Anda di halaman 1dari 14

HADIST TENTANG MERUBAH BENTUK

1. Pengertian Hadits
Hadis (Bahasa Arab: , transliterasi: Al-Hadts), adalah
perkataan dan perbuatan dari Nabi Muhammad. Hadis sebagai sumber
hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan
sumber hukum di bawah Al-Qur'an.
2. Secara Etimologi
Hadis secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam
terminologi Islam istilah hadis berarti melaporkan/ mencatat sebuah
pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad. Menurut istilah ulama
ahli hadis, hadis yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad, baik
berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (Arab: taqrr), sifat jasmani
atau sifat akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi (Arab: bi'tsah)
dan terkadang juga sebelumnya. Sehingga, arti hadis di sini semakna
dengan sunnah.
Kata hadis

yang

mengalami

perluasan

makna

sehingga

disinonimkan dengan sunah, maka pada saat ini bisa berarti segala
perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi
Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum. Kata hadis itu
sendiri adalah bukan kata infinitif, maka kata tersebut adalah kata benda.
3. Beberapa Contoh hukum hadist tentang merubah bentuk
a. Hukum Operasi Kecantikan (Operasi plastik atau sejenisnya)
Hukum melakukan operasi kecantikan yaitu :
Para ahli medis mendefinisikan operasi kecantikan sebagai
operasi yang dilakukan untuk mempercantik bentuk dan rupa bagianbagian tubuh lahiriyah seseorang. Kadang kala dilakukan atas kemauan
yang bersangkutan sendiri, dan kadang kala karena darurat (terpaksa).
Operasi kecantikan yang dilakukan karena darurat atau semi darurat
adalah operasi yang terpaksa dilakukan, seperti menghilangkan cacat,
menambah atau mengurangi organ tubuh tertentu yang rusak dan jelek.
Melihat pengaruh dan hasilnya, operasi tersebut sekaligus memperindah
bentuk dan rupa tubuh.
Cacat ada dua jenis: Cacat yang merupakan pembawaan dari
lahir. Cacat yang timbul akibat sakit yang diderita.

Cacat pembawaan dari lahir misalnya, bibir sumbing, bentuk


jari-jemari yang bengkok dan lain-lain. Cacat akibat sakit misalnya
cacat yang timbul akibat penyakit kusta (lepra), akibat kecelakaan dan
luka bakar serta lain sebagainya. Sudah barang tentu cacat tersebut
sangat mengganggu penderita secara fisik maupun psikis. Dalam
kondisi demikian syariat membolehkan si penderita menghilangkan
cacat, memperbaiki atau mengurangi gangguan akibat cacat tersebut
melalui operasi. Sebab cacat tersebut mengganggu si penderita secara
fisik maupun psikis sehingga ia boleh mengambil dispensasi melakukan
operasi. Dan juga karena hal itu sangat dibutuhkan si penderita.
Kebutuhan mendesak kadang kala termasuk darurat sebagai salah satu
alasan keluarnya dispensasi hukum. Setiap operasi yang tergolong
sebagai

operasi

kecantikan

yang

memang

dibutuhkan

guna

menghilangkan gangguan, hukumnya boleh dilakukan dan tidak


termasuk merubah ciptaan Allah.
Dibawah ini kami akan membawakan penjelasan Imam AnNawawi untuk membedakan antara operasi kecantikan yang
dibolehkan dan yang diharamkan.
Dalam menjelaskan hadits Rasulullah yang berbunyi:
Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dan yang meminta
untuk ditatokan, yang mencukur (menipiskan) alis dan yang meminta
dicukur, yang mengikir gigi supaya kelihatan cantik dan merubah
ciptaan Allah." (H.R Muslim No:3966.)
mam
An-Nawawi
menjelaskan

sebagai

berikut:

"Al-Wasyimah" adalah wanita yang mentato. Yaitu melukis punggung


telapak tangan, pergelangan tangan, bibir atau anggota tubuh lainnya
dengan jarum atau sejenisnya hingga mengeluarkan darah lalu dibubuhi
dengan tinta untuk diwarnai. Perbuatan tersebut haram hukumnya bagi
yang mentato ataupun yang minta ditatokan. Sementara an-naamishah
adalah wanita yang menghilangkan atau mencukur bulu wajah. Adapun
al-mutanammishah adalah wanita yang meminta dicukurkan. Perbuatan
ini juga haram hukumnya, kecuali jika tumbuh jenggot atau kumis pada

wajah wanita tersebut, dalam kasus ini ia boleh mencukurnya.


