Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Varicella terdapat diseluruh dunia dan tidak ada perberdaan ras maupun
jenis. Varicella terutama mengernai anak anak yang berusia 20 tahun terutama
pada usia 3-6 tahun dan hanya sekitar 2 % terjadi pada orang deewasa. Di
Amerika, vericella sering terjadi pada anak- anak di bawah usia 10 tahun dan 5
% kasus terjadi pada anak-anak di bawah 6 tahun sebanyak 81,4 %.
Insiden terjadinya herpes zoster meningkat sesuai dengan pertambahan
umur dan biasanyua jarang mengernai anak anak. Di Amerika, herpes zoster
jarang terjadi pada anam-anak, Dimana lebih dari 66 % mengenai usia lebih
dari 50 tahun, kurang dari 10% mengenai usia dibawah 20 tahun 5% mengenai
usia kurang dari 15 tahun. Walaupun herpes zoster merupakan penyakit yang
sering di jumpai pada orang dewasa, namun herpes zoster dapat juga terjadi
pada bayi yang baru lahir apabila ibunya menderita herpes menderita herpes
zoster pada masa kehamilan. Dari hasil penelitian, di temukan sekitar 3%
herrpes zoster pada anak, biasanya di temukan pada anak-anak yang
imonokompromis dan menderita penyakit keganasan.
Pada tahun 1767, Heberden dapat membedakan dengan jelas antara
chickenpox dan smallpox, yang di yakini kata chickenpox berasal dari
bahasa inggris yaitu gican yang maksudnya penyakit gatal ataupun berasal
dari kata prancis yaitu chiche-pois, yang menggambarkan ukuran dari vesikel.
Pada tahun 1888, Von Bokay menemukan hubungan antara vericella dan herpes
zoster, ia menemukan bahwa varicella di curugai berkembang dari anak-anak
yang terpapar dengan seorang yang menderita herpes zoster akut. Pada tahum
1943, Garland mengetauhui terjadinya herpes zoster akibat reaksi virus yang
laten. Pada tahun 1952, weller dan stoddard melakukan penelitian secara
invitro, mereka menemukan varicella dan herpes zoster disebabkan oleh virus
yang sama.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat membuat rumusan
masalah yaitu sebagai berikut :
1. Apa definisa dari varicella ?
2. Apa tanda dan gejala dari penyakit varicella ?
3. Apa etiologi dari penyakit varicella ?
4. Bagaimana patofisiologi dari varicella ?
5. Bagaimana woc dari varicella ?

C.

Tujuan

D.

Manfaat

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Varicella
Varicella berasal dari bahasa latin, Varicella. Di Indonesia penyakit ini
dikenal dengan istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama
Chickenpox. Varicella adalah Penyakit Infeksi Menular yang disebabkan oleh
virus Varicella Zoster, ditandai oleh erupsi yang khas pada kulit. Varicella atau
cacar air merupakan penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus
Varicella Zoster dengan gejala-gejala demam dan timbul bintik-bintik merah
yang kemudian mengandung cairan.
Varicella merupakan suatu inveksi yang di sebabkan oleh virus varicella
zoster yang menyerang kulit dan mukosa dengan kelainan berbentuk vasikula
yang tersebar. Inveksi ini terutama menyerang anak-anak dan bersif mudah
menular.
Varicella adalah suatu penyakit infeksi virus akut dan menular, yang
disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV) dan menyerang kulit serta
mukosa, ditandai oleh adanya vesikel-vesikel. (Rampengan, 2008).
Varicella (Cacar Air) adalah penyakit infeksi yang umum yang biasanya
terjadi pada anak-anak dan merupakan akibat dari infeksi primer Virus
Varicella Zoster.
B. Etiologi Varicella
Varicella disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV), termasuk
kelompok Herpes Virus dengan diameter kira-kira 150-200 nm. Inti virus
disebut Capsid, terdiri dari protein dan DNA dengan rantai ganda, yaitu rantai
pendek (S) dan rantai panjang (L) dan membentuk suatu garis dengan berat
molekul 100 juta yang disusun dari 162 capsomir dan sangat infeksius.
Varicella Zoster Virus (VZV) dapat ditemukan dalan cairan vesikel dan
dalam darah penderita Varicella sehingga mudah dibiakkan dalam media yang
terdiri dari Fibroblast paru embrio manusia.

