Anda di halaman 1dari 58
PREVALENSI OTOMIKOSIS PADA MAHASISWI PSPD FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Laporan
PREVALENSI OTOMIKOSIS PADA MAHASISWI
PSPD FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA KEDOKTERAN
OLEH :

Cut Firza Humaira NIM : 109103000009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1433 H/2012 M

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 24 September 2012

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1.

2.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau

Materai

Rp 6000

Cut Firza Humaira

i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING PREVALENSI OTOMIKOSIS PADA MAHASISWI PSPD FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA DAN FAKTOR
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
PREVALENSI OTOMIKOSIS PADA MAHASISWI PSPD FKIK UIN
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA DAN FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI
Oleh
Cut Firza Humaira
NIM: 109103000009
Pembimbing 1
Pembimbing 2

Laporan PenelitianDiajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked)

dr. Ibnu Harris Fadillah, Sp.THT-KL

dr. Intan Keumala Dewi, Sp.MK

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1433 H/2012 M

ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN Jakarta, 24 September 2012 DEWAN PENGUJI Ketua Sidang Pembimbing 1 Pembimbing 2
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Jakarta, 24 September 2012
DEWAN PENGUJI
Ketua Sidang
Pembimbing 1
Pembimbing 2
dr. Ibnu Harris Fadillah,
Sp.THT-KL
dr. Intan Keumala Dewi,
Sp.MK
Penguji 1
Penguji 2

Laporan Penelitian berjudul PREVALENSI OTOMIKOSIS PADA MAHASISWI PSPD FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI yang diajukan oleh Cut Firza Humaira (NIM: 109103000009), telah diujikan dalam sidang di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan pada tanggal 24 September 2012. Laporan penelitian ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S. Ked) pada Program Studi Pendidikan Dokter.

dr. Ibnu Harris Fadillah, Sp.THT-KL

dr. Zainal, Sp.THT, Ph.D

Yuliati, M.Biomed

PIMPINAN FAKULTAS

Dekan FKIK UIN SH Jakarta

Kaprodi PSPD FKIK UIN SH Jakarta

Prof. Dr (hc). dr. M.K. Tadjudin Sp. And

iii

DR. dr. Syarief Hasan Lutfie, Sp.KFR

KATA PENGANTAR Prof. Dr (hc). dr. M.K. Tadjudin Sp. And selaku Dekan Fakultas Kedokteran
KATA PENGANTAR
Prof. Dr (hc). dr. M.K. Tadjudin Sp. And selaku Dekan Fakultas Kedokteran

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya penelitian ini dapat terselesaikan walaupun ada begitu banyak cobaan dan hambatan yang penulis hadapi selama proses penelitian. Shalawat serta salam tidak lupa penulis junjungkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa manusia ke alam yang penuh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.

Alhamdulillah penulis akhirnya dapat menyelesaikan Laporan Penelitian yang berjudul “Prevalensi Otomikosis pada Mahasiswi PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Faktor yang Mempengaruhi”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa selama proses penulisan laporan penelitian ini penulis banyak menemui hambatan baik yang datang dari faktor luar diri penulis maupun dari dalam diri penulis. Mengatasi hambatan yang ditemui, penulis banyak mendapat dukungan, pengarahan, petunjuk, motivasi, saran dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1.

dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. DR. dr. Syarief Hasan Lutfie, Sp.KFRselaku Kepala Program Studi Pendidikan

Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu KesehatanUIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3.dr. Ibnu Haris Fadillah, Sp.THT-KL sebagai dosen pembimbing I penelitian dan dr. Intan Keumala Dewi, Sp.MK sebagai dosen pembimbing II penelitian, yang telah banyak menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan saran, arahan, bimbingan, dan nasihat kepada penulis dari awalproses penelitian sampai akhir penyusunan laporan penelitian ini.

4. drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D selaku penanggung jawab riset Program

Studi Pendidikan Dokter 2009 dan atas motivasinya kepada penulis terhadap penyelesaian penelitian ini serta dr. Fikri Mirza Putranto, Sp.THT dan ibu Yuliati, M.Biomed atas masukannya terhadap penelitian ini.

iv

RS Khusus THT-KL Proklamasi BSD dan Laboratorium Mikrobiologi FKIK Keluarga besar penulis, terutama ayah bunda
RS Khusus THT-KL Proklamasi BSD dan Laboratorium Mikrobiologi FKIK
Keluarga besar penulis, terutama ayah bunda penulis Ir.Ridwan Ibrahim dan
Terakhir, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
Semoga
dengan
selesainya
Laporan
Penelitian
ini
dapat
menambah

5.

UIN beserta staf yang telah menyediakan tempat untuk pemeriksaan sampel

selama penelitian berlangsung.

6.

Cut Armanusah, SE yang selalu ikhlas mendoakan, mendukung, serta memberikan dorongan dan motivasikepada penulis selama melakukan penelitian ini. Adinda tercinta Cut Zarra Fazia, Cut Haliza Fatira, dan Cut Yulinza Putri yang juga selalu mendukung dan menghibur disaat penulis mulai jenuh.

7.Sahabat penulis Reani Zulfa dan Syukran yang selalu bersedia direpotkan oleh penulis dalam menanyakan beberapa hal mengenai penelitian. Sahabat penulis Oktavia Utami, Adita Dianputra Kencana, Dahniar Anindya, Abe Umaro yang selalu mendukung penulis selama ini. Teman kelompok riset Fernaldi Anggadha, Midun, dan Muhammad Fahmi Salafuddin serta teman seperjuangan riset Dian Pratiwi dan teman di laboratorium Seila Inayatullah, Kharisma Indah, Atingul Ma’rifah, dan Maharani atas semangat dan motivasinya. Teman-teman beserta seluruh staf pengajar dari Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

8.

telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan penelitian ini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak mungkin penulis sebutkan saru per satu.

pengetahuan kita semua terutama mengenai otomikosis.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ciputat, 25 September 2012

v

Penulis

ABSTRAK ABSTRACT
ABSTRAK
ABSTRACT

Cut Firza Humaira.Program Studi Pendidikan Dokter. Prevalensi Otomikosis pada Mahasiswi PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Faktor yang Mempengaruhi

Otomikosis merupakan infeksi jamur yang sering terjadi pada telinga luar. Faktor predisposisi yang mempengaruhi diantaranya kelembaban yang tinggi, trauma lokal yang sering disebabkan oleh kebiasaan membersihkan telinga secara rutin menggunakan cotton buds, penggunaan steroid dalam jangka waktu lama, riwayat dermatomikosis dan kebiasaan berenang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada prevalensi otomikosis pada mahasiswi di PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan otoskopi, pemeriksaan preparat langsung dibawah mikroskop menggunakan KOH 10% dan memberikan kuisioner pada sampel. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional, serta teknik pengambilan sampel yakni sistematic random sampling.Sampel penelitian berjumlah 40 orang. Hasil penelitian ini tidak ditemukan kasus otomikosis, dan ditemukan sebanyak 40% sampel penelitian menggunakan cotton buds4-5 kali dalam seminggu. Kata Kunci: Otomikosis, Kelembaban, Prevalensi

Cut Firza Humaira.Medicine Study Programe. Prevalence of Otomycosis in Student of PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta and Affecting Factors

Otomycosisis a fungal infectionthat occurs in the outer ear. Predisposing factors that affect such humidity, local trauma caused by the habit of cleaning the ears regularly using cotton buds, the use of long term steroids, history of dermatomycosis, and swimming. This research aims to determine the prevalence of otomycosis in student of PSPD FKIK Syarif Hidayatullah State Islamic University in Jakarta.This research was using otoscope examination, direct examination under a microscope preparations using 10% KOH and gave questionnaires to the sample. This research is based on a cross-sectional study with systematic random sampling which used 40 students. The results of this research there’s no case of otomycosis and there are 40% of the samples using cotton buds for 4-5 times a week. Keywords: Otomycosis, Humidity, Prevalence

vi

i ii iii iv vi vii ix x xi 1 1.1. Latar Belakang Masalah 1
i
ii
iii
iv
vi
vii
ix
x
xi
1
1.1. Latar Belakang Masalah
1
1.2. Rumusan Masalah
2
1.3. Pertanyaan Penelitian
3
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
3
1.4.1. Tujuan Penelitian
3
1.4.2. Manfaat Penelitian
3
4
2.1. Anatomi dan Fisiologi Telinga Luar
4
2.2. Otitis Eksterna
5

DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING PENGESAHAN PANITIA UJIAN KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2.1. Definisi

5

2.2.2. Patofisiologi

5

2.3.

Otomikosis

6

2.3.1 Definisi

6

2.3.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi

7

2.3.3 Gejala dan Tanda Klinis Otomikosis

9

2.3.4 Penegakan Diagnosis dan Pengobatan

10

2.3.5 Pencegahan

14

2.4 Jilbab dan Otomikosis

14

2.5 Hubungan Cotton Buds dengan Otomikosis

15

2.6 Kerangka Teori

16

2.7 Kerangka Konsep

17

vii

2.8 Definisi Operasional 18 BAB III METODE PENELITIAN 19 3.1. Desain 19 3.2. Waktu Penelitian
2.8
Definisi Operasional
18
BAB III METODE PENELITIAN
19
3.1. Desain
19
3.2. Waktu Penelitian
19
3.3. Tempat Penelitian
19
3.4. Populasi
19
3.5. Sampel Penelitian dan Cara Pemilihan Sampel
19
3.6. Besar Sampel
19
3.6.1. Perhitungan Besar Sampel
19
3.6.2. Sampel yang diambil
20
3.7.
Variabel Penelitian
20
3.7.1. Variabel terikat
20
3.7.2. Variabel bebas
20
3.8.
Kriteria Inklusi dan Eksklusi
20
3.8.1. Faktor Inklusi
20
3.8.2. Faktor Eksklusi
20
3.9.
Cara Kerja
20
3.9.1. Pemeriksaan otoskop
21
3.9.2. Pemeriksaan KOH
21
3.9.3. Pemberian kuisioner
21

3.10.

Alur Penelitian

21

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

22

4.1.

