P. 1
dasar2 ilmu sastra

dasar2 ilmu sastra

|Views: 9,543|Likes:
Dipublikasikan oleh theonlywann
hanya sebuah tulisan rintisan khusus untuk pelajar sastra tingkat mula.
hanya sebuah tulisan rintisan khusus untuk pelajar sastra tingkat mula.

More info:

Published by: theonlywann on May 04, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Prosa adalah

suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang

dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Jenis

tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya,

prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai

jenis media lainnya.

Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis: prosa naratif, prosa deskriptif, prosa

eksposisi, dan prosa argumentatif. Dalam kaitannya dengan karya sastra, prosa yang lebih

tepat adalah prosa naratif. Prosa naratif yang umum kita temui adalah cerpen dan novel.

Dilihat dari beberapa aspek seperti unsure-unsur dan bentuknya, cerpen dan novel memiliki

kesamaan. Namun deikian kita juga dapat membedakan cerpen dan novel tersebut dari

intensitas dan hal-hal lainnya. Tabel berikut ini menjelaskan perbedaan antara cerpen dan

novel.

No Unsur

Cerpen

Novel

1

Alur

Sederhana

Kompleks

2

Konflik

Tidak selalu terjadi konflik

batin, dan tidak selalu

mengubah nasib tokoh

Terjadinya konflik batin

hingga menimbulkan

perubahan nasib

3

Panjang cerita

Menceritakan kehidupan

tokoh yang dianggap penting

Menceritakan sebagian besar

kehidupan tokoh

4

Tokoh

Lebih Sedikit

Lebih banyak, kompleks

5

Penokohan

Karakter tokoh tidak

mendetail.

Karakter tokoh disampaikan

secara mendetail.

6

Alur

Lebih sederhana, lebih sedikit Lebih panjang dan rumit,

terjadi beberapa insiden yang

mempengaruhi jalan cerita

7

Ketebalan teks

Biasanya 2-30 halaman

Kurang lebih 80-900 halaman

8

Waktu pembacaan 5-30 menit, biasanya dapat

diselesaikan dibaca dengan

sekali duduk saja.

Minimal 30 menit sampai

berhari-hari pada pembacaan

kontinyu

2. Unsur-Unsur Intrinsik Prosa

Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik dalam sebuah karya prosa adalah unsur-unsur

pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya itu sendiri. Untuk karya

sastra dalam bentuk prosa, unsur-unsur intrinsiknya ada tujuh: 1) tema, 2) amanat, 3) tokoh,

4) alur (plot), 5) latar (setting), 6) sudut pandang, dan 7) gaya bahasa.

a. Tema

Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Tema

adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang

menjadi pokok masalah dalam cerita.

Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Karena itu, tema menjadi dasar

pengembangan seluruh cerita. Tema dalam banyak hal bersifat ´mengikat´ kehadiran atau

ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu, termasuk pula berbagai unsur intrinsik

yang lain.

Tema ada yang dinyatakan secara eksplisit (disebutkan) dan ada pula yang dinyatakan secara

implisit (tanpa disebutkan tetapi dipahami).

Dalam menentukan tema, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: minat

pribadi, selera pembaca, dan keinginan penerbit atau penguasa.

Dalam sebuah karya sastra, disamping ada tema sentral, seringkali ada pula tema sampingan.

Tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita.

Adapun tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral.

b. Amanat

Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui

karyanya. Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara

memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada

tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan

penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan

dengan gagasan utama cerita.

c. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu

mampu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan adalah cara menampilkan tokoh atau

pelaku dalam cerita (Aminuddin, 1995:79). Mengenai penokohan, menurut Wellek dan

Warren (diterjemahkan oleh Melani Budianta, 1990: 288), ada penokohan statis dan ada

penokohan dinamis atau penokohan berkembang.

Tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh

sentral atau sering disebut juga tokoh utama adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa

dalam cerita. Sedangkan tokoh bawahan atau disebut juga tikoh pembantu atau figuran

memiliki porsi pencreitaan yang lebih sedikit.

Tokoh juga dapat dibedakan berdasarkan karakter atau pennokohannya dalam cerita.

Berdasarkan karakternya, tokoh dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

y Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau

menyampaikan nilai-nilai positif.

y Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan

dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.

Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Ada dua metode

penyajian watak tokoh, yaitu:

y Metode analitis/langsung/diskursif, yaitu penyajian watak tokoh dengan cara

memaparkan watak tokoh secara langsung.

y Metode dramatik/tak langsung/ragaan, yaitu penyajian watak tokoh melalui

pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat

pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.

Adapun menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM, ada lima cara menyajikan watak tokoh,

yaitu:

y Melalui apa yang diperbuatnya, tindakan-tindakannya, terutama bagaimana ia

bersikap dalam situasi kritis.

y Melalui ucapana-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh

tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus.

y Melalui penggambaran fisik tokoh.

y Melalui pikiran-pikirannya

y Melalui penerangan langsung

d. Alur (Plot)

Alur atau plot merupakan urutan yang temporal dan logis sebagai implikasi atau biasa

disebut kausalitas (Todorov, 1985: 41). Menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2000: 113),

alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan

secara sebab-akibat. Peristiwa yang satu menyebabkan atau disebabkan peristiwa yang lain.

Sedangkan pengaluran merupakan kegiatan pengembangan alur supaya indah dan menarik.

Adapun struktur alur adalah sebagai berikut:

y Bagian awal, terdiri atas: 1) paparan (exposition), 2) rangsangan (inciting moment),

dan 3) gawatan (rising action).

y Bagian tengah, terdiri atas: 4) tikaian (conflict), 5) rumitan (complication), dan 6)

klimaks.

y Bagian akhir, terdiri atas: 7) leraian (falling action), dan 8- selesaian (denouement).

e. Latar (setting)

Latar menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial

tempat peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2000: 216).

Oleh karena itu, unsur latar terdiri atas unsur tempat atau lokasi, waktu, dan latar sosial.

y Latar tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam

sebuah karya fiksi.

y Latar waktu, berhubungan dengan masalah µkapan¶ terjadinya peristiwa-peristiwa

yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.

y Latar sosial, mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial

masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial bisa

mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara

berpikir dan bersikap, serta status sosial.

f. Sudut pandang (point of view)

Sudut pandang adalah cara memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan

menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Dalam hal ini, ada dua macam sudut pandang

yang bisa dipakai:

1) Sudut pandang orang pertama (first person point of view)

Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang orang pertama, µaku¶,

narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si µaku¶ tokoh yang

berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau

tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami dan dirasakan, serta sikapnya

terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan

merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si µaku¶ tersebut.

2) Sudut pandang orang ketiga (third person point of view)

Dalam cerita yang menpergunakan sudut pandang orang ketiga, µdia¶, narator adalah

seorang yang berada di luar cerita, yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan

menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita,

khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi

dipergunakan kata ganti.

g. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya

menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus didukung oleh

diksi (pemilihan kata) yang tepat. Namun, diksi bukanlah satu-satunya hal yang membentuk

gaya bahasa.

Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya

seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya,

karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera

pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitamya.

Gaya bahasa dapat menciptakan suasana yang berbeda-beda: berterus terang, satiris,

simpatik, menjengkelkan, emosional, dan sebagainya. Bahasa dapat menciptakan suasana

yang tepat bagi adegan seram, adegan cinta, adegan peperangan dan lain-lain.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->