Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Untuk menjamin dilakukannya pertanggungjawaban publik oleh lembaga-

lembaga pemerintah maka diperlukan perluasan sistem pemeriksaan, tidak sekedar


conventional audit, namun perlu juga dilakukan value for money audit. Dalam
pemeriksaan yang konvensional, lingkup pemeriksaan hanya sebatas audit terhadap
keuangan dan kepatuhan (financial and compliance audit), sedangkan dalam
pendekatan baru ini selain audit keuangan dan kepatuhan juga perlu dilakukan audit
kinerja (performance audit). Performance audit meliputi audit ekonomi, efisiensi, dan
efektivitas. Audit ekonomi dan efisiensi disebut management audit atau operation
audit, sedangkan audit efektivitas disebut program audit. Istilah lain untuk
performance audit tersebut adalah Value For Money audit.
1.2

Rumusan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini ada beberapa rumusan masalah, yaitu :

1. Bagaimana implementasi value for money dalam pemerintahan di Indonesia?


2. Bagaimana audit kinerja pemerintah daerah dalam konteks otonomi daerah?
3. Bagaimana cara untuk mengatasi permasalahan audit kinerja lembaga
pemerintahan di Indonesia?
4. Bagaimana Standar Audit Pemerintahan (SAP) Tahun 1995?
1.3

Tujuan Makalah
Tujuan makalah adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui dan memahami implementasi value for money dalam
pemerintahan di Indonesia.
2. Dapat mengetahui dan memahami audit kinerja pemerintah daerah dalam konteks
otonomi daerah.
3. Dapat mengetahui dan memahami cara untuk mengatasi permasalahan audit
kinerja lembaga pemerintahan di Indonesia.
1

4. Dapat mengetahui dan memahami Standar Audit Pemerintahan (SAP) Tahun


1995.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Value For Money

Value for money merupakan pendekatan nilai untuk uang yang artinya dimana
nilai uang untuk menilai biaya suatu produk atau layanan terhadap kualitas
penyediaan. Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi
pemerintah. Kinerja pemerintah tidak dapat dinilai dari output yang dihasilkan saja,
akan tetapi harus mempertimbangkan input, output dan outcome secara bersamasama. Pengukuran kinerja berdasarkan alokasi biaya dan pelayanan. Dengan
demikian sering disebut 3E (ekonomi, efisiensi dan efektivitas).
Dalam hal ini value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor
publik yang mendasarkan pada 3 elemen utama, yaitu :
1. Ekonomi : pemerolehan input dengan kualitas tertentu pada harga yang
terendah.
2. Efisiensi : pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau
penggunaan input yang terendah untuk mencapai output tertentu.
3. Efektivitas : tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan atau
perbandingan outcome dengan ouput.
2.2

Implementasi Konsep Value For Money


Value for Money dapat tercapai apabila organisasi telah menggunakan input

paling kecil untuk mencapai output yang optimum dalam rangka mencapai tujuan
organisasi.
1) Ekonomi berkaitan dengan hubungan antara pasar dan masukan (cost of input).
Pengertian ekonomi (hemat/tepat guna) sering disebut kehematan yang mencakup
juga pengelolaan secara hati-hati atau cermat (prudency) dan tidak ada
pemborosan. Suatu kegiatan operasional dikatakan ekonomis jika dapat
menghilangkan atau mengurangi biaya yang tidak perlu.
2) Efisiensi (daya guna) mempunyai pengertian yang berhubungan erat dengan
konsep produktivitas. Pengukuran efisiensi dilakukan dengan menggunakan
perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan (cost
of output). Proses kegiatan operasional dapat dikatakan efisien apabila suatu
produk atau hasil kerja tertentu dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya
3