Hasil Penelitian

22

4.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian

22

4.1.2. Analisis Univariat

23

4.1.3. Analisis Bivariat

26

4.2. Pembahasan

26

4.3. Keterbatasan Penelitian

30

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

31

5.1. Simpulan

31

5.2. Saran

31

Daftar Pustaka

32

viii

DAFTAR TABEL 13 22 23 25 26 26
DAFTAR TABEL
13
22
23
25
26
26

Tabel 2.1: Obat yang sering digunakan pada kasus otomikosis Tabel 4.1: Karakteristik Demografis Subjek Penelitian Tabel 4.2: Distribusi Sampel Penelitian Tabel 4. 3: Serumen pada Pengguna Cotton Buds Tabel 4.4: Prevalensi Otomikosis Tabel 4. 5: Hubungan penggunaan cotton buds dengan serumen

ix

DAFTAR GAMBAR 4 10 12
DAFTAR GAMBAR
4
10
12

Gambar 2.1: Anatomi telinga Gambar 2. 5: Otomikosis Gambar 2. 6: Skema kerja pemeriksaan jamur

x

DAFTAR LAMPIRAN 1 35 2 37 3 38 4 41
DAFTAR LAMPIRAN
1
35
2
37
3
38
4
41

Lampiran

Lampiran

Lampiran

Lampiran

xi

BAB I PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah Otomikosis atau yang dikenal juga dengan fungal otitis externa merupakan infeksi jamur yang sering terjadi pada telinga luar, terutama pinna (auricula) dan meatus acusticus externus. Otomikosis sering terjadi di negara tropis dan subtropis, dan pada kebanyakan kasus, jamur penyebab tersering infeksi ini merupakan isolat dari Aspergillus (niger, fumingatus, flavescens, albus) atau Candida spp. 1,2

Kasus otomikosis tersebar di seluruh belahan dunia. Sekitar 5-25% dari total kasus otitis eksterna merupakan kasus otomikosis. Frekuensi terjadinya infeksi ini bervariasi berdasarkan perbedaan area geografis yang dihubungkan dengan faktor lingkungan (temperatur, kelembaban relatif) dan dihubungkan juga dengan musim. Di Inggris, diagnosis otitis eksterna yang disebabkan oleh jamur ini sering ditegakkan pada saat berakhirnya musim panas. 3,4,5

Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala yang paling sering terjadi adalah pruritus. Namun dapat pula terjadi gejala lain seperti otalgia, otorrhea, kehilangan pendengaran, dan tinnitus. Faktor predisposisi terjadinya otomikosis meliputi hilangnya lapisan serumen, kelembaban yang tinggi, peningkatan temperatur, dan trauma lokal, yang biasanya sering disebabkan oleh kebiasaan membersihkan telinga secara rutin menggunakan cotton buds dan penggunaan alat bantu dengar. 1,6

Serumen memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri dan jamur. Olahraga air misalnya berenang dan berselancar sering dihubungkan dengan keadaan otomikosis oleh karena paparan ulang dengan air sehingga kanal menjadi lembab dan dapat mempermudah jamur tumbuh. Bisa juga disebabkan oleh adanya prosedur invasif pada telinga seperti munggunakan cotton budsyang dapat mengangkat film layer sehingga serumen keluar atau penggunaan antibiotik dan steroids yang dapat menurunkan jumlah

1

2

1.2.Rumusan Masalah a. Kasus otomikosis diperkirakan sekitar 25% dari kasus otitis eksterna
1.2.Rumusan Masalah
a. Kasus otomikosis diperkirakan sekitar 25% dari kasus otitis eksterna

b.

c. Penelitian di Iran dan Turki menyebutkan bahwa faktor penyebab terjadinya otomikosis adalah pemakaian sorban/jilbab, berenang, dan infeksi jamur sebelumnya

d. Penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia

e. Penduduk Indonesia mayoritas muslim dan rata-rata menggunakan penutup kepala, terutama wanita

f. Belum diketahuinya prevalensi otomikosis dan faktor penyebabnya di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya otomikosis tersebut

flora normal, dan dapat juga terjadi pada penderita eksema, rhinitis allergika, dan asthma. 5

Ashish Kumar pada penelitiannya yang berjudul ‘Fungal Spectrum in Otomycosis Patients’, menyebutkan faktor predisposisi yang berkontribusi terhadap kejadian otomikosis, antara lain dermatomikosis (51,22%), pemakaian sorban (29,26%), pemakaian jilbab (14,63%), dan berenang (4,88%). K. Murat Ozcan pada salah satu penelitiannya yang berjudul ‘Otomycosis in Turkey:

Predisposing Factors, Aetiology, and Therapy’ menyebutkan bahwa faktor predisposisi terjadinya otomikosis termasuk penggunaan penutup kepala (74,7%), dermatomikosis (34,5%), dan berenang (27,6%). 3,7

Berdasarkan teori yang menyebutkan bahwa peningkatan kelembaban telinga dapat menjadi salah satu faktor terjadinya otomikosis, maka kejadian otomikosis merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan pada pengguna penutup kepala khususnya jilbab, oleh karena itu peneliti ingin mengetahui prevalensi otomikosis pada populasi PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3

1.3.Pertanyaan Penelitian Bagaimana prevalensi otomikosis pada mahasiswi yang menggunakan jilbab di preklinik PSPD UIN
1.3.Pertanyaan Penelitian
Bagaimana prevalensi otomikosis pada mahasiswi yang menggunakan jilbab
di preklinik PSPD UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?
1.4.Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1.
Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
-
Menentukanprevalensi otomikosis yang terjadi pada mahasiswi
preklinik PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
b. Tujuan Khusus
-
Menentukanprevalensi otomikosis yang terjadi pada mahasiswi
berdasarkan karakteristik pemakaian jilbab
-
Menentukanprevalensi otomikosis yang terjadi pada mahasiswi
berdasarkan penggunaan cotton buds
-
Menentukanprevalensi otomikosis yang terjadi pada mahasiswi
berdasarkan seringnya terpapar air (renang)
1.4.2.
Manfaat Penelitian
a.
Manfaat Secara Metodelogi
-
Metode dari hasil penelitian ini dapat digunakan pada penelitian
untuk melihat prevalensi mikosis pada organ lain

b.

Manfaat Secara Aplikatif

-

Menambah informasi mengenai otomikosis

-

Dapat diterapkan pada penelitian lain yang ingin melihat prevalensi otomikosis di masyarakat yang lebih luas

c.

Bagi Peneliti

-

Menjadi skripsi S1 di Perkuliahan Kedokteran

-

Menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang telah didapat selama pendidikan.

-

Menambah pengetahuan tentang otomikosis

d.

Bagi Subjek Penelitian

-

Memberikan informasi dan edukasi mengenai otomikosis, serta pencegahannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi dan Fisiologi Telinga Luar Secara anatomi, organ pendengaran dibagi menjadi

2.1. Anatomi dan Fisiologi Telinga Luar Secara anatomi, organ pendengaran dibagi menjadi telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Daun telinga yang berada di samping kepala hanya sebagian dari organ pendengaran sebenarnya dan merupakan lipatan kulit yang terdiri dari tulang rawan yang juga ikut membentuk liang telinga bagian luar. Hanya cuping telinga atau lobulus yang tidak mempunyai tulang rawan, tetapi terdiri dari jaringan lemak dan jaringan fibrosa. Bagian besar dari organ pendengaran merupakan bagian yang penting, tidak terlihat, dan berada di os temporal. 8,9

Gambar 2.1: Anatomi telinga manusia. Warna ungu menunjukkan bagian telinga luar, warna hijau menunjukkan bagian telinga tengah, dan warna biru menunjukkan bagian telinga dalam 8

Telinga luar terdiri dari auricula dan meatus acusticus externus. Auricula atau pinna merupakan bagian telinga luar yang terlihat di kedua sisi kepala dan mengelilingi lubang meatus acusticus externus. Auricula atau pinna berfungsi mengumpulkan gelombang suara dan mengantarkan gelombang suara tersebut ke meatus acusticus. Meatus acusticus externus adalah struktur yang berkelok dan berbentuk ‘S’ dengan panjang lebih kurang 2,5cm yang menghubungkan auricula dengan membrana tympani. Tabung ini berfungsi menghantarkan gelombang suara dari auricula ke membrana tympani. 9,10

4

5

Meatus dilapisi oleh kulit, dan sepertiga bagian luarnya mempunyai 2.2.1. Definisi Otisis eksterna adalah radang
Meatus dilapisi oleh kulit, dan sepertiga bagian luarnya mempunyai
2.2.1. Definisi
Otisis eksterna adalah radang yang terjadi pada liang telinga akibat infeksi

rambut, kelenjar sebasea, dan glandula seruminosa. Glandula ini adalah

modifikasi kelenjar keringat yang menghasilkan sekret lilin berwarna coklat

kekuningan yang disebut serumen. Rambut dan serumen merupakan barier yang

lengket, untuk mencegah masuknya benda asingdan berfungsi untuk menolak air.

Folikel rambut banyak terdapat pada 1/3 bagian luar liang telinga. Kelenjar

sebasea pada telinga berkembang baik pada daerah konka, ukuran diameternya

0,5- 2,2mm. Kelenjar ini banyak terdapat pada liang telinga luar bagian tulang

rawan, dimana kelenjar ini berhubungan dengan rambut, dan terletak secara

berkelompok pada bagian superfisial kulit. Batas akhir untuk bagian telinga luar

adalah membrana tympani. 10

2.2. Otitis Eksterna

akut, subakut, maupun kronik. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, dan

virus akibat kerusakan pada kulit normal dan perubahan pada serumen sebagai

barier proteksi kanal. Faktor yang memepermudah radang telinga luar adalah

perubahan pH di liang telinga, yang biasanya normal pada kondisi asam. Bila pH

menjadi basa, maka proteksi telinga terhadap infeksi jadi menurun. Pada keadaan

udara yang hangat dan lembab, kuman dan jamur mudah tumbuh, faktor

predisposisi otitis eksterna yang lain adalah trauma ringan yang terjadi ketika

mengorek telinga. 11,12

2.2.2. Patofisiologi

Perjalanan penyakit otitis eksterna dibagi menjadi stadium preinflamasi;

stadium inflamasi akut, yang dapat terjadi secara ringan, sedang, atau berat; dan

stadium inflamasi kronik. Pada stadium preinflamasi terjadi edema stratum

korneum akibat hilangnya pH asam dan lapisan pelindung kanal, kemudian terjadi

penyumbatan di unit apopilosebasea, dan selama penyumbatan berlangsung akan

timbul rasa penuh dan gatal di telinga. Kerusakan lapisan epitel memungkinkan

invasi bakteri atau jamur yang berasal dari pinggir kanal ataupun yang masuk

6

6 bersama benda asing yang dimasukkan ke kanal, seperti cotton swab. Hal ini mengakibatkan terjadinya stadium

bersama benda asing yang dimasukkan ke kanal, seperti cotton swab. Hal ini mengakibatkan terjadinya stadium inflamasi akut yang ditandai dengan nyeri.

