Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR

UNIT : III
JUDUL : PENGUAT TEGANGAN TRANSISTOR

Nama

: Rio Sitohang

NIM

: 39822

Hari

: Jumat

Tanggal : 15 Maret 2013

LABORATORIUM ELEKTONIKA DASAR


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO DAN TEKNOLOGI
INFORMASI

FT UGM

2013

PENGUAT TEGANGAN TRANSISTOR

I. PENDAHULUAN
a. Tujuan Praktikum
1. Memahami bentuk rangkaian penguat transistor sederhana dan mampu
merangkainya
2. Mempelajari karakteristik, perbandingan input output dan bentuk
gelombangnya (sebelum terdistorsi) dari sebuah Penguat Tegangan
Transistor
3. Mempelajari karakteristik tanggapan frekuensi dari suatu rangkaian penguat, yaitu
pengaruh frekuensi terhadap tengan system.
4. Mampu melakukan pengujian impedansi input dan impedansi output pada suatu frekuensi
tertentu.
b. Dasar Teori
Pada prinsipnya rangkaian penguat merupakan rangkaian yang mampu
menghasilkan nilai output yang lebih besar daripada nilai inputnya. Pada
praktikum kita pada bagian ini, kita merangkai sebuah rangkaian penguat
sederhana yang menggunakan transistor.
Perhatikan skema transistor berikut

Transistor memliiki beberapa fungsi salah satunya adalah sebagai penguat


(amplifier). Tentunya pada saat kita menggunakan suatu alat elektronis
banyak alat yang menggunakan transistor sebagai salah satu komponen
penyusunnya. Aplikasinya dapat kita lihat seperti pada stereo, bila kira ingin
memperbesar atau memperkecil volume maka dapat dilakukan dengan
memutar tombol volume. Untuk memperkuat sinyal input kita
menggunakan transistor.
Pada dasarnya transistor dapat memperbesar level sinyal keluaran sampai
beberapa kali sinyal masukan. Sinyal masukan disini dapat berupa sinyal AC
ataupun DC. Prinsip dasar transistor sebagai penguat adalah arus kecil pada
basis mengontrol arus yang lebih besar dari kolektor melewati transistor.
Transistor berfungsi sebagai penguat ketika arus basis berubah. Perubahan
kecil arus basis mengontrol perubahan besar pada arus yang mengalir dari
kolektor ke emitter. Pada saat ini transistor berfungsi sebagai penguat.

Ada 3 jenis penguat transistor yang sering digunakan yakni:


1. Common Base
Penguat jenis ini digunakan dalam penguatan tegangan. Pada
rangkaiannya emitor merupakan input dan collector adalah output.
Sedangkan basis disambungkan ke ground.
2. Common Emitor
Penguat jenis ini juga digunakan dalam penguatan tegangan, dan pada
rangkaiannya input adalah basis dan output adalah collector sedangkan
emitor dihubungkan ke ground
3. Common Colector
Penguat jenis ini digunakan dalam penguatan arus. Pada rangkaiannya
mirip dengan common emitor. Namun, inputnya dihubungkan ke basis
dan output dihubungkan ke emitor. Pada rangkaian penguat common
collector ini nilai tegangan output hamper sama dengan nilai tegangan
inputnya.
Adapun jenis rangkaian penguat yang paling banyak digunakan adalah
rangkaian penguat common emitter karena memiliki sifat yakni
menguatkan tegangan puncak amplitude dari sinyal masukan.
Adapun sifat-sifat dari penguat common emitter adalah :
- Signal output berbeda phasa 180 derajat
- Memungkinkan adanya osilasi akibat feedback, untuk mencegahnya sering dipasang feedback
negatif.
- Sering dipakai sebagai penguat audio (frekuensi rendah)
- Stabilitas penguatan rendah karena tergantung stabilitas suhu dan bisa transistor
Pada percobaan kali ini praktikan mempelajari fungsi transistor sebagai
penguat tegangan dengan menggunakan konfigurasi common emmiter.
Rangkaian emitter bersama (common-emitter) adalah rangkaian BJT yang
menggunakan terminal emitor sebagai terminal bersama yang terhubung
ke sinyal basis (ground), sedangkan terminal masukan dan keluarannya
terletak masing-masing pada terminal basis dan terminal kolektor. Berikut
merupakan skema sederhana dari rangkaian penguat BJT:

Dari gambar bisa kita lihat pada rangkaiannya input adalah basis dan
output adalah collector sedangkan emitor dihubungkan ke ground. Untuk
lebih jelasnya, kita bisa lihat dan pelajari hasil praktikum dan pengukuran
dari system penguat transistor berikut.
II. ALAT & BAHAN
Alat :
Multimeter
Supply daya
Osiloskop
AFG
Breadboard
Bahan :
Resistor
- R1 = 68 K
- R2 = 12 K
- R C= 3300
- R E= 270
- Rs = 1200
- RL = 47 K
Kapasitor
- C1 = 10 F/16V
- C2 = 10 F/16V
- CE = 47 F/25V
Transistor Fcs 9012
I.
Hfe : 190 kali
III.

