kg/m3) 0,13


= 0,041 m = 1,614 in
Dipilih material pipa commercial steel 2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 2,067 in = 0,172 ft

Diameter Luar (OD)

= 2,375 in = 0,198 ft

Luas Penampang (A)

= 0,0233 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,039 ft 3 / s
=
= 1,674 ft/s
A
0,0233 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (53,592lbm / ft 3 ).(1,674 ft / s ).(0,172 ft )


=

0,012lbm / ft.s

= 1285,886

D
f

= 0,0002

(Geankoplis, 1997)

= 0,0026

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 6 m = 19,685 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,172 = 2,236 ft

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,172 = 10,32 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,172 = 2,322 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,172 = 9,288 ft


Panjang pipa total (L) = 19,685 + 2,236 + 10,32 + 2,322 + 9,288
= 43,851 ft

B. Friksi

(0,0026).(1,674) 2 .(43,851)
f .V 2 .L
=
= 0,029 ft.lb. f/lbm
F=
2(32,174).(0,172)
2 gc.D

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 2,5 m = 8,202 ft

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 8,202 + 0 + 0 + 0,029 = 8,231 ft.lbf/lbm


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (8,231 x 0,039 x 53,592)/550
= 0,031 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,031
= 0,056 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.16 Pompa 6 (L 221)


Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pencuci-2


(M-220) ke tangki pemisahan-2 (H-222).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 888,426 kg/m3 = 55,462 lbm/ft3

Viskositas ()

= 7,652 cp = 0,005 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 4429,026 kg/jam = 2,712 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,712lbm / s
= 0,049 ft3/s = 1,387 x 10-3 m3/s
3
55,462lbm / ft

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Dopt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,387 x 10-3 m3/s)0,45.( 888,426 kg/m3) 0,13


= 0,046 m = 1,811 in
Dipilih material pipa commercial steel 2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 2,067 in = 0,172 ft

Diameter Luar (OD)

= 2,375 in = 0,198 ft

Luas Penampang (A)

= 0,0233 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,049 ft 3 / s
=
= 2,103 ft/s
A
0,0233 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (55,462lbm / ft 3 ).(2,103 ft / s ).(0,172 ft )


=

0,005lbm / ft.s

= 4012,298

= 0,0002

(Geankoplis, 1997)

= 0,0029

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 6 m = 19,685 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

L2 = 1 x 13 x 0,172 = 2,236 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,172 = 10,32 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,172 = 2,322 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,172 = 9,288 ft


Panjang pipa total (L) = 19,685 + 2,236 + 10,32 + 2,322 + 9,288
= 43,851 ft

B. Friksi
F=

f .V 2 .L
(0,0029).(2,103) 2 .(43,851)
=
= 0,051 ft.lb. f/lbm
2 gc.D
2(32,174).(0,172)

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 4 m = 13,123 ft

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 13,123 + 0 + 0 + 0,051 = 13,174 ft.lbf/lbm


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (13,174 x 0,049 x 55,462)/550
= 0,065 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,065
= 0,118 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.17 Pompa 7 (L 223)


Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pemisahan-2


(H-222) ke tangki pencuci-3 (M-230).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 854,208 kg/m3 = 53,326 lbm/ft3

Viskositas ()

= 8,989 cp = 0,006 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 3333,02 kg/jam = 2,041 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,041lbm / s
= 0,038 ft3/s = 1,076 x 10-3 m3/s
3
53,326lbm / ft

Perencanaan Pompa :
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Diameter pipa ekonomis :


= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Dopt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,076 x 10-3 m3/s)0,45.( 854,208 kg/m3) 0,13


= 0,040 m = 1,574 in
Dipilih material pipa commercial steel 11/2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,158 ft

Luas Penampang (A)

= 0,01414 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,038 ft 3 / s
=
= 2,687 ft/s
A 0,01414 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (53,326lbm / ft 3 ).(2,687 ft / s ).(0,134 ft )


=

0,006lbm / ft.s

= 3200,075

= 0,0003

(Geankoplis, 1997)

= 0,0036

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 6 m = 19,685 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

L2 = 1 x 13 x 0,134 = 1,742 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,134 = 8,04 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,134 = 1,809 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,134 = 7,236 ft


Panjang pipa total (L) = 19,685 + 1,742 + 8,04 + 1,809 + 7,236
= 38,512 ft

B. Friksi
F=

f .V 2 .L
(0,0036).(2,687) 2 .(38,512)
=
= 0,116 ft.lb. f/lbm
2 gc.D
2(32,174).(0,134)

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 2,5 m = 8,202 ft

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Maka, -Wf = 8,202 + 0 + 0 + 0,116 = 8,318 ft.lbf/lbm

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (8,318 x 0,038 x 53,326)/550
= 0,031 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,031
= 0,056 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.18 Pompa 8 (L 231)


Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pencuci-3


(M-230) ke tangki pemisahan-3 (H-232).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 885,060 kg/m3 = 55,252 lbm/ft3

Viskositas ()

= 4,879 cp = 0,003 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 4332,926 kg/jam = 2,653 lbm/s


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Laju alir volumetrik, Q =

2,653lbm / s
= 0,048 ft3/s = 1,359 x 10-3 m3/s
3
55,252lbm / ft

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Dopt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,359 x 10-3 m3/s)0,45.( 885,060 kg/m3) 0,13


= 0,045 m = 1,760 in
Dipilih material pipa commercial steel 2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 2,067 in = 0,172 ft

Diameter Luar (OD)

= 2,375 in = 0,198 ft

Luas Penampang (A)

= 0,02330 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,048 ft 3 / s
=
= 2,060 ft/s
A 0,02330 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (55,252lbm / ft 3 ).(2,060 ft / s ).(0,172 ft )


=

0,003lbm / ft.s

= 6525,629

= 0,0002

(Geankoplis, 1997)

= 0,0028

(Geankoplis, 1997)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 6 m = 19,685 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,172 = 2,236 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,172 = 10,32 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,172 = 2,322 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,172 = 9,288 ft


Panjang pipa total (L) = 19,685 + 2,236 + 10,32 + 2,322 + 9,288
= 43,851 ft
B. Friksi

(0,0028).(2,060) 2 .(43,851)
f .V 2 .L
F=
=
= 0,047 ft.lb. f/lbm
2(32,174).(0,172)
2 gc.D

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 4 m = 13,123 ft

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 13,123 + 0 + 0 + 0,047 = 13,170 ft.lbf/lbm

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (13,170 x 0,048 x 55,252)/550
= 0,064 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,064
= 0,115 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.19 Pompa 9 (L 233)


Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari tangki pemisah-3


(H-232) ke tangki Vaccum drier (VD-310).

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 851,104 kg/m3 = 53,133 lbm/ft3

Viskositas ()

= 9,796 cp = 0,007 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Laju alir massa (F) = 3243,358 kg/jam = 1,986 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

1,986lbm / s
= 0,037 ft3/s = 1,048 x 10-3 m3/s
3
53,133lbm / ft

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Dopt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,048 x 10-3 m3/s)0,45.( 851,104 kg/m3) 0,13


= 0,040 m = 1,574 in
Dipilih material pipa commercial steel 11/2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,158 ft

Luas Penampang (A)

= 0,01414 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,037 ft 3 / s
=
= 2,617 ft/s
A
0,01414 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (53,133lbm / ft 3 ).(2,617 ft / s ).(0,134 ft )


=

0,007lbm / ft.s

= 2661,796

= 0,0003

(Geankoplis, 1997)

= 0,0034

(Geankoplis, 1997)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 15 m = 49,212 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,134 = 1,742 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,134 = 8,04 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,134 = 1,809 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,134 = 7,236 ft


Panjang pipa total (L) = 49,212 + 1,742 + 8,04 + 1,809 + 7,236
= 68,039 ft
B. Friksi
F=

f .V 2 .L
(0,0034)(2,617) 2 .(68,039)
=
= 0,184 ft.lb. f/lbm
2 gc.D
2(32,174).(0,134)

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2
+
g c 2ag c

P
+
+ F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 4,5 m = 14,764 ft


Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 14,764 + 0 + 0 + 0,184 = 14,948 ft.lbf/lbm

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (14,948 x 0,037 x 53,133)/550
= 0,053 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,053
= 0,096 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.20 Pompa 10 (L 234)


Fungsi

: Mengalirkan air yang mengandung senyawa-senyawa


sisa seperti gliserol, metanol dan lain-lain dari dekanter
menuju utilitas.

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 998,084 kg/m3 = 62,308 lbm/ft3

Viskositas ()

= 1,199 cp = 0,0008 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 3946,876 kg/jam = 2,417 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,417lbm / s
= 0,039 ft3/s = 1,104 x 10-3 m3/s
2
62,308lbm / ft

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Dopt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,104 x 10-3 m3/s)0,45.( 998,084 kg/m3) 0,13


= 0,042 m = 1,654 in
Dipilih material pipa commercial steel 2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 2,067 in = 0,172 ft

Diameter Luar (OD)

= 2,375 in = 0,198 ft

Luas Penampang (A)

= 0,02330 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,037 ft 3 / s
=
= 2,617 ft/s
A
0,01414 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (53,133lbm / ft 3 ).(2,617 ft / s ).(0,134 ft )


=

0,007lbm / ft.s

= 2661,796

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009


D
f

= 0,0003

(Geankoplis, 1997)

= 0,0035

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 20 m = 65,616 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,172 = 2,236 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,172 = 10,32 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,172 = 2,322 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,172 = 9,288 ft


Panjang pipa total (L) = 65,616 + 2,236 + 10,32 + 2,322 + 9,288
= 89,782 ft
B. Friksi
F=

f .V 2 .L
(0,0035).(2,617) 2 .(89,782)
=
= 0,194 ft.lb. f/lbm
2 gc.D
2(32,174).(0,172)

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 5 m = 16,404 ft

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 16,404 + 0 + 0 + 0,194 = 16,598 ft.lbf/lbm

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (16,598 x 0,039 x 62,308)/550
= 0,073 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,073
= 0,133 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.21 Vacuum Dryer (VD-102)


Fungsi

: Mengurangi kandungan air pada metil ester yang tidak dapat


dipisahkan di dekanter.

Bentuk : Silinder Tegak dengan tutup atas dan bawah ellipsoidal


Bahan

: High-tensile steel for heavy-wall, SA-302, Gr. B

Kondisi operasi 85oC, close tank dengan safety valve (1 atm)


LC.21 Tabel data-data pada alur 15
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Lj Massa

% Berat

Densitas,

Viskositas,

(kg/jam)

(%)

(kg/m3)

(cp)

Komponen

Biodiesel

3211,245

0,990

841,376

20,0339

32,113

0,010

968,621

0,334

Air

3243,358

1,0000

camp = (% Berat x i) = 842,648 kg/m3 = 52,605 lbm/ft3


Perhitungan :
a. Volume Tangki
Volume larutan, Vl =

3243,358kg / jamx1 jam


= 3,849 m3
3
842,648kg / m

Faktor kelonggaran (fk) = 30%


Volume tangki, Vt

= (1 + 0,3) x 3,849 m3 = 5,004 m3

b. Diameter dan Tinggi Shell


Volume Silinder (Shell)
V=

Dt 2
4

Hs , (Hs : Dt = 3 : 2)

maka, Vs =

(Brownell, 1959)

3
Dt 3
8

Volume tutup tangki (Ve)


Ve =

1
Dt 3
24

(Brownell, 1959)

Volume tangki (V)


Vt

= Vs + 2 Ve

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

5,004 m3

11
Dt 3
24

Dt

= 1,515 m = 59,645 in

= x 59,645 in = 29,823 in

Tinggi Silinder (Hs) :


Hs =

3
3
x Dt = x 1,515 m = 2,273 m
2
2

Tinggi head (He) : (He : Dt = 1 : 4)


He =

1
1
x Dt = x 1,515 m = 0,379 m
4
4

Tinggi total tangki (Ht)


Ht = Hs + 2 He
= 2,273 m + 0,758 m
= 3,031 m
Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)
Vl

= Vs + Ve

Vl

1
1
Dt2 Hcs +
Dt 3
24
4

3,849 m3

1
1
(1,515 m )2 Hcs +
(1,515)3
4
24

Hcs

= 1,705 m

Tinggi total cairan (Hc)


Hc = Hcs + He = 1,705 m + 0,758 m = 2,463 m
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

c. Tebal shell dan head


Po = 1 atm = 14,696 psia
Phidrostatis

= g Hc = (842,648 kg/m3) (9,8 m/s2) (2,463 m)


= 20339,332 N/m2 = 2,949 psia

Poperasi = Po + Phidrostatis = 14,696 psia + 2,949 psia = 17,645 psia


Pdesain = (1 + fk) Poperasi = (1 + 0,3) x 17,645 psia = 22,938 psia
Untuk bahan konstruksi High-tensile steel for heavy-wall, SA-302, Grade B
S

= 20.000 psia

Ej = 0,85

(Peters, 2004)

C = 0,05 in/tahun

(Perry, 1999)

= 10 tahun

Cc = 0,05 in/tahun x 10 tahun = 0,5 in

Tebal dinding tangki, tt


Untuk cylindrical shells :
tt =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana :
P

= maximum allowable internal pressure

= jari-jari tangki

S = maximum allowable working stress


Ej = joint efficiency
Cc = allowance for corrosion
Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

maka :
tdesain =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(22,938 psia ).(29,823in)


+ 0,5in
(20000 psiax 0,85) 0,6.(22,938 psia )

= 0,540 in
Tebal ellipsoidal head, te
te =

P.D
+ Cc
2S.Ej 0,2.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana : P = 22,938 psia


D = 59,645 in
Sehingga :

te =

(22,938 psia ).(59,645in)


+ 0,5in
2(20000 psiax 0,85) 0,2.(22,938 psia )

= 0,540 in

Dari Brownell & Young (1959) dipilih tebal tangki 5/8 in. Tutup terbuat dari bahan
yang sama dan tebal yang sama dengan dinding tangki.
LC.22 Cooler (E 312)
Fungsi

: Menurunkan temperatur larutan yang keluar dari vacuum dryer


(VD-310) sebelum dimasukkan ke dalam Vibrating filter (P410)

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Jenis

: Double pipe exchanger

Dipakai

: 2 x 1 in IPS
Air Proses

30oC
Metil Ester
Air

17

85oC

Cooler
P = 1 atm, T = 30oC

18

Metil Ester
Air

33oC

50oC
Air buangan

Fluida panas
Dari perhitungan neraca panas pada lampiran B diperoleh :
Laju alir fluida masuk (W)

= 22662,444 kg/jam

= 49961,624 lbm/jam

Temperatur masuk (T1)

= 85 oC

= 185 oF

Temperatur keluar (T2)

= 33 oC

= 91,4 oF

Laju alir fluida masuk (w)

= 187,816 kg/jam

= 414,059 lbm/jam

Temperatur masuk (t1)

= 30 oC

= 86oF

Temperatur keluar (t2)

= 50 oC

= 122oF

Panas yang diserap (Q)

= 19640,844 kJ/jam

= 18615,855 Btu/jam

Fluida dingin

(1) t = beda suhu sebenarnya


Fluida Panas
T1 = 185oF

Temperatur yang lebih tinggi

Fluida Dingin

Selisih

t2 = 122oF

t1 = 63 oF

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

T2 = 91,4 oF

Temperatur yang lebih


rendah

t2 = 5,4oF

t1 = 86oF

t2 - t1 = -57,6oF

LMTD =

t 2 t1
57
=
= 23,227 oF
t
5,4
2,3 log 2
2,3 log

t1
63

(2) Temperatur Kalorik


Tav =

T1 + T2 185 + 91,4
=
= 138,2 oF
2
2

t av =

t 2 + t1
86 + 122
=
= 104 oF
2
2

Dari tabel ukuran HE (tabel 6.2 Kern), luas aliran anulus = 1,19 in2 dan luas
aliran pipa = 1,5 in2. Aliran fluida panas > aliran fluida dingin, sehingga fluida
panas dilewatkan melalui pipa dan aliran dingin melalui anulus.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

D e Ga

Fluida Dingin : annulus, air

Re a =

(3)Flow Area,

Kern]

Luas aliran,

[Pers.

0,0762 x50043,389
1,6698

(7.3),

= 2283,690

D2 = 2,067/12 = 0,1725 ft
(6)jH = 4,8
D1 = 166/12 = 0,138 ft

[Tabel

[Fig.

24,

Kern]

11, Kern]
2
2
aa = (0,1725 0,138 )

= 0,00827

ft2

(7)

Pada tc = 104oF

c = 1,10 Btu/lbm.0F

De

(D 2 - D1 )
D1

[Fig. 2,

Kern]
k = 0,356 Btu/jam.ft.0F

(0,1725 2 0,138 2 )
0,138

[Tabel 4,

Kern]
C

= 0,0762 ft

1/ 3

1,10 x1,6698

0,356

1/ 3

= 1,718
(4) Kecepatan massa (Ga)
1

Ga =

W
aa

[Pers.

(7.2),

0 ,14

De k w

= 4,8 0,356 (1,718)(1)

Kern]
414,059 =
0,008274

(8) h o = jH. k c. 3

0,0762

50043,389 lbm/jam.ft2

(5) Pada 104oF, = 0,69 cp

= 38,526 Btu/(jam.ft2.oF)

[Fig.

14, Kern]
= 0,69 x 2,42 = 1,6698 lb/(ft.jam)

Fluida Panas : inner pipe, larutan


(3) Flow area,

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

D = 1,38/12 = 0,115 ft
Luas aliran, ap =

D2
4

(6) jH = 510

2
= (0,115)
4

= 0,0104 ft2

[Fig.

24,

Kern]
(7) Pada Tc = 138,2oF
c = 0,64 Btu/lbm.0F

[Fig. 2,

Kern]

(4) Kecepatan massa, Gp

k = 0,093 Btu/jam.ft.0F

w
Gp =
ap

[Pers. (7.2),

Kern]
49961,624
0,0104

4804002,308

[Fig.

1, Kern]
C

1/ 3

= 0,64 x 2,033

0,093

= 2,207

lbm/jam.ft2

(5) Pada 138,2 F, = 0,84 cp

[Fig.

3
(8) h i = jH. k c.

