Anda di halaman 1dari 23

Analisis Aktivitas Investasi

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk

Disusun Oleh :
Dinan Azmimuthia

120110120042

Pinta Saras Puspita

120110120051

Ajrina Mizana Amalia

120110120054

Roshi Dwiokta

120110120138

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan YME, atas berkat dan restuNya, kami dapat menyusun
makalah mengenai merger dan akuisisi PT Garuda Indonesia Tbk ini dengan baik.
Di dalam makalah ini kami membahas mengenai laporan keuangan perusahaan
Garuda dan menganalisis aktivitas investasi.
Kami berharap dengan adanya makalah ini, selain kami juga dapat belajar lebih lanjut
mengenai PT. Garuda Indonesia Tbk, kami juga bisa mengerti tentang bab ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Terima kasih.

Bandung, 19 Maret 2015

Daftar Isi
KATA PENGANTAR................................................................................................... 2
BAB I LANDASAN TEORI......................................................................................... 4
2

1.1 ASET LANCAR.................................................................................................... 4


1.2 PERSEDIAAN...................................................................................................... 6
1.3 PENGENALAN ASET JANGKA PANJANG................................................................7
1.3.1 Akuntansi Aset Jangka Panjang.............................................................................9
1.4 ASET TAK BERWUJUD....................................................................................... 10
1.4.1 Akuntansi Aset Tak Berwujud............................................................................ 10
BAB II HASIL ANALISIS.......................................................................................... 12
2.1 Analisis Aset Lancar............................................................................................. 12
2.2 Analisis Persediaan............................................................................................... 18
2.3 Analisis Aset Jangka Panjang...................................................................................22
2.4 Analisis Aset Tak Berwujud..................................................................................... 22

BAB I LANDASAN TEORI

1.1 ASET LANCAR

Aset lancar merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang langsung dapat
diubah menjadi kas, biasanya dalam jangka waktu siklus operasi perusahaan.

Kas dan Setara Kas


Kas, aktiva yang paling likuid, mencakup mata uang, deposito dana, money orders,
dan cek. Setara kas juga tergolong sangat lancar, investasi jangka pendek yang siap
dikonversi menjadi kas dan hampir jatuh tempo sehigga risiko perubahan harga yang
disebabkan pergerakan tingkat bunga hanya minimal. Investasi ini biasanya jatuh tempo
dalam waktu tiga bulan atau kurang.

Piutang
Piutang merupakan nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa,
atau dari pemberian pinjaman uang. Piutang mencakup nilai jatuh tempo yang berasal dari
aktivitas seperti sewa dan bunga. Piutang usaha mengacu pada janji lisan untuk membayar
yang berasal dari penjualan produk dan jasa secara kredit.
Penilaian Piutang
Dalam praktiknya, perusahaan melaporkan iutang sebesar nilai realisasi bersih
jumlah piutang total dikurangi penyisihan piutang tak tertagih. Manajemen mengestimasi
penyisihan piutang tak tertagih berdasarkan pengalaman, kondisi pellanggan, ekspektasi
ekonomi dan industri, dan kebijakan penagihan.
Analisis Piutang
Meskipun opini wajar tanpa pengecualian dari auditor memberikan keyakinan akan
validitas dan penilaian piutangm analisis kita harus mengakui kemungkinan adanya kesalahan
prosedur atau penilaian audit. Kita juga harus waspada terhadap insentif manajemen (dan
auditor) dalam melaporkan laba dan aktiva. Dengan memerhatikan hal tersebut, terdapat dua
pertanyaan penting dalam analisis piutang kita.

Risiko Kolektibilitas. Sebagian besar penyisihan piutang tak tertagih berdasarkan


pengalaman masa lalu, meskipun penyisihan dilakukan untuk ekonomi terkini yang membaik,
industri, dan kondisi debitor. Dalam praktiknya, manajemen sering kali lebih mementingkan
pengalaman masa lalu hanya karena kondisi ekonomi dan industri sulit diprediksi.
Alat analisis untuk memeriksa kolektibilitas mencakup:

Membandingkan persentase piutang terhadap penjualan perusahaan pesaing dengan

perusahaan yang sedang dianalisis.


Memeriksa konsentrasi pelanggan risiko meningkat jika piutang terkonsentrasi pada

satu atau sedikit pelanggan.


Menyelidiki pola umur piutang.
Menentukan bagian piutang yang merupakan pengalihan atau perpanjangan dari
piutang atau wesel tagihan masa lalu.

