Anda di halaman 1dari 145

Tugas Kelompok

Mata Kuliah : Studio Perencanaan Kota


Dosen Pembimbing : Pror. Dr. lr. Ananto Yudhono, M.Eng
lr, Syafri, Msi
lswahyudin, A.R., SI

TUGAS BESAR
PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG (RTR) KAWASAN STRATEGIS
KABUPATEN (SKS) AGROPOLITAN MANNANTI KEC.TELLU LIMPOE DAN
AGROPOLITAN BIKERU KEC.SINJAI SELATAN

Oleh:
Nama

Nim

JURUSAN TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN 2014

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2. Tujuan
Adapun Tujuannya adalah
a. Mewujudkan Rencana tata ruang yang berkualitas, aplikatif dan
optimal sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan daerah .
b. Mewujudkan Rencana tata ruang yang mampu memformulasikan
antiara kepentingan masyarakat dengan trend kewilayahan dan
daya dukung kawasan sehingga diperoleh produk tata ruang yang
partisipatif dan aplikatif.
c. Mewujudkan daerah Kabupaten Sinjai yang memiliki acuan dalam
mengarahkan berbagai kegiatan pembangunan daerah dalam
mengembangkan kawasan strategis agropolitan, yang saat ini
telah menjadi program pembangunan nasional berbasis
kompetensi pertanian yang melibatkan berbagai pihak dari
kalangan lintas sektoral dan lintas kelembagaan.
3. sasaran
Sedangkan sasaran yang hendak dicapai dalam Penyusunan
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropolitan Kecamatan Tellulimpoe adalah :
a. Mengidentifikasikan tingkat perkembangan wilayah
b. Mengidentifikasikan kondisi, potensi dan masalah kawasan
strategis, serta scenario penanganan sektor-sektor sesuai dengan
kecenderungan pekembangan yang ada,
c. Pengembangan struktur ruang yang sesuai dengan fungsi
kawasan dan terakomodasinya perkembangan yang ada,
d. Tersusunnya rencana kawasan strategis kabupaten (KSK)
Agropolitan di Kabupaten Sinjai.
e. Tersusunnya indikasi program pembangunan jangka pendek
maupun jangka menengah di wilayah perencanaan.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropolitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
KATA PENGANTAR
Laporan Kegiatan Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan
Strategis Kabupaten (KSK) Agropolitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan
Agropolitan Bikeru Kec.Sinjai Selatan merupakan tahap kedua dari 3 (tiga)
seri laporan Penyusunan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Agropolitan
Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec.Sinjai Selatan.
Materi Laporan Berisi antara lain: gambaran kegiatan Kawasan Strategis
Kabupaten (KSK) Agropolitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan
Bikeru Kec.Sinjai Selatan, ringkasan RTRW Kabupaten Sinjai , gambaran
umum wilayah dan teknik analisis.
Dalam proses penyusunan, disadari bahwa lengkap dan objektivitasnya
sumber-sumber data dan informasi sebagai basis penilaian Laporan Antara,
maka seluruh komponen yang terkait termasuk tim teknis telah memberikan
kontribusi yang sangat berharga, sehingga laporan ini dapat dipertanggung
jawabkan.
Dengan selesainya laporan ini, tim penyusun mengucapkan terima kasih
kepada pihak yang terkait, atas bantuannya hingga terlaksananya
penyusunan laporan ini, dengan harapan semoga dapat bermanfaat
terutama dalam penyusunan laporan tahap berikutnya.

Makassar, Agustus 2014

Tim Penyusun

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropolitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropoftan Nkeru Kec.Sinjai Selatan
C. Ruang Lingkup
1. Lingkup Wilayah
Wilayah perencanaan dalam kaitannya dengan Penyusunan
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropolitan (Masterplan Agropolitan) yaiitu Kawasan Agropolitan 11
Kelurahan/Desa di Kecamatan Tellulimpoe;
2. Lingkup Materi
Secara umum lingkup materi kegiatan Penyusunan Rencana
Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Kawasan
Agropolitan Kecamatan Tellulimpoe yaitu :
1) Pengumpulan data dan informasi terkait untuk memperoleh
gambaran kondisi awal wilayah dan potensi di bidang pertanian
dan agribisnis, serta untuk memperoleh data sebagai bahan
analisis.
2) ldentifikasi dan analisis, tahapan ini dilakukan untuk memperoleh
gambaran potensi pengembangan, prospek dan kebutuhan
pengembangan kawasan.
3) Pengembangan sknario, adalah merupakan tahap perumusan hasil
analisis dan menjelaskan langkahJangkah utama yang perlu
dikembangkan untuk dapat mencapai tujuan berjalannya sistem
usaha agribisnis di kawasan agropolitan. Pengembangan skenario
perlu disusun sebagai awal perumusan rencana, dan sebagai
bahan pelaksanaan konsultasi publik.
4) Konsultasi publik, perlu dilakukan untuk memperoleh kesamaan
visi dan misi pengembangan kdwasan strategis kabupaten (KSK)
agropolitan (Masterplan Agropolitan), disamping sebagai
pelaksanaan kewajiban peran serta masyarakat dalam
penyusunan rencana tata ruang, sehingga masyarakat luas dapat
ikut terlibat secara aktif sejak awal tahap perencanaan.
5) Perumusan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis
Kabupaten (KSK) Agropolitan (Masterplan Agropolitan) yang
muatannya:

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Sfrafeg,b Kabupaten (KSK)
Agropolitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. SinjaiSelatan
BAB II
TINJAUAN KEBIJAKAN RTRW
A. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Menurut UU Nomor 26 Tahun 2007, kawasan agropolitan adalah
kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah
perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan
sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan
fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan
sistem agrobisnis. Rencana tata ruang kawasan agropolitan
merupakan rencana rinci tata ruang 1 (satu) atau beberapa wilayah
kabupaten. Rencana tata ruang kawasan agropolitan memuat: a.
Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang kawasan agropolitan;
b. Rencana struktur ruang kawasan agropolitan yang meliputi sistem
pusat kegiatan dan sistem jaringan prasarana kawasan agropolitan; c.
Rencana pola ruang kawasan agropolitan yang meliputi kawasan
lindung dan kawasan budi daya; d. Arahan pemanfaatan ruang
kawasan agropolitan yang berisi indikasi program utama yang bersifat
interdependen antardesa; dan e. Ketentuan pengendalian
pemanfaatan ruang kawasan agropolitan yang berisi arahan peraturan
zonasi kawasan agropolitan, arahan ketentuan perizinan, arahan
ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.
B. Rencana Struktur Ruang
1. Sistem Pusat-Pusat Kegiatan
Pengaturan penataan ruang merupakan upaya pembentukan
landasan hukum bagi pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat dalam penataan ruang. Untuk mencapai tujuan penataan
ruang, perlu dilakukan penataan ruang melalui pelaksanaan
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Perencanaan tata ruang merupakan proses untuk menentukan


struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang
meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Rencana
struktur ruang merupakan kegiatan menyusun rencana yang
produknya menitikberatkan pada pengaturan hirarki pusat pemukiman
dan pusat pelayanan barang dan jasa, serta keterkaitan antara pusat
tersebut melalui sistem prasarana utama.
Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Sinjai, merupakan
kerangka tata ruang wilayah yang tersusun atas konstelasi pusatpusat
kegiatan yang berhirarki satu sama lain yang dihubungkan oleh
sistem jaringan prasarana, terutama jarin gan transportasi.
Pusat kegiatan di wilayah kabupaten, merupakan simpul
pelayanan sosial, budaya, ekonomi, dan/atau administrasi masyarakat
diwilayah kabupaten, yang terdiri atas:
a. Pusat Kegiatan Nasiona! (PKN) yang berada di wilayah
kabupaten;
b. Pusat Kegiatan Wilayah (Plff) yang berada di wilayah
kabupaten;
c. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang berada diwilayah kabupaten;
d. Pusat Kawasan Strategis Nasional (PKSN) yang berada diwilayah
kabupaten; dan
e. Pusat-pusat lain di dalam wilayah kabupaten yang wewenang
penentuannya ada pada pemerintah daerah kabupaten, yaitu:
1. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) merupakan kawasan
perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala
kecamatan atau beberapa desa; dan
2. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) merupakan pusat
permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala
antar desa.
Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Sinjai harus
menggambarkan arahan struktur ruang wilayah nasional dhn wilayah
provinsi yang ada diwilayah Kabupaten Sinjai. Berdasarkan Rencana

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................
A. Latar Belakang.....................................................................................................
B. Maksud, Tujuan dan Sasaran.............................................................................
C. Ruang Lingkup...................................................................................................
D. lstilah dan Defenisi .....................................................................................
E. Acuan Normatif...................................................................................................
BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN RTRW
A. Undang - Undang Nomor 26 Tahun 2007...........................................................
B. Rencana Struktur Ruang......................................................................................
C. Rencana Pola Ruan9............................................................................................
D. Rencana Kawasan Strategis................................................................................
E. Arahan Pemanfaatan Ruang..............................................................................
BAB III GAMBARAN UMUM WLAYAH PERENCANAAN...........................................
A. Gambaran Umum Kabupaten Sinjai
1. Kondisi Fisik Dasar.........................................................................................
2. Tutupan Lahan...............................................................................................
B. Gambaran Umum Kecamatan Tellulimpoe.....................................................
1. Letak Geografis.............................................................................................
2. Aspek Fisik....................................................................................................
3. Aspek Kependudukan....................................................................................
4. Ketersediaan Sarana Perkotaan....................................................................
5. Ketersediaan Prasarana Kawasan Perkotaan...............................................
6. Sektor Pertanian/Perkebunan......................................................................
7. Sektor Peternakan/Perikanan.........................................................................
8. Komoditas Unggulan......................................................................................
9. Sarana dan Prasarana Pertanaian................................................................

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang Kawasan RTR


KSK Agropolitan Kecamatan Tellulimpoe;
Rencana Struktur Ruang kawasan yang meliputi sistem pusat
kegiatan dan sistem jaringan prasarana RTR KSK Agropolitan
Kecamatan Tellulimpoe;.
Rencana Pola Ruang RTR KSK Agropolitan Kecamatan
Tellulimpoe yang meliputi kawasan lindung dan kawasan
budidaya
Arahan pemanfaatan ruang kawasan yang berisi indikasi
program utama yang bersifat interdependen antardesa.
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang RTR KSK
Agropolitan Kecamatan Tellulimpoe.
D. lstilah dan Defenisi
1. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten adalah rencana
tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten yang
merupakan penjabaran dari RTRW provinsi, yang berisi tujuan,
kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kabupaten, rencana
struktur ruang wilayah kabupaten, rencana pola ruang wilayah
kabupaten, penetapan kawasan strategis kabupaten, arahan
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten, dan ketentuan
pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten;
2. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten adalah rencana
secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten yang
dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten;
3. Kawasan Strategis Kabupaten adalah wilayah yang penataan
ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
penting secara dalam lingkup kabupaten terhadap perkembangan
ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan;
4. Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten yang
selanjutnya disingkat RTR KSK adalah rencana rinci dari rencana
tata ruang wilayah kabupaten yang memuat tujuan, kebijakan, dan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Selatan, di Kabupaten
Sinjai tidak ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
maupun Pusat Kegiatan Wilayah (Pl(A/), begitupula penetapan
Kawasan Strategis Nasional (KSN).
Pusat kegiatan di wilayah Kabupaten Sinjai merupakan simpul
pelayanan sosial, budaya, ekonomi, dan/atau administrasi masyarakat
diwilayah kabupaten, yang terdiri atas:
a. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Kabupaten Sinjai;
b. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) merupakan kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau
beberapa desa; dan
c. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) merupakan pusat
permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar
desa.
1. Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Sinjai merupakan pusat kegiatan
yang penetapannya ditentukan pada tingkat Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan
Peraturan Daerah Nomor 09 Tahun 2009, tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Selatan, ditetapkan
Pusat Kegiatan Lokal (PKL) di Kabupaten Sinjai, yaitu Kawasan
Perkotraan Sinjai. Wilayah pelayanan Kawasan Perkotaan Sinjai
(PKL), meliputi cakupan wilayah pelayanan seluruh wilayah
administratif Kabupaten Sinjai.
Selain berfungsi utama, semua kota-kota dalam hirarki ini
mempunyai peran sebagai fungsi sekunder atau fungsi penunjang
yang dimaksudkan sebagai pelengkap fungsi pelayanan yang
diembannya guna mendorong dan memacu peran fungsi
pelayanan utama. Kawasan Perkotaan Sinjai (PKL) mempunyai
peran fungsi penunjang yang diberikan sesuai dengan potensi dan
kemampuan wilayah, meliputi:

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Tabel: 2.2 Sebaran Luas Kawasan Pertanian Tanaman Pangan di


Kabupaten Sinjai Dirinci Menurut Kecamatan

NO
1
2
3
4
5
6
7
8

KECAMATAN

LAHAN PERSAWAHAN
(HA)

PRESENTASE
%

690,00
2.355,00
3.353,00
1.569,00
1.688,00
733,00
949,00
2.257,04
13.593,00

5,08
17,33
24,67
11,54
12,42
5,39
6,98
16,60
100,00

Sinjai Utara
Sinjai Timur
Sinjai Selatan
Sinjai Tengah
Sinjai Barat
Sinjai Borong
Bulupoddo
Tellulimpoe
TOTAL LUAS

Sumber: Hasil Analisis RTRW, Tahun. 2011

4) Peruntukan Pertanian Tanaman Hortikultura


Pada kegiatan pertanian hortikultura, jenis komoditi yang
dibudidayakan terutama adalah tanaman palawija dan holtikultura
(sayuran dan buah-buahan). Pada dasarnya kriteria penentuan
kesesuaian lahan kering hampir sama dengan kriteria penentuan
kesesuian lahan basah. Hal ini terutama dalam hal tekstur tanah,
resiko banjir dan genangan, kedalaman efektif tanah.
Pertanian tanaman hortikultura juga memerlukan kedalaman
efektif tanah minimal 60 cm. Produktivitas dan mutu panen pada
pertanian lahan kering cenderung menurun bila kedalaman efektif
tanah menurun. Batas ambang kedalaman efektif tanah ini adalah 30
cm. Sedangkan tekstur tanah yang terbaik bagi jenis pertanian lahan
kering adalah tanah yang berliat, berdebu halus, sampai berlempung
halus. Dalam hal ini tanah yang berkuarsa sangat tidak sesuai untuk
pengembangan pertanian kecuali kandungan kuarsanya sedang.
Adapun kriteria kawasan peruntukan pertanian tanaman
hortikultura meliputi:

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
a. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk pertanian
lahan kering;
b. Secara ruang apabila digunakan untuk kegiatan pertanian Iahan
kering mampu memberikan manfaat:
1. Meningkatkan produksi pangan dan pendayagunaan investasi;
2. Meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan
sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya;
3. Meningkatkan fungsi lindung;
4. Meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya
alam untuk pertanian pangan;
5. Meningkatkan pendapatan masyarakat;
6. Meningkatkan pendapatan daerah dan nasional;
7. Menciptakan kesempatan kerja;
8. Meningkatkan ekspor; dan
9. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c. Sesuai untuk pengembangan pertanian kecuali kandungan
kuarsanya sedang.
Hortikultura adalah komoditas Iahan kering berupa tanaman
sayur-sayuran. Dasar penentuan/tujuan pengembangan kawasan
peruntukan tanaman hortikultura di Kabupaten Sinjai, adalah:
a. Meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura yang
berkelanjutan tanpa mengabaikan aspek pelestarian sumberdaya
alam dan lingkungan hidup;
b. Menyediakan infrastruktur pendukung komoditas hortikultura.
c. Menyediakan lapangan kerja, meningkatkan kesempatan
berusaha bagi masyarakat dan meningkatkan pendapatan
masyarakat;
d. Meningkatkan peluang ekspor;
e. Menetapkan dan mengembangkan komoditas unggulan komersial
hortikultura sesuai kondisitanah dan agroklimat; dan
f. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan pelaku usaha.
Arahan lokasi pengembangan kawasan peruntukan tanaman

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
hortikultura di Kabupaten Sinjai, meliputi I (delapan) wilayah
kecamatan. Komoditi yang dikembangkan terdiri dari beberapa jenis
tanaman hortikultura, seperti bawang daun, kentang, kubis, petsai,
tomat, cabe, dan beberapa jenis tanaman lainnya. Untuk lebih
jelasnya lokasi pengembangan kawasan pertanian tanaman
hortikultura dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel: 2.3 Sebaran Kawasan Pertanian Tanaman Hortikultura di
Kabupaten Sinjai Dirinci Menurut Kecamatan

N
O
1
2
3
4
5
6
7
8

KECAMATAN
Sinjai Utara
SinjaiTimur
Sinjai Selatan
SinjaiTengah
Sinjai Barat
Sinjai Borong
Bulupoddo
Tellulimpoe
TOTAL LUAS

LUAS LAHAN (HA)


2.020,31
7.804,09
6.235,46
8.899,41
5.234,56
3.347,02
17,99
5.755,63
39.314,47

PERSENTASE
(%)
5,14
19,85
15,96
22,64
13,31
8,51
0,05
14,64
100,00

Sumber: Hasil Analisis RTRW, Tahun. 2011


5) Kawasan Peruntukan Perkebunan
BerdasarkanSK Menteri Pertanian No. 638/KPTS/Um/8/1981
kriteria fisik wilayah untuk penentuan lokasi tanaman tahunan adalah
lokasi yang mempunyai skor/nilai untuk faktor kelerengan, jenis tanah,
dan curah hujan adalah 125 sampai 175.
Kriteria kesesuaian lahan adalah, bahwa suatu wilayah pada
kawasan penyangga dinyatakan memenuhi syarat untuk ditetapkan
sebagai areal tanaman tahunan jika memenuhi syarat kesesuaian
lahan untuk tanaman tahun yang bersangkutan. Syarat kesesuaian
yang dimaksud adalah yang mempunyai nilai kesesuaian lahan dari

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan
Ekonomi yang ada di Kabupaten Sinjai, terdiri dari:
a. Kawasan Agropolitan di Kecamatan Tellulimpoe;
b. Kawasan Agropolitan di Kecamatan Sinjai Selatan;
c. Kawasan Agropolitan di Kecamatan Sinjai Selatan; dan
d. Kawasan Minapolitan di Kecamatan Sinjai Utara.
e. Kawasan Pemerintahan dan Perdagangan di Kecamatan
Sinjai Utara;
2) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Sosial dan
Budaya
Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Sosial dan
Budaya, merupakan kawasan yang memiliki niai strategis dari
sudut kepentingan sosia! budaya, seperti:
a. Tempat pelestarian dan pengembangan adat-istiadat;
b. Prioritas peningkatan kualitas sosial budaya;
c. Aset yang harus dilindungi dan dilestarikan;
d. Tempat perlindungan peninggalan budaya;
e. Tempat memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman
budaya;
f.Tempat yang memiliki potensi kerawanan terhadap konflik
sosial; dan
g.Hasil cipta karya budaya masyarakat yang dapat
menunjukkan jatidiri maupun penanda budaya (focal point,
landmark)
Penetapan kawasan ini bertujuan untuk memberikan ruang
bagi pengembangan sosial budaya termasuk pelestarian nilai-nilai
budaya lokal yang dapat menjadi ciri khas Kabupaten Sinjai, serta
sebagai daya tarik atraksi wisata budaya. Kawasan Strategis Dari
Sudut Kepentingan Sosial dan Budaya di Kabupaten Sinjai,
meliputi:
a. Kawasan Purbakala Rumah Adat Karangpuang di Kecamatan
Bulupoddo;

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
b. Kawasan Purbakala Batu Pake Gojeng, di Kecamatan Sinjai
Utara; dan
c. Kawasan Benteng Balanipa, di Kecamatan Sinjai Utara;
3) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pendayagunaan
Sumberdaya Alam dan/atau Teknologi Tinggi
Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pendayagunaan
Sumberdaya Alam danffeknologi Tinggi, merupakan kawasan
yang memiliki nilai strategis pendayagunaan sumberdaya alam
dan/atau teknologi tinggi di wilayah Kabupaten Sinjai, yaitu
Kawasan PLTA Manipi di Kecamatan Sinjai Barat.
Penetapan Kawasan Strategis Kepentingan Pendayagunaan
Sumberdaya Alam dan/Teknologi Tinggi, bertujuan untuk
memberikan ruang bagi kegiatan pengembangan teknologi yang
dapat bermanfaat bagi kepentingan pendidikan, ilmu
pengetahuan, dan pengembangan teknologi bagi pembangunan di
Kabupaten Sinjai.
4) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Fungsi Dan Daya
Dukung Lingkungan Hidup
Kawasan Strategis Kepentingan Fungsi Daya dukung dan
Lingkungan, merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dari
sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup,
seperti:
a. Tempat perlindungan keanekaragaman hayati;
b. Kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan
ekosistem, flora dan/atau fauna yang hampir punah dan atau
diperkirakan akan punah yang harus dilindungi dan/atau
dilestarikan;
c. Kawasan yang memberikan perlindungan keseimbangan tata
guna air yang setiap tahun berpeluang menimbulkan kerugian;
d. Kawasan rawan bencana alam; dan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
e. Kawasan yang sangat menentukan dalam perubahan rona
alam dan mempunyai dampak luas terhadap kelangsungan
kehidupan.
Kawasan Strategis Kepentingan Fungsi Daya Dukung dan
Lingkungan Hidup, merupakan arahan pengelolaan kawasan
lindung, yang penetapannya bertujuan untuk memberikan ruang
bagi perlindungan dan pelestarian Iingkungan, serta mencegah
terjadinya dampak akibat daya dukung lingkungan yang
mengalami degradasi, meliputi:
a. Kawasan Hutan Bakau Tongke-Tongke, di Kecamatan Sinjai
Timur;
b. Kawasan Pulau Sembilan, di Kecamatan Pulau Sembilan; dan
c. Kawasan Taman Hutan Raya Abdul Latief, di Kecamatan
Sinjai Borong.
E. Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten Sinjai
1. Umum
Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Sinjai,
merupakan perwujudan rencana tata ruang yang dijabarkan ke
dalam indikasi program utama penataan/pengembangan wilayah
Kabupaten Sinjai dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima)
tahunan sampai akhir tahun perencanaan (20 tahun).
a. Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Sinjai,
berfungsi:
1. Sebagai acuan pemrograman kabupaten; bagi pemerintah dan masyarakat
dalam penataan/pengembangan wilayah

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN........................................................................
A. Analisis Kondisi Fisik Wi1ayah.............................................................................
B. Analisis Komoditas Unggulan ..................................................................................
C. Analisis Kependudukan .....................................................................................
2. Kepadatan dan Daya Tampung Penduduk.........................................................
D. Analisis Kebutuhan Sarana................................................................................
E. Analisis Kebutuhan Jaringan Prasarana............................................................
F. Analisis Aksesibilitas ........................................................................................
G. Analisis Pengendalian Penurunan Kualitas ....................................................
H. Upaya Penanganan untuk menjamin kualitas....................................................
1. Sistem Pengemasan .................................................................................................
2. Bongkar Muat Komoditi...............................................................................
3. Pengangkutan dengan cepat ..............................................................................
l. Analisis Sistem Distribusi.........................................................................................
J. Analisis Arahan Pemanfaatan Lahan ........................................................................
K. Analisis Pusat Pertumbuhan.............................................................................
L. Kriteria Pengembangan Kawasan........................................................................
M. Analisis Strategi Pengembangan............................................................................
N. Keterkaitan Kawasan Agropolitan............................................................................

