Anda di halaman 1dari 28

FENOMENA PAUTAN KELAMIN PERSILANGAN Drosophila

melanogaster STRAIN N><w, N><y BESERTA RESIPROKNYA

LAPORAN PROYEK
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Genetika I yang dibina oleh Prof. Dr.
A.D Corebima, M. Pd

Oleh:
Kelompok 8 Off. AA/BB
Elan Frido Rinda
(207341409182)
Tiurma Parantika
(207341409144)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Mei, 2009

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Genetika adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat keturunan (hereditas) serta
segala seluk beluknya secara ilmiah. Orang yang dianggap sebagai Bapak
Genetika

adalah

Johan

Gregor

Mendel.

(Rana,

(Online),

http://rainzeducenter.blogspot.com)
Thomas Hunt Morgan adalah ahli genetika dari Amerika Serikat yang
menemukan bahwa faktor-faktor keturunan (gen) tersimpan dalam lokus yang
khas dalam kromosom. Percobaan untuk hal ini dilakukan pada lalat buah
(Drosophila melanogaster) dengan alasan sebagai berikut cepat berkembang biak,
mudah diperoleh dan dipelihara, cepat menjadi dewasa (umur 10 - 14 hari sudah
dewasa), lalat betina bertelur banyak, hanya memiliki 4 pasang kromosom,
dengan alasan ini sehingga Drosophila melanogaster dijadikan objek penelitian.
(IdeBagus,(online), http://www.idebagus.com)
Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat buah, dimasukkan dalam
filum Artropoda kelas Insekta bangsa Diptera, anak bangsa Cyclophorpha
(pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaw
hooks), seri Acaliptrata (imago menetas dengan keluar dari bagian anterior pupa),
suku Drosophilidae, Jenis Drosophila melanogaster di Indonesia terdapat sekitar
600 jenis, pulau Jawa sekitar 120 jenis dari suku drosophilidae (Wheeler, 1981
dalam Imania,(online) http://gotomilla.blogspot.com/2008/12/15-adalah-betinasuper.html).
Pada penelitian sederhana ini menggunakan Drosophila melanogaster dengan
strain N, w, dan y. Strain ini disilangkan dengan N ><w dengan resiproknya
dan dengan resiproknya. Pada persilangan ini akan diamati mengenai fenotip dari
keturunan F1 sampai dengan didapatkan F2 yang dihasilkan.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka pada penelitian ini mengambil judul
Fenomena Pautan Kelamin Persilangan Drosophila melanogaster Strain N><w,
N><y Beserta Resiproknya .
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dapat kami rumuskan perumusan


masalahnya sebagai berikut:
1.

Bagaimana fenotip F1 dan F2

dari persilangan

Drosophilla

melanogaster pada strain N ><w bersama resiproknya ?


2.

Bagaimana

fenotip

F1 dan F2 dari persilangan

Drosophila

melanogaster pada strain N><y bersama resiproknya?


C. Tujuan Kegiatan
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Mengetahui fenotip F1 dan F2 dari persilangan Drosophilla melanogaster
pada strain N ><w bersama resiproknya.
2. Mengetahui fenotip F1 dan F2 dari persilangan Drosophila melanogaster N
>< y bersama resiproknya.
D. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini akan diperoleh maanfaat atau berguna untuk:


1. Pembuktian adanya fenomena pautan kelamin.
2. Menambah informasi kepada semua mahasiswa tentang pautan kelamin yang

terjadi pada Drosophilla melanogaster pada strain (N ><w, N><y).


E. Asumsi Penelitian
Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Kondisi medium dan nutrisi didalam botol dianggap sama.
2. Selama penelitian ini faktor lingkungan seperti tempat pengembangbiakan,
cahaya atau sinar, suhu maupun kelembaban dianggap sama.
3. Umur dari Drosophila melanogaster dianggap sama.