Sementara al-mutafallijat adalah wanita yang menjarangkan giginya,
biasa dilakukan oleh wanita-wanita tua atau dewasa supaya kelihatan
muda dan lebih indah. Karena jarak renggang antara gigi-gigi tersebut
biasa terdapat pada gadis-gadis kecil. Apabila seorang wanita sudah
beranjak tua giginya akan membesar, sehingga ia menggunakan kikir
untuk mengecilkan bentuk giginya supaya lebih indah dan agar
kelihatan masih muda.
Perbuatan tersebut jelas haram hukumnya baik yang mengikir
ataupun yang dikikirkan giginya berdasarkan hadits tersebut di atas.
Dan tindakan itu juga termasuk merubah ciptaan Allah, pemalsuan dan
penipuan. Adapun sabda nabi: "Yang mengikir giginya supaya kelihatan
cantik" maknanya adalah yang melakukan hal itu untuk mempercantik
diri. Sabda nabi tersebut secara implisit menunjukkan bahwa yang
diharamkan adalah yang meminta hal itu dilakukan atas dirinya dengan
tujuan untuk mempercantik diri. Adapun bila hal itu perlu dilakukan
untuk tujuan pengobatan atau karena cacat pada gigi atau sejenisnya
maka hal itu dibolehkan, wallahu a'lam. (Syarh Shahih Muslim
karangan Imam An-Nawawi XIII/107).
Suatu permasalahan yang perlu disinggung di sini ialah para ahli
medis operasi kecantikan tersebut biasanya tidak membedakan antara
kebutuhan yang menimbulkan bahaya dengan kebutuhan yang tidak
menimbulkan bahaya. Yang menjadi interest mereka hanyalah mencari
keuntungan materi, dan memberi kepuasan kepada pasien dan pengikut
hawa nafsu, materialis dan penyeru kebebasan. Mereka beranggapan
setiap orang bebas melakukan apa saja terhadap tubuhnya sendiri. Ini
jelas sebuah penyimpangan. Karena pada hakikatnya jasad ini adalah
milik Allah, Dia-lah yang menetapkan ketentuan-ketentuan berkenaan
dengannya sekehendak-Nya. Allah telah menjelaskan kepada kita
metoda-metoda yang telah diikrarkan Iblis untuk menyesatkan bani
Adam, di antaranya adalah firman Allah:

"Dan aku akan suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu


mereka benar-benar merobahnya." (Q:S 4:119)
b. Hukum mencukur Bulu mata
Tampil cantik dan menarik merupakan kodrat bagi seorang
wanita. Di era modern ini, sebagian kaum wanita melakukan berbagai
macam perawatan agar tampil cantik. Bulu mata adalah sesuatu yang
dapat mengindahkan mata, apalagi bagi seorang perempuan. Terkadang
mereka hingga membeli alat untuk melentikkan bulu mata atau mencukur
bulu matanya dan menggunakan bulu mata palsu sebagai penggantinya
agar mata terlihat lebih segar. Masalah mencabut atau mencukur bulu alis
yang dilakukan kaum hawa telah berkembang sejak zaman dulu.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah
bin Masud radhiyallahu anhu, bahwa dia berkata, Semoga Allah
melaknat para wanita yang membuat tato dan yang minta dibuatkan
tato, para wanita yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabutkan
bulus alisnya, para wanita yang mengikir giginya supaya indah, (yaitu)
para wanita yang mengganti ciptaan Allah. Pernyataan Ibnu Masud itu
akhirnya terdengar oleh seorang perempuan dari Bani Asad yang
bernama Ummu Yakub. Dia lalu mendatangi Ibnu Masud dan berkata,
Saya mendengar bahwa engkau melaknat wanita yang melakukan ini
dan itu. Ibnu Masud pun menjawab, Mengapa saya tidak melaknat
orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw. dan yang disebutkan di dalam
Alquran, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan
apa yang dilarangnya atasmu, maka tinggalkanlah. (Al-Hasyr: 7).
brahim Muhammad al-Jamal dalam buku Fiqih Wanita,
mengatakan, mengubah ciptaan Allah yang dengan cara menambah atau
mengurangi dilarang agama. Menurut dia, mengubah bentuk wajah
dengan make up, bentuk bibir maupun alis, termasuk juga mencukur alis,
mengecat kuku dan lainnya adalah haram. Menurut al-Jalam, Islam
menganggap hal itu sebagai cara berhias yang berlebihan. Lebih jauh
dijelaskan, dewasa ini banyak wanita yang justru tidak mengerti
tabiatnya sendiri. Mereka tidak tahu bahwa dengan keluarnya dari tabiat

