Anda di halaman 1dari 33

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Fungsi Gelombang Partikel


Setiap

partikel

yang

bergerak

didampingi

oleh

gelombang

yang

mempresentasikan perilaku gelombang partikel. suatu partikel yang bergerak


dengan momentum linier p , didampingi oleh gerak gelombang yang memiliki
panjang gelombang . Hubungan antara panjang gelombang dan momentum
linier p adalah sebagai berikut :

h
(Krane, 2012:103).........................................................................(2.1)
p

Persamaan (2.1) merupakan panjang gelombang de Broglie. Dengan h


merupakan konstanta planck yang besarnya 6,63 10-34 Js. Sedangkan kecepatan
gelombang de Broglie dituliskan :
v

Sebuah partikel bebas yang tidak dipengaruhi oleh gaya luar, maka akan
memiliki frekuensi yang tetap dan bilangan gelombang yang besar dan arahnya
tetap.

k
sedangkan

E
p
dan .....................................................................................(2.2)

energi total gelombang yang dimiliki partikel dalam mekanika

kuantum adalah
E hf (Krane, 2012:78).........................................................................(2.3)

dengan mensubstitusi f

dan persamaan (2.1) ke persamaan (2.3) maka

diperoleh hubungan energi total dengan momentum sebagai berikut

E pv ......................................................................................................(2.4)
Apabila dimisalkan partikel bebas ini bergerak searah dengan sumbu x positif,
maka diperoleh salah satu solusi persamaan gelombang sebagai berikut.

( x, t ) A e i t x / v ..............................................................................(2.5)

dengan mensubstitusi

E
persamaan (2.4) ke persamaan (2.5) maka diperoleh

( x, t ) A e i t x / v
Ae

( x, t ) Ae

E
t x / v

i
Et px

(Beiser, 1990:171).................................................(2.6)

Fungsi gelombang

adalah kuantitas kompleks yang memberi

karakteristik gelombang de Broglie. Harga fungsi gelombang tidak mempunyai


arti fisis secara langsung akan tetapi memberi informasi fisis bahwa partikel
tersebut mempunyai gerak tak terbatas dan kuadrat harga mutlak fungsi
gelombang

disebut dengan kerapatan peluang ( P ) yang dapat diamati

besarnya.

2.2 Atom Deuterium


Deuterium disebut juga hidrogen berat merupakan salah satu dari tiga
bentuk isotop hidrogen yang terdiri dari protium, deuterium, dan tritium.
Deuterium merupakan isotop stabil dengan kelimpahan alami di bumi kira-kira
satu dari 6.500 atom Hidrogen. Dengan demikian deuterium merupakan 0.015%
dari semua hidrogen yang terbentuk secara alami (Krane, 1992:419). Inti
deuterium, disebut deuteron, mengandung satu proton dan satu neutron, sementara
inti hidrogen paling umum terdiri dari hanya satu proton dan tanpa neutron.
Dalam penelitian Lavenda et al (Tanpa Tahun) mengatakan Deuteron terbentuk
dari reaksi fusi antara inti dua atom hidrogen (penggabungan inti dua atom
hidrogen). Reaksi fusi atom hidrogen ini melepaskan energi yang sangat besar
melebihi ledakan dinamit sebanyak 50.000.000 unit atau setara 500 bom atom
(inti uranium).
Deuterium dimanfaatkan untuk bahan pembuatan air berat. Dalam reaksi fisi
uranium, air berat digunakan sebagai moderator neutron. Fungsi moderator adalah
untuk memperlambat neutron dengan cara menyerap energi dan menumbuk
neutron tanpa kencenderungan menyerap partikelnya (Beiser, 1990:496). Dalam

pembangkit listrik tenaga nuklir dengan reaktor tipe CANDU menggunakan


uranium sebagai bahan bakar dan air berat sebagai moderator neutron. Dalam
reaktor tipe CANDU, air berat dimasukan dalam pipa kalandria yang terbuat dari
bahan yang tidak menyerap neutron.
Untuk mendapatkan Air berat (D2O) dilakukan pemisahan dari air biasa
(H2O). Proses pengayaan air berat dapat dilakukan dengan metode destilasi,
elektrolisa, pemisahan isotop dengan laser dan pertukaran isotop. Prinsip metode
destilasi didasarkan pada perbedaan titik didih dari komponen senyawa penyusun
air alam. Pemisahan dengan metode elektrolisis dilakukan berdasarkan perbedaan
mobilitas ion H+ dan ion D+ dalam sel elektrolisis. Sedangkan pemisahan dengan
pertukaran isotop dibedakan menjadi proses monotermal dan bitermal. Proses
monotermal hanya melibatkan satu senyawa, sedangkan proses bitermal lebih
komplek dengan menggunakan H2S (Sukarsono et al, 2008).
Sifat fisik senyawa-senyawa deuterium dapat berbeda dari senyawasenyawa hidrogen yang analog dengannya, sebagai contoh D2O lebih kental
daripada H2O. Secara kimia, kelakuan deuterium sama dengan hidrogen biasa,
tetapi ada perbedaan dalam energi ikat. Ikatan yang melibatkan deuterium dan
tritium sedikit lebih kuat daripada ikatan serupa pada hidrogen ringan. Dengan
Spektroskopi inframerah dapat membedakan senyawa yang bersifat deuterium,
karena perbedaan frekuensi serapan inframerah dapat terlihat dalam vibrasi
sebuah ikatan kimia yang mengandung deuterium (Britannica.2014.Heavy
hydrogen. www.britannica.com).
Sifat kuantum inti atom deuterium dijelaskan oleh Bogdan Povh et al
(2008:234) sebagai berikut :
The deuteron is simplest of all the nucleon bound states, the atomic
nuclei. It is therefor particularly suitable for studying the nucleonnucleon interaction. Experiments have yielded the following data
about the deuteron ground state:
Binding energy
B = 2.225 MeV
Spin and parity
JP = +1
Isospin
I=0
= 0,857 N
Magnetic moment
The proton-neutron system is mostly made up of an l=0 state. If it
were a pure l=0 state then the wave function would be sperycally

symmetric, the quadrupole moment would vanish and the magnetic


dipole moment would be just the sum of the proton and
neutronmagnetic moment (supposing that the nucleonic magnetic
moments are not altered by the binding interaction). This prediction
for the deuteron magnetic moment
p n 2.792N 1.913N 0.879N

