Anda di halaman 1dari 13

SAP DAN MATERI

DIABETES MELITUS

KELOMPOK 3
Cicci Chairunisa Masum
PO.71.4.201.14.1.007
Isdar Kasmaria

PO.71.4.201.14.1.010

Hamzatun Syawal

PO.71.4.201.14.1.0

Ariskawati

PO.71.4.201.14.1.00

Muswiansyah

PO.71.4.201.14.1.023

POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR


PRODI DIV KEPERAWATAN
2016

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok Bahasan
Tema
Sasaran

: Diabetes Melitus
: Pencegahan dan Penatalaksanaan Diabetes
: Masyarakat

Target

: Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang terkena dan mereka memiliki faktor


resiko diabetes

Hari/Tanggal

: Kamis, 14 April 2016

Jam

: 09.00 WIB

Waktu
Tempat

: 15 menit
: Balai Desa

A TUJUAN UMUM
Setelah dilakukan penyuluhan selama 15 menit diharapkan Bapak-bapak dan Ibu-ibu
yang terkena, serta mereka yang memiliki faktor resiko Diabetes Melitus diharapkan
mampu menyebutkan 5 dari beberapa pencegahan Diabetes Melitus.
B TUJUAN KHUSUS
Setelah dilakukan penyuluhan selama 15 menit diharapkan Bapak-bapak dan Ibu-ibu
yang terkena, serta mereka yang mengalami faktor resiko, dapat mengetahui tentang:
1 Pengertian Diabetes Mellitus
2 Penyebab Diabetes Mellitus
3 Tanda dan gejala Diabetes Mellitus
4 Pencegahan Diabetes Mellitus
5 Diet Diabetes Melitus
C MATERI
a Pengertian Diabetes Mellitus
b Penyebab Diabetes Mellitus
c Tanda dan gejala Diabetes Mellitus
d Pencegahan Diabetes Mellitus
e Diet Diabetes Melitus
D KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
1 Pendahuluan
Waktu : 2 menit
N
KEGIATAN PENYULUH
KEGIATAN PESERTA
O
1
Membuka
kegiatan
dengan Menjawab salam
mengucapkan salam
2
Memperkenalkan diri
Mendengarkan

3
4

Menjelaskan tujuan dari penyuluhan Memperhatikan


Menyebutkan materi yang akan Memperhatikan
diberikan

Isi
Waktu: 10 menit
N
KEGIATAN PENYULUH
O
1
Menjelaskan pengertian Diabetes
Melitus
2
Menyebutkan penyebab terjadinya
Diabetes Melitus
3
Menyebutkan tanda dan gejala
terjadinya Diabetes Melitus
4
Menjelaskan tentang pencegahan
Diabetes Melitus
5
Menjelaskan tentang diet Diabetes
Melitus
6.

Memberikan kesempatan
peserta untuk bertanya

F KRITERIA EVALUASI
Metode evaluasi
: Tanya jawab
Jenis pertanyaan
: Lisan
Jumlah pertanyaan
: 3 pertanyaan

Memperhatikan
Memperhatikan
Memperhatikan
Memperhatikan
Memperhatikan

kepada Bertanya

Penutup
Waktu: 3 menit
N
KEGIATAN PENYULUH
O
1
Menanyakan kepada peserta tentang
materi yang telah diberikan dan
reinforcement kepada pengunjung
yang dapat menjawab pertanyaan.
2
Menyimpulkan
materi
dari
penyuluhan yang disampaikan.
3
Mengucapkan terima kasih dan salam
penutup.

