Anda di halaman 1dari 12

DEFINISI NEGARA

Negara adalah sebuah organisasi atau badan tertinggi yang memiliki kewenangan untuk mengatur perihal yang
berhubungan dengan kepentingan masyarakat luas serta memiliki kewajiban untuk mensejahterakan, melindungi dan
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pengertian Negara menurut Ahli
John Locke dan Rousseau, negara merupakan suatu badan atau organisasi hasil dari perjanjian masyarakat.
Max Weber, negara adalah sebuah masyarakat yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik
secara sah dalam wilayah tertentu.
Mac Iver, sebuah negara harus memiliki tiga unsur poko, yaitu wilayah, rakyat, dan pemerintahan.
Roger F.Soleau, negara adalah alat atau dalam kata lain wewenang yang mengendalikan dan mengatur
persoalan-persoalan yang bersifat bersama atas nama masyarakat.
Prof. Mr. Soenarko, Negara adalah organisasi masyarakat yang mempunyai daerah tertentu dimana kekuasaan
negara berlaku sepenuhnya sebagai suatu kedaulatan, sedangkan Prof. Miriam Budiardjo memberikan
pengertian Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah
terhadap semua golongankekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama
itu. Jadi Negara adalah sekumpulan orang yang menempati wilayah tertentu dan diorganisasi oleh pemerintah
negara yang sah, yang umumnya mempunyai kedaulatan (keluar dan ke dalam).
Pengertian negara dapat ditinjau dari empat sudut yaitu:
1. Negara sebagai organisasi kekuasaan
Negara adalah alat masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan antara manusia dalam
masyarakat tersebut. Pengertian ini dikemukakan oleh Logemann dan Harold J. Laski. Logemann menyatakan bahwa
negara adalah organisasi kekuasaan yang bertujuan mengatur masyarakatnya dengan kekuasaannya itu. Negara
sebagai organisasi kekuasaan pada hakekatnya merupakan suatu tata kerja sama untuk membuat suatu kelompok
manusia berbuat atau bersikap sesuai dengan kehendak negara itu.
2. Negara sebagai organisasi politik
Negara adalah asosiasi yang berfungsi memelihara ketertiban dalam masyarakat berdasarkan sistem hukum yang
diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang diberi kekuasaan memaksa. Dari sudut organisasi politik, negara
merupakan integrasi dari kekuasaan politik atau merupakan organisasi pokok dari kekuasaan politik. Sebagai organisasi
politik negara Bidang Tata Negara berfungsi sebagai alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur
hubungan antar manusia dan sekaligus menertibkan serta mengendalikan gejalagejala kekuasaan yang muncul dalam
masyarakat. Pandangan tersebut nampak dalam pendapat Roger H. Soltou dan Robert M Mac Iver. Dalam bukunya The
Modern State, Robert M Mac Iver menyatakan : Negara ialah persekutuan manusia (asosiasi) yang menyelenggarakan
penertiban suatu masyarakat dalam suatu wilayah berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh pemerintah
yang dilengkapi kekuasaan memaksa. Menurut RM Mac Iver, walaupun negara merupakan persekutuan manusia, akan
tetapi mempunyai ciri khas yang dapat digunakan untuk membedakan antara negara dengan persekutuan manusia yang
lainnya. Ciri khas tersebut adalah : kedualatan dan keanggotaan negara bersifat mengikat dan memaksa.
3. Negara sebagai organisasi kesusilaan
Negara merupakan penjelmaan dari keseluruhan individu. Menurut Friedrich Hegel : Negara adalah suatu organisasi
kesusilaan yang timbul sebagai sintesa antara kemerdekaan universal dengan kemerdekaan individu. Negara adalah
organisme dimana setiap individu menjelmakan dirinya, karena merupakan penjelmaan seluruh individu maka negara
memiliki kekuasaan tertinggi sehingga tidak ada kekuasaan lain yang lebih tinggi dari negara. Berdasarkan pemikirannya,
Hegel tidak menyetujui adanya : Pemisahan kekuasaan karena pemisahan kekuasaan akan menyebabkan lenyapnya
negara. Pemilihan umum karena negara bukan merupakan penjelmaan kehendak mayoritas rakyat secara perseorangan
melainkan kehendak kesusilaan. Dengan memperhatikan pendapat Hegel tersebut, maka ditinjau dari organisasi
kesusilaan, negara dipandang sebagai organisasi yang berhak mengatur tata tertib dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara, sementara manusia sebagai penghuninya tidak dapat berbuat semaunya sendiri.
4. Negara sebagai integrasi antara pemerintah dan rakyat
Negara sebagai kesatuan bangsa, individu dianggap sebagai bagian integral negara yang memiliki kedudukan dan fungsi
untuk menjalankan negara. Menurut Prof. Soepomo, ada 3 teori tentang pengertian negara:
1) Teori Perseorangan (Individualistik)
Negara adalah merupakan sauatu masyarakat hukum yang disusun berdasarkan perjanjian antar individu yang menjadi
anggota masyarakat. Kegiatan negara diarahkan untuk mewujudkan kepentingan dan kebebasan pribadi. Penganjur teori
ini antara lain : Thomas Hobbes, John Locke, Jean Jacques Rousseau, Herbert Spencer, Harold J Laski.
2) Teori Golongan (Kelas)

