Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH SISTEM REPRODUKSI

ASUHAN KEPERAWATAN MIOMA UTERI

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
1. Intang Sulistiani Zen
2. Huzaefi
3. I Gede Media Pratama
4. Kadek Desy Susanti
5. L. Ramdoni Peebriadi
6. L. M. Zainul Jihad
7. Linda Yuliana
8. M. Awaludin

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S1
MATARAM
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., atas limpahan dan
rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Asuhan
Keperawatan Mioma Uteri. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas Mata
Kuliah Sistem Muskuloskeletal.

Karena makalah ini tidak mungkin dapat

diselesaikan tanpa bantuan dari pihak-pihak tertentu, maka dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Agus Supinganto, Ners., M.Kes., selaku Ketua STIKES YARSI Mataram.
2. Indah Wasliah, Ners., M.Kep., Sp.Anak., selaku Ka. Prodi S1 Keperawatan
STIKES YARSI Mataram.
3. Bq. Ruly Fatmawati, Ners., selaku dosen pembimbing akademik.
4. Heri Bahtiar Ns. MPH, selaku dosen Mata Kuliah Sistem Reproduksi.
5. Semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dan bahasa
yang jelas agar mudah dipahami. Karena penulis menyadari keterbatasan yang
penulis miliki, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca, agar
pembuatan makalah penulis yang berikutnya dapat menjadi lebih baik.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Mataram, 31 Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mioma uteri adalah tumor jinak ginekologi yang paling sering dijumpai,
ditemukan satu dari empat wanita usia reproduksi aktif (Muzakir cit Robbins,
1997). Mioma uteri dikenal juga dengan istilah leiomioma uteri, fibromioma uteri
atau uterin fibroid, ditemukan sekurang-kurangnya pada 20%-25% wanita di atas
usia 30 tahun. (Muzakir cit Djuwantono, 2004).
Berdasarkan otopsi Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih
banyak lagi. Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarki.
Setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. Di
Indonesia mioma uteri ditemukan 2,39-11,7 % dari semua penderita genekologi
yang dirawat .(Hanifa dkk, 2008)
Kejadian mioma uteri lebih tinggi pada usia di atas 35 tahun, yaitu mendekati
angka 40%. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun,
menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen. Mioma uteri
dilaporkan belum pernah terjadi sebelum menarke dan menopause (Anonim,
2008).
Penelitian Ran Ok et-al di Pusan Saint Benedict Hospital Korea menemukan
17% kasus mioma uteri dari 4784 kasus-kasus bedah ginekologi yang diteliti

(Muzakir cit Ran Ok et-al, 2007). Menurut penelitian yang di lakukan Karel
Tangkudung (1977) di Surabaya angka kejadian mioma uteri adalah sebesar
10,30%, sebelumnya di tahun 1974 di Surabaya penelitian yang dilakukan oleh
Susilo Raharjo angka kejadian mioma uteri sebesar 11,87% dari semua penderita
ginekologi yang dirawat (Muzakir cit Yuad H, 2005).
Sebagian besar kasus mioma uteri adalah tanpa gejala, sehingga kebanyakan
penderita tidak menyadari adanya kelainan pada uterusnya. Diperkirakan hanya
20%-50% dari tumor ini yang menimbulkan gejala klinik, terutama perdarahan
menstruasi yang berlebihan, infertilitas, abortus berulang, dan nyeri akibat
penekanan massa tumor (Muzakir cit Djuwantono, 2004).
Menoragia yang disebabkan mioma uteri menimbulkan masalah medis dan
sosial pada wanita. Mioma uteri terdapat pada wanita di usia reproduktif,
pengobatan yang dapat dilakukan adalah histerektomi, dimana mioma uteri
merupakan indikasi yang paling sering untuk dilakukan histerektomi di USA
(1atau3 dari seluruh angka histerektomi) (Lacey.C.G., 2007).
Berikut ini diajukan suatu kasus seorang wanita 55 tahun dengan diagnosa
mioma uteri dan anemia berat yang selanjutnya ditatalaksanai dengan laparotomi
histerektomi. Selanjutnya akan dibahas apakah diagnosa, tindakan, penatalaksaaan
ini sudah tepat dan sesuai dengan literatur.
1.1.

Rumusan Masalah
1.1.1. Bagaimana pengertian mioma uteri ?
1.1.2. Bagaimana klasifikasi mioma uteri ?
1.1.3. Bagaiamana perubahana skunder mioma uteri ?
1.1.4. Bagaimana etiologi dan pathogenesis mioma uteri ?
1.1.5. Bagaimana factor resiko mioma uteri ?
1.1.6. Bagaimana patologi mioma uteri ?
1.1.7. Bagaiamana gambaran klinis dan keluhannya mioma uteri ?

1.1.8. Bagaiamana patofisiologi mioma uteri ?


1.1.9. Bagaimana pathway mioma uteri ?
1.1.10. Bagaiamana diagnosis mioma uteri ?
1.1.11. Bagaiamana penanganan mioma uteri ?
1.1.12. Bagaiamana fase-fase penyembuhan luka post operasi mioma uteri ?
1.2.

Tujuan.

1.2.1. Tujuan Umum


Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang Konsep Dasar
Asuhan Keperawatan Mioma Uteri.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.

Untuk Memahami pengertian mioma uteri.

2.

Untuk memahami klasifikasi mioma uteri.

3.

Untuk memahami perubahan skunder mioma uteri.

4.

Untuk memahami etiologi dan pathogenesis mioma uteri.

5.

Untuk memahami factor resiko mioma uteri

6.

Untuk memahami patologi anatomi mioma uteri.

7.

Untuk memahami gambaran klinis dan keluhan mioma uteri.

8.

Untuk memahami patofisiologi mioma uteri

9.

Untuk memahami pathway mioma uteri.

