Anda di halaman 1dari 9

SENYAWA-SENYAWA HIDROKARBON

I.

Tujuan
Tujuan percobaan praktikum ini adalah mengetahui sifat senyawa
hidrokarbon dan mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa
hidrokarbon

II.

Landasan Teori
Langkah pertama dalam menentukan struktur suatu senyawa
organik adalah menentukan rumus molekulnya. Sebelum sampai pada
rumus molekul, terlebih dahulu ditentukan rumus empiris di mana rumus
empiris yaitu perbandingan relatif unsur-unsur penyusunnya. Untuk
menentukan banyaknya karbon dan hidrogen di lakukan dengan
mengoksidasi senyawa organic tersebut, dan kemudian zat hasil oksidasi
tersebut di selediki. Alkana yaitu senyawa non polar sehingga gaya tarik
antara molekul lemah. Alkena mudah larut dalam pelarut zat-zat organik
non polar. Misalnya benzen, karbon tetra klorida, eter dan kloroform tidak
larut dalam air dan zat-zat pelarut polar
(Respati, 1986)
Hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsur atom
karbon (C) dan atom hydrogen (H). seluruh hidrokarbon memiliki rantai
karbon dan atom-atom hydrogen yang berikatan dengan rantai tersebut.
Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian dari hidrokarbon
alifatik. Sebagai contoh, metana (gas rawa) adalah hidrokarbon dengan
satu atom karbon dan empat atom hydrogen : CH 4. Etana adalah
hidrokarbon (lebih terperinci, sebuah alkana) yang terdiri dari dua atom
karbon bersatu dengan sebuah ikatan tunggal, masing-masing mengikat
tiga atom karbon : C2H6. Propana memiliki tiga atom C (C3H8) dan
seterusnya (CnH2n+2+).
Hidrokarbon
hidrokarbon

yang

yang
hanya

paling

(Tim kimia organik I, 2014)


sederhana adalah alkana, yaitu

mengandung

ikatan

kovalen

tunggal.

Hidrokarbon merupakan senyawa yang struktur molekulnya terdiri dari


hidrogen dan karbon. Molekul yang paling sederhana dari alkana adalah

metana. Metana berupa gas pada suhu dan tekanan baku, merupakan
komponen utama gas alam
(Wilbraham, 1992)
Sifat fisik yang dimiliki hidrokarbon disebabkan oleh sifat non
polar dari senyawa tersebut. Umumnya hidrokarbon tidak dapat bercampur
dengan pelarut polar seperti air atau etanol. Sebaliknya , hidrokarbon dapat
bercampur dengan pelarut yang relative non polar seperti karbon
tetraklorida (CCl4) atau diklorometana (CH2Cl2). Reaktivitas kimia
senyawa hidrokarbon ditentukan oleh jenis ikatannya . Hidrokarbon jenuh
(alkana) tidak reaktif terhadap sebagaian besar pereaksi. Hidrokarbon tak
jenuh , (alkena dan alkuna ) dapat mengalami reaksi adisi pada ikatan
rangkap dua atau rangkap tiganya. Senyawa aromatic biasanya mengalami
reaksi subtitusi
(Anonim, 2012)
Hidrokarbon dapat diklasifikasikan menurut macam-macam ikatan
karbon yang dikandungnya. Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang
mempunyai satu ikatan dinamakan hidrokarbon jenuh. Hidrokarbon
dengan dua atau lebih atom karbon yang mempunyai ikatan rangkap dua
atau tiga dinamakan hidrokarbon tidak jenuh
(Fesenden, 1997)
Hidrogen dan senyawa turunannya, umumnya terbagi menjadi tiga
kelompok besar yaitu :
1.
Hidrokarbon alifatik terdiri atas rantai karbon yang tidak mencakup
bangun siklik. Golongan ini sering disebut sebagai hidrokarbon rantai
terbuka atau hidrokarbon siklik. Contoh hidrokarbon alifatik yaitu:
C2H6 (etana), CH3CH2CH2CH2CH3 (pentana)
2.
Hidrokarbon alisiklik atau hidrokarbon siklik terdiri atas atom
karbon yang tersusun dalam satu lingkar atau lebih
3.
Hidrokarbon aromatik merupakan golongan khusus senyawa siklik
yang biasanya digambarkan sebagai lingkar enam dengan ikatan tunggal
dan ikatan rangkap bersilihganti. Kelompok ini digolongkan terpisah dari
hidrokarbon asiklik dan alifatik karena sifat fisika dan kimianya yang khas
(Syukri, 1999)
Sebagai hidrokarbon jenuh, semua atom karbon dalam alkana
mempunyai empat ikatan tunggal dan tidak ada pasangan elektron bebas.