GAMBAR RANGKAIAN DAN ANALISA


Gambar rangkain dalam bread Board

a. Pengujian Statis Penguat tegangan Transistor

Dari gambar diatas, bisa kita lihat bahwa penguat yang kita gunakan
adalah penguat jenis common emitor. Input adalah basis dan output
adalah collector sedangkan emitor dihubungkan ke ground.
C1 merupakan blocking capacitor yang fungsinya yakni untuk melewatkan
sinyal ac saja dari input tersebut dan sinyal input dc nya akan diblok. Dan
resistor berfungsi sebagai pemberi hambatan sehingga terdapat beda
tegangan anatara kaki-kaki transistor, dimana tegangan pada basis
relative lebih kecil daripada kaki yang lain. Kapasitor CE berfungsi sebagai
bypass yang menyerap tegangan ke dalam dirinya, sehinngga tegangan
tidak masuk ke hambatan RE hinnga akhirnya tidak ada hubung singkat
tegangan input 8 volt yang digrounded. Kapasitor C2 adalah kapasitor
yang memasok sinyal output untuk load . Dengan konfigurasi common
emitor penguat diatas adalah penguat kelas A.Tipe penguat dibuat
dengan mengatur arus bisa basis yang sesuai pada titik tertentu untuk
mendapatkan titik kerja pada garis beban rangkaian tersebut.
b. Pengujian Output dan Input Maksimum tanpa Distorsi
Pada bagian ini rangkaian yang digunakan masih sama dengan rangkaian
yang diatas, namun pada bagian ini kita menggunakan AFG (Audio
Frequency Generator) . Disini kita akan mengamati V.in maksimum dan
V.out maksimum dengan mengatur amplitude pada AFG dimana kita
memperbesar amplitudonya sampai gelombang pada osiloskop mendekati
distorsi. Dan kita mengukur nilai V.in dan V.out maksimumnya. Dari
perbandingan V.out dan V.in nya lah kita akan menentukan berapa besar
penguatan yang dilakukan oleh penguat transistor BJT yang sedang kita
lakukan ini.

Adapun bentuk skemanya yaitu yakni


V.in maks

V.out maks

V.out terdistorsi
Distorsi

Distorsi

Gambar A merupakan bentuk gelombang yang ditampilkan oleh osiloskop


tanpa ada pengaturan amplitude. Dengan kata lain rangkaian belum
terhubung dengan AFG. Sementara pada gambar yang kedua, nilai
amplitude gelombang yang dihasilkan diperbesar, sehingga nilai V.outnya
juga semakin besar. Hal ini bisa kita lihat dari gambar, dimana besar
amplitudonya meningkat.Dan jika nilai amplitudonya terus diperbesar,
maka gelombang akan mengalami yang namanya distorsi dimana bentuk
gelombang mulai berubah menjadi tidak begitu teratur. Distorsi bisaanya
dimulai pada bagian amplitude dari sebuah gelombang. Bisa kita lihat
penjelasannya dari gambar ketiga diatas. Amplitudo gelombang ini telah
melebihi Vout maks sehingga titik puncak atasnya terpancung hingga
sebesar Vout maks.

Gelombang ini tak berbentuk sinusoidal utuh lagi.

Dalam pengukuran, sebaiknya kita melakukan pengukuran untuk V.out


maksimumnya saat bentuk gelombang sangat mendekat distorsi, namun
belum terjadi distorsi.
c. Pengujian Tanggapan Frekuensi Penguat
d. Pengujian Impedansi Input dan Output Penguat dengan frekuensi 100 Hz

