Anda di halaman 1dari 15

KEBIJAKAN DAN PROGRAM KESEHATAN

LANSIA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :

KELOMPOK 11
Iin Cintami Pangabean
Risa Safitri
Titik Puspitasari
DOSEN PEMBIMBING:
ROSETY

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT selalu kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan
karuniaNYA makalah kami yang berjudul kebijakan dan program kesehatan lansia telah dapat
terselesaiakan. Kemudian tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu dosenyang
telah banyak memberikan pengetahuan kepada kami demi terciptanya tugas ini.
Sesuai dengan temanya makalah ini menyajikan tentang bagaimana tingkat keberhasilan
program tersebut baik tingkat nasional maupun tingkat propinsi.
Kami telah berupaya maksimal, namun pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan
kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan makalah
kami dimasa yang akan datang..
.
Medan,05 April 2013

Kelompok 11

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat
menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan
ditingkatkan kualitasnya. Untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah telah mencanangkan visi
Indonesia sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang penduduknya
hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu, adil, merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi tingginya. Keperawatan
sebagai bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan nasional turut serta ambil bagian dalam
mengantisipasi peningkatan jumlah populasi lansia dengan menitikberatkan pada penanganan di
bidang kesehatan dan keperawatan.
Dalam hal ini penting kiranya diketahui informasi mengenai tingkat kesehatan dan tingkat
ketergantungan lansia di masyarakat. Salah satu pelayanan kesehatan di masyarakat adalah
posyandu lansia.
Posyandu adalah fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang didirikan di desadesa kecil
yang tidak terjangkau oleh rumah sakit atau klinik. Tujuan program posyandu lansia adalah
memberdayakan kelompok lansia sehingga mereka mampu untuk menolong dirinya sendiri
dalam mengatasi masalah kesehatannya serta dapat menyumbangkan tenaga dan kemampuannya
untuk kepentingan keluarga dan masyarakat. Kegiatan-kegiatan dalam posyandu lansia akan
dikembangkan lebih bersifat mempertahankan derajat kesehatan, meningkatkan daya ingat,
meningkatkan rasa percaya diri dan kebugaran lansia).
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka latar belakang rumusan permasalahan ini
adalah untuk mengetahui tingkat kesehatan dan tingkat ketergantungan lansia di masyarakat serta
pelayanan kesehatan lansia.

3. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang kami gunakan adalah :
Bab I Pendahuluan yang memuat latar belakang masalah
Bab II memuat kebijakan dan keberhasilan kesehatan lansia ditingkat nasional.
Bab II memuat kebijakan dan keberhasilan kesehatan lansia ditingkat Propinsi
Bab IV pembahasan
Bab V penutup yang memuat kesimpulan dan saran

BAB II

KESEHATAN LANSIA SECARA NASIONAL

A.

KEBIJAKAN DAN PROGRAM KESEHATAN LANSIA SECARA NASIONAL


Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia

(aging struktured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas sekitar
7,18%. Provinsi yang mempunyai jumlah penduduk Lanjut Usia (Lansia)nya sebanyak 7%
adalah di pulau Jawa dan Bali. Peningkatan jumlah penduduk Lansia ini antara lain disebabkan
antara lain karena 1) tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat, 2) kemajuan di bidang
pelayanan kesehatan, dan 3) tingkat pengetahuan masyarakat yang meningkat.
Jumlah Penduduk Lansia Indonesia
Tahun Usia Harapan Hidup Jumlah Penduduk Lansia %
1980 52,2 tahun 7.998..543 5,45
1990 59,8 tahun 11.277.557 6,29
2000 64,5 tahun 14.439.967 7,18
2006 66,2 tahun +19 juta 8,90
2010 (prakiraan) 67,4 tahun +23,9 juta 9,77
2020 (prakiraan) 71,1 tahun +28,8 juta 11,34
Jumlah penduduk Lansia pada tahun 2006 sebesar kurang lebih 19 juta, usia harapan
hidup 66,2 tahun, pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 23,9 juta (9,77%), usia harapan
hidupnya 67,4 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%), dengan usia
harapan hidup 71,1 tahun. Dari jumlah tersebut, pada tahun 2010, jumlah penduduk Lansia yang
tinggal di perkotaan sebesar 12.380.321 (9,58%) dan yang tinggal di perdesaan sebesar
15.612.232 (9,97%). Terdapat perbedaan yang cukup besar antara Lansia yang tinggal di
perkotaan dan di perdesaan. Perbedaan ini bisa jadi karena antara lain Lansia yang tadinya
berasal dari desa lebih memilih kembali ke desa di hari tuanya, dan mungkin juga bisa jadi
karena penduduk perdesaan usia harapan hidupnya lebih besar karena tidak menghirup udara
yang sudah berpolusi, tidak sering menghadapi hal-hal yang membuat mereka stress, lebih
banyak tenteramnya ketimbang hari-hari tiada stress atau juga bisa jadi karena makanan yang

