Anda di halaman 1dari 81

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN By. Ny.

S
DENGAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR)
DI RUANG PERINATAL RUMAH SAKIT
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN 2016

Disusun Oleh :
Kelompok 1
KETUA

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

1. ERIC WARDANA
ANGGOTA :
1. DESIS EFENDO

HASYANUL BAHRIA
MUKTI MUDA
NURUL DINIA PUTRI
NUR WAHYUDIN
PUTRI RAMA DIANA SARI
RESI AGUSTIN
IIS SARI

Pembimbing Lapangan :
1. Romlah Dewi S.Kep., M.Kes
2. Novi Catarina Am.Keb
Pembimbing Akademik :
1. Sri Yulia S.Kp., M.Kep
2. Anita Apriany S.Kep., Ns

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH PALEMBANG

2016

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr.Wb


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang Maha Kuasa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan tugas laporan kasus yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN By. Ny. S DENGAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH
(BBLR) DI RUANG PERINATAL RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH
PALEMBANG TAHUN 2016.
Laporan ini di susun sebagai salah satu laporan praktik klinik
Komprehensif II dan dalam kesempatan ini kami melakukan pengkajian data di
Ruang Perinatal Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Penyusunan laporan
ini tidak terlepas dari partisipasi berbagai pihak yang telah ikut serta memberikan
masukan saran dan bimbingan sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada
yang terhormat :
1. Dr. Pangestu

Widodo,

MARS

sebagai

Direktur

Rumah

Sakit

Muhammadiyah Palembang.
2. Ibu Sri Yulia, S.Kp.,M.Kep sebagai ketua STIKes Muhammadiyah
Palembang
3. Ibu Anita Apriany, S.Kep.,Ns sebagai Kepala Program Studi Ilmu
Keperawatan

STIKes

Pembimbing Akademik
4. Ibu Desy Rukiyati,

Muhammadiyah
S.Kep.,Ns.,M.Kes

Palembang
sebagai

dan

Selaku

Kepala

Bidang

Keperawatan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dan Selaku


Pembimbing Lapangan
5. Ibu Mery Martuty, S.Kep sebagai KAM di Ruang Rasyid Thalib Rumah
Sakit Muhammadiyah Palembang dan selaku pembimbing klinik
6. Ibu Romlah Dewi, S.Kep.,Ns.,M.Kes selaku Kepala Instalasi Rawat Inap
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
7. Ibu Erni Yusnita, SST sebagai Kasi
Muhammadiyah Palembang
1

MONEV

Rumah

Sakit

C.
D.
E.
F.
G.

Diagnosa Keperawatan ...............................................................


Intervensi Keperawatan ..............................................................
Implementasi Keperawatan ........................................................
Evaluasi Keperawatan ................................................................
Tinjauan Jurnal............................................................................

68
69
70
71
73

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................
B. Saran ...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

......................................78

75
77

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan
kurang dari 2500 gram. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu
hamil anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan, ataupun lahir
kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu penanganan
yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami
hipotermi yang biasanya akan menjadi penyebab kematian. (Depkes RI,
2006).
BBLR merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap
kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan atas 2 kategori yaitu
BBLR karena premature dan BBLR karena Intrauterine Growth Retardation
(IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di
negara berkembang banyak BBLR dan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk,
anemi, malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum
konsepsi atau saat kehamilan. (Depkes RI, 2006).
Dalam pembukaan UUD 1945 tercantum bahwa salah satu tujuan nasional
Bangsa Indonesia adalah memajukan kesejahteraan umum. Untuk mencapai
tujuan tersebut diselenggarakanlah program pembangunan nasional secara
menyeluruh dan berkesinambungan, di mana salah satunya adalah
pembangunan di bidang kesehatan. Pembangunan kesehatan bertujuan
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat
adalah angka kematian bayi (AKB). AKB merupakan indikator yang lazim
digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, baik pada tataran
provinsi maupun nasional. Selain itu, program-program kesehatan di
Indonesia banyak yang menitik beratkan pada upaya penurunan AKB. Angka
Kematian Bayi merujuk kepada jumlah bayi yang meninggal pada fase antara

kelahiran hingga bayi belum mencapai umur 1 tahun per 1000 kelahiran
hidup. Badan Pusat Statistik mengestimasikan AKB pada tahun 2007 sebesar
34 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan
dengan AKB tahun 2002 2003 sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup.
(Depkes RI, 2008). Sedangkan AKB di Indonesia menurut Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 beberapa penyebab kematian bayi
baru lahir (neonatus) yang terbanyak di Indonesia diantaranya BBLR 29%,
asfiksia 27%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%,
gangguan hematologik 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%.
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut WHO (2007)
diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38%
dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi
rendah.
Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara
berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi
dengan berat lahir lebih dari 2500 gram.
Data dari WHO menyebutkan bahwa angka kejadian BBLR di Indonesia
adalah 10,5% masih di atas angka rata-rata Thailand (9,6%) dan Vietnam
(5,2%). Angka kematian bayi terjadi penurunan menjadi 33 per 1000
kelahiran hidup. Sedangkan persentase bayi dengan berat badan lahir rendah
di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2014 sebesar 1,70% . Kasus bayi Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi Sumatera Selatan banyak terjadi di
Kota Palembang. Jumlah kasus yang dilaporkan di Kota Palembang sebanyak
3,19% kasus.

Hal ini tidak berbeda dengan tahun 2013 yang mencapai

sebesar 1,69%. Bayi dengan berat badan lahir rendah yang berhasil ditangani
di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2015 sebesar 98,84. Secara
keseluruhan di tingkat Provinsi Sumatera Selatan cakupan penanganan Bayi
dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) terus mengalami peningkatan dari
tahun 2013 sebesar 74,45% menjadi 90,86% pada tahun 2014 dan 98,84%
pada tahun 2015. (Depkes RI, 2015). Di rumah sakit muhammadiyah
palembang sendiri angka kejadian kasus BBLR berdasarkan data yang di
himpun dari medical record pada tahun 2013 mencapai 192 kasus kemudian
2

pada tahun 2014 mencapai 178 kasus dan data terakhir pada tahun 2015
adalah sebanyak 142 kasus.
Bayi dengan BBLR biasanya memiliki komplikasi penyakit seperti:
1. Sindrom gangguan pernapasan idiopatik disebut juga penyakit
membran hialin karena pada stadium terakhir akan terbentuk membran
hialin yang melapisi alveoulus paru.
2. Pneumonia Aspirasi
Disebabkan karena infeksi menelan dan batuk belum sempurna, sering
ditemukan pada bayi prematur.
3. Perdarahan intra ventikuler
Perdarahan spontan diventikel otot lateral biasanya disebabkan oleh
karena anoksia otot. Biasanya terjadi kesamaan dengan pembentukan
membran hialin pada paru. Kelainan ini biasanya ditemukan pada
atopsi.
4. Hyperbilirubinemia
Bayi

prematur

lebih

sering

mengalami

hyperbilirubinemia

dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Hal ini disebabkan faktor


kematangan hepar sehingga konjungtiva bilirubium indirek menjadi
bilirubium direk belum sempurna.
5. Masalah suhu tubuh
Masalah ini karena pusat pengeluaran nafas badan masih belum
sempurna. Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapan
bertambah. Otot bayi masih lemah, lemak kulit kurang, sehingga cepat
kehilangan panas badan. Kemampuan metabolisme panas rendah,
sehingga bayi BBLR perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak
kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar (36,5 37,50C)
(Manuaba, 1998 ).
Tetapi pada kasus yang kami ambil bayi BBLR tidak mengalamami
komplikasi seperti di atas bayi termasuk dalam BBLR kategori Intrauterine
Growth Retardation (IUGR) yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat
badannya kurang.

Berdasarkan

kejadian

diatas

penulis

mengambil

kasus

Asuhan

Keperawatan Bayi Baru Lahir Rendah Pada By. Ny.S Umur 4 jam 15 menit
pasca

kelahiran

pada

waktu

pengkajian

di

Ruang

Perinatal

RS

Muhammadiyah Palembang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan
masalah dalam makalah ini adalah bagaimana Asuhan Keperawatan By. Ny.
S dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) di ruang Perinatal Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang 2016.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatkan secara nyata
dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah bayi
berat lahir rendah (BBLR)secara komprehensif.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakasanakan pengkajian secara menyeluruh pada
klien dengan bayi berat lahir rendah (BBLR).
b. Mahasiswa mampu menentukan diagnosa keperawatan pada klien bayi
berat lahir rendah (BBLR).
c. Mahasiswa mampu menyusun perencanaan atau intervensi untuk
mengatasi masalah keperawatan yang timbul pada klien bayi berat lahir
rendah (BBLR).
d. Mahasiswa mampu melakukan tindakan atau implementasi untuk
mengatasi masalah keperawatan yang timbul pada bayi berat lahir
rendah (BBLR).
e. Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah
dilakukan pada klien dengan bayi berat lahir rendah (BBLR).

D. Tempat dan Waktu


Tempat dan waktu pengkajian klien By. Ny. S di RS Muhammadiyah
Palembang ruang Perinatal. Pengkajian dimulai pada tanggal 28 Maret 2016
pukul 15.00 WIB.
E. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
Sebagai role model bagi mahasiswa praktikan dalam menerapkan asuhan
kepeawatan pada BBLR
Sebagai media visual dalam transformasi ilmu antara tim medis rumah
sakit muhammadiyah palembang dengan mahasiswa praktikan.
Pembahasan makalah ini dapat digunakan sebagai masukan dan
informasi bagi Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, khususnya
untuk masalah bayi berat lahir rendah (BBLR).
2. Bagi Institusi Pendidikan STIKes Muhammadiyah Palembang
Sebagai capaian kompetensi yang sudah di tentukan oleh institusi
3. Bagi Penulis
Sebagai aplikasi atas teori yang selama ini di dapat di dalam kelas beajar.
Untuk menambah wawasan, pemahaman dan pengetahuan yang
mendalam tentang asuhan keperawatan BBLR
Mampu mengimplementasikan asuhan keperawatan pada BBLR secara
mandiri.
F. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini
adalah dengan metode deskriftif tipe studi kasus. Menggunakan pendekatan
proses keperawatan yang meliputi pengkajian, analisa data, intervensi,
implementasi evaluasi dan disajikan dalam bentuk narasi.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan


makalah ini adalah :
1. Intervensi atau Wawancara
Pengumpulan data yang diperoleh melalui wawancara, tatap muka
antara klien maupun keluarga klien.
2. Observasi
Mengadakan pengamatan secara langsung pada klien dan melakukan
asuhan keperawatan.
3. Dokumentasi
Metode penyelidikan untuk memperoleh keterangan dari catatan
tentang gejala aatu peristiwa masa lalu.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Penyakit
1. Pengertian
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah suatu istilah yang
dipakai bagi bayi prematur, atau low birth weight, atau sering disebut bayi
dengan berat badan lahir rendah. Hal ini dikarenakan tidak semua bayi
lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram bukan bayi prematur
(WHO. 1961)
BBLR ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang
dari 2. 500 gram (sampai dengan 2. 499 gram). (Prawirohardjo, 2006 :
376).
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram. Penyebab terjadinya BBLR antara lain
karena ibu hamil anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan,
ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah
perlu penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah
sekali mengalami hipotermi yang biasanya akan menjadi penyebab
kematian. (Depkes RI, 2006).

2. Etiologi
Menurut Depkes (1993) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi
terjadinya BBLR, yaitu:
1) Faktor ibu
a. Gizi ibu hamil yang kurang
Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat memengaruhi proses
pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus,
bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi,
asfiksia. Intra partum (mati dalam kandungan) lahir dengan berat badan
rendah (BBLR).
Indikator lain untuk mengetahui status gizi ibu hamil adalah
dengan mengukur LLA. LLA adalah Lingkar Lengan Atas. LLA kurang
dari 23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi yang kurang/
buruk. Ibu berisiko untuk melahirkan anak dengan Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR).
b. Umur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Kelahiran bayi BBLR lebih tinggi pada ibu-ibu muda berusia
kurang dari 20 tahun. Remaja seringkali melahirkan bayi dengan berat
lebih rendah. Hal ini terjadi karena mereka belum matur dan mereka
belum memiliki sistem transfer plasenta seefisien wanita dewasa. Pada
ibu yang tua meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi
badannya serta kesehatannya sudah mulai menurun sehingga dapat
memengaruhi janin intra uterin dan dapat menyebabkan kelahiran
BBLR. Faktor usia ibu bukanlah faktor utama kelahiran BBLR, tetapi
kelahiran BBLR tampak meningkat pada wanita yang berusia di luar
usia 20 sampai 35 tahun.
c. Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat
Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan
pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada
saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu
yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah
dua tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya

perdarahan pada trimester III, termasuk karena alasan plasenta previa,


anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi dengan
berat lahir rendah.
d. Paritas ibu
Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin
sehingga melahirkan bayi dengan berat lahir rendah dan perdarahan saat
persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah.

e. Penyakit menahun ibu seperti hypertensi, jantung, ganguan pembuluh


darah (perokok)
1. Asma bronkiale
2. Infeksi saluran

kemih

dengan

bakteriuria

tanpa

gejala

(asimptomatik)
3. Hipertensi
4. Gaya hidup
2) Faktor kehamilan
a. Hamil dengan hydramnion
Hidramnion atau kadang-kadang disebut juga polihidramnion
adalah keadaan di mana banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc.
Hidramnion harus dianggap sebagai kehamilan dengan risiko tinggi
karena dapat membahayakan ibu dan anak.
b. Hamil ganda
Berat badan satu janin pada kehamilan kembar rata-rata 1000 gram
lebih ringan daripada janin kehamilan tunggal. Berat badan bayi yang
baru lahir umumnya pada kehamilan kembar kurang dari 2500 gram.
Suatu faktor penting dalam hal ini ialah kecenderungan terjadinya
partus prematurus.
c. Perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum merupakan perdarahan pada kehamilan
diatas 22 minggu hingga mejelang persalinan yaitu sebelum bayi
dilahirkan. Komplikasi utama dari perdarahan antepartum adalah
perdarahan yang menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan
keadaan ibu semakin jelek. Keadaan ini yang menyebabkan gangguan
8

ke plasenta yang mengakibatkan anemia pada janin bahkan terjadi syok


intrauterin yang mengakibatkan kematian janin intrauterine. Bila janin
dapat diselamatkan, dapat terjadi berat badan lahir rendah, sindrom
gagal napas dan komplikasi asfiksia.

d. Preeklamsi dan eklampsi


Pre-eklampsia/ Eklampsia dapat mengakibatkan keterlambatan
pertumbuhan janin dalam kandungan atau IUGR dan kelahiran mati.
Hal ini disebabkan karena Pre-eklampsia/Eklampsia pada ibu akan
menyebabkan perkapuran di daerah plasenta, sedangkan bayi
memperoleh makanan dan oksigen dari plasenta, dengan adanya
perkapuran di daerah plasenta, suplai makanan dan oksigen yang masuk
ke janin berkurang.
e. Ketuban pecah dini
Ketuban Pecah Dini (KPD) disebabkan oleh karena berkurangnya
kekuatan membran yang diakibatkan oleh adanya infeksi yang dapat
berasal dari vagina dan serviks. Pada persalinan normal selaput ketuban
biasanya pecah atau dipecahkan setelah pembukaan lengkap, apabila
ketuban pecah dini, merupakan masalah yang penting dalam obstetri
yang berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya
infeksi ibu.
3) Faktor janin
a. Cacat bawaan / kelainan congenital
Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan
struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Bayi
yang dilahirkan dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan
sebagai Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau bayi kecil untuk masa
kehamilannya. Bayi Berat Lahir Rendah dengan kelainan kongenital
yang mempunyai berat kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama
kehidupannya .
b. infeksi dalam Rahim

Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan


fungsi hati dalam mengatur dan mempertahankan metabolisme tubuh,
sehingga aliran nutrisi ke janin dapat terganggu atau berkurang.
pengaruh infeksi hepatitis menyebabkan abortus atau persalinan
prematuritas dan kematian janin dalam rahim.
Wanita hamil dengan infeksi rubella akan berakibat buruk terhadap
janin. Infeksi ini dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah, cacat
bawaan dan kematian janin.
Klasifikasi
Menurut (Atikah, 2010) klasifikasi BBLR, yaitu:
1. Menurut harapan hidupnya:
b.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) berat lahir 1500-2500 gram
c. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) berat lahir 1000-1500
gram
d. Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) berat lahir kurang dari
1000 gram
2. Menurut masa gestasinya BBLR dapat digolongkan sebagai
berikut:
a. Prematuritas murni
Prematuritas murni adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang
dari 37 minggu dan dan berat badannya sesuai dengan berat badan
untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai
untuk masa kehamilan (NKBSMK). Karakteristik bayi premature
adalah berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500 gram, panjang
badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkar dada kurang dari 30cm,
lingkar kepala kurang dari 33 cm, umur kehamilan kurang dari 37
minggu. Lebih dari 60% BBLR terjadi akibat bayi lahir premature.
Semakin awal bayi lahir, semakin belum sempurna perkembangan
organ-organnya, semakin rendah berat badannya saat lahir dan semakin
tinggi resikonya untuk mengalami berbagai komplikasi berbahaya.

10

b. Dismaturitas
Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa gestasi itu. Setiap bayi yang berat lahirnya sama
dengan atau lebih rendah dari 10 th persentil untuk masa kehamilan
pada Denver intra uterin growthcurves, berarti bayi mengalami
retardasi pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi yang kecil
untuk masa kehamilannya (KMK). (FKUI. 1985)

3. Anatomi dan Fisiologi


1. Sistem Pernapasan
Otot pernapasan pada bayi lemah dan pusat pernapasan kurang
berkembang. Terdapat kekurangan lipoprotein paru yaitu suatu
surfaktan yang dapat mengurangi tegangan permukaan paru,
defisiensi surfaktan juga beresiko terhadap terjadinya kolaps paru.
Ritme dan dalamnya pernapasan cenderung tidak teratur, seringkali
ditemukan apnea, sehingga timbul sianosis. Pada bayi pre term,
refleks batuk tidak ada, hal ini mengarah pada timbulnya inhalasi
cairan yang dimuntahkan. Selain itu, saluran hidung sangat sempit
dan cedera mukosa nasal mudah terjadi pada pemasangan NGT atau
tabung endotrakeal melalui hidung.
2. Sistem Thermoregulasi
Bayi pre term cenderung untuk memiliki suhu tubuh subnormal, hal
ini disebabakan oleh produksi panas yang buruk dan penoingkatan
kehilangan panas.
Kegagalan untuk menghasilkan panas yang adekuat disebabkan tidak
adanya jaringan adiposa cokelat, pernapasan yang lemah dan
pembakaran oksigen yang buruk, aktivitas otot yang buruk dan intake
nutrisi yang kurang. Kehilangan panas akan meningkat karena adanya
11

permukaan tubuh yang secara relatif lebih besar dan tidak adanya
lemak subkutan. Tidak adanya pengaturan panas pada bayi sebagian
oleh keadaan imatur dari pusat pengatur panas dan sebagian akibat
kegagalan untuk memberikan respon terhadap stimulus dari luar.
Keadaan ini sebagian disebabkan oleh mekanisme keringat yang
cacat demikian juga tidak adanya lemak subkutan.
3. Sistem Pencernaan
Semakin rendah umur gestasi, maka semakin lemah reflek menghisap
dan menelan, bayi yang paling kecil tidak mampu untuk minum
secara efektif. Regurgitasi merupakan hal yang sering terjadi karena
mekanisme penutupan sfingter jantung yang kurang berkembang dan
sfingter pylorus yang relative kuat. Lambung seorang bayi dengan
berat 900 gram memperlihatkan adanya sedikit lapisan mukosa,
glandula sekretoris, demikian juga tonus sfingter esofagus lemah
sehingga makanan dari lambung sering keluar, selain itu waktu
pengosongan lambung lama yang mengarah pada timbulnya distensi
dan retensi bahan yang dicerna. Selain itu, pencernaan dan absorpsi
lemak buruk dan berkembang menjadi malabsorbsi. Otot dinding
usus besar lemah dan perkembangan plexus syaraf otonom belum
sempurna, menyebabkan distensi dan konstipasi. Hepar kurang
berkembang, hal ini merupakan predisposisi untuk terjadinya ikterus,
akibat adanya ketidakmampuan untuk melakukan konjugasi bilirubin.
4. Sistem Sirkulasi

12

Jantung relative kecil saat lahir, pada bayi pre term kerjanya lambat
dan lemah. Terjadi ekstra systole dan bising yang dapat didengar pada
atau segera setelah lahir. Sirkulasi perifer buruk dan dinding
pembuluh darah lemah, terutama pada pembuluh darah intracranial.
Hal ini merupakan sebab dari timbulnya kecenderungan perdarahan
intra cranial yang terlihat pada bayi pre term. Tekanan sistolik pada
bayi aterm sekitar 80 mmHg dan pada bayi pre term 45 60 mmHg.
Tekanan diastolik secara proposional rendah, bervariasi dari 30 45
mmHg. Nadi bervariasi antara 100 160 permenit. Cenderung
ditemukan aritmia untuk memperoleh suara yang tepat dianjurkan
mendengarkan pada apeks dengan menggunakan stetoskop.
5. Sistem Urinarius
Fungsi ginjal kurang efisien dengan adanya angka filtrasi glomerolus
yang menurun, klirens urea dan bahan terlarut rendah. Hal ini
menyebabkan

terjadinya

penurunan

kemampuan

untuk

mengkonsentrasi urine dan urine menjadi sedikit. Gangguan


keseimbangan air dan elektrolit mudah terjadi. Hal ini disebabkan
adanya tubulus yang kurang berkembang.
6. Sistem Persyarafan
Pusat pengendali fungsi vital, misalnya pernapasan, suhu tubuh dan
pusat refleks, kurang berkembang. Karena perkembangan susunan
syaraf buruk, maka bayi yang terkecil pada khususnya, lebih lemah,
lebih sulit untuk dibangunkan dan mempunyai tangisan yang lemah.
7. Sistem Integumen

13

Kulit biasanya tipis, merah dan berkerut. Ditemukan sedikit lemak


subkutan. Kuku lembut dan lanugo mencolok tetapi terdapat sedikit
atau tidak ditemukan verniks caseosa. Rambut pendek dan jarang dan
alis mata sering kali tidak ada.

4. Patofisiologi dan Pathway


a. Patofisiologi
Menurunnya simpanan zat gizi. Hampir semua lemak, glikogen,
dan mineral, seperti zat besi, kalsium, fosfor dan seng dideposit
selama 8 minggu terakhir kehamilan.
Dengan demikian bayi preterm mempunyai peningkatan potensi
terhadap hipoglikemia, rikets dan anemia. Meningkatnya kkal untuk
bertumbuh.
dibandingkan

BBLR

memerlukan

neonatus

aterm

sekitar
sekitar

120
108

kkal/

kg/hari,

kkal/kg/hari

Belum matangnya fungsi mekanis dari saluran pencernaan. Koordinasi


antara isap dan menelan, dengan penutupan epiglotis untuk mencegah
aspirasi pneumonia, belum berkembang dengan baik sampai
kehamilan 32-42 minggu. Penundaan pengosongan lambung dan
buruknya motilitas usus sering terjadi pada bayi preterm. Kurangnya
kemampuan untuk mencerna makanan. Bayi preterm mempunyai
lebih sedikit simpanan garam empedu, yang diperlukan untuk
mencerna dan mengabsorbsi lemak , dibandingkan bayi aterm.
Produksi amilase pankreas dan lipase, yaitu enzim yang terlibat dalam
pencernaan lemak dan karbohidrat juga menurun. Kadar laktase juga
rendah sampai sekitar kehamilan 34 minggu. Paru-paru yang belum

14

matang dengan peningkatan kerja bernafas dan kebutuhan kalori yang


meningkat. Masalah pernafasan juga akan mengganggu makanan
secara oral.
Potensial untuk kehilangan panas akibat luasnya permukaan tubuh
dibandingkan dengan berat badan, dan sedikitnya lemak pada jaringan
bawah kulit memberikan insulasi. Kehilangan panas ini meningkatkan
keperluan kalori. (Moore, 1997)

b. Pathway
Faktor ibu : usia
<20thn, riwayat
kehamilan tak baik,
rahim abnormal

Faktor plasenta :
penyakit vesikuler,
kehamilan ganda,
mal informasi tumor

Faktor janian :
kelainan kromosom,
mal informasi torch,
kehamilan ganda

Nutrisi selama
kehamilan tidak
adekuat
BB <2500 gram
Refleks hisap
lemah
Imaturitas sistem
imun/pertahanan
tubuh sekunder
Terdapat luka insisi
pada plasenta
Pajanan patogen

Jaringan lemak
subkutan lebih tipis
Kehilangan panas
melalui kulit
Imaturitas
termoregulasi
Hipotermi

Perawatan yang
tidak steril
Resiko Infeksi

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Imaturitas fungsi
organ
Inadekuat surfaktan
15
Pertumbuhan
(Sumber: Nanda
Nic Noc 2013)

Pola nafas tidak


dinding dada
Insufefektif
pernafasan Modifikasi GUYTON Edisi 12
belum sempurna

5. Manifestasi Klinik
1. Gejala klinis sebelum bayi dilahirkan :
a. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus partus
prematurus dan lahir mati.
b. Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan.
c. Pergerakan janin yang pertama (quikening) terjadi lebih lambat,
gerakan janin lebih lambat, walaupun kehamilannya sudah agak
lanjut.
d. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut
seharusnya.
e. Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa
pula hidramnion, hiperemesis gravidarum dan pada hamil lanjut
dengan toxemia gravidarum.
2. Setelah bayi lahir dibedakan antara bayi dengan retardasi
pertumbuhan intrauterin, bayi prematur, bayi prematur dan bayi
KMK
a. Bayi premature
1. Vernik kaseosa sedikit/tidak ada
2. Jaringan lemak bawah kulit sedikit
3. Tulang tengkorak lunak mudah bergerak
4. Menangis lemah
5. Kulit tipis, merah dan stranparan
6. Tonus otot hipotoni
b. Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin
1. Tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas
2. Kulit tipis, kering, berlipat-lipat mudah di angkat
3. Abdomen cekung atau rata
4. Tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan
5. Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterin sama dengan
bayi KMK (Mochtar, 1998)
6. Pemeriksaan Penunjang
a) Studi cairan amniotic, dilakukan selama kehamilan untuk mengkaji
maturitas janin.
b) Darah lengkap : penurunan hemoglobin/hemotrokrit (Hb/Ht) mungkin
kurang dari 10.000 /m3 dengan pertukaran ke kiri (kelebihan dini
netrofil dan pita) yang biasanya dihubungkan dengan penyakit bakteri
berat.
c) Golongan darah : menyatakan potensial inkompatibilitas ABO.
16

d) Kalsium serum : mungkin rendah.


e) Elektrolit (Na, k, cl).
f) Penentuan RH dan contoh langsung (bila ibu Rh negatif positif) :
menentukan inkompatabilitas.
g) Gas darah arteri (GDA) : PO2 menurun, PCO2 meningkat, asidosis,
sepsis, kesulitan nafas yang lama.
h) Laju sedimentasi elektrolit : meningkat menunjukan respon inflamasi
akut.
i) Protein C reaktif (beta globulin) ada dalam serum sesuai dengan
proporsi beratnya proses radana enfeksius.
j) Trombosit : trombositopenia dapat menyertai sepsis.
k) Test shoke aspirat lambung : menentukan ada/tidaknya surfaktan.
(Doengoes, 2006)

7. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


Penanganan dan perawatan pada bayi dengan berat badan lahir
rendah menurut Proverawati (2010), dapat dilakukan tindakan sebagai
berikut:
a. Mempertahankan suhu tubuh bayi
Bayi prematur akan cepat kehilangan panas badan dan menjadi
hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi
dengan baik, metabolismenya rendah, dan permukaan badan
relatif luas. Oleh karena itu, bayi prematuritas harus dirawat di
dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam

17

rahim. Bila belum memiliki inkubator, bayi prematuritas dapat


dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang
berisi air panas atau menggunakan metode kangguru yaitu
perawatan bayi baru lahir seperti bayi kanguru dalam kantung
ibunya.
b. Pengawasan Nutrisi atau ASI
Alat pencernaan bayi premature masih belum sempurna, lambung
kecil, enzim pecernaan belum matang. Sedangkan kebutuhan
protein 3 sampai 5 gr/ kg BB (Berat Badan) dan kalori 110 gr/ kg
BB, sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian
minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan
menghisap cairan lambung. Reflek menghisap masih lemah,
sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi
dengan frekuensi yang lebih sering. ASI merupakan makanan
yang paling utama, sehingga ASI-lah yang paling dahulu
diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat
diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau
dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan
yang diberikan sekitar 200 cc/ kg/ BB/ hari.

c. Pencegahan Infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan
tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang, dan
pembentukan antibodi belum sempurna. Oleh karena itu, upaya
preventif dapat dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga
tidak terjadi persalinan prematuritas atau BBLR. Dengan
demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara
khusus dan terisolasi dengan baik
d. Penimbangan Ketat

18

Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi


bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu
penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat.
e. Ikterus
Semua bayi prematur menjadi ikterus karena sistem enzim
hatinya belum matur dan bilirubin tak berkonjugasi tidak
dikonjugasikan secara efisien sampai 4-5 hari berlalu . Ikterus
dapat diperberat oleh polisetemia, memar hemolisias dan infeksi
karena hperbiliirubinemia dapat menyebabkan kernikterus maka
warna bayi harus sering dicatat dan bilirubin diperiksa bila ikterus
muncul dini atau lebih cepat bertambah coklat.
f. Pernapasan
Bayi prematur mungkin menderita penyakit membran hialin. Pada
penyakit ini tanda- tanda gawat pernaasan sealu ada dalam 4 jam
bayi harus dirawat terlentang atau tengkurap dalam inkubator
dada abdomen harus dipaparkan untuk mengobserfasi usaha
pernapasan.
g. Hipoglikemi
Mungkin paling timbul pada bayi prematur yang sakit bayi
berberat badan lahir rendah, harus diantisipasi sebelum gejala
timbul dengan pemeriksaan gula darah secara teratur.
8. Komplikasi
Beberapa penyakit yang ada hubungannya dengan bayi prematur yaitu :
1. Sindrom gangguan pernapasan idiopatik disebut juga penyakit
membran hialin karena pada stadium terakhir akan terbentuk membran
hialin yang melapisi alveoulus paru.
2. Pneumonia Aspirasi
Disebabkan karena infeksi menelan dan batuk belum sempurna, sering
ditemukan pada bayi prematur.
3. Perdarahan intra ventikuler
Perdarahan spontan diventikel otot lateral biasanya disebabkan oleh
karena anoksia otot. Biasanya terjadi kesamaan dengan pembentukan

19

membran hialin pada paru. Kelainan ini biasanya ditemukan pada


atopsi.
4. Hyperbilirubinemia
Bayi prematur lebih

sering

mengalami

hyperbilirubinemia

dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Hal ini disebabkan faktor


kematangan hepar sehingga konjungtiva bilirubium indirek menjadi
bilirubium direk belum sempurna.
5. Masalah suhu tubuh
Masalah ini karena pusat pengeluaran nafas badan masih belum
sempurna. Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapan
bertambah. Otot bayi masih lemah, lemak kulit kurang, sehingga cepat
kehilangan panas badan. Kemampuan metabolisme panas rendah,
sehingga bayi BBLR perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak
kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar (36,5 37,50C)
(Manuaba, 1998 ).

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
a. Anamnesis
Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, suku/bangsa,
pekerjaan.
b. Keluhan utama
Menangis lemah, reflek menghisap lemah, bayi kedinginan atau
suhu tubuh rendah
c. Riwayat penyakit sekarang
Lahir spontan, SC umur kehamilan antara 24 sampai 37
minnggu ,berat badan kurang atau sama dengan 2.500 gram,
apgar pada 1 sampai 5 menit, 0 sampai 3 menunjukkan kegawatan yang
parah, 4 sampai 6 kegawatan sedang, dan 7-10 normal
20

d. Riwayat penyakit dahulu


Ibu memliki riwayat kelahiran prematur,kehamilan ganda,hidramnion
e. Riwayat penyakit keluarga
Adanya penyakit tertentu yang menyertai kehamilan seperti
DM,TB Paru, tumor kandungan, kista, hipertensi
f. ADL
1) Pola Nutrisi : reflek sucking lemah, volume lambung kurang,
daya absorbsi kurang atau lemah sehingga kebutuhan nutrisi
terganggu
2) Pola Istirahat tidur: terganggu oleh karena hipotermia
3) Pola Personal hygiene: tahap awal tidak dimandikan
4) Pola Aktivitas : gerakan kaki dan tangan lemas
5) Pola Eliminasi: BAB yang pertama kali keluar adalah
mekonium, produksi urin rendah

g. Pemeriksaan
1) Pemeriksaan Umum
a) Kesadaran compos mentis
b) Nadi : 180X/menit pada menit, kemudian menurun
sampai 120-140X/menit
c) RR : 80X/menit pada menit, kemudian menurun sampai
40X/menit
d) Suhu : kurang dari 36,5 C
2. Pemeriksaan Fisik
a) Sistem sirkulasi/kardiovaskular : Frekuensi dan irama jantung ratarata 120 sampai 160x/menit, bunyi jantung (murmur/gallop), warna
kulit bayi sianosis atau pucat, pengisisan capilary refill (kurang dari 2-3
detik).

21

b) Sistem pernapasan : Bentuk dada barel atau cembung, penggunaan


otot aksesoris, cuping hidung, interkostal; frekuensi dan keteraturan
pernapasan rata-rata antara 40-60x/menit, bunyi pernapasan adalah
stridor, wheezing atau ronkhi.
c) Sistem gastrointestinal : Distensi abdomen (lingkar perut bertambah,
kulit mengkilat), peristaltik usus, muntah (jumlah, warna, konsistensi
dan bau), BAB (jumlah, warna, karakteristik, konsistensi dan bau),
refleks menelan dan mengisap yang lemah.
d) Sistem genitourinaria : Abnormalitas genitalia, hipospadia, urin
(jumlah, warna, berat jenis, dan PH).
e) Sistem neurologis dan musculoskeletal : Gerakan bayi, refleks moro,
menghisap, mengenggam, plantar, posisi atau sikap bayi fleksi,
ekstensi, ukuran lingkar kepala kurang dari 33 cm, respon pupil,
tulang kartilago telinga belum tumbuh dengan sempurna, lembut dan lunak.
f) Sistem thermogulasi (suhu) : Suhu kulit dan aksila, suhu lingkungan.
g) Sistem kulit : Keadaan kulit (warna, tanda iritasi, tanda lahir, lesi,
pemasangan infus), tekstur dan turgor kulit kering, halus, terkelupas.
h) Pemeriksaan fisik : Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500
gram, panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm, lingkar
kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm, lingkar dada sama
dengan atau kurang dari 30cm, lingkar lengan atas, lingkar perut,
keadaan rambut tipis, halus, lanugo pada punggung dan wajah, pada
wanita klitoris menonjol, sedangkan pada laki-laki skrotum belum
berkembang, tidak menggantung dan testis belum turun., nilai
APGAR pada menit 1 dan ke 5, kulitkeriput.

22

3. Analisa Data
Data

Penyebab
Faktor ibu : usia

Masalah
Hipotermi

Batasan Karakteristik :
<20thn, riwayat

kehamilan tak

Kerusakan hipotalamus

baik, rahim

Penurunan laju metabolic

Kulit

berkeringat

lingkungan yang dingin

abnormal

pada
Dinding otot
rahim bagian

23

bawah lemah

Penyakit atau trauma


BB <2500 gram

Ketidakmampuan

atau
BBLR

penurunan kemampuan untuk


Jaringan lemak

menggigil

subkutan lebih

Malnutrisi

Obat-obatan

Terpajan

tipis

lingkungan

yang

Kehilangan
panas melalui

dingin atau kedinginan

kulit

Hipotiroidisme

Ketidakmampuan

system

Hipotermi

pengaturan suhu neonates

Kehilangan lemak subkutan


dan malnutrisi

Berat badan lahir rendah

Kulit dingin

Bantalan kuku sianosis

24

Hipertensi

Pucat

Merinding

Penurunan

suhu

tubuh

dibawah normal

Menggigil

Pengisian kapiler lambat

takikardi

Faktor ibu : usia

Nutrisi kurang dari

<20thn, riwayat

kebutuhan tubuh

Batasan Karakteristik:

Ketidak

mampuan

untuk

kehamilan tak

menelan

atau

mencerna

baik, rahim

makanan

atau

menyerap

abnormal

nutrient

akibat

biologis,

psikologis

factor

BB <2500 gram

atau
25

BBLR
ekonomi termasuk beberapa

contoh non nanda berikut:


Intoleransi makanan
Kebutuhan metabolic tinggi
Reflek mengisap pada bayi

Refleks hisap
lemah
Nutrisi Kurang

tidak efektif
Akses terhadap

makanan dari kebutuhan


tubuh

terbatas

Berat badan kurang dari 20%


atau lebih dibawah berat
badan

ideal

untuk

tinggi

badan dan rangka tubuh

Asupan makanan kurang dari


kebutuhan metabolic, baik
kalori total maupun zat gizi
tertentu

Kehilangan

berat

baan

dengan asupan makanan yang


adekuat

Melaporkan asupan makanan


yang tidak adekuat kurang
dari RDA.

26

Batasan Karakteristik :
Prosedur Infasif
Ketidakcukupan pengetahuan
untuk menghindari paparan

Faktor ibu : usia


<20thn, riwayat
kehamilan tak

patogen
Trauma
Kerusakan jaringan dan

baik, rahim

peningkatan paparan

BB <2500 gram

lingkungan
Ruptur membran amnion
Agen farmasi (imunosupresan)
Malnutrisi
Peningkatan paparan

lingkungan patogen
Imonusupresi
Tidak adekuat pertahanan
sekunder (penurunan Hb,
Leukopenia, penekanan respon

inflamasi)
Tidak adekuat pertahanan tubuh
primer (kulit tidak utuh, trauma
jaringan, penurunan kerja silia,
cairan tubuh statis, perubahan
sekresi pH, perubahan
peristaltik)

Risiko infeksi

abnormal

BBLR
Jaringan lemak
subkutan lebih
tipis
Imaturitas
sistem
imun/pertahanan
tubuh sekunder
Terdapat luka
terbuka pada
plasenta
Pajanan patogen
Perawatan tidak
steril

27

Resiko Infeksi
Batasan karakteristik :

Penurunan tekanan

inspirasi/ekspirasi
Penurunan pertukaran udara

per menit
Menggunakan otot

pernafasan tambahan
Nasal flaring
Dyspnea
Orthopnea
Perubahan penyimpangan

dada
Nafas pendek
Pernafasan rata-rata/minimal
Bayi : < 25 atau > 60
Usia 1-4 : < 20 atau > 30
Usia 5-14 : < 14 atau > 25
Usia > 14 : < 11 atau > 24
Bayi volume tidalnya 6-8
ml/Kg
Timing rasio
Penurunan kapasitas vital
Hiperventilasi
Deformitas tulang
Kelainan bentuk dinding

dada
Penurunan energi/kelelahan
Perusakan/pelemahan

muskulo-skeletal \
Kelelahan otot pernafasan
Imaturitas Neurologis

Faktor ibu : usia

Pola

<20thn, riwayat

efektif

nafas

tidak

kehamilan tak
baik, rahim
abnormal

BB <2500 gram
BBLR
Fungsi organorgan kurang
baik
Pertumbuhan
dinding dada
belum sempurna
Insuf Pernafasan
Pola Nafas
Tidak Efektif

28

4. Masalah Keperawatan (prioritas)


1) Hipotermi
2) Pola nafas tidak efektif
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4) Resiko infeksi
5. Diagnosa Keperawatan
1

Hipotermi b/d paparan lingkungan dingin

Pola nafas tidak efektif b/d imaturitas organ pernafasan

3.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d


ketidakmampuan ingest/digest/absorb

4.

Resiko infeksi b/d ketidakadekuatan system kekebalan tubuh

6. Rencana Tindakan Keperawatan


N
o

Diagnosa keperawatan

Pola nafas tidak efektif

Tujuan dan Kriteria


Hasil

Intervensi

NOC :

b/d imaturitas organ

Respiratory status :

pernafasan

Ventilation
Respiratory status :
Airway patency
Vital sign Status

NIC :
Airway Management

Buka

jalan

nafas,

guanakan teknik chin


lift atau jaw thrust bila

Kriteria Hasil :

Mendemonstrasikan

memaksimalkan

batuk efektif dan


suara nafas yang
bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
(mampu

perlu
Posisikan pasien untuk

ventilasi
Identifikasi
perlunya

pasien
pemasangan

alat jalan nafas buatan

29

mengeluarkan

Keluarkan

sputum, mampu

dengan

bernafas dengan

catat

pursed lips)

jalan

tambahan
Berikan

nafas

paten

udara

yang

atau

adanya

Menunjukkan

(klien tidak merasa

suara

pelembab

Kassa

basah

tercekik, irama nafas,

NaCl Lembab
Monitor respirasi dan

frekuensi pernafasan

status O2

dalam

rentang

normal,

tidak

suara

ada
nafas

Oxygen Therapy

abnormal)

batuk

suction
Auskultasi suara nafas,

mudah, tidak ada

sekret

Tanda

hidung

Tanda

vital

dalam

rentang

normal

(tekanan

darah,
pernafasan)

Bersihkan

mulut,
dan

secret

trakea
Pertahankan jalan nafas

yang paten
Atur

oksigenasi
Monitor aliran oksigen
Pertahankan
posisi

pasien
Onservasi adanya tanda

tanda hipoventilasi
Monitor
adanya

nadi,

kecemasan

peralatan

pasien

terhadap oksigenasi

Monitor TD, nadi,


suhu, dan RR

Monitor

kualitas

dari nadi

Monitor frekuensi

30

dan irama pernapasan

Monitor suara paru

Monitor

pola

pernapasan abnormal
Monitor

suhu,

warna, dan kelembaban


kulit
Monitor

sianosis

perifer
Monitor

adanya

cushing triad (tekanan


nadi

yang

melebar,

bradikardi, peningkatan
sistolik)
Identifikasi

penyebab

dari

perubahan vital sign

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b/d

NOC :

Nutritional Status :
Nutritional Status :

NIC :
Nutrition Monitoring

BB pasien dalam batas


normal
Monitor

Intake
Nutritional Status :

nutrient Intake
Weight control

penurunan berat badan


Monitor interaksi anak

ketidakmampuan

food and Fluid

ingest/digest/absorb

Kriteria Hasil :

adanya

atau orangtua selama


makan

31

Adanya
peningkatan berat
badan sesuai

dengan tujuan
Beratbadan ideal
sesuai dengan

Monitor

selama makan
Monitor kulit

kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda

tanda malnutrisi
Menunjukkan
peningkatan fungsi
pengecapan dari

kering

perubahan

pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor
kekeringan,
rambut

kusam,

dan

mudah patah
Monitor mual

dan

muntah
Monitor kadar albumin,
total protein, Hb, dan

kadar Ht
Monitor pertumbuhan

dan perkembangan
Monitor
pucat,

menelan
Tidak terjadi
penurunan berat
badan yang berarti

lingkungan

dan

tinggi badan
Mampu
mengidentifikasi

kemerahan,

dan

kekeringan

jaringan

konjungtiva
Monitor kalori

intake nuntrisi
Catat adanya edema,
hiperemik,

dan

hipertonik

papila lidah dan cavitas

oral.
Catat

jika

berwarna

lidah
magenta,

scarlet

Hipotermi b/d paparan


lingkungan dingin

NOC :

NIC :

Thermoregulation
Thermoregulation :

Temperature

neonate

Monitor suhu minimal

Kriteria Hasil :

regulation
tiap 2 jam

32

Suhu tubuh dalam

rentang normal
Nadi dan RR dalam

Rencanakan
monitoring

suhu

secara kontinyu

Monitor nadi, dan RR


Monitor warna dan

rentang normal

suhu kulit

Monitor

tanda-tanda

hipertermi

dan

hipotermi

Tingkatkan

intake

cairan dan nutrisi


Selimuti pasien untuk
mencegah

hilangnya

kehangatan tubuh

Monitor

nadi,

suhu, dan RR

Catat

adanya

fluktuasi tekanan darah

Monitor

kualitas

dari nadi

Monitor frekuensi
dan irama pernapasan

Monitor suara paru

Monitor

pola

pernapasan abnormal

Monitor

suhu,

warna, dan kelembaban


kulit

33

Monitor

sianosis

perifer
Monitor

adanya

cushing triad (tekanan


nadi

yang

melebar,

bradikardi, peningkatan
sistolik)
Identifikasi

penyebab

dari

perubahan vital sign

4.

Resiko infeksi b/d

NOC :

ketidakadekuatan

Immune Status
Knowledge

Infection control
Risk control

system kekebalan
tubuh.

NIC :
Infection
Control
: (Kontrol infeksi)

setelah dipakai pasien

Kriteria Hasil :
Klien bebas dari
tanda

lain
Batasi pengunjung bila

perlu
Instruksikan

pada

pengunjung

untuk

dan

gejala infeksi
Menunjukkan

Bersihkan lingkungan

kemampuan

mencuci tangan saat

untuk

berkunjung dan setelah

mencegah

berkunjung

timbulnya
infeksi
Jumlah leukosit
dalam

batas

normal
Menunjukkan

meninggalkan pasien
Gunakan
sabun
antimikrobia

untuk

cuci tangan
Cuci tangan

setiap

sebelum dan sesudah


tindakan kperawtan

34

perilaku hidup

sehat

Gunakan baju, sarung


tangan

sebagai

alat

pelindung
Pertahankan
lingkungan
selama

aseptik

pemasangan

alat
Tingktkan

intake

nutrisi
Berikan

terapi

antibiotik bila perlu


Monitor tanda dan
gejala infeksi sistemik

dan lokal
Monitor

terhadap infeksi
Batasi pengunjung
Partahankan
teknik
aspesis

pada

epidema
Inspeksi

pada

terhadap

area

kulit

membran

pasien

yang beresiko
Berikan
perawatan
kuliat

kerentanan

dan

mukosa
kemerahan,

panas, drainase
Ispeksi kondisi luka /
insisi bedah

35

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN By. Ny. S


DENGAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR)
DI RUANG PERINATAL RS MUHAMMADIYAH
PALEMBANG TAHUN 2016
A. Pengkajian
1. Identitas Klien
pasien
Nama

: By. Ny. S

Tanggal lahir

: 28 Maret 2016 pukul 10:46 WIB

Jenis kelamin

: Perempuan

Tanggal pengkajian

: 28 Maret 2016 pukul 15:00 WIB

Nomor rekam medis

: 33.21.19

Diagnosa medis

: BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)

Penanggung jawab
Nama ayah/ibu

: Ny.S

Umur

: 26 Tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Hubungan dengan pasien

: Ibu kandung

Alamat

: Plaju, palembang

36

2. Riwayat Kelahiran
a. Jenis persalinan
Pada saat pengkajian Usia bayi 4 jam 15 menit pasca kelahiran
dengan kelahiran spontan ,normal dengan posisi kepala yang lebih
dahulu keluar dan pada saat melahirkan usia janin sudah 36 Minggu 4
hari yang menandakan bayi cukup bulan dan tidak prematur.
b. APGAR score
No

Menit 1
Tanda

Menit 5

Karakteristik
Penilaian

1.

A : apperence

2.

P : puise

Warna kulit

Denyut jantung

Refleks

(HR)
3.

G : grimance
refleks

4.

A : activity

Tonus otot

5.

R:

Pernapasan

respiration
Total

Kesimpulan: Bayi normal tidak mengalami asfiksia.


Keterangan :
7 10 : Normal (vigorous baby)
4 6 : Asfiksia sedang
0 3 : Asfiksia berat
1) Prolaps tali pusat
Tidak ditemukan prolaps tali pusat, dan tali pusat tidak mendahului bayi dan
tidak melilit bayi pada saat dilahirkan.
2) Aspirasi mekonium

37

Tidak ada aspirasi mekonium dan pada saat bernafas pernafasan bayi normal
dan pelan.
3) Ketuban
Pada saat persalinan ketuban pecah secara spontan dan cepat serta warna
ketuban jernih.
4) Usia kehamilan
Usia kehamilan 36 minggu 4 hari yang menandakan bayi dengan cukup bulan
(aterm) dan tidak lahir prematur.
5) Resusitasi
Resusitasi dilakukan dengan bantuan minimal.
6) Berat badan bayi lahir
Pada saat dilahirkan bayi lahir dengan berat yang tidak normal yaitu 2200 gram
dan termasuk BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)
7) Panjang bayi
Pada saat dilahirkan panjang bayi adalah 46 cm
3. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
Keadaan umum bayi baik namun pada saat dilahirkan berat badan bayi hanya
2200 gram yang menandakan bahwa bayi tergolong BBRL (Berat Badan Lahir
Rendah).
2. Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran bayi adalah compos mentis.
3. Tanda-tanda vital
Pernafasan
: 42 x/menit dengan kriteria wheezing (-) pola nafas efektif
Nch (-)
Denyut nadi : 124 x/menit dengan kriteria krochof (-) murmur (-) normal
Suhu
:- 35,8 C dengan kriteria hipotermi dan bayi teraba dingin
- Ibu bayi mengatakan tanggan bayi teraba dingin
4. Warna kulit dan bibir
Pada saat dilahirkan warna kulit bayi adalah merah muda dengan tidak
didapatkan ikterus, syanosis, maupun kepucatan, namun kulit nampak tipis.
Crt 4 dtk.
5. Kepala muka hidung dan mulut
a. Kepala
lingkar kepala
: 30 cm
hydrocepalus
: normal tidak ditemukan pembesaran lingkar kepala
fontanel anterior
: normal tidak ditemukan pembengkakan/cekungan
chepal hematome : normal tidak ditemukan pembekuan darah dikepala

38

caput sucsadeneum : tidak ada caput sucsadeneum


ubun-ubun
: sedikit menonjol
b. muka
mata
: sekret (-) , sklera ikterik (-), kelopak mata merah
telinga
: bentuk simetris dan tidak teradapat serumen
c. hidung dan mulut
labia schisis
: normal, tidak ada kelainan pada labia schisis
palatum schisis
: normal, tidak ada kelainan pada palatum schisis
trush (bercak)
: normal, tidak ditemukan trush (bercak)
membran mucosa : membran mucosa lembab
refleks hisap
: reflek hisap lemah,tidak terpasang alat bantu napas
6. dada
lingkar dada : 28 cm
bentuk dada : bentuk dada bayi simetris dan tidak ada kelainan
bunyi nafas : bunyi nafas bayi vesikuler
puting susu : terdapat dua puting susu dan tidak terdapat oedema
7. perut dan punggung
lingkar perut 26 cm, pada bagian perut terdapat tali pusat dengan keadaan
basah terdapat bekas luka pemotongan tali pusat, serta pada bagian punggung
berbentuk simetris tidak ada lubang dan teraba lembut.
8. Alat kelamin dan anus.
a. Kelamin
Labia mayora menutupi labia minora
Pada bagian labia mayora dan labia minora nampak merah dan
menonjol, , lembab, serta terdapat lubang vagina dan terdapat lubang
uretra.
b. Anus
Pada bagian anus tidak terdapat sumbatan epitel anus sehingga anus tidak
tertutup dan anus terdapat lubang.
9. Ekstremitas atas dan bawah
Pada bagian ekstermitas atas dan bawah berwarna merah muda, gerakan tangan
dan kaki kuat, tidak terdapat syanosis, serta jumlah jari lengakap dan tidak
terdapat kelainan. Akral teraba dingin
10. Postur dan gerak

39

Pada seluruh bagian tubuh tidak didapatkan kelainan bentuk dan pada saat
diobservsi bagian dextra dan sinistra bentuknya simetris, serta gerakan aktif
pada seluruh bagian baik ekstremitas atas maupun ekstremitas bawah, dan
didapatkan sesekali nampak bayi menangis.
11. Aktivitas
Bayi tertidur dengan pulas namun pada saat bangun bayi nampak lapar yang
ditandai dengan bayi menangis, pada saat lapar bayi diberi ASI oleh ibu, ibu
mengatakan bayinya mnghisap dengan lemah, kemudian pada waktu 2 jam
berikutnya bayi menyusu dengan bantuan dot dan reflek hisapnya pun msih
lemah..
12. Eliminasi
a. BAK : 10x/hari dilihat dari rata-rata pergantian popok
b. BAB : 3x/hari dengan warna hijau kehitaman
13. Refleks
a) Reflek Rooting
Bayi merespon ketika ibu hendak menyusui bayi,dan ketika pipi atau
sudut bibir bayi disentuh maka kepala bayi

berputar kearah

rangsangan.
b) Reflek babinski
Saat diletakkan tangan kita pada telapak tangan atau telapak kaki pada
bayi tangan dan kaki bayi mengkerutkan jari jarinya seolah olah ingin
menggenggam.
c) Reflek swallowing
Ketika ibu memasukkan puting susu ,bayi tampak pelan-pelan dan
reflek hisapnya pun lemah.
d) Reflek berkedip
ketika mata bayi terkena cahaya lampu, maupun tersentuh tangan mata
bayi menutup.
e) Reflek pupil
ketika sinar terang didekatkan pada mata bayi terjadi kontriksi pupil

40

4.Analisa Data Keperawatan


Data
DS:

Penyebab
riwayat

Ibu bayi mengatakan tangan


bayi teraba dingin

Masalah
Hipotermi

kehamilan tak
baik,
nutrisi selama

DO

kehamilan tidak

Bayi teraba dingin


Berat badan bayi 2200 gram
Panjang bayi 46 cm
Lingkar kepala 30 cm
Lingkar dada 28 cm
Lingkar perut 26 cm
Akral dingin
CRT 4 detik
Bayi dimasukan kedalam
incubator
Tanda-tanda vital
- N: 124 x/menit
- R: 42 kali/menit
- S: 35,8 oC.

adekuat
BB <2500 gram
BBLR
Jaringan lemak
subkutan lebih
tipis
Kehilangan
panas melalui
kulit
Imaturitas
termoregulasi

41

Hipotermi

riwayat

DS:

Ibu mengatakan kemampuan bayi

kehamilan tak

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

baik,
untuk menghisap lemah
nutrisi selama
DO:
kehamilan tidak

Berat badan bayi 2200 gram


Panjang bayi 46 cm
Lingkar kepala 30 cm
Lingkar dada 28 cm
Lingkar perut 26 cm
Kulit bayi tampak tipis
Kulit bayi tampak kriut

adekuat
BB <2500 gram
BBLR
Refleks hisap
lemah
Nutrisi Kurang
dari kebutuhan
tubuh

DS:

Ibu bayi mengatakan terdapat

riwayat

Risiko infeksi

kehamilan tak

42

luka dipusat bekas plasenta di


bagian perut.

baik,
BB <2500 gram
BBLR

DO:

Nampak luka dibagian pusat bayi


Luka tampak basah dengan ujung

tali pusat yang masih segar


Bayi tampak mengenakan popok

Jaringan lemak
subkutan lebih
tipis
Imaturitas
sistem
imun/pertahanan
tubuh sekunder

Terdapat luka
insisi pada
plasenta
Pajanan patogen
Perawatan yang
tidak steril
Resiko Infeksi

43

4. Prioritas masalah keperawatan


a. Hipotermi
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Resiko infeksi
5. Diagnosa keperawatan
a. Hipotermi b/d perubahan suhu ruang/lingkungan dan imaturitas
termogulasi
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d tidak adekuatnya asupan nutrisi/
c. Resiko infeksi b/d luka pada pusat dan tidak adekuatnya pertahanan
sekunder tubuh

6. Intervensi Keperawatan

44

N
O

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria

Intervensi

Hasil

45

1.

Hipotermi b/d perubahan NOC :


suhu ruang/lingkungan dan

imaturitas termogulasi

Thermoregulation
Thermoregulation :

Monitor suhu

neonate

Monito

tiap 1 jam
nadi,

temp, dan RR
Monitor warna

Kriteria Hasil :

Ditandai dengan :

DS:

NIC :

Suhu tubuh dalam

kulit dan suhu

rentang normal

Ibu bayi mengatakan


tangan bayi teraba

Monitor tanda-

yaitu: T: 36,5-37,5oc
Nadi dan RR dalam

tanda
hipertermi

rentang normal yaitu

dingin

dan hipotermi

Tingkatkan

N:120-160x/menit

DO

intake cairan

RR: 40-60x/menit

dan nutrisi

Bayi teraba dingin


Berat badan bayi

mencegah

2200 gram
Panjang bayi 46 cm
Lingkar kepala 30

tubuh,

cm
Lingkar dada 28 cm
Lingkar perut 26 cm
Akral dingin
CRT 4 detik
Bayi
dimasukan

pasien untuk
hilangnya
kehangatan

x/menit
R:

dan

masukkan
bayi ke dalam
infan warmer
Memasukkan
bayi ke dalam
inkubator

kedalam incubator
Tanda-tanda vital
- N:
124
-

Selimuti

42

kali/menit
S: 35,8 oC.
-

2.

Nutrisi

kurang

dari NOC :

kebutuhan tubuh b/d tidak

Nutritional Status :

NIC :

Monitor

46

adekuatnya asupan nutrisi/

Nutritional Status :

kemampuan

mal absorsi nutrisi

food and Fluid

bayi

menghisap

Ditandai dengan :

Intake
Nutritional Status :

nutrient Intake
Weight control

DS:

Ibu

DO:

Berat

2200 gram
Panjang bayi 46 cm
Lingkar kepala 30

cm
Lingkar dada 28 cm
Lingkar perut 26 cm
Kulit bayi tampak

tipis
Kulit bayi tampak

badan

bayi

badan
Monitor

kulit

kering

Adanya

dan

perubahan

peningkatan berat

menghisap lemah.

Monitor adanya
penurunan berat

mengatakan Kriteria Hasil :

kemampuan bayi untuk

utuk

badan sesuai

pigmentasi
Monitor turgor

dengan tujuan
Beratbadan ideal

kulit
Monitor

>2500 gram.
Menunjukkan

pertumbuhan
dan

peningkatan fungsi

dari menelan,

perkembangan
Monitor pucat,
kemerahan, dan

kemampuan bayi

kekeringan

untuk menghisap

jaringan

menjadi kuat

konjungtiva

kriut
3.

Resiko infeksi b/d luka pada NOC :


pusat dan tidak adekuatnya

Immune Status
Knowledge

Infection control
Risk control

pertahanan skunder tubuh


Ditandai dengan :
DS:

Ibu

NIC :
:

mengatakan

Kriteria Hasil :
tanda dan gejala
infeksi

tali pusat
Bersihkan
lingkungan
setelah dipakai

Klien bebas dari


bayi

Perawatan

pasien lain
Batasi
pengunjung

47

terdapat

luka

dipusat

Menunjukkan
kemampuan

bekas plasenta

pengunjung

mencegah

untuk mencuci

timbulnya

Nampak luka dibagian

pusat bayi
Luka tampak

basah

dengan ujung tali pusat

tangan

infeksi
Jumlah leukosit
dalam

saat

berkunjung
dan

batas

setelah

berkunjung

normal
Menunjukkan
perilaku hidup

yang masih segar


Bayi
tampak

bila perlu
Instruksikan
pada

untuk

DO:

meninggalkan

sehat

pasien
Gunakan
sabun
antimikrobia

mengenakan popok

untuk

cuci

tangan
Cuci
tangan
setiap sebelum
dan

sesudah

tindakan

kperawtan
Gunakan baju,
sarung tangan
sebagai

alat

pelindung
Tingktkan

intake nutrisi
Berikan terapi
antibiotik bila
perlu.

48

7. Implementasi Keperawatan
NO

DIAGNOSA

TANGGA
L/WAKTU

TINDAKAN
KEPERAWATAN

1. Hipotermi

b/d 28 Maret
2016 /
perubahan suhu
Mengkaji adanya
Jam 17.00perubahan warna
ruang/lingkungan 20:00
kulit.
dan
imaturitas
Meletakkan bayi pada
17.00-17.10

termogulasi

EVALUASI
S:O:

Warna kulit bayi

kemerahan
Bayi terlihat
menangis
Akral masih
tampak dingin
Suhu : 36,0

alas yang hangat dan

Ditandai

kering
Memasukkan bayi

dengan :

kedalam infan

DS:
17.10-20.00

Ibu

bayi

mengatakan
tangan

17.00-20.00

bayi

teraba dingin

17.30,
19.30

warmer
Mengobservasi
temperature setiap 1

A:
Masalah belum

jam sekali
Memasukan bayi di

teratasi

inkubator
Mengganti popok

P:

ketika teraba basah

Intervensi diteruskan

atau lembab. Pastikan


selalu bersih dan

49

DO

kering.
melakukan balutan

Bayi

dingin
Berat badan

teraba

bayi

pakaian pada bayi.

2200

gram
Panjang bayi

46 cm
Lingkar

kepala 30 cm
Lingkar dada

28 cm
Lingkar perut

26 cm
Akral dingin
CRT 4 detik
Bayi
dimasukan
kedalam

incubator
Tanda-tanda

vital
N:124x/menit
R:42 x/menit
S: 35,8 oC.

50

2. Nutrisi

kurang 28 Maret
2016/
kebutuhan

dari

S :O:

tubuh b/d tidak

asupan

Jam 17.00nutrisi/ 20.00

mal

absorsi

Ditandai

satu jam sekali.


Memberi nutrisi
sesuai
kebutuhan bayi.

DS:
17.30,
19.30

Ibu

menghisap bayi

dengan :

mengatakan

output.
Mengobservasi
reflek

17.00-20.00

nutrisi

ASI

intake dan

adekuatnya

Mengobservasi

+ PASi + ASI
Menimbang BB

Bayi tampak
beradaptasi
menghisap
BB bayi
2200 gram
Pasi hanya
habis 5cc
dari 30 cc

A:
Masalah belum
teratasi
P:
Intervensi diteruskan

tiap hari.

keluar
05.00

sedikit
Ibu
mengatakan
puting

susu

ibu

tidak

menonjol
DO:

Berat
badan

51

bayi 2200

gram
Kulit
tampak
kemeraha

n
Turgor
kulit

menurun
Mukosa
bibir
tampak
kering

3. Resiko infeksi b/d 28 Maret


2016/
luka pada pusat
dan

tidak

S:

O:
Mengkaji dan

Tali pusat

terlihat basah
Terdapat

Mengobservasi

adekuatnya

Jam 17.0020.00

pertahanan
skunder tubuh

tanda-tanda

infeksi
Menjaga

kassa dan
kassa terlihat

kebersihan

Ditandai

17.00-20.00

DS:

Ibu

badan dan

dengan :

lingkungan bayi
Melakukan

basah
Warna kulit
bayi
kemerahaan

bayi

perawatan tali
17.00,

A:
pusat

52

mengatakan

05.15

Menghindari

Masalah belum

terdapat luka

bayi sehat

teratasi

dipusat bekas

kontak dengan

P:

plasenta

bayi sakit

Intervensi diteruskan

DO:

Nampak luka
dibagian pusat

bayi
Luka tampak
kering

dan

diberi betadin
4. Hipotermi

b/d 28 Maret
2016/
suhu

perubahan

S:O:

ruang/lingkungan

adanya

Jam 20.00imaturitas 24.00

dan

Mengkaji
perubahan

Ditandai
dengan :

20.00-24.00

Mengobservasi
temperature

DS:

setiap 1 jam
sekali
Ibu

bayi

22.00

Mengganti

popok bayi
Masukan bayi

mengataka
n

tangan

bayi

Warna kulit bayi

kemerahan
Bayi terlihat

menangis
Pergerakkan bayi

aktif
Akral tampak

hangat
Suhu : 36,2

warna kulit.

termogulasi

20.00-24.00

ke dalam

A:
Masalah belum
teratasi

53

teraba

inkubator dan

dingin

menyelimuti

P:

bayi (bedong)

Intervensi diteruskan

DO

Bayi
teraba

dingin
Akral

dingin
Bayi
terpasang

incubator
Tanda-

tanda vital
N:
124

x/menit
R:
42

kali/menit
S: 35,8 oC.

5. Nutrisi
dari

kurang 28 Maret
2016/
kebutuhan

tubuh b/d tidak


adekuatnya
asupan

nutrisi/

S :O:

Jam 20.0024.00

Mengobservasi
intake dan

output.
Mengobservasi

bayi bab,
warna hijau
kehitaman
Bayi tampak
malas

54

mal

absorsi

reflek
20.00-00

nutrisi

Ditandai

Ibu
mengatakan

kebutuhan bay.

21.00

DS:

ASI

menghisap bayi.
Memberi nutrisi

sesuai

dengan :

menghisap
BB bayi
2200 gram
Pasi habis
15cc dari
30cc + ASI

A:

+ PASi + ASI
Menimbang BB

Masalah belum
teratasi

tiap hari.

P:
Intervensi diteruskan

keluar

sedikit
Ibu
mengatakan
puting masuk

DO:

Berat
badan
bayi 2200

gram
Bayi
tampak

kurus
Kulit
tampak
kemeraha
55

n
Turgor
kulit

menurun
Mukosa
bibir
tampak
kering

6. Resiko infeksi b/d 28 Maret


2016/
luka pada pusat
dan

S: O:

tidak

Mengkaji dan

Tali pusat

Mengobservasi

adekuatnya

terlihat sedikit

Jam 20.0024.00

pertahanan
skunder tubuh

tanda-tanda

infeksi
Menjaga

kiring
Terdapat
kassa dan

kebersihan

Ditandai

kassa terlihat

20.00-24.00

badan dan

dengan :

DS:

Ibu

lingkungan bayi
Melakukan

sedikit kering
Warna kulit
bayi

bayi

perawatan tali
17.30,
05.15

kemerahaan
pusat
Menghindari

A:

terdapat luka

bayi sehat

Masalah belum

dipusat bekas

kontak dengan

teratasi

plasenta

bayi sakit

P:

mengatakan

Intervensi diteruskan

56

DO:

Nampak luka
dibagian pusat

bayi
Luka tampak
kering

dan

diberi betadin
7. Hipotermi

b/d 29
Maret
2016/
perubahan suhu
Jam 24.00ruang/lingkungan 09.00
dan

S:

Jam 24.0009.00

Ditandai

O:

adanya

Warna kulit bayi

warna kulit.
Meletakkan bayi

kemerahan
Bayi tidak

pada alas yang

menangis
Pergerakkan bayi

aktif
Akral tampak

hangat
Suhu : 37,4

perubahan

imaturitas

termogulasi

Mengkaji

hangat dan

dengan :

kering

DS:

Ibu

bayi

Jam 24.0009.00

Mengobservasi
temperature

mengataka

setiap 1 jam

sekali
Masukan bayi

tangan

bayi
teraba
dingin

ke dalam
inkubator dan

A:
Masalah teratasi
P:
Intervensi dihentikan

selimuti bayi
(bedong)

57

DO

Bayi
teraba

dingin
Akral

dingin
Bayi
terpasang

incubator
Tanda-

tanda vital
N:
124

x/menit
R:
42

kali/menit
S: 35,8 oC.

8. Nutrisi
dari

kurang 29 Maret
2016/
kebutuhan

tubuh b/d tidak

S :O

asupan
mal

absorsi

output.
Mengobservasi

reflek

nutrisi

Ditandai

intake dan

adekuatnya

Jam 24.00
nutrisi/ 09.00

Mengobservasi

menghisap bayi.
Memberi nutrisi
sesuai

: bayi bab
warna hijau
kehitaman
Kemampuan
bayi
menghisap
tampak kuat
menghisap
Pasi habis
30cc dari
30cc + ASI

dengan :

58

DS:

Ibu

A:

+ PASi + ASI

Masalah teratasi
P:

mengatakan
ASI

kebutuhan bayi.

Intervensi dihentikan

keluar

sedikit
Ibu
mengatakan
puting masuk

DO:

Berat
badan
bayi 2200

gram
Bayi
tampak

kurus
Kulit
tampak
kemeraha

n
Turgor
kulit

menurun
Mukosa

59

bibir
tampak
kering
9. Resiko infeksi b/d 29 Maret
2016
luka pada pusat
dan

tidak

adekuatnya

S:
O:

Jam 24.0009.00

Ditandai

Jam 24.0009.00

dengan :

DS:

Ibu

bayi

mengatakan

Jam 17.30,
05.15

Pergerakan

tanda-tanda

bayi aktif
Tali pusat

infeksi
Menjaga

terlihat kering
Terdapat

Mengobservasi

pertahanan
skunder tubuh

Mengkaji dan

kebersihan

kassa dan

badan dan

kassa terlihat

lingkungan bayi
Melakukan

kering
Warna kulit

perawatan tali

bayi

pusat

kemerahaan

terdapat luka
dipusat bekas
plasenta

A:
Masalah teratasi

DO:

Nampak luka

P:
Intervensi dihentikan

dibagian pusat

bayi
Luka tampak

60

kering

dan

diberi betadin

61

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Latar Belakang


Model ilmu keperawatan berdasarkan adaptasi Roy (Nursalam, 2008)
memberikan

pedoman

kepada

perawat

dalam

mengembangkan

asuhan

keperawatan. Unsur proses keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis


keperawatan, intervens dan evaluasi.
Pada bab ini penulis akan membahas studi kasus pada asuhan keperawatan
yang dilakukan pada tanggal 28-29 maret 2016 di ruang perinatal RS
muhammadiyah Palembang. Prinsip dari pembahasan ini dengan memperhatikan
teori keperawatan yang terdiri dari tahap pengkajian, diagnosa keperawatan,
intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan.
Dari tahap pengkajian di dapatkan klien bayi Ny.S yang berusia 4 jam 15
menit pasca kelahiran dengan keluhan berat badan bayi di bawah normal dan suhu
tubuh di bawah normal. Diagnosa medis yang ditentukan yaitu BBLR.
Dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan dari Hipotermi b/d perubahan
suhu ruang/lingkungan dan imaturitas termogulasi,Nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d tidak adekuatnya asupan nutrisi/ dan Resiko infeksi b/d luka pada pusat
dan tidak adekuatnya pertahanan sekunder tubuh
4.2 Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan
verivikasi, komunikasi dan dari data tentang pasien. Pengkajian ini didapat dari
dua tipe yaitu data suyektif dan dari persepsi tentang masalah kesehatan mereka
dan data obyektif yaitu pengamatan / pengukuran yang dibuat oleh pengumpul
data (Potter, 2005).

62

Penulis mengupulkan data dengan

metod wawancara, observasi dan

periksaan fisik, dan rekam medic.


Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam mengumpulkan data dari berbagai sumber data
untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam,
2001).
Asuhan keperawatan yang diberikan pada bayi NyS 28 maret 2016. Dari
data pengkajian didapatkan bahwa klien mengalami bblr dan suhu tubuh di bawah
normal . Hal ini disesuaikan teori yang ada bahwa kasus bblr kategori IUGR
intrauterine growth retradation penanganannya menggunakan terapi radian infant
warmer, inkubator dan observasi setiap satu jam sekali.Pemeriksaan fisik inspeksi
jika kita melakukan inspeksi pada anatomo tubuh bayi maka akan didapatkan
uuran bayi yang relative lebih kecil ari bayi normal dengan ukuran panjang bayi
46 cm, kulit bayi nampak tipis tanpa sianosis, pada waktu palpasi maka akral bayi
akan teraba dingin.
4.3 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat dan pasti
tentang masalah klien serta pengembangan yang dapat dipecahkan atau diubah
melalui tindakan keperawatan menggambarkan respon actual atau potensial klien
terhadap masalah kesehatan. Respon actual dan potensial klien didapatkan dari
data pengkajian dan catatan medis klien. Diagnosa keperawatan memberikan
dasar pemilihan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan ( Potter dan
Perry, 2005).Diagnosa keperawatan utama yang diangkat penulis adalah
Hipotermi

b/d

perubahan

suhu

ruang/lingkungan

dan

imaturitas

termogulasi,Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d tidak adekuatnya asupan


nutrisi danResiko infeksi b/d luka pada pusat dan tidak adekuatnya pertahanan
sekunder tubuh
Penulis mengangkat diagnose hipotermi berhubungan dengan perubahan suhu
lingkungan dan imaturitas karena ditemukan data data yang menunjang seperti T;
63

35,8 akral teraba dingin, untuk diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berdasarkan data yang mendukung seperti ,Berat badan bayi
2200 gram, Panjang bayi 46 cm,Lingkar kepala 30 cm,Lingkar dada 28
cm,Lingkar perut 26 cm,Kulit bayi tampak tipis,Kulit bayi tampak kriut. Dan
untuk masalah keperawatan resiko infeksi berhubungan dengan adanya uka insisi
dan pertahanan tubuh sekunder yang tidak adekuat berdasarkan data, terdapatnya
luka pemoongan plasenta.
Penulis mengangkat diagnose hipotermi, ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh dan resiko infeksi karena merupakan diagnose prioritas dan
actual dan resiko. Hal ini didasarkan pada teori Hinarki Maslow. Menurut Maslow
kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan dasar yang memerlukan penanganan
dengan segera agar tidak mengganggu kebutuhan lainnya (Potter, 2005).
4.4 Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah semua rencana keperawatan untuk membantu
klien beralih dari status kesehatan saat ini ke status yang diuraikan dalam hasil
yang diharapkan (Potter, 2005).
Menurut Asmadi 2008, sebelum menentukan intervensi keperawatan harus
ditentukan tujuan dilakukan tindakan sehingga rencana tindakan dapat
diselesaikan dengan metode smart yaitu spesifik adalah rumusan tujuan yang
harus jelas dan khusus Measurable adalah tujuan yang dapat diukur, Achierable
adalah tujuan yang dapat diterima, dicapai dan ditetapkan bersama klien, rasional
adalah tujuan dapat tercapai dan nyata dan time harus ada target waktu.
Selanjutnya akan diuraikan rencana keperawatan dari diagnose yang
ditegakkan dan criteria hasil berdasarkan NOC yaitu tindakan khusus dan detail
yang dilakukan perawat (Wilkinson, 2007).
Tujuan yang dibuat penulis adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2x24jam diharapkan suhu tubuh bayi dalam rentang normal yaitu pada
kisaran 36,5-37,50C bayi tidak mengalami sianosis , kemudian kebutuhan nutrisi

64

bayi adekuat yang ditandai dengan kemampan menghisap saat menyusu yang
kuat, dan bayi terhindar dari infeksi.
Untuk masalah keperawatan hipotermi penulis merncanakan tindakan
keperawatan yaitu dengan menempatkan bayi pada radiant infant warmer,
membalut bayi dengan slimut, memasukan bayi kedalam inkubator dan
mengobservasi tanda tanda vital bayi setiap satu jam sekali.
Pada masalah keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan

tubuh

penulis

merencanakan

tindakan

keperawatan

berupa

mengevaluasi setiap satu jam sekali kemampuan menhisap si bayi, memberikan


nutrisi sesuai kebutuhan bayi, mengevaluasi tanda tanada kekurangan nutrisi dan
observasi setiap satu jam sekali.
Kemudian pada masalah keperawatan resiko infeksi penulis merencanakan
tindakan

keperawatan

yaitu

Mengkaji

dan

Mengobservasi

tanda-tanda

infeksi,Menjaga kebersihan badan dan lingkungan bayi,Melakukan perawatan tali


pusat,Menghindari bayi sehat kontak dengan bayi sakit.

4.5 Implementasi Keperawatan


Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan adalah
katagori dari perilaku keperawatan di massa tindakan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan mengikuti
komponen perencanaan keperawatan (Potter, 2005).
Dalam melakukan tindakan keperawatan selama 2 hari penulis tidak
mempunyai hambatan, semua rencana yang diharapkan dapat dilaksanakan. Untuk
masalah keperawatan hipotermi penulis melakukan asuhan keperawatan Pada
tanggl 28-29 maret 2016 yaitu langkah pertama meletakan bayi pada radian infant
warmer, kemudian menyelimuti bayi dan meletakan bayi pada inkubator guna
menjaga dan mempertahankan suhu bayi agar tetap hangat dan menghindarkan
bayi dari penurunan suhu yang progresif. Observasi dilakukan setiap satu jam
65

sekali untuk mengukur tanda-tanda vital yaitu N: 121 x/menit,R: 43 kali/menit, S:


35,6 oC. dalam rata rata perhitungan. Untuk mengetahui indikasi dari adanya
penurunan suhu.
Masalah keperawatan ketidakeimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh penulis memberikan asuhan keperawatan pada tanggal 28-29 maret 2016
dimulai dari pukul 17:00- 09:00 berupa observasi kebutuhan nutrisi klien dengan
memberikan asi baik langsung dari ibu maupun dengan menggunakan alat bantu
berupa dot. Kemudian mengobservasi kemampuan hisap bayi saat menyusu
dengan meletakan jari pada bibirnya dan menanyakan langsung kepada si ibu.
Masalah

keperawatan

resiko

infeksi

penulis

memberikan

asuhan

keperawatan pada tanggal 28-29 maret 2016 berupa membatasi pengunjung yang
datng , mencuci angan sebelum menyentuh dan melakukan tindakan keparawatan
pada si bayi, mengganti popok , melakukan perawatan tali pusat dengan cara
mengganti kassa pada jam 17:30 dan 05:15.

4.6 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang
rencana keperawatan untuk membantu klien mengatasi masalah kesehatal,
mencegah kekambuhan dari masalah potensial dan mempertahankan status
kesehatan. Evaluasi terhadap tujuan asuhan keperawatan menentukan tujuan ini
telah terlaksana (Potter, 2005).
Penulis mengevaluasi apakah prilaku atau respon klien mencerminkan
suatu kemajuan atau kemunduran dalam diagnosa keperawatan. Pada evaluasi
penulis menyesuaikan dengan teori yang ada yaitu SOAP yang berarti S adalah
subjektif keluhan utama klien, O adalah objektif hasil pemeriksaan, A adalah
perbandingan data dengan teori dan P adalah perencanaan yang akan dilakukan
(Asmadi, 2008).

66

Pada

masalah

keperawatan

hipotermi

setelah

dilakukan

asuhan

keperawatan pada tanggal 28 maret 2016 pukul 17:00 20:00 didapatkan hasil
evaluasi S:- O:Warna kulit bayi kemerahan, Bayi terlihat menangis, Akral masih
tampak dingin,Suhu : 36,0,A :Masalah belum teratasiP:Intervensi diteruskan di
mulai dari pukul 20:00- 24:00 dengan evaluasi S:- ,O:Warna kulit bayi
kemerahan, Bayi terlihat menangis,Pergerakkan bayi aktif,Akral tampak
hangat,Suhu : 36,2A :Masalah belum teratasi P:Intervensi diteruskan pada tanggal
29 maret 2016 dari pukul 24:00- 09:00 dengan kriteria evaluasi S:- O:Warna kulit
bayi kemerahan,Bayi tidak menangis,Pergerakkan bayi aktif,Akral tampak
hangat,Suhu : 37,4A :Masalah teratasiP:Intervensi dihentikan.
pada masalah keperawatan keidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh setelah dilakuan asuhan keperawatan pada tanggal 28-29 maret
2016 di mulai dari pukul 17:00-20:00 didapatkan hasil evaluasi S :- O :Bayi
tampak beradaptasi menghisap,BB bayi 2200 gram,Pasi hanya habis 5cc dari 30
cc,A :Masalah belum teratasi,P:Intervensi diteruskan dari pukul 20:00-24:00
dengan hasil evaluai S :- O:bayi bab, warna hijau kehitaman,Bayi tampak malas
menghisap,BB bayi 2200 gram,Pasi habis 15cc dari 30cc,A :Masalah belum
teratasiP:Intervensi diteruskan pada tanggal 29 maret 2016 mulai dari pukul
24:00-09:00 dengan kriteria evaluasi S :-

O : bayi bab warna hijau

kehitaman,Kemampuan bayi menghisap tampak kuat menghisap,Pasi habis 30cc


dari 30cc,A :Masalah teratasi ,P:Intervensi dihentikan.
Kemudian untuk masalah keperawatan resiko infeksi setelah penulis
melakukan asuhan keperawatan pada tanggal 28-29 maret 2016 di mulai pada
pukul 17:00 20:00 didapatkan hasil evaluasi S: O:Tali pusat terlihat basah,
Terdapat kassa dan kassa terlihat basah,Warna kulit bayi kemerahaan,A: Masalah
belum teratasi,P:Intervensi diteruskan dari pukul 20:00- 24:00 kemudian di
dapatkan hasil evaluasi S: - O:Tali pusat terlihat sedikit kiring,Terdapat kassa dan
kassa terlihat sedikit kering,Warna kulit bayi kemerahaan A: Masalah belum
teratasiP:Intervensi diteruskan pada tanggal 29 maret 2016 mulai dari pukul
24:00- 09:00 dengan kriteria evaluasi S: O:Pergerakan bayi aktif,Tali pusat

67

terlihat kering,Terdapat kassa dan kassa terlihat kering,Warna kulit bayi


kemerahaanA: Masalah teratasiP:Intervensi dihentikan dan klien pun di izinkan
pulang.
4.7 Tinjauan Jurnal
Setelah penulis membaca jurnal terlampir maka dapat disimpulkan :
Dari hasil penelitian yang terdapat pada jurnal di atas menunjukkan bahwa
tingkat kejadian IUGR/BBLR (Hambatan pertumbuhan dalam kandungan
mengacu pada laju pertumbuhan janin yang kurang dari normal untuk potensi
pertumbuhan janin (untuk itu usia kehamilan tertentu) dinegara-negara
berkembang adalah sekitar 6 kali lebih tinggi daripada Negara maju.
Beban IUGR terkonsentrasi terutama di Asia yang menyumbang hampir
75% dari semua bayi yang terkena.Afrika dan Amerika Latin account untuk 20%
dan 5% kasus masing-masing.Hal ini dikarenakan berbagai faktor seperti: masalah
perekonomian,sarana dan prasarana yang minim,tingkat pendidikan yang
mengacu pada pengetahuan,serta tingkat pemenuhan nutrisi pada saat kehamilan
Tingginya tingkat IUGR harus menjadi penyebab keprihatinan karena
mereka tidak hanya menunjukkan suatu risiko besar akan kekurangan gizi dan
morbiditas pada wanita usia subur tetapi juga sinyal dari risiko tinggi kekurangan
gizi, morbiditas dan mortalitas untuk bayi yang baru lahir di negara-negara
berkembang.

68

Hal hal yang harus diperhatikan untuk mengurangi tingkat kejadian IUGR.BBLR
(meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan);

Integration (funding for research and risk assessment)


Penyesuaian antara sistem keuangan dan faktor risiko untuk mengurangi
tingkat kejadian
Accountability (Nutritional policy and monitorig improvements)
Menjaga pemenuhan nutrisi dan memantau perkembangan yang harus
tetap di perhatikan dan evaliasi
Coordination (maternal education and antenatal care)

Berkerjasama dalam memberikan pendidikan pada ibu hamil atau pengetahuan


tentang dan pelayanan pada saat kehamilan.

BAB IV

69

PENUTUP

A. Kesimpulan
BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat
kelahiran kurang dari 2500 gram (sampai 2499 gram) tanpa memandang
masa kehamilan. Dari hasil pengkajian yang dilakukan, keadaan bayi yang
lemah dikarenakan berat badannya yang rendah yaitu 1700gram sehingga
bayi kesulitan untuk mempertahankan panas di tubuhnya, yang
mengakibatkan keadaan bayi menjadi lebih buruk dibanding saat lahir.
Bayi dengan BBLR biasanya memiliki komplikasi penyakit seperti:
1. Sindrom gangguan pernapasan idiopatik disebut juga penyakit
membran hialin karena pada stadium terakhir akan terbentuk membran
hialin yang melapisi alveoulus paru.
2. Pneumonia Aspirasi
Disebabkan karena infeksi menelan dan batuk belum sempurna, sering
ditemukan pada bayi prematur.
3. Perdarahan intra ventikuler
Perdarahan spontan diventikel otot lateral biasanya disebabkan oleh
karena anoksia otot. Biasanya terjadi kesamaan dengan pembentukan
membran hialin pada paru. Kelainan ini biasanya ditemukan pada
atopsi.
4. Hyperbilirubinemia
Bayi prematur lebih

sering

mengalami

hyperbilirubinemia

dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Hal ini disebabkan faktor


kematangan hepar sehingga konjungtiva bilirubium indirek menjadi
bilirubium direk belum sempurna.
5. Masalah suhu tubuh
Masalah ini karena pusat pengeluaran nafas badan masih belum
sempurna. Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapan
bertambah. Otot bayi masih lemah, lemak kulit kurang, sehingga cepat
kehilangan panas badan. Kemampuan metabolisme panas rendah,
sehingga bayi BBLR perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak

70

kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar (36,5 37,50C)


(Manuaba, 1998 ).
Tetapi pada kasus yang kami ambil bayi BBLR tidak mengalamami
komplikasi seperti di atas bayi termasuk dalam BBLR kategori Intrauterine
Growth Retardation (IUGR) yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat
badannya kurang.
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada By. Ny. S dengan
BBLR di bangsal perinatal RS muhammadiyah Palembang selama 2 hari
maka penulis dapat menyimpulkan :
1. Pengkajian data dengan mengumpulkan data By. Ny. S dengan BBLR
yang meliputi data bayi dan data orang tua. Serta setelah dilakukan
anamnesa riwayat kehamilan, riwayat persalinan, riwayat penyakit dan
dilakukan pemeriksaan fisik pada By. Ny S dengan BBLR serta
pemeriksaan penunjang.
2. Interpretasi data dapat ditegakkan diagnosa yaitu by. Ny. S umur 2 hari
dengan BBLR. Masalah yang muncul pada bayi adalah Hipotermi
sehingga perlu di tempatkan pada inkubator dan di observasi setiap 1
jam.
3. Melakukan perencanaan dengan pengembangan dan diagnosis yang
telah diidentifikasikan. Dengan asuhan keperawatan yang telah
diberikan pada By. Ny. S meliputi pendekatan terapeutik pada ibu dan
keluarga, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi, pantau
intake output, pantau kondisi suhu tubuh bayi, tingkatkan intake
nutrisi.
4. Dalam pelaksanaan disesuaikan dengan perencanaan yang telah
disesuaikan dengan masalah yang ada. Pada pelaksanaan tidak terjadi
kesenjangan antara teori dan kasus.
5. Evaluasi pada By. Ny. S adalah suhu tubuh bayi sudah dalam berada
dalam rentang normal yaitu 36,5 oC - 37,5 oC. Berat badan bayi belum
bertambah tetapi reflek menghisap kuat dan produksi ASI Ibu S baik.
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka penulis dapat memberikan
saran yaitu :
71

1. Bagi RS Muhammadiyah Palembang


Pembahasan makalah ini dapat digunakan sebagai masukan dan
informasi bagi Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, khususnya
untuk masalah bayi berat lahir rendah (BBLR).
2. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dapat meningkatkan informasi dan referensi dalam bidang
kepustakaan di bidng asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dengan
BBLR.
3. Bagi penulis
Dapat meningkatkan ilmu dari situasi nyata dan ilmu pengetahuan
sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan pada bayi baru lahir
dengan BBLR .

DAFTAR PUSTAKA

Hall, John E. 2014. Guyton Dan Hall Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
Elsevier
Heather, T. Nanda International Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi
2012-2014. 2013. Jakarta: EGC

72

Nurarif, Amir H ; Kusuma, H. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis NANDA-NIC-NOC. Jilid 1. Mediaction Publishing:2013
Nurarif, Amir H ; Kusuma, H. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis NANDA-NIC-NOC. Jilid 2. Mediaction Publishing:2013
Nurarif, Amir H ; Kusuma, H. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis NANDA-NIC-NOC. Jilid 3. Mediaction Publishing:2014
Ghofur, Abdul. Kamus Komplit Kebidanan dan Keperawatan.Mitra Buku: 2012
Yuliana elin, Andrajat Retnosari, dkk. ISO Farmakologi, ISFI, Jakarta: 2011
Tambayong, Jan. (1999). Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta: EGC
Kusumaningtyas, Ajenk. Askep BBLR NICU. Diakses pada 28 Maret 2016
terdapat dalam https://www.academia.edu/5557872/Askep_BBLR_NICU
Anonim. (n.d). Profil Sumsel 2013-dinas kesehatan provinsi Sumsel. Diakses
pada

28

Maret

2016

terdapat

dalam

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatanindonesia/profil-kesehatan-indonesia-2014.pdf
Wardah, Yulia. BBLR. Diakses pada 29 Maret 2016 terdapat dalam
https://www.academia.edu/17021064/berat_badan_lahir_rendah_bblr_
Pariani, Utik. Laporan Pendahuluan BBLR. Diakses pada 30 Maret 2016 terdapat
dalam

http://www.slideshare.net/utikdesyp/laporan-pendahuluan-lp-

askaep-bblr
Wilkinson, Judith M. Dkk. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 9.2009.
Jakarta: EGC

73