Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum KI2121

Dasar-Dasar Kimia Analitik


Percobaan 03
Voltammetri : Analisis Parasetamol

Nama

: Nurlaeli Naelulmuna

NIM

: 10514059

Kelompok

: Kelompok VII

Tanggal Percobaan

: 21 Maret 2016

Tanggal Pengumpulan : 28 Maret 2016


Asisten

: Abraham Mora

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

Voltammetri : Analisis Parasetamol


I.

Tujuan
1. Menentukan nilai arus puncak dari hasil voltamogram
2. Menentukan kadar parasetamol dalam sampel dengan metoda voltammetri
pulsa diferensial

II.

Teori Dasar
Voltametri adalah metode elektrokimia yang mengamati kelakuan kurva aruspotensial. Potensial divariasi secara sistematis dari spesi kimia yang mengalami
oksidasi-reduksi di permukaan elektroda. Arus yang dihasilkan sebanding dengan
konsentrasi spesi kimia di dalam larutan. Semua unsur yang dapat mengalami
oksidasi reduksi di permukaan elektroda dapat dianalisis secara voltametri.
Pengukuran voltammetri dilakukan didalam sel voltammetri yang terdiri dari tiga
buah elektroda yaitu elektroda kerja, elektroda pembanding, dan elektroda
pembantu. Analisis dengan voltammetri didasarkan pada kurva arus potensial
yang diperoleh dengan mengukur arus yang mengalir pada elektroda kerja selama
potensial elektroda tersebut diubah secara perlahan-lahan pada daerah potensial
tertentu. Arus timbul akibat adanya reaksi reduksi atau oksidasi yang terjadi pada
permukaan elektroda kerja.
Teknik-teknik voltammetri umumnya dibedakan berdasarkan bentuk potensial
yang diberikan pada elektroda kerja. Pada elektroda kerja selain diberikan
perubahan potensial secara kontinu, juga diberikan pulsa potensial yang memiliki
amplitudo tertentu secara berkala. Analisis kualitatif pada dasarnya dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu metoda kurva kalibrasi dan metoda penambahan
standard. Kurva kalibrasi dapat dibuat dengan mengukur arus puncak dan larutan
baku yang memiliki berbagai konsentrasi. Nilai arus puncak yang diperoleh
dialurkan terhadap konsentrasi larutan baku. Karena arus puncak berbanding lurus
dengan konsentrasi maka, kurva yang diperoleh akan berupa garis lurus yang
melewati titik asal.
.
Alat dan Bahan
A. Alat
1. Potensiostat
2. Elektroda pembanding
3. Elektroda pembantu platina
4. Labu takar 50 mL
5. Buret mikro 10 mL
6. Gelas kimia 100 mL

III.

B. Bahan
1. Larutan standar parasetamol
2. Larutan buffer fosfat pH 6

IV.

V.

Cara Kerja
Pertama, yaitu pembuatan elektroda pasta karbon. Grafit dan parafin disiapkan
dengan jumlah total 0,1 gram, yaitu sebanyak 0,07 gram grafit dan 0,03 gram
parafin. Setelah itu, grafit dan parafin dihomogenkan dan dimasukkan ke badan
elektroda berupa tabung gas dan kawat tembaga. Langkah selanjutnya adalah
pembuatan larutan sampel. Awal mulanya yaitu tablet sampel digerus dan
ditimbang dengan sejumlah tertentu obat sehingga parasetamol dalam obat ada di
rentang 1-5 mM. Lalu sampel dilarutkan dengan sedikit air dalam labu takar 25
mL sampai tanda batas. Langkah selanjutnya adalah metoda kurva kalibrasi.
Pertama-tama larutan standard induk dibuat 10 mM dalam labu 50 mL, lalu
diencerkan menjadi standard 1,2,3,4,5 mM dalam labu takar 25 mL dan
ditambahkan dengan buffer fosfat pH 6 sampai tanda batas. Kemudian
voltammogra dibuat dengan menggunakan elektroda pasta karbon dengan
mengubah potensial elektroda kerja 0 mV- 800 mV terhadap Ag/AgCl. Kemudian
voltammogram disimpan dan dialurkan nilainya terhadap konsentrasi lartan yang
diukur dan dibuat voltammogram DPV dari larutan sampel dengan kondisi dan
pengukuran yang sama seperti sebelumnya. Dari puncak yang diperoleh
ditentukan kadar parasetamol dalam tablet.
Data Pengamatan
Berat tablet sampel rata-rata = 0,6053 gram
Massa parasetamol yang diencerkan agar mendapat 3 mM = 0,0138 gram
Massa parafin cair = 0,033 gram
Massa grafit = 0,077 gram
Massa larutan standard = 0,0756 gram
Tabel 1.
Data arus dan potensial larutan standard parasetamol
Konsentrasi Larutan