E MEDIA
1 Power Point
2 LCD
3 Leaflet
4 Laptop

KEGIATAN PESERTA

KEGIATAN PESERTA
Menjawab pertanyaan

Mendengarkan
Mendengarkan dan menjawab salam

Struktur
a Persiapan alat/Media
Alat dan Media yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan semuanya lengkap
dan bisa diguakan saat ceramah, dan tanya jawab. Alat dan Media berupa Power
point, LCD dan Laptop serta Pengeras suara
b Persiapan Materi
Materi disiapkan dalam bentuk powerpoint yang di tampilkan pada proyektor, dan
flipchart untuk mempermudah penyampaian kepada masyarakat
c Sasaran Masyarakat yang terdiri dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang terkena, serta
mereka yang mengalami faktor resiko Diabetes Melitus
d Pengorganisasian dilakukan 2 hari sebelum pelaksanaan penyuluhan.
2 Evaluasi Proses
a Masyarakat antusias terhadap materi yang disampaikan pemateri.
b Masyarakat tidak meninggalkan tempat selama penyuluhan berlangsung
c Masyarakat terrlibat aktif dalam kegiatan penyuluhan
3 Evaluasi Hasil
a Jangka Pendek
Masyarakat Penyuluhan dapat menyampaikan kembali 70% materi yang
disampaikan dengan Kriteria :
1 Masyarakat mengetahui Pengertian Diabetes Mellitus
2 Masyarakat mengetahui Penyebab Diabetes Mellitus
3 Masyarakat mengetahui Tanda dan gejala Diabetes Mellitus
4 Masyarakat mengetahui Pencegahan Diabetes Mellitus
5 Masyarakat mengetahui Diet Diabetes Melitus
b Jangka Panjang
Pengetahuan dan Pemahaman masyarakat meningkat tentang Diabetes Melitus dan
dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam aspek pencegahan dan
penatalaksaan pada Diabetes Melitus sehingga kesehatan masyarakat meningkat.

Lampiran Materi
A Definisi Diabetes Melitus

Diabetes Mellitus merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yg ditandai o/ kenaikan


kadar glukosa dlm darah / hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes meltus


merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin ,atau kedua-duanya.

Diabetes type 1: adalah suatu keadaan hiperglikemia diakibatkan oleh karena


berkurangnya sekresi insulin akibat kerusakan sel -pankreas yg didasari proses
autoimun.

Diabetes type 2 : adalah suatu kondisi dimana sel-sel Betha pankreas relatif tidak
mampu mempertahankan sekresi dan produksi insulin shg menyebabkan kekurangan
insulin.

B Penyebab Diabetes Melitus


Diabetes Tipe 1 dipercaya sebagai penyakit autoimun, di mana sistem imun tubuh
sendiri secara spesifik menyerang dan merusak sel-sel penghasil insulin yang terdapat pada
pankreas. Belum diketahui hal apa yang memicu terjadinya kejadian autoimun ini, namun
bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa faktor genetik dan faktor lingkungan seperti
infeksi virus tertentu berperan dalam prosesnya. Walaupun diabetes tipe 1 berhubungan
dengan faktor genetik, namun faktor genetik lebih banyak berperan pada kejadian diabetes
tipe 2.
Diabetes tipe 2 diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
Banyak pasien diabetes tipe 2 memiliki anggota keluarga yang juga menderita diabetes tipe 2
atau masalah kesehatan lain yang berhubungan dengan diabetes, misalnya kolesterol darah
yang tinggi, tekanan darah tinggi (hipertensi) atau obesitas. Keturunan ras Hispanik, Afrika
dan Asia memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menderita diabetes tipe 2. Sedangkan
faktor lingkungan yang mempengaruhi risiko menderita diabetes tipe 2 adalah makanan dan
aktivitas fisik kita sehari-hari.
Berikut ini adalah faktor-faktor risiko mayor seseorang untuk menderita diabetes tipe 2.

Riwayat keluarga inti menderita diabetes tipe 2 (orang tua atau kakak atau adik)

Tekanan darah tinggi (>140/90 mm Hg)

Dislipidemia: kadar trigliserida (lemak) dalam darah yang tinggi (>150mg/dl) atau
kadar kolesterol HDL <40mg/dl

Riwayat Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) atau Glukosa Darah Puasa Terganggu
(GDPT)

Riwayat menderita diabetes gestasional atau riwayat melahirkan bayi dengan berat
lahir lebih dari 4.500 gram

Makanan tinggi lemak, tinggi kalori

Gaya hidup tidak aktif (sedentary)

Obesitas atau berat badan berlebih (berat badan 120% dari berat badan ideal)

Usia tua, di mana risiko mulai meningkat secara signifikan pada usia 45 tahun

Riwayat menderita polycystic ovarian syndrome, di mana terjadi juga resistensi


insulin

Diabetes gestasional disebabkan oleh perubahan hormonal yang terjadi selama


kehamilan. Peningkatan kadar beberapa hormon yang dihasilkan plasenta membuat sel-sel
tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin (resistensi insulin). Karena plasenta terus
berkembang selama kehamilan, produksi hormonnya juga semakin banyak dan memperberat
resistensi insulin yang telah terjadi.
Biasanya, pankreas pada ibu hamil dapat menghasilkan insulin yang lebih banyak
(sampai 3x jumlah normal) untuk mengatasi resistensi insulin yang terjadi. Namun, jika
jumlah insulin yang dihasilkan tetap tidak cukup, kadar glukosa darah akan meningkat dan
menyebabkan diabetes gestasional. Kebanyakan wanita yang menderita diabetes gestasional
akan memiliki kadar gula darah normal setelah melahirkan bayinya. Namun, mereka
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita diabetes gestasional pada saat kehamilan
berikutnya dan untuk menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari.
C Gejala Diabetes Melitus
Pada awalnya, pasien sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes
melitus, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Namun, harus dicurigai adanya DM jika
seseorang mengalami keluhan klasik DM berupa:

poliuria (banyak berkemih)

polidipsia (rasa haus sehingga jadi banyak minum)

polifagia (banyak makan karena perasaan lapar terus-menerus)

penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya

Jika keluhan di atas dialami oleh seseorang, untuk memperkuat diagnosis dapat diperiksa
keluhan tambahan DM berupa:

lemas, mudah lelah, kesemutan, gatal

penglihatan kabur

penyembuhan luka yang buruk

disfungsi ereksi pada pasien pria

gatal pada kelamin pasien wanita

Diagnosis DM tidak boleh didasarkan atas ditemukannya glukosa pada urin saja.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah dari pembuluh darah
vena. Sedangkan untuk melihat dan mengontrol hasil terapi dapat dilakukan dengan
memeriksa kadar glukosa darah kapiler dengan glukometer.
Seseorang didiagnosis menderita DM jika ia mengalami satu atau lebih kriteria di
bawah ini:

Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu 200 mg/dL

Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa 126 mg/dL

Kadar gula plasma 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) 200 mg/dL

Pemeriksaan HbA1C 6.5%

Keterangan:

Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa
memperhatikan waktu makan terakhir pasien.

Puasa artinya pasien tidak mendapat kalori tambahan minimal selama 8 jam.

TTGO adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memberikan larutan glukosa


khusus untuk diminum. Sebelum meminum larutan tersebut akan dilakukan

pemeriksaan kadar glukosa darah, lalu akan diperiksa kembali 1 jam dan 2 jam setelah
meminum larutan tersebut. Pemeriksaan ini sudah jarang dipraktekkan.
Jika kadar glukosa darah seseorang lebih tinggi dari nilai normal tetapi tidak masuk
ke dalam kriteria DM, maka dia termasuk dalam kategori prediabetes. Yang termasuk ke
dalamnya adalah

Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT), yang ditegakkan bila hasil pemeriksaan
glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 125 mg/dL dan kadar glukosa plasma
2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO < 140 mg/dL

Toleransi Glukosa Terganggu (TGT), yang ditegakkan bila kadar glukosa plasma 2
jam setelah meminum larutan glukosa TTGO antara 140 199 mg/dL

Tabel kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM:
Bukan DM

Belum Pasti DM

DM

Kadar glukosa darah Plasma vena <100


sewaktu (mg/dL)
Darah kapiler <90

100-199

200

90-199

200

Kadar glukosa darah Plasma vena <100


puasa (mg/dL)
Darah kapiler <90

100-125

126

90-99

100

Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan
adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10. Neuropati visceral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit coroner