Untai
penguat
Tegangan

CRO

AFG

Untai
penguat
Tegangan

AFG

CRO

Pada bagian kita kita membandingkan nilai input dan output dari sebuah
rangkaian penguat dengan dan tanpa impedansi. Adapun untuk penjelasan lebih
lanjut bisa kita lihat pada bagian analisa hasil percobaan pada bagian
selanjutnya

e. HASIL PENGUJIAN
Hfe=185
a. Pengujian Statis Penguat tegangan Transistor

Vb
Vbe
Ve
Vce
Vc
Vcc

= 0.24
Volt
= -1,2
= 0.243 Volt
= 1.59
= 0.05
Volt
= 6.97

Volt
Volt
Volt

b. Pengujian Output dan Input Maks tanpa distorsi dengan frekuensi 100 hz

Vout maks

= 5.12 VoltVpp

Vin maks = 0.83 Volt Vpp

AV (Penguatan)=

Vout maks
=6.16 kali
Vinmaks

c. Pengujian Tanggapan Frekuensi Penguat


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Frekuensi
(Hz)
100
300
500
800
1500
3000
5000
10000
15000
30000
50000
150000
300000
500000
1000000

V Out (Vpp)

V.In (Vpp)

AV

dB

4.56
4.88
5.12
5.13
5.00
5.00
5.04
5.24
5.04
4.92
4.84
4.08
2.88
1.88
840m

0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83
0.83

5.49
5.88
6.16
6.18
6.02
6.02
6.07
6.31
6.07
5.92
5.83
4.92
3.46
2.26
1.01

14.79
15.38
15.79
15.82
15.59
15.59
16.66
16
15.66
15.44
15.37
13.84
10.78
7.08
0.08

d. Pengujian Impedansi input dan output penguat dengan frekuensi 100 Hz


Gambar I

Penguji

Tanpa RL

Dengan RL

Vs (Vpp)

1.72 V

1.72 V

Vin (Vpp)

1.5 V

1.5 V

Z.in

11.72

11.72 V

Gambar II
Voutput tanpa beban
ZL

= 800 mVpp
=5.38 K

f. ANALISIS HASIL PENGUJIAN


a.

Pengujian Statis Penguat Tegangan Transistor


Untuk menguji sejauh mana ketepatan hasil pengukuran yang kita
lakukan, ada baiknya jika kita membandingkan hasil pengukuran kita
dengan perhitungan secara manual. Jjika perbedaannya dekat, itu berarti
pengukuran kita berhasil/ sudah dilakukan dengan tepat, namun jika
perbedaan yang kita temukan cukup jauh, kita perlu menganalisis dimana
kesalahan kita saat melakukan pengukuran.
Adapun perhitungannya secara manual adalah sbb :

V B=V Th =

R2
12
V cc =
7=1.05 Volt
R 1+ R 2
68+12

RTh =

(Nilai terukur VB = 0.24V)

R1 R2 12 68
=
=10.2 K
R 1+ R 2
80

Setelah didapat VTh atau VB, maka :

I b=

V Th V be
1.05 V 0.7 V
=
=0.0054 mA
R Th + ( + 1 ) R E 10.2 K+53,46 K

I C I E= I b=197 0.0054 mA=1.06 mA


V C =V CC I C RC =7 V 1.06 mA 3300 =3.49 Volt

(Nilai terukur VC =

0,05 V)

V E =I E R E =1.06 mA 270 =0.286 Volt

(Nilai terukur VE = 0.243 V)

V CE =V CC I C ( R C + R E )=7 V 1.06 mA ( 3.3 K+0.27 K )


3.21Volt (Nilai terukur V = 1.59 V)
CE

Dari hasil perhitungan diatas, ada beberapa bagian yang nilai terukur dan
nilai hasil perhitungan manual selisihnya tidak lagi besar seperti Ve,
namun kebanyakan nilai terukur dan nilai hasil perhitungan manual
memiliki selisih yang cukup bahkan sangat besar. Saya juga tidak begitu
mengerti kenapa
hal ini terjadi. Ada banyak factor yang bisa

menyebabkan hal ini terjadi seperti kekurang tepatan dalam perangkaian,


proses menghubungkan alat ukur dengan alat yang dikukur kurang pas
atau mungkin kesalahan pada alatnya sendiri. Berdasarkan pengalaman
waktu praktikum, kami mengalami kesulitan dalam penggunaan alat,
karna hasil yang ditampilkan jauh dari seharusnya. Hal inilah yang
mungkin jadi penyebabnya mengapa hasil perhitungan dan hasil
pengukuran memiliki selisih yang sangat besar.

b.