Negara adalah merupakan alat dari suatu golongan (kelas) yang mempunyai kedudukan ekonomi yang paling kuat untuk
menindas golongan lain yang kedudukan ekonominya lebih lemah. Teori golongan diajarkan oleh : Karl Marx, Frederich
Engels, Lenin
3) Teori Intergralistik (Persatuan)
Negara adalah susunan masyarakat yang integral, yang erat antara semua golongan, semua bagian dari seluruh anggota
masyarakat merupakan persatuan masyarakat yang organis. Negara integralistik merupakan negara yang hendak
mengatasi paham perseorangan dan paham golongan dan negara mengutamakan kepentingan umum sebagai satu
kesatuan. Teori persatuan diajarkan oleh : Bendictus de Spinosa, F. Hegel, Adam Muller
Unsur-unsur Negara
1. Penduduk
Penduduk merupakan warga negara yang memiliki tempat tinggal dan juga memiliki kesepakatan diri untuk bersatu.
Warga negara adalah pribumi atau penduduk asli Indonesia dan penduduk negara lain yang sedang berada di Indonesia
untuk tujuan tertentu.
2. Wilayah
Wilayah adalah daerah tertentu yang dikuasai atau menjadi teritorial dari sebuah kedaulatan. Wilayah adalah salah satu
unsur pembentuk negara yang paling utama. Wilaya terdiri dari darat, udara dan juga laut*.
3. Pemerintah
Pemerintah merupakan unsur yang memegang kekuasaan untuk menjalankan roda pemerintahan.
4. Kedaulatan
Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi yang untuk membuat undang-undang dan melaksanakannya dengan semua cara.
Disamping ketiga unsur pokok (konstitutif) tersebut masih ada unsur tambahan (disebut unsur deklaratif) yaitu berupa
Pengakuan dari negara lain. Unsur negara tersebut diatas merupakan unsur negara dari segi hukum tata negara atau
organisasi negara
Fungsi Negara
Fungsi Pertahanan dan Keamanan
Negara wajib melindungi unsur negara(rakyat, wilayah, dan pemerintahan) dari segala ancaman, hambatan, dan
gangguan, serta tantangan lain yang berasal dari internal atau eksternal. Contoh: TNI menjaga perbatasan
negara
Fungsi Keadilan
Negara wajib berlaku adil dimuka hukum tanpa ada diskriminasi atau kepentingan tertentu. Contoh: Setiap orang
yang melakukan tinfakan kriminal dihukum tanpa melihat kedudukan dan jabatan.
Fungsi Pengaturan dan Keadilan
Negara membuat peraturan-perundang-undangan untuk melaksanakan kebijakan dengan ada landasan yang
kuat untuk membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsan dan juga bernegara.
Fungsi Kesejahteraan dan Kemakmuran
Negara bisa mengeksplorasi sumber daya alam yang dimiliki untuk meningkatkan kehidupan masyarakat agar
lebih makmur dan sejahtera.
Sifat Negara
1. Sifat memaksa
Negara dapat memaksakan kehendak melalui hukum atau kekuasaan. Negara memiliki kekuasaan memaksa agar
masyarakat
tunduk
dan
patuh
terhadap
negara
tanpa
tidak
ada
pemaksaan
fisik
Hak negara ini memiliki sifat legal agar tercipta tertib di masyarakat dan tidak ada tindakan anarki. Paksaan fisik dapat
dilakukan terhadap hak milik
2. Sifat monopoli
Negara menetapkan tujuan bersama dalam masyarakat. Negara dapat menguasai hal-hal seperti sumberdaya penting
untuk kepentingan orang banyak. Negara mengatasi paham individu dan kelompok.
3. Sifat totalitas
Semua hal tanpa pengecualian menjadi wewenang negara.
Tujuan Negara
Miriam Budiharjo(2010) menyatakan bahwa Negara dapat dipandang sebagai asosiasi manusia yang hidup dan
bekerjasama untuk mengejar beberapa tujuan bersama. Dapat dikatakan bahwa tujuan akhir setiap negara adalah
menciptaka kebahagiaan bagi rakyatnya.