kewanitaan, mereka tidak lagi asli dan tidak benar-benar wanita lagi.
Padahal, papar al-Jamal, setiap wanita sebenarnya telah diciptakan Allah
dengan wajah tersendiri. Oleh sebab itulah, dia meminta agar kaum
Muslimah tidak meniru-niru praktik yang dinilai bertentangan dengan
Sunatullah tersebut.
Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jumah Muhammad juga telah
mengeluarkan fatwa terkait an-namsh atau mencabut bulu alis. Menurut
dia, terdapat dua pendapat dikalangan para ahli bahasa mengenai
masuknya bulu-bulu lain yang tumbuh diwajah kedalam larangan ini.
Perbedaan inilah yang mendasari perbedaan ulama mengenai hukum
mencabut bulu selain bulu alis; antara yang menghalalkan dan yang
mengharamkannya, papar Syekh Ali Jumah.
Menurut beliau, an-namishah adalah perempuan yang mencabut
bulu alis orang lain. Sedangkan, al-mutanammishah adalah perempuan
yang menyuruh orang lain untuk mencabut bulu alisnya. Ancaman
dalam bentuk laknat dari Allah SWT atau Rasulullah SAW atas suatu
perbuatan tertentu merupakan pertanda bahwa perbuatan itu termasuk
dalam dosa besar, papar Syekh Ali Jumah. Sehingga, kata dia,
mencabut bulu alis bagi wanita adalah haram jika dia belum berkeluarga,
kecuali untuk keperluan pengobatan, menghilangkan cacat atau guna
merapikan bulu-bulu yang tidak beraturan. Perbuatan yang melebihi
batas-batas tersebut, hukumnya adalah haram.
Menurut Syekh Ali Jumah, perempuan yang sudah berkeluarga,
diperbolehkan melakukannya jika mendapat izin dari suaminya, atau
terdapat indikasi yang menunjukan izin tersebut. Ini merupakan
pendapat jumlah [mayoritas] ulama. Mereka beralasan bahwa hal itu
termasuk bentuk berhias yang diperlukan sebagai benteng guna menjauhi
hal-hal tidak baik dan untuk menjaga kehormatan ['iffah]. Maka secara
syari, seorang istri diperintahkan untuk melakukan demi suaminya. Hal
itu sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Ath-Thabari dari istri Abu
Ishak dan hadits yang diriwayatkan dari Bakrah binti Uqbah, Rasulullah
SAW bersabda:

:



.

Diriwayatkan dari Bakrah binti Uqbah, bahwa dia bertanya


kepada Aisyah mengenai hukum mencabut bulu di wajah. Aisyah pun
menjawab, Jika kamu mempunyai suami, lalu kamu sanggup
mencungkil kedua biji matamu sehingga kamu bisa membuatnya tampak
lebih indah dari sebelumnya, maka lakukanlah. Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam kitab Ahkm an-Nis` karya Ibnu Jauzi.
Rasulullah SAW bersabda:
-
: : -