10. Untuk memahami diagnosis mioma uteri.


11. Untuk memahami penanganan mioma uteri.
12. Untuk memahami fase-fase penyembuhan luka post operasi mioma
uteri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Mioma uteri adalah tumor jinak yang berada pada uterus atau organ rahim.
Masyarakat umumnya menyebut mioma sebagai miom atau tumor otot rahim.
Umumnya mioma uteri terletak pada dinding rahim dan dapat berkembang ke
arah dalam atau ke arah luar.
Mioma Uteri adalah tumor jinak otot rahim dengan berbagai komposisi
jaringan ikat. Nama lain : Leimioma Uteri dan Fibroma Uteri (Manuaba,
2001).
Mioma uteri adalah Neoplasma jinak berasal dari otot uterus dan jaringan
ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah
Fibromioma, Leimioma ataupun Fibroid (Saifuddin, 1999).
2.2 Klasifikasi
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uteri (1-3%) dan selebihnya
adalah dari korpus uteri. Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah
pertumbuhannya, maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain:
1. Mioma submukosa
2. Mioma intramural
3. Mioma subserosa
4. Mioma intraligamenter

Gambar 1. Gambar Jenis-jenis mioma uterus


Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%),
subserosa (48%), submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%)
(Anonim, 2008).
1. Mioma submukosa
Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga
uterus. Jenis ini dijumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering
memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma jenis lain meskipun
besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma
submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan
perdarahan. Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan
kuretase, dengan adanya benjolan waktu kuret, dikenal sebagai currete
bump dan dengan pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi tangkai
tumor.
Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma
submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis
mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari
rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma

yang dilahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi dan infark. Pada
beberapa kasus, penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses
di atas.
2. Mioma intramural
Terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium. Karena
pertumbuhan tumor, jaringan otot sekitarnya akan terdesak dan terbentuk
simpai yang mengelilingi tumor. Bila di dalam dinding rahim dijumpai
banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang berbenjol-benjol
dengan konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding depan
uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung
kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.
3. Mioma subserosa
Apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol
pada permukaan uterus diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh di
antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
4. Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain,
misalnya ke ligamentum atau omentum kemudian membebaskan diri dari
uterus sehingga disebut wondering parasitis fibroid. Jarang sekali
ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada servik
dapat menonjol ke dalam satu saluran servik sehingga ostium uteri
eksternum berbentuk bulan sabit.
Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari
bekas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorie
like pattern) dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar
yang terdesak karena pertumbuhan.
2.3 Perubahan Sekunder (Hanifa, 2008)

a) Atrofi: sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri


menjadi kecil.
b) Degenerasi hialin: perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita
berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat
meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya, seolaholah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
c) Degenerasi kistik: dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana
sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan
yang

tidak

teratur

berisi

seperti

agar-agar,

dapat

juga

terjadi

pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai


limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan
dari kistoma ovarium atau suatu kehamilan.
d) Degenerasi membatu (calcireous degeneration): terutama terjadi pada
wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi.
Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka
mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto Rontgen.
e) Degenerasi merah (carneous degeneration): perubahan ini biasanya terjadi
pada kehamilan dan nifas. Patogenesis: diperkirakan karena suatu nekrosis
subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat
sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah disebabkan oleh
pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas
apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam,
kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan.
Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor ovarium atau
mioma bertangkai.
f) Degenerasi lemak: jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.
2.4 Etiologi dan Patogenesis
Penyebab utama mioma uteri belum diketahui secara pasti sampai saat ini,

tetapi penyelidikan telah dijalankan untuk memahami keterlibatan faktor


hormonal, faktor genetik, growth factor, dan biologi molekular untuk tumor jinak
ini (Parker, 2007). Faktor yang diduga berperan untuk inisiasi pada perubahan
genetik pada mioma uteri adalah abnormalitas intrinsik pada miometrium,
peningkatan reseptor estrogen secara kongenital pada miometrium, perubahan
hormonal, atau respon kepada kecederaan iskemik ketika haid. Setelah terjadinya
mioma uteri, perubahan-perubahan genetik ini akan dipengaruhi oleh promoter
(hormon) dan efektor (growth factors) (Parker, 2007)
Bagi Meyer dan De Snoo, mereka mengajukan teori Cell nest atau teori
genitoblast. Percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen pada kelinci
percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan
maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah
dengan pemberian preparat progesteron atau testosteron.Puukka dan kawan-kawan
pula menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih banyak didapati
daripada miometrium normal. Menurut Meyer asal mioma adalah sel imatur,
bukan dari selaput otot yang matur (Prawirohardjo, 2007).
Mioma uteri yang berasal dari sel otot polos miometrium, menurut teori
onkogenik maka patogenesa mioma uteri dibagi menjadi 2 faktor yaitu inisiator
dan promotor. Faktor-faktor yang menginisiasi pertumbuhan mioma masih belum
diketahui

pasti.

Dari

penelitian

menggunakan

glucose-6-phosphatase

dihydrogenase diketahui bahwa mioma berasal dari jaringan uniseluler.


Transformasi neoplastik dari miometrium menjadi mioma melibatkan mutasi
somatik dari miometrium normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid seks
dan growth factor lokal. Mutasi somatik ini merupakan peristiwa awal dalam
proses pertumbuhan tumor (Hadibroto, 2005).
Tidak dapat dibuktikan bahwa hormon estrogen berperan sebagai
penyebab mioma, namun diketahui estrogen berpengaruh dalam pertumbuhan
mioma. Mioma terdiri dari reseptor estrogen dengan konsentrasi yang lebih tinggi
dibanding dari miometrium sekitarnya namun konsentrasinya lebih rendah

dibanding endometrium. Hormon progesteron meningkatkan aktifitas mitotik dari


mioma pada wanita muda namun mekanisme dan faktor pertumbuhan yang
terlibat tidak diketahui secara pasti. Progesteron memungkinkan pembesaran
tumor dengan cara down-regulation apoptosis dari tumor. Estrogen berperan
dalam pembesaran tumor dengan meningkatkan produksi matriks ekstraseluler
(Hadibroto, 2005)
2.5 Faktor Risiko
1. Usia penderita
Wanita kebanyakannya didiagnosa dengan mioma uteri dalam usia 40-an;
tetapi, ianya masih tidak diketahui pasti apakah mioma uteri yang terjadi adalah
disebabkan peningkatan formasi atau peningkatan pembesaran secara sekunder
terhadap perubahan hormon pada waktu usia begini. Faktor lain yang bisa
mengganggu insidensi sebenar kasus mioma uteri adalah kerana dokter
merekomendasi dan pasien menerima rekomendasi tersebut untuk menjalani
histerektomi hanya setelah mereka sudah melepasi usia melahirkan anak (Parker,
2007).
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma.Mioma belum pernah dilaporkan terjadi sebelum
menarke dan setelah menopause hanya 10% mioma yang masih bertumbuh
(Prawirohardjo, 2007)
2. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari
hasil histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa hormon
esterogen endogen pada wanita-wanita menopause pada kadar yang rendah atau
sedikit (Parker, 2007). Awal menarke (usia di bawah 10 tahun) dijumpai
peningkatan resiko ( RR 1,24) dan menarke lewat (usia setelah 16 tahun)
menurunkan resiko (RR 0,68) untuk menderita mioma uteri.