0 ,14

D k w

14, Kern]
= 0,84 x 2,42 = 2,033 lb/(ft.jam)
Re p =

D Gp

[Pers. (7.3),

510

0,093
(2,207 )(1)
0,115

= 910,243 Btu/(jam.ft2.oF)
(9) Koreksi hi terhadap permukaan :

Kern]
0,115 x 4804002 = 271746,318
2,033

hio = hi x ID

OD

= 910,243 x 1,38 = 756,708


1,66

(10) Clean Overall coefficient, Uc


Uc

hio x ho
hio + ho

= (756,708)(38,526 )
756,708 + 38,526

[Pers. (6.7), Kern]

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

= 36,659 Btu/(jm.ft2.oF)

(11) Koef. Keseluruhan desain


1/UD = 1/Uc + Rd
Rd

= 0,003

1/UD = 1/36 + 0,003


UD

= 33 Btu

jam.ft 2 0 F

(12) Permukaan yang dibutuhkan :


Q = UD.A.t atau A =

Q
U D .t

18615,855
(33)(23,227 )

= 24,287 ft2

Dari tabel 11 untuk 1 in IPS, luas permukaan luar per ft panjang pipa = 0,435
ft2/ft
Panjang yang dibutuhkan =

24,287
= 56 ft
0,435

Berarti dapat digunakan 3 x 20 ft hairpin dengan panjang total = 60 ft

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

(13) Luas permukaan baru = 60 x 0,435 = 26,1 ft2


Koefisien desain aktual,
UD = Q =
A.t

18615,855
= 30,708 Btu/(jam.ft2.oF)
(26,1)(23,227 )

36,659 30,708
Rd = (U C U D ) =
= 0,005 (jam.ft2.oF)/Btu
36,659 x30,708
(U C .U D )
Rd hitung Rd batas, maka spesifikasi cooler dapat diterima.

Wahyu Hidayat : Pra Rancangan Pabrik Unit Pemurnian Metil Ester Hasil Transesterifikasi Menjadi Biodiesel Sawit
Dengan Kapasitas 50 Ton/Hari, 2009.
USU Repository 2009

Pressure Drop
(1) De untuk pressure drop berbeda dengan heat transfer.
De = D2 D1
De = 0,1725 0,138 = 0,0345 ft
Rea = De'.Ga

0,0345 x50043,388
1,6698

= 1033,954
Harga friction factor (f) di peroleh dari grafik 26 hal.836 Kern.
f = 0,0005
s = 1, = 62,5 x 1 = 62,5

[Tabel 6, Kern]

2
(2)Fa = 4 fGa L

2 g 2 De'

)2 (60)
= 4(0,0005)(50043,388
2

2 4,18.10 8 (62,5) (0,0345)

= 0,0026 ft

(3) V = G/(3600.)
= 50043,388 = 0,222 fps
3600 x62,5

Fl = 3 (V2/2g)

= 3 (0,222)2/(2 x 32,2) = 0,002 ft

Pa = (Fa + Fl ).
144

(0,0026 + 0,002)62,5
144

= 0,0019 psi
Ps 10 Psi , maka desain dapat diterima

(1) Untuk Rep =

D.G p

= 0,115 x 4804002
2,033

= 271746
Harga friction factor (f) di peroleh dari grafik 26 hal.836 Kern.
f = 0,00013
s

= 0,83, = 0,83 x 62,5 = 51,875

[Fig. 6, Kern]
2
(2) Fp = 4 fGp L

2 g 2 D

4(0,00013)(4804002 ) (60)
2

2(4,18.10 ) (51,875) (0,115)

= 2,78 ft

Pp = (2,78)(51,875)
144

= 1,001 psi
PT 10 psi , maka design dapat diterima.

Kesimpulan :
Double pipe, sebanyak 3 hairpin 2 x 1 IPS (SCh.40) dengan panjang total 60 ft
dapat dipakai untuk kebutuhan proses pendinginan metil ester

LC.23 Pompa 11 (L 313)


Fungsi

: Mengalirkan metil ester dari cooler menuju vibrating


filter

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Densitas ()

= 824,648 kg/m3 = 51,481 lbm/ft3

Viskositas ()

= 18,559 cp = 0,012 lbm/ft.s

(Geankoplis, 1997)
(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 3243,358 kg/jam = 2,181 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,181lbm / s
= 0,042 ft3/s = 1,189 x 10-3 m3/s
51,481lbm / ft 3

Perencanaan Pompa :
Diameter pipa ekonomis :
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Dopt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,189 x 10-3 m3/s)0,45.( 824,648 kg/m3) 0,13


= 0,042 m = 1,652 in
Dipilih material pipa commercial steel 2 in Schedule 40, dengan :
Diameter dalam (ID)

= 2,067 in = 0,172 ft

Diameter Luar (OD)

= 2,375 in = 0,198 ft

Luas Penampang (A)

= 0,02330 ft2

Kecepatan rata-rata fluida dalam pipa :


v=

Q
0,037 ft 3 / s
=
= 2,617 ft/s
A
0,01414 ft 2

Sehingga :

NRe =

VD (51,481lbm / ft 3 ).(1,803 ft / s ).(0,172 ft )


=

0,012lbm / ft.s

= 1330,423

= 0,0002

(Geankoplis, 1997)

= 0,014

(Geankoplis, 1997)

A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )


Panjang pipa lurus, L1 = 20 m = 65,616 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,172 = 2,236 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,172 = 10,32 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,172 = 2,322 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,172 = 9,288 ft


Panjang pipa total (L) = 65,616 + 2,236 + 10,32 + 2,322 + 9,288
= 89,782 ft

B. Friksi
F=

(0,014).(1,803) 2 .(89,782)
f .V 2 .L
=
= 0,369 ft.lb. f/lbm
2.(32,174).(0,172)
2 gc.D

C. Kerja yang Diperlukan :


Dari persamaan Bernoulli :
-Wf = Z

g V 2 P
+
+ F
+
g c 2ag c

Tinggi pemompaan, Z = 2,5 m = 8,202 ft

Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,

P
=0

Maka, -Wf = 8,202 + 0 + 0 + 0,369 = 8,571 ft.lbf/lbm

(Peters, 2004)

D. Power Pompa
Ws = -Wf x w
= (-Wf x Q x )/550
= (8,571 x 0,042 x 51,481)/550
= 0,034 Hp
Jika Efisiensi pompa, = 55% : P =

0,034
= 0,061 Hp
0,55

Jadi, daya pompa yang digunakan adalah Hp

LC.24 Vibrating Filter (P-410)


Fungsi

: memisahkan partikel-partikel pengotor dari metil ester

Jenis

: Vibrating filter

Bahan

: ALL 316 Stainless steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi operasi

- Temperatur (T)

= 33 0C

- Tekanan (P)

= 1 atm

Laju bahan

= 3243,358 kg/jam

Faktor kelonggaran, Fk

= 20%

Densitas bahan,

= 842,648 kg/m3

Laju alir volume, Q

3243,358kg / jam
= 3,849 m3/jam
3
842,648kg / m

= 3849 l/jam = 38,49 l/min


= (1 + 0,2) x 3,849 m3

Volume (Vt)

= 4,619 m3

vibrating filter yang dipilih :


vibrating filter industrial top coat nowata proguard
- laju alir bahan

= 38,49 l/min

- Tekanan

= 300 Psi = 21 kg/cm2

- Bukaan filter

= 10 micron

- berat

= 29 lbm = 13,2 kg

(www.nowata.com)

LC.24 Tangki Produk Biodiesel (F-411)


Fungsi

: Menampung produk biodiesel.

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar.

Bahan Konstruksi : Carbon Steel, SA-285, Grade C


Jumlah

: 5 unit

Lama Penyimpanan : 15 hari


Kondisi operasi

: Temperatur (T)

: 33oC

Tekanan (P)

: 1 atm

Tabel LC.15 Komposisi Umpan Masuk Tangki Penyimpanan biodiesel


Lj Massa

% Berat

(kg/jam)

(%)

(kg/m3)

(cP)

Komponen

Biodiesel

3208,034

0,999

862,4000

10,3100

0,321

0,001

994,703

0,7491

Air

3208,355

1,0000

camp = (% Berat x i) = 861,538 kg/m3 = 53,784 lbm/ft3


Perhitungan :
a. Volume tangki:
3208,355kg / jamx15harix 24

Volume larutan, Vl

861,538

kg
m3

= 1340,635 m3
Faktor kelonggaran (fk)

= 20%

Volume tangki, Vt

= (1 + 0,2) x 1340,635 m3
= 1608,762 m3

Direncanakan 5 buah tangki, sehingga :


Vt

1608,762
= 321,752 m3
5

b. Diameter dan Tinggi Shell

Volume silinder
V

1
Dt2 Hs (Hs : Dt = 3 : 2)
4

jam
hari

Vs

3
Dt3
8

321,752 m3

3
Dt3
8

Dt

= 6,489 m = 255,469 in

= x Dt

= 127,735 in

Tinggi silinder (Hs)


Hs =

3
3
x Dt = x 6,489 m = 9,734 m
2
2

Tinggi total tangki (Ht)


Ht = Hs = 9,734 m

Tinggi cairan dalam silinder (Hcs)


Vl

= Vs

Vl

1
2
D t H cs
4

268,127 m3

1
(6,489)2 Hcs
4

Hcs

= 6,368 m = 20,891 ft = 250,696 in

Tinggi total cairan (Hc)


Hc = Hcs = 6,368 m = 20,891 ft

c. Tebal Shell dan Head


Po = 1 atm = 14,696 psia
Phidrostatis

= g Hc = (861,538 kg/m3) (9,8 m/s2) (6,368 m)


= 53765,485 N/m2 = 7,798 psia

Poperasi

= Po + Phidrostatis

= 14,696 psia + 7,798 psia = 22,494 psia

Pdesain

= (1 + fk) Poperasi = (1 + 0,2) x 22,494 psia

= 26,993 psia

Untuk bahan konstruksi Carbon Steel, SA-285 Gr. C (Timmerhaus, 2004)


S

= 13.750 psia

Ej = 0,85
C = 0,04 in/tahun
n

(Perry, 1999)

= 10 tahun

Cc = 0,04 in/tahun x 10 tahun = 0,4 in

Tebal dinding tangki (tt)


Untuk cylindrical shells :
tt =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P

(Timmerhaus, 2004)

Dimana :
P = maximum allowable internal pressure
r

= jari-jari dalam tangki (in)

S = maximum allowable working stress


Ej = Joint effeciency
Cc = allowance for corrosion
tdesain =

P.r
+ Cc
S.Ej 0,6.P
=

(26,993 psia ).(127,735in)


+ 0,4in
(13750 psiax 0,85) 0,6.(26,993 psia )

= 0,695 in

Tebal ellipsoidal head, te


te =

P.D
+ Cc
2S.Ej 0,2.P

(Timmerhaus, 2004)

dimana : P = 26,993 psia


D = 255,469 in
Sehingga :
te =

(26,993 psia ).(255,469in)


+ 0,4in
2.(13750 psiax0,85) 0,2.(26,993 psia )

= 0,695 in
Dari Brownell & Young (1959) dipilih tebal tangki 1 in. Tutup terbuat dari
bahan yang sama dan tebal yang sama dengan dinding tangki.

LAMPIRAN D
SPESIFIKASI PERALATAN UTILITAS

LD.1 Pompa Sumur Bor (PU-111)


Fungsi : Memompa air dari sumur bor ke Bak Pengendapan (BP-101)
Jenis

: centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah : 1 unit
Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 995,647 kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,7975 cP

= 0,00053 lbm/ft.s

Laju alir massa (F)

= 3812,999 kg/jam

= 2,341 lbm/s

Laju alir volumetric, Q =

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s
3
62,428 lbm / ft

Q = 0,0010 m3/s
Desain Pompa
D i,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (0,0010 m3/s)0,45 (1000 kg/m3) 0,13


= 0,038 m = 1,496 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendiks A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1,5 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,04089 m = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,04826 m = 0,158 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v =

= 0,01414 ft2

Q 0,037 ft 3 / s
=
= 2,616 ft / s = 0,797 m/s
At 0,01414 ft 2

Bilangan Reynold,
NRe

V D (1000 kg / m 3 ) (0,797 m / s ) (0,04089 m)


=
= 36.465,626
0,8937.10 3 Pa.s

Karena NRe > 2100, maka aliran turbulen


Untuk pipa commercial steel diperoleh harga = 0,000046 m
(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)
Pada NRe = 36.465,626 diperoleh harga

Maka harga f = 0,0065

0,000046 m
= 0,0011
0,04089 m

(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)

Instalasi pipa
A. Panjang Pipa Ekivalen Total Perpipaan ( L )
Panjang pipa lurus, L1 = 50 ft
1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,134 = 1,742 ft
2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,134 = 8,04 ft
1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,134 = 1,809 ft


1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 54

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 54 x 0,134 = 7,37 ft


Panjang pipa total (L) = 50 + 1,742 + 8,04 + 1,809 + 7,37
= 68,967 ft

F=

f .V 2 .L (0,0065).(2,616) 2 .(68,961)
=
= 0,356
2 gc.D
2.(32,174).(0,134)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 250 ft


Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,
Static head, Z

=0

32,174 ft / s 2
g
= 250 ft
= 250 ft.lbf/lbm
gc
32,174 ft.lbm / lb f .s 2

Maka, W = 250 + 0 + 0 + 0,356 = 250,356

Daya Pompa
P = W Q = (250,356 ft.lbf/lbm)(0,037 ft3/s)(62,428 lbm/ft3) = 575,762
Efisiensi pompa 80% : P =

581,249
= 1,308 Hp
550 x0,8

Digunakan pompa dengan daya standar 1 Hp.

LD.2 Bak Pengendapan (BP-110)


Fungsi

: tempat menampung air sementara dari pompa sumur bor


untuk diproses.

Bahan Konstruksi : Beton


Bentuk

: Persegi Panjang dengan alas datar

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,8937 cP

= 0,0006005 lbm/ft.s

Laju alir massa (F)

= 3.823,833 kg/jam

Laju alir volumetric, Q =


Kebutuhan

= 2,341 lbm/s

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s
3
62,428 lbm / ft

: 3 hari

Faktor Kelonggaran : 20 %
Perhitungan :
a. Volume Bak
Volume larutan,Vl =

3.823,833kg / jam x 3 hari x 24 jam


= 275,315 m 3
3
1000 kg / m

Volume bak, Vt = (1 + 0,2) x 275,315 m3 = 330,379 m3


b. Spesifikasi Bak
Asumsi apabila :
Panjang Bak (P) = 2 x Lebar Bak (L) = Dalam Bak (T)
Maka :
Volume Bak = P x L x T
330,379 m3
P3
Maka : P

= P x (0,5 P) x (P)
= 660,758 m3
= 8,709 m 9 m

= 0,5 L = 0,5 (9) = 4,5 m

=L=9m

LD.3 Pompa Utilitas (PU-112)


Fungsi : Memompa air dari Bak Pengendapan (BP-101) ke clarifier
Jenis : centrifugal pump
Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah : 1 unit
Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,8937 cP

= 0,0006005 lbm/ft.s

Laju alir massa (F)

= 3.823,833 kg/jam

= 2,341 lbm/s

Laju alir volumetric, Q =

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s
3
62,428 lbm / ft

Q = 0,0010 m3/s
Desain Pompa
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

D i,opt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (0,0010 m3/s)0,45 (1000 kg/m3) 0,13


= 0,038 m = 1,496 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendiks A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1,5 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,04089 m = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,04826 m = 0,158 ft

Luas Penampang dalam (At) = 0,01414 ft2


Kecepatan linier, v =

Q 0,037 ft 3 / s
=
= 2,616 ft / s = 0,797 m/s
At 0,01414 ft 2

Bilangan Reynold,
NRe

V D (1000 kg / m 3 ) (0,797 m / s ) (0,04089 m)


=
= 36.465,626
0,8937.10 3 Pa.s

Karena NRe > 2100, maka aliran turbulen


Untuk pipa commercial steel diperoleh harga = 0,000046 m
(Fig.2.10-3 Geankoplis,1997)
Pada NRe = 36.465,626 diperoleh harga

Maka harga f = 0,0065

0,000046 m
= 0,0011
0,04089 m

(Fig.2.10-3 Geankoplis, 1997)

Instalasi pipa

A v2
1 Sharp edge entrance = hc = 0,5 1 2
A1 2. .g c

= 0,5 (1-0)
v2
3 elbow 90 , hf = n.Kf.
2.g c

2,616 2
= 0,053f/lbm
2 (1) (32,174)

(2,616 ft / s ) 2
= (3)(0,75)
2 (32,174 lbm . ft / lb f .s 2 )

= 0,239t.lbf/lbm
v2
2.g c

1 check valve, hf = n.Kf.

= (1)(2,0)

(2,616 ft / s ) 2
2 (32,174 lbm . ft / lb f .s 2 )

= 0,212f.lbf/lbm
Pipa Lurus 50 ft = Ff

= 4f.

L. v 2
D.2.g c

50 (2,616 ft / s ) 2
= (4)(0,0065)
(0,134) .2. (32,174 lbm . ft / lb f .s 2 )

= 1,031.lbf/lbm

A v2
= hex = 1 2
A1 2. .g c

1 Sharp edge exit

= (1-0)

(2,616 ft / s ) 2
2 (32,174 lbm . ft / lb f .s 2 )

= 0,106ft.lbf/lbm

Total Friksi : F = 1,641.lbf/lbm

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

Tinggi pemompaan, Z = 250 ft


Velocity Head,

Pressure Head,

V 2
=0
2g c

=0

32,174 ft / s 2
g
Static head, Z
= 250 ft
= 250 ft.lbf/lbm
gc
32,174 ft.lbm / lb f .s 2

Maka, W = 250 + 0 + 0 + 1,641 = 251,641 ft.lbf/lbm

(Peters, 2004)

Daya Pompa
P = W Q = (251,641 ft.lbf/lbm)(0,037 ft3/s)(62,428 lbm/ft3) = 581,249
Efisiensi pompa 80% : P =

581,249
= 1,321 Hp
550 x 0,8

Digunakan pompa dengan daya standar 1 Hp.

L.D.4 Tangki Pelarutan Alum [Al2(SO4)3] (TP-211)


Fungsi

: membuat larutan Alum [Al2(SO4)3

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar

Bahan konstruksi : Carbon steel SA-283 grade C


Jumlah

:1

Kondisi pelarutan : Temperatur = 30C


Tekanan

= 1 atm

Volume tangki
Al2(SO4)3 yang digunakan

= 50 ppm

Al2(SO4)3 yang digunakan berupa larutan 30% (% berat)


Laju massa [Al2(SO4)3] = 0,191 kg/jam
Densitas Al2(SO4)3 30%

= 1363 kg/m3 = 85,093 lbm/ft3 (Perry, 1997)

Kebutuhan perancangan

= 30 hari

Volume larutan, (V1) =

0,191kg / jamx 24 jamx30hari


0,3 x1363kg / m 3

= 0,336 m3
Faktor kelonggaran

= 20%, maka :

Volume tangki= 1,2 x 0,336 m3

= 0,401 m3

Diameter dan tebal tangki


Volume silinder tangki (Vs)
Vs =
Dimana :

Di 2 Hs
4

(Brownell & Young, 1959)


Vs

= Volume silinder (ft3)

Di

= Diameter dalam silinder (ft)

Hs

= Tinggi tangki silinder (ft)

Ditetapkan

: Perbandingan tinggi tangki dengan diameter


tangki
Hs : Di = 3 : 2

Maka :

Vs

Di 2 3 2 Di
=

0,401=

Di 2 (3Di )
8

Di = 0,778 m = 2,552 ft = 30,629 in


Hs

= 3/2 Di = 3/2 (0,778)


= 1,167 m = 3,828 ft

Tinggi cairan dalam tangki


Tinggi cairan dalam tangki =

volume cairan x tinggi silinder


volume silinder

= 0,336m3 x 1,167 m / 0,401 m3


= 0,134 m
Phidrostatis = x g x h
= 1363 x 9,8 x 0,134 = 1,799 kPa
Faktor keamanan untuk tekanan = 5 %
P desain

= 0,134 x (1,799 + 101,325)


= 13,818 kPa

Direncanakan digunakan bahan konstruksi Carbon steel SA-283 grade C.


