Anda di halaman 1dari 5

Data Barless Tulgreen

No.
1.

Taksa
Cylisticus

Botol
A
0

B
0

C
0

D
1

E
0

jumlah

-1

convexcus
2.

Empididae

0,557304959

1,44269504
0

-1

-2

Sp.

Analisis Data
Berdasarkan data, spesies hewan imfaun yang berhasil didapat dari Ekosistem Alas
Purwo Plot 8 hanya dua. Spesies tersebut meliputi Cylisticus convexcus dan Empididae Sp.
Dengan jumlah spesies yang ditemukan masing-masing berjumlah satu. Didapatkan hasil
berupa indeks keragaman total -2, nilai kemerataan -1,442695041 dan nilai kekayaan
berjumlah 0,557304959. Sedikit data yang diperoleh, hal ini kemungkinan karena kondisi
tanah yang tidak subur sehinggga sedikit hewan imfauna yang mampu bertahan hidup disana
serta kurangnya penyinaran terhadap barless tullgreen.
Pembahasan
Di alam atau di lingkungan banyak ditemui berbagai hewan yang berbagai macam.
Hewan-hewan tersebut dapat ditemukan pada tanah yang lembab, perairan, udara, di semak
belukar, dan lain-lain. Kehadiran suatu populasi hewan pada suatu tempat dan distribusinya
pada muka bumi selalu berkaitan dengan masalah habitat dan relung ekologinya. Habitat
merupakan lingkungan yang cocok untuk ditempati suatu populasi hewan (Dharmawan, dkk,
2005). Dalam hal ini tanah merupakan suatu habitat bagi hewan-hewan tanah, baik epifauna
atau infauna.
Tanah merupakan salah satu komponen penting dalam ekosistem terutama bagi
kelangsungan hidup fauna tanah. Menurut Sugiyarto (2003), tanah merupakan suatu bagian
dari ekosistem terrestrial yang di dalamnya dihuni oleh banyak organisme yang disebut
sebagai biodiversitas tanah. Biodiversitas tanah merupakan diversitas alpha yang sangat
berperan dalam mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang
kehidupan di dalam dan di atasnya.

Fauna tanah secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa hal, antara lain
berdasarkan ukuran tubuh, kehadirannya di tanah, habitat yang di pilihnya, dan kegiatan
makannya. Berdasarkan ukuran tubuhnya hewan-hewan tersebut dikelompokkan atas
mikrofauna, mesofauna, dan makrofauna. Ukuran mikrofauna berkisar antara 20 sampai 200
mikron, mesofauna berkisar 200 mikron sampai dengan satu sentimeter, dan makrofauna
lebih dari satu sentimeter. Berdasarkan kehadirannya, hewan tanah di bagi atas kelompok
transien (hewan yang seluruh daur hidupnya berlangsung di tanah, misalnya Kumbang),
temporer (golongan hewan yang memasuki tanah dengan tujuan bertelur, setelah menetas dan
berkembang menjadi dewasa, hewan akan keluar dari tanah, misalnya Diptera), periodik
(hewan yang seluruh daur hidupnya ada di dalam tanah, hanya sesekali hewan dewasa keluar
dari tanah untuk mencari makanan dan setelah itu masuk kembali, misalnya Collembola dan
Acarina), dan permanen (hewan yang seluruh hidupnya selalu di tanah dan tidak pernah
keluar dari dalam tanah, misalnya Kumbang, Nematoda tanah dan Protozoa) (Isnan, Tuarita,
& Dharmawan, Tanpa Tahun).
Menurut Suin (1989), perkembangan hewan tanah tidak terlepas dari pengaruh faktor
biotik dan abiotik dari habitat tempat tinggalnya. Namun secara garis besar faktor abiotik
sangat banyak mempengaruhi perkembangan dan kepadatan suatu populasi serangga.
Disamping ukuran pori-pori tanah, distribusi suhu, kelembaban dan faktor lingkungan lainnya
juga ikut menentukan distribusi vertikal hewan dalam tanah.
Kehidupan hewan tanah, selain ditentukan oleh struktur vegetasi, tetapi juga ditentukan
oleh faktor-faktor lain seperti zat kimia dalam tanah, pH tanah, kandungan air tanah, iklim
dan cahaya matahari sehingga dapat menentukan kehadiran suatu jenis tertentu dari hewan
tanah dan kepadatan populasi hewan tanah. Faktor ketersediaan makanan juga menentukan
kepadatan dan distribusi hewan yang ada didalam tanah. Secara umum semakin besar
kedalaman tanah maka jumlah individu semakin sedikit disebabkan oleh berkurangnya
oksigen untuk pernapasan (Suwondo, 2007).
Faktor lingkungan yang paling esensial bagi kesuburan dan perkembangan hidup
hewan tanah adalah temperatur, cahaya, kelembaban dan jumlah makanan yang tersedia.
Cahaya memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan hidup hewan tanah dan
merupakan faktor yang sangat vital berhubungan dengan perilaku untuk memberikan variasi
morfologi dan fisiologi pada hewan tanah (Suwondo, 2007).
Dalam pengambilan sampel suatu populasi dinamakan sampling. Sampling merupakan
salah satu cara yang digunakan dalam melakukan pengambilan data pada suatu penelitian.
Menurut Hartanto (2003), sampling dilakukan untuk memperoleh kesimpulan umum pada

