Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan
mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah
filsafat di Yunani, philosophia meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis.
Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga
kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya
merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah.
Lebih lanjut Nuchelmans (1982) mengemukakan bahwa dengan munculnya
ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara
filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa
sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koentowibisono el al. (1997), filsafat
itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan
bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh mekar bercabang secara
subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya,
berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendirisendiri.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin
maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula
sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih
khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Ilmu pengetahuan hakekatnya dapat
dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari
ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan dengan patokanpatokan serta tolok ukur yang mendasari kebenaran masing-masing bidang.

Pengetahuan

Filsafat

biasanya

berkenaan

dengan

hakikat

sesuatu

(transenden) sehingga kadang perbincangannya seputar hal-hal yang abstrak


terhadap

bangunan

sebuah

pengetahuan.

Objek

pembahasannya

selalu

mengedepanan aspek ontologi, epistimologi dan aksiologi. Filsafat pengetahuan


(Epistemologi) merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan
mengenai masalah hakikat pengetahuan. Epistemologi merupakan bagian dari
filsafat

yang

membicarakan

tentang

terjadinya

pengetahuan,

pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat-sifat

sumber

dan kesahihan

pengetahuan. Objek material epistemologi adalah pengetahuan dan Objek formal


epistemologi adalah hakekat pengetahuan.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini
tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan
mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koentowibisono et al. 1997),
yang menyatakan bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah
karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu
dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang
sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak
salah. Dalam perkembangannya para filsuf filsafat ilmu pengetahuan menemukan
beberapa problema yang sulit dipecahkan, dan setiap filsuf memiliki kajian
problema yang berbeda-beda.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas serta dikaitkan dengan permasalahan
yang akan kaji, maka makalah ini akan difokuskan pada pembahasan tentang
Objek-objek dalam filsafat ilmu pengetahuan, dan Problema yang muncul dalam
ilsafat ilmu pengetahuan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah objek-objek dalam filsafat ilmu pengetahuan ?
2. Apa problema-problema yang muncul dalam filsafat ilmu pengetahuan ?
1.3 Tujuan
1. Mengkaji objek-objek dalam filsafat ilmu pengetahuan
2. Mengkaji problema-problema yang muncul dalam filsafat ilmu pengetahuan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Objek Filsafat Ilmu Pengetahuan


Pada dasarnya setiap ilmu mempunyai dua macam obyek, yaitu obyek
material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran
penyelidikan, seperti tubuh adalah obyek material ilmu kedokteran. Adapun obyek
formalnya adalah metode untuk memahami obyek material tersebut, seperti
pendekatan induktif dan deduktif (Pandia, 2004).
Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal juga memiliki
obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada,
baik mencakup ada yang tampak maupun ada yang tidak tampak. Ada yang tampak
adalah dunia empiriss, sedang ada yang tidak tampak adalah alam metafisika.
Sebagian filsuf membagi obyek material filsafat atas tiga bagian, yaitu: yang ada
dalam alam empiriss, yang ada dalam alam pikiran, dan yang ada dalam
kemungkinan. Adapun obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh,
radikal, dan rasional tentang segala yang ada.
Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya
memiliki dua obyek substantif dan dua obyek instrumentatif (Muhadjir, 2004) yaitu:
1. Obyek Subtantif, yang terdiri dari dua hal:
a. Fakta (Kenyataan), yaitu empiris yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam
memahami fakta (kenyataan ini ada beberapa aliran filsafat yang memberikan
pengertian yang berbeda-beda, diantaranya adalah:
Positivisme:
Ia hanya mengakui penghayatan yang empirisk dan sensual
Sesuatu sebagai fakta apabila ada korespondensi antara yang sensual
satu dengan yang sensual lainnya.
Data empirisk sensual tersebut harus obyektif tidak boleh masuk
subyektifitas peneliti
Fakta itu yang faktual
Phenomenologi:

Fakta bukan sekedar data empirisk sensual, tetapi data yang sudah
dimaknai atau diinterpretasikan, sehingga ada subyektifitas peneliti.
Tetapi subyektifitas disini tidak berarti sesuai selera peneliti, subyektif
disini dalam arti tetap selektif sejak dari pengumpulan data, analisis
sampai pada kesimpulan. Data selektifnya mungkin berupa ide, moral

dan lain-lain.
Orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya dan juga

terkait pada konsep-konsep yang dimiliki.


Kenyataan itu terkonstruk dalam moral.
Realisme:
Sesuatu itu sebagai nyata apabila ada korespondensi dan koherensi

antara empiris dengan skema rasional.