dan dana yang serendah-rendahnya (spending well). Jadi, pada dasarnya ada
pengertian yang serupa antara efisiensi dengan ekonomi karena kedua-duanya
menghendaki penghapusan atau penurunan biaya (cost reduction).
3) Efektivitas (hasil guna) merupakan hubungan antara keluaran dengan tujuan atau
sasaran yang harus dicapai. Pengertian efektivitas ini pada dasarnya berhubungan
dengan pencapaian tujuan atau target kebijakan. Kegiatan operasional dikatakan
efektif apabila proses kegiatan tersebut mencapai tujuan dan sasaran akhir
kebijakan (spending wisely).
Manfaat implementasi konsep value for money pada organisasi sektor publik :
1) Meningkatkan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang diberikan
tepat sasaran.
2) Meningkatkan mutu pelayanan publik
3) Menurunkan biaya pelayanan publik karena hilangnya inefisiensi dan terjadinya
penghematan dalam penggunaan input
4) Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kepentingan publik
5) Meningkatkan kesadaran akan uang publik (public costs awareness) sebagai akar
pelaksanaan akuntanbilitas publik.
Mekanisme penentuan indikator kinerja membutuhkan :
1. Sistem perencanaan dan pengendalian.
Meliputi proses, perosedur dan struktur yang member jaminan bahwa tujuan
organisasi telah dijelaskan dan dikomunikasikan keseluruh bagian organisasi.
2. Spesifikasi teknis dan standarisasi.
Kinerja suatu kegiatan, program, dan organisasi diukur dengan menggunakan
spesifikasi teknis secara detail untuk memberikan jaminan bahwa spesifikasi
teknis tersebut dijadikan sebagai standar penilaian.
3. Kompetensi teknis dan profesionalisme.
Untuk memberikan jaminan terpenuhinya spesifikasi teknis dan standarisasi yang
ditetapkan maka diperlukan personel yang memiliki kompetensi teknis dan
profesional dalam bekerja.
4. Mekanisme ekonomi dan mekanisme pasar.
4

Mekanisme ekonomi terkait dengan pemberian penghargaan dan hukuman yang


bersifat financial sedangkan mekanisme pasar terkait dengan penggunaan sumber
daya yang menjamin terpenuhinya value for money.
5. Mekanisme sumber daya manusia.
Pemerintah perlu menggunakan beberapa mekanisme untuk memotivasi sifatnya
untuk memperbaiki kinerja personel dan organisasi.
2.3

Tujuan Value For Money Audit


Tujuan value for money audit adalah untuk meningkatkan akuntabilitas lembaga

sektor publik dan untuk perbaikan kinerja pemerintah. Dalam pemeriksaan yang
konvensional, lingkup pemeriksaan hanya sebatas audit terhadap keuangan dan
kepatuhan (financial and compliance audit), sedangkan dalam pendekatan baru ini
selain audit keuangan dan kepatuhan juga perlu dilakukan audit kinerja (performance
audit), meliputi audit ekonomi, efisiensi dan efektivitas.
Audit ekonomi dan efisiensi disebut juga management audit atau operational audit,
Sedangkan audit efektivitas disebut program audit. Istilah lain performance audit
adalah VFM audit atau 3Es audit.
2.4

Karakteristik Value for Money

Ekonomi

Audit
manajemen

Audit
3E

Audit Kinerja/
Value for Money
Audit

Efisiensi

merupakan
audit

kinerja

keuangan

Audit
Program

Efektivitas
dalam

perluasan dari
hal

tujuan

dan

prosedurnya. Pengertian audit dalam audit keuangan adalah suatu proses yang
sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai asersi
atas tindakan dan kejadian ekonomi, kesesuaiannya dengan kriteria/standar yang telah
5