F. Batasan Masalah

Batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Penelitian hanya dilakukan pada persilangan Drosophila melanogaster N
><w dan N >< y beserta resiproknya.
2. Pengamatan dalam penelitian dibatasi pada keturunan F1 dan F2 dari hasil
persilangan Drosophila melanogaster dengan strain N ><w dan N >< y
beserta resiproknya, dengan mengamati ciri yang meliputi warna mata, warna
tubuh dan bentuk sayap.
3. Pengambilan data dimulai dari hari menetasnya pupa (dihitung sebagai hari 0
sampai hari keenam).

G. Definisi Operasional
1. Pautan kelamin adalah suatu sifat yang diturunkan yang tergabung dalam
genosom (Anonim,2009)
2. Fenotip menurut Ayala dalam Corebima (1997) adalah karakter yang dapat
diamati pada suatu individu (yang merupakan hasil interaksi antara genotip
dan lingkungan tempat hidup dan berkembang.
3. Genotip menurut Ayala dalam Corebima (1997) adalah keseluruhan jumlah
informasi genetik yang terkandung pada suatu makhluk hidup ataupun
konstitusi genetik dari suatu makhluk hidup dalam hubungannya dengan satu
atau beberapa lokus gen yang sedang menjadi perhatian.
4. Persilangan resiprok adalah persilangan yang merupakan kebalikan dari
persilangan yang semula dilakukan ( Yatim, 1986).
5. Homozigot adalah karakter dikontrol oleh dua gen identik (Corebima,1997).
6.

Heterozigot adalah karakter yang dikontrol oleh dua gen yang tidak identik
(Corebima, 1997).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Sistematika
Menurut
Anonim

(online,

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title

=Drosophilidae&action=edit&redlink=1) sistematika Drosophila melanogaster


adalah sebagai berikut:
Kingdom
:Animalia
Filum

:Arthropoda

Kelas

:Insecta

Bangsa

:Diptera

Famili

:Drosophilidae

Subfamili

:Drosophilinae

Genus
Species

: Drosophila
: Drosophila melanogaster

Sumber:

Anonim. Tanpa tahun. Drosophila melanogaster. (Online,


http://id.wikipedia.org/w/index.php?
title=Drosophilidae&action=edit&redlink=1, diakses 13 Mei
2009)

B. Kromosom Kelamin
Seluruh informasi pada bagian ini diambil dari Gardner dkk., (1991) dalam
Corebima (2004). Pada tahun 1891 ahli Biologi Jerman H. Henking menemukan
bahwa

suatu

struktur

inti

tertentu

dapat

ditemukan

(dilacak)

selama

spermatogenesis serangga tertentu. Separuhnya sperma menerima struktur


tersebut, sedangkan separuhnya yang lain tidak menerimanya. Henking tidak
menyebut-nyebut manfaat struktur tersebut, tetapi mengidentifikasinya sebagai
X body, dan menyatakan bahwa sperma dipilah atas dasar ada atau tidak adanya
struktur itu. Pada tahun 1902 C. E. McClung membenarkan observasi Henking
atas dasar observasi sitologis terhadap berbagai spesies belalang; ditemukan pula
bahwa sel-sel soma individu betina belalang memiliki jumlah kromosom yang
berbeda dibanding sel-sel soma individu jantan. McClung mengaitkan X body
dengan determinasi kelamin, tetapi secara salah menyatakan spesifik untuk
individu jantan.

