Anda di halaman 1dari 16

Informasi Tepi

Informasi tepi adalah sesuatu yang memiliki makna atau manfaat yang berada pada tepi foto
udara. Adapun informasi pada photo udara yang perlu diidentifikasi sebagai informasi atau data
awal dalam pelaksanaan pekerjaan photogrametri, dan yang termasuk didalamnya adalah :
a) Fiducial mark : merupakan 4 tanda titik bidang focus kamera udara yang kegunaannya untuk
menentukan titik utama photo udara.yang merupakan titik pusat exposure dan proyeksi.
b) Titik utama (principal point) merupakan titik pusat exposure dan proyeksi, dan merupakan
titik perpotongan antara 4 titik fiducial mark.
c) Nivo merupakan alat pendatar kamera udara yang terbuat dari cairan yang peka terhadap
getaran dan kemiringan.
d) Jam merupakan alat penentu waktu saat pemotretan.
e) Fokus merupakan panjang lensa saat pemotretan objek, bisa diamati pada informasi tepi
photo udara.
f) Tinggi terbang merupakan ketinggian penerbangan saat pemotretan dilakukan alat
pencatatnya dinamakan altimeter yang dapat dibaca pada informasi tepi photo udara.
g) Arah utara merupakan arah utara yang ditunjukkan pada photo udara yang penentuannya
mengacu pada waktu pemotretan dan arah bayangan photo.
h) Skala merupakan besaran pembanding antara jarak pada photo dan di lapangan yang
penentuannya dengan cara nilai fokus kamera saat pemotretan (f) dibagi dengan tinggi terbang
(H) (Skala = f / H).

Relief Displacement

Disarikan dari Mata Kuliah Fotogrametri: Ir. Sawitri Subiyanto, MSi

Skala Foto Udara


Pengertian skala foto udara adalah perbandingan jarak pada foto udara dengan jarak di
permukaan bumi
Penentuan skala:
S = f/H
Keterangan :
S : skala

f : panjang fokus lensa

h : tinggi
Identifikasi Foto Udara
Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk
mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi.
Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri yang ada sekarang ini.
Interpretasi foto termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek.
Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara
sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek.
Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan
dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara. Keberhasilan dalam
interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi
objek yang diinterpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak
digunakan oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan. Aplikasi
fotogrametri sangat bermanfaat diberbagai bidang Untuk memperoleh jenis-jenis informasi
spasial diatas dilakukan dengan teknik interpretasi foto/citra,sedang referensi geografinya
diperoleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat dilakukan dengan cara

konvensional atau dengan bantuan komputer.Salah satu alat yang dapat digunakan dalam
interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni paralaks bar.
Didalam menginterpretasikan suatu foto udara diperlukan pertimbangan pada karakteristik dasar
citra foto udara.Dan dapat dilakukan dengan dua cara yakni cara visual atau manual dan
pendekatan digital.Keduanya mempunyai prinsip yang hampir sama. Pada cara digital hal yang
diupayakan antara lain agar interpretasi lebih pasti dengan memperlakukan data secara
kuantitatif. Pendekatan secara digital mendasarkan pada nilai spektral perpixel dimana tingkat
abstraksinya lebih rendah dibandingkan dengan cara manual. Dalam melakukan interpretasi
suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah kunci dasar interpretasi atau elemen dasar
interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran
objek objek yang tampak pada foto udara.

Contoh Foto Udara

Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu :


Bentuk
Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual.
Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada
citrta foto.
Ukuran
Ukuran objek pada foto akan bervariasi sesuai denagn skala foto. Objek dapat disalahtafsirkan
apabila ukurannya tidak dinilai dengan cermat.
Pola
Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan
merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk
pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya.
Rona
Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada foto.ini berkaitan dengan
pantulan sinar oleh objek.
Bayangan
Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu
profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan
memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam
interpretasi.
Tekstur
Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan
kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto.
Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto
diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak.
Lokasi
Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi.
Fotogrametri atau aerial surveying adalah teknik pemetaan melalui foto udara. Hasil pemetaan
secara fotogrametrik berupa peta foto dan tidak dapat langsung dijadikan dasar atau lampiran
penerbitan peta. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran
secara terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada

pengukuran batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di
lapangan.
Menurut Van Hoeve Fotogrametri adalah Suatu metode atau cara untuk mengkonstruksikan
bentuk, ukuran dan posisi pada suatu benda yang berdasarkan pemotretan tunggal maupun
stereoskopik.[1]