3.Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma
uteri mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan risiko untuk menderita
mioma uteri dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma
uteri. Penderita mioma yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri
mempunyai 2 kali lipat kekuatan ekspresi dari VEGF- (a myoma-related growth
factor) dibandingkan dengan penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat
keluarga penderita mioma uteri (Parker, 2007).
4.Etnik
Dari studi yang dijalankan melibatkan laporan sendiri oleh pasien
mengenai mioma uteri, rekam medis, dan pemeriksaan sonografi menunjukkan
golongan etnik Afrika-Amerika mempunyai kemungkinan risiko menderita mioma
uteri setinggi 2,9 kali berbanding wanita etnik caucasia, dan risiko ini tidak
mempunyai kaitan dengan faktor risiko yang lain. Didapati juga wanita golongan
Afrika-Amerika menderita mioma uteri dalam usia yang lebih muda dan
mempunyai mioma yang banyak dan lebih besar serta menunjukkan gejala klinis.
Namun ianya masih belum diketahui jelas apakah perbedaan ini adalah kerana
masalah genetik atau perbedaan pada kadar sirkulasi estrogen, metabolisme
estrogen, diet, atau peran faktor lingkungan. Walaubagaimanapun, pada penelitian
terbaru menunjukkan yang ValatauVal genotype untuk enzim essensial kepada
metabolisme estrogen,catechol-O-methyltransferase (COMT) ditemui sebanyak
47% pada wanita Afrika-Amerika berbanding hanya 19% pada wanita kulit putih.
Wanita dengan genotype ini lebih rentan untuk menderita mioma uteri. Ini
menjelaskan mengapa prevalensi yang tinggi untuk menderita mioma uteri
dikalangan wanita Afrika-Amerika lebih tinggi (Parker, 2007).
5.Berat Badan
Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko menderita
mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10kg berat badan dan
dengan peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang sama juga turut dilaporkan

untuk wanita dengan 30% kelebihan lemak tubuh. Ini terjadi kerana obesitas
menyebabkan pemingkatan konversi androgen adrenal kepada estrone dan
menurunkan hormon sex-binding globulin. Hasilnya menyebabkan peningkatan
estrogen secara biologikal yang bisa menerangkan mengapa terjadi peningkatan
prevalensi mioma uteri dan pertumbuhannya (Parker, 2007).
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara obesitas dan peningkatan
insiden mioma uteri. Suatu studi di Harvard yang dilakukan oleh Dr. Lynn
Marshall menemukan bahwa wanita yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT)
di atas normal, berkemungkinan 30,23% lebih sering menderita mioma uteri. Ros
dkk, (1986) mendapatkan resiko mioma uteri meningkat hingga 21% untuk setiap
10 Kg kenaikan berat badan dan hal ini sejalan dengan kenaikan IMT
(Djuwantono, 2004 yang dikutip Muzakir, 2008).
6.Diet
Ada studi yang mengaitkan dengan peningkatan terjadinya mioma uteri
dengan pemakanan seperti daging sapi atau daging merah atau ham bisa
meningkatkan insidensi mioma uteri dan sayuran hijau bisa menurunkannya. Studi
ini sangat sukar untuk diintepretasikan kerana studi ini tidak menghitung nilai
kalori dan pengambilan lemak tetapi sekadar informasi sahaja dan juga tidak
diketahui dengan pasti apakah vitamin, serat atau phytoestrogen berhubung
dengan mioma uteri (Parker, 2007).
7. Kehamilan dan paritas
Peningkatan paritas menurunkan insidensi terjadinya mioma uteri. Mioma
uteri menunjukkan karakteristik yang sama dengan miometrium yang normal
ketika kehamilan termasuk peningkatan produksi extracellular matrix dan
peningkatan ekspresi reseptor untuk peptida dan hormon steroid. Miometrium
postpartum kembali kepada berat asal, aliran darah dan saiz asal melalui proses
apoptosis

dan

diferensiasi.

Proses

remodeling

ini

berkemungkinan

bertanggungjawab dalam penurunan saiz mioma uteri. Teori yang lain pula
mengatakan pembuluh darah di uterus kembali kepada keadaan atau saiz asal pada
postpartum dan ini

menyebabkan mioma uteri kekurangan suplai darah dan kurangnya nutrisi untuk
terus membesar. Didapati juga kehamilan ketika usia midreproductive (25-29
tahun) memberikan perlindungan terhadap pembesaran mioma (Parker, 2007).
8.Kebiasaan merokok
Merokok dapat mengurangi insidensi mioma uteri. Banyak faktor yang
bisa menurunkan bioavalibiltas hormon estrogen pada jaringan seperti: penurunan
konversi androgen kepada estrone dengan penghambatan enzim aromatase oleh
nikotin (Parker, 2007).
2.6 Patologi Anatomi
Gambaran histopatologi mioma uteri adalah seperti berikut:
Pada gambaran makroskopik menunjukkan suatu tumor berbatas jelas,
bersimpai, pada penampang menunjukkan massa putih dengan susunan lingkaranlingkaran konsentrik di dalamnya. Tumor ini bisa terjadi secara tunggal tetapi
kebiasaanya terjadi secara multipel dan bertaburan pada uterus dengan saiz yang
berbeda-beda. Perubahan-perubahan sekunder yang terjadi pada mioma uteri
adalah:
1. Atrofi:
Sesudah kehamilan atau sesudah menopause mioma uteri
menjadi kecil
2. Degenerasi Hialin:
Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita berusia lanjut. Tumor
kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau
sebagian kecil daripadanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot
dari kelompok lainnya.
3. Degenerasi Kistik:
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, di mana sebagian dari mioma
menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar, dapat
juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai
limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dengan
kista ovarium atau suatu kehamilan.