Pada tahap awal stadium inflamasi rigan, kulit meatus acusticus externus dapat terlihat eritema yang ringan, sedikit edema, dan dapat juga terlihat adanya sekret encer atau agak keruh dalam jumlah yang sedikit. Ketika rasa nyeri dan gatal semakin bertambah, ini menandakan perkembangan inflamasi akut otitis eksterna dari stadium inflamasi ringan ke stadium inflamasi sedang telah terjadi, dimana kanal terlihat lebih edema dan lebih banyak eksudat kental.

Perkembangan inflamasi bila tidak diobati akan berlanjut ke stadium inflamasi berat, yang ditandai dengan rasa nyeri yang semakin bertambah dan tertutupnya lumen kanal. Terdapat banyak eksudat purulen, terjadi edema kulit kanal yang dapat mengaburkan membran timpani, serta sering terlihat adanya papul putih dan kecil di permukaan kulit kanal. Pada stadium berat ini, sering juga terjadi perluasan infeksi keluar kanal yang meliputi perbatasan jaringan lunak dan kelenjar getah bening servikal.

Pada stadium inflamasi kronik, rasa nyeri mulai berkurang tetapi rasa gatal yang timbul sangat hebat. Kulit kanal eksternal menebal, dan bagian superfisialnya mulai mengelupas. Pada stadium ini dapat ditemukan perubahan sekunder pada bagian aurikula dan konka, seperti eksematisasi, likenifikasi, dan ulserasi superfisial. Kondisi ini hampir sama seperti eksema, dan dapat terjadi dengan pengeringan dan penebalan kanal, hingga hilangnya kanal eksernal karena hipertrofi kulit akibat infeksi kronik. 12

2.3. Otomikosis

2.3.1 Definisi Otomikosis merupakan penyakit inflamasi telinga luar yang disebabkan oleh infeksi jamur, dan dapat menyebabkan inflamasi difus di kulit meatus yangbisa menyebar ke auricula maupun lapisan epidermal membran timpani.Berdasarkan waktu, otomikosis didefinisikan sebagai infeksi akut, subakut, maupun kronik akibat ragi dan filamentosa jamur yang dapat merusak

7

2.3.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi
2.3.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi

epitel squamosa meatus acusticus external, dan komplikasinya jarang melibatkan telinga tengah. 4,13,14

Beberapa jamur dapat menyebabkan reaksi radang liang telinga. Dua jenis jamur yang paling sering ditemukan pada tempat ini adalah Pityrosporum dan Aspergillus (A. Niger, A. Flavus). Jamur Pityrosporum dapat hanya menyebabkan deskuamasi superfisial yang menyerupai ketombe pada kulit kepala, atau dapat menyerupai suatu dermatitis seboroika yang meradang, atau dapat menjadi dasar berkembangnya infeksi lain yang lebih berat seperti furunkel atau perubahan ekzematosa. Demikian pula halnya dengan jamur Aspergillus.

Pada sekitar 75% kasus otomikosis, genus Aspergillus merupakan agen kausative utama, dengan penyebab tersering disebabkan oleh A. Niger, dan terkadang disebabkan oleh A. flavus and A. Fumigatus. Jamur ini kadang-kadang didapatkan dari liang telinga tanpa adanya gejala apapun kecuali rasa tersumbat dalam telinga, atau dapat berupa peradangan yang dapat menyerang epitel kanalis atau gendang telinga dan menimbulkan gejala-gejala akut. Kadang-kadang dapat pula ditemukan Candida albicans. 15,16

Faktor timbulnya penyakit ini disebabkan oleh perubahan kelembaban lingkungan, suhu yang tinggi, maserasi kulit liang telinga yang terpapar lama oleh kelembaban, trauma lokal serta masuknya bakteri sebagai keadaan yang sering berkaitan dengan penyakit ini. Banyak penelitian menyokong timbulnya infeksi karena masuknya bakteri dari luar. Faktor predisposisi meliputi menurunnya sistem imun, penggunaan steroid, penyakit dermatologi, ketiadaan serumen, penggunaan antibiotik spektrum luas, dan alat bantu dengar. 1

Pada dasarnya, telinga memiliki kemampuan untuk melakukan mekanisme pembersihan. Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan membuang sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran telinga dengan cotton buds (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang

8

8 mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana. Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan

mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana. Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang masuk ke dalam saluran telinga ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembab pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh jamur.

Kelembaban merupakan faktor yang penting untuk terjadinya otomikosis. Kandungan air pada lapisan permukaan luar kulit diduga memegang peranan yang nyata terhadap mudahnya terjadi infeksi telinga luar.Stratum korneum menyerap kelembaban dari lingkungan yang mempunyai derajat kelembaban yang tinggi. Peningkatan kelembaban dari keratin didalam serta disekitar unit-unit apopilosebasea dapat menunjang terjadinya pembengkakan serta peyumbatan folikel sehingga dengan demikian menyebakan berkurangnya aliran sekret ke permukaan kulit.

Trauma dapat diakibatkan karena luka goresan oleh penjepit rambut atau batang korek api, alat yang tidak seharusnya digunakan untuk membersihkan benda asing, maupun pembersihan kanal telinga yang terlalu sering setelah berenang ketika kulit kanal sudah maserasi.Kulit yang normal mengandung lapisan lemak yang tipis pada permukaan yang diduga mempunyai kerja antibakteri dan fungistatik. Lapisan lemak ini mempunyai fungsi penting dalam pencegahan maserasi kulit serta menghalangi masuknya bakteri kedalam dermis melalui unit-unit apopilosebasea. Apabila lapisan lemak dari tulang rawan liang telinga dibuang, pada umumnya ia menggantikan dirinya dalam waktu yang singkat. Namun apabila berulang-ulang dicuci maka lapisan lemak tersebut akan menghilang dan organisme patogen yang tertanam disini bisa berkembang. 13,17

Serumen sendiri memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri dan jamur. Serumen memiliki sifat antimikotik, bakteriostatik, dan juga penolak serangga. Serumen terditi dari lipid (46-73%), protein, asam amino bebas, dan ion mineral. Serumen juga mengandung lisozim, imunoglubulin, dan asam lemak tak jenuh. Adanya ikatan rantai panjang asam lemak pada kulit yang normal dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Disamping itu, karena kompisisi hidrofobiknya, serumen mampu mencegah air

9

9 masuk, membuat permukaan kanal menjadi impermeabel, dapat mengindari maserasi, dan menghindari kerusakan epitel. 4 Olah

masuk, membuat permukaan kanal menjadi impermeabel, dapat mengindari maserasi, dan menghindari kerusakan epitel. 4

Olah raga air misalnya berenang dan berselancar sering dihubungkan dengan keadaan ini olehkarena paparan ulang dengan air sehingga kanal menjadi lembab dan dapat mempermudah jamur tumbuh. Hal inilah yang sering dihubungkan dengan terjadinya infeksi pada telinga luar (otomikosis). 5

2.3.3 Gejala dan Tanda Klinis Otomikosis Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala yang paling sering terjadi adalah rasa gatal atau pruritus. Penderita mengeluh rasa penuh dan sangat gatal di dalam telinga. Liang telinga merah sembab dan banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit atau pendengaran dapat terganggu oleh karena liang telinga tertutup oleh massa kotoran kulit dan jamur. Infeksi jamur dan invasi pada jaringan di bawah kulit menyebabkan nyeri dan supurasi. Bila infeksi berlanjut, eksema dan likenifikasi dapat jelas terlihat dan kelainan ini dapat meluas ke telinga bagian luar hingga bawah kuduk. Tulang rawan telinga dapat juga terserang. 6,16

Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan umum pada tahap awal dan sering mengawali terjadinya rasa nyeri. Rasa sakit pada telinga bisa bervariasi mulai dari hanya berupa perasaan tidak enak pada telinga, perasaan penuh dalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga berdenyut diikuti nyeri yang hebat. Keluhan rasa sakit yang dikeluhkan sering menjadi gejala yang mengelirukan, walaupun rasa sakit tersebut merupakan gejala yang dominan. Derajat rasa sakit belum bisa menggambarkan derajat peradangan yang terjadi. Hal ini dijelaskan bahwasanya kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis akan menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa nyeri.

Selain itu, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan daun telinga, sehingga gerakan dari daun telinga akan mengakibatkan rasa sakit yang hebat pada kulit dan tulang rawan di liang telinga luar. Kurangnya pendengaran mungkin dapat terjadi akibat edema kulit

10

Gambar 2. 2: Otomikosis yang terjadi pada telinga, jamur berwarna kehitaman 2
Gambar 2. 2: Otomikosis yang terjadi pada telinga, jamur berwarna kehitaman 2

liang telinga, sekret yang purulen, atau penebalan kulit yang progresif yang bisa menutup lumen dan mengakibatkan gangguan konduksi hantaran suara. 17

2.3.4 Penegakan Diagnosis dan Pengobatan Penegakan diagnosis pada otomikosis diawali dengan pemeriksaan lengkap THT untuk statusnya terutama ditekankan pada pemeriksaan telinga yang menggunakan otoskopi. Pemeriksaan THT harus sesuai dengan protokol yang berlaku. Kamar periksa THT memerlukan sebuah meja alat yang berisi alat-alat THT (THT set dengan lampu kepala yang arah sinarnya dapat disesuaikan dengan posisi organ yang akan diperiksa). Disamping meja harus disiapkan kursi yang dapat diputar, ditinggikan serta dapat direbahkan sebagai tempat berbaringuntuk pasien sesuai dengan posisi yang diinginkan pada pemeriksaan dan kursi dokter yang juga dapat berputar yang diletakkan saling berhadapan. 18

Alat-alat pemeriksaan THT

Telinga : lampu kepala, corong telinga, otoskop, garputala 1 set

Hidung : spekulum hidung, alat pengait benda asing hidung

Tenggorok: spatula lidah, kassa, kaca tenggorok, tissue.