Semua elektron terikat kuat oleh kedua atom. Akibatnya, senyawa ini
cukup stabil dan disebut juga parafin yang berarti kurang reaktif.
(Wilbraham, 1992)
Karbon-karbon dari suatu hidrokarbon dapat bersatu sebagai suatu
rantai atau suatu cincin. Hidrokarbon jenuh dengan atom-atomnya bersatu
dalam suatu rantai lurus atau rantai yang bercabang diklasifikasikan
sebagai alkana. Suatu rantai lurus berarti dari tiap atom karbon dari alkana
akan terikat pada tidak lebih dari dua atom karbon lain. Suatu rantai
cabang alkana mengandung paling sedikit sebuah atom karbon yang
terikat pada tiga atau lebih atom karbon lain.
(Fessenden, 1997)
Senyawa berbobot molekul rendah berwujud gas dan cair, dan zat
yang berbobot molekul tinggi berwujud padat. Alkana merupakan zat
nonpolar, zat yang tak larut dalam air dengan kerapatan zat cair kurang
dari 1,0 g/ml. Selain alkana juga ada alkena yaitu hidrokarbon yang
memiliki satu atau lebih ikatan rangkap dua karbonkarbon. Senyawa ini
dikatakan tidak jenuh karena tidak mempunyai jumlah maksimum atom
yang sebetulnya dapat ditampung oleh setiap karbon.
(Petrucci, 1987)
Hidrokarbon alifatik berasal dari minyak bumi sedangkan
hidrokarbon aromatik dari batu bara. Semua hidrokarbon, alifatik dan
aromatik mempunyai tiga sifat umum, yaitu tidak larut dalam air, lebih
ringan dibanding air dan terbakar di udara.
(Wilbraham, 1992)
III.

Prosedur Percobaan
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Tabung reaksi
b. Pipet tetes
c. Gelas ukur
2. Bahan
a. Minyak paraffin
b. 2-pentena
c. Sikloheksana
d. Toluene
e. Larutan 2% Br2 dalam CCl4

f. Larutan KMnO4 0,5%


g. Larutan Na2CO3 10%
h. H2SO4 pekat
B. Skema Kerja
1. Tes Brom
a. Hidrokarbon jenuh atau minyak paraffin
Dimasukkan
ke dalam tabung reaksi
1 mL hidrokarbon
jenuh
Ditambahkan 1-2 tetes larutan Br2 dalam CCl4
Diguncangkan
Ditempatkan satu tabung pada tempat gelap dan
tabung lainnya di bawah sinar matahari atau
lampu pijar selama 5 menit
Dibandingkan dan diamati hasilnya
Hasil

b. Hidrokarbon tak jenuh seperti 2-pentena atau sikloheksena


1 mL hidrokarbon tak jenuh
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 1-2 tetes larutan Br2 dalam CCl4
Diguncangkan tabung
Diamati hasilnya
Hasil
c. Hidrokarbon aromatis seperti benzen atau toluene
1 mL hidrokarbon
aromatis
Dimasukkan
ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 1-2 tetes larutan 2% Br2 dalam
CCl4
Diguncangkan tabung
Diamati hasilnya
Hasil
2. Tes Bayer
a. Hidrokarbon jenuh atau minyak paraffin
Dimasukkan
ke dalam tabung reaksi
1 mL hidrokarbon
jenuh
Ditambahkan 1-3 tetes larutan KMnO4 0,5% dan
3 mL larutan Na2CO3 10%
Diguncang dan diamati
Hasil