Varicella Zoster Virus (VZV) dapat menyebabkan Varicella dan Herpes Zoster.
Kontak pertama dengan penyakit ini akan menyebabkan Varicella, sedangkan
bila terjadi serangan kembali, yang akan muncul adalah Herpes Zoster,
sehingga Varicella sering disebut sebagai infeksi primer virus ini.
C. Patofisiologi
Virus masuk kedalam tubuh melalui mukosa traktur respiratorius bagian atas orofaring
yaitu virus berpindah dari satu orang keorang lain melalui precikan ludah yang berasal dari
batuk atau bersing penderita yang di terbangkan melalui udara dan kontak langsung melalui
kulit yang terinfeksi, kemudian virus tersebut mengalami multiplikasi awal setempat dan
virus yang menyebar kepembuluh darah dan saluran linfe ( viramia primer ). Kemudian akan
dimakan oleh sel-sel system retikuloendotial. Di sini terjadi replikasi virus lebih banyaka lagi (
pada periode inkubasi ). Pada masa ini, inveksi di hambat oleh imunitas non spesifik. Pada
kebanyakan individu, replikasi virus lebih menonjol atau lebih dominan di bandingkan
imunitas tubuhnya sehingga dalam waktu dua minggu setelah inveksi, terjadi viremia yang
lebih hebat (viremia sekunder). Hal ini menyebabkan panas dan malaise, serta virus
menyebar keseluruh tubuh lewat aliran tubuh, terutama di kulit dan membran mukosa.
D. Tanda dan Gejala
1. Stadium prodromal
Gejala timbul setelah 14-15 hari masa inkubasi dengan timbulnya
ruam kulit disertai demam, malaise,. Pada anak lebih besar-besar
dan dewasa didahului oleh demam selam 2-3 hari sebelumnya,
mengigil, malaise, nyeri, kepala, anoreksia, nyeri punggung, dan
pada beberapa kasus nyeri tenggorok dan batuk.
2. Stadium Eupsi
Ruam kulit muncul dimuka, dan kulit kepala, badan dan
ekstremitas. penyebaran lesi varicella menjadi krusta 8-12 jam
dan akan akan lepas dalam waktu 1-3 minggu tergantung kepada
dalamnya kelainan kulit.

E. WOC
Imunitas tubuh

Riwayat kontak dg px
varicella
Virus varicella zooster

Invasi virus melalui saluran pernapasan / kontak langsung


Mukosa napas

Orofaring
Virus bereplikasi
Virus menyebar melalui

Pembuluh darah

Limfe (viremia primer)

Pasien tidak mengetahui


penyakitnya

Virus bereplikasi ke organ-organ


Virus mencapai kulit

Kurang sumber informasi


Varicella

MK : Defisiensi
pengetahuan

Pelepasan
mediator kimia
(prostaglandin)
Pelepasan
mediator kimia
(prostaglandin)
Gangguan di
hypothalamus
Suhu tubuh
MK :
Hipertermi

Reaksi inflamasi

Kerusakan saraf
perifer

Replikasi di sel
epidermal

Kerusakan
saraf perifer

Replikasi di sel
epidermal

MK : Nyeri
akut

Vakuolisasi sel
dan lisis
Terjadi makula
Timbul papula
Vesikula
Pasien malu
dengan
kondisinya
MK :
Gangguan citra
5
tubuh

Cairan vesikula mengeruh


menjadi pustula
Pustula pecah

Pustula mengering
menjadi krusta
Respon
menggaruk
Lesi pada kulit
MK :
Kerusakan
integritas kulit

Timbul gatal saat proses


penyembuhan
Pasien mengeluh gatal
Kualitas dan kuantitas
tidur
MK : Gangguan pola
tidur