Teknik Pemeriksaan

1. Pemeriksa mengucapkan salam dan memperkenalkan diri

11

3. Pemeriksa mengatur posisi pasien, duduk berhadapan dengan pemeriksa dengan posisi lutut bersisian
3.
Pemeriksa mengatur posisi pasien, duduk berhadapan dengan pemeriksa
dengan posisi lutut bersisian

Pemeriksaan Telinga

Pasien duduk dengan posisi badan condong ke depan dan kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan membran timpani. Aatur lampu kepala supaya fokus dan tidak mengganggu pergerakan. Untuk memeriksa telinga, harus diingat bahwa liang telinga tidak lurus. Untuk meluruskannya maka daun telinga ditarik ke atas belakang, dan tragus didorong kedepan. Liang telinga dikatakan lapang apabila pada pemeriksaan dengan lampu kepala tampak membran timpani secara keseluruhan. Untuk pemeriksaan detail membran timpani digunakan otoskop. Otoskop dipegang seperti memegang pensil, menggunakan tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan dan tangan kiri untuk memeriksa telinga kiri. Supaya posisi otoskop stabil maka jari kelingking tangan yang memegang otoskop ditekankan pada pipi orang yang diperiksa.

Pemeriksaan Hidung (Rhinoskopi Anterior)

Pasien duduk menghadap pemeriksa. Spekulum hidung dipegang dengan tangan kiri (right handed), arah horizontal, dengan jari telunjuk ditempelkan pada dorsum nasi. Tangan kanan digunakan untuk mengatur posisi kepala. Spekulum dimasukkan ke dalam rongga hidung dalam posisi tertutup, dan dikeluarkan dalam posisi terbuka. Saat pemeriksaan diperhatikan keadaan:Rongga hidung, luasnya lapang/sempit, adanya sekret; konka inferior dan konka media normal, pucat atau hiperemis, eutrofi, atrofi, edema, atau hipertrofi; septum nasi cukup lurus, deviasi, atau terdapat krista; serta massa dalam rongga hidung harus diperhatikan keberadaannya.

Pemeriksaan Tenggorokan (Orofaring)

Dua pertiga bagian depan lidah ditekan dengan spatula lidah kemudian diperhatikan:

12

1. Dinding belakang faring: warnanya, licin atau bergranula, sekret ada atau tidak, dan gerakan arkus
1. Dinding belakang faring: warnanya, licin atau bergranula, sekret ada atau
tidak, dan gerakan arkus faring
2. Tonsil: besar atau ukuran, warna, apakah ada detritus
a. T0 : tonsil sudah diangkat
b. T1 : tonsil masih didalam fossa tonsilaris
c. T2 : tonsil sudah melewati pilar posterior belum melewati garis
paramedian
d. T3 : tonsil melewati garis paramedian belum melewati garis
median (pertengahan uvula)
e. T4 : tonsil melewati garis median
3. Mulut: bibir, pallatum, gusi dan gigi geligi
4. Lidah: perhatikan gerakanlidah
Bahan Pemeriksaan
Preparat
langsung
gerakanlidah Bahan Pemeriksaan Preparat langsung Letakkan di gelas objek Tambahkan KOH 10% 1 tetes Tutup

Letakkan di gelas objek

Pemeriksaan Preparat langsung Letakkan di gelas objek Tambahkan KOH 10% 1 tetes Tutup dengan cover glass

Tambahkan KOH 10% 1 tetes

langsung Letakkan di gelas objek Tambahkan KOH 10% 1 tetes Tutup dengan cover glass Tunggu selama

Tutup dengan cover glass

objek Tambahkan KOH 10% 1 tetes Tutup dengan cover glass Tunggu selama 10 menit Amati di

Tunggu selama 10 menit

10% 1 tetes Tutup dengan cover glass Tunggu selama 10 menit Amati di bawah mikroskop tanpa

Amati di bawah mikroskop tanpa minyak emersi dengan pembesaran 10x10 dan 10x40

Sampel yang dibutuhkan untuk penegakan diagnosis otomikosis dapat diperoleh dari swab telinga menggunakan cotton swab steril. Pemeriksaan preparat langsung dengan mikroskop dapat digunakan untuk mendeteksi jamur. Pada preparat sediaan langsung dengan menggunakan larutan KOH 10% hasil positif akan menunjukkan adanya hifa pada preparat tesebut. 1,3,19

Gambar 2. 3: skema kerja pemeriksaan jamur 20

Penggunaan antifungal topikal telah berlangsung lama, selain pengobatan topikal, aural hygiene juga mempunyai pengaruh yang sangat penting pada

13

Golongan azole merupakan agen sintetik yang dapat mengurangi
Golongan azole merupakan agen sintetik yang dapat mengurangi

pengobatan otomikosis. Larutan asam asetat 2% dalam alkohol, larutan povidon

iodin 5% atau tetes telinga yang mengandung campuran antibiotik yang

diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan. Kadang-kadang

diperlukan juga obat anti-jamur (seperti salep) yang diberikan secara topikal yang

mengandung nistatin, clotrimazole ataupun golongan azole lainnya. Nistatin

adalah antibiotik makrolida yang dapat menghambat sintesis sterol di membran

sitoplasma, dan banyak jamur yang sensitif terhadap nistatin, termasuk Candida

spp. 11,21

konsentrasi ergosterol, yaitu sterol esensial yang terdapat pada membran

sitoplasma normal. Clotrimazole adalah golongan azole yang paling sering

digunakan karena efektifitasnya yang tinggi dalam mengobati otomikosis.

Clotrimazole juga memiliki efek antibakteri sehingga sering digunakan untuk

pengobatan infeksi bakteri-jamur, dan ia tidak memiliki efek ototoksisitas.

Ketokonazole dan flukonazole merupakan antifungal spektrum luas dan

komponen kimianya efektif mengobati penyebab umum otomikosis seperti

Aspergillus dan Candida albicans.

Tabel 2.1: Obat yang sering digunakan pada kasus otomikosis dan efikasinya ditampilkan dalam bentuk persentasi. 21

Authors

Study design

Antifungal

Posology

Number

Efficacy

of

(%)

Patients

Jadhav et al.

Prospective

Clotrimazole

1%solution 4 drops tid x 1 month

79

100

Piantoni et al.

Prospective

Bifonazole

1%solution, once a dayx 4-15 days

23

100

Nong et al.

Randomized

Miconazole

Once a day x 2 weeks Once a day x 2 weeks Once a day x 2 weeks Three times per day for 2 weeks

110

97,6

prospective

Ketokonazole

97,5

Clotrimazole

90

Thymol alcohol

80

Ologe dan Nwabuisi

Prospective

Clotrimazole

1% cream once a day x 2 weeks

141

96

Kley

Prospective

Clotrimazole

0,25 mg/ml once a day x 8-12 days

39

94,8

Tisner et al.

Prospective

Thimerosal

Not reported

152

93,4

Than et al.

Prospective

5-Fluorocytosine

10% ointment x 7-10 days

189

90

Ho et al.

Retrospective

Cresylate otic Ketokonazole otic Aluminium acetate otic

Three times per day x1-3weeks 1- 3cc one application x 1 week 0,5% solution x 1-3 weeks

51

86

48

95

18

86

14

Kurnatowski et al. Prospective Fluconazole 0,2%solution/three times per day x 21 days 96 89,4 Mgbor
Kurnatowski et al.
Prospective
Fluconazole
0,2%solution/three times per day
x 21 days
96
89,4
Mgbor dan Gugnani
Randomized
Locacorten-vioform
1% solution every other dayx 7-
23
66,6
prospective
10days
Mercurochrome
1% solution every other dayx 7-
23
95,8
10days
Clotrimazole
1% solution every other dayx 7-
24
75
10days
del Palacio et al.
Randomized
Cyclopyrox olamine
prospective
11% cream x 1 week
1% solution x 1 week
1 week
20
80
Cyclopyrox olamine
20
95
Boric acid
40
72,5
Ozcan et al.
Prospective
Boric acid
4% solution in alcohol
87
77
Cohen dan Thompson
Prospective
Ketokonazole
Not reported
9
100
Jackman et al.
Retrospective
Acetic acid otic
Clotrimazole
Nystatin
Aluminium acetate otic
Not reported
15
40
8
50
2
50
1
0
Bhaily et al.
Case report
Clotrimazole
0,25 mg/ml
1
100
Mishra et al.
Case report
Mercurochrome
1% solution
1
100
Dyckhoff et al.
Review
Miconazole
0,25% solution
-
-
Bassiouny et al.
In vitro
Clotrimazole otic
Econazole
Miconazole
Cyclopyrox olamine otic
1-4 ug/ml
-
100
1% solution
-
100
0,1-4 ug/ml
-
90
Not reported
-
57
Egami et al.
In vitro
Lanoconazole
0,1 ug/ml
-
100

2.3.5 Pencegahan Untuk mencegah terjadinya otomikosis, hal yang paling penting dilakukan adalah menjaga pertahanan kanal telinga untuk melawan infeksi bekerja dengan baik, seperti membiarkan serumen di kanal telinga yang memiliki sifat anti- mikotik. Disarankan menggunakan handuk untuk mengeringkan telinga setelah berenang, atau mandi. 22

2.4 Jilbab dan Otomikosis Selain tradisional dan budaya, jilbab juga dikenal memiliki nilai religius yang tinggi. Saat ini, jilbab bahkan sering digunakan untuk fashion dengan berbagai mode dan bahan untuk penggunaannya. Secara khusus, Agama Islam mewajibkan penggunaan jilbab bagi kaum wanita, sedangkan sorban yang sering digunakan kaum pria lebih menunjukkan budaya pada suatu wilayah tertentu. Hal yang penting diperhatikan disini adalah bagaimana seseorang menggunakan jilbab

15

15 atau penutup kepala dan bagaimana cara menjaga kebersihan dengan penggunaan jilbab. Meatus (kanal) telinga dapat

atau penutup kepala dan bagaimana cara menjaga kebersihan dengan penggunaan jilbab.

Meatus (kanal) telinga dapat terinfeksi dengan mudah karena memiliki kelembaban yang tinggi, dan hal ini lebih sering terjadi pada mereka yang menggunakan penutup kepala di beberapa tempat dibelahan bumi. 21 Seperti yang telah disinggung pada paragraf diatas, jilbab memiliki banyak mode yang terbuat dari berbagai macam bahan, mulai dari bahan katun yang dapat menyerap keringat, sampai bahan tertentu, seperti spandex yang tidak dapat menyerap keringat. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh seorang pengguna jilbab, karena bahan tertentu dapat menyebabkan kelembaban telinga meningkat.

