Anda di halaman 1dari 154

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. SASARAN KULIAH


1)

Mahasiswa

diharapkan

mensintesiskan

dapat

merangkum

pengetahuan

keekonomian

yang

telah

perancangan

(penentuan

kerekayasaan

diperoleh
pit

ke

limit)

dan

dalam

dan
dan
suatu

perencanaan

(pentahapan) serta evaluasi suatu tambang terbuka yang


modern.
2)

Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang :


a.

Falsafah perencanaan

b.

Pengertian cut off grade, stripping

ratio dan kadar ekivalen


c.

Penaksiran cadangan bijih

d.

Perancangan

batas

penambangan

(final/ultimate pit limit)


e.

Pentahapan

tambang

(mine

phases/pushbacks)
f.

Penjadwalan

produksi

tambang

(mine production schedule)


g.

Perancangan

tempat

penimbunan

(waste dump design)


h.

Perhitungan

kebutuhan

alat

dan

i.

Perhitungan capital and operating

j.

Evaluasi finansial

tenaga kerja
costs

1.2. PENGERTIAN PERENCANAAN

I-1

1.2.1. Definisi Perencanaan


Banyak sekali definisi yang dicetuskan mengenai perencanaan
ditinjau dari berbagai sudut pandangan dan tujuan. Salah satu di
antaranya adalah sebagai berikut.
Perencanaan adalah penentuan persyaratan teknik pencapaian
sasaran

kegiatan

serta

urutan

teknis

pelaksanaan

dalam

berbagai macam anak kegiatan yang harus dilaksanakan untuk


pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan.
Perencanaan adalah salah satu tahapan kegiatan dalam proses
manajemen seperti terlihat pada Gambar 1.1.
Perencanaan tambang :
Bagaimana

kita

bisa

membuat

rancangan

tambang

(mencapai ultimate pit limit) dalam jangka waktu tertentu


secara aman dan menguntungkan.
Bagaimana menentukan tahapan penambangan.
Perencanaan berhubungan dengan waktu.
Perancangan tambang :
Istilah

perancangan

tambang

biasanya

dimaksudkan

sebagai bagian dari proses perencanaan tambang yang


berkaitan dengan masalah-masalah geometrik. Di dalamnya
termasuk perancangan batas akhir penambangan, tahapan
(pushback),

urutan

penambangan

tahunan/

bulanan,

penjadwalan produksi dan waste dump.


Bagaimana menentukan ultimate pit limit.
Perancangan tidak berhubungan dengan waktu.
Aspek perencanaan tambang yang tidak berkaitan dengan
masalah geometri meliputi perhitungan kebutuhan alat dan
tenaga kerja, perkiraan biaya kapital dan biaya operasi.

I-2

Pada Gambar 1.2 ditunjukkan posisi perencanaan dalam suatu


siklus dan pada Gambar 1.3 adalah tahapan kegiatan pada
industri pertambangan.

I-3

Gambar 1.1. Perencanaan Sebagai Salah Satu Tahapan


Kegiatan Dalam Proses Manajemen

I-4

Gambar 1.2. Mineral Supply Process (McKenzie, 1980)

1.2.2. Arti Perencanaan


Perencanaan dapat diartikan sebagai kegiatan berikut.
1)

Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai.

2)

Proses persiapan secara sistematik mengenai kegiatan yang


akan dilakukan.

3)

Cara mencapai tujuan dan sasaran dengan menggunakan


sumber dan kemampuan yang tersedia secara berdaya guna
dan berdaya hasil.

4)

Pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan


yang dapat terjadi yang dapat mempengaruhi pencapaian
tujuan.

5)

Penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk mencapai


tujuan berdasarkan analisa tujuan dan kesempatan.

I-5

Prospeksi

Peta topografi
Geologi
Mineralogi
Geofisika
Geokimia

Peta temuan
Percontoh batuan

Pemboran inti
Jumlah & sifat

cadangan
Sumur uji (tes pit)

Eksplorasi

Kadar endapan
Terowongan buntu (adit)
Sifat fisik, kimia,

mekanik
Stratigrafi & litologi

Penentuan sasaran

(target) produksi
Pemilihan metoda
Studi
lingkungan
penambangan
Pemilihan peralatan :
macam dan ukurannya
Evaluasi teknis & ekonomis

Layak/tidak layak
ditambang ?
Kerusakan

Kelayakan

Layak Tambang
Tambang
(mineable)

dapat ditangani
Dokumen Amdal, RKL,
RPL

Tidak Layak
(unmineable)
Masuk Arsip

Ada agunan
Jual saham
Jaminan
Mencari Dana Pinjaman bank
kepercayaan
Uang sendiri
Penentuan sasaran produksi
Pemilihan metoda penambangan
& batas penambangan

Rekacipta

Tambang
Penentuan macam & ukuran
peralatan
rancangan

I-6

Peta

Analisis kemantapan lereng

kemajuan
Tata letak sarana

&
prasarana
tambang
A

Pengupasan tanah penutup


Pembangunan sarana
prasarana tambang

Persiapan
Penambangan

Geologi & pemercontohan


Penambangan
Pemetaan kemajuan tambang
Pemberaian, pemuatan &
penangkutan
Energi, bahan kerja, suku cadang
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan

Pengecilan ukuran &


Pengolahan

klasifikasi
Pencucian & konsentrasi
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan

Proses ekstraktif metalurgi


Pemurnian logam
Pengelolaan & pemantauan
lingkungan

Medan kerja awal


Sumuran dalam
Terowongan buntu

Produksi bijih
Re-vegetasi

Konsentrat

Bahan Galian

Metalurgi

Pengangkutan

I-7

Paduan logam
Logam murni

Promosi
Penelitian & pengembangan
produksi

Pemasaran

Gambar 1.3. Tahap Kegiatan Pada Industri Pertambangan

1.2.3. Fungsi Perencanaan


Fungsi perencanaan tergantung dari jenis perencanaan yang
digunakan dalam sasaran yang dituju, tetapi secara umum fungsi
perencanaan dapat dikatakan antara lain sebagai berikut.
1)

Pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan


kegiatan dalam pencapaian tujuan.

2)

Perkiraan

terhadap

masalah

pelaksanaan,

kemampuan,

harapan, hambatan dan kegagalannya mungkin terjadi.


3)

Usaha untuk mengurangi ketidakpastian.

4)

Kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik.

5)

Penyusunan urutan kepentingan tujuan.

6)

Alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan


penilaian.

7)

Cara dan penggunaan dan penempatan sumber daya secara


berdaya guna dan berdaya hasil.

1.2.4. Tujuan Perencanaan Tambang


Tujuan dari pekerjaan perencanaan tambang adalah membuat
suatu rencana produksi tambang untuk sebuah cebakan bijih
yang akan :
1)

Menghasilkan tonase bijih pada tingkat produksi yang telah


ditentukan dengan biaya yang semurah mungkin.

I-8

2)

Menghasilkan

aliran

kas

(cash

flow)

yang

akan

memaksimalkan beberapa kriteria ekonomik seperti rate of


return atau net present value.
1.2.5. Masalah Perencanaan Tambang
Masalah

perencanaan

tambang

merupakan

masalah

yang

kompleks karena merupakan problem geometrik tiga dimensi


yang selalu berubah dengan waktu. Geometri tambang bukan
satu-satunya parameter yang berubah dengan waktu. Parameterperameter ekonomi penting yang lain pun sering merupakan
fungsi waktu pula.
Berikut ini adalah parameter-parameter yang digunakan didalam
perancangan tambang terbuka.

I-9

Gambar 1.4. Open Pit Design Parameter (D.J.


Charbonneau, 1991)

1.2.6. Biaya Perencanaan


Biaya perencanaan (Lee, 1984) bervariasi bergantung kepada
ukuran dan faktor alamiah proyek, tipe dari studi yang dilakukan,
jumlah alternatif yang harus diteliti dan sejumlah faktor lain.
Atau bisa dinyatakan dalam persamaan berikut.
Biaya = f (ukuran dan sifat dari proyek, jenis studi,
jumlah alternatif yang diinvestigasi, dll)
Dalam rangka menghitung biaya atau bagian teknik dari studi
tidak termasuk seperti ongkos pemilikan, ongkos pengeboran
eksplorasi, uji metalurgi, lingkungan dan studi hukum, atau studi
pendukung lainnya, biasanya dinyatakan sebagai persentase dari
biaya modal dari proyek :
Studi konseptual

= 0,10,3 % dari biaya total

Studi pra kelayakan = 0,20,8 % dari biaya total


Studi kelayakan

= 0,51,5 % dari biaya total

Gambar 1.5 memperlihatkan beberapa tahapan untuk melakukan


suatu kegiatan tambang yang berhubungan dengan pengaruh
biaya yang harus dikeluarkan.

I - 10

Gambar 1.5. Pengaruh Tahapan Perencanaan Terhadap


Biaya (Lee, 1984)

1.2.7. Akurasi Dari Estimasi


1) Tonase dari kadar
Pada tahap studi kelayakan, karena pengambilan sampel yang
banyak dan pemeriksaan yang berulang, kadar rata-rata dari
penambangan dari beberapa tonase yang diumumkan, disukai
karena diketahui memiliki limit yang dapat diterima, katakanlah
5%, dan diturunkan dari metoda statistik yang standar. Walaupun
tonase yang pasti dari bijih mungkin untuk tambang terbuka
diketahui jika pemboran eksplorasi dari permukaan, dalam
kenyataannya tonase ultimate dari banyak endapan bervariasi

I - 11

karena ia tergantung pada biaya harga dihubungkan dengan


panjang waktu proyek.
Dua standar yang penting yang dapat didefinisikan untuk
sebagian tambang terbuka adalah :

a.

Cadangan minimum bijih harus sebanding untuk keperluan


yang dibutuhkan untuk seluruh tahun cash flow yang
diproyeksikan

dalam

laporan

studi

kelayakan

haruslah

diketahui dengan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

b. Sebuah tonase ultimate yang potensial, diproyeksikan


berlanjut dan optimistik, seharusnya dikalkulasikan dengan
baik untuk mendefinisikan area tambahan yang berpengaruh
untuk

penambangan

dan

dimana

dumping

area

serta

bangunan pabrik harus diletakkan.


2) Unjuk kerja
Unit-unit dari penambangan open pit sudah memiliki rate unjuk
kerja yang stabil dan biasanya dicapai jika bekerja dalam
organisasi yang baik dan pengorganisasian alat (misal Shovel dan
Truck) secara tepat. Unjuk kerja akan terganggu jika pekerjaan
tambahan (pengupasan tanah penutup dalam sebuah pit) tidak
mencukupi. Pemeliharaan harus dilakukan dan pekerjaan ini
harus dijadwalkan secara baik dan disediakan dalam laporan
studi kelayakan.
3) Biaya
Beberapa mata biaya, terutama ongkos operasi dilapangan,
hanya berbeda sedikit dari setiap tambang dan dapat diketahui
secara

detail.

Beberapa

mungkin

unik

atau

sukar

untuk

diperkirakan. Umumnya akurasi dalam modal atau operasi


estimasi biaya operasi kembali pada akurasi dalam kuantitas,

I - 12

kuota yang ada atau unit harga, kecukupan ketentuan untuk


ongkos

tidak

langsung

dan

overhead.

Tendensi

terakhir

menunjukkan adanya batas yang meningkat.


Akurasi dari modal dan estimasi dari biaya operasi meningkat
ketika proyek meningkat dari studi konseptual ke pra kelayakan
dan tahap studi kelayakan. Normalnya range yang bisa diterima
untuk akurasi diberikan sebagai berikut.

Faktor kesalahan dari studi konseptual + 30% dari biaya total


Faktor kesalahan dari pra studi kelayakan + 20% dari biaya
total

Faktor kesalahan dari studi kelayakan + 10% dari biaya total

4) Harga dan perolehan


Pendapatan selama umur tambang adalah kategori utama dari
uang. Itu harus membayar seluruhnya, termasuk pembayaran
kembali dari investasi awal dari uang, karena pendapatan adalah
dasar yang terbesar dalam mengukur faktor ekonomi tambang
sehingga

lebih

sensitif

mengubah

penerimaan

daripada

mengubah faktor-faktor lain dari jenis-jenis pengeluaran.


Penerimaan ditentukan oleh kadar, recovery, dan harga dari
produk metal. Oleh karenanya, harga adalah : (a) sejauh ini
sangat sulit untuk diestimasi dan (b) suatu jumlah yang besar
diluar dari kontrol estimator. Walaupun mengabaikan inflasi,
harga pembelian secara lebar bervariasi terhadap waktu. Kecuali
komoditi yang bisa dikontrol dengan tepat, mereka mengarah
untuk mengikuti bentuk siklus.
Departemen

pemasaran

harus

menginformasikan

hubungan

suplai dan permintaan dan pergerakan harga metal. Mereka


dapat juga menyediakan harga rata-rata metal di luar negeri
dalam

harga

dolar

sekarang,

I - 13

baik

kemungkinan

naupun

konservatif. Harga terakhir berkisar 80% dari kemungkinan atau


lebih. Idealnya, walaupun pada harga konservatif, harus tetap
menguntungkan.
1.3. CHECKLIST DATA AWAL YANG HARUS DIKUMPULKAN
Pada awal tahap perencanaan untuk setiap proyek (tambang)
yang baru, terdapat banyak faktor dari berbagai jenis yang harus
dipertimbangkan. Beberapa faktor tersebut dapat dengan mudah
diperoleh, sedangkan beberapa faktor lain diperoleh dengan
suatu keharusan melakukan studi yang mendalam (misalnya
geometri pit).
Untuk menghindari ketidaklengkapan data, maka sebaiknya
dibuat suatu checklist (Rebel, 1975, Field Work Program
Checklist for New Properties).
Checklist Item
1.

Topografi

a. USGS maps 1 : 500, 1 : 1000


b. Special Aerial or land survey establish control stations
2.

Kodisi iklim (climate condition)


a. Ketinggian
b. Temperatur

rata-rata

bulanan

sudah

cukup
c. Presipitasi (untuk penirisan)

rata-rata presipitasi tahunan

rata-rata curah hujan bulanan

rata-rata

run-off

normal dan flood/banjir)


d. Angin, maks, tercatat dalam arah
e. Kelembaban

I - 14

(keadaan

f.

Delay

g. Awan, fog
3.

Air
a. Sumber : mata air, sungai, danau, bor.
b. Ketersediaan : hukum, kepemilikan, biaya.
c. Kuantitas : ketersediaan perbulan,
kesempatan

aliran,

kemung-kinan

lokasi

bendungan.
d. Kualitas : sampel, perubahanperubahan kualitas, efek kontaminasi.
e. Sewage Disposal Methode.
4.

Struktur geologi
a. Dalam daerah tambang
b. Di sekeliling daerah tambang
c. Kemungkinan gempa bumi
d. Akibat pada slope (maks. slope)
e. Estimasi dan kondisi fondasi

5.

Air tambang
a. Kedalaman
b. Konduktivitas
c. Metode Penirisan

6.

Permukaan
a. Vegetasi : tipe, metode pembabatan, biaya
b. Kondisi yang tidak biasa : danau, endapan

deposit, pohon-pohon besar


7.

Tipe/jenis batuan (bijih, overburden)


a. Sampel untuk uji kemampuan dibor
b. Fragmentasi : hardness, derajat pelapukan,

bidang-bidang diskontinu, kecocokan untuk jalan


8.

Lokasi untuk konsentrator

I - 15

a. Lokasi tambang, haul up hill, down hill


b. Preparasi lokasi (cut, fill)
c. Proses air : gravitasi, pompa
d. Tailing disposal
e. Fasilitas pemeliharaan
9.

Tailing pond (daerah)


a. Lokasi pipa
b. Alamiah, bendungan, danau
c. Pond overflow

10.

Jalan
a. Peta jalan
b. Informasi jalan-jalan yang ada :

lebar,

permukaan, batas maksimum beban

batas

maksimum load sesuai musim

pemelih

araan
c. Jalan

yang

dibuat

(harus)

oleh

perusahaan
panjang
profile
cut and fill
jembatan
pengkondisian tanah
dll.
11.

Power
a. Ketersediaan (PLN) : kilovolt, jarak
(terdekat), biaya
b. Kabel ke SIB
c. Lokasi sub station

I - 16

d. Kemungkinan untuk power station


sendiri
12.

Smelting
a. Ketersediaan pabrik
b. Metode

pengapalan

jarak,

alat

angkut, awak reet, dll.


c. Biaya
d. Aspek terhadap lingkungan
e. Rel KA, dok.
13.

Kepemilikan lahan
a. Kepemilikan : negara, pribadi
b. Tata guna lahan
c. Harga tanah
d. Jenis oplians : sewa, beli, dll.

14.

Pemerintah
a. Suasana politik
b. Hukum, UU pertambangan
c. Keadaan lokal

15.

Kondisi ekonomi
a. Industri

utama

yang

ada,

berpengaruh ke infrastruktur
b. Kesediaan tenaga kerja
c. Skala penggalian
d. Struktur pajak
e. Ketersediaan sarana, toko, rumah
sakit, sekolah, rumah
f.

Ketersediaan

bensin, semen, gravel


g. Pembelian

I - 17

material,

termasuk

16.

Lokasi pembuangan (waste) : tambang, rumah

sakit, perumahan
a. Jarak
b. Profil jalan
c. Kemungkinan proses lebih lajut
17.

Aksesibilitas dari kota utama ke luar


a. Metode transportasi
b. Realibilitas dan transportasi yang
tersedia
c. Komunikasi

18.

Metode mendapatkan informasi


a. Past records (pemerintah)
b. Memelihara alat-alat komunikasi
c. Mengumpulkan conto
d. Pengukuran dan pengamatan lokasi
lapangan
e. Survey lapangan
f.

Layout pabrik

g. Check untuk load informasi


h. Check hukum lokal
i.

Personal

inquiry

dan

observasi

suasana politik dan ekonomi


j.

Peta-peta

k. Cost inquiries
l.

Material

m. Membuat
inquiries.

I - 18

utility,

avaliability,

PEKERJAAN RUMAH 1
Dalam perencanaan tambang, agar pekerjaan perencanaan
dapat lebih mudah dilakukan maka masalah tersebut dibagi
menjadi tugas-tugas seperti berikut.

Penentuan Pit Limit

Perancangan push back

Penjadwalan Produksi

Perencanaan Tambang berdasarkan urutan waktu

Pemilihan alat

Perhitungan Ongkos-ongkos Oprerasi dan Kapital.


Tugas anda adalah memberikan mata kuliah apa saja yang

menunjang

tugas-tugas

dalam

gambarkan diagramnya.

I - 19

penyelesaian

tersebut,

dan

BAB II
PENAKSIRAN CADANGAN BIJIH (REVIEW)

2.1. PENTINGNYA PENAKSIRAN CADANGAN


1)

Memberikan taksiran dari kuantitas (ton) dari cadangan bijih.

2)

Memberikan perkiraan bentuk 3-dimensi dari cadangan bijih


serta distribusi ruang (spatial) dari nilainya. Hal ini penting
untuk

menentukan

urutan/tahapan

penambangan,

yang

pada gilirannya akan mempengaruhi pemilihan peralatan


dan NPV (Net Present Value) dari tambang.
3)

Jumlah cadangan menentukan umur tambang. Hal ini penting


dalam

perancangan

pabrik

pengolahan

dan

kebutuhan

infrastruktur lainnya.
4)

Batas-batas

kegiatan

penambangan

(pit

limit)

dibuat

berdasarkan taksiran cadangan. Faktor ini harus diperhatikan


dalam

menentukan

lokasi

pembuangan

tanah/batuan

penutup dan tailing (waste dump & tailings impoundment),


pabrik pengolahan bijih, bengkel dan fasilitas lainnya.
Karena semua keputusan teknis di atas amat tergantung
padanya, penaksiran cadangan merupakan salah satu tugas

I - 20

terpenting dan berat tanggung jawabnya dalam mengevaluasi


suatu proyek pertambangan.
Harus pula diingat bahwa penaksiran cadangan menghasilkan
suatu

taksiran.

Model

cadangan

yang

kita

buat

adalah

pendekatan dari realitas, berdasarkan data/informasi yang kita


miliki, dan masih mengandung ketidakpastian.

2.2. PERSYARATAN DARI PENAKSIRAN CADANGAN


1) Suatu taksiran cadangan harus mencerminkan secara tepat
kondisi geologis dan karakter/sifat dari mineralisasi.
2) Selain itu iapun harus sesuai dengan tujuan dari evaluasi.
Suatu model cadangan bijih yang akan digunakan untuk
perancangan

tambang

harus

konsisten

dengan metoda

penambangan dan teknik perencanaan tambang yang akan


diterapkan.
3) Taksiran yang baik harus berdasarkan pada data faktual yang
diolah/diperlakukan secara objektif. Keputusan apaka suatu
data akan dipakai/tidak dipakai harus diambil dengan tak
semena-mena. Tidak boleh ada pembobotan data secara
sewenang-wenang, pembobotan yang berbeda harus dengan
dasar yang jelas.
4) Metoda penaksiran yang digunakan harus memberikan hasil
yang

dapat

dicek/diperiksa.

Tahap

pertama

setelah

penaksiran cadangan diselesaikan adalah memeriksa taksiran


kadar dari unit penambangan (blok) dengan data (komposit
atau

assay

bor)

yang

ada

di

sekitarnya.

Setelah

penambangan dimulai, taksiran kadar dari model cadangan

I - 21

kita

harus

cek ulang dengan kadar dan tonase

hasil

penambangan yang sesungguhnya.


2.3. ASPEK LEGAL/HUKUM DARI PENAKSIRAN CADANGAN
Nilai suatu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan
berkaitan langsung dengan kuantitas dan kualitas cadangan
mineral

yang

dimilikinya.

Untuk

perusahaan-perusahaan

tambang yang sahamnya dijual-belikan kepada publik melalui


pasar modal, badan pemerintah seperti SEC (Securities and
Exchange Commission) di Amerika Serikat mementau dan
mengawsi cadangan mineral mereka.
1)

Dokumen yang berisi pernyataan jumlah cadangan bijih (10k


document) harus diisi dan diperbaharui setiap tahun.