4. Degenerasi membatu (Calcireous Degeneration):


Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh kerana adanya gangguan dalam
sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma
menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.
5. Degenerasi merah (Carneous Degeneration):
Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis terjadinya
diperkirakan kerana suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada
pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah bewarna merah
disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas
apabila pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor
pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan
6.Degenerasi lemak
Jarang terjadi dan merupakan lanjutan degenerasi hialin (Prawirohardjo, 2007).
2.7 Gambaran Klinis dan Keluhan
1. Gejala Klinis
Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada
(servik, intramural, submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi
yang terjadi. Keluhan yang dirasakan penderita Mioma Uteri sebagai keluhan utama pada
umumnya adalah :
a. Perdarahan abnormal
Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoraghi dan
dapat juga terjadi metroragia . Hal ini sering menyebabkan penderita juga mengalami
anemia dari perdarahan yang terus-menerus (Lacey.C.G., 2007).
Mekanisme terjadinya perdarahan abnormal ini sampai saat ini masih menjadi
perdebatan. Beberapa pendapat menjelaskan bahwa terjadinya perdarahan abnormal ini
disebabkan oleh abnormalitas dari endometrium (Lacey.C.G., 2007). Tetapi saat ini
pendapat yang dianut adalah bahwa perdarahan abnormal ini disebabkan karena pengaruh

ovarium sehingga

terjadilah

hiperplasia endometrium sampai

adenokarsinoma,

permukaan endometrium yang lebih luas, atrofi endometrium di atas mioma


submukosum, dan miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang
mioma diantara serabut miometrium . Pada Mioma Uteri submukosum diduga terjadinya
perdarahan karena kongesti, nekrosis, dan ulserasi pada permukaan endometrium
(Muzakir, 2008)
b. Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan
sirkulasi darah pada sarang mioma. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan
dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat
menyebabkan juga dismenore. Selain hal diatas, penyebab timbulnya nyeri pada kasus
mioma uteri adalah karena proses degenerasi. Selain itu penekanan pada visera oleh
ukuran mioma uteri yang membesar juga bisa menimbulkan keluhan nyeri. Dengan
bertambahnya ukuran dan proses inflamasi juga menimbulkan rasa yang tidak nyaman
pada regio pelvis.(Muzakir, 2008)
c. Efek penekanan
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan oleh
mioma uteri pada vesiko urinaria menimbulkan keluhan-keluhan pada traktus urinarius,
seperti perubahan frekuensi miksi sampai dengan keluhan retensio urin hingga dapat
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis (Lacey.C.G., 2007)..
Konstipasi dan tenesmia juga merupakan keluhan pada penderita mioma uteri
yang menekan rektum. Dengan ukuran yang besar berakibat penekanan pada vena-vena
di regio pelvis yang bisa menimbulkan edema tungkai (Muzakir, 2008)

2. Gejala akibat Komplikasi


a. Degenerasi ganas

Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari


seluruh kasus mioma uteri serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus.
Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah
diangkat. Komplikasi ini dicurigai jika ada keluhan nyeri atau ukuran tumor yang
semakin bertambah besar terutama jika dijumpai pada penderita yang sudah menopause
(Lacey.C.G., 2007).
b. Anemia
Anemia timbul karena seringkali penderita mioma uteri mengalami perdarahan
pervaginam yang abnormal. Perdarahan abnormal pada kasus mioma uteri akan
mengakibatkan anemia defisiensi besi (Marjono, 2008)
c. Torsi
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi
akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian timbul sindroma abdomen akut,
mual, muntah dan syok
d. Infertilitas
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars
interstisialis tuba, sedangkan mioma uteri submukosum juga memudahkan terjadinya
abortus oleh karena distorsi rongga uterus. Penegakkan diagnosis infertilitas yang
dicurigai penyebabnya adalah mioma uteri maka penyebab lain harus disingkirkan
(Lacey.C.G., 2007).
a. Pertumbuhan leimiosarkoma
Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar,
sekonyong konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause
b. Nekrosis dan Infeksi

Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat
melalui kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina, dalam hal ini kemungkinan
gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.

Gambar 2.2: Lokasi mioma uteri yang menimbulkan komplikasi


(Sumber: Hart D.M, Norman J, 2000)

2.8 Patofisiologi
Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil didalam miometrium dan
lambat laun membesar karena pertumbuhan itu miometrium terdesak menyusun
semacam pseudekapsula atau simpai semu yang mengelilingi tumor di dalam uterus
mungkin terdapat satu mioma, akan tetapi biasanya mioma banyak. Jika ada satu
mioma yang tumbuh intamural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak bundar
dan konstipasi padat . bila terletak pada dinding depan uterus, mioma uterus dapat
menonjol ke depan sehingga menekan dan mendorong kandung kemih ke atas
sehingga sering menimbulkan keluhan miksi.
Tetapi, masalah akan timbul jika terjadi : kurangnya pemberian darah pada mioma
uteri yang menyebabkan tumor membesar , sehingga menimbulkan rasa nyeri dan
mual. Selain itu, masalah dapat timbul lagi jika terjadi perdarahan abnormal pada
uterus yang berlebihan sehingga terjadi anemia. Anemia ini dapat mengakibatkan
kelemahan fisik, kondisi tubuh lemah sehingga kebutuhan perawatan diri tidak dapat

terpenuhi. Selain itu, dengan perdarahan yang banyak dapat mengakibatkan terjadinya
kekurangan volume cairan.

2.9 Pathway

MIOMA UTERI
Mioma Intramural

Mioma Submukosusm

Mioma Sub serosum

Tumbuh di dinding uterus


dinding

berada di bawah endometrium &

Tumbuh keluar

Menonjol ke dalam rongga uterus

uterus

Gejalaatau Tanda
Perdarahan

Pembesaran Uterus

PeSuplai darah Gg Hematologi Kurang Pengetahuan Gg Sirkulasi Penekanan


Syaraf

Gg Perfusi Jar

pe imun tubuh

Cemas

Nekrosis
Radang

Resiko Infeksi
Nyeri

Penekanan

Kandung kencing
PoliUri
ObstipasiatauTenesmus

Uretra

Ureter

Retensio Uri

Ganngguan Eliminasi Uri

rectum

Hidronefrosis

Gangguan Eliminasi Alvi

2.10 Diagnosis
Diagnosis mioma uteri dapat ditegakkan dari:
1.

Anamnesis
Dari anamnesis dapat ditemukan antara lain :

2.

a.

