Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam suatu industri besar, tempat bahan baku, peralatan (equipment)

proses fisika, kimia maupun tempat produk pada umumnya berjauhan. Hal ini
dapat disebabkan karena peralatan tersebut mempunyai ukuran yang cukup besar.
Selain itu, pertimbangan keselamatan dan kesehatan karyawan juga tidak boleh
diabaikan. Oleh karena itu untuk pendistribusian bahan baku, peralatan proses
sampai dengan tempat penyimpanan produk diperlukan alat pengangkutan bahan
(transportasi bahan). Alat pengakutan bahan ini dapat dibagi berdasarkan fase dari
bahannya yaitu fase padat, cair dan gas. Misalnya untuk pengangkutan bahan
padat secara kontinyu digunakan konveyor (conveyor), bahan cair dengan pompa,
sedangkan untuk bahan fase gas dapat digunakan kompresor yang dihubungkan
melalui pipa-pipa.
Transportasi padatan merupakan operasi yang sangat penting di dunia
industri. Istilah yang sering digunakan yaitu conveying (pengangkutan).
Pengangkutan dari unit produksi satu ke yang lainnya dapat menggunakan alat
conveyor, elevator, alat pengangkat (crane), lift carrying truck dan carts. Suatu
proses pemindahan barang atau material merupakan proses yang memerlukan
ketepatan dan ketelitian yang memerlukan alat bantu untuk mempermudah proses
pengerjaan yaitu berupa conveyor yang berfungsi untuk menghantarkan barang
atau material dari proses satu ke proses selanjutnya.
Conveyor adalah salah satu jenis alat pengangkut yang berfungsi untuk
mengangkut bahan-bahan industri yang berbentuk padat (Hounshell, 1984).
Pemilihan mesin pemindah bahan sangat penting dalam operasional, karena
pemindahan bahan merupakan salah satu kegiatan yang memiliki persentase
cukup besar dalam kegiatan produksi. Oleh karena itu pemindahan bahan harus
dilakukan secara efektif dan efisien, salah satunya dengan pemilihan mesin dan
peralatan pemindahan bahan yang tepat. Pemilihan mesin pemindahan yang tepat
1

memerlukan pertimbangan, salah satunya faktor teknis antara lain. Jenis dan sifat
bahan yang akan ditangani, kapasitas perjam yang dibutuhkan, arah dan jarak
perpindahan, cara menyusun muatan (pada tempat asal, akhir dan antara),
karakteristik proses produksi yang terlibat dalam pemindahan muatan, kondisi
lokal yang spesifik, dan jangka waktu penggunaan alat.
1.2
1.
2.

Tujuan Penulisan
Mengetahui dan memahami karakteristik transportasi bahan padat.
Mengetahui dan memahami jenisjenis conveyor dan aplikasinya dalam
industri.

BAB II
ISI

2.1

Transportasi Bahan Padat


Tempat bahan baku, peralatan (equipment) proses fisika, kimia maupun

tempat produk pada industri saling berjauhan. Hal ini disebabkan karena peralatan
tersebut mempunyai ukuran yang cukup besar dan juga pertimbangan kesehatan
dan keselamatan kerja karyawan. Oleh karena itu, dibutuhkan alat pengangkutan
(transportasi) bahan dari proses sampai dengan tempat penyimpanan produk. Alat
pengangkutan (transportasi) bahan yang digunakan untuk mengangkut bahan
padatan ini merupakan transportasi bahan padat (Siregar, 2004).
2.2

Karakteristik Transportasi Bahan Padat


Berdasarkan prinsip pengangkutannya, alat transportasi bahan padat

dibedakan menjadi dua (Siregar, 2004), yaitu:


1.

Prinsip pengangkutan horizontal, disebut conveyor.

2.

Prinsip pengangkutan vertikal, disebut elevator.


Sedangkan

berdasarkan

sistem

atau

cara

pengangkutannya,

alat

transportasi bahan padat digolongkan menjadi 3 macam (Siregar, 2004), yaitu:


1.