Ip (A)

E (V)

5,73
9,25
10,56
11,83
Ip (A)

0,4650
0,4800
0,4950
0,5050
E (V)

11,68
6,62

0,5150
0,52

standard

VI.

parasetamol (mM)
1
2
3
4
Konsentrasi Larutan
standard

parasetamol (mM)
5
sampel
Pengolahan Data

Kurva arus puncak terhadap konsentrasi

14
12

f(x) = 1.96x + 4.44


R = 0.93

10
8
Ip(A)

6
4
2
0
0.5

1.5

2.5

3.5

4.5

Konsentrasi (mM)

Gambar 1. Kurva arus puncak terhadap konsentrasi


Berdasarkan persamaan:
y= mx + C
Ip = mC + K dan hasil grafik menunjukkan :
y = 1,961x + 4,44 ,
y =arus puncak; dan x = konsentrasi. Oleh karena itu, konsentrasi sampel dapat
dicari dengan mensubstitusikan nilai arus sampel terhadap persamaan diatas (Ip =
6,62 A)
6,62 = 1,961x + 4,44
maka x= 1,111678 atau C = 1,111678 mM
Maka, nilai konsentrasi sampel sebesar 1,111678 mM
25
Mol parasetamol dalam 25 mL = C x 10000 L
= 1,111678 x 10 -3 x

25
10000

= 2,7792 x 10 -5 mol
Massa parasetamol
= 2,7792 x 10 -5 mol x 151,163 gram/mol
= 4,2011 x 10 -3 gram
Massa sampel yang ditimbang = 0,0138 gram
0,6053 gram
x
Massa parasetamol sesungguhnya =
4,2011 x 10 -3 gram
0,0138

% Recovery

= 0,1843 gram
0,1843
x 100
=
0,5

= 36,86 %

V. Pembahasan
Pada percobaan kali ini, dilakukan percobaan mengenai analisis parasetamol
dengan metoda voltammetri. Voltammetri adalah metode elektrokimia dimana arus
diamati pada saat diberikan nilai potensial tertentu. Pada voltammetri, hanya
sebagian sangat kecil analit dielektrolisis selama proses pengukuran. Dalam hal ini,
konsentrasi analit praktis tidak berubah selama proses pengukuran dan potensial
elektroda kerja yang nantinya diubah selama proses pengukuran. Dengan demikian
arus katodik maupun anodik dapat terukur. Arus katodik adalah arus yang
digunakan pada saat penyapuan dari arus yang paling besar menuju arus yang
paling kecil dan arus anodik adalah sebaliknya. Prinsip dasar dari voltammetri
adalah dengan mempolarisasi elektroda dalam sel elektrokimia pada serangkaian
potensial range tertentu dan mengamati perubahan arus yang dihasilkan oleh sel
akibat adanya proses oksidasi reduksi analit.
Arus yang dihasilkan diplot terhadap potensial yang diberikan pada elekroda
kerja. Kurva arus vs potensial yang dihasilkan ini dinamakan dengan voltamogram
(Harvey, 2000). Dalam voltammetri ada 3 jenis elektroda yaitu Elektroda yang
terpolarisasi disebut elektroda kerja atau working elektroda (WE), elektroda yang
tidak terpolarisasi disebut elektroda referensi yang berupa kalomel (saturated
calomel electrode, SCE) atau elektroda Ag/AgCl dan elektroda tambahan (counter/
auxiliary electrode, CE). Ketiga elektroda digunakan dalam analisis dengan
mempolarisasi elektroda dalam sel elektrokimia pada serangkaian potensial range
tertentu dan mengamati perubahan arus yang dihasilkan oleh sel akibat adanya
proses oksidasi reduksi analit. Elektroda kerja yang digunakan adalah elektroda
kerja pasta karbon, dan reaksi yang terjadi pada elektroda ini adalah reaksi oksidasi.
Elektroda pembantu yang digunakan yaitu elektroda pt. Elektroda ini berupa kabel
platinum yang fungsinya tersedia hanya untuk mengalirkan listrik yang berasal dari
sumber sinyal melalui larutan menuju elektroda kerja. Pada percobaan kali ini
digunakan platina sebagai elektroda pembantu, reaksi yang terjadi pada elektroda
ini adalah reaksi oksidasi.Fungsi dari elektroda pembantu ini adalah sebagai
penghubung logam inert dengan sistem H 2 / H+, dan sebagai tempat gas
H2 teradsorpsi di permukaan. Dan elektroda pembanding yang digunakan adalah
elektroda Ag/Agcl, dimana nilai potensialnya tidak berubah.
Pada saat pengukuran, kita perlu menghilangkan gas oksigen apabila terdapat
gas oksigen didalamnya. Hal ini dikarenakann akan adanya pengaruh oksigen
terlarut didalamnya. Oksigen dapat tereduksi pada permukaan elektroda antara
potensial -0,4 sampai -0,1 V. Oksigen dapat mengganggu pengukuran pada daerah
ini. Cara menghilangkannya yaitu dengan cara memasukkan gas nitrogen (N 2) yang
menyebabkan oksigen yang ada didalam akan didorong keluar. Hal ini karena
oksigen yang mudah direduksi. Dan setelah kurang lebih selama 5 menit, maka gas
akan dialirka untuk mencegah oksigen masuk kembali.
Reaksi yang terjadi di katoda adalah:

2AgCl + 2e-

2Ag + + 2Cl-

Sedangkan reaksi yang terjadi di anoda adalah :

Arus difusi adalah arus yang timbul akibat adanya perbedaan konsentrasi ion
larutan dengan konsentrasi pada permukaan elektroda. Arus ini bergantung pada
konsentrasi. Dalam hal ini, semakin besar nilai dari koefisien difusi maka akan
semakin mudah berdifusi. Analit ini akan mengalir secara spontan dari daerah
berkonsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi rendah. Arus ini timbul akibat nilai
potensial yang di scan ke nilai yang llebih positif yang mengakibatkan terjadinya
dekomposisi dari ion analit dan mengakibatkan terjadinya reaksi oksidasi. Dampak
yang timbul akibat terjadinya oksidasi ini adalah ion analit pada permukaan
elektroda akan semakin berkurang. Untuk menutupi kekurangan ion ini maka ionion analit ini akan berdifusi ke permukaan elektroda. Arus difusi ini yang nantinya
akan diukur selama proses voltammetri berlangsung. Jika larutan analit diaduk,
maka tebal lapis difusi akan konstan. Arus difusi hanya bergantung pada beda
konsentrasi analit pada tubuh larutan dan konsentrasi analit pada permukaan
elektroda.
Namun, ion-ion yang terdapat didalam larutan juga dapat mengakibatkan
terjadinya arus yang tidak diinginkan yaitu arus konveksi dan arus migrasi. Arus
konveksi adalah arus yang timbul akibat adanya pengadukan atau adanya perbedaan
temperatur pada dua titik larutan. Arus ini dapat dihilangkan dengan menjaga
temperatur dalam termostat dengan tidak mengaduk larutannya. Namun,
pengadukan secara sengaja daoat mengendalikan transport massa didalam larutan.
Sedangkan arus migrasi adalah arus yang timbul akibat adanya transport massa
didalam larutan akibat adanya tarik menarik elektrostastik antara elektroda yang
bermuatan dengan ion-ion didalam larutan. Arus ini juga akan tetap berjalan
walaupun tidak terjadi reduksi. Arus migrasi ini dapat dihilangkan dengan cara
menambahkan larutan elektrolit pendukung kedalam larutan analit. Larutan
elektrolit anait pendukung ini bersifat inert. Dan konsentrasi dari elektrolit
pendukung minimal seratus kali konsentrasi analit. Pada percobaan ini digunakan
buffer pH 6 pada saat pengenceran dilakukan untuk mengurangi arus migrasi yang
timbul karena konsentasinya jauh lebih besar dibandingkan konsentrasi analit maka
ion ion elektrolit pendukung dapat melindungi ion ion dari analit agar tidak