KONSEP DASAR PEMETAAN FOTOGRAMETRI

Konsep Dasar Pemetaan Fotogrametri


Pengadaan data geo-spasial dalam rangka pemetaan suatu daerah / kawasan antara
lain dapat dilakukan melalui metode :

Terrestrial ( pengukuran langsung di lapangan )

Fotogrametri ( pemotretan udara )

Penginderaan Jauh

GPS

Fotogrametri adalah suatu metode pemetaan objek-objek dipermukaan bumi yang


menggunakan foto udara sebagi media, dimana dilakukan penafsiran objek dan
pengukuran geometri untuk selanjutnya dihasilkan peta garis, peta digital maupun
peta foto. Secara umum fotogrametri merupakan teknologi geo-informasi dengan
memanfaatkan data geo-spasial yang diperoleh melalui pemotretan udara.

Gambaran umum pembuatan geo-informasi dengan metode fotogrametri


Mengapa metode fotogrametri banyak dipakai dalam pembuatan geo-informasi ?
karena :

Obyek yang terliput terlihat apa adanya

Produk dapat berupa : peta garis , peta foto atau kombinasi peta foto-peta garis

Proses pengambilan data geo-spatial relatif cepat

Efektif untuk cakupan daerah yang relatif luas


Sebagai bahan dasar dalam pembuatan geo-informasi secara fotogrametris yaitu foto
udara yang saling bertampalan (overlaped foto). Umumnya foto tersebut diperoleh
melalui pemotretan udara pada ketinggian tertentu menggunakan pesawat udara.

Foto Udara dan Jenis Kamera

Foto Udara adalah citra fotografi hasil perekaman dari sebagian permukaan bumi
yang diliput dari pesawat udara pada ketinggian tertentu menggunakan kamera
tertentu. Foto udara yang dipergunakan dapat berupa foto udara metrik, yaitu foto
udara yang diambil dengan kamera udara metrik (biasanya berukuran 23 x 23 cm).
Foto udara jenis ini sangat tinggi ketelitiannya karena kamera foto dibuat khusus
untuk keperluan pemetaan dengan ketelitian tinggi dan resolusi citra foto yang sangat
baik. Pada kamera metrik dilengkapi dengan titik-titik yang diketahui koordinatnya
(disebut sebagai titik Fiducial Mark) yang akan dipakai sebagai acuan / referensi
dalam pengukuran dimensi objek. Jenis foto lainnya adalah foto non-metrik, yaitu foto
yang dihasilkan dari kamera non-metrik (kamera biasa atau kamera khusus). Biasanya
ukuran foto yang dihasilkan lebih kecil dari foto metrik. Kamera ini biasa dipakai
untuk keperluan pengambilan foto secara umum, dan pemotretan udara dengan
menggunakan pesawat kecil atau pesawat model. Ketelitian yang diperoleh tidak
sebaik kamera metrik dan daerah cakupan jauh lebih kecil.

Foto udara selanjutnya diklasifikasikan sebagai foto udara vertikal dan foto udara
condong. Foto udara vertikal, yaitu apabila sumbu kamera pada saat pemotretan
dilakukan benar-benar vertikal atau sedikit miring tidak lebih dari 3. Sebagian besar

dari foto-foto udara termasuk dalam jenis foto udara vertikal. Tipe kedua dari foto
udara yakni foto udara condong (oblique) yaitu apabila sumbu foto mengalami
kemiringan antara 3 dan 90 dari kedudukan vertikal. Jika horizon tidak tampak,
disebut condong / miring rendah. Jika horizon tampak, disebut condong tinggi / sangat
miring.

Jenis foto udara

Keuntungan foto udara vertikal dibandingkan dengan foto udara condong


1.

Skala foto vertikal kira-kira selalu tetap dibandingkan dengan skala foto
condong. Ini menyebabkan lebih mudah untuk melakukan pengukuranpengukuran pada foto dan hasil yang diperoleh lebih teliti.

2.

Untuk keperluan tertentu foto udara vertikal dapat digunakan sebagai pengganti
peta.

3.

Foto udara vertikal lebih mudah diinterpretasi dari pada foto udara condong. Ini
dikarenakan skala dan obyek-obyek yang lebih tetap bentuknya, tidak menutupi
obyek-obyek lain sebanyak yang terjadi pada foto udara condong.

Keuntungan foto udara condong dibandingkan dengan foto udara vertikal


1.

Foto udara condong meliputi kawasan yang lebih luas dari pada kawasan yang
diliput oleh suatu foto udara vertikal.

2.