Keaslian Piutang. Salah satu faktor yang memengaruhi keandalan oiutang adalah kebijakan
kredit perusahaan. Kebijakan kredit yang ketat berdampak pada kualitas yang lebih tinggi,
atau risiko piutang yang lebih rendah. Perusahaan biasanya melaporkan kebijakan kreditnya
dalam catatan atas laporan keuangan. Faktor lain yang memengaruhi keandalan adalah hak
pengembalian barang.

Sekuritisasi Piutang. Salah satu masalah analisis penting adalah saat perusahaan menjual
semua atau sebagian piutangnya pada pihak ketiga. Piutang dapat dijual dengan recourse
(jaminan kolektibilitas).

Beban Dibayar di Muka


Beban dibayar di muka merupakan pembayaran di muka atas jasa atau barang yang
belum diterima. Sebagai contoh adalah pembayaran di muka untuk sewa, asuransi, utilitas,
dan pajak bangunan.

1.2 PERSEDIAAN

Persediaan merupakan barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal perusahaan.
Persediaan merupakan aktiva inti dan penting dalam perusahaan. Persediaan harus
dperhatikan karena merupakan komponen utama dari aktiva operasi dan langsung
memengaruhi perhitungan laba. Metode akumulasi biaya dalam penilaian persediaan
disebabkan oleh dampaknya pada laba bersih dan penilaian aktiva yang digunakan untuk
mengalokasi biaya barang tersedia untuk dijual (persediaan awal ditambah pembelian) pada
HPP (pengurang laba) atau persediaan akhir (aktiva lancar). Karenanya mengalokasi biaya
pada persediaan akan memengaruhi baik pengukuran laba maupun aktiva.
Persamaan persediaan dapat digunakan untuk memahami arus persediaan. Untuk
perusahaan dagang :
Persediaan awal + pembelian bersih harga pokok penjualan = persediaan akhir
Ada tiga metode dalam menghitung arus biaya persedian :
1 Masuk pertama, keluar pertama (First-in, first-out FIFO)
2 Masuk terakhir, keluar pertama (Last-in, first-out LIFO)
3 Biaya rata-rata (Average Cost)
Dampak Biaya Persediaan terhadap Profitabilitas
Pada periode di mana harga meningkat, FIFO memberikan laba kotor yang lebih
rendah dikaitkan dengan pendapatan penjualan dengna harga pasar terkini. Hal ini sering kali
dinyatakan sebagai keuntungan fiktif FIFO karena laba kotor sebenarnya merupakan
penjumlahan dari dua komponen antara laba ekonomi dan laba kepemilikan. Laba ekonomi
sesuai dengan jumlah yang terjual dikalikan dengan selisish antara harga jual dan biaya
penggantian persediaan (kira-kira sebesar biaya pembelian persediaan yang paling kini). Laba
kepemilikan adalah fungsi dari perputaran persediaan (yaitu, berapa lama persediaan
tersimpan) dan tingkat inflasinya.
Dampak Biaya Persediaan terhadap Neraca
Pada periode harga meningkat, dan dengan asumsi persediaan belum melikuidasi
layer persediaan lamanya, LIFO melaporkan persediaan akhir pada harga yang jauh lebih
rendah dibandingkan dengan biaya penggantian. Hasilnya neraca perusahaan yang

menggunakan LIFO tidak secara akurat mencerminkan investasi lancar yang dimiliki
perusahaan dalam persediannya.
Dampak Biaya Persediaan terhadap Arus Kas
Peningkatan laba kotor dengan metode FIFO juga menyebabkan laba sebelum pajak
yang lebih tinggi, dan karenanya, utang pajak yang lebih tinggi. Pada periode dimana harga
meningkat, perusahaan dapat terjebak pada pengurangan arus kas karena mereka membayar
pajak yang lebih tinggi dan perlu mengganti persediaan yang terjual pada biaya penggantian
yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya pembelian awal.
Salah satu alasan yang sering kali digunakan untuk mengadopsi LIFO adalah
pengurangan kewajiban pajak pada periode harga meningkat. Namun IRS mengharuskan
bahwa perusahaan yang menggunakan biaya persediaan LIFO untuk tujuan pajak juga harus
menggunakan metode ini untuk laporan keuangan. Ini meruakan aturan ketaatan LIFO (LIFO
conformity rule).
Perusahaan

yang

menggunakan

biaya

persediaan

LIFO

diharuskan

untuk

mengungkapkan jumlah yang akan dilaporkan jika perusahaan menggunakan metode FIFO.
Selisih antara kedua jumlah ini dinamakan cadangan LIFO (LIFO reserve).

