Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Acne vulgaris adalah penyakit kulit obstruktif dan inflamatif
kronik pada unit pilosebasea, merupakan dermatosis polimorfik dan
memiliki peranan poligenetik. Patogenesis acne meliputi empat faktor,
yaitu hiperproliferasi epidermis folikular, produksi sebum berlebihan,
inflamasi, dan aktivitas P. acnes. Gejala klinis acne berupa lesi
noninflamasi dan lesi inflamasi. Derajat berat acne berdasarkan tipe dan
jumlah lesi dapat digolongkan menjadi acne ringan, sedang, berat, dan
sangat berat. Androgen berperan penting tetapi derajat acne tidak
berkorelasi dengan kadar androgen serum. Pemilihan terapi acne secara
topikal dan/atau oral, bergantung pada derajat acne, distribusi lesi, derajat
inflamasi, lama sakit, respons terapi sebelumnya, dan efek psikososial.
Merokok dan produk olahan susu memiliki peranan pada acne.
Acne vulgaris atau jerawat, selanjutnya disebut acne, adalah
penyakit kulit obstruktif dan inflamatif kronik pada unit pilosebasea yang
sering terjadi pada masa remaja. Acne sering menjadi tanda pertama
pubertas dan dapat terjadi satu tahun sebelum menarche atau haid pertama.
Onset acne pada perempuan lebih awal daripada laki-laki karena masa
pubertas perempuan umumnya lebih dulu daripada laki-laki. Prevalensi
acne pada masa remaja cukup tinggi, yaitu berkisar antara 47-90% selama
masa remaja. Perempuan ras Afrika Amerika dan Hispanik memiliki
prevalensi acne tinggi, yaitu 37% dan 32%, sedangkan perempuan ras Asia
30%, Kaukasia 24%, dan India 23%.. Pada ras Asia, lesi inflamasi lebih
sering dibandingkan lesi komedonal, yaitu 20% lesi inflamasi dan 10%
lesi komedonal. Tetapi pada ras Kaukasia, acne komedonal lebih sering
dibandingkan acne inflamasi, yaitu 14% acne komedonal, 10% acne
inflamasi. Acne memiliki gambaran klinis beragam, mulai dari komedo,
papul, pustul, hingga nodus dan jaringan parut, sehingga disebut
dermatosis

polimorfik

dan

memiliki

peranan

poligenetik.

Pola

penurunannya tidak mengikuti hukum Mendel, tetapi bila kedua orangtua

pernah menderita acne berat pada masa remajanya, anak-anak akan


memiliki kecenderungan serupa pada masa pubertas. Meskipun tidak
mengancam jiwa, acne memengaruhi kualitas hidup dan memberi dampak
sosioekonomi pada penderitanya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut : Bagaimana konsep dasar penyakit dan Asuhan
Keperawatan pada Acne vulgaris ?
C. Tujuan
1. Mengetahui tentang pengertian Acne Vulgaris.
2. Mengetahui tentang etiologi dari Acne Vulgaris.
3. Mengetahui tentang tanda dan gejala dari Acne Vulgaris.
4. Mengetahui tentang atofisiologi dari Acne Vulgaris.
5. Mengetahui tentang penatalaksanaan terapi yang dibutuhkan untuk
Acne Vulgaris.
6. Mengetahui tentang konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien
dengan Acne Vulgaris.
D. Manfaat
Manfaat dibuatnya makalah ini dapat kami jelaskan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Mendiskripsikan pengertian tentang penyakit Acne Vulgaris.


Mahasiswa mampu memahami Manifestasi klinis dari Acne Vulgaris
Mahasiswa mampu memahami etiologi dari Acne Vulgaris
Mahasiswa mampu memahami Patofisiologi dari Acne Vulgaris
Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan diagnostic yang

dibutuhkan untuk Acne Vulgaris


6. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan terapi yang dibutuhkan
untuk Acne Vulgaris
7. Mendiskripsikan Asuhan Keperawatan pada pasien Acne Vulgaris