Matepisik sesuatu sebagai nyata apabila ada koherensi antara empiris

dengan yang obyektif universal


Yang nyata itu yang riil eksis dan terkonstruk dalam kebenaran

obyektif
Empiriss bukan sekedar empiriss sensual yang mungkin palsu, yang

mungkin memiliki makna lebih dalam yang beragam.


Empiris dalam realisme memang mengenai hal yang riil dan memang

secara substantif ada


Dalam realisme metaphisik skema rasional dan paradigma rasional

penting
Empiris yang substantif riil baru dinyatakan ada apabila ada koherensi

yang obyektif universal


Pragmatis: yang ada itu yang berfungsi, sehingga sesuatu itu dianggap ada
apabila berfungsi. Sesuatu yang tidak berfungsi keberadaannya dianggap
tidak ada
Rasionalistik : yang nyata ada itu yang nyata ada, cocok dengan akal dan
dapat dibuktikan secara rasional atas keberadaanya
b. Kebenaran
Positivisme:
Benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuatu dengan
empiris sensual

Kebenaran positivistik didasarkan pada diketemukannya frekwensi

tinggi atau variansi besar


Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondensi antara

fakta yang satu dengan fakta yang lain


Phenomenologi:
Kebenaran dibuktikan berdasarkan diketemukannya yang esensial,
pilah dari yang non esensial atau eksemplar dan sesuai dengan skema

moral tertentu
Secara esensial dikenal dua teori kebenaran, yaitu teori kebenaran

korespondensi dan teori kebenaran koherensi


Bagi phenomenologi, penomena baru dapat dinyatakan benar setelah

diuji korespondensinya dengan yang dipercaya.


Realisme Metaphisik: Ia mengakui kebenaran bila yang faktual itu koheren
dengan kebenaran obyektif universal
Realisme:
Sesuatu itu benar apabila didukung teori dan ada faktanya
Realisme baru menuntut adanya konstruk teori (yang disusun deduktif
probabilis) dan adanya empiris terkonstruk pula
Pragamatisme : Mengakui kebenaran apabila faktual berfungsi
Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael
Williams (dalam, Ismaun 2002) ada lima teori kebenaran, yaitu:
1) Kebenaran Preposisi, yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran
proposisinya baik proposisi formal maupun proposisi materialnya.
2) Kebenaran Korespondensi, teori kebenaran yang mendasarkan suatu
kebenaran pada adanya korespondensi antara pernyataan dengan kenyataan
(fakta yang satu dengan fakta yang lain). Selanjutnya teori ini kemudian
berkembang menjadi teori Kebenaran Struktural Paradigmatik, yaitu teori
kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada upaya mengkonstruk
beragam konsep dalam tatanan struktur teori (struktur ilmu/structure of
science) tertentu yang kokoh untuk menyederhanakan yang kompleks atau
sering
3) Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, yaitu teori kebenaran yang
medasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan

pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima


dan diakui kebenarannya.
4) Kebenaran Performatif, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu
itu dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.
5) Kebenaran Pragmatik, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu
benar apabila mempunyai kegunaan praktis. Dengan kata lain sesuatu itu
dianggap benar apabila mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak
mendatangkan manfaat.
2. Obyek Instrumentatif yang terdiri dari dua hal:
a. Konfirmasi
Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk
yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat
ditampilkan sebagai konfirmasi absolut dengan menggunakan landasan: asumsi,
postulat atau aksioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat
ditampilkan sebagai konfirmi probabilistik dengan menggunakan metode induktif,
deduktif, reflektif. Dalam ontologi dikenal pembuktian apriori dan aposteriori.
Untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran prediksi para ahli
mendasarkan pada dua aspek: (1) Aspek Kuantitatif; (2) Aspek Kualitatif.

Dalam hal konfirmasi, sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi,
yaitu:
a). Decision Theory, menerapkan kepastian berdasar keputusan apakah
hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat
aktual.
b). Estimation Theory, menetapkan kepastian dengan memberi peluang benarsalah dengan menggunakan konsep probabilitas
c). Reliability Analysis, menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas
evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain)
terhadap hipotesis.
b. Logika Inferensi
Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya logika
dibangun oleh Aristoteles (384-322 SM) dengan mengetengahkan tiga prinsip atau