Sedangkan tujuan Negara Indonesia adalah yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke empat;
Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia
Memajukan kesejahteraan umum
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Ikut melaksanakan ketertiban dunia
Asal Mula Terjadinya Negara
Berdasarkan kenyataan, negara terjadi karena sebab-sebab :
Ocupatie - Pendudukan yaitu suatu wilayah yang diduduki oleh sekelompok manusia
Separatie - Pelepasan, yaitu suatu daerah yang semual menjadi wilayah daerah tertentu kemudaia melepaskan
diri
Peleburan, yaitu bebrapa negara meleburkan diri menjadi satu
Pemecahan, yaitu lenyapnya suatu negara dan munculnya negara baru
Berdasarkan teori, negara terjadi karena
Teori Ketuhanan, yaitu negara ada karena adanya kehendak Tuhan
Teori Perjanjian masyarakat, yaitu negara ada karena adanya perjanjian individu-individu (contrac social)
Teori Kekuasaan, yaitu negara terbentuk karena adanya kekuasaan / kekuatan
Teori Hukum Alam, yaitu negara ada karena adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang
bermacam-macam.
Bentuk Negara
Berikut adalah bentuk negara yang ada di dunia
Negara Kesatuan
Negara Serikat
Perserikatan Negara (Konfederasi)
Uni, dibagi menjadi 2 yaitu Uni Riil dan Uni Personil
Dominion
Koloni
Protektorat
Mandat
Trust
DAERAH
Secara umum, definisi Daerah menurut Nia K. Pontoh dalam bukunya yang berjudul Pengantar Perencanaan
Perkotaan (2008), adalah suatu wilayah teritorial dengan pengertian, batasan, dan perwatakannya didasarkan pada
wewenang administratif pemerintahan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan tertentu. Definisi lain dari
daerah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya dengan batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrasi. Contohnya adalah daerah-daerah otonom seperrti yang dimaksud
oleh Undang-undang No. 22 tahun 1999 (yang telah direvisi menjadi UU No. 32 tahun 2004) tentang Pemerintah di
Daerah: Daerah Provinsi; Daerah Kabupaten; Daerah Kota.
Menurut UU No. 32 tahun 2004, daerah otonom, selanjutnya disebut daerah adalah kesatuan masyarakat hukum
yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI)
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP KEUANGAN NEGARA
1. Pengertian Keuangan Negara
Definisi keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala
sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Negara berhubung dengan pelaksanaan
hak dan kewajiban tersebut. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
dinyatakan bahwa pendekatan yang digunakan dalam merumuskan Keuangan Negara adalah dari sisi objek,

subjek, proses, dan tujuan. Dari sisi objek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi semua hak dan kewajiban
negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan
kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan
milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi seluruh subjek yang memiliki/menguasai
objek sebagaimana tersebut di atas, yaitu: pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan
lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara.
Dari sisi proses, Keuangan Negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan
objek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan danpengambilan keputusan sampai dengan
pertanggunggjawaban.
Dari sisi tujuan, Keuangan Negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan
dengan pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagaimana tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan negara.
Berdasarkan pengertian keuangan negara dengan pendekatan objek, terlihat bahwa hak dan kewajiban negara
yang dapat dinilai dengan uang diperluas cakupannya, yaitu termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal,
moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan.
Dengan demikian, bidang pengelolaan keuangan negara dapat dikelompokkan dalam:
a. subbidang pengelolaan fiskal,
b. subbidang pengelolaan moneter, dan
c. subbidang pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan.
Pengelolaan keuangan negara subbidang pengelolaan fiskal meliputi kebijakan dan kegiatan yang berkaitan
dengan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai dari penetapan Arah dan Kebijakan
Umum (AKU), penetapan strategi dan prioritas pengelolaan APBN, penyusunan anggaran oleh pemerintah, pengesahan
anggaran oleh DPR, pelaksanaan anggaran, pengawasan anggaran, penyusunan perhitungan anggaran negara (PAN)
sampai dengan pengesahan PAN menjadi undang-undang.
Pengelolaan keuangan negara subbidang pengelolaan moneter berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan
kegiatan sector perbankan dan lalu lintas moneter baik dalam maupun luar negeri.
Pengelolaan keuangan negara subbidang kekayaan Negara yang dipisahkan berkaitan dengan kebijakan dan
pelaksanaan kegiatan di sektor Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD) yang orientasinya mencari
keuntungan (profit motive).
Berdasarkan uraian di atas, pengertian keuangan negara dapat dibedakan antara: pengertian keuangan negara dalam
arti luas, dan pengertian keuangan negara dalam arti sempit. Pengertian keuangan negara dalam
arti luas pendekatannya adalah dari sisi objek yang cakupannya sangat luas, dimana keuangan negara mencakup
kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan.
Sedangkanpengertian keuangan negara dalam arti sempit hanya mencakup pengelolaan keuangan negara subbidang
pengelolaan fiskal saja.
2. Asas-asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara
Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan negara, pengelolaan keuangan negara
perlu diselenggarakan secara profesional, terbuka, danbertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah
ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Aturan pokok Keuangan Negara telah dijabarkan ke dalamasas-asas
umum, yang meliputi baik asas-asas yang telah lama dikenal dalam pengelolaan keuangan negara, seperti asas
tahunan, asas universalitas, asas kesatuan, dan asas spesialitas maupun asas-asas baru sebagai pencerminan
penerapan kaidah-kaidah yang baik (best practices) dalam pengelolaan keuangan negara. Penjelasan dari masingmasing asas tersebut adalah sebagaiberikut.
a. Asas Tahunan, memberikan persyaratan bahwa anggaran Negara dibuat secara tahunan yang harus mendapat
persetujuan dari badan legislatif (DPR).
b. Asas Universalitas (kelengkapan), memberikan batasan bahwa tidak diperkenankan terjadinya percampuran antara
penerimaan negara dengan pengeluaran negara.
c. Asas Kesatuan, mempertahankan hak budget dari dewan secara lengkap, berarti semua pengeluaran harus tercantum
dalam anggaran. Oleh karena itu, anggaran merupakan anggaran bruto, dimana yang dibukukan dalam anggaran adalah
jumlah brutonya.
d. Asas Spesialitas mensyaratkan bahwa jenis pengeluaran dimuat dalam mata anggaran tertentu/tersendiri dan
diselenggarakan secara konsisten baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Secara kuantitatif artinya jumlah yang telah

