Anda di halaman 1dari 15

Journal Reading

Perbandingan Kombinasi Tramadol


Parasetamol dengan Tramadol
Ketorolak Intravena terhadap Nilai
Numeric Rating Scale dan Kebutuhan
Opioid Pasca Histerektomi
Oleh :
Siti Novita Kuman
20154012042

Preceptor :
dr. Totok Kristiyono Sp.An.,M.Kes

ABSTRAK
Pendahuluan

Tujuan

Nyeri Pasca Bedah adalah masalah penting dalam pembedahan


Membandingkan Kombinasi tramadol parasetamol IV dengan tramadol Ketorolak IV
terhadap nilai NRS da kebutuhan opioid pasca histerektomi abdominal.

Metode

Double Blind Randomize Controlled Trial

Subjek 42 Wanita berusia 18 60 tahun, Status Fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I II

Hasil

Kesimpulan

Nilai NRS pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05)


Pemberian kombinasi tramadol parasetamol IV sebanding dengan kombinasi tramadol
ketorolak terhadap nilai NRS dan kebutuhan Opioid pasca Histerektomi

PENDAHULUAN

Nyeri Pasca
bedah menjadi
masalah
utama

Pembedahan
Ginekologi
mengakibatkan
intensitas nyeri
pasca bedah
yang cukup
tinggi

Penanganan
nyeri dapat
dilakukan
secara
farmakologis
dengan
analgesik

Analgesia Multimodal
PascaBedah
Opioid +
NSAID
PARASETAMOL
KETAMIN dosis rendah
Anestesi lokal perioperatif

TERAPI MULTIMODAL

Opioid
merupakan
analgetik
pilihan utama
penanganan
nyeri sedang berat

Efek Samping OPIOD


Depresi Nafas
Mengantuk
Munurunkan motilitas sal.
Cerna
Mual Muntah

Golongan : Analgetik opioid


Indikasi : Nyeri sedang berat , akut dan kronik
Efek Samping : Depresi nafas, mengantuk , mual
muntah, ketergantungan

Golongan : NSAID
Indikasi : nyeri sedang berat
Efek Samping : Waktu perdarahan meningkat,
perdarahan gastrointestinal, dispepsia, gangguan ginjal,
mual, nyeri kepala, mengatuk , palpitasi dan pruritus

Golongan : analgetik non opioid dan non slisilat


Indikasi : nyeri ringan sedang
Efek Opioid sparing : Efek analgesik yang baik dengan
meminimalkan ES opioid

Tujuan

TramadolParasetamol
1 g IV

Tramadol
Ketorolak
30 mg

NRS & Jumlah


kebutuhan
OPIOD pasca
histerektomi

Subjek dan Metode


Eksperimental
(Double Blind Randomize Control Trial)

Besar Sampel ( uji


hipotesis dua rata-rata)
Kriteria Ekslusi
Kriteria Inklusi
Pembedahan histerktomi elktif
dengan GA
ASA I II
Usia 18 60 tahun

Riw. Alergi
Kontra indikasi obat yang
digunakan pada penelitian
Sedang mendapat terapi
analgetik sebelumnya ( opiod,
NSAID, parasetamol )
Riw. Nyeri kronik
Pusing
Nyeri kepala berulang

21 orang untuk kombinasi


tramadol ketorolak
21 orang untuk kombinasi
tramadol parasetamol

Prosedur Penelitian
PRE OP
PI (parasetamol infus
1 g)
Inform Consent
Persetujuan komite
etik
Puasa 6 jam pre OP

Premed ( Lorazepam 1
mg malam harI

Randomisasi sampel

KI (ketorolak IV 30
mg )

Operasi & Post Operasi

Pasien
berbaring
terlentang

Induksi

Propofol 2 mg/kg
BB

Monitoring
KesadaraN, TD,
HR, RR, SpO2

Pemeliharaan

Fentanil 2
mikrogram/KgBB

Atrakurium 0.5
mg/KgBB

Laringoskopi
Intubasi

Isofluran

N2O :O2 50 %

Kateter IV dan
pasang cairan
infus RL
Peritoneum mulai
ditutup

Bolus IV tramadol
1 mg/KgBB

Akhir Operasi

Neostigmin dosis
0.04 0.08
mg/KgBB

KI ( ketorolak 3o
mg IV)

SA dosis 0.01
-0.04 mg/KgBB IV

PI ( Parasetamol
infus 1 g )

Ondansentron
0.05 mg/KgBB IV

Tramadol 2
mg/kgBB drip IV
selama 8 jam

Ektubasi

Dipindahkan ke
RR

Observasi 24 jam

Penilaian nyeri
pasca bedah
( menit 30, jam ke
1,2,4,6,8,16 dan 24
pasca bedah

HASIL
Karakteristik Umum subjek penelitian kedua kelompok perlakuan
0.9
0.82
0.8
0.7
0.59

