Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

KIMIA ANALISIS KHUSUS

ANALISIS BOD (BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND) DAN COD


(CHEMICAL OXYGEN DEMAND) DENGAN CARA WINKLER

DISUSUN OLEH :
FAUZIAH NUR USFA

H311 13 326

SRI MAGFIRAH HS

H311 13 327

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta taufik dan hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul Analisis
BOD (biological oxygen demand) dan COD (chemical oxygen demand) dengan
Cara Winkler. Makalah ini kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Kimia Organik Bahan Alam Laut.
Ucapan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya. Ucapan terima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari tidak ada manusia yang sempurna. Penyusunan
makalah ini masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dari para pembaca
untuk perbaikan dimasa yang akan datang. Akhir kata, penulis mohon maaf
apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 8 April 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................

ii

DAFTAR ISI................................................................................................

iii

BAB I. PENDAHULUAN .........................................................................

1.1 Latar Belakang.........................................................................


..........................................................................................................

1.2 Tujuan.......................................................................................

1.3 Batasan Masalah.......................................................................

1.4 Metode Penulisan.....................................................................

BAB II.TINJAUAN PUSTAKA..................................................................

2.1 Biological Oxygen Demand (BOD).........................................

2.2 Chemical Oxygen Demand (COD)...........................................

2.3 Metode Titrasi dengan Cara Winkler.......................................

2.4 Metode Pengukuran BOD dan COD........................................

BAB III.METODE ANALISIS....................................................................

19

3.1 Prosedur Analisa BOD.............................................................

19

3.2 Prosedur Analisa COD.............................................................

23

BAB IV. PENUTUP


4.1 Kesimpulan..............................................................................

25

4.2 Saran.........................................................................................

25

DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Kehidupan mikroorganisme, seperti ikan dan hewan air lainnya,
tidak terlepas dari kandungan oksigen yang terlarut di dalam air, tidak
berbeda dengan manusia dan mahluk hidup lainnya yang ada di darat, yang
juga memerlukan oksigen dari udara agar tetap dapat bertahan. Air yang
tidak mengandung oksigen tidak dapat memberikan kehidupan bagi mikro
organisme, ikan dan hewan air lainnya. Oksigen yang terlarut di dalam air
sangat penting artinya bagi kehidupan. Untuk memenuhi kehidupannya,
manusia tidak hanya tergantung pada makanan yang berasal dari daratan
saja (beras, gandum, sayuran, buah, daging, dll), akan tetapi juga tergantung
pada makanan yang berasal dari air (ikan, kerang, cumi-cumi, rumput laut,
dll).
Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari,
melakukan fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Oksigen yang
dihasilkan dari fotosintesis ini akan larut di dalam air. Selain dari itu,
oksigen yang ada di udara dapat juga masuk ke dalam air melalui proses
difusi yag secara lambat menembus permukaan air. Konsentrasi oksigen
yang terlarut di dalam air tergantung pada tingkat kejenuhan air itu sendiri.
Kejenuhan air dapat disebabkan oleh koloidal yang melayang di dalam air
oleh jumlah larutan limbah yang terlarut di dalam air. Selain dari itu suhu
air juga mempengaruhi konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air.

Tekanan udara dapat pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air.


Tekanan udara dapat pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air
karena tekanan udara mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke
dalam air.
Kemajuan industri dan teknologi seringkali berdampak pula
terhadap keadaan air lingkungan, baik air sungai, air laut, air danau maupun
air tanah. Dampak ini disebabkan oleh adanya pencemaran air yang
disebabkan oleh berbagai hal seperti yang telah diuraikan di muka. Salah
satu cara untuk menilai seberapa jauh air lingkungan telah tercemar adalah
dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air.
Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan
oksigennya sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air
diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan
organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai
dengan bau busuk). Selain dari itu, bahan buangan organik juga dapat
bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di
dalam air, makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya.
Bahan buangan organik biasanya berasal dari industri kertas, industri
penyamakan kulit, industri pengolahan bahan makanan (seperti industri
pemotongan daging, industri pengalengan ikan, industri pembekuan udang,
industri roti, industri susu, industri keju dan mentega), bahan buangan
limbah rumah tangga, bahan buangan limbah pertanian, kotoran hewan dan
kotoran manusia dan lain sebagainya.

Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air dapat


ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan telah terjadi.
Cara yang ditempuh untuk maksud tersebut adalah dengan uji BOD dan
COD. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengertian COD dan
BOD serta bagaimana metode pengukuran dan fungsi COD dan BOD
sebagai parameter dalam perairan terutama dalam menentukan kualitas air
serta pencemaran yang terjadi.
1.2.

Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu mengetahui dan memahami
analisis Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand
(COD).

1.3.

Batasan Masalah
Batasan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah
mengenai pengertian serta analisis Biological Oxygen Demand (BOD) dan
Chemical Oxygen Demand (COD).

1.4.

Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang penulis gunakan adalah metode
kepustakaan. Yaitu diambil dari literatur-literatur dari internet yang relevan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Biological Oxygen Demand (BOD)


BOD merupakan parameter yang umum dipakai untuk menentukan
tingkat pencemaran bahan organik pada air limbah. BOD yaitu banyaknya
oksigen yang dibutuhkan bakteri aerobik untuk menguraikan bahan organi
di dalam air melalui proses oksidasi biologis (biasanya dihitung selam
waktu 5 hari pada suhu 20 0C). Semakin tinggi nilai BOD di dalam air
limbah, semakin tinggi pula tingkat pencemaran yang ditimbulkan.
Biological Oxygen Demand (BOD) adalah suatu analisis empiris
yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benarbenar terjadi di dalam air. Angka BOD adalah jumlah oksigen yang
dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir
semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat organis yang tersuspensi
dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban
pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk
mendisain sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut.
Penguraian zat organis adalah peristiwa alamiah. Apabila sesuatu badan air
dicemari oleh zat organis, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut
dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan
kematian ikan. Keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau
busuk pada air.

Pemeriksaan BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organis


dengan oksigen di dalam air, dan proses tersebut berlangsung karena adanya
bakteri aerob. Sebagai hasil oksidasi akan terbentuk karbon dioksida, air
dan Reaksi oksidasi dapat dituliskan sebagai berikut:
CnHaObNc + ( n + a/4 b/2 3c/4 ) O 2 nCO2 + ( a/2 3c/2 ) +
H2O + cNH3
Atas dasar reaksi tersebut, yang memerlukan kira-kira 2 hari
dimana 50% reaksi telah tercapai, 5 hari supaya 75 % dan 20 hari supaya
100% tercapai maka pemeriksaan BOD dapat dipergunakan untuk menaksir
beban pencemaran zat organis.
BOD merupakan salah satu indikator yang menyatakan dampak
biologis dari jasad organik yang hidup di air, dan merupakan salah satu
parameter kualitas air. Kajian mengenai parameter kualitas air telah banyak
dilakukan, namun untuk parameter BOD belum banyak studi yang
dilakukan khususnya menggunakan data citra Landsat. Model perhitungan
BOD ini dikembangkan dari model perhitungan parameter kualitas air
antara lain, dari pengertian dasar tentang kelarutan oksigen di air yang
bergantung pada temperatur.

2.2.

Chemical Oxygen Demand (COD)


COD juga merupakan parameter yang umum dipakai untuk
menentukan tingkat pencemaran bahan organik pada air limbah. COD
adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi secara

kimia bahan organik di dalam air. Uji COD dapat dilakukan lebih cepat dari
pada uji BOD, karena waktu yang diperlukan hanya sekitar 2 jam.
Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia
(KOK) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi zat zat organis yang ada dalam 1 liter sampel air. Angka
COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat zat organis yang
secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mokrobiologis, dan
mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air.
Oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terkandung
didalam air dan diukur dalam satuan ppm. Oksigen yang terlarut ini
dipergunakan sebagai tanda derajat pengotor air baku. Semakin besar
oksigen yang terlarut, maka menunjukkan derajat pengotoran yang relatif
kecil.

Rendahnya nilai oksigen terlarut berarti beban pencemaran

meningkat sehingga koagulan yang bekerja untuk mengendapkan koloida


harus bereaksi dahulu dengan polutan polutan dalam air menyebabkan
konsusmsi bertambah.
Chemical Oxygen Demand (COD) yaitu jumlah oksigen (mg O2)
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam
sampel air dimana peoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen
(oxidizing agent). Angka yang ditunjukkan COD merupakan ukuran bagi
pencemaran air dari zat-zat organik yang secara alamiah dapat
mengoksidasi melalui proses mikrobiologis dan dapat juga mengakibatkan
berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Sebagian besar zat organis melalui

tes COD ini dioksidasi oleh larutan K 2Cr2O7 dalam keadaan asam yang
mendidih. Adapun reaksi yang terjadi:
CaHbOc

Cr2O72-

H+

CO2

H2O

Cr3+

Zat organis Ag2SO4 warna hijau.