Joint efficiency

= 0,8

Allowable stress

= 12650 psia = 87218,714 kPa

(Brownell & Young, 1959)


Tebal Shell, t =

PD
2SE 1,2P

(13,818 kPa) (0,778 m)


2 (87.218,714 kPa)(0,8) 1,2(13,818 kPa)

= 0,000077 m = 0,003 in

Faktor korosi = 1/8 in/tahun


tebal shell yang dibutuhkan = 0,003 in + 1/8 in = 0,128
Maka Tebal Shell standard yang digunakan = in
(Brownell,1959)
Tutup terbuat dari bahan yang sama dengan dinding tangki dan ditetapkan tebal
tutup in
Daya Pengaduk
Tipe pengaduk : Flat six blade turbin impeller.
Jumlah baffle : 4 buah
Da/Dt = 1/3 ; Da = 1/3 x 0,778 m = 0,259 m = 0,850 ft
E/Da = 1

; E = 0,259m

L/Da =

; L = x 0,259 m = 0,064 m

W/Da = 1/5 ; W = 1/5 x 0,259 m = 0,051 m


J/Dt

= 1/12 ; J = 1/12 x 0,778 m = 0,064 m


(Fig.18-17, Perry, 1999)

Dimana :
Dt

= diameter tangki

Da

= diameter impeller

= tinggi turbin dari dasar tangki

= panjang blade pada turbin

= lebar blade pada turbin

= lebar baffle

Kecepatan pengadukan, N = 2 rps


Viscositas Al2(SO4)3 30% = 6,72.10-4 lbm/ft.detik

(Othmer, 1967)

Bilangan reynold :

NRe

N ( Da) 2

= 85,093 (2).(0,850)2 / 6,72.10-4 = 182.975,275


NRe > 10.000 maka perhitungan dengna pengadukan menggunakan rumus:
P

KT .n3 .Da 5 .
gc

(McCabe, 1999)

KT = 6,3
=

(McCabe, 1999)
(6,3) . ( 2) 3.(0,850) 5.( 85,093)
(32,174)(550)

= 0,107 hp

Efisiensi motor penggerak

= 80%

Daya motor penggerak

= 0,107 / 0,8= 0,133 hp

Digunakan daya motor standar Hp.

LD.5 Pompa Alum, Al2(SO4)3 (PU-213)


Fungsi

: Memompa larutan alum dari tangki pelarutan alum ke clarifier.

Jenis

: Pompa injeksi

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas alum ()

= 1.363 kg/m3 = 85,093 lbm/ft3 (Geankoplis, 1997)

Viskositas alum () = 6,72.10-4 lbm/ft.s

(Kirk Othmer,1967)

Laju alir massa (F) = 0,191 kg/jam = 0,00011 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

0,00011 lb m /s
= 1,374.10 5 ft 3 /s = 3,890.10-7 m3/s
3
85,093 lb m /ft

Desain Pompa
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Di,opt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (3,890.10-7 m3/s)0,45.(1.363 kg/m3) 0,13


= 1,210.10-3 m = 0,0476 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1/8 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 0,269 in = 0,0068 m = 0,0224 ft

Diameter Luar (OD)

= 0,405 in = 0,0103 m = 0,0338 ft

Luas Penampang dalam (At)

= 0,0004 ft2

Kecepatan linier, v = Q / At = 1,374.10-5 ft3/s / 0,0004 ft2


= 0,034 ft/s = 0,0103 m/s
Bilangan Reynold,
NRe

v D (85,093 lb m /ft 3 ) (0,034 ft/s) (0,0224 ft)


=
= 96,438

6,72.10 4 lb m /ft.s

Aliran adalah laminar, maka dari Appendix C-3, Foust, 1980, diperoleh :
f = 16/NRe = 16 / 96,438 = 0,165
Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 15 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,0224 = 0,2912 ft
- 1 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 30 x 0,0224 = 0,672 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 15 (App.C-2a, Foust,1980)
L4 = 0,5 x 15 x 0,0224 = 0,168 ft

- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 30 x 0,0224 = 0,672 ft


Panjang pipa total (L) = 15 + 0,2912 + 0,672 + 0,168 + 0,672 = 16,8032 ft
Faktor gesekan,
F=

f.v 2 . L (0,165) (0,034 ) 2 (16,8032)


=
= 2,2233 ft.lbf /lb m
2g c .D
2(32,174)(0,0224)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 10 ft
Velocity Head,

Pressure Head,
Static head, Z

V 2
=0
2g c

=0

g
= 10 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 10 + 0 + 0 + 2,223.10-3 = 10,00223 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (10,00223 ft.lbf/lbm)(1,374.10-5 ft3/s)(85,093 lbm/ft3)
= 0,011 ft.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

0,011
= 2,657.10-5 Hp
550 x 0,8

Digunakan daya pompa standar Hp.

LD.6 Tangki Pelarutan Soda Abu, Na2CO3 (TP 212)


Fungsi

: Membuat larutan Na2CO3 30% berat

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar

Bahan konstruksi

: Carbon Steel SA283, grade C

Kondisi pelarutan

: Temperatur = 30C
Tekanan

= 1 atm

Na2CO3 yang digunakan

= 27 ppm

Na2CO3 yang digunakan berupa larutan 30 % (% berat)


Laju massa Na2CO3

= 0,103 kg/jam

Densitas Na2CO3 30 %

= 1.327 kg/m3 = 85,842 lbm/ft3

(Perry, 1999)
Kebutuhan perancangan

= 30 hari

Faktor keamanan

= 20%

Perhitungan:
Ukuran Tangki
Volume larutan, Vl =

0,103 kg/jam 24 jam/hari 30 hari


0,3 1.327 kg/m 3

= 0,186 m3
Volume tangki, Vt = 1,2 0,186 m3
= 0,223 m3
Direncanakan perbandingan diameter dengan tinggi silinder tangki, D : H = 2 : 3

1
D 2 H
4
1
3
0,223 m 3 = D 2 D
4
2
3
0,223 m 3 = D3
8
V=

Maka :

D = 0,574 m = 1,883 ft
H = 0,861 m = 2,824 ft

Tinggi Na2CO3 dalam tangki

volume cairan x tinggi silinder


volume silinder

= 0,186 m3 x 0,861 m / 0,223 m3


= 0,718 m = 2,356 ft

Tebal Dinding Tangki :


Tekanan hidrostatik, Ph:
Ph = x g x l = 1.327 kg/m3 x 9,8 m/dtk2 x 0,718 m

= 9.337,302 Pa = 9,337 kPa


Tekanan operasi = 1 atm

= 101,325 kPa

P = 9,337 kPa + 101,325 kPa = 110,662 kPa


Faktor Keamanan

=5%

Tekanan desain, Pdesain = 1,05 x (110,662 kPa)


= 116,195 kPa
Joint efficiency

= 0,8

(Brownell, 1959)

Allowable stress

= 12,650 psia = 87.218,714 kPa (Brownell, 1959)

Tebal shell tangki :


PD
2SE 1,2P
(116,195 kPa) (0,574 m)
=
= 4,784.10-4 m
2(87.218,714 kP)(0,8) 1,2(116,195 kP)
= 0,018 in

t=

Faktor korosi = 1/8 in


Maka tebal shell standar yang dibutuhkan = 0,018 in + 1/8 in = 0,143 in
Tebal shell standar yang digunakan = in

(Brownell,1959)

Daya Pengaduk :
Jenis pengaduk : flate 6 blade turbin impeller
Jumlah baffle

: 4 buah

Untuk turbin standar (McCabe, 1993), diperoleh :


Da/Dt = 1/3

; Da = 1/3 x 0,574 m = 0,191 m

E/Da = 1

; E

= 0,191 m

L/Da =

; L

= x 0,191 m

W/Da = 1/5

; W = 1/5 x 0,191 m = 0,038 m

J/Dt

; J

= 1/12

= 0,047 m

= 1/12 x 0,574 m = 0,047 m

Kecepatan Pengadukan, N = 1 rps


Viskositas Na2CO3 30 % = 3,69 x 10-4 lbm/ft.det

(Kirk Othmer, 1967)

Bilangan Reynold,

(85,842)(1)(0,191 x 3,2808) 2
.N.D 2
NRe =
=
= 91.348,139
(3,69.10 4 )

NRe > 10.000, maka perhitungan dengan pengadukan menggunakan rumus :


P =

K T .N 3 .Da 5 .
gc

(McCabe, 1994)

KT = 6,3
P=

(McCabe, 1994)

(6,3)(1)3 (0,191 x 3,2808)5 (85,842)


1 Hp
= 1,581 ft.lbf /dtk x
= 0,002 Hp
32,174
550 ft.lbf /dtk
Efesiensi motor penggerak = 80%
Daya penggerak motor =

0,002
= 0,0035 Hp
0,8

Maka daya motor standar yang dipakai Hp.

LD.7 Pompa Soda Abu, Na2CO3 (PU 214)


Fungsi

: Memompa larutan soda abu dari tangki pelarutan soda abu


ke clarifier.

Jenis

: Pompa injeksi

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas Na2CO3 30%

= 1.327 kg/m3 = 85,842 lbm/ft3

(Perry, 1999)

Viskositas Na2CO3 30 % = 3,69 x 10-4 lbm/ft.det


Laju alir massa (F)
Laju alir volumetrik, Q =

(Kirk Othmer, 1967)

= 0,103 kg/jam = 6,307.10-5 lbm/s


F

6,307.10 -5 lb m /s
= 7,340.10 7 ft 3 /s = 2,00.10-8 m3/s
3
85,842 lb m /ft

Desain Pompa
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (2,00.10-8 m3/s)0,45.(1.327 kg/m3) 0,13


= 3,229.10-4 m = 0,012 in
Ukuran Spesifikasi Pipa

Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1/8 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 0,269 in = 0,0068 m = 0,0224 ft

Diameter Luar (OD)

= 0,405 in = 0,0103 m = 0,0338 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v =

= 0,0004 ft2

Q
7,340.10-7 ft 3 /s
=
=1,835.10-3 ft/s
2
At
0,0004 ft
= 5,593.10-4m/s

Bilangan Reynold,
NRe

v D (85,842 lb m /ft 3 ) (1,835.10-3 ft/s) (0,0224 ft)


=
= 9,562

3,69.10 4 lb m /ft.s

Aliran adalah laminar, maka dari Appendix C-3, Foust, 1980, diperoleh :
f = 16/NRe = 16 / 9,562 = 1,673
Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 15 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,0224 = 0,2912 ft
- 1 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 30 x 0,0224 = 0,672 ft
- 1 buah sharp edge entrance ; K = 0,5; L/D = 13

(App.C-2c, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 13 x 0,0224 = 0,1456 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 28

(App.C-2c, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 28 x 0,0224 = 0,6272 ft


Panjang pipa total (L) = 15 + 0,2912 + 0,672 + 0,1456 + 0,6272 = 16,736 ft
Faktor gesekan,
F=

f.v 2 . L (1,673) (1,835.10-3 ) 2 (16,736)


=
= 6,542 5 ft.lbf /lb m
2g c .D
2(32,174)(0,0224)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :

W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 10 ft
Velocity Head,

Pressure Head,
Static head, Z

V 2
=0
2g c

=0

g
= 10 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 10 + 0 + 0 + 6,542.10-5 = 10,00006542 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (10,00006542 ft.lbf/lbm)(7,340.10-7 ft3/s)(85,842 lbm/ft3)
= 6,300.10-4 ft.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

6,300.10-4
= 1,432.10-6 Hp
550 x 0,8

Maka daya motor yang dipilih Hp.

LD.8 Clarifier (CL-210)


Fungsi

: Memisahkan endapan (flok-flok) yang terbentuk


karena penambahan alum dan soda abu

Bahan konstruksi

: Carbon steel SA-283, Grade C

Laju massa air (F1)

= 3.823,833 kg/jam = 2,341 lbm/s

Laju massa Al2(SO4)3 (F2) = 0,191 kg/jam


Laju massa Na2CO3 (F3)

= 0,103 kg/jam

Laju massa total, m

= 3.824,127 kg/jam = 1,062 kg/detik

Densitas Al2(SO4)3

= 2,71 gr/ml

(Perry, 1999)

Densitas Na2CO3

= 2,533 gr/ml

(Perry, 1999)

Densitas air

= 0,99568 gr/ml

(Perry, 1999)

Reaksi koagulasi:
Al2(SO4)3 + 3Na2CO3 + 3H2O 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 + 3CO2

Perhitungan:
Dari Water Treatment Principles and Design, diperoleh :
Untuk clarifier tipe upflow (radial) :
Kedalaman air = 3 5 m
Settling time

= 1 3 jam

Dipilih : kedalaman air (H)

= 3m

Waktu pengendapan = 1 jam


Diameter dan Tinggi Clarifier
Terminal settling velocity menurut Hukum Stokes :

Us =

( s )gDp 2

(Ulrich,1984)

18

dimana :
s

= kecepatan terminal pengendapan (cm/s)

Dp

= diameter partikel = 0,002 cm

= densitas partikel campuran pada 300C

= densitas larutan pada 300C

= viskositas larutan pada 300C = 0,0345 (gr/cm.s)

= percepatan gravitasi = 980 cm/cm.s

(Perry, 1999)

Densitas larutan,

(3.824,127 )
3.823,833 0,191 0,103
+
+
995,68
2,710 2,533

= 967,749 kg/m3 = 0,965 gr/cm3 = 60,362 lbm/ft


Densitas partikel,

(0,191 + 0,103) = 2.645,242 kg/m3 = 2,645 gr/cm3 = 165,142 lbm/ft


0,191 0,103
+
2,710 2,533

Sehingga,

Ut =

(2,645 0,996) 980 0,002 2


18 0,0345

0,006
= 0,009 cm/s
0,621

Ukuran Clarifier
Laju alir volumetrik, Q =

1,062 kg/detik
= 1,097.10-3 m3/detik
967,749 kg/m 3

= 0,038 ft3/s
Sehingga : Q = 4.10-4 x D2

(Ulrich, 1984)

Dimana :
Q = laju alir volumetrik umpan, m3/detik
D = diameter clarifier, m
Sehingga :
1

-3
Q 2 1,097.10 2

=
D=

4
4.10 4 = 1,656 m = 5,433 ft
4.10

Tinggi clarifier :
Ht =

3
3
D = (1,656) = 2,484 m = 8,149 ft
2
2

Waktu Pengendapan
t=

Ht 2,484 m x 100 cm/m


=
= 27.600 detik = 7,666 jam
Us
0,009 cm/detik

Tebal Dinding Clarifier


Direncanakan digunakan bahan konstruksi Carbon Steel SA-283, Grade C
Dari tabel 13.1 hal 251 Brownell & Young, diperoleh data :
- Allowable working stress (S)
- Efisiensi sambungan (E)

: 0,85

- Umur alat (A) direncanakan


- Faktor korosi
- Tekanan operasi, Po
- Tekanan hidrostatik, Ph =

: 12.650 lb/in2

: 10 tahun

: 0,042 in

(Timmerhaus, 1980)

: 1 atm = 14,7 Psi


(Hs 1)
(8,169 1) . 60,362 lb m / ft 3
=
144
144

= 3,005 Psi
- Faktor Keamanan : 20 %

- Tekanan desain, P= 1,2 x (14,7 + 3,005) = 21,246 Psi

Tebal Dinding Clarifier


Tebal shell tangki :
PD
+ Cc
2SE 1,2P
(21,246 Psi) (5,433 ft)(12 in/ft)
=
+ 0,042 = 0,064 in
2(12.650 Psi)(0,85) 1,2(21,246 Psi)

t=

Tebal shell standar yang digunakan = 1/12 in

(Brownell,1959)

Daya Clarifier
P = 0,006 D2

(Ulrich, 1984)

Dimana :
P = daya yang dibutuhkan, Hp
Sehingga,
P = 0,006 (1,656m)2 = 0,016 Hp.

LD.9 Pompa Clarifier (PU-311)


Fungsi

: Memompa air dari Clarifier ke Sand filter

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3 = 62,428 lbm/ft3

Viskositas air () = 0,8007 cP

= 5,3806.10-4 lbm/ft.s

(Perry, 1999)
(Kirk Othmer,1967)

Laju alir massa (F) = 3.823,833 kg/jam = 2,341 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s = 0,0010 m3/s
3
62,428 lbm / ft

Desain Pompa
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (0,0010 m3/s)0,45 (1000 kg/m3) 0,13

= 0,038 m = 1,496 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1,5 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,04089 m = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,04826 m = 0,158 ft

Luas Penampang dalam (At)

= 0,01414 ft2

Q 0,037 ft 3 / s
Kecepatan linier, v =
=
= 2,616 ft / s = 0,797 m/s
At 0,01414 ft 2
Bilangan Reynold,
NRe

V D (1000 kg / m 3 ) (0,797 m / s ) (0,04089 m)


=
= 36.465,626
0,8937.10 3 Pa.s

Karena NRe > 4100, maka aliran turbulen


Untuk pipa commercial steel dan pipa 1,5 in Sc.40, diperoleh :

0,000046 m
= 0,0011
0,04089 m

(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)


Maka harga f = 0,0065

(Fig.2.10-3, Geankoplis , 1997)

Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 75 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,134 = 1,742 ft
- 2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,134 = 8,040 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,134 = 1,809 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 55
L5 = 1,0 x 55 x 0,134 = 7,370 ft
Panjang pipa total (L) = 18,961 ft

(App.C-2a, Foust,1980)

Faktor gesekan,
F=

f .v 2 . L (0,0065) (2,616) 2 (18,961)


=
= 0,097 ft.lbf /lb m
2 g c .D
2(32,174)(0,134)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 30 ft
Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,
Static head, Z

=0

g
= 30 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 30 + 0 + 0 + 0,097= 30,097 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (30,097 ft.lbf/lbm)(0,037 ft3/s)(62,428 lbm/ft3) = 62,520 ft.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

69,520
= 0,142 Hp
550 x 0,8

Digunakan pompa dengan daya standar Hp.