F. Manifestasi Klinis
Diawali dengan gejala melemahnya kondisi tubuh.
1. Pusing.
2. Demam dan kadang-kadang diiringi batuk.
3. Dalam 24 jam timbul bintik-bintik yang berkembang menjadi lesi (mirip
kulit yang terangkat karena terbakar).
Terakhir menjadi benjolan - benjolan kecil berisi cairan. Sebelum
munculnya erupsi pada kulit, penderita biasanya mengeluhkan adanya rasa
tidal enak badan, lesu tidak nafsu makan dan sakit kepala. 1-2 hari
kemudian muncul erupsi kulit yang kas.
Munculnya erupsi pada kulit diawali dengan bintik-bintik berwarna
kemerahan (makula), yang kemudian berubah menjadi papula (penonjolan
kecil pada kulit), papula kemudian berubah menjadi vesikel (gelembung
kecil berisi cairan jernih) dan akhirnya cairan dalam gelembung tersebut
menjadi keruh (pustula). Bila tidak terjadi infeksi, biasanya pustel akan
mengering tanpa meninggalkan abses.
G. Pemeriksaan diagnostic
Untuk pemeriksaan varicella dapat dilakukan beberapa test yaitu :
1. Tzanck smear
a. Preparatdiambil dari discping dasar vesikel yang masih baru, kemudian
diwarnai

dengan

pewarnaan

yaitu

hematoxylin-eosin,

Giemsas,

Wrights, toluidine blue ataupun papanicolaous. dengan mengunaklan


mikroskop cahaya akan di jumpai multinucleated giant cells.
b. Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84%.
c. Test ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan
herpes simpleks virus.
2. Direct fluorescent assay ( DFA )
a. Preparat dari scraining dasar vesicell tetapi apa bila sudah berbentuk
b.
c.
d.
e.

krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitif


Hasil pemeriksaan cepat
Membutuhkan mikroskop fluorescence .
Test ini dapat menemukan antigen virus varicella zoster.
Pemeriksaan ini dapat menemukan antigen virus varicella zoster

simpleks virus.
3. Polymerase chain reaction ( PCR )
a. Pemeriksaan dengan metode ini sangat sensitif
b. Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti
scraping dasar vesikel dan apa bila sudah berbentuk krusta dapat juga di
gunakan sebagai preparat, dan CSF
c. Sensitifitasnya berkisar 97-100%
d. Test ini dapat menemukan nucleic acid dari virus varicella zoster
4. Biopsi kulit
Hasil pemeriksaan histopalogis : tampak vesikel intraepidermal dengan
degenerasi sel epidermal dan acantholysis. Pada bagian atas dijumpai
adanya lymphpocytic infiltrate
G. Penatalaksanaan
Varicella pada anak imunokompeten, biasanya tidak di perlukan pengobatan
yang spesifik dan pengobatan yang di berikan bersifat simtomatis yaitu :
1. Lesi masih berbentuk vesikel, dapat diberikan bedak agar tidak mudah
pecah.
2. Vesikel yang sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat di berikan
salep antibiotik Untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
3. Dapat di berikan antipiretik dan analgetik, tetapi tidak boleh golongan
salisilat ( aspirin ) untuk menghindari terjadinya sindroma Reye.
4. Kuku jari tangan harus di potong untuk mencegah terjadinya infeksi
sekunder akibat garukan.
Obat antivirus
1. Pemberin antivirus dapat mengurangi lama sakit, keparahan dan waktu
penyembuhan akan lebih singkat.
7

2. Pemberian antivirus sebaiknya dalam jangka waktu kurang dari 48-72 jam
setelah erupsi dikulit muncul.
3. Golongan anti virus yang dapat di berikan yaitu asiklovir dan famasiklovir.
4. Dosis anti virus ( oral ) untuk pengobatan varicella dan herpes zoster :
Neonatus : Asiklovir 500 mg / m2 IV setiap 8 jam selama 10 hari. Anak ( 212 tahun) : Asiklovir 4 x 20 mg / kg BB/ hari/oral.
H. Pencegahan
Pada anak imunokompeten yang telah menderita varicella tidak diperlukan
tindakan pencegahan, tetapi tindsakan pencegahan di tujukan pada kelompok
yang berisiko tinggi untuk menderita varicella yang fatal seperti neonatus,
pubertas, atau orang dewasa, dengan tujuan mencegah ataupun mengurangi
gejala varicella.
Tindakan pencegahan yang dapat di berikan :
1. Imunisasi pasif
a. Menggunakan PZIG ( Varicella zoster immunoglobulin )
b. Pemberiannya dalam waktu 3 hari ( < 96 jam )setelah terpajan VZV, pada
anak-anak imunokompeten terbukti mencegah varicella sedangkan pada
anak imunokompromais pemberian VZIG dapat meringankan gejala
varicella.
c. VZIG dapat diberikan pada yaitu :
1) Anak-anak yang berusia < 15 tahun yang belum pernah menderita
varicella atau herpes zoster.
2) Usia pubertas > 15 tahun yang belum pernah menderita varicella atau
herpes zoster dan tidak mempunyai antibodi terhadap VZV.
3) Bayi yang baru lahir, dimana ibunya menderita varicella dalam kurun
waktu 5 hari sebelum / 48 jam setelah melahirkan.
4) Bayi prematur dan bayi usia < 14 hari yang ibunya belum pernah
menderita varicella atau herpes zoster.
5) Anak-anak yang menderta leukimia atau lymphoma yang belum perah
menderita varicella
d. Dosis : 125 u/10 kg BB
Dosis minimum : 125 U dan dosis maximal : 625 U.
e. Pemberian secara IM tidak di berikan IV
f. Perlindungan yang di dapat bersifat sementara
2. Imunisasi aktif

