Anda di halaman 1dari 34

PENGKAJIAN DAN PEMERIKSAAN FISIK

SISTEM INDERA

DISUSUN OLEH:
Kelompok 2
Cyntia
Deah Karina Saputri
Eka Hariza Agustina
Julie Puspita Sari
Lisa Rahmatul Husna
Nadya Liza Kasinger
Ririn Safitri
Rizky Amelia
Tingkat : II A
Dosen Pengampu : Ns. Lukman,S.Kep.,M.Kep

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2015-201

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan
rahmat-Nya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
Medikal Bedah II. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada
dosen pengampu Ns.Lukman,S.Kep.,M.Kep yang telah banyak membimbing
kami hingga makalah ini selesai dan tak lupa juga kami ucapkan terima kasih
untuk teman-teman tingkat 2A yang juga turut membantu.
Saran dan kritik yang membangun diperlukan dalam perbaikan makalah
ini.

Palembang,

Maret 2016

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Sistem Indera .................................................................................... 3
2.3 Pengkajian dan Pemeriksaan Fisik Sistem Indera ......................................... 5
2.2.1 Mata ..................................................................................................... 5
2.2.2 Telinga ................................................................................................ 14
2.2.3 Hidung ................................................................................................... 19
2.2.4 Lidah ..................................................................................................... 22
2.2.5 Kulit ..................................................................................................... 23
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 27
3.2 Saran .............................................................................................................. 27
DAFTAR PUSTAKA.. 28

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Gangguan persepsi sensori merupakan permasalahan yang sering

ditemukan seiring dengan perubahan lingkungan yang terjadi secara cepat dan
tidak terduga. Pertambahan usia, variasi penyakit, dan perubahan gaya hidup
menjadi faktor penentu dalam penurunan sistem sensori. Seringkali gangguan
sensori dikaitkan dengan gangguan persepsi karena persepsi merupakan hasil dari
respon stimulus (sensori) yang diterima.
Persepsi merupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus
eksternal,

juga

pengenalan

dan

pemahaman

terhadap

sensoris

yang

diinterpretasikan oleh stimulus yang diterima (Nasution, 2003). Persepsi juga


melibatkan kognitif dan emosional terhadap interpretasi objek yang diterima
organ sensori (indra). Adanya gangguan persepsi mengindikasikan adanya
gangguan proses sensori pada organ sensori, yaitu penglihatan, pendengaran,
perabaan, penciuman, dan pengecapan. Untuk itu, perlu adanya pemeriksaan fisik
sistem sensori untuk mengukur derajat gangguan sistem sensori tersebut.
Adanya makalah ini diharapkan pembaca bisa sedikit mengetahui berbagai
macam dan teknik pemeriksaan sistem sensori. Dengan mengetahui pemeriksaan
fisik sistem sensori diharapkan permasalahan yang muncul dari hasil pemeriksaan
tersebut dapat teridentifikasi secara akurat sehingga dapat menentukan asuhan
keperawatan yang berkualitas.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas diperoleh beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Apakah definisi dari sistem indera?
2. Bagaimana pengkajian dan pemeriksaan fisik sistem indera?

1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah diatas diperoleh beberapa tujuan penulisan, yaitu:
1. Untuk mengetahui definisi sistem indera
2. Untuk mengetahui pengkajian dan pemeriksaan fisik sistem indera

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Definisi
Sensori merupakan stimulus, baik secara internal maupun eksternal yang

masuk melalui organ sensori berupa indra. Sistem sensori berperan penting dalam
hantaran informasi ke sistem saraf pusat mengenai lingkungan sekitarnya (Wilson
& Hartwig, 2002 dalam Price & Wilson, 2002). Sistem sensori lebih kompleks
dari sistem motorik karena modal dari sensori memiliki perbedaan traktus, lokasi
yang berbeda pada medulla spinalis (Smeltzer & Brenda, 1996) sehingga
pengkajiannya dilakukan secara subyektif dan penguji dituntut untuk mengenali
penyebaran saraf perifer dari medulla spinalis.
Pengkajian sistem sensori difokuskan pada bentuk subyektif dikarenakan
sistem sensori memiliki hubungan erat dengan persepsi. Persepsi merupakan
kemampuan mengidentifikasi sesuatu melalui proses mengamati, mengetahui, dan
mengartikan stimulus yang diterima melalui indra. Untuk itu, data subyektif yang
diterima berdasarkan persepsi individu dapat menentukan kenormalan dari sistem
sensori tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi sensori adalah sebagai berikut.
1. Usia
a) Bayi memiliki jalur saraf yang belum matang sehingga tidak bisa membedakan
stimulus sensori.
b)

Lansia mengalami perubahan degeneratif pada organ sensori dan fungsi

persyarafan sehingga mengalami penurunan fungsi pada organ sensori, yaitu


penurunan penglihatan, pendengaran, kesulitan persepsi, penurunan diskriminatif
rasa dan sensitivitas bau, perubahan taktil, gangguan keseimbangan, dan
disorientasi tempat dan waktu.
2. Medikasi

a) Beberapa antibiotik seperti streptomisin, gentamisin dapat merusak syaraf


pendengaran.
b) Kloramfenikol mengiritasi syaraf optik.
c) Obat analgesik, narkotik, sedatif dan antidepresan dapat mengubah persepsi
stimulus.
3. Lingkungan
a)

Stimulus lingkungan yang terlalu ramai dan bising dapat membuat

kebingungan, disorientasi dan tidak mampu mebuat keputusan.


b) Stimulus lingkungan yang terisolasimengarah pada deprivasi sensori.
c) Kualitas lingkungan yang buruk dapat memperparah kerusakan sensori.
4. Tingkat kenyamanan
Nyeri dan kelelahan dapat merubah persepsi seseorang dan bagaimana dia
bereaksi terhadap stimulus.
5. Penyakit yang diderita
a) Katarak menurunkan fungsi penglihatan.
b) Infeksi telinga menurunkan fungsi pendengaran.
c) Penyakit vascular perifer menyebabkan penurunan sensasi pada ekstrimitas
dan kerusakan kognisi
d) Penyakit diabetes kronik menurunkan penglihatan, kebutaan, maupun
neuropati perifer
e) Penyakit stroke menimbulkan penurunan kemampuan verbal, kerusakan fungsi
motorik, dan penerimaan sensori.
6. Merokok
Penggunaan tembakau mengakibatkan atrofi pada saraf pengecap sehingga
menurunkan persepsi rasa.
7. Tindakan medis
Intubasi endotrakea menyebabkan kehilangan berbicara sementara.