berinteraksi dengan muatan pada elektroda. Karena arus ini dapat memepengaruhi
arus yang terbaca pada saat percobaan.
Dalam percobaan kali ini, pada saat pembuatan elektoda pasta karbon digunakan
grafit dan parafin cair. Penggunaan grafit dikarenakan grafit merupakan salah satu
logam inert atau logam yang tidak mudah bereaksi. Hal ini dikarenakan grafit adalah
zat yang terbuat dari karbon murni dan hanya terbuat dari karbon dan merupakan zat
bukan logam berwarna hitam yang mampu menghantarkan panas dengan baik,
buram, licin, tahan panas, dan dapat dihancurkan menjadi serbuk yang lebih kecil.
Sifat fisika grafit ditentukan oleh sifat dan luas permukaannya.Grafit yang halus
berarti mempunyai permukaan yang relatif lebih luas. Sedangkan Parafin cair adalah
campuran hidrokarbon yang diperoleh dari minyak mineral. parafin cair ini
mempunyai fungsi sebagai pelembab, pelicin . Parafin cair diuji untuk digunakan
sebagai bahan perekat pada elektroda pasta karbon. Ternyata dapat diketahui bahwa
parafin cair merupakan bahan yang terbaik untuk digunakan sebagai bahan perekat,
karena parafin cair memiliki sensitivitas yang paling tinggi. Dan sifat inilah yang
menjadi syarat bagi suatu materi agar dapat dijadikan sebagai bahan perekat.
Sedangkan pada minyak parafin yang mengandung banyak minyak akan
meningkatkan karakter hidrofobiknya pada permukaan eleketroda
elektroda sehingga diperoleh elektroda pasta, seperti gambar di bawah ini:
Electrical lead
Solid disk electrode
Gambar 2. Elektroda pasta karbon
Terdapat beberapa cara dalam modifikasi elektroda. Salah saatunya
adalah dengan adanya modifikasi elektroda pasta karbon yang bertujuan
untuk meningkatkan selektivitas maupun sensitivitas dalam
pengukuran dengan teknik voltametri. Modifikasi dari elektroda pasta karbon yaitu
dengan menggunakan elektroda glassi karbon termodifikasi emas nano partikel
dengan limit deteksi 2,8 x 10-6 M dan rentang konsentrasi linier 6,5 x 10 -6 1,45 x
10-4 M. Elektroda glassi karbon yang dimodifikasi dengan carbon nanotube (CNT)
dan gold nano rod (GNR). Disamping cara modifikasi yang rumit yaitu dengan
elektrolisis glassi karbon, penggunaan GNR terkendala harga emas yang mahal.
Untuk itu diperlukan modifier logam atau oksida logam yang murah dan cara
modifikasi yang sederhana. Salah satu modifier oksida logam lain pada elektroda
pasta karbon yang telah diteliti adalah besi (III) oksida (Fe 2O3). Fe2O3 sebagai
modifier memiliki beberapa keunggulan diantaranya mudah didapatkan, dapat
membentuk oksida logam berukuran nano dan dipadukan dengan karbon
nanopartikel. Keunggulan lainnya adalah modifikasi dapat dilakukan dalam skala
laboratorium dengan metode yang sederhana.