Otomikosis paling sering terjadi ketika air terlalu banyak masuk ke kanal, seperti saat setelah berenang dan sama halnya ketika menggunakan jilbab dengan cara atau pemilihan bahan yang kurang tepat yang akan menyebabkan keringat meningkat, dan penyerapannya menurun. Kuman dan jamur akan lebih gampang tumbuh karena air dapat meningkatkan kelembaban telinga. Ashish Kumar pada tahun 2005 dengan penelitiannya yang berjudul “Fungal Spectrum in Otomycosis Patients”, telah menetapkan faktor predisposisi yang berkontribusi terjadinya otomikosis termasuk pemakaian sorban, pemakaian jilbab (purdah/hezab), dan berenang. Hal ini berkaitan erat dengan kebiasaan, profesi, dan agama. 3,22

2.5 Hubungan Cotton Buds dengan Otomikosis Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran telinga dengan cotton buds (kapas pembersih) dapat mengganggu mekanisme pembersihan ini dan dapat mendorong sel-sel kulit yang mati beserta serumen ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana. 12

Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembab pada saluran telinga akan lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur. 12

16

Penggunaan Antibiotik Immunodefisiensi, Steroid, Penyakit dermatologi Penurunan jumlah flora Penurunan sistem imun
Penggunaan
Antibiotik
Immunodefisiensi,
Steroid, Penyakit
dermatologi
Penurunan
jumlah flora
Penurunan sistem
imun
normal

2.6 Kerangka Teori

Pemakaian Penggunaan Jilbab Cotton Buds -Pengangkatan film layer Peningkatan kelembaban -Pendorongan sel kulit
Pemakaian
Penggunaan
Jilbab
Cotton Buds
-Pengangkatan
film layer
Peningkatan
kelembaban
-Pendorongan
sel kulit mati
dan serumen ke
arah gendang
telinga
Mekanisme
pembersihan
terganggu

Otomikosis

17

2.7 Kerangka Konsep Variabel bebas Jilbab - Bahan jilbab - Lama terpapar/ hari - Lama
2.7 Kerangka Konsep
Variabel bebas
Jilbab
- Bahan jilbab
- Lama terpapar/ hari
- Lama penggunaan
jilbab(bulan/tahun)
- Selang waktu pemakaian jilbab
setelah keramas
- Lapis jilbab
Cotton buds
- Serumen
Variabel terikat
Otomikosis
Berenang
- Kelembaban rongga telinga
Penggunaan obat (steroid)dan riwayat
infeksi jamur sebelumnya

18

2.8 Definisi Operasional No Variabel Definisi Pengukur Cara Alat ukur Skala Hasil ukur pengukuran 1.
2.8 Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi
Pengukur
Cara
Alat ukur
Skala
Hasil ukur
pengukuran
1.
Otomikosis
Penyakit inflamasi
telinga luar yang
disebabkan oleh
infeksi jamur
Peneliti
Pemeriksaan
KOH 10%
Nominal
1.
Negatif
mikroskop
2.
Positif
2.
Jilbab
Penutup kepala dan
leher bagi wanita
muslimah yang
dipakai secara
khusus dan dalam
bentuk yang khusus
pula
Peneliti
Kuisioner
Kuisioner
Nominal
1.
Bahan jilbab
2.
Lama terpapar
3.
Lama
pemakaian
3.
Cotton
Kuesioner
1.
buds
Kapas telinga yang
biasanya digunakan
sebagai pembersih
telinga
Peneliti
Kuesioner
Nominal
Sering
2.
Jarang
3.
Tidak pernah
4.
Berenang
-Gerakan sewaktu
bergerak di air,
biasanya
dimanfaatkan untuk
rekreasi dan
olahraga
-Seberapa sering
responden berenang
dalam seminggu
Peneliti
Kuesioner
Kuesioner
Nominal
1.
≤1x seminggu
2.
2-3x seminggu
3.
4-5x seminggu
4.
Setiap hari
BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang (cross sectional)
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong
lintang (cross sectional)
Populasi untuk penelitian ini adalah seluruh mahasiswi preklinik
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3.1.Desain

3.2.Waktu Penelitian Terhitung mulai tanggal 1 Juli sampai 10 Agustus 2012

3.3.Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di kampus FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3.4.Populasi

3.5.Sampel Penelitian dan Cara Pemilihan Sampel Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah mahasiswi preklinik dengan metode pemilihan sampel yaitu sistematic random sampling

3.6.Besar Sampel

3.6.1. Perhitungan Besar Sampel

Jumlah sampel = =

(1,96) × 0,09 × 0,91

=

0,1

= 31,4 ( 32)

n

= jumlah sampel

= derivat baku alfa (1,96)

19

20

P = proporsi kategori variabel yang diteliti Q = 1-P D = presisi 3.6.2. Sampel
P
= proporsi kategori variabel yang diteliti
Q
= 1-P
D
= presisi
3.6.2. Sampel yang diambil
Berdasarkan perhitungan rumus diatas, maka besar sampel
minimal yang diambil adalah32 orang mahasiswi, ditambah 10%
sehingga menjadi 35. Namun dari perhitungan rule of 10 dari
faktor perancu didapatkan hasil 4x10= 40 sampel. Maka dari
kedua perhitungan tersebut, peneliti mengambil jumlah sampel
terbanyak yaitu 40 mahasiswi
3.7.1. Variabel terikat
Otomikosis
3.7.2. Variabel bebas
Pemakaian jilbab
Penggunaan cotton buds

3.7.Variabel Penelitian

3.8.Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.8.1. Faktor Inklusi

Mahasiswi PSPD UIN Syarif hidayatullah Jakarta yang memakai jilbab

Mahasiswi preklinik angkatan 2009, 2010, dan 2011

3.8.2. Faktor Eksklusi

Mahasiswi yang tidak bersedia menjadi subjek penelitian

3.9.Cara Kerja Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan langsung dibawah mikroskop menggunakan KOH 10% dan memberikan kuisioner pada responden.

21

3.9.1. Pemeriksaan Otoskop Pemeriksaan otoskop dilakukan dengan cara memegang otoskop dengan tangan kanan untuk
3.9.1. Pemeriksaan Otoskop
Pemeriksaan otoskop dilakukan dengan cara memegang otoskop dengan
tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan dan tangan kiri bila
memeriksa telinga kiri. Supaya posisi otoskop ini stabil maka jari
kelingking tangan yang memegang otoskop ditekankan pada pipi orang
yang diperiksa.
3.9.2. Pemeriksaan KOH
Alat dan Bahan
- Bunsen
-
Gelas objek
- Cover glass
-
KOH 10%
- Swab steril
Langkah kerja :
Bahan Pemeriksaan
Preparat
langsung
Letakkan di gelas objek
Tambahkan KOH 10% 1 tetes
Tutup dengan cover glass

Tunggu selama 10 menit

10% 1 tetes Tutup dengan cover glass Tunggu selama 10 menit Amati di bawah mikroskop tanpa

Amati di bawah mikroskop tanpa minyak emersi dengan pembesaran 10x10 dan 10x40

3.9.3. Pemberian Kuisioner

Untuk menilai faktor resiko yang ada dan karakteristik responden dilakukan dengan pengisian kuisioner

3.10. Alur Penelitian

Meminta izin dan menjelaskan prosedur pada sampel

Pemeriksaan

THT

(otoskopi)

Informed Consent
Informed
Consent

Pemeriksaan KOH menggunakan preparat langsung

sampel Pemeriksaan THT (otoskopi) Informed Consent Pemeriksaan KOH menggunakan preparat langsung Pemberian kuisioner
Pemberian kuisioner
Pemberian
kuisioner
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2012 dan hasil penelitian ini diperoleh dari 40 percontoh yang telah didapat dengan menggunakan salah satu metode sampling, yaitu sistematic random sampling. Peneliti mendata mahasiswi preklinik di PSPD FIKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan kemudian mengurutkan secara ascending nama mahasiwi lalu peneliti mengambil setiap nama dengan angka ganjil disetiap angkatan. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemeriksaanlengkap telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), pemeriksaan preparat langsung yang mengambil sediaan dengan menggunakan swab pada liang telinga, dan pemberian kuisioner. Pemeriksaan THT terutama dalam penelitian ini pemeriksaan otoskopi dilakukan langsung oleh spesialis THT di kampus FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan di RS Khusus THT-KL Proklamasi BSD, pemeriksaan preparat langsung dibawah mikroskop menggunakan KOH 10% dilakukan langsung oleh peneliti dan dibantu oleh ahli mikrobiologi di laboratorium mikrobiologi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta pemberikan kuisioner pada tiap-tiap percontoh.

Tabel 4.1: Karakteristik Demografis Subjek Penelitian

Karakteristik

Jumlah

Persentase(%)

Kelompok usia

18 tahun

6

15

19 tahun

14

35

20 tahun

12

30

21 tahun

8

20

Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa sebaran usia percontoh pada penelitian ini terdiri dari kelompok usia 18 tahun sebanyak 6 orang (15%), 19 tahun sebanyak 14 orang (35%), 20 tahun sebanyak 12 orang (30%), dan 21 tahun

22

23

Jumlah Persentase(%) 25 62,5 15 37,5 8 20 9 22,5 23 57,5 5 12,5 35
Jumlah
Persentase(%)
25
62,5
15
37,5
8
20
9
22,5
23
57,5
5
12,5
35
87,5

sebanyak 8 orang (20%) dan dapat disimpulkan bahwa sebaran usia didominasi oleh kelompok usia 19 tahun.Usia tertua adalah 21 tahun dan termuda adalah 18 tahun, denganrata-rata usia adalah 19,5 tahun.