hukum pemikiran, yaitu : Principium Identitatis (Qanun Dzatiyah), Principium


Countradictionis (Qanun Ghairiyah), dan Principium Exclutii Tertii ((Qanun
Imtina). Logika ini sering juga disebut dengan logika Inferensi karena kontribusi
utama logika Aristoteles tersebut adalah untuk membuat dan menguji inferensi.
Dalam perkembangan selanjutnya Logika Aristoteles juga sering disebut dengan
logika tradisional.
2.2 Problema-Problema Dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan
Filsafat sebagai suatu ilmu pengetahuan merupakan salah satu cabang
dari ruang lingkup filsafat ilmu pengetahuan pada umumnya. Pada
kelanjutannya filsafat ilmu pengetahuan merupakan suatu bagian dari
filsafat. Dengan demikian, pembahasan mengenai lingkupan filsafat
sesuatu ilmu pengetahuan khusus tidak terlepas dari kaitan dengan
persoalan-persoalan dan filsafat ilmu pengetahuan dan problem-problem
filsafat pada umumnya. Filsuf terkemuka Clarence Irving Lewis (dalam
Liang,

2007) mengemukakan adanya

dua gugus persoalan

yakni,

problem-problem reflektif dalam suatu ilmu khusus yang dapat dikatakan


membentuk filsafat dari ilmu tersebut dan problem-problem mengenai
asas permulaan dan ukuran-ukuran yang berlaku umum bagi semua ilmu
maupun aktivitas kehidupan pada umumnya.
Problem menurut defenisi A. Cornelius Benjamin ialah Suatu
situasi praktis atau teoritis yang untuk itu tidak ada jawaban lazim atau
otomatis yang memadai, dan yang oleh sebab itu memerlukan prosesproses refleksi. Banyak sekali pendapat para filsuf mengenai kelompok
atau perincian problem apa saja yang diperbincangkan dalam filsafat ilmu
pengetahuan. Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas perlulah
kiranya dikutipkan pendapat-pendapat berikut (Liang, 2007).

a. Michel Berry
Filsuf ini mengemukakan dua problem yaitu:
1) Bagaimana kuantitas dan rumusan dalam teori-teori ilmiah (misal: ciri genetik
atau momentum dalam mekanika Newton) berkaitan dengan peristiwa-peristiwa
dunia alamiah diluar pikiran kita?

2) Bagaimana dapat dikatakan bahwa teori atau dalil ilmiah adalah benar
berdasarkan induksi dari sejumlah percobaan yang terbatas?
b. B. Van Mrasen dan H. Margenau
Menurut kedua ahli filsuf ini, problem-problem utama dalam filsafat ilmu
pengetahuan adalah:
1) Metodologi: yang membicarakan tentang sifat dasar dari penjelasan ilmiah
(scientific explanation), logika penemuan (logic discovery), teori probabilitas
(probability theory), dan teori pengukuran (theory of measurement).
2) Landasan Ilmu Pengetahuan: dengan melakukan suatu penelitian untuk
mencapai suatu tujuan, misalnya menggunakan landasan matematika.
3) Ontologi: permasalahan utama yang diperbandingkan adalah konsep-konsep
subtansi, proses, waktu, ruang kausalitas, hubungan budi dan materi, serta
status dari entitas-entitas teoritis.
c. Victor Lenzen
Filsuf ini mengajukan dua problem:
1) Struktur yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah.
2) Pentingnya ilmu pengetahuan bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas.
d. J.J.C. Smart
Filsuf ini mengemukakan dua persoalan yaitu:
1) Pertanyaan-pertanyaan

tentang

ilmu

pengetahuan,

misalnya

pola-pola

perbincangan ilmiah, langkah-langkah pengujian teori ilmiah, sifat dasar dari


dalil dan cara-cara merumuskan konsep ilmiah.
2) Perbincangan filsafat yang mempergunakan ilmu pengetahuan, misalnya bahwa
hasil-hasil penyelidikan ilmiah akan menolong para filsuf menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang manusia dan alam semesta.
e. Philip Wiener
Menurut beliau para filsuf ilmu pengetahuan dewasa ini membahas problemaproblema yang menyangkut:
1) Struktur logis atau ciri-ciri metodologis umum dari ilmu pengetahuan.
2) Saling berhubungan diantara ilmu pengetahuan.