b. Hidrokarbon tak jenuh seperti 2-pentena atau sikloheksena


1 mL hidrokarbon
tak jenuh
Dimasukkan
ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 1-3 tetes larutan KMnO4 0,5% dan
3 mL larutan Na2CO3 10%
Diguncang dan diamati
c. Hidrokarbon aromatis seperti benzen atau toluene
Hasil
Dimasukkan
ke dalam tabung reaksi
1 mL hidrokarbon
aromatis
Ditambahkan 1-3 tetes larutan KMnO4 0,5% dan
3 mL larutan Na2CO3 10%
Diguncang dan diamati
Hasil
3. Tes Asam Sulfat
a. Hidrokarbon jenuh atau minyak paraffin
3 mL H2SO
Dimasukkan
dengan hati-hati melalui dinding
4 pekat
tabung reaksi
Ditambahkan 1 mL hidrokarbon jenuh
Diguncang dan diamati
Hasil
b. Hidrokarbon tak jenuh seperti 2-pentena atau sikloheksena
Dimasukkan
dengan hati-hati melalui dinding
3 mL H2SO
4 pekat
tabung reaksi
Ditambahkan 1 mL hidrokarbon jenuh
Diguncang dan diamati
Hasil
c. Hidrokarbon aromatis seperti benzen atau toluene
3 mL H2SO
Dimasukkan
dengan hati-hati melalui dinding
4 pekat
tabung reaksi
Ditambahkan 1 mL hidrokarbon jenuh
Diguncang dan diamati
IV.

Hasil dan Pembahasan


Hasil
A. Data Pengamatan
No
1
2

Perlakuan
Tes Brom
Tes Bayer

Hasil Pengamatan
Tidak dilakukan

a. 1 mL + 3 tetes KMnO4 Terdapat 2 lapisan, lapisan diatas


0,5% + 3 mL Na2CO3 terdapat
10%

gumpalan

berwarna

ungu susu dan lapisan bawah


berwarna ungu bening. Setelah
didiamkan

beberapa

lama,

b. 1 mL 2-pentena + 3 tetes

warnanya semakin memudar


KMnO4 0,5% + 3 mL Terdapat 3 lapisan, lapisan atas
Na2CO3 10%

berwarna ungu gelap, lapisan


tengah berwarna bening dan

c. 1 mL toluene + 3 tetes lapisan bawah berwarna ungu


KMnO4 0,5% + 3 mL cerah
Terdapat 3 lapisan, lapisan atas
Na2CO3 10%
berwarna ungu gelap, lapisan
tengah berwarna bening dan
lapisan bawah berwarna ungu
3

cerah
Tes Asam Sulfat
a. 3 mL H2SO4 pekat + 1 Terdapat 3 lapisan, lapisan atas
mL paraffin

berwarna coklat, lapisan tengah


berwarna kehitaman dan lapisan

b. 3 mL H2SO4 pekat + 1
mL 2-pentena

bawah berwarna kuning


Terdapat 2 lapisan, lapisan atas
berwarna kuning dan larutan
bawah berwarna kuning sangat
muda
Terdapat 3 lapisan, lapisan atas

c. 3 mL H2SO4 pekat + 1
mL toluena

berwarna bening, lapisan tengah


berwarna putih keruh dan lapisan
bawah berwarna bening

B. Pembahasan
1. Tes Brom
Pada percobaan ini tidak dilakukan pengamatan, karena
bahan yang akan digunakan tidak ada.
Secara literatur, tes brom bertujuan agar dapat mengetahui
pengaruh cahaya dalam mempercepat terjadinya reaksi senyawa

hidrokarbon. Reaksi pada tes brom menggunakan brom (Br 2)


dalam CCl4 yang ditambahkan pada tiap sampel yang digunakan
yaitu paraffin, 2-pentena dan toluena. Reaksi dengan menggunakan
klor (Cl2) atau brom (Br2) disebut reaksi halogenasi atau sering
disebut juga brominasi atau klorinasi. Pada tempat yang gelap
reaksi yang terjadi cenderung lambat, tetapi apabila diletakkan
ditempat yang terang reaksi yang terjadi akan sangat cepat
sehingga mengakibatkan terbentuknya suatu molekul baru sebagai
hasil terpisahnya partikel-partikel yang bertumbukan. Sehingga
menghasilkan HBr dan sebuah radikal bebas.
2. Tes Bayer
Tes bayer merupakan suatu uji untuk menunjukkan
kereaktifan parafin, 2-pentena dan toluena tehadap oksidator
KMnO4 yang merupakan katalis. Pada uji bayers ini dilakukan
dengan