a. Vaksinasinya menggunakan vaksin varicella virus (Oka strain) dan


kekebalan yang di dapat dapat bertahan hingga 10 tahun.
b. Digunakan di Amerika sejak tahun 1995
c. Daya proteksi melawan varicella berkisar antara 71-100%
d. Vaksin efektif jika diberikan pada umur > 1 tahun dan di rekomendasikan
di berikan pada usia 12-18 bulan.
e. Anak yang berusia < 13 tahun yang tidak menderita varicella di
rekomendasikan di berikan dosis tunggal dan anak lebih tua di berikan
dalam 2 dosis dengan jarak 4-8 minggu.
f. Pemberian secara subkutan
g. Efek samping : kadang-kadang dapat timbul demam ataupun reaksi lokal
seperti ruam makulopapular atau vesikel, terjadi pada 3-5 % anak-anak
dan timbul 10-21 hari setelah pemberian pada lokasi penyuntikan.
h. Vaksin varicella : varivax
i.
Tidak boleh di berikan pada wanita hamil oleh karena dapat
mneyebabkan terjadinya kongenital varicella.
I. Komplikasi
Pada anak imunokompeten, biasanya dijumpai varicella yang rinngan sehingga
jarang dijumpai komplikasi.
Komplikasi yang dapat dijumpai pada varicella yaitu :
1. Infeksi sekunder pada kulit yang di sebabkan oleh bakteri
a. Sering dijumpai infeksi pada kulit dan timbul pada anak-anak yang
berkisar antara 5-10%. Lesi pada kulit tersebut menjadi tempat masuk
organisme yang virulen dan apabila infeksi meluas dapat menimbulkan
impetigo, furunkel, cellulitis, dan erysepelas.
b. Organisme infeksius yang sering menjadi
2.

penyebab

adalah

streptocococcus grup A dan staphylococcus aureus.


Scar
Timbul scar yang berhubungan dengan infeksi staphylococcus atau

streptococcus yang berasal dari garukan.


3. Pneumonia
Dapat timbul pada anak-anak yang lebih tua dan pada orang dewasa, yang
dapat menimbulkan keadaan fatal. Pada orang dewasa insiden varicella
pneumonia sekitar 1:400 kasus.
4. Neurologik
a. Acute postinfeksius cerebellar ataxia
1) Ataxia sering muncul tiba-tiba, selalu terjadi 2-3 minggu setelah
timbulnya varicella. Keadaan ini dapat menetap selama 2 bulan.