2)

SEC juga memeriksa pernyataan mengenai jumlah cadangan


yang

dibuat

dalam

prospektus

penawaran

saham

perusahaan.
Formulir S-18 dari SEC merupakan dokumen yang digunakan
dalam pendaftaran sekuritas. Butir 17A dari formulir ini layak
diperhatikan, karena menyangkut juga definisi yang dipakai SEC
untuk menentukan Proven and Probable Reserves

(cadangan

terbukti dan terkira sering pula disebut Measured and Indicated


Reserves)
1)

Cadangan (reserve) :
Bagian dari cebakan mineral yang secara ekonomik dan
secara hukum dapat ditambang atau diproduksi pada waktu
perhitungan cadangan dilakukan.

2)

Cadangan terbukti/terukur (proven/measured reserves) :


Suatu cadangan yang :

kuantitas

atau

jumlahnya

dihitung

dari

data

singkapan, sumur-sumur uji, galian atau lubang-lubang

I - 22

bor,

kualitas

atau

kadarnya

dihitung

dari

hasil

pengambilan percontoh secara detail, dan


lokasi

pengamatan,

pengambilan percontoh dan pengukuran cukup dekat satu


sama lain dan sifat-sifat geologinya cukup diketahui
sehingga ukuran, bentuk, kedalaman, serta kadar mineral
dari cadangan dapat ditentukan dengan pasti.
3)

Cadangan terkira (probable/indicated reserves)


Cadangan yang kuantitas dan kualitasnya dihitung dari data
yang serupa dengan data pada cadangan terbukti, tetapi
yang lokasi pengamatan, pengukuran dan pengambilan
percontohnya berjarak lebih jauh satu sama lain atau yang
jaraknya masih kurang cukup dekat. Tingkat keyakinan
cadangan terkira ini, walaupun lebih rendah daripada untuk
cadangan terbukti, masih cukup tinggi untuk menganggap
adanya

kesinambungan

(kontinuitas)

antara

titik-titik

pengamatan.
4)

Harap diperhatikan bahwa SEC hanya mengakui klasifikasi


cadangan Terbukti/Proven dan Terkira/Probable. Klasifikasi
yang

lebih

rendah

atau

yang

kurang

pasti,

seperti

Mungkin/Possible tidak dianggap sebagai cadangan dan tak


boleh dimasukkan kedalam prospektus yang ditawarkan.
5)

Harap diperhatikan pula bahwa definisi di atas masih agak subyektif,


sehingga memberikan fleksibilitas yang cukup kepada para ahli
pertambangan/geologi dalam menafsirkannya.

6)

Akhirnya, ada beberapa informasi tambahan yang perlu


diperhatikan dalam mengisi formulir S-18 dari SEC ini.

Dokumen-dokumen lain.

I - 23

1)

Revisi sistem Amerika Serikat yang diusulkan SME (A Guide


for

Reporting

Exploration

Information,

Resources,

and

Reserves, Working Party #79, Society of Mining, Metallurgy,


and Exploration, Inc., 1991).
2)

Kode Australasia (Australasia Code for Reporting of Identified


Mineral Resources and Ore Reserves, 1992).

3)

Rekomendasi CIM (Recommendations on Reserve Definitions


to

the

Canadian

Institute

of

Mining,

Metallurgy

and

Petroleum, prepared by the Mineral Economics Society of


CIM, 1994).
4)

Klasifikasi Cadangan/Sumberdaya Mineral oleh USBM/USGS


(Principles of a Resource/Reserve Classification for Minerals,
US Bureau of Mines and US Geological Survey, Circular 831,
1980).

2.4. MODEL KOMPUTER


1)

Model Blok Teratur (Regular Block Model)


a)

Cebakan bijih dan daerah sekitarnya dibagi menjadi unitunit yang lebih kecil atau blok-blok, yang memiliki
ukuran (panjang, lebar dan tinggi) tertentu. Tinggi blok
biasanya

disesuaikan

dengan

tinggi

jenjang

penambangan.
b)

Tiap-tiap

blok

memiliki

atribut-atribut

seperti

jenis

batuan, jenis alterasi, jenis mineralisasi, kadar (bisa lebih


dari satu mineral), kode topografi, dll.
c)

Model blok teratur adalah model komputer yang paling


umum dipakai hingga saaat ini untuk tambang-tambang
logam/bijih berbatuan keras.

2)
a)

Gridded Seam Model


Untuk permodelan batubara dan cebakan-cebakan berlapis
lainnya.

I - 24

b)

Cebakan mineral dan daerah sekitarnya dibagi menjadi


sel-sel yang teratur, dengan lebar dan panjang tertentu.

c)

Adapun dimensi vertikalnya tidak dikaitkan dengan


tinggi jenjang tertentu, melainkan dengan unit stratigrafi
dari cebakan yang bersangkutan; pemodelan dilakukan
dalam bentuk puncak, dasar dan ketebalan dari unit
stratigrafi (lapisan batubara, dll). Kadar dari berbagai
mineral atau variabel dimodelkan untuk setiap lapisan.

3)

Model Blok Tak Teratur (Irregular Block Model)


a)

Beberapa paket perangkat lunak memungkinkan struktur


data yang lebih canggih sehingga ukuran blok dalam
model tak perlu harus sama. Blok-blok berukuran amat
besar dapat digunakan dalam daerah-daerah tepi yang
tidak termineralisasi, dimana informasi detail tidak
diperlukan. Sebaliknya, blok-blok berukuran kecil dapat
diterapkan didaerah mineralisasi bijih yang penting
dimana detail amat diperlukan.

b)

Namun demikian, model semacam ini tidak mudah


dipindahkan dari suatu perangkat lunak ke perangkat
lunak yang lainnya.

2.5. DATA UTAMA


1)

Geologi
a)

Hasil logging geologi dari data pemboran.

b)

Percontoh

yang

representatif

dari

program

pemboran.
i. Percontoh bor inti (split/skeletal core)
ii. Percontoh bor RC dengan tempatnya (chip trays)
c)

Peta-peta geologi dari pemetaan permukaan, dll

I - 25

2)

Data Kadar (Assay Data)


a)

Sertifikat

kadar

(assay

certificates)

dari

laboratorium
b)

Data

assay

biasanya

digabung

menjadi

data

komposit untuk tinggi jenjang tertentu untuk keperluan


penaksiran kadar blok. Analisa statistik dapat dilakukan
untuk assay dan/atau komposit.
3)

Data Lokasi
a)

Data survai koordinat permukaan dari titik bor.

b)

Data survai bawah tanah dari kemiringan dan deviasi


pemboran.

4)

Peta-peta topografi

2.6. METODA-METODA PENAKSIRAN


1)

Penaksiran Cadangan Secara Manual (Cross-Section)


a)

Masih kerap dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari


proyek.

b)

Hasil penaksiran secara manual ini dapat dipakai sebagai


alat pembanding untuk mengecek hasil penaksiran yang
lebih canggih menggunakan komputer.

c)

Hasil penaksiran secara manual ini tak dapat langsung


digunakan dalam perencanaan tambang dengan bantuan
komputer.

2)

Metoda Poligon
Ada dua metoda poligon yang berbeda :
a)

Penaksiran

cadangan

secara

manual

dengan metoda poligon daerah pengaruh pada dasarnya


tak lagi dilakukan (usang).
b)

Sebaliknya, metoda poligon menggunakan percontoh


terdekat untuk penaksiran kadar blok dalam model

I - 26

(dimana setiap blok memperoleh kadar dari komposi


terdekat) masih umum dilakukan.
3)

Metoda Segitiga
a)

Penaksiran

kadar

blok

dengan

cara

ini

tidak

dilakukan/sudah usang.
b)

Metoda ini penting dalam aplikasi pembuatan kontur


dengan komputer

4)

Metoda Jarak Terbalik (Inverse Distance Method)


a)

Suatu

cara

penaksiran

merupakan

kombinasi

dimana
linier

kadar

atau

suatu

harga

blok

rata-rata

berbobot (weighted average) dari komposit lubang bor


disekitar

blok

tersebut.

Komposit

yang

dekat

memperoleh bobot yang relatif lebih besar, sedangkan


komposit yang jauh dari blok bobotnya relatif lebih kecil.
b)

Pilihan dari pangkat yang digunakan (ID1, ID2, ID3, ...)


berpengaruh terhadap hasil taksiran. Semakin tinggi
pangkat

yang

digunakan

hasilnya

akan

semakin

mendekati metoda poligon komposit terdekat.


c)

Sifat/kelakuan anisotropik dari cebakan mineral dapat


diperhitungkan (space warping).

d)
5)

Merupakan metoda yang masih umum dipakai.

Metoda Geostatistik dan Kriging


a)

Metoda inipun menggunakan kombinasi linier atau harga


rata-rata berbobot (weighted average) dari komposit
lubang bor di sekitar blok untuk menghitung kadar blok
yang ditaksir.

b)

Pembobotan
melainkan

tidak

semata-mata

menggunakan

berdasarkan

korelasi

statistik

jarak,
antar

percontoh (data komposit) yang juga merupakan fungsi


jarak. Karena itu, cara ini lebih canggih dan kelakuan
anisotropik dapat dengan mudah dapat diperhitungkan.

I - 27

c)

Cara ini memungkinkan penafsiran data cebakan mineral


atau cadangan bijih secara probabilistik. Selain itu, ia
memungkinkan pula interpretasi statistik mengenai halhal seperti bias, estimation variance, dll.

d)

Berbagai varian/jenis penaksiran yang berdasarkan pada


metoda kriging dan geostatistik dapat dilakukan.

e)

Merupakan metoda yang paling umum dipakai dalam


penaksiran kadar blok dalam suatu model cadangan.

2.7. PEMERIKSAAN

DARI

SUATU

MODEL

CADANGAN

MINERAL
1)

Bandingkan peta-peta (penampang atas dan penampang


melintang) dari data pemboran (assay/komposit) dengan
peta-peta yang sama untuk model blok. Apakah kadar blok
mengikuti kecenderungan kadar yang tampak pada data
yang digunakan? Apakah kadar dalam model blok selalu
lebih tinggi atau lebih rendah jika dibandingkan dengan
data? Apakah kadar blok diekstrapolasi terlalu jauh ke
daerah yang belum dibor ?

2)

Lakukan perbandingan secara statistik antara kadar blok


dengan
Beberapa

kadar

percontoh

teknik

seperti

(komposit)

yang

digunakan.

statistika

dasar

(rata-rata,

simpangan baku, median, dll) dan perbandingan distribusi


kadar/probability plot dapat dicoba.
3)

Lakukan perhitungan cadangan secara terpisah, secara


manual atau menggunakan komputer. Apakah taksiran ini
sensitif terhadap parameter-parameter penaksiran seperti
jarak pengaruh dalam mencari percontoh, kadar data yang
tinggi atau kadar tertinggi yang diperbolehkan, dsb ?

I - 28

4)

Untuk tambang yang sudah berjalan, satu cara yang dapat


dikerjakan untuk mengetahui kinerja model cadangan adalah
membandingkannya dengan produksi historis. Dua sumber
data produksi adalah laporan produksi tambang (dari analisa
lubang-lubang tembak) dan laporan pabrik pengolahan.

5)

Lakukan

pemeriksaan

yang

rinci

terhadap

data

assay

pemboran itu sendiri. Apakah data dari bor RC sesuai dengan


data dari bor inti yang berdekatan. Pemeriksaan integritas
data dapat pula dilakukan dengan melukakan assay ulang
(biasanya di laboratorium yang berbeda) pemeriksaan assay
terhadap komposit metalurgi, dll.
2.8. BEBERAPA HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN UNTUK
BERBAGAI KOMODITAS
1)

Tembaga (terutama untuk sistem porfiri)


a)

Zona mineralisasi : biasanya ada beberapa

daerah dengan karakter yang berbeda misalnya sulfida,


zona terlindi (leached), oksida, pengkayaan sekunder
atau supergene, dan zona primer atau hypogene.
i. Zona sulfida biasanya menghasilkan
asam

selama

proses

pelapukan,

yang

dapat

melarutkan logam tembaga dan membawanya ke


tempat lain.
ii.

Zona terlindi dicirikan oleh

kadar total copper yang rendah, dan acid soluble


copper merupakan bagian besar dari total copper.
iii.
dicirikan

oleh

Zona
acid

teroksidasi

soluble

biasanya

copper

yang

persentasenya paling tidak 50% dari total copper.


Mineraloginya

terdiri

dari

malachit,

azurit,

dll.

Merupakan target yang baik untuk proses pelindian

I - 29

secara heap leaching tetapi tidak dapat diproses


dengan flotasi.
iv.
b)

Tidak

Zona sekunder

jarang

didapati

intrusi

berkadar

rendah disekitar titik pusat dari zona bijih/mineralisasi


utama. Material ini sering harus dipisahkan.
2)

Emas
a)

Mineralisasi

emas

diendapkan

oleh

cairan/fluida

mediumnya menuruti hubungan antara temperatur dan


tekanan. Garis yang membatasi zona-zona mineralisasi
emas biasanya dapat ditarik. Kadar emas dalam model
cadangan harus menghormati batas-batas mineralisasi
yang ada.
b)

Analisa kadar emas seringkali amat sulit. Jika partikelpartikel emas bebas di dalam bijih mulai melampaui
ukuran 100 mikron, replikasi atau pengulangan untuk
memperoleh hasil yang sama biasanya sukar dicapai.
Biasanya perlu dilakukan assay ulang dalam jumlah
cukup besar.

c)

Jenis atau teknik pemboran yang berbeda (bor inti atau


bor RC) seringkali memberikan hasil analisa assay yang
berbeda. Kontaminasi pada hasil pemboran RC (reverse
circulation) harus dicegah, terutama pada kedalaman di
bawah muka air tanah.

3)

Molibdenum
Banyak cebakan moli primer yang memperlihatkan dengan
jelas zona-zona kadar moli. Biasanya ini dapat dengan
mudah dibuat garis-garis konturnya, baik dari penampang
atas maupun dari penampang melintang. Kadar dalam model
blok perlu merefleksikan hal ini.

4)

Uranium

I - 30

Penaksirancadangan

bijih

untuk

komoditas

ini

amat

kompleks. Sebaiknya anda panggil ahlinya; terlalu banyak


sandungan yang akan menjatuhkan para pemula atau
mereka yang belum berpengalaman.

PEKERJAAN RUMAH 2
Topik : Pembobotan rata-rata
Saudara memiliki dua stockpile bijih tembaga, yang terdiri dari
supergene dan hypogene, sebagai berikut :
Material

Ton

Total

Peroleha

Kadar

Superge

Bijih
91.025

Tembaga
0.410 %

n
85 %

Konsentrat
22.7 %

ne
Hypogen

151.85

0.520 %

92 %

26.7 %

1. Berapakah total tonase bijih dan kadar tembaga rata-rata?


2. Berapakah perolehan rata-rata tembaga?
3. Berapakah kadar rata-rata konsentrat?

I - 31

BAB III
KADAR BATAS, NISBAH PENGUPASAN,
DAN KADAR EKIVALEN

3.1. PERHITUNGAN KADAR BATAS (CUT-OFF GRADE)


1) Kadar Batas Pulang Pokok (Break Even Cut-Off Grade = BECOG)
a) Dalam teori ekonomi, analisis pulang pokok terdiri dari
penentuan nilai parameter yang diinginkan (misalnya :
berapa jumlah produk yang harus dijual) sedemikian rupa
sehinga pendapatan tepat sama dengan ongkos atau
biaya yang dikeluarkan (keuntungan = nol)
b) Dalam pertambangan, yang ingin kita ketahui adalah
berapa kadar bijih yang menghasilkan angka yang sama
antara pendapatan yang diperoleh dari penjualan bijih
tadi dengan biaya yang dikeluarkan untuk menambang
serta memprosesnya. Kadar ini dikenal dengan nama
kadar batas pulang pokok atau break even cut-off grade.
BECOG =

c) Biasanya hanya biaya atau ongkos operasi langsung yang


diperhitungkan dalam penentuan cut-off grade. Ongkosongkos kapital dan biaya tak langsung seperti penyusutan
(depresiasi) pada umumnya tidak dimasukkan.
Untuk keperluan perancangan batas akhir penambangan (pit
design) asumsi yang diambil adalah bahwa umur tambang
cukup panjang sehingga depresiasi tidak lagi merupakan
faktor yang penting. Mengapa ?

I - 32

Karena pada tahap terakhir dari penambangan dimana batas


lereng akhir dari tambang telah dicapai, kapital dan peralatan
telah terdepresiasi secara penuh.
2) Kadar Batas Internal (Internal Cut-Off Grade = ICOG)
a) Jika diasumsikan bahwa satu ton material pasti akan
ditambang,

berapa

kadar

minimum

yang

akan

menghasilkan kerugian lebih kecil dari dua alternatif


berikut : mengirimkan material hasil penambangan ke
pabrik pemrosesan, atau mengirimkan material ini ke
tempat

pembuangan

penambangan

walau

(ingat

bahwa

bagaimanapun

tetap

ongkos
harus

dikeluarkan).
b) Gunakan persamaan yang sama (seperti untuk BECOG),
hanya

dalam

dimasukkan.

hal
Jadi

ini

ongkos

untuk

penambangan

menghitung

ICOG,

tidak
ongkos

penambangan = nol.
3) Kadar Batas Proses
a) Bila tingkat produksi dari pabrik pemrosesan bijih telah
ditentukan, misalnya untuk pabrik flotasi bijih fluida, maka
perhitungan cut-off grade harus memasukkan ongkos
G&A.
b) Sebaliknya, bila tingkat produksinya tidak tertentu seperti
pada kasus pelindian bijih oksida di leach pad, argumen
bahwa kadar batas dapat dihitung tanpa memasukan
ongkos-ongkos G&A adalah argumen yang dapat diterima.
Selama jangka waktu satu tahun pasti akan ada bijih yang
berkadar lebih tinggi yang dapat menutupi biaya-biaya ini.
c) Kadar batas ini kadang-kadang disebut kadar batas
pengolahan (process cut-off), yakni kadar terendah yang
dapat
operasi

menutupi

biaya

penambangan,

pengolahan

langsung.

Dalam

jika anda mempunyai

pabrik

I - 33

pengolahan (mill) dan tambang mengalami kekurangan


bijih yang akut, maka process cut-off
merupakan

kadar

terendah

yang

ini biasanya
masih

dapat

dipertimbangkan untuk dapat dikirimkan ke pabrik


Namun demikian, tujuan dari perencanaan tambang jangka
panjang adalah menghindari keadaan tadi di atas.
3.2. NISBAH PENGUPASAN PULANG POKOK (BREAK EVEN
STRIPPING RATIO =BESR)
1) Nisbah pengupasan didefinisikan sebagai nisbah dari jumlah
material penutup (waste) terhadap jumlah material bijih (ore).
Pada tambang bijih, nisbah ini biasanya dinyatakan dalam ton
waste/ton ore. Di tambang batubara sering dipakai m3 waste/
ton batubara.

SR =
Untuk

atau
geometri

SR =

penambangan

yang

ditetapkan,

nisbah

pengupasan merupakan fungsi dari kadar batas.


2) Jika kadar bijih diketahui dan jika semua keuntungan bersih
dari menambang bijih tersebut dipakai untuk mengupas
tanah penutup

(waste stripping), berapa jumlah tanah

penutup yang dapat dikupas Inilah konsep BESR.


BESR =

Catatan :

Nilai BESR adalah 0 pada titik BECOG (tidak dapat

mendukung stripping).

I - 34

Untuk harga komoditas, perolehan, ukuran pabrik,

tingkat produksi dan ongkos tertentu, BESR merupakan


fungsi linier dari kadar bijih.

BESR merupakan masukan dalam metoda

perancangan tambang secara manual.

3.3. PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN


1) Bilamana dalam cebakan bijijh kita dapati lebih dari satu
meneral (utama dan ikutan), biasanya perlu dipakai konsep
dasar ekivalen untuk mengevaluasinya.
2) Pertama kali, kita definisikan dahulu NSR (Net Smelter Return)
sebagai nilai kotor dari satu ton bijih setelah dikurangi dengan
ongkos-ongkos smelting, refining, dan freight (SRF).
3) Tahap-tahap

perhitungan

kadar

ekivalen

(misalnya

Cu

ekivalen) adalah sebagai berikut.


a) Hitung NSR dari 1 ton (atau 1 tonne) tembaga yang
berkadar bijih 1 %.
b) Hitung NSR dari 1 ton (atau 1 tonne) mineral ikutan,
misalnya moly dengan kadar 1% (atau emas dengan
kadar 1 oz/ton atau

1 g/tonne, dst).

c) Hitung faktor ekivalensi sebagai nisbah (ratio) antara NSR


untuk mineral ikutan terhadap NSR untuk mineral utama.
d) Jadi kadar Cu Ekivalen = total Cu + Faktor x moly.
e) Jika kadar total Cu dan kadar moly (emas, perak, dst)
dalam blok diketahui, maka kadar Cu Ekivalen dari blok
tersebut dapat dihitung.
4) Kadar ekivalen dapat pula dipahami atau didefinikan sebagai
kadar yang menghasilkan gabungan nilai NSR dari semua
mineral yang ada.

I - 35

5) Kadang-kadang lebih mudah bagi kita untuk menggunakan


nilai NSR dan bukan kadar ekivalen.
T

Hitung nilai NSR untuk suatu blok dan gunakan angka ini
sebagai sebuah variabel kadar ekonomik untuk perencanaan
tambang.

Kadar batas pulang pokok (BECOG) hanyalah mengandung


ongkos-ongkos

penambangan,

pengolahan

dan

G&A.

Perolehan mill dan smelter, ongkos-ongkos SRF dan harga


komoditas sudah diperhitung-kan dalam NSR.
PERHITUNGAN KADAR BATAS
Contoh untuk Cu :
Ongkos penambangan (mining cost)

per ton material

$ 0.75
Ongkos pengolahan (milling cost)

per ton bijih

$ 3.25

Ongkos G & A

per ton bijih

$ 0.25

per pound product

$ 0.275

Perolehan pabrik (mill recovery)


94 %
Smelting, refining, freight

Perolehan smelter (smelter recovery)


96.15 %
Harga tembaga

per pound

$0.95
Penghasilan = Biaya (titik pulang pokok ; untuk satu ton bijih)
Harga x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine + Mill +
G&A) + SRF x Kadar x Mill Rec x
SMLT Rec x 20
Harga x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 SRF x Kadar x Mill Rec
x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine +
Mill + G&A)

I - 36

(Harga SRF) x Kadar x Mill Rec x Smlt Rec x 20 = Ongkos (Mine


+ Mill + G&A)
Kadar batas pulang pokok

=
= 0.35 % Cu
Catatan :
Angka 20 adalah faktor konversi dari % ke pound (dengan satuan
pound per persen. Untuk proyek dengan satuan metrik faktor
konversinya adalah 22.046. untuk logam mulia (mis : emas) tidak
diperlukan faktor konversi karena satuannya sudah langsung
dalam satuan produksi (oz/ton atau gram/ton).
Tabel 3.1
Perhitungan Kadar Ekivalen
Harga Komoditas
Perolehan Pabrik
Perolehan Smelter/Konverter
Biaya Smelting Konversi per pound

1.