16. Penyakit pembuluh darah otak


17. Hipertensi
D Pencegahan Diabetes Melitus
Pencegahan penyakit diabetes melitus tipe 2 terutama ditujukan kepada orang-orang
yang memiliki risiko untuk menderita DM tipe 2. Tujuannya adalah untuk memperlambat
timbulnya DM tipe 2, menjaga fungsi sel penghasil insulin di pankreas, dan mencegah atau
memperlambat munculnya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Faktor risiko DM
tipe 2 dibedakan menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat
dimodifikasi. Usaha pencegahan dilakukan dengan mengurangi risiko yang dapat
dimodifikasi.
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi contohnya ras dan etnik, riwayat
anggota keluarga menderita DM, usia >45 tahun, riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir
bayi>4000 gram atau riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG), dan riwayat lahir
dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg.
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi contohnya berat badan berlebih, kurangnya
aktivitas fisik, hipertensi (> 140/90 mmHg), gangguan profil lipid dalam darah (HDL < 35
mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL, dan diet tak sehat tinggi gula dan rendah serat.
Pencegahan DM juga harus dilakukan oleh pasien-pasien prediabetes yakni mereka yang
mengalami intoleransi glukosa (GDPP dan TGT) dan berisiko tinggi mederita DM tipe 2.
Pencegahan DM tipe 2 pada orang-orang yang berisiko pada prinsipnya adalah
dengan mengubah gaya hidup yang meliputi olah raga, penurunan berat badan, dan
pengaturan pola makan. Berdasarkan analisis terhadap sekelompok orang dengan perubahan
gaya hidup intensif, pencegahan diabetes paling berhubungan dengan penurunan berat badan.
Menurut penelitian, penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat
munculnya DM tipe 2. Dianjurkan pula melakukan pola makan yang sehat, yakni terdiri dari
karbohidrat kompleks, mengandung sedikit lemak jenuh dan tinggi serat larut. Asupan kalori
ditujukan untuk mencapai berat badan ideal.
Akitivitas fisik harus ditingkatkan dengan berolah raga rutin, minimal 150 menit
perminggu, dibagi 3-4 kali seminggu. Olah raga dapat memperbaiki resistensi insulin yang
terjadi pada pasien prediabetes, meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik), dan membantu
mencapai berat badan ideal. Selain olah raga, dianjurkan juga lebih aktif saat beraktivitas
sehari-hari, misalnya dengan memilih menggunakan tangga dari pada elevator, berjalan kaki
ke pasar daripada menggunakan mobil, dll.
Merokok, walaupun tidak secara langsung menimbulkan intoleransi glukosa, dapat
memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM tipe 2. Oleh karena
itu, pasien juga dianjurkan berhenti merokok.
E Diet Pasien Diabetes Melitus

Diet adalah pengaturan makanan dan minuman yang dikonsumsi seseorang secara rutin untuk
menjaga kesehatan. Diet lebih mengarah pada pengaturan pola makan yang baik untuk mencapai
kondisi sehat.
Prinsip pengaturan makan pada diabetisi hampir sama dengan anjuran makan untuk orang
sehat masyarakat umum, yaitu makanan yang beragam bergizi dan berimbang atau lebih dikenal
dengan gizi seimbang maksudnya adalah sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing
individu. Hal yang sangat penting ditekankan adalah pola makan yang disiplin dalam hal Jadwal
makan, Jenis dan Jumlah makanan atau terkenal dengan istilah 3 J.
Pengaturan porsi makanan sedemikian rupa sehingga asupan zat gizi tersebar sepanjang hari.
Penurunan berat badan ringan atau sedang (5-10kg) sudah terbukti dapat meningkatkan kontrol
diabetes, walaupun berat badan idaman tidak dicapai. Penurunan berat badan dapat diusahakan
dicapai dengan baik dengan penurunan asupan energi yang moderat dan peningkatan pengeluaran
energi. Dianjurkan pembatasan kalori sedang yaitu 250-500 kkal lebih rendah dari asupan rata-rata
sehari.
Komposisi makanan yang dianjurkan meliputi:
Karbohidrat
Rekomendari ADA tahun 1994 lebih memfokuskan pada jumlah total karbohidrat daripada jenisnya.
Rekomendasi untuk sukrosa lebih liberal. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik
yang lebih rendah dari pada sebagian besar tepung-tepungan. Walaupun berbagai tepung-tepungan
mempunyai respon glikemik yang berbeda, prioritas hendaknya lebih pada jumlah total karbohidrat
yang dikonsumsi daripada sumber karbohidrat.
Anjuran konsumsi karbohidrat untuk diabetesi di Indonesia:
a
b
c
d
e

45-65% total asupan energi.


Pembatasan karbohidrat tidak dianjurkan < 130 g/hari.
Makanan harus mengandung lebih banyak karbohidrat terutama berserat tinggi.
Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% sehari ( 3-4 sdm)
Makan 3 kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari.
Serat
Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang tidak diabetes
yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 gr serat makanan dari berbagai sumber bahan makanan. Di
Indonesia anjurannya adalah kira-kira 25 gr/1000 kalori/ hari dengan mengutamakan serat larut air.

Protein
Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2006 kebutuhan protein untuk diabetisi
15%-20% energi. Perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg berat badan perhari atau 10% dari
kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai
biologic tinggi. Sumber protein yang baik adalah ikan, seafood, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit,
produk susu rendah lemak, kacang-kacangan dan tahu-tempe.