ditetapkan dan kemudian mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna


laporan tersebut (malan, 1984).
Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadiankejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit.
Definisi audit kinerja adalah suatu proses sistematis untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara
independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas dala pencapaian hasil yang
diinginkan, dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku,
menentukan kinerja yang telah dicapai dengan kinerja yang telah ditetapkan
sebelumnya, serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna
laporan tersebut (Malan, 1984).
Salah satu yang membedakan VFM audit dengan conventional audit adalah
dalam hal laporan audit. Dalam laporan audit konvensional, hasil audit berupa
pendapat (opini) auditor secara independen dan obyektif tentang kewajaran laporan
keuangan sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan, tanpa pemberian
rekomendasi perbaikan. Sedangkan dalam VFM audit tidak sekedar menyampaikan
kesimpulan berdasarkan tahapan audit yang telah dilaksanakan, akan tetapi juga
dilengkapi dengan rekomendasi untuk perbaikan dimasa mendatang.
Audit Ekonomi dan Efisiensi
The General Accounting Office Standadrs (1994) menegaskan bahwa audit ekonomi
dan efisiensi dilakukan dengan mempertimbangkan apakah entitas yang diaudit telah:
a. Mengikuti ketentuan pelaksanaan pengadaan yang sehat.
b. Melakukan pengadaan sumber daya (jenis, mutu, dan jumlah) sesuai dengan
kebutuhan pada biaya terendah.
c. Melindungi dan memelihara semua sumber daya yang ada secara memadai.
d. Menghindari duplikasi pekerjaan atau kegiatan yang tanpa tujuan atau kurang
jelas tujuannya.
e. Menghindari adanya pengangguran sumber daya atau jumlah pegawai yang
berlebihan.
6

f. Menggunakan prosedur kerja yang efisien.


g. Menggunakan sumber daya (staf, peralatan, dan fasilitas) yang minimum dalam
menghasilkan atau menyerahkan barang/jasa dengan kuantitas dan kualitas yang
tepat.
h. Mematuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
perolehan, pemeliharaan, penggunaan sumber daya negara.
i. Melaporkan ukuran yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai
kehematan dan efisiensi.
Prosedur untuk melakukan audit ekonomi dan efisiensi sama dengan jenis audit
lainnya. Secara umum, tahapan-tahapan audit yang dilakukan meliputi :
1)
2)
3)
4)
5)

Perencanaan audit.
Mereview sistem akuntansi dan pengendalian intern.
Menguji system akuntansi dan pengendalian intern.
Melaksanakan audit, dan
Menyampaikan laporan.

Audit Efektivitas
Efektivitas berkaitan dengan pencapaian tujuan. Audit efektivitas (audit program)
bertujuan untuk :
1)
2)
3)
4)

Menilai tujuan program.


Menetukan tingkat pencapaian hasil suatu program yang diinginkan.
Menilai efektivitas program/unsur-unsur program baik sendiri/terpisah.
Mengidentifikasi faktor yang menghambat pelaksanaan kinerja yang baik dan

memuaskan.
5) Menentukan apakah manajemen telah mempertimbangkan alternatif untuk
melaksanakan program yang mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik
dan dengan biaya yang lebih rendah.
6) Menentukan apakah program tersebut saling melengkapi, tumpang-tindih atau
bertentangan dengan program yang terkait.
7) Mengidentifikasi cara untuk dapat melaksanakan program tersebut dengan lebih
baik.

8) Menilai ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk


program tersebut.
9) Menilai apakah system pengendalian manajemen sudah cukup memadai untuk
mengukur, melaporkan, dan memantau tingkat efektivitas program.
10) Menentukan apakah manajemen telah melaporkan ukuran yang sah dan dapat
dipertanggungjawabkan mengenai efektivitas program.
2.5

Kategori Kegiatan Value For Money Audit


Value for money secara umum mempunya tiga kategori kegiatan :

1) By-product VFM Work


VFM hanya bertujuan sekunder, yakni berupaya untuk mencari penghematanpenghematan dengan jalan melakukan sedikit perubahan dalam praktik kerja.
2) An Arrangement Review
Untuk menjamin/memastikan bahwa klien telah melakukan tugas adminstrasi
yang diperlukan untuk mencapai VFM. Auditor dapat mengecek dan menilai
keberadaan peraturan formal semacam ini. Memberikan gambaran bagi auditor
untuk me-review kinerja dan me-review jasa-jasa tertentu/khusus.
3) Performance Review
Untuk menilai secara obyektif VFM yang telah dicapai oleh klien dan
membandingkannya dengan kriteria (pembanding) yang valid. Penilaian terhadap
kinerja klien dapat dilakukan dengan membandingkan hasil yang telah di capai
dengan kinerja masa lalu, target yang telah ditetapkan sebelumnya atau kinerja
organisasi sejenis lainnya.
Untuk

melaksanakan

proses

audit

kinerja

pada

organisasi

sektor

publik

(pemerintahan) diperlukan beberapa prasyarat, yaitu :