Pada suatu hari dia berkunjung kepada Aisyah RA. Istri Abu
Ishak itu adalah seorang perempuan yang suka berhias. Dia berkata
kepada Aisyah, Apakah seorang perempuan boleh mencabut bulu
disekitar keningnya demi suaminya? Aisyah menjawab, Bersihkanlah
dirimu dari hal-hal yang mengganggumu semampumu.
Dalam risalah Ahkaam an Nisaa karya Imam Ahmad, beliau
mengatakan, Muhammad bin Ali al Wariq memberitakan, katanya,
Mahna bercerita kepada kamu bahwa dia pernah bertanya kepada Abu
Abdillah tentang mencukur wajah. Maka dia menjawab, Bagi wanita itu
tidak ada jeleknya. Akan tetapi, oleh peneliti risalah itu dijelaskan,
Mencabut pun termasuk mengubah wajah juga. Karena mencabut
artinya membedol rambut dari tempat aslinya, sehingga seolah-olah
tempat itu akhirnya tidak berambut, padahal aslinya berambut. Berarti
mencabutpun sama halnya dengan melakukan perubahan.

Dalam kitab Ad Diin al Khalish, Imam Ahmad kembali


menegaskan, Kalau ada wanita yang tumbuh kumis atau janggut, maka
tidaklah haram menghilangkannya, bahkan mustajab atau malah wajib.
Berdasarkan pendapat itu wanita hendaknya membersihkan wajahnya
sesuai dengan kewanitaannya. Caranya, seperti disampaikan kembali
oleh Imam Ahmad, membersihkan wajah dari rambut-rambut yang
berlebihan, jangan memakai pisau cukur, tapi hilangkanlah dengan krem,
bedak khusus atau yang sejenisnya.
c. Hukum Menyemir Rambut
Ubahlah Uban Untuk Menyelisihi Ahli Kitab
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat memerintahkan kita untuk
menyelisihi ahli kitab di antaranya adalah dalam masalah uban.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,




Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban
mereka, maka selisilah mereka. (Muttafaqun alaihi, HR. Bukhari dan
Muslim).
Manakah yang lebih utama antara membiarkan uban ataukah
mewarnainya?
Al Qodhi Iyadh mengatakan, Para ulama salaf yakni sahabat dan
tabiin berselisih pendapat mengenai masalah uban. Sebagian mereka
mengatakan bahwa lebih utama membiarkan uban (daripada mewarnainya)
karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenai
larangan mengubah uban [Namun hadits yang menyebutkan larangan ini
adalah hadits yang mungkar atau dhoif, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh

Al

Albani

dalam

Tamamul

Minnah].

... Sebagian mereka berpendapat pula bahwa lebih utama merubah uban
(daripada membiarkannya). Sehingga di antara mereka mengubah uban
karena terdapat hadits mengenai hal ini. (Nailul Author, 1/144, Asy
Syamilah).
Jadi dapat kita katakan bahwa mewarnai uban lebih utama
daripada tidak mewarnainya berdasarkan pendapat sebagian ulama.
Adapun pendapat yang mengatakan lebih utama membiarkan uban
daripada mewarnainya, maka ini adalah pendapat yang lemah karena
dibangun di atas hadits yang lemah.
Ubahlah Uban dengan Pacar dan Inai
Dari

Abu

Dzar

radhiyallahu

anhu

berkata,

Rasulullah

shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk
menyemir uban adalah hinna (pacar) dan katm (inai). (HR. Abu Daud,
Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasai. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash
Shahihah mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Hal ini menunjukkan bahwa menyemir uban dengan hinna (pacar)
dan katm (inai) adalah yang paling baik. Namun boleh juga menyemir uban
dengan selain keduanya yaitu dengan al wars (biji yang dapat menghasilkan
warna merah kekuning-kuningan) dan zafaron. Sebagaimana sebagian
sahabat ada yang menyemir uban mereka dengan kedua pewarna yang
terakhir ini.
Abu Malik Asy-jaiy dari ayahnya, beliau berkata,

Dulu kami menyemir uban kami bersama Rasulullah shallallahu


alaihi wa sallam dengan wars dan zafaron. (HR. Ahmad dan Al Bazzar.
Periwayatnya adalah periwayat kitab shahih selain Bakr bin Isa, namun dia
adalah

tsiqoh

terpercaya-.