dikonsumsi tidak terkontaminasi dengan pestisida sehingga membuat mereka tidak mudah
terserang penyakit sehingga berumurpanjang.
Namun jika dilihat pada tahun 2020 walaupun jumlah Lansia tetap mengalami kenaikan
yaitu sebesar 28.822.879 (11,34%), ternyata jumlah Lansia yang tinggal di perkotaan lebih besar
yaitu sebanyak 15.714.952 (11,20%) dibandingkan dengan yang tinggal di perdesaan yaitu
sebesar 13.107.927 (11,51%).
Kecenderungan meningkatnya Lansia yang tinggal di perkotaan ini bisa jadi disebabkan
bahwa tidak banyak perbedaan antara rural dan urban. Karena pemusatan penduduk di suatu
wilayah dapat menyebabkan dan membentuk wilayah urban. Suatu contoh bahwa untuk
membedakan wilayah rural dan urban di antara kota Jakarta dan Bekasi atau antara Surabaya
dengan Sidoarjo serta kota-kota lainnya kelihatannya semakin tidak jelas. Oleh karena itu
benarlah kata orang bahwa Pantura adalah kota terpanjang di dunia, tidak jelas perbatasan antara
satu kota dengan kota lainnya.
Alasan lain mengapa pada tahun 2020 ada kecenderungan jumlah penduduk Lansia yang
tinggal di perkotaan menjadi lebih banyak karena para remaja yang saat ini sudah banyak
mengarah menuju kota, mereka itu nantinya sudah tidak tertarik kembali ke desa lagi, karena
saudara, keluarga dan bahkan teman-teman tidak banyak lagi yang berada di desa. Sumber
penghidupan dari pertanian sudah kurang menarik lagi bagi mereka, hal ini juga karena pada
umumnya penduduk desa yang pergi mencari penghidupan di kota, pada umumnya tidak
mempunyai lahan pertanian untuk digarap sebagai sumber penghidupankeluarganya.
Selain itu bahwa di masa depan sektor jasa mempunyai peran yang penting sebagai
sumber penghidupan. Oleh karena itu suatu negara yang tidak mempunyai sumber daya alam
yang cukup maka di era globalisasi akan beralih kepada sektor jasa sebagai sumber
penghasilannya, contoh negara Singapura. Pada hal sektor jasa dapat berjalan dan hidup hanya di
daerah perkotaan.

1. Kebijakan
UU dan peraturan yang terkait dengan penanganan Lansia

Indonesia telah memiliki perundang-undangan, keputusan, peraturan dan kebijakan untuk


penganan lanjut usia diantaranya:

UUD 45 pasal 28 H , setiap orang ber hak atas jaminan sosial yang memungkinkan

pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.

UU No. 13/98 tentang kesejahteraan Lansia yang mengamanatkan kepada pemerintah


berkewajiban memberikan pelayanan dan perlindungan sosial bagi Lansia. agar mereka dapat
mewujudkan dan menikmati taraf hidup yang wajar. Amanat terurai dalam pasal-pasal untuk 12
departemen, lembaga non departemen serta kepada unsure masyarakat.

UU No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional khususnya yang menyangkut
jaminan sosial bagi Lansia UU. No. 11/2009 tentang kesejahteraan sosial
Keppres 52/2004 tentang Komnas Lansia Permendagri No.60/2008 tentang pembentukan
Komda Lansia dan pemberdayaan masyarakat
RAN 2003 dan 2008 tentang Kesejahteraan Sosial Lansia
Identifikasi permasalahan
Sesuai hasil penelitian yang dilakukan masih diperoleh kenyataan bahwa :

Sosialisasi UU, Keputusan, Peraturan, kebijakan yang terkait Lansia minim.


Implementasi UU No. 13/98 di pusat maupun di daerah masih terbatas
Implementasi UU No. 40/2004 tentang SJSN dan UU No. 11 Tahun 2009 tentang

kesejahteraan sosial masih menunggu penerbitan PP nya.