Perak Sulfat Ag2SO4 ditambahkan sebagai katalisator untuk
mempercapat reaksi. Sedangkan merkuri sulfat ditambahkan untuk
menghilangkan gangguan klorida yang umumnya terdapat di dalam air
buangan. Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organis hampir
teroksidasi maka zat pengoksidasi K2Cr2O7 yang sesudah direfluks masih
harus tersisa. K2Cr2O7 yang tersisa dalam larutan tersebut digunakan untuk
menentukan berapa oksigen yang telah terpakai. Sisa K 2Cr2O7 tersebut
ditentukan melalui titrasi dengan-+ ferro amonium sulfat (FAS). Indikator
ferroin yang digunakan akhir titrasi yitu saat warna hijau biru larutan
menjadi coklat merah.
Analisis COD berbeda dengan analisa BOD, namun perbandingan
antar angka COD dengan angka BOD dapat ditentukan, seperti pada tabel :
Tabel 2.1 Perbandingan Rata Rata Angka BOD5/COD Untuk
Beberapa Jenis Air
Jenis Air

BOD5/COD

Air buangan domestik(penduduk)


Air buangan domestik setelah pengendapan
primer
Air buangan setelah pengolahan secara
biologis
Air sungai

0,40 0,60
0,60
0,20
0,10

Dalam analisa COD, kadar klorida (Cl -) sampai 2000 mg/l di dalam
sampel dapat menjadi gangguan karena dapat menjadi ganguan karena
dapat mengganggu kerjanya kualitas Ag2SO4, dan pada keadaan tertentu
turut

teroksidasi

oleh

dikromat,

sesuai

dengan

reaksi

berikut:

6 Cl- + Cr2O72- + 14 H+ 3 Cl2 + 2 Cr3+ + 7H2O. Gangguan ini dapat


dihilangkan dengan penambahan HgSO4 pada sample.
Adapun keuntungan dengan penambahan tes COD dibandingkan
tes BOD5, antara lain:
-

Memakan waktu 3 jam, sedangkan BOD5 memakan waktu 5 hari;

Untuk menganalisa COD antara 50 800 mg/l, tidak dibutuhkan


pengenceran

sampel,

sedangkan

BOD5

selalu

membutuhkan

pengenceran;
-

Ketelitan dan ketepatan (reprodicibilty) tes COD adalah 2 sampai 3 kali


lebih tinggi dari tes BOD5;

Gangguan zat yang bersifat racun tidak menjadi masalah.


Sedangkan kekurangan dari tes COD adalah tidak dapat

membedakan antara zat yang sebenarnya yang tidak teroksidasi (inert) dan
zat-zat yang teroksidasi secara biologis. Hal ini disebabkan karena tes COD
merupakan suatu analisa yang menggunakan suatu oksidasi kimia yang
menirukan oksidasi biologis, sehingga suatu pendekatan saja. Untuk tingkat
ketelitian pinyimpangan baku antara laboratorium adalah 13 mg/l.
Sedangkan penyimpangan maksimum dari hasil analisa dalam suatu
laboratorium sebesar 5% masih diperkenankan.
Chemical Oxygen Demand (COD) dapat dihitung sebagai berikut :

COD sebagai mg O2 = (A B)N x 8000 . Dimana :


A = ml FAS untuk blanko.
B = ml FAS untuk sampel
N = normalitas FAS
2.3

Metode Titrasi Dengan Cara Winkler


Metode titrasi dengan cara Winkler secara umum banyak digunakan
untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya oksigen didalam
sampel akan mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan ke dalam larutan pada
keadaan alkalis, sehingga terjadi endapan MnO2. Dengan penambahan asam
sulfat dan kaliun iodida maka akan dibebaskan iodin yang ekuivalen dengan
oksigen terlarut. Iodin yang dibebaskan tersebut kemudian dianalisa dengan
metode titrasi iodometris yaitu dengan larutan standard tiosulfat dengan
indikator kanji.
Berikut ini reaksi dalam metoda Titrasi Winkler yaitu :
MnSO4 + 2 KOH