ditetapkan dalam mata anggaran tertentu merupakan batas tertinggi dan tidak boleh dilampaui. Secara kualitatif berarti
penggunaan anggaran hanya dibenarkan untuk mata anggaran yang telah ditentukan.
e. Asas Akuntabilitas berorientasi pada hasil, mengandung makna bahwa setiap pengguna anggaran wajib menjawab
dan menerangkan kinerja organisasi atas keberhasilan atau kegagalan suatu program yang menjadi tanggung jawabnya.
f. Asas Profesionalitas mengharuskan pengelolaan keuangan negara ditangani oleh tenaga yang profesional.
g. Asas Proporsionalitas; pengalokasian anggaran dilaksanakan secara proporsional pada fungsi-fungsi
kementerian/lembaga sesuai dengan tingkat prioritas dan tujuan yang ingin dicapai.
h. Asas Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara, mewajibkan adanya keterbukaan dalam pembahasan,
penetapan, dan perhitungan anggaran serta atas hasil pengawasan olehlembaga audit yang independen.
i. Asas Pemeriksaan Keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri, memberi kewenangan lebih besar pada
Badan Pemeriksa Keuangan untuk melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara secara objektif dan
independen.
Asas-asas umum tersebut diperlukan pula guna menjamin terselenggaranya prinsip-prinsip pemerintahan daerah.
Dengan dianutnya asas-asas umum tersebut di dalam undang-undang tentang Keuangan Negara, pelaksanaan undangundang ini selain menjadi acuan dalam reformasi manajemen keuangan negara, sekaligus dimaksudkan untuk
memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Ruang Lingkup Keuangan Negara
Ruang lingkup keuangan negara meliputi:
a. hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan melakukan pinjaman;
b. kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak
ketiga;
c. penerimaan negara;
d. pengeluaran negara;
e. penerimaan daerah;
f. pengeluaran daerah;
g. kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang,
barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada
perusahaan negara/perusahaan daerah;
h. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau
kepentingan umum;
i. kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah; dan
j. kekayaan pihak lain sebagaimana dimaksud meliputi kekayaan yang dikelola oleh orang atau badan lain berdasarkan
kebijakan pemerintah, yayasan-yayasan di lingkungan kementeriannegara/lembaga, atau perusahaan negara/daerah.
Bidang pengelolaan Keuangan Negara yang demikian luas secara ringkas dapatdikelompokkan dalam sub bidang
pengelolaan fiskal, sub bidang pengelolaan moneter, dan sub bidang pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan.
Sub bidang pengelolaan fiskal meliputi enam fungsi, yaitu:
a. Fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal. Fungsi pengelolaan kebijakan ekonomi makro dan fiskal ini
meliputi penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN, serta perkembangan dan perubahannya, analisis kebijakan, evaluasi
dan perkiraan perkembangan ekonomi makro, pendapatan negara, belanja negara, pembiayaan, analisis kebijakan,
evaluasi dan perkiraan perkembangan fiskal dalam rangka kerjasama internasional dan regional, penyusunan rencana
pendapatan negara, hibah, belanja negara dan pembiayaan jangka menengah, penyusunan statistik, penelitian dan
rekomendasi kebijakan di bidang fiskal, keuangan, dan ekonomi.
b. Fungsi penganggaran. Fungsi ini meliputi penyiapan, perumusan, dan pelaksanaan kebijakan, serta perumusan
standar, norma, pedoman, kriteria, prosedur dan pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang APBN.
c. Fungsi administrasi perpajakan.
d. Fungsi administrasi kepabeanan.
e. Fungsi perbendaharaan.
Fungsi perbendaharaan meliputi perumusan kebijakan, standard, sistem dan prosedur di bidang pelaksanaan
penerimaan dan pengeluaran negara, pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah serta akuntansi pemerintah pusat
dan daerah, pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara, pengelolaan kas negara dan perencanaan penerimaan
dan pengeluaran, pengelolaan utang dalam negeri dan luar negeri, pengelolaan piutang, pengelolaan barang
milik/kekayaan negara (BM/KN), penyelenggaraan akuntansi, pelaporan keuangan dan sistem informasi manajemen
keuangan pemerintah.
f. Fungsi pengawasan keuangan.