Timbul benjolan diperut bagian bawah dalam waktu relatif lama.

b.

Kadang-kadang disertai gangguan haid

c.

Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir mioma bertangkai, atau pecah.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Pemeriksaan abdomen

Uterus yang membesar dapat dipalpasi pada abdomen


Teraba benjolan tidak teratur, tetap dan lunak
Ada nyeri lepas yang disebabkan oleh perdarahan intraperitoneal
b. Pemeriksaan pelvis

Adanya dilatasi serviks


Uterus cenderung membesar, tidak beraturan dan berbentuk nodul

2.11 Penanganan Mioma Menurut Usia, Paritas, Lokasi Dan Ukuran Tumor
Tidak semua mioma uteri memerlukan terapi pembedahan. Kurang lebih 55% dari
semua kasus mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan apapun, apalagi jika
ukuran mioma uteri masih kecil dan tidak menimbulkan keluhan.
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan
terbagi atas :
A. Penanganan konservatif

Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :


-

Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.

Monitor keadaan Hb

Pemberian zat besi

Penggunaan agonis GnRH, agonis GnRH bekerja dengan menurunkan


regulasi gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofisis anterior. Akibatnya,
fungsi ovarium menghilang dan diciptakan keadaan menopause yang
reversibel. Sebanyak 70% mioma mengalami reduksi dari ukuran uterus telah
dilaporkan terjadi dengan cara ini, menyatakan kemungkinan manfaatnya pada
pasien perimenopausal dengan menahan atau mengembalikan pertumbuhan
mioma sampai menopause yang sesungguhnya mengambil alih. Tidak terdapat
resiko penggunaan agonis GnRH jangka panjang dan kemungkinan rekurensi
mioma setelah terapi dihentikan tetapi, hal ini akan segera didapatkan dari
pemeriksaan klinis yang dilakukan (Muzakir cit Alexander, 2004).

B. Penanganan operatif
Indikasi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
-

Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat


Ukuran tumor yang besar
Ada kecurigaan perubahan ke arah keganasan terutama jika pertambahan

ukuran tumor setelah menopause


Retensio urin
Tumor yang menghalangi proses persalinan
Adanya torsi (Muzakir cit Moore, 2001).
C. Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
-

Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan
rahimatauuterus (Muzakir cit Rayburn, 2001). Miomektomi lebih sering di
lakukan pada penderita mioma uteri secara umum. Suatu studi mendukung

miomektomi dapat dilakukan pada wanita yang masih ingin be reproduksi


tetapi belum ada analisa pasti tentang teori ini tetapi penatalaksanaan ini
paling disarankan kepada wanita yang belum memiliki keturunan setelah
penyebab lain disingkirkan (Muzakir cit Chelmow, 2005).
-

Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat
rahim, baik sebahagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya
(total) berikut serviks uteri (Muzakir cit Prawirohardjo, 2001).
. Histerektomi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu dengan pendekatan
perabdominal (laparotomi), pervaginam, dan pada beberapa kasus secara
laparoskopi. Tindakan histerektomi pada mioma uteri sebesar 30% dari seluruh
kasus. Tindakan histerektomi pada pasien dengan mioma uteri merupakan
indikasi bila didapatkan keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi
pada traktus urinarius, dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu
(Hadibroto, 2005).
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu total
abdominal histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH).
Masing-masing prosedur histerektomi ini memiliki kelebihan dan kekurangan.
STAH dilakukan untuk menghindari risiko operasi yang lebih besar, seperti
perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter, kandung kemih dan
rektum. Namun dengan melakukan STAH akan menyisakan serviks, dimana
kemungkinan timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi. Dengan menyisakan
serviks, menurut penelitian didapatkan data bahwa terjadinya dyspareunia akan
lebih rendah dibandingkan dengan yang menjalani TAH sehingga akan tetap
mempertahankan fungsi seksual. Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul
pada vagina dapat menjadi sumber timbulnya sekret vagina dan perdarahan

pasca operasi dimana keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani
STAH (Hadibroto, 2005).
Tindakan histerektomi juga dapat dilakukan melalui pendekatan vagina,
dimana tindakan operasi tidak melalui insisi pada abdomen. Histerektomi
pervaginam jarang dilakukan karena uterus harus lebih kecil dari telor angsa dan
tidak ada perlekatan dengan sekitarnya. Secara umum, histerektomi vaginal
hampir seluruhnya merupakan prosedur operasi ekstraperitoneal, dimana
peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga trauma yang mungkin timbul
pada

usus

dapat

diminimalisasi.

Selain

itu,

kemungkinan

terjadinya

perlengketan paska operasi juga lebih minimal. Masa penyembuhan pada pasien
yang menjalani histerektomi vaginal lebih cepat dibandingkan dengan yang
menjalani histerektomi abdominal (Hadibroto, 2005).
.
D. Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists (ACOG) untuk
histerektomi adalah sebagai berikut :
-

Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar
dan dikeluhkan oleh pasien.

Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan


bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan anemia
akibat kehilangan darah akut atau kronis.

Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat dan akut,
rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis dan
penekanan pada vesika urinaria mengakibatkan frekuensi miksi yang sering
(Muzakir cit Chelmow, 2005).

E. Penatalaksanaan mioma uteri pada wanita hamil


Selama kehamilan, terapi awal yang memadai adalah tirah baring, analgesia dan
observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan konservatif selalu lebih disukai apabila janin

imatur. Namun, pada torsi akut atau perdarahan intra abdomen memerlukan interfensi
pembedahan. Seksio sesarea merupakan indikasi untuk kelahiran apabila mioma uteri
menimbulkan kelainan letak janin, inersia uteri atau obstruksi mekanik (Muzakir cit
Taber, 2004).
Pengaruh mioma uteri pada kehamilan adalah :
-

Kemungkinan abortus lebih besar karena distorsi kavum uteri khususnya pada
mioma submukosum.

