Anda di halaman 1dari 11

Fall

08

Konveksi
Alamiah

LTM Perpindahan Kalor

Nama

: Meidina Sekar Nadisti

NPM

: 1406553045

Kelompok

: 6

Outline

Konveksi Paksa dan Alamiah


Pendekatan Vertikal Konveksi Alamiah Pelat
Datar
Pendekatan Vertikal Konveksi Alamiah Silinder
dan Plane
D e p a r t e m e n Te k n i k K i m i a
F a k u l t a s Te k n i k U n i v e r s i t a s I n d o n e s i a

Konveksi
Alamiah

1.

Konveksi Paksa dan Alamiah

Bagan 1. Perbedaan Konveksi Paksa dan Alamiah

Konveksi Bebas / Alamiah


Gerakan fluida dalam konveksi bebas, baik fluida itu gas maupun zatcair, terjadi karena gaya
apung (buoyancy force) yang dialaminya apabila densitasnya di dekat permukaan berkurang sebagai
akibat proses pemanasan. Karenanya benda yang tercelup akan naik ke atas bila kerapatannya lebih
kecil daripada kerapatan fluida sekitarnya dan akan tenggelam bila kerapatannya lebih besar. Efek gaya
apung tersebut merupakan gaya pendorong dalam konveksi bebas.
Gaya apung itu tidak akan terjadi apabila fluida itu tidak mengalami suatu gaya dari luar seperti
gravitasi (gaya berat), walaupun gravitasi bukanlah satu-satunya medan gaya luar yang dapat
menghasilkan arus konveksi-bebas; Gaya apung yang menyebabkan arus konveksi-bebas disebut gaya
badan (body forces).

2.

Konveksi Alamiah pada Plat Datar

Gambar 1 menunjukkan profil kecepatan konveksi bebas pada plat rata vertikal. Beberapa hal
yang dapat diketahui dari gambar ialah:
Kecepatan di dinding nol dan kondisi no-slip, lalu kecepatan ini terus bertambah hingga
nilai maksimum dan kemudian mencapai nilai nol lagi pada tepi lapisan-batasan.
2

Konveksi
Alamiah

Jenis aliran laminar ada pada mulanya dan kemudian mencapai turbulen pada kondisi
jarak tertentu dalam pipa, yang bergantung pada sifat-sifat fluida dan beda suhu antara
dinding dan lingkungan.
Lapisan batas seperti pada gambar di atas memiliki persamaan gerak yang didapatkan dari
diferensial-integral persamaan-persamaan yang melibatkan persamaan energi luar pada
arah x (sepanjang plat) dengan perubahan fluks momentum dan perubahan tekanan di atas
plat yang terjadi karena perubahan ketinggian dx menghasilkan persamaan gerak untuk
lapisan batas konveksi bebas :

Tetapi penjelasan profil kecepatan tidak berhenti

sampai

disini,

butuh informasi mengenai distribusi suhu juga. Walaupun

gerakan fluida

pada konveksi bebas adalah dipengaruhi oleh perubahan

densitas,

namun hal ini pengaruhnya kecil dan bisa diselesaikan

dengan asumsi

bahwa fluida inkompresibel, sehingga =konstan. Kondisi

batas

yang

berlaku untuk distribusi suhu ini yaitu :

Gambar 1. Boundary Layer, Vertical Flat Plate


(sumber: Holman, J.P. Perpindahan Kalor)

Sehingga persamaan untuk distribusi suhunya didapatkan :

Besarnya koefisien perpindahan panas harus didapat dari hasil percobaan. Banyak penyelidikan
telah dilakukan untuk menentukan koefisien pindah panas itu. Jika berbagai hasil penyelidikan itu
dikumpulkan, ternyata dapat diperoleh persamaan empiris dalam bilangan-bilangan tanpa dimensi,

Konveksi
Alamiah

salah satu di antaranya adalah bilangan Grashof, Grx, yang dibuat untuk menunjukkan sifat-sifat
konveksi bebas :

Koefisien perpindahan kalor konveksi yang ditinjau dari persamaan perpindahan kalornya,
dengan menggunakan persamaan distribusi suhu seperti yang disampaikan di atas, maka didapatkan :

Sehingga persamaan tak berdimensi untuk koefisien perpindahan kalor konveksi rata-rata menjadi :

Angka Grashof merupakan nilai tak berdimensi sebagai perbandingan antara gaya apung dan
gaya viskos dalam aliran konveksi bebas, serupa dengan bilangan Reynold yang juga menyatakan jenis
aliran dan transisi dari laminar ke turbulen berdasarkan besarnya angka ini. Analisis di atas sebelumnya
adalah untuk sistem konveksi bebas pada plat-rata vertikal, sementara itu untuk mendapatkan
persamaan pada sistem lain, perlu dilakukan eksperimen untuk mendapatkan suhu dan profil kecepatan
yang biasanya sulit didapat dengan cara analitis.
Koefisien perpindahan kalor konveksi bebas rata-rata untuk berbagai sistem dinyatakan dalam
fungsi sebagai berikut :

Di mana subskrip f merupaka tinjauan dari suhu film :

dan ada bilangan tak berdimensi

lagi, angka Rayleigh, berupa perkalian angka Grashof dan angka Prandtl. Angka Grashof (Gr) dan
angka Nusselt (Nu) digunakan pada sistem dengan bentuk tertentu; pada plat maka tinjauannya adalah
panjang plat L dan pada silinder tinjauannya adalah pada diameter d, dan seterusnya.