suatu komunitas secara relatif lebih mudah, murah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain
itu, tingkat kesalahan pada kesimpulan umum dapat dipertimbangkan dengan sampling eror
dan validasi informasi atau pengukuran dapat ditingkatkan karena dapat dilakukan control
terhadap variabel tertentu sehingga hasilnya lebih teliti. Pada area penelitian yang luas
diperlukan adanya teknik sampling untuk mempermudah dan mengefisienkan waktu
penelitian. Menurut Santoso (Tanpa Tahun), terdapat beberapa faktor yang harus
dipertimbangkan dalam menentukan sampel penelitian sebagai berikut.
1.

Derajat keseragaman (degree of homogeneity) populasi. Populasi yang homogen cenderung


memudahkan penarikan sampel dan semakin homogen populasi maka memungkinkan
penggunaan sampel penelitian yang kecil. Sebaliknya jika populasi heterogen, maka terdapat
kecenderungan menggunakan sampel penelitian yang besar. Atau dengan kata lain, semakin

2.
3.

komplek derajat keberagaman maka semakin besar pula sampel penelitiannya.


Derajat kemampuan peneliti mengenal sifat-sifat populasi.
Presisi (kesaksamaan) yang dikehendaki peneliti. Dalam populasi penelitian yang amat besar,
biasanya derajat kemampuan peneliti untuk mengenali sifat-sifat populasi semakin kecil.
Oleh karena itu, untuk menghindari kebiasan sampel maka dilakukan jalan pintas, yaitu
memperbesar jumlah sampel penelitian. Artinya, apabila suatu penelitian menghendaki
derajat presisi yang tinggi maka merupakan keharusan untuk menggunakan sampel penelitian
yang besar. Yang perlu mendapat pertimbangan di sini adalah presisi juga tergantung pada
tenaga, waktu, dan biaya yang cukup besar. Penggunaan teknik sampling yang tepat. Untuk
mendapatkan sampel yang representatif, penggunaan teknik sampling haruslah tepat. Apabila
salah dalam menggunakan teknik sampling maka akan salah pula dalam memperoleh sampel
dan akhirnya sampel tidak dapat representatif.
Penelitian yang dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo, pengambilan sampel infauna
tanah dilakukan melalui metode barlese tullgreen. Metode ini digunakan untuk mengetahui
benyaknya spesies hewan tanah yang diperoleh. Berdasarkan analisis data, diketahui bahwa
tidak banyak hewan infauna yang berhasig didapat. Hal ini dapat dikarenakan kondisi tanah
yang tidak sesuai untuk hewan infauna hidup. Menurut Edwards dan Fletcher (1972) dalam
Bremner (1990) barlese tullgreen merupakan suatu metode yang telah digunakan untuk
mengekstraksi atau mengisolasi arthropoda dari tanah dan rumput selama beberapa tahun,
dan pada umumnya metode ini dianggap terlalu lambat. Penggunaan metode ini dibantu
dengan adanya cahaya yang menghasilkan panas dan menyebabkan hewan pada sampel
tanah akan terjebak kebawah. Dalam penggunaan barlese tullgreen, sumber panas yang