Mekanis

Sistem scraper (mendorong)


Sistem carrier (mengangkut atau membawa)
2. Pneumatic (menggunakan udara)
Pressure system
Vacuum system
Pressure dan vacuum system
3. Hidrolisis (menggunakan air)
2.3

Conveyor
Salah satu jenis alat pengangkut yang sering digunakan adalah conveyor

yang berfungsi untuk mengangkut bahan-bahan industri yang berbentuk padat.


3

Pemilihan alat transportasi (conveying equipment) material padatan antara lain


tergantung pada :
1. Kapasitas material yang ditangani.
2. Jarak perpindahan material.
3. Kondisi pengangkutan : horizontal, vertikal atau inklinasi.
4. Ukuran (size), bentuk (shape) dan sifat material (properties).
5. Harga peralatan tersebut.
2.4

Jenis-jenis Conveyor
Secara umum jenis conveyor yang sering digunakan dapat diklasifikasikan

sebagai berikut :
1.
2.

3.
4.
5.

Belt Conveyor
Chain Conveyor :
Scraper Conveyor
Apron Conveyor
Bucket Conveyor
Bucket Elevator
Screw Conveyor
Pneumatic Conveyor
Gravity Conveyor

2.4.1

Belt Conveyor
Belt Conveyor pada dasarnya merupakan peralatan yang cukup sederhana.

Alat tersebut terdiri dari sabuk yang tahan terhadap pengangkutan benda padat.
Sabuk yang digunakan pada belt conveyor ini dapat dibuat dari berbagai jenis
bahan misalnya dari karet, plastik, kulit ataupun logam yang tergantung dari jenis
dan sifat bahan yang akan diangkut. Untuk mengangkut bahan-bahan yang panas,
sabuk yang digunakan terbuat dari logam yang tahan terhadap panas.
Karakteristik dan performance dari belt conveyor yaitu :
1.

Dapat beroperasi secara mendatar maupun miring dengan sudut maksimum

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

sampai dengan 18.


Sabuk disanggah oleh plat roller untuk membawa bahan.
Kapasitas tinggi.
Serba guna.
Dapat beroperasi secara kontiniu.
Kapasitas dapat diatur.
Kecepatannya sampai dengan 600 ft/m.
Dapat naik turun.
4

9.

Perawatan mudah.
Gambar 2.1 Belt Conveyor

Kelemahan -kelemahan dari belt conveyor :


1.
2.
3.

Jaraknya telah tertentu.


Biaya relatif mahal.
Sudut inklinasi terbatas.

1.
2.

Kelebihan dari belt conveyor adalah sebagai berikut :


Menurunkan biaya produksi pada saat memindahkan material.
Memberikan pemindahan yang terus menerus dalam jumlah yang tetap sesuai

a.

dengan keinginan.
Membutuhkan sedikit ruang.
Menurunkan tingkat kecelakaan saat pekerja memindahkan material.
Menurunkan polusi udara.
Kemungkinan letak kerusakan pada belt conveyor :
Pada belt akan kendor atau tidak kencang lagi bila digunakan pada beban

b.

yang berubah-ubah.
Idle drum dapat terganggu bila scraper depan kotor karena material yang

c.

diangkut berdebu atau berbatu.


Impact roller (rol penyangga utama) bila belt terkena pukulan beban atau

1.

beban yang keras.


Cara mengatasi kerusakan pada belt conveyor :
Untuk belt yang sudah kendor atau tidak kencang dapat menggunakan

3.
4.
5.

Take Up yang berfungsi untuk mengencangkan belt agar tidak kendor.


5

2.

Scraper depan diperiksa secara berkala sehingga tidak ada material masuk

3.

pada idle drum dengan belt.


Impact roller (rol penyangga utama) umumnya bagian depan sering diberi
sprocket dari karet sehingga belt bertahan lama.
Bagian-bagian belt conveyor dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.2 Bagian Belt Conveyor


Dimana :
L = jarak 2 rol bagian atas
2L = jarak 2 rol bagian bawah, return roller
Jika belt panjang, perlu dipakai training roller, kalau belt pendek tanpa
training roller tidak masalah. Pada training roller sering dipasang pemutus arus,
untuk menjaga kalau belt menerima beban maksimum, sehingga belt dapat
menyentuh training dan akibatnya arusnya terputus. Feed hopper adalah peralatan
untuk menjaga agar bahan dapat dibatasi untuk melebihi kapasitas pada waktu
inlet. Outlet chuter adalah peralatan untuk pengeluaran material. Sedangkan Idle
drum adalah drum yang mengikuti putaran drum yang lain.

