Anda di halaman 1dari 44

A

FR

A
S

L
K
,

A
,
H
A
A
B
T
I UR
A
S
K IK K T
D TRU
S

S
U
A

IN

&
,
A

IA

KATA
Adalah unsur bahasa yang diucapkan atau ditulis yang merupakan perwujudan
kesatuan persamaan dan pikiran yang dapat digunakan di berbagai bahasa.
Kata juga dapat diartikan sebagai unsur atau bentuk bahasa yang paling kecil
dan bermakna. Peran kata dalam bahasa sangat besar karena
kemampuanberbahasa tertuang dalam rangkaian kalimat, paragraf, dan
wacana.
Dengan kata lain, bahasa berarti menyususun kalimat dengan merangkai katakata sesuai dengan fungsinya dalam satu kesatuan makna untuk membangun
paragraf dan diperluas lagi menjadi sebuah wacana.
Jenis kata atau kelas kata adalah golongan kata dalam satu kesatuan bahasa
Indonesia berdasarkan kategori bentuk, fungsi, dan makna secara gramatika.
Untuk mnyusun kalimat yang baik dan benar berdasarkan pola-pola kalimat baku,
pemakaian bahasa haarus mengenal fungsiny dan jenis kata atau kelas kata.

FUNGSI JENIS KATA ATAU KELAS KATA.


Terdapat beberapa fungsi yang melekat pada jenis kata atau kelas kata,
yaitu :
1. Melambangkan pikiran atau gagasan yang abstrak menjadi kongkret ;
2. Mambentuk bermacam-macam struktur kalimat ;
3. Memperjelas makana gagasan kalimat ;
4. Membentuk satuan makna sebuah frasa, klausa, dan kalimat ;
5. Membentuk gaya pengungkapan sehingga menghasilkan yang dapat
dipahami dan dinikmati orang lain;
6. Mengungkapkan berbagai jenis ekspresi, seperti : berita, perintah,
penjelasan, argumentasi, pidato, dan diskusi ;
7. Mengungkapkan berbagai sikap, misalnya setuju, menolak, dan
menerima.

JENIS KELAS KATA


Jenis kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas ;
1. Verba (kata kerja),
2. Nomina (kata benda),
3. Adjektival (kata sifat),
4. Pronominal (kata ganti),
5. Numeralia (kata bilangan),
6. Adverbial (kata ketangan),
7. Interogativa (kata tanya),
8. Demonstrativa (kata ganjti petunjuk)
9. Artikula,
10.Proposisi (kata depan),
11.Konjungsi (kata sambung), dan
12.Fatis (kata penjelas)

VERBA
Verba atau kata kerja (bahasa Latin: verbum, "kata") adalah kelas kata yang
menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis
lainnya. Jenis kata ini biasanya menjadi predikat dalam suatu frasa atau kalimat.
Berdasarkan objeknya, kata kerja dapat dibagi menjadi dua: kata kerja transitif
yang membutuhkan pelengkap atau objek seperti memukul (bola), serta kata
kerja intransitif yang tidak membutuhkan pelengkap seperti lari.
Verba dapat dikenali melalui bentuk morfologis, prilaku sintaksis, dan prilaku
sematis dari keseluruhan kalimat.
Selain itu, verba dapat didampingi dengan kata tidak.
Contoh :
Ia tidak belajar di kampus.
Ia tidak makan di rumah.
Ia tidak menulis makalah.
Berdasarkan bentuk morfologis, verba dibedakan menjadi (1) verba dasar
(tanpa afiks atau imbuan), misalnya makan, pergi, minum, datang, duduk (2)
verba turunan : a) verba dasar + afiks (wajib) misalnya : menduduki,
mempelajari, menyayi, b) verba dasar = afiks (tidak wajib), misalnya
(mem)baca, (men)dengar, (men)cuci, c) verba dasar (terikat afiks) = afiks
(wajib), misalnya bertemu, bersua, mengungsi, d) bentuk ulang (redupli-kasi),
misalnya berjalan-jalan, makan-makan, duduk-duduk, mengulang-ulang. e)
majemuk cuci mata, sapu tangan, gulung tikar.

Berdasarkan prilaku sintaktis , yaitu sifat verba dalam hubungannya dengan


kata lain dalam bentuk frasa (kelompok kata), klausa (anak kalimat), dan
kalimat dengan memperhatikan fungsi, jenis, dan prilaku dalam kalimat
(sintaksis).
Berdasarkan fungsi :
Berolah raga menyehatkan badan. (verba sebagai subjek)
Ia mengajari membaca. (veba bedasarkan objek)
Ia tidak merasa bersalah. (verba sebagai pelengkap)
Ia pergi berekreasi. (verba sebagai keterangan)
Berdasarkan jenis hubungan verba dengan nomina
Ia mempelajari bahasa Indonesia. (verba aktif sebagai pelaku)
Ia diberi penghargaan. (verba pasif sebagai sasaran)
Penjahat itu terbunuh. (verba pasif tidak dapat dibentuk menjadi aktif)
Hatinya telah membatu. (verba aktif tidak dapat dibentuk menjadi
pasif)
Berdasarkan interaksi verba (prilaku sintaksis, tindakan, atau perbuatan)
dengan nomina pendampingnya.
Mereka berpukul-pukulan . (verba resiprokal berbalasan)
Ia sedang berbicara. (verba nonresiprokal tidak berbalasan)

NOMINA
Nomina ditandai dengan ketidak dapatanya bergabung dengan kata
tidak tetapi dapat dinegatifkan dengan kata bukan. Nomina dapat
dibedakan berdasarkan bentuknya (nomina dasar dan nomina turunan)
dan berdasarkan subkategori (nomia bernyawa, tidak bernyawa, nomina
terbilang, dan tidak terbilang).
Contoh :
Nomina dasar

: rumah, orang, burung.

Nomina turunan : kekasih, pertanda, petinju, tulisan, pengawasan,


persatuan, kemerdekaan.
Nomina bernyawa
Nomina terbilang

: manusia, sapi, Kerbau.


: lima orang, seratus pohon, sekuntum bunga.

Nomina tidak terbilang : air laut, bintang, awan, langit.

KATA SIFAT (ADJEKTIVAL)


Kata ini ditandai dengan dapat didampingi kata lebih, sangat, agak, dan
paling. Berdasarkan bentuknya, adjekktival dibedakan menjadi :
a) Adjektival dasar, misalnya : baik, adil, boros ;
b) Adjektival turunan, misalnya : alami , baik-baik, sungguh-sungguh;
c) Adjektival frasa, misalkan panjang tangan, murah hati, buta warna
(subordinatif) dan gemuk sehat, cantik jelita, aman sentosa (koordi-natif).

PRONOMINAL (KATA GANTI)


Kata yang digunakan untuk mangacu ke nomina lain dan berfungsi
mengganti nomina. Ada tiga macam promina, yaitu
a) Promina pesona (mengacu kepada orang pertama, orang kedua
dan orang ketiga baik tunggal maupun jamak);
b) Pronomina petunjuk (umum dan tempat);
c) Pronomina penanya (orang barang, dan pilihan)

NUMERALIA (KATA BILANGAN)


Numeralia dapat diklarifikasikan berdasarkan subkategori, yaitu takrif dan tak
takrif.
a) Numeralia takrif (tertentu) terdiri atas
Numeralia pokok ditandai dengan jawaban berapa?
seterusnya;
Numeralia tingkat ditandai dengan
kedua, dan seterusnya;

Satu, dua, tiga dan

jawaban yang keberapa ? Kesatu,

Numeralia kolektif ditandai dengan satuan bilangan seperti dosin, gross,


kodi, meter, rupiah, dollar;
b) Numeralia tak takrif (tidak tentu) misalnya beberapa, berbagi, segenap
semua.

ADVERBIA
Adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektival, nomina predikatif,
atau kalimat. Dalam kalimat adverbial dapat mendampingi adjetival, numeralia,
atau proposi. Berdasarkan bentuknya, adverbial mampunyai bentuk tunggal dan
bentuk jamak.
Contoh :
a) Bentuk tunggal
-) Orang itu sangat bijaksana.
-) Ia hanya membaca satu buku, bukan dua.
-) Ia lebih sukses dibanding teman seangkatanya.
b) Bentuk jamak
-) Mereka belum tentu pergi hari ini.
-) Mereka benar-benar mendatangi perpustakaa kampus.
-) Langit berawan tebal jangan-jangan akan turun hujan.

INTEROGATIVA (KATA TANYA)


Berfungsi sebagai pengganti sesuatu yang akan diketahui oleh
pembicara atau mengukuhkan sesuatu yang telah diketahui. Kata yang
akan digunakan dalam interogativa adalah apa, siapa, beberapa, mana,
yang mana, mengapa, dan kapan.
Contoh :
1. Berapa uang yang kamu perlukan ?
2. Yang mana rumah orang itu ?
3. Mengapa kamu tertarik pada topik penelitian itu?

DEMONSTRATIVA
Berfungsi untuk menunjukan sesuatu di dalam atau di luar wacana.
Selain tiu, disebut anteseden. Kata yang menunjukan demonstrativa
adalah ini, itu, di sini, berikut, dan begitu.
Contoh :
Di sini kita akan berkonsentrasi untuk menghasilkan karya terbaik kita.
Penjahat itu telah ditahan berikut dengan barang bukti kejahatanya.

ARTIKULA
Berfungsi untuk mendampingi nomina dan veba pasif. Kata yang
menunjukan artikula adalah : si, sang, para, kaum, dan umat.
Contoh :
Si Kecil itu sering merengek-renget minta gendong.
Sang Penyelamat akan datang saat kita perlukan.
Sri Banginda Raja selalu memberi nasihat kepada para prajurit.

PREPOSISI
Kata yang terletak di depan kata lain. Sehingga berbentuk frasa atau
kelompok kata atau sering disebut kata depan. Preposisi mempunyai dua
bentuk, yaitu ;
a) Preposisi dasar (di, ke, dari, pada, demi)
b) Preposisi turunan (di antara, di atas, ke dalam, di samping, dari
samping , dari luar, dan kepada).
Contoh :
o) Demi kemakmuran bangsa, mari kita tegakan hukum dan keadilan.
o) Perjuangan bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur
dari awal kemerdekaan hingga saat ini perlu ditingkatkan.
o) Panitia lomba mengarang ilmiah nasional meminta kepada saya untuk
menjadi penilai pada tingkat final.
o) Di antara peserta lomba terdapat nama seorang peserta yang pernah
menjuarai lomba dua kali berturu-turut

KONJUNGSI ATAU KATA SAMBUNG


Konjungsi berfungsi untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau kalimat
yang satu dengan kalimat yang lain dalam suatu wacana. Konjungsi dikelompokan
dalan dua jenis .
a) Konjungsi intrakalimat : agar, atau, dan, hingga, sedang, sehingga, serta,
supaya, tetapi, dan sebaigainya.
Contohnya :
Ia berkerja hingga larut malam.
Ia berkerja keras sehingga berhasil dalam mencapai cita-citanya.
Bapak berbuat baik kepada anaknya agar berbakti kepada bapaknya.
b) Konjungsi ekstrakalimat : jadi, di semping itu, oleh karena itu, oleh sebab itu,
dengan demikian, walaupun demikian, akibatnya, atau tambahan pula.
Contohnya :
Kualitas pendidikan di negara kita tertingal jauh. Oleh sebab itu, kita harus
berkerja keras untuk mengejar ketinggalan kita.
Pelestarian budaya hanya dapat dilakukan dengan kreativitas baru yang
berakar pada kekayaan budaya. Untuk itu, mahasiswa harus dilatih untuk
memanfaatkannya sehingga menghasilkan kreativitas baru tersebut.
Ia senangtiasa membangung karakternya. Disamping itu ia juga memperluas
wawasanya.

FATIS (KATA PENJELAS)


Berfungsi untuk memulai, mempertahankan, atau
mengukuhkan
pembicaraan. Jenis kata ini lazim digunakan dalam dialog wawancara.
Misalnya : ah, ayo, mari, nah, dan yah.
Contoh :
Kita memiliki kekayaan budaya. Ayo, kita tingkatkan produktivitas agar
menjadi produk baru selera internasional.
Mari, kita tingkatkan semangat kerja kita.
Ah, itu hanya alasan yang dibuat-buat tidak sesuai dengan realitas
yang ada

SEKIAN

PENGERTIAN FRASA
Frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan
gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa
(Cook, 1971: 91 ; Elson and Pickett, 1969: 73) atau tidak melampaui
batas subjek atau predikat (Ramlan, 1976: 50); dengan kata lain:
sifatnya tidak predikatif.
Chaer (1998) menyatakan bahwa frasa merupakan gabungan dua kata
atau lebih yang merupakan satu kesatuan dan menjadi salah satu
unsur atau fungsi kalimat (subjek, predikat, objek, atau keterangan).
Parera (1994) yang memberi batasan frasa sebagai suatu konstruksi
yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih, baik dalam bentuk
sebuah pola dasar kalimat maupun tidak.

CIRI-CIRI FRASA
Sesuai dengan definisi-definisi yang dikemukakan para ahli, maka dapat mengidentifikasi frasa
sebagai suatu satuan atau konstruksi yang berciri: (i) terdiri atas dua kata atau lebih yang
berhubungan dan membentuk suatu kesatuan, (ii) tidak bersifat predikatif, (iii) tidak berciri
klausa, (iv) merupakan unsur pembentuk klausa, dan (v) menempati salah satu unsur atau
fungsi dalam kalimat.
Selain itu, ciri atau kriteria lain yang dapat dipakai untuk menandai frasa yakni dengan
menggunakan kriteria unsur suprasegmental berupa intonasi. Unsur suprasegmental yang
dipakai adalah jeda.
Frasa memiliki dua sifat yaitu :
a) Frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
b) Frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa. Maksudnya frasa
itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL, atau KET.
Ciri frasa ada tiga yaitu:
a) Tidak mempunyai predikat (nonpredikatif).
b) Proses pemaknaannya berbeda dengan idiom.
c) Susunan katanya berpola tetap.

FRASA
Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang bersifat
nonpredikatif, misalnya pisang goreng, sudah lama sekali, sangat enak,
dewan perwakilan rakyat dan sebagainya.
Frasa dapat dibeda-bedakan berdasarkan kelas katanyam yaitu frasa
verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa pronominal, frasa
adverbial, frasa numerial, frasa interogativa koordinatif, frasa
demonstrativa koordinatif, dan frasa preposisional koordinatif.

FRASA VERBAL
Adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata kerja, terdiri atas tiga macam.
1) Frasa verbal modifikasi (pewatas), terdiri atas:

a) Pewatas belakang.
Contoh : Ia berkerja keras sepanjang hari
Orang itu berjalan cepat setiap hari.
Siswa itu menulis kembali pekerjaan rumahnya.
b) Pewatas depan
Contoh : Mereka dapat mengajukan proposal skripsi di Prodi.
Mereka akan mendengarkan pidato ilmiah di aula.
2) Frasa verbal koordinatif adalah dua verba yang disatukan dengan kata penguhubung dan atau
atau.
Contoh : Dia merenung dan meratapi nasibnya.
Pilih dia atau aku.
3) Frasa verva apositif, yaitu sebagai keterangan tambahan yang ditambahkan atau diselipkan di
tengah kalimat yang diapit dua tanda koma.

Contoh :
Pulogadung, tempat tinggalnya dahulu, kini menjadi terminal yang modern.
Bapak Ryadi, dosen teknik informatika di Politeknik Cilacap, kini menjabat sebagai Pembantu Direktur
Dua di Politeknik Aceh

FRASA ADJEKTIVAL
Adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata sifat atau kata
keadaan sebagai inti (diterangkan) dengan menambahkan kata lain
yang berfungsi menerangkan.
Contoh : agak tenang, paling tenang, kurang pandai, lebih baik, selalu
rajin.
Dalam frasa ini dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1) Frasa adjektival modifikatif (membatasi), misalnya cantik sekali,
indah nian, hebat benar.
2) Frasa adjektival koordinatif (menggabungkan), misalnya aman
tentram, aman sentosa.
3) Frasa adjektival apositif (keterangan tambahan pada unsur utama
kalimat), misalnya gagah perkasa, ayu rupawan,

FRASA NOMINAL
Merupakan kelompok kata benda yang dibentuk denga memperluas
sebuah kata benda ke kiri dan ke kanan.
Yang dimaksud dengan perluasan ke kiri pada frasa ini berfungsi
menggolongkan, misalnya : dua buah buku, seorang teman, beberapa
buah butir telur. Adapun perluasan ke kanan adalah sesudah kata
benda (inti) berfungsi membatasi, misalnya buku dua buah, teman
seseorang, telur beberapa butir.

FRASA PRONOMINAL
Frasa yang dibentuk dengan kata ganti, dalam frasa ini
terdiri dari tiga jenis : (1) Modifikasi, misalnya : kami
semua, kaliman semua, anda semua, mereka itu,
mereka berdua; (2) Koordinatif, misalnya : saya dan dia,
engkau dan aku, kami dan mereka; (3) Apositif : Kami,
bangsa Indonesia,
menyatakan perang terhadap
korupsi.

FRASA ADVERBIAL
Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan
keterangan kata sifat. Frasa ini bersifat modifikasi (membatasi),
misalnya sangat baik. Kata baik merupakan inti dan kata sangat
merupakan pewatas. Frasa adverbial yang termasuk jenis ini adalah
agak besar, kurang pandai, hampir baik, begitu kuat, andai sekali, lebih
kuat, dan sebagainya.
Frasa adverbial yang bersifat koordinatif (tidak saling menerangkan),
misalnya lebih kurang. Kata lebih tidak menerangkan kurang dan kata
kurang tidak menerangkan lebih.

FRASA NUMERIAL
Frasa numerial adalah kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa
ini terdiri dari jua jenis, yaitu :
1) Modifikasi,
a) Mereka memotong dua puluh ekor sapi kurban.
b) Orang itu menyumbang pembangunan jalan kampung sebesar
dua puluh lima juta rupiah.
2)

Koordinatif
c) Penyerang Lapas Cebongan sekitas enam belas sampai dengan
dua puluh orang.
b) Satu, dua tiga kali bahkan emapat kali saya telah
menghubunginya.

FRASA INTEROGATIVA KOORDINATIF


Frasa ini berintikan pada kalimat tanya atau berfungsi menggantikan
sesuatu yang hendak diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan
sesuatu yang telah diketahuinya sebagai contohnya adalah :
(1) Mengapa dan bagaimana seorang penjahat itu bisa meloloskan
diri ?
(2) Berapa uang yang kamu butuhkan ?

FRASA DEMONSTRATIVA KOORDINATIF


Frasa ini dibentuk dengan dua kata yang tidak saling menerangkan,
Contohnya seperti berikut:
- Disana atau disitu ?
- Aku memakai sepatu yangini atau itu,sama saja.

FRASA PREPOSISIONAL KOORDINATIF


Frasa proposional koordinatif adalah frasa yang dibentuk dari kata
depan dan tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut:
-Perjalanan kamidari dan keBandung memerlukan waktu
enam jam.
-Koperasidari, oleh dan untukanggota.

KLAUSA
Yang dimaksud klausa adalah kelompok kata yang berpotensi menjadi
kalimat. Klausa adalah unsur kalimat karena sebagian besar kalimat
terdiri dari dua unsur klausa. Unsur inti klausa adalah S dan P. Namun
demikian S juga sering dibuangkan, misalnya dalam kalimat luas
sebagai akibat dari penggabungan klausa dan kalimat jawaban.
Contoh:
Saat negara-negara lain sudah menjadi negara berkembang, Negara
kita baru melakukan proses menuju negara berkembang.
Kalimat diatas terdiri dari beberapa klausa, yaitu:
Saat negara-negara lain sudah menjadi (S-P); negara berkembang (OPel); negara kita baru melakukan (S-P); proses menuju negara
berkembang (P-O).

Sedangkan untuk konjungsi atau kata sambung sendiri terdiri atas


empat bagian, yaitu:
1) Konjungsi Kordinatif (serta, dan, atau, tetapi)
Contoh:
Kami membaca dan dia menulis surat.
Rika pergi sekolah tetapi adiknya tinggal dirumah.
Dia memiliki paras yang cantik serta hati yang baik.
Ami pergi ke pasar atau ke toko buku.

Dalam kalimat tertentu klausa terdiri dari dua bagian, yaitu: klausa
induk dan klausa subordinatif (anak kalimat).
Contoh:
Dia menulis surat ketika kedua orangtuanya sudah pergi.
Keterangan:
Dia menulis surat (klausa induk);
ketika kedua orangtuanya sudah pergi. (klausa anak)
Penggabungan kedua klausa ini menjadi proses terbentuknya sebuah
kalimat. Bergabungnya ini menandakan masuknya konjungsi atau kata
sambung ketika.

2) Konjungsi Korelatif (baik, maupun, tidak hanya, tetapi juga)


Contoh :
Keseriusannya dalam belajar tidak hanya menjadikannya sebagai juara kelas tapi
juga memberikannya peluang unuk mendapatkan beasiswa.
3) Konjungsi Subordinatif (sejak, karena, setelah, seperti, agar, dengan)
Contoh :
Dia menjadi pramugari sejak tahun 1990.
Sani menyelesaikan pekerjaan rumah sampai larut malam, karena tugas rumah Sani
sangat banyak.
Dia sembuh dari sakit setelah minum obat yang diberikan oleh dokter.
Kedua bersaudara itu menegndarai sepeda motor seperti seorang pembalap
profesional.
Kami terus berlatih angkat beban agar saat kejuaraan angkat beban kami menjadi
juara.
Andi melihat kepergian orangtuanya dengan meneteskan airmata.
4) Konjungsi Antarkalimat (meskipun, demikian, begitu, kemudian, oleh
karena itu, bahkan, lagi pula)
Contoh:
Kami tidak akan mengikuti kemauannya meskipun dia memberi kami uang.
Saya tidak pernah mengerti jalan pikirannya biarpun begitu saya selalu mendukung
setiap keputusan positifnya.

Keempat jenis konjungsi ini dapat menghubungkan kata, frasa ataupun


klausa, konjungsi bisa memiliki kedudukan sebagai preposisi jika
berhubungan langsung dengan kata dan frasa. Sedangkan dengan
klausa, konjungsi cukup menempati posisi sebagai konjungsi tidak
lebih. Dengan adanya penjelasan ini makanya frasa dan klausa dapat
diidentifikasikan menjadi sebagai berikut:
Contoh:
Dia tidak bisa membaca karena tidak penah sekolah.
Keterangan:
Dia tidak bisa berbicara (klausa) tidak bisa membaca (frasa)
karena (konjungsi) tidak pernah sekolah. (klausa).
Klausa Dia tidak bisa membaca dalam posisi sebagai klausa induk,
sedangkan klausa tidak pernah sekolah menempati klausa anak.
Untuk konjungsi karena berperan sebagai konjungsi subordinatifsebab yang telah menghubungkan dua klausa atau lebih.

JENIS-JENIS KLAUSA
1. Klausa berdasarkan struktur.
Berdasarkan strukturnya klausa dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1) Klausa berdasarkan struktur intern.
Didalam klausa yang sesuai struktur internnya terdapat unsur inti klausa
yaitu S dan P. meski begitu dalam penggabungan klausa S sering
kali dapat dihilangkan dalam kalimat jawaban. Karena klausa yang terdiri
dari S dan P disebut klausa lengkap sedangkan klausa yang tidak
bersubjek disebut kalimat tidak lengkap.
Contoh:
Riski mempercepat laju sepedanya karena Riski tidak ingin terlambat.
Subjek Riski dalam anak kalimat dapat dihilangkan, hal itu dikarenakan
adanya penggabungan klausa Riski tidak masuk sekolah dan Riski
tidak ingin terlambat.

2) Klausa berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara


gramatikal mengaktifkan Predikat.
Didalam pembentukan klausa juga terdapat klausa positif dan klausa
negatif. Klausa positif ialah klausa yang sama sekali tidak memiliki kata
negatif yang secara otomatis mampu menegatifkan unsur P
(predikat), sedangkan untuk klausa negatif merupakan klausa yang
memiliki kata-kata negatif yang secara gramatikal memang
menegatifkan unsur P (predikat) (kata-kata negatif: tiada, tak, bukan,
belum, dan jangan).
Klausa Positif
Contoh:
Dia sudah menjadi primadona dikampusnya.
Kami berhasil mendapatkan beasiswa itu.
Klausa negatif
Contoh:
Mereka bukan siswa disekolah ini lagi.
Kami belum menerima THR (Tunjangan Hari Raya).
Rima tidak memiliki orangtua lagi. Saya mohon jangan bawa dia pergi.

3) Penggolongan klausa berdasarkan kategori kata atau frasa yang


menduduki fungsi Predikat.
Penggolongan klausa jenis ini yang mampu menempati unsur P (predikat) pada
klausa ialah Nomina, Verba, Bilangan, dan Frasa Depan. Berdasarkan
penggolangan klausa unsur P dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu:
a) Klausa Nominal
Contoh :
Kami adalah mahasiswa.
yang digunakan mobil itu.
b)

Klausa Verbal

Contoh :
Pamanku membelah kayu.
Anak-anak itu membuat prakarya.
Untuk klausa golongan Verbal fungsi P dapat secara gramatikal dinegatifkan
dengan kata tidak.

c) Klausa Bilangan
Kata bilangan adalah kata-kata yang dapat diikuti oleh ekor, batang,
keping, buah, kodi, helai, dll. Untuk frasa bilangan sendiri ialah frasa
yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan, misalkan:
dua ekor, tiga batang, beberapa butir, dll.
Contoh:
Di kampung itu terdapat seratus kepala keluarga.
Kami hanya dua bersaudara.
Kami membeli satu kodi pakaian wanita.
d) Klausa Depan
Klausa depan adalah klausa yang predikatnya terdiri atas frasa depan,
artinya frasa atau klausa yang diawali dengan kata depan sebagai
penanda.
Contoh :
Rok itu untuk kaum hawa.
Masjid itu untuk tempat ibadah umat islam.

Klausa Verbal sendiri dapat digolongkan kembali menjadi enam bentuk klausa, yaitu:
1. Klausa verbal adjektiva adalah klausa yang unsur predikatnya berupa kata sifat. Contoh:
Orang yang pemarah.; Harga saham turun.
2. Klausa verbal intransitif adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk kedalam
kelompok kata kerja intransitive. Contoh: Siswa-siswa SMA berkompetisi di olimpiade
matematika.; Presiden sedang berpidato di depan calon PNS.
3. Klausa verbal aktif Contoh: Nami sedang menulis surat.; Irfan sedang menikmati liburan
sekolahnya di Bali.
4. Klausa verbal pasif Contoh: Sebelum memasuki Mall kami diperiksa oleh security Mall.
5. Klausa verbal yang refleksif merupakan klausa yang predikatnya menyatakan suatu
perbuatan yang dilakukan oleh sipelaku sendiri (kata kerja). Contoh: Mereka sedang
menenangkan diri.; Orang itu mencoba memutus urat nadinya.
6. Klausa verbal yang resiprokal adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk dalam kata
kerja yang menyatakan kesalingan. Bentuk-bentuknya sendiri adalah (saling) men-,
(saling) ber-an dengan proses pengulangan maupun tidak. Contoh: Kami saling berkirimkiriman surat.; Mereka saling menuduh.

2. Klausa berdasarkan majemuk .


Dalam klausa ini dibagi menjadi tiga, yaitu ; (1) klausa majemuk setara,
(2) klausa majemuk bertingkat, dan (3) kalimat majemuk gabungan
setara dan bertingkat.
(1) Klausa Kalimat Majemuk Setara
Adalah kalimat majemuk setara yang ada di dalam kalimat majemuk
setara (koordinatif). Artinya, setiap klausa atau masing-masing klausa
mempunyai kedudukan yang sama. Kalimat ini dibangun dengan dua
klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan.
Contoh :
Kakak membaca kompas dan adik bermain bola.
Andik pergi ke kampus atau ke rumah temanya.
Ayah berkerja di kantor, tetapi ibu hanya dirumah.

2) Klausa Kalimat Majemuk Bertingkat


Klausa ini adalah klausa yang ada di dalam kalimat majemuk
bertingkat (subkoordinatif). Artinya, setiap kalusa atau yang masingmasing klausa mempunyai kedudukan yang tidak sama, klausa yang
satu sebagai induk kalimat dan klausa yang lain sebagai anak kalimat.
Kalimat majemuk bertingkat (subordinatif) dibangun dengan klausa
yang berfungsi menerangkan kalusa lainya.
Contoh :
Orang itu pindah ke Jakarta
Indonesia

Induk Kalimat

setelah suaminya berkerja di Bank

Anak kalimat

3) Klausa Gabungan Kalimat Majemuk Setara dengan Kalimat Majemuk Bertingkat


Dimana dalam klausa ini terdiri dari tiga klausa atau lebih (kalimat subordinatifkoordinatif.
Contoh :
Dia pindah telah ke Jakarta
kontrakan baru

Induk Kalimat

setelah mendapatkan pekerjaan

Anak kalimat

dan rumah

Anak kalimat

Setelah mendapatkan pekerjaan


dan rumah kontrakan baru
dia pindah telah
ke Jakarta
Anak kalimat
Anak kalimat
Induk Kalimat

Terimakasih