Tembaga

Moly

$ 0.90
88 %
96.1 %
$ 0.324

$ 3.00
70 %
99 %
$ 0.81

Hitung nilai NSR dari 1 ton bijih

dengan kadar 1% Cu
($ 0.90 - $ 0.324) (1%) (0.88) (0.961) (20 lb/%) = $ 9.74
2.

Hitung nilai NSR dari 1 ton bijih

dengan kadar 1% Moly


($ 3.00 - $ 0.81) (1%) (0.70) (0.99) (20 lb/%) = $ 30.35
3. Faktor Ekivalen = NSR
Moly / NSR Tembaga $ 30.35 / $ 9.74 = 3.1160
4.

Tembaga Ekivalen = Kadar Cu +

3.1160 x Kadar Moly

I - 37

Tabel 3.2
Perhitungan NSR dan BESR
Cu Eq
0.266
0.30
0.35
0.40
0.45
0.50
0.55
0.60
0.65
0.70
0.75
0.80
0.85
0.90
0.95
1.00
1.05
1.10
1.15
1.20

NSR
3.40
3.83
4.47
5.11
5.75
6.39
7.03
7.66
8.30
8.94
9.58
10.22
10.86
11.50
12.13
12.77
13.41
14.05
14.69
15.33

I - 38

BESR
-0.00
0.79
1.95
3.11
4.27
5.43
6.59
7.75
8.91
10.08
11.24
12.40
13.56
14.72
15.88
17.04
18.20
19.37
20.53
21.69

Gambar 3.1. Grafik Hubungan Antara BESR Dan NSR


Dengan Kadar Cu Eq

PEKERJAAN RUMAH 3
Topik : Perhitungan BECOG, ICOG, dan Faktor Eq

I - 39

Data Ekonomik Awal untuk Cebakan KS Creek (dalam $US)


Mining Cost Per Tonne Total Material
Milling Cost Per Tonne Ore
General and Administrative (G&A) Per Tonne

$ 0.55
$ 2.10
$ 0.75

Ore
Mill Recovery of Copper
Mill Recovery of Gold
Smelting, Freight, Refining (SFR) Per Pound

92 %
80 %
$ 0.345

Payable Copper
Smelter Payable (Recovery) of Copper
Smelter Payable (Recovery) of Gold
Copper Price Per Pound
Gold Price Per Tr Oz and (Per Gram)
Breakeven Cutoff Grade for Copper
Internal Cutoff Grade for Copper
Copper Equivalent = Total Copper + .?. x

96.15 %
98 %
$ 1.00
$ 375 ($ 12.06)
?
?
?

Gold

BAB IV
PERTIMBANGAN DASAR RENCANA
PENAMBANGAN

4.1. PERTIMBANGAN EKONOMIS


4.1.1. Cut off Grade

I - 40

Ada 2 pengertian tentang cut off grade, yaitu :


a.

Kadar endapan bahan galian terendah yang

masih memberikan keuntungan apabila ditambang.


b.

Kadar

rata-rata

terendah

dari

endapan

bahan galian yang masih memberikan keuntungan apabila


endapan tersebut ditambang.
Cut off grade inilah yang akan menentukan batas-batas atau
besarnya cadangan, serta menentukan perlu tidaknya dilakukan
mixing/blending.
4.1.2. Break Even Stripping Ratio (BESR)
Untuk menganalisis kemungkinan sistem penambangan yang
akan digunakan, apakah tambang terbuka ataukah tambang
bawah tanah, maka dipelajari Break Even Stripping Ratio (BESR),
yaitu perbandingan antara biaya penggalian endapan bijih (ore)
dengan biaya pengupasan tanah penutup (overburden) atau
merupakan perbandingan biaya penambangan bawah tanah
dengan penambangan terbuka. BESR ini juga disebut over all
stripping ratio.
BESR =

Misalnya biaya penambangan secara tambang bawah tanah =


2,00/ton ore, biaya penambangan secara tambang terbuka =
0,30/ton ore dan ongkos pengupasan tanah penutup = 0,35/ton
waste. Maka untuk memilih salah satu sistem penambangan
digunakan rumus BESR

(1).

BESR(1) =

I - 41

Ini berarti bahwa hanya bagian endapan yang mempunyai BESR


yang lebih rendah dari 4,86 yang dapat ditambang secara
tambang terbuka dengan menguntungkan. Jadi 4,86 adalah
BESR(1) tertinggi yang masih dibolehkan untuk operasi tambang
terbuka dengan kondisi tersebut di atas. Setelah ditentukan
bahwa akan digunakan sistem tambang terbuka, maka dalam
rangka pengembangan rencana penambangan digunakan BESR
(2)

dengan rumus sebagai berikut.


BESR(2) =

BESR(2) ini juga disebut economic stripping ratio yang artinya


berapa besar keuntungan yang dapat diperoleh bila endapan bijih
itu ditambang secara tambang terbuka. Contoh perhitungan
BESR

(2)

untuk bijih tembaga kadar 0,80%, 0,75% dan 0,60%Cu

adalah sebagai berikut.


Dari hasil perhitungan seperti terlihat pada Tabel 4.1 bila harga
logam

Cu = $0,35/lb, ternyata untuk bijih Cu (ore) dengan

kadar 0,80% mempunyai BESR 1,5 : 1 dan kadar 0,60% Cu


mempunyai BESR 0,6 :1. dengan demikian selanjutnya untuk
harga metal $0,30/lb dan $0,35/lb Cu juga dihitung BESR-nya.
Setelah masing-masing BESR dihitung untuk setiap kadar Cu dan
untuk berbagai harga logam Cu, kemudian dapat dibuat grafik
BESR vs kadar Cu (lihat Gambar 4.1).
Dari grafik BESR (lihat Gambar 4.1) terlihat bahwa tinggi
rendahnya BESR sangat dipengaruhi oleh :
- kadar logam dari bijih yang akan ditambang
- harga logam di pasaran
Jadi pada dasarnya, jika terjadi kenaikan harga logam di pasaran,
dapat mengakibatkan perluasan tambang karena cadangan

I - 42

bertambah, sebaliknya jika harga logam turun maka jumlah


cadangan akan berkurang.
Tabel 4.1
Contoh Perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR)
Kadar bijih, % Cu
Smelter recovery, %
Recovery Cu/ton ore, lb
ONGKOS PRODUKSI
Penambangan
Miling, Dpr. & Gen. Cost
Treatment etc.
Ongkos produksi total
ONGKOS PENGUPASAN
Ongkos pengupasan /ton
waste
RECOVERY VALUE
Harga jual per ton bijih
1. Untuk $ 0,25/lb Cu
BESR
2. Untuk $ 0,30/lb Cu
BESR
3. Untuk $ 0,35/lb Cu
BESR

0,80
81,80
14,10

0,60
85,80
10,30

TON BIJIH
$ 0,45
$ 1,25
$ 0,76
$ 2,46

$
$
$
$

$ 0,40

$ 0,40

$ 0,40

$ 3,53
2,5 : 1
$ 4,23
4,2 : 1
$ 4,94
6,0 : 1

$ 3,05
1,5 : 1
$ 4,23
3,0 : 1
$ 4,27
4,5 : 1

$ 2,58
0,6 : 1
$ 3,09
1,8 : 1
$ 3,61
3,2 : 1

$
$
$
$

I - 43

TIAP
0,45
1,25
0,85
2,55

0,70
83,02
12,20

0,45
1,25
0,65
2,35

Gambar 4.1. Contoh Grafik BESR


4.2. PERTIMBANGAN TEKNIS
4.2.1. Ultimate pit slope
Ultimate pit slope adalah batas akhir atau paling luar dari suatu
tambang

terbuka

yang

masih

diperbolehkan,

dan

pada

kemiringan ini jenjang masih tetap mantap (stabil).


Jadi dalam menentukan kemiringan lereng suatu tambang harus
ditinjau dari dua segi, yaitu :
dari segi ekonomis masih menguntungkan
dari segi teknis keamanannya bisa dijamin.
Dengan

demikian,

maka

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

kemiringan lereng (ultimate pit slope) suatu tambang adalah :


BESR yang masih diperbolehkan
Struktur geologi yang meliputi joint, bidang-bidang geser,
patahan, dll.
Ada air, yaitu kandungan air tanah di dalam lapisan-lapisan
batuan.
Unsur waktu.
Hubungan antara ultimate pit slope dengan BESR dapat berubahubah tergantung dari harga metal di pasaran (lihat Gambar 4.2).
4.2.2. Sistem penirisan
Secara garis besar sistem penirisan tambang (drainage system)
dapat dibagi menjadi 2 (dua) golongan yaitu :
- sistem penirisan langsung (konvensional)
- sistem penirisan tidak langsung (inkonvensional)
1) Sistem Penirisan Langsung

I - 44

Adalah sistem penirisan dengan cara mengeluarkan (memompa)


air yang sudah masuk ke dalam tambang.

Gambar 4.2. Hubungan Antara Ultimate Pit Limit Dengan


BESR
Sistem penirisan langsung dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
a) Penirisan dengan tunnel atau adit
Cara penirisan ini hanya bisa diterapkan untuk tambang yang
terletak di daerah pegunungan atau berbentuk bukit.
Air yang masuk ke dalam tambang dikeluarkan dengan cara
mengalirkan air dari dasar tambang ke luar tambang melalui
terowongan (tunnel/adit).
b) Penirisan dengan open sump
Cara penirisan inilah yang pada umumnya banyak digunakan
di tambang-tambang terbuka.
Air yang masuk ke dalam tambang dikumpulkan ke suatu
sumuran (sump) yang biasanya dibuat di dasar tambang dan
dari sumuran tersebut kemudian air dipompa keluar tambang.
2) Sistem penirisan tak langsung

I - 45

Adalah sistem penirisan dengan cara mencegah masuknya air ke


dalam tambang (preventive drainage system) artinya dengan
cara membuat beberapa lubang bor dibagian luar daerah
penambangan atau di jenjang kemudian dari lubang-lubang bor
tersebut air dipompa ke luar tambang.
Ada beberapa macam cara penirisan tak langsung, yaitu :
siemens methods
small pipe with vacuum pump
deep well pump method
electro osmosis methods
4.2.3. Ukuran Jenjang (bench dimension)
Cara-cara pembongkaran akan mempengaruhi ukuran jenjang.
Ada beberapa pendapat tentang ukuran jenjang itu, antara lain :
1)

Menurut Head Quarter of US Army (pits and quarry


tehnical bulletin) No : (5-352)
W minimum = Y + Wt + Ls + G + Wb
keterangan :
W minimum : lebar jenjang minimum, m
Y

: lebar yang disediakan untuk pengeboran, m

Wt : lebar yang disediakan untuk alat-alat, m


Ls

: panjang power shovel tanpa panjang boom, m

: floor cutting radius dari power shovel, m

Wb : lebar untuk broken material, m


2) Menurut Lewis (elements mining)
Tinggi jenjang adalah sebagai berikut.
a. Untuk cara hydraulicking yang baik adalah 200 ft dan
maksimum

600 ft.

I - 46

b. Untuk dredging kedalaman ideal antara 50 ft-80 ft, tetapi


ada yang sampai 130 m.
c. Untuk open cut antara 12 ft75 ft; yang baik adalah 30 ft.
Sedangkan untuk tambang bijih dapat sampai 225 ft.
Lebar jenjang disesuaikan dengan loading track, daerah
operasi power shovel serta untuk peledakan, lebarnya
antara 20 ft76 ft, umumnya 50 ft dan yang ideal 30 ft.
3) Menurut L. Sheyyakov (mining of mineral deposits)
Lebar jenjang tergantung pada metoda penggalian dan
kekerasan mateial yang ditambang.
a. Untuk material lunak
B = (1,00 sampai 1,50) Ro + L + L1 + L2
keterangan :
B

= lebar jenjang, m

Ro = digging radius dari alat muat, m


L

= jarak antara sisi jenjang (bench) dengan rel, 3-4 m

L1 = lebar lori, 1,753,00 m


L2 = jarak untuk menjaga agar tidak longsor, m
b. Untuk material keras
B = N + L + L1 + L2
keterangan :
B

= lebar jenjang, m

= lebar yang dibutuhkan untuk broken material, m

Disini tidak disediakan lebar untuk alat-muat/gali karena


dianggap alat muat bekerja disamping broken material.
4) Menurut Melinkov dan Chevnokoy (safety in open cast
mining)
a. Untuk lapisan yang lunak (soft strata)
B = 2R + C + C1 + L

I - 47

keterangan :
B =lebar jenjang, m
R =digging radius dari alat muat, m
C =jarak sisi jenjang broken material ke garis tengah
rel, m
L=lebar yang disediakan untuk pengaman (safety),
biasanya selebar dump truck, m
b. Untuk lapisan yang keras (hard strata)
B = a + C + C1 + L + A
keterangan :
B = lebar jenjang, m
a = lebar untuk broken material, m
A = lebar pemotongan pertama (awal), m
5) Menurut Popov (the working of mineral deposit)
a.

Tinggi jenjang dan kemiringannya


(i)

Kemiringan

jenjang

tergantung dari kandungan air pada material. Material


yang

relatif

kering

biasanya

memungkinkan

kemiringan jenjang yang lebih besar.


(ii)

Umumnya

tinggi

jenjang berkisar antara 1215 m, dengan kemiringan :


untuk batuan beku

: 70o - 80o

untuk batuan sedimen

: 50o - 60o

untuk pasir kering

: 40o - 50o

untuk batuan yang argilaceous

: 35o - 45o

b. Lebar jenjang
Lebar jenjang antara 4060 m, biasanya juga dibuat
antara

80100 m. Jika memakai multi row bore hole.

Lebar minimum untuk batuan keras :


Vr = A + C + C1 + L + B
keterangan :

I - 48

Vr = lebar jenjang minimum, m


A = lebar broken material, m
C = jarak sisi timbunan ke sisi tengah rel, m
C1= 0,50 lebar lori = 23 m
B = lebar endapan yang diledakkan = 612 m
L = lebar

yang

extraction

disediakan

untuk

menjamin

dari endapan pada jenjang di

bawahnya.
6) Menurut Young (elements of mining)
a.

Tinggi jenjang

Untuk tambang bijih besi antara 20 40 ft


Untuk tambang bijih tembaga 30 70 ft
Untuk limestone dapat sampai 200 ft
b.

Lebar jenjang

Antara 50250 ft
c.

Kemiringan jenjang

Antara 45o65o
7) Menururt E. P. Pfleider (surface mining)
Tinggi jenjang : L = Lm x Sf
keterangan :
L

= tinggi jenjang, m

Lm = maximum cutting height dan alat muat


Sf = swell factor
= 1/3 untuk cara corner cut dan = 0,50 untuk cara
box cut
8) Menurut Hustrulid (open pit mine planning and design)
Pada tambang terbuka, masing-masing jenjang memiliki
permukaan bagian atas dan bagian bawah yang dipisahkan
oleh jarak H yang disebut dengan tinggi jenjang. Kemudian
permukaan sub-vertikal yang tersingkap dan disebut dengan

I - 49

muka jenjang. Semuanya itu digambarkan dengan kaki lereng


(toe), puncak (crest) dan sudut muka jenjang (face angle).
Sudut muka jenjang ini dapat bervariasi tergantung dari
karakteristik batuan, orientasi jenjang dan peledakan. Pada
batuan keras sudut ini bervariasi antara 55 0800. Bagianbagian jenjang tersebut dapat digambarkan pada Gambar
4.3.

Gambar 4.3. Bagian-Bagian Jenjang Menurut Hustrulid


Permukaan jenjang yang tersingkap paling bawah disebut jenjang
dasar (bench floor). Lebar jenjang ini adalah jarak antara crest
dan toe yang diukur sepanjang permukaan jenjang bagian atas.
Lebar bank adalah proyeksi horisontal dari muka jenjang.
Terdapat beberapa tipe jenjang.
Jenjang kerja adalah suatu jenjang dimana dilakukan proses
penambangan. lebar yang digali dari jenjang kerja ini disebut cut.
Lebar jenjang kerja (WB) didefinisikan sebagai jarak dari crest

I - 50

pada jenjang dasar keposisi toe yang baru setelah cut digali (lihat
Gambar 4.4).
Setelah cut dipindahkan maka akan terlihat sisanya adalah
sebagai jenjang pengaman atau jenjang penangkap (catch
bench) dengan lebar SB. Tujuan pembuatan jenjang penangkap ini
adalah :
a. Untuk mengumpulkan material yang meluncur dari jenjang
yang ada di atasnya
b. Untuk memberhentikan pergerakan boulder yang bergerak ke
bawah
Kedua fungsi tersebut dapat digambarkan pada Gambar 4.5.

Gambar 4.4. Penampang Jenjang Kerja

I - 51

Gambar 4.5. Fungsi Jenjang Penangkap


Secara umum lebar dari jenjang penangkap adalah 2/3 dari tinggi
jenjang sedangkan pada akhir umur tambang lebar jenjang
penangkap kadang-kadang

dikurangi sampai kira-kira 1/3 dari

tinggi jenjang. Kadang-kadang jenjang ganda (double benches)


ditinggalkan sepanjang final pit seperti pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6. Jenjang Ganda Pada Final Pit Limit

I - 52

Sebagai tambahan pada jenjang penangkap, tumpukan material


bongkahan (berm) biasanya sering terdapat di sepanjang crest.
Dengan terdapatnya tumpukan tersebut maka akan terbentuk
suatu saluran antara tumpukan dan kaki

lereng (toe) untuk

menangkap batuan yang jatuh (falling rock). Menurut Call (1986)


bahwa geometri jenjang penangkap direkomendasikan untuk
didesain seperti pada Gambar 4.7 dan Tabel 4.2.

Gambar 4.7. Geometri Jenjang Penangkap (Call, 1986)


Tabel 4.2. Dimensi Jenjang Penangkap (Call, 1986)
Bench
height (m)

Impact
zone (m)

Berm
height (m)

Berm width
(m)

Minimum berm
width (m)

15

3.5

1.5

7.5

30

4.5

5.5

10

45

13

Berikut ini adalah suatu lereng yang terdiri dari 5 jenjang


(Gambar 4.8) dimana sudut lerengnya dibuat dari garis yang
menghubungkan kaki lereng yang paling rendah sampai ke
puncak lereng yang paling tinggi sehingga kemiringan lereng
keseluruhannya (overall pit slope) dapat dihitung sebagai berikut.

I - 53

(overall) = tan-1

= 50.4O

Gambar 4.8. Sudut Lereng Keseluruhan


Jika pada Gambar 4.9 terlihat bahwa pada jenjang ketiga
terdapat jalan masuk yang berbelok (acces ramp) dengan lebar
100 ft maka kemiringan lerengnya menjadi :

(overall) = tan-1

= 39.2O

Apabila pada lereng tersebut terdapat jenjang kerja dengan lebar


125 ft pada jenjang 2 seperti pada Gambar 4.10 maka sudut
lereng keseluruhan menjadi :

I - 54

(overall) = tan-1

= 36.98O

Gambar 4.9. Sudut Lereng Keseluruhan Dengan Adanya


Ramp
Jika ramp tersebut dibagi menjadi 2 bagian seperti pada Gambar
4.10 yang masing-masing ramp tersebut dapat digambarkan
dengan sudut lereng. Sudut ini disebut sudut antar ramp
(interramp angle). Dalam hal ini berlaku :

IR1 = IR2 = tan-1

= 50.4O

I - 55

Gambar 4.10. Sudut Lereng Antar Ramp (Interramp)

I - 56

Gambar 4.11. Sudut Lereng Keseluruhan Dengan Adanya


Jenjang Kerja

I - 57

BAB V
PERANCANGAN BATAS AKHIR PENAMBANGAN
(PIT LIMIT DESIGN)

5.1. KONSEP DASAR


1) Data yang ada :
Model blok cebakan bijih
Data tekno-ekonomik (termasuk sudut lereng)
Pertanyaannya :
Bagaimana

menentukan

batas

akhir

penambangan

(bentuk/geometri dari final pit) ?


2) Kadar Batas Pulang Pokok (Break Even Cut-off Grade) dan
Nisbah Pengupasan Pulang Pokok (Break Even Stripping Ratio)
: berdasarkan data ekonomik dan perolehan (recovery) kita
dapat menghitung BECOG dan membuat suatu tabel yang
menunjukkan BESR untuk berbagai kadar batas.
3) Beberapa algoritma perancangan (penentuan pit limit)
a.

Metoda penampang (Manual Cross Section / 2-D)


b. Pemrograman dinamik 2 Dimensi (2-D Dynamic

Programming atau Metoda Lerchs-Grossmann)


c.

Metoda Kerusut mengambang (Floating cone) 3-D

d.

Metoda tiga dimensi lainnya :

Teori grafik (Graph theory)


3-D Dynamic programming
Aliran Jaringan (Network Flow)

I - 58

5.2. PERANCANGAN TAMBANG : DEFINISI DAN DASAR


PEMIKIRAN
1) Istilah perancangan tambang biasanya dimaksudkan sebagai
bagian dari proses perencanaan tambang yang berkaitan
dengan masalah-masalah geometrik. Di dalamnya termasuk
perancangan batas akhir penambangan, tahapan (pushback),
urutan

penambangan

tahunan/

bulanan,

penjadwalan

produksi dan waste dump.


2) Aspek perencanaan tambang yang tidak berkaitan dengan
masalah geometrik meliputi kebutuhan alat dan tenaga kerja,
perkiraan biaya kapital dan biaya operasi.
3) Penentuan Batas Penambangan (final pit limit)
a.

