Anda di halaman 1dari 21

MASALAH-MASALAH PSIKOSOSIAL

GANGGUAN JIWA BERAT DAN


PENATALAKSANAANNYA

Oleh:
Mariska (0907101010107)
Pembimbing:
dr. Syahrial Sp.KJ

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Masalah psikososial diketahui memainkan
peranan penting dalam hal etiologi,
pemeliharaan, dan penatalaksanaan sejumlah
gangguan jiwa.
Masalah psikososial dapat menjadi faktor
pencetus penting bagi sebuah episode penyakit
dan juga mempengaruhi sebaik apa respon
mereka terhadap pengobatan.

TINJAUAN PUSTAKA

Masalah Psikososial
Stressor psikososial, yang di dalam DSM-IV-TR disebut
sebagai Masalah Psikososial dan Lingkungan, adalah faktor
non organik (predisposisi atau pencetus) yang dapat
mempengaruhi timbulnya penyakit.
Sistem Multiaksial
Aksis I
: Gangguan Klinis
Gangguan Lain yang Menjadi Fokus Perhatian Klinis
Aksis II : Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental
Aksis III : Kondisi Medik Umum
Aksis IV : Masalah Psikososial dan Lingkungan
Aksis V : Penilaian Fungsi Secara Global

Aksis IV : Masalah Psikososial dan Lingkungan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Masalah dengan primary support group


Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
Masalah pendidikan
Masalah pekerjaan
Masalah perumahan
Masalah ekonomi
Masalah akses ke pelayanan kesehatan
Masalah berkaitan interaksi dengan
hukum/kriminal
9. Masalah psikososial dan lingkungan lain

Masalah Psikososial Gangguan Jiwa Berat


Masalah psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa
yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan
seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan
adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya.
Namun tidak semua orang mampu melakukan adaptasi
dan mengatasi masalah tersebut, sehingga timbul keluhan
antara lain stres, cemas, dan depresi.
Masalah psikososial gangguan jiwa berat antara lain:

1.Perkawinan
Permasalahan perkawinan menjadi sumber stres bagi
seseorang misalnya pertengkaran, perceraian dan
kematian salah satu pasangan serta kekerasan dalam
rumah tangga.

2. Problema Orang Tua


Permasalahan yang dihadapi orang tua misalnya tidak
memiliki anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak
sakit dan hubungan yang tidak baik antara anggota
keluarga. Permasalahan tersebut apabila tidak dapat
diatasi oleh yang bersangkutan maka seseorang akan jatuh
sakit.

3. Hubungan Interpersonal (Antar Pribadi)


Setiap orang dalam masyarakat adalah sumber-sumber
dan pusat efek psikologis yang berlangsung pada
kehidupan orang lain. Hubungan antar sesama
(perseorangan/individual) yang tidak baik dapat merupakan
sumber stres. Misalnya hubungan yang tidak serasi, tidak
baik atau buruk dengan kawan dekat atau kekasih, antara
sesama rekan, antara atasan-bawahan, pengkhianatan,
dan lain sebagainya.

4. Pekerjaan
Kehilangan pekerjaan (PHK, pensiun) yang berakibat pada
pengangguran akan berdampak pada gangguan kesehatan
bahkan bisa sampai pada kematian. Sebaliknya, terlalu
banyak beban pekerjaan sementara waktu yang tersedia
sangat sempit dapat menyebabkan stres pula.

5. Lingkungan Hidup
Kondisi lingkungan hidup yang buruk besar pengaruhnya
bagi kesehatan seseorang. Yang tidak kalah pentingnya
adalah suasana kehidupan yang bebas dari gangguan
kriminalitas yaitu keamanan dan keterlibatan masyarakat.

6. Keuangan
Masalah keuangan dalam kehidupan sehari-hari
merupakan stresor utama. Misalnya pendapatan lebih kecil
dari pengeluaran, terlibat hutang, kebangkrutan usaha, soal
warisan, dan lain sebagainya.

7. Hukum
Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum dapat
merupakan sumber stres. Misalnya, tuntutan hukum,
pengadilan, penjara dan lain sebagainya. Selain daripada
itu ditegakkannya supremasi hukum yang berdampak pada
ketidakadilan dapat pula merupakan sumber stres.

8. Penyakit Fisik atau Cedera


Berbagai penyakit fisik terutama yang kronis dan atau
cedera yang mengakibatkan invaliditas dapat
menyebabkan stres pada diri seseorang. Sebagai contoh,
misalnya penyakit jantung, paru-paru, stroke, kanker,
pengerasan hati, HIV/AIDS, dan kecelakaan.

9. Faktor Keluarga
Anak dan remaja dapat pula mengalami stres yang disebabkan karena
kondisi keluarga yang tidak harmonis. Misalnya:
Hubungan kedua orang tua yang dingin atau penuh ketegangan atau
acuh tak acuh
Kedua orang tua jarang di rumah dan tidak ada waktu untuk bersama
dengan anak-anak
Komunikasi antara orang tua dan anak yang tidak serasi
Kedua orang tua yang berpisah (separate) atau bercerai (divorce)
Salah satu orang tua menderita gangguan jiwa atau kelainan
kepribadian
Orang tua dalam mendidik anak kurang sabar, pemarah, keras, dan
otoriter.