Dapat menyebabkan kelainan letak janin

Dapat menyebabkan plasenta previa dan plasenta akreta

Dapat menyebabkan HPP akibat inersia maupun atonia uteri akibat gangguan
mekanik dalam fungsi miometrium

Dapat menganggu proses involusi uterus dalam masa nifas

Jika letaknya dekat pada serviks, dapat menghalangi kemajuan persalinan dan
menghalangi jalan lahir.

F. Pengaruh kehamilan pada mioma uteri adalah :


-

Mioma membesar terutama pada bulan-bulan pertama karena pengaruh estrogen


yang meningkat

Dapat terjadi degenerasi merah pada waktu hamil maupun masa nifas seperti telah
diutarakan sebelumnya, yang kadang-kadang memerlukan pembedahan segera guna
mengangkat sarang mioma. Namun, pengangkatan sarang mioma demikian itu jarang
menyebabkan perdarahan.

Meskipun jarang, mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi dengan gejala dan
tanda sindrom akut abdomen.
Terapi mioma dengan kehamilan adalah konservatif karena miomektomi pada

kehamilan sangat berbahaya disebabkan kemungkinan perdarahan hebat dan dapat juga
menimbulkan abortus. Operasi terpaksa jika lakukan kalau ada penyulit-penyulit yang

menimbulkan gejala akut atau karena mioma sangat besar. Jika mioma menghalangi jalan
lahir, dilakukan SC (Sectio Caesarea) disusul histerektomi tapi kalau akan dilakukan
miomektomi lebih baik ditunda sampai sesudah masa nifas.
2.12 Fase-fase penyembuhan luka post operasi
a. Fase I
Penyembuhan luka berlangsung selama 3 hari, setelah pembedahan.
Pada fase ini terjadi penumpukan benang-benang fibrin dan
membentuk gumpalan yang mengisi luka dan pembuluh darah yang
terputus. Leukosit mulai mencerna bakteri dan jaringan yang rusak.
b. Fase II
Berlangsung 3-14 hari setelah pembedahan leukosit mulai berkurang
dan luka berisi kolagen yang kemudian menunjang luka dan baik pada
hari ke 6 dan ke-7 serta jahitan boleh diangkat.
c. Fase III
Berlangsung pada minggu ke-2 sampai ke-6, kolagen terus menumpuk
dan menekan pembuluh darah, sehingga suplai darah ke daerah luka
mulai berkurang.
d. Fase IV
Berlangsung beberapa bulan setelah pembedahan, kolagen tetap
ditimbun dan luka semakin kecil atau mengecil. Tegang serta timbul
rasa gatal di sekitar luka.
(Syamsuhidayat, 1997)

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN MIOMA UTERI
3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dalam melakukan asuhan keperawatan
secara keseluruhan. Pengkajian terdiri dari tiga tahapan yaitu pengumpulan data,
pengelompakan data atau analisa data dan perumusan diagnosa keperawatan
1. Pengumpulan Data.
Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi
(data-data) dari klien. Data yang dapat dikumpulkan pada klien sesudah
pembedahan Total Abdominal Histerektomi dan Bilateral Salphingo
Oophorectomy (TAH-BSO) adalah sebagai berikut :
Usia :
a. Mioma biasanya terjadi pada usia reproduktif, paling sering ditemukan
pada usia 35 tahun keatas.
b.

Makin tua usia maka toleransi terhadap nyeri akan berkurang


c. Orang dewasa mempunyai dan mengetahui cara efektif dalam
menyesuaikan diri terutama terhadap perubahan yang terjadi pada
dirinya akibat tindakan TAH-BSO.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama yang timbul pada pre operasi biasanya dapat ditemukan

penderita seringkali mengeluh rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian
bawah, kadang mempunyai gangguan haid dan ada nyeri
Keluhan yang timbul pada hampir tiap jenis operasi adalah rasa nyeri
karena terjadi torehant tarikan, manipulasi jaringan organ. Rasa nyeri setelah
bedah biasanya berlangsung 24-48 jam. Adapun yang perlu dikaji pada rasa

nyeri tersebut adalah :

a. Lokasi nyeri
b. Intensitas nyeri
c. Waktu dan durasi
d. Kwalitas nyeri.
3. Riwayat Reproduksi
a. Haid
Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir, sebab mioma uteri
tidak pernah ditemukan sebelum menarche dan mengalami atrofi pada
masa menopause.
b. Hamil dan Persalinan
Kehamilan mempengaruhi pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri
tumbuh cepat pada masa hamil ini dihubungkan dengan hormon estrogen,
pada masa ini dihasilkan dalam jumlah yang besar.
Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi psikologi klien dan
keluarga terhadap hilangnya organ kewanitaan.
4. Data Psikologi.
Pengangkatan organ reproduksi dapat sangat berpengaruh terhadap
emosional klien dan diperlukan waktu untuk memulai perubahan yang
terjadi. Organ reproduksi merupakan komponen kewanitaan, wanita
melihat

fungsi

menstruasi

sebagai

lambang

feminitas,

sehingga

berhentinya menstruasi bias dirasakan sebgai hilangnya perasaan


kewanitaan.

40

Perasaan seksualitas dalam arti hubungan seksual perlu ditangani.


Beberapa wanita merasa cemas bahwa hubungan seksualitas terhalangi
atau hilangnya kepuasan. Pengetahuan klien tentang dampak yang akan
terjadi sangat perlu persiapan psikologi klien.
5. Status Respiratori
Respirasi biasnya meningkat atau menurun, pernafasan yang ribut dapat
terdengar tanpa stetoskop. Bunyi pernafasan akibat lidah jatuh kebelakang
atau akibat terdapat sekret. Suara paru yang kasar merupakan gejala
terdapat sekret pada saluran nafas . Usaha batuk dan bernafas dalam
dilaksalanakan segera pada klien yang memakai anaestesi general.
6. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan sederhana

yang

harus dijawab oleh klien atau di suruh untuk melakukan perintah. Variasi
tingkat kesadaran dimulai dari siuman sampai ngantuk, harus di observasi
dan penurunan tingkat kesadaran merupakan gejala syok.
7. Status Urinari
Retensi urine paling umum terjadi setelah pembedahan ginekologi,
klien yang hidrasinya baik biasanya baik biasanya kencing setelah

sampai 8 jam setelah pembedahan. Jumlah output urine yang sedikit akibat
kehilangan cairan tubuh saat operasi, muntah akibat anestesi.