didapatkan dari cahaya matahari langsung. Menurut Arias, dkk (2003), cahaya memiliki efek
ganda karena cahaya tersebut memaksa organisme fotofobik untuk menjauh dari sumber
cahaya dan dapat memanaskan sampel agar sampel kering. Ketika sampel mengering, gradien
suhu dan kelembaban terbuat antara permukaan atas dan bawah sampel (Haarlov 1947, Block
1966 dalam Arias, dkk, 2003). Gradien ini akan bergerak ke bawah, sehingga hewan masuk
ke dalam cairan pengumpul (botol sampel) (Coleman et al., 2004 dalam Arias, dkk,
2003). Adanya peningkatan suhu pada corong (alat barlese) akan membakar hewan sebelum
terkoleksi sehingga dalam kondisi lapangan terpencil, ekstraksi tanpa cahaya logistik lebih
terjangkau dan layak, dalam hal pembentukan gradien dan pengeringan dari sampel
tergantung pada suhu kamar di mana ekstraksi dilakukan (Krell et al. 2005 dalam Arias, dkk,
2003). Kedua, ekstraksi dengan dan tanpa cahaya, menciptakan kondisi yang berbeda
dalam sampel, sebagai konsekuensinya, penggunaan, atau tidak menggunakan, cahaya selama
ekstraksi, dapat mengakibatkan perbedaan sampel yang didapatkan (Arias, dkk, 2003).

Dafpus
Darmawan, Agus, dkk. 2005. Ekologi Hewan. Malang: FMIPA UM
Isnan, W. F., Tuarita, H., Dharmawan, A.. Tanpa Tahun. Studi Keanekaragaman Hewan
Tanah (Epifauna) di Perkebunan Kubis (Brassica Oleracea L) dengan Sistem
Terasering di Cangar Kecamatan Bumiaji Kota Batu, (Online),(http://jurnalonline.um.ac.id/data/artikel/artikel6DB4594912BA954F4E846FFB36BC2E21.doc),
diakses 24 April 2014.
Sugiyarto. 2003. Konservasi Makrofauna Tanah dalam Sistem Agroforestri, (Online),
(http://pasca.uns.ac.id/wp-content/uploads/2009/02/sugiyarto-konservasi-makrofaunatanah.pdf), diakses 24 April 2014.
Arias, Mara Fernanda Barberena, Grizelle Gonzlez, dan Elvira Cuevas. 2003. Quantifying
Variation of Soil Arthropods Using Different Sampling Protocols: Is Diversity
Affected?. Tropical Forest, (Online), 51-70, (http://www.fs.fed.us), diakses 24 April
2014.
Bremne, Graeme. 1990. A Berlese funnel for the rapid extraction of grassland surface macroarthropods. New Zealand Entomologist, (Online), 13:76-80,
(http://www.ento.org.nz), diakses 24 April 2014.

Hartanto, Rudi. 2003. Modul Metodologi Penelitian, (Online),


(http://eprints.undip.ac.id/21248/1/879-ki-fp-05.pdf), diakses 24 April 2014.
Suwondo. 2007. Dinamika Kepadatan dan Distribusi Vertikal Arthropoda Tanah pada
Kawasan Hutan Tanaman Industri. Jurnal Pilar Sains, 6 (2). (Online),
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=106208&val=5125), diakses 24
April 2014.
Suin, N. N.. 1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. ITB. Bandung.