8. Tingkat kebisingan
Paparan kostan pada tingkat kebisingan tinggi mengakibatkan penurunan
pendengaran.
Pemeriksaan fisik pada sistem sensori berfokus pada fungsi neurologisnya
klasifikasi dari pemeriksaan fisik sistem sensori didasarkan pada organ sensori
berupa sistem indra. Sistem indra yang dikenal berupa pancaindra, yaitu:
1. Indra penglihatan (visual)
2. Indra pendengaran (auditori)
3. Indra perabaan (taktil)
4. Indra penciuman (olfaktori)
5. Indra pengecap (gustatory)
Adanya pemeriksaan fisik sistem sensori bertujuan sebagai berikut.
1. Menentukan derajat gangguan sensori dalam hubungannya dengan
gangguan gerak
2. Sebagai acuan untuk re-edukasi sensori
3. Mencegah terjadinya komplikasi sekunder
4. Menyusun sasaran dan rencana terapi (Pudjiastuti & Utomo, 2002)

2.2

Pengkajian & Pemeriksaan Fisik Sistem Indera

2.2.1

Mata
A.
1.

Pengkajian Sistem Indera Pengelihatan


Riwayat kesehatan

Sebelum melakukan pengkajian fisik mata, perawat harus mendapatkan


riwayat oftalmik, medis, dan terapi klien, dimana semuanya berperan dalam
5

kondisi oftalmik sekarang. Informasi yang harus diperoleh meliputi informasi


mengenai penurunan tajam penglihatan, upaya keamanan, dan semua hal yang
terkait pada alasan melakukan pemeriksaan oftalmik.
a) Riwayat penyakit saat ini
Klien ditanya tentang keluhan yang menyebabkan klien meminta pertolongan
pada tim kesehatan.
Apakah ada riwayat kecelakaan atau kerja
Apakah ada riwayat oftalmik seperti fotofobia, nyeri kepala, pusing, nyeri
okuler atau dahi, mata gatal.
Bila ada keluhan nyeri, dikaji sehubungan dengan lokasi, awitan, durasi,
penurunan

ketajaman

penglihatan,

keadaan

saat

nyeri

timbul,

upaya

menguranginya dan beratnya.


Identifikasi penurunan gangguan tajam penglihatan atau kehilangan medan
penglihatan, apakah kondisi tersebut unilateral atau bilateral.
Tanyakan klien apakh pernah menjalani koreksi refraksi dan pengukuran
ketajaman penglihatan.
Apakah menggunakan lensa koreksi untuk penglihatan dekat atau jauh.
Asuhan yang pernah diberikan oleh spesialis mata dan frekuensinya.
b) Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan adanya riwayat pembedahan atau adanya pukulan/ benturan pada
masa lalu yang menyebabkan keluhan saat ini.
Tanyakan tentang adanya kondisi seperti diabetes mellitus, hipertensi, PMS,
anemia sel sabit, AIDS, sklerosis multiple yang dapat mengenai mata.

Tanaykan pada klien tentang penggunaan obat mata yang dijiaul bebas

ataupun dengan resep yang dipakai.


c) Riwayat psikososial
Pengkajian psikososial terutama penting bagi perawat untuk menanyakan
pertanyaan mengenai riwayat klien, kita harus memperhitungkan efek keadaan
oftalmik terhadap aktivitas klien pada kehidupan sehari hari dan terhadap
pekerjaan. Hal hal yang perlu dikaji oleh perawat antara lain :
6

Evaluasi gaya hidup klien, jenis pekerjaan, aktivitas hiburan, dan olahraga.
Tanaykan apakah masalah oftalmik yang dilaporkan mengganggu fungsi yang
biasa dilakukan.
Kaji bagaimana klien menghadapi masalah tersebut.
Tanyakan perasaan klien yang berhubungan dengan gangguan visual untuk
mengkaji keefektifan teknik koping klien.
Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan klien tentang masalahnya untuk pemenuhan edukasi.
Gangguan pada mata dapat disebabkan oleh:
1. Gangguan di depan retina (gangguan pada media refrakta)
Media refrakta adalah bagian yang dipakai untuk membentuk bayangan
yang jelas pada retina. Media refrakta terdiri atas:
a. Kornea
Jika terdapat gangguan pada kornea, misal: keratitis (radang pada
kornea yang dapat menyebabkan kekeruhan pada kornea) maka dapat
mengganggu penglihatan.
b. Humor aquos
Jika pada humor aquos terdapat darah, maka cahaya tidak dapat
dihantarkan dengan baik.
c. Lensa kristalina
Kekeruhan pada lensa dapat mengganggu penglihatan
d. Corpus vitreum
Kekeruhan pada corpus vitreum dapat mengganggu penglihatan
2. Gangguan pada retina
Misal:
o Retinitis
o Kornea lepas dari dindingnya
7

A. Gangguan pada lintasan penglihatan


Yaitu gangguan hantaran dari reseptor hantaran ke otak
B. Gangguan pada otak/pusat penglihatan
Misal, terdapat tumor pada hipofisis.
B.

Pemeriksaan Fisik Mata

1. Pemeriksaan mata untuk penglihatan jauh (visus)


Pemeriksaan tajam penglihatan :

lakukan uji penglihatan dalam ruangan yang cukup tenang, tetapi anda

dapat mengendalikan jumlah cahaya.


gantungkan kartu snellen atau kartu e yang sejajar mata responden dengan

jarak 6 meter
pemeriksaan dimulai dengan mata kanan.
mata kiri responden ditutup dengan penutup mata atau telapak tangan

tanpa menekan bola mata.


responden disarankan membaca huruf dari kiri ke kanan setiap baris kartu
snellen atau memperagakan posisi huruf e pada kartu e dimulai baris
teratas atau huruf yang paling besar sampai huruf terkecil (baris yang

tertera angka 20/20).


penglihatan normal bila responden dapat membaca sampai huruf terkecil

20/20 (tulis 020/020).


bila dalam baris tersebut responden dapat membaca atau memperagakan
posisi huruf e kurang dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris

yang tertera angka di atasnya.


bila dalam baris tersebut responden dapat membaca atau memperagakan
posisi huruf e lebih dari setengah baris maka yang dicatat ialah baris yang
tertera angka tersebut.