3.

Konveksi Alamiah pada Plane dan Silinder Vertikal

Dalam sistem bidang datar vertikal, kalor dipindahkan dari bidang vertikal ke sebuah fluida
yang bergerak paralel dengan konveksi alamiahnya. Peristiwa ini hanya terjadi ketika fluida yang
bergerak sedikit terkena efek gaya konveksi. Anggap fluida mengalir akibat pemanasan, korelasi
4

Konveksi
Alamiah

berikut dapat digunakan ditambah dengan mengasumsikan fluida adalah sebuah diatomik ideal yang
berbatasan dengan bidang vertikal bertemperatur konstan dan aliran fluida laminar.
Untuk sistem vertikal angka Grashof dan angka Nusselt dibentuk dari panjang plat L sebagai
tinggi permukaan dan diameter silinder, D sebagai dimensi karakteristik. Untuk permukaan yang
isotermal, rumus perpindahan kalor sama antara plat vertikal dengan silinder vertikal (bila tebal lapisan
batas tidak besar dibandingkan diameter silinder), dengan kriteria umum :

dengan nilai-nilai konstanta tersebut diberikan pada tabel 1 pada lampiran. Dan rujukan angka
Nusselt dari perhitungan fluks kalor bahwa rumus di bawah ini merupakan rumus yang dievaluasi dari
suhu film :

Percobaan-percobaan ekstensif mengenai konveksi bebas dari permukaan vertikal pada kondisi
fluks kalor tetap memberikan hasil yang dinyatakan dalam angka Grashof termodifikasi, Gr* :

dimana qw adalah fluks kalor dinding. Maka koefisien perpindahan kalor lokal untuk aliran laminar
dikorelasikan oleh rumus :

Nilai Grx* tidak sama dengan Grx, transisi lapisan batas akan bermula pada Grx* Pr = 3x1012 dan
4x1013 dan berakhir antara 2x1013 dan 1014. Untuk daerah turbulen, koefisien perpindahan kalor
lokal dinyatakan dengan hubungan :

Koefisien konveksi bebas rata-rata untuk kasus fluks kalor tetap di air sama berlaku juga untuk di
udara. Untuk daerah laminar,
5

Konveksi
Alamiah

Berdasarkan persamaan (5) untuk perpindahan kalor lokal pada laminar dengan m =

Untuk daerah turbulen, m = 1/3


.

4.

Contoh Soal

Constant Heat Flux from Vertical Plate


In a plant location near a furnace, a net radiant energy flux of 800 W/m 2 is incident on a
vertical metal surface 3.5 m high and 2 m wide. The metal is insulated on the back side and painted
black so that all the incoming radiation is lost by free convection to the surrounding air at 30 C. What
average temperature will be attained by the plate?

Pendekatan soal ini dengan flux panas pada permukaan konstan. Karena kita tidak tahu temperatur
permukaan, kita harus mengestimasi Tf dan property udara. Estimasi nilai untuk h (konveksi alami)
ialah 10W/m2 oC, jadi

Pada 70oC, properti udara ialah

Konveksi
Alamiah

dengan x=3,5m maka:

menghitung hx:

perpindahan panas turbulen, didapat

atau hx tidak berubah-ubah dengan x kita dapat melakukan pendekatan nilai rata-rata. Nilai h=5,41
W/m2oC kurang dari nilai estimasi Tf. Kalkulasi ulang T, didapat

temperatur baru film akan menjadi


7

Konveksi
Alamiah

pada 104,5oC, properti udara ialah

maka,

lalu, menghitung hx

perbedaan temperatur yang baru ialah

temperatur dinding rata-rata ialah

Konveksi
Alamiah

DAFTAR PUSTAKA
Faghri, A., Zhang, Y., and Howell, J. R., 2010, Advanced Heat and Mass Transfer,

Global

Digital Press, Columbia, MO.


Holman, J.P. 1986. Heat Transfer, 6th ed. New York : Mc Graw Hill Book Company
McAdams, W.H., 1954, Heat Transmission, 3rd Ed. McGraw-Hill, New York, NY.

Konveksi
Alamiah

LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel Properti Konveksi Alamiah


(sumber: Holman, J.P. Perpindahan Kalor)

10

Konveksi
Alamiah

Lampiran 2. Isotermal Vertikal Plat


(sumber: Holman, J.P. Perpindahan Kalor)

11

Anda mungkin juga menyukai