Penyajian output dan input Mak tanpa distorsi dengan frekuensi 1000 hz
Untuk megetahui berapa besar penguatan dari rangkaian yang kita buat,
maka kita harus mencari Vout maks dan Vin maks terlebih dahulu. Untuk
mendapatkan Vout maks, kutub positif AFG harus dihubungkan ke titik A,
sedangkan probe CRO dihubungkan ke output B. Sementara itu, untuk
mendapatkan Vin maks, probe CRO dipindah dari titik A ke titik B.
Gelombang sinus didapat dengan cara mengatur VOLTS/DIV pada
kedudukan yang tepat.
Rumus untuk mencari besar penguatan yang dihasilkan:

AV ( penguatan ) =

V outmaks
V maks

Pada penguat transistor common-emitter amplifier diatas terdapatkan V out mak sebesar
5.12 Vpp dan V In mak 0.83Vpp. Sehingga AV (penguatan) diperoleh = 6.16 .Dari hasil

penguatan tersebut termasuk penguatan tengah (midrange).


Distorsi amplitudo sinyal output pada sebuah amplifier dapat berupa terpotongnya sinyal
output puncak positif maupun puncak negatif atau keduanya. Pada dasarnya suatu amplifier
dikatakan memiliki gelombang output yang terdistorsi apabila sinyal output memiliki bentuk
yang tidak sesuai dengan sinyal masukannya. Distorsi amplitudo adalah cacatnya sinyal
output yang dilihat dari sisi amplitudo sinyal output tersebut. Distorsi amplitudo dapat
disebabkan oleh
- Pemberian tegangan bisa yang salah pada amplifier
- Setting faktor penguatan yang melebihi kapasitas tegangan sumber amplifier
- Sinyal input yang terlalu besar sehingga melebihi kapasitas tegangan sumber amplifier
Tingkat kesulitan pada pengujian ini adalah osiloskop yang sulit dipakai (hasilnya jauh dari
harapan)

c.

Penyajian Tanggapan Frekuensi Penguat


Dari table diatas (hasil pengujian) dapat kita bentuk grafik sebagai
berikut :

Grafik hubungan antara frekuensi dan desibel (dB)

desibel (dB)

18
15.81
15.79
15.66
15.66
15.66
15.66
15.66
15.44
15.37
15.31
14.79
16
13.82
14
10.78
12
10
7.08
8
6
4
2
0
-2

-0.35

frekuensi (Hz)

Dapat dilihat seiiring pertambahan frekuensi AFG Vout (Vpp) semakin kecil
dan Vin (Vpp) cenderung tetap. Karena AV merupakan hasil pembagian dari
Vout (Vpp) dan Vin (Vpp) sementara Vin V(Vpp) cenderung tetap , maka
penguatannya berbanding lurus dengan Vout (Vpp).

Saat frekuensi rendah Re berpengaruh karena tidak dihubung singkat dengan ground oleh
CE (CE dianggap open circuit) sehingga gain nya minimum.
Pada saat frekuensi meningkat pada frekuensi tengah, reaktansi kapasitor Ce akan
berkurang sehingga impedans paralel Re dan Ce kecil sampai resistor Re dihubung
singkat ke ground oleh Ce. Gain pada frekuensi tengah ditentukan oleh:
V out maks
AV (penguatan) =
V mak s
Untuk besar dB dapat diturunkan dari rumus,
dB

= 10 log

Pout
Pin

= 10 log

( Vout ) x ( Vout ) / R
( Vin ) x ( Vin ) / R

= 20 log

Vout
Vin

Dimana dB disini merupakan voltage gain yaitu perbandingan antara voltase


output dengan voltase input pada suatu rangkaian penguat.
d. Pengujian Impedans Input dan output dengan frekuensi 1000 hz
Sebelum masuk ke penjelasan analisa perecobaan ada baiknya kita melihat
kembali table hasil percobaan
Penguji

Tanpa RL

Dengan RL

Vs (Vpp)

1.72 V

1.72 V

Vin (Vpp)

1.5 V

1.5 V

Z.in

11.72

11.72 V

Bisa kita lihat dari table bahwa Perbedaan antara vin dan Vs relative kecil.
Dimana seharusnya Vin sudah mengalami drop tegangan akibat pengaruh
RS. Namun jika dilihat hasil pengukuran, hal tersebut sepertinya tidak
tercapai. Mungkin ada terjadi kesalahan prosedur dalam pengukuran yang
mengakibatkan hal-hal tersebut diatas tidak terukur seperti seharusnya