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi

Agne vulgaris (Jerawat) merupakan kelainan folikuler umum yang


mengenai folikel pilosebasea (folikel rambut) yang rentan dan paling
sering ditemukan di daerah muka, leher, serta badan bagian atas. Agne
ditandai

dengan

komedo

tertutup

(whitehead),

komedo

terbuka

(blackhead), papula, pustule, nodul dan kista. (Brunner & Suddarth, 2001)
Acne vulgaris ( jerawat ) penyakit kulit akibat perdangan kronik folikel
pilosebasea yang umunya terjadi pada masa remaja dengan gambaran
klinis berupa komedo, papula, pustul, nodus, dan kista pada tempat
predileksinya ( Arif Mansjoer, dkk. 2000)
Macam macam akne:
1. Ekskoriata terjadi pada individu yang memanipulasi jerawat secara
obsesif, dengan demikian dapat menimbulkan jaringan parut yang
banyak sekali.
2. Akne konglobata merupakan bentuk akne kistik yang paling berat
dengan kista profunda, komedo multiple dan jaringan parut yang
nyata. Keadaan ini dapat disertai demam, dan mungkin pasien perlu
dirawat dirumah sakit.
3. Akne koloidalis memiliki jaringan parut dan keloid multiple di tempat
tempat terdapat lesi akne.
B. Manifestasi Klinis
Akne vulgaris ditandai dengan empat tipe dasar lesi : komedo
terbuka dan tertutup, papula, pustula dan lesi nodulokistik. Satu atau lebih
tipe lesi dapat mendominasi; bentuk yang paling ringan yang paling sering
terlihat pada awal usia remaja, lesi terbatas pada komedo pada bagian
tengah wajah. Lesi dapat mengenai dada, pungguang atas dan daerah
deltoid. Lesi yang mendominasi pada kening, terutama komedo tertutup
sering disebabkan oleh penggunaan sediaan minyak rambut (akne
pomade). Mengenai tubuh paling sering pada laki-laki. Lesi sering
menyembuh dengan eritema dan hiperpigmentasi pasca radang sementara;
sikatrik berlubang, atrofi atau hipertrofi dapat ditemukan di sela-sela,
tergantung keparahan, kedalaman dan kronisitas proses (Darmstadt dan Al
Lane dalam Nelson 1999).
Akne dapat disertai rasa gatal, namun umumnya keluhan penderita
adalah keluhan estetika. Komedo adalah gejala patognomonik bagi akne
3

berupa papul miliar yang di tengahnya mengandung sumbatan sebum, bila


berawarna hitam mengandung unsure melanin disebut komedo hitam atau
komedo terbuka (black comedo, open comedo). Sedang bila berwarna
putih karena letaknya lebih dalam sehingga tidak mengandung unsure
melanin disebut komedo putih atau komedo tertutup (white comedo, close
comedo) (wasitaatmadja, 2007) Gradasi yang menunjukkan berat
ringannya akne diperlukan untuk pengobatan. Ada berbagai pola
pembagian gradasi akne yang dikemukakan. Menurut wasitaatmadja
(1982) dalam Djuanda (2003) di Bagian Imu Penyakit Kulit dan Kelamin
FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangun Kusumo membuat gradasi sebagai
berikut:
1. Ringan, bila beberapa lesi tak beradang pada satu predileksi, sedikit
lesi tak beradang pada beberapa tempat predileksi, sedikit lesi
beradang pada satu predileksi.
2. Sedang, bila banyak lesi tak beradang pada satu predileksi,
beberapa lesi tak beradang lebih dari satu predileksi, beberapa lesi
beradang pada satu predileksi, sedikit lesi beradang pada lebih dari
satu predileksi.
3. Berat, bila banyak lesi tak beradang pada lebih dari satu predileksi,
banyak lebih beradang pada satu atau lebih predileksi.
C. Etiologi
Berbagai faktor. Penyebab akne sangat banyak (multifaktorial),
antara lain: genetik, endokrin (androgen, pituitary sebotropic factor, dsb),
faktor makanan, keaktifan dari kelenjar sebasea sendiri, faktor psikis,
musim, infeksi bakteri (Propionibacterium acnes), kosmetika, dan bahan
kimia lainnya.
Penyebab yang pasti belum diketahui, tetapi banyak faktor yang
berpengaruh:
1. Sebum
Sebum merupakan faktor utama penyebab timbulnya akne.
Akne yang keras selalu disertai pengeluaran sebore yang banyak.
2. Genetik.
Faktor genetik memegang peranan penting terhadap
kemungkinan seseorang menderita akne. Penelitian di Jerman
4