1.3 PENGENALAN ASET JANGKA PANJANG

Aset jangka panjang yaitu, sumber daya yang digunakan untuk meningkatkan
pendapatan (atau mengurangi biaya) dalam jangka panjang. Jenis yang paling umum dari aset
jangka panjang adalah aktiva tetap berwujud seperti properti, pabrik, dan peralatan. Aset
jangka panjang juga mencakup aset tidak berwujud seperti paten, merek dagang, hak cipta,
dan goodwill.
Aset Tidak Lancar PT Garuda Indonesia Tbk

Aset tidak lancar mengalami peningkatan sebesar 13,4% dari USD 1.881 juta di tahun 2012
menjadi USD 2.134 juta di tahun 2013. Penyebab utama kenaikan ini antara lain disebabkan
oleh:

Kenaikan dana perawatan pesawat dan uang jaminan dari USD 462 juta di tahun 2012
menjadi USD 617 juta di tahun 2013.

Kenaikan aset tetap dari USD 798 juta di tahun 2012 menjadi USD 863 juta di tahun
2013.

Tangible fixed assets PT Garuda Indonesia Tbk


Aset tetap berwujud PT Garuda Indonesia Tbk dikelompokkan menjadi aset pesawat
dan aset non-pesawat. Aset pesawat terdiri dari rangka pesawat, mesin, simulator, rotable
parts. Dan aset non-pesawat terdiri dari peralatan, perangkat keras, kendaraan, mesin,
instalasi, tanah, bangunan dan prasarana.
Aset tetap Grup digunakan sebagai jaminan utang bank, jaminan pinjaman jangka
panjang dan utang sewa pembiayaan. Pada tanggal 31 Desember 2013 dan 2012, asset tetap
kecuali tanah, telah diasuransikan kepada perusahaan asuransi terhadap risiko kebakaran,
pencurian dan risiko lainnya.

1.3.1 Akuntansi Aset Jangka Panjang


Capitalization

Aset jangka panjang dibuat melalui proses kapitalisasi. Aset tetap berwujud PT
Garuda Indonesia Tbk dicatat sebesar biaya perolehan, nilai tercatatnya adalah sebagai
berikut:

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai wajar dan nilai tercatat aset, jika aset
lainnya selain pesawat, tanah, bangunan dan prasarana diukur menggunakan nilai wajar.
Allocation
Depreciation for tangible fixed assets
Aset tetap pesawat maupun aset tetap non-pesawat disusutkan menggunakan metode
garis lurus selama taksiran masa manfaat. Kecuali untuk tanah tidak mengalami penyusutan.
Aset sewaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama
dengan aset tetap yang dimiliki sendiri atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih
pendek antara periode sewa dan umur manfaatnya. Taksiran masa manfaat, nilai residu dan
metode penyusutan direview minimum setiap akhir tahun buku, dan pengaruh dari setiap
perubahan estimasi akuntansi diterapkan secara prospektif.

1.4 ASET TAK BERWUJUD

Intangible assets PT Garuda Indonesia Tbk


Aset tak berwujud PT Garuda Indonesia Tbk terdiri dari perangkat lunak dan lisensi.
Aset tak berwujud merupakan sistem COMPASS ARGA, pembelian lisensi yang berkaitan
9

dengan jasa sistem teknologi informasi Perusahaan berupa Profitline Yield, Netline Shed,
Netline Plan, Profitline Price yang dibeli dari Lufthansa Systems Asia Pasific, Pte, Ltd., Fare
Management Systems (FMS), Revenue Management Systems (RMS), dan juga pembelian
lisensi oracle dari PT Oracle Indonesia dan Internet Booking Engine (IBE).

