Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

BAB VII
SENYAWA KARBONIL

NAMA

: NAUFA MUFIDA NUR

NIM

: 013021211007

DOSEN

: SALIH MUHARAM M.Si

ASISTEN

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gugus fungsi pada senyawa aldehida dan keton adalah gugus karbonil. Gugus
karbonil terdiri atas sebuah atom karbbon sp2 yang dihubungkan dengan sebuah atom
oksigen oleh sebuah ikatan sigma dan sebuah ikatan pi. Gugus karbonil bersifat polar
antara lain karena ada unsur elektronegatif. Atom oksigen pada gugus karbonil
mempunyai dua elektron menyendiri. Semua sifat structural ini, kepolaran ikatan pi,
dan adanya elektron menyendiri menyebabkan kereaktifan gugus karbonil.
Senyawa aldehida dan keton dapat melangsungkan banyak reaksi antara lain
oksidasi, reduksi, adisi, dan reaksi khusus seperti reaksi canizaro dan lain-lain. Reaksi
yang menghasilkan padatan (disebut turunan atau devirat) sangat berguna untuk
tujuan identifikasi senyawa karbonil. Oleh karena itu, praktikum tentang senyawa
karbonil ini perlu dilakukan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:

Mengenal perbedaan reaktifitas antara aldehid dan keton


Mengenal beberapa macam reaksi senyawa karbonil, yang termasuk aldehid

dan keton
Menguji hasil pembuatan senyawa aldehid yang dibandingkan dengan aldehid
baku

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Aldehid dan keton merupakan senyawa-senyawa yang mengandung salah satu
dari gugus penting dalam kimia organi, yaitu gugus karbonil C=O, semua senyawa
yang mengandung gugus ini disebut senyawa karbonil. (Antony, 1992)

Gugus karbonil adalah gugus yang paling menentukan sifat kimia aldehid dan
keton. Oleh karena itu tidak mengherankan jika sifat kimia keduaya hamper sama.
(Antony, 1992)
Aldehid dan keton merupakan senyawa yang sangat penting. Beberapa dari
padanya seperti aseton (CH3COCH3) dan metil etil keton (CH3COCH2CH3) dipakai
dalam jumlah besar sebagai pelarut. Larutan pekat foraldehid (CH 2O) dalam air
dipakai untuk mengawetan jaringan hewan dalam penelitian biologi. Bahan rumit
seperti karbohidrat dan hormone steroid megandung struktur karbonil aldehid dan
keton bersama-sama gugus fungsi lain. (Fesenden, 1994)
Karbonil adalah suatu gugus polar, oleh karenanya aldehid dank eon memiliki
titik didih yang lebih tinggi dari daripada hidrokarbon yang berat molekulnya setara.
Meskipun demikian, oleh karena aldehid dan keton tidak dapat membentuk ikatan
hydrogen yang kuat antara molekul-molekulnya sendiri maka mereka mempunyai
titik didih yang lebih rendah dari pada alcohol yang berak molekulnya setara.
(Respah, 1986)
Senyawa keton tidak mudah dioksidasi, tetapi senyawa aldehida sangat mudah
dioksidasi menjadi asam karboksilat. Disamping oksidasi oleh permanganat dan
dikromat, aldehida dapat teroksidasi oleh zat pengoksidasi yang sangat lembut seperti
: Ag+, atau Cu2+ Reagensia tollens (suatu larutan basa (dari) ion kompleks perak
ammonia) digunakan sebagai reagensia uji untuk aldehida. Aldehida itu dioksidasi
menjadi anion karboksilat; ion Ag+ dalam reagensia tollens direduksi menjadi logam
Ag. Uji positif ditandai dengan terbentuknya endapan cermin perak pada dinding
dalam tabng reaksi. Dengan meluasnya penggunaan spekrtroskopi, uji Tollens tidak
lagi digunakan untuk uji aldehida. Namun kadang-kadang cermin masih dibuat
dengan cara ini. (Fessenden, 1994)
RCHO + 2Ag(NH3)2OH RCOO-NH4+ + 2Ag + 3NH3 +H2O
2.1.1 Adisi senyawa bisulfit