8. Status Gastrointestinal
Fungsi gastrointestinal biasanya pulih pada 24-74 jam setelah
pembedahan, tergantung pada kekuatan efek narkose pada penekanan
intestinal. Ambulatori dan kompres hangat perlu diberikan untuk
menghilangkan gas dalam usus.
9. Pemeriksaan fisik
a. Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah.
b. Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan
tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum douglasi.
c. Konsultasi padat, kenyal, permukaan tumor umumnya rata.
10 Pemeriksaan luar
Teraba masa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan
tumor dapat terbatas atau bebas.
11. Pemeriksaan dalam
Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat
terbatas atau bebas dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan.
Pemeriksaan Penunjang
1. USG : Untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan
endometrium dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. Mioma juga dapat
dideteksi dengan CT Scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu
lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya,
leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya
dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan.

2. Dalam sebagian besar kasus, mioma mudah dikenali karena pola gunanya
pada beberapa bidang tidak hanya menyerupai terapi juga bergabung
dengan uterus, lebih lanjut uterus membesar dan berbentuk tidak teratur.
3. Foto BNO/ IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga
pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter.
4. Histerografi dan histereskopi untuk menilai pasien mioma submukosa
disertai dengan infertilitas.
5. Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.
6. Laboratorium, darah lengkap, urine lengkap gula darah, tes fungsi hati,
ureum, kreatinin darah.
7. Tes kehamilan.
8. D/K (dilatasi dan kuretase) pada penderita yang disertai perdarahan untuk
menyingkirkan kemungkinan patologi pada rahim (hiperplasia atau
adenokarsinoma

endometrium).

(Achadiat,

Chrisdiono

M,

2004),

berhubungan

dengan

(Mansjoer, Arif, 2001), (Prawiroharjo, S, 1999)


3.2 Diagnosa Keperawatan
Pre 0perasi:
10. Nyeri berhubungan dengan nekrosa dan perkengketan.
11. Resiko

kekurangan

volume

cairan

tubuh

pendarahan dan muntah


12. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses atau
tindakan operasi.
Post Operasi:

1. Nyeri akut berhubungan dengan robekan pada jaringan saraf perifer.


2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidaknyamanan pasca.
3. Perubahan pola aktivitas berhubungan dengan pembatasan aktivitas
setelah operasi .
4. Resiko tinggi infeksi berhubungn dengan trauma pada kulit

atau

tindakan operasi.
3.3 Intervensi dan Rasional

Pre Operasi
1)

Nyeri berhubungan dengan penurunan atau berkurang.


Tujuan

: Nyeri dapat mengalami penurunan atau berkurang.

Kriteria Hasil : Ketidaknyamanan hilang /terkontrol, menunjukkan postur


tubuh rileks, kemampuan istirahat / tidur dengan cukup.
a)

Intervensi: Kaji tingkat nyeri pasien (skala)


Rasional : Untuk mengetahui skala nyeri.

b)

Intervensi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat


analgetik.
Rasional : Untuk mengurangi/menghilangkan rasa nyeri pada
pasien.

c)

Intervensi: Ajarkan teknik relaksasi atau distraksi untuk


mengurangi nyeri
Rasional : Pasien bisa dengan mandiri mengurangi rasa nyeri.

2) Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan


perdarahan dan muntah.
Tujuan : a) Keseimbangan cairan yang adekuat.
a)

Turgor kulit baik.

Kriteria Hasil: Menunjukkan keseimbangan cairan dengan parameter


individual yang tepat, misal, membran mukosa lembab, turgot kulit
baik, pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil.
a) Intervensi: Hitung balance cairan
Rasional : Untuk mengetahui tingkat dehidrasi pasien.
b) Intervensi: Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : Untuk mengetahui keadaan umum pasien.
c) Intervensi: Kolaborasi pemberian cairan parentera.
Rasional : Untuk meminimalkan tingkat dehidrasi pasien .
d) Intervensi: Berikan antiametik sesuai kebutuhan.
Rasional : Untuk meminimalkan iritasi pada lampu.

e) Intervensi: Pantau hasil laboratorium.


Rasional: Untuk mengetahui peningkatan hasil laboratorium.
3) Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
atau tindakan operasi.
Tujuan:
a)

Pasien paham terhadap proses penyakit atau operasi dan


harapan operasi.

b)

Cemas berkurang.

Kriteria Hasil :
a). Menyatakan kesadaran perasan ansietas dan cara sehat sesuai .
b). Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat yang dapat diatasi.
c). Menunjukkan

strategi

koping

efektif/keterampilan

pemecahan

masalah.
a) Intervensi: Kaji ulang tingkat pehaman pasien .
Rasional:

Untuk

mengetahui

seberapa

jauh

peningkatan

bahan

pengajaran

pengetahuan pasien.
b) Intervensi:

Gunakan

sumber-sumber

sesuai keadaan .
Rasional : Untuk mengetahui sumber teori.
c) Intervensi: Pengajaran pra opersi secara individu tentang
pembatasan dan prosedur pra operasi
Rasional : Untuk memberikan gambaran kepada pasien.

d) Intervensi: Informasi kepada pasien keluarga atau orang terdekat


tentang rencana prosedur tindakan .
Rasional : Meminimalkan tingkat kecemasan keluarga
Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan robekan pada jaringan saraf
Perifer.
Tujuan:
a)
b)

Ekspresi wajah pasien rilek


Mengungkapkan penurunan nyeri Kriteria
Hasil:

a) Melaporkan nyeri/ ketidaknyamanhilang / terkontrol


b) Mendemonstrasikan penggunaan teknik relaksasi
c) Menunjukkan menurunnya tegangan, rileks, mudah bergerak
a) Intervensi: Kaji tingkat nyeri pasien (skala).
Rasional : Untuk mengetahui skala nyeri
b) Intervensi: Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat
analgetik
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri.
c) Intervensi: Atur posisi tidur semalaman mungkin .
Rasional : Dengan posisi yang nyaman nyeri dapat berkurang
d) Intervensi:

Ajarkan teknik relaksasi atau distraksi untuk

mengurangi nyeri.

Rasional: untuk mengurangi rasa nyeri

3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidaknyamanan pasca.