Tujuan

menentukan

yang

batas-batas

ingin

dicapai

penambangan

pada

adalah
suatu

cebakan bijih (yakni jumlah cadangan dan kadarnya) yang


akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih
tersebut sebelum memasukkan faktor nilai waktu dari
uang.
i.

Tidak diperhitungkannya nilai waktu

dari uang akan menghasilkan bentuk pit yang paling


besar untuk suatu set parameter ekonomik tertentu.
ii.

Dengan menambahkan faktor bunga

(interest), besar pit akan berkurang.


b. Mengapa faktor nilai waktu dari uang tidak
dimasukkan ? Beberapa alasan :
i.

Untuk proyek dengan jangka waktu

panjang (misal : lebih dari 15 tahun), tahap-tahap


penambangan terakhir akan memiliki dampak yang
minimal terhadap tingkat pengembalian modal atau
rate of return.

I - 59

ii.

Selain

itu,

untuk

proyek

yang

berjangka waktu panjang seperti ini, cukup masuk


akal bahwa faktor teknologi yang semakin canggih
akan mengimbangi faktor nilai waktu dari uang.
c.

Walaupun butir (a) di atas merupakan

tujuan yang paling umum, ada beberapa kasus terutama


pada cebakan bijih dengan nisbah pengupasan yang
tinggidimana

nilai

waktu

dari

uang

perlu

dipertimbangkan pada tahap awal dari evaluasi.


4) Berapa banyak energi yang harus dicurahkan untuk
menentukan batas penambangan ?
a.
yang

berjangka

Pada fase kelayakan suatu proyek


panjang,

tahap-tahap

penambangan

terakhir akan memiliki dampak yang minimal terhadap


rate of return. Karena itu, mencurahkan terlalu banyak
waktu untuk perancangan batas penambangan barangkali
kurang memiliki alasan yang kuat.
i.

Usaha yang tidak begitu memakan

waktu dapat meliputi penggunaan program floating


cone atau 3-D Lerchs-Grossmann untuk menentukan
pit limit, dan melakukan pengecekan awal apakah
hasilnya masuk akal.
ii.

Studi sensitivitas dengan melakukan

perubahan-perubahan kecil pada parameter pokok


seperti sudut lereng, harga komodits, ongkos-ongkos,
dan

lain-lain.

Akan

membantu

dalam

pemilihan

skenario untuk dasar perancangan.


b.

Untuk proyek penambangan dengan

jangka waktu yang relatif singkat, misalnya kurang dari


15 tahun, diperlukan energi dan waktu lebih banyak untuk

I - 60

menentukan batas penambangan, terutama bila lereng


akhir (final pit walls) akan dibuat pada tahap-tahap awal.
Usaha yang lebih serius dapat meliputi perancangan dua
geometri

pit

yang

berbeda,

lengkap

dengan

jalan

angkutnya dan dengan lereng akhir pada berbagai posisi


yang berlainan, kemudian dipilih alternatif mana yang
terbaik.
c.

Pada

tahap-tahap

belakangan,

khususnya ketika lereng akhir dengan nisbah pengupasan


yang relatif besar akan dibuat, energi yang besar perlu
dicurahkan untuk perancangan pit limit ini.
Studi kelayakan yang memakan waktu beberapa bulan
dapat dilakukan. Beberapa alternatif rancangan dapat
dibuat untuk melihat detail dari penjadwalan produksi,
kebutuhan alat serta ongkos-ongkos.
5.2.1. Metoda Penampang 2 Dimensi
1) Penentuan batas penambangan secara manual membutuhkan
pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya subyektif. Dua
orang yang berbeda mungkin akan memperoleh batas-batas
penambangan (pit limit) yang tidak persisi sama.
2) Deskripsi metoda penampang (2-D manual cross-sectional
method)
a.

Mulai dengan model blok (skala horisontal =

skala vertikal). Tentukan sudut lereng keseluruhan. Hitung


BECOG dan buat tabel yang menunjukkan BESR untuk
berbagai kadar batas.
b.

Untuk setiap penampang tentukan batas

penambangan (trial pit limit) pada sudut lereng tersebut.


Tentukan posisi lereng akhir dimana BESR kumulatif dari

I - 61

blok-blok bijih akan dapat membayar pengupasan tanah


penutupnya.
c.

Pindahkan trial pit limit dari penampang

vertikal (cross section) ke horisontal (level/plan map).


Dalam memindahkan rancangan pit, hanya titik-titik pada
level dimana terjadi perubahan rancangan yang berarti
perlu dipindahkan.
Level atau jenjang yang penting meliputi bagian atas dan
bawah dan lereng yang panjang, dan jenjang dimana
sudut lereng berubah. Tidak semua titik pada setiap
jenjang perlu dipindahkan.
d.

Buat

penampang

kontur

horisontal.

batas

penambangan

Rancangan

batas

pada
akhir

penambangan harus cukup halus. Menghubungkan setiap


titik secara kaku pada level map tidak akan memberikan
hasil yang diinginkan. Beberapa titik pada level map ini
mungkin harus diabaikan.
e.

Untuk penampang-penampang (sections) di

dekat ujung cebakan bijih, sudut lereng dapat dibuat


sedikit lebih landai.
f.
terdapat

Kuantitas
di

dalam

dan
batas

kadar

cadangan

penambangan

yang
dapat

ditabulasikan dari jumlah, berat dan kadar blok di tiaptiap jenjang.


3) Asumsi Implisit metoda penampang 2-D
a. Walau bagaimanapun, penambangan di bagian tengah
dari cadangan pasti akan terjadi. Kita hanya perlu
menetapkan batas penambangan yang paling luar saja.
b. Cebakan bijih memiliki bentuk cukup memanjang ke arah
yang tegak lurus dari penampang-penampang vertikal
yang digunakan.

I - 62

4) Pedoman pokok dalam menentukan batas penambangan


a. Setiap blok bijih yang akan ditambang harus dapat
membayar

atau

mendukung

pengupasan

(stripping)

dirinya sendiri.
b. Jika sebuah blok bijih dapat ditambang karena kontribusi
dari blok-blok bijih lain yang terletak diatasnya (dan pada
jalur

penambangan blok ini), maka blok bijih ini harus

ditambang.

Kontribusi

dijumlahkan,

jadi

dari

rata-rata

tiap-tiap
untuk

blok

dapat

beberapa

blok

diperbolehkan.
c.

Jika dua blok bijih yang terpisah satu sama lain dapat
ditambang karena kontribusi simultan dari pengupasan
waste yang sama, maka kedua blok ini harus ditambang.

d. Tidak ada blok waste yang boleh ditambang kecuali bila ia


terletak pada jalur penambangan dari suatu blok bijih
yang terletak di bawahnya.
5.2.2.

Pemrograman

Dinamik

2-D

(Metoda

Lerchs-

Grossman)
1) Pemrograman Linier vs. Pemrograman Dinamik
a. Pemrograman linier (linier programing) dirancang
untuk proses suatu tahap. Biasanya di dalamnya tidak
terlibat elemen waktu atau urut-urutan berdasarkan
waktu (one shot decision).
T (D,S)

Masukan

keluaran

S
Return R1

Solusi

optimal

(yaitu

nilai-nilai

keputusan)

dengan mengikuti algoritma simplex.


Tujuan : mengoptimalkan R1.

I - 63

diperoleh

b. Pemrograman

dinamik

(dynamic

programming)

ditujukan untuk proses beberapa tahap (multi-stage


process).

Biasanya

keputusan-keputusan

melibatkan
yang

elemen

waktu

berurutan

dari

(sequential

decisions). Critical Path Method atau CPM adalah suatu


contoh baik. Proses multi tahap merupakan uatu masalah
dimana

keputusan

yang

berurutan

harus

diambil,

dansetiap keputusan akan mempengaruhi ruang lingkup


pengambilan keputusan berikutnya.

Tujuan :
secara tepat

mengoptimalkan R =

n
RI

dengan memilih

i=1
nilai-nilai variabel keputusan. Solusi optimal diperoleh
dengan

mengikuti

prinsip

Optimalitas

Dinamik

dari

Bellman yang intinya: apapun yang telah kita lakukan


dimasa yang lalu, keputusan-keputusan mendatang harus
optimal relatif terhadap situasi saat ini. Solusi optimal ini
merupakan suatu kumpulan-kumpulan keputusan yang
berurutan, misalnya sebuah kebijakan (policy)
2) Pemrograman Dinamik 2- Dimensi (Metoda Lerchs-Grossman)
Memiliki motivasi bahwa pada dasarnya penentuan batas
penambangan yang optimum menggunakan penampang (2D cross section) mudah dilakukan.
3) Asumsi-asumsi dasar
a.

Nilai ekonomik tiap blok diketahui/dapat

dihitung.

I - 64

b.

Sudut lereng keseluruhan diberikan sebagai

masukan.
c.
(nilai

Tujuan : memaksimalkan keuntungan total

material

yang

ditambang

dikurangi

ongkos

penambangan)
4) Algoritma
a.

Sudut lereng
i.

Jika ukuran blok dalam model sudah

pasti, tentukan jumlah blok ke atas dan ke bawah


untuk setiap blok (pada penampang) yang paling
mendekati kendala sudut lereng.
ii.

Jika ukuran blok masih dapat diatur,

pilihlah sedemikian rupa sehingga geometri ukuran


blok sesuai dengan sudut lereng.
b.

Hitung nilai ekonomik dari tiap blok, yaitu

pendapatan dari nilai jual dikurangi ongkos penambangan


blok tersebut, ongkos pengolahan dan ongkos G&A
(general

&

administrative

costs

overhead).

Nilai

ekonomik ini kita sebut sebagai nilai pertama dari blok


atau mij. Pada penampang 2-dimensi, blok (i,j) terletak
pada baris i dan kolom j.
c.

Hitung jumlah nilai ekonomik dari blok-blok yang berada


di satu kolom dengan blok (i,j). Ini kita definisikan sebagai
nilai kedua dari blok atau Mij.

i
Mij = mkj
k=1
d. Pada penampang kita tambahkan baris 0, lalu hitung nilai
ketiga dari blok atau Pij sebagai berikut.
Poj = 0
Kemudian, untuk tiap kolom mulai dari kolom 1 :
Pij = Mij + max (Pi+k,j-1)

I - 65

untuk k = -1,0,1

e. Beri tanda panah untuk menandai maksimum dari blok


(i,j) ke blok (i+k,j-1) tanda panah ini harus mengarah dari
kanan ke kiri.
i.

Untuk

kolom

pertama

(j

1),

buatlah Pij = Mij


ii.

Pij mewakili nilai paling besar yang

dapat diperoleh dari penambangan blok (i,j) dan


semua blok di atasnya, serta blok-blok di sebelah
kirinya
f.

Pilih jalur optimal (yang akan menandai

kontur permukaan tambang atau batas penambangan)


dengan mencari kolom j yang memiliki nilai P ij positif dan
terbesar di permukaan (di baris 1).
i.

Kontur

batas

penambangan

akan

diperoleh dengan mengikuti arah anak panah dari


kanan ke kiri, mulai dari blok ini.
ii.

Jika nilai Pij di permukaan (baris 1)

semua negatif, berarti tidak ada blok yang ekonomik


untuk

ditambang

pada

penampang

yang

bersangkutan.
Langkah-langkah tersebut di atas dapat direpresentasikan sebagai
berikut.

Gambar 5.1. Geometri Badan Bijih Untuk Contoh


Lerchs-Grossman 2-D (Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 66

Gambar 5.2. Nilai Ekonomik Mula-Mula dari Setiap Model


Blok
(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.3. Nilai Ekonomik Akhir dari Setiap Model Blok


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.4. Perhitungan dari Penjumlahan Kumulatif


Untuk Kolom 6 (Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 67

Gambar 5.5. Kumulatif Penjumlahan Yang Lengkap


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.6. Prosedur Penentuan Arah Nilai Kumulatif


Maksimum dan Minimum (Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 68

Gambar 5.7. Pergerakan Proses penjumlahan Pada Kolom


7
(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.8. Penentuan Pit dan Nilai Total Dengan Anak


Panah
(Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 69

Gambar 5.9. Nilai Blok Individu Untuk Dua Bagian Pit


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.10. Proses Penjumlahan Pada Seluruh Bagian


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.11. Penentuan Pit Yang Optimum


(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.12. Perpaduan Batas akhir Pit Yang Optimum


Pada Blok Model (Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 70

5.2.3.

Metoda Kerucut Mengambang (Floating Cone 3Dimensi)

1) Tujuan
a. Menentukan batas akhir satu tambang terbuka (ultimate
pit limit) dengan menggunakan analisis ekonomik pulang
pokok (break even economic analysis).
b) Sasaran yang ingin dicapai dalam penentuan batas
akhir penambangan mengharuskan batas akhir tersebut
dihitung menggunakan dasar ekonomik pulang pokok.
c) Keuntungan

dari

menambang

tahapan

bijih

terakhir harus tepat membayar biaya pengupasan lapisan


penutupnya.
2) Masukan Data Yang diperlukan
a) Model Blok Cadangan Bijih
i. Model komputer yang membagi cebakan bijih menjadi
blok-blok yang seragam
ii. Tiap blok memiliki informasi tentang tofografi, geologi
dan taksiran kadar mineral
iii. Informasi yang disimpan dalam tiap blok cukup untuk
menghitung nilai ekonomiknya dari data ekonomi yang
ada
b) Data Ekonomik
i. Harga komoditas (Cu, Au, Ag, Mo, ...... dll)
ii. Semua

ongkos-ongkos

yang

berkaitan

dengan

penambangan dan pengolahan bijih :


Ongkos penambangan per ton bijih
Ongkos penambangan/pengupasan per ton lapisan
penutup
Ongkos pengolahan (penggerusan, milling/leaching)
per ton bijih
Perolehan (recovery) dari proses pengolahan

I - 71

Ongkos peleburan, pemurnian dan pengangkutan


(SRF) per unit produk akhir komoditas
Perolehan (recovery) dari peleburan dan pemurnian
Ongkos umum dan administrasi (G&A) per ton bijih
Ongkos royalti
c) Data Sudut Lereng
i. Satu sudut lereng yang sama untuk pit , atau
ii. Sudut lereng yang bervariasi dengan zona-zona di pit
d) Lebar Pit Bottom Minimum cukup untuk ruang kerja
peralatan
3) Algoritma floating cone bekerja dalam dua tahap :
a) Pada tahap pertama, taksiran kadar blok dan
parameter

ekonomik

(harga

komoditas,

ongkos

penambangan dan pengolahan, perolehan dan royalti)


digunakan untuk membuat suatu model blok ekonomik.
Setiap blok memiliki nilai moneter, blok bijih nilainya
positif dan blok lapisan penutup (waste) negatif. Nilai
uang ini mewakili keuntungan bersih dari penambangan
blok yang bersangkutan.
b) Pada tahap kedua analisis kerucut mengambang
dilakukan terhadap blok-blok dalam model, dari atas ke
bawah. Dasar (bagian lancip) dari suatu kerucut terbalik
diletakkan di pusat setiap blok bijih (blok yang nilainya
positif)
i.

Suatu analisis ekonomik kemudian dilakukan dengan


menjumlahkan nilai uang dari seluruh blok di dalam
kerucut terbalik ini. Jika hasilnya positif, semua blok
ini harus ditambang/dikeluarkan dari model dan tidak
lagi diperhitungkan dalam analisis berikutnya.

ii. Kerucut ini digerakkan secara sistematis dalam model


blok hingga semua material yang ekonomis habis
ditambang. Kerucut dimulai dari atas dan bergerak ke

I - 72

bawah, kemudian mulai lagi dari atas model blok


untuk mengambil blok-blok yang mungkin sekarang
menjadi ekonomis karena pengupasan material waste
oleh blok-blok bijih di bawahnya. Ini akan berlangsung
hingga tak ada lagi material yang dapat ditambang.
iii. Dinding lereng dari kerucut ini memililki sudut yang
sama dengan sudut lereng tambang yang ditentukan.
iv. Jari-jari penambangan minimum atau lebar minimum
pada pit bottom merupakan salah satu masukan.
Biasanya jari-jari ini dibuat berukuran 1,5 kali ukuran
blok, sehingga lebar minimum di pit bottom adalah 9
blok (cukup untuk beroperasinya peralatan).
v. Analisis

kerucut

mengambang

ini

menggunakan pendekatan blok utuh terdekat. Jadi,


jika pusat blok berada di dalam kerucut maka seluruh
blok itu dianggap berada dalam kerucut.
vi. Sembarang

bentuk

pit

dapat

didekati

dengan membuat kerucut-kerucut overlapping satu


sama lain. Overlap dimungkinkan karena blok-blok
yang ditambang pada kerucut sebelumnya berubah
statusnya menjadi blok udara, sehingga tidak lagi
diperhitungkan
berikutnya.

Jika

dalam
semua

analisis
kerucut

ekonomik
terbalik

kerucut
ini

kita

gabungkan, sebuah geometri pit akan terbentuk.


Selubung paling luardari bentu pit ini berada pada
posisi pulang pokok relatif terhadap data masukan
(input) yang kita berikan.
4) Aspek lain : Penerapan metoda kerucut mengambang untuk
perancangan penahapan penambangan (pushback)
a) Jika harga komomditas diturunkan, BECOG akan naik dan
BESR akan turun. Geometri kerucut mengambang yang

I - 73

diperoleh

akan

menjadi

lebih

kecil

dan

cadangan

tertambangnya lebih kecil pula.


b) Jika harga komoditas terus diturunka, akan diperoleh
suatu serial geometri pit (bentuk/geometri open pit dari
besar

ke

kecil).

Proses

penambangannya

akan

mentargetkan dulu blok-blok dengan potensi keuntungan


paling besar (untuk harga komoditas paling rendah). Blokblok yang merupakan target berikutnya secara bertahap
akan ditambang hingga batas akhir dari pit tercapai (pada
harga komoditas yang diproyeksikan)
c) Serial geometri ini menjadi indikator atau pedoman
urutan pengambilan bijih. Hal ini amat berguna dalam
merancang tahap-tahap penambangan (phase/pushback
design).
Berikut ini adalah cara mengoptimasi pit limit dengan cara
floating cone 3D dengan data nilai ekonomik dari setiap blok
model yang sama dengan pada Lerch-Grossman 2D.

Gambar 5.13. Nilai Ekonomik Model Blok Untuk Floating


Cone
(Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 74

Gambar 5.14. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 2


Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.15. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 3


Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)

I - 75

Gambar 5.16. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 4


Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.17. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 5


Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)

Gambar 5.18. Keadaan Setelah Membuat Floating Cone 6


Baris
(Hustrulid & Kutcha,1995)
Pada Gambar 5.18 terlihat bahwa hasil penentuan pit yang
optimum dengan cara floating cone memberikan hasil yang sama
dengan cara Lerchs-Grossman.
Contoh Soal :

I - 76

Dengan

menggunakan

pendekatan

kerucut

mengambang

(floating cone) yang benar, hitunglah keuntungan bersih yang


akan diperoleh dari penampang tambang terbuka di bawah ini.
Tunjukan

pula

blok-blok

yang

akan

ditambang/tidak

akan

ditambang.
Permukaan

45o sudut lereng


1

2
3

nilai blok 1 = Rp.

80 juta

nilai blok 2 = Rp. 100 juta


nilai blok 3 = Rp.

20 juta

Ongkos Penggalian/penambangan = Rp. 10 juta/blok


Catatan :
Nilai blok adalah gross income dikurangi biaya pengolahan
dan

biaya

tak

langsung,

tetapi

penambangan.
Jawaban :

2
3

Blok yang ditambang


Blok yang tidak ditambang

I - 77

tidak

termasuk

biaya

Net profit
penggalian/penambangan

= nilai blok 1 + nilai blok 2 - ongkos

= 80 juta + 100 juta - (12 x 10 juta)


= 180 juta 120 juta
= 60 juta

PEKERJAAN RUMAH 4

Topik : Penentuan Ultimate Pit Limit dengan Metode


Manual
Buatlah Resume mengenai Metode Penampang 2 Dimensi Secara
Manual.

PEKERJAAN RUMAH 5
Topik : Penentuan Ultimate Pit Limit dengan Metode Lerchs-Grossman

I - 78

Suatu penampang blok model dengan Net Value untuk tiap-tiap


blok sebagai berikut
-

2
-

2
3

2
3

2
3

2
3

2
3

2
3

2
-

8
-

8
-

5
-

5
-

1. Tulis prosedur dasar untuk penggunaan metode Dynamic


Programming (Lerchs-Grossman) bagi penentuan Ultimate Pit
Limit!
2. Berikan komentar atas hasil yang diperoleh!

PEKERJAAN RUMAH 6
Topik : Evaluasi Ekonomi Pit

dengan metode Kerucut

Mengambang (Floating Cone)


Wakil Direktur operasi suatu perusahaan pertambangan emas skala kecil
meminta Saudara untuk memeriksa kembali pit yang dihasilkan oleh

I - 79

stafnya dengan mennggunakan metode floating cone. Data-data


ekonomi yang digunakan untuk floating cone adalah sebagai berikut :

Biaya penambangan per total ton


Biaya pengolahan per ton bijih
Biaya Umum dan Administrasi per ton bijih
Perolehan emas
Harga emas per troy ounce
Kemiringan lereng

$ 0.591
$ 1.80
$ 0.50
85.6 %
$ 400
45

Saudara melakukan perhitungan menggunakan metode floating cone


dengan parameter yang sama dan mendapatkan geometri pit yang lebih
kecil. Gambar 1 menunjukkan pit klien anda dan gambar 2 menunjukkan
hasil perhitungan anda. Dengan perbandingan sebagai berikut:

Perbandingan Hasil Floating Cone.

Pit klien
Pit anda

Dengan Cutoff Grade 0.007 oz/ton


Kton bijih
Emas (oz/ton)
Total Kton
3.160
0.0207
11.010
2.656
0.0219
7.686

Saudara sangat yakin bahwa hasil perhitungan saudara betul, tetapi


perlu didemonstrasikan secara analitis pada kasus ini. Anda
memutuskan untuk melakukan suatu analisis ekonomi pada material
pada pit dan pada selisih perbedaannya.