Jika lapisan awan seringkali menutupi suatu daerah yang tidak memungkinkan
dilakukan dengan pemotretan vertikal, maka dapat dilakukan dengan
pemotretan condong.

3.

Beberapa obyek yang tidak dapat dilihat / tersembunyi dari atas pada foto udara
vertikal, misalnya : obyek dibawah bangunan tinggi, dapat terlihat pada
pemotretan condong.

Skala Foto Udara

Pada foto udara dikenal skala foto, yaitu skala rata-rata dari foto udara. Disebut skala
rata-rata, karena sifat proyeksi pada foto udara adalah perspektif (sentral), berpusat
pada titik utama (principal point). Dengan demikian skala di masing-masing titik tidak
akan sama, kecuali bila foto udara tersebut benar-benar tegak dan keadaan permukaan

tanah sangat datar. Besarnya skala rata-rata ditentukan oleh tinggi terbang dan tinggi
permukaan bumi serta besar focus kamera.

Skala foto udara berbeda dengan skala peta pada umumnya. Peta adalah gambaran /
presentasi dari permukaan bumi dengan skala tertentu. Sifat proyeksi pada peta adalah
orthogonal.

Oleh karena foto udara mempunyai skala yang bervariasi, maka untuk membuat peta
dengan skala dan geometri yang benar, foto udara tersebut harus diproses terlebih
dahulu, disebut sebagai proses restitusi foto udara. Pengertian restitusi adalah
mengembalikan posisi foto udara pada keadaan seperti pada saat pemotretan dengan
proses orientasi (orientasi dalam, relatif, absolut). Pada keadaan tersebut sinar-sinar
yang membentuk objek secara geometris telah benar dan dapat dipakai untuk
membuat peta dengan cara restitusi tunggal (rektifikasi) ataupun dengan cara restitusi
stereo (orthofoto).

Untuk keperluan restitusi foto tersebut (tunggal maupun stereo) diperlukan titik-titik
kontrol yang diketahui koordinatnya pada sistem foto dan sistem referensi. Titik-titik
kontrol tersebut diperoleh sebagai hasil pengukuran di lapangan dan proses triangulasi
udara.

Stereoskopis

Pengelihatan stereoskopis memungkinkan kita untuk melihat suatu obyek dalam


bentuk 3 dimensi dari dua perspektif yang berbeda, seperi foto udara yang diambil
dari kedudukan kamera yang berbeda.

Sepasang foto udara yang stereoskopis terdiri dari dua foto yang berdekatan dan
saling bertampalan. Overlap atau pertampalan kemuka, yaitu daerah pertampalan
antara foto-foto yang berurutan pada suatu jalur terbang. Side lap atau pertampalan ke
samping, yaitu daerah pertampalan antar jalur / strip yang saling bersebelahan.
Besarnya pertampalan biasanya dinyatakan dalam persen (%). Untuk keperluan
pemetaan, overlap biasanya 60 5%, dan untuk side lap biasanya ditentukan 20 5%.
Pada daerah pertampalan akan dapat dilihat citra permukaan bumi tiga dimensi dalam
skala yang lebih kecil, yang biasa disebut model. Untuk mendapatkan gambar
stereoskopis, digunakan sebuah alat stereoskop yang merupakan alat optis binokuler.

Rektifikasi

Rektifikasi dilakukan apabila permukaan tanah yang terpotret itu relatif datar dengan
asumsi h pada setiap titik pengamatan <>

Rektifikasi adalah suatu re-eksposur dari suatu foto sehingga kemiringan-kemiringan


(tilt) yang terdapat pada foto tersebut menjadi hilang dan sekaligus mengatur skala
rata-rata foto yang satu dengan yang lainnya.

Dengan rektifikasi, kita membuat foto menjadi benar-benar tegak / tanpa kemiringan
dan skala rata-rata yang pasti sesuai dengan skala yang dikehendaki dari setiap foto.
Adapun foto hasil pemotretan udara umumnya dilengkapi dengan data-data ketinggian
yang sebanding dengan skala dari foto, akan tetapi ketinggian tersebut dinyatakan
dalam bacaan altimeter yang kasar, sehingga akan memberikan harga skala foto ratarata yang sangat kasar pula. Demikian pula halnya dengan data kemiringan yang dapat
dibaca melalui nivo kotak yang terdapat pada tepi foto, inipun tidak dapat
memberikan data kemiringan yang teliti.