Koordinasi dan keterpaduan lintas sektor (antara unsur pemerintah, swasta dan masyarakat )
belum efektif khususnya dalam perencanaan program yang terkait penanganan Lansia
Pelayanan dan pemberdayaan Lansia oleh unsur pemerintah, masih dihadapkan berbagai
keterbatasan.
Peran Komda Lansia belum sepenuhnya efektif, perlu fungsionalisasi dan penguatan peran
kelembagaan.

Penanganan Lansia masih banyak bersandar kepada keluarga dan upaya yang berbasis
masyarakat.

Monitoring dan evaluasi

pelaksanaan bantuan

kepada Lansia terlantar (JSL dan

Jamkesmas) masih terbatas.

Pemberdayaan Lansia dibidang sosial, ekonomi, diklat, dan lain-lainnya belum optimal
Peran Komnas

Meningkatkan kesadaran tentang dampak masalah Lansia terutama mengenai pertumbuhan


yang pesat, kenaikan angka ketergantungan, kondisi kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan
pada umumnya yang masih rendah. Mendorong masyarakat agar lebih peduli dan berperan serta
dalam penanganan Lansia.
Meningkatkan kesadaran dan kepedulian dengan sosialisasi tentang UU 13/98, Keppres 52/04,
RAN, Permendagri 60/08, UU 11/09 secara berkelanjutan.
Mengkoordinasikan upaya pemberdayaan Lansia potensial

untuk berpartisipasi dalam

pembangunan dan kegiatan masyarakat dengan bekerjasama antar departemen terkait dan
organisasi kemasyarakatan.
Mengkoordinasikan lintas sektor dalam Perencanaan Program agar lebih menyentuh
kepentingan Lansia.
Penguatan peran Komda sebagai ujung tombak peningkatan kesejahteraan Lansia
Meningkatkan kepedulian kalangan swasta, perguruan tinggi dan LSM melalui forum
kerjasama,saresehan, seminar dan lokakarya.
Melakukan pengkajian dan penelitian instrumen perundang-undangan yang terkait dengan
kepentingan Lansia serta penelitian kondisi dan kebijakan sosial ekonomi dan kesehatan Lansia
2. Program
Contoh upaya pemerintah di negara maju dalam meningkatkan kesehatan masyarakatnya,
diantaranya adanya medicare dan medicaid. Medicare adalah program asuransi social federal
yang dirancang untuk menyediakan perawatan kesehatan bagi lansia yang memberikan jaminan
keamanan social. Medicare dibagi dua : bagian A asuransi rumah sakit dan B asuransi medis.
Semua pasien berhak atas bagian A, yang memberikan santunan terbatas untuk perawatan rumah
sakit dan perawatan di rumah pasca rumah sakit dan kunjungan asuhan kesehatan yang tidak
terbatas di rumah. Bagian B merupakan program sukarela dengan penambahan sedikit premi
perbulan, bagian B menyantuni secara terbatas layanan rawat jalan medis dan kunjungan dokter.
Layanan mayor yang tidak di santuni oleh ke dua bagian tersebut termasuk asuhan keperwatan
tidak terampil, asuhan keperawatan rumah yang berkelanjutan obat-obat yang diresepkan, kaca
mata dan perawatan gigi. Medical membayar sekitar biaya kesehatan lansia (U.S Senate
Committee on Aging, 1991).
Medicaid adalah program kesehatan yang dibiayai oleh dana Negara dan bantuan
pemerintah bersangkutan. Program ini berbeda antara satu Negara dengan lainya dan hanya
diperuntukan bagi orang tidak mampu. Medicaid merupakan sumber utama dana masyarakat

yang memberikan asuhan keperawatan di rumah bagi lansia yang tidak mampu. Program ini
menjamin semua layanan medis dasar dan layanan medis lain seperti obta-obatan, kaca mata dan
perawatan gigi.