LD.10 Sand Filter (SF-310)


Fungsi : Menyaring partikel-partikel yang terbawa dalam air tanah
Jenis : Selinder tegak dengan alas dan tutup ellipsoidal
Bahan Konstruksi

: Carbon steel SA 283 grade C

Jumlah : 1 unit
Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,8937 cP

= 0,0006005 lbm/ft.s

Laju alir massa (F)

= 3.823,833 kg/jam

Laju alir volumetric, Q=


Faktor keamanan

= 2,341 lbm/s

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s
3
62,428 lbm / ft

= 20 %

Sand filter dirancang untuk penampungan jam operasi


Sand filter dirancang untuk volume bahan penyaring 1/3 volume tangki

Perhitungan :
a. Volume Tangki
Volume air, Vl =

3.823,833 kg / jam x 0,25 jam


= 0,955 m 3
1000 kg / m 3

Volume tangki, Vt = (1 + 0,2) x 0,955 m3 = 1,146 m3


Volume total, Vtotal = (1 + 1/3) x 1,146 m3 = 1,528 m3

b. Spesifikasi Tangki
Silinder (Shell)
Direncanakan perbandingan diameter dengan tinggi, D : H = 3 : 4
Vs =

D2
4

Maka, Vs =

Vs =

(Brownell, 1959)

D2 4
4

D
3

D3
3

1,528 m3 =

D3
3

Maka, D = 1,134 m 1,2 m


Dan

H = 1,512 m 1,6 m

Diameter dan tinggi tutup


Diameter tutup = diameter tangki = 1,2 m
Hh = 1/16 D

Tinggi tutup =

1
x (1,2 m) = 0,075 m
16

Tinggi tangki total = 1,6 x 2 (0,075) = 0,240 m


Tinggi penyaring (Hp) = 0,375 m
Tinggi cairan dalam tangki (Hs) =
P air

vl
vtotal

x H=

0,995
x 1,6 m = 1,041 m
1,528

= x g x Hs
= 1000 kg/m3 x 9,8 m/det2 x 1,041m
= 10,210 kPa

P penyaring = x g x HP
= 1000 kg/m3 x 9,8 m/det2 x 0, 375 m
= 3,675 kPa
Tekanan operasi = 1 atm = 101,325 kPa
P

= 10,210 kPa + 3,675 kPa + 101,325 kPa = 115,210 kPa

Faktor kelonggaran 5 %
Maka, P desain

= (1,05) x 115,210kPa = 120,970 kPa

Joint Efficiency (E)

=0,85

Allowable stress (S)

=12.650psi = 87.218,714 (Brownell,1959)

Tebal Shell, t =

PD
2 SE 1,2 P

(Peters,2004)

(Peters,2004)

Maka, tebal shell :


t=

(120,970 kPa) (1,134 m)


= 0,000926 m = 0,036 in
2 (87.218,714 kPa)(0,85) 1,2(120,970)

Faktor korosi = 1/8 in


Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,036 in + 1/8 in = 0,161 in
Tebal Shell standard yang digunakan = in

(Brownell,1959)

Tutup terbuat dari bahan yang sama dengan dinding tangki dan ditetapkan
tebal tutup in

LD.11 Tangki Utilitas (TU-410)


Fungsi : Menampung air sementara untuk didistribusikan ke unit lain
Jenis : Selinder tegak dengan alas dan tutup datar
Bahan Konstruksi

: Carbon steel SA 283 grade C

Jumlah : 1 unit
Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,8937 cP

= 0,0006005 lbm/ft.s

Laju alir massa (F)

= 3.823,833 kg/jam

= 2,341 lbm/s

Laju alir volumetric, Q=


Faktor keamanan

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s
62,428 lbm / ft 3

= 20 %

Kebutuhan Perancangan = 3 jam


Perhitungan :
a. Volume Tangki
Volume air, Vl =

3.823,833 kg / jam x 3 jam


=11,471 m 3
1000 kg / m 3

Volume tangki, Vt = (1 + 0,2) x 11,471 m3 = 13,765 m3


b. Spesifikasi Tangki
Silinder (Shell)
Direncanakan perbandingan diameter dengan tinggi, D : H = 3 : 4
Vs =

(Brownell, 1959)

Maka, Vs =

Vs =

D2 4
4

D
3

D3
3

13,765 m3 =

D3
3

Maka, D = 2,360 m = 2,4 m


Dan

H = 3,146 m = 3,2 m

Tinggi air dalam tangki (Hs) =

vl
vtotal

x H=

11,471
x 3,2 m = 2,666 m
13,765

Tebal Tangki
Tekanan hidrostatik
= x g x Hs

P air

= 1000 kg/m3 x 9,8 m/det2 x 2,666 m


= 26,132 kPa
Tekanan operasi = 1 atm = 101,325 kPa
P

= 26,132 kPa + 101,325 kPa = 127,457 kPa

Faktor kelonggaran 5 %
Maka, P desain

= (1,05) x 127,457kPa = 133,829 kPa

Joint Efficiency (E)

=0,85

Allowable stress (S)

= 12.650 psi = 87.218,71 (Brownell,1959)

Tebal Shell, t =

PD
2 SE 1,2 P

(Peters,2004)

(Peters,2004)

Maka, tebal shell :


t=

(133,829 kPa) (2,4 m)


= 0,0021 m = 0,085 in
2 (87.218,714 kPa)(0,85) 1,2(133,829)

Faktor korosi = 1/8 in


Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,085 in + 1/8 in = 0,210 in
Tebal Shell standard yang digunakan = in

(Brownell,1959)

Tutup terbuat dari bahan yang sama dengan dinding tangki dan ditetapkan
tebal tutup in

LD.12 Pompa Tangki Utilitas (PU 511)


Fungsi

: Memompa air dari tangki utilitas-410 ke cation exchanger.

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3 = 62,428 lbm/ft3 (Geankoplis, 1997)

Viskositas air () = 0,8007 cP

= 0,000538 lbm/ft.s (Kirk Othmer,1967)

Laju alir massa (F) = 3.823,833 kg/jam= 2,341 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s = 0,0010 m3/s
62,428 lbm / ft 3

Desain Pompa
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Di,opt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (0,0010 m3/s)0,45 (1000 kg/m3) 0,13


= 0,038 m = 1,496 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1,5 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,04089 m = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,04826 m = 0,158 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v =

= 0,01414 ft3/s

Q 0,037 ft 3 / s
=
= 2,616 ft / s = 0,797 m/s
At 0,01414 ft 2

Bilangan Reynold,
NRe

V D (1000 kg / m 3 ) (0,797 m / s ) (0,04089 m)


=
= 36.465,626
0,8937.10 3 Pa.s

Karena NRe > 4100, maka aliran turbulen


Untuk pipa commercial steel dan pipa 1,5 Sc.40, diperoleh :
(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)
Maka harga f = 0,0065 (Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)
Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 75 ft

0,000046 m
= 0,0011
0,04089 m

- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,134 = 1,742 ft
- 2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,134 = 8,040 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,134 = 1,809 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 55

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 55 x 0,134 = 7,370 ft


Panjang pipa total (L) = 18,961 ft

Faktor gesekan,
F=

f .v 2 . L (0,0065) (2,616) 2 (18,961)


=
= 0,097 ft.lbf /lb m
2 g c .D
2(32,174)(0,134)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 30 ft
Velocity Head,

Pressure Head,
Static head, Z

V 2
=0
2g c

=0

g
= 30 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 30 + 0 + 0 + 0,097 = 30,097 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (30,097 ft.lbf/lbm)(0,037 ft3/s)(62,428 lbm/ft3) = 69,521ft.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

69,521
550 x 0,8

= 0,158 Hp

Digunakan daya pompa standar Hp.

LD.13 Tangki Pelarut NaCl (TP- 513)


Fungsi

: Membuat larutan NaCl

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar

Bahan konstruksi

: Carbon Steel SA283, Grade C

Kondisi pelarutan

: Temperatur = 30C
Tekanan

= 1 atm

NaCl yang digunakan mempunyai konsentrasi 50% (% berat)


Laju massa NaCl (F)

= 0,0023 kg/hari

Densitas NaCl 50%

= 1.575 kg/m3 = 98,3236 lbm/ft3 (Perry, 1999)

Kebutuhan perancangan

= 90 hari

Faktor keamanan

= 20%

Perhitungan:
Ukuran Tangki
Volume larutan, Vl =

0,0007 kg/hari 90 hari


= 0,00026 m3
0,5 1.575 kg/m 3

Volume tangki, Vt = 1,2 0,00026 m3 = 0,00031 m3


Direncanakan perbandingan diameter dengan tinggi silinder tangki, D : H = 3
:4
Maka:

1
D 2 H
4
1
4
0,00031 m 3 = D 2 D
4
3
1
0,00031 m 3 = D3
3
V=

D = 0,067 m = 0,219 ft
H = 0,089 m = 0,293 ft
Tinggi NaCl dalam tangki =

Tebal Dinding Tangki :


Tekanan hidrostatik
P = xgxl

0,00031
1
(0,067 m) 2
4

= 0,087 m = 0,288 ft

= 1.575 kg/m3 x 9,8 m/dtk2 x 0,087 m


= 1.342,845 Pa = 1,342 kPa
Tekanan operasi = 1 atm = 101,325 kPa
P = 1,342 kPa + 101,325 kPa = 102,667 kPa
Faktor kelonggaran 5 %
Maka, P desain

(Perry, 1999)

= (1,05) x 102,667 kPa = 107,800 kPa

Joint Efficiency (E) = 0,85

(Peters,2004)

Allowable stress (S) = 12.650 psi = 87.218,714 kP (Brownell,1959)


Tebal Shell, t =

PD
2SE 1,2P

(Peters,2004)

Maka, tebal shell :


t=

(107,800 kPa) ( 0,067 m)


= 4,875.10-5 m
2 (87.218,714 kPa)(0,85) 1,2(107,800 kPa)

= 0,0019 in
Faktor korosi = 1/8 in
Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,0019 in + 1/8 in = 0,126 in
Tebal Shell standard yang digunakan = in
(Brownell,1959)
Daya Pengaduk :
Jenis Pengaduk : flat 6 blade turbin impeller
Jumlah baffle : 4 buah
Untuk turbin standar (McCabe, 1993), diperoleh :
Spesifikasi :

Da 1
= ; Da = 1 / 3 x 0,067 m = 0,022 m
Dt 3
E
= 1 ; E = 0,022 m
Da
L
1
= ; L = 1 x 0,022 = 0,0055 m
4
Da 4
W 1
= ; W = 1 x 0,022 = 0,004 m
5
Da 5
J
1
; J = 1 / 12 x 0,067 m = 0,0055 m
=
Dt 12
Data Perhitungan :

N = 3,17 putaran/dtk
Densitas NaCl = 98,3236 lbm/ft3
Viskositas NaCl 50% () = 4,1175.10-3 lbm/ft.s

(Perry, 1999)

Bilangan Reynold (NRe) :


NRe =

N . Da 2 .

(Geankoplis,1997)

3,17 . (0,022 x 3,2808 ft ) . (98,3236 )


NRe =
= 388,691
4,1775.10 3
2

Bilangan Daya (NP) :


Np =

P .g c

(Geankoplis,1997)

. n 3 . Da 5

Untuk NRe = 388,691 , NP = 4,5


(Fig 10.6, Walas,1988)
P=

N P . . n 3 . Da 5 4,5 . 98,3236lbm / ft 3 .3,17( put / s ) 3 . (0,022.3,2808 ft ) 5


=
gc
32,174lbm . ft / lb f .s 2
= 8,581.10-4 ft.lbf/s

1 Hp
550 ft.lb f /s

= 1,560.10-6 Hp
Efisiensi 80 %
P = 1,560.10-6 Hp / 0,8= 1,950.10-6
Digunakan motor penggerak dengan daya Hp.

LD.14 Pompa NaCl (PU-512)


Fungsi

: Memompa larutan NaCl dari tangki pelarutan NaCl ke


kation exchanger

Jenis

: Pompa injeksi

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas NaCl 50% = 1.575 kg/m3 = 98,3236 lbm/ft3

(Perry, 1999)

Viskositas NaCl 50% () = 4,1175.10-3 lbm/ft.s

(Perry, 1999)

Laju massa NaCl (F)

= 0,0023 kg/hari = 9,583.10-5 kg/jam = 5,80 -8 lbm/s

Laju alir volumetrik, Q =

5,8.10-8 lb m /s
= 5,968.10 10 ft 3 /s =1,690.10-11 m3/s
3
98,3236 lb m /ft

Desain Pompa
= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

Di,opt

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (1,690.10-11 m3/s)0,45.(1.575 kg/m3) 0,13


= 1,343.10-5 m = 5,287.10-4 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendix A.5, Geankoplis, 1997 dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut:
Ukuran pipa nominal = 1/8 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 0,269 in = 0,0068 m = 0,0224 ft

Diameter Luar (OD)

= 0,405 in = 0,0103 m = 0,0338 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v =

= 0,0004 ft2

Q
5,968.10-10 ft 3 /s
=
=1,492.10-6 ft/s
At
0,0004 ft 2
= 4,540.10-7 m/s

Bilangan Reynold,
NRe

v D (98,3236 lb m /ft 3 ) (1,492.10-6 ft/s) (0,0224 ft)


=
= 7,866.10 4
3

4,1775.10 lb m /ft.s

Aliran adalah laminar, maka dari Appendix C-3, Foust, 1980, diperoleh :
f = 16/NRe = 16 / 7,866.10-4 = 20.340,706
Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 15 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,0224 = 0,2912 ft
- 1 buah standard elbow 90o ; L/D = 30
L3 = 30 x 0,0224 = 0,672 ft

(App.C-2a, Foust,1980)

- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 15 (App.C-2c, Foust,1980)


L4 = 0,5 x 13 x 0,0224 = 0,1456 ft
- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 30

(App.C-2c, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 30 x 0,0224 = 0,672 ft


Panjang pipa total (L) = 15 + 0,2912 + 0,672 + 0,1456 + 0,672 = 16,736 ft
Faktor gesekan,
F=

f.v 2 . L (20.340,706) (1,492.10-6 ) 2 (16,736)


=
= 5,250.10 7 ft.lbf /lb m
2g c .D
2(32,174)(0,0224)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 10 ft
Velocity Head,

Pressure Head,
Static head, Z

V 2
=0
2g c

=0

g
= 10 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 10 + 0 + 0 + 5,250.10-7 = 10,00000052 ft.lbf/lbm

Daya Pompa
P = W Q = (10,00000052 ft.lbf/lbm)(5,968.10-10 ft3/s)(98,3236 lbm/ft3)
= 5,860.10-7 ft.lbf/s
5,860.10-7
Efisiensi pompa 80% : P =
550 x 0,8

= 1,00.10-9 Hp

Maka daya pompa standar yang digunakan sebesar Hp.

LD.15 Penukar Kation / Cation Exchanger ( CE-510 )


Fungsi

: Untuk mengurangi kesadahan air

Bentuk

: Silinder tegak dengan tutup dan alas ellipsoidal

Bahan konstruksi : Carbon steel SA-283, Grade C


Kondisi :
Temperatur

= 30C

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000kg/m3

= 62,428 lbm/ft3 (Geankoplis, 1997

Viskositas air ()

= 0,8007 cP

= 0,000538 lbm/ft.s (Kirk Othmer,1967)

Laju alir massa (F) = 10,521 kg/jam = 0,0064 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

F
0,0064 lb m /s
=
= 1,032.10-4 ft 3 /s = 2,922.10-6 m3/s
3
62,428 lb m /ft

Kebutuhan perancangan = 1 jam


Faktor keamanan

= 20 %

Ukuran Cation Exchanger


Dari Tabel 12.4, The Nalco Water Handbook, diperoleh:
- Diameter penukar kation

= 1 ft = 0,305 m

- Luas penampang penukar kation

= 0,78544 ft2

- Tinggi resin dalam cation exchanger = 2,5 ft


- Tinggi silinder = 1,2 2,5 ft = 3 ft = 0,914 m
Direncanakan perbandingan diameter dengan tinggi silinder tangki, D : H = 2 : 1
Maka: H = D = (0,305) = 0,1525 m
Sehingga tinggi cation exchanger = 0,914 + 0,1525 = 1,066 m = 3,497 ft
Diameter tutup = diameter tangki = 0,305 m
Tebal Dinding Tangki :
Direncanakan menggunakan bahan konstruksi Carbon Steel SA-283 grade C.
Dari Brownell & Young, Item 1, Appendix D, diperoleh data :
- Allowable working stress (S) : 18.750 Psi
- Efisiensi sambungan (E)

: 0,8

- Faktor korosi

: 1/8 in (Timmerhaus, 1980)

Tekanan hidrostatik, Po

: 1 atm = 14,7 Psi

- Faktor Keamanan

: 20 %

- Tekanan desain, P

= 1,2 x 14,7
= 17,64 Psi

Tebal Dinding tangki cation exchanger:


PD
+ CA
2SE 1,2P
(17,64 Psi) (1 ft)(12 in/ft)
=
+ 0,125 in = 0,132 in
2(18.750 Psi)(0,8) 1,2(17,64 Psi)

t=

Tebal shell standar yang digunakan = in

(Brownell,1959)

LD.16 Pompa Cation Exchanger ( PU-521 )


Fungsi

: Memompa air dari cation exchanger ke anion exchanger

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi : Commercial steel


Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3

Viskositas air () = 0,8007 cP

= 62,428 lbm/ft3

(Perry, 1999)

= 0,000538 lbm/ft.s

(Kirk Othmer,1967)

Laju alir massa (F) = 10,521 kg/jam = 0,0064 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

F
0,0064 lb m /s
=
= 1,032.10-4 ft 3 /s = 2,922.10-6 m3/s
3
62,428 lb m /ft

Desain Pompa
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15,Peters, 2004)

= 0,363 (2,922.10-6 m3/s)0,45.(1000 kg/m3) 0,13


= 2,880.10-3 m = 0,113 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1/8 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 0,269 in = 0,0068 m = 0,0224 ft

Diameter Luar (OD)

= 0,405 in = 0,0103 m = 0,0338 ft

Luas Penampang dalam (At)

= 0,0004 ft2

Kecepatan linier, v =

Q 1,032.10-4 ft 3 /s
=
= 0,258 ft/s
At
0,0004 ft 2
= 0,078 m/s

Bilangan Reynold,
NRe

v D (1000 kg/m 3 ) (0,078 m/s) (0,0068 m)


=
= 667,850

0,8007.10 3 kg/m.s

Karena NRe < 2100, maka aliran laminar


Maka harga f = 0,03

(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)

Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 10 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,0224 = 0,291 ft
- 2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,0224 = 1,344 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,0224 = 0,302 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 55

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 55 x 0,0224 = 1,232 ft


Panjang pipa total (L) = 13,169 ft
Faktor gesekan,
F=

f.v 2 . L (0,03) (0,258) 2 (13,169)


=
= 0,018 ft.lbf /lb m
2g c .D
2(32,174)(0,0224)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

Tinggi pemompaan, Z = 15 ft
Velocity Head,

Pressure Head,

V 2
=0
2g c

=0

(Peters, 2004)

Static head, Z

g
= 15 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 15 + 0 + 0 + 0,018 = 15,018 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (15,018 ft.lbf/lbm)(1,032.10-4 ft3/s)(62,428 lbm/ft3) = 0,096 ft.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

0,096
= 2,198.10-4 Hp
550 x 0,8

Digunakan pompa dengan daya standar Hp.