1. Lakukan analisis ekonomi pada material pit dan increment


dengan melengkapi tabel terlampir. Kadar selisih adalah
0.0144 oz/ton. Darimana kadar selisih tersebut berasal?
2. Apakah pit klien anda memiliki geometri yang layak pada
harga emas $ 400? Jika ya mengapa? Dan jika tidak
mengapa?
Pit
klien
Kton bijih
Kadar emas (oz/ton)
Emas yang dikandung (koz)
Perolehan pengolahan
Emas yang diperoleh (koz)
Kton total yang ditambang
Harga emas ($ per troy oz)
Pendapatan kotor ($x1000)
Biaya penambangan per total

I - 80

Pit anda

Selisih

ton
Biaya pengolahan per ton bijih
Biaya umum & administrasi per
ton bijih
Biaya penambangan total
($x1000)
Biaya pengolahan total ($x1000)
Biaya umum & administrasi total
($x1000)
Biaya total ($x1000)
Keuntungan bersih ($x1000)
Biaya total per oz yang
diperoleh ($)

I - 81

Gambar 1.
Pit Klien

I - 82

Gambar 2.
Pit Anda

BAB VI

I - 83

PENJADWALAN PRODUKSI

6.1. PENDAHULUAN
1) Suatu penjadwalan produksi tambang menyatakan, dalam
periode

waktu

pemindahan

(misalnya

material

tahun),

total

yang

ton

bijih,

akan

kadar

dan

dihasilkan

oleh

tambang tersebut.
2) Sasarannya
mencapai

adalah

menghasilkan

beberapa

suatu

sasaran/kriteria

jadwal

ekonomik

untuk
seperti

memaksimumkan Net Present Value (NPV) atau Rate Of


Return (ROR). Kriteria lain di antaranya dapat menghasilkan
suatu kuantitas material semurah mungkin, dll.
3) Fokus kita adalah perencanaan jangka panjang. Kita akan
menghasilkan

suatu

jadwal

produksi

dan

kemudian

menentukan kebutuhan peralatan untuk mengoperasikan


jadwal tersebut. Pada penjadwalan jangka pendek fokusnya
mungkin berbeda; dengan kendala jumlah peralatan, kita
menentukan jadwal yang terbaik.
4) Selama proses penjadwalan, evaluasi beberapa alternatif
sering dilakukan.
5) Data masukan dasar adalah penyataan tonase dari tahaptahap penambangan yaitu tabulasi ton dan kadar per jenjang
dari material yang akan ditambang untuk tiap tahap.
6.2. ASUMSI

AWAL

YANG

DIPERLUKAN

UNTUK

MENGEMBANG-KAN SUATU JADWAL


1) Tingkat produksi bijih untuk tiap periode waktu
a. Dapat ditentukan dengan studi perbandingan tingkat
produksi.

I - 84

b. Tingkat produksi dapat berubah dengan waktu.


2) Cut off grade untuk tiap periode waktu.
Beberapa jadwal sering dibuat untuk mengevaluasi strategi
cutt off grade yang berbeda.
3) Dua butir di atas akan mempengaruhi jadwal pengupasan
tanah penutup.
6.3. PENGAMATAN TERHADAP TABULASI CADANGAN PER
JENJANG UNTUK TIAP TAHAP
1) Jenjang atas biasanya terdiri dari tanah penutup yang harus
dikupas
2) Jenjang dasar umumnya terdiri kebanyakan dari bijih. Bijih ini
merupakan sumber yang akan menjaga kelangsungan pabrik
pengolahan
3) Pada elevasi berapa akan terjadi peralihan dari tanah penutup
ke bijih ?
4) Suatu kriteria dalam nisbah kupas. Pada jenjang ke berapa
nisbah kupas akan lebih rendah dari nisbah kupas rata-rata ?
6.4.

KEBUTUHAN PENGUPASAN PRA PRODUKSI

1) Berapa banyak material/tanah penutup yang harus dikupas


selama masa pra-produksi ?
2) Jumlah minimum adalah material/tanah penutup yang harus
dipindahkan dari pushback/tahap pertama sehingga pushback
ini akan menjadi sumber penambangan bijih untuk produksi
tahun pertama.
3) Proses

penjadwalan

dapat

mengindikasikan

jumlah

material/tanah penutup yang disebut diatas, jadi mungkin


perlu dilakukan pengupasan pada pushback kedua, dan
seterusnya.

I - 85

4) Material bijih yang ditambang selama pra-produksi biasanya


ditumpuk di dekat crusher dan menjadi bagian dari bijih untuk
tahun pertama.

6.5. PENENTUAN

JADWAL

PENGUPASAN

MATERIAL

PENUTUP
1) Jadwalkan bijih dari tahap-tahap penambangan (pushback)
sesuai urutannya.
Untuk tiap periode waktu, kumulatif waste dibagi dengan
jumlah tahun. Hasilnya memberikan tingkat produksi rata-rata
yang diperlukan untuk memperoleh bijih.
2) Tabulasikan waste (atau material total) berdasarkan tahun.
3) Puncak

pemindahan

waste

berhubungan

dengan

pra-

pengupasan yang dibutuhkan pada setiap tahap. Kita ingin


meratakan jadwal produksi waste dengan pemindahan tanah
penutup

ini

jauh

dimuka,

misalnya

mulai

pengupasan

pushback sebelum bijih diperlukan.


a.

Untuk tiap periode waktu, kumulatif waste dibagi

dengan
produksi

jumlah
waste

tahun.

Hasilnya

rata-rata

yang

memberikan

tingkat

diperlukan

untuk

memperoleh bijih.
b.

Hitung nilai kumulatif waste maksimum dibagi

dengan jumlah tahun. Hasilnya adalah tingkat produksi


waste per tahun untuk penjadwalan yang baik dan rata.
c.

Penjadwalan pertama adalah untuk melampaui

puncak tertinggi kemudian mengatur kembali persoalan


tersebut untuk puncak berikutnya.
6.6.

KESEIMBANGAN JADWAL

I - 86

1) Saat ini

kita telah mempunyai tingkat produksi bijih dan

pemindahan material total berdasarkan perioda waktu.


2) Langkah berikutnya adalah menambang dari tahap bijih
utama dan dari tahap yang memerlukan pengupasan selama
satu periode waktu untuk mencapai sasaran produksi
a. Persoalannya adalah akan ada waste di dalam bijih dan
sebagian bijih terdapat di dalam material waste.
b. Harus diseimbangkan sehingga jumlah bijih dari semua
sumber mencapai target pula.
i.

trial and error (metode coba-coba)

ii.

simultaneous

equations

(menggunakan persamaan serentak)


3) Setelah bijih dan waste (atau material total) dari tiap tahap
ditentukan untuk suatu periode waktu, kadar untuk tahun itu
dapat ditentukan sebagai ton rata-rata berbobot untuk bijih
yang ditambang.
6.7.

KOMENTAR LAIN-LAIN

1) Kebutuhan bijih tahun pertama harus dikurangi sehingga


jumlah bijih yang dikumpulkan selama pra-produksi dan yang
ditambang selama tahun pertama sama dengan sasaran
pabrik tahun pertama.
2) Untuk pabrik yang besar, adalah biasa mengurangi sasaran
produksi tahun pertama misalnya 75% dari kapasitas.
3) Adalah sangat sulit mencegah kesalahan numerik. Lakukan
pengecekan sebanyak mungkin, antara lain :
a. Bila

suatu

tahap/pushback

selesai,

pastikan

bahwa

material yang ditargetkan setiap tahun untuk tahap


tersebut sama jumlahnya dengan jumlah material tahap
tersebut untuk bijih dan waste

I - 87

b. Buat suatu tabel untuk tiap tahun yang memperlihatkan


material berdasarkan pushback
4) Selama

proses

penjadwalan

mungkin

terdapat

batasan

penambangan lain yang tidak diperhitungkan


a. Total ton yang dapat ditambang dari suatu tahap selama
satu tahun.
b. Total jumlah jenjang yang dapat ditambang dari satu tahap
selama satu tahun.

6.8.

PETA TAMBANG

1) Setelah proses penjadwalan dilakukan, maka akan sangat


mudah

membuat

gambar

konseptual

tentang

keadaan

tambang pada akhir setiap tahun.


2) Kita akan mengetahui jenjang mana yang ditambang dari tiap
tahap selama satu tahun dan kita mempunyai rancangan
untuk tiap tahap.
3) Adalah penting membuat peta agar kita dapat mengetahui
apakah jadwal yang telah dibuat dapat dilaksanakan.
a. Check akses ke daerah yang diperlukan.
b. Pastikan bahwa suatu jumlah material yang sangat
banyak tidak harus keluar dari satu jalan angkut.
6.9.

STRATEGI KADAR BATAS (CUT OFF GRADE STRATEGY)

1) Dapat

ditunjukkan

bahwa

untuk

suatu

tambang

yang

mempunyai batas keuntungan yang cukup memadai, jadwal


yang terbaik (di dalam pengertian pemaksimuman NPV atau
ROI) akan dimulai pada cut off yang lebih tinggi dari break
even selama tahun-tahun awal dan menurun ke internal cut
off grade pada saat menuju ke akhir umur tambang.

I - 88

2) Kan Lane menjelaskan mengapa hal ini terjadi pada teori


ekonomik dari cut off grades.
3) Tambang dengan umur yang pendek dan keuntungan yang
margin akan mulai pada strategi internal cut off grade pada
wal dan tetap pada kadar batas ini untuk keseluruhan umum
tambang.
4) Dengan

sebuah

program

yang

secara

cepat

dapat

mengevaluasi jadwal, strategi cutoff yang terbaik dapat


ditentukan dengan cara trial and error.
5) Rule

of

Thumb

yang

lain

adalah

mencoba

mencapai

penghasilan sekitar dua kali biaya operasi untuk 4 atau 5


tahun pertama dari umur tambang. Hal ini akan memberikan
pengembalian modal yang cepat (quick pay off capital).
Kelemahan metoda manual, jika ada parameter rancangan yang
berubah, maka prosesnya harus diulang kembali. Kelemahan lain
adalah tiap pit dapat dirancang per penampang, tetapi jika telah
digabung dan dihaluskan, hasilnya tidak menggambarkan pit
secara keseluruhan dengan baik.
Penggunaan metoda komputer dapat menangani jumlah data dan
alternatif yang lebih banyak dibandingkan dengan metoda
manual. Komputer merupakan alat yang baik untuk memisahkan,
memproses dan menunjukkan data dari proyek penambangan.
Penggunaan metoda komputer dapat dibagi atas dua kelompok :
a. Computer assisted methods
Perhitungan dilakukan komputer di bawah pengawasan langsung
desainer.
rancangan

Komputer
tetapi

tidak
hanya

mengerjakan
melakukan

rancangan

seluruh

perhitungan

dengan

pengawasan desainer terhadap prosesnya. Contohnya akan

I - 89

diberikan pada metoda Lerch-Grossman pada 2 dimensi dan


metoda incremental pit expansion pada 3 dimensi.
b. Automated methods
Metoda ini sangat baik dalam merancang ultimate pit untuk
memberikan pembatasan-pembatasan fisik dan ekonomi tanpa
campur tangan insinyur. Satu kategori dari automated mehods
adalah melibatkan teknik mengoptimalkan secara matematis
dengan menggunakan program linear, program dinamik, atau
aliran kerja. Kategori kedua menggunakan metoda seperti
floating cone methods, tetapi belum tentu merupakan metoda
yang paling optimal. Semakin murahnya biaya memproses
dengan

komputer

maka

lebih

baik

digunakan

automated

methods untuk masa mendatang.


Karakter lain yang membedakan tipe metode komputer adalah
penggunaan salah satu dari blok secara keseluruhan dari
penambangan. Dalam metode blok keseluruhan, setiap blok
ditambang sebagai satu unit atau ditinggalkan secara utuh,
sedangkan dalam metoda blok pembagian satu bagian dari blok
dapat ditambang. Setiap tipe memiliki keuntungan sendiri.
Berikut ini adalah contoh penjadwalan produksi dari suatu
penambangan bijih yang dapat memberikan nilai NPV optimum.
Contoh Soal :
Berdasarkan hasil interpretasi geologi dan perencanaan tambang
diperoleh gambaran blok penambangan bijih sebagai berikut.
W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

W
O

keterangan :W = waste
O = ore
Berdasarkan hasil kajian kelayakan awal diperoleh data bahwa :

net value tiap ore blok adalah US$ 2.0

I - 90

biaya untuk menambang waste tiap blok adalah

US$ 1.0

laju produksi per tahun adalah 5 blok

interest rate diasumsikan 10 % (present value

factor : 1/ (1+1)0)
Berdasarkan hasil perencanaan diperoleh 3 (tiga) skenario
penjadwalan produksi sebagai berikut.
1) Pengupasan 5 blok waste diikuti oleh penambangan 5 blok
ore
2) Pre-stripping selama 1 tahun kemudian dilanjutkan oleh
penambangan 3 blok ore/tahun dan pengupasan 2 blok
waste/tahun.
3) Pengupasan waste diupayakan lebih dulu 1 blok dibandingkan
penambangan ore.
Tugas kita adalah menentukan skenario penjadwalan produksi
yang

mana

diantara

(tiga)

skenario

diatas

yang

akan

diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut.


a. Menggambarkan kemajuan penambangan blok tiap skenario
tiap tahun.
b. Menghitung besarnya Net Present Value untuk tiap skenario.
c. Berdasarkan

nilai

Net

Present

Value

penambangan yang akan diterapkan.

I - 91

tentukan

skenario

Gambar 6.1. Tahapan Penambangan Skenario 1


(Hustrulid & Kutcha,1995)

NPV =

-$5

-$5

(1.10)1

$10
+
(1.10)3

+
(1.10)2

$10
+
(1.10)4

= -$4.55 - $4.13 + $7.51 + $6.83 = $5.66

Gambar 6.2. Tahapan Penambangan Skenario 2


(Hustrulid & Kutcha,1995)

NPV =

-$5
(1.10)1

$4
(1.10)2

$4

(1.10)3

$7
(1.10)4

= -$4.54 + $3.31 + $3.01 + $4.78 = $6.56

I - 92

Gambar 6.3. Tahapan Penambangan Skenario 3


(Hustrulid & Kutcha,1995)

NPV =

$1
(1.10)1

$2.50
(1.10)2

$2.50

(1.10)3

$4
(1.10)4

= $0.91 + $2.07 + $1.88 + $2.73 = $7.59

I - 93

Dengan melihat nilai NPV untuk setiap skenario, maka skenario


penambangan bijih yang akan diterapkan adalah skenario ke-3
dengan nilai NPV yang paling besar.

PEKERJAAN RUMAH 7
Topik: Penjadwalan Produksi
Tabel di bawah ini menunjukkan banyaknya bijih dan waste pada
jenjang untuk 3 fase suatu tambang terbuka. Gambar terlampir
menunjukkan geometri bijih dan waste. Buat jadwal produksi
untuk badan bijih tersebut. Tandai gambar tersebut untuk
menunjukkan jenjang yang mana yang ditambang dari setiap
fase pada periode fase tersebut.
Gunakan kriteria berikut ini:
1. Tingkat produksi bijih yang diinginkan adalah 7 unit per tahun
untuk jangka waktu proyek 10 tahun .
2. Pada tahap pra produksi tidak melakukan penambangan bijih
tetapi harus dapat menambang bijih mulai pada tahun 1.
3. Seluruh fase harus ditambang berdasarkan urutan jenjang.
Anda tidak dapat menambang bijih pada fase 2 dari jenjang 7
sebelum waste pada jenjang 1-6 ditambang.
4. Buat jadwal pemindahan waste sebaik mungkin (setelah
target pemindahan waste dari tahap pra produksi tercapai).

I - 94

Data Tonase Fase Penambangan


Fase 1
Fase 2

Fase 3

Total

Jenjan
g

Biji
h

Wast
e

Bijih

Wast
e

Bijih

Waste

Bijih

Waste

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Total

0
0
7
7
7
7

13
12
4
3
2
1

0
0
0
0
0
0
7
7
7

3
3
3
3
3
3
3
2
1

28

35

21

24

0
0
0
0
0
0
0
0
0
7
7
7
21

3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
1
33

0
0
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
70

19
18
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
92

Jadwal Produksi Penambangan menunjukkan Distribusi Material Per


Fase Per Tahun
Fase 1
Fase 2
Fase 3
Total
Tahun

PP
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Total

Biji
h

Waste

Bijih

Waste

Bijih

Wast
e

Biji
h

Wast
e

28

35

21

24

21

33

70

92

I - 95

I - 96

BAB VII
PERANCANGAN PIT DAN PUSHBACK

7.1. PENDAHULUAN
1) Pembahasan akan ditekankan pada perancangan geometri
yang dapat ditambang dengan masukan geometri pit yang
dihasilkan oleh program floating cone.

I - 97

2) Dinding-dinding
diperhalus,

lereng

dan

dari

jalan

tambang

masuk

(pit

ke

walls)

tambang

harus
harus

diperhitungkan dalam perencanaan.


3) Dalam bab ini kita akan membahas pula sudut lereng dan jalan
angkut.
4) Perancangan pentahapan tambang (mining phases/pushback)
akan dibahas pula.
7.2.

SUDUT LERENG

1) Geometri Jenjang
T

Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, sudut

lereng jenjang tunggal, dan lebar dari jenjang penangkap


(catch bench). Rancangan geoteknik jenjang biasanya
dinyatakan dalam bentuk parameter-parameter untuk
ketiga aspek ini.
T

Tinggi

jenjang

Biasanya

alat

muat

yang

digunakan harus mampu pula mencapai pucuk atau


bagian atas jenjang. Jika tingkat produksi atau faktor lain
mengharuskan ketinggian jenjang tertentu, alat muat
yang akan digunakan harus disesuaikan pula ukurannya.
c. Sudut lereng jenjang : penggalian oleh alat gali mekanis
seperti loader atau shovel di permukaan jenjang pada
umumnya akan menghasilkan sudut lereng antara 6065
derajat.

Sudut

lereng

yang

lebih

curam

biasanya

memerlukan peledakan pre-splitting.


d. Lebar

jenjang

penangkap

ditentukan

oleh

pertimbangan keamanan. Tujuannya adalah menangkap


batu-batuan yang jatuh. Perlu bulldozer kecil atau grader
untuk membersihkan catch bench ini secara berkala.
T

Di beberapa tambang terkadang digunakan konfigurasi

multi-jenjang (double/triple bench), pada umumnya untuk jenjang

I - 98

yang tingginya 5-8 meter. Dalam hal ini jenjang perangkap dibuat
setiap

dua

atau

tiga

jenjang.

Tujuannya

adalah

untuk

menerjalkan sudut lereng keseluruhan. Jenjang penangkap ini


biasanya dibuat lebih lebar dibandingkan untuk jenjang tunggal.
T

Dalam operasi di pit, pengontrolan sudut lereng biasa

dilakukan dengan menandai lokasi pucuk jenjang (crest) yang


diinginkan

menggunakan

bendera

kecil.

Operator

shovel

diperintahkan untuk menggali sampai mangkuknya mencapai


lokasi bendera tersebut. Lokasi lubang-lubang tembak dapat pula
menjadi pedoman.
2) Sudut lereng inter-ramp vs. overall
a. Sudut lereng antar-jalan (inter-ramp slope angle) adalah
sudut lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua
jalan

angkut.

Inilah

yang

dihasilkan

oleh

ahli-ahli

geoteknik sewaktu mereka menetapkan sudut lereng


jenjang tunggal (face angle) dan lebar jenjang penangkap
(catch bench)
b. Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) adalah
sudut

yang sebenarnya dari dinding pit keseluruhan,

dengan

memperhitungkan

jalan

angkut,

jenjang

penangkap dan semua profil lain di pit wall.


c. Penggambaran dengan metoda garis tengah (centerline
drawings)
i.

Ada beberapa cara menggambarkan lokasi jenjang


dalam peta tambang. Satu alternatif adalah dengan
menggambar garis ketinggian kaki (toe) dan puncak
jenjang (crest) menggunakan dua jenis garis, misalnya
tipis/tebal, putus-putus/penuh atau dua warna yang
berbeda. Gambar peta yang dihasilkan cenderung
lebih rumit.

ii. Alternatif yang lebih sederhana adalah menggunakan


ketinggian titik tengah jenjang (bench centerlines)

I - 99

untuk mewakili suatu jenjang. Dengan demikian hanya


diperlukan satu garis saja untuk menggambarkan
suatu jenjang di peta. Letak kontur ini tepat di tengahtengah antara lokasi toe dan crest.
iii. Di luar pit, garis-garis kontur ditandai dengan elevasi
sebenarnya. Di dalam pit, jenjang digambarkan pada
lokasi titik tengahnya (mid bench) tetapi ditandai
dengan

elevasi

kaki

jenjang

(bench

toe).

Pada

kenyataannya, label ini mengacu kepada dataran


(misalnya

elevasi

catch

bench)

diantara

dua

centerlines.
iv. Garis kontur titik tengah (bench centerlines) ini
memotong jalan angkut di tengah-tengah antara dua
jenjang (separo jalan antar jenjang).
7.3. JALAN ANGKUT
1) Letak jalan keluar tambang
a. Untuk suatu tambang yang baru, penting diperhitungkan
dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang. Biasanya
kita ingin akses yang baik ke lokasi pembuangan tanah
penutup (waste dump) dan peremuk bijih (crusher).
b. Topografi merupakan faktor yang penting. Akan sulit sekali
bagi truk untuk keluar dari pit ke medan yang curam.
2) Lebar jalan
a. Tergantung

pada

lebar

alat

angkut,

biasanya 4 kali lebar truk.


b. Lebar jalan seperti di atas memungkinkan
lau lintas dua arah, ruangan untuk truk yang akan
menyusul, juga cukup untuk

selokan penyaliran dan

tanggul pengaman. Untuk truk tambang yang paling besar


saat ini (240 ton) lebar jalan biasanya 3035 m.

I - 100

3) Kemiringan jalan
a. Jalan angkut di jalan tambang biasanya dirancang pada
kemiringan 8% atau 10%
b. Untuk tambang-tambang yang besar, kemiringan jalan 8%
paling umum. Ini akan memberikan fleksibilitas yang lebih
besar dalam pembuatannya, serta memudahkan dalam
pengaturan masuk ke jenjang tanpa menjadi terlalu terjal
di beberapa tempat.
c. Untuk jalan-jalan angkut yang panjang, kemiringan 10%
adalah

kemiringan

maksimum

yang

masih

praktis.