Gambar 2.3 Tipe Idler dan Plate-Support Belt Conveyor


Take up adalah peralatan untuk mengatur tegangan ban agar selalu melekat
pada drum, karena semakin lama ban dipakai maka ban akan bertambah panjang.
Jika ketegangan ban tidak diatur maka ban akan menjadi kendor. Belt cleaner
adalah peralatan pembersih belt agar belt selalu dalam keadaan bersih. Belt
cleaner ini terbagi menjadi 2 macam, yaitu :
1.
2.

Semacam plat yang agak runcing (Scraper)


Semacam kawat baja yang berputar (Revolving Brush)

Prinsip kerja:
Belt conveyor dipakai untuk memindah material baik satuan atau bulk
curah, dengan putaran dari motor sebagai pengerak utama yang terhubung dengan
drum atau dulu disebut pulley. Pulley inilah yang diselubungi oleh belt yang
lebarnya sama dengan pulley tersebut. Panjang belt disesuaikan dengan kebutuhan
atau kapasitas angkut serta jarak angkut material tersebut. Jika motor dijalankan,
maka pulley akan ikut berputar seiring motor bergerak hingga belt yang
menyelubungi ikut bergerak tertarik kearah putaran drum atau pulley tersebut.
Motor head adalah pengerak utama, sedangkan tail biasanya paling ujung atau
ekor dari unit belt conveyor dimana material dipindahkan tanpa penggerak. Roller
adalah bagian dari belt conveyor yang berfungsi untuk mendukung kinerja belt
conveyor. Roller ini menopang beban belt yang membawa material diatasnya
(Handojo, 1995).

Gambar 2.4 Belt Conveyor pada Industri


2.4.2

Chain Conveyor (Konveyor Rantai)


7

Jenis-jenis chain conveyor, yaitu :


1.
2.
3.
4.

Scraper Conveyor
Apron Conveyor
Bucket Conveyor
Bucket Elevator
Keempat jenis conveyor tersebut pada dasarnya menggunakan rantai

sebagai alat bantu untuk menggerakkan material. Konveyor rantai memanfaatkan


pengaturan rantai terus menerus. Susunan rantai tersebut kemudian digerakkan
oleh sebuah motor. Banyak sektor industri menggunakan teknologi rantai
konveyor di lini produksi mereka. Industri otomotif biasanya menggunakan sistem
rantai conveyor untuk memindahkan bagian mobil.

Gambar 2.5 Chain Conveyor


1.

Scraper Conveyor
Scraper conveyor merupakan konveyor yang sederhana dan paling murah

diantara jenis -jenis conveyor lainnya. Konveyor jenis ini dapat digunakan dengan
kemiringan yang besar. Konveyor jenis ini digunakan untuk mengangkut materialmaterial ringan yang tidak mudah rusak, seperti: abu, kayu dan kepingan (Bodger,
1955).
Karakteristik dan performance dari scraper conveyor:
a)
b)
c)
d)

Dapat beroperasi dengan kemiringan sampat 45.


Mempunyai kecepatan maksimum 150 ft/m.
Kapasitas pengangkutan hingga 360 ton/jam.
Harganya murah.
Kelemahan-kelemahan pada scraper conveyor:
a) Mempunyai jarak yang pendek.
b) Tenaganya tidak konstan.
8

c) Biaya perawatan yang besar seperti service secara teratur.


d) Mengangkut beban yang ringan dan tidak tetap.

Gambar 2.6 Scraper Conveyor

Gambar 2.7 Scraper Conveyor pada Industri


2.