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
strategis pengembangan kawasan, konsep pengembangan
kawasan, ketentuan pemanfaatan ruang dan ketentuan
pengendalian pemanfaatan ruang serta pengelolaan kawasan;
5. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau
budi daya;
6. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan
karakteristik spesifi k;
7. Kawasan lnti KSK adalah kawasan di mana kegiatan utama KSK
berada, baik yang batasnya telah maupun belum ditetapkan
dengan peraturan perundang-undangan.
8. Kawasan Penyangga KSK adalah kawasan sekitar kawasan inti,
yang mempengaruhi fungsi kawasan inti atau dipengaruhi oleh
kawasan inti secara langsung;
9. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan;
10. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan
fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi
sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya
buatan;
11. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan
utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai
tempat permukiman perkotiaan, pemusatan dan distribusi
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial,dan kegiatan
ekonomi;
12. Kawasan Perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan
utama pertanian, termasuk pengelilaan sumber daya alam dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan,
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan social dan kegiatan
ekonomi;
13. Kawasan Agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
a. Pelayanan pemerintahan;
b. Jasakepariwisataan;
c. Permukiman;
d. Perdagangan;
e. Pelayanan Jasa sosial dan ekonomi; dan
f. Sistemtransportasi.
2. Pusat Pelayanan Kaurasan (PPK)
Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) adalah kawasan
perkotaan Kabupaten Sinjai yang berfungsi untuk melayani
kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa. Pusat Pelayanan
Kawasan (PPK) sebagaimana ditetapkan oleh Pemerintah
Kabupaten Sinjai, terdiri atas ibukota-ibukota kecamatan yang
tidak termasuk Pusat Kegiatan Lokal (PKL), seperti yang tertera
pada Tabel 2.1.
Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) di Kabupaten Sinjai,
diarahkan pada:
a. Peningkatan aksesibilitas ke Pusat Kegiatan Lokal (PKL),
dalam hal ini adalah Kawasan Perkotaan Sinjai;
b. Peningkatan aksesibilitas ke wilayah belakang yang
dilayaninya melalui pengembangan prasarana jaringan jalan;
c. Peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana produksi
bagi kawasan pertanian, perkebunan, dan perikanan; dan
d. Peningkatan prasarana komunikasi antar sentra produksi.
3. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL)
Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) adalah pusat
permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar
desa. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) sebagaimana
ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Sinjai, tertera pada Tabel
2.1_
Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL), sebagaimana
ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Sinjai diarahkan'pada:

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
sangat sesuai sampai marginal untuk tanaman tahunan. Dalam
penetapan pilihan komoditi tanaman tahunan selain pertimbangan
kesesuaian lahan, konservasi tanah dan air, juga perlu
mempertimbangkan aspek sosial ekonomi.
Kriteria kesesuaian lahan bagi pengembangan tanaman
keras/tahunan/perkebunan sangat beragam sesuai dengan jenis
komoditinya. Pada dasamya berbagai jenis tanaman keras dapat
tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 - 2.500 m dl atas permukaan
laut.
Kriteria kawasan peruntukan perkebunan meliputi:
a. Kawasan perkebunan (skor<125)/yang berada di Iuar kawasan
lindung;
b. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan
perkebunan; dan
c. Secara ruang apabila digunakan untuk kegiatan perkebunan
mampu memberikan manfaat:
1. Meningkatkan produksi pangan dan pendayagunaan investasi;
2. Meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan
sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya;
3. Meningkatkan fungsi lindung;
4. Meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumber daya
alam untuk pertanian pangan;
5. Meningkatkan pendapatan masyarakat;
6. Meningkatkan pendapatan daerah dan nasional;
7. Menciptakan kesempatan kerja;
8. Meningkatkan ekspor; dan
9. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Komoditi perkebunan yang dapat dikembangkan di Kabupaten
Sinjai meliputi komoditi Kelapa Dalam, Kelapa Hibrida, Kopi Cengkeh,
Lada, Kakao, Kapuk, Vanili, Pala, Tembakau, Karet, Kayu Manis, dan
beberapa jenis komoditas perkebunan Iainnya. Tanaman perkebunan
pada dasarnya dapat dibedakan dalam tanaman semusim (season

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2. Sebagai arahan untuk sektor dalam penyusunan program
(besaran, lokasi, sumber pendanaan, instansi pelaksana,
dan waktu pelaksanaan);
3. Sebagai dasar estimasi kebutuhan pembiayaan setiap
jangka waktu 5 (lima) tahun; dan
4. Sebagai acuan bagi masyarakat dalam melakukan
investasi.
b. Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Sinjai, disusun
berdasarkan:
1. Rencana struktur ruang dan pola ruang;
2. Ketersediaan sumberdaya dan sumber dana
pembangunan;
3. Kesepakatan pam pemangku kepentingan dan kebijakan
yang ditetapkan; dan
4. Prioritas pengembangan wilayah kabupaten dan
pentahapan rencana pelaksanaan program sesuai dengan
RPJPD.
c. Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Sinjai, disusun
dengan kriteria:
1. Mendukung perwujudan rencana struktur ruang, rencana
pola ruang, dan pengembangan kawasan strategis
kabupaten;
2. Mendukung program utama penataan ruang nasional dan
provinsi;
3. Realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam
jangka waktu perencanaan;
4. Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang
disusun, baik dalam jangka waktu tahunan maupun antar
lima tahunan; dan
5. Sinkronisasi antar program harus terjaga dalam satu
kerangka program terpadu pengembangafi wilayah
kabupaten,

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang
Gambar 2.2 Kawasan Hutan Produksi Terbatas
Gambar 2.3 Areal Pertanian Lahan Basah
Gambar 2.4 Peta Rencana Pola Ruang
Gambar 2.5 Peta Rencana Kawasan Strategis
Gambar 3.1 Peta Topografi Kab. Sinjai
Gambar 3.2 Peta Jenis Tanah
Gambar 3.3 Peta Curah Hujan
Gambar 3.4 Peta DAS
Gambar 3.5 Peta Tutupan Lahan
Gambar 3.6 Peta Administrasi Kecamatan .............
Gambar 3.7 Peta Topografi
Gambar 3.8 Peta Jenis Tanah
Gambar 3.9 Peta Curah Hujan
Gambar 3.10 Peta DAS
Gambar 3.11 Peta Tutupan Lahan
Gambar 3.12 Peta Sarana...........
Gambar 3.13 Peta Jalan
Gambar 3.14 Peta Telekomunikasi
Gambar 4.1 Peta Komoditas Unggulan
Gambar 4.2 Peta Arahan
Gambar 4.3 Peta Potensi...........
Gambar4.4 Peta Aliran Pemasaran
Gambar 4.5 Peta Hirarki Pelayanan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem
produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu
yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki
keruangan satuan sistem permukiman dan system agrobisnis;
14. Kota Terpadu Mandiri adalah kawasan Transmigrasi yang
pertumbuhannya dirancang menjadi Pusat Pertumbuhan melalui
pengelolaan sumbe rdaya alam berkelanjutan ;
15. Warisan Budaya/Adat Tertentu adalah kekayaan budaya (cultural
capita!) yang mempunyai nilai penting bagi pemahaman dan
pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan
dalam kerangka memupuk kepribadian masyarakat dan bangsa;
16. Kawasan Teknologi Tinggi adalah kawasan yang menggunakan
teknologi untuk kegiatan pengamatan, perekaman, pengolahan,
serta pelaporan data dan informasi terkait dengan keadaan bumi
dan angkasa;
17. Kawasan Sumber Daya Alam adalah kawasan yang muncul
secara alami yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan
manusia berupa komponen biotik (hewan, tumbuhan, dan
mikroorganisme) dan abiotik (minyak bumi, gas alam, berbagai
jenis logam, air, dan tanah);
18. Kawasan Tertinggal, adalah kawasan yang relatif kurang
berkembang dibading kawasan lain dan berpenduduk relatif
tertinggal;
19. Kawasan Kritis Lingkungan adalah kawasan yang berpotensi
mengalami masalah dan berdampak kepada kerusakan
lingkungan nasional dan global sebagai akibat (a) dampak
kegiatan manusia yang berlebihan dalam memanfaatkan sumber
daya alam, (b) dampak proses kegiatan geologi dan perubahan
ekosistem serta terjadinya bencana alam secara alami, dan (c)
dampak kegiatan manusia dan perubahan alam yang sangat
rentan dan mempunyai risiko tinggi;

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
a. Peningkatan aksesibilitas ke Pusat Pelayanan Kawasan
(PPK) dan aksesibilitas ke wilayah belakang yang
dilayaninya melalui pengembangan prasarana jaringan jalan;
b. Peningkatan ketersediaan prasarana dan sarana sektor
pertanian, termasuk pengelolaan sumberdaya alam; dan
c. Peningkatan prasarana sistem transportasi dan komunikasi
antar sentra produksi.
Tabel: 2.1 Rencana Hirarki Sistem Pusat-Pusat Kegiatan
Kabupaten Sinjai
N
O
1

KAWASAN
PERKOTAAN

. Sinjai

. Bikeru
Manipi
Mannanti

KECAMATAN

Sinjai Utara
Sinjai Timur
(Samataring
Saukang)

Sinjai Selatan
Sinjai Barat
Tellulimpoe

FUNGSI KOTA

Pemerintahan
kabupaten
Pelayanan sosial
ekonomi
Pariwisata
Sistem transportasi
Permukiman
Perdagangan
Perdagangan Lokal
Transportasi Lokal
Jasa
Kepariwisataan
Perikanan Laut
Jasa
Kepelabuhanan
Permukiman
Hasil Pertanian

HIRA
RKI
KOTA
PKL

PPK

Kambuno
Lappadata
Bulupoddo
. Mannanti
Pasir Putih

Pulau
Sembilan
SinjaiTengah
Bulupoddo
Tellulimpoe
Sinjai Borong

lndustriKecil/Rumah
Tangga
Hasil Pertanian
Hasil Perkebunan
Jasa
Kepariwisataan
Permukiman
Perikanan darat &
laut

PKL

Sumber: Hasil Analisis Tim RTRW, Tahun. 2011

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
plant) dan tanaman tahunan (annual plant). Kawasan perkebunan
yang dapat dikembangkan di Kabupaten Sinjai seluas 7.504,85 Ha
yang tersebar di hampir seluruh kecamatan.
Tabel:2.4 Arahan Rencana Pengembangan Kawasan Perkebunan di
Kabupaten Sinjai
LUAS
PERSENTASE
NO KAWASAN PERKEBUNAN
LAHAN(HA)
%
1
2
3
4
5
6
7

Kecamatan Sinjai Borong


Kecamatan Tellulimpoe
Kecamatan Sinjai Selatan
Kecamatan Sinjai Tengah
Kecamatan Sinjai Barat
Kecamatan Sinjai Utara
Kecamatan Bulupoddo
JUMLAH
Sumber: HasilAnalisis RTRW, Tahun 2011

1.525,72
2.903,90
1.515,56
139,38
1.021,75
8,69
389,9
7.504,85

20,33
39,69
2A,19
1,96
13,61
0,12
5,20
100.00

Upaya pengelolaan kawasan perkebunan dengan


memperhatikan aspirasi masyarakat petani, antara lain:
a. Merencanakan pengembangan pasar buah yang potensial untuk
terminal agribisnis pada pusat-pusat pengembangan kawasan
agropolitan;
b. Merencanakan pengembangan gudang hasil pertanian dengan
lokasi yang berdekatan dengan sentra hasil komoditi tanaman
pangan.
Peluang pembangunan sektor perkebunan di wilayah
Pengelolaan Kabupaten Sinjai pada masa mendatang cukup cerah,
seperti diketahui bahwa permintaan pasar merupakan fungsi dari
tingkat pendapatan, jumlah penduduk, harga komoditi, selera, mutu
dan citra produk pertanian yang dipasarkan.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2. Arahan Perwujudan Struktur Ruang
lndikasi program utama perwujudan struktur ruang wilayah
Kabupaten Sinjai, terdiri dari indikasi program untuk perwujudan
sistem pusat pelayanan kegiatan dan indikasi program untuk
perwujudan sistem jaringan prasarana wilayah (indikasi program
untuk perwujudan sistem jaringan transportasi; sistem jaringan
energi/kelistrikan; sistem jaringan telekomunikasi; sistem jaringan
sumberdaya air; dan indikasi program untuk perwujudan
prasarana pengelolaan lingkungan.
1) Pewujudan Pusat Kegiatan
Pembentukan pusat-pusat kegiatan secara berjenjang dan
bertahap sesuai pengembangan perkotaan, Prioritas
pembangunan sistem perkotaan di Kabupaten Sinjai, meliputi:
a. Mengakomodasi perubahan struktur pusat kegiatan dan
peningkatan prasarana dan sarana perkotaan di Kawasan
Perkotaan Sinjai (PKL), Kawasan Perkotaan Manipi, Bikeru
dan Mannanti (PPK), dengan penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan (PKL dan PPK);
b. Program pengembangan pusat-pusat pelayanan lokal (PPL)
sesuai dengan fungsi peruntukan lahannya; dan
c. Program pengembangan sistem prasarana wilayah untuk
mendukung pengembangan pusat-pusat kegiatan, baik PKL,
PPK maupun PPL.
2) Perwujudan Sistem Prasarana Wilayah
a. Transportasi
Pengembangan jaringan jalan melalui peningkatan jaringan
jalan dan melakukan pengembangan jaringan jalan yang
menghubungkan Kabupaten Sinjai dengan Kota Makassar,
jaringan jalan penghubung pada rencana kawasan agropolitan,
dan Kawasan Minapolitan menuju kawasan sentra-sentra
produksi masing-masing, melalui peningkatan jaringan jalan
pada tiap kelas jaringan jalan, serta melakukan studi kelayakan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
DAFTAR TABEL
Tabel:2.1 Rencana Hirarki Sistem Pusat-Pusat Kegiatan
Kabupaten Sinjai
Tabel:2.2 Sebaran Luas Kawasan Pertanian Tanaman Pangan
di Kabupaten Sinjai Dirinci Menurut Kecamatan ..........
Tabel:2.3 Sebaran Kawasan Pertanian Tanaman Hortikultura
di Kabupaten Sinjai Dirinci Menurut Kecamatan..........
Tabel:2.4 Arahan Rencana Pengembangan Kawasan
Perkebunan di Kabupaten Sinjai...............
Tabel:2.5. Rencana kawasan Strategis Provinsi (KSP)
di Kabupaten Sinjai
Tabel 3.1. Curah Hujan
Tabel 3.2. Data Luas Tutupan
Tabel 3.3 Jumlah Penduduk di Kecamatan Tellulimpoe
Tabel 3.4. Jumlah Penduduk berdasarkan jenis Kelamin
Tabel 3.5. Distribusi dan Kepadatan Penduduk
Tabel 3.6. Jumlah Penduduk Menurut Agama
Tabel 3.7. Jumlah Penduduk menurut mata pencaharian
Tabel 3.8. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencahrian
Tabel 3.9. Jumlah Sarana Pendidikan
Tabel 3.10 Jumlah Sarana Keshatan
Tabel 3.11 Jumlah Sarana Peribadatan............
Tabel 3.12 Banyaknya Usaha lndustri
Tabel 3.13 Banyaknya Toko/Kios .............
Tabel 3.14 Jumlah Sarana Olahraga
Tabel 3.15 Banyaknya Rumah Tangga
Tabel 3.16 Luas Tanah Sawah dan Sawah Kering
Tabel 3.17 Luas Sawah Menurut Jenis Pengairan
Tabel 3.18 Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi
Tabel 3.19 Luas tanam, luas panen dan produksi
Tabel 3.20 Jumlah Pohon dan Produksi Buah - Buahan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
20. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang
memiliki dua situs cagar budaya atau lebih yang letaknya
berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas;
21. Rawan Bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis,
biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik,
ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu
tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam,
mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk
menanggapi dampak buruk bahaya tertentu;
22. lzin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam
kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
23. Ketentuan Perizinan adalah ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
oleh pemerintah daerah kabupaten sesuai kewenangannya yang
harus dipenuhi oleh setiap pihak sebelum pemanfaatan ruang,
yang digunakan sebagai alat dalam melaksanakan pembangunan
keruangan yang tertib sesuai dengan rencana trata ruang yang
telah disusun dan ditetapkan;
24. Peraturan Zonasi adalah ketentauan yang mengatur tentang
persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya
dan disusun untuk setiap bloUzona peruntuakn yang penetapan
zonannya dalam rencana rinci tata ruang;
25. Ketentuan lnsentif dan Disinsentif adalah perangkat atau upaya
untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang
sejalan dengan rencana tata ruang dan juga perangkat untuk
mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan
yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang;
26. Arahan Sanksi adalah arahan untuk memberikan sanksi bagi
siapa saja yang melakukan pelanggaran pemanfaatan ruang yang
tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku;
27. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
C. Rencana Pola Ruang
1. Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya
Kawasan budidaya yaitu kawasan yang dilihat dari kondisi fisik
dan potensi sumberdaya alamnya dapat dan perlu dimanfaatkan guna
kepentingan produksi dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia
dan pembangunan.
Kawasan budidaya dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kabupaten Sinjai diarahkan untuk:
a. Memberikan arahan pemanfaatan ruang kawasan budidaya
secara optimal dan mendukung pembangunan yang
berkelanjutan;
b. Memberikan arahan dalam menentukan prioritas pemanfaatan
ruang antara kegiatan budidaya yang berlainan; dan
c. Memberikan arahan bagi perubahan jenis pemanfaatan ruang
darijenis kegiatan budidaya tertentu ke jenis lainnya.
Proses penentuan kawasan budidaya di dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sinjai didasarkan pada:
a. Kawasan lindung yang telah ditetapkan sebelumnya dan menjadi
limitasi bagi penetapan kawasan budidaya di wilayah Kabupaten
Sinjai;
b. Kriteria menurut pedoman penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK); dan
c. Hasil analisis kesesuaian Iahan Kabupaten Sinjai tahun 2011.
Kriteria kawasan budidaya merupakan ukuran yang digunakan
untuk penentuan suatu kawasan yang ditetapkan untuk berbagai
kegiatan usaha dan atau kegiatan yang terdiri dari kriteria teknis
sektoral dan kriteria ruang. Kriteria teknis sektoral adalah ukuran untuk
menentukan bahwa penentuan pemanfaatan ruang suatu kegiatan
dalam kawasan yang memenuhi ketentuan-ketentuan teknis, daya
dukung, kesesuaian lahan dan bebas bencana alam. Sedangkan
keriteria ruang adalah ukuran untuk menentukan bahwa pelnanfaatan
untuk suatu kegiatan budidaya dalam kawasan, menghasilkan nilai

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
D. Rencana Kawasan Strategis
1. Umum
Rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten perlu
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam
lingkup kabupaten terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/lingkungan
hidup. Kawasan strategis merupakan kawasan yang di dalamnya
berlangsung kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap:
a. Tata ruang diwilayah sekitarnya;
b. Kegiatan Iain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang
lainnya; dan
c. Peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jenis kawasan strategis, antara lain, adalah kawasan strategis
dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi, kawasan strategis dari
sudut kepentingan sosial dan budaya, kawasan strategis dari sudut
kepentingan pertahanan dan keamanan, pendayagunaan sumberdaya
alam dan/atau teknologi tinggi, serta fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
pembangunan terminal maupun pengembangan trayek
angkutan umum dan angkutan barang.
Untuk perwujudan prasarana transportasi laut yaitu melalui
pengembangan Pelabuhan Cappa Ujung yang melayani
wilayah daratan Kabupaten Sinjai dengan Pulau Sembilan,
Pelabuhan Larea-Rea yang melayani angkutan barang antar
pulau, yaitu ke Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Sulawesi
Tenggara, serta Pelabuhan Kambuno.
Sementara itu perwujudan sistem prasarana transportasi udara
dilakukan dengan perencanaan pembangunan bandara udara
yang berada di Kecamatan Bulupoddo, melalui studi kelayakan
pembangunan bandara.
b. Perwujudan Sistem Prasarana Energi
Sumberdaya energi adalah sebagian dari sumberdaya alam
yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan atau
energi baik secara langsung maupun dengan proses
konservasi atau transportasi. Pembangkit listrik yang sekarang
sedang dikembangkan adalah pembangkit listrik tenaga air
(PLTA) Manipi yang terletak di Kecamatan Sinjai Barat, dan
beberapa PLTMH serta memanfaatkan sumber-sumber enegri
potensial lainnya, sebagai pengembangan sumber energi untuk
mengantisipasi kebutuhan energi kabupaten maupun daerah
sekitarnya.
Pengembangan jaringan prasarana energi Iistrik melalui
rehabilitasi jaringan transmisi, dan pemasangan jaringan
distribusi baru pada pusat pertumbuhan kawasan pemerintahan
dan perdagangan dan kawasan minapolitan.
c. Perwujudan Sistem Jaringan Telekomunikasi
Pengembangan perencanaan menara telekomunikasi terpadu
untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi penduduk yang
dinamis. Menara telekomunikasi terpadu juga diperlukan untuk

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 3.21 Jumlah Areal (Ha) dan Produksi
Tabel 3,22 Populasi Ternak Besar.
Tabel 3.23 Populasi Temak Kecil
Tabel 3.24 PopulasiTernak Unggas
Tabel 3.25 Banyaknya Rumah Tangga...
Tabel 3.26 Banyaknya Rumah Tangga Perikanan
Tabel 3.27 Luas dan Produksi ...........
Tabel 3.28 Komoditas Unggulan
Tabel 3.29 Sarana dan Prasarana Pertanian.
Tabel4.1 Analisis Penentuan Komoditas Unggulan
Tabel 4.2 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk..........
Tabel 4.3. Proyeksi Kepadatan Penduduk
Tabel 4.4. Proyeksi Kebutuhan Rumah....
Tabel 4.5. Estimasi Kebutuhan Sarana Pendidikan.............
Tabel 4.6. Estimasi Kebutuhan Sarana Peribadatan ...........
Tabel 4.7. Estimasi Kebutuhan Sarana Kesehatan
Tabel4.8 Prediksi Kebutuhan Pelayanan Jaringan Listrik
Tabel 4.9 Prediksi Kebutuhan Pelayanan Jaringan Telepon.........
Tabel 4.10 Prediksi Kebutuhan Air Bersih
Tabel 4.1 1 Jenis Peralatan dan Sumber Sampahnya........
Tabel 4.12 Pe*iraan Timbunan Sampah...
Tabel 4. 1 3 Perkiraan Kebutuhan Sarana Persampahan.................
Tabel 4.14 Analisis Arahan Pemanfaatan Lahan .............
Tabel 4.15 Analisis Skalogram
Tabel 4.1 6 Analisis lndeks Sentralitas Terbobot............
Tabel 4.17 Hasil OIahan Data Analisis..........
Tabel 4.18 Rencana Hirarki ..............
Tabel4.19 Matriks SWOT
Tabel 4.20 FaKor- Faktor Strategi
Tabel4.21 Faktor - Faktor Strategi
Tabel 4.22 Faktor- Faktor Strategi Eksternal.
Tabel 4.23 Faktor - Faktor Strategi Eksternal.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
termasuk masyarakat hukum adat, korporasi dan/atau pemangku
kepentingan non pemerintah lain dalam penyelenggaraan
penataan ruang.
28. Peran Masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat yang
timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat,
untuk bermitra dan bergerak dalam menyelenggarakan penatiaan
ruang.
E. Acuan Normatif
Pedoman ini disusun dengan memperhatikan antara lain:
1. Undang-Undang Nomor4l Tahun 1999 tentang Kehutanan;
2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Pertambangan
Minyak Dan Gas Bumi;
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional;
4. Undang Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah;
5. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana;
6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
7. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil;
8. Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral Dan Batubara;
9. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
10.Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
11. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2O1O tentang Cagar Budaya;
12. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang lnformasi
Geospasial;
13. Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan;

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
strategis terbesar terhadap kesejahteraan masyarakat sekitarnya dan
tidak bertentangan dengan pelestarian lingkungan. Kriteria ruang
tersebut berdasarkan azas-azas sebagai berikut:
a. Saling menunjang antar kegiatan meliputi:
1. Meningkatkan daya guna pemanfaatan ruang serta sumber
daya yang ada di dalamnya guna perkembangan kegiatan
sosial, ekonomi dan budaya; dan
2. Dorongan terhadap perkembangan kegiatan sekitarnya.
b. Kelestarian lingkungan, meliputi:
1. Jaminan terhadap ketersediaan sumberdaya dalam waktu
panjang; dan
2. Jaminan terhadap kualitas lingkungan.
c. Tanggap terhadap dinamika perkembangan, meliputi:
1. Peningkatan pendapatan masyarakat;
2. Peningkatan pendapatan daerah dan nasional;
3. Peningkatan kesempatan kerja;
4. Peningkatan ekspor; dan
5. Peningkatan peran serta masyarakat dan kesesuaian sosial
budaya.
1) Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Terbatas
Arahan kawasan hutan produksi
dilakukan dengan pemanfaatan hutan
dan pelestarian hasil (kayu dan non
kap), sehingga diperoleh manfaat
ekonomi, sosial, dan ekologi yang
maksimal bagi masyarakat yang tinggal
atau di sekitar kawasan hutan. Kawasan
Gambar2.2 :
Kawasan Hutan
roduksi Terbatas

hutan produksi yang ada di Kabupaten Sinjai, berupa hutan produksi


terbatas.
Kawasan Hutan Produksi Terbatas adalah kawasan yang
diperuntukkan bagi hutan produksi terbatas dimana eksploitasinya

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Kawasan strategis dibedakan berdasarkan kewenangannya yaitu
nasional, provinsi dan kabupaten. Untuk lebih jelasnya mengenai
kewenangan pada tiaptiap wilayah tersebut dapat dilihat dibawah ini:
a. Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan
ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan
dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau
lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai
warisan dunia;
b. Kawasan strategis provinsi adalah wilayah yang penataan
ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya,
dan/atau lingkungan; dan
c. Kawasan strategis kabupaten adalah wilayah yang penataan
ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
penting dalam lingkup kabupaten terhadap ekonomi, sosial,
budaya, dan/atau lingkungan.
2. Kawasan Strategis Provinsi (KSP)
Penetapan kawasan strategis Provinsi Sulawesi Selatan
yang berada dalam wilayah Kabupaten Sinjai, berdasarkan arahan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Selatan,
Tahun 2008, terdapat 3 (tiga) kategori, yaitu: 1) Kawasan Strategis
Pertumbuhan Ekonomi; dan 2\ Kawasan strategis kepentingan
sumberdaya alam. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel berikut.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
mencegah atau menanggulangi terjadinya hutan tower di
wilayah Kabupaten Sinjai.
Peningkatan pelayanan telekomunikasi melalui pengembangan
sistem jaringan telekomunikasi tersier, pemasangan jaringan
distribusi baru pada pusat-pusat pertumbuhan kawasan
pemerintahan dan perdagangan dan kawasan minapolitan,
serta kawasan agropolitan.
d. Perwujudan Sistem Prasarana Jaringan Sumberdaya Air
lndikasi program untuk perwujudan sistem jaringan sumberdaya
air di Kabupaten Sinjai, terdiri dari:
1. Pengembangan sumber-sumber air melalui pengembangan
potensi sumber air permukaan, studi potensi air bawah
tanah, pembuatan waduk, dan reboisasi;
2. Pengembangan sumber-sumber mata air untuk
memperluas pelayanan air minum pada kawasan
perkotaan, baik perkotaan PKL, PPK maupun PPL, melalui
jaringan pipa distribusi air minum;
3. Pengembangan prasarana pengairan melalui
pengembangan jaringan irigasi dan sumber-sumber air
untuk mendukung kegiatan agropolitan, di Kabupaten
Sinjai;
4. Program penyusunan Master Plan Sistem Air Bersih;
5. Program optimalisasi pemanfaatan jaringan sumberdaya
air sebagai sumber baku penyedia air bersih bagi
masyarakat;
6. Program rehabllitasi sistem air bersih yang sudah ada;
7. Program konservasi sumber-sumber air baku dan mata air
potensial;
8. Program pengendalian pemanfaatan air tanah dalam; (6)
program peningkatan efektifitas pengelolaan Daerah
Aliran Sungai (DAS) sebagai upaya pelestarian
sumberdaya air; dan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Wacana dan pengembangan kawasan agropolitan di mulai
sekitar awal tahun 2000an, meskipun akhir-akhir ini jarang terdengar
lagi. Rencana kawasan agropolitan adalah salah satu upaya
mempercepat pembangunan perdesaan dan pertanian, dimana kota
sebagai pusat kawasan dengan ketersediaan sumber dayanya,
tumbuh dan berkembang mengakses, melayani, mendorong dan
menghela usaha agribisnis di desa-desa kawasan dan desa-desa
sekitamya (hinterland). Kawasan agropolitan adalah kota pertanian
yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha
agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, serta
menghela kegiatan pertanian agribisnis di wilayah. Tujuan
pengembangannya adalah untuk meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat melalui percepatan pengembangan
wilayah,. Disamping itu dan peningkatan keterkaitan desa dan kota
dengan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing berbasis
kerakyatan.
Berkembangnya sistem dan usaha agribisnis tidak saja
membangun usaha budidaya (on farm) saja tetapi juga "off farm"-nya
yaitu usaha agribisnis hulu (pengadaan sarana pertanian), serta
agribisnis hilir (pengolahan hasil pertanian dan pemasaran) dan jasa
penunjangnya, maka akan mengurangi kesenjangan kesejahteraan
antar wilayah. Kabupaten Sinjai memiliki potensi usaha agribisnis hulu
dan hilir, sumberdaya tersebut terdapat dua utama yaitu di Kecamatan
Tellulimpoe dan Kecamatan Sinjai Selatan. Kedua titik utama ini dapat
menjadi pusat pertumbuhan wilayah baru berbasis pada kegiatan
agribisnis, atau menjadi Kota Pertanian.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
14. Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1993 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang No 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat
Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun zA01 tentang
Kepelabuhanan;
17. Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 2002 tentang Ketahanan
Pangan;
18. Peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 20A4 tentang
Perencanaan Kehutanan;
19. Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil
20. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah
Provinsi, Dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
21. Peraturan Pemerintah Nomor 59 tahun 2AO7 tentang Kegiatan
Usaha Panas Bumi;
22. Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 2008 tentang Tata Hutan
Dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Serta
Pemanfaatan Hutan
23. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana;
24. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana
Tata ruang Wilayah Nasional;
25. Peraturan Pemerintah Nomor 76 tahun 2009 tentang Reklamasi
Hutan;
26. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang;
27. Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2010 tentang Wilayah
Pertambangan;
28. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2010 tentang Pehggunaan
Kawasan Hutan;