Tambang-tambang kecil banyak yang dirancang dengan


kemiringan jalan 10%.
4) Rancangan spiral vs. switchback
a. Pada

umumnya

switchback

ingin

dihindari

sebisa

mungkin, karena cenderung melambatkan laulintas. Juga


ban akan lebih cepat aus dan perawatan ban akan lebih
besar lagi. Faktor lain adalah keamanan.
b. Tetapi jika ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari
dinding lainnya di sekeliling pit, switchback di sisi ini
sering lebih murah daripada membuat jalan angkut spiral
mengelilingi dinding pit.
c. Jika switchback harus dipakai, buatlah cukup panjang
sehingga

dibagian

sebelah

dalam

dari

tikungan

kemiringannya tidak terlalu terjal.


5)

Pertimbangan Keamanan
a. Di lokasi jalan tambang dapat dibuat belokan tanjangan
darurat (runaway ramps) untuk menghentikan truk yang
tak

terkontrol,

bila

geometri

pit

memungkinkan.

Melakukan pengupasan ekstra yang besar hanya untuk


membuat fasilitas ini tidak umum dilakukan.

I - 101

b. Tanggul pemisah di tengahjalan dapat dibuat beberapa


tempat untuk tujuan ini. Straddle berm semacam ini
murah biayanya.
6) Dampak penggalian untuk membuat jalan
a. Baik di batuan bijih atau waste, material yang diatasnya
menjadi jalan tambang (atau yang harus digali untuk
membuat jalan), volumenya luar biasa besarnya. Dampak
ekonomik dari pembuatan jalan tambang cukup berarti.
b. Sering

ada

kecenderungan

untuk

membuat

studi

kelayakan awal dengan tahap-tahap penambangan tanpa


memperhitungkan jumlah material untuk membuat jalan
angkut. Kesalahan yang diperoleh biasanya cukup besar.
Dampak

jalan

angkut

pada

tahap-tahap

awal

penambangan (yaitu tahap-tahap yang menghasilkan


uang untuk mengembalikan modal) biasanya jauh lebih
besar

daripada

dampaknya

pada

rancangan

akhir

penambangan.
7.4. TAHAPAN TAMBANG (MINING PHASES/PUSHBACK)
1) Definisi, Filosofi, Metodologi
T

Pushback

(minable

adalah

geometries)

bentuk-bentuk

yang

penambangan

menunjukkan

bagaimana

suatu pit akan ditambang, dari titik masuk awal hingga ke


bentuk akhir pit. Nama-nama lain adalah phases, slices,
stages.
T

Tujuan utama dari pentahapan ini adalah untuk

membagi seluruh volume yang ada dalam pit ke dalam


unit-unit perencanaan yang lebih kecil sehingga lebih
mudah ditangani.
c. Dengan demikian, problem perancangan tambang 3Dimensi yang amat kompleks ini dapat disederhanakan.

I - 102

Selain itu, elemen waktu dapat mulai diperhitungkan


dalam rancangan ini karena urutan penambangan tiaptiap pushback merupakan pertimbangan penting.
d. Pushback

ini

biasanya

dirancang

mengikuti

urutan

penambangan dengan algoritma floating cone untuk


berbagai skenario harga komoditas. Bentuk pushback ini
tidak akan sama persis sama dengan geometri yang
dihasilkan floating cone karena kendala operasi seperti
lebar pushback minimum dll.
e. Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara
baik akan memberikan akses ke semua daerah kerja, dan
menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi
peralatan yang efisien.
2) Kriteria perancangan
a. Harus cukup lebar agar peralatan tambang dapat bekerja
dengan baik. Untuk truk dan shovel besar yang ada
sekarang, lebar pushback minimum adalah 10100 meter.
Untuk loader dan truk berukuran sedang 60 meter sudah
cukup lebar. Jumlah shovel yang diperkirakan akan bekerja
bersama-sama

pada

sebuah

pushback

juga

mempengaruhi lebar minimum ini.


b. Tak kurang pentingnya untuk memperlihatkan paling tidak
satu

jalan

angkut

untuk

setiap

pushback,

untuk

memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan


memungkinkan akses keluar. Jalan angkut ini harus
menunjukkan pula akses ke seluruh pemuka kerja.
c. Perlu diperhatikan bahwa penambahan jalan pada suatu
pushback akan mengurangi lebar daerah kerja (sebanyak
lebar jalan) di bawah lokasi jalan tersebut. Jika beberapa
jalan

atau

switchback

akan

dimasukkan

ke

suatu

pushback, lebar awal di sebelah atas harus ditambah


untuk memberi ruangan ekstra.

I - 103

d. Perlu diperhatikan pula bahwa tambang kita tidak akan


pernah sama bentuknya dengan rancangan tahap-tahap
penambangan

(phase

design).

Ini

karena

dalam

kenyatannya, beberapa pushback akan aktif pada waktu


yang sama (dikerjakan secara bersamaan).
3) Penampilan Rancangan
a. Peta penampang horisontal tampak atas (plan/level map)
memperlihatkan bentuk pit pada akhir tiap tahap. Bila
mungkin tandai setiap perubahan.
b. Peta penampang horisontal yang menunjukkan batas
seluruh pushback pada satu atau dua elevasi jenjang.
c. Peta penampang vertikal tampak samping (cross-section)
yang menunjukkan geometri seluruh pushback sering
berguna pula.
Suatu tabel yang memberikan jumlah ton bijih, kadarnya, jumlah
material total dan nisbah pengupasan untuk setiap pushback
(Tabel 7.1). Tabulasi jumlah dan kadar material per jenjang untuk
tiap pushback diperlukan untuk penjadwalan produksi (Tabel 7.2).

I - 104

Tabel 7.1. Tabulasi Material Setiap Tahapan


Untuk Tiap Tahunnya
TABULATION OF ORE TONS PER PHASE PER YEAR

I - 105

Year
0

Phase 1
4808.

Phase 2
0.

Phase 3
0.

Phase 4
0.

Phase 5
0.

Phase 6
0.

6225.

5167.

0.

0.

0.

0.

17483.

4073.

0.

45.

0.

0.

9175.

12418.

0.

6.

0.

0.

0.

2730.

17704.

654.

513.

0.

0.

0.

6019.

9816.

5765.

0.

0.

0.

0.

0.

21370.

230.

0.

0.

0.

0.

18100.

3501.

0.

0.

0.

0.

7042.

14558.

0.

0.

0.

0.

0.

21600.

10

0.

0.

0.

0.

0.

21600.

11

0.

0.

0.

0.

0.

7583.

TOTAL

37691.

24388.

23723.

10521.

52790.

69071.

Phase

TABULATION OF WASTE TONS PER PHASE PER YEAR


Year
0

Phase 1
13069.

Phase 2
0.

Phase 3
0.

Phase 4
0.

Phase 5
0.

Phase 6
0.

8350.

16870.

0.

0.

0.

0.

6770.

11660.

0.

6790.

0.

0.

761.

9350.

0.

15109.

0.

0.

0.

7.

1526.

16275.

7412.

0.

0.

0.

33.

4107.

21084.

0.

0.

0.

0.

0.

10488.

14405.

0.

0.

0.

0.

1745.

23148.

0.

0.

0.

0.

1270.

23622.

0.

0.

0.

0.

0.

17196.

10

0.

0.

0.

0.

0.

3018.

11

0.

0.

0.

0.

0.

17.

TOTAL

28950.

37887.

1559.

42281.

41999.

81406.

I - 106

Phase

TABULATION OF TOTAL TONS PER PHASE PER YEAR


Year
0

Phase 1
17877.

Phase 2
0.

Phase 3
0.

Phase 4
0.

Phase 5
0.

Phase 6
0.

14575.

22038.

0.

0.

0.

0.

24253.

15732.

0.

6835.

0.

0.

9936.

21768.

0.

15115.

0.

0.

0.

2737.

19230.

16929.

7925.

0.

0.

0.

6052.

13923.

26849.

0.

0.

0.

0.

0.

31858.

14635.

0.

0.

0.

0.

19844.

26649.

0.

0.

0.

0.

8312.

38179.

0.

0.

0.

0.

0.

38796.

10

0.

0.

0.

0.

0.

24618.

11

0.

0.

0.

0.

0.

7599.

TOTAL

66641.

62275.

25282.

52802.

94789.

150477.

Phase

Tabel 7.2. Tabulasi Jumlah dan Kadar Material Per jenjang


Untuk Tiap Tahapan
Ore
Ktonnes

Cu Eq

Total
Coppe
r

1335

0,000

0,000

0,000

1,051

1,061

1.0000

1320

1,811

0,687

0,242

0,242

4,090

5,901

1.0000

1305

2,997

0,683

0,209

0,209

7,918

10.915

1.0000

1290

4,714

0,725

0,213

0,213

7,268

11.982

1.0000

Total

9,522

0,705

0,217

0,217

20.337

29.859

1275

1,324

0,801

0,214

0,214

948

2,272

0.2166

1350

0,000

0,000

0,000

331

331

1.0000

1335

581

0,710

0,234

0,234

1,206

1,787

1.0000

1320

1,161

0,622

0,167

0,167

2,215

3,376

1.0000

1305

1,212

0,709

0,202

0,202

3,508

4,720

1.0000

1290

1,239

0,797

0,219

0,219

5,448

6,687

1.0000

1275

1,161

0,901

0,250

0,250

4,958

6,119

0.8275

Total

6,678

0,762

0,213

0,213

18.614

25.292

Year Phase
1
PP

Bench
Ktonnes

I - 107

Gold
g/t

Waste
Ktonnes

Total
Ktonnes

Bench
Fraction

Example of Bench Average Mining Ratio


Year 1:

Ore Target

Year Phase

Bench

6,678

Waste Target :

18,614

1275

Ore
Ktonnes
6114

Waste
Ktonnes
4377

Bench
Fraction
x

Cumulative
Ore
6114

1350
1335

0
581

331
1206

1
1

0
581

331
1537

1320

1161

2215

1742

3752

1305

1212

3508

2954

7260

1290

1239

54446

4193

12708

1275

1403

59993

5596

18701

I - 108

Cumulative
Waste
4377

Ore
: 4193 + 6114x + 1403y = 6678
Waste : 12708 + 4377x + 5993y = 18614
x = 0.2166, y = 0.6273

Berikut ini adalah beberapa contoh pushback untuk suatu


tambang

I - 109

Gambar 7.1. Mining Phase 1


(American Gold Resources, 1996)

I - 110

Gambar 7.2. Mining Phase 2


(American Gold Resources, 1996)

I - 111

Gambar 7.3. Mining Phase 3


(American Gold Resources, 1996)

I - 112

Gambar 7.4. Mining Phase 4


(American Gold Resources, 1996)

I - 113

Gambar 7.5. Final Pit


(American Gold Resources, 1996)

I - 114

PEKERJAAN RUMAH 8
Topik : Ramp Design

Buatlah desain jalan (ramp design) dari suatu pit seperti


terlihat pada gambar dibawah ini. Jelaskanlah tahap-tahap
pembuatan jalan tersebut (lihatlah buku Open Pit Mine Planing
and Design, Hustrulid & Kutcha, 1995)
Keadaan awal :

I - 115

BAB VIII
WASTE DUMP DAN STOCKPILE

8.1. PENDAHULUAN
1) Suatu waste dump adalah suatu daerah dimana suatu operasi
tambang terbuka dapat membuang material kadar rendah
dan/atau material bukan bijih yang harus digali dari pit untuk
memperoleh bijih/material kadar tinggi.
2) Stockpile digunakan untuk menyimpan material yang akan
digunakan pada saat yang akan datang.
a.

Bijih kadar rendah yang dapat diproses

pada saat yang akan datang.


b.

Tanah penutup atau tanah pucuk yang

dapat digunakan untuk reklamasi.


3) Rancangan waste dump sangat penting untuk perhitungan
keekonomian. Lokasi dan bentuk dari waste dump dan
stockpile akan berpengaruh terhadap jumlah gilir truk yang
diperlukan, demikian pula biaya operasi dan jumlah truk
dalam satu armada yang diperlukan.
4) Daerah yang diperlukan untuk waste dump pada umumnya
luasnya 2-3 kali dari daerah penambangan (pit).
a.
berkembang
b.

Material yang telah dibongkar (loose material)


30-45 % dibandingkan dengan material in situ.
Sudut

kemiringan

untuk

suatu

dump

umumnya

tidak

dapat

umumnya lebih landai dari pit.


c.

Material

pada

ditumpuk setinggi kedalaman dari pit.


5) Berdasarkan alasan politik, banyak perusahaan menjauhi
nama waste dumps. Istilah yang disukai adalah waste rock
storage area, rock piles, dan lain-lain.

I - 116

8.2. JENIS DUMP


1) Valley Fill/Crest Dumps
a.

Dapat diterapkan di daerah ayng mempunyai topografi

curam. Dumps dibangun pada lereng.


b.

Elevasi puncak (dump crest) ditetapkan

pada awal pembuatan dump. Truk membawa muatannya


ke elevasi ini dan membuang muatannya ke lembah di
bawahnya. Elevasi crest ini dipertahankan sepanjang
umur tambang.
c.

Dump dibangun pada angle of repose.

d.

Membangun suatu dump ke arah atas

(dalam beberapa lift) pada daerah yang topografinya


curam biayanya mahal. Dumping akan mulai pada kaki
(toe) dari dump final yang berarti pengangkutan truk yang
panjang pada awal proyek.
e.

Diperlukan usaha yang cukup besar untuk

pemadatan yang memenuhi persyaratan reklamasi.


2) Terraced Dump/Dump yang dibangun ke atas (dalam lift)
a.

Dapat diterapkan jika topografi tidak begitu

curam pada lokasi dump.


b.

Dump dibangun dari bawah ke atas. Dalam

lift biasanya 20-40 m tingginya.


c.

Ada untung ruginya dari segi ekonomi

antara jarak horizontal untuk perluasan lift terhadap


kapan memulai suatu lift baru.
d.

Lift-lift berikutnya terletak lebih ke belakang

sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle)


mendekati yang dibutuhkan untuk reklamasi.
8.3. PEMILIHAN LOKASI
1) Tergantung pada beberapa faktor:

I - 117

a.

Lokasi dan ukuran pit sebagai fungsi waktu.

b.

Topografi.

c.

Volume waste rock sebagai fungsi waktu

dan sumber.
d.

Batas KP/CoW.

e.

Jalur penirisan yang ada.

f.

Persyaratan reklamasi.

g.

Kondisi pondasi.

h.

Peralatan penanganan material.

2) Selama rancangan detail dapat dipertimbangkan beberapa


lokasi yang berbeda untuk perbandingan faktor ekonomik.

8.4. PARAMETER RANCANGAN


1) Angle of Repose
a.

Batuan kering run of mine umumnya mempunyai angle

of repose antara 3437 derajat.


b.

Sudut ini dipengaruhi oleh tinggi dump,

ketidakteraturan bongkah batuan, kecepatan dumping.


c.

Dapat dibuat pengukuran pada suatu lereng

(bongkah-bongkah

alami/talus)

yang

ada

di

daerah

tersebut.
2) Faktor Pengembangan (Swell Factor)
a.

Pada batuan keras, faktor pengembangan

pada umumnya antara 30 dan 45%. Satu meter kubik in


situ akan mengembang menjadi 1,31,45 meter kubik
material lepas (loose).
b.

Pengukuran bobot isi loose dapat dilakukan.

c.

Dengan waktu, material dapat dikompakkan

dari 515%. Material yang dibuang dengan truk akan


menjadi lebih kompak daripada material yang dibuang
oleh ban berjalan (belt conveyor stackes).

I - 118

3) Tinggi Lift/Jarak Setback


a.

Hanya berlaku untuk dump yang dibangun

ke atas (dengan lift).


b.

Tinggi lift umumnya adalah 15-40 meter.

c.

Rancangan jarak setback sedemikian rupa

sehingga

sudut

kemiringan

keseluruhan

rata-rata

(average overall slope angle) adalah 2H:1V (27 derajat)


sampai

2.5H:1V

(22

derajat)

untuk

memudahkan

reklamasi.
4) Jarak Dari Pit Limit
a.

Jarak minimum adalah ruangan yang cukup

untuk suatu jalan antara pit limit dan kaki dump (dump
toe). Kestabilan pit akibat dump harus diperhitungkan.
b.

Jarak yang sama atau lebih besar dari

kedalaman pit akan mengurangi resiko yang berhubungan


dengan kestabilan lereng pit.
5) Makalah

Bonhet/Kunze

(Surface

Mining

Bab

5.6)

merekomendasikan sedikit tanjakan ke arah dump crest


dengan alasan penirisan dan keamanan.
a.

Limpasan air hujan menjauhi crest.

b.

Truk harus menggunakan tenaga mesin

untuk menuju ke crest dan bukan meluncur bebas. Juga


akan mengurangi resiko alat/ kendaraan yang diparkir
meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest).

8.5. PERHITUNGAN VOLUME


1) Penampang Horizontal
a.

Ukur luas daerah pada kaki (toe) dan puncak

(crest) dari setiap lift. Rata-ratanya adalah luas lift.


b.

Tinggi lift memberikan dimensi ke tiga dan

volume untuk lift.

I - 119

c.

Jumlahkan volume untuk tiap lift untuk

memperoleh volume total dump.


2) Penampang Vertikal
a.

Buat beberapa penampang melintang dengan jarak

yang sama melalui dump.


b.

Ukur luas pada tiap penampang.

c.

Luas ini dianggap sama sehingga separuh

jalan ke penampang berikutnya pada kedua sisi untuk


memperoleh dimensi ke tiga dan volume untuk setiap
penampang.
d.

Jumlahkan

volume

tiap-tiap

penampang

untuk memperoleh volume total dump.


3) Rancangan Dump adalah dengan cara coba-coba (Trial and
Error)
a. Gambar rancangan dump secara coba-coba
dan hitung volumenya. Bandingkan dengan volume
dump yang diperlukan.
b.

Sesuaikan rancangan dan ukur kembali

sampai volume yang diinginkan dicapai. Umumnya 23


kali dicoba sudah cukup. Perbedaan antara ukuran yang
diperlukan dan rancangan sampai 5% umumnya dapat
diterima.
8.6. REKLAMASI
1) Untuk memenuhi syarat lingkungan pada umumnya dump
akan dirancang dengan kemiringan 2H:1V atau 2.5H:1V.
a.

Stabilitas jangka panjang.

b.

Memudahkan

penanaman

kembali

(revegetasi).
2) Mungkin harus ditimbun dengan topsoil atau overburden.

I - 120

3) Mungkin

harus

memelihara

saluran

air

dan

kolam

pengendapan sedimen.
4) Harus memantau air dari dump (masalah air asam tambang,
dll).

8.7. KOMENTAR LAIN


1) Biasanya satu track dozer ditugasi pada waste dump yang
aktif.
a.

Menjaga dump tetap bersih dan memelihara

kemiringan.
b.

Sering truk menimbun dekat dengan crest

dan dozer mendorong material melalui crest.


c.

Membebaskan truk dan peralatan lain yang

terperangkap.
2) Dump

yang

besar

memerlukan

perhitungan

rekayasa

geoteknik yang cukup.


a.

Penentuan kestabilan pondasi.

b.

Kecepatan maksimum dari kemajuan dump.

c.

Pengaruh

air.

Bagaimana

membuang

material ke jalur penirisan.


d.

Masalah gempa bumi pada daerah seismik

yang aktif.
3) Jika rencana tambang mengijinkan, penimbunan kembali ke
daerah

yang

sudah

habis

ditambang

banyak

memberi

keuntungan (dilakukan misalnya di Gn. Muro).


a.

Umumnya pengangkutan jarak pendek.

b.

Mengurangi dampak visual dari aktivitas

tambang.
4) Menjadwalkan

penempatan

material

penjadwalan produksi umum dilakukan.

I - 121

pada

dump

sesuai

BAB IX
EVALUASI FINANSIAL

9.1. PENDAHULUAN
1) Tujuan dari suatu usaha bisnis dalam ekonomi pasar bebas
adalah memberikan pengembalian finansial (financial return)
kepada para pemilk usaha, konsisten dengan tujuan dari
perusahaan. Perusahaan itu sendiri bisa berupa perusahaan
publik atau milik individu.
2) Tujuan evaluasi finansial adalah untuk menentukan apakah
pengembalian finansial yang cukup dapat diperoleh dari
suatu proyek. Salah satu hal yang mungkin dapat diperoleh
dari suatu proyek. Salah satu hal yang mungkin ingin

I - 122

dievaluasi adalah bagaimana sebaiknya mengalokasikan dana


perusahaan di beberapa proyek yang saling bersaing untuk
mendapatkan dana.
3) Aspek-aspek evaluasi finansial spesifik untuk pertambangan :
a. Intensitas kapital
b. Masa pra-produksi yang panjang
c. Resiko besar
4) Sumberdaya tak terbarukanpenghasilan diperoleh dengan
mengambil/ menjual aset (cadangan).
9.2. NILAI WAKTU DARI UANG
1) Dalam ekonomi pasar bebas, nilai waktu dari uang terletak di
jantung dari semua transaksi financial.
2) Bunga (interest) adalah sewa yang dibayar untuk pemakaian
uang.
a. FV = PV (1+i)n
b. PV = FV / (1+i)

PV = Present Value
n

FV = Future Value

9.3. MENENTUKAN TINGKAT BUNGA (DISCOUNT RATE)


1) Walaupun telah ada kesepakatan tentang perlunya konsep
nilai waktu dari uang, pemilihan atau penentuan tingkat
bunga yang pantas sering menjadi bahan diskusi dan
perdebatan.
2) Komponen utama dari Discount Rate
a. Base Opportunity Cost
b. Transaction Cost
c. Increment resiko berbagai tingkat
i. Penggantian peralatan di tambang yang
sedang beroperasi
ii. Program ekspansi di tambang yang sedang
beroperasi

I - 123

iii.

Pengembangan

tambang

baru,

komoditas sama, di negara yang sama


iv.

Pengembangan

tambang

baru,

komoditas lain dan/atau di negara lain.


d. Increment Inflasi
Jika digunakan evaluasi constant dollar, komponen inflasi
harus dikeluarkan dari discount rate.
9.4. PERHITUNGAN INFLASI
1) Tiga

cara

mendasar

untuk

memasukkan

inflasi

dalam

statement aliran kas :


a. Constant dollar, tanpa perubahan untuk
inflasi :
i.