1.4.1 Akuntansi Aset Tak Berwujud


Amortization for intangible assets
Lisensi dan perangkat lunak yang diperoleh dikapitalisasi berdasarkan biaya-biaya
yang terjadi untuk memperoleh dan menpersiapkannya hingga siap digunakan. Biaya-biaya
ini diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan estimasi manfaat 3 8
tahun.
Beban amortisasi untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2013 USD 1.344.912 disajikan
sebagai beban operasional jaringan. Perangkat lunak dalam penyelesaian merupakan beban
ditangguhkan atas implementasi system aplikasi ERP.
Impairment
Penurunan nilai aset keuangan
Pada setiap tanggal pelaporan, dilakukan evaluasi aset keuangan selain yang dinilai
pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (FVTPL), terhadap indikator penurunan nilai. Aset
keuangan diturunkan nilainya apabila terdapat bukti yang objektif, sebagai akibat dari satu
atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan, yang berdampak
pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan yang dapat diestimasi secara andal.
Untuk aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi, penurunan nilai
adalah
sebesar perbedaan antara nilai tercatat dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan yang
didiskonto dengan tingkat suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut.
Penurunan Nilai Aset Non Keuangan
Pada tanggal pelaporan, Grup menelaah nilai tercatat aset non-keuangan untuk
menentukan apakah terdapat indikasi bahwa aset tersebut telah mengalami penurunan nilai.
Jika terdapat indikasi tersebut, nilai yang dapat diperoleh kembali dari aset diestimasi untuk
10

menentukan tingkat kerugian penurunan nilai (jika ada). Bila tidak memungkinkan untuk
mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali atas suatu asset individu, Grup
mengestimasi nilai yang dapat diperoleh kembali dari unit penghasil kas atas aset.
Perkiraan jumlah yang dapat diperoleh kembali adalah nilai tertinggi antara nilai
wajar dikurangi dengan biaya untuk menjual atau nilai pakai. Dalam menilai nilai pakai,
estimasi arus kas masa depan didiskontokan ke nilai kini menggunakan tingkat diskonto
sebelum pajak yang menggambarkan penilaian pasar kini dari nilai waktu uang dan risiko
spesifik atas asset yang mana estimasi arus kas masa depan belum disesuaikan. Jika jumlah
yang dapat diperoleh kembali dari aset non-keuangan (unit penghasil kas) kurang dari nilai
tercatatnya, nilai tercatat aset (unit penghasil kas) dikurangi menjadi sebesar nilai yang dapat
diperoleh kembali dan rugi penurunan nilai diakui langsung ke laba rugi kecuali aset tersebut
dicatat sebesar nilai revaluasi, dimana kerugian penurunan nilai diperlakukan sebagai
penurunan revaluasi.

BAB II HASIL ANALISIS

2.1 Analisis Aset Lancar

11

Aset lancar tahun 2013 tercatat sebesar USD 819 juta, meningkat dibandingkan aset
lancar di tahun 2012 yang sebesar USD 637 juta. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh:

Peningkatan kas dan setara kas sebesar 45,9% menjadi USD 475 juta di tahun 2013 dari
USD 326 juta di tahun 2012, terutama disebabkan oleh penerimaan pengembalian uang
muka pembelian pesawat di tahun 2013 serta perolehan pinjaman jangka panjang dan
untuk mendukung ekspansi bisnis Perusahaan melalui pengoperasian armada baru yang
diharapkan dapat mengurangi biaya perawatan dan biaya bahan bakar.

Peningkatan piutang usaha sebesar 8,1% menjadi USD 140 juta di tahun 2013 seiring
peningkatan tagihan kepada pihak ketiga.

Kas dan Setara Kas

12

Kas dan setara kas berdasarkan mata uang:

Piutang Usaha
13

a. Berdasarkan Debitur

b. Berdasarkan Mata Uang

c. Berdasarkan Umur Piutang Usaha Tetapi Tidak Mengalami Penurunan Nilai

14

Jangka waktu rata-rata kredit penjualan adalah 30 - 60 hari untuk tahun yang berakhir 31
Desember 2013 dan 2012. Bunga tidak dikenakan kepada pelanggan yang umur piutang
usaha telah jatuh tempo.
Mutasi cadangan kerugian penurunan nilai:

Umur piutang usaha yang mengalami penurunan nilai adalah umur piutang diatas 360 hari.
Beban cadangan kerugian penurunan nilai secara individual dan kolektif adalah sebagai
berikut:

Dalam menentukan pemulihan dari piutang usaha, Grup mempertimbangkan setiap


perubahan dalam kualitas kredit dari piutang usaha dari tanggal awalnya kredit diberikan
sampai dengan akhir periode pelaporan. Konsentrasi risiko kredit terbatas pada basis
pelanggan adalah besar dan tidak saling berhubungan.
Berdasarkan penelahaan yang dilakukan oleh manajemen atas piutang usaha yang telah jatuh
tempo tetapi tidak mengalami penurunan nilai, manajemen beranggapan bahwa piutang usaha
tersebut masih dapat dipulihkan karena tidak terdapat perubahan yang signifikan atas kualitas
15

kredit dari pelanggan tersebut. Untuk piutang usaha yang berasal dari jasa non-penerbangan,
Grup tidak memiliki jaminan atau peningkatan kredit lainnya atas piutang usaha dan juga
tidak memiliki hak hukum yang saling hapus dengan setiap jumlah yang terhutang oleh Grup
kepada pihak lawan. Untuk piutang dari penjualan tiket pesawat, lebih lanjut akan dibahas
dalam Catatan 46 tentang risiko kredit.
Penurunan nilai piutang usaha secara individu terdiri atas beberapa rekening yang dianggap
oleh manajemen tidak terpulihkan berdasarkan penilaian atas kualitas kredit dan kondisi
keuangan pelanggan tersebut. Grup tidak memiliki jaminan atas saldo tersebut.
Manajemen berpendapat bahwa cadangan kerugian penurunan nilai atas piutang kepada pihak
ketiga adalah cukup. Manajemen juga berpendapat bahwa tidak terdapat risiko yang
terkonsentrasi secara signifikan atas piutang kepada pihak ketiga. Tidak diadakan
pencadangan kerugian penurunan nilai atas piutang kepada pihak berelasi karena manajemen
berpendapat seluruh piutang tersebut dapat ditagih.

Piutang Lain-lain

Manajemen berpendapat seluruh piutang tersebut dapat ditagih sehingga cadangan kerugian
penurunan nilai tidak dibentuk.
Uang Muka dan Biaya Dibayar Di muka

16

Pajak Dibayar Di Muka

2.2 Analisis Persediaan

17

Terlihat dalam laporan keuangan terjadi kenaikan jumlah persedian bersih dari USD
83.443.877 menjadi USD 90.328.457 atau sebesar 8,25%.
Persediaan dinyatakan berdasarkan jumlah terendah antara biaya perolehan dan nilai
realisasi bersih. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang. Nilai
realisasi bersih merupakan taksiran harga jual persediaan dikurangi taksiran biaya
penyelesaian dan biaya yang diperlukan untuk menjual.
Penyisihan Penurunan Nilai Persediaan
Grup membuat penyisihan penurunan nilai persediaan berdasarkan estimasi
persediaan yang digunakan pada masa mendatang. Walaupun asumsi yang digunakan dalam
mengestimasi penyisihan penurunan nilai persediaan telah sesuai dan wajar, namun
perubahan signifikan atas asumsi ini akan berdampak material terhadap penyisihan
penurunan nilai persediaan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil usaha Grup.

18

Manajemen berpendapat bahwa penyisihan penurunan nilai persediaan tersebut cukup


untuk menutup kerugian yang mungkin timbul dari penurunan nilai persediaan. Pada tanggal
31 Desember 2013 dan 2012, persediaan perusahaan telah diasuransikan kepada PT Asuransi
Jasa Indonesia terhadap risiko kebakaran dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis
dengan nilai pertanggungan masing-masing USD 207.224.954 dan USD 250.000.000.
Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup
kemungkinan kerugian atas persediaan yang dipertanggungkan. Pada tanggal 31 Desember
2013 dan 2012, tidak terdapat persediaan yang digunakan sebagai jaminan.

Analisis Depresiasi
Usia rata-rata pesawat adalah 5 tahun. Akumulasi penyusutan di tahun 2013 adalah USD
1.026.833.500. Aset tetap pesawat disusutkan hingga ke estimasi nilai residu dengan
menggunakan metode garis lurus selama taksiran masa manfaat, sebagai berikut:

19

Pada tahun 2013, Perusahaan mengubah umur masa manfaat untuk jenis pesawat Boeing
747-400 dari 20 tahun menjadi 22 tahun. Perubahan tersebut diperlakukan secara prospektif
yang menyebabkan penurunkan beban penyusutan sebesar USD 3.214.148 ditahun 2013.
Serta akumulasi penyusutan di tahun 2012 yang semula sebesar USD 948.327.602 menjadi
USD 948.246.186.
Aset tetap non pesawat kecuali tanah dan bangunan disusutkan dengan metode garis lurus
selama masa manfaat aset tesebut, sebagai berikut:

Aset sewaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan aset
tetap yang dimiliki sendiri atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara
periode sewa dan umur manfaatnya.
Taksiran masa manfaat, nilai residu dan metode penyusutan direview minimum setiap akhir
tahun buku, dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi akuntansi diterapkan secara
prospektif.
Beban penyusutan yang dibebankan dalam beban operasional untuk tahun yang berakhir 31
Desember 2013 dan 2012 masing-masing sebesar USD 153.913.595 dan USD 129.956.634.

