Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Sebagai ilmuwan penelitian dan insinyur yang berlatih dan bekerja di bidang
rekayasa struktur serta yang tanggung jawab, hampir secara eksklusif menganalisis tentang
retak struktur beton baik bertulang maupun tidak yang digunakan untuk evaluasi keselamatan
dan renovasi desain infrastruktur pada saat ini. Dengan mempelajari keretakan di berbagai
struktur beton melalui berbagai analisis tentunya untuk mengetahui batas batas dimana
beton maupun struktural non beton bisa bertahan sampai sejauh mana terkait dengan
keselamatan pengguna bangunan.
Kita perlu untuk membahas berbagai mekanisme yang retak terjadi dan mengevaluasi
efek kerusakan yang ditimbulkan oleh retakan pada struktur tersebut. Analisis retakan sangat
diperlukan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, dan analisis ini adalah bidang
menarik studi di beton struktural ataupun yang lainnya.
Dalam bab selanjutnya akan dibahas konsep dan prosedur untuk analisis retakan dan
rambatan yang terjadi pada material dan aplikasinya. Kelelahan secara teknis mekanisme
perambatan retak yang paling penting meliputi sebagian dari bab ( faktor lingkungan yang
ditunjang atau gabungan tegangan akibat korosi dan kelelahan bahan material atau struktural
yang terintegrasi ). Tegangan yang ditimbulkan akibat korosi dengan sendirinya tercakup
dalam satu bagian, tetapi: ini bukan karena tidak dianggap penting, tetapi karena tegangan
akibat korosi dapat ditanggulangi oleh pencegahan dan bukan dengan kontrol, sedangkan
untuk prosedur analisis pada dasarnya sama.

BAB II
DASAR TEORI
II. 1 RETAKAN dan RAMBATAN
Setiap bahan struktural memiliki cacat seperti retak, yang paling ekstrim adalah
tegangan yang terpusat atau stress concentrator.

Stress concentrator

Retakan

Ada cacat pada bahan material yang diakibatkan oleh teknologi dalam proses pembuatannya
yang ditunjukkan pada diagram A dan B di bawah ini,

Adapun retak yang timbul karena kelelahan suatu bahan material yakni ditampilkan pada
gambar C, D, F, dan ada pula yang disebabkan oleh korosi (E), atau retak karena suhu /
thermal.

Cacat yang paling berbahaya adalah tegak lurus terhadap tegangan tarik yang ada
dalam material itu sendiri. Sebuah cacat/retakan permukaan lebih berbahaya daripada
cacat/retakan di dalam material dengan ukuran yang sama. Hal ini memberikan kemudahan

untuk memeriksa cacat/retakan yang terjadi pada permukaan dari bagian pori-pori suatu
material tersebut.

Retakan yang terjadi di tengah suatu material

Retakan yang terjadi pada permukaan suatu material


Dalam teori perambatan retak (Theory of crack propagation), ada 3 (tiga) aspek perambatan
retak yang perlu dipertimbangkan yaitu :
1.

Ukuran keretakan (crack size). Ukuran retak kritis merupakan fungsi dari
tegangan dan ketangguhan patah material yang didefinisikan dari persamaan;
KIC = s f (ac p) 0,5 di mana K adalah ketangguhan patah, s adalah stress
(design property), dan acadalah ukuran retak kritis untuk kegagalan(deteksi
tergantung pada teknik NDE (ukuran deteksi berbanding terbalik dengan biaya).

2.

Zona plastis ada di ujung retakan. Bahan rapuh memiliki kemampuan sedikit
plastis berubah bentuk, sehingga mudah retak merambat. Bahan ulet dengan
mudah dapat merusak di ujung retak, yang menumpulkan ujung dan
menghasilkan energi tambahan (kekuatan) untuk memajukan ujung retak.

3.

Ketebalan (t). Ketebalan material adalah fungsi dari ketangguhan material


terhadap retak. Bila hubungan bentuk patahan terhadap mikrostruktur
merupakan hal yang dianggap penting, maka profil retakan diuji dengan kehatihatian harus dilakukan untuk menjaga bagian ujung benda yang diuji.

Fraktur Transganular
Perpecahan dalam material crystallin yang paling rapuh, perambatan retakan yang
dihasilkan dari pemecahan ikatan atom yang berulang pada bidang tertentu. Hal ini yang
menyebabkan perpatahan transganular dimana retakan tebagi (pecah) menjadi butiran.

Fraktur Intergranular
Kerusakan intergranular biasanya terjadi karena penipisan / penurunan unsur
chromium pada batas butir atau semacam melemahnya batas butir akibat serangan kimia,
oksidasi, kerapuhan ( embrittlement )

LINGKUP PEMBAHASAN MEKANISME FRAKTUR/PATAHAN/RETAKAN

II . 2 MEKANISME RETAK PADA MATERIAL LOGAM

Tiga micro mekanisme retakan yang terjadi pada logam: (a) retakan daktail, (b) pembelahan,
dan (c) retakan intergranular

RETAKAN DAKTAIL

Gambar skematik menggambarkan perilaku tarik uniaksial dalam logam yang daktail.

Suatu kondisi dimana bahan pada akhirnya mencapai titik ketidakstabilan, di mana
pembesaran regangan tidak diimbangi oleh luas penampang bahan tersebut, dan terbentuklah
retakan retakan pada permukaan bahan akibat beban tidak dapat menahan beban maksimum
yang terjadi.
Tahapan yang biasa terlihat di pada retakan pada bahan yang daktail adalah sebagai berikut:
1. Pembentukan permukaan bebas pada fase kedua dari suatu partikel, atau terjadinya
dekohesi antarmuka suatu partikel atau retakan partikel.
2. Terjadi kekosongan atau lepasnya ikatan-ikatan sekitar partikel, pada saat terjadi
regangan plastis dan tegangan hidrostatik.
3. Koalesensi dari pertumbuhan lubang/retakan yamg terjadi pada lubang/retakan
yang berdekatan.
Ilmuwan Goods dan Brown telah mengembangkan sebuah model dislokasi untuk
nukleasi lubang yang ditinjau hingga submikron partikel. Mereka memperkirakan bahwa

dislokasi dekat partikel meningkatkan tegangan pada antarmuka tiap-tiap partikel dengan
perumusan sebagai berikut:

Dimana : = bilangan konstan dengan nilai antara 0,14 0,33


= modulus geser
1= tegangan normal maksimum
b = besarnya Burgers vektor
r = radius partikel

PERTUMBUHAN LUBANG
Setelah lubang terbentuk, regangan plastis lebih lanjut dan tegangan hidrostatik
menyebabkan rongga tumbuh dan akhirnya menyatu.

Gambar A

Gambar B

Gambar A dan Gambar B adalah gambar mikroskop elektron (SEM) fractographs


menunjukkan bahwa permukaan retakan yamg berlubang dan khas dengan perpaduan lubang
mikro. Gambar B menunjukkan inklusi bahwa lubang tersebut mengalami nukleasi .

Gambar skematik menggambarkan pertumbuhan dan perpaduan dari beberapa lubang micro.

Jika volume awal fraksi lubang rendah ( < 10%), masing-masing kekosongan dapat
diasumsikan tumbuh secara mandiri; pada tahap pertumbuhan, lubang yang terdekat
berinteraksi. Regangan plastis terkonsentrasi di sepanjang lubang, pengekerucutan bahan
akan mengakibatkan ketidakstabila. Orientasi perambatan retakan tergantung pada keadaan
tegangan.

Gambar pembentukan cangkir dan kerucut permukaan retakan dalam tegangan uniaksial: (a) pertumbuhan
lubang pada tegangan triaksial, (b) pembentukan retakan dan deformasi, (c) nukleasi pada partikel yang lebih
kecil di sepanjang deformasi, dan (d) cup dan patahan kerucut.

Cup dan patahan kerucut dalam stainless steel austenitik. Foto-foto courtesy of P.T. Purtscher.en dari Purtscher,
PT, '' Micromechanisms dari Retakan Daktail dan Retakan dalam Kekuatan Tinggi Austenitic Stainless Steel"
Ph.D.. Disertasi, Colorado School of Mines, Golden, CO, 1990.

Mekanisme untuk rambatan retakan daktail: (a) keadaan awal, (b) pertumbuhan lubang di ujung retakan, dan, (c)
perpaduan lubang dengan ujung retak.

Tegangan dan regangan menjelang ujung retak, ditentukan oleh analisis metode elemen hingga. Diambil dari
McMeeking, R.M. dan Taman, DM, '' On Kriteria J-Dominasi Crack-Tip Fields di Skala Besar ASTM STP 668,
American Society for Testing dan Material, Philadelphia, PA, 1979, hlm. 175-194.

II . 3 MEKANISME RETAK PADA MATERIAL NON-LOGAM

Material non-logam dalam hal ini material struktural seperti plastik, keramik, dan
komposit dalam sejumlah aplikasi. Rekayasa plastik memiliki sejumlah keuntungan,
termasuk biaya rendah, kemudahan fabrikasi, dan ketahanan korosi. Keramik menyediakan
tampilan yang superior dan tahan terhadap rangkak. Komposit menawarkan rasio kekuatan
tinggi / berat badan, dan memungkinkan insinyur untuk merancang bahan dengan sifat elastis
dengan kondisi suhu tertentu.
Bahan bukan logam seperti beton terus digunakan secara luas. Non-logam yang
seperti logam, tidak kebal terhadap patah. Kurangnya daktilitas beton (relatif terhadap baja)
membatasi jangkauan aplikasi. Dibandingkan dengan retakan logam, penelitian perilaku
retakan pada bahan non-logam adalah pada masa rambatan. Banyak dari kerangka teoritis
yang diperlukan belum sepenuhnya dikembangkan untuk nonmetals, dan ada banyak contoh
di mana mekanika konsep retakan yang berlaku untuk logam telah disalahgunakan untuk
bahan lainnya.
Bab ini memberikan gambaran singkat tentang keadaan saat ini pemahaman retak dan
kegagalan mekanisme dalam bahan struktural bukan logam yang dipilih. Meskipun cakupan
subjek jauh dari sempurna, bab ini harus memungkinkan pembaca untuk memperoleh hasil
dari beragam perilaku retak berbagai bahan dapat ditunjukkan.
PLASTIK / POLYMER
Perilaku fraktur bahan polimer baru-baru ini telah menjadi perhatian utama, karena
rekayasa plastik / polymer telah mulai muncul dalam aplikasi struktural. Dalam kebanyakan
produk yang terbuat dari polimer (misalnya, mainan, kantong sampah, rumput furniture, pipa,
atap dll). Untuk bahan struktural dalam hal ini adalah pipa gas alam polymer, sayap pesawat
terbang dll, retakan yang terjadi pada bahan struktural tersebut bagaimanapun dapat memiliki
konsekuensi yang mengerikan. Beberapa buku yang ditujukan semata-mata untuk retakan dan
kelelahan plastik/polymer telah diterbitkan di baru-baru ini.
Polimer didefinisikan sebagai penyatuan dua atau lebih senyawa yang disebut mer.
Tingkat polimerisasi adalah ukuran dari jumlah unit-unit ini dalam molekul tertentu. rekayasa
khas plastik terdiri dari rantai yang sangat panjang, dengan derajat polimerisasi pada urutan
beberapa ribu. Polietilen, polimer dengan struktur molekul yang relatif sederhana. Senyawa
pembangun dalam hal ini adalah etilena (C 2 H ), yang terdiri dari dua atom karbon
bergabung dengan ikatan ganda, dengan dua atom hidrogen melekat pada setiap atom karbon.
Jika energi mencukupi diterapkan untuk ini senyawa, ikatan ganda dapat rusak, menghasilkan
dua radikal bebas yang dapat bereaksi dengan lainnya kelompok etilen.

Pengaruh suhu dan waktu pada modulus polimer amorf: (a) modulus dibandingkan suhu pada waktu
yang tetap dan (b) modulus terhadap waktu pada suhu yang tetap.

Model mekanik sederhana yang berguna untuk memahami respon viskoelastic


polimer. Tiga model seperti diilustrasikan pada Gambar dibawah ini

The Maxwell Model (a) terdiri dari pegas dan sebuah dashpot dalam seri, di mana
dashpot adalah piston bergerak dalam silinder dengan cairan kental. Model Voigt (b) berisi air
dan dashpot secara paralel. Gambar (c) menunjukkan Maxwell Voigt gabungan Model.

Dimana : Q = energi aktivasi untuk kekentalan cairan (yang mungkin tergantung pada
suhu)
T = temperatur absolut
R = konstanta gas ((= 8.314 J/(mole K))

LELEH DAN RETAK PADA POLIMER

Dalam sudut pandang global leleh dan retak pada polimer hampir sama dengan
material logam, namun secara mikroskopia retakan yag terjadi pada polimer berbeda dari
logam. Polimer tidak mengandung crystallographic planes, dislocations, and grain
boundaries. Mereka terdiri dari rantai molekul yang panjang.
Faktor-faktor yang mengatur ketangguhan dan keuletan molekul polimer meliputi laju
regangan, temperatur, dan struktur molekul. Pada suhu tingkat tinggi atau rendah (relatif
untuk menjadi rapuh, karena ada insufcient waktu untuk bahan pada saat menanggapi
tegangan dengan skala besar yang menimbulkan deformasi viskoelastic dan leleh pada
polimer itu sendiri.

Mekanisme keretakan di polypropylene secara mikroskopis. Foto oleh M. Cayard.

Skematik keretakan yang terjadi pada polimer

Retak permukaan yang terjadi pada polimer secara mikroskopis

Foto mikroskopis patahan pada polimer

BETON
Meskipun beton sering dianggap rapuh. Patahan yang terjadi pada beton didahului
dari retakan subkritis yang kemudian terjadi kegagalan dan menjadi hancur. Retakan subkritis
dalah hasil dari respon tegangan-regangan dan kurva yang terbentuk dari perilaku nonlinier.
Kekuatan bahan beton seringkali digunakan sebagai bahan struktural karena sudah terbukti
kuat dan retakan yang terjadi biasanya hanya tergantung ukuran dari dimensi beton itu
sendiri. Ketergantungan ukuran ini disebabkan oleh fakta bahwa deformasi nonlinier yang
terjadi dalam bahan tersebut disebabkan oleh retakan kritis daripada sifat plastisnya
dikarenakan bahan ini bersifat getas.
Upaya awal untuk menerapkan mekanika retakan pada beton tidak berhasil karena itu
dibutuhkan pendekatan awal yang didasarkan pada linear elastic fracture mechanics (LEFM).
Bagian ini memberikan gambaran singkat tentang mekanisme dan model retakan pada beton
dan batu. Sebagian besar penelitian secara eksperimental dan analitis telah dilakukan pada
beton.

Skema ilustrasi dari pertumbuhan retak pada beton :


(a) pertumbuhan retak pada beton, (b) penggambaran zona tegangan yang terjadi, dan (c) pendetailan tegangan
yang terjadi pada beton.

Tegangan tarik yang terjadi pada beton

Proses retakan yang terjadi pada beton ketika diberikan beban

Energi Retakan

Dimana : GF = Energi yang dibutuhkan untuk membuat retakan/celah


WF = Beban eksternal yang mengakibatkan retakan
Alig = Luas penampang
Pada tahun 1985, RILEM Teknis Komite 50-FMC (Fracture Mechanism Concrete) yang
diusulkan metode pengujian untuk menentukan GF mortar dan beton dengan cara stabil tiga
titik uji lengkung pada balok (RILEM, 1985).

Gambar menentukan GF berdasarkan metode RILEM (a) Balok dengan 3 titik sendi roll (b) grafik hubungan
antara pembebanan dan deformasi pada balok dengan 3 titik sendi roll

Grafik pembentukan keretakan pada beton

Perumusan deformasi inelastis pada beton

BETON BERTULANG

Pola retak beton bertulang akibat gaya tarik

Pola retak beton bertulang akibat momen

Pola retak beton bertulang akibat geser

Gambar diatas adalah pola pola retak yang seringkali ditemui pada beton bertulang.
Pada struktur bangunan, dewasa ini banyak digunakan bahan-bahan kuat tinggi, termasuk
penggunaan bahan beton dan baja tulangan. Bagian struktur beton pada daerah yang
mengalami tarik umumnya memperlihatkan suatu fenomena retak pada permukaanya. Retakretak ini tidak merugikan kecuali bila lebar retaknya menjadi melebihi batas, dalam hal ini
keawetan beton terganggu karena kondisi tulanganya menjadi terbuka terhadap korosi.
Retak pada beton merupakan konstribusi dan awal dari kesan yang lebih parah lagi
yaitu berlangsungnya proses korosi tulangan baja, rusaknya permukaan beton dan dampak
kerusakan jangka panjang lainya. Oleh karena itu pengetahuan perilaku retak dan
pengendalian lebar retak merupakan hal penting dalam memperhitungkan kelayakan
komponen struktur pembebanan jangka panjang (Nawy, E.G 1998).
Retak terjadi di sepanjang balok dimana momen aktualnya lebih besar daripada
momen retak. Karena beton pada daerah yang mengalami retak tersebut jelas tidak dapat
menahan tegangan tarik, maka bajalah yang harus melakukannya. Tahap ini akan terus
berlanjut selama tegangan tekan pada serat bagian atas lebih kecil daripada setengah dari kuat
tekan beton f'c dan selama tegangan baja lebih kecil daripada titik lelehnya. Lebar retak
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan laju korosi. Semakin banyak
retak yang terjadi akibat pembebanan, semakin mudah air laut masuk ke dalam konstruksi
beton. Apabila intrusi yang terjadi telah sampai ke tulangan, akan terjadi reaksi kimia antara
air laut dengan baja tulangan yang menyebabkan korosi (Nawy, E.G 1998).
Pada dasarnya keretakan semua balok dalam eksperimen ini diawali dengan terjadinya
retak vertikal di daerah tarik pada bagian bawah balok yang dikenal sebagai retak lentur.
Akan tetapi, perubahan pola retak terjadi setelah pembebanan meningkat. Salah satu
perubahan pola retak tersebut adalah dengan terjadinya retak geser-lentur.
Selama ini anggapan umum yang dianut ialah bahwa sengkang akan mulai memikul
geser jika retak miring sudah mendekati setengah tinggi penampang beton yang ditandai

dengan terjadinya retak diagonal. Akan tetapi, dari hasil penelitian ini tampak bahwa
sebenarnya sengkang sudah mulai bekerja, yang ditandai dengan adanya reaksi pada saat
dimulainya pembebanan; atau dengan kata lain sengkang sudah mulai efektif bekerja
memikul geser, meskipun retak miring belum terjadi pada setengah tinggi penampang beton.
Gambar dibawah memperlihatkan mekanisme retakan akibat keruntuhan geser yang
terjadi untuk semua balok uji. Pola retak geser yang ditunjukkan pada gambar di atas, hanya
pada setengah bentang balok di bagian sisi kanan saja. Hal ini dikarenakan bentang balok sisi
kirinya mempunyai mekanisme keruntuhan yang mirip dengan sisi kanan balok serta untuk
memudahkan pembacaan gambar.

Mekanisme retakan pada keruntuhan geser ketika beban mencapai ultimate

Perhitungan lebar retak maksimum pada suatu struktur beton bertulang menurut SNI 0328472002 adalah :

Dimana : = Lebar retak maksimum ( inch atau mm )


= harga rata-rata faktor tinggi atau perbandingan jarak dari serat tarik terluar
beton ke sumbu netral dengan jarak dari titik berat tulangan tarik ke sumbu
netral (ditentukan oleh metode tegangan kerja)
= tegangan maksimum pada tulangan untuk taraf beban kerja atau dapat dihitung
dengan 0,6 f
dc = tebal selimut beton sampai pusat tulangan (inch)
A = luas beton yang tertarik dibagi dengan banyaknya tulangan (inch2)

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, TL, 2011, Third Edition Fracture Mechanics Fundamentals And Applications.
USA
Badan Standar Nasional. SNI 03-28472002 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung.
Badan Standar Nasional. PJKB-3D tahun 2005. Tata Cara Perancangan dan Pelaksanaan
Bangunan Gedung Menggunakan PJKB-3.
MacGregor James, 1997, Reinforced Concrete : Mechanics and Design. Third edition,
Prentice Hall International, USA
Broek, David, 1988. The Practical Use of Fracture Mechanics. Kluwer Academic
Publishers, Dordrecht, Boston, London, England.
Nawy, Edward G. 1990. Beton Bertulang, Suatu Pendekatan Dasar. Terjemahan Ir.
Bambang Suryoatmono, M.Sc. Bandung: PT Refika Aditama
Park, R and Paulay, T. 1975. Reinforced Concrete Structures. New York City: John Wiley
& Sons, Inc.
SHI, ZIHAI, 2009, Crack Analysis in Structural Concrete Theory and Applications.
Linacre House, Oxford, England