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
hanya dapat dilakukan dengan tebang pilih. Kawasan Budidaya yang
dikategorikan sebagai kawasan Hutan Produksi Terbatas menurut PP
No 26 tahun 2008, kriterianya adalah:
a. Kawasan hutan yang memiliki skor s124 (kelas lereng, jenis
tanah, intensitas hujan) diluar hutan suaka alam dan hutan
pelestarian alam; dan
b. Secara ruang jika digunakan untuk budidaya akan memberikan
manfaat berupa: meningkatkan fungsi lindung, meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Arahan rencana kawasan hutan produksi terbatas di Kabupaten
Sinjai berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2009 Tentang
RTRW provinsi Sulawesi Selatan, seluas 7.193,20 Ha. Sebaran luas
hutan produksi terbatas di Kabupaten Sinjai, terdapat pada 4 (empat)
wilayah kecamatan, meliputi: Kecamatan Sinjai Barat, Kecamatan
Sinjai Selatan, Kecamatan SinjaiTengah dan Kecamatan Bulupoddo.
2)Kawasan Peruntukan Pertanian
Kawasan peruntukan pertanian adalah kawasan yang ditetapkan
dengan fungsi untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi
sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.
Potensi masing-masing sumberdaya yang ada satu sama lain
tentunya sangat berbeda, yang disebabkan oleh ketersediaan
sumberdaya yang ada di masing-masing kecamatan di Kabupaten
Sinjai.
3) Peruntukan Pertanian Tanaman Pangan
Kegiatan pertanian lahan basah adalah kegiatan pertanian yang

Gambar:2.3 Areal Pertanian


lahan basah (Sawah)
cenderung menurun bila
memerlukan air terus menerus sepanjang
tahun, dengan komoditi utamanya adalah

padi sawah (wetland rice). Pertanian


lahan basah memerlukan kedalaman
efektif tanah minimal 60 cm.
Produktifitas dan kualitas mutu panen
kedalaman efektif tanah menurun. Batas

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Tabel: 2.5. Rencana kawasan Strategis Provinsi (KSP)


di Kabupaten Sinjai
NO

KAWASAN STRATEGIS

Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan


Pertumbuhan Ekonomi
Kawasan Pengembangan Budidaya

Kawasan Strategis Dari Sudut


Kepentingan Pendayagunaan Sumberdaya
II
Alam dan/atau TeknologiTinggi
Kawasan Pertambangan Minyak
Sumber: RTRW Prov. Sul-Sel, Th. 2008

LOKASI
KECAMATAN
Kec. Pulau Sembilan

Blok Kambuno Teluk Bone

3. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK)


Kawasan strategis wilayah Kabupaten Sinjai, merupakan
bagian wilayah Kabupaten Sinjai yang penataan ruangnya
diprioritaskan, karena mempunyai pengaruh sangat penting datam
lingkup Kabupaten Sinjai terhadap ekonomi, sosial budaya, dan/atau
lingkungan. Penentuan kawasan strategis kabupaten lebih bersifat
indikatif. Batasan fisik kawasan strategis Kabupaten Sinjai, akan
ditetapkan lebih lanjut di dalam rencana tata ruang kawasan strategis.
Kawasan strategis Kabupaten Sinjai, berfungsi:
a. Mengembangkan, melestarikan, melindungi, dan/atau
mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan nilai strategis
kawasan yang bersangkutan dalam mendukung penataan ruang
wilayah Kabupaten Sinjai;
b. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi

masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah


kabupaten yang dinilai mempunyai pengaruh sangit penting
terhadap wilayah Kabupaten Sinjai;

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
9. Program pelestarian sumber air permukaan serta
mewujudkan kerja sama pemanfaatan sumberdaya air
dengan berbagai pihak.
e. Perwujudan Sistem Jaringan Prasarana Pengelolaan
Lingkungan
1. Pembangunan lPA, dengan memanfaatkan sumber air
baku Sungai Balantieng yang berada di Kecamatan Sinjai
Borong, untuk melayani beberapa kecamatan;
2. Penanganan sistem persampahan baik penyedian Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem Sanitary Landfill,
TPS maupun peralatan sampah yang dibutuhkan serta
sanitasi lingkungan;
3. lnstalasi pembuangan air limbah (IPAL) Kabupaten Sinjai,
diarahkan ke sistem kluster yang berada di kawasan
perkotaan.
3. Arahan Perwujudan Pola Ruang
1) Kawasan Lindung
a Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan
bawahannya, melalui penetapan kawasan hutan, pengamanan
wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) dan upaya penggantian
tegakkan tanaman yang diambil buahnya;
Kawasan perlindungan setempat, melalui reboisasi kawasan
yang rusak;
b Kawasan suaka alam dan pelestarian alam, melalui perlidungan
c kawasan cagar budaya dan reboisasi kawasan yang rusak;
d Kawasan rawan bencana alam, melalui peningkatan upaya
pencegahan bencana alam dan memperluas sosialisasi dan
peningkatan sarana dan prasarana mitigasi di daerah rawan
bencana melalui penyediaan sistem peringatan dini (early
warning system).

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Pembangunan kawasan agropolitan adalah konsep
pengembangan ruang wilayah yang memadukan pembangunan
perdesaan dan perkotaan yang saling menguntungkan, berbasis pada
potensi pertanian agribisnis secara optimal dengan tetap memelihara
kelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup. Pembangunan perdesaan
dan desa-desa dibelakangnnya akan beraglomerasi dengan daerah
sekitar, sehingga pada gilirannya dapat menjadi pusat pertumbuhan
wilayah. Pusat pertumbuhan (growth pole) tidak terjadi di segala
tempat, tetapi hanya terbatas pada tempat-tempat tertentu, yang
mempunyai berbagai variabel dengan intensitas yang berbeda-beda.
Ruang tersebut diidentifikasi sebagai suatu arena (medan) kekuatan,
yang di dalamnya terdapat kutub-kutub atau pusat-pusat, setiap kutub
mempunyai kekuatan pancaran pengembangan ke luar dan kekuatan
tarikan ke dalam. Aglomerasi dan arus polarisasi dalam suatu wilayah
akan cenderung bergravitasi (tertarik) ke arah titik-titik utama,
Demikian halnya kawasan agropolitan Kabupaten sinjai yang terletak
di dua utama (Kecamatan Tellulimpoe dan Kecamatan Sinjai Selatan)
yang saling berdekatan akan menyatu membentuk sistem pusat
pertumbuhan baru.
B. Maksud, Tujuan dan Sasaran
1. Maksud
Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis
Kabupaten (KSK) Agropolitan Kec. Tellulimpoe ini dimaksudkan untuk
a. Mendapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai kondisi,
potensi dan masalah pada kawasan strategis Kabupaten Sinjai dan
wilayah hinterlandnya termasuk seluruh wilayah yang mampu
memberikan pengaruh secara intemal dan eksternal kawasan.
b. Mendapatkan gambaran yang jelas mengenai batas-batas fisik
kawasan pekotaan berdasarkan trend dan skenario

perkembangan kota.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
29. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2010 tentang
Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar;
30. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan
Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang;
31. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam;
32. Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Pulau-Pulau Keci Terluar;
33. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung; Permen PU Nomor 41 tahun 2007 tentang
Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budidaya;
34. Permendagri Nomor 50 tahun 2A07 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Kerjasama Daerah ;
35. Permendagri Nomor 50 tahun 2009 tentang Pembentukan BKPRD
36. Permen PU Nomor 16 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
37. Permen PU Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi
Kabupaten/Kota;
38. Permen PU Nomor 15 tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
ambang kedalaman efektif tanah ini adalah 30 cm. Sedang tekstur
tanah yang terbaik bagi jenis pertanian bagi jenis pertanian lahan
basah adalah tanah yang berliat, berdebu halus, sampai berlempung
halus. Tanah yang berkuarsa sangat tak sesuai. Kriteria kawasan
peruntukan pertanian lahan basah meliputi:
a. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk pertanian
lahan basah;
b. Secara ruang apabila digunakan untuk kegiatan pertanian lahan
basah mampu memberikan manfaat:
1. Meningkatkan produksi pangan dan pendayagunaan
investasi;
2. Meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor
dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya;
3. Meningkatkan fungsi lindung;
4. Meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumber daya
alam untuk pertanian pangan;
5. Meningkatkan pendapatan masyarakat;
6. meningkatkan pendapatan daerah dan nasional;
7. menciptakan kesempatan kerja;
8. meningkatkan ekspor; dan
9. meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c. Sesuai untuk pengembangan pertanian kecuali kandungan
kuarsanya sedang.
Luas kawasan peruntukan pertanian Iahan basah di Kabupaten
Sinjai secara keseluruhan adalah 13.593,00 Ha, Kawasan peruntukan
pertanian lahan basah tersebut, diarahkan pada 8 (delapan) wilayah
kecamatan yang ada di Kabupaten Sinjai. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel berikut ini.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
c. Untuk mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak bisa
terakomodasi dalam rencana struktur ruang dan rencana pola
ruang;
d. Sebagai pertimbangan dalam penyusunan indikasi program utama
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sinjai; dan
e. Sebagai dasar penyusunan rencana rinci tata ruang wilayah
Kabupaten Sinjai.
1) Kawasan Strategis Dari Sudut Kepentingan Pertumbuhan
Ekonomi
Kawasan strategis kepentingan pertumbuhan ekonomi,
merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis terhadap
kepentingan ekonomi Kabupaten Sinjai. Penetapan kawasan ini
bertujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sinjai,
dengan memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang ada,
sehingga diharapkan dapat menjadi sumber-sumber pendapatan
ekonomi bagi pemerintah dan masyarakat. Fungsi kawasan
diarahkan untuk kegiatan budidaya, dengan mengembangkan
aglomerasi berbagai kegiatan ekonomi yang memiliki:
a. Potensi ekonomi cepat tumbuh;
b. Sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan
ekonomi.
c. potensi ekspor;
d. Dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan
ekonomi;
e. Kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi;
f. Fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan dalam
rangka mewujudkan ketahanan pangan;
g. Fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi
dalam rangka mewujudkan ketahanan energi; dan
h. Kawasan yang dapat mempercepat pertumbuhan kawasan
tertinggal di dalam wilayah kabupaten

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2) Kawasan Budidaya
a. Kawasan hutan produksi, melalui reskoring hutan produksi;
b. Kawasan pertanian, melalui:
1, Penetapan lahan abadi pertanian pangan (sawah beririgasi
teknis);
2. Pengembangan lumbung desa modern;
3. Pengembangan holtikultura unggulan;
4. Pengembangan sentra peternakan; dan
5. Pengembangan perikanan budidaya dan perikanan
tangkap.
c. Kawasan industri, melalui pengembangan lndustri menengah
dan home industry,
d. Kawasan pariwisata, melalui:
1. Pengembangan zonawisata;
2. Pengembangan paket-paket wisata; dan
3. Pengembangan wisata unggulan di Kabupaten Sinjai.
e. Kawasan permukiman, melalui penyediaan rumah yang layak
huni di Kabupaten Sinjai (pengembangan Kasiba-Lisiba).
4. Arahan Perwujudan Kawasan Strategis
lndikasi program untuk perwujudan kawasan-kawasan
strategis Kabupaten Sinjai, meliputi indikasi program untuk
perwujudan kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut
kepentingan ekonomi; indikasi program untuk penrvujudan
kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan
sosial budaya; dan indikasi program untuk perwujudan kawasan
yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan
daya dukung lingkungan hidup.
a. Perwujudan pengembangan kawasan strategis untuk
mendukung pertumbuhan ekonomi melalui:
1. Kawasan Agropolitan di Kecamatan Tellulimpoe;
2. Kawasan Agropolitan di Kecamatan Sinjai Selatan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

3. Kawasan Minapolitan di Kecamatan Sinjai Utara; dan


4. Kawasan Pemerintahan dan Perdagangan di Kecamatan
Sinjai Utara;
lndikasi program untuk perwujudan kawasan yang memiliki
nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi di Kabupaten
Sinjai, terdiridari:
1. program pemberian insentif dan kemudahan perijinan
berinvestasi bagi kegiatan yang berhubungan dengan
industri, perdagangan dan/atau jasa pada lokasi yang
sesuai peruntukan dan daya dukung lahan;
2. Program peningkatan dan pembangunan jaringan utilitas
pada kawasan-kawasan strategis pertum buhan ekonomi ;
3. Program peningkatan layanan moda transportasi terhadap
aksesibilitas dan mobilitas pada kawasan strategis
pertumbuhan ekonomi; dan
4. Program penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Strategis pertumbuhan ekonomi di Kabupaten
Sinjai.
b. Perwujudan pengembangan kawasan strategis dalam bidang
sosial budaya yang dilakukan metatui pengembangan
kawasan-kawasan bersejarah, me! iputi :
1. Kawasan Rumah Adat Karangpuang di Kecamatan
Bulupoddo;
2. Kawasan Purbakala Batu Pake Gojeng, di Kecamatan
Sinjai Utara; dan
3. Kawasan Benteng Balanipa, di Kecamatan Sinjai Utara;
lndikasi program untuk perwujudan kawasan yang memiliki
nilai strategis dari sudut kepentingan sosial budaya, terdiri
dari:
1. Program pengembangan dan penataan kawasan-kawasan

yang berhubungan dengan kepentingan sosial budaya;

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2. Program peningkatan dan pembangunan jaringan utilitas
pada kawasan-kawasan strategis kepentingan sosial
budaya;
3. Program peningkatan layanan moda transportasi terhadap
aksesibilitas dan mobilitas pada kawasan strategis
kepentingan sosial budaya;
4. Program penyusunan Reneana Detail Tata Ruang (RDTR)
Kawasan Strategis Kepentingan Sosial Budaya di
Kabupaten Sinjai.
c. Perwujudan pengembangan kawasan strategis dalam
mendukung pendayagunaan sumberdaya alam atau teknologi
tinggi, melalui program:
1. Pembatrasan pengembangan kawasan terbangun yang
tidak memiliki kaitan Iangsung dengan PLTA;
2. Penyediaan infrastruktur terkait teknologi tinggi yang tidak
diakses oleh umum;
3. Pengembangan buffer zone disekitar kawasan teknologi
tinggi, yaitu Kawasan PLTA Manipi di Kecamatan Sinjai
Barat; dan
4. Penyusunan rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTR)
Strategis Pendayagunaan sumberdaya alam dan/atau
teknologi tinggi.
d. Perwujudan pengembangan kawasan strategis untuk
mendukung peningkatan daya dukung lingkungan hidup
melalui:
1. Membatasi dan mencegah pemanfaatan ruang yang
berpotensi mengurangi fungsi perlindungan kawasan;
2. Melarang alih fungsi pada kawasan yang telah ditetapkan
sebagai kawasan lindung;
3. Membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam
dan di sekitar kawasan fungsi lindung yang dapht memicu

perkemb. kegiatan budidaya;

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
4. Optimasi pengmbangan kawasan melalui peningkatan nilai
ekonomis kaw. lindung melalui pemanfaatan obyek wisata,
pendidikan, dan penelitian berbasis lingkungan hidup;
5. Mengembalikan kegiatan yang mendorong pengembangan
fungsi lindung; dan
6. Meningkatkan keanekaragaman hayati kawasan lindung
dan Pengendalian kawasan sekitar pesisir Kabupaten
Sinjai.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

BAB III
GAMBARAN UMUM WLAYAH PERENCANAAN
A. Gambaran Umum Kabupaten Sinjai
Pada bagian ini akan diuraikan kondisi dan karakteristik serta
peluang pengembangan Kabupaten Sinjai. Tinjauan dilakukan dari
berbagai aspek baik fisik maupun non fisik dengan memperlihatkan
kompleksitas permasalahan dan dinamika pertumbuhan Kabupaten.
Pentingnya fungsi Kabupaten terhadap peningkatan dan
pengembangan berbagai kegiatan baik sosial, ekonomi dan
administratif telah menempatkan Kabupaten Sinjai kepada kedudukan
yang sangat penting sebagai pusat pembangunan dan pelayanan bagi
wilayah sekitar.
1.Kondisi Fisik Dasar
1) Letak dan Batas Administrasi
Kabupaten Sinjai berada di bagian timur Provinsi Sulawesi
Selatan, sepanjang jalur jalan trans sulawesi bagian timur, yang
menghubungkan antara Kabupaten Bulukumba di bagian selatan
Provinsi Sulawesi Selatan ke Kabupaten Bone dan Kabupaten di
bagian utara Sulawesi Selatan. Secara Geografis Kabupaten Sinjai
terletak pada 50 2' 56"-5021'16" Lintang Selatan dan 1190 56' 30"-1200
25' 33" Bujur Timur, Luas wilayah Kabupaten Sinjai adalah sebesar
83.508 ha.
Secara umum geografis letak Kabupaten Sinjai memiliki batasbatas
secara fisik, sebagai berikut :
Sebelah Utara: Berbatasan dengan Kabupaten Bone
Sebelah Barat: Bematasan dengan Kabupaten Gowa
Sebelah Selatan : Kabupaten Bulukumba

Sebelah Timur : Berbatasan dengan Teluk Bone

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2) Topografi
Wilayah Kabupaten Sinjai didominisasi oleh bentuk wilayah
perbukitan dan pegunungan. Meskipun demikian di wilayah ini tidak terdapat gunung
berapi. Daerah pegunungan di Kabupaten Sinjai sebagian besar
Kondisi Topografi terletak di Kecamatan Sinjai Barat, Sinjai
Tengah dan Bulupodo Akibat kondisi topografi tersebut maka
pengembangan wilayah Kabupaten Sinjai menjadi terbatas.
Dari sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Sinjai,
kecamatan yang memiliki wilayah datar yang cukup luas adalah
Kecamatian SinjaiTimur, Tellulimpoe dan Pulau Sembilan.
3) Kondisi Geologi dan Jenis Tanah
Secara umum keadaan geologi atau jenis batuan merupakan
gambaran proses dan waktu pembentukan bahan induk serta
penampakan morfologis tanah, seperti tebing, kaldeva gunung dan
sebagainya. Persebaran jenis batuan di Kabupaten Sinjai.
Persebaran jenis batuan di Kabupaten Sinjai terbagi dalam 5
(Lima) kelompok atau golongan yaitu :
o Batuan Vulkanik/Beku
o Batuan Endapan
o Batuan Mikan atau metamorf
o Batuan Allvial, dan
o Batuan Organik
Spesifikasi jenis batuan di Kabupaten Sinjai merupakan batuan
yang termuda berumur Plesistosen dan tersusun batuan induk, lava,
Breksi, endapan lahar dan Tufa. Pada umumnya bahan batuan kurang
kompak dan mudah tergeser, diatas menindih tidak selaras endapan
alluviun yang berupa pasir kerikil, lempung dan lahar yang.umumnya
masih terlepas.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
4) Kondisi lklim dan Curah Hujan
Sepanjang tahun, Kabupaten Sinjai beriklim sub tropis, yang
mengenal 2 (dua) musim, yaitu musim penghujan pada periode April
- Oktober , dan musim kemarau yang berlangsung pada periode
Oktober - April. Selain itu ada 3 (tiga) type iklim (menurut Schmidt &
Fergusson) yang terjadi dan berlangsung di wilayah ini, yaitu iklim
type 82, C2, D2 & type D3
Arealzona dengan iklim type 82 dimana bulan basah berlangsung
selama 7 - I bulan berturut - turut , sedangkan bulan kering
berlangsung 2 - 4 bulan sepanjang tahun. Penyebarannya meliputi
sebagian besar wilayah Kecamatan. Sinjai Timur & Sinjai Selatan .
Zona dengan iklim type C2, dicirikan dengan adanya bulan basah
yang berlangsung antara 5 - 6 bulan, sedangkan bulan keringnya
berlangsung selama 3 - 5 bulan sepanjang tahun. Penyebarannya
meliputi sebagian kecil wilayah Kecamatan. Sinjai Timur , Sinjai
Selatan , & SinjaiTengah.
Zona dengan iklim type D2, mengalami bulan basah selama 3 - 4
bulan, & bulan keringnya berlangsung selama 2 - 3 bulan.
Penyebarannya meliputi wilayah bag. Tengah Kabupaten Sinjai ,
yaitu sebagian kecil wilayah Kecamatan. Sinjai Tengah, Sinjai
Selatan, & Sinjai Barat.
Zona dengan iklim type D3, bercirikan dengan berlangsungnya
bulan basah antara 3 - 4 bulan , & bulan kering berlangsung antara
3 - 5 bulan . Penyebarannya meliputi sebagian wilayah Kecamatan.
Sinjai Barat, SinjaiTengah & Sinjai Selatan.
Dari keseluruhan type iklim yang ada tersebut , Kabupaten Sinjai
mempunyai curah hujan berkisar antara 2.000 - 4.000 mm /
tahun, dengan hari hujan yang bervariasi antara 100 - 160 hari
hujan / tahun.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Kelembaban udara rata-rata, tercatat berkisar antara 64 - 87
persen , dengan suhu udara rata - rata berkisar antara 21,1 Derajat C 32,4 Derajat.
Tabel 3.1
Curah Hujan di Kabupaten Sinjai, Tahun 2013
N
Bulan
Curah Hujan
Hari Hujan
o
1 Januari
101-500 mm
12
2 Februari
101-300 mm
10
3 Maret
101*400 mm
15
4 April
201-500 mm
18
5 Mei
401->500 mm
29
6 Juni
301->500 mm
27
7 Juli
151->500 mm
24
8 Agustus
101-400 mm
28
9 September
21-500 mm
8
10 Oktober
51-500 mm
12
11 November
51-500 mm
12
12 Desember
21-300
12
Sumber: BMKG

5) Kondisi Hidrologi dan Sumber Daya Air


Ada 2 (dua) jenis kategori hidrologi yang melingkupi wilayah
Kabupaten Sinjai, yaitu jenis (1) air permukaan serta jenis (2) air
tanah dangkal dan air tanah dalam. Kedua jenis air tersebut berasal
dari air hujan yang sebagian mengalir di permukaan (run-off) dan
sebagian lagi meresap kedalam tanah.
Untuk jenis air permukaan, beberapa diantaranya adalah sungai sungai yang mengalir melalui wilayah ini, diantaranya sungai:

Apareng, Gareccing, Manalohe, Losisang, Bihulo, Pangisoreng,


Bintulang, Arango, Rumpala, Tangka, Mangottong, Laure serta
beberapa sungai kecil lainnya, yang sebagian besar beimuara ke
Teluk Bone.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Berdasarkan hasil survey, potensi sumber air permukaan sebesar


1 5.137.280 ribu m3 atau debit sekitar 3,12 m3 I detik dan sebagian
besar potensi air tersebut dimanfaatkan untuk keperluan pertanian.
Mengenai air tanah dangkal dengan kedalaman sekitar 6 meter
berupa sumur gali banyak mengandung kapur dan air tanah dalam
dengan kedalaman 75 100 meter berupa sumur bor, banyak
dimanfaatkan penduduk untuk keperluannya.
Pemanfaatan air sungai untuk masyarakat di Kabupaten Sinjai
tidak terlalu bervariasi seperti halnya pada wilayah provinsi yang
lainnya. Kegiatan yang ada adalah berupa pemenuhan kebutuhan
untuk rumah tangga (MCK), kebutuhan air pertanian dan perikanan
dan kegiatan penggalian pasir dan batu (galian C).
2. Tutupan Lahan

GAMBAR

Pertanian kering campuran merupakan penggunaan lahan yang


paling luas di Kabupaten Sinjai.Penggunaan lahan ini menempati 78
persen dari luas keseluruhan penggunaan lahan Kab Sinjai. Proporsi
Penggunaan Lahan luas. Pertanian kering campuran paling
banyak dijumpai di kecamatan Sinjai Selatan, Slnjai Tengah dan
Tellulimpoe.
Sawah menempati 13 persen dari luas keseluruhan
penggunaan lahan. Sawah tersebar di seluruh wilayah kecamatan. Di
wilayah Kabupaten Sinjai, sebagian areal pertanian lahan kering

ditelantarkan sehingga banyak ditumbuhi semak. Tegalan banyak


dijumpai diwilayah Kecamatan Sinjai barat.
Semak belukar banyak dijumpai di wilayah Kecamatan Sinjai
Barat, Semak belukar merupakan areal pertanian lahan kering yang
telah lama tidak diolah sehingga ditumbuhi semak belukar, atau sering

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
juga ditemui semak belukar dibiarkan tumbuh bersama tanaman buahbuahan
atau tanaman perkebunan seperti kelapa. Penggunaan lahan
semak belukar di Kabupaten Sinjai menempati Iahan sekitar 2 persen
dari keseluruhan wilayah Kabupaten Sinjai.
Semak/Belukar umumnya berupa vegetasi yang tumbuh di
daerah-daerah bekas perladangan dan dibiarkan tumbuh bebas.
Sebagian semaUbelukar menempati bekas areal penghijauan yang
pemah terbakar. Semak/Belukar banyak dijumpai di wilayah yang
termasuk Kabupaten Sinjai. Luas penggunaan lahan ini adalah 1949
ha atau 2 dan luas wilayah perencanaan.
Hutan sekunder diwilayah perencanaan menempati areal sekitar
6 persen dari luas wilayah Kabupaten Sinjai. Hutan sekunder tersebar
setempat-setempat hampir di Kabupaten Sinjai, terutama di
Kecamatan Sinjai Barat, Sinjai Selatan, Sinjai Tengah dan Sinjai
Borong.
Hutan mangrove dapat dijumpai di wilayah Kecamatan Sinjai
Timur dan Sinjai Utara. Luas penggunaan lahan ini sekitar 0,1 persen
dari luas keseluruhan wilayah Kabupaten Sinjai.
Permukiman tersebar disepanjang jalur jalan utama.
Permukiman tidak teridentifikasi dengan baik pada citra Landsat
ETM+ karena luas lahan terbangun yang relatif sempit. Data Luas
Tutupan Lahan Kabupaten Sinjai Tahun 2013 yaitu 83.508 Ha,
dimana penggunaan lahan terluas yaitu peruntukan pertanian kering
campuran seluas 64.875 Ha dan sawah dengan luas lahan 10.619.
untuk lebih jelasnya terkait data tutupan lahan Kabupaten Sinjai
sebagaimana pada table berikut.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Tabel 3.2
Data Luas Tutupan Lahan Kabupaten Sinjai Tahun 2013
%
Tutupan Lahan
Luas (Ha)
78
Pertanian Kering Campuran
64.875
190
0,2
Savana
2
1.949
SemaUBelukar
13
10.619
Sawah
166
0.2
Permukiman
4.4
Tambak
326
6
5.189
Hutan Sekunder
137
0.2
Hutan Tanaman
0.1
50
Hutan Mangrove
0.01
7
Lahan Kosong
100.00
83.508
JUMLAH

Sumber : RTRW Kabupaten Sinjai Tahun 2U10

Langkah awal dalam melakukan suatu perencanaan yaitu harus


dilakukan identifikasi terhadap karakteristik wilayah/kota yang dapat
berupa data ataupun informasi, sebagai bahan masukan (input) dalam
melakukan perencanaan dimasa mendatang. Sebagai gambaran
umum, pada bab ini akan diuraikan data dan informasi mengenai
tinjauan umumwilayah perencanaan.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Gambaran Umum Kecamatan Tellulimpoe
Tinjauan secara mikro Kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropolitan Kecamatan Tellulimpoead alah tinjauan terhadap Kawasan
Strategis wilayah Kabupaten Sinjai secara keseluruhan. Tinjauan ini
dimaksudkan untuk melihat wilayah Kabupaten Sinjai yang memiliki
kawasan strategis Agropolitan tepatnya di Kecamatan Tellulimpoe.
1. Letak Geografis dan Administratif
Kecamatan Tellulimpoe adalah salah satu Kecamatan yang terletak
di Kabupaten Sinjai, dengan batas administrasi sebagai berikut:
. Sebelah utara : berbatasan dengan Kecamatan SinjaiTimur;
. Sebelah timur : berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba;
. Sebelah selatan : berbatasan dengan Teluk Bone; dan
. Sebelah barat : berbatasan dengan Kecamatan Sinjai Selatan.
Kecamatan Tellulimpoe memiliki luas wilayah 147,30 Km2, secara
administratif, Kecamatan Tellulimpoe dibagi menjadi 11 Desa/ Kelurahan
yaitu Kalobba, Mannanti, Tellulimpoe, Era Baru, Pattongko, Bua,
Sukamaju, Lembang Lohe, Sao Tengah, Massaile dan Samaturue.
2. Aspek Fisik
1) Topografi dan Morfologi Wilayah
Wilayah Kecamatan Tellulimpoe mempunyai ketinggian dari 0 t500 Mdpl dengan luas wilayah 147,30 Km2.
2)Hidrologi
Kondisi hidrologi, Kecamatan Tellulimpoe Ada 2 (dua) jenis kategori
hidrologi yaitu jenis (1) air permukaan serta jenis (2) air tanah dangkal
dan air tanah dalam. Kedua jenis air tercebut berasal dari air hujan
yang sebagian mengalir di permukaan (run-off) dan sebagian lagi
meresap kedalam tanah.