Apron Conveyor
Apron Conveyor digunakan untuk variasi yang lebih luas dan untuk beban

yang lebih berat dengan jarak yang pendek (Bodger, 1955). Apron conveyor terdiri
dari frame, penggerak, take-up sprocket, apron/slat, travelling roller, feed hopers,
dan discharge spout. Apron conveyor digunakan untuk memindahkan berbagai
macam muatan curah dan satuan secara horizontal maupun membentuk sudut
inklinasi. Konveyor ini secara luas digunakan di industri kimia, metalurgi,
pertambangan batu bara, industri permesinan, dan banyak industri lainnya.
9

Berbeda dengan belt conveyor, apron conveyor lebih ditujukan untuk


memindahkan material berat, bongkah besar, abrasive, dan material panas (bahan
cor, tempa, foundry sand). Apron conveyor memiliki kapasitas pemindahan besar
yaitu 2000 ton/jam atau lebih karena dilengkapi dengan papan peluncur dan rantai
penarik yang kuat.
Karakteristik dan performance dan apron conveyor :
a)
b)
c)
d)
e)

Dapat beroperasi dengan kemiringan hingga 25.


Kapasitas pengangkutan hingga 100 ton/jam.
Kecepatan maksimum 100 ft/m.
Dapat digunakan untuk bahan yang kasar, berminyak maupun yang besar.
Perawatan murah.
Kelemahan -kelemahan apron conveyor :

a)
b)
c)
d)
e)

Kecepatan yang relatif rendah.


Gerakan hanya satu arah.
Kontruksi apron dan rantai yang berat.
Pembutannya rumit dan berbiaya tinggi.
Perlu perhatian lebih untuk hinged-joint agar bisa berfungsi baik.

10

Gambar 2.8 Apron Conveyor

Gambar 2.9 Apron Conveyor pada Industri

11

3.

Bucket Conveyor
Bucket Conveyor sebenarnya merupakan bentuk yang menyerupai apron

conveyor yang dalam.


Karakteristik dan performance dari bucket conveyor:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Bucket terbuat dari baja.


Bucket digerakkan dengan rantai.
Biaya relatif murah.
Rangkaian sederhana.
Dapat digunakan untuk mengangkut bahan bentuk bongkahan.
Kecepatan sampai dengan 100 ft/m.
Kapasitas hingga 100 ton/jam.
Kelemahan-kelemahan bucket conveyor:
a) Ukuran partikel yang diangkut 2-3 in.
b) Investasi mahal.
c) Kecepatan rendah.

Gambar 2.10 Bucket Conveyor


4.

Bucket Elevator
Belt, scraper maupun apron conveyor mengangkut material dengan

kemiringan yang terbatas. Belt conveyor jarang beroperasi pada sudut yang lebih
besar dari 15-20 dan scraper jarang melebihi 30. Sedangkan terkadang
diperlukan pengangkutan material dengan kemiringan yang curam. Untuk itu
dapat digunakan Bucket Elevator. Secara umum bucket elevator terdiri dari timbatimba (bucket) yang dibawa oleh rantai atau sabuk yang bergerak. Timba -timba
(bucket) yang digunakan memiliki beberapa bentuk sesuai dengan fungsinya
masing masing (Peter, 1984).
12

Bentuk-bentuk dari timba-timba (bucket) dapat dibagi atas:


a) Minneapolis Type

Bentuk ini hampir dipakai di seluruh dunia. Biasanya digunakan untuk


mengangkut butiran dan material kering yang sudah lumat.
b) Buckets for Wet or Sticky Materials
Bucket yang lebih datar dan digunakan untuk mengangkut material yang
cenderung lengket.
c) Stamped Steel Bucket for Crushed Rock
Biasanya digunakan untuk mengangkut bongkahan-bongkahan besar dan
material yang berat.
Ketiga jenis bucket tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 2.11 Jenis-Jenis Bucket