2. Pemeriksaan uji penglihatan dengan hitung jari :

bila responden belum dapat melihat huruf teratas atau terbesar dari kartu
snellen atau kartu e maka mulai hitung jari pada jarak 3 meter (tulis

03/060).
hitung jari 3 meter belum bisa terlihat maka maju 2 meter (tulis 02/060),
bila belum terlihat maju 1 meter (tulis 01/060). Bila belum juga terlihat

maka lakukan goyangan tangan pada jarak 1 meter (tulis 01/300).


goyangan tangan belum terlihat maka senter mata responden dan tanyakan

apakah responden dapat melihat sinar senter (jika ya tulis 01/888).


bila tidak dapat melihat sinar senter disebut buta total (tulis 00/000)

Selanjutnya, uji fungsi visual, termasuk ketajaman penglihatan jarak dekat dan
jarak jauh, persepsi warna dan penglihatan perifer.
1

Uji penglihatan jarak jauh


Untuk menguji penglihatan jarak jauh pada klien yang dapat membaca
bahasa inggris, gunakan grafik alfabet snellen yang berisi berbagai ukuran
huruf. Untuk klien yang buta huruf atau tidak dapat berbicara bahasa
inggris, gunakan grafik snellen e, yang menunjukkan huruf-huruf dalam
berbagai ukuran dan posisi. Klien menunjukkan posisi huruf e dengan
menirukan posisi tersebut dengan jari tangannya.

uji setiap mata secara terpisah dengan terlebih dahulu menutup satu
mata dan kemudian mata yang lain dengan kartu buram berukuran 3 x
5 atau penutup mata. Setelah itu, uji penglihatan binokular klien
dengan meminta klien membaca gambar dengan kedua mata terbuka.
Klien yang normalnya memakai lensa korektif untuk penglihatan jarak

jauh harus memakainya untuk uji tersebut.


mulai dengan baris yang bertanda 20/20. Jika klien salah membaca
lebih dari dua huruf, pindahlah ke baris berikutnya 20/25. Lanjutkan
sampai klien dapat membaca baris tersebut dengan benar dengan
kesalahan yang tidak lebih dari dua. Baris tersebut menunjukkan
ketajaman penglihatan jarak jauh klien.

Uji penglihatan jarak dekat

Uji penglihatan jarak dekat klien dengan memegang grafik snellen atau
kartu dengan kertas koran berukuran 30,5 sampai 35,5 cm di depan mata
klien, klien yang normalnya memakai kacamata baca harus memakainya
untuk uji ini. Seperti pada penglihatan jarak jauh, uji setiap mata secara
terpisah dan kemudian bersamaan.
3

Uji persepsi warna


Minta klien untuk mengidentifikasi pola bulatan-bulatan warna pada plat
berwarna. Klien yang tidak dapat membedakan warna tidak akan
mendapatkan polanya.

Uji fungsi otot ekstraokuler


Untuk mengkaji fungsi otot ekstraokuler klien, perawat harus melakukan
tiga tes : enam posisi kardinal tes penglihatan, tes terbuka-tertutup, dan tes
refleks cahaya korneal.

Enam posisi kardinal tes penglihatan


- duduk langsung di depan klien, dan pegang objek silindris, seperti
pensil, tepat di depan hidung klien, dan menjauh sekitar 46 cm dari
-

hidung klien.
minta klien untuk memperhatikan objek tersebut pada saat dan
menggerakkannya searah jarum jam melewati enam posisi kardinalmedal superior, lateral superior, lateral, lateral inferior, dan medial-

kembalikan objek ke titik tengah setelah setiap gerakan.


melalui tes ini, mata klien akan tetap paralel pada saat bergerak.
Perhatikan adanya temuan abnormal, seperti nistagmus, atau deviasi

salah satu mata yang menjauh dari objek.


Tes tertutup-terbuka
- minta klien menatap suatu objek pada dinding yang jauh yang
berhadapan. Tutupi mata kiri klien dengan kartu buram dan observasi
-

mata kanan yang tidak ditutp akan adanya gerakan atau berputar-putar.
kemudian, lepas kertas dari mata kiri. Mata harus tetap diam dan
berfokus pada objek, tanpa bergerak atau berputar-putar. Ulangi proses
tersebut dengan mata kanan.
10

Tes refleks cahaya korneal


- minta klien untuk melihat lurus ke depan sementara anda mengarahkan
sinar senter ke batang hidung klien dari jarak 30,5 sampai 38 cm.
Periksa untuk memastikan apakah kornea memantulkan cahaya di
tempat yang tepat sama di kedua mata. Refleks yang tidak simetris
menunjukkan ketidakseimbangan otot yang menyebabkan mata
menyimpang dari titik yang benar.

Uji penglihatan perifer


- duduk berhadapan dengan klien, dengan jarak 60 cm, dengan mata
-

anda sejajar dengan mata klien. Minta klien menatap lurus ke depan.
tutupi satu mata anda dengan kertas buram atau tangan anda dan minta
kien untuk menutup matanya yang tepat bersebrangan dengan mata

anda yang ditutup


kemudian, ambil sebuah objek, misalnya pensil dari bidang superior
perifer ke arah lapang pandang tengah. Objek tersebut harus berada

pada jarak yang sama di antara anda dan klien.


minta klien untuk mengatakan pada anda saat objek tersebut terlihat.
Jika penglihatan perifer anda utuh, anda dan klien akan melihat objek

tersebut pada waktu yang bersamaan.


ulangi prosedur searah jarum jam pada sudut 45 derajat, periksa lapang
pandang superior, inferior, temporal, dan nasal. Ketika menguji lapang
pandang temporal, anak akan mengalami kesulitan menggerakkan
objek sampai cukup jauh sehingga anda dan klien tidak dapat
melihatnya. Jadi lakukan uji lapang pandang temporal ini dengan
meletakkan pensil sedemikian rupa di belakang klien dan di luar
lapang pandang klien. Bawa pensil tersebut berkeliling secara perlahan
sampai klien dapat melihatnya.

Reflek pupil
- pasien disuruh melihat jauh
- setelah itu pemeriksa mata pasien di senter / diberi cahaya dan lihat
apakah ada reaksi pada pupil. Normal akan mengecil

11

perhatikan pupil mata yang satunya lagi, apakah ikut mengecil karena

penyinaran pupil mata tadi disebut dengan reaksi cahaya tak langsung
cegah reflek akomodasi dengan pasien disuruh tetap melihat jauh

Pemeriksaan sensibilitas kornea

Tujuan : untuk mengetahui apakah sensasi kornea normal, atau menurun


Cara pemeriksaan
Alat : kapas steril
Caranya :

bentuk ujung kapas dengan pinset steril agar runcing dan halus
fiksasi mata pasien keatas agar bulu mata tidak tersentuh saat kornea

disentuh
fiksasi jari pemeriksa pada pipi pasien dan ujung kapas yang halus dan
runcing disentuhkan dengan hati-hati pada kornea, mulai pada mata
yang tidak sakit.

Hasil

Pada tingkat sentuhan tertentu reflek mengedip akan terjadi.


Penilaian dengan membandingkan sensibilitas kedua mata pada pasien
tersebut.