mencampurkan

larutan

Na2CO3 10%

dan

larutan

KMnO4 0,5%. Ketika 1 mL paraffin ditambah dengan 3 tetes


KMnO4 dan 3 mL Na2CO3 10%, terdapat dua lapisan. Lapisan atas
terdapat gumpalan dan berwarna ungu susu, sedangkan lapisan atas
berwarna ungu. Setelah didiamkan beberpa lama, warna larutan
dari yang berwarna lama-kelamaan warnanya memudar (warna
ungunya menghilang).
Selanjutnya, ketika 1 mL 2-pentena ditambah dengan 3
tetes KMnO4 dan 3 mL Na2CO3 10%, terdapat 3 lapisan. Lapisan
atas berwarna ungu pekat, lapisan tengah berwarna bening dan
lapisan berwarna ungu.
Dan ketika 1 mL toluena ditambah dengan 3 tetes KMnO 4
dan 3 mL Na2CO3 10%, terdapat 3 lapisan. Lapisan atas berwarna
ungu sangat pekat, lapisan tengah berwarna bening dan lapisan
bawah berwarna ungu pekat.
Hasil yang seharusnya terjadi adalah hilangnya warna ungu
dari KMnO4 dan terbentuknya endapan MnO2. Pada percobaan ini
yang hilang warna ungunya adalah paraffin, padahal dari ketiga
sampel hidrokarbon yang digunakan, yaitu paraffin, 2-pentena, dan

toluena, tes ini seharusnya hanya memberikan hasil positif untuk


sampel yang memiliki ikatan rangkap.
3. Tes Asam Sulfat
Tes asam sulfat menghasilkan suatu senyawa alkil
hirdosulfat yang diperoleh dari suatu alkana (senyawa dengan
ikatan tunggal). Hal ini menunjukkan bahwa alkana dengan ikatan
tunggal masih mampu bereaksi dengan asam sulfat walaupun
dalam jumlah sedikit atau terjadi reaksi pengsulfonatan. Tes asam
sulfat dilakukan dengan mereaksikan sampel hidrokarbon dengan
asam sulfat pekat. Umumnya tes ini menghasilkan larutan bening
yang terpisah berdasarkan tingkat kekeruh
Ketika 3 mL H2SO4 pekat ditambahkan denagn 1 mL
paraffin, terdapat 3 lapisan. Lapisan atas berwarna coklat, lapisan
tengah berwarna kehitaman dan lapisan bawah berwarna kuning.
Selanjutnya ketika 3 mL H2SO4 pekat ditambahkan denagn
1 mL 2-pentena, terdapat 2 lapisan. Lapisan atas berwarna kuning
dan lapisan bawah berwarna kuning sangat muda.
Dan ketika 3 mL H2SO4 pekat ditambahkan denagn 1 mL
toluene, terdapat 3 lapisan. Lapisan atas berwarna bening, lapisan
tengah berwarna putih keruh dan lapisan atas berwarna bening.
V.

Kesimpulan dan Saran


A. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
1. Tes brom atau halogenasi hanya terjadi dengan cepat pada tempat
yang terang (tempat dengan cahaya yang cukup untuk bereaksi)
dan bereaksi lambat pada tempat yang gelap
2. Hilangnya warna ungu pada percobaan ini adalah paraffin, padahal
tes ini seharusnya hanya memberikan hasil positif untuk sampel
yang memiliki ikatan rangkap
3. Umumnya tes asam sulfat menghasilkan larutan bening yang
terpisah berdasarkan tingkat kekeruh. Pada percobaan ini yang
menghasilkan warna bening adalah pada toluene
B. Saran
Pada percobaan ini ada percobaan yang tidak praktikan
lakukan, karena bahan yang akan digunakan tidak ada. Untuk itu
8

praktikan menyarankan agar menyediakan bahan dengan lengkap


agar praktikum dapat berjalan dengan efektif.
VI.

Daftar Pustaka
Anonim.
2012.

Identifikasi

Hidrokarbon.

http://praktikum-

organik.blogspot.com/2012/10/percobaan-3-identifikasihidrokarbo.html. diakses pada tanggal 29 april 2014


Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-dasar Kimia
Organik. Jakarta: Bina Aksara
Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern,
Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Respati. 1986. Pengantar Kimia Organik Jilid I. Jakarta: Aksara Baru
Syukri, S. 1999. KImia Dasar 3. Bandung: ITB
Tim Kimia Organik I. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Organik I.
Jambi: Universitas Jambi
Wilbraham, A.C. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati.
Bandung: ITB