Pada awal abad ke 20 E. B. Wilson dkk. Dalam Corebima (2004),


menyatakan bahwa X body yang dilaporkan Henking adalah suatu kromosom
yang menentukan kelamin. Sejak itu X body dikenal sebagai kromosom kelamin
atau kromosom X.
E. B. Wilson menemukan susunan kromosom yang lain pada Lygaeus
turcicus (milkweed bug). Pada serangga ini jumlah kromosom yang sama
ditemukan pada sel-sel dari kedua macam kelamin. Akan tetapi, kromosom
homolog dari kromosom X ternyata lebih kecil ukurannya, dan disebut
kromosom Y. Lebih lanjut dinyatakan bahwa zigot XX akan menjadi individu
betina, sedangkan zigot XY akan menjadi individu jantan. Kemudian fenomena
inilah dinyatakan dalam hubungannya dengan mekanisme determinasi kelamin
tipe XX-XY.
Atas dasar temuan pada berbagai hewan, tampaknya mekanisme XY lebih
umum dikenal dibanding mekanisme XO. Dewasa ini tipe XX-XY ini diduga
menjadi ciri pada kebanyakan hewan tinggi (termasuk manusia), dan ditemukan
juga pada beberapa tumbuhan (misalnya Melandrium album). Tipe ini ditemukan
juga pada Drosophila melanogaster.
Pada Drosphila jantan dan betina dapat dengan mudah dibedakan dengan
melihat bentuk segmen-segmen abdomen bagian posteriornya. Abdomen betina
memiliki ujung meruncing dan pola garis yang berbeda dari abdomen jantan.
Kelamin lalat sebagian ditentukan oleh jumlah kromosom X yang dimiliki
individu. Normalnya lalat betina memiliki dua kromosom X (homogamet),
sedangkan lalat jantan hanya memiliki satu kromosom X ditambah satu salinan
kromosom Y (heterogamet).
Adapun kromosom kelamin pada Drosophila melanogaster kondisi XY
adalah sebagi berikut (Corebima, 2003):
a.

Jenis betina Drosophila melanogaster mempunyai 4 pasang kromosom,


masing-masing anggota dari pasangan itu serupa pada pasangan berbentuk
batang dan keduanya dikenal dengan kelamin atau kromosom X.

b. Jenis jantan mempunyai dua kromosom kelamin, satu berbentuk batang dan
satu bentuk kait J. Kromosom yang berbentuk batang disebut dengan
kromosom X dan yang berbentuk kait disebut Y.
C. Pautan Kelamin
Temuan pertama tentang kebakaan yang terpaut kelamin adalah pada
Drosophila, sebagaimana yang dilaporkan T.H. Morgan pada tahun 1910, dan gen
terkait dengan kebakaan yang terpaut kelamin itu terletak pada kromosom kelmin
X, tepatnya pada lokus w (Gardner dkk,1991 dalam Corebima 2003). Sebagian
besar gen yang terpaut kelamin pada hewan-hewan jantan heterogamet terletak
pada kromosom X (Gardner dkk,1991 dalam Corebima 2003). Dikatakan lebih
lanjut, namun demikian beberapa hewan dapat memiliki sejumlah kecil gen pada
kromosom Y yang menghasilkan efek-efek fenotip. Informasi yang baru
dikemukaan ini hanya berlaku untuk kelompok makhlluk hidup yang mempunyai
kromosom kelamin XX-XY. Pewarisan sifat-sifat (fenotip) yang terpautt
kromosom kelamin X mengikuti suatu pola khas, yaitu crisscross pattern of
inheritance (Stansfield,1983: Gardner dkk, 1991 dalam Corebima 2003).
Crisscross pattern of inheritance adalah pewarisan menyilang. Dalam ini suatu
sifat fenotip yang ada pada induk betina diwariskan dan terekspresikan pada
turunan jantan (Rothwell,1991 dalam Corebiam 2003), dan yang ada pada induk
jantan diwariskan (tidak diekspresikan) melalui turunan betina keturunan jantan
F2 dan diekspresikan (Gardner dkk, 1991 dalam Corebima 2003). Sifat-sifat yang
terpaut kromosom kelamin X yang memiliki pola pewarisan demikian lebih
mudah dipahami pada sifat-sifat yang dikontrol oleh gen-gen resesif.
Bilamana strain berwarna mata merah betina disilangkan dengan strain
bermata putih jantan, maka F1 yang muncul bermata merah seluruhnya, sesuai
dengan harapan. Jika faktor mata merah dominan terhadap faktor mata putih.
Selanjutnya, jika F1 disilangkan satu sama lain, maka bagian F2 bermata merah,
dan sebagian bermata putih. Suatu rasio yang sesuai harapan, andaikan faktor
mata merah dominan terhadap faktor mata putih. Namun demikian setelah
diperiksa lebih teliti, ternyata bahwa seluruh F2 betina berwarna mata merah,
sedangkan separuh jantan bermata merah dan separuhnya berwarna putih, suatu
gambaran yang tidak sesuai harapan berdasarkan prinsip kebakaan Mendel.
Gambaran yang menyimpang masih dijumpai pada pengkajian lebih lanjut.