Aldehida dan keton tertentu yang tidak dihalangi oleh gugus besar yang
menempel pada keton karbon karbonil dapat bereaksi dengan larutan natrium bisulfit
jenuh membentuk kristal putih.
+

R
C

O + HOSO 2 Na

Na O 3 S

CH

O
H

Senyawa adisi ini mungkin dapat diubah kembali ke senyawa karbonil yang
asli dengan perlakuan asam. Oleh karena itu, reaksi tersebut dapat digunakan untuk
memisahkan senyawa karbonil dari campuran dengan zat lain.
2.1.2 Fenilhidrazin
Fenilhidrazin bereaksi dengan aldehida dan keton membentuk fenilhidrazon.
H

C=O

H2N

Produk

NH N

H 2O

H
+

NH

tersebut

berbentuk

kristal

yang

kerap

digunakan

untuk

mengidentifikasi aldehida dan keton melalui penentuan titik lelehnya. Jika reaksi 2,4dinitrofenihildrazin digunakan, biasanya produk reaksinya mempunyai titik leleh
yang tinggi. Turunan dari fenihildrazin dicurigai bersifat karsinogenik. Hati hati
dengan pereaksi tersebut dan hindari dengan sentuhan kulit.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah batang pengaduk, lampu
alkohol, tabung reaksi, erlenmeyer dan kertas saring.
3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah kawat tembaga,
methanol, benzaldehid, aseton, sikloheksana, natrium bisulfit 20%, etanol, HCl
pekat,fenilhidrazin, sikloheksanon, NaOH 5%, es dan formalin.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Sintesis Formaldehida
Mula-mula menyiapkan kawat tembaga lalu melilitkan pada batang pengaduk.
Memanaskan lilitan pada bagian nyala api yang biru dari pembakar Bunsen selama 12 menit, mencelupkan kawat dalam keadaan masih merah ke dalam tabung reaksi
yang berisi 1mL metal alkohol dan 5mL air. Menutup tabung reaksi (tidak terlalu
rapat), mendinginkan, mengeluarkan kawat, dan mengulangi percobaan dua atau tiga
kali. Mengamati bau larutan dan menggunakan tersebut untuk pengujian.
3.3.2

Reaksi Oksidasi dengan Pereaksi Tollens


Menguji senyawa benzaldehida, aseton, sikloheksana, dan formaldehida hasil

sintesis dengan memasukkan senyawa-senyawa tersebut ke dalam tabung reaksi dan


menambahkan 2mL pereaksi Tollens. Mengocok perlahan-lahan dan memanaskan ke
dalam penangas air sampai terbentuk cermin perak pada dinding tabung.
3.3.3

Adisi Senyawa Bisulfit


Menempatkan 5mL larutan bisulfit 20% ke dalam erlenmeyer 50%,

mendinginkan larutan tersebut pada penangas es sambil menambahkan aseton setetes


demi setetes, kemudian mengaduknya. Apabila setelah 5 menit tidak terbentuk
endapan kristal, maka menambahkan 10mL etanol sampai Kristal terbentuk.
Meyaring kristal kemudian menguji kristalnya dengan HCl pekat.
3.3.4

Reaksi dengan Fenil hidrazin


Memasukkan 5mL pereaksi fenilhidrazin dan 10 tetes senyawa karbonil yang

diuji ke dalam tabung reaksi yang tertutup. Senyawa karbonil yang diuji adalah
benzaldehida dan sikloheksanon. Menutup tabung dan mengocok kuat selama 1-2
menit sampai terbentuk kristal, kemudian menyaring kristal. Mencuci kristal dengan
air dingin, merekristalisasi dengan pelarut etanol atau methanol. Mengeringkan kristal
kemudian menguji titik lelehnya.