10. Trauma
Gangguan stres pasca trauma (PTSD) adalah gangguan
stres akibat seseorang mengalami suatu peristiwa
traumatik yang luar biasa di luar kemampuan manusia
secara umumnya. Seseorang yang mengalami bencana
alam, kecelakaan transportasi, kebakaran, kerusuhan,
peperangan, kekerasan, penculikan, perampokan,
perkosaan, kehamilan diluar nikah, dan lain sebagainya,
merupakan pengalaman traumatis yang pada gilirannya
yang bersangkutan dapat mengalami stres pasca trauma.

PENATALAKSANAAN
Tatalaksana perlu dilakukan secara integrasi, baik dari aspek
psikofarmakologis (terapi somatik) dan aspek psikososial. Hal ini
berkaitan dengan tiap penderita yang merupakan seseorang
dengan sifat individual, memiliki keluarga dan sosial psikologis
yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan gangguan bersifat
kompleks karena itu perlu penanganan dari aspek psikososial.
Penatalaksanaan yang diberikan secara komprehesif pada
penderita gangguan jiwa berat menghasilkan perbaikan yang
lebih optimal dibandingkan penatalaksanaan secara tunggal.
Penatalaksanaan psikososial umumnya lebih efektif diberikan
pada saat penderita berada dalam fase perbaikan dibandingkan
pada fase akut.

Terapi Okupasional
Beberapa pasien, contohnya pasien skizofrenia kronik,
mungkin kehilangan atau tidak pernah memiliki ketrampilan
hidup sehari-hari (disebut aktivitas kehidupan sehari-hari
atau disingkat ADL/ Activity of Daily Living). Pada terapi
okupasional, pasien diajarkan keterampilan seperti
berbelanja dan memasak, dan cara menata hidup yang
lebih baik. Pasien dapat diajarkan cara menulis daftar
belanjaan dan selanjutnya dibawa ke toko dan diajarkan
cara membeli barang yang sesuai, yang kemudian dapat
digunakan untuk memasak. Terkadang pasien di bangsal
rawat inap yang lama atau di penampungan komunitas
diperbolehkan memasak makanan bergiliran untuk pasien
lainnya dan staf.

Psikoedukasi
Tujuan intervensi psikoedukasi adalah untuk
memberikan informasi terkait gangguan psikiatri dan
pengobatannya kepada pasien dan/atau
keluarga/pengasuhnya.

Pelatihan Keterampilan Sosial


Tujuan utama pelatihan keterampilan sosial adalah untuk
memudahkan pasien mendapatkan perilaku
antarpersonal yang lebih baik, merawat diri sendiri lebih
baik, dan beradaptasi dengan kehidupan di masyarakat.
Pendekatan yang digunakan meliputi teknik perilaku
(penguatan positif, modelling, dan bermain peran),
rekaman video dan materi psikoedukasi.

Rehabilitasi
Program rehabilitasi digunakan pada pengobatan pasien yang
sakit kronis, seperti pada pasien skizofrenia kronik yang
mengalami kesulitan hidup di luar rumah sakit. Penilaian
disabilitas dan potensi kemampuan pasien dilakukan secara
terperinci. Selanjutnya tujuan ditetapkan dan rencana disusun
untuk mencapainya dengan menggunakan masukan dari ahli,
sukarelawan dan keluarga. Respon terhadap masukan ini
dipantau dan memungkinkan program diubah seperlunya.

Sanggar Kerja yang Dinaungi (Sheltered workshops)


Sanggar ini merupakan tempat yang ditata secara khusus
untuk bekerja, yang memungkinkan pasien dengan penyakit
kronis memperoleh pengalaman kerja dan meningkatkan
harga dirinya. Beberapa pasien nantinya mungkin sukses
bersaing meraih pekerjaan di pasar terbuka.

Akomodasi
Beberapa pasien penyakit kronis tidak mampu hidup mandiri
di masyarakat tetapi juga tidak memerlukan rawat inap penuh.
Pada beberapa kasus, pasien seperti ini dapat dibantu
dengan menempatkannya di penampungan khusus yang
dijalankan oleh staf yang kompeten di bidang psikiatri.
Penempatan ini memungkinkan status mental, kesehatan
fisik, dan pengobatan pasien menjadi terpantau, dan juga
memungkinkan pasien secara bertahap menjalankan aktivitas
sehari-hari di bawah pengawasan yang cermat.
Di beberapa negara, rumah sakit jiwa besar bergaya lama
telah ditutup, kemudian pasien dengan penyakit kronis,
seperti pasien skizofrenia dan disabilitas belajar dipindahkan
ke tengah masyarakat. Pasien ini biasanya di tempatkan di
dalam asrama tertentu.

Layanan Kesehatan Mental Komunitas


Intervensi dini dan layanan penatalaksanaan krisis
memungkinkan pasien dikirim dan ditangani dengan cepat di
tengah masyarakat atau sebagai pasien rawat jalan sehingga
membantu menghindari perlunya rawat inap. Layanan ini
ditawarkan oleh tim multidisiplin, termasuk psikiater dan
perawat psikiatri komunitas, dan menyediakan bentuk
pengobatan murah, yang khususnya berguna di negaranegara yang telah mengalami perubahan penanganan dari
berbasis rumah sakit menjadi perawatan di masyarakat.

TERIMA KASIH