Sementara itu, bidang moneter meliputi sistem pembayaran, sistem lalu lintas devisa, dan sistem nilai tukar. Adapun
bidang pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan meliputi pengelolaan perusahaan negara/daerah

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


A. Pengertian
Pengertian keuangan daerah sebagaimana dimuat dalam penjelasanpasal 156 ayat 1 Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah adalah sebagai berikut :
Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapatdinilai dengan uang dan segala sesuatu
berupa uang dan barang yangdapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan hakdan
kewajiban tersebut.
Pengertian keuangan daerah sebagaimana dimuat dalam pasal 6 Permendagri nomor 13 tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Permendagri Nomor 57 tahun 2007
dan Permendagri Nomor 21 tahun 2011 adalah sebagai berikut:
Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah
yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan
kewajiban daerah tersebut.
Ruang lingkup keuangan daerah meliputi:
1. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukanpinjaman;
2. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah danmembayar tagihan pihak ketiga;
3. penerimaan daerah;
4. pengeluaran daerah;
5. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga,piutang, barang, serta
hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaanyang dipisahkan pada perusahaan daerah;
6. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan
daerah dan/atau kepentingan umum.
B. Pengelola Keuangan Daerah
Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,
penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Kepala Daerah selaku
kepala pemerintahdaerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah danmewakili pemerintah
daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yangdipisahkan. Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah
mempunyai kewenangan:
1. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD;
2. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah;
3. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang;
4. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran;
5. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah;
6. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutangdaerah;
7. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah;dan
8. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan danmemerintahkan pembayaran.
Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan sebagian atau seluruh
kekuasaannya kepada:
1. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah;
2. kepala SKPKD selaku PPKD; dan
3. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang.
Pelimpahan sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan keputusan kepaladaerah berdasarkan prinsip pemisahan
kewenangan antara yang memerintahkan,menguji, dan yang menerima atau mengeluarkan uang.
Kepala Daerah perlu menetapkan pejabat-pejabat tertentu dan para bendahara untuk melaksanakan pengelolaan
keuangan daerah. Parapengelola keuangan daerah tersebut adalah:
1. Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah (Koordinator PKD).
Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah mempunyai tugas koordinasi di bidang:
a. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD;
b. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah;
c. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD;
d. penyusunan Raperda APBD, perubahan APBD, dan pertanggungjawabanpelaksanaan APBD;
e. tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas keuangandaerah; dan
f. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawabanpelaksanaan APBD.
Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekretaris

daerah mempunyai tugas:


a. memimpin TAPD;
b. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD;
c. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah;
d. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD/DPPA-SKPD; dan
e. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya
berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.
Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala
daerah.
2. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD).
Kepala SKPKD selaku PPKD mempunyai tugas:
a. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah;
b. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;
c. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan denganPeraturan Daerah;
d. melaksanakan fungsi BUD;
e. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawabanpelaksanaan APBD; dan
f. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepaladaerah.
PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD berwenang:
a. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD;
b. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD;
c. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD;
d. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistempenerimaan dan pengeluaran kas daerah;
e. melaksanakan pemungutan pajak daerah;
f. menetapkan SPD;
g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberianpinjaman atas nama pemerintah daerah;
h. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah;
i. menyajikan informasi keuangan daerah; dan
j. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milikdaerah.
PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD.
PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah.
3. Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang (PPA/PB).
Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang mempunyai tugas:
a. menyusun RKA-SKPD;
b. menyusun DPA-SKPD;
c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja;
d. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;
f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yangtelah ditetapkan;
h. menandatangani SPM;
i. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya;
j. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPDyang dipimpinnya;
k. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya;
l. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
m. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkankuasa yang
dilimpahkan oleh kepala daerah; dan
n. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretarisdaerah.
Dalam rangka pengadaan barang/jasa, Pengguna Anggaran bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen
sesuai peraturan perundang-undangan di bidang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
4. Pejabat Kuasa pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna arang (KPA/KPB)Pejabat pengguna anggaran/pengguna
barang dalammelaksanakan tugasnya dapat melimpahkan sebagiankewenangannya kepada kepala unit kerja
pada SKPDselaku kuasa pengguna anggaran/kuasa penggunabarang.
Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut berdasarkan pertimbangantingkatan daerah, besaran SKPD,
besaran jumlah uangyang dikelola, beban kerja, lokasi, kompetensi, rentangkendali, dan/atau pertimbangan
objektif lainnya.
Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD.
Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut meliputi:
a. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja;
b. melaksanakan anggaran unit kerja yang dipimpinnya;
c. melakukan pengujian atas tagihan danmemerintahkan pembayaran;
d. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama denganpihak lain dalam batas anggaran yang telahditetapkan;
e. menandatangani SPM-LS dan SPM-TU;
f. mengawasi pelaksanaan anggaran unit kerja yangdipimpinnya; dan