3.3.5 Reaksi Anion Enolat


3.3.5.1 Uji Iodoform
Memasukkan ke dalam tabung reaksi 3mL NaOH 5%, 5 tetes aseton dan
10mL larutan iodine. Mengocok larutan sampai terbentuk endapan yang berwarna
kuning. Melakukan uji pada senyawa karbonil yang lain, yaitu isopropil alkohol,
pentanon-2, dan pentanon-3.
3.3.5.2 Aldol Kondensasi
Memasukkan 2,5mL benzaldehida, 1mL aseton, dan 15mL etanol ke dalam
erlenmeyer 500mL. Mencampurkan baik-baik dengan cara menggoyangkan
erlenmeyer kemudian menambahkan 5mL NaOH 5%. Menggoyangkan lagi sampai
terbentuk kristal. Mendiamkan di penangas es selama beberapa menit, kemudian
menyaring dengan kertas saring. Merekristalisasi dengan sedikit pelarut etanol,
menambahkan beberapa tetes air sampai larutan menjadi keruh, kemudian
menempatkan pada penangas es. Mendiamkan sampai terbentuk kristal, lalu
menentukan titik lelehnya.
3.3.6

Reaksi Cannizaro
Memasukkan ke dalam tabung reaksi beberapa tetes larutan yang akan diuji,

kemudian menambahkan 5mL larutan NaOH 5%, memanaskan selama 5 menit.


Larutan yang diuji adalah formalin hasil sintesis, kemudian membandingkan dengan
formalin baku, aseton, dan benzaldehid.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tabel Pengamatan
4.1.1 Tabel Sintesis Formaldehida
No
1

Perlakuan
mereaksikan alkohol primer

Hasil Pengamatan
Logam Cu jadi putih. Ketika dicelupkan

dan udara menggunakan katalis kelarutan ada gas berbau formaldehid


tembaga dan pemanasan
4.1.2 Tabel Reaksi Oksidasi dengan Pereaksi Tollens
No
1

Perlakuan
Tollens + benzaldehida

Hasil Pengamatan
Endapan perak

Tollens + aseton

Endapan Perak

Tollens + Sikloheksana

Endapan Perak

Tollens + Formaldehida hasil sintesis

Endapan Perak

4.1.3 Adisi senyawa bisulfit


No
1

Perlakuan
5 mL larutan bisulfit 20% + aseton tetes
demi tetes + aduk + 10 mL etanol +

Hasil Pengamatan
Kristal putih

Kristal uji dengan HCL


4.1.4 Reaksi Anion Enolat
4.1.4.1 Uji Iodoform
No
1
2
3
4

Perlakuan
3 mL NaOH 5 % + 5 tetes aseton + 10 mL larutan

Hasil Pengamatan
Tidak terbentuk

iodin

endapan kuning

3 mL NaOH 5 % + 5 tetes isoprofil alkohol + 10

Tidak terbentuk

mL larutan iodin

endapan kuning

3 mL NaOH 5 % + 5 tetes pentanon-2+ 10 mL

Tidak terbentuk

larutan iodin

endapan kuning

3 mL NaOH 5 % + 5 tetes pentanon-3 + 10 mL

Tidak terbentuk

larutan iodin

endapan kuning

4.1.4.2 Aldol Kondensasi


No
1

Perlakuan
2,5 mL benzaldehida +1 mL aseton + 15 mL
etanol +5 mL NaOH 5 %

Hasil Pengamatan
Tidak terbentuk Kristal
orange

4.1.4.3 Rekasi Cannizaro


No
1

Perlakuan
5ml NaOH 5 % + Benzaldehida + panaskan

Hasil Pengamatan
Keruh

5ml NaOH 5 % + Formalin Baku + panaskan

Bening-kuning bau
formalin

5ml NaOH 5 % + Aseton + panaskan

Tidak ada endapan

5ml NaOH 5 % + Formalin hasil sintesis +

Tidak ada endapan

panaskan
4.2 Pembahasan
4.2.1 Sintesis Formaldehida
Aldehida dapat dibuat melalui oksidasi lemah alkohol primer menggunakan
oksidator K2Cr2O7 dalam suasana asam. Kemudahan aldehida untuk teroksidasi oleh
oksidator (bahkan oleh oksidator lemah) dimanfaatkan untuk membedakan aldehida
dengan keton. Dalam percobaan ini, pada produk aldehida komersial, khususnya
formaldehida dibuat dengan cara mereaksikan alkohol primer dan udara
menggunakan katalis tembaga dan pemanasan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut :
O
H