Pada ananlisis voltammetri dapat digunakan beberapa teknik yang umum


digunakan, yaitu teknik DPV (Diferential Pulse Voltammetry). Yaitu teknik yang
berdasarkan bentuk potensial yang diberikan pada elektroda kerja. Pada tenik ini,
elektroda kerja diberikan perubaa potensial sevata kontinu dan diberikan pulsa
potensial yang mempunyai nilai amplitudo secara berkala. Potensial yang diberikan
naik secara linear. Arus diukur dua kali, yaitu sebelum pulsa diberikan dan sesaat
sebelum pulsa hilang. Oleh instrumen pengukur, arus pertama secara otomatis
dikurangkan terhadap arus kedua. Selisih dari kedua arus yang diukur (i = i(t2)i(t1)) dialurkan terhadap potensial yang diberikan. Voltamogram yang
didapat memberikan gambaran tentang arus puncak. Teknik ini banyak
digunakan untuk analisis senyawa-senyawa organik dan anorganik pada skala renik.
Pemilihan amplitudo pulsa dan kecepatan laju selurus potensial dapat membantu
meningkatkan kepekaan, resolusi, dan kecepatan pengukuran. Sedangkan teknik
SWV (Square-wave voltammetry ) pulsa diberikan pada elektroda kerja dengan
bentuk gelombang persegi simetris pada potensial dasar yang menyerupai anak
tangga. Arus diukur dua kali setiap satu siklus gelombang persegi, yaitu pada akhir
pulsa maju dan pada akhir pulsa balik. Amplitudo modulasi gelombang persegi
pada teknik ini sangat besar sehingga saat pulsa balik dapat terjadi reaksi produk
kembali menjadi analit.
Pada percobaan kali ini dilaukan analisis kualitatif dengan metoda kurva
kalibrasi. Metoda kurva kalibrasi ini diukur dengan cara memplotkan nilai arus
terhadap konsentrasi. Hal ini dikarenakan nilai arus puncak yang berbanding lurus
dengan konsentrasi. Hasil pengukuran arus puncak yang didapat kemudian di
presentasikan dalam bentuk kurva grafik. Dari kurva yang telah dibuat, didapatkan
persamaan y = 1,961x + 4,44. Kemudian, dari persamaan tersebut kita dapat
menghitung konsentrasi parasetamol dalam larutan sampel.Arus sampel yang
dihasilkan sebesar 6,62 mikro ampere dan konsentrasi yang didapatkan sebesar
1,111678 mM. Sedangkan nilai dari % recovery hasil percobaan yaitu sebesar 36,86
%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh belum maksimal. Terjadi
beberapa kesalahan yang mengakibatkan nilai % perolehan kembali yang kecil.
Faktor-faktor tersebut adalah pada saat pembuatan elektroda pasta karbon, yaitu
elektroda tidak homogen dan berongga sehingga arusnya tidak akan mengalir
dengan lancar dan mengakibatkan arus tidak akan terbaca dan menghasilkan data
yang tidak akurat. Kesalahan lain yang mungkin terjadi adalah ketika ruang kosong
yang disisakan di ujung tabung elektroda terlalu kecil yang mengakibatkan pasta
karbon yang masuk ke dalam tabung elektroda terlalu sedikit. Hal ini akan
menyebabkan kemampuan elektroda akan berkurang dan menghasilkan data yang
tidak akurat. Selain itu, kesalahan paralaks yang terjadi ketika pembuatan larutan
standard dan ketidaktelitian pada saat penambahan larutan buffer pH 6 terhadap
larutan yang mempunyai variasi konsentrasi yang berbeda-beda.Kesalahan yang
mungkin terjadi juga yaitu pada saat pengukuran arus karena elektroda yang

dicelupkan menyentuh dinding gelas kimia. Hl itu dapat mempengaruhi nilai arus
dan potensial dari larutan yang dikur. Serta proses pencucian dengan menggunakan
aqua dm dan proses pengeringan yang tidak terlalu bersih yang mengakibatkan
ketidakakuratan dalam proses pengukuran.
Aplikasi dari voltametri antara lain adalah sebagai sensor untuk mendeteksi level
atau tingkatan glukosa pada darah. Selain itu juga dapat digunakan untuk
membentuk campuran logam; menurunkan ion logam, misalnya Fe(III) Fe(II);
menurunkan anion, misalnya chromate, iodate; mereduksi molekuler oksidan, misal
NO2, O2, H2O2; mereduksi senyawa organik, misalnya keton, aldehid, peroksida.
VI.

Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan diperoleh arus puncak voltamogram sebesar 5,73
A ; 9,25 A ; 10,56 A ; 11,83 pada konsentrasi berturut-turut sebesar
2,3,4,5 mM dan arus puncak sampel sebesar 6,62

A . Nilai kadar parasetamol

di dalam sampel sebesar 36,86 %


VII.

Daftar Pustaka
Day, R.A. Underwood, A.L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif, edisi kelima.
Erlangga : Jakarta.
Harvey, David. 2000. Modern Analytical Chemistry. The McGraw-Hill
Companies : USA.
Kennedy, david. Modern Analytical Chemistry, 1th ed. Mc Grow-Hill
Companies, 1999.
Skoog, West, Holler. 1994. Analytical Chemistry : An Introduction, 6th ed.
Saunders College Publishing : Philadelphia.