3) Hubungan ilmu-ilmu yang sedang tumbuh dengan tahap-tahap lainnya dari


peradaban, yaitu: kesusilaan, politik, seni dan agama.
f. A. Cornelius Benjamin
Filsuf ini menggolongkan segenap persoalan filsafat ilmu
pengetahuan dalam tiga bidang:
1) Bidang pertama meliputi semua persoalan yang bertalian secara
langsung atau tidak langsung dengan suatu pertimbangan mengenai
metode ilmu pengetahuan.
2) Persoalan-persoalan

dalam

bidang

kedua

dalam

filsafat

ilmu

pengetahuan agak kurang terumuskan baik dari problem-problem


tentang metode. Dalam suatu makna, banyak darinya merupakan
pula persoalan-persoalan metode. Tetapi, penunjukannya secara
langsung lebih kepada pokok persoalan dari pada kepada prosedur,
sehingga persoalan-persoalan itu menyangkut apa yang umumnya
disebut pertimbangan-pertimbangan metafisis dalam suatu cara
bidang terdahulu tidak menyangkutnya. Ini bertalian dengan analisis
terhadap konsep-konsep dasar dan praanggapan-praanggapan dari
ilmu pengetahuan.
3) Bidang ketiga dari filsafat ilmu pengetahuan, terdiri dari aneka
ragam kelompok persoalan yang tidak mudah terpengaruh oleh
suatu penggolongan sistematis. Kesemua itu dapat secara kasar
dilukiskan sebagaimana bersangkut paut dengan implikasi-implikasi
yang dimiliki ilmu pengetahuan dalam isi maupun metodenya bagi
aspek-aspek lain dari kehidupan kita.
g. Davih Hull
Filsuf biologi ini mengemukakan persoalan yang berikut.
1) Persoalan menyampingkan yang meliputi jilid-jilid belakangan ini (seri
Foundations of Philosophy) ialah apakah pembagian tradisional dari
ilmu-ilmu empiriss dalam cabang-cabang pengetahuan yang terpisah
seperti geologi, astronomi dan sosiologi mencerminkan semata-mata
perbedaan dalam pokok soal ataukah hasil dari perbedaan pokok
dalam metodologi.

2) Secara singkat, adakah suatu filsafat ilmu pengetahuan tunggal yang


berlaku merata pada semua bidang ilmu kealaman, atau adakah
beberapa filsafat ilmu pengetahuan yang masing-masing cocok dalam
ruang lingkupnya sendiri?
h. Joseph Sneed
Menurut filsuf ini, pembedaan dalam jenis problem-problem filsafat
ilmu pengetahuan khusus (misalnya variable tersembunyi, determinisme
dalam mekanika kuantum) dan jenis problem-problem filsafat ilmu
pengetahuan seumumnya (misalnya ciri-ciri teori ilmiah) yang telah
umum diterima adalah menyesatkan. Hal itu dinyatakannya demikian,
Saya menyarankan bahwa dualitas diantara problem-problem filsafat
ilmu pengetahuan ini adalah menyesatkan. Saya berpendapat bahwa
problem-problem filsafati tentang sifat dasar ilmu pengetahuan
seumumnya tidaklah, dalam suatu cara yang mendasar, berbeda dengan
problem-problem filsafati yang bertalian semata-mata dengan ilmu-ilmu
khusus. Secara khusus tidaklah ada makna khusus bahwa filsafat ilmu
pengetahuan umumnya merupakan suatu usaha normatif, sedangkan
filsafat ilmu-ilmu khusus tidak.
i. Frederick Suppe
Menurut filsuf ini, problem yang paling pokok atau penting dalam
filsafat ilmu pengetahuan adalah sifat dasar atau struktur teori ilmiah.
Alasannya ialah kerena teori merupakan roda dari pengetahuan ilmiah
dan terlibat dalam hampir semua segi usaha ilmiah. Tanpa teori tidak
akan ada problem-problem mengenai entitas teoritis, istilah teoritis,
pembuktian kebenaran, dan kepentingan kognitif. Tanpa teori yang perlu
diuji atau diterapkan, rancangan percobaan tidak ada artinya. Oleh karena
itu, hanyalah agak sedikit melebih-lebihkan bilamana dinyatakan bahwa
filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu analisis mengenai teori dan
peranannya dalam usaha ilmiah.
j. D.W. Theobald
Menurut filsuf ini, dalam filsafat ilmu pengetahuan terdapat dua
kategori problem yaitu:
1) Problem-problem metodologis yang menyangkut struktur pernyataan
ilmiah dan hubungan-hubungan diantara mereka. Misalnya analisis
probabilitas,

peranan

kesederhanaan

dalam

ilmu

pengetahuan,

realitas dari entitas teoritis, dalil ilmiah, sifat dasar penjelasan, dan
hubungan antara penjelasan dan peramalan.