LD.17 Tangki Pelarutan NaOH (TP 523)


Fungsi

: Tempat membuat larutan NaOH

Bentuk

: Silinder tegak dengan tutup dan alas ellipsoidal

Bahan konstruksi

: Carbon Steel, SA-283, grade C

Jumlah

: 1 unit

Kondisi :
Temperatur

= 30C

Tekanan

= 1 atm

Laju alir massa NaOH

= 0,0017 kg/jam

Waktu regenerasi

= 24 jam

NaOH yang dipakai berupa larutan 50% (% berat)


Densitas larutan NaOH 50% = 1.518 kg/m3 = 94,577 lbm/ft3
(Perry, 1999)
Kebutuhan perancangan

= 90 hari

Faktor keamanan

= 20%

Ukuran Tangki
Volume larutan, Vl =

0,0017 kg/jam 24 jam 90 hari


= 4,837.10-3 m3
3
0,5 1.518 kg/m

Volume tangki, Vt = 1,2 4,837.10-3 m3 = 0,0058 m3


Direncanakan perbandingan diameter dengan tinggi silinder tangki, D : H = 3
:4

1
D 2 H
4
1
4
0,0058 m 3 = D 2 D
4
3
1
0,0058 m 3 = D3
3
V=

Maka:
D = 0,176 m = 0,577 ft
H = 0,234 m = 0,767 ft
Tinggi larutan NaOH dalam tangki =

0,0058 m 3
1
(0,176 m) 2
4

= 0,041 m

Tebal Dinding Tangki :


Tekanan hidrostatik
P = xgxl
= 1.518 kg/m3 x 9,8 m/dtk2 x 0,041 m
= 609,932 Pa = 0,609 kPa
Tekanan operasi = 1 atm = 101,325 kPa
P = 0,609 kPa + 101,325 kPa = 102,404 kPa
Faktor kelonggaran 5 %
Maka, P desain

(Perry, 1999)

= (1,05) x 102,404 kPa = 107,524 kPa

Joint Efficiency (E) = 0,85

(Brownell,1959)

Allowable stress (S) = 12.650 psi = 87.218,714 kP (Brownell,1959)


Tebal Shell, t =
t=

PD
2SE 1,2P

(Peters,2004)

(107,524 kPa) ( 0,176 m)


= 1,357.10-4 m = 0,005 in
2 (87.218,714 kPa)(0,8) 1,2(107,524 kPa)

Faktor korosi = 1/8 in


Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,005 in + 1/8 in = 0,130 in
Dari Tabel 5.4, Brownell & Young, 1959, dipilih tebal tangki standar yang
digunakan in.
Daya Pengaduk

Jenis Pengaduk : flat 6 blade turbin impeller


Jumlah baffle : 4 buah
Untuk turbin standar (McCabe, 1993), diperoleh :
Spesifikasi :

Da 1
= ; Da = 1 / 3 x 0,176 m = 0,058 m
Dt 3
E
= 1 ; E = 0,058 m
Da
L
1
= ; L = 1 x 0,058 = 0,014 m
4
Da 4
W 1
= ; W = 1 x 0,058 = 0,011 m
5
Da 5
J
1
=
; J = 1 / 12 x 0,176 m = 0,014 m
Dt 12

Data Perhitungan :
N = 1 putaran/dtk
Densitas NaOH = 94,577 lbm/ft3
Viskositas NaOH 50% () = 4,302.10-4 lbm/ft.s

(Perry, 1999)

Bilangan Reynold (NRe) :


NRe =

N . Da 2 .

(Pers. 3.4-1, Geankoplis,1983)

1 . (0,058 x 3,2808 ft ) . (94,577 )


NRe =
= 7.960,321
4,302.10 4
2

Bilangan Daya (NP) :


Np =

P .g c

. n 3 . Da 5

(Geankoplis,1997)

Untuk NRe = 7.960,321 , NP = 0,4


(Fig 10.6, Walas,1988)
P=

N P . . n 3 . Da 5 0,4 . 94,577lbm / ft 3 .1( put / s ) 3 . (0,058.3,2808 ft ) 5


=
gc
32,174lbm . ft / lb f .s 2
= 2,933.10-4 ft.lbf/s

= 5,330.10-7 Hp

1 Hp
550 ft.lb f /s

Efisiensi 80 %
P = 5,330.10-7 Hp / 0,8= 6,660.10-7
Digunakan motor penggerak dengan daya Hp

LD.18 Pompa NaOH (PU 522)


Fungsi

: Memompa larutan NaOH dari tangki pelarutan NaOH ke


anion exchanger

Jenis

: Pompa injeksi

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi :
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas NaOH 50%

= 1.518 kg/m3 = 94,577 lbm/ft3

Viskositas NaOH 50% () = 4,302.10-4 lbm/ft.s


Laju massa NaOH (F)

(Perry, 1999)
(Perry, 1999)

= 0,0017 kg/jam = 1,041.10-6 lbm/s

1,041.10 -6 lb m /s
Laju alir volumetrik, Q =
=
= 1,100.10 8 ft 3 /s = 3,117.10-10 m3/s
3
94,577 lb m /ft

Desain Pompa
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (3,117.10-10 m3/s)0,45.(1.518 kg/m3) 0,13


= 4,961.10-5 m = 1,953.10-3 in

Ukuran Spesifikasi Pipa


Dari Appendix A, Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1/8 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 0,269 in = 0,0068 m = 0,0224 ft

Diameter Luar (OD)

= 0,405 in = 0,0103 m = 0,0338 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v=

= 0,0004 ft2

Q 1,100.10-8 ft 3 /s
=
= 2,750.10-5 ft/s
2
At
0,0004 ft
= 8,382.10-6 m/s

Bilangan Reynold,
=

NRe

v D (94,577 lb m /ft 3 ) (2,750.10-5 ft/s) (0,0224 ft)


=
= 0,135

4,302.10 4 lb m /ft.s

Aliran adalah laminar, maka dari Appendix C-3, Foust, 1980, diperoleh :
f = 16/NRe = 16 / 0,135 = 118,518
Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 15 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,0224 = 0,2912 ft
- 1 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 30 x 0,0224 = 0,672 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 15

(App.C-2c, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 13 x 0,0224 = 0,1456 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 30

(App.C-2c, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 30 x 0,0224 = 0,672 ft


Panjang pipa total (L) = 15 + 0,2912 + 0,672 + 0,1456 + 0,672 = 16,736 ft
Faktor gesekan,
F=

f.v 2 . L (118,518) (2,750.10-5 ) 2 (16,736)


=
= 1,040.10 6 ft.lbf /lb m
2g c .D
2(32,174)(0,0224)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

Tinggi pemompaan, Z = 10 ft
Velocity Head,

V 2
=0
2g c

(Peters, 2004)

Pressure Head,
Static head, Z

=0

g
= 10 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 10 + 0 + 0 + 1,040.10-6 = 10,0000104 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (10,0000104 ft.lbf/lbm)(1,100.10-8 ft3/s)(94,577 lbm/ft3) = 1,040.10-5 ft.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

1,040.10-5
= 2,300.10-8 Hp
550 x 0,8

Digunakan daya pompa standar Hp.

LD.19 Penukar Anion Exchanger (AE-520)


Fungsi : Untuk mengurangi kesadahan air
Bentuk : Silinder tegak dengan tutup dan alas ellipsoidal
Bahan konstruksi : Carbon steel SA-283, Grade C
Kondisi :
Temperatur

= 30C

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,8007 cP

= 0,000538 lbm/ft.s (Kirk Othmer,1967)

(Geankoplis, 1997)

Laju alir massa (F) = 10,521 kg/jam = 0,0064 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

F
0,0064 lb m /s
=
= 1,032.10-4 ft 3 /s
3
62,428 lb m /ft

= 2,922.10-6 m3/s

Kebutuhan perancangan = 1 jam


Faktor keamanan

= 20 %

Ukuran Anion Exchanger


Dari Tabel 12.4, The Nalco Water Handbook, diperoleh:
- Diameter penukar anion

= 2 ft = 0,6096 m

- Luas penampang penukar kation = 3,14 ft2

Tinggi resin dalam anion exchanger = 2,5 ft


Tinggi silinder = 1,2 2,5 ft
= 3 ft = 0,9144 m
Diameter tutup = diameter tangki = 0,6096 m
Direncanakan perbandingan diameter dengan tutup, D : H = 2 : 1
Tinggi tutup =

1 0,6096
= 0,1524 m

2 2

(Brownell,1959)

Sehingga, tinggi anion exchanger = 0,9144 m + 0,1524 m = 1,0668 m

Tebal Dinding Tangki


Tekanan operasi

= 1 atm = 101,325 kPa = 14.696 psi

Faktor kelonggaran = 20%


Maka, Pdesign = (1,2) (101,325 kPa)
= 121,59 kPa
Joint efficiency = 0,85

(Brownell, 1959)

Allowable stress = 12.650 psia = 87.218,714 kPa

(Brownell, 1959)

Tebal shell tangki:


PD
2SE 1,2P
(121,59 kPa) (0,6096 m)
=
2(87.218,714 kPa)(0,85) 1,2(121,59 kPa)

t=

= 5,0039.10 -4 m = 0,0197 in

Faktor korosi

= 0,42 in

Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,0197 in + 0,42 in = 0,4397 in


Tebal shell standar yang digunakan = in

(Brownell, 1959)

LD.20 Pompa Anion Exchanger ( PU 611 )


Fungsi

: Memompa air dari anion exchanger ke deaerator

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi : Commercial steel


Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

(Perry, 1999)

= 0,000538 lbm/ft.s (Kirk Othmer,1967)

Viskositas air () = 0,8007 cP

Laju alir massa (F) = 10,521 kg/jam = 0,0064 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

F
0,0064 lb m /s
=
= 1,032.10-4 ft 3 /s
62,428 lb m /ft 3

= 2,922.10-6 m3/s
Desain Pompa
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (2,922.10-6 m3/s)0,45.(1000 kg/m3) 0,13


= 2,880.10-3 m = 0,113 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1/8 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 0,269 in = 0,0068 m = 0,0224 ft

Diameter Luar (OD)

= 0,405 in = 0,0103 m = 0,0338 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v =

= 0,0004 ft2

Q 1,032.10-4 ft 3 /s
=
= 0,258 ft/s
At
0,0004 ft 2
= 0,078 m/s

Bilangan Reynold,
NRe

v D (1000 kg/m 3 ) (0,078 m/s) (0,0068 m)


=
= 667,850

0,8007.10 3 kg/m.s

Karena NRe < 2100, maka aliran laminar


Maka harga f = 0,03

(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)

Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 10 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,0224 = 0,291 ft
- 2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,0224 = 1,344 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,0224 = 0,302 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 55

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 55 x 0,0224 = 1,232 ft


Panjang pipa total (L) = 13,169 ft
Faktor gesekan,
F=

f.v 2 . L (0,03) (0,258) 2 (13,169)


=
= 0,018 ft.lbf /lb m
2g c .D
2(32,174)(0,0224)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 15 ft
V 2
Velocity Head,
=0
2g c
Pressure Head,
Static head, Z

=0

g
= 15 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 15 + 0 + 0 + 0,018 = 15,018 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (15,018 ft.lbf/lbm)(1,032.10-4 ft3/s)(62,428 lbm/ft3) = 0,096 ft.lbf/s

Efisiensi pompa 80% : P =

0,096
= 2,198.10-4 Hp
550 x 0,8

Digunakan pompa dengan daya standar Hp.

LD.21 Tangki Pelarutan Kaporit [Ca(ClO)2] (TP 421)


Fungsi

: Tempat membuat larutan Kaporit [Ca(ClO)2].

Bentuk

: Silinder tegak dengan alas dan tutup datar

Bahan konstruksi

: Carbon Steel, SA-283, grade C

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3 = 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,8034 Cp = 0,0005399 lbm/ft.s

Laju alir massa (F) = 400 kg/jam (air) + 0,00114 kg/jam (kaporit)
= 400,00114 kg/jam = 0,245 lbm/s
Laju alir volumetrik, Q =

Faktor keamanan

F
0,245 lb m /s
=
= 3,9419.10-3 ft 3 /s
3
62,428 lb m /ft

= 20 %

Kebutuhan Perancangan = 24 jam

Perhitungan :
a. Volume Tangki
Volume air, Vl =

400,00114 kg/jam x 24 jam


= 9,600 m 3
1000 kg/m 3

Volume tangki, Vt = (1 + 0,2) x 9,600 m3 = 11,520 m3


b. Spesifikasi Tangki
Silinder (Shell)
Direncanakan perbandingan diameter dengan tinggi, D : H = 3 : 4

Vs =

D2
H
4

Maka, Vs =

(Brownell, 1959)

D2 4
D
4 3

Vs =

D3
3

11,520 m3 =

D3
3

Maka, D = 2,190 m 2,2 m = 7,184 ft


H = 2,921 m 3 m = 9,583 ft
Tinggi air dalam tangki (Hs) =

vl
9,600
x H=
x 3 m = 2,500 m
v total
11,520

Tebal Dinding Tangki


Tekanan hidrostatik
P air

= x g x Hs
= 1000 kg/m3 x 9,8 m/det2 x 2,500 m
= 24,500 kPa

Tekanan operasi = 1 atm = 101,325 kPa


P

= 24,500 kPa + 101,325 kPa = 125,825 kPa

Faktor kelonggaran 5 %
Maka, P desain

= (1,05) x 125,825 kPa = 132,116 kPa

Joint Efficiency (E) = 0,85


Allowable stress (S) = 12.650 psi = 87.218,714
Tebal Shell, t =

(Peters,2004)
(Brownell,1959)

PD
2SE 1,2P

(Peters,2004)
Maka, tebal shell :
t=

(132,116 kPa) (2,2 m)


= 1,962.10-3m= 0,077 in
2 (87.218,714 kPa)(0,85) 1,2(132,116 kPa)

Faktor korosi = 1/5 in


Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,077 in + 1/5 in = 0,277 in

Dari Tabel 5.4, Brownell & Young, 1959, dipilih tebal tangki standar yang
digunakan in.
c. Pengaduk
Jenis Pengaduk : turbin vertical blade daun 6 (non baffles)
Spesifikasi :
Da
Dt
C
Da
W
Da
L
Da

= 0,3 ; Da = 0,3 x 7,184 ft = 2,155 ft


1
; C = 1 x 2,155 = 0,718 ft
3
3
1
= ; W = 1 x 2,155 = 0,269 ft
8
8
1
= ; L = 1 x 2,155 = 0,538 ft
4
4
=

Data Perhitungan :
N = 190 rpm = 3,17 rps
Densitas air ()

= 1000 kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,8034 cP

= 0,0005399 lbm/ft.s

Bilangan Reynold (NRe) :


NRe =

N . Da 2 .

NRe =

3,17 . (2,155) 2 . 62,428


=1.702.236,527
0,0005399

(Geankoplis,1997)

Bilangan Daya (NP) :


Np =

P .g c
. N 3 . Da 5

(Geankoplis,1997)

Untuk NRe = 1.702.236,527 ; NP = 1,4

(Fig 3.4-4, Geankoplis,1997)

N P . . N 3 . Da 5 1,4 . 62,428 .(3,17 ) . (2,155)


=
= 4.021,763
gc
32,174
3

P=

Efisiensi 80 %
P=

4.021,763
= 5.027,204 ft.lbf / s = 0,914 Hp
0,8

Digunakan motor penggerak dengan daya 1 Hp.

LD.22 Pompa Kaporit (PU 422)


Fungsi

: Memompa larutan kaporit dari tangki pelarutan kaporit ke


Tangki utilitas-402.

Jenis

: Pompa injeksi

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi :
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas Kaporit 70%

= 1.272 kg/m3 = 79,411 lbm/ft3

Viskositas Kaporit ()

= 6,720.10-4 lbm/ft.s

Laju massa Kaporit (F)

(Perry, 1999)
(Perry, 1999)

= 0,00114 kg/jam = 6,980.10-7 lbm/s

6,980.10-7 lb m /s
Laju alir volumetrik, Q =
=
= 8,00.10 9 ft 3 /s = 2,489.10-10 m3/s
3
79,411 lb m /ft

Desain Pompa
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (2,489.10-10 m3/s)0,45.(1.272 kg/m3) 0,13


= 4,382.10-5 m = 1,725.10-3 in

Ukuran Spesifikasi Pipa


Dari Appendix A, Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1/8 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 0,269 in = 0,0068 m = 0,0224 ft

Diameter Luar (OD)

= 0,405 in = 0,0103 m = 0,0338 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v=

= 0,0004 ft2

Q
8,00.10-9 ft 3 /s
=
= 2,00.10-5 ft/s
2
At
0,0004 ft
= 6,096.10-6 m/s

Bilangan Reynold,
=

NRe

v D (79,411 lb m /ft 3 ) (2,00.10-5 ft/s) (0,0224 ft)


=
= 0,052

6,720.10 4 lb m /ft.s

Aliran adalah laminar, maka dari Appendix C-3, Foust, 1980, diperoleh :
f = 16/NRe = 16 / 0,052 = 307,692
Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 15 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,0224 = 0,2912 ft
- 1 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 30 x 0,0224 = 0,672 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 15

(App.C-2c, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 13 x 0,0224 = 0,1456 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 30

(App.C-2c, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 30 x 0,0224 = 0,672 ft


Panjang pipa total (L) = 15 + 0,2912 + 0,672 + 0,1456 + 0,672 = 16,736 ft
Faktor gesekan,
F=

f.v 2 . L (307,692) (2,00.10-5 ) 2 (16,736)


=
= 1,429.10 6 ft.lbf /lb m
2g c .D
2(32,174)(0,0224)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

Tinggi pemompaan, Z = 10 ft
Velocity Head,

V 2
=0
2g c

(Peters, 2004)

Pressure Head,
Static head, Z

=0

g
= 10 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 10 + 0 + 0 + 1,429.10-6 = 10,0000014 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (10,0000014 ft.lbf/lbm)(8,00.10-9 ft3/s)(79,411 lbm/ft3) = 6,352.10-6 ft.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

6,352.10-6
= 1,400.10-8 Hp
550 x 0,8

Digunakan daya pompa standar Hp.