Seluruh F2 jantan ternyata sudah merupakan galur murni, baik yang bermata
merah ataupun yang putih, disimpulkan F2 jantan bermata merah hanya memiliki
faktor merah, sedangkan F2 betina yang bermata merah itu ternyata terdiri dari dua
macam, separuh sudah merupakan galur murni sedangkan separuhnya lagi akan
menghasilkan turunan jantan, yang separuhnya bermata merah dan yang
separuhnya lagi bermata putih.
Apabila strain bermata putih betina disilangkan dengan strain bermata merah
jantan, maka gambaran hasil yang diperoleh akan berlainan. Dalam hal ini
ternyata bahwa tidak seluruh F1 bermata merah sesuai harapan atas dasar prinsip
Mendel, jika faktor merah dominan terhadap faktor putih, terlihat bahwa separuh
F1 bermata merah, sedangkan separuhnya bermata putih, akan terlihat pula bahwa
seluruh F1 betina bermata merah, sedangkan seluruh F1 jantan bermata putih.
Andaikata F1 disilangkan sesamanya maka separuh F2 bermata putih sedangkan
separuh lagi bermata merah, ternyata pula bahwa F 2 jantan bermata merah sama
jumlahnya dengan F2 betina bermata merah, dan F2 jantan bermata putih sama
jumlahnya dengan F2 betina bermata putih.
T.H. Morgan menyatakan data hasil persilangan itu dapat dijelaskan jika : (1)
Faktor warna mata terdapat pada kromosom kelamin X , dan (2) Kromosom
kelamin jantan (Y) tidak mengandung faktor warna mata tersebut . Sebagaimana
diketahui, individu betina Drosophila melanogaster mempunyai dua kromosom
kelamin X yang identik, sedangkan individu jantan

mempunyai kromosom

kelamin XY. Dalam hubungan ini individu betina Drosophila melanogaster


mewarisi satu kromosom kelamin X dari induk jantan, dan satu kromosom
kelamin X lainnya dari induk betina. Sedangkan individu jantan mewarisi satu
kromosom kelamin X dari induk betina, dan satu kromosom kelamin Y dari induk
jantan. Dari dua kromosom kelamin X pada indvidu betina itu satu kromosom
diwariskan kepada keturunan betina, dan yang lainnya diwariskan kepada turunan
jantan. Sedangkan dari kromosom kelamin XY pada individu jantan, kromosom X
diwariskan kepada keturunan betina, dan kromosom Y diwariskan pada turunan
jantan. Dengan demikian terlihat jelas bahwa suatu sifat yang dikendalikan oleh
faktor yang terletak pada kromosom kelamin X akan mengalami suatu pewarisan
menyilang ( crisscross inheritance), dalam hal ini individu jantan akan

mewariskan sifat semacam itu kepada cucu turunan jantan melalui turunan
betinanya (anak), dan tidak pernah melewati turunan jantan ( anak).

Gambar: Model

persilangan

strain

Drosophila

jantan
bermata merah betina. Faktor w

bermata

putih

dan

strain

mengontrol warna mata merah,

sedangkan w mengontrol warna mata putih (Ayala, dkk. 1984, dalam


Corebima 2003)

Gambar:

Model
persilangan
strain
Drosophila
bermata merah

jantan dan strain bermata putih betina (Ayala, dkk. 1984, dalam
Corebima 2003).
Berkenaan dengan hal itu T.H. Morgan menyimpulkan bahwa faktor warna
mata pada Drosophila terpaut kelamin, dalam hal ini terpaut pada kromosom
kelamin X. Dalam sejarahnya temuan T. H. Morgan inipun mempertegas teori
pewarisan kromosom. Dewasa ini adanya sifat-sifat yang terpaut kelamin tidak
hanya dijumpai pada Drosophila. Ayala, dkk (1984) dalam Corebima, 2003,
menyatakan bahwa Pola pewarisan yang terpaut kelamin pada Drosophila juga
ditemukan pada semua hewan dan tumbuhan yang individu jantannya berkelamin
heterogametik.