Mn(OH)2 + K2SO4

Mn(OH)2 + O2

MnO2 + H2O

MnO2 + KI + 2 H2O
I2 + 2 S2O32-

Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
S4O6- + 2 I-

Metoda tersebut dapat digunakan untuk sampel air sungai dan air buangan.
(Alaerts, 1987).
2.4 Metode pengukuran BOD dan COD
Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu
mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel segera

setelah pengambilan contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen


terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi
gelap dan suhu tetap (20 oC) yang sering disebut dengan DO5. Selisih DOi
dan DO5 (DOi - DO5) merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam
miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen dapat dilakukan
secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler, iodometri) atau dengan
menggunakan alat yang disebut DO meter yang dilengkapi dengan probe
khusus.
Jadi pada prinsipnya dalam kondisi gelap, agar tidak terjadi proses
fotosintesis yang menghasilkan oksigen, dan dalam suhu yang tetap
selama lima hari, diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh
mikroorganime, sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan
oksigen tersisa ditera sebagai DO5. Yang penting diperhatikan dalam hal
ini adalah mengupayakan agar masih ada oksigen tersisa pada pengamatan
hari kelima sehingga DO5 tidak nol. Bila DO5 nol maka nilai BOD tidak
dapat ditentukan. Pada prakteknya, pengukuran BOD memerlukan
kecermatan tertentu mengingat kondisi sampel atau perairan yang sangat
bervariasi, sehingga kemungkinan diperlukan penetralan pH, pengenceran,
aerasi, atau penambahan populasi bakteri. Pengenceran dan/atau aerasi
diperlukan agar masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima. Secara rinci
metode pengukuran BOD diuraikan dalam APHA (1989), Umaly dan
Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991) atau referensi mengenai analisis air
lainnya.

10

Karena melibatkan mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai


bahan organik, maka analisis BOD memang cukup memerlukan waktu.
Oksidasi biokimia adalah proses yang lambat. Dalam waktu 20 hari,
oksidasi bahan organic karbon mencapai 95 99 %, dan dalam waktu 5
hari sekitar 60 70 % bahan organik telah terdekomposisi (Metcalf &
Eddy, 1991). Lima hari inkubasi adalah kesepakatan umum dalam
penentuan BOD. Bisa saja BOD ditentukan dengan menggunakan waktu
inkubasi yang berbeda, asalkan dengan menyebut4 kan lama waktu
tersebut dalam nilai yang dilaporkan (misal BOD7, BOD10) agar tidak
salah dalam interpretasi atau memperbandingkan. Temperatur 20 oC dalam
inkubasi juga merupakan temperatur standard. Temperatur 20 oC adalah
nilai rata rata temperatur sungai beraliran lambat di daerah beriklim
sedang (Metcalf & Eddy, 1991) dimana teori BOD ini berasal. Untuk
daerah tropic seperti Indonesia, bisa jadi temperatur inkubasi ini tidaklah
tepat. Temperatur perairan tropic umumnya berkisar antara 25 30 oC,
dengan temperature inkubasi yang relatif lebih rendah bisa jadi aktivitas
bakteri pengurai juga lebih rendah dan tidak optimal sebagaimana yang
diharapkan. Ini adalah salah satu kelemahan lain BOD selain waktu
penentuan yang lama tersebut.
Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks, karena
menggunakan

peralatan

khusus

reflux,

penggunaan

asam

pekat,

pemanasan, dan titrasi (APHA, 1989, Umaly dan Cuvin, 1988). Peralatan
reflux diperlukan untuk menghindari berkurangnya air sampel karena
pemanasan. Pada prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan

11

sejumlah tertentu kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai oksidator pada


sampel (dengan volume diketahui) yang telah ditambahkan asam pekat dan
katalis perak sulfat, kemudian dipanaskan selama beberapa waktu.
Selanjutnya, kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan
demikian kalium bikromat yang terpakai untuk oksidasi bahan organik
dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat ditentukan.
Kelemahannya, senyawa kompleks anorganik yang ada di perairan yang
dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi (De Santo, 1978), sehingga dalam
kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit over estimate untuk
gambaran kandungan bahan organik. Bilamana nilai BOD baru dapat
diketahui setelah waktu inkubasi lima hari, maka nilai COD dapat segera
diketahui setelah satu atau dua jam. Walaupun jumlah total bahan organik
dapat diketahui melalui COD dengan waktu penentuan yang lebih cepat,
nilai BOD masih tetap diperlukan. Dengan mengetahui nilai BOD, akan
diketahui

proporsi

jumlah

bahan

organik

yang

mudah

urai

(biodegradable), dan ini akan memberikan gambaran jumlah oksigen yang


akan terpakai untuk dekomposisi di perairan dalam sepekan (lima 5 hari)
mendatang. Lalu dengan memperbandingkan nilai BOD terhadap COD
juga akan diketahui seberapa besar jumlah bahan-bahan organik yang lebih
persisten yang ada di perairan.