Gambar 2.12 Bucket Elevator

2.4.3 Screw Conveyor


13

Jenis konveyor yang paling tepat untuk mengangkut bahan padat


berbentuk halus atau bubur adalah konveyor sekrup (screw conveyor). Alat ini
pada dasarnya terbuat dari pisau yang berpilin mengelilingi suatu sumbu sehingga
bentuknya mirip sekrup. Pisau berpilin ini disebut flight (Peter, 1984).
Macam-macam flight adalah:
a) Sectional flight
b) Helicoid flight
c) Special flight, terbagi:
Cast iron flight
Ribbon flight
Cut flight
Konveyor berflight section (Gambar 2.13-a) dibuat dari pisau-pisau
pendek yang disatukan (tiap pisau berpilin satu putaran penuh) dengan cara
disimpul tepat pada tiap ujung sebuah pisau dengan paku keling sehingga
akhirnya akan membentuk sebuah pilinan yang panjang.
Sebuah helicoid flight, bentuknya seperti pita panjang yang berpilin
mengelilingi suatu poros (Gambar 2.13-b). Untuk membentuk suatu konveyor,
flight-flight itu disatukan dengan cara dilas tepat pada poros yang bersesuaian
dengan pilinan berikutnya.
Flight khusus digunakan dimana suhu dan tingkat kerusakan tinggi adalah
flight cast iron. Flight-flight ini disusun sehingga membentuk sebuah konveyor
(Gambar 2.13-c).
Untuk bahan yang lengket, digunakan ribbon flight (Gambar 2.13-d).
Untuk mengaduk digunakan cut flight (Gambar 2.12-e). Flight pengaduk ini
dibuat dari flight biasa, yaitu dengan cara memotong-motong flight biasa lalu
membelokkan potongannya ke berbagai arah.
Untuk mendapatkan konveyor panjang yang lebih sederhana dan murah,
biasanya konveyor tersebut itu disusun dari konveyor-konveyor pendek. Sepasang
konveyor pendek disatukan dengan sebuah penahan yang disebut hanger dan
disesuaikan pasangan pilinannya.
Tiap konveyor pendek mempunyai standar tertentu sehingga dapat
dipasang dengan konveyor pendek lainnya, yaitu dengan cara memasukkan salah
14

satu poros sebuah konveyor ke lubang yang terdapat pada poros konveyor yang
lainnya (Gambar 2.14).

Gambar 2.13 Screw Elevator a. Sectional, b.Helicoid, c. Cast Iron, d. Ribbon, e. Cut

Gambar 2.14 Screw Conveyor Coupling


Wadah konveyor biasanya terbuat dan lempeng baja (Gambar 2.15),
Panjang sebuah wadah antara 8, 10, dan 12 ft. Tipe wadah yang paling sederhana
(Gambar 2.15-a) hanya bagian dasarnya, yang berbentuk setengah lingkaran dan
terbuat dari baja, sedangkan sisi-sisi lurus lainnya terbuat dari kayu.
Untuk mendapatkan sebuah wadah yang panjang, wadah-wadah pendek
disusun sehingga sesuai dengan panjang konveyor. Gambar 2.15-b menunjukkan
wadah yang lebih rumit dan konstruksinya semuanya terbuat dari besi.

15

Gambar 2.15 Wadah Screw Conveyor


Perlu

diketahui

bahwa

poros

konveyor

harus

digantung

pada

persambungan yang tetap sejajar. Dua buah persambungan dibuat pada ujung
wadah, dan sepanjang wadah harus tetap ada hanger atau penahan, Biasanya ada
sebuah hanger untuk tiap bagian.
Gambar 2.16 menunjukkan beberapa tipe hanger. Gambar 2.16-a
menunjukkan tipe paling sederhana dan paling murah. Gambar 2.16-b
menunjukkan tipe yang mempunyai persambungan terpisah dan ditempatkan di
wadah baja. Bentuk yang lebih rumit mempunyai persambungan yang dapat
disetel dan juga dengan cara meminyaki yang lebih baik.
Jika bahan yang diangkut konveyor bersentuhan dengan persambungan
hanger, seringkali minyak atau pelumas tidak dapat dipakai karena akan
mencemari bahan tersebut, dan wadah kayu akan basah oleh minyak. Oleh karena
itu, wadah dalam hanger dibuat dari besi putih cor (Gambar 2.16-c) sehingga
tempat bergerak dapat digunakan walaupun tanpa pelumas.

16

Gambar 2.16 Screw Conveyor


Ujung dari wadah konveyor disebut box ends. Umumnya box ends awal
berbeda konstruksinya dengan box ends akhir. Box ends awal memiliki roda gigi
(gears) bevel untuk memutar poros konveyor.

Gambar 2.17 Screw Conveyor Box End


Screw conveyor digunakan untuk memindahkan material kecil seperti
butiran, aspal, batubara, abu, kerikil dan pasir. Tipe khusus yaitu ribbon conveyor
dimana tidak ada pusat helical fin, cocok digunakan untuk lem, cairan kental
seperti molasses, tar panas dan gula. Screw conveyor banyak dipakai pada indutri
seperti:
a) Industri kimia seperti titanium dioxide, carbon black, calcium carbonate,
powdered lime, rubber, detergent powder, sulphur dan lain-lain.