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL
A.

Kerangka Konseptual
Suatu penelitian dari T.H Morgan yang menyilangkan
Drosophila melanogaster strain berwarna merah betina dengan
strain memiliki warna mata putih jantan diperoleh F1 mata
merah seluruhnya.
Faktor mata merah dominan terhadap mata
Faktor warna mata merah
terdapat pada kromosom
kelamin
X,
sedangkan
kromosom kelamin Y tidak
mengandung warna mata
merah.

Pewarisan kromosom X
ini dapat dihubungkan
dengan pewarisan sifat
pada pautan seks

Kromosom kelamin X mengalami pewarisan


menyilang (crisscross inheritance)
Terjadi fenomena pautan kelamin
Persilangan Drosophila melanogaster
N><w,N><y beserta resiproknya
Pembahasan

strain

Kesimpulan

B.
Hipotesis
1. Terjadi fenomena pautan kelamin pada persilangan Drosophila melanogaster
N ><w bersama resiproknya.
2. Terjadi fenomena pautan kelamin pada persilangan Drosophila melanogaster
N ><y bersama resiproknya.

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan dengan
menyilangkan Drosophila melanogaster dengan strain N ><w dan N ><
y beserta resiproknya dengan diberi perlakuan sebanyak tujuh kali untuk
memperoleh data dari F1 dan F2. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis
dengan menggunakan metode rekonstruksi dan pengambilan data dilakukan
dengan pengamatan secara langsung mengenai fenotip yang muncul.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan selam 4 bulan mulai
dari bulan Februari 2009 sampai bulan Mei 2009. Tempat penelitian yang kami
lakukan di Laboraturium Genetika (ruang BIO 310) jurusan Biologi FMIPA UM.

C. Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitain kami adalah lalat buah Drosophilla melanogaster
yang diperoleh dari stok yang dibiakkan di laboratorium Genetika Universitas
Negeri Malang. Sampel yang digunakan dalam penelitian kami adalah
Drosophilla melanogaster strain N,w dan y.

D. Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam penelitian kami sebagai berikut :
1.

Mikroskop Stereo

8. Lemari Es

15.

Kertas

label
2. Botol Selai

9. Kuas

3.

Pengaduk

4.

Kuas

16. Serbet
10. Blender

11. Panci

17. Pisau

5.

Kain Kasa

6.

Selang Plastik

7. Timbangan

12. Kompor Gas


13. Tutup Botol dari Spon
14. Plastik

Adapun Bahan yang digunakan dalam penelitian kami sebagai berikut:


1. Drosophilla melanogaster strain N,w dan y
2. Pisang Raja Mala
3. Tape
4. Gula Merah
5. Kertas pupasi
6. Yeast
7. Eter
E. Prosedur Kerja
1.

Pembuatan Medium
Menimbang bahan seperti pisang, tape singkong, dan gula merah dengan
perbandingan 7:2:1 untuk satu resep. Memotong-motong pisang kemudian
menambahkan air secukupnya lalu menghaluskannya dengan tape singkong
dengan cara memblender sampai halus. Mengiris gula merah dengan potongan
kecil-kecil. Memasukan pisang tape singkong yang telah dihaluskan ke dalam
panci, dan menambahkan potongan gula merah setelah mendidih. Setelah 45
menit, mengangkat medium dari kompor, kemudian mengisi botol selai yang
sudah di cuci dan di keringkan dengan medium dan segera menutupnya
dengan gabus penutup kemudian mendinginkannya dengan cara memasukkan
botol pada bak atau baskom yang berisi air secukupnya. Kemudian setelah
dingin memasukkan kertas pupasi dan memberi sedikit yeast. Medium telah
siap digunakan dalam pengamatan.