Mengenai air tanah dangkal dengan kedalaman sekitar 6 meter


berupa sumur gali banyak mengandung kapur dan air tanah dalam

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
dengan kedalaman 75 - 100 meter berupa sumur bor, banyak dimanfaatkan
penduduk untuk keperluannya
Pemanfaatan air sungai untuk masyarakat di Kecamatan Tellulimpoe tidak
terlalu beruariasi seperti halnya pada wilayah yang
lainnya. Kegiatan yang ada adalah berupa pemenuhan kebutuhan
untuk rumah tangga (MCK), kebutuhan air pertanian dan perikanan dan
kegiatan penggalian pasir dan batu.
3) lklim
Kecamatan Tellulimpoe termasuk beriklim sub tropis, yang
mengenal 2 (dua) musim, yaitu musim penghujan pada periode April Oktober, dan musim kemarau yang berlangsung pada periode Oktober
- April. Kecamatan Tellulimpoe mempunyai curah hujan berkisar antara
2.000 - 4.000 mm / tahun, dengan hari hujan yang bervariasi antara
100 - 160 hari hujan / tahun. Kelembaban udara rata-rata, tercatat
berkisar antara 64 - 87 persen , dengan suhu udara rata - rata
berkisar antara21,1 oC - 32,4oC.
4)Kondisi Geologi dan Jenis Tanah
Secara umum keadaan geologi atau jenis batuan merupakan
gambaran proses dan waktu pembentukan bahan induk serta
penampakan morfologis tanah, seperti tebing, kaldeva gunung dan
sebagainya. Persebaran jenis batuan di Kecamatan Tellulimpoe terbagi
dalam 5 (Lima) kelompok atau golongan yaitu :
o Batuan Vulkanik/Beku
o Batuan Endapan
o Batuan Mikan atau metamorf
o Batuan Allvial, dan
o Batuan Organik
Spesifikasi jenis batuan di Kecamatan Tellulimpoe merupakan

batuan yang termuda berumur Plesistosen dan tersusun batuan induk,


lava, Breksi, endapan lahar dan Tufa. Pada umumnya bahan batuan
kurang kompak dan mudah tergeser, diatas menindih tidak selaras

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
endapan alluviun yang berupa pasir kerikil, lempung dan lahar
yang umumnya masih terlepas.
Di Kawasan Pantai umumnya terdapat hamparan pasir laut yang
cukup tebal, dengan struktur tanah keras berada di kedalaman - 1,5 m
sampai 2 m dari permukaan lapisan pasir atau tanah.
3. Aspek Kependudukan
Penduduk merupakan faktor yang sangat dominan dalam proses
pembangunan. Penduduk memegang dua peranan sekaligus dalam
proses pembangunan, yaitu sebagai subyek dan obyek pembangunan
Sumberdaya alam yang tersedia tidak akan mungkin dapat dimanfaatkan
tanpa adanya peranan dari manusia. Dengan adanya manusia,
sumberdaya alam tersebut dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan
hidup bagi diri dan keluarga secara berkelanjutan. Besarnya peran
penduduk tersebut maka pemerintah dalam menangani masalah
kependudukan tidak hanya memperhatikan pada upaya pengendalian
jumlah dan pertumbuhan penduduk saja tetapi lebih menekankan ke
arah perbaikan kualitas sumberdaya manusia.
Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi potensi dan
mendatiangkan manfaat yang besar bila memiliki kualitas yang baik,
namun besarnya jumlah penduduk tersebut dapat menjadi beban yang
akan sulit untuk diselesaikan bila kualitasnya rendah. lnformasi
kependudukan yang baik sangat diperlukan dalam menunjang ke arah
pembangunan manusia yang berkualitas.
1) Pertumbuhan Penduduk
Perkembangan atau pertumbuhan penduduk merupakan indeks
perbandingan jumlah penduduk pada suatu tahun terhadap jumlah
penduduk pada tahun sebelumnya. Perkembangan jumlah penduduk
dalam suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian

(pertambahan alami), selain itu juga dipengaruhi adanya faktor migrasi


penduduk yaitu perpindahan keluar dan masuk. Pada dasarnya tingkat

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
pertumbuhan jumlah penduduk, dapat digunakan untuk
mengasumsikan prediksi/perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan
datang.
Data jumlah penduduk Kecamatan Tellulimpoe 2 (dua) tahun
terakhir menunjukkan jumlah penduduk pada tahun 2011 sebanyak
31.486 jiwa, sedangkan pada tahun 2012 mengalami penurunan
menjadi
31.444 jiwa. Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan
penduduk di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut :
Tabel 3.3
Jumlah Penduduk di Kecamatan Tellulimpoe Tahun 2012
Desa / Kelurahan
Tahun
2008
2009
2010
2011
2012
3.331
Kalobba
3.446
Mannanti
3.647
3.974
Tellulimpoe
3.118
3.322
Era Baru
2.971
3.126
Pattongko
2.600
2.474
Bua
2.771
2.905
Sukamaju
2.866
3.124
3.031
Lembang Lohe
2.105
Sao Tengah
3.517
3.241
Massaile
2.269
2.494
Samaturue
2.161
2.088
Jumlah
31.391
33.137
32.829
31.468
31.444
Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angka, Tahun 2013

2) Jumlah dan Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin


Berdasarkan data hasil survey pada Kantor Badan Pusat Statistik

(BPS) Kecamatan Tellulimpoe Tahun 2014, Penduduk Kecamatan


Tellulimpoe tahun 2012 sebanyak 31.444 jiwa, yang terdiri dari 14.976
jiwa penduduk laki-laki dan 16.468 jiwa penduduk perempuan. Jumlah
Penduduk terbesar terdapat di Desa Mannanti yaitu sebanyak 3.647
jiwa dengan jumlah penduduk laki - laki sebanyak 1.676 Jiwa dan
Jumlah penduduk Perempuan sebanyak 1.971 Jiwa, sementara

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Desa/Kelurahan yang memiliki jumlah penduduk yang terkecil yaitu
Desa Samaturue dengan jumlah penduduk sebesar 2.088 Jiwa dengan
jumlah penduduk laki - laki sebanyak 1.025 jiwa dan jumlah penduduk
perempuan sebanyak 1.063 Jiwa Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah
penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kecamatan Tellulimpoe
sebagaimana pada tabel berikut.
Tabel 3.4
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan
Tellulimpoe Tahun 2012
Desa / Kelurahan

Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah

Laki- Laki
(Jiwa)

Perempuan
(Jiwa)

Jumlah
Penduduk

1.628
1.676
1.631
1.374
1.119
1.353
1.359
1.000
1.588
1.223
1.O25
14.976

1.703
1.971
1.691
1.597
1.355
1.552
1.507
1 .105
1.653
1.271
1.063
16.468

3.331
3.647
3.322
2.971
2.474
2.905
2.866
2.105
3.241
2.494
2.088
31.444

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angka, Tahun 2013

3) Distribusi dan Kepadatan Penduduk


Persebaran penduduk Kecamatan Tellulimpoe yang tidak merata
diperlihatkan pada Kepadatan penduduk terkonsentrasi di beberapa
Kelurahan/Desa. Sebaran penduduk yang tidak merata
mengindikasikan kegiatan perekonomian terpusat di wilayah tertentu.
Desa Saotengah merupakan Desa dengan kepadatan tertinggi di
Kecamatan Tellulimpoe yaitu memiliki kepadatan penduduk 527
jiwalKm2. Sebagai Desa yang menjadi pusat kegiatan ekonomi di
Kecamatan Tellulimpoe, tentunya akan menjadi daya tarik bagi para
imigran untuk tinggal dan menetap di Desa ini, selanjutnya desa
terpadat adalah Desa Massaile, dengan kepadatan penduduk 403
jiwalKm2, Sementara Desa/Kelurahan dengan kepadatan terkecil yaitu

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Desa Tellulimpoe dengan tingkat kepadatan 124 JiwalKm. Untuk lebih
jelasnya mengenai kepadatan penduduk di Kecamatan Tellulimpoe
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.5
Distribusi dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Tellulimpoe Tahun
2012
Desa /
Kelurahan

Jumlah
Penduduk

Luas Wilayah
(Km2)

Kepadatan Per
Km2

Kalobba
3.331
2,0,69
Mannanti
3.647
9,27
Tellulimpoe
3.322
26,73
Era Baru
2.971
11,23
Pattongko
2.474
25,21
Bua
2.905
11,58
Sukamaju
2.866
12,33
Lembang Lohe
2105
8,20
Sao Tengah
3.241
6,15
Massaile
2.494
6,19
Samaturue
2.088
9,72
Jumlah
31.444
147,30
Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angka, Tahun 2013

161
393
124
265
98
251
232
257
527
403
215
213

4) Jumlah Penduduk Menurut Agama


Berdasarkan data kependudukan Kecamatan Tellulimpoe, Tahun
2012, Penduduk Kecamatan Tellulimpoe pada akhir tahun 2012
sebanyak 31.444 jiwa. Komposisi penduduk berdasarkan agama,

menunjukkan bahwa penduduk Kecamatan Tellulimpoe keseluruhan


merupakan pemeluk Agama lslam yaitu 31.444, Dimana jumlah
penduduk yang beragama islam terbesar di Desa/Kelurahan Mannanti,
dengan jumlah penduduk 3.647 jiwa. Jumlah penduduk menurut agama
di Kecamatan Tellulimpoe merupakan suatu gambaran tentang agama
yang dianut serta aktivitas keagamaan yang biasa dilakukan seperti
lsra Mi'raj dan mauled Nabi Besar Muhammad SAW, dimana kegiatan
keagamaan tersebut menjadi suatu moment untuk lebih mempererat tali
silaturahmi antar masyarakat yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Untuk lebih jelasnya jumlah penduduk menurut agama, dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 3.6
Jumlah Penduduk menurut agama di Kecamatan Tellulimpoe
Lembang Lohe 2012

Desa /
Kelurahan

Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah

Agama
Islam

Katholik

3.331
3.647
3.322
2.971
2.474
2.905
2.866
2.105
3.241
2.494
2.088
31.444

Protesta
n
-

Hindu

Budha

Jumlah

3.331
3.647
3.322
2.971
2.474
2.905
2.866
2.105
3.241
2.494
2.088
31.444

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angka,

5) Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian


Berdarkan data penduduk dari BPS Kecamatan Tellulimpoe dalam

angka, diketahui bahwa penduduk menurut mata pencaharian yang


paling dominan yaitu di sector perkebunan sebesar 5.596.dan jumlah
penduduk terendah menurut mata pencaharian yaitu pertambangan
sebanyak 10 jiwa. Jenis aktivitas masyarakat di sector pertanian yaitu
Pertanian bahan makanan, peternakan, perikanan dan perkebunan,
sementara aktifitas masyarakat di luar sector pertanian yaitu
perdagangan, industri dan pertambangan/ penggalian. untuk lebih
jelasnya mengenai jumlah penduduk menurut mata pencaharian di
Kecamatan Tellulimpoe, sebagaimana pada tabel berikut:

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 3.7
Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian di Kecamatan
Tellulimpoe, Tahun 2012
Pertanian
Desa /
Kelurahan

Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah

Pertanian
Pe
Bahan
terna
Makanan kan
380
379
359
419
535
687
436
383

475
495
303
317
273
433
466
421

388
510
114
4591

503
416
152
4254

Pe
rikanan

Pe
rkebunan

667
662
639
559
296
363
554
384

Per
dangang
an

lndus
tri

Pertamban
gan/pengg
alian

14
23
20
32
17
386
21
15

6
4
10

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

Tabel 3.8

Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian di Kecamatan


Tellulimpoe, Tahun 2012
Desa /
Kelurahan

Listrik/Air
Minum

Pengangkuta
n
dan
Komunikasi

Perbankan
dan
Lembaga
Keuangan

lainnya

Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe
Sao
Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah
Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

Pemerintahan
/Jasa - Jasa
Pns
swasta

lainnya

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
6) Sosial Budaya
Terjadinya perubahan kultur dan sosial budaya masyarakat
merupakan proses transformasi global akibat tidak homogenisitasnya
kultur budaya pada suatu daerah. Terjadinya dinamika perkembangan
perkotaan tidak Iagi memandang kultur budaya dan adat-istiadat
sebagai hukum masyarakat (norma etika) yang berlaku, akan tetapi
tergantikan oleh sifat individualistis dan kepentingan sosial ekonomi
akan menjadi dominan. Perubahan proses tersebut sulit dihindari
karena dipengaruhi oleh masuknya budaya lain dan perkembangan
teknologi menjadi orientasi masyarakat untuk mengaktualisasikan diri.
Perubahan karakter dan kultur budaya sebagai ciri khas suatu
komunitas tidak perlu terjadi, jika masyarakat memegang teguh dan
menjunjung tinggi nilai budaya yang secara turun-temurun dianutnya.
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh gambaran tentang teriadinya
pembauran suku dan kultur di Kecamatan Tellulimpoe, yang secara
umum dipengaruhi oleh etnis suku Iokal yaitu suku bugis, hal ini dapat
terlihat dari dialeg dan bahasa yang digunakan oieh masyarakat dalam
keseharian.
4. Ketersediaan Sarana Perkotaan
Ketersediaan fasilitas dan konsentrasi pelayanannya merupakan
salah fal(or yang berpengaruh terhadap sistem pusat pelayanan dalam
kawasan. Demikian halnya pelaksanaan pembangunan harus didukung
oleh ketersediaan fasilitas sebagai sarana pelayanan terhadap
masyarakat. Ketersediaan fasilitas memiliki peranan penting dalam
rangka mendorong masyarakat ke arah pembangunan yang lebih

dinamis, terutama pada sektor pendidikan, peningkatan keterampilan,


keagamaan, kesehatan dan iain sebagainya. Penyediaan dan
penyebaran fasilitas diaharapkan dapat terdistribusi dan memiliki
jangkauan peiayanan yang merata, terutama fasiiitas pelayanan yang
langsung menyentuh segala aspek kebutuhan masyarakat yang seperti;
fasilitas pendidikan,

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
kesehatan, perdagangan, pelayanan umum dan jasa, olah raga
peribadatan dan lain sebagainya.
1) Sarana Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mewujudkan
sumberdaya manusia yang berkualitas. Mencapai tujuan tersebut
dibutuhkan sarana dan prasarana pendidikan berupa sarana pendidikan.
Sarana pendidikan ini merupakan suatu bentuk pelayanan kebutuhan
pendidikan bagi penduduk di Kecamatan Tellulimpoe. Sarana pendidikan
yang tersedia di kawasan ini adalah sarana pendidikan tingkat Taman
Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama
(SMP), Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Perguruan Tinggi (PT).
Sebaran sarana pendidikan tersebut terdistribusi ke seluruh Satuan
Permukiman (SP) yang ada di Kecamatan Tellulimpoe. Perkembangan
sarana pendidikan ini mempunyai pola yang bersifat menyebar di seluruh
Wilayah Kecamatan, baik yang berada di sekitar jalan utama maupun di
kawasan permukiman. Pola perkembangan sarana pendidikan
berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Tellulimpoe, dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 3.9
Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Sarana Pendidikan
Desa / Kelurahan
TK

Kalobba

SD

SLTP

SLTA

PT

Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah
Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2) Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan di Kecamatan Tellulimpoe, mempunyai dua
pola perkembangan, yaitu perkembangan yang menyebar pada kawasan
permukiman di setiap desa/kelurahan, terutama yang memiliki skala
pelayanan lingkungan maupun lokal dan yang memiliki pola
perkembangan yang memusat, terutama yang memiliki skala pelayanan
kota. Jenis sarana kesehatan antara lain, Puskesmas dan Posyandu.
Distribusi sarana kesehatan tersebut menyebar ke beberapaa Satuan
Permukiman (SP), serta sebagian terletak di jalur utama yang
menghubungkan antara Kecamatan Tellulimpoe dengan wilayah
sekitarnya. Pola persebaran dan jumlah sarana masing-masing jenis
sarana kesehatan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.10
Jumlah Sarana Kesehatan di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Desa /
Sarana Kesehatan
Kelurahan
Rumah Sakit

Puskesmas

Polindes

Posyandu

1
1
1
1
1

4
6
5
3
6

1
1
1
1
1
1
11

6
5
4
5
3
3
50

Sumber: BPS Kecamatan Trttutirrlpoe Dalam Angk, Tahun 2013

3) Sarana Peribadatan
Sarana peribadatan di Kecamatan Tellulimpoe yaitu berupa
Mesjid, Sedangkan tempat ibadah untuk agama lain tidak terdapat
diwilayah Kecamatan Tellulimpoe. Pola perkembangan sarana ini
menyebar di kawasan permukiman. Sarana peribadatan berupa mesjid

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
secara umum tersebar diseluruh unit permukiman yang ada di
Kecamatan Tellulimpoe. Ketersediaan sarana peribadatan ini
dimaksudkan untuk melayani kebutuhan ibadah bagi pemeluknya.
Secara umum, penduduk Kecamatan Tellulimpoe didominasi oleh
pemeluk agama lslam, sehingga fasilitas ibadah yang dominan adalah
mesjid. Untuk lebih jelasnya terkait sarana peribadatan di Kecamatan
Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut :
Tabel 3.11
Jumlah Sarana Peribadatan di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Desa /
Kelurahan

Sarana Peribadatan
Masjid

Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe

11
11

8
7
6

13
10
8

Langgar/
Mushollah
-

Gereja

vhara

Sao Tengah
Massaile

7
10

Samaturue
jumlah

5
96

Sumber; BPS KecamatanTellulimpoe Dalam Angk,tahun 2013

4) Sarana Perdagangan
Kegiatan perdagangan di Kecamatan Tellulimpoe menunjukkan
perkembangan, terutama yang terdapat pada koridor-koridor jalan
utama. Perkembangan perdagangan yang ada di wilayah ini mempunyai
skala pelayanan lingkungan, lokal, maupun regional. Hasil pengamatan
di lapangan memperlihatkan adanya sarana perdagangan, seperti
pertokoan, pasar umum di Desa Mannanti, Desa Tellulimpoe, Desa
Pattongko, Desa Bua, Desa Sukamaju, Desa Lembang Lohe, Desa Sao
Tengah dan Desa Massaile, toko klontong dan adanya usaha industri.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Untuk lebih jelasnya terkait usaha industri dan Pertokoan di
Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada table berikut:
Tabel 3.12
Banyaknya Usaha lndustri di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012

Desa/Kelurahan
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah

lndustri Kerajinan
Rumah Tangga

lndustri Kecil

Jumlah

18
21
27
36
18
39
23
19
21
9
5
236

1
1
2

18
22
28
36
18
39
23
19
238

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk,tahun 2013

Tabel 3.13

Banyaknya Toko/Kios Barang Campuran, Pakaian, Bahan Bangunan,


hasil Bumi dan Warung di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun2012

Desa/Keluraha
n

Barang
campura
n

Toko / Kios
Pakian
Bahan
banguna
n

Hasil
bumi

Warung/ruma
h makan

Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah
Sumber: BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
5) Sarana Olah Raga
Sarana olah raga selain digunakan sebagai wadah untuk
kegiatan berolah raga juga dapat difungsikan sebagai sarana rekreasi
atau tempat bermain, serta berfungsi sebagai ruang terbuka. Selain itu
sarana olah raga juga dapat digunakan untuk berbagai kegiatan seperti
upamra, kegiatan adat dan kegiatan bersifat umum lainnya. Sarana ini
dapat berupa taman, lapangan olah raga, gedung serba guna dan lain
sebagainya. Fasilitas olah raga dibagi dalam dua jenis, yaitu fasilitas olah
raga tertutup (in door) dan fasilitas olah raga terbuka (out door).
Hasil pengamatan Iapangan yang dilakukan menunjukan sarana
olah raga di Kecamatan Tellulimpoe terdiri dari lapangan sepak bola,
lapangan Volley Ball, Lapangan Bulu Tangkis, lapangan Tenis Meja,
Takraw dan lahan terbuka yang dimanfaatkan untuk kegiatan olah raga.
Untuk Lebih jelasnya terkait jumlah sarana olah raga di Kecamatan
Tellulimpoe, sebagaimana pada table berikut:
Tabel 3.14
Jumlah Sarana Olah Raga di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Desa /
Sarana Olah Raga
Sepak
Volley Ball
Bulu
Tenis meja Lainnya
Kelurahan
Bola
tangkis
(takraw)
2
5
Kalobba
2
4
Mannanti

Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe
Sao
Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah

2
3
2
4
-

2
3
5
4
4
3

3
23
2

4
41

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
5. Ketersediaan Prasarana Kawasan Perkotaan
Ketersediaan prasarana utama atau jaringan utilitas merupakan
infrastruktur yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan sosial ekonomi
masyamkat perkotaan, maupun terhadap upaya peningkatan " kualitas
lingkungan. Prasarana utama yang dimaksud meliputi prasarana jalan,
kelistrikan, telekomunikasi, air minum, pembuangan limbah dan
persampahan. Ketersediaan prasarana utama terkait dengan sistem
penyediaan infrastruktur di Kecamatan Tellulimpoe, dengan demikian
uraian tentang prasarana di Kecamatan Tellulimpoe diuraikan secara
umum, Unfuk lebih jelasnya terkait ketercediaan prasarana kawasan
perkotaan di Kecamatan Tellulimpoe, sebagaimana pada pembahasan
berikut :
1) Jaringan Jalan
Jaringan jalan sangat berperan dalam memacu pertumbuhan
Kecamatan Tellulimpoe dalam pembentukan pola permukiman terkait
dengan delimitasi kawasan terbangun dan estetika lingkungan serta
interaksi antar lingkungan permukiman, sehingga dapat memudahkan
penataan pola permukiman yang lebih teratur. Hasil pengamatan dan
sumber data yang diperoleh menunjukkan jaringan jaian yang terdapat di
Kecamatan Tellulimpoe berdasarkan klasifikasi fungsinya terdiri dari jalan

arteri, kolektor dan jalan lokal (lingkungan), dimana kondisijalan yang ada
yaitu jalan aspal, pengerasan dan jalan tanah.
Pertumbuhan dan perkembangan Kecamatan TeTlulimpoe yang
dinamis dan berkelanjutan sangat dipengaruhi perkembangan sistem
transportasi yang ada. Perkembangan sistem transportasi ini terwujud
dalam jaringan jalan, membentuk pola-pola perkembangan kota diwilayah
ini. Begitu juga dengan pola pe*embangan yang terdapat di Kecamatan
Tellulimpoe, terbentuk dari pola-pola jaringan jalan yang ada.
2) Jaringan Listrik
listrik yang ada di Kecamatan Tellulimpoe, bersumber dari
PLN. Pola distribusi energi listrik dialirkan melalui Jaringan Tegangan
Menengah (JTM), kemudian dialirkan melalui Jaringan Tegangan Rendah

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
(JTR) ke unit-unit permukiman dan fasilitas, di Kecamatan Tellulimpoe.
Secara umum, Kecamatan Tellulimpoe sudah terjangkau jaringan listrik,
baik untuk kebutuhan rumah tangga, perkantoran, perdagangan, usaha
industri, penerangan jalan, dan kegiatan lainnya. Untuk lebih- jelasnya
terkait banyaknya rumah tangga yang mendapatkan aliran listrik dirinci
menurut sumbernya di Kecamatan Tellulimpoe, sebagaimana pada tablel
berikut:
Tabel 3.15
Banykanya Rumah Tangga yang Mendapatkan AIiran Listrik di
Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Desa /
Non PLN
Kelurahan
PLN
Jumlah
Generator
Tenaga surya
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe

Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah
Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

3) JaringanTelekomunikasi
lnterkoneksi antar pusat-pusat kegiatan, baik wilayah internal
Kecamatan Tellulimpoe maupun dengan wilayah luar, sangat
membutuhkan dukungan sistem komunikasi dan akses informasi baik
menggunakan sistem konvensional dengan kabel maupun sistem nirkabel.
Untuk mendukung sistem interkoneksi tersebut diarahkan pengembangan
jaringan kabel telepon mengikuti pola jaringan jalan, sedangkan sistem
telekomunikasi nirkabel yang memanfaatkan sistem satelit dan didukung
dengan menara-menara penerima dan pemancar (BTS) yang dilokasikan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
pada titik-titik strategis. Pengembangan presarana telekomunikasi, terus
ditingkatkan perkembangannya hingga mencapai seluruh kawasan kota
yang belum terjangkau sarana dan prasarana.
Saat ini di Kecamatan Tellulimpoe terdapat beberapa operator
yang melayani sistem telekomunikasi berbasis seluler, seperti Telkomsel,
lndosat, dan beberapa operator lainnya. Kesemua operator tersebut
tentunya masing-masing membangun menara BTS.
4) Jaringan Air Minum
Air minum merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia untuk
kelangsungan hidupnya. Prasarana air minum dibutuhkan tidak hanya
untuk konsumsi, akan tetapi juga untuk keperluan MCK, kebutuhan
kegiatan industri dan kegiatan lainnya. Kecamatan Tellulimpoe memiliki
beberapa sumber air yang dapat digunakan untuk air baku, diantaranya
mata air, air tanah, dan sungai yang terdapat di Desa Bua. Untuk
pemenuhan air minum dibutuhkan beberapa persyaratan teknis, seperti
standar sanitasi dan kesehatan untuk layak konsumsi. Peningkatan
pembangunan samna air minum untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
80% penduduk. Untuk pemenuhan air minum di Kecamatan Tellulimpoe,
masyarakat menggunakan air minum yang bersumber dari air tanah
(sumur) dan air yang dikelola oleh PDAM.
5) Jaringan Drainase
Jaringan drainase, selain berfungsi sebagai saluran air hujan juga

berfungsi sebagai saluran pembuangan limbah rumah tangga. Sistem


jaringan drainase di Kecamatan Tellulimpoe, mengikuti kontur alami yakni
mengikuti alur-alur sungai yang ada. Keadaan jaringan drainase yang
terdapat di Kecamatan Tellulimpoe, sebagian besar masih merupakan
saluran pembuangan air hujan, sedangkan untuk jaringan drainase
permanen sebagain besar mengikuti jaringan jalan utama dan jalan
lingkungan pada Satuan Permukiman (SP) yang ada di Kecamatan
Tellulimpoe. Sedangkan untuk pembuangan utama fiaringan primer)
umumnya bermuara ke pantai dan sungai yang ada.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
6) Sistem Persampahan
Sistem pengelolaan sampah yang dilakukan oleh penduduk di
Kecamatan Tellulimpoe masih secara konvensional, yaitu dengan cara
membuat lubang tempat sampah yang kemudian dilakukan pembakaran
atau penimbunan atau membuaang ke bagian belakang pekarangan
rumah.
Masalah sampah di Kecamatan Tellulimpoe saat ini belum
menjadi masalah serius karena jumlah penduduk yang masih relatif
kurang dibandingkan dengan luas wilayah, sehingga produksi sampah
yang dihasilkan oleh rumah tangga dan aktifitas lainnya belum signifikan.
6. Sektor Pertanian/Perkebunan
1) Tanah Sawah dan Tanah Kering
Jenis tanah sawah dan tanah kering yang terdapat di Kecamatan
Tellulimpoe yaitu terdiri dari sawah, tanah kering, tegalan, pekarangan,
perkebunan, kolam tambak dan hutan dimana penggunaan lahan terluas
yaitu tanah kering dengan luas 12,473 Ha dan lahan yang terkecil yaitu
fahan untuk kolam tambak yaitu 22 ha. Untuk lebih jelanya mengenai luas
lahan Jenis tanah sawah dan tanah kering yang terdapat di Kecamatan
Tellulimpoe yaitu sebagaimana pada table berikut:
Tabel 3.16
Luas Tanah Sawah dan Tanah Kering di Kecamatan Tellulimpoe,

