Anda di halaman 1dari 7

TATA KELOLA PERUSAHAAN

Analisis Peran Pemangku Kepentingan dalam


Pengambilan Keputusan PT Jasa Marga Tbk.

Nama: Khansa Fatin


NPM : 1206266201

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS INDONESIA

Jurnal yang ditulis oleh Heiko Spitzeck dan Erik G. Hansen mengenai evaluasi
peran pemangku kepentingan didalam perusahaan yang mempengaruhi keputusan

yang diambil oleh perusahaan tersebut. Dalam penelitian ini, penulis menjelaskan
mengenai stakeholder theory yang dapat dibagi menjadi dua perspektif yaitu :
1. Deskriptif: Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan konstituen yang
berbeda dari suatu organisasi tanpa menetapkan pernyataan mengenai
legitimasi dari klaim atau kekuasaan para pemangku kepentingan.
2. Normatif: Pemangku kepentingan perlu dimasukkan dalam tata kelola
perusahaan untuk menghormati haknya.
Setelah membagi pemangku kepentingan menjadi dua kelompok yang
berbeda, selanjutnya penulis mengembangkan model konseptual dan membaginya
menjadi dua kelompok yaitu:
1. Power: Mengacu pada pengaruh pemangku kepentingan dalam
pengambilan keputusan. Power diklasifikasikan menjadi dua yaitu
a. Non-participation
b. Stakeholders power
2. Scope: Kemampuan perusahaan dalam mengambil keputusan dan
seringkali

mencakup

keputusan

mengenai

isu

lokal

yang

mempengaruhi general business model dari perusahaan tersebut.


Untuk memperjelas model konseptual, penulis menggunakan matriks 5x5
yang ditunjukkan dalam figure1.

Figure1
digunakan

untuk menguji

hubungan

antara

stakeholder

power

dan
1

scope of participation. Penulis berasumsi bahwa stakeholder power berbanding lurus


dengan scope of participation. Namun ternyata pada bagian scope of participation
hanya terdapat tiga kolom matriks yang efektif sehingga penelitian ini memiliki hasil
yang menunjukkan bahwa model konseptual terbagi menjadi dua yaitu stakeholder
power dan scope of participation. Stakeholder power menujukkan bahwa terdapat 5
perbedaan yang mempengaruhi perusahaan dalam mengambil keputusan yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

No evidence of stakeholder power.


Listening to stakeholders voice.
Intermediary impact.
Impact on policies and key performance indicators.
Stakeholder power

Sedangkan scope of participation dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu :


1. Operational issues : Keterlibatan stakeholders dalam isu operasional.
2. Managerial issues : Pendekatan terhadap isu yang relevan bagi
stakeholders dan tidak berpengaruh pada strategi dan pengembangan
bisnis perusahaan.
3. Strategic issues : Fokus pada pelaku bisnis dan disatu sisi telah
mendesain pasar dimasa depan dan menginspirasi pihak lain.
Untuk lebih memahami penelitian yang dilakukan oleh Heiko Spitzeck dan
Erik G. Hansen, saya mencoba menganalisis hasil dari penelitian tersebut dengan
perusahaan yang berada di Indonesia yaitu PT Jasa Marga Tbk.
Dalam menjalankan bisnis, PT Jasa Marga Tbk. membagi pemangku
kepentingan menjadi dua kelompok yaitu Pemangku Kepentingan Utama

dan

Pemangku Kepentingan Pendukung. Pemangku Kepentingan Utama terdiri dari


Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Kementertian BUMN, pemegang saham publik,
dan pengguna jalan tol. Sedangkan Pemangku Kepentingan Pendukung terdiri dari
karyawan, mitra usaha dan masyarakat.
Pemangku kepentingan pada PT Jasa Marga Tbk. memiliki pengaruh yang
berbeda-beda. Berikut adalah lingkup kewenangan para pemangku kepentingan :
Pemangku Kepentingan Utama
1. Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT)
2