2) Manifestasinya berupa tidak dapat mempertahankan posisi berdiri


hingga tidak mampu untuk berdiri dan tidak adanya koordinasi dan
dysarthria.
3) Insiden berkisar 1:4000 kasus varicella
b. Encephalitis
1) Gejala ini sering timbul selama terjadinya akut varicella yaitu
beberapa hari setelah timbulnya ruam, Lethargy, drawsiness dan
confusion adalah gejala yang sering dijumpai.
2) Beberapa anak mengalami seizure dan perkembangan encephalitis
yang cepat dapat menimbulkan koma yang dalam.
3) Merupakan komplikasi yang serius dimana angka kematian berkisar 520%
4) Insiden berkisar 1,7/100.000 penderita.
5. Herpes zoster
a. Komplikasi yang lambat dari varicella yaitu timbulnya herpes zoster,
timbul beberapa bulan hingga tahun setelah terjadinya infeksi primer.
b. Varicella zoster virus menetap pada ganglion sensoris
6. Reye syndrome
a. Ditandai dengan fatty liver dengan encephalophaty
b. Keadaan ini berhubungan dengan penggunaan aspirin, tetapi setelah di
gunakan acetaminophen (antipiretik) secara luas, kasus reye syndrom
mulai jarang di temukan.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
diagnosa medis, no register dan tanggal MRS. Infeksi ini terutama terserang
anak-anak dan bersifat mudah menular
2. Keluhan Utama
Klien datang ke pusat kesehatan dengan keluhan badanya terasa demam
seperti akan flu dan terdapat ruam yang berisi air d sekitar tubuhnya.
3. Riwayat Penyakit Dahulu.
Klien mengatakan tidak pernah mengalami penyakit kulit sebelumnya.
10

4. Riwayat Penyakit Sekarang.


Saaat ini klien merasa badanya terasa panas seperti akan flu dan terdapat
ruam merah pada bagian tubuhnya dan tersa nyeri apabila di pegang.
Sebelumnya klien belum pernah periksa kesehatan ke pusat kesehatan.
Klien mengonsumsi obat dari warung berupa obat flu karena klien
menyangka dirinya akan terkena flu.
5. Riwayat Penyakit Keluarga.
Sebelumnya tetengga dari klien pernah mengalami penyakit cacar air dan
klien sering berkunjung ke tetangganya saat cacarnya sudah mulai kering.
Tidak ada anggota keluarganya yang mnegalami keluhan sama seperti dia.
B. Pengkajian fokus
1. Aktivitas / Istirahat
Tanda : penurunan kekuatan tahanan
2. Integritas ego
Gejala : masalah tentang keluarga, pekerjaan, kekuatan, kecacatan.
Tanda : ansietas, menangis, menyangkal, menarik diri, marah.
3. Makan/cairan
Tanda : anorexia, mual/muntah
4. Neuro sensori
Gejala : kesemutan area bebas
Tanda : perubahan orientasi, afek, perilaku kejang (syok listrik), laserasi
corneal, kerusakan retinal, penurunan ketajaman penglihat
5. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Sensitif untuk disentuh, ditekan, gerakan udara, peruban suhu.
6. Keamanan
Tanda : umum destruksi jaringan dalam mungkin terbukti selama 3-5 hari
sehubungan dengan proses trambus mikrovaskuler pada kulit.
7. Data subjektif
Pasien merasa lemas, tidak enak badan, tidak nafsu makan dan sakit kepala.
8. Data Objektif :
a. Integumen : kulit hangat, pucat dan adanya bintik-bintik kemerahan pada
kulit yang berisi cairan jernih.
b. Metabolik : peningkatan suhu tubuh.
c. Psikologis : menarik diri.
d. GI : anoreksia.
e. Penyuluhan / pembelajaran : tentang perawatan luka varicela.
C. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi pada kulit
3. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan saraf perifer
4. Gangguan citra tubuh berhubungan denagn timbulnya papula

11

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan timbul gatal pada saat


penyembuhan
6. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi

D. Intervensi dan Rasional


1. Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi
Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam suhu
tubuh menurun
Kriteria hasil : suhu tubuh normal 36,5-37,5 0C
Intervensi

Rasional

a. Monitor suhu tubuh pasien

a. Peningkatan suhu tubuh yang

berkelanjutan
pada
pasien
varicella
akan
memberikan
komplikasi pada kondisi penyakit
yang
lebih
parah
(seperti
ensefalitis pascavaricella dan
pneumonia paskavaricella) efek
sekunder dari peningkatan tingkat
metabolisme umum dan dehidrasi
akibat dari hipertermia.
b. Beri kompres dingin di kepala
dan aksila

b. Memberikan respons dingin pada


pembuluh darah besar

c. Pertahankan tirah baring total


selam fase akut

c. Mengurangi peningkatan proses


metabolisme umum

d. Pertahankan
asupan
minimal 2500 ml sehari.

cairan

d. Selain sebagai pemenuhan hidrasi


tubuh, juga akan meningkatkan
pengeluaran panas tubuh melalui
sistem perkemihan, maka panas
tubuh juga dapat keluar melalui
urin.

e. Kolaborasi pemberian analgetik antipiretik .

e. Analgetik di perlukan untuk


penurunan
proses
nyeri.
Antipiretik di perlukan untuk
menurunkan panas tubuh dan
memberikan perasaan nyaman

12

pada pasien.