4.1.2. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel independen dan variabel dependen yang diteliti. Selanjutnya distribusi sampel penelitian dan hasil analisis univariat dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2: Distribusi Sampel Penelitian

Frekuensi pakai jilbab Setiap hari <6 hari Riwayat pakai jilbab

6 bulan – 1 tahun 1-2 tahun >2 tahun

Lama pemakaian jilbab dalam sehari >12 jam 6-12 jam Bahan Jilbab Katun Katun dan spandex Lapisan Jilbab

1 lapis

2 lapis

Pemakaian jilbab secara langsung setelah keramas <30 menit 30 menit- 1 jam 1-2 jam >2 jam Penggunaan cotton buds <2 kali seminggu 2-3 kali seminggu

39

97,5

1

2,5

20

50

20

50

9

22,5

11

27,5

14

35

6

15

10

25

11

27,5

24

16 40 3 7,5 38 95 2 5 1 2,5 39 97,5 4 10 36
16
40
3
7,5
38
95
2
5
1
2,5
39
97,5
4
10
36
90
33
82,5
7
17,5
1
2,5
39
97,5

4-5 kali seminggu Setiap hari Berenang <2 kali seminggu 2-3 kali seminggu Penggunaan steroid >3 bulan Ya Tidak Riwayat penyakit jamur sebelumnya Ya Tidak Serumen Positif Negatif OMSK Positif Negatif

Berdasarkan hasil penelitian yang tercantum pada tabel 4.2 dari 40 percontoh yang diteliti, jumlah yang menggunakan jilbab setiap hari adalah sebanyak 25 orang (62,5%) dan yang menggunakan jilbab <6 hari adalah sebanyak 15 orang (37,5%). Dapat diketahui pula riwayat pemakaian jilbab percontoh selama 6 bulan – 1 tahun ada sebanyak 8 orang (20%), 1-2 tahun sebanyak 9 orang (22,5%), dan yang lebih dari 2 tahun sebanyak 23 orang (57,5%). Pada hasil lamanya pemakaian jilbab dalam sehari didapatkan yang memakai jilbab >12 jam sebanyak 5 orang (12,5%) dan yang menggunakan jilbab 6-12 jam sebanyak 35 orang (87,5%).Sebagian besar percontoh adalah pengguna jilbab yang berbahan dasar katun yaitu sebanyak 39 orang (97,5%) dan hanya 1 orang (2,5%) yang menggunakan jilbab berbahan dasar katun dan spandex. Hasil lain yang didapatkan yakni sebanyak 9 orang (22,5%) memiliki kebiasaan menggunakan jilbab dengan selang waktu kurang dari 30 menit setelah keramas, 11 orang (27,5%) dengan selang waktu 30 menit-1 jam, 14 orang (35%) dengan selang waktu 1-2 jam, dan sebanyak 6 orang (15%) dengan selang waktu lebih dari 2 jam.

25

orang (95%) berenang kurang dari 2 kali dalam seminggu. orang (97,5%) sisanya tidak pernah menggunakan
orang (95%) berenang kurang dari 2 kali dalam seminggu.
orang (97,5%) sisanya tidak pernah menggunakan obat golongan steroid dalam

Percontoh yang memiliki kebiasaan menggunakan cotton buds dengan frekuensi penggunaan kurang dari 2 kali seminggu adalah sebanyak 10 orang (25%), 2-3 kali seminggu sebanyak 11 orang (27,5%), 4-5 kali seminggu sebanyak 16 orang (40%), dan percontoh yang menggunakan cotton buds setiap hari sebanyak 3 orang (7,5%). Hanya sebagian kecil percontoh yang memiliki

kebiasaan berenang 2-3 kali seminggu yaitu 2 orang (5%) dan sisanya sebanyak

38

Percontoh penelitian yang pernah mengkonsumsi obat golongan steroid dalam jangka waktu lama yaitu lebih dari 3 bulan hanya ada 1 orang (2,5%) dan

39

jangka waktu lama. Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui juga dari 40 percontoh yang diteliti hanya 4 orang (10%) memiliki riwayat penyakit jamur sebelumnya, dan sebanyak 36 orang (90%) tidak memiliki riwayat tersebut.

Pada hasil penelitian ini dari 40 orang percontoh ditemukan serumen positif pada 33 orang (82,5%) dengan jumlah serumen yang cukup banyak, dan 7 orang (17,5%) sisanya didapatkan serumen negatif atau dengan jumlah serumen yang sangat minimal. Pada penelitian ini juga didapatkan 1 orang (2,5%) menderita otitis media supuratif kronik (OMSK).

Tabel 4. 3: Serumen pada Pengguna Cotton Buds

Penggunaan cotton buds

Serumen

Total

 

Negatif

Positif

< 2 kali seminggu 2-3 kali seminggu 4-5 kali seminggu Setiap hari Total

2

8

10

1

10

11

3

13

16

1

2

3

7

33

40

Dari 40 orang percontoh pada penelitian ini ditemukan sebanyak 33 orang yang memiliki serumen positif. Tabel 4.3 menunjukkan bahwa keadaan serumen yang positif didominasi oleh penggunaan cotton buds dengan frekuensi 4-5 kali seminggu yaitu sebanyak 13 orang.

26

Jumlah Persentasi (%) 0 0 40 100 Pada penelitian ini tidak ditemukan kasus otomikosis (0%)
Jumlah
Persentasi (%)
0
0
40
100
Pada penelitian ini tidak ditemukan kasus otomikosis (0%)
4.1.3. Analisis Bivariat
1. Mengingat tidak adanya kasus otomikosis yang ditemukan pada penelitian
ini, maka tidak ada data statistik yang dapat diuji untuk otomikosiskarena
otomikosis adalah nilai yang konstan (tidak ada kasus).
2. Pada penelitian ini ditemukan kejadian serumen positif dan tingginya
frekuensi penggunaan cotton buds, selanjutnya hasil analisis bivariat dapat
dilihat pada tabel 4.5
Tabel 4. 5: Hubungan penggunaan cotton buds dengan serumen
Serumen
Penggunaan Cotton Buds
Negatif
Positif
p-value
n (%)
n (%)
Jarang
2 (1,8)
8 (8,2)
0,572*
Sering
5 (5,2)
25 (24,8)

Tabel 4.4: Prevalensi Otomikosis

Otomikosis

Positif

Negatif

Keterangan: *uji fisher Pada tabel 4.5 tentang hubungan penggunaan cotton buds dengan serumen didominasi oleh serumen positif dengan penggunaan cotton buds yang sering yaitu 25 orang (24,8%) dan ditemukan pula serumen positif pada penggunaan cotton buds yang sarang sebanyak 8 orang (8,2%). Berdasarkan hasil statistik ini tidak terdapat hubungan bermakna antara penggunaan cotton buds dengan serumen (p=0,572)

4.2. Pembahasan Berdasarkan hasil laporan pada penelitian ini ditemukan penggunaan jilbab 6-12 jam perhari sebanyak 35 orang (87,5%), penggunaan jilbab berbahan dasar katun sebanyak 39 orang (97,5%), dan pemakaian jilbab secara langsung setelah keramas dengan rentang waktu 1-2 jam sebanyak 14 orang (35%). Hal ini

27

27 dapat menjadi penyebab tidak ditemukannya kasus otomikosis. Penggunaan penutup kepala (jilbab) dilaporkan sebagai salah

dapat menjadi penyebab tidak ditemukannya kasus otomikosis. Penggunaan penutup kepala (jilbab) dilaporkan sebagai salah satu faktor predisposisi yang dapat menyebabkan terjadinya otomikosis diduga karena dapat meningkatkan kelembaban liang telinga dan membuat tempat yang ideal bagi pertumbuhan jamur. Namun sebagian besar percontoh pada penelitian ini memilih jibab berbahan dasar katun, dan seperti yang diketahui serat katun terbuat dari tumbuhan (kapas) yang dapat menyerap keringat, sehingga tidak meningkatkan kelembaban telinga. Selain itu salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya infeksi jamur di telinga atau otomikosis adalah personal hygiene, dan percontoh yang ada pada penelitian ini sebagian besar percontoh memiliki hygiene yang cukup baik. 1,7,23

Tidak ditemukan kasus otomikosis pada mahasiswi yang menggunakan jilbab di populasi PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada penelitian ini tidak ditemukannya kejadian otomikosis dapat disebabkan karena percontoh pada penelitian ini tidak memiliki keluhan. Sedangkan pada penelitian Ozcan dkk tahun 2003, penelitian dilakukan pada pasien yang sudah terdiagnosis otomikosis selanjutnya dinilai faktor resiko yang ada pada pasien tersebut, dan ditemukan sebanyak 74,7% pasien adalah wanita yang menggunakan jilbab. Sehingga jumlah percontoh yang diambil untuk penelitian ini seharusnya lebih besar dibanding jumlah percontoh yang ada, karena mencari faktor risiko diantara orang normal tentu akan berbeda dengan mencari faktor risiko yang ada pada pasien yang telah terdiagnosis penyakitnya. 7

Pada penelitian ini tidak ditemukan kasus otomikosis, namun seluruhpercontoh memiliki kebiasaan menggunakan cotton buds, hanya berbeda frekuensi penggunaanya dalam seminggu.Penggunaan cotton buds masih sering dijumpai pada percontoh penelitian dengan persentase penggunaan tertinggi 4-5 kali seminggu yaitu sebanyak 40%.Dari hasil laporan penggunaan cotton buds yang tinggi dan tidak ditemukannya kasus otomikosis pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa otomikosis tidak hanya terjadi dengan satu faktor tunggal. Penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan cotton buds yang meningkat belum tentu menyebabkan otomikosis. Penelitian yang dilakukan Funsula dkk

28

28 pada tahun 2007menemukan 82,54% pasien otomikosis memiliki riwayat penggunaan cotton buds , dan 17,46% dari

pada tahun 2007menemukan 82,54% pasien otomikosis memiliki riwayat penggunaan cotton buds, dan 17,46% dari pasien yang tidak menggunakan cotton buds terkena otomikosis. Hal ini memperkuat temuan peneliti bahwa otomikosis terjadi karena beberapa faktor. 24

Pada hasil penelitian ini tidak ditemukannya otomikosis kemungkinan karena sebaran usia percontoh penelitian adalah 18 sampai 21 tahun, sedangkan dari hasil laporan penelitian yang dilakukan oleh Paulose dkk menyebutkan bahwa insiden tertinggi terjadinya otomikosis ditemukan pada kelompok usia 20- 30 tahun.Hasil penelitianmenemukan hanya sebagian kecil dari seluruh percontoh penelitian yang memiliki kebiasaan berenang yaitu 2 orang (5%). Hal ini juga merupakan salah satu faktor tidak ditemukannya kasus otomikosis pada penelitian ini karena sebagian besar percontoh penelitian jarang berenang. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Wang dkkpada tahun 2005 dilaporkan bahwa resiko otitis eksterna dalam hal ini otomikosis terjadi lima kali lipat lebih sering pada orang yang sering berenang daripada yang tidak berenang. 22,25

Pada penelitian ini juga ditemukan dari 40 percontoh yang ada hanya 4 orang (10%) yang pernah mengalami penyakit sebelumnya yang disebabkan oleh jamur. Hal ini juga merupakan salah satu penyebab tidak ditemukannya otomikosis pada penelitian ini, sedangkan Uslu dkk tahun 2005 pada penelitiannya melaporkan bahwa sebagian besar otomikosis yang ditemukan berhubungan erat dengan penyakit jamur sebelumnya. Otomikosis dapat terjadi karena adanya autoinokulasi akibat dermatomikosis yang tidak terobati, ataupun tidak diobati dengan baik, dan dermatomikosis sebaiknya diperiksa pada pasien otomikosis dan diobati secara simultan untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada kedua penyakit tersebut. 26,27

Dari hasil penelitian ini yang menemukan 1 orang (2,5%) dengan riwayat penggunaan steroid dalam jangka waktu lama tanpa ditemukannya kasus otomikosis memperkuat dugaan bahwa otomikosis terjadi karena banyak faktor seperti beberapa hal yang telah dipaparkan diatas. Penggunaan steroid dalam jangka waktu lama dihubungkan dengan kejadian otomikosis karena selain

29

29 berfungsi sebagai antiinflamasi, steroid juga dapat menurunkan sistem imun yang dapat mempermudah terkena infeksi. Pada

berfungsi sebagai antiinflamasi, steroid juga dapat menurunkan sistem imun yang dapat mempermudah terkena infeksi.