12

Peralatan reflux untuk pengukuran COD (sumber: Boyd, 1979)

BOD dan COD Dalam Menentukan Kualitas Air


Untuk menentukan tingkat penurunan kualitas air dapat dilihat dari
penurunan kadar oksigen terlatut (OT) sebagai akibat masuknya bahan
organik dari luar, umumnya digunakan uji BOD dan atau COD. Salah satu
cara untuk mengetahui seberapa jauh beban cemaran pada air limbah adalah
dengan mengukur COD (Chemical Oxygen Demand). Semakin tinggi nilai
COD, berarti semakin tinggi pula beban cemaran yang ada pada limbah cair

13

tersebut (Masturi, 1997). Apabila kandungan zat-zat organik dalam limbah


tinggi, maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan untuk mendegradasi
zat-zat organik tersebut, sehingga nilai BOD dan COD limbah akan tinggi
pula. Oleh karena itu untuk menurunkan nilai BOD dan COD limbah, perlu
dilakukan pengurangan zat-zat organik yang terkandung di dalam limbah
sebelum dibuang ke perairan.
Biological Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis
(KOB) menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh
mikroorganisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan organik
dalam air. Oleh karena itu, nilai BOD bukanlah merupakan nilai yang
menujukkan jumlah atau kadar bahan organik dalam air, tetapi mengukur
secara relative jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
mengoksidasi atau menguraikan bahan-bahan organik tersebut. BOD tinggi
menunjukkan bahwa jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme
untuk mengoksidasi bahan organik dalam air tersebut tinggi, berarti dalam
air sudah terjadi defisit oksigen. Banyaknya mikroorganisme yang tumbuh
dalam air disebabkan banyaknya makanan yang tersedia (bahan organik),
oleh karena itu secara tidak langsung BOD selalu dikaitkan dengan kadar
bahan organik dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan
beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem
pengolahan secara biologis (G. Alerts dan SS Santika, 1987).
BOD5 merupakan penentuan kadar BOD baku yaitu pengukuran
jumlah

oksigen

yang

dihabiskan

dalam

waktu

lima

hari

oleh

mikroorganisme pengurai secara aerobic dalam suatu volume air pada suhu

14

20 derajat Celcius. BOD5 500mg/liter (atau ppm) berarti 500 mgram


oksigen akan dihabiskan oleh mikroorganisme dalam satu liter contoh air
selama waktu lima hari pada suhu 20 derajat Celcius.
Beberapa dasar yang sering digunakan untuk menentukan kualitas
air dilihat dari kadar BOD erat kaitannya dengan BOD adalah COD. COD
adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zatzat organis yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasi
K2,Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) (G. Alerts
dan SS Santika, 1987).
Dalam bahan buangan, tidak semua bahan kimia organik dapat
diuraikan oleh mikroorganisme secara cepat.
Bahan organik dalam air bersifat:
Dapat diuraikan oleh bakteri (biodegradasi) dalam waktu lima hari
Bahan organik yang tidak teruraikan oleh bakteri dalam waktu lima hari
Bahan organik yang tidak mengalami biodegradasi
Uji COD ini meliputi semua bahan organik di atas, baik yang dapat
diuraikan oleh mikroorganisme maupun yang tidak dapat diuraikan. Oleh
karena itu hasil uji COD akan lebih tinggi dari hasil uji BOD.
Parameter lainnya yang digunakan untuk mengukur kadar bahan
paencemar antara lain :
TSS (Total Suspended Solid)
TSS adalah jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada
dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membrane berukuran
0,45 mikron (Sugiharto, 1987). Penentuan zat padat tersuspensi (TSS)