Semua ongkos/biaya dan penghasilan

dihitung untuk waktu itu


ii. Ongkos dan penghasilan dianggap akan
terinflasi pada tingkat yang sama
iii.

Ongkos kapital dan pajak biasanya

terlalu kecil dari seharusnya


b. Semua variabel diinflasikan ke awal proyek,
setelah itu tetap konstan.
i. Digunakan
keuangan

karena

oleh

beberapa

memperhitungkan

institusi

inflasi

untuk

dari

yang

ongkos kapital tersebut.


ii. Pajak

masih

terlalu

kecil

seharusnya.
c. Semua variabel diinflasikan selama jangka waktu proyek.
i.

Dalam teorinya paling realistik

ii. Harus mengasumsikan tingkat inflasi per tahun untuk


tiap variabel.

I - 124

2) Tanpa memperhitungkan inflasi akan membuat pajak terlalu


kecil.
Depresiasi dan deflesi dihitung pada awal proyek yang tidak
terpengaruh oleh inflasi. Pengaruh netto dari inflasi ialah
mengurangi kredit pajak dari keduanya.
9.5. UKURAN KINERJA
1) Payback Period
2) Net Present Value
3) Internal Rate of Return
9.6. ANALISIS SENSITIVITAS
1) Problem utama dengan analisis finansial ialah mencoba
memprediksikan hasil dari banyak parameter.
2) Dalam analisis sensitivitas tiap variabel yang penting untuk
evaluasi (kadar bijih, perolehan, ongkos kapital, ongkos
operasi, harga komoditas) diubah-ubah untuk menentukan
pengaruhnya terhadap ukuran kinerja.
9.7. ANALISIS RESIKO
1) Mirip dengan analisis sensitivitas,
distribusi

probabilitas

hanya di

sini suatu

dibuat untuk parameter-parameter

yang penting.
2) Simulasi Monte Carlo dipakai untuk membuat suatu distribusi
ukuran kinerja (lihat artikel 4.3 Financial Analysis dalam
surface Mining)
Berikut ini adalah contoh perhitungan evaluasi finansial dari suatu
tambang.
Contoh Soal :

I - 125

Suatu konsultan tambang diminta untuk mengkaji kelayakan


suatu endapan porfiri gold-copper. Berdasarkan hasil studi
kelayakan awal (pre-feasibility study) telah diperoleh data-data
sebagai berikut :
A. Data produksi
Dengan mempertimbangkan tingkat produksi dan topografi daerah
penambangan maka diputuskan untuk melakukan penambangan
secara tambang terbuka, dengan data-data :
- ore
: 3500 Kton/tahun
- gold grade

: 0.0207 oz/tahun

- copper grade

: 0.6 %

- perbandingan waste to ore

: 5.5 (tahun 1-3); 4.0 (tahun 4);

dan
- umur

3.0 (tahun 5)

: 5 tahun

Catatan: Pada tahun ke-0 hanya memproduksi waste sebesar


15.000 Ktons
B. Data Pengolahan
Dengan mempertimbangkan karakteristik mineral yang ada maka
diputuskan bahwa metoda pengolahan yang digunakan adalah
dengan metoda flotasi, dengan data-data :
- mill recovery of gold : 80%
- mill recovery of copper

: 92%

C. Data Ekonomi
Dengan

mempertimbangkan

supply-demand

pasar

logam,

teknologi penambangan dan pengolahan serta kondisi makro


ekonomi maka data-data dasar yang digunakan untuk analisis
ekonomi adalah :
-

Mining cost

: US$ 0.55 per tonne

I - 126

Milling cost

: US$ 1.8 per tonne

General & Administration cost

: US$ 0.5 per tonne

Copper price

: US$ 1.0 per pound

Gold price

: US$ 400 per troy ounce

Smelter payable of copper

: 96%

Smelter payable of gold

: 98%

SRF per pound payable copper : US$ 0.345

Plant and infrastructure capital : US$ 20.000.000

Akusisi lahan

: US$ 10.000.000

Discount rate

: 15%

Present value factor

: 1/(1+i)n

Ekskalasi biaya

: 1%

Ekskalasi pendapatan

: 1%

Pajak perusahaan

: 20%

Royalti

: 2% dari revenue

Tugas kita sebagai mining engineer yang bekerja pada konsultan


tersebut adalah menghitung kelayakan penambangan dengan
menyusun langkah perhitungan sebagai berikut :
1) Menghitung (untuk tahun 1) :
a. Break Even Cut off Grade for Copper
b. Internal Cut off Grade for Copper
c. Copper Equivalent
2) Menghitung Net Present Value (NPV) selama umur tambang
setelah pajak.
Berdasarkan hasil perhitungan yang kita lakukan tentukan apakah
skenario penambangan yang telah disusun layak untuk diterapkan
atau tidak ?
Catatan : 1 ton = 2000 pound ; 1 ounce = 0.9114 troy ounce
Jawaban :
Tabel 9.1. Data Ekonomik Awal Untuk Cebakan Bijih
(dalam US$ )

I - 127

Mining cost per tonne Total material


Milling cost per tonne Ore
General & Administration cost per tonne
ore
Mill recovery of gold
Mill recovery of copper
SRF per pound payable copper
Smelter payable (Recovery) of copper
Smelter payable (Recovery) of gold
Copper price per pound
Gold price per troy ounce (per gram)
Breakeven Cut off Grade for copper
Internal Cut off Grade for Copper
Copper Equivalent

US$ 0.55
US$ 1.8
US$ 0.5
80%
92%
US$ 0.345
96%
98%
US$ 1.0
US$ 400
($12.86)
?
?
?

Perhitungan :
a.

BECOG

Penghasilan = Biaya
Price x Gradex Mill Rec x Smelter Rec x 20 = Cost
(Mine+Mill+G&A) + SRF
x Grade x Mill Rec x Smelter Rec x
20
(Price-SRF) x Grade x Mill Rec x Smel. Rec x 20 = Cost (mine + Mill
+ G&A)
Cost Cost (mine + Mill + G&A)
BECOG=

(Price-SRF) x Mill Rec x Smelter Rec x 20


($0.55 + $1.80 + $0.50)
($1.00 -$0.345) x 0.92 x 0.96 x 20

= 0.246 %
Catatan :
Angka 20 adalah faktor konversi dari % ke pound (dengan satuan
pound %)
b.
ICOG
Rumusnya sama dengan BECOG namun ongkos penambangannya tidak
ikut diperhitungkan.

ICOG

Cost (Mill + G&A)

I - 128

(Price-SRF) x Mill Rec x Smelter Rec x 20


( $1.80 + $0.50)
=

($1.00 -$0.345) x 0.92 x 0.96 x 20

= 0.20 %
c. Copper Equivalent
Tabel 9.2. Data Pengolahan Bijih

Price
Mill Rec
Smelter Rec
SRF

Copper

Gold

$ 1.00/lb
98%
96%
$0.345

$ 12.86/gr
80%
98%
-

1) Hitung nilai NSR (Net Smelter Return) dari 1 ton bijih dengan kadar

1%

Cu.
($1.00/lb - $0.345/lb) x (1%) x 0.92 x 0.96 x 20 lb/% = $
11.57
2) Hitung nilai NSR (Net Smelter Return) dari 1 ton bijih dengan
kadar

1 gr/ton Au.

($ 12.86/gr) x 1 gr x (0.80) x (0.98) = $ 10.08

Faktor Eq =

Faktor Eq =

= 0.871

3) Copper Equivalent = total Cu + 0.871 x Gold


Discount rate

: 15%

Gold price

: 400 US$/tr oz

Copper price

: 1 US$/lb

Process Rec of Gold : 80%


Process Rec of Copper

92%

I - 129

Present Value Factors at 15 % interest


Year
Factor

0
1.000

Year
Waste : ore

1
0.870

2
0.756

1
5.5

3
0.658

2
5.5

4
0.572

3
5.5

5
0.497

4
4

5
3

Tabel 9.3. Hasil Perhitungan NPV


Total

Year
Economic Parameter
Ore (ktons)

PP

17500

Waste (ktons)

15000 19250 19250 19250 14000 10500

97250

Total (ktons)

15000 22750 22750 22750 17500 14000 114750

Recovereed Gold (koz)


Grade Copper (%)

3500 3500 3500

5
3500

Grade Gold (ktons)

3500

0.02070.02070.02070.02070.02070.0207

0.0207

0 72.45 72.45 72.45 72.45 72.45

362.25

0.6

0.6

0.6

0.6

0.6

0.6

0.6

Recovered Copper (ktons)

21

21

21

21

21

105

Gross Revenue ($ x 1000)

0 64076 64076 64076 64076 64076 320381

Mining Cost per total ton


Total Mining Cost ($ x 1000)
Processing Cost Per ton ore

0.55

0.55

0.55

0.55

8250 12513 12513 12513

0.55

9625

7700

63113

1.8

Total Processing Cost

G&A Cost per ton ore

0.5

Total G&A Cost per ton ore

0.55
1.8

0.55

1.8

1.8

1.8

1.8

6300 6300 6300

6300

6300

32500

0.5

1.8

0.5

0.5

0.5

0.5

1750 1750 1750

0.5

1750

1750

8750

Plant and Infrastructure Capital 20000

20000

Akuisisi Lahan

10000

Royalti
Taxable Income ($ x 1000)
Tax (20%)
Cash flow

10000
01281.51281.51281.51281.51281.5

6407.6

38250 42232 42232 42232 45120 47045 180610


08446.48446.48446.49023.99408.9

43772

38250 33786 33786 33786 36096 37636 136838

I - 130

PEKERJAAN RUMAH 9
Proyek 1
Topik : Perhitungan NPV Proyek
Hitung pre-tax cash flow untuk tiap tahun dengan jadwal produksi
dan parameter ekonomi sebagi berikut. Juga hitung NPV untuk
proyek menggunakan tingkat bunga 15%.
Jadwal Produksi Penambangan
Tahun

Kton

Emas

Emas

Kton

Ktol total

PP
1
2
3
4
5
6
TOTA

bijih
0
2.700
2.700
2.700
2.700
2.700
1.531
15.03

(oz/t)
0,000
0,072
0,074
0,068
0,060
0,063
0,059
0,067

(oz)
0
199.400
199.800
183.600
162.000
170.100
90.300
1.005.20

waste
11.000
14.300
14.300
14.300
13.683
4.011
2.098
73.692

11.000
17.000
17.000
17.000
16.383
6.711
3.629
88.723

Parameter Ekonomi
Biaya penambangan per total ton
Biaya pengolahan per ton bijih
Biaya umum & administrasi per

$ 0,85
$ 3,10
$ 1.377

tahun (termasuk PP) ($x1000)


Perolehan pengolahan
Harga emas per troy oz
Modal pabrik dan infrastruktur

80 %
$ 400
$ 30.000

($x1000)
Tingkat suku bunga

15 %

Buat asumsi yang layak untuk modal awal tambang. Modal


penggantian pealatan tidak diperhitungkan.
Present Value Factor pada tingkat suku bunga 15 %. Faktor = 1/
(1+i)n.
Tahu

I - 131

n
Fakto

1,00

0,87

0,75

0,65

0,57

0,49

0,432

1. Hitunglah NPV proyek dengan data-data Ekonomi di atas.


2. Dikerjakan dalam bentuk tabel sebagai berikut.
3.
Paramet
er
Ekonomi
k

PP

NPV
pada
15%

BAB XI
ONGKOS OPERASI TAMBANG

I - 132

Total

11.1.

KOMPONEN UTAMA

1) Tenaga Kerja
2) Suku Cadang dan Bahan Habis

11.2.

a.

Penggantian karena rusak atau aus

b.

Bahan bakar

c.

Bahan peledak dan aksesorinya

d.

Oli, pelumas, filter

ONGKOS OPERASI BIASA DINYATAKAN UNTUK TIAP UNIT


OPERASI

1) Pemboran
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait

dengan operasi dan perawatan alat bor lubang tembak. Meliputi ongkos
mata bor, batang bor dan aksesori lainnya.
b.

Ongkos tenaga kerja (operator alat bor dan asistennya

serta sebagian dari personel perawatan alat).


2) Peledakan
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait

dengan operasi peledakan.


b.

Ongkos tenaga kerja (juru ledak dan asistennya).

a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait

3) Pemuatan
dengan operasi dan perawatan alat muat (shovel, loader).
b.

Ongkos tenaga kerja (operator shovel, loader dan

sebagian dari personel perawatan alat).

I - 133

4) Pengangkutan
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait

dengan operasi dan perawatan alat angkut (truk).


b.

Ongkos tenaga kerja (operator truk dan sebagian dari

personel perawatan alat).


5) Kegiatan Pendukung Utama
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait

dengan operasi dan perawatan alat pendukung utama (bulldozer, grader,


truk air)
b.

Ongkos tenaga kerja alat-alat tersebut (operator dan

sebagian dari personel perawatan alat).


6) Kegiatan Penunjang Tambang
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait

dengan operasi dan perawatan alat penunjang kegiatan tambang (alat bor
kecil, truk bahan peledak, alat gali kecil, dll juga suplai untuk bagian
engineering dan operasi). Sebagai patokan (rule of thumb) dapat
digunakan angka US$ 0. 01 per total ton.
b.

Ongkos tenaga kerja personel tambang yang terkait

(juru pompa, kru servis dan tenaga kerja umum).


7) Perawatan Umum
a.

Ongkos suku cadang dan bahan habis yang terkait

dengan pemeliharaan alat pendukung perawatan tambang (truk bahan


bakar, truk pelumas, crane, dll juga suplai untuk bagian perawatan,
bengkel dan gudang). Sebagai patokan (rule of thumb) dapat digunakan
angka US$ 0. 01 per total ton.
b.

Ongkos tenaga kerja personel perawatan seperti teknisi

ban, kru bahan bakar/pelumas dan tenaga kerja umum.


c.

Termasuk pula biaya servis oleh kontraktor atau agen.

Dapat diperkirakan sebagai persentase dari ongkos tenaga kerja


perawatan total.

I - 134

8) General dan Administrative (G & A)


Gaji pegawai di bidang-bidang umum dan administrasi (biasanya disebut
dengan biaya upah overhead) ditambah dengan tunjangan-tunjangan lainnya.

11.3. PARAMETER PENTING DALAM PENAKSIRAN ONGKOS/BIAYA

1) Tingkat Upah Pekerja


a.

Perlu data tentang tingkat upah yang berlaku untuk

keahlian ekivalen yang diperlukan oleh operasi penambangan.


b.

Tambahan tunjangan-tunjangan lain di luar gaji

besarnya tergantung pada peraturan yang berlaku. Di Amerika Serikat


berkisar sekitar 35%; di beberapa negara lain dapat lebih tinggi.
c.

Tingkat upah ini dikalikan dengan jumlah personel

yang dihitung sebelumnya dalam bab Kebutuhan Tenaga Kerja.


2) Harga diesel (untuk bahan bakar dan campuran bahan peledak ANFO) hingga
ke tambang.
3) Biaya listrik (untuk peralatan shovel dan bor listrik).
4) Harga bahan peledak sampai ke tambang.
5) Jumlah gilir yang dijadwalkan untuk tiap jenis alat (dari Perhitungan
Kebutuhan Peralatan Tambang).

11.4.

ONGKOS OPERASI ALAT PER GILIR

Berdasarkan pada biaya operasi per jam dan jumlah aktual jam pemakaian alat per
gilir.

11.5.

ONGKOS PELEDAKAN

I - 135

Ongkos bahan peledak dan aksesorinya yang dibutuhkan untuk suatu pola
peledakan tipikal, dibagi dengan jumlah ton batuan yang dihasilkan.
1) Alternatif lain untuk memperkirakan biaya aksesori peledakan adalah dengan
menggunakan persentase dari ongkos bahan peledak. Persentase untuk suplai
aksesori bahan peledak ini berkisar dari 2-3% untuk tinggi jenjang dan spasi
(jarak antar lubang tembak) yang besar, hingga 33% untuk jenjang dan spasi
kecil.
2) Suplai aksesori lainnya ini meliputi primer, booster, detonating cord, dll.
Contoh ongkos operasi tambang :
Tabel 11.1. Ongkos Operasi Tambang Selama 25 Tahun

I - 136

BAB XII
PERENCANAAN TAMBANG BATUBARA

12.1. PENAKSIRAN CADANGAN


Penaksiran cadangan merupakan salah satu tugas terpenting dan
berat tanggung jawabnya dalam mengevaluasi suatu proyek
pertambangan

karena

tergantung padanya.
pendekatan

dari

data/informasi

keputusan-keputusan

teknis

amat

Model cadangan yang dibuat adalah

keadaan

yang

cadangan

tersedia

dan

nyata

berdasarkan

masih

mengandung

ketidakpastian.
Ada

beberapa

hal

yang

mendasari

sehingga

penaksiran

cadangan dianggap penting, antara lain :


1) Penaksiran cadangan memberikan taksiran dari kuantitas
(tonase) dan kualitas (kadar dan lain-lain) dari cadangan.
2) Penaksiran cadangan memberikan perkiraan bentuk tiga
dimensi dari cadangan serta distribusi ruang (spatial) dari
nilainya. Hal ini penting untuk menentukan urutan atau
tahapan

penambangan,

yang

pada

gilirannya

akan

mempengaruhi pemilihan peralatan dan Net Present Value


(NPV) dari tambang.
3) Jumlah cadangan menentukan umur tambang. Hal ini penting
dalam

perancangan

pabrik

pengolahan

dan

kebutuhan

infrastruktur lainnya.
4) Batas-batas

kegiatan

penambangan

(pit

limit)

dibuat

berdasarkan taksiran cadangan. Faktor ini harus diperhatikan


dalam menentukan lokasi pembuangan tanah atau batuan

I - 137

penutup dan tailing (waste dump dan tailing impoundment),


pabrik pengolahan bijih, bengkel dan fasilitas lainnya.
Syarat-syarat untuk dapat melaksanakan penaksiran cadangan
suatu daerah penambangan, antara lain :
1) Suatu

taksiran

cadangan

harus

mencerminkan

kondisi

geologis dan karakter atau sifat dari mineralisasi.


2) Model cadangan yang akan digunakan untuk perancangan
tambang harus konsisten dengan metode penambangan dan
teknik perencanaan tambang yang akan diterapkan.
3) Taksiran yang baik harus didasarkan pada data faktual yang
diolah atau diperlakukan secara objektif.
4) Metode penaksiran yang digunakan harus memberikan hasil
yang dapat diuji ulang atau diverifikasi.
Tahap pertama setelah penaksiran cadangan selesai dilakukan
adalah memeriksa atau mengecek taksiran kadar blok (unit
penambangan terkecil). Hal ini dilakukan dengan menggunakan
data pemboran (komposit data assay) yang ada disekitarnya.
Setelah

penambangan

dimulai,

taksiran

kadar

dari

model

cadangan harus dicek ulang dengan kadar dan tonase hasil


penambangan yang sesungguhnya.
12.2. METODE PENAKSIRAN CADANGAN
Prinsip utama dalam penaksiran cadangan adalah bagaimana
mendapatkan suatu nilai pengganti terbaik dari sejumlah perconto
yang diambil dari suatu badan mineral. Secara lebih spesifik kita
ingin menaksir kadar pada suatu lokasi dimana kita tidak memiliki
data dengan menggunakan sejumlah perconto yang letaknya dekat
dengan lokasi tersebut.
Ada berbagai metode untuk menghitung cadangan sesuai
dengan kondisi geologi dan mineralogi endapan. Berbagai
metode tersebut telah dikembangkan dari metode konvensional

I - 138

(klasik)

yang

komputer.

manual

Metode

menggantikan

sampai

metode

geostatistik

penggunaan

geostatistik

secara

metode

bertahap

konvensional.

dengan
telah
Metode

geostatistik penjelasan secara rinci tidak akan dibahas dalam


kesempatan ini.
Untuk memilih salah satu di antara metode itu diperlukan
beberapa pertimbangan, yaitu analisis geologi cadangan, tujuan
perhitungan cadangan, sistem penambangan dan prinsip-prinsip
dari interpretasi dan eksplorasi yang dipakai. Metode tertentu
lebih sesuai dipakai untuk endapan dengan bentuk geometri dan
distribusi kadar yang tertentu pula. Endapan dengan bentuk
geometri kompleks dan distribusi kadar yang tinggi akan lebih
cocok bila dihitung dengan Metode Krigging. Untuk endapan
dengan bentuk geometri sederhana dengan distribusi kadar atau
koefisien variasi rendah akan lebih efektif dihitung dengan
metode penampang yang sederhana.
Metode-metode konvensional yang digunakan untuk perhitungan
cadangan adalah sebagai berikut :
1)

Menurut G. Popov :
Metode rata-rata faktor dan luas
a. Metode analog
b.

Metode blok-blok geologi

Metode blok-blok penambangan


a. Blok terbuka pada empat sisi pekerjaan bawah
tanah
b. Blok terbuka pada tiga sisi pekerjaan bawah tanah
c. Blok terbuka pada dua sisi pekerjaan bawah tanah
d. Blok terbuka pada satu level dan perpotongan
pada kedalaman pemboran
Metode cross-section

I - 139

a. Metode standar
b. Metode linear
c. Metode isoline
Metode Analitik
a.
Metode triangle (segitiga)
b.

