Anda di halaman 1dari 4

BAB VIII

HASIL PENGAMATAN
8.1 Uji Organoleptis
Tabel 8.1. Uji Organoleptis Sediaan
Bau
Sedikit aroma beras namun

Warna
Merah jambu

Tekstur
Translucent, keras dengan

dengan bau mentol yang

permukaan agak

lebih tajam

berminyak

8.2 Uji Kestabilan Busa


Tabel 8.2 Uji Kestabilan Busa Sediaan
Uji ke-

Tinggi Busa
Awal
14 cm

Kestabilan busa

Tinggi busa awal


100
Tinggi busa akhir

14 cm
100
13 cm

Akhir
13 cm

107,69

8.3 Uji pH
Pada pengujian pH sediaan, pH yang diperoleh adalah sebesar 10.37

PEMBAHASAN
Pada uji organoleptis dilakukan pengujian bau, warna, dan tekstur. Tujuan
dari uji organoleptis adalah untuk mengukur tingkat penerimaan konsumen atau
hedonik dari konsumen terhadap sediaan sabun padat (Sameng, 2013). Bau yang
dihasilkan dari sediaan sabun memiliki sedikit aroma beras merah namun dengan
bau mentol yang lebih tajam. Hal ini disebabkan penambahan corrigen odoris
yang terlalu banyak sehingga menimbulkan bau mentol yang tajam. Sediaan
sabun padat yang dibuat memiliki warna merah jambu yang merupakan warna
alami dari beras merah sehingga tidak dibutuhkan tambahan pewarna.
Sabun yang dibuat memiliki tekstur keras, dengan permukaan yang agak
berminyak yang disebabkan karena fase minyak yang digunakan pada saat
pembuatan sangat banyak. Sabun yang dihasilkan memiliki struktur translucent,
hasil ini tidak sesuai dengan yang diharapkan yakni sabun dengan struktur
transparan. Hal ini mungkin disebabkan oleh gula yang digunakan. Faktor yang
mempengaruhi transparansi sabun adalah kandungan gula, dan gliserin dalam
sabun. Ketika sabun akan dibuat jernih dan bening maka hal yang paling essensial
adalah kualitas gula, dan gliserin. Oleh karena itu pemilihan material
mempertimbangkan dengan warna dan kemurniannya (Arita et al., 2009).
Selanjutnya dilakukan uji kestabilan busa pada sediaan sabun padat. Pada
penggunaannya, busa berperan dalam proses pembersihan dan melimpahkan
wangi sabun pada kulit. Adanya senyawa tidak jenuh (asam lemak tidak jenuh)
dalam campuran minyak akan mempengaruhi kestabilan busa yang terbentuk
(Hernani et al., 2010). Uji kestabilan busa dilakukan dengan cara melarutkan 1
gram sabun dalam 10 mL air lalu dikocok hingga timbul busa kemudian busa
dimasukkan dalam gelas ukur dan diukur tingginya, setelah 15 menit busa diukur
kembali. Tinggi busa awal yang dihasilkan adalah 14 cm dan tinggi busa setelah
15 menit adalah 13 cm. Dari hasil perhitunngan diperoleh kestabilan busa adalah
sebesar 107.69% yang menandakan sediaan yang dihasilkan memiliki stabilitas
yang baik dalam mempertahankan busa.
Pada uji pH sediaan sabun padat dengan menggunakan pH meter diperoleh
hasil sebesar 10.37. Kisaran nilai pH ini memenuhi kriteria mutu sabun mandi.
Standar pH untuk sabun mandi berkisar antara 9-11 (Hernani et al., 2010). pH

yang sangat tinggi atau sangat rendah dapat menambah daya absorbsi kulit
sehingga memungkinkan kulit teriritasi (Wasitaatmadja, 2007).

DAFTAR PUSTAKA
Arita, S., T.E. Agustina, D. Patricia, dan L. Rahmawati. 2009. Pemanfaatan
Gliserin Sebagaai Produk Samping dari Biodiesel Menjadi Sabun
Transparan. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 16 (4).
Hernani., Bunasor T.K., dan Fitriati. 2010. Formula Sabun Transparan Antijamur
Dengan Bahan Aktif Ekstrak Lengkuas (Alpinia galanga L.Swartz.). Bul.
Litro. Vol 21 (2): 192-205.
Sameng, W.. 2013. Formulasi Sediaan Sabun Padat Sari Beras (Oryza sativa)
Sebagai Antibakteri Terhadap Staphylococcus epidermidis. Naskah
Publikasi. Surakarta: UMS.
Wasitaatmadja, S. M.. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.