BPJT adalah lembaga Pemerintah di bawah Departemen Pekerjaan Umum


yang memiliki kewenangan sebagai otorisator pengelolaan jalan tol di
Indonesia. BPJT mempunyai peran penting bagi kepentingan bisnis Perseroan,
karena BPJT menentukan besaran dan kelayakan kenaikan tarif jalan tol setiap
2 (dua) tahun sekali yang didasarkan oleh pertimbangan inflasi dan
pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Selain itu BPJT juga
berwenang dalam melakukan lelang terhadap ruas-ruas jalan tol baru serta
berwenang dalam pemantauan dan evaluasi pengusahaan jalan tol dan
pengawasan pelayanan jalan tol.
2. Kementerian BUMN
Kementerian BUMN merupakan pemangku kepentingan penting bagi
Perseroan karena Kementerian BUMN adalah lembaga yang bertugas
melakukan pembinaan BUMN dan sekaligus sebagai pemegang saham
pengendali Perseroan yang menguasai 70% saham Perseroan. Kementerian
BUMN berkepentingan meningkatkan Tata Kelola Perusahaan agar kinerja
Perseroan semakin baik yang dicerminkan semakin meningkatnya peningkatan
pelayanan, peningkatan Aset dan Laba Bersih serta peningkatan Dividen yang
dapat disetor Perseroan kepada Pemegang Saham.
3. Pemegang Saham Publik
Selaku perusahaan terbuka, Pemegang Saham Publik yang menguasai 30%
saham Perseroan merupakan salah satu pemangku kepentingan utama
Perseroan. Pemegang Saham Publik merupakan salah satu penentu harga
saham Perseroan, dimana tinggi/rendahnya harga saham Perseroan dapat
mencerminkan Nilai Perseroan di mata Investor.
4. Pengguna Jalan Tol
Selaku pengembang dan operator jalan tol, PendapatanUsaha terbesar
Perseroan berasal dari Pendapatan Tol yang dihasilkan dari pendapatan atas
layanan pemakaian jalan tol oleh pengguna jalan tol. Jumlah pengguna jalan
tol merupakan salah satu penentu tercapai atau tidaknya target Pendapatan Tol.
Pemangku Kepentingan Pendukung:
1. Karyawan
Bagi Perseroan, karyawan merupakan aset penting yang akan mendukung
proses pertumbuhan dan perkembangan Perseroan, karena karyawan
merupakan salah satu pemangku kepentingan yang menjalankan kegiatan
usaha Perseroan dan juga melakukan inovasi untuk meningkatkan Aset,
Pendapatan dan Laba Perseroan.
3

2. Mitra Usaha
Dalam menjalankan usahanya Perseroan tidak terlepas dari kerja sama
dengan mitra untuk mendukung kelancaran proses bisnisnya, baik dari sisi
pengembangan bisnis jalan tol dan pengoperasian jalan tol. Mitra usaha
Perseroan antara lain adalah Kontraktor/Konsultan/Rekanan Penyedia
Layanan Jasa Pembangunan Jalan Tol, Penyedia Jasa Pemeliharaan Jalan
Tol, Penyedia Jasa Peralatan Tol.
3. Masyarakat
Masyarakat merupakan salah satu elemen pendukung keberhasilan
Perseroan khususnya dalam rangka pembebasan lahan. Berbagai kegiatan
Corporate

Social

Responsibility

(CSR)

dilakukan

untuk

dapat

meningkatkan citra Perseroan.


Disamping kewenangan para pemangku kepentingan, Jasa Marga juga
menjamin adanya perlakuan yang sama terhadap seluruh pemegang saham, termasuk
pemegang saham minoritas dan asing. Jasa Marga juga memberikan perlakuan yang
adil terhadap saham-saham yang berada dalam satukelas, melarang praktek-praktek
insider trading dan self-dealing, dan mengharuskan Dewan Komisaris untuk
melakukan keterbukaan jika menemukan transaksi yang mengandung benturan
kepentingan (conflict of interest). Selain itu Jasa Marga juga mengakui hak-hak
stakeholders, seperti ditentukan dalam Undang Undang, dan mendorong kerja sama
yang aktif antara Perseroan dengan para stakeholders tersebut. Jasa Marga menjamin
bahwa dalam RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa, Pemegang Saham berhak
memperoleh perlakuan yang sama dan kedudukan yang seimbang dalam
menyuarakan pendapatnya dan berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan
yang penting dan strategis sesuai dengan jumlah dan jenis saham yang dimiliki,
Anggaran Dasar Perseroan serta peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam melakukan pengawasan, Jasa Marga memiliki beberapa fungsi
dilakukannya pengawasan, salah satunya adalah menanggapi saran, harapan,
permasalahan dan keluhan dari stakeholders yang disampaikan langsung kepada
Dewan Komisaris dengan menyampaikan hal tersebut kepada Direksi untuk
ditindaklanjuti. Jasa Marga juga melibatkan stakeholder dalam untuk melakukan
pengawasan terhadap bisnisnya yaitu memastikan perseroan melakukan tanggung
jawab sosialnya dan memastikan terjaminnya hak-hak stakeholders yang timbul
4

berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau perjanjian yang


dibuat oleh perseroan dengan karyawan, pengguna jasa, pemasok dan stakeholders
lainnya. Selain itu Jasa Marga juga memastikan adanya akurasi data, transparansi dan
keterbukaan laporan keuangan perseroan dan menjamin perlakuan yang adil terhadap
pemegang saham minoritas dan stakeholders yang lain, serta akuntabilitas organ
perseroan dan kepatuhan perseroan pada peraturan perundangan-undangan yang
berlaku.
Jasa Marga menyadari bahwa aktivitas bisnis yang dilakukan memberikan
dampak bagi lingkungan, baik lingkungan yang berada di area kantor pusat maupun
area operasional. Untuk itu perseroan secara proaktif membina budaya tanggung
jawab lingkungan tidak saja terhadap karyawan tetapi juga meliputi masyarakat pada
umumnya.

Terdapat

kebijakan

yang

berdampak

pada

stakeholder

yaitu

penyempurnaan sistem manajemen lingkungan secara terus menerus sesuai kondisi


terakhir dan mendorong seluruh karyawan untuk selalu mengembangkan dan
memelihara budaya sadar lingkungan, guna meningkatkan nilai perusahaan dan
menjaga kepercayaan stakeholder. Jasa Marga juga memiliki program yang
mendukukng keberlanjutan dan dilaporkan dalam laporan tahunan. Keberlanjutan
program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dilakukan Jasa Marga senantiasa
memerlukan inovasi dalam peningkatan kualitas program. Perseroan tidak berhenti
dalam mengembangkan program baru yang dapat menjangkau masyarakat luas serta
terus memperbaharui program yang telah memberikan dampak nyata bagi
stakeholder.
Pada scope of participation tenaga kerja (karyawan) sebagai Pemangku
Kepentingan Pendukung terkena dampak dari operational issue yaitu jumlah
karyawan Perseroan terus menurun dari tahun 2008. Hal ini sejalan dengan strategi
perseroan untuk meningkatkan produktivitas melalui modernisasi dan perbaikan
proses bisnis hingga jumlah karyawan tetap dapat diturunkan mencapai rasio
karyawan yang ideal. Sekitar 70% dari total karyawan tetap adalah karyawan yang
berada pada level operasional, hal ini disebabkan karena sebagian besar sistem
pengoperasian jalan tol masih menggunakan teknologi yang masih harus didukung
oleh manusia. Oleh sebab itu, pada segmen tingkat pendidikan karyawan perseroan,
mayoritas karyawan perseroan merupakan lulusan SMA.
5

Kesimpulan :
Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Heiko Spitzeck dan Erik G. Hansen
tentang

evaluasi

peran

pemangku

kepentingan

didalam

perusahaan

yang

mempengaruhi keputusan yang diambil oleh perusahaan hal ini terbukti pada PT Jasa
Marga Tbk. Scope of participation yang focus pada operational issue terlihat sangat
jelas pada strategi perseroan mengurangi tenaga kerja demi meningkatkan
produktivitas operasional. Sedangkan stakeholder power terlihat pada penjelasan
perseroan mengenai penjaminan perlakuan yang sama terhadap seluruh pemegang
saham, termasuk pemegang saham minoritas dan asing. Hal ini mencerminkan bahwa
seluruh pemangku kepentingan pada perseroan dapat mempengaruhi pengambilan
keputusan pada perusahaan serta keputusan yang diambil oleh perusahaan juga dapat
mempengaruhi para pemangku kepentingan.