Total lemak
Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-25% energi. lemak jenuh < 7% kebutuhan energi dan
lemak tidak jenuh ganda <10% kebutuhan energi, sedangkan selebihnya dari lemak tidak jenuh
tunggal. Asupan kolesterol makanan hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari. Apabila
peningkatan LDL merupakan masalah utama, dapat diikuti anjuran diet disiplin diet
dislipidemia. Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol adalah untuk
menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Garam
Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak lebih dari 3000
mgr atau sama dengan 6-7 g (1 sdt) garam dapur, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan
sampai sedang, dianjurkan 2400 mgr natrium perhari atau sama dengan 6 gr/hari garam dapur.
Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin dan soda.

Kebutuhan kalori
Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Komposisi energy
adalah 45-65% dari karbohidrat, 10-20% dari protein dan 20-25% dari lemak. Ada beberapa cara
untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan orang dengan diabetes. Di antaranya adalah dengan
memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan
dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktivitas, kehamilan/laktasi,
adanya komplikasi dan berat badan.

Perhitungan berat badan ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi:

BBI = 90% x (TB dalam cm-100) x 1 kg


Bagi pria dengan TB di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm, rumus modifikasi
menjadi: BBI = (TB dalam cm 100) x 1 kg
BB Normal : bila BB ideal 10%
Kurus : < BBI - 10%
Gemuk : > BBI + 10%

Faktor-faktor penentu kebutuhan energy yaitu:

Jenis kelamin
Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kkal/kg BB ideal dan pria 30 kkal/kg BB ideal
Umur
Pasien usia > 40 tahun , kebutuhan kalori :
40-59 tahun dikurangi 5% dari energi basal
60-69 tahun dikurangi 10 % dari energi basal
> 70 tahun dikurangi 20% dari energi basal

Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi daripada orang dewasa, dalam
tahun pertama bisa mencapai 112 kal/kg BB.
Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anak-anak lebih daripada
1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap tahunnya.
Aktifitas fisik atau pekerjaan
Kebutuhan kalori ditambah sesuai dengan intensitas aktifitas fisik
Penambahan kalori dari aktifitas fisik:
Keadaan istirahat : ditambah 10% dari kebutuhan basal
Keadaan aktifitas ringan: ditambahkan 20% dari kebutuhan basal
Keadaan aktifitas sedang: ditambahkan 30% dari kebutuhan basal
Keadaan aktifitas berat dan sangat berat: ditambahkan 40 & 50% dari kebutuhan basal

Jenis aktifitas dikelompokkan sebagai berikut :


Keadaan istirahat : berbaring di tempat tidur.
Ringan : pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah tangga dan lain-lain
Sedang : pegawai di industri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang, .
Berat : petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit.
Sangat berat : tukang becak, tukang gali, pandai besi.

Berat badan
Bila gemuk: dikurangi 20-30% tergantung dari tingkat kegemukan
Bila kurus: ditambah 20-30% tergantung dari tingkat kekurusan untuk menambah berat badan.

Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200 kalori
perhari untuk wanita dan 1200-1600 kalori perhari untuk pria.
Pembagian makanan sejumlah kalori terhitung dibagi dalam 3 porsi besar makan pagi (20%), siang
(30%) dan sore (25%) serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%). Untuk meningkatkan kepatuhan
pasien, sejauh mungkin perubahan dilakukan secara bertahap dan harus disesuaikan dengan kebiasaan
makan.

DAFTAR PUSTAKA
Dokter
Regina
.2012.Pencegahan
Diabetes
http://diabetesmelitus.org/pencegahan-diabetes-melitus/
Maulana
Karso.2013.Asuhan
Keperawatan
Diabetes
https://belajarmenjadilebih.wordpress.com/2013/04/page/2/

Melitus.
Militus.

Diakses
Diakses

dari
dari

Alwi, Idrus., Setiadi, Siti., Setiyohadi, Bambang., dkk. 2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III
Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Anonym. 2008. Terapi Gizi Untuk Diabetes Melitus. (online) http://www.gizi.net/makalah/Makalah
%20Pekan%20DM.PDF diakses pada tanggal 20 Maret 2011
Anonym. 2009. Penatalaksanaan diet Pada Diabetes Melitus. (online) www.wrm-indonesia.org
diakses pada tanggal 22 Maret 2011
Hiswani. 2007. Penyuluhan Kesehatan Pada Penderita Diabetes Mellitus. (online) http://www.fkmhiswani3.pdf diakses pada tanggal 21 Maret 2011
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Ed.3 Jilid I. Jakarta: Media Aesculapius
Price, A. Silvia. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, C. Suzanne. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Volume 2. Jakarta: EGC