Ratio
Average total life span=gross PPE/current depreciation expense
USD 1.889.932.397/USD 62.155.939 = 30,41 yr
Average age=accumulated depreciation/ current depreciation expense
USD 1.026.833.500/USD 62.155.939 = 16,52 yr
Average remaining life=net PPE/ current depreciation expense

20

USD 863.098.897/USD 62.155.939 = 13,89 yr


Average total life span= average age + average remaining life
16,52+13,89=30,41 yr
Bisa dilihat juga bahwa life span dari aset tetap secara agregat lebih tinggi daripada estimasi
umur ekonomis aset pesawat. Ini artinya perubahan estimasi umur ekonomis aset pesawat
masih bisa diperpanjang. Garuda menerapkan earnings management pada depresiasi, dimana
dengan bertambahnya UE maka pertebaran depreciation expense akan lebih lebar (lower
depreciation expense).
Rata-rata umur aset terdapat di pertengahan estimasi umur ekonomis aset pesawat tetapi perlu
diperhatikan bahwa rotable parts memiliki estimasi 12 tahun (rotable parts memiliki nilai
carrying yang paling besar untuk aset pesawat) sehingga sudah melebihi umur rat-rata aset
tetap agregat.
Sementara itu rata-rata remaining life applicable pada rangka, kabin, dan aset bangunan
karena jika kita aplikasikan pada aset lain maka mereka sudah tidak punya umur ekonomis
lain.

Deplesi
Garuda tidak mengeksploitasi sumber daya alam, oleh karena itu Garuda tidak menerapkan
deplesi.

Impairment
Kerugian penurunan nilai (impairment loss) diperlakukan sebagai penurunan revaluasi.
Impairment loss on property and equipment Garuda pada tahun 2012 adalah USD
(10.371.034) sedangkan 2013 USD (10.649.525).

21

2.3 Analisis Aset Jangka Panjang

Write-Down of Asset Values

Pada bagian CALK dari LK Garuda Indonesia Tbk bagian 14 diketahui bahwa pada tahun
2013 entitas melepas aset tetap dan mendapat keuntungan bersih sebesar USD 3.123.296.
pelepasan aset dilakukan melalui penjualan. Tidak dapat dikatakan bahwa entitas melakukan
write-down dengan menggunakan recoverability test. Tidak diungkap aset tetap mana yang
dilepas.

2.4 Analisis Aset Tak Berwujud

Aset tak berwujud Garuda senilai 6.822.881 di tahun 2013 dan 7.217.106 di tahun
2012 yang berupa sistem COMPASS ARGA, pembelian lisensi yang berkaitan dengan jasa
sistem teknologi informasi Perusahaan berupa Profitline Yield, Netline Shed, Netline Plan,
Profitline Price yang dibeli dari Lufthansa Systems Asia Pasific, Pte, Ltd., Fare Management
Systems (FMS), Revenue Management Systems (RMS), dan juga pembelian lisensi oracle dari
PT Oracle Indonesia dan Internet Booking Engine (IBE).

22

Aset tak berwujud diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan
estimasi manfaat 3 8 tahun.
Beban amortisasi untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2013 dan 2012 masing-masing
sebesar USD 1.344.912 dan USD 702.779 disajikan sebagai beban operasional jaringan.
Perangkat lunak dalam penyelesaian merupakan beban ditangguhkan atas implementasi
System aplikasi ERP. Manajemen berpendapat bahwa tidak terdapat kejadian atau perubahan
keadaan yang mengindikasikan penurunan nilai aset tak berwujud pada tanggal pelaporan.
Pada 31 Desember 2013 dan 2012 tidak terdapat aset tak berwujud yang dijaminkan.
Berdasarkan keterangan pada CALK bagian 16, ada dua intangible asset yang dimiliki
entitas, yakni Perangkat Lunak dan Lisensi. Ini artinya tidak ada goodwill. Maka tidak ada tes
untuk impairment.

23

Anda mungkin juga menyukai