Differs slightly from the measured value of 0.857 N. Both the


magnetic dipole moment and the electric quadrupole moment can be
explained by the admixture of a state with the same JP quantum
numbers.
Berdasarkan cuplikan diatas bahwa deuteron merupakan inti atom yang sederhana
dan cocok untuk mempelajari interaksi antar inti. Data eksperimen menunjukan
bahwa deuteron memiliki Energi ikat = 2,225 MeV, Spin = +1, Isospin I=0,
Momen magnetik = 0,857 N, dan momen quadrupol elektron = 0.282 e.fm2.
sistem proton - neutron terbentuk pada keadaan l=0. Pada keadaan l=0 fungsi
gelombang yang terbentuk adalah simetri bola, momen quadrupole akan hilang
momen dipole magnetik menjadi jumlah dari momen megnetik proton dan
neutron (dengan anggapan bahwa momen magnet inti tidak diubah oleh interaksi
ikatan). Hasil prediksi momen magnetik deuteron 0,879 N sangat berbeda dari
nilai yang sebenarnya yaitu 0,857 N. Momen dipole magnetik dan momen
quadrupol elektrik dapat diperoleh dengan pencampuran dari kondisi dengan
bilangan kuantum JP yang sama. Karena deuteron memiliki spin +1 (triplet),
sehingga merupakan sebuah partikel boson.
Berdasarkan kesamaan masa dan sifat nuklir dari

proton dan neutron,

keduanya dapat dipandang sebagai dua jenis objek dari sebuah nukleon yang
memiliki hubungan simetri. Hubungan simetri antara proton dan neutron dikenal
sebagai isospin dan dinotasikan sebagai I. Proton dan neutron membentuk isospin
dublet, dengan neutron sebagai spin turun dan proton sebaga spin naik.

2.3 Persamaan Schrdinger


Persamaan Schrdinger merupakan persamaan diferensial parsial orde
kedua yang digunakan untuk memberikan informasi tentang perilaku gelombang
dari partikel. Suatu persamaan differensial akan menghasilkan pemecahan yang

sesuai dengan fisika kuantum, walaupun dihalangi oleh tidak adanya hasil
percobaan yang dapat digunakan sebagai bahan perbandingan (Krane,1992:171).

2.3.1 Persamaan Schrdinger Gayut Waktu


Untuk menghasilkan persamaan Schrdinger, maka harus memenuhi 3
kriteria, sebagai berikut :
a. Taat pada Asas Kekekalan Energi
Hukum kekekalan energi adalah jumlah energi kinetik ditambah energi
potensial bersifat kekal. Persamaan Schrdinger harus konsisten dengan hukum
kekekalan energi .

K V E
p2
V E ..........................................................................................(2.7)
2m
Suku pertama ruas kiri menyatakan energi kinetik, suku kedua menyatakan
energi potensial, dan ruas kanan menyatakan suatu tetapan yang biasanya
disebut sebagai energi total.
b. Kontinue dan Bernilai Tunggal
Pemecahan persamaan Schrdinger harus memberi informasi tentang
probabilitas untuk menemukan partikelnya, walaupun ditemukan probabilitas
berubah secara kontinue dan partikelnya menghilang secara tiba-tiba dari satu
titik dan muncul kembali pada titik lainnya, namun fungsinya haruslah bernilai
tunggal, artinya tidak boleh ada dua probabilitas untuk menemukan partikel di
satu titik yang sama. Fungsi gelombangnya harus linear , agar gelombangnya
memiliki sifat superposisi (Krane, 1992:172).
c. Pemecahan Partikel Bebas Sesuai dengan Gelombang de Broglie
Bentuk persamaan diffrensial apapun, haruslah taat azas terhadap hipotesis de
Broglie. Untuk menyelesaikan persamaan matematik bagi sebuah partikel
dengan momentum

p , maka pemecahannya harus berbentuk fungsi

gelombang dengan panjang gelombang . Sesuai dengan persamaan (2.1)


Maka energi kinetik dari gelombang de Broglie partikel bebas dapat
dirumuskan sebagai berikut :

10

p 2 2k 2
........................................................................................(2.8)

2m
2m

Untuk memperoleh suku yang mengandung k 2 adalah dengan mengambil


turunan kedua dari fungsi (2.6) terhadap x, sebagai berikut:
i

Et px

2 ( x, t ) Ae

x 2
x
x

i
Et px

ip Ae

x
i
2
Et px
p
2 Ae

2 ( x, t )
p2
2 ( x, t ) ...........................................................................(2.9)
x 2

dengan mensubstitusi persamaan (2.2) ke persamaan (2.9), maka diperoleh :

d 2 ( x, t )
k 2 ( x, t ) ............................................................................(2.10)
2
dx
Untuk mendapatkan persamaan Schrdinger gayut waktu adalah dengan
mengambil turunan pertama persamaan (2.6) terhadap variabel t, sebagai berikut :
i

Et px

( x, t ) Ae

t
t
i
Et px
i
EAe

iE
( x, t )

E ( x, t ) i

( x, t )
.................................................................................(2.11)
t

Pada persamaan (2.7) ruas kanan dan ruas kiri masing masing dikalikan dengan
fungsi ( x, t ) , kemudian mensubstitusi persamaan (2.9) dan persamaan (2.11)
sebagai berikut :
p2
( x, t ) V ( x ) ( x, t ) E ( x, t )
2m

2 2 ( x, t )
( x, t )

V ( x ) ( x, t ) i
2
2m x
t

11
Selanjutnya dengan menulis fungsi x, t sebagai fungsi maka diperoleh
persamaan sebagai berikut :

2 2

V .........................................................................(2.12)
t
2m x 2

Persamaan (2.12) merupakan persamaan Schrdinger gayut waktu dalam satu


dimensi. Pada kasus tiga dimensi, maka persamaan di atas menjadi :
i

2 2 2 2

t
2m x 2 y 2 z 2

V (Beiser, 1990:173)...............(2.13)

2.3.2 Persamaan Schrdinger Keadaan Tunak


Dalam banyak situasi energi potensial partikel tidak bergantung pada waktu.
Untuk mengetahui perilaku gelombang partikel Pada sistem atom berelektron
tunggal, energi potensial sistem hanya bergantung pada posisi elektron dalam
atom. Perubahan terhadap waktu dari semua fungsi gelombang partikel yang
mengalami aksi dari gaya tunak mempunyai bentuk yang sama. Sehingga
persamaan

Schrdinger

harus

disederhanakan

dengan

meniadakan

kebergantungan terhadap waktu (Beiser, 1990:175).


