Anda di halaman 1dari 11

AKUNTANSI SEBAGAI SAINS ALAM

ATAUKAH SAINS SOSIAL


Pendahuluan
Dari beberapa artikel yang di telusuri telah kami temukan banyak perdebatan
yang mengkaji tentang apakah akuntansi sebagai sains alam atau sains social,
sehingga ini menjadi hal menarik untuk dibahas. Setelah berabad-abad penelitian
akuntansi hanya dikenal sebagai penelitian yang berdasarkan pada penelitian
kuantitatif (sains alam) sehingga dikatakan sebagai arus utama, seperti yang
dipaparkan (Riahi-Belkaoui, 1996) Pada jaman dahulu akuntansi cuma dipandang
sebagai pseudo-science (sains semu). Akan tetapi dierah saat ini penelitian akuntansi
telah mengalami banyak perkembangan yang signifikan setelah penelitian sosial
digabungkan ke dalam penelitian akuntansi, salah satu karya yang menjadi inspirasi
penelitian akuntansi sosial yang diprakarsai oleh Burrel dan Morgan (1979).
Penelitian kuantitatif (sains alam), memahami kejadiaan sosial sebagai
sesuatu yang mempunyai sebab akibat dan semuanya dikuantitifkan atau dinilai
dengan angka-angka. seperti pada jurnal (Budgeting Research: Three Theoretical
Perspectives and Criteria for Selective Integration (Covaleski, Evans, Luft, &
Shields, 2003); Dalam Djamhuri 2011). Dimana dalam jurnal ini peneliti
memanfaaatkan tiga ilmu sosial, yakni ekonomi, psikologi dan sosiologi, kemudian
menjelaskan hubungan sebab akibat yang terjadi di balik praktik penganggaran
dengan lebih menyeluruh.
Sebaliknya penelitian kualitatif (sains), menilai kejadiaan sosial merupakan
diluar individu dan untuk memahaminya harus dilakukan dengan observasi yang
mendalam. Perdebatan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif sampai saat ini
masih terus berlangsung, sehingga muncul jalan tengah atau alternatif untuk
memadukan kedua metode penelitian yaitu mixed method. Menurut Djamhuri (2011)
bahwa Model riset mixed methods hanyalah salah satu contoh yang mungkin bisa
diwujudkan melalui cara pandang yang nonkonvensional. Sesuai dengan istilah yang
digunakan

sebagai

padanan

dari

cara

pandang

nonkonvensional,

istilah

nonkonvensional lebih menekankan kepada cara pandang yang tidak monolitik dan
tidak didasarkan atas logika dan pemikiran yang mengedepankan oposisi biner.
Dari beberapa penjelasan diatas maka kami tertarik untuk menyusun makalah
yang terkai dengan pembuktian akkuntansi sebagai sains alam ataukah sain social.

1. Pengertian Akuntansi
Pengetahuan mengenai akuntansi dapat dilihat dari beberapa pengertian
diantaranya, akuntansi didefinisikan oleh American Accounting Assosietion sebagai
proses mengedintifikasikan ekonomi, untuk memungkinkan adanya penilaian dan
keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut
(Soemarso, 2002:3).
Akuntansi menurut Accounting Principle Board (APB) dalam Statement No.
4 disebutkan:Akuntansi adalah sebuah kegiatan jasa (service activity) fungsinya
adalah untuk memberikan informasi kuantitatif, umumnya yang bersifat finansial,
tentang entitas-entitas ekonomi yang dianggap berguna dalam pengambilan
keputusan-keputusan ekonomi, dalam penentuan pilihan-pilihan logis di antara
tindakan-tindakan alternatif. sedangkan American Institute of Certified Public
Accountants (AICPA) dalam Accounting Terminology Bulletin No. 1, tahun 1953
menyatakan:

Akuntansi

adalah

seni

pencatatan,

pengelompokkan

dan

pengikhtisaran dengan cara yang berarti, atas semua transaksi dan kejadian yang
bersifat keuangan, serta penafsiran hasil-hasilnya. sementara beberapa pakar
menyebutkan defenisi Akuntansi sebagai berikut : Paul Grady dalam ARS No. 7,
AICPA, 1965, mendefenisikan: Akuntansi merupakan suatu body of knowledge serta
fungsi organisasi yang secara sistematik, orisinal dan autentik, mencatat,
mengklasiflkasikan,

memproses,

mengikhtisarkan,

menganalisis,

menginterpretasikan seluruh transaksi dan kejadian serta karakter keuangan yang


terjadi dalam operasi entitas akuntansi dalam rangka menyediakan informasi yang
berarti yang dibutuhkan manajemen sebagai laporan dan pertanggungjawaban atas
kepercayaan yang diterimanya.
Dari pengertian akuntansi diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah
body of knowledge atau seperangkat pengetahuan yang dihasilkan dari suatu proses
pemikiran dan tindakan digunakan untuk memberikan informasi kepada pengguan
dengan memadukan seni dalam mencatat, mengelompokan,, dan mengikhtisarkan,
sampai pada menafsirkan hasil dari transaksi keuangan.

2. Akuntansi sebagai (Sains Alam)


Menurut

Wikipedia; Sains alam atau ilmu pengetahuan alam (natural

science) merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam
dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan di mana pun.
Penelitian kuantitif dengan menggunakan alat statistic diakui semenjak abad ke-18
sampai saat ini. Penelitian kuantatif bersumber dari filsafat positivisme Comte yang
menolak metaphsik dan teologi atau setidak-tidaknya menudukan methapisik dan
teologik sebagai primitif (Muhadjir, 2000:12).
Penelitian kuantitatif (Sains Alam) merupakan penelitian yang terstruktur dan
sistematis terhadap fenomena yang terjadi. Dalam penelitian bisnis, penelitian
kuantitaif di artikan sebagai suatu investigasi yang sistemis, terkontrol, empiris dan
kritis mengenai suatu fenomena yang menjadi perhatian pengambilan keputusan
menejerial (David dan Cozenza dalam Kuncoro, 2003:3).
Penelitian kuntitatif dalam ilmu akuntansi lebih dikenal sebagai penelitian
positivistik yang didasarkan pada ilmu filsafat yaitu terkait ontolologi. Triwiyono
(2012:237), menjelaskan paradigm positivisme menekankan diri pada (praktek)
akuntansi sebagaimana adanya (as it is).
Sebuah paper yang tulis oleh Djamhuri (2011), menjelaskan bahwa dari ilmu
pengetahuan positivist adalah naturalism. Prinsip ini menekankan pada keyakinan
bahwa asumsi-asumsi serta metoda yang lazim diterapkan dalam ilmu pengetahuan
alam sepenuhnya bisa diterapkan dalam mengkaji fenomena sosial. Dua prinsip
lainnya

yang

menjadi karakteristik ilmu pengetahuan yang

positivism adalah

pertama,

orientasinya

untuk

menghasilkan

berperspektif
hukum-hukum

keilmuan dari setiap kajian atau penelitian keilmuan yang dilakukan, serta, yang
kedua, sikap dan pandangan ilmu pengetahuan yang menempatkan fakta sebagai
satu-satunya dasar dari semua pernyataan ilmiah seperti teori atau hukum-hukum
keilmuan. Prinsip pertama lazim dikenal dengan prinsip nomothetical atau nomotetik
(Smith, 1998 dalam Djamhuri, 2011)
Dari berbagai paparan atas penelitian Kuantitatif atau positivisme maka
kesimpulan yang bisa diambil adalah secara umum penelitian ini cenderung melihat
realitas/kenyataan disekitarnya yang mana bersifat

tetap dan tidak mengalami

perubahan yang pada akhirnya dinilai dengan angka-angka (matematika).

3.