Eversi kelopak mata

Pemeriksaan untuk menilai konyungtiva tarsalis


Cara pemeriksaan :

cuci tangan hingga bersih


pasien duduk didepan slit lamp
sebaiknya mata kanan pasien diperiksa dengan tangan kanan

pemeriksa.
ibu jari memegang margo, telunjuk memegang kelopak bagian atas dan

meraba tarsus, lalu balikkan.


setelah pemeriksaan selesai kembalikan posisi kelopak mata. Biasakan
memeriksa kedua mata.

Pemeriksaan dengan oftalmoskop


12

untuk melakukan pemeriksaan dengan oftalmoskop, tempatkan klien di


ruang yang digelapkan atau setengah gelap, anda dan klien tidak boleh
memakai kacamata kecuali jika anda sangan miop atau astigmatis.

Lensa kontak boleh dipakai oleh anda atau klien.


duduk atau berdiri di depan klien dengan kepala anda berada sekitar 45
cm di depan dan sekitar 15 derajat ke arah kanan garis penglihatan
mata kanan klien. Pegang oftalmoskop dengan tangan kanan anda
dengan apertura penglihat sedekat mungkin dengan mata kanan anda.
Letakkan ibu jari kiri anda di mata kanan klien untuk mencegah
memukul klien dengan oftalmoskop pada saat anda bergerak
mendekat. Jaga agar telunjuk kanan anda tetap berada di selektor lensa

untuk menyesuaikan lensa seperlunya seperti yang ditunjukkan di sini.


instruksikan klien untuk melihat lurus pada titik sejajar mata yang
sudah ditentukan di dinding. Instruksikan juga pada klien, bahwa
meskipun berkedip selama pemeriksaan diperbolehkan, mata harus
tetap diam. Kemudian, mendekat dari sudut oblik sekitar 38 cm dan
dengan diopter pada angka 0, berfokuslah pada lingkaran kecil cahaya
pada pupil. Cari cahaya oranye kemerahan dari refleks merah, yang
harus tajam dan jelas melewati pupil. Refleks merah menunjukkan

bahwa lensa bebas dari opasitas dan kabut.


bergerak mendekat pada klien, ubah lensa dengan jari telunjuk untuk

menjaga agar struktur retinal tetap dalam fokus.


ubah diopter positif untuk melihat viterous humor, mengobservasi

adanya opasitas.
kemudian, lihat retina, menggunakan lensa negatif yang kuat. Cari
pembuluh darah retina dan ikuti pembuluh darah tersebut ke arah
hidung klien, rotasi selektor lensa untuk menjaga agar pembuluh darah
tetap dalam fokus. Karena fokus tergantung pada anda dan status
refraktif klien maka diopter lensa berbeda-beda untuk sebagian besar
klien. Periksa dengan cermat seluruh struktur retina, termasuk
pembuluh darah retina, diskus optikus, latar belakang retina, makula

dan fovea.
periksa pembuluh darah dan struktur retina untuk warna, perbandingan
ukuran arteri dan vena, refleks cahaya arteriol, dan persilangan
13

arteriovenosa. Mangkuk fisiologis normalnya berwarna kuning-putih

dan dapat terlihat.


periksa makula pada bagian akhir karena sangat sensitis terhadap
cahaya.

10 Pemeriksaan fisik mata pada anak


goyangkan kepala bayi secara perlahan-lahan supaya mata bayi

terbuka.
periksa jumlah, posisi atau letak mata
periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna
periksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak sebagai

pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea.


katarak kongenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih.

Pupil harus tampak bulat.


terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang

dapat mengindikasikan adanya defek retina.


periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau

retina.
periksa adanya sekret pada mata, konjungtivitis oleh kuman

gonokokus dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan.


apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami
sindrom down.

2.2.2

Telinga
A. Pengkajian Sistem Indera Pendengaran

- Memulai pengkajian dengan menanyakan beberapa hal berikut:


Bagaimanakah kondisi pendengaran Bapak/Ibu/Saudara/i?
Apakah ada gangguan pada pendengaran yang saat ini dirasakan?
- Apabila pasien mengalami gangguan, tanyakan:
Apakah gangguan yang dialami hanya terjadi pada 1 sisi pendengaran atau
keduanya
Apakah gangguan terjadi secara tiba-tiba atau bertahap?
Gejala apakah yang dirasakan?
- Bedakan jenis gangguan apakah gangguan konduksi atau sensori neural:
14

o Pada individu dengan gangguan konduksi maka kondisi lingkungan


yang berisik akan membantu proses pendengaran.
o Individu yang dengan gangguan sensorineural akan mengalami
kesulitan memahami pembicaraan orang lain (orang lain dianggap
bergumam). Kondisi lingkungan yang berisik akan memperparah
gangguan pendengaran tersebut.
Apakah ada kesulitan memahami percakapan orang lain yang dialami?
Apakah ada perbedaan kondisi yang dialami dengan adanya perubahan
lingkungan?
- Kaji tanda dan gejala yang berhubungan dengan gangguan pendengaran:
Nyeri pada telinga
Tinnitus
o Merupakan suara yang secara kontinyu terdengar tanpa adanya stimulus
dari luar. Gangguan ini dapat dihubungkan dengan adanya gangguan
fungsi pendengaran dan belum dapat dijelaskan secara detil
penyebabnya.
Vertigo
o Merupakan

persepsi

pasien

dimana

dirinya

atau

lingkungan

disekitarnya seperti berputar. Gangguan ini dapat disebabkan karena


adanya gangguan pada telinga dalam, lesi N. VIII atau adanya
gangguan pada jalur persarafan dari telinga ke SSP.
Discharge dari telinga
o Dapat berbentuk cairan kental yang merupakan debris dari proses
inflamasi yang terjadi di kanal auditorius (pada telinga luar) atau
sebagai akibat adanya perforasi pada membran tymphani.
- Kaji penyakit lain yang dapat menimbulkan nyeri pada telinga
o Gangguan pada mulut, tenggorokan, hidung atau saluran nafas bagian
atas yang berisiko menimbulkan gangguan fungsi pendengaran
- Kaji penggunaan obat yang dapat menimbulkan risiko gangguan pendengaran
- Kaji riwayat operasi dan alergi

15

B. Pemeriksaan Fisik Telinga


- Pemeriksaan Daun Telinga & bagian-bagiannya:
Lakukan inspeksi pada setiap daun telinga (kanan dan kiri) dan bagian
bagiannya, apakah terdapat deformitas, benjolan atau lesi kulit
o Deformitas dapat ditemukan apabila terdapat trauma. Benjolan yang
dijumpai pada saat inspeksi dapat berupa kelloid, kista, basal cell
carcinoma, tophi.
Lihat kesimetrisan kedua daun telinga
Lihat apakah ada Battles Sign pada bagian belakang telinga
o

Battles Sign merupakan suatu kondisi dimana terdapat echymosis


pada tulang mastoid dan merupakan indikator adanya fraktur pada
basis cranii.