Tahun 2012
Desa /
Kelurahan

Sawah
(Ha)

Tanah
Kering
(Ha)

Pekara
ngnan
(Ha)

Perke
buna
n
(Ha)

Kolam
Tambak
(Ha)

Hutan
(Ha)

Laiinnya

Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2) Sawah menurut ienis pengairan
Pengairan Sawah yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe dilakukan
dengan cara pengairan sederhana, pengairan non PU, Tadah hujan,
pasang surut dan lainnya. Untuk lebih jelasnya terkait Pengairan Sawah
yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pdda tabel berikut :
Tabel 3.17
Luas Sawah Menurut Jenis Pengairan di Kecamatan Tellulimpoe,
Tahun 2012
Desa /
Pengairan
Pengairan
T.Hujan
jumlah
Kelurahan
sederhana
non PU
p.surut
lainnya
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang

Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah
Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

3) Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Tanaman


Jenis tanaman yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe yaitu
terdiri dari padi sawah, jagung. Ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah,
dimana luas tanam terluas yaitu berupa padi sawah dengan luas 3.845 Ha
dengan luas panen 3.919 Ha dengan produksi padi sawah 19.930 Ton,
sementara luas tanam, luas panen dan produksi terkecil yaitu Kacang
tanah dengan luas lahan 15 Ha. Untuk lebih jelasnya terkait Jenis
tanaman yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada
tabel berikut:

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 3.1 8
Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Menurut Jenis Tanaman
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Jents
tanaman

Padi
Jagung
Ubi Kayu
Ubi Jalar

Luas Tanam
(Ha)

Luas Panen
(Ha)

Rata - Rata
Produksi
(Ton/Ha)

Produksi
(Ton)

3.845
237
34
19

3.919
321
46
11

5
3
19
15

19.930
1.599
1.144
27-6

Sumber: BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, tahun 2013

4) Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Tanaman Sayuran


Jenis tanaman sayuran yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe
yaitu terdiri dari Kacang Panjang,Cabe besar, Cabe Rawit, Tomat,
Ketimun, Kangkung, Bayam dan Petsai/Sawi dimana luas tanaman sayur
terluas yaitu berupa kaeang panjang dengan luas 79 Ha dengan luas
panen 37 Ha dengan produksi 136,8 Ton/Ha. Untuk lebih jelasnya terkait

Jenis tanam sayuran yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe


sebagaimana pada tabel berikut :
Tabel 3.19
Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Tanaman Sayuran
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Jenis Sayuran

Kacang Panjang
Cabe Besar
Cabe Rawit
Tomat
Ketimun
Kangkung
Bayam
Petsai/Sawi

Luas Tanam
(Ha)

Luas Panen (Ha)

Produksi
(TonlHa)

79
38
38
19
3
25
26
1

37
38
38
19
3
25
24
1

136,9
94,5
124,1
28,6
3,2
62,1
56,8
o,2

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
5) Jumlah Pohon dan Produksi Buah - Buahan
Jenis Buah - buahan yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe
yaitu alpukat, langsat, durian, manggis, jeruk besar, manga, nangka,
nenas, papaya, pisang, rambutan dan sukun, dimana jumlah pohon
terbanyak yaitu durian dengan jumlah pohon 19.508 Pohon dengan
produksi 2.350 Ton. Untuk lebih jelasnya terkait Jenis Buah - buahan
yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe, sebagaimana dada table berikut:
Tabel 3.20
Jumlah Pohon dan Produksi Buah - buahan
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Jenis Buah - Buahan

Jumlah pohon

Produksi(Ton)

Alpukat

30

2,5

Langsat

7.494

1.000

Durian

19.508

2.350

275

30

Manggis

Jeruk Besar

1.589

129

Mangga

858

70

Nangka/Cempedak

921

31,8

2.672
160
2.221
18.681
327

12,8
97
102,9
1 ,500
20

Nenas
Pepaya
Pisang
Rambutan
Sukun

Sumber: BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

6) Jumlah Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat


Jenis tanaman perkebunan rakyat yang terdapat di Kecamatan
Tellulimpoe yaitu Kelapa dalam, Kelapa Hibrida, Kopi, Cengkeh, Jambu
Mente, Kakao, Pala, Lada, Kemiri, Kapok, Panili, Karet, Rami dan Aren.
Jenis tanaman yang memiliki areal paling luas adalah Kakao dengan luas
lahan 1.726 Ha dengan produksi 795. Untuk lebih jelasnya terkait Jenis
tanaman perkebunan rakyat yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe,
sebagaimana pada table berikut :
LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 3.21
Jumlah Areal (Ha) dan Produksi Tanaman Perkebunan Rakyat
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Jenis Tanaman

Luas Areal (Ha)

Produksi (Ton)

Kelapa Dalam
Kelapa Hibrida
Kopi
Cengkeh
Jambu Mente
Kakao
Pala
Lada
Kemiri
Kapok
Panili
Karet
Rami
Aren

694
22
404
1.529
790
1.726
47
1.247
22
376
213
78
6
15

757
15
296
"576
264
795
12
679
5
101
45
82
5
2

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

7. Sektor Peternakan/Perikanan
1. Populasi Ternak Besar Menurut Jenis Kelamin
Jenis ternak besar yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe yaitu
Sapi, Kerbau dan Kuda. Dimana jumlah ternak besar yang terbanyak yaitu
ternak sapi dengan jumlah ternak 13.278 ekor, dengan jumlah sapi jantan
sebanyak 4.511 ekor dan jumlah sapi betina sebanyak 8.768. sementara
ternak besar dengan jumlah terkecil yaitu temak kerbau dengan jumlah 53
ekor, dimana kerbau jantan sebanyak 17 ekor dan kerbau betina
sebanyak 36 ekor. Sementara jumlah ternak besar kuda yaitu kuda jantan
sebanyak 489 ekor dan jumlah kuda betina sebanyak 209 ekor, dengan
total 697 unit. Untuk lebih jelasnya terkait jumlah ternak menurut jenis
kelamin di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut :

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 3.22
Populasi Ternak Besar Menurut Jenis Kelamin
Desa /
Kelurahan
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe
Sao
Tengah

Sapi
Janta
n

Betin
a

Kerbau
Jumla
h

Janta
n

Betina

Jumlah

Jantan

Kuda
Betina Jumlah

Massaile
Samaturue

Jumlah
Sumber: BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

2. Populasi Ternak Keci! Menurut Jenis Kelamin


Jenis ternak Kecil yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe yaitu
Kambing. Dimana jumlah temak kambing yang terbanyak terdapat di
Desa Pattongko sebanyak 153 ekor dan lembang Lohe yaitu sebanyakl53
ekor, sementara populasi ternak kambing yang paling sedikit yaitu di
Desa Kalobba sebanyak 97 ekor dengan jenis kelamin jantan sebanyak
45 ekor dan betina sebanyak 52 ekor, selain di Desa Kalobba, jumlah
ternak Kambing yang paling sedikit terdapat di Desa Mannanti yaitu g0
ekor dengan jumlah kambing jantan sebanyak 37 ekor dan jumlah
kambing betina sebanyak 53 ekor. Untuk lebih jelasnya terkait jumlah
Jenis ternak Kecil yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana
pada table berikut :

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 3.23
Populasi Ternak Kecil Menurut Jenis Kelamin
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Desa /
Kelurahan
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile

Jantan

Kambing/Domba
Betina

Jumlah

Samaturue

Jumlah
Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013
3. Populasi Ternak Unggas Menurut Jenisnya
Jenis ternak Unggas yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe
yaitu Ayam dan ltik. Dimana jumlah ternak ayam tebanyak yaitu di Desa
Tellulimpoe sebanyak 15.187 ekor, sedangkan ternak unggas ayam paling
sedikit Pattongko yaitu sebanyak 9.519 ekor, sementara jumlah ternak itik
terbanyak terdapat di Desa Pattongko sebanyak 295 ekor dan di desa Bua
sebanyak 292 ekor, Sementara jumlah unggas itik paling sedikit terdapat
di Desa Sao Tengah yaitu sebanyak 46 ekor dan di Desa Samaturue yaitu
sebanyak 60 ekor. Ternak unggas di Kecamatan Tellulimpoe biasaya di
pelihara di permukiman penduduk atau di kolong rumah penduduk serta di
areal persawahan yang tidak ditanami. Untuk lebih jelasnya terkait jumlah
Populasi Temak Unggas yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe
sebagaimana pada tabel berikut :

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Iabel 3.24
Populasi Ternak Unggas Menurut Jenisnya
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Desa / Kelurahan
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue

Ayam
14.880
13.196
15.187
11.A41
9.519
11.446
13.224
11.365
16.363
10.330
10.560

Itik
99
90
113
85
295
292
282
151
46
91
60

Jumlah

137.113

1.602

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

4. Rumah Tangga Perikanan


Rumah Tangga Perikanan yang terdapat di Kecamatan
Tellulimpoe yaitu Pengusaha sebanyak 126 orang dan buruh sebanyak
217 dengan total keseluruhan yaitu 343, dimana untuk persebarannya
paling banyak di Desa Bua yaitu sebanyak 47 usaha dan 143 buruh, Desa
Pattongko dengan jumlah 25 pengusaha dan 74 buruh. Aktifitas rumah
tangga perikanan yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe diharapkan
kedepannya dapat membuka peluang kerja serta dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat yang bermukim di Kecamatan Tellulimpoe. Untuk
lebih jelasnya terkait Rumah Tangga Perikanan yang terdapat di
Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut :

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Desa/Kelurahan
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah

Tabel 3.25
Banyaknya Rumah Tangga Perikanan
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Pengusaha
Buruh
8
2
23
25
74
47
143
7
3I
9
2
126
217

Jumlah
8
2
23
99
190
7
3
9
2
343

Sumber: BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

5. Alat Angkut Perikanan


Alat Angkut Perikanan yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe
yaitu perahu motor sebanyak 49 unit dan perahu tidak bermotor sebanyak
41 unit. Untuk lebih ielasnya terkait Alat Angkut Perikanan yang terdapat
di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut :

Desa / Kelurahan
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah

Tabel 3.26
Banyaknya Rumah Tangga Perikanan
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Perahu Moror
Perahu Tidak Bermotor

Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
6. Budidaya Tambak
Luas dan Produksi Budidaya tambak yang terdapat di Kecamatan
Tellulimpoe yaitu areal terluas terdapat di Desa Bua yaitu seluas 16,22 Ha
dengan produksi 621,12 dan di Desa Pattongko dengan luas areal 1,75
Ha dengan produksi il3,46 ton. Total luas areal budidaya tambak yaitu
17,97 ha dengan produksi budidaya tambak sebanyak 1.264,58 Ton.
Untuk lebih jelasnya terkait Luas dan Produksi Budidaya tambak yang
terdapat di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut :

Desa / Kelurahan
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru

Tabel 3.27
Luas dan Produksi Budidaya Tambak
di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
Luas Areal (Ha)
Produksi (Ton)

Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang Lohe
Sao Tengah
Massaile
Samaturue
Jumlah
Sumber; BPS Kecamatan Tellulimpoe Dalam Angk, Tahun 2013

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. SinjaiSelatan
noditas Unggulan Buah - Buahan di Kecamatan Tellulimpoe
rmoditas Unggulan buah - buahan yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe terdiri
dari buah Alpokat, Dt
r biji. Untuk lebih jelasnya sebagaimana pada tabel berikut :
Tabel 3.28
Komoditas Unggulan di Kecamatan Tellulimpoe, Tahun 2012
KECAMATAN/ KELURAHAN/ DESA

ALP DK/LST DUR JA MG MGIS NK NN PP PS RBT SW MKS


3
4
5 7 10 11 12 13 14 15 16 17 18

SK: SUKUN
PT; PETE
NK: NANGKA
SS: SIRSAK
MKS:MARK]SA
NN: NENAS
BN: BUAH NAGA
PP: PEPAYA
PS: PISANG
RBT: RAMBUTAN
MGIS: MANGGIS
SW:SAWO
MG: MANGGA
"* Populasi tanaman dalam satuan pohon
**Produksi telah dikonversi dalan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
9. Sarana dan Prasarana Pertanian di Kecamatan Tellulimpoe
Sarana dan Prasarana Pertanian yang terdapat di Kecamatan
Tellulimpoe terdiri dari jaringan irigasi desa, jaringan irigasi tingkat usaha
tani, sumur tanah dalam, sumur tanah dangkal, air permukaan. Untuk
lebih jelasnya sebagaimana pada tabel berikut :
Tabel 3.29 ,
Sarana dan Prasarana Pertanian di Kecamatan Tellulimpoe,

NO

1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

KECAMATAN/
KELURAHAN
DESA
2
Tellulimpoe
Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe
Saotengah
Massaile
Samaturue
JUMLAH

Tahun 2012
SARANA DAN PRASARANA
JIDE JITUT STDL
HT
S (m)
(m)
(Unt) (Unt)

PT
(Unt)

CS
(Unt)

PA
(Unt)

10

11

12

Keterangan:
JIDES : JARINGAN IRIGASI DESA EM
JITUT : JARINGAN IRIGASI TINGKAT USAHATANI HT
STDL : SUMUR TANAH DALAM PT
STDK : SUMUR TANAH DANGKAL CS
AP : AIR PERMUKAAN PA

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
a. Analisis Kondisi Fisik Wilayah
Kondisi topografi Kecamatan Tellu Limpoe sangat bervariasi
dilihat dari tingkat kemiringan lereng, yakni berkisar antara 2'15o/o,
15 - 30%, dan 40% ke atas. Kondisi demikian menynjukkan bahwa

sebagian besar dari wilayah Kecamatan Tellu Limpoe yang dapat


dikembangkan untuk peruntukan lahan pengembangan sedangkan
selebihnya untuk pengembangan usaha pertanian, peternakan dan
kehutanan.
Berdasarkan data yang diperoleh, ketinggian wilayah Kecamatian
Tellu Lumpoe dari permukaan air laut rata-rata 0 - t 500 m dari
permukaan air laut. Dengan kondisi demikian' pengernbangan usahausaha
pertanian dan perkebunan sangat memungkinkan di mana
klasifikasi ketinggian 500 - 1000 m dari permukaan air laut dapat
dimanfaatkan untuk tanaman iklim sedang, sedang ketinggian di atas
1000 m dimanfaatkan untuk hutan lindung dan konservasi.
Keadaan hidrologi Kecamatan Tellu Limpoe yang dilalui oleh
Sungai Bua dan Sungai Pattongko dapat dikembangkan fungsinya
yang selama ini hanya dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk
pengalran persawahan, sehingga dapat digunakan untuk
meningkatkan hasil pertanian dengan pembuatan bangunanbangunan
air berupa cekdam yang Juga dapat dimanfaatkan untuk
memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Dengan melihat kondisi Klimatologi yang tergolong dalam iklim.
sub tropis dimana Kecamatan Tellu Limpoe mempunyai curah hujan
berkisar antara 2.000 - 4.000 mm / tahun,.dengan hari hujan yang
bervariasi antara 100 - 160 hari huian I khun. Kelembaban udara
rata-rata, tercatat berkisar antara 64 - 87 persen , dengan suhu.
udara ratia - rata berkisar antara 21,1 o C - 32,4 o C.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
B. Analisis Komoditas Unggulan
Analisis Penentuan Komoditas Unggulan dilakukan guna melihat
komoditas - komoditas unggulan yang ada di Kecamatan Tellulimpoe,
dalam rangka pengembangan dan peningkatan Varietas unggulan.
Untuk lebih jelasnya sebagaimana pada tabel berikut :
Tabel4.1
Analisis Penentuan Komoditas Unggulan di Kecamatan Tellulimpoe'

N
o

Desa /
Kelurahan

A
L
P

DK/
L
ST

D
U
R

KECAMATAN/KELURAHAN/DESA
J M M N N P P R S M S S P
A G G K N P S B W K S K T
I
T
S
S

1
2
3
4
5
6
7
8

Kalobba
Mannanti
Tellulimpoe
Era Baru
Pattongko
Bua
Sukamaju
Lembang
Lohe
9 Sao
Tengah
10 Massaile
11 Samaturue
Jumlah
dominan
Jumlah prioritas

Keterangan : Rangking Komoditas diTingkat Desa


Komoditas unggulan1
Komoditas Unssulan 2
Komoditas Unggulan 3
Komoditas Unggulan 4
Komoditas Unggulan 5
Komoditas Unggulan 5
Komoditas Unggulan 7
1:Ada
0 : Tidak Ada

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
C. AnalisisKependudukan
Pada hakekatnya penduduk sebagai obyek dan subyek
pembangunan, merupakan makhluk sosial yang selalu berkembang
secara dinamis sesuai sifat dan karakteristiknya menurut waktu, tempat

dan keadaan. Dalam melangsungkan hidupnya yang sarat dengan


problema sertia tuntutan kebutuhan yang serba kompleks, manusia
membutuhkan suafu ruang tertentu sebagai wadah untuk berlangsungnya
aktifitas kehidu pan nya.
Perkembangan jumlah penduduk akan menimbulkan dampak baik
positif maupun negatif. Namun perkembangan jumlah penduduk tersebut
tirlak diiringr oleh bertambahnya ruang/lahan- Dengan demikian dapat
dipastikan bahwa di satu sisi penduduk merupakan elemen yang sangat
dinamis sedang pada sisi lain ruang/lahan sebagai wadah tempat
melangsungkan kehidupan merupakan elemen yang bersifat statis.
Bertambah luasnya ruanglahan kota yang ditempati penduduk,
tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya, salah satu
diantaranya adalah faktor demografi {kependudukan) baik yang bersifat
internal (penduduk yang bermukim dalam wilayah kota itu sendiri) maupun
yang bersifateksternal (penduduk yang bermukim di luarwilayah kota).
Demikian eratnya kaitan antiara faktor kependudukan dengan ruang
(lahan), sehingga faktor kependudukan tersebut merupakan tolak ukur
dalam menentukan besamya ruang yang digunakan untuk menampung
penduduk dengan segala aktifitasnya. Oleh karena itu suatu wilayah
disamping sebagai wadah fisik juga merupakan wadah aspirasi
masyarakat, sehingga kota tersebut mencerminkan aspirasi penduduk
yang mendiaminya. Data kependudukan yang dibutuhkan meliputi
kecenderungian pertumbuhan (pertambahan)L penyebaran, kepadatan dan
karakteristik sosial budaya penduduk.
Disamping sebagai makhluk individu, manusia juga sebagai makhluk
sosial yang cenderung hidup secara kelompok (bermasyarakat). Hal
sangat penting dalam mempertahankan eksistensinya di muka bUmiini.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Sejak dilahirkan manusia telah mempunyai kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi seperti; makan, minum, melanjutkan keturunan, menjaga
kesehatan dan kecenderungan untuk hidup bercama sefia mengtrdakan
hubungan satu sama lain.
Menelaah argumentiasi di atas mengisyaratkan adanya beberapa hal

pokok yang mengakibatkan terjadinya perubahan dan pertambahan


penduduk yaitu adanya kelahiran, adanya kematian, dan adanya migrasi
(masuk dan ke luar). Perubahan dan pertambahan penduduk karena
adanya kelahiran dan kematian disebut pertumbuhan penduduk alamiah,
faktor ini biasanya tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap pertambahan
jumlah penduduk suatu kota/daerah, apalagi jika program "Keluarga
Berencana (KB)" berhasil.
Aspek kependudukan ini meliputi jumlah dan perkembangan
penduduk serta distribusi jumlah penduduk. Penduduk merupakan
perkembangnn potensi dari suatu wiliayah, karena dengan keberadaan
penduduk memperlihatkan adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat
ekonomis diwilayah tersebut. Analisis faktor-faktor perkembangan sangat
diperlukan untuk perencanaan pembangunan dan perkembangan suatu
wilayah. Analisis faldor-faktor wilayah meliputianalisis proyeksi penduduk,
kepadatan atau distribusi penduduk, struktur penduduk dan mobilitas
penduduk.
Secara keseluruhan, analisis kependudukan ini akan membahas
faldor-faktor jumlah penduduk, perturnbuhan dan perkembangan, faldor
struktur penduduk menurut umur, menurut pendididkan, agama,
penyebaran penduduk, angka harapan hidup, dan faktor penduduk
menurut lapangan pekerjaan.
a- Faktor penduduk dan perkembangannya, yang akan mempengaruhi:

Luas kebutuhan ruang;

Kebufuhan akan jenis fasilitas, pelayanannya dan sebaran


pelayanannya;

Klasifikasi wilayahi

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Pertumbuhan wilayah;
Pola pengaturan wilayah dan kemungkinan perluasan; dan. Kemungkinan
penyediaan lapangan pekerjaanb.
b. Struktur penduduk menurut umur, yang berpengaruh kepada:

Susunan dan jenis fasilitas pelayanan; dan


Tipe-tipe lingkungan permukiman terutiama dalam skala jarak.
c. Struktur penduduk herdasarkan lapangan pekeriaan, yang akan
berpengaruh kepada:
Penyediaan lapangan pekerjaan;
Distribusi penyebaran lapangan pekerjaan dan penduduk; dan
Fasilitas yang bersifatmeningkatkan kemampuan keria
d. Penyebaran penduduk yang akan bepengaruh kepada:
Pola penggunaan lahan;
Tipe lingkungan; dan
Fasilitas-fasilitas/sarana-sarana transportasi dan sarana
komunikasi dan sosial lainnya.
e. Penyebaran penduduk menurut agama, akan berpengaruh kepada:
Susunan dan jenis sarana peribadatan; dan
Sosial kebudayaan rnasyarakat.
f. Penyebaran penduduk menurut tingkat pendidikan, akan
berpengaruh:
Susunan dan jenis sarana pendidikan;
Tipe sarana; dan
Sosial dan kebudayaan penduduk.

7. Proyeksi Jumlah Penduduk


Perkembangan penduduk merupakan perbandingan antara jumlah
penduduk saat ini terhadap jumlah penduduk masa lampau. Pada
dasamya tingkat pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh tingkat
kelahiran (fertilitas) dan kematian {mortalitas), serta adanya perpindahan
(migrasi masuk dan keluar) dari daerah yang bersangkutan.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Berdasarkan data penduduk tahun 2013 jumlah penduduk di
Kecamatan Tellulimpoe yaitu sebesar 31.4M jiwa, mengalami
peningkatan selarna kurun waktu bebeberapa tahun terakhir yang reiatif

konstan. Jumlah penduduk 4 (empat) tahun terakhir menjadi dasar dalam


memperkirakan tingkat perkembangan penduduk dimasa yang akan
datang. Tingkat perkembangan jumlah penduduk merupakan indikasi
utama untuk penyediaan sarana dan prasarana yang dibufuhkan sebagai
wadah dalam melaksanakan aktifitas sosial ekonomi masyarakat.
Proyeksi penduduk dilakukan untuk mengetahui perkembangan
jumlah penduduk di masa mendatang dan menjadi bahan acuan dalam
pengiambilan keputusan dalam menganalisa tingkat kebutuhan fasilitas
akan sarana dan prasarana wilayah. Sehingga proses dan fase-fase
sebagni bagian dari tahap perencanaan dapat berjalan sesuai dengan
kebutuhan dan rencana yang ada.
Perkembangan penduduk selama 5 (lima) tahun terakhir di
Kecamatan Tellulimpoe (Tahun 2013 - 2018) mengalami peningkatan.
Pertumbuhan penduduk yang mengalami peningkatan disebabkan
meningkatnya angka kelahiran dan migrasi masuk di wilayah ini, hasil
proyeksi penduduk diharapkan menjadi acuan dalam mengestimasi
perkembangan dan laju pertumbuhan penduduk pada masa mendatang
untuk periode waktu antara Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2033.
Untuk menghitung proyeksi penduduk, akan digunakan asumsi-asumsi
data penduduk dasar yang digunakan adalah data Tahun sebelumnya,
dan proyeksi dilakukan setiap 5 (lima) tahun kedepan.
Berdasarkan hasil analisis proyeksi bunga berganda, maka proyeksi
jumlah penduduk sampai akhir tahun peren@naan (Tahun 2033), adalah
sebesar il.777 Jiwa. Untuk lebih jelasnya mengenai proyeksi penduduk
di Kecamatan Tellulimpoe sampai akhir tahun perencanaan, dapat dilihat
pada tabel berikul

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 4.2
Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Tellulimpoe,
Tahun 2013 2033

Tahun Proyeksi
Kecamatan
(1)
Tellulimpoe

2013
(2)
33.754

2018
(3)
38.180

2023
(4)
43.712

2028
(5)
49.245

2033
(6)
54.777

Sumber: Hasil Analisis Tim

2.