Akuntansi sebagai (Sains Sosial)


Akuntansi sebagai sains social dapat dibuktikan dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Mautz (1963) yang menyatakan bahwa Akuntansi berurusan
dengan perusahan, yang merupakan kelompok sosial; akuntansi berkaitan dengan
transaksi dan peristiwa ekonomik lain yang memiliki konsekuensi sosial dan
mempengaruhi hubungan sosial; akuntansi menghasilkan pengetahuan yang
berguna dan bermakna bagi manusia yang terlibat dalam aktivitas yang memiliki
implikasi sosial; akuntansi terutama bersifat mental. atas dasar pedoman yang
tersedia tersebut, akuntansi adalah sebuah sanis sosial selain itu adapaun
pembuktian yang dilakukan oleh Roslender (1992) yang meneruskan apa yang
dirintis oleh Burell & Morgan (1979) dengan menulis buku khusus membahas
akuntansi modern dilihat dari sudut pandang sosiologi. meskipun berbeda dalam
melakukan kategorisasi prespektif sosiologisnya namun bisa dikatakan kedua
taksonomi tersebut juga serupa dalam hal-hal yang sama yakni menggunakan
pendekatan bipolar continuum untuk dua hal yang ingin dijadikan dasar
pengkategorian. Model Quadran Burrell dan Morgan (1979) dibangun di atas dua
dimensi independen yang diletakkan berdasarkan asumsi atas karekter hakikat dari
ilmu pengetahuan sosial dan masyarakat. Kemudian dalam ilmu sifat dasar social
terdapat empat asusmsi dasar oleh Burrel dan Morgan (1979) :
1. Ontology : asumsi-asumsi yang membahas hal yang sangat esensial
mengenai fenomena yang diselidiki. Apakah sesuatu itu benar-benar ada atau
hanya merupakan ide yang ada dalam pikiran.
2. Epistemology: asumsi-asumsi yang membahas bagaimana asal-usul suatu
fenomena
3.

awalnya

dipahami

sehingga

kemudian

muncul

sebagai

pengetahuan yang dipelajari manusia.


Human nature: asumsi-asumsi yang membahas apakah manusia
dipengaruhi atau ditentukan oleh lingkungannya atau manusia memiliki

kehendak bebas dan bisa menentukan sendiri seperti apa lingkungannya.


4. Methodology: ketiga asumsi sebelumnya menentukan metodologi apa yang
akan digunakan ketika menyelidiki suatu fenomena.
Dari asumsi diatas bisa dilihat bahwa point 1-3 (Ontology,
Epistemology, dan Human nature) merupakan bagian dari cabang ilmu
filsafat, yang mempunyai tujuan yang berbeda seperti yang telah dibahas,
sehingga dapat disimpulkan bahwa ketiga asumsi diatas memiliki hubungan
erat dengan dengan Methodology dimana setiap masing-masing asumsi yang

akan digunakan akan berpengaruh pada methodology atau cara penelitian


yang akan dilakukan dan bagaimana pengetahuan yang akan didapatkan.
Sehingga penyebab dari adanya asumsi dasar ontologi, epistemology dan
hakikat manusia, maka timbulah berbagai macam perspektif atas ilmu
pengetahuan dalam

mencari suatu kebenaran, dan dampaknya atas

perbedaaan tersebut adalah timbulah konsekuensi saling klaim pembenaran


dan penyalahana dari paradigma riset yang dilakukan.
4. Paradigma Penelitian
Ada dua titik ekstrem pada pandangan tersebut. Salah satunya memandang bahwa
realitas sosial adalah sesuatu yang kokoh (hard), eksternal dan objektif. Sedangkan
pandangan kedua lebih menekankan pentingnya pengalaman subjektif individu
dalam menciptakan dunia social Kedua titik ekstrem subjektif dan objektif ini
memiliki pendekatan dan asumsi yang berbeda terhadap ilmu sosial. Perbedaan
tersebut digambarkan dalam skema oleh Burrel dan Morgan (1979). Adapun
perdebatan keduanya sebagai berikut :

a. Nominalisme Realisme : Debat Ontologi


Nominalisme berasumsi bahwa dunia sosial berada diluar indivisu dan tidak
lebih dari sekedar nama, konsep dan label yang digunakan untuk membentuk
realitas. Realisme menyatakan bahwa dunia sosial berada di luar individu
adalah dunia nyata yang terbuat memiliki struktur keras, nyata dan relatif, dan
secara realita.