Lihat

Majma

Az

Zawaid)

Al Hakam bin Amr mengatakan,

:
:




Aku dan saudaraku Rofi pernah menemui Amirul Muminin Umar
(bin Khaththab). Aku sendiri menyemir ubanku dengan hinaa (pacar).
Saudaraku menyemirnya dengan shufroh (yang menghasilkan warna kuning).
Umar lalu berkata: Inilah semiran Islam. Umar pun berkata pada saudaraku
Rofi: Ini adalah semiran iman. (HR. Ahmad. Di dalamnya ada
Abdurrahman

bin

Habib.

Ibnu

Main

mentsiqohkannya.

Ahmad

mendhoifkannya. Namun periwayat lainnya adalah periwayat yang tsiqoh.


Lihat Majma Az Zawaid).
Diharamkan Menyemir Uban dengan Warna Hitam
Dari Jabir radhiyallahu anhu, dia berkata, Pada hari penaklukan
Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan
kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau
telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,


Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.
(HR. Muslim). Ulama besar Syafiiyah, An Nawawi membawakan hadits ini
dalam Bab Dianjurkannya menyemir uban dengan shofroh (warna kuning),
hamroh (warna merah) dan diharamkan menggunakan warna hitam.
Ketika menjelaskan hadits di atas An Nawawi rahimahullah mengatakan,

Menurut madzhab kami (Syafiiyah), menyemir uban berlaku bagi laki-laki


maupun perempuan yaitu dengan shofroh (warna kuning) atau hamroh (warna
merah) dan diharamkan menyemir uban dengan warna hitam menurut
pendapat yang terkuat. Ada pula yang mengatakan bahwa hukumnya
hanyalah makruh (makruh tanzih). Namun pendapat yang menyatakan haram
lebih tepat berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
hindarilah warna hitam. Inilah pendapat dalam madzhab kami.
Adapun ancaman bagi orang yang merubahnya dengan warna hitam
disebutkan dalam hadits berikut.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,




Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir
dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan
mencium bau surga. (HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Hibban dalam
shahihnya, dan Al Hakim. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini
shahih. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan
bahwa hadits ini shahih). Karena dikatakan tidak akan mencium bau surga,
maka perbuatan ini termasuk dosa besar. (Lihat Al Liqo Al Bab Al Maftuh,
60/23, 234/27)
Sebenarnya jika menggunakan katm (inai) akan menghasilkan warna
hitam, jadi sebaiknya katm tidak dipakai sendirian namun dicampur dengan
hinaa (pacar), sehingga warna yang dihasilkan adalah hitam kekuningkuningan. Lalu setelah itu digunakan untuk menyemir rambut. (Lihat Al Liqo
Al Bab Al Maftuh, 234/27)
Bolehkah menggunakan jenis pewarna lainnya selain inai dan pacar,
inai saja, zafaron dan wars- untuk mengubah uban semacam dengan pewarna

sintetik? Jawabannya: boleh karena yang penting adalah tujuannya tercapai


yaitu merubah warna uban selain dengan warna hitam. Sebagaimana
keumuman hadits:


Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tapi hindarilah warna hitam. (HR.
Muslim). Di sini menggunakan kata syaa-i, bentuk nakiroh, yang
menunjukkan mutlak (baca: umum). Namun kalau pewarna tersebut tidak
menyerap ke rambut, malah membentuk lapisan tersendiri di kulit rambut,
maka pewarna semacam ini harus dihindari karena dapat menyebabkan air
tidak masuk ke kulit rambut ketika berwudhu sehingga dapat menyebabkan
wudhu tidak sah. Wallahu alam.
d. Hukum memutihkan Kulit
Pertanyaan ini telah diajukan kepada seorang imam ahli fiqih masa
ini yaitu Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu. Beliau menjawab:
Jika pengubahan tersebut adl pengubahan yg bersifat permanen mk
hukum haram bahkan termasuk dosa besar. Karena perbuatan ini
mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Taala melebihi perbuatan
mentato. Padahal telah tsabit dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bahwa beliau melaknat wanita yg menyambungkan rambut wanita lain
wanita yg minta disambungkan rambut wanita yg mentato wanita lain dan
wanita yg minta ditato. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda
sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Masud radhiyallahu anhu:
.