Kepadatan dan DayaTampung Penduduk


Pola penyebaran penduduk ditentukan oleh karakterisUk fisik alam
serta pola distribusi fasilitas sosial ekonomi dan lokasi pusat-pusat
kegiatan penduduk kota. Penyebaran penduduk di Kecamatan Tellulimpoe
memperlihatkan pola berkelompok dimana penduduk lebih memilih tempat
tinggal di daerah yang lebih dekat dengan tempat kerjanya. Pola
penyebaran penduduk di Kemmatan Tellulimpoe iuga cenderung
mengikuti jaringan jalan utama sehingga yang terlihat adalah pola
penyebaran penduduk secara linier.
Pola penyebaran penduduk seperti ini akan tetap berkembang
meskipun terjadi perkembangan penduduk yang cukup pesal kecualijika
didukung oleh pola transportasi yang mapan. Namun jika pola transportasi
yang ada tetap seperti yang terjadi saat ini, maka sampai 20 (dua puluh)
tahun mendatang, pola penyebaran penduduk juga cenderung linier.
Terlebih lagi iika tidak ada altematif untuk menambah jaringan jalan dan
prasarana lingkungan yang dapat memancing penduduk untuk bermukim
pada daerah yang lebih dekat dengan prasarana atau fasilitas kota.
Kepadatan penduduk merupakan salah satu masalah kependudukan
yang cukup rumit untuk diatasi dewasa ini. Masalah tersebut ditimbulkan
akibat tidak meratianya distribusi (penyebaran) penduduk dalam suatu
wilayah/kota. Hal tersebut sudah tentu memerlukan solusi (ialan keluar)
yang terorganisir dan terpadu dari berbagai aspek yang terkait dengan
masalah kependudukan. Dengen mempertimbangkan pekiraan laju

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Pengembangan sarana kesehatan bertujuan untuk menyediakan
sarana dan meningkatkan fungsinya sehingga penduduk dapat terlayani
kebutuhan dalam bidang kesehatan berdasarkan tingkatannya. Pelayanan

sarana kesehatan berdasarkan fungsi diletakkan pada kecenderungan


tumbuhnya permukiman penduduk yakni pada kelompok-kelompok
permukiman tanpa didasari prinsip administrasi tetapi fungsifasilitas untuk
memberikan pelayanan secara maksimal. Estimasi kebutuhan sarana
kesehatan di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut.
Tabel 4.7
Estimasi Kebutuhan Sarana Kesehatan di Kecamatan Tellulimpoe,
Hingga Tahun 2033

Sarana
Kesehatan
(1)
Posyandu
Pustu
Puskesmas
R. Sakit

Standar Perencanaan
Penduduk
Luas (m2)
(jiwa)
(2)
(3)

Eksisting
Fasilitas
(Unit)

Kebutuhan
Sarana
(Unit)
(4)

Jumlah Unit
Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan sarana kesehatan untuk tahun


2033 di Kecamatan Tellulimpoe, untuk sarana kesehatan berupa
posyandu sebanyak 18 unit, pustu sebanyak 18 unit dan Puskesmas
sebanyak 2 unit. kondisi dilapangan menunjukkan bahwa perlu dilakukan
penambahan sarana kesehatan, disesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat.
5. Sarana Perdagangan &Jasa
Sarana perdagangan dan jasa yang berskala regional dialokasikan di
sub pusat berupa pasar wilayah di Kecamatan Tellulimpoe, dimana pasar
yang ada di Kecamatan Tellulimpoe tersebut kondisinya saat ini yaitu
merupakan pasar tetap.
Fasilitas perekonomian yang memiliki skala pelayanan lokal yaitu
berupa pasar lingkungan di setiap sub pusat, Sedangkan fasilitas

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Pertumbuhan penduduk dimasa yang akan datang, baik yang ada di
dalam kota maupun di luar kota (kemungkinan urbanisasi), maka

diperlukan kebijaksanaan pengaturan penyebaran penduduk sehingga


tingkat kepadatan di Kecamatan Tellulimpoe sesuai dengan daya
tampung ruang dan daya dukung lahan sehingga kepadatan penduduk
dapat diatur seefisien dan seefektif mungkin yang memungkinkan
terjadinya pola penggunaan lahan kota yang optimal.
Kepadatan penduduk yang sesuai dengan daya tampung tiap bagian
wilayah diharapkan dapat diikuti oleh laju perkembangan ekonomi yang
cepat sehingga masyarakat semakin sejahtera menuju tercapainya
masyarakat adil dan rnakmur. Unfuk mencapai hal tersebut, maka
kebijaksanaan kependudukan dapat ditempuh melalui:
Adanya keseimbangan antara penyebaran penduduk dengan tingkat
kepadatan yang sesuai fungsi setiap Desa/kelurahan;
Agar tercipta pernerataan penyebaran penduduk pada masing-masing
desa/kelurahan, maka perlu dibangun fasilitas sosial ekonomi serta
prasarana lingkungan yang berimbang pada semua desa/kelurahan;
Pola transportiasi sedapat mungkin dapat melayani seluruh
Desa/kelurahan yang berada di Kecamatan Tellulimpoe sehingga
penduduk tidak tagi memperhitungkan jarak ke pusat kota atau ke
tempat kerja untuk bermukim; dan
Meningkatkan kesadaran penduduk akan pentingnya menciptakan
norma keluarga sejahtera dan bahagia melalui program keluarga
berencana.
Berdasarkan hasil analisa dapat dllihat bahwa kepadatan penduduk
tahun 2033 di Kecamatan Tellulimpoe mengalami peningkatan.
Untuk menghitung daya tiampung penduduk di Kecamatan
Tellulimpoe berdasarkan Kepmen PU No.378/KPTS/1987, asumsinya
adalah luas lahan dikalikan dengan 120 Jiwal{a (kepadatan penduduk
maksimal). Dari analisis daya tampung dapat diketahui kawasan mana
yang memiliki kepadatan penduduk lebih besar darijumlah dayatampung

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
perdagangan skala pelayanan lokal disediakan fasilitas toko dan warung.
Untuk pengembangan fasilitas Perdagangan dan Jasa selain berdasarkan

analisis kebutuhan terhadap jumlah penduduk juga harus disesuaikan


dengan standar sarana dan prasarana pengembangan di Kecamatan
Tellulimpoe.
6. Sarana Olah Raga dan Rekreasi
Sarana Olah Raga dan Rekreasi adalah sarana fisik untuk
menunjang pengembangan suatu wilayah atau kawasan, Jenis sarana
olah raga, budaya dan rekreasi tersebar di seluruh Kecamatan
Tellulimpoe sesuai dengan lingkup pelayanannya masing-masing. Analisis
sarana olah raga ,budaya dan rekreasi guna melayani kebutuhan
masyarakat akan kebutuhan tersebut sehingga dapat menciptakan suatu
sistern yang dapat melahirkan suasana sosial masyarakat yang
meniunjung nilai-nilai keramahtamahan dan nilai, norma-norma yang
berlaku.
Untuk rencana pengembangan fasilitas Olahraga, Budaya dan
Rekeasi selain berdasarkan analisis kebutuhan terhadap jumlah
penduduk juga harus disesuaikan dengan standar sarana dan prasarana
pengembangan kawasan perkotaan.
7. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ruang terbuka hijau (open space) adalah ruang terbuka yang
fungsinya ditentukan oleh bangunan-bangunan yang ada disekitamya,
sehingga ruang kota (urban space) dapat terbentuk. Ruang terbuka dalam
suatu kota adalah mutlak keberadaannya, karena berfungsi sebagai paruparu
kota yang dapat memberikan kesegaran dan kesejukan dalam kota.
Pernyatiaan penting dalam planning adalah bukannya dimana kita
harus membangun tetapi dimana tidak boleh membangun. Pernyataan ini
penting dalam penataan bangunan dan lingkungan untuk menciptakan
persediaan ruang terbuka. Ruang terbuka yang dimaksud adaldh setiap

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
yang tersedia. Sehingga pada tahap renffina berikutnya blok-blok yang
padat penduduk akan mendapat prioritas utiama, terutama dalam proses

penyebaran penduduk serta peningkatan terhadap penyediaan fasilitas


dan utilitas perkotaan.
Dengan adanya pertambahan penduduk pada beberapa
Desa/Kelurahan di Kecamatan Tellulimpoe, yang diakibatkan oleh laju
pertumbuhan penduduk, dari hasil analisis daya tampung secara
keseluruhan, di Kecamatan Tellulimpoe memiliki daya tampung yang
memadai pada beberapa kawasan sampai pada tahun rencana yaitu
Tahun 2033. Lebih jelasnya proyeksi kepadatan penduduk di Kecamatan
Tellulimpoe, dapat dilihat pada tabel berikut,
Tabel4.3
Proyeksi Kepadatan Penduduk di Kecamatan Tellulimpoe,
Tahun 2033
Luas
Jumlah
Kepadatan
Kecamatan
Wilayah
Penduduk
Penduduk
(Ha)
Proyeksi (Jiwa)
(Jiwa/Ha)
(1)
Tellulimpoe

(2)
147,30

(3)
54,777

(4)
374

Sumber Hasil Analisis Tim

D. Analisis Kebutuhan Sarana


Analisis Sarana dan Prasarana di Kecamatan Tellulimpoe perlu
dilakukan guna mengetahui kebutuhan sarana dan prasarana masyarakat
di wilayah tersebut. Untuk lebih jelasnya sebagaimana penjelasan berikut
ini :
1. Sarana Perumahan
Sarana perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai
wadah untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan berfungsi sebagai
tempat perlindungan dan membina keluarga. Penentuan jumlah fasilitras
ini didasarkan pada kecenderungan jumlah penduduk yang akan
terdistribusi pada kawasan. Perencanaan pembangunan perumahan
bertujuan untuk menciptakan lingkungan permukiman yang layak huni.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
penggunaan dan open space yang ada, berupa taman, ruang terbuka
h'rjau, ruang terlcuka untuk parkir, dan lain-lain. Ruang terbuka hijau dan

open space yang direncanakan di Kecamatian Tellulimpoe.


Penyediaan ruang terbuka di luar tapak, dalam hal ini ruang terbuka
hijau berada pada jalur hijau yang ada ditepi jalan. Fungsi dan manfaat
ruang terbuka hijau di lokasi perencanaan di Kecamatan Tellulimpoe,
sebagai berikut:
Fungsi biologis yaitu, memberikan udara segar dan cahaya yang cukup
bagi bangunan disekelilingnya;
Taman;
Fungsi estetika yaitu, membentuk perspektif dan efek visual yang indah
sebagai antisipasi lingkungan yang semakin padat;
Fungsi sosial yaitu sebagai tempat untuk menjalin kornunikasi antiar
masyarakat; dan
Fungsi fisik yaitu, sebagai pembatas yang memisahkan antara dua
kegiatan yang berbeda aktivitasnya, seperti antar lingkungan
permukiman dengan perkantoran dan lain-lain.
E. Analisis Kebutuhan Jaringan Pr:asarana
Kebutuhan jaringan prasarana merupakan upaya penyediaan
prasarana pendukung yang menunjang kegiatan perkotaan. Penyediaan
jaringan prasarana meliputi jaringan pergerakan, jaringan
energilkelistrikan, jaringan telekomunikasi, jaringan drainase, jaringan air
minum, jaringan limbah, dan sistem persampahan.
1.Jaringan Pergerakan
Kegiatan transportasi tidak terpisahkan dengan kegiatan lainnya
seperti kegiatan perdagangan, industri dan jasa pelayanan. Sistem
transportasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan perubahan
sistem kegiatan sosial ekonomi daerah yang bersangkutan.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Diprioritaskan pada pusat-pusat pertumbuhan atau kawasan yang


berperan strategis terhadap kawasan yang lebih luas.
Sejalan dengan perkembangan era komunikasi, teknologi
telekomunikasi sangat cepat perkembangannya yang dewasa ini menjadi
pelanggan terbesar ketimbang jaringan kabel. Telepon seluler
berkembang menjadi alat komunikasi efektif tanpa dibatasi ruang dan
waktu, tetapi untuk Kecamatan Tellulimpoe relatif baik. Untuk
mengantisipasi pengembangan adalah pembangunan menara atau tower
bagi pelayanannya. Akan tetapi penyedia telepon seluler yang terus
bertambah maka perlu pengaturan pemanfaatan lahan untuk menara
sehingga wilayah tidak dihiasi dengan menara seluler saja. Untuk itu
pemakaian satu tower untuk beberapa penyedia telekomunikasi seluler
dianggap solusi terbaik, selain mengatur pemanfaatan lahan juga
pengaturan ruang udara.
Pengembangan sistem telekomunikasi nirkabel berbasis seluler
sebagai bentul</dampak meningkatnya kebutuhan terhadap arus informasi
dan komunikasi antar wilayah, baik lokal, wilayah, nasional maupun
intemasional. Sistem telepon nikabel ini disediakan oleh beberapa
provider/operator penyedia layanan jasa telekomunikasi berbasis seluler.
Namun pengawasan dan pengaturan regulasi terhadap sistem
telekomunikasi tercebut masih dilakukan oleh pihak pemerintah (PT.
Telekomunikasi lndonesia TBK.).
Saat ini di Kecamatan Tellulimpoe terdapat beberapa operator yang
melayani sistem telekomunikasi berbasis seluler, seperti Telkomsel,
lndosat, dan beberapa operator lainnya. Estimasi kebutuhan jaringan
telepon di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 4.9

Prediksi Kebutuhan Jaringan Telepon


di Kecamatan Tellulimpoe Tahun 2033
Uraian Tahap

Prediksi Kebutuhan Pelayanan Telepon

No
2013
1
2
3

2018

2023

2028

2033

Jumlah Penduduk
(Jiwa
Jumlah Kepala
Keluarga (KK)
Kebutuhan Domestik
(20%x Jumlah KK)

Kebutuhan Non
Domestik
(20% x
KebutuhanDomestik
)
5
Kebutuhan Telepon
Umum
6
Cadangan
Total Kebutuhan
Sumber: HasilAnalisis Tim Tahun 2014

7. Jaringan Air Minum


Penyediaan air minum merupakan salah satu sarana yang harus
selalu ditingkatkan, namun dalam peningkatan sarana ini harus
diperhatikan aspek-aspek lain yang akan mempengaruhi sistem
penyediaan air minum yang akan dikembangkan seperti penggunaan air
baku untuk sektor atau kegiatan lain. Dalam penentuan prioritas recana
pengembangan sarana air minum selain pertimbangan yang terdapat
dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sinjai, hal-hal
lain yang harus diperhatikan diantaranya'.
Kebutuhan mendesak akan air minum;
Ketersediaan dari air baku;
Kemungkinan pengembangan sistem di masa yang akan datang; da
Kriteria yang mendukung secara teknis pengembangan sistem
penyediaan air minum.
Untuk sementara waktu, peningkatan kapasitas layanan di
Kecamatan Tellulimpoe dilakukan dengan mengoptimalisasikan fungsi
sistem penyediaan air minum yang telah ada. Untuk mendapatkan
LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

tekanan yang merata di seluruh tempat, maka jaringan pipa dalam bentuk
grid tertutup dinilai memadai bagi daerah pelayanan.
Sementiara itu strategi pengembangan sistem penyediaan air minum
dianalisis untuk tahun 2013 sampai dengan tahun 2033 secara progresif
untuk memenuhi kebutuhan yang diproyeksikan. Dimana skenario dari
strategi ini terdiri dari beberapa tahap pengembangan dengan target yang
akan dicapai pada setiap tahapnya.
Optimalisasi sistem eksisting harus diikuti dengan peningkatan mutu
pelayanan. Optimalisasi ini dapat dilakukan antara lain dengan:
Memperbaikifasilitas yang ada;
Menggantifasilitas yang sudah tidak berfungsi;
Menambah fasilitas baru
Merealisasikan anggaran biaya
Dalam upaya penyediaan air minum yang di peruntukan untuk suatu
daerah, dibutuhkan sumber air baku yang memadai. Sumber-sumber air
yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk sistem
penyediaan air minum berasal dari air hujan, air tanah dan air permukaan
(sungai dan mata air) serta sumur dalam.
Sebelum suatu sumber air baku digunakan dalam sistem penyediaan
air minum diperlukan suatu proses analisa dan evaluasi potensi sumber
air tersebut, faktor-faktor yang harus di perhatikan seperti kualitas,
kuantitas, kontinuitas dan fluktuasinya serta lokasi dan jarak sumber air ke
lPA, juga pemanfaatan dan aspek legalitasnya.
Prioritas pemilihan sumber air baku didasarkan pada aspek teknis
dan ekonomis, dimana pemilihan sumber diprioritaskan terhadap sumber
dengan kualitas air yang baik untuk mengurangi biaya pengolahan,
sumber degan kuantltas yang melebihi kebutuhan air minum daerah
pelayanan, sertra letak sumber yang cukup strategis ditinjau dari segi
teknis.
Kebutuhan air diproyeksikan menurut kebutuhan domestik dan
kebutuhan non domestik. Kebutuhan air domestik ditetapkan sebesar 70%

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kriteria dan persyaratan


yang ditetapkan sebagai pedoman untuk pengembangan kawasan
perumahan, kriteria tersebut antara lain:
Tidak terganggu oleh polusi (air, udara, suara);
Memberikan kemungkinan untuk perkembangan pembangunannya;
Mudah dan aman mencapaitempat kerja;
Tidak berada dibawah permukaan air setempat; dan
Mempunyai kemiringan rata-rata 5 - 18%.
Fungsi kawasan ditetapkan sebagai kawasan untuk pengembangan
permukiman dan tidak diperkenankan untuk pengembangan pada
kawasan lindung atau konservasi;
Tidak pada tahan pertanian produktif atau pertanian dengan sistem
pengairan teknis;
Ketersediaan air baku cukup untuk kebutuhan konsumsi air minum;
dan
Tersedia atau dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan
untuk kebutuhan pelayanan terhadap penduduk di kawasan
permukiman.
Pemenuhan kebutuhan rumah di Kecamatan Tellulimpoe didasarkan
pada standar kebutuhan ruang dengan memperhatikan daya tampung dan
daya dukung lahan. Asumsi dan standar yang digunakan untuk
pengembangan perumahan tersebut adalah 60% lahan terbangun dan
40o/o lahan terbuka, hal tersebut dimaksudkan agar tersedia lahan untuk
penyediaan sarana dan prasarana serta lahan cadangan pengembangan
dimasa yang akan datang. Jumlah penduduk sangat menentukan luasan,
type rumah dan jumlah unit bangunan, yang diasumsikan dalam setiap
rumah (1 KK) terdiri dari 5 orang. Type dan luasan kapling yang dapat
dikembangkan antara lain:

Type A (besar) dengan luas lahan 20 x 30 m;


Type B (sedang) dengan luas lahan 15 x 20 m; dan
Type C (kecil) dengan luas lahan 10 x 15 m.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

Konsep pengembangan sistem transportasi meliputi pengembangan


sistem prasarana jaringan jalan dan pengembangan sistem sarana
transportasi. Sistem transportasi yang dikembangkan di Kecamatan
Tellulimpoe hingga Tahun 2033, merupakan penjabaran dari Strategi
pengembangan transportasi darat, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kabupaten Sinjai yang telah mempertimbangkan keterkaitan
sistem transportasi secara terintegrasi di seluruh wilayah dan sistem
transportasi ke wilayah lainnya. Tujuan pengembangan sistem
transportiasi ini adalah:
Menempatkan aksesibilitas yang baik dan mudah dijangkau dari
seluruh wilayah di Kecamatan Tellulimpoe;
Mendukung fungsi dan peran di Kecamatan Tellulimpoe sebagai pusat
permukiman;
Memberi kemudahan mobilitas bagi penduduk di Kecamatan
Tellulimpoe untuk melakukan pergerakan (perangkutan), baik
pergerakan intemal maupun pergerakan ekstemal;
Mendukung arah penyebaran pembangunan kegiatan secara lebih
merata;
Menyeimbangkan beban poros utiama jalan dengan penghubung; dan
Memperpendek akses pusat dengan pembangunan akses jalan baru
di Kecamatan Tellulimpoe.
Dalam pengembangan sistem transportasi mencakup aspek-aspek
pola dan sistem jaringan jalan yang berhirarki, angkutan umum, serta
sarana transportasi lainnya yang kesemuanya saling terkait dan
membentuk satu kesatuan. Pengembangan sistem transportasi dilakukan
dengan memadukan sistem jaringan jalan, terminal, serta angkutan umum
yang mengarah pada sistem angkutan terintegrasi dengan wilayah yang
lebih luas.

LAPORAN

Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)


Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
dari kebutuhan air total di Kecamatan Tellulimpoe. Estimasi kebutuhan Air
Bersih di Kecamatan Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut.

NO
A
B
C

D
E

Tabel 4.10
Prediksi Kebutuhan Air Bersih,
di Kecamatan Tellulimpoe Tahun 2033
Uraian Tahap
Prediksi Kebutuhan Air Bersih
2013
2018
2023
2028
Penduduk
(Jiwa)
Terlayani (Jiwa)
Domestik
Sambungan
langsung
Kran Umum
Non Domestik
Lainnya
Jumlah (l/hari)
Jumlah (l/detik)

2033

Sumber: HasilAnalisis Tim Tahun 2014

8. Jaringan Drainase
Secara umum, kondisi eksisting drainase di Kecamatan Tellulimpoe
saat ini masih memanfaatkan drainase alami. Dalam prosedur analisa
dilakukan pengecekan kembali secara umum dengan pendekatan praktis
terhadap aspek drainase di posisi jaringan utama. Seiring dengan
perkembangan yang terjadi di Kecamatan Tellulimpoe, pada masa yang
akan datang pemerintah setempat harus melakukan perencanaan terkait
dengan penanganan drainase.
9. Sistem Persampahan
Pewadahan sampah secara lebih spesifik dapat diartikan sebagai
penanganan sampah pada sumber sebelum pengumpulan, termasuk di
dalamnya adalah pemisahan, penyimpanan dan pemrosesan. Arahan
pewadahan dapat direncanakan dengan menggunakan sistem pemisahan
antara sampah organik dengan anorganik. Disamping lebih baik secara
estetika juga akan mempermudah proses daur ulang sampah sehingga
sampah yang dibawa menuju TPA akan lebih sedikit. Tabel berikut ini

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)

Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Sedangkan pembangunan rumah untuk masing-masing type
diasumsikan sebagai berikut:
10% untuk pembangunan type A (besar);
30% untuk pembangunan type B (sedang); dan
10% untuk pembangunan type C (kecil).
Prediksi jumlah penduduk di Kecamatan Tellulimpoe hingga Tahun
2033 mencapai 54.777 Jiwa atau bertambah sekitar 23.333 Jiwa selama
kurun waktu 20 (dua puluh) tahun yang akan datang. Berdasarkan asumsi
tersebut di atas, maka jumlah Kepala Keluarga akan mengalami
pertambahan sekitar 4.667 KK atau asumsi bahwa setiap Kepala Keluarga
(KK) terdiri dari 5 jiwa, sehingga estimasi jumlah rumah hingga Tahun
2033, sama dengan jumlah Kepala Keluarga, yaitu 10.955 unit. Jumlah
rumah dan estimasi penduduk tersebut tentunya akan membutuhkan
penyiapan lahan permukiman.
Dengan demikian daya tampung ruang dan penduduk untuk jumlah
penduduk dan kepala keluarga tersebut dibutuhkan penyiapan lahan dan
pembentukan lingkungan permukiman di Kecamatan Tellulimpoe. Untuk
lebih jelasnya mengenai Kebutuhan rumah dan luas lahan di Kecamatan
Tellulimpoe, sebagaimana pada tabel berikut :
Tabel 4.4
Proyeksi Kebutuhan rumah di Kecamatan Tellulimpoe,
Tahun 2033

Tipe Kapling
(1)
Tipe Besar
Tipe Sedang
Tipe Kecil

Luas Kavling(M2)
(2)

Jumlah Rumah
(Unit)
(3)

Luas Lahan (Ha)


(4)

Jumlah
Sumber : Hasil anatisis Tim

2. Sarana Pendidikan
Pemenuhan penyediaan fasilitas pendidikan di Kecamatan
Tellulimpoe ditujukan untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)

Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
2. Pengembangan Sistem Jaringan Jalan
Jaringan jalan tidak hanya berfungsi sebagai jalur tranportasi aliran
barang dan penumpang tetapi juga berperan dalam mempermudah
aksesibilitas dan membuka keterisolasian wilayah hinterland (daerah
belakang) serta dalam penataan pola permukiman. Untuk maksud
tersebut maka sistem jaringan jalan di Kecamatan Tellulimpoe hingga
akhir tahun perencanaan diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas
yang memperhatikan pola jalan yang efisien dan berhirarki. Upaya
peningkatan sistem jaringan jalan secara kuantitas di kawasan perkotaan
digunakan pola sebagai berikut:

Peningkatan jalan Kolektor Sekunder yang berfungsi sebagai jalur


utama dan menghubungkan Keeamatan Tellulimpoe secara ekstemal;
Pembangunan jalan kolektor sekunder yang bertitik simpul pada jalan
utama yang menghubungkan ke hinterlad kawasan; dan
Peningkatan jalan lokal yang bertitik simpul pada jalan kolektor
sekunder dan menghubungkan ke pusat-pusat permukiman, yang
bertujuan untuk lebih meningkatkan jangkauan pelayanan fungsi
wilayah dan mempermudah akses antar pusat permukiman.

Sistem jaringan jalan di Kecamatan Tellulimpoe belum terintegrasi,


sehingga aksesibilitas antar kawasan belum sepenuhnya baik, masih
terdapat beberapa ruas jalan yang memerlukan peningkatan kualitas.
Analisis jaringan jalan dan sistem transportasi di Kecamatan Tellulimpoe
memiliki tujuan sebagai berikut:
Menlngkatkan mobilitas dan kemudahan di lingkungan dan kawasan;
Meningkatkan dan memperluas jaringan transportasi yang ada dan
mefakukan tindakan-tindakan pengaturan lalulintas yang layak guna
kelancaran arus lalulintas;
Penentuan rute angkutan umum, yang diperuntukkan bagi angkutan
kota, dan angkutan antrar kota.

LAPORAN

Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)


Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
menunjukkan jenis peralatan dan sumber sampahnya yang bersumber
dari DPU Dirjen Cipta Karya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 4.11
Jenis Peralatan dan Sumber Sampahnya

No

Sumber Sampah

Jenis Peralatan

(1)
1

(2)
Daerah perumahan yang sudah
teratur/belum teratur

Pasar

(3)
-Kantong plastiklkertas volume sesuai
yang ada;
- Bin plastikltong volume 40-60 liter,
dengan tutup
- Binltong sampah, volume 50-60 liter
yang
dipasang secara permanen;
- Bin plastik, volume 120-240liter ada
tutupnya.
- Gerobak sampah, volume 1 ms;
- Container dari arm roll volume 6-10 m3;

Pertokoan

Perkantoran / hotel

Tempat umum, jalan dan tanam

Sumber: DPU Dirjen Cipta Karya, Tahun 1992.

- Kantong plastik, volume bervariasi;


- Bin plastik/tong, volume 50-60 liter;
- Bin plastik, volume 120-24A liter
dengan roda.
- Container volume 1 m3 beroda;
- Container besar volume 6-10 m3.
- Bin plastiUtong volume 50-60 liter, yang
dipasang taman secara permanen;
- Bin plastik, volume 120-140liter dengan
roda.