LD.23 Deaerator ( DE-610 )


Fungsi

: Menghilangkan gas-gas yang terlarut dalam air


umpan ketel

Bentuk

: Silinder tegak dengan tutup dan alas ellipsoidal

Bahan konstruksi

: Carbon steel SA-283, Grade C

Jumlah

: 1 unit

Kondisi operasi

: Temperatur

= 300C

Tekanan

= 1 atm

Kebutuhan Perancangan : 24 jam


Laju alir massa (F)

= 10,521 kg/jam = 0,0064 lbm/s

Densitas campuran () = 995,68 kg/m3


Volume Larutan

= Vl =

= 62,158 lbm/ft3

10,521 kg/jam 24 jam/hari x 1 hari


995,68 kg/m 3
= 0,253 m3

Faktor Keamanan

: 20%

Volume tangki, Vt = 1,2 0,253 m3 = 0,303 m3


Diameter dan panjang dinding %
Perhitungan Ukuran Tangki
a. Volume larutan,
-

Volume dinding tangki (Vs)

Vs =
Vs =
-

Di2 L; dengan L : Di direncanakan 3 : 1

3
Di3
4

Volume tutup tangki (Ve)


Ve =

24

Di3

(Brownell,1959)
-

Volume tangki (V)


V

= Vs + 2Ve

0,303 =

5
Di3
6

Di = 0,487 m

; L = 1,461 m

b. Diameter dan tinggi tutup


Diameter tutup = diameter tangki : 0,487 m
Rasio axis

= 2:1

1 0,487
= 0,121 m

2 2

Tinggi tutup =

Tinggi cairan dalam tangki =

(Hal 80;Brownell,1959)

volume cairan x tinggi


volume silinder

(0,253)(0,487)
(0,303)

= 0,406 m = 1,332 ft

Tebal dinding tangki


Tekanan hidrostatik
P = xgxl
= 995,68 kg/m3 x 9,8 m/det2 x 1,332 m
= 12,997 kPa
Tekanan udara luar, Po= 1 atm = 101,325 kPa
Poperasi = 12,997 kPa + 101,325 kPa = 114,322 kPa
Faktor kelonggaran = 20%
Maka, Pdesign

= (1,2) (114,322 kPa) = 137,186 kPa

Joint efficiency = 0,85

(Brownell, 1959)

Allowable stress = 12.650 psia = 87.218,714 kPa

(Brownell, 1959)

PD
2SE 1,2P
(137,186 kPa) (0,487 m)
=
2(87.218,714 kPa)(0,85) 1,2(137,186 kPa)

t=

= 4,510.10 4 m = 0,017 in
Faktor korosi

= 0,42 in

(Chuse & Eber, 1954)

Maka tebal dinding yang dibutuhkan = 0,017 in + 0,42 in = 0,437 in


Tebal dinding standar yang digunakan = in

(Brownell, 1959)

Tutup atas tangki terbuat dari bahan yang sama dengan dinding, dan tebal tutup atas
in.

LD.24 Pompa Deaerator (PU 612)


Fungsi

: Memompakan air dari deaerator ke ketel uap

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi

- Temperatur = 30 oC
- Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3 = 62,428 lbm/ft3

Viskositas air () = 0,8007 cP = 0,000538 lbm/ft.s

(Perry, 1999)
(Kirk Othmer,1967)

Laju alir massa (F) = 10,521 kg/jam = 0,0064 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

F
0,0064 lb m /s
=
= 1,032.10-4 ft 3 /s
3
62,428 lb m /ft

= 2,922.10-6 m3/s
Desain Pompa :
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (2,922.10-6 m3/s)0,45.(1000 kg/m3) 0,13


= 2,880.10-3 m = 0,113 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :

Ukuran pipa nominal

= 1/8 in

Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 0,269 in = 0,0068 m = 0,0224 ft

Diameter Luar (OD)

= 0,405 in = 0,0103 m = 0,0338 ft Luas

Penampang dalam (At)

= 0,0004 ft2

Kecepatan linier, v =

Q 1,032.10-4 ft 3 /s
=
= 0,258 ft/s = 0,078 m/s
At
0,0004 ft 2

Bilangan Reynold,
NRe

v D (1000 kg/m 3 ) (0,078 m/s) (0,0068 m)


=
= 667,850

0,8007.10 3 kg/m.s

Karena NRe < 2100, maka aliran laminar


Maka harga f = 0,03

(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)

Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 10 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,0224 = 0,291 ft
- 2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,0224 = 1,344 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,0224 = 0,302 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 55

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 55 x 0,0224 = 1,232 ft


Panjang pipa total (L) = 13,169 ft
Faktor gesekan,
F=

f.v 2 . L (0,03) (0,258) 2 (13,169)


=
= 0,018 ft.lbf /lb m
2g c .D
2(32,174)(0,0224)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
V2
g
W = Z
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

Tinggi pemompaan, Z = 15 ft

(Peters, 2004)

V 2
=0
2g c

Velocity Head,

Pressure Head,
Static head, Z

=0

g
= 15 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 15 + 0 + 0 + 0,018 = 15,018 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (15,018 ft.lbf/lbm)(1,032.10-4 ft3/s)(62,428 lbm/ft3) = 0,096 ft.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

0,096
= 2,198.10-4 Hp
550 x 0,8

Digunakan pompa dengan daya standar Hp.

LD.25 Ketel Uap ( KU-710 )


Fungsi

: Untuk menyediakan uap untuk keperluan proses

Jenis

: Ketel pipa api

Bahan konstruksi

: Carbon Steel

Steam yang digunakan adalah saturated liquid dengan temperatur 100oC dan
tekanan 1 atm. Jumlah total steam yang dibutuhkan adalah 52,609 kg/jam =
115,981 lbm/jam.
Dari Tabel steam Reklaitis, 1983 diperoleh :
HV (100oC, 1 atm)

= 2676 kJ/kg

Hl (100 C, saturated liquid) = 419,04 kJ/kg


Kalor laten steam (H) = Hv - Hl
= 2.676 kJ/kg 419,04 kJ/kg
= 2.256,96 kJ/kg = 970,3093 Btu/lbm

34,5 x P x 970,3
H

(115,981 lbm/jam)(970,3093 Btu/lbm)


= 3,361 Hp
(34,5)(970,3)

(Elwalkil, 1984)

Menghitung jumlah tube


Dari ASTM Boiler Code, permukaan bidang pemanas = 10 ft2/hp.
Luas permukaan perpindahan panas,
A

= P x 10 ft2/hp

= 3,361 hp x 10 ft2/hp

= 33,61 ft2

Direncanakan menggunakan tube dengan spesifikasi :


- Panjang tube

= 12 ft

- Diameter tube

= 3 in

- Luas permukaan pipa, a

= 0,917 ft2 / ft (Kern, 1965)

Sehingga jumlah tube = Nt

A
(33,610 ft 2 )
=
12 ft x 0,917 ft 2 /ft
L x a'
= 3,054 = 3 buah

LD.26 Pompa Tangki Utilitas (PU 423)


Fungsi

: Memompa air dari tangki utilitas-410 ke tangki utilitas-420.

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3 = 62,428 lbm/ft3 (Geankoplis, 1997)

Viskositas air () = 0,8007 cP

= 0,000538 lbm/ft.s (Kirk Othmer,1967)

Laju alir massa (F) = 3.823,833 kg/jam = 2,341 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s = 0,0010 m3/s
3
62,428 lbm / ft

Desain Pompa
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (0,0010 m3/s)0,45 (1000 kg/m3) 0,13


= 0,038 m = 1,496 in
Ukuran Spesifikasi Pipa

Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1,5 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,04089 m = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,04826 m = 0,158 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v =

= 0,01414 ft3/s

Q 0,037 ft 3 / s
=
= 2,616 ft / s = 0,797 m/s
At 0,01414 ft 2

Bilangan Reynold,
NRe

V D (1000 kg / m 3 ) (0,797 m / s ) (0,04089 m)


=
= 36.465,626
0,8937.10 3 Pa.s

Karena NRe > 4100, maka aliran turbulen


Untuk pipa commercial steel dan pipa 1,5 Sc.40, diperoleh :

0,000046 m
= 0,0011
0,04089 m

(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)

Maka harga f = 0,0065 (Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)


Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 75 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,134 = 1,742 ft
- 2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,134 = 8,040 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,134 = 1,809 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 55
L5 = 1,0 x 55 x 0,134 = 7,370 ft
Panjang pipa total (L) = 18,961 ft

Faktor gesekan,

(App.C-2a, Foust,1980)

F=

f .v 2 . L (0,0065) (2,616) 2 (18,961)


=
= 0,097 ft.lbf /lb m
2 g c .D
2(32,174)(0,134)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 30 ft
Velocity Head,

V 2
=0
2g c

Pressure Head,
Static head, Z

=0

g
= 30 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 30 + 0 + 0 + 0,097 = 30,097 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (30,097 ft.lbf/lbm)(0,0371t3/s)(62,428 lbm/ft3) = 39,370t.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

69,520
= 0,089 Hp
550 x 0,8

Digunakan daya pompa standar Hp.

LD.27 Tangki Utilitas (TU-420)


Fungsi : Menampung air dari tangki utilitas-410 untuk keperluan air domrstik.
Jenis : Selinder tegak dengan alas dan tutup datar
Bahan Konstruksi

: Carbon steel SA 283 grade C

Jumlah : 1 unit
Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3

= 62,428 lbm/ft3

Viskositas air ()

= 0,8937 cP

= 0,0006005 lbm/ft.s

Laju alir massa (F)

= 400kg/jam = 0,2449 lbm/detik

Laju alir volumetric, Q =


Faktor keamanan

0,2449 lbm / s
= 0,0039 ft 3 / s
3
62,428 lbm / ft

= 20 %

Kebutuhan Perancangan = 1 hari


Perhitungan :
c. Volume Tangki

400 kg / jam x 24 jam / hari


= 9,600 m 3
3
1000 kg / m

Volume air, Vl =

Volume tangki, Vt = (1 + 0,2) x 9,600 m3 = 11,520 m3


d. Spesifikasi Tangki
Silinder (Shell)
Direncanakan perbandingan diameter dengan tinggi, D : H = 3 : 4
Vs =

(Brownell, 1959)

Maka, Vs =

Vs =

D2 4

D
3

D3
3
3

11,520 m =

D3
3

Maka, D = 2,224 m
Dan

H = 2,965 m

Tinggi air dalam tangki (Hs) =

vl
vtotal

x H=

9,600
x 2,965 m = 2,470 m
11,520

Tebal Tangki
Tekanan hidrostatik
P air

= x g x Hs
= 1000 kg/m3 x 9,8 m/det2 x 2,470 m
= 24,214 kPa

Tekanan operasi = 1 atm = 101,325 kPa


P

= 24,214 kPa + 101,325 kPa = 125,539 kPa

Faktor kelonggaran 5 %
= (1,05) x 125,539 kPa = 131,816 kPa

Maka, P desain

Joint Efficiency (E)

=0,85

Allowable stress (S)

= 12.650 psi = 87.218,71 (Brownell,1959)

Tebal Shell, t =

PD
2 SE 1,2 P

(Peters,2004)

(Peters,2004)

Maka, tebal shell :


t=

(131,816 kPa) (2,224 m)


= 0,0019 m = 0,077 in
2 (87.218,714 kPa)(0,85) 1,2(131,816)

Faktor korosi = 1/8 in


Maka tebal shell yang dibutuhkan = 0,077 in + 1/8 in = 0,202 in
Tebal Shell standard yang digunakan = in

(Brownell,1959)

Tutup terbuat dari bahan yang sama dengan dinding tangki dan ditetapkan
tebal tutup in

LD.28 Pompa Utilitas (PU-424)


Fungsi

: Mengalirkan air dari tangki utilitas402 untuk kebutuhan


domestik

Jenis

: pompa sentrifugal

Jumlah

: 1

Bahan konstruksi : commercial steel


Kondisi operasi :
-

Temperatur

= 30C

Densitas air

= 1000 kg/m3 = 62,428 lbm/ft3

(Perry, 1997)

Viskositas air

= 0,8034 Cp = 0,0005399 lbm/ft.s

(Perry, 1997)

Laju alir massa

= 400kg/jam = 0,2449 lbm/detik

Laju alir volume, Q

0,2449
= 0,0039 ft3 /s = 0,0001 m3/s
62,428

Diameter optimum, De = 0,363 Q0,45 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (0,0001)0,45 (1000)0,13


= 0,014 m = 0,555 in
Digunakan pipa dengan spesifikasi:
- Ukuran pipa nominal

= 1/2 in

(Appendix A-5, Geankoplis, 1993)

- Schedule pipa

= 40

- Diameter dalam (ID)

= 0,622 in = 0,015 m = 0,051 ft

- Diameter luar (OD)

= 0,840 in = 0,021 m = 0,069 ft

- Luas penampang dalam (at) = 0,00211 ft2


- Bahan konstruksi
Kecepatan linier, v =

= commercial steel
Q 0,0039 ft 3 / s
=
=1,848 ft / s = 0,563 m/s
At
0,00211 ft 2

Bilangan Reynold,
NRe =

(62,428)(0,563)(0,051)
vD
=
= 3.327,846

0,000539

Untuk bahan pipa commercial steel dan diameter pipa 1/5 in, diperoleh /D =
0,0030

(fig,2.10-3, Geankoplis, 1997)

Untuk NRe = 3.327,846 dan /D = 0,0030 diperoleh f = 0,011


Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 75 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,051 = 0,663 ft
- 2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,051 = 3,060 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,051 = 0,688 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 55

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 55 x 0,051 = 2,805 ft


Panjang pipa total (L) = 7,216 ft

Faktor gesekan,
F=

f .v 2 . L (0,011) (1,848) 2 (7,216)


=
= 0,082 ft.lbf /lb m
2 g c .D
2(32,174)(0,051)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

(Peters, 2004)

Tinggi pemompaan, Z = 30 ft

Velocity Head,

Pressure Head,

Static head, Z

V 2
=0
2g c

=0

g
= 30 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 30 + 0 + 0 + 0,082= 30,082 ft.lbf/lbm

Daya Pompa
P = W Q = (30,082 ft.lbf/lbm)(0,0039 ft3/s)(62,428 lbm/ft3) = 7,324 ft.lbf/s

7,324
= 0,016 Hp
550 x 0,8

Efisiensi pompa 80% : P =

Digunakan pompa dengan daya standar Hp.

LD.29 Pompa Utilitas (PU 411)


Fungsi

: Memompa air dari tangki utilitas-410 untuk air proses.

Jenis

: Centrifugal pump

Bahan Konstruksi

: Commercial steel

Jumlah

: 1 unit

Kondisi Operasi
Temperatur

= 30 oC

Tekanan

= 1 atm

Densitas air ()

= 1000 kg/m3 = 62,428 lbm/ft3 (Geankoplis, 1997)

Viskositas air () = 0,8007 cP

= 0,000538 lbm/ft.s (Kirk Othmer,1967)

Laju alir massa (F) = 3.823,833 kg/jam = 2,341 lbm/s


Laju alir volumetrik, Q =

2,341 lbm / s
= 0,037 ft 3 / s = 0,0010 m3/s
3
62,428 lbm / ft

Desain Pompa
Di,opt

= 0,363 (Q) 0,45 () 0,13

(Per.12-15, Peters, 2004)

= 0,363 (0,0010 m3/s)0,45 (1000 kg/m3) 0,13


= 0,038 m = 1,496 in
Ukuran Spesifikasi Pipa
Dari Appendix A.5 Geankoplis, 1997, dipilih pipa commercial steel dengan
ukuran sebagai berikut :
Ukuran pipa nominal = 1,5 in
Schedule number

= 40

Diameter dalam (ID)

= 1,610 in = 0,04089 m = 0,134 ft

Diameter Luar (OD)

= 1,900 in = 0,04826 m = 0,158 ft

Luas Penampang dalam (At)


Kecepatan linier, v =

= 0,01414 ft3/s

Q 0,037 ft 3 / s
=
= 2,616 ft / s = 0,797 m/s
At 0,01414 ft 2

Bilangan Reynold,
NRe

V D (1000 kg / m 3 ) (0,797 m / s ) (0,04089 m)


=
= 36.465,626
0,8937.10 3 Pa.s

Karena NRe > 4100, maka aliran turbulen


Untuk pipa commercial steel dan pipa 1,5 Sc.40, diperoleh :

0,000046 m
= 0,0011
0,04089 m

(Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)

Maka harga f = 0,0065 (Fig.2.10-3, Geankoplis, 1997)


Instalasi pipa
- Panjang pipa lurus, L1 = 75 ft
- 1 buah gate valve fully open ; L/D = 13

(App.C-2a, Foust,1980)

L2 = 1 x 13 x 0,134 = 1,742 ft
- 2 buah standard elbow 90o ; L/D = 30

(App.C-2a, Foust,1980)

L3 = 2 x 30 x 0,134 = 8,040 ft
- 1 buah sharp edge entrance ;K = 0,5; L/D = 27

(App.C-2a, Foust,1980)

L4 = 0,5 x 27 x 0,134 = 1,809 ft


- 1 buah sharp edge exit ; K = 1,0 ; L/D = 55

(App.C-2a, Foust,1980)

L5 = 1,0 x 55 x 0,134 = 7,370 ft


Panjang pipa total (L) = 18,961 ft

Faktor gesekan,
F=

f .v 2 . L (0,0065) (2,616) 2 (18,961)


=
= 0,097 ft.lbf /lb m
2 g c .D
2(32,174)(0,134)

Kerja Pompa
Dari persamaan Bernoulli :
W = Z

V2
g
+
gc
2ag c

+ (Pv ) + F

Tinggi pemompaan, Z = 30 ft
Velocity Head,

V 2
=0
2g c

(Peters, 2004)

Pressure Head,
Static head, Z

=0

g
= 30 ft.lbf/lbm
gc

Maka, W = 30 + 0 + 0 + 0,097 = 30,097 ft.lbf/lbm


Daya Pompa
P = W Q = (30,097 ft.lbf/lbm)(0,037t3/s)(62,428 lbm/ft3) = 69,521t.lbf/s
Efisiensi pompa 80% : P =

69,521
= 0,158 Hp
550 x 0,8

Digunakan daya pompa standar Hp.