Apabila terdapat nyeri pada telinga, adanya discharge atau proses


inflamasi maka lakukan pemeriksaan dengan cara menggerakkan daun
telinga secara lembut ke atas dan ke bawah (= tug test) serta berikan tekan
lembut pada bagian belakang telinga dari atas ke bawah.
o Saat dilakukan tug test akan dijumpai adanya rasa nyeri pada kondisi
Acute Otitis Externa (inflamasi pada kanal auditorius) namun tidak
pada kondisi Otitis Media.
- Pemeriksaan Kanal Auditorius & Membran Tymphani:
Lakukan pemeriksaan dengan menggunakan otoscope
o Pada kondisi Acute Otitis Externa dapat dijumpai tanda inflamasi
pada kanal auditorius berupa adanya pembengkakan, penyempitan,
lembab dan tampak pucat atau bahkan kemerahan. Pada kondisi
16

Chronic Otitis Externa permukaan kulit pada kanal auditorius


tampak menebal, merah dan terasa gatal.
Periksa ada tidaknya serumen (catat warna dan konsistensinya), benda
asing, discharge, kemerahan dan atau edema
Inspeksi membran tymphani, perhatikan dan catat warna dan konturnya
(ada tidaknya perforasi, sklerosis)
o Warna normal pada mebran tymphani adalah merah muda keabuabuan.
Pada Otitis Media Akut Purulenta dapat dijumpai warna merah
membesar pada membran tymphani yang disertai adanya pengeluaran
cairan. Pada kondisi sklerosis maka akan dijumpai area pada membran
tymphani yang berwarna keputihan dengan batas yang tidak rata.
Tes Pendengaran
- Tes sederhana/klasik: tes arloji, tes berbisik, tes garpu tala
Semi kuantitatif
Berfungsi menentukan derajat ketulian secara kasar
Pastikan melakukan pemeriksaan ini dalam kondisi ruangan yang betulbetul tenang,
Pemeriksaan dilakukan dari jarak (1-2 feet = 30,5-61 cm = 0,3-0,6 m)
Pada tes berbisik:
o Lakukan pemeriksaan dari samping
o Tutup telinga lain yang belum diperiksa dengan jari dan pastikan pasien
tidak membaca gerakan bibir pemeriksa
o Gunakan angka atau kata yang terdiri dari 2 suku kata yang beraksen
sama: tigalima; bola-bata, dst
o Minta pasien untuk mengulangi kata atau angka yang telah disebutkan
o Penilaian (menurut Feldmann):

Normal: 6-8 m

Tuli ringan: 4 - <6m


17

Tuli sedang: 1 - <4 m

Tuli berat: 25 cm - <1 m

Tuli total: <25 cm

Tes garpu tala:


o Semi kualitatif
o Menggunakan garpu tala yg memiliki frekuensi 512 Hz
o Jenis-jenisnya : tes Rinne, tes Weber, tes Schwabach
Tes Rinne: membandingkan hantaran tulang (BC) dengan hantaran udara
(AC) pada telinga yang diperiksa

Gambar 4 Tes Rinne (Schwatrz, n.d)


- Hasil tes Rinne:
o

Positif: bila masih terdengar

Negatif: bila tidak terdengar

- Interpretasi Hasil:
o

Positif (AC = 2 kali lebih lama daripada): Normal

Positif (AC>BC): Tuli sensorineural

Negatif (AC<BC atau AC=BC): Tuli konduktif

Tes Weber: membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga


kanan

18

Gambar 5 Tes Weber (Schwatrz, n.d)


- Hasil tes Weber:
o

Bila terdengar lebih keras ke salah satu telinga: lateralisasi ke telinga


tersebut

Bila tdk dapat dibedakan ke arah mana yang lebih keras: tidak ada
lateralisasi

- Interpretasi Hasil:
o

Normal: tidak ada lateralisasi

Tuli konduktif: lateralisasi ke telinga yang sakit

Tuli sensorineural: lateralisasi ke telinga yang sehat

Tes Schwabach: membandingkan hantaran tulang telinga orang yang


diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal
- Hasil tes Schwabach dan interpretasinya:
o

Sama: normal

Memanjang: Tuli konduktif

Memendek: Tuli sensorineural

- Pemeriksaan pendengaran subjektif: audiometri


Tes pengukuran fungsi pendengaran secara kuantitatif dan kualitatif
dengan melakukan penilaian pada:
o berapa besar gangguan pendengaran (derajat gangguan dengar) dan
lokalisasi gangguan dengar
o menggunakan alat audiometer
Hasil pemeriksaan dicatat dalam audiogram
- Pemeriksaan pendengaran objektif: BERA (Brainstem Evoked Response
Audiometry)
19

Bersifat objektif dan non-invasif.


Prinsip pemeriksaan BERA adalah menilai potensial listrik di otak setelah
pemberian rangsang sensoris berupa bunyi.
Pemeriksaan BERA dpt dilakukan pada: bayi, anak dengan gangguan sifat
dan tingkah laku, retardasi mental, cacat ganda dan kesadaran menurun.
Pada orang dewasa dapat digunakan untuk memeriksa orang yang berpurapura tuli atau ada kecurigaan tuli saraf retrocochlea.

2.2.3

Hidung

A. Pengkajian & Pemeriksaan Fisik Sistem Indera Penciuman


Indra penciuman merupakan penentu dalam identifikasi aroma dan cita
rasa makanan-minuman yang dihubungkan oleh saraf trigeminus sebagai
pemantau zat kimia yang terhirup. Indra penciuman dianggap salah satu sistem
kemosensorik karena sebagian besar zat kimia menghasilkan persepsi olfaktorius,
trigeminus, dan pengecapan. Hal ini dikarenakan sensasi kualitatif penciuman
ditangkap neuroepitelium olfaktorius sehingga menimbulkan sensibilitas somatic
berupa rasa dingin, hangat, dan iritasi melalui serabut saraf aferen trigeminus,
glosofaringeus, dan vagus dalam hidung, kavum oris, lidah, faring, dan laring.
Adanya gangguan penciuman (osmia) dapat diakibatkan oleh proses
patologis

sepanjang olfaktorius yang hampir serupa dengan gangguan

pendengaran berupa defek konduktif maupun defek sensorineural. Defek


konduktif (transport) terjadi akibat adanya gangguan transisi stimulus bau menuju
neuroepitel, sedangkan defek sensorineural cenderung melibatkan struktur saraf
yang lebih sentral. Namun penyebab utama dari gangguan penciuman, yaitu
penyakit rongga hidung maupun sinus, sebelum terjadi infeksi saluran nafas atas,
dan trauma kepala (Kris, 2006).
Gangguan penciuman (osmia) memiliki sifat total (seluruh bau), parsial
(sejumlah bau), atau spesifik (satu atau sejumlah kecil bau). Jenis-jenis gangguan
penciuman, yaitu:
1. Anosmia merupakan ketidak-mampuan mendeteksi bau
20