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi pada kulit


Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam
integritas kulit membaik
Kriteria hasil : tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Intervensi
a. Kaji kerusakan yang terjadi
pada kulit klien

a. Menjadi

Rasional
data
dasar

untuk

memberikan informasi intervensi


perawatan luka
keadaan

b. Pertahankan jaringan nekrotik

b. Mengetahui

integritas

dan kondisi sekitar luka.


c. Berikan perawatan kulit

c. Menghindari gangguan integritas

d. Kolaborasi dengan dokter untuk

kulit
d. Mencegah aktivitasi kuman yang

kulit.

pemberian antibiotik

bisa masuk

3. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan saraf perifer


Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam nyeri
berkurang /hilang atau teradaptasi.
Kriteria Hasil :
Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi.skala
nyeri 0-1 ( 0-4 ).
Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan
nyeri.
Pasien tidak gelisah.
Intervensi

Rasional

Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST

Menjadi parameter dasar untuk


mengetahui sejauh mana intervensi
yang diperlukan dan sebagai
evaluasi
keberhahilan
dari
intervensi
manajemen
nyeri
keperawatan.
Jelaskan dan bantu pasien dengan Pendekatan dengan menggunakan
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi relaksasi
dan
nonfarmakologi
dan non-invasif.
lainnya
telah
menunjukkan
13

Lakukan
manajemen
nyeri
keperawatan
Atur posisi fisiologis.
Istirahat klien

Manajemen lingkungan : lingkungan


tenang dan batasi pengunjung.

Ajarkan teknik relaksasi relaksasi


pernapasan dalam.
Ajarkan teknik distraksi pada saat
nyeri.

Lakukan manajemen sentuhan

Tingkatkan pengetahuan tentang


sebab-sebab
nyeri
dan
menghubungkan berupa lama nyeri
akan berlangsung.
Kolaborasi dengan dokter :
Pemberian analgetik.

keefektifan dalam mengurangi


nyeri.
Posisi fisiologis akan meningkatkan
asuhan 02 ke jaringan yang
mengalami iskemia.
Istirahat
akan
menurunkan
kebutuhan 02 jaringan perifer dan
akan meningkatkan suplai darah
pada pada jaringan yang mengalami
peradangan.
Lingkungan
tenang
akan
menurunkan
stimulus
nyeri
eksternal
dan
pembatasan
penunjang
akan
membantu
meningkatkan kondisi 02ruangan
yang akan berkurang apabila
banyak pengunjung yang ada
diruangan.
Meningkatkan asupan 02sehingga
akan menurunkan nyeri sekunder
dari iskemia jaringan.
Distraksi ( pengalihan perhatian )
dapat menurunkan stimulus internal
dengan mekanisme peningkatan
produksi endorfin dan endorfin dan
enkefalin yang dapat memblok
reseptor
nyeri
untuk
tidak
dikirimkan ke korteks serebri
sehingga menurunkan persepsi
nyeri.
Menajemen sentuhan pada saat
nyeri berupa sentuhan dukungan
psikologis
dapat
membantu
menurunkan nyeri. Masase ringan
dapat meningkatkan aliran darah
dan dengan otomatis membantu
suplai darah dan oksigen ke area
nyeri dan menurunkan sensasi nyeri.
Pengetahuan yang akan dirasakan
membantu mengurangi nyerinya
dan
dapat
membantu
mengembangkan kepatuhan pasien
pasien terhadap rencana terapeutik.
Analgetik memblok lintasan nyeri
sehingga nyeri akan berkurang.

4. Gangguan citra tubuh berhubungan denagn timbulnya papula


14

tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 Jam


citra diri pasien meningkat
kriteria Hasil :
Mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang
terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi.
Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi.
Intervensi

Rasional

Kaji perubahan dari


gangguan persepsi dan
sehubungan dengan derajat
ketidak manpuan

Menentukan bantuan individual


dalam menyusun rencana
perawatan atau atau pemilihan
intervensi

Identifikasi arti dari


kehilanan atau disfungsi
pada pasien

Beberapa pasien dapat


menerima secara efektif kondisi
perubahan fungsi yang di
alamainya, sedangkan yang lain
mempunyai kesulitan dlam
menerima perubahan fungsi
yang di alamai sehingga
memberikan dampak pada
kondisi koping maladaftif.