Pada hasil pemeriksaan otoskopi yang dilakukan pada penelitian ini, ditemukan serumen positif dengan jumlah serumen yang cukup banyak pada sebagian besar percontoh. Hal ini dihubungkan dengan kebiasaan penggunaan cotton buds. Penggunaan cotton buds sendiri dapat menyebabkan 2 kemungkinan, yang pertama pengangkatan film layer yang menyebabkan serumen keluar sehingga fungsi proteksi pada kanal telinga menurun dan mempermudah terjadinya infeksi, dan yang kedua pendorongan serumen ke tempat yang lebih dalam sehingga terjadinya akumulasi atau penumpukan serumen yang sulit dikeluarkan. Suresh Kumar pada tahun 2008 telah menemukan hubungan otomikosis dengan kejadian penggunaan cotton buds pada penelitiannya, dan menyebutkan bahwa hal tersebut terjadi akibat keberadaan serumen basah

(moist). 11,13,16,28

Hasil pemeriksaan otoskopi yang dilakukan pada penelitian ini ditemukan juga 1 (2,5%) riwayat kasus OMSK, dan telah dilaporkan tidak adanya kasus otomikosis (0%), sedangkan Vennewald tahun 2003 pada penelitiannya menyebutkan infeksi jamur dan OMSK bisa terjadi dalam waktu bersamaan sehingga sulit diketahui mana yang lebih dahulu terjadi. Pada OMSK tipe aman, salah satu penyebab infeksi jamur terjadi oleh karena pemakaian antibiotik tetes telinga dengan jangka waktu yang lama sehingga mengakibatkan penekanan pada flora normal dan merubah suasana lingkungan pH di telinga menjadi basa sehingga jamur mudah tumbuh. Selain itu infeksi jamur dapat terjadi akibat otomikosis yang berlangsung terus menerus pada liang telinga luar sehingga hifa atau spora berkembang ke telinga tengah. 29,30,31

30

30 4.3. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitian yang dialami oleh peneliti adalah jumlah sampel yang diambil oleh

4.3. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitian yang dialami oleh peneliti adalah jumlah sampel yang diambil oleh peneliti tidak cukup banyak dan kurang bervariasi untuk menentukan kejadian otomikosis pada orang yang sehat. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan sampel pada responden dengan personal hygiene yang cukup baik, sehingga tidak ditemukan angka kejadian otomikosis.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Mengingat tidak ditemukannya kasus otomikosis pada penelitian ini,
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Mengingat tidak ditemukannya kasus otomikosis pada penelitian ini,
makaprevalensi otomikosis pada mahasiswi preklinik PSPD FKIK UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta berdasarkan karakteristik pemakaian jilbab,
berdasarkan penggunaan cotton buds, dan seringnya terpapar air
(berenang) tidak dapat ditentukan.
2. Pada penelitian ini ditemukan bahwa kejadian otomikosis tidak dapat
ditentukan hanya dengan satu faktor tunggal.
Saran
1.
Dilakukan penelitian selanjutnya dan disarankan untuk memperbanyak
jumlah sampel agar dapat ditemukannya kejadian otomikosis pada
kelompok orang yang tidak memiliki keluhan.
2.
Disarankan agar penelitian selanjutnya dilakukan pada populasi umum
terutama pada populasi dengan hygiene yang kurang baik.

5.1.

5.2.

3. Disarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan pemeriksaan kultur jamur pada agar saboroud dan diharapkan jamur dapat tumbuh.

4. Dengan personal hygiene yang cukup baik tidak perlu mengkhawatirkan penggunaan jilbab.

31

32

Daftar Pustaka 1. Barati, B. Dkk. Otomycosis in Central Iran: A Clinical and Mycological Study.
Daftar Pustaka
1. Barati, B. Dkk. Otomycosis in Central Iran: A Clinical and Mycological
Study. Iran Red Crescent Med J 2011; 13(12):873-876. Vol.13.
www.ircmj.com, diakses pada tanggal 29 januari 2012
2. Sanna, M. Color Atlas of Otoscopy: From Diagnosis to Surgery. New
York: Thieme Stuttgart. 1999
3. Kumar, Ashish. Fungal Spectrum in Otomycosis Patients. JK Science.
Vol. 7 No. 3, July-September 2005. Diakses pada tanggal 29 januari 2012
4. Gutiérrez, P.H, dkk. Presumed Diagnosis: Otomycosis. A Study of 451
Patients. Acta Otorrinolaringol Esp 2005; 56: 181-186. Diakses pada 28
januari 2012
5. Knott, Laurence. Fungal
Ear
Infection
(Otomycosis).http://www.patient.co.uk/doctor/Fungal-Ear-Infection-
(Otomycosis).htm diakses pada tanggal 28 januari 2012
6. Ballenger, James. Jr, Snow. Manual of Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery. London: BC Decker. 2002
7. Ozcan, K.Murat. Ozcan, Muge. Karaarslan, Aydin.Karaarslan, Filiz.
Otomycosis in Turkey: Predisposing Factors, Aetiology, and Therapy. The
Journal of Laryngology and Otology. Vol 117, pp.39-42. 2003

8. Vander et al. Human Physiology: The Mechanism of Body Function. Eight Edition. McGraw-Hill Companies. 2001

9. Applegate, Edith J. The Anatomy and Physiology Learning System. 4 th edition. Missouri: Saunders Elsevier. 2011.

10. Snell, Richard S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta: EGC. 2006.

11. Soepardi, Efiaty A.dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2010

12. Bailey, BJ. Johnson, JT. Newlands, SD. Head and Neck Surgery- Otolaryngology. 4th Edition. Volume 2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2006

33

13. Dhingra, PL. Dhingra, Shruti. Disease of Ear, Nose, and Throat. 5th Edition. India: Elsevier.
13. Dhingra, PL. Dhingra, Shruti. Disease of Ear, Nose, and Throat. 5th
Edition. India: Elsevier. 2012
14. Ho, Tang. Otomycosis :Clinical Features and Treatment Implications.
Otolaryngology–Head and Neck Surgery. American Academy of
Otolaryngology–Head and Neck Surgery Foundation. 2006.135, 787-791.
Diakses pada tanggal 28 januari 2012
15. Chander, Jagdish. Aspergillus otomycosis. 2009.
http://www.aspergillus.org.uk/secure/treatment/otomyc.php. diakses pada
tanggal 31 januari 2012
16. Boeis, Lawrence R. Adams, George L. BOEIS Buku Ajar Penyakit THT.
Edidi 6. Jakarta: EGC. 1997
17. Abdullah , Farhaan. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi
Saring dengan Salep Ichthyol (Ichthammol) pada Otitis Eksterna Akut.
www.USUdigitallibrary.com . 2003. diakses pada 29 januari 2012
18. Tim Penyusun. Penuntun Skills Lab Gangguan Indra Khusus (Mata, Kulit,
dan THT). Edisi Ke-1. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Sumatera Barat: 2012
19. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta:

Balai Penerbit FKUI. 2009 20. Tim penyusun. Lembar Kerja Praktikum Pemeriksaan Jamur. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia. Jogjakarta: 2011 21. Munguia, Raymundo. Daniel, Sam J. Ototopical Antifungal and

Otomycosis: A Rivew. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology. 2008. 72, 453—459. www.elsevier.com/locate/ijporl diunduh pada 30 januari 2012. 22. Paulose, K.O. Fungus in the Ear. Otomycosis. The Journal of Laryngology and Otology. http://www.drpaulose.com/general/fungus-in-the-ear- otomycosis diakses pada tanggal 28 januari 2012 23. Plant and Animal Fibers. Sited from www.fibre2fashion.com September

2012

24. Fasunla

J,

Ibekwe

T,

Onakoya

P.

Mycoses. 2007;51: 67-70

Otomycosis

in

Western

Nigeria.

34

25. Wang, Mao-Che et all. Ear Problems in Swimmers. Journal of China Medical Association. Vol.
25. Wang, Mao-Che et all. Ear Problems in Swimmers. Journal of China
Medical Association. Vol. 68. Elsevier. 2005
26. Uslu, Hakan. Yoruk, Ozgur. Uyanik, M. Hamidullah. Mycological
Investigation in Patiens with Otitis Externa. The Eurasian Journal of
Medicine. Volume 37, Number 1, Page(s) 015-017.
2005.http://www.eajm.org diunduh pada tanggal 10 Septermber 2012.
27. Ozcan, Muge. Ozcan, K Murat. Karaarslan, Aydin. Karaarslan, Filiz.
Concomitant Otomycosis and Dermatomycoses: a Clinical and
Microbiological Study. Journal Article. Turkey: Ankara Numune
Education and Research Hospital 1 ENT Clinic. 2003.
http://www.researchgate.net diunduh pada tanggal 10 September 2012
28. Kumar, Shuresh. Ahmed, Shamim. Useof Cotton Buds and Its
Complication. Journal of Surgery Pakistan (International). July-September
2008.www.jsp.org. Diunduh pada tanggal 10 septermber 2012.
29. Vennewald, I. Schonlebe, J. Klemm, E. Mycological ang Histological
Investigation in Humans with Middle Ear Infection. Mycoses. 2003;
46:12-8
30. Mittal, A. Man, SBS. Panda, NK. Mehra, YN. Talwar, P. Secondary
Fungal Infection in Chronic Suppurative Otitis Media. IJO & HNS. 1997;
50:175-7

31. Jackman, A. Ward, R. April, M. Bent, J. Topical Antibiotic Induce Otomycosis. International Journal Pediatric Otorhinolaringology. 2005;

69:857-60

35

Lampiran 1 Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent)
Lampiran 1
Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent)

Kepada teman-teman yth

PSPD FKIK UIN Jakarta

Assalamualaikum wr.wb.