.
b. Anti Positivisme Positivisme : Debat Epistemologi
Anti Positivisme berusaha untuk mencari aturan atau kebiasaan dalam dunia
sosial. Anti Positivisme menganggap dunia sosial adalah reltifisik dan hanya
dapat dipahami dari sisi pandang individual yang terlibat secara langsung
dalam aktivitas yang sedang diteliti. Sedangkan positivisme menjelaskan dan
memperkirakan apa yang terjadi dalam dunia sosial dengan meneliti kebisaan
serta hubungan kausal antara elemen-elemen yang saling berhubungan.
Berdasarkan pada pendekatan tradisional didominasi ilmu natural.
c. Voluntarisme Determinisme : Debat Hakikat Manusia
Aliran determenisme memandang bahwa manusia dan aktivitasnya sanat
ditentukan oleh situasi atau lingkungan dimana dia berada. Sebaliknya aliran
voluntarisme memandang bahwa manusia sangat mandiri dan bebas.

d. Idiografik- Nomethetic: Metodologi


Indiografik memandang bahwa seseorang hanya dapat memahami dunia sosial
dengan mengumpulkan informasi atau pengetahuan pertama dari subjek
dengan mendekatkan peneliti dengan subjek didapatkan detail yang lengkap
mengenai sejarah dan latar belakang. Indiografik menekankan analisa secara
subjektif yang didapatkan dengan masuk ke dalam situasi yang terjadi.
Sedangkan nomethetic menekankan pada oentingnya pelaksanaan penelitian
berdasarkan pada teknik dan sistematis, di mana difokuskan pada proses
pengujian hipotesis dengan serangkaian tes, teknik kuantitatif untuk analisis
data, survey, kuesioner, tes kepribadian maupun alat pengujian standar lainnya.

5. Pembagian Paradigma dalam Penelitian Akuntansi


Dalam sosiologi, terutama sosiologi organisasi, Burrell dan Morgan (1979)
bisa dikatakan sebagai peletak fondasi atas kategorisasi secara sistematik perspektif
sosiologis dalam pengkajian atas masalah-masalah organisasi dalam mana akuntansi
termasuk di dalamnya. dalam dimensi ilmu pengetahuan sosial Burrell dan Morgan
(1979) membagi ke dalam empat elemen yang saling berhubungan satu dengan

lainnya, yaitu elemen ontologi, elemen epistemologi, elemen hakikat dan karakter
dasar manusia, serta yang terakhir, elemen methodology. Akhirnya keempat elemen
tersebut oleh Burrell dan Morgan (1979) digabungkan dengan polaritas dimensi
realitas sosial, pengetahuan dan perilaku manusia yang subyektif-obyektif sehingga
perpotongannya membentuk kuadran yang merepresentasikan perspektif atau
paradigma sosiologi , yaitu functionalism, interpretive, radical humanist, dan
radical structuralist.

Kuadran Paradigma Ilmu Sosial, Burrell dan Morgan (1979)


i. Functionalism
Paradigma ini digunakan mengarah pada realitas, positifisme, determinisme
dan omothetic. Selanjutnya paradigma ini memiliki pendekatan yang
berusaha untuk menjelaskan hubungan sosial dengan jalan rasional, dengan
orentasi yang pragmatik berkaitan dengan pengetahuan yang tepat guna serta
dapat langsung memecahkan masalah. Paradigma ini yang dikatakan oleh
Chua (1986) lebih menekankan pada ilmu pengetahuan yang terfokus pada
teori dan praktek. Dalam penelitian akuntansi paradigma fungsionalis sering
digunakan sehinga dikatakan sebagai paradigma arus utama karena
memisahkan secara jelas antara subjek dan obyek. Contohnya penelitian yang
menggabungkan antara akuntansi dan matematika.
ii. Interpretive
Paradigma ini menggunakan cara pandang para nominalis yang melihat
realitas sosial sebagai sesuatu yang hanya merupakan label, nama, atau
konsep yang digunakan untuk membangun realitas, dan bukanlah sesuatu