: .
.

Beredar di kalangan wanita produk-produk kecantikan yg berkhasiat
memutihkan wajah dgn cara dioleskan pada wajah. Kemudian lapisan kulit
wajah yg paling luar akan terkelupas sehingga nampaklah lapisan berikut

yg lbh putih dan menarik. Bagaimana hukum menggunakan produk


tersebut?
Pertanyaan yg serupa telah diajukan kepada Asy-Syaikh Ibnu
Utsaimin rahimahullahu. Beliau menjawab:
Menurut pendapat kami apabila hal itu dilakukan dlm rangka
berhias dan mempercantik diri mk hukum haram. Berdasarkan qiyas dgn
perbuatan namsh wasyr dan yg semisalnya.
Dan jika dlm rangka menghilangkan cacat pada wajah mk hukum
boleh. Seperti menghilangkan flek hitam noda hitam dan goresan pada
wajah serta yg serupa dengannya.
Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengizinkan salah
seorang sahabat yg putus hidung utk mengganti dgn hidung palsu yg
terbuat dari emas7.
Wallahu alam bish-shawab.
1.Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


Allah melaknat wanita yg menyambungkan rambut
wanita lain dan wanita yg minta disambungkan rambutnya. pen.
2.Makna yg disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu
semakna dgn yg disebutkan oleh Ibnul Atsir rahimahullahu dlm AnNihayah An-Nawawi rahimahullahu dlm Syarh Muslim dan Ibnu Hajar
rahimahullahu dlm Fathul Bari
Namun Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Kata wajah
dlm definisi tersebut tdk dimaksudkan untuk membatasi namsh hanya pada
wajah saja melainkan sebagai penyebutan sesuatu yg banyak terjadi. Arti
namsh tdk terbatas hanya mencabut rambut yg ada di wajah saja meskipun

itu yg banyak terjadi. Melainkan mutlak meliputi bagian tubuh lain selain
yg memang diperintahkan utk dibersihkan seperti bulu ketiak.
e. Hukum menyambung Rambut
Bagaimana Hukum memakai sobrah?
Sobrah atau cemara yang artinya memperpanjang,menyambung
rambut dengan menyambungnya, agar sanggul menjadi besar atau rambut
menjadi panjang, itu terlarang.
Dalam hadits perbuatan tersebut diatas dinamakan alWaashilah, yang
berarti menyambung rambut, baik dengan rambut asli, dengan benang sutera
atau dengan kain, itu termasuk waashilah, menyambung.
Sabda Rasulullah s.a.w.
Laana LLahu alwaashilata wa lMustawasshilata wa lWaasyimata wa
;lMustausyimata ( H. Bukhori )
Allah telah melanat perempuan yang memakai cemara, dan yang
minta dipakaikan cemara, dan perempuan yang mencacah dan minta
dicacah ( Hadits Bukhori)
Hadits ini terlalu jelas, tidak perlu akan tafsir lagi, dan disamping itu
hadits-hadits shahih serupa banyak sekali.
Dalam Hadits Bukhori : Aisyah diriwayatkan adanya perempuan yang
sakit, yang menyebabkan rambutnya rontok, kemudian orang-orang hendak
memakaikan kepadanya cemara, tetapi Rasulullah melarangnya.
Pada zaman Muawiyyah ada diketemukan cemara, kemudian
Muawiyyah diatas mimbar berkata,Mana ulama-ulama kalian? aku telah
mendengar dari Rasulullah melarang akan cemara seperti ini! Kemudian

dikatakannya bahwa telah binasa Bani Israil tatkala perempuanperempuannya mengenakan cemara ( Bukhori- Muslim)
Islam tidak melarang mengobati rambut agar tumbuh kembali, atau
agar rambut tumbuh panjang. Tapi bagi orang Islam sebenarnya panjang
ataupun pendek rambut tidak menjadi soal, sebab sudah ada hijab (jilbab)
yang akan menutupnya
Yang menjadi keutamaan bagi setiap muslimah adalah memakai jilbab
(hijab) tentunya akan menutup rambutnya.