Untuk mendapatkan persamaan Schrdinger keadaan tunak dalam satu
dimensi, maka fungsi gelombang pada persamaan (2.6) diuraikan berdasar
variabel x dan t sebagai berikut :
i

x, t Ae
Ae

Et px

iEt ipx

ipx

Ae e

iEt

ipx

dengan menyatakan x Ae

x, t x e

iEt

maka diperoleh sebagai berikut :

...................................................................................(2.14)

Selanjutnya substitusi persamaan (2.14) ke persamaan (2.12) diperoleh sebagai


berikut :

12

2 2

V ( x )
t
2m x 2

x e
i
t
i

iEt

iE
x e

2 2 x e

2m
x 2
iEt

iEt

2 2 x
e
2m x 2

V x e
iEt

iEt

V x e

iEt

Pada ruas kiri dan ruas kanan masing masing suku dibagi dengan e

iEt

maka

diperoleh :

E x

2 2 x
V x
2m x 2

2 2 ( x )
E V ( x ) ( x ) 0 ...........................................................(2.15)
2m x 2
Persamaan (2.15) merupakan persamaan Schrdinger tidak bergantung waktu atau
biasa dikenal dengan persamaan Schrdinger keadaan tunak dalam satu dimensi.
Untuk tiga dimensi persamaan tersebut menjadi :
2
2
2
2
( x , y ,z ) ( x , y ,z ) ( x , y ,z )

E V ( x ) ( x , y , z ) 0
2
2
2
2m

2 2
2
2

( x , y , z ) E V ( x ) ( x , y ,z ) 0
2m x 2 y 2 z 2

( Beiser, 1990:176 )

Secara umum persamaan Schrdinger keadaan tunak dapat dituliskan sebagai


berikut :

2 2
( x , y ,z ) E V ( x , y ,z ) 0 (Ganesan dan Balaji, 2008)............(2.16)
2m
Dengan 2 merupakan operator Laplace yang bergantung pada koordinat yang
digunakan untuk memecahkan persamaan Schrdinger.

2.3.3 Persamaan Schrdinger dalam Koordinat Bola


Persamaan Schrdinger pada atom dengan satu elektron dapat diselesaikan
dengan memandang atom memiliki simetri bola, sehingga persamaan Schrdinger

13

harus disajikan dalam koordinat bola. Pada koordinat bola, operator Laplace 2
diberikan oleh :
2

1 2
1


1
2
...............(2.17)
r

sin

r 2 r r r 2 sin
r 2 sin 2 2

(Voughn, 2007:135)
persamaan (2.17) disubstitusi ke persamaan (2.16), maka diperoleh persamaan
Schrdinger keadaan tunak dalam koordinat bola adalah :
2 1 2
1

1 2
r

sin


( r , , ) E V ( r , , ) 0
2m r 2 r r sin
sin 2 2

untuk sistem dua partikel dengan gaya sentral, maka persamaan di atas dapat
dituliskan sebagai :
2 1 2
1

1
2

sin

( r , , )
c
2 rc2 r rc sin
sin 2 2

E ( r , , ) V ( r , , ) 0 ............................................................................(2.18)
dengan rc merupakan posisi pusat massa sistem yang dinyatakan :

rc

r1m1 r2 m2
.......................................................................................(2.19)
m1 m2

dan disebut massa tereduksi yang dinyatakan sebagai

m1m2
(Kozlowski, 2010)............................................................(2.20)
m1 m2

Umumnya potensial V hanya merupakan fungsi dari jarak terhadap titik


asal V (r ) . Sehingga untuk memencahkan persamaan (2.18) menggunakan
separasi variabel sebagai berikut

(r ) ( r , , ) R(r )( )( ) (Krane, 2012:203)


Atau dapat dinyatakan sebagai :

( r , , ) R ........................................................................................(2.21)
substitusi ungkapan Persamaan (2.21) ke dalam Persamaan (2.18) kemudian
dikalikan

2 rc2
diperoleh:
2

14

2
2 rc2
1

1
2

sin

ER

sin 2 2
2
r rc sin
2 rc2
VR 0
2

2 R
1
R
1 2 R 2rc2
rc

2 E V R 0
sin
2
rc
rc sin
sin 2

2 dR
1 d
d
1 d 2
rc

R
sin
R
sin d
d
sin 2 d 2
drc
2 rc2
E V R 0
2
d
drc

kemudian setiap suku dibagi dengan R maka didapatkan :


d 2 dR
1 d
d R
1 d 2 R
rc

sin

drc drc R sin d


d R sin d 2 R
2 rc2
E V R 0
2

1 d 2 dR
1
d
d
1
d 2 2rc2
rc

sin

2 E V 0 .

R drc drc sin d


d sin 2 d 2

Dari Persamaan ini tampak bahwa suku pertama dan keempat hanya
bergantung pada jari jari r, suku kedua dan ketiga hanya bergantung sudut dan
. Suku suku yang bergantung sudut dipindahkan ke ruas kanan sehingga
diperoleh sebagai berikut :
1
1 d 2 dR 2rc2
d
d
1
d 2
rc
2 E V

sin

R drc drc

d sin 2 d 2
sin d

Penjumlahan suku suku yang hanya bergantung pada jari jari dan dua
sudut ini akan selalu tetap (sama dengan konstanta C) untuk sembarang nilai r, ,
dan (Purwanto, 2006:155). Sehingga persamaan ini dapat di pisah menjadi suku
yang hanya bergantung jari jari yaitu :
1 d 2 dR 2r 2
r
2 E V C
R dr dr

15

Atau dapat dituliskan sebagai :


d 2 dR 2r 2
r
2 E V R CR .........................................................(2.22)
dr dr

Sedangkan suku yang hanya mengandung sudut dan menjadi:


1
d
d
1
d 2
sin

sin d
d sin 2 d 2

Setelah dikalikan dengan sin2, menjadi :


sin d
d 1 d 2
C sin 2
sin

d
d d 2
sin d
d
1 d 2
2
sin
C sin
d
d
d 2

Tampak bahwa Persamaan ini juga terpisah menjadi dua bagian yaitu bagian
yang hanya bergantung pada azimut dan bagian yang bergantung pada polar .
Persamaan ini akan bernilai benar bila kedua ruas sama dengan konstanta tertentu
dan dimisalkan m 2 , sehingga diperoleh :

sin d
d
2
2
sin
C sin m .......................................................(2.23)
d
d
1 d 2
m 2 ........................................................................................(2.24)
2
d

Persamaan Schrdinger dalam koordinat bola dapat dipisahkan kedalam tiga


persamaan yaitu persamaan (2.22) disebut sebagai persamaan radial, persamaan
(2.23) disebut sebagai persamaan polar dan persamaan (2.24) disebut persamaan
azimut. Persamaan Schrdinger yang digunakan untuk memecahkan masalah
atom dengan satu elektron adalah persamaan Schrdinger keadaan tunak yang
disajikan dalam koordinat bola.

2.3.4 Persaman Schrdinger untuk Atom Deuterium


Sekarang ditinjau sistem kuantum nyata yang menerapkan persamaan
Schrdinger tiga dimensi dalam koordinat bola, yaitu atom deuterium( 12 H ). Atom
deuterium terbentuk dari reaksi fusi yaitu penggabungan dari dua inti atom

16

hidrogen ringan. Dalam proses penggabungan dua atom hidrogen ini melibatkan
pengubahan sebuah proton menjadi sebuah neutron dan disertai pancaran positron
(partikel menyerupai elektron yang bermuatan positif), sehingga atom deuterium
yang terbentuk memiliki 1 proton, 1 neutron, dan 1 elektron. Reaksi pembentukan
atom deuterium adalah sebagai berikut :
1
1

H 11H 12H e v (Beiser, 1990:505).

Sistem atom deuterium mirip dengan sistem atom hidrogen, Elektron dalam
atom deuterium bergerak mengelilingi inti atom deuterium (deuteron). Dalam
atom hidrogen proton dianggap diam ketika elektron berputar mengelilinginya.
Inti atom dan elektron berputar disekeliling pusat massanya yang terletak dekat
dengan inti karena massa inti jauh lebih besar dari massa elektron (Kurniawan dan
Nur, 2005). Sistem seperti ini identik dengan suatu partikel bermassa yang
berputar mengelilingi partikel yang lebih berat dengan merupakan massa
tereduksi dari sistem elektron-inti.
Gaya tarik mutual yang terjadi pada dua atom hidrogen yang saling
bertumbukan menyebabkan besar gaya yang dihasilkan keduanya sama namun
arahnya berbeda. Sehingga jika dua atom hidrogen dari massa m1 dan m2

bergerak dalam gaya yang sama F1 dan F2 maka persamaan kedua atom hidrogen
ini dapat dinyatakan sebagai berikut :

d 2 r1
d 2 r2
F1 m1 2 dan F2 m2 2
dt
dt

F1 F2

Gambar 2.1 tumbukan dua atom hidrogen (Lavenda et al, Tanpa Tahun).
Tanda negatif pada persamaan di atas menunjukan adanya perbedaan arah dari
kedua atom hidrogen, karena keduanya saling bertumbukan dan menyatu.
Sedangkan koordinat pusat massa yang baru untuk kedua atom ini dinyatakan
oleh persamaan (2.19). Koordinat pusat massa ini merupakan inti atom deuterium
yang disebut deuteron (Lavenda et al, Tanpa Tahun). Dalam atom deuterium inti

17

atom (deuteron) dan elektron berotasi pada pusat massa, maka massa tereduksi
elektron-inti adalah

md me
md me

dengan md adalah massa deuteron yang

besarnya mp+mn (dengan asumsi bahwa massa proton sama dengan massa
neutron, maka massa deuteron dapat dikatakan dua kali massa proton) dan me
adalah massa elektron. Karena atom deuterium memiliki simetri bola dan hanya
memiliki satu elektron yang mengelilingi deuteron, maka Persamaan Schrdinger
untuk Atom Deuterium sama dengan persamaan Schrdinger dalam koordinat
bola.
Untuk gaya sentral yang bekerja pada elektron oleh inti atom menyebabkan
elektron berada dalam medan pontensial coulomb dengan energi potensial

V (r)

Ze2
( Gasiorowicz, 2003:133)..............................................(2.25)
4 0 r

Dengan mensubstitusi persamaan (2.25) ke persamaan (2.18) dan mengambil

Z 1 untuk atom deuterium

A2
Z 1

H , maka persamaan Schrdinger untuk Atom

Deuterium dapat dinyatakan


2 1 2
1

1
2

sin

( r , , )
c
2 rc2 r rc sin
sin 2 2

E ( r , , )

e2
4 0 rc

( r , , ) 0 ...................................................................(2.26)

substitusi ungkapan Persamaan (2.21) ke dalam Persamaan (2.26) dan dikalikan

2 rc2
sehingga diperoleh :
2
2
1

1
2

sin

rc
R
sin 2 2
r rc sin

2rc2
2rc2 e 2
ER

R 0
2
2 4 0 rc

rc

2 R
1
R
1 2 R
rc

sin

rc sin
sin 2 2

2 rc2
2

e2
E
4 0 rc

R 0

18

d
drc

2 dR
1 d
d
1 d 2
rc

sin

sin d
d
sin 2 d 2
drc

2 rc2
2

e2
E
R 0
4 0 rc

kemudian setiap suku dibagi dengan R maka didapatkan :


d
drc

2 dR
1 d
d R
1 d 2 R
rc

sin

d R sin 2 d 2 R
drc R sin d

2 rc2
2

e 2 R
E

0
4 0 rc R

1 d 2 dR
1
d
d
1
d 2 2 rc2
rc

2
sin

R drc drc sin d


d sin 2 d 2

e2
E
0
4 0 rc

Persamaan Schrdinger pada atom deuterium dapat dipisahkan menjadi tiga


persamaan diferensial biasa orde dua yang hanya bergantung pada satu variabel
yaitu :
a. Persamaan Azimut
1 d 2
m 2 ..................................................................................(2.27)
2
d

b. Persamaan Polar

sin d
d
2
2
sin
l (1 l ) sin m .........................................(2.28)
d
d
c. Persaman Radial
d
drc

2 dR 2rc2
rc
2

drc

e2
E
R l (1 l ) R ................................(2.29)
4 0 rc

(Lavenda et al, Tanpa Tahun).

2.4 Persamaan Diferensial Partial dalam Koordinat Bola


Ada beberapa bentuk persamaan diferensial parsial orde dua seperti
persamaan diferensial bessel, persamaan diferensial hermite, persamaan
diferensial chebyshev, persamaan diferensial legendre, dan persamaan diferensial
laguerre. Diantara persamaan-persamaan diferensial tersebut, yang muncul dalam

19

solusi persamaan diferensial parsial dalam sistem koordinat bola adalah


persamaan diferensial legendre dan persamaan diferensial laguerre

2.4.1 Persamaan Diferensial Legendre


Persamaan diferensial legendre berbentuk :

1 x y 2 xy l l 1y 0 (Boas, 1983:485)..................................(2.30)
2

Bentuk penyelesaian secara umum untuk persamaan diferensial di atas adalah:

Pl ( x ) 1

n 0

2l 2r !
x l 2 r (Bugl,1995:544)...................(2.31)
r ! l r ! l 2r !

Persamaan (2.31) disebut polinomial legendre, Persamaan (2.30) dapat diperluas


dalam bentuk lain yaitu :

d
m2
2 dy

l
l

y 0 (Boas, 1983:505)...................(2.32)
dx
dx
1 x 2

Persamaan (2.30) disebut sebagai persamaan diferensial sekawan atau persamaan


diferensial legendre terasosiasi. Sementara solusinya diberikan oleh:

y 1 x

2 m/2

Pl x 1 x
m

dm
Pl x
dx m

2 m/2

dm
Pl x
dx m

m l
l
1
2 m/2 d

Pl x l 1 x
1 x 2 ....................................................(2.33)
m l
2 l!
dx
m

Persamaan (2.33) disebut polinomial legendre sekawan. Mengingat bahwa fungsi

Pl m x orthogonal pada selang (-1,1), maka :


2(l m)!
P x P x dx (2l 1)(l m)! ..........................................................(2.34)
1

2.4.2 Persamaan Diferensial Laguerre


Bentuk persamaan diferensial Laguerre dapat dituliskan :
xy 1 x y ny 0 ..........................................................................(2.35)

20

Dengan n adalah parameter yang belum terperinci. Solusi dari persamaan ini
berupa deret sebagai berikut :

n n 2 n1 n 2 n 12 n 2 n 2 n 12 n 22 n3

y 1 x x
x
x ........
1!
2!
3!

2
2
2

n2
n 2 n 1 n 2 n 2 n 1 n 2 n3
n
Ln x 1 x n x n 1
x
x ........
1!
2!
3!

Ln x e x

d n n x
x e
dx n

.......................................................................(2.36)

Persamaan (2.36) disebut dengan polinomial laguerre. Persamaan (2.35) dapat


dinyatakan dalam bentuk lain yaitu :
xy k 1 x y ny 0 .....................................................................(2.37)

Persamaan (2.35) disebut diferensial laguerre sekawan yang memiliki solusi


polinomial laguerre terasosisi sebagai berikut :

y Lkn x 1

dk
Ln k x ...............................................................(2.38)
dx k

Mengingat bahwa fungsi Lkn x orthogonal pada selang (0, ), maka :

Ln x Lk x dx nk (Boas, 1983:532)..............................................(2.39)

Persamaan (2.39) disebut sebagai normalisasi fungsi laguerre, sedangkan


normalisasi untuk fungsi laguerre terasosiasi adalah sebagai berikut :

x e
k

Lkn x Lkm x dx

n k !
n!

nm

........................................................(2.40)

Penerapan normalisasi fungsi laguerre terasosiasi untuk atom hidrogen adalah :

x
0

k 1 x

L x dx 2n k 1 n n !k !
k
n

nm

..........................................(2.41)

Dengan nk 0 apabila n k dan nk 1 jika n k .

21

2.5 Solusi Persamaan Schrdinger dalam Koordinat Bola


Solusi persamaan Schrdinger merupakan solusi gabungan antara solusi
radial, solusi polar, dan solusi azimut. Gabungan ketiganya secara matematis
tertulis pada persamaan (2.21). Akan diuraikan sebagai berikut:

2.5.1 Solusi Persamaan Azimut


Tinjau kembali persamaan (2.24) dan dapat dinyatakan
d 2
m 2 0
2
d

Persamaan di atas merupakan persamaan diferensial biasa yang pemecahanya


dapat dimisalkan

d
D maka menjadi
d

m 2 0

D im

Kedua ruas pada persamaan dikalikan dengan maka diperoleh


d
imd

Dengan mengintegralkan kedua ruas sehingga didapatkan:

d
im 0 d
0

ln
ln

im 0

im
0

e im
0
0 e im

Untuk menentukan besarnya nilai 0 , maka fungsi tersebut harus


dinormalisasikan sebagai berikut :
2

* 1 maka
0

d 1
2
0

22

1
. Jadi solusi untuk adalah
2

sehingga diperoleh nilai 0

1 im
e (Arfken, dalam Rifati, 2004)..........................................(2.42)
2

Fungsi gelombang azimut ini mengambarkan gerak elektron berotasi


disekitar sumbu z secara periodik. Dengan m merupakan bilangan kuantum
magnetik yang besarnya m 0,1,2,3,4,...........

2.5.2 Solusi Persamaan Polar


Untuk menyelesaikan persamaan polar, persamaan (2.23) dikalikan dengan

dan menggantikan konstanta C l (l 1) maka diperoleh


sin 2

1 d
d
m2
sin

l
(
l

1
)


0
sin d
d
sin 2
Solusi persamaan di atas diberikan oleh polinomial Lagendre Pl m (cos )

( ) lm ( ) N lm Pl m (cos )
dengan N lm merupakan konstanta normalisasi

(lm , l 'm ' ) N lm N l 'm ' Pl m (cos )Pl m' ' (cos ) sin d ll ' mm '
0

mengingat sifat ortogonalitas Pl m (cos )

(cos )Pl m' ' (cos ) sin d

2(l m)!
ll ' mm '
(2l 1)(l m)!

Sehingga didapatkan

N lm

2l 1l m !
2l m !

sehingga solusi persamaan Schrdinger polar adalah

lm ( )

2l 1l m! P m cos( )
...............................................(2.43)
l
2l m !

23

dengan
m
l
1
d l m
2
2

Pl (cos ) l 1 cos
cos 2 1
l m
2 l!
d cos
m

(Purwanto, 2006:159).
Solusi persamaan Schrodinger polar ini memnngambarkan elektron bergerak
secara periodik dalam ruang dimensi tiga.

2.5.3 Solusi Persamaan Radial


Sekarang kita tentukan solusi Persamaan (2.22) dengan mengambil

C l (l 1) merupakan konstanta dalam persamaan diferensial legendre yang


penyelesaianya menggunakan metode frobenius (Purwanto, 2006:158).
d 2 dR 2r 2
r
2 E V R CR
dr dr

d 2 dR 2r 2
r
2 E V R l (l 1) R ...........................................(2.44)
dr dr

Dengan mendefinisikan u( r ) rR( r ) maka

du( r )
dR( r )
R( r ) r
dr
dr
Masing-masing suku dikalikan r sehingga daidapatkan

du( r )
dR( r )
rR( r ) r 2
dr
dr
du( r )
dR( r )
r
u( r ) r 2
dr
dr
r

r2

dR( r )
du( r )
r
u( r )
dr
dr

dan didapatkan
d 2 dR( r )
d 2 ur
r

dr
dr
dr 2

sehingga diperoleh :
d 2 u( r ) 2
l (1 l ) 2

V
(
r
)

u( r ) 0 (Gasiorowicz, 1996:176)..........(2.45)
dr 2
2
2r 2

24

2.6 Solusi Persamaan Schrdinger Atom Duterium


Solusi persamaan Schrdinger Atom Deuterium merupakan solusi gabungan
antara solusi radial, solusi polar, dan solusi azimut. Ketiga solusi tersebut akan
diuraikan sebagai berikut :

2.6.1 Solusi Persamaan Azimut dan Polar


Solusi persamaan azimut dan polar pada atom duterium sama dengan solusi
persamaan azimut dan polar pada koordinat bola. Sehingga Solusi persamaan
azimut diberikan oleh persamaan (2.42) sedangkan solusi persamaan polar adalah
persamaan (2.43).

2.6.2 Solusi Persamaan Radial


Energi potensial atom deuterium pada persamaan (2.25) di substitusi ke
persamaan (2.45) sehingga diperoleh :
d 2 u( rc ) 2
e2
l 1 l 2

urc 0
2
2
4 0 rc
2rc2
drc

dengan memisalkan bahwa

rc
e2

8 E dan
maka persamaan

2 0 8 E

di atas menjadi :
d 2 u( r ) 2 1 l 1 l
2
u r 0
dr 2
r 4
2

r 2 d 2 rR( r ) 1 l 1 l

rR( r ) 0
2 dr 2
2
4
1 2 d 2 R( r ) 2rdR( r ) 1 l 1 l
r

R( r ) 0
2
dr 2
dr 4
2
1 2 d 2 R( ) 2 dR( ) 1 l 1 l

R( ) 0
2
d 2
d 4
2

Bila kedua ruas dikalikan dengan 2 maka diperoleh persamaan sebagai berikut :

d 2 R( ) 2dR( ) 1 2

l l 1 R 0 ..................(2.46)
2
d
d
4

25

Untuk menyelesaikan persamaan diferensial di atas maka diselidiki dulu perilaku


persamaanya untuk daerah ekstrim yaitu :
lim 2

d 2 R( ) 2dR( ) 1 2

l l 1 R 0
2
d
d
4

sehingga diperoleh,
d 2 R 1
R 0
d 2
4

salah satu solusi yang memenuhi persamaan di atas adalah R e

Sedangkan untuk daerah dekat pusat koordinat ( 0 ) adalah sebagai berikut :


2 d 2 R( ) 2 dR( ) 1 2

lim

R( ) R( ) l l 1R( ) 0
2
0
d
d
4

d 2 R( ) 1 2

lim
R( ) R( ) l l 1R( 0
2
0
d
4

sehingga diperoleh,

d 2 R( )
l l 1R( 0
d 2

Salah satu solusi yang memenuhi persamaan tersebut adalah R l


.Mempertimbangkan solusi-solusi untuk daerah ekstrim di atas, solusi umumnya
diusulkan berbentuk perkalian antara solusi titik asal dengan solusi titik jauh
sekali dengan fungsi umum terhadap jarak.

R e 2 L
l

Sehingga diperoleh

dL
dR
1
l l 1e 2 L l e 2 L l e 2
.............................(2.47)
d
2
d

dan

d 2 R
1
l l 1 l 2 e 2 L l l 1e 2 L l e 2 L
2
d
4

2l e
l 1

2
dL
d L
dL
le 2
le 2
..............................(2.48)
d
d
d 2

26

Dengan menggabungkan persamaan (2.47) dan (2.48), sehingga diperoleh,

d 2 R 2 dR
1

l l 1 l e 2 L l l 1e 2 L l 2 e 2 L
2
d
d
4

2l e
l 1

2
dL
d L
dL
l 2
l 2
2
2
e
e

d
d
d 2

2l e L e L 2 e
l

l 1

l 1

dL
d

2
d L
dL
d 2 R 2dR
l 2
l 1
2
2

2
l

d 2
d
d 2
d

1 2 l
2
l l l e 2 L ..................(2.49)
4

Substitusi ungkapan (2.49) ke dalam persamaan (2.46) sehingga didapatkan


persamaan untuk L yaitu :

d 2 R( ) 2 dR( ) 1 2

l l 1 R 0
2
d
d
4

l 2 e

dL

d 2 L
2l 2 l 1e 2
l 1 l 1e 2 L 0
2
d
d

Persamaan di atas dibagi dengan l 1e

dan dikelompokan berdasarkan variabel

d 2 L dL
,
, dan L maka didapatkan sebagai berikut :
d
d 2

d 2 L
dL
2l 2
l 1 L 0
2
d
d

d 2 L
dL
12l 1
1 1 l L 0 ...................(2.50)
2
d
d

Solusi persaamaan diferensial (2.50) berupa polinomial sebagai berikut:

L a s s (Lavenda et al, Tanpa Tahun).


s 0

Dengan rumus rekursi: a s 1

s l 1
a
s 1s 2l 2 s

27

Persamaan (2.50) dapat diselesaikan dengan menggunakan polinomial


leguerre terasosiasi Lkn . Dan dengan menggunakan rumus Rodrigues sehingga
memiliki solusi sebagai berikut:

L2nll1 1

2 l 1

n l !

n l 1!

d n l

e n l 1
n l
d

Sehingga solusi radialnya dirumuskan sebagai berikut:

Rnl ( ) N nl e
l

L2nl11

2 n l 1!

(Siregar, 2010:93)
N nl
3
na0 2nn l !
3

e 2 rc
dan e adalah muatan
2n 0 2

Dengan N nl adalah konstanta normalisasi,


elektron.
Dengan a0

4 0 2
merupakan jari jari atom deuterium dan adalah
e 2

massa tereduksi dari elektron-inti. Sehingga solusi umum dari persamaan radial
yaitu:

2 n l 1! 2rc nac0 2 l 1 2rc

e
............(2.51)
Rnl ( rc )
Ln l
3
na0 2nn l ! na0
na0
3

2.6.3 Solusi Gabungan


Solusi umum dari persamaan Schrdinger atom deuterium adalah
merupakan solusi gabungan dari solusi persamaan azimut, polar, dan radial.
Sehingga persamaan (2.21) dapat dinyatakan sebagai berikut :

( r , , ) R
r , ,
c

1 im
e
2

2l 1l m ! 1 1 cos 2 m2
2l m ! 2 l l !

l
d l m

cos 2 1
l m
d cos

2 n l 1! 2rc nac0 2 l 1 2rc

e
.................(2.52)
Ln l
3
na
na
na

2
n
n

l
!
0
0
0

28

2.7 Bilangan Kuantum


Orbit (lintasan) elektron menurut para ahli berbeda beda. Menurut teori
atom Bohr orbit elektron adalah berbentuk lingkaran dengan jari-jari tertentu.
Sedangkan Orbital adalah daerah 3 dimensi dengan peluang terbesar menemukan
elektron. Setiap orbital mempunyai ukuran, bentuk dan orientasi tertentu dalam
ruangan yang dinyatakan dengan bilangan kuantum.

2.7.1 Bilangan Kuantum Utama


Bilangan kuantum utama(n) menyatakan ukuran dan tingkat energi orbital.
Nilai bilangan kuantum utama berupa bilangan bulat positif dan tidak nol n = 1, 2,
3 dan seterusnya. Semakin besar nilai n, semakin besar ukuran orbital dan
semakin tinggi tingkat energinya. Kelompok orbital dengan harga n yang sama,
akan membentuk kulit atom.
Dengan menganggap bahwa elektron terikat sebagai atom, maka nilai eigen
E harus berharga negatif ( E = E ). Dan sebelumnya telah memiliki harga

rc
8 E

dan

e 2 rc
maka diperoleh persamaan energi sebagai
2n 0 2

berikut:

rc
e 2 rc
8 E

2n 0 2

rc
e 2 rc
8 E

2n 0 2

2e4
4n 2 2 2 0 2
e 4
E
32n 2 2 2 0 2

8 E

e 4 1
E
(Krane, 2012:204).............................................(2.53)
32 2 02 2 n 2

29

2.7.2 Bilangan Kuantum Azimut


Menyatakan bentuk orbital. Nilai bilangan kuantum azimut merupakan
bilangan cacah yaitu l = 0 sampai ( n - 1 ). Bilangan kuantum azimut ini
menyatakan kecepatan sudut dari elektron. Semakin besar harga l maka makin
tinggi kecepatan sudutnya. Besarnya momentum sudut elektron memenuhi
persamaan
L l l 1 ..........................................................................................(2.54)

Kombinasi nilai bilangan kuantum utama dan bilangan kuantum azimut


sering digunakan untuk menyatakan keadaan atomik. Contohnya, untuk keadaan
dengan n = 2, l = 0 adalah keadaan 2s, dan n = 3, l = 2 adalah keadaan 3d,dan
seterusnya. Keadaan atomik tersebut dapat diperlihatkan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Notasi simbol keadaan atomik
Kuantum

Kuantum

Kuantum

Kuantum

Utama (n)

Azimut (l = 0)

Azimut (l = 1)

Azimut (l = 2)

1s

2s

2p

3s

3p

3d

2.7.3 Bilangan Kuantum Magnetik


Bilangan kuantum magnetik menyatakan orientasi ruang orbital sehingga
disebut juga bilangan kuantum orientasi orbital. Untuk setiap harga l , akan
mempunyai harga m sebanyak = ( 2 l + 1 ). Rentang nilai m = - l hingga + l
termasuk nol ( - l , ..., 0, ..., + l ).

2.8 Probabilitas dan Nilai Ekspektasi Fungsi


Untuk membuktikan bahwa partikel benar benar berada dalam ruangan
maka diperlukan normalisasi terhadap fungsi gelombang , yaitu

dV 1 (Beiser, 1990:169).......................................................(2.55)

30

Persamaan di atas memiliki arti fisis bahwa peluang kebolehjadian P untuk


menentukan kedudukan partikel adalah 1, karena peluang kebolehjadian P =
fungsi gelombang . Sehingga dalam koordinat bola elemen volum dV dapat
2

dinyatakan sebagai berikut

dV r 2 sin drdd (Voughn, 2007:134)............................................(2.56)


2

Sehingga P

sin drdd

0 0

Substitusi persamaan (2.21), maka diperoleh

R 2 dr ....................................................................................(2.57)

Apabila persamaan di atas sama dengan nol, artinya partikel tidak dapat
ditemukan dalam ruangan tersebut. Berikut ini adalah grafik probabilitas radial
untuk atom hidrogen dengan bilangan kuantum n 3

Gambar 2.2 grafik rapat probabilitas radial untuk l = 0.


(Gasiorowicz, 2003:140)

Gambar 2.3 grafik rapat probabilitas radial untuk l = 1.


(Gasiorowicz, 2003:140)

31

Gambar 2.4 grafik rapat probabilitas radial untuk l = 2.


(Gasiorowicz, 2003:140)
Sekali persamaan Schrdinger telah dipecahkan untuk sebuah partikel
dalam suatu situasi fisis, fungsi gelombang yang dihasilkannya mengandung
semua informasi partikel itu yang diizinkan oleh prinsip ketidakpastian. informasi
mengenai kedudukan sebuah elektron dapat dicari dari harga ekspektasi dengan
menggunakan fungsi gelombang dengan menganggap bahwa elektron berada
sepanjang sumbu x maka harga ekspektasi kedudukan elektron adalah

dx (Beiser, 1990:175).

Untuk gerak elektron dalam tiga dimensi maka persamaan harga


ekspektasinya adalah :

dv ........................................................................................(2.58)

Dengan dv r 2 sin drdd dan ( r , , ) R( r ) ( ) ( ) sehingga persamaan


(2.58) menjadi

r R dr .........................................................................................(2.59)
3

Persaman (2.57) dan (2.59) memiliki arti fisis bahwa nilai probabilitas dan
ekspektasi tidak tergantung pada fungsi sudut (bagian azimut dan bagian polar)
tetapi hanya fungsi radial.

32

2.9 Integrasi Numerik


Integral suatu fungsi adalah operator matematik yang dipresentasikan dalam
bentuk:
b

I f ( x ) dx ...........................................................................................(2.60)
a

Persamaan (2.60) merupakan integral suatu fungsi f (x) terhadap variabel x dengan
batas-batas integrasi adalah dari x = a sampai x = b. Nilai integral adalah nilai
total atau luasan yang dibatasi oleh fungsi f (x) dan sumbu-x, serta antara batas x =
a dan x = b. Dalam integral analitis, persamaan (2.60) dapat diselesaikan menjadi:
b

f ( x) dx F ( x) a F (b) F (a ) .(2.61)
b

dengan F (x) adalah integral dari f (x) sedemikian sehingga F ' (x) = f (x).

2.9.1 Metode Trapesium


Metode trapesium merupakan metode pendekatan integral numerik dengan
persamaan polinomial order satu. Dalam metode ini kurve lengkung dari fungsi
f(x) digantikan oleh garis lurus. Luasan bidang di bawah fungsi f (x) antara nilai x
= a dan nilai x = b didekati oleh luas satu trapesium yang terbentuk oleh garis
lurus yang menghubungkan f (a) dan f (b) dan sumbu-x serta antara x = a dan x =
b (Kosasih, 2006:304). Sesuai rumus geometri, luas trapesium adalah lebar kali
tinggi rerata, yang berbentuk:
I ( b a)

f (a) f (b)
......................................................................(2.62)
2

Gambar 2.5 ilustrasi metode trapesium.


(Hernadi, 2012:179)

33

Pada Gambar 2.5, penggunaan garis lurus untuk mendekati garis lengkung
menyebabkan terjadinya kesalahan sebesar luasan yang tidak diarsir. Besarnya
kesalahan yang terjadi dapat diperkirakan dari persamaan berikut:
E

1
f ' ' ( )(b a)
12

(Kosasih, 2006:306)........................................(2.63)

dengan adalah titik yang terletak di dalam interval a dan b. Persamaan (2.63)
menunjukkan bahwa apabila fungsi yang diintegralkan adalah linier, maka metode
trapesium akan memberikan nilai eksak karena turunan kedua dari fungsi linier
adalah nol. Sebaliknya untuk fungsi dengan derajat dua atau lebih, penggunaan
metode trapesium akan memberikan kesalahan. Untuk mengurangi kesalahan
yang terjadi maka kurve lengkung didekati oleh sejumlah garis lurus, sehingga
terbentuk banyak pias.

Gambar 2.6 metode trapesium dengan banyak pias (bersusun).


(Hernadi, 2012:187)
Pada gambar 2.6, panjang tiap pias adalah sama yaitu h. Apabila terdapat n
pias, berarti panjang masing-masing pias adalah:
h

ba
n

Batas-batas pias diberi notasi: xo = a, x1, x2, , xn = b


Integral total dapat ditulis dalam bentuk:
x1

x2

xn

x0

x1

xn 1

I f ( x) dx f ( x) dx f ( x) dx ...........................................(2.63)
Substitusi persamaan (2.62) ke dalam persamaan (2.63) akan didapat:

34

I h

f (x n ) f (x n 1 )
f (x1 ) f ( x 0 )
f ( x 2 ) f (x1 )
h
... h
2
2
2

atau
I

n 1

h
f ( x 0 ) 2 f ( x i ) f ( x n )
2
i 1

atau
n 1

h
I f (a ) f ( b) 2 f ( x i ) ......(2.64)
2
i 1

Besarnya kesalahan yang terjadi pada penggunaan banyak pias adalah:

h2
( b a ) f ' ' ( ) (Hernadi, 2012:187)........................................(2.65)
12
Persamaan (2.65) merupakan kesalahan order dua. Apabila kesalahan tersebut

diperhitungkan dalam hitungan integral, maka akan didapat hasil yang lebih teliti.
Bentuk persamaan trapesium dengan memperhitungkan koreksi adalah:

n 1
h2
h
f
(
a
)

f
(
b
)

2
f
(
x
)
( b a )f ' ' ( ) .................................(2.66)

i
2
i 1
12

Untuk kebanyakan fungsi, bentuk f ''( ) dapat didekati oleh:


f ' ' ( )

f ' (b) f ' (a)


..........................................................................(2.67)
ba

Substitusi persamaan (2.67) ke dalam persamaan (2.66) didapat:

n 1
h2
h
f ' (b) f ' (a ) ................................(2.68)
f
(
a
)

f
(
b
)

2
f
(
x
)

i
2
i 1
12

Bentuk persamaan (2.68) disebut dengan persamaan trapesium dengan koreksi


ujung, karena memperhitungkan koreksi pada ujung interval a dan b.

2.9.2 Metode Simpson 1/3 (Simpson Rule)


Selain menggunakan rumus trapesium dengan interval yang lebih kecil, cara
lain untuk mendapatkan perkiraan yang lebih teliti adalah menggunakan
polinomial order lebih tinggi untuk menghubungkan titik-titik data. Misalnya,
apabila terdapat satu titik tambahan di antara f (a) dan f (b), maka ketiga titik

35

dapat dihubungkan dengan fungsi parabola (Gambar 2.7). Rumus yang dihasilkan
dari integral dibawah fungsi polinomial orde dua disebut aturan simpson 1/3.

Gambar 2.7 aturan simpson 1/3


(Kosasih, 2006:310)
Pada gambar 2.7, integral antara x0 dan x2 dihitung dengan menggunakan
polinomial langrange yang melewati ketiga titik xo, x1, dan x2 sebagai berikut.
x x1 x x2
x xo x x2

f ( x1 )


f ( x ) f ( xo )
xo x1 x0 x2
x1 xo x1 x2
x xo x x1

.........................................................(2.69)
f x2
x

x
x

x
o 2
1
2

Sehingga integral antara x0 dan x2 adalah


x2

xo

x2

x x1 x x2
x xo x x2

f ( x1 )


f x dx f ( xo )
xo x1 x0 x2
x1 xo x1 x2
xo

x xo x x1

dx ...............................................(2.70)
f x2
x2 xo x2 x1
dengan memisalkan h x1 xo x2 x1 maka persamaan (2.70) menjadi :
x2

x2

f x dx

xo

xo

x x0 x x2
x x1 x x2
f ( x o )
dx
dx f ( x1 )
2
2h
h2

xo
x2

x2

f (x

xo

x x0 x x1
)
dx
2h 2

x2

h
f ( x)dx 3 f x 4 f x f x ...................................................(2.71)
o

xo

36

Sehingga nilai integral total antara xo dan xn dapat dicari dengan menjumlahkan
semua integral sub-interval.
xn

h
h
f ( x)dx 3 f x 4 f x f x 3 f x 4 f x f x .....
o

xo

h
f xn2 4 f xn1 f xn
3
h
f xo 4 f x1 2 f x2 4 f x3 .... 2 f xn2 4 f xn1 f xn
3
(Kosasih, 2006:310).............................................................................(2.72)

2.9.3 Metode Simpson 3/8


Metode Simpson 3/8 dapat diperoleh dengan membentuk polinomial orde 3
dan empat titik yang tersebar dengan interval yang sama.

Gambar 2.8 aturan simpson 3/8


(Kosasih, 2006:313)
Integral antara xo dan x3 dihitung dengan polinomial lagrange yang melewati
keempat titik sebagai berikut.
x x1 x x 2 x x 3


f ( x ) f ( xo )
xo x1 x 0 x 2 x 0 x 3
x x o x x 2 x x 3

f ( x1 )
x1 xo x1 x 2 x1 x 3
x xo x x1 x x 3

f ( x 2 )
x 2 xo x 2 x1 x 2 x 3
x xo x x1 x x 2

f ( x 3 )
x 3 xo x 3 x1 x 3 x 2

37

sehingga integral antara xo dan x3 adalah :


x3

xo

x3

x x1 x x2 x x3
x x o x x 2 x x 3

f ( x1 )

f x dx f ( xo )
xo x1 x0 x2 x0 x3
x1 xo x1 x2 x1 x3
xo

x xo x x1 x x3
x xo x x1 x x2

f ( x3 )

dx

f ( x2 )
x2 xo x2 x1 x2 x3
x3 xo x3 x1 x3 x2

dengan h x1 xo x2 x1 x3 x2 maka diperoleh hasil :


x3

f ( x ) dx

xo

x3

xo

x x1 x x2 x x3
f x0
dx
6h 3

x3

x x0 x x2 x x3
dx
2h 3

f x
1

xo

x x x x x x
x x x x x x
dx f x
f x

dx
2h
6h

x3

x3

xo

xo

3h
f x0 3 f x1 3 f x2 f x3
8

Maka hasil integral antara xo dan xn adalah :


xn

f x dx

x0

3h
f x0 3 f x1 3 f x2 f x3
8
3h
f x3 3 f x4 3 f x5 f x6 .....
8
3h
f xn3 3 f xn2 3 f xn1 f xn ............................(2.72)
8

(Kosasih, 2006:313)
Metode Simpson 1/3 sering digunakan dalam perhitungan numerik karena
mencapai ketelitian order tiga dan hanya memerlukan tiga titik, dibandingkan
metode Simpson 3/8 yang membutuhkan empat titik. Dalam pemakaian banyak
pias, metode Simpson 1/3 hanya berlaku untuk jumlah pias genap. Apabila
dikehendaki jumlah pias ganjil, maka dapat digunakan metode trapesium. Tetapi
metode ini tidak begitu baik karena adanya kesalahan yang cukup besar. Untuk itu
kedua metode dapat digabung, yaitu sejumlah genap pias digunakan metode
Simpson 1/3 sedang 3 pias sisanya digunakan metode Simpson 3/8.