menunjukkan bahwa akne terdapat pada 45% remaja yang salah


satu atau kedua orang tuanya menderita akne, dan hanya 8% bila
ke dua orang tuanya tidak menderita akne.
3. Ras
Warga Amerika berkulit putih lebih banyak menderita akne
dibandingkan dengan yang berkulit hitam dan akne yang diderita
lebih berat dibandingkan dengan orang Jepang.
4. Bakteria
Mikroba yang terlibat pada terbentuknya akne adalah
corynebacterium

acnes,

Stafilococcus

epidermidis,

dan

pityrosporum ovale. Dari ketiga mikroba ini yang terpenting yakni


C. Acnes yang bekerja secara tidak langsung.
5. Herediter
Faktor herediter yang sangat berpengaruh pada besar dan
aktivitas kelenjar palit (glandula sebasea). Apabila kedua orang tua
mempunyai parut bekas akne, kemungkinan besar anaknya akan
menderita akne.
6. Umur
Keadaan sering dialami oleh mereka yang berusia remaja dan
dewasa muda dimana akan menghilang dengan sendirinya pada
usia 20-30tahun. Walaupun demikian ada banyak juga orang
setengah baya mengalami serangan acne , biasanya berkaitan
dengan tingginya sekresi sebum.
7. Hormon
Hormonal dan kelebihan keringat semua pengaruh perkembangan
dan atau keparahan dari jerawat (Ayer J dan Burrows N, 2006).
Beberapa faktor fisiologis seperti menstruasi dapat mempengaruhi
akne. Pada wanita, 60-70% akne yang diderita menjadi lebih parah
beberapa hari sebelum menstruasi dan menetap sampai seminggu
setelah menstruasi
a. Hormon androgen

Hormon ini memegang peranan yang penting karena


kelenjar palit sangat sensitif terhadap hormon ini. Hormon
androgen berasal dari testes dan kelenjar anak ginjal (adrenal).
Hormon ini menyebabkan kelenjar palit bertamabah besar dan
produksi sebum meningkat.
Pada penyelidikan Pochi, Frorstrom dkk. & Lim James
didapatkan bahwa konsentrasi testosteron dalam plasma
penderita akne pria tidak berbeda dengan yang tidak menderita
akne.Berbeda dengan wanita, pada testosteron plasma sangat
meningkat pada penderita akne.
b. Estrogen
Pada keadaan fisiologi, estrogen tidak berpengaruh
terhadap produksi sebum. Estrogen dapat menurunkan kadar
gonadotropin yang berasal dari kelenjar hipofisis. Hormon
gonadotropin mempunyai efek menurunkan produksi sebum.
c. Progesteron
Progesteron, dalam jumlah fisiologik tak mempunyai
efek terhadap efektivitas terhadap kelenjar lemak. Produksi
sebum tetap selama siklus menstruasi, akan tetapi kadangkadang progesteron dapat menyebabkan akne premenstrual.
8. Iklim
Di daerah yang mempunyai empat musim, biasanya akne
bertambah hebat pada musim dingin, sebaliknya kebanyakan
membaik pada musim panas.
Sinar ultraviolet (UV) mempunyai efek membunuh bakteri pada
permukaan kulit. Selain itu, sinar ini juga dapat menembus
epidermis bagian bawah dan bagian atas dermis sehingga
berpengaruh pada bakteri yang berada dibagian dalam kelenjar
palit. Sinar UV juga dapat mengadakan pengelupasan kulit yang
dapat membantu menghilangkan sumbatan saluran pilosebasea.
Menurut Cunliffe, pada musim panas didapatkan 60% perbaikan
akne, 20% tidak ada perubahan, dan 20% bertambah hebat.

Bertambah hebatnya akne pada musim panas tidak disebabkan oleh


sinar UV melainkan oleh banyaknya keringat pada keadaan yang
sangat lembab dan panas tersebut.
9. Psikis
Pada beberapa penderita, stress dan gangguan emosi dapat
menyebabkan eksaserbasi akne. Mekanisme yang pasti mengenai
hal ini belum diketahui. Kecemasan menyebabkan penderita
memanipulasi aknenya secara mekanis, sehingga terjadi kerusakan
pada dinding folikel dan timbul lesi yang beradang yang baru, teori
lain

mengatakan

bahwa

eksaserbasi

ini

disebabkan

oleh

meningkatnya produksi hormon androgen dari kelenjar anak ginjal


dan sebum, bahkan asam lemak dalam sebum pun meningkat.
10. Kosmetik
Pemakaian bahan-bahan kosmetika tertentu, secara terus
menerus dalam waktu lama, dapat menyebabkan suatu bentuk akne
ringan yang terutama terdiri dari komedo tertutup dan beberapa lesi
papulopustular

pada

pipi

dan

dagu.