g. melaksanakan tugas-tugas kuasa pengguna anggaranlainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan


olehpejabat pengguna anggaran.
Kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang bertanggung jawabatas pelaksanaan tugasnya kepada
penggunaanggaran/pengguna barang.
Dalam pengadaan barang/jasa, Kuasa Pengguna Anggaran sekaligus bertindak sebagai Pejabat Pembuat
Komitmen.
5. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).
Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasapengguna barang dalam
melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK berdasarkan
pertimbangan
kompetensi jabatan, anggaran kegiatan, beban kerja, lokasi, dan/atau rentang kendalidan pertimbangan objektif
lainnya.
PPTK yang ditunjuk oleh pejabat pengguna anggaran/pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan
tugasnya kepadapengguna anggaran/pengguna barang.
PPTK yang ditunjuk oleh kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang bertanggung jawab atas
pelaksanaan tugasnyakepada kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.
PPTK mempunyai tugas mencakup:
a. mengendalikan pelaksanaan kegiatan;
b. melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan; dan
c. menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan.
6. Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah(SKPD).
Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD, kepala SKPDmenetapkan pejabat yang
melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPDsebagai PPK-SKPD.
PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas:
a. meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan olehbendahara pengeluaran
dan diketahui/ disetujui oleh PPTK;
b. meneliti kelengkapan SPP-UP, SPP-GU, SPP-TU dan SPP-LS gaji dan tunjanganPNS serta penghasilan
lainnya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuanperundang-undangan yang diajukan oleh bendahara
pengeluaran;
c. melakukan verifikasi SPP;
d. menyiapkan SPM;
e. melakukan verifikasi harian atas penerimaan;
f. melaksanakan akuntansi SKPD; dan
g. menyiapkan laporan keuangan SKPD.
PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukanpemungutan penerimaan
negara/daerah, bendahara, dan/atau PPTK.
7. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran.
Kepala daerah atas usul PPKD menetapkan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran
untukmelaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangkapelaksanaan anggaran pada SKPD.
Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran adalah pejabatfungsional.
Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran baiksecara langsung maupun tidak langsung
dilarangmelakukan kegiatan perdagangan, pekerjaanpemborongan dan penjualan jasa atau bertindak
sebagaipenjamin atas kegiatan/pekerjaan/penjualan, sertamembuka rekening/giro pos atau menyimpan uang
padasuatu bank atau lembaga keuangan Iainnya atas namapribadi.
Dalam hal PA melimpahkan sebagian kewenangannyakepada KPA, kepala daerah menetapkan
bendaharapenerimaan pembantu dan bendahara pengeluaranpembantu pada unit kerja terkait.
Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaransecara fungsional bertanggung jawab atas
pelaksanaantugasnya kepada PPKD selaku BUD.
C. APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencanakeuangan tahunan
pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama olehpemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan
dengan peraturan daerah.
APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahunanggaran. APBD merupakan rencana
pelaksanaan semua PendapatanDaerah dan semua Belanja Daerah dalam rangka pelaksanaanDesentralisasi
dalam tahun anggaran tertentu. Pemungutan semuapenerimaan Daerah bertujuan untuk memenuhi target yang
ditetapkandalam APBD. Demikian pula semua pengeluaran daerah dan ikatan yangmembebani daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD. Karena
APBDmerupakan dasar pengelolaan keuangan daerah, maka APBD menjadi dasar pula bagi kegiatan
pengendalian, pemeriksaan dan pengawasankeuangan daerah.
Berbagai fungsi APBN/APBD sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat

(4) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yaitu :