2.

Tahap Persiapan Menyilangkan


Membuat

ampulan

Drosophilla

melanogaster

strain

N, w dan y.

Menyilangkan Drosophila melanogaster (N ><w, N >< y, bersama


resiproknya) dengan 7 kali ulangan. Melepaskan jantan setelah 2 hari
disilangkan. Mengampul pupa yang telah menghitam dengan menggunakan

kuas dan dimasukkan pada botol ampul (setiap satu selang ampul berisi satu
pupa). Mengamati F1 dan menghitung jumlahnya dari setiap persilangan dan
memasukkan dalam tabel F1. Menyilangkan hasil F1 dan memberi tanda/label
pada setiap botol persilangan. Melepas jantan setelah 2 hari persilangan.
Mengamati F2 dan menghitungnya dari hari ke 0 sampai hari ke 6 jumlahnya
dari tiap persilangan. Memasukkan data dalam tabel.

F. Mencatat data pengamatan


Dari data yang diperoleh perhitungan pengamatan fenotif F1 dan F2
dimasukkan data pada table pengamatan.

G. Metode Pengumpulan Data

Dalam metode pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan fenotip


yaitu mengamati warna mata pada strain N, w, dan y serta F1 dan F2 mencatat data
hasil pengamatan pada table pengamatan. Hendaknya dalam pengamatan fenotip
menggunakan mikroskop karena dalam pengamatan ini warna mata dan jenis
kelamin yang diamati.

H. Teknik Analisis Data


Teknik

analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan

tehnik Rekonstruksi kromosom kelamin pada masing-masing persilangan.

BAB V
DATA DAN ANALISISA DATA
A.

Ciri-ciri Drosophila melanogaster

Penelitian kami mengunakkan Drosophilla melanogaster dengan strain N, w


dan y. Strain N mempunyai sayap yang menutupi tubuh dan memiliki tubuh yang
berwarna coklat kekuningan dengan mata berwarna merah. Untuk strain w
memiliki ciri warna mata putih, tubuh coklat, sayap menutupi tubuh. Pada strain y
memiliki warna mata merah, tubuh berwarna kuning, bentuk sayap menutupi
tubuh dengan sempurna. Penelitian yang kami lakukan pada objek lalat buah yaitu
Drosophilla melanogaster mempunyai berbagai macam strain, dimana setiap
strain menujukkan ciri-ciri yang berbeda-beda. Untuk mengetahui jantan atau
betinanya dari

Drosophilla melanogaster kita dapat melihat warna ujung

posterior abdomennya. Pada jantan memiliki warna hitam pada ujung posterior
abdomennya. Sedangkan pada betina pada ujung posterior abdomennya tidak
berwarna.

B.

Data
Tabel Hasil Pengamatan F1

Persilangan

Fenotipe

Sex

U
l
a
n
g
a
n

1234

6767
N6237

278


78791320
045
W

--
-- -

PFSU

eel
rnxa
son
itg
lia
apn
ne
g
a
n
123
w N


919300
216
2
W

11394
243
130

--

PFSU

eel
rnxa
son
itg
lia
apn
ne
g
a
n
123

-y

22648
102
792
Y

11540
79
802

--

PFSU

eel
rnxa
son
itg
lia
apn
ne
g
a
n
12

1285
N53
41

1322
75
02
Y

C.
Analisis Data
Persilangan N w
Rekonstruksi kromosom tubuh
P1
: N w
w+w
w+ >
Gamet
: w +, w -, >
F1
w

>

w
w+
>

(N)

++

(
N

)
w
-

P2

: N N

Gamet

w+w+
w>
: w+ w+
w- >

F2
w
>
+

w
w+
>

(N)

++

(
N

)
w
+

w
w>

(w)