Bahan

yang

sering

menyebabkan akne ini terdapat pada berbagai krem muka seperti


bedak dasar (faundation), pelembab (moisturiser), krem penahan
sinar matahari (sunscreen), dan krem malam. Yang mengandung
bahan-bahan, seperti lanolin, pektrolatum, minyak tumbuhtumbuhan dan bahan-bahan kimia murni (butil stearat, lauril
alcohol, dan bahn pewarna merah D &C dan asam oleic). Jenis
kosmetika yang dapat menimbulkan akne tak tergantung pada
harga, merk, dan kemurnian bahannya.
D. Patofisiologi
Jerawat merupakan penyakit yang melibatkan folikel pilosebasea
(kompleks folikel rambut dan kelenjar sebasea) pada wajah, leher, dada,
dan punggung atas. Tiga factor patofisiologi berperan dalam pertumbuhan
jerawat

yaitu

kelebihan

produksi

sebum,

komedogenesis,

dan

pertumbuhan propionibacterium acnes yang berlebihan.


Beberapa faktor fisiologis seperti menstruasi dapat mempengaruhi
akne termasuk hormon yang meningkatkan produksi sebum berlebih yaitu
hormone androgen, astrogen, progesteron. Dari hormone ini juga bisa
7

memicu timbulnya penekanan system imun yang dimana system imun


terganggu mengakibatkan masuk dan berkembangnya pathogen dalam
tubuh meningkat kemungkinan besar akan menimbulkan bertumbuhnya
propionibacterium acnes.
Distribusi akne sejalan dengan daerah yang mengandung kelenjar
sebasea, dan timbul pada wajah, leher, dada, punggung dan bahu.Lesi
paling dini yang tampak pada kulit adalah komedo.Komedo putih atau
komedo tertutup kemungkinan besar akan berkembang menjadi papula dan
pustule.Komedo hitam atau komedo terbuka memiliki sumbatan berwarna
gelap yang menutup saluran pilosebasea.Komedo ini menghalangi aliran
sebum ke permukaan.Sebum, bakteri (Propionibacteriumacnes), dan
asam-asam lemak diduga menyebabkan perkembangan peradangan di
sekeliling saluran pilosebasea dan kelenjar sebasea.
Komedogenesis (pembentukan komedo) menyebabkan lesi non
inflamasi yang dapat berupa komedo terbuka (bintil hitam) atau komedo
tertutup (bintil putih). Inflamasi terjadi bersamaan dengan proliferasi
propionibacterium acnes, organism jinak yang selaluada di kulit, yang
menghasilkan jerawat dengan bentuk papula, pustule, nodul, dan kista.
Perhatian remaja pada penampilan dirinya menggoda mereka untuk
memencet, menyentuh, meremas, dan memanipulasi lesi. Hal ini
memainkan peranan penting dalam kemunculan jerawat secara terus
menerus da kemungkinan menyebabkan jaringan parut hiperpigmentasi
dan infeksisekunder. Selain itu pemberian krim dan minyak, termasuk
dasar riasan wajah yang beratdapat memperburuk jerawat.

E. WOC
Sebum, bakteri, hormone, herediter, iklim, psikis,
kosmetik dan umur

F.

G.
H.
I.
Hormon androgen, Estrogen, Progresteron
J.
K.
Kelebihan produksi sebum
Penekanan system imun
L.
M. Kelebihan kelenjar sebasea
Masuk dan berkembangnya patogen
N.
O.
Komedogenesis
Pertumbuhan propionibacterium acnes
P.
Proliferasi propionibacterium acnes
Q.
Black komedo
White komedo
R.
S.

Acne Vulgaris

T.
Papul ,pusul, nodus, kista

U.
V.

Reaksi radang

Timbul respon memencet,


menyentuh, meremas dan

W.
X.

MK:Gangguan
perubahan
Y.
citra tubuh
Z.

AA.

MK: Nyeri
akut

Kulit lecet
Jaringan parut hiperpigmentasi
MK:
Kerusakan
integritas kulit

AB.
AC.
AD.
AE.
AF.
AG.