1.Fungsi Otorisasi
Anggaran daerah merupakan dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi Perencanaan
Anggaran daerah merupakan pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang
bersangkutan.
3. Fungsi Pengawasan
Anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai
dengan ketentuan yangtelah ditetapkan.
4. Fungsi Alokasi
Anggaran daerah diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan
efisiensi danefektivitas perekonomian.
5. Fungsi Distribusi
Anggaran daerah harus mengandung arti/ memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan
6. Fungsi Stabilisasi
Anggaran daerah harus mengandung arti/ harus menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan
fundamentalperekonomian.
APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal
1 Januari sampai dengantanggal 31 Desember. APBD disusun sesuai dengan kebutuhanpenyelenggaraan
pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah.
Dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, pemerintah melaksanakan kegiatan keuangan dalam siklus
pengelolaan anggaran yang secara garisbesar terdiri dari:
1. Penyusunan dan Penetapan APBD;
2. Pelaksanaan dan Penatausahaan APBD;
3. Pelaporan dan Pertanggungjawaban APBD.
Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari:
1. Pendapatan Daerah
semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitasdana, merupakan hak
daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayarkembali oleh daerah.
Pendapatan daerahterdiri atas:
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD);
Pendapatan Asli Daerah terdiri atas:
1) pajak daerah;
2) retribusi daerah;
3) hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan;
Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang
mencakup:
a) bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaanmilik daerah/BUMD;
b) bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaanmilik pemerintah/BUMN; dan
c) bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaanmilik swasta atau kelompok usaha
masyarakat.

4) lain-lain PAD yang sah.


Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sahdisediakanuntuk menganggarkan penerimaan daerah
yang tidaktermasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, danhasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkandirinci menurut obyek pendapatan yang antara lain:
a) hasil penjualan kekayaan daerah yang tidakdipisahkan secara tunai atau angsuran/cicilan;
b) jasa giro;
c) pendapatan bunga;
d) penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah;
e) penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lainsebagai akibat dari penjualan dan/atau
pengadaanbarang dan/atau jasa oleh daerah;
f) penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiahterhadap mata uang asing;
g) pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaanpekerjaan;
h) pendapatan denda pajak;
i) pendapatan denda retribusi;
j) pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;
k) pendapatan dari pengembalian;
l) fasilitas sosial dan fasilitas umum;
m) pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan danpelatihan;
n) pendapatan dari Badan Layanan Umum Daerah

b. Dana Perimbangan;
Kelompok pendapatan dana perimbangan dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri
atas:
1) dana bagi hasil;
2) dana alokasi umum; dan
3) dana alokasi khusus.
c.

Lain-lain pendapatan daerah yang sah.


Kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang mencakup:
1) hibah berasal dari pemerintah, pemerintah daerah lainnya, badan/lembaga/ organisasiswasta dalam
negeri, kelompok masyarakat/perorangan, dan lembaga luar negeri yangtidak mengikat;
2) dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan akibatbencana slam;
3) dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota;
4) dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah; dan
5) bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya.

2. Belanja Daerah
Semuapengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana,merupakan kewajiban
daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperolehpembayarannya kembali oleh daerah.
a. Klasifikasi belanja menurut urusan pemerintahan terdiriatas belanja urusan wajib dan belanja urusan pilihan.
Klasifikasi belanja menurut urusan wajib mencakup:
1) pendidikan;
2) kesehatan;
3) pekerjaan umum;
4) perumahan rakyat;
5) penataan ruang;
6) perencanaan pembangunan;
7) perhubungan;
8) lingkungan hidup;
9) pertanahan;
10) kependudukan dan catatan sipil;
11) pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;
12) keluarga berencana dan keluarga sejahtera;
13) sosial;
14) ketenagakerjaan;
15) koperasi dan usaha kecil dan menengah;
16) penanaman modal;
17) kebudayaan;
18) kepemudaan dan olah raga;
19) kesatuan bangsa dan politik dalam negeri;
20) otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasikeuangan daerah, perangkat daerah,
kepegawaiandan persandian;
21) ketahanan pangan;
22) pemberdayaan masyarakat dan desa;
23) statistik;
24) kearsipan;
25) komunikasi dan informatika;dan
26) perpustakaan.
Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan sebagaimana mencakup:
1) pertanian;
2) kehutanan;
3) energi dan sumber daya mineral;
4) pariwisata;
5) kelautan dan perikanan;
6) perdagangan;
7) industri; dan
8) ketransmigrasian.
b. Klasifikasi belanja menurut kelompok belanja terdiri dari belanja tidak langsung dan belanja langsung.
Kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari:
1) belanja pegawai;
2) bunga;
3) subsidi;
4) hibah;
5) bantuan sosial;
6) belanja bagi basil;