-+

(
N

)
w
-

Rasio fenotip N:w = 3:1

Persilangan w N
Rekonstruksi kromosom tubuh
P1
: w N
w- w +
w>

Gamet
F1

: w -, w +, >

w
>
+

w
w>

(w)

--

(
N

)
w
+

P2
Gamet
F2
w
>

w
w+
>
++

(
N

)
w
-

(N)

: N w
w+ww>
: w+ ww- >

w
w>

(w)

--

(
w

)
w
-

Rasio Fenotip N:w = 1:1


Persilangan N y
Rekonstruksi kromosom tubuh
P1
: N y
y+y
y+
>
Gamet
: y+, y -, >
F1

y>

yy +
>

(N)

++

(
N

)
y
-

P2

: N N
y+y+

Gamet

y: y+
y-

>
y+
>

F2
y>
+

yy +
>

(N)

++

(
N

)
y
+

yy >

(y)

-+

(
N

)
y
-

Rasio fenotip N:y = 3:1


Persilangan y N
Rekonstruksi kromosom tubuh
P1
: y N
y- y +
y>
Gamet
: y -, y +, >
F1
y>

yy >

(y)

--

(
N

)
y
+

P2
Gamet
F2
y>

yy +
>
++

(
N

)
y
-

(N)

: N y
y + yy>
+
:y
yy
>

yy >

(y)

--

(
y

)
y
-

Rasio Fenotip N:y = 1:1

BAB VI
PEMBAHASAN
Pautan kelamin adalah bergabunganya faktor keturunan atau gen pada
kromosom kelamin, biasanya kromosom X. (Gardner, dkk: 1991 dalam Corebima,
1997). Fenomena yang terjadi dalam penelitian ini adalah pautan kelamin karena
terjadinya pautan kromosom kelamin X.
Berdasarkan data yang kami peroleh pada persilangan Drosophila
melanogaster dengan strain N w diperoleh F 1 dengan hasil N dan N.
Hasil keturunan F1 ini, memiliki warna tubuh cokelat dan mata merah. Hasil yang
diperoleh ini sesuai dengan analisis rekonstruksi yang telah dilakukan pada
persilangan N w. Pada persilangan sesama F 1 (N N) kami belum
mendapatkan data, tetapi berdasarkan analisis rekonstruksi F2 dari hasil
persilangan sesama F1 didapatkan hasil sebagai berikut, yaitu N, N, dan w
dengan perbandingan 2:1:1.
Pada resiproknya yaitu persilangan w N data yang dihasilkan pada F 1
adalah N dan w. Sedangkan pada persilangan sesama F 1 (N w) kami
belum memperoleh data. Tetapi berdasarkan analisis rekonstruksi diperoleh F2
yaitu N, N, w, dan w. Analisis rekonstruksi ini sesuai dengan teori yang
disampaikan oleh Gadner, dkk 1991 dalam Corebima (2004) yang menyatakan
atas dasar kenyataan bahwa individu jantan hanya memiliki sebuah kromosom X
dan sebuah kromosom Y yang tidak memiliki sebagian besar gen pada kromosom
X, dinyatakan bahwa alela mata putih tersebut pada individu jantan tergolong
hemizigot, oleh karena itu, alela diekspresikan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa
alela mutan mata putih yang ada pada kromosom X dari individu jantan induk
bermata putih, mula-mula diwariskan kepada turunan betina (kromosom Y
diwariskan kepada turunan jantan). Semua turunan betina merupakan carrier alela
mutan tersebut. Demikian pula turunan jantan F2 bersifat hemizigot, dan 50% sari
seluruh turunan jantan F2 itu memperoleh kromosom X yang membawahi alela
mutan mata putih dari induk betina yang heterozigot.
Pada pengamatan yang telah dilakukan mengenai persilangan strain
N><y dapat diketahui hasilnya yaitu adalah N dan N. Hasil F1 ini
memiliki ciri morfologis yaitu memiliki tubuh berwarna coklat, dengan mata
berwarna merah. Ciri morfologi sini didapat dari hasil pengamatan fenotip. Hasil

yang telah diperoleh ini setelah dilakukan analisis rekonstruksi hasilnya sesuai,
yaitu menghasilkan