0.6

0.59
0.51

0.5
0.4
0.3

0.24

0.2
0.1
0

0.06
USIA

TINGGI BADAN

BERAT BADAN

BMI

PENDIDIKAN

LAMA OPERASI

NILAI P

Nilai p > 0,05 = karakteristik pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna

Perbandingan Nilai NRS Saat Istirahat antara Kedua Kelompok


1.2
1

0.95

0.97

0.96

0.8
0.65

0.59

0.6
0.4
0.25

0.18

0.2
0

0.01
T 1/2

T1

T2

T4

T6

T8

T 16

T 24

Nilai p

Perbandingan Nilai NRS saat istrahat kedua kelompok pada menit ke 30, jam ke 1,2,4,6,8
dan 16 pasca bedah nilai p> 0,05 = tidak Berbeda bermakna pada kedua kelompok

Perbandingan Nilai NRS saat Mobilisasi antara Kedua Kelompok


0.8

0.75
0.68

0.7

NRS nilai mobilisasi , pada


jam ke 1,2,4,6,8 dan jam ke 16
tidak berbeda bermakna
p>0,05

0.6
0.5

0.46

0.4
0.33
0.3

Sedangkan

0.33
0.27

NRS nilai mobilisasi, pada


menit ke 30 dan jam ke 24
berbeda bermakna p<0,05

0.2
0.1

0.04

0.02
0

T 1/2

T1

T2

T4
Nilai p

T6

T8

T 16

T 24

Perbandingan Efek Samping antara Kedua Kelompok


Kelompok
Efek
Samping

Parasetamol
(n=21)

Ketorolak
(n=21)

Pusing

Mual

Muntah

Mengantuk

Menggigil

Nilai p

0,367

Efek Samping yang terjadi


pada Kedua kelompok
perlakuan tidak berbeda
bermakna p >0,05

PEMBAHASAN

Tujuan utama penanganan nyeri pascabedah adalah memulihkan fungsi organ


secara cepat dan juga menghindari komplikasi. Penanganan nyeri yang baik akan
mengurangi morbiditas serta komplikasi pascabedah, meningkatkan kenyamanan
dan kepuasan pasien, mobilisasi lebih dini, mempercepat penyembuhan, serta
mengurangi biaya perawatan rumah sakit.
Dalam penelitian ini, karakteristik pasien pada kedua kelompok perlakuan tidak
berbeda bermakna sehingga subjek yang diteliti homogen dan layak dibandingkan
Pemberian kombinasi analgetika tramadol parasetamol 1 gram intravena serta
tramadol ketorolak 30 mg intravena bertujuan untuk mendapatkan efek analgesi
yang maksimal. berdasar uji statistika menunjukkan hasil yang sebanding antara
kedua kelompok.

Secara keseluruhan dari delapan waktu pengukuran tidak terdapat perbedaan bermakna
terhadap pengukuran NRS, baik saat istirahat maupun saat mobilisasi antara kedua kelompok
perlakuan. Hal ini juga dikuatkan dengan suatu penilaian kebutuhan analgetik pertolongan yang
diberikan, yaitu pada 3 dari 21 orang dari kelompok tramadol parasetamol dan 1 dari 21 orang
dari kelompok tramadol ketorolak. Penilaian terhadap jumlah analgetik pertolongan secara
klinis terlihat bahwakombinasi tramadol-parasetamol mempunyai efek analgetik lebih lemah
dibanding dengan tramadol-ketorolak, namun secara statistikatidak terdapat perbedaan
bermakna antarakelompok tramadol parasetamol dan tramadolketorolak.
Penilaian NRS serta tambahan kebutuhan analgetik dikatakan sebanding antara kedua kelompok
ini, walaupun terdapat perbedaan cara kerja antara parasetamol dan ketorolak. Kelebihan
parasetamol bekerja di sentral dan perifer, sedangkan ketorolak bekerja hanya di perifer.
Namun, parasetamol tidak mempunyai efek anti-inflamasi seperti efek yang dimiliki oleh
ketorolak. Parasetamol dan juga ketorolak mempunyai efek farmakokinetik yang sama terutama
dilihat dari onset dan durasi kedua obat tersebut
Didapatkan temuan efek samping berupa pusing, mual, mengantuk, dan juga menggigil. Efek
samping ini terjadi lebih banyak pada kelompok tramadol-parasetamol 1 gram intravena bila
dibandingkan dengan kelompok tramadol- ketorolak 30 mg intravena. Namun, secara statistik
efek samping yang timbul pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna.

Kesimpulan
Pemberian kombinasi tramadol
parasetamol 1 g intravena sebanding
dengan tramadol ketorolak 30 mg
intravena terhadap nilai NRS dan
kebutuhan analgetik opioid pascabedah
histerektomi abdominal.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai