Anda di halaman 1dari 30

BAB III.

PEMECAHAN MASALAH-MASALAH PADA PEMBANGUNAN JALAN RAYA DI


ATAS TANAH LUNAK
3.1. MASALAH-MASALAH PADA PEMBANGUNAN JALAN RAYA DI ATAS
TANAH LUNAK
Pembangunan jalan diatas tanah lunak umumnya menghadapi masalah sebagai
berikut :
1. Daya dukung tanah dasar sangat rendah.
Tanah dasar tidak dapat mendukung beban timbunan/embankment jalan +
beban traffic sesuai rencana.
2. Penurunan tanah dasar relatip sangat besar.
3. Bila tanpa perbaikan tanah, penurunan tanah berlangsung sangat lambat
sehingga lambat laun akan terjadi differential settlement (beda penurunan)
yang nyata. Karena beda penurunan ini, perkerasan jalan lebih cepat rusak
dari pada umur rencanannya. Biaya perawatan jalan menjadi sangat tinggi,
terutama pada umur 5 tahun pertama jalan dioperasikan.
4. Penurunan tanah dapat menyebabkan muka jalan turun menjadi lebih
rendah dari pada elevasi rencana (tinggi bebas tertentu di atas Muka Air
Banjir tertinggi dari lahan sekitar jalan); ingat kasus Jalan Tol Sedijatmo, di
bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
5. Terjadi beda penurunan yang tajam ditepi/oprit dari abutment jembatan. Hal
ini karena abutment dibangun diatas pondasi tiang pancang yang praktis
tidak mengalami penurunan.
Pada prinsipnya, pemecahan dari masalah-masalah di atas dapat dibagi
menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:
-

Pemecahan masalah daya dukung tanah yang kecil.

Pemecahan masalah penurunan konsolidasi tanah yang besar.

341

3.2. PEMECAHAN MASALAH DAYA DUKUNG TANAH YANG KECIL


Pemecahan masalah daya dukung tanah dasar yang kecil dapat dilakukan
dengan cara melakukan perbaikan tanah terhadap tanah dasarnya, seperti yang
sudah dibahas pada Bab I. Untuk jalan raya, perbaikan tanah yang paling sering
dilakukan adalah dengan cara:
1. Memampatkan tanah dasar alam rangka meningkatkan daya dukung tanah
dasar.
2. Menggunakan bahan penguat ( sebagai reinforcer) seperti bahan geotextiles
dan sejenisnya di dasar dan di dalam embangmen jalan.
Yang akan dibahas di sini adalah cara no. 1 di atas, karena cara no. 2 telah
dibahas pada Sub-bab 2.3.
KENAIKAN DAYA DUKUNG TANAH AKIBAT PEMAMPATAN TANAH
Tanah yang mengalami penurunan akibat dibebani juga akan menjadi lebih
mampat. Tanah yang memampat ini akan menjadi lebih kokoh sehingga daya
dukung tanahnya meningkat. Pemampatan terbesar dari tanah lempung, dan tanah
lunak pada umumnya, adalah akibat konsolidasi yang berlangsung sebagai fungsi
dari waktu. Jadi secara lambat laun tanah lunak yang memampat akan berubah
menjadi lebih padat dan lebih kuat dari semula.
Dari pengamatan dan penelitian diketahui adanya hubungan antara kekuatan
geser undrained (= Cu = undrained shear strength) dengan tegangan tanah vertikal
efektif ( = p') yang bekerja pada tanah lempung. Untuk tanah lempung yang
normally consolidated, didapat hubungan-hubungan sebagai berikut :
a.

Menurut Jamiolkowski dkk. (1985)


Cu
p'
= 0.23 0.04

........................................... (1)

b. Menurut Mesri (1975) dan juga Balasubramaniam (1991)

342

Cu
p'
= 0.22

............................................ (2)

c. Menurut Skempton dan Henkel (1953)


Cu
p'
= 0.11 + 0.0037 (PI)

............................................ (3)

dimana PI = Plasticity Index dari tanah lempung tersebut.


Atau secara umum : Cu = k x p
Rumus Skempton dan Henkel (1953) di atas akan sama dengan rumusrumus oleh Mesri (1975) dan Jamiolkwski (1985) bila PI < 30, yaitu suatu angka
yang "typical" untuk kebanyakan tanah lempung. Bila tanahnya memiliki PI > 30,
umumnya digunakan rumus Skempton dan Henkel (1953) diatas. Sedikit kelemahan
dari rumus-rumus diatas ialah harga Cu = 0 bila harga p' = 0, padahal umumnya
tanah-tanah lunak di permukaan memberikan harga Cu > 0 bila p 0' = 0.
Hasil penelitian yang terbaru oleh Ardana dan Mochtar (1999) memberikan
penurunan yang lebih sesuai dengan kondisi di lapangan yaitu sebagai berikut :
a. Untuk harga Plasticity Index, PI tanah < 120 %.
Cu (kg/cm2) = 0,0737 + (0,1899 - 0,0016 PI) p' ................................ (4)
b. Untuk harga PI tanah > 120 %
Cu (kg/cm2) = 0,0737 + (0,0454 - 0,00004 PI) p' .............................. (5)
dimana : harga p' dalam kg/cm2.
Hasil Ardana dan Mochtar (1999) tersebut memberikan harga Cu = 0,0737 kg/cm 2
untuk tanah sangat lunak di permukaan, dimana p 0' = 0, yaitu harga yang lebih

343

sesuai dengan hasil penyelidikan di lapangan untuk Surabaya (Surabaya Eastern


Ring Road Project 1999).
Untuk tanah yang sedang mengalami konsolidasi, harga p' berubah dengan
waktu. Secara umum harga p' dapat dicari dengan cara berikut :

Derajat konsolidasi = U
p'o p '

p '
p 'o

Bila

. p'c

U = 100 % = 1 p' = po' + p'


U < 100% p' < po' + p'

Cara yang lebih rinci untuk mencari p' pada pembebanan bertahap akan
diterangkan nanti pada Sub-bab 3.3.
Dengan adanya kenaikan harga Cu dari tanah lempung setelah mengalami
pemampatan, umumnya kondisi yang paling berbahaya bagi tanah lempung yang
lunak bila dibebani dengan timbunan tanah (atau gedung) adalah pada awal-awal
umur timbunan. Sering dijumpai keadaan dalam perencanaan bahwa dengan
kekuatan dukung tanah yang ada mula-mula, suatu tanah yang lembek hanya dapat
mendukung timbunan tanah yang relatip tidak tinggi. Tetapi dengan waktu, tinggi
timbunan dapat ditambah disesuaikan dengan kenaikan daya dukungnya. Bilamana
diinginkan tinggi timbunan pada awal konstruksi sudah setinggi yang disyaratkan,
padahal daya dukung tanah belum memenuhi, maka pada dasar timbunan harus
diberi perkuatan atau pada tanah dasar dilakukan perbaikan supaya daya dukung
awalnya meningkat. Metoda perbaikan tenah tersebut akan diulas tersendiri secara
terpisah.
Pada tanah lempung, proses pemampatan (konsolidasi) setelah adanya
beban surcharge berlangsung sangat lama (sampai mungkin puluhan, bahkan
344

ratusan tahun). Ada cara yang terbaru untuk mempercepat konsolidasi hingga hanya
dalam mingguan atau bulanan saja. Cara tersebut adalah seperti yang telah
diterangkan pada Sub-bab 2.6. dan akan lebib dirinci pada Sub-bab 3).

Daftar Acuan
Ardana, Made Dodiek dan Indrasurya B. Mochtar (1999), Pengaruh Tegangan
Overburden Efektif dan Plastisitas Tanah Terhadap Kekuatan Geser Undrained
Tanah Lempung Berkonsistensi Sangat Lunak Sampai Kaku Yang Terkonsolidasi
Normal, Tesis S-2 di Jurusan Teknik Sipil FTSP-ITS.
Balasubramanian (1991), An Inagural Lecture on Contributions in Geotecnical
Engineering; Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand.
Jamiolkowski, M.; Landd, C.C,; Germaine, J.T. and Lancellotta, R., "New
Development in Field and Laboratory Testing of Soils", General Report : Proc. 11 th
International COnference on Soil Mechanics and Foundation Engineering, San
Francisco, 1985, Vol. 1, hal. 57-153.
Mesri, G (1975), "Discussion of New Design Procedure for Stability of Clays",
Journal of Geotechnical Engineering Division., ASCE, Volume 103, No. GT. 5,
hal 417-430.
Skempton, A.W, dan D.J., Henkel (1953), "The Post-Glacial Clays of the Thames
Estuary at Tilbury and Shellhaven", 3rd Int'l. Conf. on Soil Mech. and Found'n.
Engr., Vol. 1, hal 302-308.

345

3.3. PEMECAHAN MASALAH PENURUNAN TANAH YANG BESAR


Masalah penurunan tanah yang besar dapat ditanggulangi dengan cara
penimbunan bertahap dengan penggunaan vertical drain. Saat ini jenis vertical drain
yang digunakan adalah jenis yang dibuat di pabrik, atau lebih dikenal dengan istilah
Prefabricated Vertical Drain, atau PVD.
URUT-URUTAN PERENCANAAN DENGAN PVD UNTUK TIMBUNAN JALAN DI
ATAS TANAH YANG LUNAK DAN MUDAH-MAMPAT
1. Mendapatkan data tanah sesuai kedalaman.
Data yang perlu :
- gtanah, gsaturated
- e, angka pori
- jenis tanah
- LL (Liquid Limit), PL (Plastic Limit), PI (Plasticity Index)
- Cu, undrained shear strength
- Cc dan Cs; parameter konsolidasi, untuk besar pemampatan
- Cv; parameter konsolidasi, untuk waktu pemampatan.
2. Menghitung besarnya settlement akibat konsolidasi tanah dasar.
3. Merencanakan kedalaman Prefabricated Vertical Drain (PVD).
4. Merencanakan hubungan antara Tinggi Awal Timbunan (= H initial),
Settlement (Penurunan Konsolidasi), dan Tinggi Akhir Timbunan (= H final).
5. Menghitung kenaikan daya dukung tanah setelah terjadinya konsolidasi.
6. Merencanakan timbunan yang stabil, bila perlu dengan bantuan geotextile.

1. MENDAPATKAN DATA TANAH


Lihat Tabel 1.

346

Tabel 1

347

2. MENGHITUNG BESARNYA SETTLEMENT AKIBAT KONSOLIDASI TANAH


DASAR
2.1.

RUMUS YANG DIPAKAI.


Tanah Normally Consolidated (NC Soil)

Sci =

Cc
p ' p
log o

p'o
1 eo

Hi

Tanah Over Consolidated (OC Soil)

Cc
P
C
p ' p
log c c log o

p ' o 1 eo
p' o
1 eo

Sci =

Hi

dimana :
Sci

= pemampatan konsolidasi pada lapisan tanah yang ditinjau,

Hi
eo
Cc
Cs
po'

=
=
=
=
=

lapisan ke i.
tebal lapisan tanah ke i.
angka pori awal dari lapisan tanah ke i.
Compression Index dari lapisan tanah tersebut. (lapisan ke i)
Swelling Index dari lapisan tanah tersebut. (lapisan ke i)
tekanan tanah vertical effective di suatu titik ditengah-tengah

lapisan ke i akibat beban tanah sendiri di atas titik tersebut di


lapangan (= effective overburden pressure).
= effective past overburden pressure, tegangan konsolidasi
effective dimasa lampau yang lebih besar dari pada p o'

Pc

(dapat dilihat dari kurva konsolidasinya).


= penambahan tegangan vertical di titik yang ditianjau (di tengah
lapisan ke i) akibat beban timbunan jalan yang baru.

Catatan :

Tanah lunak di Indonesia umumnya dapat dianggap sebagai


tanah agak over consolidated dengan harga sebagai berikut :
348

pc = po' + fluktuasi terbesar muka air tanah.

Bila fluktuasi muka air tanah tergantung pasang-surut air laut


(tanah lunak dekat pantai)
fluktuasi air tanah 2 m
Jadi pc = po' + 2 (ton/m2).

2.2. METODA MENGHITUNG p, PENAMBAHAN TEGANGAN VERTICAL.


Dapat digunakan grafik Influence Factor, I, seperti pada Gambar 1 (dari
NAVFAC DM-7, 1970).
p = z = 2 x Ii x q
dimana :
q = tegangan vertical effective di permukaan tanah akibat
embankment jalan.

2.3.

CONTOH TABEL PERHITUNGAN PENURUNAN KONSOLIDASI.


Lihat Tabel 2.

349

350

Gambar 1. Tabel Influence Factor I. (NAVFAC DM-7, 1970)

351

Tabel 2. Perhitungan Settlement Akibat Timbunan (Zone 6)


q = 7,00 t/m2
Sc = (Cs x H/1 + eo). log (pc/po) + (Cc x H/ 1+eo) . log ((po +p/ pc)
(over Consolidated)
No. Tebal Lapisan
H (m)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Z
(m)

eo

Cs

Cc

0.5
1.5
2.5
3.5
4.5
5.5
6.5
7.5
8.5
9.5
10.5
11.5
12.5
13.5
14.5
15.5
16.5
17.5
18.5
19.5
20.5
21.5
22.5
23.5
24.5
25.5
26.5
27.5
28.5
29.5
30.5
31.5
32.5
33.5
34.5
35.5
36.5
37.5
38.5
39.5
40.5
41.5
42.5
43.5
44.5

1,97
1,97
1,97
2,005
2,005
2,005
2,139
2,139
2,139
1,994
1,994
1,994
1,974
1,974
1,974
1,801
1,801
1,801
1,762
1,762
1,762
1,872
1,872
1,872
1,815
1,815
1,815
1,645
1,645
1,645
1,456
1,456
1,456
1,559
1,559
1,559
1,457
1,457
1,457
1,457
1,457
1,457
1,457
1,457
1,457

0,192
0,192
0,192
0,195
0,195
0,195
0,214
0,214
0,214
0,223
0,223
0,223
0,218
0,218
0,218
0,202
0,202
0,202
0,197
0,197
0,197
0,182
0,182
0,182
0,189
0,189
0,189
0,18
0,18
0,18
0,172
0,172
0,172
0,17
0,17
0,17
0,146
0,146
0,146
0,146
0,146
0,146
0,146
0,146
0,146

0,867
0,867
0,867
0,886
0,886
0,886
0,981
0,981
0,981
0,967
0,967
0,967
0,947
0,947
0,947
0,852
0,852
0,852
0,83
0,83
0,83
0,812
0,812
0,812
0,817
0,817
0,817
0,748
0,748
0,748
0,683
0,683
0,683
0,699
0,699
0,699
0,606
0,606
0,606
0,606
0,606
0,606
0,606
0,606
0,606

(t/m3)
1,491
1,491
1,491
1,486
1,486
1,486
1,491
1,491
1,491
1,514
1,514
1,514
1,52
1,52
1,52
1,524
1,524
1,524
1,581
1,581
1,581
1,611
1,611
1,611
1,603
1,603
1,603
1,641
1,641
1,641
1,675
1,675
1,675
1,689
1,689
1,689
1,768
1,768
1,768
1,836
1,836
1,836
1,88
1,88
1,88

pc
(t/m2)
2,246
2,737
3,228
3,716
4,202
4,688
4,177
5,668
6,159
6,661
7,175
7,689
8,206
8,726
9,246
9,768
10,292
10,816
11,369
11,950
12,531
13,127
13,738
14,349
14,956
15,559
16,162
16,784
17,425
18,066
18,724
19,399
20,074
20,756
21,445
22,134
22,862
23,630
24,398
25,200
26,036
26,872
27,730
28,610
29,490

352

po
(t/m2)
0,246
0,737
1,228
1,716
2,202
2,688
3,177
2,668
4,159
4,661
5,175
5,689
6,206
6,726
7,246
7,768
8,292
8,816
9,369
9,950
10,531
11,127
11,738
12,349
12,956
13,559
14,162
14,784
15,425
16,066
16,724
17,399
18,074
18,756
19,445
20,134
20,862
21,630
22,398
23,200
24,036
24,872
25,730
26,610
27,490

I
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
0,980
0,960
0,950
0,940
0,940
0,920
0,910
0,900
0,880
0,860
0,840
0,820
0,800
0,780
0,760
0,720
0,740
0,740
0,700
0,680
0,680
0,660
0,640
0,620
0,600
0,580
0,570
0,560
0,560
0,550
0,540
0,530
0,520
0,500
0,500
0,500
0,500
0,500
0,500
0,500

p
p+po
Sc Sc (m)
(m) Cum.
(t/m2)
(t/m2)
7,000
7,246 0,211 0,211
7,000
7,737 0,169 0,379
7,000
8,288 0,146 0,525
7,000
8,716 0,121 0,656
7,000
9,202 0,119 0,775
6,860
9,548 0,107 0,881
6,720
9,897 0,102 0,984
6,650
10,318 0,094 1,078
6,580
10,739 0,087 1,165
6,580
11,241 0,085 1,250
6,440
11,615 0,078 1,328
6,370
12,059 0,073 1,404
6,300
12,506 0,067 1,468
6,160
12,886 0,062 1,530
6,020
13,266 0,058 1,588
5,880
13,648 0,051 1,639
5,740
14,032 0,048 1,587
5,600
14,416 0,044 1,731
5,460
14,829 0,041 1,772
5,320
15,270 0,038 1,810
5,040
15,571 0,034 1,844
5,180
16,307 0,031 1,875
5,180
16,918 0,030 1,905
4,900
17,249 0,027 1,931
4,760
17,716 0,026 1,957
4,760
18,319 0,025 1,981
4,620
18,782 0,023 2,004
4,480
19,264 0,021 2,025
4,340
19,765 0,019 2,044
4,200
20,266 0,018 2,062
4,060
20,784 0,016 2,078
3,990
21,389 0,015 2,093
3,920
21,994 0,014 2,107
3,920
22,676 0,013 2,120
3,850
23,295 0,013 2,133
3,780
23,914 0,012 2,145
3,710
24,572 0,010 2,155
3,640
25,270 0,009 2,165
3,500
25,898 0,009 2,173
3,500
26,700 0,008 2,181
3,500
27,536 0,008 2,189
3,500
28,372 0,008 2,197
3,500
29,230 0,008 2,205
3,500
30,110 0,007 2,212
3,500
30,990 0,007 2,219
2,219
TOTAL

3. MERENCANAKAN KEDALAMAN VERTICAL DRAIN (PVD).


3.1.

ALASAN PENGGUNAAN PVD (PREFABRICATED VERTICAL DRAIN).


1. WAKTU.
Tanpa PVD, penurunan akan berlangsung lama sekali.
Misal dengan data tanah seperti pada Tabel 1, diasumsikan juga
kondisi tanah sebagai berikut :
- Tebal lapisan tanah yang terkonsolidasi = 45 m.
(Catatan :
tanah yang dianggap mudah memampat adalah tanah
lanau/lempung dengan rentang konsistensi dari sangat lunak
sampai menengah; atau very soft to medium soil).
- Harga Cv (= Koefisien Konsolidasi) rata-rata = 16,0 x 10 -4
cm2/detik,
atau
Cv rata-rata = 5,0 m2/tahun.
Maka waktu sampai 90% konsolidasi tercapai :
T90% ( H dr) 2
Cv
t =
untuk asumsi konsolidasi 1 arah (vertikan saja) dan drainase hanya
ke arah permukaan tanah :
Hdr = 45 m
; T90% = 0,848
2
0,848 x (45)
5
t =
= 343, 4 tahun
Dengan adanya PVD, penurunan dapat dibuat berlangsung relatip
sangat singkat (lihat Lampiran 1).

353

2. KECEPATAN PENURUNAN YANG RELATIP BESAR DI AWAL


UMUR JALAN.
Pada Tabel 2 diketahui total settlement akibat konsolidasi tanah =
2,219 meter yang terjadi selama 343,4 tahun.
Berikut diberikan perhitungan rate of settlement jalan tersebut :
Cv.t
4Tv
( H dr ) 2

(T =
) ; U =
x 100 %
Tabel 3. Kecepatan penurunan tanpa vertical drain.
Tahun ke

Tv

U (%)

1
2
3
4
5
:
10

0.00247
0.00494
0.00741
0.00988
0.01235
:
0.02469

5,6%
7,9%
9,7%
11,2%
12,5%
:
17,7%

Settlement,
Sc
(cm)
12,4
17,5
21,5
24,9
27,7
:

Jadi bila penurunan pada Tabel 3 diatas dibiarkan maka beda


penurunan (differential settlement) akan merusak perkerasan.
Bila dianggap differential settlement, S = Sc maka pada tahun ke
1 terjadi S = x 12,4 = 6,2 cm; ini berarti akan terjadi kerusakan
yang berarti pada perkerasan jalannya. Demikian juga pada tahuntahun berikutnya, walaupun sudah ada usaha perbaikan jalan.
3. DAYA DUKUNG TANAH DASAR.
Dengan adanya konsolidasi tanah, kekuatan tanah dasar meningkat
akibat kenaikan harga Cu (undrained shear strength), seperti dapat
dilihat pada Lampiran 2. Dalam waktu relatip singkat (beberapa bulan
saja), telah dapat dicapai harga U yang mendekati 100%.
Tanpa PVD, harga U meningkat sangat perlahan-lahan (dalam waktu
10 tahun baru didapat harga U = 17,7%). Ini berarti pada awal umur
konstruksi praktis belum ada perbaikan kekuatan tanah.

354

3.2.

RUMUS TAMBAHAN.
Untuk tanah berlapis-lapis dengan ketebalan berbeda, waktu penurunan
dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

dimana :
H1, H2, ......, Hn

= tebal lapisan-lapisan tanah lempung yang

mengalami pemampatan.
Cv1, Cv2,....., Cvn = harga Cv untuk masing-masing lapisan tanah
yang bersangkutan.

355

3.3.

1.
2.
3.

4.
5.
6.

7.

MENENTUKAN KEDALAMAN PVD.


Metoda penentuan kedalaman dapat mengikuti contoh berikut :
Contoh Penentuan Panjang Vertical Drain dan Kedalaman Yang
Memampat.
Asumsi :
Lapisan tanah disekitar vertical drain mengalami pemampatan yang relatif
cepat dengan aliran air dominan horisontal.
Lapisan tanah dibawah ujung dasar vertical drain mengalami pemampatan
dengan arah aliran air (tetap) dominan keatas (vertical).
Harga Cv dari data tanah diasumsikan sebagai berikut : (lihat Tabel 1).
- Kedalaman 0-4 m;
Cv = 17,1 x 10-4 cm2/detik = 5,39 m2/tahun.
- Kedalaman 4-8 m;
Cv = 19,5 x 10-4 cm2/detik = 6,15 m2/tahun.
- Kedalaman 8-11 m;
Cv = 9,1 x 10-4 cm2/detik = 2,87 m2/tahun.
- Kedalaman 11-14 m; Cv = 8,2 x 10-4 cm2/detik = 2,59 m2/tahun.
- Kedalaman 14-20 m; Cv = 5,7 x 10-4 cm2/detik = 1,80 m2/tahun.
Untuk kedalaman 0-10 m; Cv gabungan = 16 x 10 -4 cm2/detik (lihat
Persamaan 5.1.).
Ch = 2 x Cv.
Perhitungan berdasarkan data tanah pada Tabel 2 untuk q = 7,0 ton/m 2 (H
timbunan initial = 4,50 m, H timbunan final = 3,00 m).
Penurunan dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
Penurunan jangka pendek, yaitu penurunan akibat lapisan
tanah setebal sama dengan kedalaman vertical drain.
Penurunan jangka panjang, yaitu penurunan akibat pemampatan lapisan tanah dibawah kedalaman ujung vertical drain.
Misalkan, penurunan dianggap dapat diterima bila kecepatan penurunan
(rate of settlement) jangka panjang rata-rata per tahun 1,5 cm/tahun. Hasil
penentuan kedalaman vertical drain dapat dilihat pada Tabel 4.

356

Tabel 4. Perbandingan Kedalaman Prefabricated Vertical Drain (PVD) dengan


Rate of Settlement.
Kedalaman
Penurunan
Penurunan 10
Rate of
PVD
Jangka Pendek tahun kemudian (m)
Settlement
(m)
(m)*
(cm per tahun)
5
0,881
0,189
1,89
6
0,984
0,179
1,79
7
1,078
0,169
1,69
8
1,165
0,161
1,61
9
1,250
0,152
1,52
10
1,328
0,144
1,44
11
1,401
0,136
1,36
12
1,468
0,128
1,28
13
1,530
0,122
1,22
Catatan : * penurunan akibat pemampatan tanah setebal panjang PVD.
Berdasarkan Tabel 4 di atas, dipakai kedalaman rencana vertical drain
adalah 10 meter dengan rate settlement yang terjadi 1,44 cm/tahun.
Sedangkan jarak vertical drain untuk perhitungan didasarkan pada jarak
vertical drain = 1,0 meter dengan type pemasangan pola segi tiga.
4. MENCARI HUBUNGAN ANTARA TINGGI TIMBUNAN DAN PENURUNAN.
Suatu timbunan setelah mengalami penurunan akan mengalami perubahan
"berat", karena selama terjadi penurunan sebagian tanah timbunan "tenggelam"
berada dibawah muka air tanah, seperti terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kedudukan timbunan saat mengalami penurunan.


Mula-mula :
qawal = Hawal x g timbunan
Setelah mengalami konsolidasi Sc
357

Hakhir = Hawal - Sc
qakhir = Hakhir x gtimbunan + Sc (gsat.timbunan - gwater)
qakhir = (Hawal-Sc) gtimbunan + Sc (gsat. timbunan - 1)
karena dianggap gtimbunan = gsat.timbunan , maka
qakhir = Hawal . gtimbunan - Sc
Jadi, qakhir < qawal.
BAGAIMANA MENCARI HARGA Sc ?
Lakukan perhitungan cara sebagai berikut :
1. Tentukan suatu harga q = konstant tertentu, misal : q = 3,0 ton/m 2.
2. Dengan asumsi q tersebut dan bentuk timbunan yang dikehendaki cari
penurunan konsolidasi maksimum tanah akibat konsolidasi (pada as jalan),
misal didapatkan penurunan konsolidasi = Sci.
3. Cari Hawal dan Hakhir akibat q tersebut dengan rumus sebagai berikut :
qakhir = q = (Hawal - Sc) gsat + Sc (gsat-1).
q = Hawal .gsat - Sc .gsat + Sc .gsat - Sc
= Hawal. gsat - Sc

qi S ci
sat

Jadi, Hawal i =
Hakhir i = Hawal i - Sci
4. Ulangi langkah-langkah diatas untuk q = 5 ton/m 2; 7 ton/m2; 9 ton/m2; 11
ton/m2; dst. Dapatkan pula harga-harga Sc, H awal dan Hakhir yang
bersesuaian.
5. Buat tabel yang berisi qi, Sci, Hawal i, dan Hakhir i seperti pada Tabel 5.
6. Buat grafik hubungan antara Hawal dan Hakhir seperti pada Gambar 3.
(Hawal = Hinitial; Hakhir = Hfinal). Pada Gambar 4 diberikan pula grafik
hubungan antara settlement dengan H final. Hubungan-hubungan yang lain
dapat dicari dengan grafik yang serupa.
7. Dari Gambar 3, dapat dicari berapa saja ketinggian H awal untuk Hakhir yang
telah ditentukan.
Catatan :
Harga Sc disini adalah penurunan konsolidasi jangka pendek, yaitu
penurunan hanya akibat pemampatan lapisan tanah setebal panjang
PVD saja.
358

Penurunan jangka panjang dapat dicari


pemampatan dari lapisan tanah di bawah PVD.

359

berdasarkan

sisa

360
Gambar 3. Grafik Hubungan Antara Tinggi Final Dengan Tinggi Initial (Zone 6).

361
Gambar 4. Grafik Hubungan Antara Tinggi Final Dengan Tinggi Settlement (Zone 6).

Tabel 5. Perhitungan Tinggi Initial, Bongkar Traffic, dan Finished Grade.


(Untuk lapisan terkonsolidasi 0-10m (sedalam PVD)).
Beban q Settlement H-inital
HTebal
Settlement
Tinggi
(t/m2)
akibat
q
(m)
(m)
Bongka
Pavement
Pavement
Final/
N
r
(m)
(m)
Finished
o.
Traffic
grade
(m)
DESIGN CALCULAT (B+C)/1 GRAFIK DESIGN CALCULATI D-C-E+FION
,9
ON
G
A
B
C
D
E
F
G
H
1
3
0,507
1,846
1,200
0,480
0,231
0,388
2
5
0,933
3,123
0,609
0,480
0,168
1,893
3
7
1,250
4,342
0,280
0,480
0,133
3,159
4
9
1,504
5,528
0,173
0,480
0,110
4,221
5
11
1,716
6,693
0,113
0,480
0,094
5,250
5. PERHITUNGAN KENAIKAN DAYA DUKUNG TANAH.
Secara singkat telah dijelaskan pada Lampiran 2 bahwa akibat
pemampatan harga Cu (undrained shear strength) tanah akan meningkat,
sehingga daya dukung tanah juga akan meningkat.
Bagaimana perhitungan tersebut untuk pembebanan bertahap ? Misal
penumpukan timbunan dilakukan sebagai berikut (lihat Tabel 6).
Asumsi kecepatan penimbunan 60 cm lapisan timbunan padat per minggu.
(tergantung kecepatan pekerjaan di lapangan).
Tabel 6. Tahapan Penimbunan.
Tinggi
Timbunan
0,60 m
1,20 m
1,80 m
2,40 m
3,00 m
3,60 m
4,20 m
4,80 m
5,40 m
6,00 m

0,60 m
1 mg
2 mg
3 mg
4 mg
5 mg
6 mg
7 mg
8 mg
9 mg
10 mg

Waktu (minggu)
1,20 m 1,80 m 2,40 m 3,00 m 3,60 m 4,20 m 4,80 m 5,40 m 6,00 m
1 mg
2 mg
3 mg
4 mg
5 mg
6 mg
7 mg
8 mg
9 mg

1 mg
2 mg
3 mg
4 mg
5 mg
6 mg
7 mg
8 mg

1 mg
2 mg
3 mg
4 mg
5 mg
6 mg
7 mg

1 mg
2 mg
3 mg
4 mg
5 mg
6 mg

362

1 mg
2 mg
3 mg
4 mg
5 mg

1 mg
2 mg
3 mg
4 mg

1 mg
2 mg
3 mg

1 mg
2 mg

1 mg

Misalkan digunakan PVD jarak 1,0 m dengan hubungan antara U (derajat


kejenuhan) dan t (waktu) adalah sebagai berikut (lihat Lampiran 1) :
Tabel 7. Hubungan t dengan U, jarak PVD = 1 m.
t (minggu)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

U (derajat konsolidasi
31
52
66
76
83
88
91
94
96
97
98
98
99
99

Pada saat timbunan mencapai 3,0 meter, maka kondisi penimbunan adalah
seperti pada Tabel 8.
Tabel 8. Kondisi Penimbunan Sampai H = 3,0 meter.
Tahapan Penimbunan

Umur
Timbunan
(t minggu)

Tanah asli

Derajat
Konsolidasi
(U %)
100 %

Tegangan effective pada


lapisan yang ditinjau bila
U=100%.
po'

(1)

5 minggu

83,7%

po'+p1=1'

0,60 - 1,20 m (2)

4 minggu

76,7%

'+p2=2'

1,20 - 1,80 m (3)

3 minggu

66,7%

'+p3=3'

1,80 - 2,40 m (4)

2 minggu

52,4%

2,40 - 3,0 m

1 minggu

31,7%

0 - 0,60 m

(5)

363

'+p4=4'
'+p5=5'

(Harga po', s1', s2', s3', dst berbeda-beda untuk setiap kedalaman tanah yang
ditinjau).

tegangan tanah mula-mula = po'


tegangan akibat tahap penimbunan (1), dari 0 m s/d 0,60 m selama 5
minggu (U1 = 0,837).

p1 U1 =

. p'o p'o

'2

p'1

0 , 767

. '1 '1

tegangan akibat tahap penimbunan (3), dari 1,20 m s/d 1,80 m


selama 3 minggu (U3 = 0,667).

p3 U3 =

0 ,837

tegangan akibat tahap penimbunan (2), dari 0,60 m s/d 1,20 m


selama 4 minggu (U2 = 0,767).

p2 U2 =

'1

p'o

0 , 667

'3

p' 2

. ' 2 ' 2

tegangan akibat tahap penimbunan (4), dari 1,80 m s/d 2,40 m


selama 2 minggu (U4 = 0,524).

p4 U4 =

364

'4

p '3

0 , 524

. '3 '3

tegangan akibat tahap penimbunan (5), dari 2,40 m s/d 3,0 m selama
1 minggu (U5 = 0,317).

p5 U5 =

'5

p' 4

0 , 317

365

. ' 4 ' 4

Jadi tegangan tanah di lapisan yang ditinjau adalah :

'
' H 3,0m p ' o 1
p ' o
'
3
' 2
'
5
' 4

0 ,837

0, 667

'
. p' o p 'o 2
'1

. '1 '1

'
. ' 2 ' 2 4
'3

0 , 524

. '3 '3

0, 317

0 , 767

. ' 4 ' 4

Harga Cu tanah saat tercapainya tinggi H = 3.0 meter adalah :


' H 3,0m
Cu H=3,0 m = k x
dimana : harga k seperti pada Lampiran 2.
Dengan cara yang sama pada saat H = 6,0 m didapatkan daya dukung
tanah sebagai berikut (lihat Tabel 9) :
Tabel 9. Mencari tegangan vertical efektip pada tanah dasar untuk
Htimbunan = 6,0 m.

Tahapan
penimbunan
tanah asli 0,0 m
0 - 0,60 m

0,60 - 1,20 m

1,20 - 1,80 m

Umur (minggu)
~

Derajat kejenuhan
Ui
100 %

10

97,2 %

96,0 %

94,3 %

366

pi pada Ui %
p' o
0 , 972

'1

p'o

. p'o p'o

'2

p '1

'3

p'2

0 , 960

. '1 '1

0 , 943

. ' 2 ' 2

1,80 - 2,40 m

2,40 - 3,0 m

91,9 %

3,0 - 3,6 m

88,5 %

3,6 - 4,20 m

83,7 %

4,20 - 4,80 m

76,7 %

4,80 - 5,40 m

66,7 %

5,0 - 6,0 m

52,4 %

31,7 %

'4

p '3

0 , 9885

. ' 4 ' 4

'6

p'5

0,837

. '5 '5

'7

p'6

'9

p '8

. '3 '3

'5

p'4

'8

p' 7

0, 919

0 , 767

. ' 6 ' 6

0 , 667

. ' 7 ' 7

0 , 542

'10

p'9

. '8 '8
0 , 317

. '9 '9

' H 6, 0 meter

Catatan : 'i 'ipi

10
p ' o piui
i 1

Analog Cu H=6,0 m = k x 'H=6,0 m


6. PERHITUNGAN STABILITAS TIMBUNAN.
Stabilitas timbunan dapat dihitung berdasarkan PROGRAM STABLE
(atau program apa saja yang sejenis) dengan asumsi sebagai berikut (lihat juga
Lampiran 3) :

367

Gambar 5. Pembagian zone kekuatan tanah


Zone A

= Tanah dalam kondisi masih asli


Cu = Cu asli

Zone B = Zone transisi :

Cu di B =

C udiA C udic
2

Zone C = Tanah terkonsolidasi dibawah timbunan H, di c tergantung


tinggi H dan kecepatan penimbunan bertahap. (lihat uraian pada
Bagian 7).
Cu di c = k x di c
Untuk bentuk timbunan dengan "berm" sebagai "counterweight" dapat
digunakan asumsi sebagai berikut :

Gambar 6. Timbunan jalan dengan "berm" sebagai "counterweight.


7. ASUMSI BEBAN TRAFFIC.

368

Beban traffic dapat menyebabkan penurunan tanah dasar, untuk itu


beban traffic harus diperhitungkan sebagai tambahan beban merata yang
menyebabkan penurunan tanah. Menurut Japan Road Association (1986), JRA,
beban traffic diperhitungkan sebagai beban merata yang tergantung dari tinggi
timbunan embankment (lihat Gambar 7). Beban traffic tersebut kemudian dapat
dikorelasikan dalam tinggi embankment tambahan yang diakhiri waktu
konsolidasi tinggi tambahan tersebut akan dibongkar. Makin tebal tinggi
timbunan, makin kecil pengaruh beban traffic terhadap penurunan tanah.
Hasil studi oleh JRA (1986) tersebut berlaku untuk suatu timbunan
tanah diatas tanah asli yang belum diperbaiki. Untuk tanah asli yang sudah
memampat akibat adanya vertical drain, tentunya pengaruh traffic tersbut
tidaklah sebesar aslinya. Jadi dapat diasumsikan pengaruh traffic pada tanah
dasar yang telah terkonsolidasi hanya sebagian dari harga menurut JRA
tersebut. Bila intensitas tersebut hanya dari harga JRA, kurva hubungan
mengikuti kurva b dari Gambar 7 tersebut.
Perlu diketahui bahwa sebagian perencana menganggap intensitas
beban traffic berupa suatu harga konstan, q traffic = 1,0 ton/m2. Asumsi seperti
ini boleh saja (jadi tebal timbunan yang dibongkar tetap yaitu H bongkar =
1
tanah
(m), atau Hbongkar = 0,5 m untuk tanah = 2,0 ton/m3) akan tetapi
menurut penulis
timbunannya.

sebaiknya

pengaruh

369

traffic

dibedakan

menurut

tebal

Gambar 7.

Kurva hubungan antara tebal timbunan dengan intensitas


beban yang bersesuaian dengan beban traffic (Japan Road
Association, 1986).

370