AH.
AI. Pemeriksaan diagnostic
AJ.
Karena banyak factor sebagai penyebab acne vulgaris maka
penanganan

yang

menyeluruh

dapat

membantu

mempercepat

penyembuhan dan mencegah kekambuhan.Selain terapi kulit secara medik


diperlukan juga psikoterapi. Penambahan psikoterapi pada pasien acne
vulgaris dapat menurunkan angka kambuh. Dengan relaksasi dapat
meningkatkan

daya

tahan

meningkat.Kadang-kadang

kulit
diperlukan

dan

aliran

darah

kekulit

psikofarmakologi

untuk

menurunkan kecemasan dan depresinya yaitu dengan anti cemas maupun


anti depresi.
AK.

Tempat presileksi akne vulgaris adalah di muka, bahu, dada

bagian atas dan punggung bagian atas gejala predominan salah satunya,
komedo, papul yang tidak meradang dan bagian pustule, nodus dan kistal
yang meradang, isi komedo adalah sebum yang kental atau padat. Isi kista
biasanya pus atau nanah.
AL.
Dapat disertai rasa gatal, namun umumnya keluhan
penderita adalah keluhan estetis acne di klasifikasikan atas :
1. Jerawat Klasik (jerawat biasa)
AM. Tampilannya mudah dikenali yaitu tonjolan kecil berwarna
pink atau kemerahan, kulit memproduksi minyak yang menjadi
tempat berkembang biaknya bakteri akibat pori-pori tersumbat
karena terinfeksi oleh bakteri.
2. Cystic Acne (jerawat batu)
AN. Bentuya besar dengan

tonjolan

yang

meradang

hebat,berkumpul hamper seluruh wajah, ini terjadi karena kelenjar


minya over aktif yang membanjiri pori-pori dengan minyak dan
terjadi penyumbatan pada duktus pilosebaseus yang menyalurkan
sebum.
3. Komedo
AO. Terdiri atas 2 jenis :
Komedo yang terbuka (blookhead) terlihat seperti pori-pori
yang membesar dan menghitam (yang berwarna hitam
tersebut adalah penyumbatan pori-pori yang berubah warna

karena akumulasi lipid, bakteri serta debris epitel)


Komedo tertutup (whitehead) adanya penumpukan sebum
dibawah kulit sehingga terlihat seperti tonjoln putih kecil

AP.Acne dibagi dibagi menjadi beberapa derajat (Strauss J.S. et


al,2007) :

10

Derajat I

: komedo <20, atau lesi inflamasi <15, atau

total lesi <30.


Derajat II
: komedo 20-100 atau lesi inflamasi 15-50,
atau total lesi 30-125
Derajat III
: kista >5 atau komedo >100, atau lesi
inflamasi >50, atau total lesi >125
AQ.
AR.

Penatalaksaan
1. Nasehat umum dan dorongan mental
a. Penerangan
1. Pada penderita harus diterangkan bahwa akne disebabkan
oleh tipe kulit dan perubahan hormon pada masa pubertas,
yang menyebabkan timbulnya sebore dan bertambahnya
produksi bahan tanduk di dalam saluran kelenjar palit
karena reaksi kelenjar palit yang berlebihan terhadap
kadar hormon seks yang normal.
2. Sifat akne adalah kumat-kumatan dan kita hanya bisa
menguraikan

dan

mengontrol

aknenya

dan

bukan

menyembuhkannya.
3. Pengobatan akne didasarkan pada tipe, kerasnya, lokalisasi
dan macam lesi. Pengobatan membutuhkan waktu lama
dan kemungkinan disertai efek samping.
4. 92% penderita akne akan memberikan respon terhadap
pengobatan.
AS.
AT.
b. Perawatan
1. Perawatan kulit muka
AU. Pemakaian sabun bakteriostatik dan deterjen tak
dianjurkan, bahkan pemakaian sabun berlebihan bersifat
aknegenik dan dapat menyebabkan akne bertambah hebat
(Acne Venerata).
AV. Menurut Plewig dan Kligman tak terbukti bahwa
kalau muka kurang dicuci akne akan bertambah hebat atau
terlalu sering mencuci muka ada gunanya. Mencuci muka
hanya menghilangkan lemak yang ada di permukaan kulit,
tetapi tak mempengaruhi lemak yang ada di dalam folikel.
11

AW.
AX.