Metode poligon

1)

Penyebaran lubang bor tidak teratur

2)

Penyebaran lubang bor teratur


i. Jaringan kerja bujur sangkar
ii. Grid papan catur

2)

Menurut Park adalah :


Regular
a. Included area
b. Excluded area
c. Semi regular
Irregular
a. Area of influence
b. Triangle grouping
c. Cross-section

Berikut ini uraian mengenai beberapa metoda yang biasa


diaplikasikan :

1) Metode Penampang Melintang


Penampang melintang disusun dari kombinasi antara peta garis
singkapan (cropline) batubara dengan data pemboran (log bor).
Penampang melintang per seam disusun dengan melakukan
interpolasi antar data lapisan (seam) pada setiap titik bor yang
berdekatan. Garis penampang melintang sebaiknya selalu
diusahakan tegak lurus jurus garis singkapan batubara.
Penampang seam berguna untuk memudahkan perhitungan
sumberdaya sekaligus cadangan batubara salah satunya dengan
menggunakan rumus mean area. Data tersebut juga dapat

I - 140

digunakan untuk menghitung cadangan tertambang dengan


memasukkan asumsi sudut lereng ke dalamnya.
Cadangan dihitung berdasarkan luas daerah batas seam pada
penampang yang bersebelahan. Volume cadangan yang dihitung
adalah volume antara dua penampang yang bersebelahan.
Perhitungan volume dilakukan menggunakan rumus mean area.
V = L /2 (S1 + S2)
keterangan :
V = Volume daerah yang ditaksir (m3)
L = Jarak antar Penampang (m)
S = Luas daerah penampang batubara pertama dan kedua
(ton/m3)
Selain menggunakan rumus mean area, perhitungan ini juga dapat
dilakukan menggunakan rumus kerucut terpancung, rumus
prismoida dan rumus obelisk.
Faktor tonase biasanya diperoleh untuk masing-masing material
secara empirik. Kemudian tonase untuk masing-masing penampang
dijumlahkan untuk memberikan gambaran total tonase cadangan
batubara. Perkiraan akhir untuk kualitas batubara diperoleh dengan
menghitung nilai rata-rata tertimbang (weighted average) untuk
masing-masing seam atau area perhitungan.

2) Metode Penampang Horizontal


Walaupun metode penampang vertikal telah banyak digunakan
untuk penaksiran cadangan bijih pada masa lalu, sekarang metode
ini telah banyak digantikan oleh teknik-teknik berdasar pada
penggunaan penampang horizontal.
Metode penampang horizontal pada dasarnya melakukan
perhitungan volume berdasarkan luas daerah juga. Nilai-nilai elevasi
yang diperoleh dari data pemboran dikorelasikan secara horizontal
membentuk permukaan lapisan menggunakan prinsip triangulasi
atau daerah pengaruh. Kemudian permukaan ini dihitung luasnya,
dan luas permukaannya dikalikan dengan rata-rata ketebalan
lapisan untuk memperoleh volume seam yang diinginkan.

I - 141

3) Metode Triangular
Metode triangular adalah salah satu metode yang dapat digunakan
untuk menghitung cadangan batubara. Di dalam metode triangular,
masing-masing titik batas material pada lubang bor dijadikan ujung
sebuah segitiga sehingga akan dihasilkan suatu permukaan yang
terdiri dari gabungan segitiga-segitiga dan dihasilkan seam berupa
prisma-prisma segitiga yang teridiri dari dua buah segitiga yang
sejajar dengan jarak vertikal sebesar ketebalan lapisan. Jika prisma
segitiga yang terbentuk memiliki ketebalan yang tetap, maka
volumenya akan sama dengan luas daerah dikalikan dengan
ketebalan, dan untuk memperoleh tonnase, maka dikenakanlah
faktor tonase yang sesuai.

4) Metode Poligon
Metode poligon merupakan metode penaksiran yang konvensional.
Metode ini umum diterapkan pada endapan-endapan yang relatif
homogen dan mempunyai geometri sederhana.
Kadar pada suatu luasan di dalam poligon ditaksir dengan nilai
conto yang berada ditengah-tengah poligon sehingga metode ini
sering disebut metode poligon daerah pengaruh (area of influence).
Daerah pengaruh dibuat dengan membagi dua jarak antara dua titik
sampel dengan satu garis sumbu. Poligon dibangun dari titik-titik
pada garis hubung dengan jarak batas terhadap pusat poligon yang
selalu sama dengan jarak batas pusat poligon disebelahnya. Di
dalam poligon, kadar diasumsikan konstan dan sama dengan kadar
pada lubang bor di dalamnya. Dalam kerangka model blok, dikenal
jenis penaksiran poligon dengan jarak titik terdekat (rule of nearest
point), yaitu nilai hasil penaksiran hanya dipengaruhi oleh nilai
sampel yang terdekat.

5) Menurut U.S. Geological Survey, 1980


Perhitungan sumberdaya batubara dilakukan berdasarkan berat
batubara per unit volume, luas daerah yang melingkupi sumberdaya
yang akan dihitung, dan rata-rata ketebalan seam.
Metode ini dianggap sesuai untuk diterapkan dalam perhitungan
sumberdaya batubara yang berbentuk tabular dengan ketebalan

I - 142

dan kemiringan yang relatif konsisten. Prosedur perhitungan


dalam sistem USGS adalah dengan membuat lingkaran-lingkaran
(setengah

lingkaran)

pada

setiap

titik

informasi

endapan

batubara, yaitu singkapan batubara dan lokasi pemboran.


Untuk batubara dengan kemiringan lapisan kurang dari 30 derajat,
daerah dalam radius lingkaran 0-400 m adalah untuk perhitungan
sumberdaya terukur dan daerah radius 400-1200 m adalah untuk
perhitungan sumberdaya terunjuk. Sedangkan untuk batubara
dengan kemiringan lebih dari 30 derajat, radius lingkaran-lingkaran
dicari harga proyeksinya ke permukaan terlebih dahulu. Tonase
batubara diperkirakan dengan rumus sebagai berikut :
A x B x C = tonase batubara
Keterangan :
A = rata-rata ketebalan seam (m)
B = berat batubara per unit volume yang sesuai (ton/m3)
C = luas daerah dasar batubara (m2)

6) Model Gridded Seam (Model Blok stratigrafi)


Dasar aplikasi teknik-teknik komputer untuk penaksiran tonase dan
kadar adalah membagi-bagi cebakan dan memvisualisasikan
cebakan sebagai kumpulan blok-blok, kemudian blok-blok inilah
yang akan diamati untuk memperkirakan tonase dan kadar. Untuk
pemodelan batubara dan cebakan-cebakan berlapis yang memiliki
penyebaran lateral biasanya digunakan model gridded seam.
Secara lateral endapan batubara dan daerah sekitarnya dibagi
menjadi sel-sel yang teratur, dengan lebar dan panjang tertentu.
Adapun dimensi vertikalnya tidak dikaitkan dengan tinggi jenjang
tertentu, melainkan dengan unit stratigrafi dari cebakan yang
bersangkutan. Permodelan dilakukan dalam bentuk puncak, dasar,
dan ketebalan dari unit stratigrafi. Kadar dari berbagai bahan galian
atau variabel dimodelkan untuk setiap lapisan.
Dalam melakukan perhitungan cadangan, parameter-parameter
yang penting adalah :

a.

Ketebalan dan luas

b.

Kadar dari bijih

I - 143

c.

Berat jenis bijih

12.3. KONSEP PENAMBANGAN


Dalam

merencanakan

suatu

tambang

batubara

perlu

pemahaman mengenai Konsep Penambangan dan Perancangan


Penambangan

yang

benar

untuk

suatu

tambang

terbuka

batubara. Hal ini menjadi penting karena penataan lahan bekas


tambang seharusnya menjadi bagian perencanaan tambang.
12.3.1. Pemilihan Daerah Penambangan
Pemilihan daerah penambangan tentunya harus didasarkan pada
hasil

Kajian

Geologi

Tambang

akan

diperoleh

daerah

penambangan tersebut. Beberapa faktor yang menyebabkan


suatu daerah dapat dikatagorikan potensial adalah :

Penyebaran batubara yang merata.

Jumlah cadangan yang besar.

Lapisan batubara yang tebal.

Kualitas batubara yang baik.

Perhitungan cadangan tertambang pada daerah tambang


tersebut dapat menghasilkan nisbah kupas yang bervariasi.
Besarnya

nisbah

kupas

pada

tambang-tambang

ini

disebabkan antara lain oleh kondisi topografi dan hilangnya


penyebaran lapisan batubara pada daerah tersebut.

Oleh karena itu daerah yang mempunyai nisbah kupas > 12 :


1 dianggap tidak ekonomis untuk ditambang saat ini. Lapisan
penutup di atas lapisan batubara maupun antara lapisan
batubara pada umumnya terdiri dari siltstone, mudstone
kadang-kadang dengan sisipan shally coal dan sandstone.

Kemiringan lapisan batubara berkisar antar 8 35 derajat.

12.3.2. Tahapan Penambangan

I - 144

Dua pendekatan rancangan tambang terbuka :

Mempertimbangkan persoalan tahapan pemindahan material


per blok untuk memenuhi produksi.

Mempertimbangkan pemindahan material yang berhubungan


sangat erat dengan peralatan yang digunakan.

Pada

tambang

terbuka

daerah

penambangan

cukup

luas

sehingga memungkinkan pemakaian alat-alat yang besar. Dalam


pemilihan

metoda

penambangan

perlu

memperhatikan

pertimbangan teknis yang didasarkan atas :

Faktor geografi dan geologi

Lokasi :penentuan pemakaian alat penambangan

Curah hujan, temperatur, iklim dan ketinggian akan


berpengaruh terhadap produktifitas alat.

Faktor geologi yang berpengaruh seperti keadaan permukaan,


jumlah lapisan batubara, kemiringan batubara, dan ketebalan
tanah penutup.

Ukuran dan distribusi lapisan batubara

Ketersediaan peralatan dan kesesuaian dengan peralatan lain

Geoteknik

Umur tambang

Produksi

Sistem Penambangan Batubara

Kegiatan-kegiatan dalam tambang batubara terbuka meliputi :

Persiapan daerah penambangan

Pemboran dan peledakan atau penggaruan

Pengupasan dan pembuangan tanah penutup

Pemuatan dan pembuangan tanah penutup

Reklamasi

Teknik penambangan pada umumnya sangat dipengaruhi


oleh

kondisi

geologi

dan

topografi

ditambang.

I - 145

daerah

yang

akan

Kegiatan penambangan selalu menimbulkan pengaruh terhadap


lingkungan, oleh karena itu dalam melaksanakan kegiatankegiatan

dalam

penambangan

harus

mengetahui/mengerti

akibat-akibat yang mungkin akan ditimbulkan dari kegiatankegiatan tersebut, sehingga dapat diusahakan dampak negatif
yang sekecil mungkin.
Contoh jenis peralatan tambang dan peralatan bantu utama yang
akan digunakan dalam sistem penambangan seperti yang telah
diuraikan di atas adalah seperti yang terlihat pada Tabel 12.1.

Tabel 12.1. Contoh Peralatan Tambang Yang Diperlukan Berdasarkan Aktivitas


(Laporan Akhir Proyek Bina Pertambangan, ITB, 2000)

Aktivitas

Peralatan/Bahan

Pembongkaran, penggaruan,
dan penggusuran

Buldoser dengan single shank


(giant) ripper dan double shank
ripper

Pemboran dan peledakan

- Alat bor : CRD dan Kompresor


- Bahan peledak : ANFO (bahan
peledak utama) dan Power Gel
(primer)
- Alat bantu peledakan : NONEL,
sumbu ledak, sumbu api, plain
detonator.

Penggalian dan pemuatan

Shovel dan backhoe

Pengangkutan

Truk jungkit

12.3.3. Cadangan Tertambang


Seperti

telah

perhitungan

dijelaskan
cadangan

dalam

Kajian

tertambang

Geologi
dilakukan

Tambang,
dengan

perhitungan dilakukan dengan metode penampang atau metode


lainnya.
12.3.4. Strategi Penambangan

I - 146

Perancangan

penambangan

pada

daerah

tambang

pada

umumnya dilakukan berdasarkan batasan nisbah kupas.


12.4. PERANCANGAN PENAMBANGAN
12.4.1. Rencana Produksi
Semua perusahaan tambang merencanakan beroperasi dengan
tingkat produksi batubara per tahun. Produksi tahun ke-1
biasanya lebih kecil dari tahun-tahun berikutnya. Hal ini dilakukan
dengan pertimbangan bahwa pada tahun awal penambangan
selain kegiatan penambangan juga diperlukan berbagai kegiatan
lainnya seperti persiapan permuka kerja, pembuatan jalan ke
outside dump, dan lain sebagainya.
Rencana produksi untuk setiap tahun memperhatikan pengaruh
curah hujan terhadap produksi batubara.
Rencana produksi bertahap seperti yang dijelaskan di atas
selanjutnya menjadi panduan untuk menentukan batas kemajuan
penambangan setiap tahun.
12.4.2. Kriteria Penambangan
Kriteria penambangan pada umumnya dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor berikut :

Faktor struktur geologi

Faktor geoteknik

Faktor hidrologi dan hidrogeologi

Data dan asumsi yang digunakan dalam perhitungan :

Waktu kerja

Sifat fisik material

Efisiensi kerja peralatan

I - 147

12.4.3. Rancangan Penambangan


1) Permuka kerja penambangan
Permuka kerja penambangan adalah medan kerja di mana
kegiatan

penggalian/penambangan

batubara

sedang

berlangsung. Satu permuka kerja membutuhkan satu armada


peralatan tambang yang terdiri dari satu unit alat gali-muat
dengan beberapa unit alat angkut dan dibantu satu unit alat
garu-dorong. Dalam satu pit penambangan mungkin terdapat
satu atau lebih permuka kerja. Jika pit cukup luas dan dengan
alasan kebutuhan produksi maka beberapa permuka kerja dapat
beroperasi secara bersamaan. Banyaknya permuka kerja yang
harus beroperasi dalam penambangan ditentukan oleh jumlah
armada peralatan penambangan batubara yang dibutuhkan
berdasarkan target produksi.
2) Batas penambangan
Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan batas tambang
terbuka adalah batas Kuasa Pertambangan (KP) Eksploitasi,
penyebaran lapisan batubara, dimensi lereng aman, rencana
produksi, nisbah kupas, aliran sungai, dan jalan negara yang
melewati tambang tersebut
Penentuan batas lereng akhir tambang juga mengacu pada
nisbah

kupas

dan

dimensi

maksimum

lereng

yang

aman

berdasarkan rekomendasi Kajian Geoteknik. Rencana produksi


akan menentukan batas pit yang akan ditambang setiap tahun
dengan nisbah kupas tertentu.
Batas penambangan tiap semester/tahun baik ke arah lateral
(luas bukaan tambang) maupun vertikal (posisi lantai tambang)
diwujudkan dalam peta kemajuan tambang tiap tahun.

I - 148

3)

Arah dan urutan penambangan

Arah kemajuan penambangan adalah dari daerah singkapan ke


arah tegak lurus jurus lapisan batubara sampai lereng akhir
penambangan,

kemudian

bergerak

maju

ke

daerah

penambangan tahun berikutnya mengikuti penyebaran lapisan


batubara.
Pemilihan urut-urutan penambangan terutama didasarkan pada
pertimbangan teknis operasional serta cadangan yang ada
4) Kegiatan Penambangan
Penambangan

batubara

biasanya

dilakukan

dengan

siklus

konvensional yaitu menggunakan kombinasi peralatan shovel/


backhoe dan truk jungkit serta buldoser. Metode ini mempunyai
fleksibilitas dan selektivitas dalam penggalian, serta ketersedian
alat baik jenis maupun ukuran di pasaran.
Operasi

penambangan

setiap

tahunnya

terdiri

kegiatan

pembersihan lahan yang dilaksanakan terlebih dahulu, kemudian


diikuti

dengan

penggalian/

pemberaian,

pemuatan

dan

pengangkutan yang dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan.


Artinya,

sementara

kegiatan

pembersihan

lahan

terus

berlangsung dan setelah luas lahan yang dibersihkan cukup dan


aman

untuk

tempat

kerja

alat

gali,

maka

kegiatan

penggalian/pemberaian dapat segera dimulai. Kegiatan ini diikuti


dengan kegiatan pemuatan dan pengangkutan, baik untuk
batubara maupun lapisan penutup.
5) Pembersihan lahan
Untuk menyediakan tempat kerja bagi alat gali-muat dan alat
angkut perlu dilakukan pembersihan lahan. Pembersihan lahan ini

I - 149

dilakukan terhadap vegetasi/pohon-pohon yang terdapat di


sekitar daerah operasi penambangan dengan menggunakan
buldoser.
6) Penanganan tanah pucuk
Pertimbangan penanaman kembali daerah bekas tambang untuk
mengurangi kerusakan lingkungan (reklamasi) memerlukan suatu
strategi untuk penanganan tanah pucuk. Tanah pucuk ini
nantinya akan disebar pada bagian teratas dari tumpukan lapisan
penutup, baik di lokasi outside dump maupun di lokasi backfilling.
Tanah pucuk akan dikupas dan dimuat ke dalam truk jungkit
dengan menggunakan alat muat kemudian diangkut ke lokasi
penimbunan dan langsung disebar di atas timbunan lapisan
penutup, kecuali pada awal penambangan karena belum ada
timbunan lapisan penutup maka tanah pucuk akan ditumpuk di
dekat lokasi outside dump sebelum disebar di atas timbunan
lapisan penutup.
7)

Penggalian/pemberaian, pemuatan dan pengangkutan


lapisan penutup

Seperti telah diuraikan sebelumnya, teknik penggalian yang


direkomendasikan adalah :

Penggalian bebas untuk tanah pucuk

Penggaruan untuk batubara, mudstone, sebagian sandstone


dan siltstone

Peledakan untuk sebagian batuan keras, bila ada.

Oleh sebab itu penanganan lapisan penutup (overburden dan


interburden) akan dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Penggalian/pemberaian

Pemuatan

I - 150

Pemuatan lapisan penutup ke dalam alat angkut baik dari


hasil

penggaruan

maupun

hasil

peledakan

adalah

menggunakan alat muat.

Pengangkutan
Pengangkutan lapisan penutup ke lokasi penimbunan adalah
menggunakan truk jungkit.

8) Penggalian/pemberaian, pemuatan dan pengangkutan


batubara
Pada umumnya penanganan lapisan batubara akan dilakukan
dengan cara sebagai berikut :

Penggaruan

Penggaruan batubara dengan menggunakan buldoser yang


dapat dilengkapi dengan single/double shank ripper.

Pemuatan

Pemuatan batubara ke dalam alat angkut menggunakan alat


muat.

Pengangkutan

Pengangkutan

lapisan

batubara

ke

ROM

stockpile

menggunakan truk jungkit (rigid truck).


9) Jalan tambang
Yang dimaksud dengan jalan

tambang adalah jalan yang

menghubungkan permuka kerja dengan lokasi ROM stockpile dan


lokasi penimbunan lapisan penutup. Jalan tambang disiapkan
untuk untuk dua jalur pengangkutan truk jungkit.
10) Perencanaan penimbunan lapisan penutup
Dalam perencanaan penimbunan lapisan penutup, penimbunan
di

lokasi

outside

dump

hanya

akan

dilaksanakan

sampai

tersedianya daerah bekas penambangan yang cukup luas untuk


dapat melaksanakan backfilling.

I - 151

Cara seperti ini selain mengurangi biaya produksi (karena jarak


angkut lapisan penutup berkurang) juga mengurangi kerusakan
lingkungan

akibat

bekas

penambangan.

Dengan

backfilling

lubang-lubang bekas tambang diisi kembali sehingga persiapan


pelaksanaan reklamasi dapat segera berjalan.
Untuk keperluan penimbunan di luar pit ini telah dipilih lokasi
timbunan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi
penimbunan tanah adalah sebagai berikut :

jarak yang tidak terlalu jauh dari permuka kerja tambang

tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih

tidak mengganggu daerah yang akan ditambang

topografi permukaan berupa lembah.

Untuk menjaga agar lereng timbunan tetap aman, perancangan


penimbunan tanah di luar pit maupun backfilling selalu mengikuti
dimensi timbunan yang telah direkomendasikan oleh Kajian
Geoteknik.

11) Kebutuhan Peralatan


Kebutuhan alat-alat tambang dihitung dengan cara membagi
target produksi per jam dengan produktivitas alat per jam. Target
produksi per jam didapatkan dengan cara membagi target
produksi per tahun dengan jam kerja efektif alat per tahun.
Peralatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi peralatan
tambang utama dan peralatan penunjang.
12.5. APLIKASI MINESCAPE 4

I - 152

Minescape 4 merupakan salah satu perangkat lunak terpadu


yang dirancang khusus untuk industri pertambangan. Minescape
yang berintikan sistem grafik CAD 3D dengan produk-produk
aplikasinya

memungkinkan

penggunanya

secara

interaktif

membuat dan mengolah model-model geologi tiga dimensi serta


desain tambang dalam Platform Silicon Graphics dan Sun UNIX.
Aplikasi

Minescape

merupakan

inti

dari

sistem

Minescape

meliputi sistem dasar dari program, bahasa pemrograman,


struktur data, library, alat-alat dan modul-modul yang merupakan
bagian perangkat lunak Minescape.
Komponen-komponen Minescape meliputi :

GTI (Graphic Task Interface)


GTI

merupakan

sistem

minescape

yang

menyediakan

manajemen interface yang akan gambar-gambar dan secara


visual berbeda dari lingkungan Minescape. GTI terdiri dari
base

window

dan

berisi

sejumlah

Page

yang

dapat

dikonfigurasikan untuk kebutuhan pemakai dan ditampilkan


sebagai tab-tab dalam tabdeck.

Page
Page (halaman layar) merupakan gabungan jendela yang
menjalankan fungsi-fungsi khusus dan ditampilkan di dalam
GTI Window. Secara umum Page ada dua macam, yaitu
monitor page yang menyediakan layanan pemantauan dan
kontrol

terhadap

modul-modul

yang

dijalankan

dan

minescape page yang menyediakan fungsi-fungsi Minescape.

CAD Window
CAD Window menampilkan grafis 3D CAD dari Minescape
(Computer Aided Design).

Form
Format merupakan window tersendiri yang menampilkan
parameter dan data yang relevan untuk mengoperasikan

I - 153

Minescape secara khusus serta memungkinkan anda untuk


melihat,

memanipulasi

parameter

secara

interaktif

dan

menyerahkan modul-modul tersebut untuk dijalankan.


Produk adalah perangkat lunak khusus yang dipadukan dengan
aplikasi

Minescape.

Produk-produk

tambahan

memberikan

kehandalan dalam aplikasi dan fungsi-fungsi tambahan yang


khusus

pada

operasi-operasi

tertentu

(misalnya

Quality,

Stratigraphic Modelling dan Underground Design). Produk-produk


yang tersedia dalam keluaran ini meliputi :

Blasthole Database

Stratigraphic Modelling

Block Modelling

Quality

Open Cut Mine Design

Underground Coal Mine Design

Mine Surveying

Reserves

Haul Road Design

Drill & Blast Design

Dragline Modelling

Scheduling

Truck Route

I - 154