2) Problem-problem tentang ilmu pengetahuan yang menyelidiki arti dan


implikasi dari konsep-konsep yang dipakai para ilmuwan. Misalnya
kausalitas, waktu, ruang, dan alam semesta.
k. W. H. Walsh
Filsuf sejarah ini menyatakan bahwa filsafat ilmu pengetahuan
mencakup problem yang timbul dari metode dan praanggapan dari ilmu
pengetahuan serta sifat dasar dan persyaratan dari pengetahuan ilmiah.
l. Walter Weimer
Ahli ini mengemukakan empat problem yang berikut.

1) Pencarian terhadap suatu teori penyimpulan rasional (ini berkisar


pada penyimpulan induktif, sifat dasarnya dan pembenarannya).

2) Teori dan ukuran bagi pertumbuhan atau kemajuan ilmiah (Ini


berkisar pada pertumbuhan pengetahuan ilmiah, pencarian dan
penjelasannya. Misalnya dalam menilai bahwa teori Einstein lebih
unggul daripada teori sebelumnya, apakah ukurannya?).

3) Pencarian

terhadap

suatu

teori

tindakan

Pragmatis

(dalam

menentukan salah satu teori di antara teori-teori yang salah,


bagaimanakah caranya untuk mengetahui secara pasti teori yang
paling terkecil kesalahannya?).

4) Problem mengenai kejujuran intelektual (Ini menyangkut usaha


mencocokkan prilaku nyata (riil), dari para ilmuwan dengan teori
yang mereka anut setia).
m. Philip Wiener
Menurut beliau para filsuf ilmu dewasa ini membahas problemproblem yang menyangkut :
1) struktur logis atau ciri-ciri metodologis umum dari ilmu-ilmu;
2) saling berhubungan diantara ilmu pengetahuan;
3) Hubungan

ilmu

pengetahuan

yang

sedang

tumbuh

dengan

tahapan-tahapan lainnya dari peradaban, yaitu kesusilaan, politik,


seni dan agama.
n. The Liang Gie

The Liang Gie berpendapat bahwa filsafat ilmu pengetahuan


merupakan suatu bagian dari filsafat pada umumnya, dimanan problemproblem filsafat ilmu pengetahuan bilamana digolong-golongkan ternyata
berkisar pada enam hal pokok, yaitu pengetahuan, keberadaan, metode,
penyimpulan, moralitas, dan keindahan. Berdasarkan keenam sasaran itu,
bidang filsafat dapat secara sistematis dibagi dalam enam cabang pokok,
yaitu epistemologi (teori pengetahuan), metafisika (teori mengenai apa
yang ada), metodologi (studi tentang metode), logika (teori
penyimpulan), etika (ajaran moralitas) dan estetika (teori keindahan).
Oleh karena filsafat ilmu pengetahuan merupakan suatu bagian dari
filsafat seumumnya, problem-problem dalam filsafat ilmu pengetahuan
secara sistematis juga dapat digolongkan menjadi enam kelompok sesuai
dengan cabang-cabang pokok filsafat itu. Dengan demikian, seluruh
problem dalam filsafat ilmu pengetahuan dapat ditertibkan menjadi:
1) Problem-problem epitesmologis tentang ilmu pengetahuan
2) Problem-problem metafisis tentang ilmu pengetahuan
3) Problem-problem metodologis tentang ilmu pengetahuan
4) Problem-problem logis tentang ilmu pengetahuan
5) Problem-problem etis tentang ilmu pengetahuan
6) Problem-problem estetis tentang ilmu pengetahuan

Dari beberapa pendapat mengenai problem filsafat ilmu pengetahuan dapat


ditarik benang merahnya, yakni sebagai berikut.
a. Apakah konsep dasar dari ilmu pengetahuan? Maksudnya bagaimana filsafat
ilmu pengetahuan mencoba untuk menjelaskan praanggapan dari setiap ilmu,
dengan demikian filsafat ilmu pengetahuan dapat lebih menempatkan keadaan
yang tepat bagi setiap cabang ilmu pengetahuan. Dalam masalah ini filsafat
ilmu pengetahuan tidak dapat lepas begitu saja dari cabang filsafat lainnya
yang lebih utama adalah epistemologi atau filsafat pengetahuan dan
metafisika.
b. Apakah hakekat dari ilmu pengetahuan? Artinya langkah-langkah apakah
suatu pengetahuan sehingga mencapai yang bersifat keilmuan.
c. Apakah batas-batas dari ilmu pengetahuan? Maksudnya apakah setiap ilmu
pengetahuan mempunyai kebenaran yang bersifat universal ataukah ada
norma-norma fundamental bagi kebenaran ilmu pengetahuan.

Beri Nilai