2. Hiposmia merupakan penurunan kemampuan mendeteksi bau


3. Disosmia merupakan distorsi identifikasi bau (tidak bisa membedakan
bau)
4. Parosmia merupakan perubahan persepsi pembauan
5. Phantosmia merupakan persepsi bau tanpa adanya sumber bau
6. Agnosia merupakan ketidakmampuan menyebutkan maupun membedakan
bau, meski pasien dapat mendeteksi bau.
Etiologi dari gangguan penciuman adalah sebagai berikut.
1. Defek konduktif

Proses inflamasi

Proses inflamasi dapat menyebabkan gangguan pembauan akibat rintitis dan


sinus kronik. Rintitis dan sinus kronik mengakibatkan inflamasi mukosa nasal
sehingga terjadi abnormalitas sekresi mucus. Sekreai mucus yang berlebihan
mengakibatkan silia olfaktorius tertutup mucus sehingga sensitivitas olfaktorius
menurun/menghilang.
2. Massa/tumor
Adanya massa pada rongga hidung mengakibatkan perubahan structural dalam
kavum nasi berupa polip, neoplasma, maupun deviasi septum nasi sehingga dapat
menghalangi aliran odoran (zat yang menimbulkan bau) ke epitel olfaktorius.
3. Abnormalitas developmental
Amnormalitas developmental dapat berupa ensefalokel maupun kista dermoid
yang mengakibatkan obstruksi pada roingga hidung sehingga menghalangi aliran
odoran ke epitel olfaktori.
4. Defek sensorineural

Proses inflamasi

Proses inflamasi dapat diakibatkan infeksi virus yang merusak neuroepitel,


sarkoidosis yang mempengaruhi struktur saraf, maupun sklerosis multiple.
Inflamasi ini berakibat pada destruksi neuroepitelium olfaktorius yang dapat
mengganggu transmisi sinyal (stimulus odoran) ke epitel olfaktorius.
5. Penyebab congenital

21

Congenital dapat menjadi faktor penentu gangguan penciuman. Hal ini


dikarenakan kelainan yang bersifat congenital berakibat pada hilangnya struktur
saraf. Misalnya, Kallman syndrome mengakibatkan anosmia akibat gagalnya
ontogenesis struktur olfaktorius dan hipogonadisme hipogonadotropik.
6. Gangguan endokrin
Gangguan

endokrin

seperti

diabetes

mellitus,

hipotiroidisme,

maupun

hipoadrenalisme dapat mempengaruhi fungsi pembauan berupa gangguan persepsi


bau.
7. Trauma kepala
Trauma kepala pada basis fossa kranii anterior atau lamina kribiformis maupun
akibat proses pembedahan kepala atau saraf dapat menyebabkan regangan,
kerusakan, maupun terputusnya fila olfaktori halus sehingga menyebabkan
anosmia.
8. Toksisitas obat sistemik
Obat-obatan yang dapat mengubah sensitivitas bau yaitu obat neurotoksik (etanol,
amfetamin, kokain tropical, aminoglikosida, tetrasiklin, asap rokok).
9. Defisiensi gizi
Defisiensi gizi berupa vitamin A, thiamin, maupun zink terbukti dapat
mempengaruhi fungsi pembauan.
10. Penurunan jumlah serabut bulbus olfaktorius
Penurunan serabut bulbus olfaktorius sebesar 1% per tahun akibat penurunan selsel sensorik pada mukosa olfaktorius dan penurunan fungsi kognitif di susunan
saraf pusat.
11. Proses degenerative.
Proses degenerative pada sistem saraf pusat berupa penyakit Parkinson,
Alzheimer, dan proses penuaan normal dapat mengakibatkan hiposmia. Pada
Alzheimer, hilangnya fungsi pembauan merupakan gejala pertama proses
penyakitnya. Sedangkan proses penuaan, terjadi penurunan penciuman yang lebih
pesat daripada pengecapan dan penurunan paling pesat terjadi pada usia 70an.
Untuk

mengidentifikasi

adanya

gangguan

penciuman

diperlukan

pemeriksaan fisik untuk menentukan sensasi kualitatif dan ambang batas deteksi.
22

1. Pemeriksaan fisik untuk emenentukan sensasi kualitatif


Pemeriksaan fisik untuk emenentukan sensasi kualitatif yang paling sederhana
dapat menggunakan bahan-bahan odoran berbeda. Contohnya kopi, vanilla, selai
kacang, jeruk, limun, coklat, dan lemon. Pasien diminta untuk mengidentifikasi
bau dengan mata tertutup dan kemudian mencium aroma dari bahan-bahan odoran
tersebut.
Sedangkan saat ini terdapat beberapa metode yang tersedia untuk pemeriksaan
penciuman, yaitu:
a.

Tes odor stix

Uji ini menggunakan pena penghasil bau-bauan. Penba ini dipegang dalam jarak
sekitar 3-6 inci dari hidung pasien untuk mengkaji persepsi bau pasien secara
kasar.
b.

Tes alkhohol 12 inci

Merupakan metode pemeriksaan persepsi bau secara kasar dengan menggunakan


paket alkhohol isopropil yang dipegang pada jarak 12 inci.
c.

Scratch and sniff card

Metode ini menggunakan kartu yang memiliki 3 bau untuk menguji penciuman
secara kasar.
d.

The University of Pennsylvania Smell Identification Test (UPSIT)

Merupakan metode paling baik untuk menguji penciuman dan paling


direkomendasikan. Uji ini menggunakan 40 item pilihan ganda berisi bau-bauan
berbentuk kapsul mikro. Orang yang kehilangan seluruh fungsi penciumannya
memiliki skor kisaran 1-7 dari skor maksimal 40. Untuk anosmia total, skor yang
dihasilkan lebih tinggi karena terdapat adanya sejumlah bau-bauan yang bereaksi
terhadap rangsangan terminal.
e.