BAB III
TINGKAT KESEHATAN LANSIA DI PROVINSI

A. KEBIJAKAN DAN PROGRAM

Adapun program kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia yang diperuntukkan


khusunya bagi lansia adalah JPKM yang merupakan salah satu program pokok perawatan
kesehatan masyarakat yang ada di puskesmas sasarannya adalah yang didalamnya ada keluarga
lansia. Perkembangan jumlah keluarga yang terus menerus meningkat dan banyaknya keluarga
yang berisiko tentunya menurut perawat memberikan pelayanan pada keluarga secara
professional. Tuntutan ini tentunya membangun Indonesia Sehat 2010 yang salah satu
strateginya adalah Jaminan Pemeliharan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Dengan strategi ini
diharapkan lansia mendapatkan yang baik dan perhatian yang selayakn
Kewajiban pemerintah tersebut tertuang jelas di dalam Undang-Undang No.13 tahun
1998 tentang Kesejahteraan Lansia. Pada pasal 5, dituliskan delapan hak para lansia yang harus
dipenuhi pemerintah berkaitan dengan kesejahteraan sosialnya. Diantaranya mendapatkan
perlindungan social, bantuan social dan pelayanan kesehatan.

BAB IV
PEMBAHASAN
Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lansia, pemerintah telah merumuskan
berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat
kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam

kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Sebagai wujud nyata
pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini, pemerintah telah mencanangkan
pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat
adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan
pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu
wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan
pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program
Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi
sosial dalam penyelenggaraannya.
Tujuan Posyandu Lansia
Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain :
a.

Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk

pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia


b. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam
pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.
Sasaran posyandu lansia
Sasaran langsung:
- Pra usia lanjut (pra senilis) 45-59 thn
- Usia lanjut 60-69 thn
- Usia lanjut risiko tinggi: usia lebih dari 70 thn atau usia lanjut berumur 60 thn atau lebih dgn
masalah kesehatan
Sasaran tidak langsung:
- Keluarga dimana usia lanjut berada
- Masyarakat di lingkungan usia lanjut
- Organisasi sosial yg peduli
- Petugas kesehatan
-

Masyarakat luas

Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia


Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang
diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan
kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan
posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem
pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut :
-

Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan
Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT).

Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II
ini.
Meja III : melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan
pelayanan pojok gizi.
Kendala Pelaksanaan Posyandu Lansia
Beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain :
Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.
Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam
kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan
penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah
kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi
meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi
mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia
Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus
mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik
tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor
keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk
menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius,
maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu.

Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk
menghadiri posyandu lansia.
Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang
ke posyandu.
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk
mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila
selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan
lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan
bersama lansia.
Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu.
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau
kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia
cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini
dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap
suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara
tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons.
Bentuk Pelayanan Posyandu Lansia
Pelayanan Kesehatan di Posyandu lanjut usia meliputi pemeriksaan Kesehatan fisik dan
mental emosional yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk
mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan
yang dihadapi.
Jenis Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di Posyandu Lansia seperti:
a.

Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti

makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan
sebagainya.
b. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan
menggunakan pedoman metode 2 (dua ) menit.
c.

Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan

dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).


d.

Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan

denyut nadi selama satu menit.


e.

Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat

f.

Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes

mellitus)
g.

Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya

penyakit ginjal.
h. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada
pemeriksaan butir 1 hingga 7. Dan
i.

Penyuluhan Kesehatan.
Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat seperti Pemberian

Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan
kegiatan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran.
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia, dibutuhkan, sarana dan
prasarana penunjang, yaitu: tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka), meja dan
kursi, alat tulis, buku pencatatan kegiatan, timbangan dewasa, meteran pengukuran tinggi badan,
stetoskop, tensi meter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer, Kartu Menuju Sehat
(KMS) lansia.

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lansia, pemerintah telah merumuskan
berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat
kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam
kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Sebagai wujud nyata
pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini, pemerintah telah mencanangkan
pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat

adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan
pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah
tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan
pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program
Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi
sosial dalam penyelenggaraannya.
B. SARAN
Kita ketahui lansia ini akan banyak menderita penyakit contoh hipertensi, stroke,
osteoporosis dll. Maka para lansia diharapkan mengikuti program-program pemerintah untuk
mengetahui perubahan atau perkembangan kesehatannya dan keluarga juga harus mendukung
program ini
diharapkan juga para lanjut usia melakukan pola hidup sehat yakni dengan mengkonsumsi
makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik/olahraga secara benar dan teratur serta
tidak merokok

DAFTAR PUSTAKA
Maryam, R siti.Mengenal Usia Lanjut dan Perawatanya. 2008. Jakatra: Salemba medika
Mubarak Wahid iqbal,dkk. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. 2006. Jakarta: Sagung Seto
Situart dan Sundart. Keperawatan Medikal Bedah 1.2001. Jakarta: EGC