1) Auditor (orang/lembaga yang melakukan audit), auditee (pihak yang diaudit),
recipent (pihak yang menerima hasil audit).
2) Hubungan akuntanbilitas antara auditee (subordinate) dan audit recipient (otoritas
yang lebih tinggi).
3) Independensi antara auditor dan auditee.

4) Pengujian dan evaluasi tertentu atas aktivitas yang menjadi tanggung jawab
auditee oleh audit recipent.
Dua prosedur utama untuk melaksanakan praktik auditing kinerja organisasi secara
komprehensif, yaitu :
1) Management and Technical Review
Telaah fungsi manajemen secara umum mengenai perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan metode/teknik khusus yang digunakan oleh entitas untuk
menentukan apakah :
Rencana yang matang telah dikembangkan untuk mencapai hasil yang
diinginkan.
Terdapat struktur yang memadai tentang wewenang dan tanggung jawab
manajemen.
Manajemen telah secara jelas mengkomunikasikan ekspektasinya kepada
pihak-pihak yang bertanggung jawab atas operasi.
Pelaksanaan diawasi dan dievaluasi secara regular dengan menggunakan
criteria yang memadai sehingga varian dari rencana dapat dideteksi dan
dikoreksi tepat pada waktunya.
2) Special Studies
Telaah yang diarahkan untuk mencapai kesesuaian terhadap spesifikasi tertentu
sesuai dengan permintaan. Sebagai contoh, special studies mungkin dilaksanakan
untuk :
Penelitian mengenai dugaan terjadinya kesalahan atau kecurangan.
Menilai kecukupan pengendalian internal dalam system infotmasi manajemen
atau system akuntansi yang diterapkan.
Konsultasi dengan manajemen berkaitan dengan masalah keuangan khusus
atau berkaitan dengan masalah kinerja.
Mengevaluasi penggunaan dana untuk kegiatan investasi yang mungkin
berpengaruh terhadap operasi organisasi di masa mendatang.
2.6

Standar Audit Pemerintahan (SAP) Tahun 1995


9

Sejauh ini, audit kinerja terhadap lembaga-lembaga pemerintahan di Indonesia


dilakukan dengan berpedoman pada SAP yang dikeluarkan Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) tahun 1995. SAP tersebut merupakan buku standar untuk
melakukan audit atas semua kegiatan pemerintah yang meliputi pelaksanaan APBN,
APBD, pelaksanaan anggaran tahunan BUMN dan BUMD, serta kegiatan yayasan
yang didirikan oleh pemerintah, BUMN dan BUMD atau badan hokum lain yang
didalamnya terdapat kepentingan keuangan negara atau yang menerima bantuan
pemerintah.
Standar-standar yang menjadi pedoman dalam audit kinerja terhadap lembaga
pemerintahan menurut SAP adalah sebagai berikut :
1) Standar Umum
a. Staf yang ditugasi untuk melaksanakan audit harus secara kolektif memiliki
kecakapan profesional yang memadai untuk tugas yang diisyaratkan.
b. Semua yang berkaitan dengan pekerjaan audit itu harus independen.
c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib
menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama.
d. Setiap organisasi/lembaga audit yang melaksanakan audit berdasarkan SAP
harus memiliki sistem pengendalian intern yang memadai, dan sistem
pengendalian mutu tersebut harus di review oleh pihak lain yang kompeten
(pengendalian mutu ekstern).
2) Standar Pekerjaan Lapangan Audit Kinerja
a. Perencanaan.
Pekerjaan harus direncanakan secara memadai.
b. Supervisi.
Staf harus diawasi dengan baik.
c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Auditor harus waspada terhadap situasi atau transaksi yang dapat merupakan
indikasi

adanya

unsur

perbuatan

melanggar/melawan

hokum

atau

penyalahgunaan wewenang.
d. Pengendalian manajemen.
Auditor harus benar-benar memahami pengendalian manajemen yang relevan
dengan audit.
3) Standar Pelaporan Audit Kinerja
a. Bentuk.
10