17

b) Makanan seperti cake mixes, soup mixes, gravy mixes, cocoa powder, keju,
permen, susu bubuk, frozen or raw vegetables, fruits dan nuts.
c) Kosmetik dan obat-obatan seperti bedak, titanium dioxide, zinc oxide, clay
dan calcium carbonate.
Prinsip kerja :
Alat ini terdiri dari baja yang memiliki spiral atau helical fin yang
tertancap pada shaft dan berputar dalam suatu saluran berbentuk U (through)
tanpa menyentuhnya sehingga helical fin mendorong material ke through. Shaft
digerakkan oleh motor gear. Conveyor dibuat dengan ukuran panjang 8-12 ft yang
dapat bersatu untuk memperoleh panjang tertentu. Diameternya bervariasi dari 3
sampai 24 in.
Saluran (through) berbentuk setengah lingkaran dan disangga oleh kayu
atau baja. Pada akhir ulir biasanya dibuat lubang untuk penempatan as dan drive
end yang kemudian dihubungkan dengan alat penggerak.
Elemen screw conveyor disebut flight. Bentuknya helical atau dengan
modifikasi tertentu. Untuk helicoids flight bentuknya berupa pita memanjang dan
dengan alat penyangga pada masing-masing belitan dan berakhir pada as sentral.
Screw conveyor memerlukan sedikit ruangan dan tidak membutuhkan
mekanik serta membutuhkan biaya yang sedikit. Material bercampur saat
melewati conveyor. Pada umumnya screw conveyor dipakai untuk mengangkut
bahan secara horizontal. Namun bila diinginkan dengan elevasi tertentu bisa juga
dipakai dengan mengalami penurunan kapasitas 25-45% dari kapasitas
horisontalnya. Elevasi 10 terjadi penurunan kapasitas 15%, elevasi 15 terjadi
penurunan kapasitas 20% dan elevasi 20 terjadi penurunan kapasitas 40%.

18

Gambar 2.18 Screw Conveyor pada Industri


Kelebihan Screw Conveyor :
Screw conveyor mudah dalam hal perencanaan, maintenance, dimensi
kecil dan dapat mengeluarkan material pada titik yang dikehendaki. Ini penting
untuk material yang berdebu (dusty), material panas, material yang bau, dan
menjijikkan (obnoxious odour). Gesekan antara material terhadap screw dan
through dapat mengakibatkan konsumsi daya yang tinggi, maka screw conveyor
digunakan untuk kapasitas rendah sampai sedang (sampai 100 m3/jam) dan
panjang biasanya 30 sampai 40 meter.
Kekurangan Screw Conveyor :
Penerapan Screw conveyor terbatas karena material yang dapat
dipindahkan dengan sempurna tidaklah banyak. Screw conveyor tidak dapat
digunakan untuk bongkahan besar (large-lumped), mudah hancur (easilycrushed), abrasive, dan material mudah menempel (sticking materials). Beban
berlebih akan mengakibatkan kemacetan (bottleneck) dekat intermediate bearing,
merusak poros sehingga screw berhenti bekerja.