2. Perawatan kulit kepala dan rambut


Seperti halnya pembersihan muka, perawatan kulit

kepala juga tidak berpengaruh terhdap akne. Walaupun


menurut banyak pengarang ketombe dan dermatitis
seboroika lebih banyak terdapat pada penderita akne,
penyelidikan

hal

itu.

Pemakaian

shampoo

yang

mengandung obat, untuk penderita akne dengan ketombe,


sebaiknya dilarang sebab dapat memperhebat akne dan
ketombenya dapat kumat kembali dalam beberapa
minggu.
AY.
3. Kosmetika dan bahan-bahan lain.
AZ. Bahan-bahan yang bersifat aknegenik

lebih

berpengaruh pada penderita akne. Bahan ini dapat


membentuk komedo lebih cepat dan lebih banyak pada
kulit penderita akne. Sebaiknya pasien dianjurkan untuk
menghentikan pemakaian kosmetika yang tebal dan hanya
memakai kosmetika ringan, yang tidak berminyak serta
tidak mengandung obat (non medicated).
BA.
4. Diet
BB. Menurut teori yang baru, efek makanan terhadap
akne diragukan oleh banyak penyelidik maka diet khusus
tak dianjurkan pada penderita akne.
BC.
5. Emosi dan faktor psikosomatik
BD. Pada orang-orang yang mempunyai predisposisi
akne, stress dan emosi dapat menyebabkan eksaserbasasi
atau aknenya bertambah hebat. Perlu pula dianjurkan untuk
tidak memegang megang, memijit, dan menggosok akne,
sebab dapat menyebabkan keadaan yang disebut akne
mekanika.
2. Obat-obatan
a) Pengobatan topikal
Tretinoin gel, krim, solusio: 0,01-0,1%
Isotretinoin gel
Adapalen gel,krim,solusio: 0,1%
Tazaroten gel,krim :0,5-0,1%
b) Antibiotika yang sering dipakai :
Klindamisin gel, solusio 1%

12

Eritromisin gel, solusio 1%


Benzoil-peroksida gel 2,5-5%
c) Pengobatan Antibiotika Oral.
Tetrasiklin 3 x 250 mg/hr-2 x 500 mg/hr
Eritromisin 2-3 x 500 mg/hr
Linkomisin 2-3 x 250-500 mg/hr
Klindamisin 2-3 x 150-300 mg/hr
d) Terapi Hormon
Siproteron asesat 2 mg dikombinasikan dengan etinil estradiol 35
mg
BE.
BF.
BG.
BH.
BI.
BJ.
BK.
BM.

BL.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Anamnesis
BN.

Dalam melakukan pengkajian anamnesis, perawat perlu

menggali persepsi pasien mengenai faktor-faktor yang memicu


peningkatan intensitas akne atau yang membuat lesi semakin parah,
seperti makanan dan minuman, gesekan atau tekanan dari pakain seperti
kerah baju, helm, tali helm atau pita kepala, atau trauma akibat upaya
untuk memijet keluar komedo dengan tangan. Umumnya insiden terjadi
pada umur 12-17 tahun pada wanita, 16-19 tahun pada pria dan masa itu
lesi yang pradominan adalah komedo dan papul dan jarang terlihat lesi
beradang. Pada penderita wanita lebih dominan terjangkit acne vulgaris
dibnandingkan dengan pria, karena wanita memiliki hormone
progesterone yang dapat memicu terjadinya acne vulgaris ini.
2. Riwayat penyakit
a. Riwayat Penyakit Sekarang
BO. Pada pengkajian

riwayat

penyakit

sekarang

didapatkan adanya keluhan lain yaitu efek sekunder dari


peradangan, seperti misalnya gatal yang berlebihan, masalah plain
pada kulit yang dialami.

13

b. Riwayat Penyakit terdahulu


BP.
Pengkajian riwayat penyakit dahulu diperlukan
sebagai sarana dalam pengkajian preoperative, serta penting untuk
ditanyakan mengenai adanya program pengobatan akne atau
pasien berusaha mengobati sendiri dengan berbagai produk
komersial yang terdapat di pasaran. Buat daftar lengkap yang
memuat nama-nama preparat kosmetik, krim, obat, pelembap
kulit, dan preparat akne yang dibeli di toko-toko obat, serta baru
saja digunakan oleh pasian harus di peroleh.
BQ.
BR.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
BS. Riwayat penyakit kelurga sangat dibutuhkan sebagai
saranan dalam pengakajian serta penting ditanyakan karena
mengenai acne vulgaris yang timbul bisa dikarena karena faktor
gen dari kedua orang tua yang pernah mengalami acne vulgaris.
d. Pengkajian psikososial
BT.
Pengkajian psikososial biasanya didapatkan
kecemasan akan nyeri hebat atau akibat respons pembedahan.
Pada