yang nyata, melainkan hanyalah penamaan atas sesuatu yang diciptakan oleh
manusia atau merupakan produk manusia itu sendiri. Dengan demikian,
realitas sosial merupakan sesuatu yang berada pada dalam diri manusia,
sehingga bersifat subjektif bukan objektif . Menurut Chua (1988),
interpretive perspective merujuk kepada tradisi intelektual yang berakar pada
gagasan para filosof idelais Jerman. Dalam tulisan Djhamuri (2011)
berdasarkan Chua (1988), lebih menjelaskan karakteristik interpretivism dari
pada mendefinisikannya. Terdapat point pentng yang bisa di identifikasikan,
yaitu bahwa tradisi interpretivisme ini menekankan pada upaya mengontruksi
(contrutctivis)

dan

menafsirkan

tindakan

masyarakat,

baik

melalui

pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya maupun sebagaimana yang


direfleksikan melalui pengalamn mereka (aktor atau pelaku) yang terlibat
dalam tindakan sosial. Oleh sebab itu, tujuan sosiologi interpretive adalah
menemukan makna tersembunyi yang ada dibalik tindakan-tindakan sosial
sebagaimana dipahami oleh para pelaku (aktor yang diteliti) melalui suatu
upaya pemahaman yang baik.
iii. Radical Humanist
Paradigma ini memiliki ciri utama yang khas seperti komitmennya terhadap
subyektivfitas, constructivist, dan keyakinannya bahwa ilmu pengetahuan
seharusnya berfungsi sebagai alat untuk menaikkan harkat kemanusiaan
mereka yang tertindas oleh sistem yang ada sekarang ini (emancipatory).
Kerangka referensi yang dugunakan untuk memendang pentingnya
masyarakat tidak ada pembatasan dalam pengaturan sosial. Ciri dasar
paradigma ini bahwa kesadaran manusia didominasi oleh struktur idiologi
kuat yang berinteraksi dengan dirinya. Dengan demikian titik sentral
paradigma ini adalah kesadaran manusia.
iv. Radical Structuralist
Paradigma ini adalah adalah subyektifisme dengan menggunakan sosiologi
perubahan radikal. Paradigma ini mengacu pada perubahan radikal,
emansipasi melalui aktivitas keilmuan, namun paradigma ini tidak memiliki
komitmen subyektif dan kontruktivis. Inti focus paradigma ini adalah
hubungan struktural antara dunia sosial dan realitas. Karakter utama, menurut

Triyuwono (2000), terletak pada usaha dekonstruksi yang dilakukan terhadap


semua bentuk logosentrisme yang dibuat oleh modernisme.

Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan di atas terkait pertanyaan pokok apakah akuntansi
sebagai sains alam ataukah sosial ? dapat dijawab dengan beberapa pandangan yaitu
Mautz (1963), yang menyatakan bahwa akuntansi selalu berhubungan dengan
kegiatan social. Kemudian

Burrel dan Morgan (1979), yang menyatakan bahwa

akuntansi bukan sains alam akan tetapi sains sosial. Dimana hal ini dibuktikan
dengan adanya hakikat dari ilmu pengetahuan sosial dan masyarakat yang
dikonseptualisasikan

berdasarkan

empat

kumpulanasumsi

asumsi(Ontology,

Epistemology, Human nature dan Methodology) yang menjelaskan tentang dunia


social yang dilakukan oleh setiap individu yang terlibat.

Referensi

Belkaoui, Riahi Ahmed.2000Teori Akuntansi Buku1,Jakarta: Salemba


Empat.
Burrell, Gibson and Gareth Morgan. 1979. Sociological Paradigms and
Organisational Analysis: Elements of the Sociology of Corporate Life.London:
Heinemann.
Djamhuri, Ali. 2011. Ilmu Pengetahuan Sosial dan Berbagai Paradigma
dalam Kajian Akuntansi. Tidak di Publikasi.
Hery.2009.Teori Akuntansi,Jakarta: Kecana Perenada Media Group
Roslender-Dillard,(2003) Reflections on the Interdiscilinary prespectives on
accounting project Critical Perspectives on Accounting (2003) 14, 325351

MAKALAH

AKUNTANSI SEBAGAI SAINS ALAM


ATAU SAINS SOSIAL
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Akuntansi Multiparadigma

OLEH :
Brigita Pinkan Cecilia
NIM. 146020310011022
Dian Ayu Puspita
NIM.146020310011019
Fadli Fendi Malawat
NIM. 146020310011021

MAGISTER SAINS AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016