2.4.4 Pneumatic Conveyor

19

Konveyor yang digunakan unluk mengangkut bahan yang ringan atau


berbentuk bongkahan kecil adalah konveyor aliran udara (pneumatic conveyor).
Pada jenis konveyor ini bahan dalam bentuk suspensi diangkut oleh aliran udara.
Prinsip Kerja
Sebuah pompa cycloida akan menghasilkan kehampaan yang sedang dan
sedotannya dihubungkan dengan sistem pengangkutan. Bahan-bahan akan
terhisap naik melalui selang yang dapat dipindah-pindahkan ujungnya. Kemudian
aliran udara yang mengangkut bahan padat dalam bentuk suspensi akan menuju
siklon dan selanjutnya menuju ke pompa. Jika bahan-bahan ini mengandung debu,
debu ini tentunya akan merusak pompa dan debu ini juga akan membahayakan
jika dibuang ke udara, dengan kata lain debu adalah produk yang tidak diinginkan.
Oleh sebab itu sebuah kotak penyaring ditempatkan diantara siklon dan pompa.
Alat-alat yang banyak digunakan pada konveyor ini antara lain:
a) Sebuah pompa atau kipas angin untuk menghasilkan aliran udara.
b) Sebuah cyclone untuk memisahkan partikel-partikel besar.
c) Sebuah kotak penyaring (bag filter) untuk menyaring debu.
Konveyor ini juga dapat dipakai untuk mengangkut bahan-bahan yang
berbentuk bongkahan kecil seperti chip kayu, bit pulp kering, dan bahan lainnya
yang sejenis. Kadang-kadang juga digunakan bila jalan yang dilalui bahan
berkelok-kelok atau jika bahan harus diangkat dan lain-lain hal yang pada tipe
konveyor lainnya menyebabkan biaya pengoperasian lebih tinggi.
Kerugian menggunakan jenis konveyor ini adalah pemakaian energinya
lebih besar dibanding jenis konveyor lainnya untuk jumlah pengangkutan yang
sama. Perhitungan-perhitungan pada konveyor pneumatik sama sekali empiris dan
memuat faktor-faktor yang tidak terdapat di luar data-data peralatan pabrik.

20

Gambar 2.19 Bagian Penumatic Conveyor

Gambar 2.20 Penumatic Conveyor

21

Gambar 2.21 Bagian-Bagian Pneumatic Conveyor


Tabel 2.1 Pneumatic Conveyor

22

2.4.5 Gravity Conveyor


Gravity conveyor adalah jenis peralatan material handling yang tidak
bermotor dan menggunakan gaya gravitasi atau momentum untuk membantu
dalam pergerakan produk, paket, makanan atau peralatan dari satu tempat ke
tempat lain, atau melalui berbagai tahapan manufaktur otomatis atau finishing.
Gravity conveyor lebih murah dibanding dengan konveyor bermotor (powered
conveyor), gravity conveyor menggunakan tekanan minimum saat bekerja
sehingga dapat mudah dipindahkan (portable) dan ringan. Industri yang cocok
untuk menggunakan gravity conveyor antara lain pengemasan, industri
manufaktur, farmasi, otomotif, dirgantara dan banyak bagian fabrikasi (Cook,
1985).
Gravity conveyor dapat bekerja sendiri ataupun digabungkan dengan
sistem conveyor lainnya. Gravity conveyor menggunakan gaya gravitasi untuk
mendapatkan momentum dengan menempatkan salah satu ujung konveyor pada
tempat yang lebih tinggi, sehingga produk yang diletakkan diatas conveyor dapat
bergerak tanpa menggunakan motor listrik. Gravity konveyor memiliki dua jenis
utama yaitu Gravity roller Conveyor dan Gravity Wheel Conveyor.

Gambar 2.22 Konveyor Roda


Dalam penggunaannya, rol atau roda dimasukkan ke dalam suatu
batang/rangka (frame spacer) yang kemudian disatukan dalam satu badan
(channel frame) seperti pada gambar berikut:

23

Gambar 2.23 Susunan Frame spacer dan Chaneel Spacer


Frame dapat dibuat dengan bahan baja atau aluminium. Penyusunan
frame spacer pada channel frame dapat dilakukan dengan jarak yang berbeda.
Tetapi jumlah minimal rol/roda harus memenuhi, sehingga bahan yang
dipindahkan dapat bergerak sempurna mengikuti putaran rol/roda.
1.

Konveyor Rol (Gravity Roller Conveyor)


Prinsip Kerja :
Gravity Roller Conveyor memindahkan produk horizontal di sepanjang

lintasan yang berisi serangkaian rol yang ditempatkan tegak lurus terhadap arah
perjalanan dan dibantu bantalan dan poros. Karena konveyor rol didorong oleh
gravitasi, produk dapat bebas bergerak secara manual (horizontal) atau produk
dapat dibiarkan jatuh jarak tertentu dengan penurunan sedikit. Konveyor Rol
dapat dipakai untuk memindahkan bahan yang permukaan bagian bawahnya rata
seperti kardus dan pallet ataupun yang permukaan bawahnya tidak rata seperti
drum, kaleng, bongkahan, dan lain-lain (Cook, 1985).
Bagian-bagian utama Konveyor Rol antara lain rol, frame, channel frame,
hook/butt couplings dan shoulder bolt (bahu baut). Bagian-bagian tersebut dapat
dilihat pada gambar berikut :