7) bantuan keuangan; dan


8) belanja tidak terduga.
Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari:
1) belanja pegawai;
2) belanja barang dan jasa; dan
3) belanja modal.
3. Pembiayaan
Semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus.Selisih lebih pendapatan
daerah terhadap belanja daerah disebut surplusanggaran, tapi apabila terjadi selisih kurang maka hal itu disebut
defisitanggaran. Jumlah pembiayaan sama dengan jumlah surplus atau jumlahdefisit anggaran.
Penerimaan pembiayaan mencakup:
a. sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA);
b. pencairan dana cadangan;
c. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan;
d. penerimaan pinjaman daerah;
e. penerimaan kembali pemberian pinjaman; dan
f. penerimaan piutang daerah.
`Pengeluaran pembiayaan mencakup:
a. pembentukan dana cadangan;
b. peneemaan modal (investasi) pemerintah daerah;
c. pembayaran pokok utang; dan
d. pemberian pinjaman daerah.
D. Gambaran Umum Pengelolaan dan Pelaporan Keuangan Daerah
LKPD disusun oleh kepala daerah sebagai bentuk pertanggungjawabanpelaksanaan APBD. Penyusunan LKPD
tersebut dilaksanakan oleh Satuan KerjaPemerintah Daerah (SKPD) dan Satuan Kerja Pengelolaan Keuangan
Daerah(SKPKD) berdasarkan peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
1. Undang-undang No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.
2. Undang-undang No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara.
3. Undang-undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.
4. Undang-undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antaraPemerintah Pusat dan Daerah.
5. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 Tentang Standar AkuntansiPemerintahan.
6. Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2005 Tentang Pinjaman Daerah.
7. Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan.
8. Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2005 Tentang Sistem Informasi KeuanganDaerah.
9. Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2005 Tentang Hibah kepada Daerah.
10. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan KeuanganDaerah.
11. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan Keuangan danKinerja Instansi Pemerintah.
12. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2002 Tentang pengkodeanBarang Daerah.
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 152 Tahun 2004 Tentang PengelolaanBarang Daerah
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang PedomanPengelolaan Keuangan Daerah.
15. Peraturan daerah dan peraturan/keputusan kepala daerah terkait denganpengelolaan keuangan daerah.
16. Peraturan-peraturan lain terkait dengan pengelolaan keuangan daerah.
Entitas pelaporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBD berupa LKPDadalah pemerintah daerah yang dipimpin
oleh kepala daerah yaitugubernur/bupati/walikota, dengan entitas akuntansi satuan kerja pengelolakeuangan daerah dan
satuan kerja perangkat daerah.
Standar akuntansi yang digunakan sebagai dasar penyusunan LKPD adalahStandar Akuntansi Pemerintahan yang
ditetapkan dalam PP No. 24 Tahun 2005.Sistem dan prosedur laporan keuangan pemerintah daerah ditetapkan
dalamsistem akuntansi keuangan daerah yang ditetapkan oleh gubernur/bupati/walikota.
Sistem dan prosedur tersebut disusun dengan mengacu kepada peraturanperundang-undangan seperti PP No. 58 Tahun
2005 tentang Pengelolaa Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentangPedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, peraturan daerah tentang pengelolaankeuangan daerah, dan peraturan lain yang
menjadi acuan penyusunan sistem danprosedur laporan keuangan pemerintah daerah, serta berdasarkan PP No.
24Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
Sistem dan prosedur laporan keuangan pemerintah daerah tersebut secara umummeliputi sistem dan prosedur (1)
perencanaan, (2) pelaksanaan, dan (3)pertanggungjawaban. Secara ringkas sistem dan prosedur tersebut
dapatdijelaskan sebagai berikut:
1. Sistem dan Prosedur Perencanaan

Sistem dan prosedur perencanaan meliputi antara lain kegiatan (1)penyusunan anggaran, (2) penyampaian
rancangan peraturan daerah tentangAPBD, (3) pembahasan APBD dengan DPRD, (4) penetapan peraturandaerah
tentang APBD, dan (5) penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran.
2. Sistem dan Prosedur Pelaksanaan Anggaran
Secara umum, sistem dan prosedur pelaksanaan anggaran meliputi antaralain sistem dan prosedur (1) pendapatan
dan (2) belanja.Namun sejak adanya Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 TentangPengelolaan Keuangan
Daerah, penerimaan pembiayaan dipisahkan daripendapatan, dan pengeluaran pembiayaan dipisahkan dari belanja,
meskipunsecara sistem dan prosedur sangat terkait.
Selain pendapatan, belanja dan pembiayaan, pemerintah daerah jugamengelola aset dan kewajiban. Aset dan
kewajiban tersebutdipertanggungjawabkan dalam neraca.
3. Sistem dan Prosedur Pertanggungjawaban
Sistem dan prosedur pertanggungjawaban pelaksanaan APBD merupakansistem dan prosedur penyusunan laporan
pertanggungjawaban pelaksanaanAPBD. Sistem dan prosedur pertanggungjawaban yang diatur dalamPeraturan
Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 meliputi sistem danprosedur pada (1) SKPD dan (2) SKPKD.
Sistem dan prosedur pertanggungjawaban sebelum peraturan tersebutdilakukan secara terpusat pada biro/bagian
keuangan.
Sesuai dengan SAP dan peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait pengelolaan keuangan daerah,
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD diungkapkan dalam LKPD, yang terdiri atas (1) laporan realisasi APBD, (2)
neraca, (3) laporan arus kas, dan (4) catatan atas laporan keuangan dilampiri ikhtisar laporan keuangan perusahaan
daerah dan badan lainnya.