Estimasi perkiraan timbunan sampah di Kecamatan Tellulimpoe


sebagaimana pada tabel berikut.
Tabel 4.12
Perkiraan Timbunan Sampah di Kecamatan Tellulimpoe

No

Tahun

Jumlah
pendudu
k jiwa

Volume Sampah (Ltr/Hr)


Rumah
tangga
(2,5
ltr/hr)

1
2
3
4
5
Sumber: HasilAnalisis Tim Tahun 2014

Perdaganga
n (0,5
ltr/org/hr)

Institusi
(0,1
ltr/org/hr
)

Volume Total
Liter/Hr

M3/Hr

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
melalui pebaikan kualitas sarana dan prasarana pendidikan dan
penyebaran Secara merata. Pola penyediaan Sarana dan prasarana
pendidikan dapat dilakukan secara terpadu dalam satu kawasan atiau
mengikuti pola penyebaran permukiman penduduk untuk kemudahan
pelayanan. Faktor penduduk merupakan indikator utama dalam
penyediaan fasilitas pendidikan dengan memperhatikan jumlah daya
dukung penduduk dalam satu unit fasilitas pendidikan
.
Perkiraan tingkat kebutuhan srana pendidikan mengacu pada
standar pelayanan kebutuhan yang diatur dalam peraturan Standar
Nasional lndonesia, akan tetapi pendekatan spasial menjadi lebih penting
untuk mengetahui tingkat kebutuhan yang sebenamya dengan
mengetahui jumlah penduduk, akumulasi penduduk, jangkauan fasilitas,
dan letak fasilitas terhadap permukiman.
Sarana Pendidikan harus selalu bertitik tolak dari tujuan-tujuan yang
akan dicapai khususnya dalam hal pendidikan. Sarana pendidikan yang
perlu diperhatikan seperti ruang belajar haruslah dapat memungkinkan
siswa untuk melakukan aktifitas belajar, sehingga dapat mendukung
terciptanya siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
serta sikap secara optimal. Selain itu salah satu faktor yang
mempengaruhi tingginya usia sekolah untuk dapat menikmati sarana
pendidikan yaitu faktor pencapaian lokasi dan skala pelayanan yang harus
menjadi perhatian dan pertimbangan dalam penentuan dan penepatan
sarana pendidikan.
Fasilitas pendidikan yang terdapat di Kecamatan Tellulimpoe terdiri
dari TK, SD, SLTP dan SLTA dengan jumlah keseluruhan sebanyak 54
unit. Sedangkan untuk kebutuhan pelayanan akan fasilitas pendidikan
tahun 2033; meliputi TK, SD, SLTP dan SLTA didasarkan pada standar
perencanaan dengan asumsi:

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Klasifikasi dan fungsi jaringan jalan merupakan penjeniangan hirarki
jaringan jalan yang bertujuan menentukan besaran ruang yang dibutuhkan
dan skala prioritas pembangunan jalan. Klasifikasi jalan berdasarkan
kondisi eksisting di Kecamatan Tellulimpoe terdiri atas jalan Kolektor
Sekunder, dan Lokal. Sedangkan untuk pengembangan iaringan ialan
hingga Tahun 2033 dibutuhkan perencanaan dengan klasifikasi sebagai
berikut:
Jalan kolektor sekunder, merupakan jalan yang menghubungkan ke
hinterland kota dan jalur lingkar dan akses ekstmal kota terhadap
kawasan sekitamya;
Jalan lokal, berftrngsi sebagai jalur yang menghubungkan antar
kegiatan dan pusat permukiman;
Jalan lokal, menghubungkan antar pusat permukiman dan fasilitas; dan
Jalan lingkungan, menghubungkan antar unit permukiman dan fasilitas
kota, bertitik simpul pada jalan lokal.
3. Prasarana Terminal
Terminal adalah pangkalan kendaraan bermotor umum yang
digunakan untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan
dan menurunkan orang dan atau barang, serta perpindahan moda
angkutan (UU No. 22 Tahun 2009). Sebagai prasarana tempat naik dan
turunnya penumpang dari moda angkutan umum, maka terminal akan
memainkan peran sebagai "point transfef (titik perpindahan) dari satu
moda angkutan ke moda angkutan lainnya, dari moda angkutan regional
ke moda angkutan lokal atau sebaliknya.
Dengan demikian maka terminal juga akan berperan sebagai simpul
pengikat dari upaya pemisahan sistem pergerakan regional dengan sistem
pergerakan lokal yang bergerak dalam sirkulasi sistem pergerakan
kawasannya. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa di Kecamatan
Tellulimpoe telah memiliki terminal sebagai simpul pergerakan dan
pengumpan.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

No

Tabel4.13
Perkiraan Kebutuhan Sarana Persampahan Tahun 2033
Volume
%
Volume
Kebutuhan Sarana
Tahun
Sampa
Pelayana Sampah
Persampahan
3
h
n
(m /hari) Geroba Containe Truck
k
r
6 m3
1 m3
6 m3
(2 rit)
(2 rit)

1
2
3
4
5
Sumber: HasilAnalisis Tim Tahun 2014

F. Analisis Aksesibilitas Wilayah di Kecamatan Tellulimpoe


Pemasaran suatu produk sangat tergantung pada kelancaran
distribusi produk dari produsen ke konsumen. Keterlambatan produk
diterima konsumen menyebabkan hilangnya kepercayaan dan nilai
jual produk berubah. Dalam pemasaran Agropolitan di Kecamatan
Tellulimpoe, distribusi produk Agropolitan perlu peningkatan agar
dapat memudahkan petani dalam mengirim produknya ke konsumen
di pasar Balangnipa di Kecamatan Sinjai Utara maupun keluar
wilayah.
Dengan kondisi tersebut, para produsen memiliki nilai tambah
dengan adanya sarana transportasi yang mulai merambah
desa/kelurahan penghasil produk Agropolitan. Adapun peranan
transportasi dalam memperluas pemasaran produk Agropolitan di
Kecamatan Tellu Limpoe adalah sebagai berikut:
1. Distribusi produk Agropolitan akan semakin cepat
2. Jangkauan pemasaran akan semakin luas
3. Harga jual meningkat
4. Sarana produksi komoditi Agropolitan mudah diperoleh
5. Jumlah produksi meningkat
6. lntensitas penjualan akan meningkat
7. Peningkatan pendapatan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
1 unit TK melayani minimal 1.000 jiwa penduduk pendukung, terdiri
atas 3 kelas dan menampung maksimal 35 orang murid, lokasi
penempatan pada masing-masing kawasan permukiman, luas lahan
1.200 m2lunit;
1 unit SD melayani minimal 1.600 jiwa penduduk pendukung, minimal
terdiri atas 6 ruang kelas dan menampung maksimal 40 orang murid,
memanfaatkan lahan seluas 3.600 m2lunit dengan penempatan pada
permukiman penduduk dengan radius pelayanan masksimum 1000
meter;
1 unit SLTP melayani 4.800 jiwa penduduk pendukung atau melayani
minimal 3 unit SD, terdiri atas I ruang kelas dan menampung
maksimal 40 orang murid, lahan peruntukan 5.000 m2lunit, menyatu
dengan lapangan olah raga; dan
1 unit SLTA melayani 14.400 jiwa penduduk pendukung dan terdiri
atas 12 ruang ketas dengan luas lahan minimal 5.000 m2.
Estimasi kebutuhan sarana pendidikan di Kecamatan Tellulimpoe
sebagaimana pada tabel berikut.
Tabel 4.5
Estimasi Kebutuhan Sarana Pendidikan Di di Kecamatan Tellulimpoe,
Hingga Tahun 2033
Sarana
Pendidikan
(1)
TK
SD
SLTP
SLTA
PT

Standar Perencanaan
Penduduk
Luas (m3)
(jiwa)
(2)
(3)
1.000
1.200
1.600
3.600
4.800
5.000
14.400
6.000
70
Jumlah Unit

Eksisting
Sarana (Unit)

Kebutuhan
Sarana (Unit)

17
32
4
1
54

(4)
55
34
11
4
1
105

Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan sarana pendidikan untuk tahun


2033 di Kecamatan Tellulimpoe, untuk sarana Pendidikan berupa TK

sebanyak 55 Unit, SD sebanyak 34 unit, SLTP sebanyak 11 unit, SLTA


sebanyak 4 unit dan PT sebanyak 1 Unit. Kondisi dilapangan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
4. Sistem Perparkiran
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat No.
272|HK.105/DRJD/96 tentang pedoman teknis penyelengaraan fasilitas
perparkiran, jenis peruntukan kebutuhan parkir dapat dikelompokan
sebagai berikut:
a. Kegiatan parkir yang tetap:
Pusatperdagangan;
Pusat perkantoran swasta/pemerintiahan;
Pusat perdagangan eceran atau pasar swalayan;
Pasar;
Sekolah;
Tempat rekreasi;
b. Kegiatan parkir yang bersifat sementara:
Tempat pertunjukan;
Tempat pertandingan olah raga; dan
Rumah ibadah.

Berdasarkan keputusan Direldur Jenderal Perhubungan Darat, No.


2721HK.105/DRJD/96, tentang pedoman teknis penyelengaraan fasilitas
perparkiran, penentuan sudut yang akan digunakan pada umumnya
ditentukan oleh:
Lebarjalan;
Volume Lalulintas;
Karakteristik Kecepatan;
Dimensi kendaraan; dan
Sifat peruntukan lahan sekitamya dan peranan jalan yang
Bersangkutan.
5. Jaringan EnergilKelistrikan
Energi kelistrikan di Kecamatan Tellulimpoe saat ini dilayani oleh
PLN yang bersumber dari Gardu lnduk (Gl), Tingkat kebutuhan energi
listrik sebagai energi utiama yang dimanfaatkan untuk berbagai jenis
aktivitas diantaranya untuk alat penerangan dari waktu ke waktu

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Secara deskriptif, perlu peningkatan pembangunan transportasi
di Kecamatan Tellulimpoe karena dengan bertambahnya kualitas dan
ruas jalan menyebabkan terjadinya peningkatan sarana transportasi
darat seperti kendaraan roda dua, roda empat. Dengan tersedianya
sarana transportasi darat tersebut, memungkinkan petani dapat
memanfaatkan sarana yang tersedia dalam memasarkan produk
Agropolitan ke luar daerahnya.
Dengan adanya pengembangan transportasi melalui
pembangunan prasarana jalan dan saran angkutan di Kecamatan
Tellulimpoe, maka terjadi perubahan arah pemasaran produk
Agropolitan dari para petani. Produk Agropolitan dapat dipasad<an
lebih jauh Iagi dari sebelumnya dengan tingkat harga yang lebih tinggi
dan intensitas penjualan dapat dilakukan dengan frekuensi. yang lebih
banyak sehingga petani Agropolitan dapat meningkatkan
pendapatannya.
Adanya pengembangan transportiasi di Kecamatan Tellulimpoe
juga memungkinkan distribusi produk semakin cepat tiba di pasar atau
pedagang yang memesan, sehingga kualitasnya masih baik, sertia
memudahkan petani untuk menerima informasi kebutuhan pasar akan
produk-produk Agropolitan. Selain itu, dengan kemudahankemudahan
dan aksesibilitas dari tersedianya saran transportasi juga
dapat memudahkan petani Agropolitan untuk memperoleh sarana dan
prasarana produksinya berupa peralatan, pupuk, bibit dan
sebagainya, yang dapat meningkatkan jumlah produksinya sesuai
kebutuhan pasar.
Ketersediaan sarana dan prasarana transportasi berperan dalam
menunjang tingkat aksesibilitas dan mobilitas petani di Kecamatan
Tellulimpoe, komoditi Agropolitan dan jasa serta meningkatkan
kegiatan ekonomi di Kecamatan Tellulimpoe baik melalui jalur
transportasi darat maupun air.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
menunjukkan bahwa sarana pendidikan yang tersedia belum melampaui
analisis kebutuhan kedepan sehingga akan dilakukan penyesuaian sesuai
dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat.
3. Sarana Peribadatan
Kehidupan beragama senantiasa harus tetap terbina dengan tujuan
untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang serasi, seimbang, dan
selaras yang diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah kesenjangan
sosial, budaya, yang mungkin dapat merusak mental bangsa yang dapat
menghambat kemajuan, dan pembangunan di segala aspek. Untuk itu
perencanaan pembangunan akan sarana peribadatan sangat tergantung
dari kondisi karakteristik penduduk seperti jumlah penduduk berdasarkan
umur dan jenis kelamin, jumlah penduduk berdasarkan jenis agama dan
kepercayaan yang dianut.
Perencanaan fasilitas peribadatan pengembangannya tidak terlepas
dari ketentuan peraturan yang berlaku secara nasional dan peraturan
yang berlaku pada suatu daerah yang bed<aitan dengan ketentuan
mendirikan rumah ibadah. Walaupun pendirian/pembangunan rumah
ibadah lebih antusias dikembangkan oleh masing-masing pemeluk
agama, selain itu, Fasilitas peribadatan merupakan sarana penunjang
yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan keagamaan dan ritual bagi
masyarakat. Kebutuhan fasilitas ini didasarkan pada jumlah penduduk
pendukung atau penganut agama masing-masing, dengan penempatan
pada lokasi yang menyebar pada kawasan permukiman penduduk.
asumsi 1 unit mesjid melayani 30.000 jiwa dan 1 unit gereia melayani
15.000 jiwa jumlah penduduk. Estimasi Kebutuhan fasilitas peribadatan di
Kecamatan Tellulimpoe diuraikan pada tabel berikut.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

mengalami peningkatan permintaan sedangkan persediaan dari sumber


relatif terbatas. lni terlihat dari peningkatan jumlah pelanggan dalam kurun
waktu lima tahun terakhir. Demikian pula dengan jumlah KVA terpasang
dan l(WH daya terpakaijuga mengalami peningkatan.
Pelayanan kebutuhan akan energi listrik di Kecamatan Tellulimpoe
sebagian besar sudah dapat dilayani, dimana pola jaringan listrik di
Kecamatan Tellulimpoe mengikutijaringan jalan dengan sumber listrik dari
gardu. untuk rencana masa mendatang perlu peningkatan dalam
pelayanan. Dasar perhitungan kebutuhan listrik adalah standar daya listrik
tiap rumah dan kebutuhan nondemestik seperti sarana sosial dan sarana
umum serta penerangan jalan. Untuk memperkirakan kebutuhan energi
listrik masa datang, digunakan standar yang didasarkan kebutuhan
sebagai berikut:
Rumah: 900 Watt;
lndustri:15a/o dari kebutuhan total rumah;
Komersial: 1Ao/o dari kebutuhan total rumah;
Pemerintahan/Pelayanan umum: 15o/o dan kebutuhan total rumah;
Penerangan Jalan :1,5o/o dari kebutuhan totat rumah; dan
Cadangan:10o/o dari kebutuhan totat.

Estimasi kebutuhan pelayanan jaringan listrik di Kecamatan


Tellulimpoe sebagaimana pada tabel berikut.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Pemasaran produk Agropolitan yang lebih efisien dengan
menggunakan angkutan darat dapat didukung dengan bertambahnya
ruas jalan yang beraspal di Kecamatan Tellulimpoe yang dapat
menyebabkan biaya distribusi (angkutan) lebih rendah dan biaya
pemasaran produksi petani dapat didistribusikan dengan lebih murah,
dan menambah pendapatan yang lebih tinggi bagi petani. Rendahnya
biaya yang dikeluarkan petani untuk memasarkan produk Agropolitan
juga disebabkan oleh jumlah sarana angkutan yang semakin
bertambah dengan adanya peningkatan kualitas jalan sehingga terjadi
persaingan harga penyewaan dalam setiap distribusi komoditi
Agropolitan. Kondisi ini menyebabkan harga sewa sarana angkutan
lebih murah dan mengurangi biaya yang dikeluarkan dalam distribusi
pemasaran. Selain itu, banyak pedagang pengumpul yang sudah
memiliki akses dan secara langsung membeli produk Agropolitan ke
petani sehingga biaya pemasaran petani relatif rendah dan biaya
pemasaran menjadi tanggungan para pedagang. Kondisi pasar
Balangnipa yang tergolong jauh, membutuhkan sarana transportasi
yang cepat untuk memudahkan distribusi produk Agropolitan dari
petani ke pasar dengan waktu yang lebih cepat dan tidak mengurangi
kualitas produk tersebut.
G.Analisis Pengendalian Penurunan Kualitas dan Kerusakan
Komoditi Agropolitan
Pada dasarnya penurunan kualitas komoditi Agropolitan yang
diperdagangkan dari tempat asal ke tempat tujuan banyak ditentukan
atau dipengaruhi oleh kegiatan transportasi baik itu kondisijalan, alat
angkut, jarak, waktu tempuh dan kegiatan lainnya seperti cara panen.
Penanganan jalan dengan mengikuti persyaratan teknis seperti
perbaikan permukaan jalan, lebar jalan, kemiringan jalan dan tanjakan
yang landai dapat mengendalikan penurunan kualitas komoditi
Agropolitan atau setidaknya dapat menekan terjadinya kerusakan
mekanis sebab dengan kondisi jalan yang baik dapat mengurangi

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 4.6
Estimasi Kebutuhan Sarana Peribadatan di Kecamatan Tellulimpoe,
Hingga Tahun 2033
Sarana
Standar Perencanaan
Eksisting
Kebutuhan
Penduduk
Luas
Peribadatan
Sarana
Sarana
2
(jiwa)
(M )
(Unit)
(Unit)
Mesjid
30.000
1.750
96
2
Gereja
15.000
600
4
Pura
15.000
600
4
Jumlah Unit
96
10
Surnber: Hasil Analis,Tim

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan sarana peribadatan untuk


tahun 2033 di Kecamatan Tellulimpoe, kondisi dilapangan menunjukkan
bahwa sarana peribadatan berupa mesjid yang tersedia telah melampaui
analisis kebutuhan kedepan sehingga akan dilakukan penyesuaian sesuai
dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat.
4. Sarana Kesehatan
Pembangunan sarana kesehatan bertujuan untuk memberikan
pelayanan secara mudah, merata, dan murah. Oleh karena itu, jangkauan
pelayanan kesehatan di Kecamatan Tellulimpoe harus menjadi perhatian
dan menjadi skala prioritas untuk dapat memberikan kualitas kesehatan
kepada masyarakat, sehingga tingkat pemahaman dan pengetahuan akan
kesehatan itu sangat penting, namun semuanya ditunjang oleh tenaga ahli
dibidang kesehatan (medis dan paramedis). Agar dapat memenuhi skala
pelayanan akan sarana kebutuhan kesehatan, maka standar yang
digunakan adalah Standar Pedoman Perencanaan Lingkungan
Permukiman Kota.
Berdasarkan standar/pedoman perencanaan sarana maka
pengembangannya didasarkan pada ukuran jumlah penduduk yang dapat
terlayani secara optimal baik ditinjau dari segi pelayanan maupun
optimalisasi sumber daya yang tersedia (tenaga kesehatan dan gedung).

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

No

1
2
3
a
b
c
1

Tabel 4.8
Prediksi Kebutuhan Pelayanan Jaringan Listrik
Uraian Tahap
Prediksi kebutuhan Pelayanan Jaringan Listrik
201
2018
2023
2028
2033
3
Jumlah Penduduk
Jumlah Kepala
Kebutuhan Domestik
Kapling Besar (VA)
Kapling Sedang (VA)
Kapling Kecil (VA)
Jumlah
Kebutuhan Domestik
(30 % x Kebutuhan
Domestik)
Penerangan Jalan
(5 % x Kebutuhan
Domestik)

VA
KVA
Sumber : Hasil Analisis Tim Tahun 2014

6. Jaringan Telekomunikasi
Sistem informasi dan komunikasi selain dengan sistem konvensional,
juga berkembang sistem digital komunikasi dengan akses yang lebih
cepat. Arahan pengembangan sistem telekomunikasi menganut pada
standarisasi pelayanan dengan rasio tingkat layanan kebutuhan telepon
baik pribadi dan umum adalah: 1 : 14 dan 1 : 250, Strategis
pengembangan jaringan sistem telekomunikasi dipenuhi dengan arahan
sebagai berikut:
Menambah atau memperluas jaringan telepon yang merata sesuai

dengan kebutuhan dan kegiatan penduduk;


Penyediaan telepon umum pada tempat yang strategis dan terpadu
dengan pengadaan fasilitas umum lainnya; dan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
terjadinya gesekan dan getaran selama pengangkutan. Akibat lain
yang ditimbulkan oleh kondisi jalan yang baik adalah waktu tempuh
yang digunakan selama pengangkutan dari sentra produksi ke pusat
distribusi di Pasar Balangnipa Sinjai Kecamatan Sinjai Utara akan
lebih sedikit.
Akibat lain yang dapat menimbulkan terjadinya penurunan
kualitas komoditi Agropolitan terutama pada saat proses
pengangkutan adalah kondisi alat angkut komoditi Agropolitan yang
kurang baik. Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan untuk
menekan kerusakan mekanis selama pengangkutan yakni kendaraan
yang digunakan harus bersih dan dilindungi penyekat untuk
menghindari gesekan komoditi Agropolitan dalam kendaraan dan
pencemaran pada komoditi Agropolitan, menggunakan penutup
kendaraan selama pengangkutan agar menghindari penyinaran
langsung oleh sinar matahari yang mengakibatkan tanaman mudah
layu dan memar-memar, perjalanan dilakukan bukan pada jam sibuk,
hal ini dimaksudkan agar perjalanan tidak mengalami hambatan dan
hendaknya dilakukan pada suhu udara tidak terlalu panas serta alat
angkut dilengkapi dengan ventilasi agar suhu dalam kendaraan tetap
stabil.
Dengan transportasi yang baik, maka komoditi Agropolitan akan
mampu dipasarkan secara luas ke wilayah lain yang dapat mendorong
petani untuk meningkatkan produksi Buah - buahan di Kecamatan
Tellulimpoe dan akan berdampak pada tingkat pendapatan petani
yang lebih besar, sehingga pendapatan daerah akan meningkat
karena kontribusi di sektor pertanian yang meningkat. Hal ini akan
mempengaruhi pencapaian sasaran atau target pengembangan
wilayah yang diharapkan, sehingga peningkatan kesejahteraan
masyarakat di Kabupaten Sinjai umumnya dan Kecamatan
Tellulimpoe khususnya akan lebih baik.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
.
Upaya lain yang dilakukan untuk mengendalikan penurunan
kualitas komoditi Agropolitan adalah penanganan pada saat
pemanenan. Pemanenan komoditi Agropolitan dilakukan pada saat
komoditi sudah cukup umur dan hendaknya dipanen pada suhu udara
tidak terlalu panas. Hal ini dimaksudkan agar ketahanan dari komoditi
akan lebih lama dan tidak cepat layu, membusuk dam memar-memar
utamanya bagitanaman yang kadar airnya cukup tinggi.
H.Upaya Penanganan Untuk Menjamin Kualitas Komoditi
Agropolitan
1.Sistem Pengemasan
Pengemasan merupakan salah satu @ra untuk melindungi
atau mengawetkan komoditi Agropolitan yang dapat menunjang
proses transportasi dan distribusi komoditi Agropolitan. Dengan
adanya pengepakan atau pewadahan yang baik dapat membantu,
mencegah dan mengurangi kerusakan, melindungi dari bahaya
pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan, getaran
dan beban tumpukan yang tinggi selama pengangkutan.
Jenis kemasan yang dapat digunakan untuk komoditi
agropolitan di Kecamatan Tellulimpoe dapat berupa peti kayu atau
plastik, karung plastik dan kantong plastik, tergantung dari
kecocokan komoditi Agropolitan tersebut. besar dan beratnya
kemasan harus disesuaikan dengan kemampuan satu orang agar
kemasan itu tidak dijatuhkan pada waktu bongkar muat serta
mengurangi beban tumpukan pada komoditi yang hanya
menggunakan kemasan dengan karung plastik atau kantong plastik.
Adapun jenis kemasan yang digunakan untuk mengawetkan
komoditi Agropolitan selama pengangkutan sesuai dengan
karakteristik komoditinya adalah sebagai berikut :

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
a. Pengemasan dengan Menggunakan Karung Plastik
Pengemasan dengan menggunakan karung plastik biasanya
digunakan pada jenis komoditi yang kadar aimya tinggi seperti
Jambu air dan pepaya, namun cara pengemasan ini dapat pula
digunakan pada komoditi alpokat, Manggis dan buah naga.
b. Pengemasan dengan Menggunakan Kantong Plastik
Jenis komoditi yang menggunakan kantong plastik dalam
mengawetkan atau melindungi komoditi ini biasanya digunakan
untuk komoditi jambu biji.
c. Pengemasan dengan menggunakan Peti Kayu/Peti Plastik
Pengemasan dengan menggunakan Peti Kayu/Peti Plastik,
Sistem pengemasan ini difungsikan untuk melindungi komoditi dari
tindihan pada saat pengangkutan.
2. Bongkar Muat Komoditi Agropolitan
Sistem bongkar muat komoditi Agropolitan yanE baik
merupakan salah satu upaya untuk menangani penurunan kualitas
komoditi Agropolitan. pengaturan komoditi Agropolitan dalam
kendaraan sangat mempengaruhi ketahanan komoditi, misalnya
dengan meletakkan komoditi Agropolitan yang tahan lama atau
komoditi Agropolitan yang dikemas dengan menggunakan peti kayu
atau plastik pada bagian bawah dan komoditi Agropolitan yang tidak
bisa ditindih pada bagian atas sertra komoditi Agropolitan yang akan
diturunkan lebih dulu diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau.
Hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalam membongkar atiau
menurunkan komoditi Agropolitan seperti Buah - Buahan. Dengan
kondisi seperti ini maka dapat menghemat waktu dan tenaga selama
bongkar barang.
3. Pengangkutan dengan Gepat
Komoditi yang memiliki kadar air yang lebih tinggi seperti
jambu air, papaya, markisa dan komoditi yang tingkat kerusakannya

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
lebih cepat sebaiknya diangkut dengan cepat dan hati-hati. Hal ini
dilakukan karena komoditi ini sangat peka terhadap tingkat
kelembaban, guncangan, dan suhu.
1. Analisis Sistem Distribusi Komoditi Agropolitan
Saluran distribusi yang dilakukan oleh pelaku pemasaran sangat
berperan dalam menyampaikan suatu produk dari produsen ke
konsumen atau dari penjual ke pembeli. Adapun pelaku pemasaran
dalam ha;l ini meliputi produsen (petani), pedagang besar, pedagang
pengumpul, dan pengecer. Dalam melakukan kegiatan pemasaran
diperlukan saluran distribusi pemasaran yang menguntungkan.
Komoditi Agropolitan yang diprodksi oleh petani akan diperdagangkan
dengan melalui dua macam saluran distribusi baik itu saluran
distribusi langsung maupun saluran distribusi tidak langsung. Sistem
distribusi yang ada di Kecamatan Tellulimpoe sekarang ini dapat
diterapkan dalam tiga bentuk, yakni :
a. Produsen - Konsumen Akhir
b. Produsen - Pengecer - Konsumen Akhir
c. Produsen - Pedagang Besar - Pengecer - Konsumen Akhir
Produsen yang dimaksud dalam hal ini adalah petani yang akan
menjual hasil produksi komoditinya di Pasar Balangnipa Sinjai untuk
dapat dikonsumsi oleh masyarakat (konsumen akhir). Penjualan
komoditi dimulai dengan pengangkutan dari tempat produksi ke pasar
Balangnipa, kemudian petani dapat secara langsung menjual hasil
komoditinya ke konsumen akhir dalam jumlah yang lebih kecil. Jika
produksi komoditi yang dihasilkan lebih besar maka petani dapat
memasarkan komoditinya dengan bantuan pedagang perantara
(pedagang lokal) kemudian pedagang lokal memasarkan komoditi
Agropolitan ke pedagang besar untuk di pasarkan ke luar wilayah
Kecamatian Tellulimpoe seperti ke Kabupaten Bone dan Kabupaten
Bulukumba.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Sistem lain dari pola distribusi pemasaran yang dapat di
Terapkan di Kecamatan Tellulimpoe adalah petani dapat memasarkan
hasil komoditinya secara langsung kepada pedagang besar. Hal ini
dapat memberikan keuntungan yang lebih besar kepada para petani
karena kurangnya ongkos produksi dan biaya pengangkutan yang
dikeluarkan oleh petani. Panjangnya saluran pemasaran
menyebabkan terjadinya perbedaan harga jual. Pada saluran
distribusi yang lebih panjang, harga jual akan lebih tinggi jika
dibandingkan dengan harga jual bagi komoditi yang sama pada
saluran pemasaran yang lebih pendek. Kondisi inilah yang
mengakibatkan rendahnya efisiensi pemasaran.
J. Analisis Arahan Pemanfaatan Lahan
Kecamatan Tellulimpoe dengan potensi Lahan yang mengarah
kepada basis pertanian dan perkebunan dengan keadaan alam yang
sangat trategis menjadikan Kecamatan Tellulimpoe diarahkan kepada
pengembangan kawasan agropolitan.
Untuk lebih mengoptimalkan penggunaan lahan di Kecamatan
Tellulimpoe pedu dilakukan analisis arahan pemanfaatan lahan.
Dengan pertimbangan keadaan topografi dan kemiringan lereng, jenis
tanah, dan intensitas curah hujan diharapkan pemanfaatian lahan dan
arahan perencanaan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kecocokan
lahan untuk mengembangkan Kecamatan Tellulimpoe.
Dalam analisis arahan pemanfaatan lahan ini, akan dilakukan
analisis arahan pemanfaatan lahan di Kecamatan Tellulimpoe dalam
lingkup per desa/ kelurahan agar diketahui arahan pemanfaatan lahan
di Kecamatan Tellulimpoe secara rinci. Untuk Lebih Jelasnya terkait
arahan pemanfaatan lahan di Kecamatan Tellulimpoe Sebagaimana
pada tabel Berikut:

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 4.14 Analisis Arahan Pemanfaatan Lahan
di Kecamatan Tellulimpoe
ARAHAN
DESA
LUAS

Sumber: HasilAnalisis Tahun 2014


Keterangan :TT = Tanaman Tahunan
TP = Tanaman Pangan Lahan Kering
LB = Tanaman Pangan Lahan Basah
X =Lain-Lain H = Hutan Lindung
K. Analisis Pusat Pertumbuhan Kawasan Agropolitan
LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
K. Analisis pusat pertumbuhan kawasan agropopolitan digunakan
Analisis pusat pertumbuhan kawasan agropopolitan digunakan
untuk menjawab bagaimana Struktur Ruang Pengembangan Kawasan
Agropolitan di Kecamatan Tellulimpoe. Metode ini berbasis pada
asumsi bahwa keberadaan pusat pelayanan memiliki hirarki tertentu,
dalam artian bahwa jika suatu fungsi memiliki hirarki yang lebih tinggi
terdapat pada suatu pusat, maka fungsi-fungsi lainnya yang memiliki
hierarki yang lebih rendah harus adapula pada pusat tersebut atau
dengan kata lain, suatu pusat pelayanan dengan hirarki tertentu
diharap memiliki fungsi dengan jumlah dan urutan tertentu.
1. Metode Skalogram dan lndeks Sentralisasi
1) Pola Permukiman
Pola pemukiman juga mempengaruhi perencanaan suatu
kawasan. Melihat pola pemukiman di Kecamatan Tellulimpoe yang
masih menggunakan pola campuran, artinya terbentuk secara
alami mengikuti pola jaringan jalan dan melihat keadaan alam

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
yang ada di Kecamatan Tellulimpoe yang umumnya berupa
persawahan dan perkebunan campuran maka konsep pemukiman
yang cocok adalah konsep pemukiman dengan pola campuran.
2l Skalogram
Metode skalogram digunakan untuk menjawab pertanyaan
mendasar tentang bagaimana pola fungsi fasilitas pelayanan
pengembangan Agropolitan di Kecamatan Tellulimpoe yang
terdapat pada tingkatan wilayah, kawasan, dan daerah pedesaan.
Skalogram fungsi untuk menentukan struktur ruang kawasan
agropolitan di Kecamatan Tellulimpoe dapat dilihat pada tabel
berikut.