4.2.2

H +

2Cu

2+

+ 5OH

H CH2 OH + Cu 2O +

3H 2O

Reaksi Oksidasi dengan Pereaksi Tollens


Untuk melakukan uji dengan pereaksi Tollens, beberapa tetes aldehid atau

keton dimasukkan ke dalam pereaksi Tollens yang baru dibuat, dan dipanaskan secara
perlahan dalam sebuah penangas air panas selama beberapa menit. Pada keton, tidak
ada perubahan pada larutan yang tidak berwarna. Pada aldehid, larutan tidak
berwarna menghasilkan sebuah endapan perak berwarna abu-abu, atau sebuah cermin
perak pada tabung uji.
Aldehid mereduksi ion diammin perak(I) menjadi logam perak. Karena
larutan bersifat basa, maka aldehid dengan sendirinya dioksidasi menjadi sebuah
garam dari asam karboksilat yang sesuai.
Persamaan setengah reaksi untuk reduksi ion diammin perak(I) menjadi perak
adalah sebagai berikut:
[Ag(NH3)2]+ + Ag + NH3
Menggabungkan persamaan di atas dengan persamaan setengah reaksi dari
oksidasi sebuah aldehid pada kondisi basa, yakni :
RCHO + 3OH- RCOO- + 2H2O + 2
Akan menghasilkan persamaan reaksi lengkap:
2[Ag(NH3)2]+ + RCHO + 3OH- 2Ag + RCOO- + 4NH3 + 2H2O

Pereaksi Tollens mengandung ion diammin perak(I), [Ag(NH 3)2]+. Ion ini
dibuat dari larutan perak(I) nitrat. Caranya dengan memasukkan setetes larutan
natrium hidroksida ke dalam larutan perak(I) nitrat yang menghasilkan sebuah

endapan perak(I) oksida, dan selanjutnya tambahkan larutan amonia encer


secukupnya untuk melarutkan ulang endapan tersebut.
4.2.3. Adisi Senyawa Bisulfit
Pada percobaan ini bertujuan reaksi adisi aseton dengan natrium bisulfit. Pada
reaksi ini reagen bisulfit merupakan nukleofil.
H 3C

H3C
Nu

Nu

H 2O

H 3C

H3C

H 3C
Nu

OH

H 3C

Aseton tidak mengandung gugus yang besar artinya rintangan steriknya kecil
sehingga reaksi adisi bisulfit dapat berlangsung. Adisi tersebut dapat di indikasi dari
bereaksiya aseton dengan larutan natrium bisulfit membentuk hablur yaitu 1natriumsulfit-2-pentanol yang berwarna putih. Selain itu reaksi-ini dapat berlangsung
karena ikatan-ikatan rangkap karbon-karbon yang menyendiri bersifat non-polar. Dan
nukleofil tersebut menyerang ikatan pi sehingga ikatan-pi dapat terputus dan
terbentuk ikatan tunggal dengan nukleofil.
O
C
HOOC

OH
+

+ Na HSO 3

COOH

C
HOOC

COOH
SO3Na

Dalam keadaan dingin senyawa bisulfit yang terbentuk dapat mengkristal.


Reaksi ini digunakan untuk pemisahan dan identifikasi senyawa karbonil. Senyawa
karbonil dapat terbentuk kembali dengan penambahan alkali. Kemudian setelah
ditetesi dengan HCl ternyata aseton kembali terbentuk. Maka dapat disimpulkan
bahwa reaksi ini dapat berjalan reversibel dan rekasi ini biasanya digunakan untuk
memisahkan senyawa karbonil dari campurannya.
4.2.4. Reaksi dengan Fenil hidrazin