Pemeriksaan fisik untuk emenentukan ambang batas

23

Penentuan ambang deteksi bau menggunakan alkhohol feniletil yang ditetapkan


dengan menggunakan rangsangan bertingkat. Masing-masing lubang hidung harus
diuji sensitivitasnya melalui ambang deteksi untuk fenil-etil metil etil karbinol.
2.2.4

Lidah

A. Pengkajian & Pemeriksaan Fisik Sistem Indera Pengecapan


Pada hakekatnya, lidah mempunyai hubungan erat dengan indera khusus
pengecap. Zat yang memberikan impuls pengecap mencapai sel reseptor lewat
pori pengecapan. Ada empat kelompok pengecap atau rasa yaitu manis, asin,
asam, dan pahit.
Gangguan indera pengecap biasanya disebabkan oleh keadaan yang
mengganggu tastants atau zat yang memberikan impuls pengecap pada sel
reseptor dalam taste bud (gangguan transportasi) yang menimbulkan cedera sel
reseptor (gangguan sensorik) atau yang merusak serabut saraf aferen gustatorius
serta lintasan saraf sentral gustatorius (gangguan neuron).
Manifestasi klinis dari indera pengecap apabila dilihat dari sudut pandang
psikofisis, gangguan pada indera pengecap dapat digolongkan menurut keluhan
pasien atau menurut hasil pemeriksaan sensorik yang objektif missal sebagai
berikut.
1. Ageusia total adalah ketidakmampuan untuk mengenali rasa manis, asin,
pahit, dan asam.
2. Ageusia parsial adalah kemampuan mengenali sebagian rasa saja.
3. Ageusia spesifik adalah ketidakmampuan untuk mengenali kualitas rasa
pada zat tertentu.
4. Hipogeusia total adalah penurunan sensitivitas terhadap semua zat
pencetus rasa.
5. Hipogeusia parsial adalah penurunan sensitivitas terhadap sebagian
pencetus rasa.
6. Disgeusia adalah kelainan yang menyebabkan persepsi yang salah ketika
merasakan zat pencetus rasa.

24

Pasien dengan keluhan hilangnya rasa bisa dievaluasi secara psikofisis


untuk fungsi gustatorik selain menilai fungsi olfaktorius. Langkah pertama
melakukan tes rasa seluruh mulut untuk kualitas, intensitas, dan persepsi
kenyamanan dengan sukrosa, asam sitrat, kafein, dan natrium klorida.
Tes rasa listrik (elektrogustometri) digunakan secara klinis untuk mengidentifikasi
defisit rasa pada kuadran spesifik dari lidah. Biopsi papilla foliate atau
fungiformis untuk pemeriksaan histopatologik dari kuncup rasa masih
eksperimental akan tetapi cukup menjanjikan mengetahui adanya gangguan rasa.

2.2.5

Kulit

A. Pengkajian & Pemeriksaan Fisik Sistem Indera Perabaan


Pemeriksaan fisik indra perabaan didasarkan pada sensibilitas. Pemeriksaan fisik
sensori indra perabaan (taktil) terbagi atas 2 jenis, yaitu basic sensory modalities
dan testing higher integrative functions. Basic sensory modalities (pemeriksaan
sensori primer) berupa uji sensasi nyeri dan sentuhan, uji sensasi suhu, uji sensasi
taktil, uji propiosepsi (sensasi letak), uji sensasi getar (pallestesia), dan uji sensasi
tekanan. Sedangkan testing higher integrative functions (uji fungsi integratif
tertinggi) berupa stereognosis, diskriminasi 2 titik, persepsi figure kulit
(grafitesia), ekstinksi, dan lokalisasi titik.
Sensasi raba dihantarkan oleh traktus spinotalamikus ventralis. Sedangkan
sensasi nyeri dan suhu dihantarkan oleh serabut saraf menuju ganglia radiks
dorsalis dan kemudian serabut saraf akan menyilang garis tengah dan akan masuk
menuju traktus spinotalamikus lateralis kontralateral yang akan berakhir di
talamus sebelum dihantarkan ke korteks sensorik dan diinterpretasi. Adanya lesi
pada traktus-traktus tersebutlah yang dapat menyebabkan gangguan sensorik
tubuh.
1. Basic sensory modalities(pemeriksaan sensori primer)
a.

Uji sensasi nyeri dan sentuhan

25

Uji sensasi nyeri dan sentuhan terbagi menjadi 2 macam, yaitu nyeri
superficial (tajam-tumpul) dan nyeri tekan.
1)

Nyeri superficial
Merupakan metode uji sensasi dengan menggunakan benda yang

memiliki 2 ujung, yaitu tajam dan tumpul. Benda tersebut dapat berupa
peniti terbuka maupun jarum pada reflek hammer. Pasien dalam keadaan
mata terpejam saat dilakukan uji ini dan dilakukan pengkajian respon
melalui pertanyaan apa yang anda rasakan? dan membandingkan sensasi
2 stimulus yang diberikan. Apabila terjadi keraguan respon maupun
kesulitandan ketidakmampuan dalam membedakan sensasi, maka hal ini
mengindikasikan adanya deficit hemisensori berupa analgesia, hipalgesia,
maupun hiperalgesia pada sensasi nyeri. Sedangkan gangguan pada sensasi
sentuhan berupa anestesia dan hiperestesia.
2)

Nyeri tekan

Merupakan metode uji sensori dengan mengkaji nyeri melalui penekanan


pada tendon dan titik saraf. Metode ini sering digunakan dalam uji sensori
protopatik (nyeri superficial, suhu, dan raba) dan uji propioseptik (tekanan,
getar, posisi, nyeri tekan). Misalnya, berdasarkan Abadie sign pada daerah
dorsalis, tekanan ringan yang diberikan pada tendon Achilles normalnya
adalah hilang. Dengan kata lain tidak dapat dirasakan sensasi nyeri bila
diberikan tekanan ringan pada tendon Achilles.
b.

Uji sensasi suhu


Uji sensasi suhu pada dasarnya lebih direkomendasikan apabila pasien

terindikasi gangguan sensasi nyeri. Hal ini dikarenakan pathways dari indra nyeri
dan suhu saling berbuhungan. Metode ini menggunakan gelas tabung yang berisi
air panas dan dingin. Pasien diminta untuk membedakan sensasi suhu yang
dirasakan tersebut. Apabila pasien tidak dapat membedakan sensasi,maka pasien
dapat diindikasikan mengalami kehilangan slove and stocking (termasuk dalam
gangguan neuropati perifer).
26

c.

Uji sensasi taktil

Uji sensasi taktil dilakukan dengan menggunakan sehelai dawai (senar) steril atau
dapat juga dengan menggunakan bola kapas. Pasien yang dalam keadaan mata
terpejam akan diminta menentukan area tubuh yang diberi rangsangan dengan
memberikan hapusan bola kapas pada permukaan tubuh bagian proksimal dan
distal. Perbandingan sensitivitas dari tubuh proksimal dan distal akan menjadi
tolak ukur dalam menentukan adanya gangguan sensori. Indikasi dari gangguan
sensori pada uji sensasi taktil ini berupa hyperestetis, anastetis, dan hipestetik.
d.