LAMPIRAN E
PERHITUNGAN ANALISA EKONOMI

Dalam rencana Pra Rancangan Pabrik Pemurnian Biodiesel digunakan


ketentuan sebagai berikut :
1. Pabrik beroperasi selama 350 hari
2. Kapasitas maksimum adalah 35000 ton/tahun
3. Perhitungan didasarkan pada harga peralatan tiba di pabrik atau Purchased
Equipment Delivered (Timmerhaus, 2004)
4. Harga alat disesuaikan dengan nilai tukar dolar terhadap rupiah adalah :
US$ 1 = Rp. 10.370,- (Harian Analisa, 12 Mei 2009)

E.1 Modal Investasi Tetap (Fixed Capital Investment)


E.1.1 Modal Investasi Tetap Langsung (MITL)
E.1.1.1 Perincian Harga Peralatan
Harga peralatan yang diimpor dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan berikut (Peters, dkk. 2004) :

X
Cx = Cy 2
X1

Ix
(Timmerhaus, 2004)
I y

Dimana :
Cx

= Harga alat pada tahun 2008

Cy

= Harga alat pada tahun dan kapasitas yang tersedia

X1

= Kapasitas alat yang tersedia

X2

= Kapasitas alat yang diinginkan

Ix

= Indeks harga pada tahun 2008

Iy

= Indeks harga pada tahun yang tersedia

= Faktor eksponensial untuk kapasitas (tergantung jenis alat)

Untuk menentukan indeks harga pada tahun 2009 digunakan metode regresi
koefisien korelasi sebagai berikut (Montgomery, 1992) :

LE-1

r =

(n. X

[n. X .Y X . Y ]
( X ) ) x (n . Y ( Y ) )
i

2
i

(Montgomery, 1992)

Harga indeks Marshall dan Swift dapat dilihat pada tabel LE.1 dibawah ini.
Tabel LE.1 Harga Indeks Marshall dan Swift
Tahun

Indeks

Xi2

Yi2

XiYi

X1

(Y1)

1987

814

3948169

662596

1617418

1988

852

3952144

725904

1693776

1989

895

3956121

801025

1780155

1990

915,1

3960100

837403

1821049

1991

930,6

3964081

866016

1852824,6

1992

943,1

3968064

889438

1878655,2

1993

964,2

3972049

929682

1921650,6

1994

993,4

3976036

986844

1980839,6

1995

1027,5

3980025

1055756

2049862,5

10

1996

1039,1

3984016

1079729

2074043,6

11

1997

1056,8

3988009

1116826

2110429,6

12

1998

1061,9

3992004

1127632

2121676,2

13

1999

1068,3

3996001

1141265

2135531,7

14

2000

1089,0

4000000

1185921

2178000,0

15

2001

1095,9

4004001

1196617

2188893,9

16

2002

1102,5

4008004

1215506

2207205,0

Total

31912

15846,4

63648824

15818164

31612010,5

(Sumber : Tabel 6-2, Timmerhaus, 2004)

Data :
n

= 16

Xi

= 31912

Yi

= 15846,4

Xi.Yi = 31612010,5
Xi2

= 63648824

Yi2

= 15818164

Dengan memasukkan hargaharga pada tabel LE1 ke persamaan diatas, maka


diperoleh harga koefiseien korelasi sebagai berikut :
r=

[(16)(31612010,5) (31912)(15846,4)]
[(16)(63648824) (31912) 2 ]x[(16)(15818164) (15846,4) 2 ]

r = 1
Harga koefisien yang +1 menyatakan bahwa terdapat hubungan linier antar
variabel X dan Y, sehingga persamaan regresi yang mendekati adalah persamaan
regresi linier.
Persamaan umum regresi linier adalah sebagai berikut :
Y = a + b.X (Timmerhaus, 2004)
Dimana :
Y

= Indeks harga pada tahun yang dicari (2009)

= Variabel tahun ke n-1

a, b = Tetapan persamaan regresi


Tetapan regresi dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut (Montgomery,
1992) :

b=

(n . X .Y ) ( X . Y )
(Montgomery, 1992)
(n. X ) ( X )
i

Y . X X . X
n . X ( X )
2

a=

. Yi

(Montgomery, 1992)

Maka :

[63648824 x15846,4] [31912 x 31612010,5)] = -36351,919


(16 x 63648824) (31912) 2

b=

[16 x 31612010,5] [31912 x 15846,4)]


(16 x 63648824) (31912) 2

= 18,7226

Sehingga diperoleh persamaan regresi liniernya adalah sebagai berikut :


Y = a + b.X
Y = - 36351,919 + 18,7226 (X)
Dengan demikian harga indeks pada tahun 2009 adalah sebagai berikut :
Y = -36351,919 + 18,7226 (2009) = 1261,7844
Perhitungan harga peralatan yang digunakan adalah menggunakan harga faktor
eksponensial (m) Marshall & Swift. Harga faktor eksponen ini dapat dilihat pada
(tabel 64, Timmerhaus, 2004). Untuk alat yang tidak tersedia, faktor
eksponensialnya dianggap 0,6 (Timmerhaus, 2004).

Contoh Perhitungan Harga Peralatan


Tangki Pencuci-1 (M-230)

Kapasitas tangki, (X2) = 5,875 m3. Dari fig. 1252, Timmerhaus, 2004.
diperoleh untuk harga kapasitas tangki (X1) = 1 m3 adalah (Cy) = US$ 9500. Dari
Tabel 6-4, Timmerhaus, 2004, faktor eksponen tangki adalah (m) = 0,6. Indeks harga
pada tahun 2002 (Iy) = 1102,5 Indeks harga tahun 2009 (Ix) adalah 1261,7844. Maka
estimasi harga tangki untuk (X2) adalah sebagai berikut :
5,875
Cx = US$ 9500 x

0, 6

1261,7844
1102,5

Cx = US$ 31.458/unit
Cx = Rp. 326.219.460 / unit

Tangki Pemisahan-1 (H-212)


Kapasitas tangki, (X2) = 24,588 m3. Dari fig. 1252, Timmerhaus, 2004.
diperoleh untuk harga kapasitas tangki (X1) = 1 m3 adalah (Cy) = US$ 6500. Dari
Tabel 6-4, Timmerhaus, 2004, faktor eksponen tangki adalah (m) = 0,49. Indeks
harga pada tahun 2002 (Iy) = 1102,5 Indeks harga tahun 2009 (Ix) adalah 1261,7844.
Maka estimasi harga tangki untuk (X2) adalah sebagai berikut :
24,588
Cx = US$ 6500 x
1

0 , 49

1261,7844
1102,5

Cx = US$ 35.725/unit
Cx = Rp. 370.468.250 / unit
Dengan cara yang sama diperoleh perkiraan harga alat lainnya yang dapat
dilihat pada Tabel LE.2 untuk perkiraan peralatan proses dan Tabel LE.4 untuk
perkiraan peralatan utilitas.
Tabel LE.2 Estimasi Harga Peralatan Proses
No

Kode

Unit

Harga

Harga Total

(Rp) / Unit

(Rp)

1.

F-111

3.018.281.830

9.054.845.490

2.

H-110

182.989.020

182.989.020

3.

F-113

608428640

1.825.285.920

4.

F-214

2.571.573.340

7.714.720.020

5.

M-210

357.640.560

357.640.560

6.

H-212

370468250

370468250

7.

M-220

330.035.620

330.035.620

8.

H-222

428944680

428944680

9.

M-230

326.219.460

326.219.460

10.

H-232

440704260

440704260

11.

VD-310

383337420

383.337.420

12.

P-410

16.723.245

16.723.245

Tabel LE.2 Estimasi Harga Peralatan Proses(Lanjutan)


No

Kode

Unit

Harga

Harga Total

(Rp) / Unit

(Rp)

13.

E-312

28.631.570

28.631.570

14.

L-112

13.792.100

13.792.100

15.

L-114

13.792.100

13.792.100

16.

L-215

13.792.100

13.792.100

17.

L-211

13.792.600

13.792.600

18.

L-213

10.992.200

10.992.200

19.

L-221

13.792.100

13.792.100

20.

L-223

10.992.200

10.992.200

21.

L-231

13.792.100

13.792.100

22.

L-233

137.92.100

137.92.100

23.

L- 234

18.147.500

18.147.500

24.

L-313

18.147.500

18.147.500

25.

L-311

18.147.500

18.147.500

Total

21.622.006.420

Tabel LE.3 Estimasi Harga Peralatan Utilitas


No

Kode

Unit

Harga

Harga Total

(Rp) / Unit

(Rp)

1.

TP-211

49.298.980

49.298.980

2.

TP-212

36.979.420

36.979.420

3.

CL-210

1.734.092.140

1.734.092.140

4.

SF-310

94.997.720

94.997.720

5.

TU-410

278.797.450

278.797.450

6.

TP-513

24.462.830

24.462.830

7.

TP-523

6.180.520

6.180.520

8.

CE-510

10.162.600

10.162.600

9.

AE-520

9.177.450

9.177.450

10.

TP-412

255.506.430

255.506.430

11.

DE-610

92.904.830

92.904.830

12.

TU-420

255.506.430

255.506.430

13.

KU-710

232.298.370

232.298.370

14

PU-111

18.147.500

18.147.500

Total

3.098.512.670

Tabel LE.4 Estimasi Harga Peralatan Dalam Negeri


No

Kode

Unit

Harga

Harga Total

(Rp) / Unit

(Rp)

1.

BP 110

5.000.000

5.000.000

2.

PU 112

3.000.000

3.000.000

3.

PU 311

3.000.000

3.000.000

4.

PU 213

3.000.000

3.000.000

5.

PU 214

3.000.000

3.000.000

6.

PU 422

3.000.000

3.000.000

7.

PU 423

3.000.000

3.000.000

8.

PU 511

3.000.000

3.000.000

9.

PU 512

3.000.000

3.000.000

10.

PU 522

3.000.000

3.000.000

11.

PU 521

3.000.000

3.000.000

12.

PU 424

3.000.000

3.000.000

13.

PU 611

3.000.000

3.000.000

14.

PU 612

3.000.000

3.000.000
44.000.000

Total

Harga peralatan impor di atas masih merupakan harga indeks. Untuk harga alat
sampai di lokasi pabrik ditambahkan biaya sebagai berikut (Timmerhaus, 2004):
-

Biaya transportasi

= 12 %

Biaya asuransi

= 1%

Bea masuk

= 15 %

PPn

= 10 %

Biaya gudang di pelabuhan

= 0,5 %

Biaya administrasi pelabuhan = 0,5 %

Biaya tak terduga

= 0,5 %

Total

= 39,5 %

Untuk harga alat non impor sampai di lokasi pabrik ditambahkan biaya sebagai
berikut (Timmerhaus, 2004):
-

PPn

= 10 %

PPh

= 10 %

Transportasi lokal

= 0,5 %

Biaya tak terduga

= 0,5 %

Total

= 21 %

Total harga peralatan (A) :


= [1,395 x (Rp 21.622.006.420 + Rp 3.098.512.670)] + [1,21 x (Rp 44.000.000)]
= Rp. 34.538.364.130,-

Biaya pemasangan diperkirakan 10 % dari harga peralatan

(Timmerhaus, 2004)

Biaya pemasangan = 0,1 x Rp 34.538.364.130,= Rp 3.453.836.413,-

E.1.1.2 Harga Peralatan Terpasang (HPT)


Harga Peralatan Terpasang (B) = Rp Rp. 34.538.364.130,- + Rp. 3.453.836.413,= Rp. 37.992.200.540,-

E.1.1.3 Instrumentasi dan Alat Kontrol


Diperkirakan biaya instrumentasi dan alat kontrol 30% dari HPT (Timmerhaus, 2004).
Biaya instrumentasi dan alat kontrol (C) = 0,3 x Rp. 37.992.200.540,= Rp. 11.397.660.160,E.1.1.4 Biaya Perpipaan
Diperkirakan biaya perpipaan 70% dari HPT (Timmerhaus, 2004).

Biaya perpipaan (D)

= 0,7 x Rp. 37.992.200.540,= Rp. 26.594.540.380,-

E.1.1.5 Biaya Instalasi Listrik


Diperkirakan biaya instalasi listrik 10% dari HPT (Peters, dkk. 2004).
Biaya instalasi listrik (E)

= 0,1 x Rp. 37.992.200.540,= Rp. 3.799.220.054,-

E.1.1.6 Biaya Insulasi


Diperkirakan biaya insulasi 8% dari HPT (Timmerhaus, 2004).
Biaya insulasi (F) = 0,08 x Rp 37.992.200.540,= Rp 3.039.376.043.-

E.1.1.7 Biaya Inventaris Kantor


Diperkirakan biaya inventaris kantor 1% dari HPT (Timmerhaus, 2004).
Biaya inventaris kantor (G) = 0,01 x Rp. 37.992.200.540,= Rp. 379.922.005,4,-

E.1.1.7 Biaya Fasilitas Servis


Diperkirakan biaya fasilitas servis 1% dari HPT (Timmerhaus, 2004).
Biaya perlengkapan kebakaran dan keamanan (H)
= 0,01 x Rp. 37.992.200.540,= Rp. 379.922.005,4,E.1.1.8 Harga Bangunan dan Sarana
Harga bangunan dan sarananya dapat dilihat pada Tabel LE.5 dibawah ini.
Tabel LE.5 Perincian Harga Bangunan dan Sarana Lainnya
No

Nama Bangunan

Luas
2

(m )

Harga (Rp./m2)

Jumlah (Rp)

Area Tangki Bahan Baku

300

1.500.000

450.000.000

Area Tangki produk

500

1.500.000

750.000.000

Areal Proses

3500

1.500.000

5.250.000.000

Laboratorium

100

1.500.000

150.000.000

Perkantoran

400

1.500.000

600.000.000

Kantin

100

800.000

80.000.000

Poliklinik

50

1.500.000

75.000.000

Tempat Ibadah

50

1.500.000

75.000.000

Perpustakaan

100

1.500.000

150.000.000

10

Aula

300

1.500.000

450.000.000

11

Lapangan Olah Raga

700

500.000

350.000.000

12

Bengkel

150

600.000

90.000.000

13

Ruang Kontrol

100

2.000.000

200.000.000

14

Ruang Boiler

100

2.000.000

200.000.000

15

Ruang Generator

100

2.000.000

200.000.000

16

Pengolahan Limbah

600

2.500.000

1.500.000.000

17

Pengolahan Air

1.700

2.500.000

4.250.000.000

18

Pos Keamanan

600.000

3.000.000

19

Unit Pemadam Kebakaran

100

2.000.000

200.000.000

20

Jalan/parit

400

300.000

120.000.000

23

Gudang Peralatan

200

600.000

120.000.000

24

Taman/parkir

275

400.000

110.000.000

Total

15.370.000.000

Total biaya bangunan dan sarana (I) = Rp. 15.370.000.000,-

E.1.1.9 Biaya Tanah Lokasi Pabrik


Luas tanah seluruhnya = 9830 m2
Biaya tanah pada lokasi pabrik diperkirakan Rp. 1.000.000 /m2
Harga tanah seluruhnya = 9830 m2 x Rp. 1.000.000/m2
= Rp. 9.830.000.000,Biaya perataan tanah diperkirakan 5 % (Timmerhaus, 2004)
Biaya perataan tanah = 0,05 x Rp. 9.830.000.000 = Rp. 491.500.000,Maka total biaya tanah (J) adalah = Rp. 9.830.000.000,- + Rp. 491.500.000,= Rp 10.321.500.000,-

E.1.1.10 Sarana Transportasi


Sarana transportasi untuk mempermudah pekerjaan dapat dilihat pada Tabel
LE.6 dibawah ini.
Tabel LE.6 Rincian Biaya Sarana Transportasi
Peruntukan

Unit

Tipe

Harga/unit (Rp)

Harga Total (Rp)

Manager

Kijang Innova

200.000.000

200.000.000

Truk

Truk Dyna

150.000.000

300.000.000

Ambulance

Minibus

200.000.000

200.000.000

Total

700.000.000

Total biaya sarana transportasi (K) adalah sebesar Rp. 700.000.000,-

Total Modal Investasi Tetap Langsung (MITL)


MITL = A + B+ C + D + E + F + G + H + I + J + K
= (Rp. 34.538.364.130,- + Rp. 37.992.200.540,- + Rp. 11.397.660.160,- +
Rp. 26.594.540.380,- + Rp. 3.799.220.054,- + Rp. 3.039.376.043,- +
Rp. 379.922.005,4,- + Rp. 379.922.005,4,- + Rp 15.370.000.000,- +
Rp. 10.321.500.000,- + Rp. 700.000.000,-)
= Rp. 138.319.805.300,-

E.1.2 Modal Investasi Tetap Tidak Langsung (MITTL)


E.1.2.1 Pra Investasi
Diperkirakan 7% dari MITL (Timmerhaus, 2004).
Pra Investasi (L)

= 0,07 x Rp. 138.319.805.300,= Rp. 9.682.386.371,-

E.1.2.2 Biaya Engineering dan Supervisi


Diperkirakan 8% dari MITL (Timmerhaus, 2004).
Biaya Engineering dan Supervisi (M) = 0,08 x Rp. 138.319.805.300,= Rp.11.065.584.420,-

E.1.2.3 Biaya Kontraktor


Diperkirakan 2% dari MITL (Timmerhaus, 2004)
Biaya Kontraktor (N) = 0,02 x Rp. 138.319.805.300,= Rp. 2.766.396.106,-

E.1.2.4 Biaya Tidak Terduga


Diperkirakan 10% dari total harga peralatan (Timmerhaus, 2004)
Biaya Tidak Terduga (O)

= 0,1 x Rp. 138.319.805.300,= Rp. 13.831.980.530,-

Total MITTL = L + M + N + O
= (Rp. 9.682.386.371,- + Rp. 11.065.584.420,- +
Rp. 2.766.396.106,- + Rp. 13.831.980.530,-)
= Rp. 37.346.347.430,-

Total MIT

= MITL +MITTL
= (Rp. 138.319.805.300,- + Rp. 37.346.347.430,-)
= Rp. 175.666.152.700,-

E.2 Modal Kerja


Modal kerja dihitung untuk pengoperasian pabrik selama 90 hari kerja
E.2.1 Persediaan Bahan Baku
E.2.1.1 Bahan Baku Proses
1. Crude Metil Ester
Kebutuhan

= 4166,666 kg/jam

Harga

= Rp. 4000,-/kg (Gianie/litbang kompas)

Harga total

= 90 hari x 24 jam/hari x 4166,666 kg/jam x Rp. 4000,-/kg


= Rp. 35.999.942.400,-

E.2.1.2 Bahan Baku Utilitas


1. Solar
Kebutuhan

= 12,490 Liter/jam

Harga solar industri = Rp. 5.500,- /Liter


Harga total

(PT. Pertamina, 2009)

= 90 hari x 24 jam/hari x 12,490 Liter/jam x Rp. 5.500,-/Liter


= Rp. 148.381.200,-

2. Kaporit
Kebutuhan

= 1,143 .10-3 kg/jam

Harga

= Rp. 11.500,- /kg

Harga total

(PT. Bratachem, 2009)


-3

= 90 hari x 24 jam/hari x 1,143 .10 kg/jam x Rp. 11.500,-/kg


= Rp. 28.392,12,-

3. Al2(SO4)3
Kebutuhan

= 0,191 kg/jam

Harga

= Rp.5.000,- /kg

Harga total

= 90 hari x 24 jam/hari x 0,191 kg/jam x Rp. 5.000,-/kg

(PT. Bratachem, 2009)