beberapa

pasien

juga

didapatkan

mengalami

ketidakefektifan koping berhubungan dengan perubahan peran


dalam keluarga
3. Pemeriksaan Fisik
BU. Pada pemeriksaan status lokalis kulit pasien
diregangkan dengan hati-hati dan kemudian lesinya diinspeksi
pada saat melakukan pemeriksaan jasmani.Komedo yang tertutup
(yang merupakan precursor untuk terjadinya lesi inflamatori yang
lebih

besar)

tampak

seperti

papula

kecil

yang

agak

menonjol.Komedo yang tebuka akan terlihat datar atau agak


menonjol dengan pemadatan bagian tengah folikel. Ciri-ciri lesi
inflamatori (papula,pustule,nodul,kista) harus dicatat.
BV. Apabila lesi utama akne mengalami peradangan
akan disertai papula, pustul, nodula, dan kista.Lesi nodula-kistik
yang mengalami peradangan dapat terasa gatal dan nyeri tekan,
bila pecah dapat mengeluarkan pus.Lokasi terutama pada muka,
dada, dan punggung.
14

B. Diagnosa
1. Nyeri b/d reaksi peradangan
2. Kerusakan integritas kulit b/d jaringan parut hiperpigmentasi.
3. Gangguan citra tubuh b.d rasa malu dan frustasi terhadap tampilan
dirinya
BW.
BX.
BY.
BZ.
C. Rencana Keperawatan
CA.

Dx 1: Nyeri akut b.d reaksi peradangan

CB.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .. x 24

jam diharapkan nyeri pasien berkurang atau hilang.


CC.

Kreteria Hasil:
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
teknik nonfarmokologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manejemen


nyeri

Mampu mengenali nyeri (skala intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

CD.
CE. CF.Intervensi

CG.

Rasional

N
CH. CI. Observasi
1

nyeri

dengan pendekatan PQRST

CK. CL.
2

respons

Tingkatkan

istirahat

dengan kompres dingin

CJ. Pendekatan

komprehensif

untuk

menentukan
CM.

Istirahat

dengan

kompres

dingin untuk mengurangi terjadinya


vasodilatasi pada kulit

15

CN. CO.
4

Kolaborasikan dengan

tim medis mengenai pemberian

CP.Analgetik memblok lintasan nyeri


sehingga nyeri akan berkurang.

analgesic
CQ.
CR.

Dx

2:

Kerusakan

integritas

kulit

b.d

jaringan

parut

hiperpigmentasi.
CS.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

x 24 jam diharapkan integritas kulit mengalami perbaikan


CT.
Kreteria Hasil :
Tidak ada luka/ lesi pada kulit.
Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi,

elastisitas, temperature, hidrasi, pigmentasi)


Perfusi jaringan baik.
Mamapu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban
kulit dan perawatan alami

CU.
CV.
CW. CX.

Intervensi

CY.

Rasional

DB.

Membantu dalam rehabilitasi

N
CZ. DA.
1

tingkat

kerusakan integritas kulit yang

dan pemilihan intervensi selanjutnya

dialami oleh pasien.

untuk pasien.

DC. DD.
2

Observasi

Dorong

menghindari

klien
semua

untuk
bentuk

friksi (menyentuh, menggaruk


DF.
3
DI.
4

dengan tangan) pada kulit


DG.
Anjurkan pasien untuk
dapat merawat kulit dengan
bersih dan benar.
DJ. Observasi terhadap
dan

palpasi

area

eritema
sekitar

terhadap kehangatan
DL. DM.
Kolaborasi pemberian

16

DE.

Mencegah penularan bakteri

yang dapat memperparah infeksi


pada lesi kulit
DH.

Perawatan kulit yang benar

mengurangi resiko terakumulasinya


kotoran di kulit
DK.
Kehangatan merupakan tanda
adanya infeksi.
DN.

Untuk

menghambat

antibiotik topical

pertumbuhan bakteri

DO.
DP.Dx 3: Gangguan citra tubuh b.d rasa malu dan frustasi terhadap tampilan
dirinya
DQ.