15

berguna untuk mengetahui ke kuatan pencemaran air limbah domestik, dan


juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air (BAPPEDA,
1997).
MPN Coliform
Untuk mengetahui jumlah Coliform didalam contoh biasanya
digunakan metode MPN (Most Probable Number) dengan cara fermentasi
tabung ganda. Metode ini lebih baik bila dibandingkan dengan metode
hitungan cawan karena lebih sensitif dan dapat mendeteksi Coliform dalam
jumlah yang sangat rendah di dalam contoh.
Prosedur Pemeriksaan BOD, COD, TSS, MPN Coliform adalah
sebagi berikut:
Pemeriksaan Biological Oxygen Demand (BOD)
Menggunakan metode pemeriksaan Winkler (Titrasi di Laboratorium).
Prinsip analisis :
Pemeriksaan parameter BOD didasarkan pada reaksi oksidasi zat organik
dengan oksigen di dalam air dan proses tersebut berlangsung karena adanya
bakteri aerobik. Untuk menguraikan zat organik memerlukan waktu 2 hari
untuk 50% reaksi, 5 hari untuk 75% reaksi tercapai dan 20 hari untuk 100%
reaksi tercapai. Dengan kata lain tes BOD berlaku sebagai simulasi proses
biologi secara alamiah, mula-mula diukur DO nol dan setelah mengalami
inkubasi selama 5 hari pada suhu 20 C atau 3 hari pada suhu 25C27C
diukur lagi DO air tersebut. Perbedaan DO air tersebut yang dianggap
sebagai konsumsi oksigen untuk proses biokimia akan selesai dalam waktu

16

5 hari dipergunakan dengan anggapan segala proses biokimia akan selesai


dalam waktu 5 hari, walau sesungguhnya belum selesai.
Pemeriksaan Chemical Oksigen Demand (COD)
Menggunakan metode Pemeriksaan : tanpa refluks (Titrasi di Laboratorium)
Prinsip Analisis:
Pemeriksaan parameter COD ini menggunakan oksidator potasium
dikromat yang berkadar asam tinggi dan dipertahankan pada temperatur
tertentu. Penambahan oksidator ini menjadikan proses oksidasi bahan
organik menjadi air dan CO2, setelah pemanasan maka sisa dikromat diukur.
Pengukuran ini dengan jalan titrasi, oksigen yang ekifalen dengan dikromat
inilah yang menyatakan COD dalam satuan ppm.
Total Suspended Solid (TSS)
Menggunakan metode gravimetri. Prinsip Analisa yaitu :
Total Suspended Solid adalah semua zat terlarut dalam air yang tertahan
membran saring yang berukuran 0,45 mikron. Kemudian dikeringkan dalam
oven pada temperatur 103C105C, hingga diperoleh berat tetap. Partikel
yang sama besar, part ikel yang mengapung dan zat-zat yang menggumpal
yang tidak tercampur dalam air, terlebih dahulu dipisahkan sebelum
pengujian.
Penentuan Jumlah MPN Coliform
Menggunakan prinsip kerja aseptis yaitu pemeriksaan bakteriologis air
bersih ditujukan untuk melihat adanya kemungkinan pencemaran oleh
kotoran maupun tinja. Bakteri yang termasuk jenis coliform antara lain
Eschericia coli, Aerobacter aerogenes, dan Eschericia freundii. Sifat

17

bakteri golongan coliform adalah berbentuk batang, tidak dapat membentuk


spora, gram negatif, hidup aerob atau anaerob fakultatif, dan dapat
meragikan laktosa dengan membentuk gas

18

BAB III
METODE ANALISIS

3.1 PROSEDUR ANALISA BOD


1. Alat dan bahan
Alat-alat:
a. Botol-botol inkubasi winkler dari kaca 250-320 ml dimana volumenya
diketahui dengan tepat, karena tercantum pada botolnya. Botol tersebut dapat
memakai tutup khusus lingkar air (water seal), tetapi biasanya dasar tutupnya
membentuk kerucut supaya kelebihan air dan gelembung udara dapat dihilangkan
dengan mudah.
b. Inkubator: Suhu terjamin 20 1 C; gelap.
o

c. 4 labu takar 1 liter; 3 labu takar 2 liter; bermacam-macam pipet; kalau tersedia,
dispenser otomatis.
d. Peralatan bagi analisa oksigen terlarut
Reagen
a. Air suling: tidak boleh mengandung zat beracun, seperti Cr, Cl2, dsb.
b. Larutan bufer fosfat
Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi 500 ml air suling, 8,5 g KH 2PO4,
21,75 g K2HPO4, 33,4 g Na2HPO4.7H20 dan 1,7 g NH4Cl. Kemudian encerkan
dengan air suling sampai menjadi 1liter. Sesuaikan pH nya sampai 7,2 dengan
asam HCl atau basa NaOH 0,1 atau 1N.
c. Larutan magnesium sulfat:

19

Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi 500 ml air suling, 22,5g
MgSO4.7H2O dan encerkan dengan air suling sampai 1 liter.
d. Larutan kalsium klorida
Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi 500 ml air suling, 27,5g CaCl 2 dan
encerkan dengan air suling sampai 1 liter.
e. Larutan feriklorida
Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi 500 ml air suling, 0,25 g
FeCl3.6H20 dan encerkan dengan air suling sampai 1 liter. (larutan b sampai e
harus diganti kalau endapan atau lumut telah muncul)
f. Larutan basa NaOH atau KOH dan asam HCl atau H2SO4 1N untuk menetralkan
sampel air yang bersifat asam atau basa sampai pH nya berkisar antara 7,0-7,6.
g. Bubuk inhibitor nitrifikasi:
N-Serve (Dow chemicals, allytio ureum (ATU) (Merck) atau nitrification inhibitor
2533 (Hach Chem. Co).
h. Benih (inoculum, seed):
Ambil 10 g tanah subur, yang dapat ditanami, tidak mengandung pestisida, pH
antara 6-7,5. Campur tanah tersebut dengan 100 ml air sampel yang akan
diperiksa. Simpan suspensi tersebut selama 1 hari pada temperatur 20 C dalam
o

inkubator gelap.

2. Prosedur percobaan
A. Pembuatan air pengencer
Air pengencer ini tergantung banyaknya sample yang akan dianalisa dan
pengencerannya, prosedurnya:

20

1. Tambahkan 1 ml larutan buffer fosfat per liter air.


2. Tambahkan 1 ml larutan magnesium sulfat per liter air.
3. Tambahkan 1 ml larutan larutan kalium klorida per liter air.
4. Tambahkan 1 ml larutan feri klorida per liter air.
5. Tambahkan 10 mg bubuk inhibitor.
6. Aerasi minimal 2 jam.
7. Tambahkan 1 ml larutan benih per liter air.
B. Prosedur BOD
1. Menentukan pengenceran
Untuk menganalisa BOD harus diketahui besarnya pengenceran melalui KMnO 4
sebagai berikut :

2. Prosedur BOD dengan Winkler


a. Siapkan 1 buah labu takar 500 ml dan tuangkan sampel sesuai dengan
perhitungan pengenceran, tambahkan air pengencer sampai batas labu.
b. Siapkan 2 buah botol Winkler 300 ml dan 2 buah botol Winkler 150 ml.
c. Tuangkan air dalam labu takar tadi kedalam botol Winkler 300 ml dan 150 ml
sampai tumpah.
d. Tangkan air pengencer ke botol Winkler 300 ml dan 150 ml sebagai blanko
sampai tumpah.
e. Masukkan kedua botol Winkler 300 ml ke dalam incubator 20 C selama 5 hari
o

21

f. Kedua botol Winkler 150 ml yang berisi air dianalisa oksigen terlarutnya
dengan prosedur sebagai berikut:
- Tambahkan 1 ml larutan mangan sulfat
- Tambahkan pereaksi oksigen
- Botol ditutup dengan hati-hati agar tidak ada gelembung udaranya lalu balikbalikkan beberapa kali.
- Biarkan gumpalan mengendap selama 5-10 menit
- Tambahkan 1 ml asam sulfat pekat, tutup dan balikbalikkan.
- Tuangkan 100 ml larutan ke dalam erlenmeyer 250 ml.
- Titrasi dengan larutan Natrium Tiosulfat 0,0125 N sampai warna menjadi coklat
muda.
- Tambahkan 3-4 tetes indikator amilum dan titrasi dengan Natrium Tiosulfat
hingga warna biru hilang.
g. Setelah 5 hari, analisa kedua larutan dalam botol Winkler 300 ml dengan
analisa oksigen terlarut.
h. Hitung oksigen terlarut dan BOD dengan rumus sebagai berikut :

22

Dimana:
Xo = Oksigen terlarut sampel pada t = 0
X5 = Oksigen terlarut sampel pada t = 5
Bo = Oksigen terlarut blanko pada t = 0
B5 = Oksigen terlarut blanko pada t = 5
P = Derajat pengenceran.