Auditor harus membuat laporan audit secara tertulis untuk dapat


mengkomunikasikan hasil setiap audit.
b. Ketepatan waktu.
Auditor harus dengan semestinya menerbitkan laporan untuk menyediakan
informasi yang dapat digunakan secara tepat waktu.
c. Isi laporan.
Tujuan, lingkup, dan metodologi audit.
Hasil audit.
Rekomendasi.
Pernyataan standar audit.
Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Penyalahgunaan wewenang.
Pengendalian manajemen.
Tanggapan pejabat yang bertanggung jawab.
Hasil/prestasi kerja yang patut dihargai.
Hal yang memerlukan penelaahan lebih lanjut.
Informasi istimewa dan rahasia.
d. Penyajian laporan
Laporan harus lengkap, akurat, obyektif, meyakinkan, serta jelas dan ringkas
sepanjang hal ini dimungkinkan.
e. Distribusi Laporan
Laporan tertulis audit diserahkan oleh organisasi/lembaga audit kepada :
Pejabat yang berwewenang dalam organisasi pihak yang diaudit.
Kepada pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang meminta
audit.
Kepada lembaga lain yang mempunyai tanggungjawab atas pengawasan
secara hukum.
Kepada pihak lain yang diberi wewenang oleh entitas yang diaudit untuk
menerima laporan tersebut.
2.7

Audit Kinerja Pemerintah Daerah Dalam Konteks Otonomi Daerah


Terdapat tiga aspek utama yang mendukung terciptanya kepemerintahan yang

baik (good governance), yaitu pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan.

11

Pengawasan mengacu pada tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh pihak
diluar eksekutif (masyarakat dan DPR/DPRD) untuk turut mengawasi kinerja
pemerintahan.
Pengendalian (control) adalah mekanisme yang dilakukan oleh eksekutif
(pemerintah) untuk menjamin dilaksanakannya sistem dan kebijakan manajemen
sehingga tujuan organisasi tercapai.
Pemeriksaan (audit) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang
memiliki independensi dan memiliki kompetensi profesional untuk memeriksa
apakah hasil kinerja pemerintah telah sesuai dengan standar kinerja yang
ditetapkan.
Keterangan :
Pada tataran teknis aplikatif juga berbeda, yaitu pengawasan oleh DPR/DPRD
dilakukan pada tahap awal; lalu pengendalian manajemen dan pengendalian tugas
pada tahap menengah; dan tahap akhir baru di lakukan pemeriksaan.
Objek yang diperiksa berupa kinerja anggaran dan laporan pertanggung jawaban
yang terdiri dari laporan dan nota perhitungan APBN/APBD, neraca, dan laporan
aliran kas.
2.8

Permasalahan Audit Kinerja Lembaga Pemerintahan di Indonesia


Pemberian otonomi dan desentralisasi yang luas, nyata dan bertanggung jawab

kepada daerah kabupaten/kota akan membawa konsekuensi perubahan pada pola dan
system

pengawasan

dan

pemeriksaan.