Tujuan : Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama .... x 24

jam, diharapkan citra diri pasien meningkat.


DR.

Kreteria Hasil:

Mampu mengidentifikasi kekuatan personal.

Mendiskripsikan secara factual perubahan fungsi tubuh.

Mempertahankan interaksi social.

DS. DT.

Intervensi

DU.

Rasional

Observasi secara verbal

DX.

Beberapa

N
DV. DW.
1

pasien

dapat

dan non verbal respon klien

menerima

terhadap tubuhnya.

perubahan yang sedang dialaminya,


sedangan

secara efektif kondisi


yang

lain

mempunyai

kesulitan dalam menerima perubahan


fungsi yang dialaminya, sehingga
,memberikan dapak kondisi koping
DY. DZ.
2

Monitoring

frekuensi

mengkritik dirinya

maladaptif.
EA.
Seberapa
mengkritik

besar
dan

pasien

mengalami

penolakan pada dirinya


EB. EC.
3

Jelaskan

pengobatan,
kemajuan

EE.
4

penyakit.
EF. Dorong

tentang
perawatan,

dan

prognosis
pasien

mengungkapkan perasaannya

ED.
yang

Pasien akan mengetahui apa


haus

dilakukan

pemberian Health Education kepada


pasien
EG.
Dengan

mengungkapkan,

saling berbagi, dapat mengurangi


beban secara psikologis

EH.
EI.
17

dengan

EJ.
EK.
EL.
EM.
EN.
EO.
EP.
EQ.
ER.
ES.
ET.
EU.
EV.
EW.
EX.
EY.
EZ.
FA.
FB.
FC.BAB III
FD.
PENUTUP
FE.A. Kesimpulan
FF.
Akne vulgaris atau biasa disebut juga dengan jerawat
adalah peradangan kronik folikel filosebasea yang ditandai dengan adanya
komedo, papula, pustula, dan kista pada daeah-faerah predileksi, seperti
muka, bahu, bagian atas dari ekstremitas superior, dada, dan punggung.
Akne vulgaris dapat disebabkan oleh sebum, herediter, iklim, psikis,
hormone, bacteria, dan kosmetik. Selain dengan menggunakan obat-obatan
pasien yang dengan akne vulgaris juga harus menjaga kebersihan kluit dan
perawatan wajah untuk proses penyembuhan.
FG.
B. Saran
FH. Sebagai seorang perawat, sebaiknya lebih menenkankan
edukasi kepada pasien akne vulgaris, karena apabila seorang pasien tidak
mampmenjaga faktor-faktor yang dapat mempercepat keparahan lukanya
seperti menjaga kebersihan kulit, tepat tidur, tidak mudah stress dan
minum obat sesuai indikasi yang diberikan.
FI.
FJ.
FK.
FL.
FM.
FN.
FO.
18

FP.
FQ.
FR.
FS.
FT.
FU.
FV.
FW.
FX.
FY.DAFTAR PUSTAKA
FZ.
GA.

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan

Sistem Integumen. Jakarta : 2013


GB.

http://www.kalbemed.com/Portals/6/203_CME-Acne%20Vulgaris.pdf.

Erha Clinic & Erha Apothecary. Agne Vulgaris. 2013. Kelapa Gading, Jakarta.
Di Akses Tanggal 20 Oktober 2015 Jam 16.10 WIB.
GC.

https://www.scribd.com/doc/228984960/Jtptunimus-Gdl-Dewipurnam-

7052-3-Babii Di Akses Tanggal 20 Oktober 2015 Jam 16.10 WIB.


GD.

http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-853-300734235-.tesis

%20gabungan%20pdf.pdf. Rosita Sari Susanto DERAJAT PENYAKIT ACNE


VULGARIS BERHUBUNGAN POSITIF DENGAN KADAR MDA. 2013.
Denpasar. Di Akses Tanggal 23 Oktober 2015 Jam 16.10 WIB.
GE.

https://www.scribd.com/doc/186900943/Askep-Acne-Vulgaris.pdf

Di

Akses Tanggal 24 Oktober 2015 Jam 16.10 WIB.


GF.

Wilkinson,

J.M.,

& Ahern

N.R.,(2012).

Buku

Saku

Diagnosis

Keperawatan
GG.

Diagnosa NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC Edisi kesembilan.

GH. Jakarta: EGC.


GI.
GJ.
GK.

19