3.2 PROSEDUR ANALISA COD


1. Alat dan bahan
a. larutan K2Cr2O7
b. Kristal Perak Sulfat (Ag2SO4) dicampur dengan Asam Sulfat (H2SO4)
c. Larutan standard Fero Amonium Sulfat 0,05 N
d. Kristal Merkuri Sulfat (Hg2SO4)
e. Larutan indikator Fenantrolin fero Sulfat (Feroin)
f. Buret 50 ml 1 buah
g. Erlenmeyer COD 2 buah
h. Alat refluks dan pemanasnya
i. Pipet 10 ml, 5 ml
j. Beker glass 50 ml 1 buah

2. Prosedur Percobaan
a. Masukkan 0,4 gr kristal Hg2SO4 ke dalam masing-masing erlenmeyer COD.

23

b. Tuangkan 20 ml air sampel dan 20 ml air aquadest (sebagai blanko) ke dalam


masing-masing erlenmeyer COD.
c. Tambahkan 10 ml larutan Kalium Dikromat (K2Cr2O7) 0,1 N
d. Tambahkan 30 ml larutan campuran Ag2SO4 dan H2SO4.
e. Alirkan air pendingin pada kondensor dan pasang erlenmeyer COD.
f. Nyalakan alat pemanas dan reflus larutan tersebut selama 2 jam.
g. Biarkan erlenmeyer dingin dan tambahkan air aquadest melalui kondensor
sampai volume 150 ml.
h. Lepaskan erlenmeyer dari kondensor dan tunggu sampai dingin.
i. Tambahkan 3-4 tetes indikator feroin.
j. Titrasi kedua larutan di erlenmeyer tersebut dengan Indikator Feroin 0,05 N
hingga warna menjadi merah coklat.
k. Hitung COD sampel

Dimana:
a = Volume FAS titrasi blanko (ml)
b = Volume FAS titrasi sampel (ml)
N = Normalitas larutan FAS
f = faktor ( 20: titran blanko kedua)
P = pengenceran

24

BAB IV
PENUTUP

5.1.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah sebagai
berikut:

COD, singkatan dari Chemical Oxygen Demand, atau kebutuhan


oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam
air.

BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand, atau kebutuhan


oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh
mikroorganisme.

BOD dan COD merupaan dua dari tiga parameter utama yang
digunakan untuk mengukur kadar bahan pencemar. Parameter utama
lain yaitu Dissolved Oxygen (DO).

COD akan lebih tinggi dari hasil uji BOD karena uji COD meliputi
semua bahan organik, baik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme
maupun yang tidak dapat diuraikan.

5.2.

Saran
Penulis menyarankan dalam menganalisis zat pencemar apabila
nilai BOD dan COD suatu perairan masih normal atau memenuhi baku
mutu, belum dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi pencemaran, bila

25

parameter kunci lainnya tidak diketahui. Karena bila parameter lainnya


telah meningkat dan melebihi baku mutu, maka berarti ada indikasi
pencemaran di perairan

26

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. BOD dan COD.
http://smk3ae.wordpress.com/2008/07/15/bod-dan-cod/
Diakses tanggal 5 Desember 2009
A.R Agnes & Azizah R. 2005. Perbedaan Kadar BOD, COD, TSS dan MPN
Coliform Pada Air Limbah, Sebelum dan Sesudah Pengolahan di RSUD
Nganjuk.
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-1-10.pdf
Diakses tanggal 5 Desember 2009
Arianto, Erik. 2008. Pengertian COD dan BOD.
http://erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/pengertian-cod-dan-bod/
Diakses tanggal 5 Desember 2009
Fatha, Atina. 2007. Pemanfaatan Zeolit Aktif Untuk Menurunkan BOD dan COD
Limbah Tahu.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASHeeca.dir/d
c.pdf
Diakses tanggal 5 Desember 2009
G, Pal. 2009. OD, BOD, COD, apaan tuh?
http://watsan.co.cc/2008/09/od-bod-cod-apaan-tuh/
Diakses tanggal 4 Desember 2009
Hariyadi Sigid. 2004. BOD dan COD Sebagai Parameter Pencemaran Air dan
Baku Mutu Air Limbah.
http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/sigid_hariyadi.pdf
Diakses tanggal 5 Desember 2009
Hadi, Anwar. 2005. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan. PT
Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.