Perubahan-perubahan

tersebut

juga

memberikan dampak pada unit-unit kerja pemerintah daerah, seperti tuntutan kepada
pegawai/aparatur pemerintah daerah untuk lebih terbuka, transparan, dan bertanggung
jawab atas keputusan yang dibuat.
Sebagai upaya untuk meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan dalam rangka
memberantas praktik KKN, pemerintah bersama DPR kemudian mengesahkan
Undang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan
Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. UU No. 28 tahun 1999 tersebut kemudian
12

menjadi landasan hukum dibentuknya Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara


Negara (KPKPN). Dengan demikian, untuk mengawasi jalannya pemerintahan saat
ini terdapat lembaga-lembaga pengawas dan pemeriksa yang sifatnya independen dan
memiliki tugas yang berbeda-beda, diantaranya badan ombudsmen, KPKPN, dan
BPK. Disamping itu masyarakat tetap harus ikut berperan aktif, yaitu dengan
memberikan informasi dan menyampaikan saran serta pendapatnya secara
bertanggung jawab.
Kelemahan Audit Pemerintahan di Indonesia
1) Kelemahan bersifat inherent
Tidak tersedianya indikator kinerja (performance indicator) yang memadai
sebagai dasar untuk mengukur kinerja pemerintah daerah.
Belum adanya SAKP (Standar Akuntansi Keuangan Pemerintah) yang baku,
karena pada dasarnya pengauditan terhadap pemerintah daerah adalah
membandingkan hasil yang dicapai dengan standar dan kriteria yang
ditetapkan.
2) Kelemahan bersifat structural
Banyaknya lembaga pemeriksa fungsional overlapping satu dengan lainnya
yang menyebabkan pelaksanaan pengauditan tidak efisien dan tidak efektif.
Untuk menciptakan lembaga audit yang efisien dan efektif, maka diperlukan
reposisi terhadap lembaga audit yang ada. Reposisi yang dimaksud berupa
pemisahan tugas dan fungsi yang jelas dari lembaga-lembaga pemeriksa
pemerintah tersebut, apakah sebagai auditor internal atau auditor eksternal.

13

BAB III
PENUTUP
3.1

Simpulan
Value for money merupakan sesuatu yang menilai apakah suatu organisasi telah

memperoleh tujuan yang diharapkan atau belum dalam kaitannya dengan pengelolaan
keuangan. Reformasi penataan keuangan negara saat ini menghendaki penerapan
konsep value for money atau yang lebih dikenal dengan konsep 3E (Ekonomi,
Efisien, dan Efektif). Oleh karena itu, dalam reformasi ini pemerintah diminta baik
dalam mencari dana maupun menggunakan dana selalu menerapkan prinsip 3E
tersebut. Hal ini mendorong pemerintah berusaha selalu memperhatikan tiap rupiah
dan uang yang diperoleh dan digunakan. Perhatian tertuju pada hubungan antara
input-output-outcome.
Tujuan yang dikehendaki terkait pelaksanaan value for money :
1. Ekonomi
: hemat cermat dalam pengadaan dan alokasi sumber daya.
2. Efisiensi
: berdaya guna dalam penggunaan sumber daya.
3. Efektivitas : berhasil guna dalam arti mencapai tujuan dan sasaran.
4. Equity
: keadilan dalam mendapatkan pelayanan publik.
5. Equality
: kesetaraan dalam penggunaan sumber daya.
3.2

Saran
Pengawasan oleh DPR/DPRD dan masyarakat tersebut harus sudah dilakukan

sejak tahap perencanaan, tidak hanya pada tahap pelaksanaan dan pelaporan saja.
Apabila DPR/DPRD lemah dalam tahap perencanaan, maka sangat mungkin pada
tahap pelaksanaan akan mengalami banyak penyimpangan. Akan tetapi, harus
dipahami bahwa pengawasan DPR/DPRD terhadap eksekutif adalah pengawasan
14

terhadap kebijakan (policy) yang digariskan, bukan pemeriksaan. Fungsi pemeriksaan


hendaknya diserahkan kepada lembaga pemeriksa yang memiliki otoritas dan
keahlian professional, misalnya BPK, BPKP, atau akuntan publik yang independen.
Jika DPR/DPRD menghendaki, dewan dapat meminta BPK atau auditor independen
lainnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap kinerja keuangan eksekutif.

15