g. KESIMPULAN
1. Transistor merupakan salah satu komponen yang dapat digunakan dalam
penguat
2. Rangkaian penguat dengan transistor satu lapis dapat menghasilkan rangkaian penguat yang
dapat memperkuat tegangan input secara utuh.
3. Ampifier memperkuat sinyal AC
4. Pada Bipolar Junction Transistor terdapat tiga konfigurasi yaitu Common
Base, Common Emitter dan Common Collector
5. Besar penguatan sinyal sebaiknya diukur sinyal elombang yang hendak diukur mendekati
keadaan terdistorsi (Semakin dekat dengan keadaan terdistorsi, semakin akurat hasil
pengukuran yang dilakukan)
6. Distorsi menyebabkan cacatnya bentuk gelombang ,keluaran sinyal
output tidak sesuai dengan sinyal input
7. Apabila frekuensi AFG input rangkaian diubah semakin tinggi maka Vout
(Vpp) semakin kecil sementara V in (Vpp) cenderung tetap, AV dan dB pun
semakin kecil.
8. Nilai impedansi output rangkaian dapat dicari dengan menghubung sumber ke port input
kemudian melakukan pembebanan hingga nilai tegangan jatuhnya setengah dari nilai
tegangan tanpa beban. Hambatan beban menyatakan nilai impedansi output rangkaian
9.

h. LAMPIRAN
Jawaban Pertanyaan:
1. Blocking Capacitor adalah kapasitor yang hanya melewatkan tegangan AC saja dari input
yang diterimanya, sementara tegangan DC diblok/ dicegah.
2. By pass capasitor adalah kapasitor yang terhubung dengan ground pada common
emitter dan dirangkai parallel dengan hambatan emitter. Kapasitor ini digunakan untuk membypass atau menghindari resistor emitter pada saat analisis AC, karena pada saat itu, untuk
nilai frekuensi yang sesuai, reaktansinya akan kecil sehingga dapat dianggap short circuit
sehingga arus akan melalui kapasitor dan tidak melewati hambatan emitter seperti saat
analisis DC.
3. Titik lengang adalah titik yang dimana saat penguat tidak mendapat sinya
AC untuk diolah yang menyebabkan DC values, Ic dan Vce menjadi
konstan
4. Yang menyebabkan out terpacung adalah jika tegangan output terpancung di bagian atas,
artinya sistem mengalami distorsi. Hal ini dapat diakibatkan karena keberadaan titik lengang
(Q point) yang dekat dengan keadaan cut-off ataupun keadaan saturasi dari transistor
sehingga tegangan output yang dihasilkan tidak berbentuk sinusoidal sempurna.
5. Penguat Tak Membalik (non inverting amplifier)
Penguat Tak-Membalik (Non-Inverting Amplifier) merupakan penguat
sinyal dengan karakteristik dasar sinyal output yang dikuatkan memiliki
fasa yang sama dengan sinyal input. Rangkain penguat tak-membalik ini
dapat digunakan untuk memperkuat isyarat AC maupun DC dengan
keluaran yang tetap sefase dengan sinyal inputnya. Impedansi masukan
dari rangkaian penguat tak-membalik (non-inverting amplifier) berharga
sangat tinggi dengan nilai impedansi sekitar 100 MOhm
Penguat Membalik (Inverting amplifier)
Inverting Amplifier merupakan penerapan dari penguat operasional
sebagai penguat sinyal dengan karakteristik dasar sinyal output memiliki
phase yang berkebalikan dengan phase sinyal input. Pada dasarnya
penguat operasional (Op-Amp) memiliki faktor penguatan yang sangat
tinggi (100.000 kali) pada kondisi tanpa rangkaian umpan balik. Dalam
inverting amplifier salah satu fungsi pamasangan resistor umpan balik
(feedback) dan resistor input adalah untuk mengatur faktor penguatan
inverting amplifier (penguat membalik) tersebut. Dengan dipasangnya
resistor feedback (RF) dan resistor input (Rin) maka faktor penguatan dari
penguat membalik dapat diatur dari 1 sampai 100.000 kali.
6. Penguat common emitor adalah Penguat yang digunakan dalam
penguatan tegangan, dan pada rangkaiannya input adalah basis dan
output adalah collector sedangkan emitor dihubungkan ke ground
Adapun jenis rangkaian penguat ini memiliki sifat yakni menguatkan
teganagan puncak amplitude dari sinyal masukan.
Adapun sifat-sifat dari penguat common emitter adalah :
- Signal output berbeda phasa 180 derajat
-Memungkinkan adanya osilasi akibat feedback, untuk mencegahnya sering dipasang
feedback negatif.
- Sering dipakai sebagai penguat audio (frekuensi rendah)
- Stabilitas penguatan rendah karena tergantung stabilitas suhu dan bisa transistor