Kami dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2009 akan melakukan penelitian tentang Prevalensi Otomikosis pada Mahasiswi PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Faktor yang Mempengaruhi.

Sebagai gambaran penelitian ini, otomikosis merupakan infeksi jamur yang terjadi pada telinga luar dan sering terjadi di negara tropis dan subtropis. Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa gejala, dan kasusnya tersebar di seluruh dunia sekitar 5-25% kasus otitis eksterna. Di Indonesia sendiri 9% kasus radang telinga luar adalah otomikosis. Pada penelitian di Iran dan di Turki faktor yang dapat menyebabkan otomikosis adalah sorban/jilbab, berenang, dan infeksi jamur sebelumnya. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui prevalensi otomikosis pada mahasiswi PSPD FKIK UIN yang mayoritas pengguna jilbab.

Penelitian akan berlangsung selama 1 bulan 10 hari terhitung dari 1 Juli- 10 Agustus 2012 dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 40 orang dari mahasiswi PSPD. Perlakuan yang akan dilakukan pada responden penelitian adalah dilakukannya pemeriksaan otoskopi, yaitu pemeriksaan telinga penggunakan alat periksa berupa corong untuk melihat keadaan telinga dan pemeriksaan KOH menggunakan swab steril yang akan dimasukkan pada kedua telinga responden, serta menjawab beberapa kuisioner penelitian.

Karena penelitian ini menggunakan alat medis otoskopi, seperti yang telah dijelaskan diatasdan swab steril yang akan dimasukkan ke dalam telinga responden, maka resiko yang akan diterima oleh responden adalah rasa kurang nyaman, dan kemungkinan kecil tergores pada bagian lubang telinga, bila terjadi faktor resiko tersebut akan ditangani oleh penanggung jawab kami dr.Ibnu Haris

36

Peneliti
Peneliti

Fadillah, Sp.THT-KL(081288567441) atau bisa langsung menghubungi peneliti, Cut Firza Humaira (087888935665). Sebagai kompensasi, responden akan mendapatkan pengobatan gratis dan terjamin kesehatannya.

Penelitian ini juga sangat membutuhkan partisipasi dari responden, dan responden dapat setiap saat mengundurkan diri bila ada hal-hal yang tidak berkenan pada diri responden. Yang terakhir, peneliti mengharapkan kesadaran diri responden untuk mengukuti prosedur penelitian ini.

Demikian penjelasan mengenai penelitian ini, kami berharap teman-teman bersedia menjadi responden pada penelitian ini

Wassalamualaikum wr.wb

37

Lampiran 2 Formulir Informed Consent (Kesediaan Mengikuti Penelitian) : : : :
Lampiran 2
Formulir Informed Consent (Kesediaan Mengikuti Penelitian)
:
:
:
:

Dengan ini saya:

Nama

Jenis Kelamin :

Umur

Alamat

Telp/Hp

Menyatakan bersedia mengikuti kegiatan penelitian/ survei yang berjudul ‘Prevalensi Otomikosis pada Mahasiswi PSPD FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Faktor yang Mempengaruhi’ dengan ketentuan apabila ada hal-hal yang tidak berkenan pada saya, maka saya berhak mengajukan pengunduran diri dari kegiatan penelitian/survei ini.

Peneliti

Responden

38

Lampiran 3 Kuisioner Penelitian 1. Berapa seringkah anda menggunakan jilbab? a. Setiap hari b. ≤5
Lampiran 3
Kuisioner Penelitian
1. Berapa seringkah anda menggunakan jilbab?
a. Setiap hari
b. ≤5 hari
2. Sudah berapa lamakah anda menggunakan jilbab?
a. ≤ 6 bulan
b. 6 bulan- 1 tahun
c. 1-2 tahun
d. >2 tahun
3. Berapa lamakah anda menggunakan penutup kepala (jilbab) dalam sehari?
a. >12 jam sehari
b. 6-12 jam
c. < 6 jam
4. Bahan apakah yang sering anda gunakan sebagai penutup kepala (jilbab)?

a. Katun

b. Spandex

c. Lainnya

5. Berapa lapiskah biasanya Anda menggunakan jilbab?

a. 1 lapis

b. 2 lapis

c. 3 lapis

d. >3 lapis

6. Apakah anda menggunakan hair dyer (pengering rambut)setelah mencuci rambut?

39

a. Ya b. Tidak 7. Berapa lama rentang waktu Anda memakai jilbab setelah mencuci rambut
a. Ya
b. Tidak
7. Berapa lama rentang waktu Anda memakai jilbab setelah mencuci rambut
(menggunakan jilbab secara langsung setelah keramas)?
a. <30 menit
b. 30 menit- 1 jam
c. 1-2 jam
d. >2 jam
8. Berapa seringkah anda menggunakan cotton buds dalam seminggu?
a. ≤ 1 kali seminggu
b. 2-3 kali seminggu
c. 4-5 kali seminggu
d. Setiap hari
9. Seberapa seringkah anda berenang dalam seminggu?
a. ≤ 1 kali seminggu
b. 2-3 kali seminggu
c. 4-5 kali seminggu

d. Setiap hari

10. Apakah Anda pernah mengkonsumsi obat-obatan golongan steroid (obat anti alergi, obat-obatan golongan kontrasepsi,dll)?

a. Ya

b. Tidak

11. Berapa lamakah Anda mengkonsumsi obat tersebut?

a. 2 minggu – 1 bulan

b. 1-2 bulan

c. 2-3 bulan

40

12. Apakah Anda mempunyai riwayat penyakit oleh jamur seperti panu, atau keputihan? a. Ya b.
12. Apakah Anda mempunyai riwayat penyakit oleh jamur seperti panu, atau
keputihan?
a. Ya
b. Tidak

41

Lampiran 4 Data Hasil Uji Statistik Frekuensi pemakaian jilbab Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent
Lampiran 4
Data Hasil Uji Statistik
Frekuensi pemakaian jilbab
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
setiap hari
25
62.5
62.5
62.5
< 6 hari
15
37.5
37.5
100.0
Total
40
100.0
100.0

Riwayat pemakaian jilbab

   

Cumulative

Frequency

Percent

Valid Percent

Percent

Valid

6 bulan - 1 tahun

8

20.0

20.0

20.0

1 - 2 tahun

9

22.5

22.5

42.5

> 2 tahun

23

57.5

57.5

100.0

Total

40

100.0

100.0

 

Lama pemakaian jilbab dalam sehari

42

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid >12 jam 5 12.5 12.5 12.5 6-12 jam
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
>12 jam
5
12.5
12.5
12.5
6-12 jam
35
87.5
87.5
100.0
Total
40
100.0
100.0
Bahan jilbab
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
katun
39
97.5
97.5
97.5
katun dan spandex
1
2.5
2.5
100.0
Total
40
100.0
100.0
Lapisan jilbab
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
1 lapis
20
50.0
50.0
50.0
2 lapis
20
50.0
50.0
100.0
Total
40
100.0
100.0

Selang waktu pemakaian jilbab setelah keramas

   

Cumulative

Frequency

Percent

Valid Percent

Percent

Valid

<30 menit

9

22.5

22.5

22.5

30 menit - 1 jam

11

27.5

27.5

50.0

1-2 jam

14

35.0

35.0

85.0

>2 jam

6

15.0

15.0

100.0

Total

40

100.0

100.0

 

Penggunaan cotton buds

43

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid <2 kali seminggu 10 25.0 25.0 25.0 2-3
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
<2 kali seminggu
10
25.0
25.0
25.0
2-3 kali seminggu
11
27.5
27.5
52.5
4-5 kali seminggu
16
40.0
40.0
92.5
setiap hari
3
7.5
7.5
100.0
Total
40
100.0
100.0
Berenang
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
<2 kali seminggu
38
95.0
95.0
95.0
2-3 kali seminggu
2
5.0
5.0
100.0
Total
40
100.0
100.0
Penggunaan steroid
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
ya
1
2.5
2.5
2.5
tidak
39
97.5
97.5
100.0
Total
40
100.0
100.0
Riwayat penyakit jamur sebelumnya
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
ya
4
10.0
10.0
10.0
tidak
36
90.0
90.0
100.0
Total
40
100.0
100.0

otomikosis

44

Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid negatif 40 100.0 100.0 100.0 omsk Cumulative
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
negatif
40
100.0
100.0
100.0
omsk
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
negatif
39
97.5
97.5
97.5
positif
1
2.5
2.5
100.0
Total
40
100.0
100.0
serumen
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
negatif
7
17.5
17.5
17.5
positif
33
82.5
82.5
100.0
Total
40
100.0
100.0

cotton buds * serumen Crosstabulation

 

serumen

 
 

negatif

positif

Total

cotton buds

1

Count

2

8

10

 

Expected Count

1.8

8.2

10.0

 

2

Count

5

25

30

 

Expected Count

5.2

24.8

30.0

Total

Count

7

33

40

Expected Count

7.0

33.0

40.0

45

Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2- sided) Exact Sig. (2- sided) Exact Sig. (1-
Chi-Square Tests
Value
df
Asymp. Sig. (2-
sided)
Exact Sig. (2-
sided)
Exact Sig. (1-
sided)
Pearson Chi-Square
.058 a
1
.810
Continuity Correction b
.000
1
1.000
Likelihood Ratio
.056
1
.812
Fisher's Exact Test
1.000
.572
Linear-by-Linear Association
.056
1
.812
N of Valid Cases b
40
a.
1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.75.
b.
Computed only for a 2x2 table

46

: Cut Firza Humaira : Perempuan : Bireuen, 22 Desember 1992 : Islam : Jl.
: Cut Firza Humaira
: Perempuan
: Bireuen, 22 Desember 1992
: Islam
: Jl. Kapten 20, Cureh, Bireuen, Aceh
: cutfirza@ymail.com
 1999 – 2005
: Sekolah Dasar Negeri Bertingkat Bireuen
 2005 – 2007
: Sekolah Menengah Pertama Al-Azhar Medan
 2007– 2009
: Sekolah Menengah Atas Al-Azhar Medan
 2009– Sekarang

: Program Studi Pendidikan Dokter, FakultasKedokteran Dan Ilmu Kesehatan UIN SyarifHidayatullah Jakarta

Riwayat Penulis

Identitas :

Nama

Jenis Kelamin

Tempat, Tanggal Lahir

Agama

Alamat

E-mail

Riwayat Pendidikan :