= Rp. 2.062.800,4. Na2CO3


Kebutuhan

= 0,103 kg/jam

Harga

= Rp.10.000,- /kg

Harga total

= 90 hari x 24 jam/hari x 0,103 kg/jam x Rp. 10.000,-/kg


= Rp. 2.224.800,-

(PT. Bratachem, 2009)

5. NaCL
Kebutuhan

= 0,023 kg/jam

Harga

= Rp.4000,- /kg

Harga total

= 90 hari x 24 jam/hari x 0,023 kg/jam x Rp. 4000,-/kg

(PT. Bratachem, 2009)

= Rp. 19872,6. NaOH


Kebutuhan

= 0,0017 kg/jam

Harga

= Rp.10.000,- /kg

Harga total

= 90 hari x 24 jam/hari x 0,0017 kg/jam x Rp. 10.000,-/kg

(PT. Bratachem, 2008)

= Rp. 36.720,-

Total biaya bahan baku proses dan utilitas


Total biaya bahan baku proses dan utilitas selama 3 bulan = Rp. 36.152.667.790,Total biaya bahan baku dan utilitas selama 1 tahun :

12
x36.152.667.790

= Rp144.610.671.200

E.2.2 Kas
E.2.2.1 Gaji Pegawai
Perincian gaji pegawai dapat dilihat pada Tabel LE.7 dibawah ini.
Tabel LE.7 Perincian Gaji Pegawai Pabrik pemurnian metil ester
Jabatan

Jlh

Gaji/bln (Rp)

Total gaji/bln (Rp)

Dewan Komisaris

18.000.000

36.000.000

Manager

7.000.000

7.000.000

Sekretaris

5.000.000

5.000.000

Kepala Bagian Financial Marketing

5.000.000

5.000.000

Kepala Bagian SDM/umum

5.000.000

5.000.000

Kepala Bagian Teknik

5.000.000

5.000.000

Kepala Bagian Produksi

5.000.000

5.000.000

Kepala Seksi Marketing

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Pembelian

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Personalia

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi General Affair

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Keamanan

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Maintenance dan listrik

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Instrumentasi

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Instrumentasi

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Laboratorium

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Proses

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Utilitas

4.000.000

4.000.000

Kepala Seksi Keuangan

4.000.000

4.000.000

Karyawan Produksi

24

2.000.000

48.000.000

Karyawan Tenik

15

2.000.000

30.000.000

Karyawan Keuangan dan Personalia

2.000.000

14.000.000

Karyawan Pemasaran dan Penjualan

2.000.000

14.000.000

Dokter

3.500.000

3.500.000

Perawat

1.500.000

3.000.000

Petugas Kebersihan

1.000.000

6.000.000

Petugas Keamanan

1.500.000

13.500.000

Supir

1.250.000

1.250.000

Buruh Angkat

900.000

5.400.000

Jumlah

100

254.400.000

Total gaji pegawai selama 1 bulan = Rp. 254.400.000,Total gaji pegawai selama 3 bulan = Rp. 763.200.000,-

E.2.2.2 Biaya Administrasi Umum


Diperkirakan 5% dari gaji pegawai (Timmerhaus, 2004).
Biaya Administrasi Umum

= 0,05 x Rp. 763.200.000,= Rp. 38.160.000,-

E.2.2.3 Biaya Pemasaran


Diperkirakan 5% dari gaji pegawai
Biaya Pemasaran

(Timmerhaus, 2004).

= 0,05 x Rp. 763.200.000,= Rp. 38.160.000,-

E.2.2.4 Pajak Bumi dan Bangunan


Menurut UU No. 20 Tahun 2000 Jo UU No. 21 Tahun 1997:
Objek Pajak
Bumi
Bangunan

Luas (m2)
10330
9830

NJOP (Rp)
Per m
Jumlah
100.000
1.033.000.000
300.000
2.949.000.000
2

Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sebagai dasar pengenaan PBB


= Rp 1.033.000.000.- + Rp 2.949.000.000.- = Rp 3.982.000.000.Bangunan yang tidak kena pajak adalah tempat ibadah yaitu sebesar 50 m2
NJOP Tidak Kena Pajak = Rp 30.000.000.-

(Perda Sumatera Utara)

NJOP untuk penghitungan PBB = Rp 3.982.000.000,- Rp 30.000.000,-

= Rp 3.952.000.000,Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) = 20% x Rp 3.952.000.000.- = Rp 790.400.000.Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang = 0,5 % x Rp 790.400.000.= Rp 395.200.000.Pajak Bumi dan Bangunan per 3 bulan = (3/12) x Rp 395.200.000.= Rp 98.800.000,-

Berikut perincian Biaya kas pada Tabel LE.8


Tabel LE.8 Perincian Biaya Kas
No

Jenis Biaya

Jumlah (Rp)

Gaji Pegawai

763.200.000,-

Administrasi Umum

38.160.000,-

Pemasaran

38.160.000,-

Pajak Bumi dan Bangunan

98.800.000,938.320.000,-

Total

E.2.3 Biaya Start Up


Diperkirakan 12 % dari Modal Investasi Tetap (MIT) (Timmerhaus, 2004).
Biaya Start-Up

= 0,12 x Rp. 175.666.152.700,= Rp. 21.079.938.320,-

E.2.4 Piutang Dagang


PD =

IP
x HPT (Timmerhaus, 2004)
12

Dimana :
PD

: Piutang Dagang

IP

: Jangka waktu kredit yang diberikan (3 bulan)

HPT

: Hasil Penjualan Tahunan

= 3208,355 kg/jam

Produksi Biodiesel

Harga jual Biodiesel = Rp.5.500/kg

(Gianie/litbang kompas)

Hasil penjualan Biodiesel tahunan :


= 3208,355 kg/jam x 24 jam/hari x 350 hari/tahun x Rp.5.500,- /kg
= Rp. 148.226.001.000,-

Produksi Gliserol

= 191,084 kg/jam

Harga jual Gliserol

= Rp.6.500/kg

(Majalahpengusaha.com, 2009)

Hasil penjualan Gliserol tahunan :


= 191,084 kg/jam x 24 jam/hari x 350 hari/tahun x Rp.6.500,- /kg
= Rp. 10.433.186.400,-

Total hasil penjualan tahunan = Rp. 148.226.001.000,- + Rp. 10.433.186.400,= Rp. 158.659.187.400,Piutang Dagang =

3
x 158.659.187.400
12

= Rp. 39.664.796.850,-

Perincian modal kerja dapat dilihat pada Tabel LE.9 dibawah ini.
Tabel LE.9 Perincian Modal Kerja
No

Perincian

Jumlah (Rp)

Bahan Baku

36.152.667.790,-

Kas

Start Up

21.079.938.320,-

Piutang Dagang

39.664.796.850,-

938.320.000,-

Total

Rp. 97.835.722.960,-

Total Modal Investasi = Modal Investasi Tetap + Modal Kerja


= Rp. 175.666.152.700,- + Rp. 97.835.722.960,= Rp. 273.501.875.700,-

Modal ini berasal dari :


3. Modal Sendiri
Besarnya modal sendiri adalah 60% dari total modal investasi
Modal sendiri adalah sebesar = 0,60 x Rp 273.501.875.700,= Rp. 164.101.125.400,4. Pinjaman dari Bank
Besarnya modal sendiri adalah 40% dari total modal investasi
Pinjaman dari bank adalah sebesar = 0,40 x Rp. 273.501.875.700,= Rp. 109.400.750.300,-

E.3 Biaya Produksi Total


E.3.1 Biaya Tetap (Fixed Cost = FC)
E.3.1.1 Gaji Tetap Karyawan
Gaji tetap karyawan terdiri dari gaji tetap tiap bulan ditambah 1 bulan gaji yang
diberikan sebagai tunjangan, sehingga besarnya gaji total (P) adalah sebagai
berikut :
Gaji total (P)

= (12+1) x Rp. 254.400.000,= Rp. 3.307.200.000,-

E.3.1.2 Bunga Pinjaman Bank


Diperkirakan 16% dari total pinjaman bank

(Bank Mandiri, 2009)

Bunga pinjaman bank (Q) = 0,16 x Rp. 109.400.750.300,= Rp. 17.504.120.050,-

E.3.1.3 Depresiasi dan Amortisasi


Depresiasi dihitung dengan metode garis lurus dengan harga akhir nol.
D=

PL
(Waluyo, 2000)
n

Dimana :
D

= Depresiasi per tahun

= Harga awal peralatan

= Harga akhir peralatan

= Umur peralatan (tahun)

Semua modal investasi tetap langsung (MITL) kecuali tanah mengalami


penyusutan yang disebut depresiasi, sedangkan modal investasi tetap tidak langsung
(MITTL) juga mengalami penyusutan yang disebut amortisasi.

Biaya amortisasi diperkirakan 3% dari MITTL, sehingga biaya amortisasi


adalah sebagai berikut :
Biaya Amortisasi

= 0,03 x Rp. 37.346.347.430,= Rp. 1.120.390.423,-

Perincian biaya depresiasi sesuai UU Republik Indonesia dapat dilihat pada Tabel
LE.10 dibawah ini.
Tabel LE.10 Perhitungan Biaya Depresiasi sesuai UU RI No. 17 Tahun 2000
Komponen

Biaya (Rp)

Umur
(Tahun)

Depresiasi (Rp)

Bangunan

15.370.000.000,-

20

768.500.000,-

Peralatan proses dan Utilitas

37.992.200.540,-

10

3.799.220.054,-

Instrumentasi dan Alat kontrol

11.397.660.160,-

10

1.139.766.016,-

Perpipaan

26.594.540.380,-

10

2.659.454.038,-

Instalasi listrik

3.799.220.054,-

10

37.992.200,-

Insulasi

3.039.376.043.-

10

303.937.604,-

Inventaris kantor

379.922.005,-

10

37.992.200,-

Fasilitas servis

379.922.005,-

10

37.992.200,-

Sarana transportasi

700.000.000,-

10

70.000.000,9.196.784.119,-

Total

Total biaya amortisasi dan depresiasi (R) = Rp 1.120.390.423,- + Rp 9.196.784.119,= Rp. 10.317.174.540,-

E.3.1.4 Biaya Tetap Perawatan (Maintenance)


1. Perawatan alatalat proses dan utilitas

Diambil 5% dari harga peralatan terpasang di pabrik (Timmerhaus, 2004)


Biaya perawatan mesin = 0,05 x Rp. 37.992.200.540,= Rp 1.899.610.027,2. Perawatan bangunan
Diperkirakan 5% dari harga bangunan (Timmerhaus, 2004)
Perawatan bangunan

= 0,05 x Rp. 15.370.000.000,= Rp.768.500.000,-

3. Perawatan kendaraan
Diperkirakan 5% dari harga kendaraan (Timmerhaus, 2004).
Perawatan kendaraan = 0,05 x Rp. 700.000.000,- = Rp. 35.000.000,4. Perawatan instrumentasi dan alat kontrol
Diperkirakan 5% dari harga instrumentasi dan alat kontrol (Timmerhaus, 2004).
Perawatan instrumen

= 0,05 x Rp. 11.397.660.160,= Rp. 569.883.008,-

5. Perawatan perpipaan
Diperkirakan 5% dari harga perpipaan (Timmerhaus, 2004).
Perawatan perpipaan

= 0,05 x Rp. 26.594.540.380,= Rp. 1.329.727.019,-

6. Perawatan instalasi listrik


Diperkirakan 5% dari harga instalasi listrik (Timmerhaus, 2004).
Perawatan listrik

= 0,05 x Rp. 3.799.220.054,= Rp. 189.961.002,-

7. Perawatan insulasi
Diperkirakan 5% dari harga insulasi (Timmerhaus, 2004).
Perawatan insulasi

= 0,05 x Rp. 3.039.376.043,= Rp. 151.968.802,-

8. Perawatan inventaris kantor


Diperkirakan 5% dari harga inventaris kantor (Timmerhaus, 2004).
Perawatan inventaris

= 0,05 x Rp. 379.922.005,= Rp. 949.805,-

9.

Perawatan fasilitas servis


Diperkirakan 5 % dari harga fasilitas servis (Timmerhaus, 2004).

Perawatan perlengkapan kebakaran = 0,05 x Rp. 379.922.005,= Rp. 18.996.100,-

Total biaya perawatan (S) = 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9


= Rp. 4.964.595.763,-

E.3.1.5 Biaya Tambahan (Pant Overhead Cost)


Diperkirakan 5% dari modal investasi tetap (T) = 0,05 x Rp 175.666.152.700,= Rp. 8.783.307.635,-

E.3.1.6 Biaya Administrasi Umum


U = (12/3) x Rp 38.160.000.= Rp. 152.640.000,-

E.3.1.7 Biaya Pemasaran dan Distribusi


V = (12/3) x Rp 38.160.000.= Rp. 152.640.000,-

E.3.1.8 Biaya Laboratorium, Penelitian dan Pengembangan


Diperkirakan 10% dari biaya tambahan (W) = 0,1 x Rp 8.783.307.635,= Rp. 878.330.763,-

E.3.1.9 Biaya Asuransi


- Asuransi pabrik diperkirakan 1% dari modal investasi tetap
= 0,01 x Rp 175.666.152.700,- = Rp. 1.756.661.527,- Asuransi karyawan 1,54 % dari total gaji karyawan
(Biaya untuk asuransi tenaga kerja adalah 2,54 % dari gaji karyawan. dimana 1%
ditanggung oleh karyawan dan 1,54 % ditanggung oleh perusahaan)
= 0,0154 x (12/3) x Rp 254.400.000,= Rp 15.671.040,Total biaya asuransi (X) = Rp. 1.756.661.527,- + Rp. 15.671.040,-

= Rp. 1.772.332.567,-

E.3.1.10 Pajak Bumi dan Bangunan


PBB (Y) = Rp 395.200.000.Total Biaya Tetap = P + Q + R + S + T + U + V + W + X + Y
= Rp. 48.074.901.320,-

E.3.2 Variabel
E.3.2.1 Biaya Variabel Bahan Baku Proses dan Utilitas per tahun
Diperkirakan 10% dari Biaya bahan baku proses dan utilitas
Biaya variabel Bahan baku proses dan utilitas per tahun
= 0,1 x Rp. 144.610.671.200,= Rp. 14.461.067.120,-

E.3.2.2 Biaya Variabel Pemasaran


Diperkirakan 1% dari Biaya Tetap Pemasaran
Biaya variabel pemasaran

= 0,01 x Rp. 152.640.000,= Rp. 1.526.400,-

E.3.2.3 Biaya Variabel Perawatan


Diperkirakan 1% dari biaya tetap Perawatan
Biaya Perawatan

= 0,01 x Rp. 4.964.595.763,= Rp. 49.645.957,-

E.3.2.4 Biaya Variabel Lainnya


Diperkirakan 5% dari Biaya tambahan
Biaya Variabel Lainnya

= 0,05 x Rp. 8.783.307.635,= Rp. 439.165.381,-

Total Biaya Variabel = Rp. 14.951.404.860,-

Total Biaya Produksi = Biaya Tetap + Biaya Variabel

= Rp. 48.074.901.320,- + Rp. 14.951.404.860,= Rp. 63.026.306.180,-

E.4 Perkiraan Laba / Rugi Perusahaan


Laba sebelum pajak = Hasil penjualan tahunan total biaya produksi
= Rp. 158.659.187.400,- Rp. 63.026.306.180,= Rp. 95.632.881.220,E.4.1 Pajak Penghasilan
Berdasarkan UU RI Nomor 17 Ayat 1 Tahun 2000, tentang Perubahan ketiga
atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan adalah
sebagai berikut (Rusdji, 2004) :
1. Penghasilan sampai dengan Rp. 50.000.000,- dikenakan pajak sebesar 10 %.
2. Penghasilan antara Rp. 50.000.000,- sampai dengan Rp. 100.000.000,dikenakan pajak sebesar 15%.
3. Penghasilan diatas Rp. 100.000.000,- dikenakan pajak sebesar 30%.
Maka pajak penghasilan yang harus dibayar adalah sebagai berikut :
10 % x Rp. 50.000.000,-

= Rp.

5.000.000,-

15 % x (Rp. 100.000.000 Rp. 50.000.000)

= Rp.

7.500.000,-

30% x (Rp. 95.632.881.220,- Rp.100.000.000)

= Rp. 28.659.864.370,-

Total PPh

Rp. 28.672.364.370,-

E.4.2 Laba setelah Pajak


Laba setelah pajak

= laba sebelum pajak PPh


= Rp. 95.632.881.220,- Rp. 28.672.364.370,= Rp. 66.960.516.850,-

E.5 Analisa Aspek Ekonomi


E.5.1 Profit Margin (PM)
PM =

Laba sebelum pajak


x 100 %
Total Penjualan

95.632.881.220
x100%
158.659.187.400

= 60,27 %

E.5.2 Break Even Point (BEP)


BEP =

Biaya Tetap
x 100 %
Total Penjualan Biaya Variabel

BEP =

48.074.901.320
x100% = 33,45 %
158.659.187.400 14.951.404.860

Kapasitas produksi pada titik BEP

= 33,45 % x 35.000 ton/tahun


= 11.707,5 ton/tahun

Nilai penjualan pada titik BEP

= 33,45 % x Rp. 158.659.187.400,= Rp. 53.071.498.190,-

E.5.3 Return On Investment (ROI)


ROI

Laba setelah pajak


x 100 %
Total modal Investasi

ROI

66.960.516.850
x100%
273.501.875.700

= 24,48 %

E.5.4 Pay Out Time (POT)


POT

1
x 1 Tahun
ROI

POT

1
x 1 Tahun
0,2448

POT

= 4,08 Tahun

POT selama 4,08 tahun merupakan jangka waktu pengembalian modal dengan
asumsi bahwa perusahaan beroperasi dengan kapasitas penuh tiap tahun.

E.5.5 Return On Network (RON)


RON =

Laba setelah pajak


x 100 %
Modal sendiri

RON =

66.960.516.850
x 100 %
164.101.125.400

RON = 40,80 %

E.5.6 Internal Rate Of Return (IRR)


Untuk menentukan nilai IRR harus digambarkan jumlah pendapatan dan
pengeluaran dari tahun ke tahun yang disebut Cash Flow. Untuk memperoleh cash
flow diambil ketentuan sebagai berikut :
1. Laba kotor diasumsikan mengalami kenaikan 10 % tiap tahun
2. Masa pembangunan disebut tahun ke nol
3. Jangka waktu cash flow dipilih 10 tahun
4. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan nilai pada tahun ke 10
5. Cash flow adalah laba sesudah pajak ditambah penyusutan
Dari Tabel LE.10 dibawah ini, diperoleh nilai IRR = 33,43%

BEP : 33,45

LE-27