Untuk percobaan ini tidak dilakukan, akan tetapi di dalam literatur aldehid
ataupun keton bila bereaksi dengan fenil hidrazin bahwa benzaldehid dapat bereaksi
dengan fenil hidrasil yang menghasilkan fenildrazonbenzena. Hal tersebut dapat

terjadi karena pasangan bebas elektron pada atom fenil hidrazin menebabkan
senyawa-senyawa ini bereaksi membentuk fenil hidrason yang mula-mula
membebaskan 1 mol air. Hasil dari reaksi ini adalah berupa hablur. Dimana hablur ini
nantinya dapat mengidentifikasi senyawa benzaldehid. Reaksinya adalah sebagai
berikut:
O
O

O + H2N

NH

R`

NH

R`

+ H2 O

Dengan mengukur titik didihnya didapat angka 130oC. Angka ini


menunjukkan bahwa senyawa yang diuji adalah senyawa aldehid yaitu benzaldehid.
Jika dibandingkan dengan keton benzaldehid lebih tinggi titik lelehnya dibandingkan
keton. Hal ini dikarenakan pada aldehid terdapat ikatan hidrogen antar molekul
sehingga mengakibatkan ikatan nya kuat sehingga titik lelehnya tinggi.
Sedangkan sikloheksanon juga dapat di identifikasi dengan direaksikan
dengan fenilhidrazin. Hal tersebut dapat terjadi karena pasangan bebas elektron pada
atom fenilhidrasil menebabkansenyawa-senyawa ini bereaksi membentuk fenil
hidrason yang mula-mula membebaskan 1 mol air. Hasil dari reaksi ini adalah berupa
hablur. Dimana hablur ini nantinya dapat mengidentifikasi senyawa keton. Dengan
mengukur titik didihnya didapat angka 80oC. Angka ini menunjukkan bahwa senyawa
yang diuji adalah senyawa keton yaitu sikloheksanon. Jika dibandingkan dengan
benzaldehid, sikloheksanon lebih rendah titik lelehnya dibandingkan benzaldehid.
Hal ini dikarenakan pada keton tidak terdapat ikatan hidrogen antar molekul sehingga
mengakibatkan ikatannya lemah sehingga titik lelehnya rendah.
4.2.5 Uji Iodoform
Halogenasi alfa merupakan dasar suatu uji kimia, yang disebut iodoform,
untuk metil keton. Gugus metil dari suatu metil keton diiodinasi bertahap sampai
terbentuk iodoform (CHI3) padat berwarna kuning.Uji iodoform :
O
CCH3 + 3I2

Sikloheksil
metil keton

OH-, H2O

CO-

ion sikloheksil
karboksilat

CHI3
Iodoform
kristal kuning

Pada percobaan pertama, aseton yang ditambahkan NaOH dan iodium iodida
sedikit demi sedikit yang menghasilkan endapan berwarna kuning dan menimbulkan
bau seperti bau yang sangat menyengat. Endapan berwarna kuning ini merupakan
iodoform (suatu haloform) yang menandakan aseton dan iodium iodida beraksi
dengan bantuan NaOH yang berperan menjaga agar campuran dalam keadaan basa.
Karena dalam keadaan basa atom hidrogen alfa akan mudah digantikan oleh halogen.

Karena pengaruh tarikan elektron dari iod (halogen), maka atom H yang masih ada
pada karbon alfa menjadi lebih asam, sehingga lebih mudah ditukar dengan halogen
itu.Reaksi :
O
H3C

O
CH3 + I2 + 3OH

H3C

CI3 + 3H2O + 3I-

Gugus metil yang terikat pada atom C karbonil pada aseton diubah menjadi
senyawa triiodometil (trihalometil) oleh iod (halogen) dan basa.Kemudian senyawa
ini diuraikan oleh basa menghasilkan iodoform yang berupa padatan/endapan
berwarna kuning.
Reaksi pembentukan haloform ini untuk menunjukkan adanya metil keton,
karena mudah dioksidasi oleh I2.
4.2.6. Aldol Kondensasi
Reaksi kondensasi adalah reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung
menjadi satu molekul yang lebih besar dengan atau tanpa hilanganya suatu molekul
kecil, misalnya air. Ada beberapa jenis reaksi yang tergolong dalam reaksi
kondensasi, salah satunya adalah kondensasi benzoin. Dalam percobaan ini
benzaldehid direaksikan dengan etanol dan aseton, yang kemudian direaksikan
dengan basa NaOH
Basa ini berfungsi sebagai katalis dalam reaksi yang berlangsung. Aldol dapat
mengalami dehidrasi sehingga diperolehaldehida tak jenuh (enal). Mekanisme yang
terjadi adalah sebagai berikut :