N><N dengan perbandingan 1: 1. Data F2 belum

diperoleh sehingga hanya dilakukan analisis rekonstruksi. Hasil dari persilangan


sesama F1 menghasilkan turunan N, N,y dengan perbandingan 2:1:1.
Persilangan yang dilakukan terhadap resiprok dari N><y, yaitu
y><N didapatkan hasil dari pengamatan yaitu N dan y. Hal ini sesuai
dengan hasil rekonstruksi yang dilakukan yang juga turut menghasilkan N dan
y. Pada persilangan F2 belum didapatkan data sehingga pembahasan
berdasarkan atas rekonstruksi yang mneyatakan bahwa N,N, y, y. Dengan
perbandingan 1:1:1:1.
Pada persilangan sesama F1 belum sempat didapatkan, karena F1 terlalu
banyak yang gagal dan mati sehingga sulit untuk didapatkan F2nya.
Menurut Corebima (2003) dari dua kromosom kelamin X pada individu
betina, satu kromosom diwariskan pada keturunan betina dan yang lainnya
daiwariskan kepada turunan jantan, sedangkan dari kromosom kelamin XY pada
individu jantan, kromosom X diwariskan kepada turunan betina, dan kromosom Y
diwariskan kepada keturunan jantan. Dengan demikian terlihat jelas bahwa suatu
sifat yang dikendalikan oleh faktor yang terletak pada kromosom kelamin X akan
mengalami suatu pewarisan menyilang (crisscross inheritance). Dalam hal ini
individu jantan akan mewarisikan sifat semacam itu pada cucu turunan jantan
melalui turunan betinanya (anak), dan tidak pernah melewati turunan jantan
(anak).

BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Fenotip dari keturunan F1 dari persilangan Drosophila melaogaster strain N
w adalah N dan N, dan F 2 dari persilangan (N N) tersebut adalah
N, N, dan w. Resiprok dari persilangan N w, F 1 menunjukkan
hasil persilangan N dan w, dan F2 yaitu N, N, w, dan w. Hasil

persilangan fenotip dari F1 dan F2 menunjukkan adanya peristiwa pautan


kelamin.
2. Fenotip dari keturunan F1 dari persilangan Drosophila melaogaster strain N
y adalah N dan N, dan F 2 dari persilangan (N N) tersebut adalah
N, N, dan y. Resiprok dari persilangan N y, F 1 menunjukkan hasil
persilangan N dan y, dan F2 yaitu N, N, y, dan y. Hasil persilangan
fenotip dari F1 dan F2 menunjukkan adanya peristiwa pautan kelamin.
B. Saran
1. Dalam melakukan penelitian hendaknya lebih cermat dan teliti agar data yang
diperoleh lebih akurat.
2. Penelitian ini hendaknya dilakukan dengan sabar.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Tanpa tahun. Drosophila melanogaster. (Online, http://id.wikipedia.org/w/index.php?
title=Drosophilidae&action=edit&redlink=1, diakses 13 Mei
2009)
Corebima, A.D. 2003. Genetika Mendel. Surabaya: Airlangga University Press.
Corebima, A.D. 2004. Genetika Kelamin. Surabaya: Airlangga University Press.
IdeBagus. 2008. Drosophila melanogaster. (Online),
(http://www.idebagus.com/, diakses 13 Mei 2009)
Imania, Milla. 2008. Pengenalan Lalat Buah Drosophila melanogaster. (Online),
http://gotomilla.blogspot.com/
2008/12/15-adalah-betinasuper.html/, diakses 13 Mei 2009).
Rana. 2008. Genetika. (Online), (http://rainzeducenter.blogspot.com/, diakses 13
Mei 2009)
Yatim, W. 1996. Genetika. Bandung: Tarsito.