Kemiringan-kemiringan dan ketidaktepatan skala pada saat pemotretan akan


menyebabkan penyimpangan posisi planimetris yang benar pada foto. Pekerjaan
rektifikasi ini dilakukan dengan suatu alat yang dinamakan rectifier. Umumnya fotofoto hasil rektifikasi ini digunakan untuk pembuatan peta foto melalui penyusunan
mosaik dari foto-foto rektifikasi.

Pembuatan peta foto dari mosaik hasil penyusunan foto hasil rektifikasi hanya bisa
dilakukan untuk daerah yang relatif datar, oleh sebab itu untuk daerah yang
mempunyai perbedaan tinggi (bergunung) akan timbul pergeseran relief yang
mempunyai arah radial terhadap titik utama.

Orthofoto (Rektifikasi Differensial)

Pembuatan peta foto untuk daerah yang bergunung dikerjakan dengan proses
orthofoto, dimana dengan orthofoto ini dilakukan re-eksposur secara orthogonal per
bagian-bagian kecil dari foto, sehingga kemiringan, skala dan pergeseran relief dapat
dikoreksi. Proses orthofoto akan menjadikan foto dalam proyeksi orthogonal. Seperti
peta, foto ortho hanya mempunyai satu skala (walaupun dalam medan yang beraneka),
dan seperti foto karena menyajikan medan dengan gambaran sebenarnya (tidak
berwujud garis dan simbol).

Orthofoto dilakukan apabila permukaan tanah yang dipotret itu bergunung dengan
asumsi h pada setiap titik pengamatan > 0,5 % x tinggi terbang terhadap tinggi ratarata pada foto yang bersangkutan.

Pada pandangan sekilas, orthofoto tampak sama dengan foto perspektif. Tetapi dengan
membandingkan orthofoto dan foto perspektif daerah yang sama, biasanya dapat
diamati bedanya

Orthofoto ialah foto yang menyajikan gambaran obyek pada posisi orthogonal yang
benar, oleh karena itu orthofoto secara geometris ekuivalen dengan peta garis.
Orthofoto memperlihatkan gambar-gambar fotografis yang sebenarnya dan dapat
diperoleh detail yang lebih banyak. Karena suatu orthofoto adalah benar secara
planimetris, maka dapat dianggap sebagai sebuah peta atau lebih tepat disebut peta
orthofoto, dapat digunakan untuk melakukan pengukuran langsung atas jarak, sudut,
posisi dan daerah tanpa melakukan koreksi bagi pergeseran letak gambar. Hal ini
tentu saja tidak dapat dilakukan diatas foto perspektif.

Orthofoto dibuat dari foto udara melalui proses yang disebut rektifikasi diferensial,
yang meniadakan pergeseran letak oleh kemiringan fotografik dan relief. Hasil proses
ini dapat menghilangkan berbagai variasi skala foto dan pergeseran letak gambar oleh
relief maupun kemiringan.
Pergeseran letak oleh kemiringan sumbu kamera terjadi pada tiap foto yang pada saat
pemotretannya bidang foto miring terhadap bidang datum. Rektifikasi untuk
menghapus efek kemiringan sumbu dan hasilnya berupa ekivalen foto tegak. Akan
tetapi ekivalen foto tegak masih mengandung skala yang tidak seragam yang

diakibatkan oleh pergeseran letak gambar sehubungan dengan perubahan relief,


kecuali bagi medan yang benar-benar datar. Di dalam proses peniadaan pergeseran
letak oleh relief pada sembarang foto, variasi skala juga dihapus sehingga skala
menjadi sama bagi seluruh foto. Tiap foto yang skalanya tetap bagi seluruh bagian
merupakan orthofoto yang memiliki kebenaran planimteris sama dengan peta. Harus
diingat bahwa meskipun pergeseran letak oleh medan yang berbeda telah dikoreksi,
masih ada satu keterbatasan orthofoto yang berupa pergeseran letak oleh relief bagi
permukaan tegak seperti tembok bangunan yang tak dapat ditiadakan.

Relief Displacement

Pergeseran relief adalah perpindahan atau pergeseran pada posisi fotografis dari suatu
bayangan benda yang disebabkan karena permukaan bumi yang tidak rata atau
disebabkan karena benda tersebut mempunyai ketinggian terhadap suatu datum.

Dengan memperhatikan datum yang ada, maka dapat dikatakan :

Jika sebuah titik terletak di bawah datum, maka arah pergeserannya ke dalam.

Jika sebuah titik terletak di atas datum, maka arah pergeserannya ke luar

Relief Displacement

Disarikan dari Mata Kuliah Fotogrametri: Ir. Sawitri Subiyanto, MSi