4.2.7. Reaksi Cannizaro


Untuk percobaan terakhir yaitu reaksi cannizaro. Reaksi cannizaro ini terjadi
jika suatu Aldehida tanpa hidrogen alfa dipanaskan dengan larutan Hidroksida pekat
(Basa Kuat, NaOH), akan terjadi reaksi Disproporsionasi, secara mudah
disproporsionasi dapat dibayangkan keadaan dimana suatu zat terurai menjadi zat
yang lebih stabil, dimana separuh aldehida terurai menjadi ion karboksilat, lebih
tepatnya adalah ion karboksilat stabil teresonansi. Dan separuhnya akan tereduksi
menjadi Alkohol. Reaksi Cannizaro diawali oleh serangan OH- pada karbon di
karbonil yang disusul dengan serah terima elektron. Adapun reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut :

BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini adalah:
1

Aldehid lebih mudah dioksidasi daripada keton yang ditandai dengan langsung

terbentuknya cermin perak pada uji tollens.


Uji positif iodoform ditandai dengan terbentuknyaendapan berwarna kuning
yang menandakan adanya gugus metil keton. Pada uji ini, hanya sampel

asetaldehid yang menunjukkan hasil positif.


Reaksi fenilhidrazin merupakan mekanisme dari adisi dan eliminasi dimana

hanya sampel asetaldehid yang menunjukkan hasil yang positif.


Reaksi adisi natrium bisulfit pada aldehid dan keton digunkan dalam pemurnian
aldehid dan keton. Baik pada suhu ruangan maupun suhu rendah, sampel
aldehid menunjukkan reaksi positif. Sampel slikloheksanon bereaksi hanya pada
suhu rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Anthony, Wilbraham, C., dan Michael, B, Matta. (1992). Pengantar Kimia Organik
dan Hayati. Bandung; penerbit ITB.
Fessenden and Fessenden. 1991. Kimia Organik Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Fessenden and Fessenden. 1999. Kimia Organik Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Respah. Ir, 1986. Pengantar Kimia Organik. Aksara Baru ; Jakarta.

Lampiran

Pertanyaan
1

Jelaskan beberapa faktor penyebab reaktivitas pada senyawa karbonil,

2
3
4

lengkapi dengan reaksi


Mengapa senyawa keton sukar dioksidasai?
Pelarut macam apakah yang berperan dalam mekanisme reaksi adisi?
Sebutkan uji-uji dan jenis-jenis reaksi pada percobaan ini yang dapat

digunakan untuk mengidentifikasi :


- Senyawa aldehid saja
- Senyawa keton saja
- Senyawa aldehid dan keton
Apa yang dimaksud dengan reaksi aldol kondensasi? Berikan contoh
reaksinya!
Jawaban

Aldehida dan keton sangat reaktif, tetapi biasanya aldehida lebih


reaktif dibanding keton. Titik pusat reaktivitas dalam aldehida dan keton ialah
ikatan pi dari guguskarbonilnya. Seperti alkena, aldehid dan keton mengalami

adisi reagensiakepada ikatan pi-nya


Keton tidak memiliki atom hidrogen tersebut sehingga tidak mudah
dioksidasi. Keton hanya bisa dioksidasi dengan menggunakan agen
pengoksidasi kuat yang memiliki kemampuan untuk memutus ikatan karbon-

3
4

karbon.
Natrium bisulfit yang berperan sebagai nukleofil
Uji-uji untuk untuk mengidentifikasi :
- Senyawa aldehid saja : reaksi cannizaro
- Senyawa keton saja : uji iodoform
- Senyawa aldehid dan keton : reaksi fenilhidrazin
Aldol kondensasi adalah reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung
menjadi satu molekul yang lebih besar dengan atau tanpa hilanganya suatu
molekul kecil