24

Gambar 2.24 Bagian-Bagian Konveyor Rol


Pemasangan rol harus minimal 3 rol yang berada dibawah bahan yang
diangkut, jika tidak, bahan akan bergerak tidak sempurna dan menimbulkan
kerusakan pada bahan yang diangkut, seperti dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2.25 Pemasangan Rol


Konveyor rol memiliki kelebihan antara lain :
a) Relatif murah dibandingkan konveyor lain yang menggunakan motor.
b) Konstruksinya sederhana.
c) Ringan, fleksibel dan mudah dipindahkan.
d) Dapat beroperasi dengan kemiringan hingga 45.
e) Dapat digunakan untuk bahan yang berukuran besar dan berat.
f) Dapat digunakan untuk mengangkut bahan yang bagian bawahnya tidak
rata.
g) Kapasitas pengangkutan yang besar.

25

Selain memiliki banyak kelebihan, konveyor rol ini juga memiliki


beberapa kekurangan, antara lain :
a) Biaya perawatan tinggi.
b) Hanya dapat digunakan untuk 1 arah gerakan.
2.

Konveyor Roda (Gravity Wheel Conveyor)


Prinsip Kerja :
Gravity wheel conveyor, atau konveyor roda, sangat mirip dengan gravity

roller conveyor. Perbedaannya terletak pada lintasannya yang bukan rol


melainkan roda. Konveyor roda memungkinkan untuk dijalankan dengan sudut
kemiringan lebih kecil dari roller konveyor. Sehingga, mereka umumnya
digunakan untuk aplikasi beban yang lebih ringan.
Konveyor roda hanya dapat digunakan untuk memindahkan bahan yang
permukaan bawahnya rata, seperti kardus, pallet, kayu lapis, kotak jinjing,
nampan, dan lain-lain. Konstruksi alatnya juga sederhana dan lebih ringan dari
pada konveyor rol sehingga mudah dipindahkan, fleksibel serta perawatan mesin
lebih mudah.
Bagian-bagian utama Konveyor Roda (Gravity Roller Conveyor) tidak
jauh berbeda dengan konveyor rol antara lain roda, frame dan channel frame.
Bagian-bagian tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2.26 Bagian-Bagian Konveyor Roda

26

Kelebihan :
a) Relatif murah dibandingkan konveyor lain yang menggunakan motor.
b) Konstruksinya sederhana.
c) Lebih ringan, fleksibel dan mudah dipindahkan.
d) Dapat beroperasi dengan kemiringan hingga 45.
e) Kapasitas pengangkutan yang besar.
Kekurangan :
a) Biaya perawatan tinggi.
b) Hanya dapat digunakan untuk 1 arah gerakan.
c) Tidak dapat digunakan untuk barang yang permukaan bawahnya tidak rata.

BAB III
27

KESIMPULAN

Pemilihan alat angkut (konveyor) didasarkan pada sifat-sifat bahan yang


akan diangkut. Selain itu, hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah jarak
angkut, kemiringan atau perbedaan ketinggian dari posisi bahan yang hendak
diangkut. jumlah bahan yang hendak diangkut dan kecepatan pengangkutan yang
diperlukan.
Untuk pengangkutan bahan yang tidak berhamburan serta yang volumenya
cukup besar, maka digunakan alat pangangkut sabuk (belt). Alat angkut sekrup
digunakan untuk mengangkut bahan dalam wadah yang tertutup dan jarak
angkutnya dekat. Sedangkan pengangkutan yang membutulkan kecepatan aliran
dan aliran yang tujuannya berbagai arah digunakan konveyor pneumatik yang
mengalir dengan menggunakan tekanan.
Pemilihan alat yang digunakan untuk mengangkut material yang sedikit
basah atau lembab lebih sukar dibandingkan dengan pemilihan alat yang
digunakan untuk mengangkut material yang halus serta kering, karena material
yang lembab bisa melekat pada alat angkut sehingga dapat mengganggu proses
pengangkutan.

28