Uji propiosepsi (sensasi letak)

Uji ini dilakukan dengan menggenggam sisi jari pada kedua tungkai yang
disejajarkan dan menggerakkannya ke arah gerakan jari. Namun yang perlu
diperhatikan adalah menghindari menggenggam ujung dan pangkal jari atau
menyentuh jari yang berdekatan karena lokasi sensasinya mudah ditebak
(memberikan isyarat sentuh). Pasien yang dalam keadaan mata terpejam diminta
untuk menentukan lokasi jari yang digerakkan.
Selain itu, uji ini juga dapat dilakukan dengan menguji posisi sensasi di sendi
metakarpalia palangeal untuk telapak kaki besar. Orang muda normal memiliki
derajat diskriminasi sebesar 1 sampai 2 derajat untuk gerakan sendi distal jari dan
3 sampai 5 derajat untuk kaki besar.
e.

Uji sensasi vibrasi (pallestesia)

Uji sensasi vibrasi dilakukan menggunakan garpu tala frekuensi rendah (128 atau
256 Hertz) yang diletakkan pada bagian tulang yang menonjol pada tubuh pasien.
Kemudian pasien diminta untuk merasakan sensasi yang ada dengan memberikan
tanda bahwa ia dapat merasakan sensasi getaran. Apabila pasien masih tidak bisa
merasakan sensasi getaran, maka perawat menaikkan frekuensi garputala sampai
pasien dapat merasakan sensasi getaran tersebut. Pasien muda dapat merasakan
getaran selama 15 detik di ibu jari kaki dan 25 deti di sendi distal jari. Sedangkan
pasien usia 70 tahun-an merasakan sensasi getaran masing-masing selama 10
detik dan 15 detik.
27

f.

Uji sensasi tekanan

Uji sensasi tekanan menerapkan kemampuan pasien dalam membedakan tekanan


dar sebuah objek pada ujung jari. Uji ini dilakukan dengan cara menekan aspek
tulang sendi dan subkutan untuk mempersepsikan tekanan. Rekomendasi untuk uji
tekanan ini diutamakan pada penderita diabetes dan dilakukan minimal sekali
setahun.

2.

Testing higher integrative functions(uji fungsi integratif tertinggi)


a.

Stereognosis

Stereognosis merupakan kemampuan untuk mengenali objek dengan perasaan. Uji


ini merupakan identifikasi benda yang dikenal dan diletakkan di atas tangan
pasien sehingga pasien dapat mengidentifikasi benda yang berada di tangannya.
Adanya kesulitan identifikasi benda (gangguan stereognosis) mengindikasikan
adanya lesi pada kolumna posterior atau korteks sensori.
b.

Diskriminasi 2 titik

Diskriminasi 2 titik merupakan metode identifikasi sensasi 2 titk dari penekanan 2


titik pin yang berada pada permukaan kulit. Uji ini terus dilakukan berulang
hingga pasien tidak dapat mengidentifikasi sensasi 2 titik yang terpisah. Lokasi
yang sering digunakan untuk uji ini adalah ujung jari, lengan atas, paha, dan
punggung. Adanya gangguan identifikasi 2 titik mengindikasikan adanya lesi pada
kolumna posterior atau korteks sensori.
c.

Identifikasi angka (grafitesia)

Grafitesia merupakan metode penggambaran angka di mana nantinya pasien


diminta untuk mengidentifikasi angka yang tergambar pada telapak tangan.
Metode grafitesia dapat menggunakan ujung tumpul pulpen sebagai media
stimuli. Kesulitan pada identifikasi angka menunjukkan adanya glesi pada
kolumna posterior atau korteks sensori.
d.

Ekstinksi
28

Ekstinksi merupakan salah satu uji sensori yang menggunakan metode sentuhan
pada kedua sisi tubuh. Uji ini dilakukan pada saat yang sama dan lokasi yang
sama pada kedua sisi tubuh, misalnya lengan bawah pada kanan dan kiri lengan.
Apabila pasien tidak bisa menggambarkan jumlah titik lokasi sentuhan (biasanya
psien hanya merasakan satu sensasi), maka dapat dipastikan pasien teridentifikasi
adanya lesi sensoris.
e.

Lokalisasi titik

Lokalisasi titik merupakan metode didentifikasi letak lokasi sensasi stimulus.


Metode ini dilakukan dengan cara memberikan sensasi sentuhan ringan pada
permukaan kulit dan meminta pasien untuk menyebutkan atau menunjukkan letak
sensasi yang dirasakan. Adanya penurunan sensasi sensori dibuktikan dengan
adanya ketidak-akuratan identifikasi lokalisasi. Hal ini disebabkan adanya lesi
pada korteks sensori sehingga terjadi penurunan maupun hilangnya sensasi
sentuhan pada sisi tersebut.

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan

29

Sistem indera berperan penting dalam hantaran informasi ke sistem saraf


pusat mengenai lingkungan sekitarnya. Pemeriksaan fisik pada sistem indera ini
sangat kompleks karena harus melibatkan pemeriksaan pada kelima sistem indra
tubuh yaitu penglihatan, pendengaran, pengecap, pembau, dan peraba.
Gangguan pada sistem indera disebabkan oleh adanya lesi pada saraf yang
mengatur sensori tubuh. Lesi-lesi tersebut dapat menghambat hantaran impuls
saraf. Pemeriksaan fisik sensori dapat dilakukan pada berbagai usia dan dilakukan
untuk dapat menentukan atau mengetahui apakan pasien tersebut mengalami
gangguan pada saraf sensorinya.

3.2 Saran
Perawat hendaknya dapat mempraktekkan dan menguasai teknik dalam
pemeriksaan fisik sistem indera agar dapat menentukan tindakan asuhan
keperawatan secara efektif.

DAFTAR PUSTAKA

http://kurniasariwika1.blogspot.co.id/2012/05/pengkajian-fisik-pada-sistem
sensori.html (diakses tanggal 17 Maret 2016).

30

https://alvivo23.wordpress.com/2012/06/04/pemeriksaan-fisik-sistem-sensori/
(diakses tanggal 17 Maret 2016).
fk.unand.ac.id/images/BLOK_3.6_update.pdf (diakses tanggal 17 Maret 2016).
http://dokumen.tips/documents/pemeriksaan-fisik-sistem-indera.html (diakses
tanggal 17 Maret 2016).
http://ners.unair.ac.id/materikuliah/MP_PEMERIKSAAN%20FISIK
%20TELINGA_NEW.pdf (diakses tanggal 17 Maret 2016).
https://lyrawati.files.wordpress.com/2008/07/prinsip-dan-metode-pemeriksaanfisik-dasar.pdf (diakses tanggal 17 Maret 2016).

31