N
O
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Tabel. 4.15. Analisis Skalogram Sarana Agropolitan di Kecamatan


Tellulimpoe Tahun 2014
NAMA
FasilitasPelayanan
Desa/keluraha 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 1 1 1 1
0
2 3 4 5
Kalobba
X - - - X - X - X X X x
X x
Mannanti
X X X
X X X - X X X X X X X
Tellulimpoe
X
- X X - X - X X X X X X
EraBaru
X X - X X - X - X X X X X X
Pattongko
X X - - X - X - X X X X X X
Bua
X X - X X - X - X X X X X X
Sukamaju
X X - - X - X - X X X X X X
Lembang lohe X X - - X - X - X X X X X X
Sao tengah
X X X x X - X - X X X X X X
Massaile
X X - - X - X - X X X X X X
Samature
X
- - x - X
X X x
X x
X

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2014

Keterangan:
x = Sarana tersedia
- = Sarana tidak tersedia
1. Kelompok Tani g.GedungPengepakan/Pengemasan

16
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
x

2. Cold Stroge l0.Lapangan Penjemuran Hasil panen


3. lndustri Pengelolaan 11. Docking Bengkel
4. Pasar (Hasil-Hasil Tani) 12. Jaringan Listrik
5. Lembaga Keuangan (Koperasi) 13. Jaringan Telekomunikasi
6. SPBU 14. Jaringan Air Bersih
7. Gudang 15. Fasilitas Kesehatan
8. Dermaga 16. Fasilitas Pendidikan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Setelah melakukan analisis skalogram di 11 Desa/Kelurahan di
Kecamatan Tellulimpoe, Kita dapat mengetahui pola fungsi
pelayananan Struktur Ruang pengembangan agropolitan di
Kecamatian Tellulimpoe yang terdapat pada berbagai pusat pelayanan
dan bagaimana pola tersebut melayani kebutuhan penduduk wilayah
yang ditinjau. Maka dapat dikelompokkan satuan berdasarkan tingkat
kompleksitas fungsi pelayanan yang dimilikinya serta menentukan
jenis dan keragaman pelayanan dan fasilitas yang terdapat pada
pusat-pusat pelayanan khususunya di Desa Mannanti.
3) Distribusi Pusat Pelayanan
Salah satu analisis yang dapat di gunakan dalam menentukan
pusat-pusat pelayanan adalah analisis sentralitas terbobot. Analisis
indeks sentralitas terbobot dipakai untuk menentukan tingkat
sentralitas suatu satuan. Metode ini mengukur sentralitas satuan
fasilitas tidak hanya dapat berdasarkan jumlah fungsi atau fasilitas
pelayanan yang ada pada satuan permukiman tetapi juga
berdasarkan frekuensi keberadaan fungsi atau fasilitas tersebut pada
wilayah yang ditinjau.

tabel

tabel

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
4) Distribusi Pusat Sistem Hirarki Pusat-Pusat Pelayanan
Dari hasil analisis sentralitas terbobot mengenai kepadatan
penduduk, kelengkapan fasilitas, selanjutnya dianalisis lebih lanjut
mengenai tingkat pelayanannya, maka dapat ditentukan orde-orde
pelayanan. Rencana struktur tata ruang pada Kecamatan Tellulimpoe
dan sekitarnya, yaitu dengan menentukan hierarki dan fungsi pusat pusat pelayanan. Berdasarkan hasil analisis tingkat pelayanan dengan
menggunakan teknik skalogram, maka rencana hierarki kota dalam
pada Kecamatan Tellulimpoe adalah sebagai berikut.
Tabel 4.18. Rencana Hirarki Kecamatan Tellulimpoe
No

Hirarki

Hirarki I

Hirarki ll

Hirarki lll

Desa/Kelurahan

Fungsi

Desa Mannanti

Pusat Kegiatan
Primer
(Agropolis)

Desa Sukamaju
dan Desa
Saotengah
Desa Kalobba, Era
Baru Pattongko,
Tellulimpoe
Lembang Lohe,
Bua, Massaile dan
Desa
Samaturue

Pusat Kegiatan
Sekunder (outlet)
Pusat Kegiatan
Tersier
, (Pusat Komoditi)

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2014

Berdasarkan rencana hirarki kawasan tersebut diatas, maka


dapat ditentukan pola pemanfaatan ruangnya. Pola Pemanfaatan
Ruang Kecamatan Tellulimpoe dibagi ke dalam 3 (tiga) hirarki/orde
dengan fungsi - fungsi yang saling terkait satu sama lainnya, yaitu
sebagai berikut.
1. Agropolis (Hirarki l) terdapat pada Desa Mannanti dengan fungsi
sebagai Sentral Kegiatan Primer artinya bahwa pada wilayah ini
diarahkan sebagai pusat kegiatan Agropolis yang
berfungsi
sebagai pusat perdagangan atau pemasaran pertanian tingkat
LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

lokal di Kecamatan Tellulimpoe, tingkat Kabupaten Sinjai, nasional


bahkan untuk komoditi ekspor. Hal ini ditandai dengan sarana
dan prasarana pendukung yang lebih lengkap dibanding dengan
desa/kelurahan yaing ada di Kecamatan Tetlulimpoe, serta
sebagai pusat pelayanan dan pusat berbagai kegiatan lainnya. Di
wilayah agropolis ini terdapat lembaga keuangan seperti lembaga
jasa perbankan dan koperasi unit desa (KUD). Di wilayah
agropolis inilah barang jadi dan barang setengah jadi dari wilayah
outlet pertanian kemudian dikemas agar lebih menarik sebelum
dipasarkan atau didistribusikan ke wilayah lainnya baik di lingkup
wilayah Kecamatan Tellulimpoe, lingkup wilayah Kabupaten
Sinjai, Sulawesi Selatan, nasional, bahkan di ekspor ke luar
negeri. Di wilayah agropolis ini pulalah kualitas dan mutu barang
yang akan dipasarkan sangat dijaga untuk jaminan mutu dan
kualitas barang. Sehingga hal ini dapat dijadikan sebagai salah
satu generator guna mendukung pengembangan pada
Kecamatan Tellulimpoe.
2. Outlet (Hirarki ll) terdapat pada Desa Tellulimpoe dan Desa Bua
dengan fungsi sebagai Sentral Kegiatan Sekunder artinya yang
mengolah hasil pertanian dari pusat komoditi menjadi barang
setengah jadi maupun barang jadi sebelum dipasarkan ke
kawasan agropolis. Semisal kawasan pusat komoditi
menghasilkan komoditi Rambutan dan durian, maka sebelum ke
pusat agropolis di Kelurahan Mannanti, maka harus didistribusikan
terlebih dahulu di wilayah outlet pertanian dengan merubah
komoditi Rambutan dan durian menjadi berbagai produk olahan
.
3. Pusat Komoditi (Hirarki llt) terdapat pada Desa Kalobba, Desa Era

baru, Desa Pattongko, Desa Sukamaju, Desa Lembang Lohe,


Desa Saotengah, Desa Massaile, dan Desa Samaturue dengan
fungsi sebagai Sentral Kegiatan Tersier.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
sebagai pusat produksi unggulan yang ditandai dengan sumber
daya pertanian yang dimiliki kawasan serta sebagai pusat
kegiatan agrobisnis berupa penyediaan bibit, penyediaan
komoditas atau bahan baku industri, dan sebagai pusat penelitian,
pembibitan, serka percontohan produksi komoditas unggulan.
Wilayah pusat komoditi inilah dibudidayakan bibit atau benih
unggul atau dengan kata lain varietas unggul yang berkualitas
untuk dibudidayakan.
Pembagian pusat-pusat pelayanan ini dimaksudkan agar
tiap-tiap wilayah pengembangan dapat berkembang secara
merata dengan melihat beberapa pusat pelayanan.
Pusat Kegiatan Wilayah yaitu di Desa Mannanti. lni
dimaksudkan karena di Kecamatan Tellulimpoe terdapat fungsL
fungsi utama dan hampir semua kegiatan penting berada di Desa
ini. Sehingga Desa Mannanti dijadikan sebagai Pusat Kegiatan
Wilayah.
L. Kriteria Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kecamatan
Tellulimpoe
Di Kecamatan Tellulimpoe dikembangkan menjadi suatu
kawasan agropolitan karena ditunjang oleh produktivitas atau hasil
dari komoditi Unggulannya.
1. Kecamatan Tellulimpoe Memiliki sumberdaya lahan yang sesuai
untuk mengembangkan komoditi pertanian dan perkebunan yang
dapat dipasarkan serta berpotensi untuk diverivikasi usaha dari
komditi andalannya.
2. sarana dan prasarana agribisnis di Kecamatan Tellulimpoe untuk

mendukung pengembangan sistem dan usaha agribisnis


Khususnya Pangan, Seperti Pasar untuk hasil pertanian, pasar
sarana pertanian, alat dan mesin pertanian, kelembagaan petani
dan fasilitas umum dan serta fasilitas social lainnya.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
.
3.Sumber daya Manusia di Kecamatan Tellulimpoe yang berpotensi
untuk mengembangkan kawasan agropolitan secara mandiri
karena hampir seluruh masyarakat Kecamatan Tellulimpoe
memporoleh pendapatan dari kegiatan Pertanian dan
Perkebunan.
4.Konservasi alam dan kelestariaan lingkungan hidup di Kecamatan
Tellulimpoe bagi kelestarian sumber daya alam, kelestarian sosial
budaya dan ekosistem sangat menyeluruh.
M.

Analisis Strategi Pengembangan Kawasan Agropolitan


Analisis ini adalah uraian atau usaha mengetahui arti suatu
keadaan data atau bahan keterangan mengenai suatu keadaan diurai
dan diseleidiki hubungannya satu sama lain diselidiki kaitan yang ada
antara yang satu dengan yang lain.
Analisis tingkat pengembangan wilayah Kecamatan Tellulimpoe
Kabupaten Sinjai. Dalam menganalisis tingkat pengembangan
kawasan agropolitan ini menggunakan analisis, SWOT (StrengthWeakness-Opportunity-Threat Analysis).
Sistem manajemen dalam mengidentifikasi data dan informasi
mengenal beberapa strategi yang berfungsi 5P (plan, play, pattem,
position, and perspective) atau sebagai alat (tools) bagi penentuan
keputusan. Salah satu diantaranya adalah SWOT Analisis (StrengthWeakness-Opportunity-Threat Analysis) atau lebih populer di
lndonesia dengan istilah Analisa KEKEPAN (Kekuatan-KelemahanPeluang-Ancaman).
1. Kekuatan (Sfrengfh) : potensi sumber daya atau kemampuan
yang dapat menunjang persaingan.
2. Kelemahan (Weakness) : situasi dan kondisi internal yang dapat
menjadi hambatan untuk unggul dalam persaingan.

3. PeluanglKesempatan (Opportunifi\ : situasi dan kondisi di


lingkungan luar yang bila dimanfaatkan dengan baik dapat
menunjang keunggulan dan persaingan.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
4, Ancaman/ tantangan (Threat): situasi dan kondisi di lingkungan
luar yang dapat menghambat dalam mempertahankan atau
men'capai keunggulan dalam persaingan.
1. Analisis SWOT
Dalam mengembangkan kawasan Agropolitan perlu adanya
strategi dalam mendukung kegiatan tersebut agar dapat memberikan
pengaruh bagi peningkatan produksi agropolitan di Kecamatan
Tellulimpoe. Factor-faktor yang dapat mempengaruhi pengembangan
yaitu faktor internal berupa kekuatan (Strengths) dan kelemahan
(Weekness), sedangkan faktor ekstemal berupa peluang (opportunity)
dan ancaman (threats).
1) Faktor lnternal
a. Kekuatan (Sfrengfhs)
1) Letak Kecamatan Tellulimpoe yang strategis
2) Aspek Fisik Dasar Kecamatan Tellulimpoe sangat mendukung
untuk kawasan agropolitan.
3) Sesuai dengan Arahan RTRW Kabupaten Sinjai 2011-2031,
Kecamatan Tellulimpoe ditetapkan menjadi Kawasan
Agropolitan di Kabupaten Sinjai.
4) Kuatnya komitmen pemerintah dalam pengembangan
kawasan agropolitan
5) Daya dukung sumber daya alam dalam meningkatkan
kegiatan Pertanian, perkebunan, Peternakan dan Perikanan
yang melimpah.
b. Kelemahan (Weekness)
1) Potensi sumber daya manusia

2) Fasilitas sosial dan umum yang masih minim seperti


pasar, lembaga keuangan dan sekolah.
3) Kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan
4) Belum adanya sistem pascl panen yang memadai yang
meliputi packing dan pergudangan termasuk hasil

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
pertanian yang rawan rusak dalam tolerasi waktu dan
tempat
5) Sistem pemasaran yang masih tradisional.
2) Faktor Eksternal
a. Peluang (opportunity)
1) Sektor Perkebunan di Kecamatan Tellulimpoe memiliki
potensi alam yang subur dan jenis komuditi unggulannya
yaitu Rambutan dan Durian.
2) Tersedianya lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang
berada di sekitar Kecamatan Tellulimpoe tersebut.
3) lnfrastruktur jalan yang baik akan mempermudah akses
transportasi
4) Salah satu andil dalam Pendapatan Daerah sebagai
kawasan agropolitan Kabupaten Sinjai.
5) Merupakan daerah Penunjang di Kabupaten Sinjai
b. Ancaman (threats)
1) Adanya wilayah lain yang tumbuh cepat yang dapat
menjadi kompetitor pengembangan kawasan agropolitan .
2) Status kepemilikan lahan tidak jelas.
3) Masuknya budaya luar yang akan mempengaruhi bahkan
dapat menghilangkan budaya lokal masyarakat setempat.
4) Kerusakan hutan lindung yang mengakibatkan erosi pada
daerah hulu.
5) Perubahan pola penggunaan lahan

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 4.19. Matriks SWOT Strategi Pengembangan Agropolitan
Kecamatan Tellulimpoe Di Kabupaten Sinjai
EKSTERNAL FAKTOR
Oppofiunity (O)
Strenght
(s)

1
N
T
E
R
N
A
L

Weakneses

Stratregi S-O

Thearth (T)
Stratregi S-T

l.Peningkatan dan perluasan


areal tanam komoditi
Unggulan di Kecamatan
Tellulimpoe
2.Pengembangan kawasan
Agropolitan yang ramah
lingkungan dan tidak
mengakibatkan dampak bagi
masyarakat di sekitar
kawasan
tersebut.
3.Melakukan promosi tentang
potensi dan Sumber daya
alam
di Kecamatan Tellulimpoe

1. Menjadikan komoditi unggulan


Durian
dan Rambutan sebagai komoditi
spesifik melalui promosi keluar
daerah.
2. Membuat regulasi yang menjaga
kelestraian budaya lokal Kecamatan
Tellulimpoe
3. Membuat papan informasi
penggunaan
lahan disetiap Desa dan kawasan
hutan
lindung berdasarkan RTRW
Kabupaten
serta melakukan konservasi dan
reboisasi bagi kawasan yang telah
rusak.

Strategi W-O

Strategi W-T

(w)

F
A
K
T
o
R

1. Memberdayakan
masyarakat
melalu pendidikan dan
pelatihan serta pemberian
bantuan modal usaha di
Kecamatan Tellulimpoe
sebagai salah satu
pengurangan tingkat
pengangguran di kabupaten
Sinjai dan juga sebagai salah
satu perlindungan terjaganya
kawasan agropolitan

1. Melakukan reboisasi terhadap


hutan
lindung sebagai daerah resapan air
agar tidak terjadi lagi tanah longsor di
Kecamatan Tellulimpoe
2.Melakukan pemeliharaan
lingkungan
yang ramah lingkungan dan
berkelanjutan khususnya bagi
masyarakat di Kecamatan
Tellulimpoe
dan juga pemerintah sebagai
pengawas dan pe.ngambil kebijakan.
3. Mempertahankan adat istiadat

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

2. Membangun fasilitas sekolah, masyarakat


yang berada di Kecamatan
bank, dan menata kembali Tellulimpoe
dengan cara tetap
efektifitas gudang . melestarikan
3. Perlunya penambahan
aksesibil itas transportasi dalam
menjangkau kawasan
agropolitan
4. Penataan kembali kepemilikan
lahan oleh BPN bekerjasama
dengan pemerintah setempat.
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2014

2. Analisis Faktor-Faktor Strategi lnternal dan Eksternal


Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sinjai
Tabel 4.20. Faktor-faktor strategi i nternal pen gem ban ga n Ag ropolitan
di Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sinjai
Faktor Strategi lntemal
Kekuatan (Strengths)

BOBOT

RATING
NILAI

SKOR
PEMBOBOTAN

1. Letak Kecamatan Tellulimpoe


yang strategis
2. Aspek Fisik Dasar
Kecamatan Tellulimpoe sangat
mendukung untuk kawasan
agropolitan.
3. Sesuai dengan Arahan
RTRW Kabupaten Sinjai 20112031,
Kecamatan Tellulimpoe
ditetapkan menjadi Kawasan
Agropolitan di Kabupaten SinjaI
4. Kuatnya komitmen
pemerintah dalam
pengembangan
kawasan agropolitan
5. Daya dukung sumber daya
alam dalam meningkatkan
kegiatan Pertanian,
perkebunan, Peternakan dan
Perikanan
yang melimpah
TOTAL PEMBOBOTAN
Sumber : Hasil Analisis Tahun 2014

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 4.21. Factor-faktor strategi lnternal pengembangan
Agropolitan Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sinjai.
FAKTOR STRATEGI INTERNAL
Kelemahan (Weekness)
1. Potensi sumber daya manusia
2. Fasilitas sosial dan umum yang
masih minim seperti
pasar, lembaga keuangan dan
sekolah.
3. Kesadaran masyarakat terhadap
kelestarian lingkungan
4. Belum adanya sistem pascapanen
yang memadai
yang meliputi packing dan
pergudangan termasuk hasil

BOBOT

20
20

20
25

RATING
NILAI

SKOR
PEMBOBOTAN

pertanian yang rawan rusak dalam


tolerasi waktu dan
tempat
5. Sistem pemasaran yang masih
tradisional

15

Total Pembobotan
Sumber : Hasil AnalIsis Tahun 201 4

Dari hasil analisis diatas yaitu faktor-faktor lnternal dalam


pengembangan Kawasan Agropolitan Kecamatan Tellulimpoe Faktor
kekuatan (Strenghts) dengan jumlah skor hasil pehitungan dari Bobot
dan RiseUNilai yaitu 335, sedangkan untuk kelemahan (Weaknesess)
dengan jumlah skor pembobotan adalah 290. Maka hasil perhitungan
dari kedua faktor tersebut yaitu 335 - 290= 45 (S-W).

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Tabel 4.22. Factor-faktor strategi Eksternal pengembangan
Agropolitan Kecamatan Tellulimpoe Di Kabupaten Sinjai
Faktor Strategi Eksternal

Bobo
t

Rating
nilai

Skor
pembobotan

Peluang (opportunity)
l.Sektor Perkebunan di Kecamatan Tellulimpoe
memilikipotensi alam yang subur dan jenis
komuditi unggulannya
yaitu rambutan dan Durian
2. Tersedianya lapangan pekerjaan bagi
masyarakat yang
berada di sekitar Kecamatan Tellulimpoe tersebut.
20 2 40
3. lnfrastruktur jalan yang baik akan
mempermudah akses
transportasi
4. Salah satu andil dalam Pendapatan Daerah
sebagai
kawasan agropolitan Kabupaten Sinjai.
5. Merupakan daerah Penunjang di Kabupaten
Sinjai

25

20

20

20

15
Jumlah
Sumber: HasilAnalisis Tahun 2014

Tabel 4.23. Factor-faktor strateg i Eksternal pengembangan


Agropolitan Kecamatan Tellulimpoe Di Kabupaten Sinjai
Faktor Strategi Eksternal
Bobot
Rating
Skor
nilai
pembobota
n
Ancaman (threats)
1. Adanya wilayah lain yang tumbuh cepat yang
dapat menjadi kompetitor pengembangan
kawasan agropolitan .
2. Status kepemilikan lahan tidak jelas.
3. Masuknya budaya luar yang akan
mempengaruhi bahkan dapat menghilangkan
budaya lokal masyarakat
setempat.
4. Kerusakan hutan lindung yang mengakibatkan
erosi
pada daerah hulu.
jumlah

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan
Dari hasil analisis diatas, dapat ditarik kesimpulan dari faktorfaktor

eksternal dalam pengembangan Agropolitan Di Kecamatian


Tellulimpoe, faktor peluang (Opportunity) dengan jumlah skor
pembobotan adalah 250, sedangkan untuk ancaman (Threats)
dengan jumlah skor pembobotan yaitu 325. Hasil perhitungan dari
kedua factor tersebut yaitu 250-325 = - 75 (O-T)
Gambar4.{. Kuadran Perkembangan Kawasan Agropolitan di Kecamatan
Tellulimpoe
o
Kuadran Il Stability Kuadran lGrowth
I
Kuadran lll (uadrari diversifikasi
Berdasarkana matriks, posisi ped<embangan agropolitan di
kecamatan Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sinjai berada pada
pada kuadran lV, sehingga strategi yang menjadi prioritas utama
adalah S-T, maka dapat ditentukan arahan pengembangan kawasan
Agropolitan Kecarnatan Tellulimpoe proyeksi dimasa yang akan
datang, yaitu sebagai berikut.

LAPORAN
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
Agropalitan Mannanti Kec. Tellu Limpoe dan Agropolitan Bikeru Kec. Sinjai Selatan

1) Menjadikan komoditi unggulan Rambutan dan Durian sebagai


komoditi spesifik melalui promosi keluar daerah.
2) Membuat regulasi yang menjaga kelestraian budaya lokal
Kecamatan Tellulimpoe
3) Membuat papan informasi penggunaan lahan disetiap Desa dan
kawasan hutan lindung berdasarkan RTRW Kabupaten serta
melakukan konservasi dan reboisasi bagi kawasan yang telah
rusak.
N. Keterkaitan Kawasan Agropolitan dengan Daerah Lain
Kecamatan Tellulimpoe merupakan dadrah kawasan agropolitan
yang terdapat di Kabupaten Sinjai yang di mana Kecamatan
Tellulimpoe merupakan sector basis yang melayani kebutuhan
wilayahnya sendiri bahkan didistribusi kewilayah lainnya. Sehingga
Kecamatan Tellulimpoe yang nantinya dapat diharapkan mampu
memenuhi kebutuhan di Kabupaten Sinjai atau Kabupaten lainya.
Selain memiliki potensi sumber daya alam Kecamatan Tellulimpoe
juga memiliki letak yang cukup strategis untuk pusat pelayanan bagi
daerah yang ada yang berada di Daerah Hinterlandnya. Sebagai
kawasan agropolitan Kecamatan Tellulimpoe mampu melayani
kebutuhan perkebunan ke kecamatan lainnya dan saling berhubungan
antara satu sama lainnya.
Dengan dijadikannya Kecamatan Tellulimpoe sebagai kawasan
agropolitan maka akan mempengaruhi pertumbuhan daerah lainnya,
dimana nantinya akan melancarkan kegiatan distribusi sehingga
terjadi interaksi antar daerah, sehingga hal ini menyebabkan besamya
pengaruh keterkaitan antar wilayah karena ada hubungan yang terkait
antara Kecamatan Tellulimpoe dengan daerah-daerah yang ada
disekitarnya . Suatu wilayah tertentu bergantung pada wilayah lainnya.
Demikian juga wilayah lain memiliki ketergantungan pada wilayah
tertentu. memiliki skala pelayanan yang lebih luas.