Tujuan: Bunyi nafas normal, nafas tidak koping hidung, tidak terjadi.
Kriteria hasil : Mempertahankan pola pernapasan normal

/efektif, bebas

sianosis, dengan GDA dalam batas normal pasien .


a)Intervensi: Atur posisi kepala ekstensi, atau sesuai kebutuhan
untuk mempertahankan ventilasi.
Rasional : Untuk memperlancar jalan nafas
b) Intervensi: Bantuan pasien untuk merubah posisi bentuk dan
nafas dalam.
Rasional : Untuk mengefektifan jalan nafas
c) Intrvensi: Kaji adanya hipoksia.
Rasional : Untuk mengurangi terjadinya henti nafas
d) Intervensi: Monitor respiratori rate
Rasional: Untuk mengetahui perkembangan jalan nafas
3

Perubahan pola aktivitas berhubungan dengan pembatasan aktivitas setelah


operasi .
Tujuan : a) Melakukan aktivitas sesuai kemampuan .

b) Kebutuhan tubuh pasien terpenuhi.


Kritria Hasil : a) Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan,
memenuhi perawatan diri sendiri .
b) Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat
diukur, dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan
kelelahan .

a) Intervensi: Pantau aktivitas yang dapat dilakukan pasien.


Rasional : Untuk mengetahui tingkat kelemahan pasien
b) Intervensi: Bantu pasien untuk ambulasi dini dan
tingkatkan aktivitas sesuai kemampuan pasien .
Rasional : Untuk mengetahui tingkat aktivitas pasien
c) Intrvensi: Bantuan pasien dalam pemenuhan kebutuhan
sehari-hari
Rasional

Untuk

membantu

dalam

pemenuhan

kebutuhan pasien.
4

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma pada kulit atau tindakan
operasi.
Tujuan : a) Penyembuhan luka tepat waktu .
b) Tidak ada tanda-tanda infeksi .
Kriteria Hasil :
1) Dapat mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan
risiko infeksi .
2) Menunjukkan teknik perubahan pola hidup

untuk meningkatkan

lingkungan yang aman.


a)

Intervensi: Monitor luka operasi.


Rasional : Untuk mengetahui keadaan luka pada pasien.

b) Intervensi: Rawat luka sesuai prinsip .


Rasional : Pertahankan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan

50

c)

Intervensi: Pertahankan cuci tangan sebelum dan sesudah


tindakan.
Rasional : Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit .

d) Monitor tanda- tanda vital


Rasional : Untuk mengetahui keadaan umum pasien
e)

Kolaborasi

pemberian

antibiotik

sesuai

indikasi

Rasional : Untuk mmencegah terjadinya infeksi.


(Doenges, 2000)
3.4 Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan merupakan langkah keempat dari proses keperawatan dan merupaka
wujud nyata dari rencana keperawatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan pasien akan
keperawatan dengan melaksanakan kegiatan kegiatan sesuai dengan alternatif tindakan
yang telah direncanakan. Pelaksanaan keperawatan sebagai data untuk rencana keperawatan.
3.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam keperawatan untuk menilai pencapaian
tujuan. Berdasarkan analisis, jika tujuan belum tercapai maka dilakukan perencanaan
selanjutnya (P) sebagai berikut :
1. Rencana dilanjutkan yang artinya diagnosa tetap berlaku, tujuan atau intervensi masih
memadai.
2. Direvisi yang artinya diagnosa tetap berlaku, tujuan atau intervensi perlu direvisi.
3. Diagnosa keperawatan atau kemungkinan menjadi aktual atau bahkan disingkirkan (untuk
diagnosa kemungkinan). Jika diagnosa menjadi aktual maka dibutuhkan perencanaan
baru sehinggadalam planning (P) diuraikan perencanaan yang dimaksud.
4. Tujuan tercapai maka perencanaan selanjutnya tidak perludilanjutkan, tidak perlu direvisi
dan tidak perlu perencanaan baru

5. Rencana semula dipakai lagi, jika dalam analisis ditentukan bahwa masalah atau diagnosa
yang telah teratasi terjadi kembali

BAB IV
PENUTUP
3.1 Simpulan
Sebagian besar kasus mioma uteri adalah tanpa gejala, sehingga kebanyakan
penderita tidak menyadari adanya kelainan pada uterusnya. Diperkirakan hanya 20%50% yang menimbulkan gejala klinik, terutama perdarahan menstruasi yang berlebihan,
infertilitas, abortus berulang, dannyeri akibat penekanan massa tumor. Sampai saat ini
penyebab pasti miomauteri belum dapat diketahui secara pasti, namun dari hasil
penelitian diketahui bahwa pertumbuhan dan perkembangan mioma uteri distimulasioleh
hormon esterogen dan siklus hormonal
3.2 Saran
Untuk mencapai suatu keberhasilan yang baik dalam pembuatan makalah selanjutnya,
maka penulis memberikan saran kepada:
1 Mahasiswa
Dalam pengumpulan data, penulis mendapatkan berbagai kesulitan. Dengan usaha
yang sungguh-sungguh, sehingga penulis mendapatkan data untuk dapat menyelesaikan
makalah ini.
2

Pendidikan
Pada Prodi Keperawatan, khususnya perpustakaan, agar dapat menyediakan bukubuku yang sudah mengalami perubahan-perubahan yang lebih maju sehingga buku
tersebut bukan saja sebagai sumber ilmu tetapi dapat dijadikan sumber referensi untuk
materi makalah. Khususnya untuk makalah-makalah yang akan dijadikan makalah
selanjutnya.
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar
penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Semoga makalah
ini dapat dijadikan sebagai acuan pembuatan makalah Asuhan Keperawatan Mioma

Uteri selanjutnya dan mahasiswa memahami asuhan keperawatan Mioma Uteri sehingga
dapat mengaplikasikannya.

DAFTAR PUSTAKA
Mantri. 2014. Askep Mioma Perioperatif Dengan Pathways Keperawatan.
http://arieswibowosastrowidjojo.blogspot.co.id/2014/03/askep-mioma-perioperatif-dengan.html
(diakses pada hari Senin tanggal 28 Maret 2016 pukul 15.00 wita)
Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRH. Dalam :
Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius FKUI, 2003; 151 156.
Diakses
9
Oktober
2010.
http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/health-sciences/miomauteri/mrdetail/906/
http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1329