Anjurkan orang terdekat


untuk mengizinkan pasien
melakukan hal-hal
sebanyak-banyaknya untuk
dirinya

Menghidupkan kembali
perasaan kemandirian dan
membantuperkembanan harga
diri,serta mempengaruhi proses
rehabilitasi.

Dukung perilaku atau usaha


seperti peningkatan minat
atau partisipasi dalam
aktivitas rehabilitasi

Pasien dapat beradaptasi


terhadap perubahan dan
pengertian tentang peran
indvidu masa mendatang.

Monitor ganguan tidur


peningkatan kesulitan
konsentrasi, letargi, dan
withdrawl

Dapat mengindikasikan
terjadinya depresi yang
umumnya terjadi dimana
keadaan ini memerlukan
intervensi dan evaluasi lebih
lanjut.

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan timbul gatal pada saat


penyembuhan
Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam
kebutuhan tidur pasien terpenuhi
15

Kriteria hasil : pasien dapt tidur 7-8 jam per hari.


Intervensi

Rasional

Observasi TTV

Untuk mengetahui keadaan


umum pasien

Ciptakan lingkungan yang


nyaman

Lingkungan yang nyaman dan


tenang dapat membuat pasien
untuk cepat tidur

Berikan HE tentang pentingnya


tidur

Agar pasien mengerti tentang


pentingnya tidur

Hindari tidur saat siang atau


malam hari

Agar pada malam hari pasien


bisa tidur dengan nyenyak.

6. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi


Tujuan: dalam waktu 1 X 24 jam pasien mampu melaksananakan
apa yang telah di informasikan
Kriteria evaluasi:
Pasien terlihat mengalami penurunan potensi menularkan
penyakit yang ditunjukkan oleh kegagalan kontak pasien
Intervensi
Kaji tingkat pengetahuan
tentang penyakitnya

Rasional
pasien

Untuk mengetahui sebera paham


pasien terhadap penyakitnya,

Berikan health education kepada


pasien terhadap penyakit yang di
deritanya

Agar pasien mengetahui tenyang


penyakit yang di deritanya.

Identifikasi orang lain yang beresiko,


contoh anggotan rumah, sahabat

Orang yang terpajan ini perlu


program terapi obat untuk mencegah
penyebaran infeksi.

Kaji tindakan. Kontrol infeksi


sementara, contoh kebersihan dari
dan kontrak langsung kulit.

Dapat membantu menurunkan rasa


terisolasi pasien dengan membuang
stigma sosial sehubungan dengan
penyakit menular.

16

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Varicella berasal dari bahasa latin, Varicella. Di Indonesia penyakit ini dikenal
dengan istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama
Chickenpox. Varicella adalah Penyakit Infeksi Menular yang disebabkan oleh
virus Varicella Zoster, ditandai oleh erupsi yang khas pada kulit. Varicella atau
cacar air merupakan penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus
Varicella Zoster dengan gejala-gejala demam dan timbul bintik-bintik merah
yang kemudian mengandung cairan.
Varicella sering dijumpai pada anak anak sedangkan herpes zoster lebih
sering di jumpai pada usia yang lebih tua. Penanganan yang tepat dari kedua
penyakit diatas dapat mencegah timbulnya komplikasi yang berat pada anak
anak. Pemberian imunisasi pasif maupun aktif pada anak-anak,dapat mencegah
dan mengurangi gejala penyakit yang timbul.
B. SARAN
Kita sebagai perawat sebaiknya memahami dan dapat mengaplikasikan segala
sesuatu yang terdapat dimakalah ini agar terciptanya perawat yang professional
dalam menerapkan asuhan keperawatan secara komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA
Nurarif, Amin Huda. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : Medi Action.
Wilkiams, Lippincott. 2012. Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi
Keperawatan. Jakarta : EGC.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3425/1/08E00895.pdf
http://www.immunize.org/vis/in_var.pdf
17

https://www.scribd.com/doc/182536412/VARICELLA-patofisiologi

18