Anda di halaman 1dari 135

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN KOHESIVITAS KELOMPOK


TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA
KELAS VIII PROGRAM AKSELERASI DI SMP
NEGERI 2 SURAKARTA

SKRIPSI

Dalam Rangka Penyusunan Skripsi sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Psikologi Program Pendidikan Strata 1 Psikologi

Oleh:
DHIAN RISKIANA PUTRI
G 0106042

Pembimbing:
1. Drs. Thulus Hidayat, S.U., M.A.
2. Aditya Nanda Priyatama, S.Psi., M.Si.

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit
to user
2010

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan Judul

: Hubungan antara Body Image dan Kohesivitas


Kelompok Teman Sebaya dengan Penyesuaian
Sosial pada Siswa Kelas VIII Program Akselerasi di
SMP Negeri 2 Surakarta

Nama Peneliti

: Dhian Riskiana Putri

NIM

: G 0106042

Tahun

: 2010

Telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Pembimbing dan Penguji Skripsi


Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret pada:
Hari

: Jumat

Tanggal

: 5 November 2010

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Thulus Hidayat, S.U., M.A.

Aditya Nanda Priyatama, S.Psi., M.Si.

NIP. 130250480

NIP. 19781022 200501 1 002

Koordinator Skripsi

Rin Widya Agustin, M.Psi.


commit to user
NIP. 19760817 200501 2 002

ii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi dengan Judul:


Hubungan antara Body Image dan Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya
dengan Penyesuaian Sosial pada Siswa Kelas VIII Program
Akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta

Dhian Riskiana Putri, G 0106042, Tahun 2010

Telah diuji dan disahkan oleh Pembimbing dan Penguji Skripsi Prodi Psikologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret pada:
Hari

: Selasa

Tanggal

: 9 November 2010

1. Pembimbing I
Drs. Thulus Hidayat, S.U., M.A.

2. Pembimbing II
Aditya Nanda Priyatama, S.Psi., M.Si.
3. Penguji I
Dra. Suci Murti Karini, M.Si.
4. Penguji II
Drs. Hardjono, M.Si.

Surakarta, ...............................
Ketua Program Studi Psikologi

Koordinator Skripsi

Drs. Hardjono, M.Si


NIP. 19760817 200501 2 002

Rin Widya Agustin, M.Psi.


commit to user

iii

NIP. 19590119 198903 1 002

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi


ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain,
kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar
pustaka. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan isi pernyataan ini, maka
saya bersedia derajat kesarjanaan saya dicabut.

Surakarta,

November 2010

Dhian Riskiana Putri

commit to user

iv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

MOTTO

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan


(Q.S. Asy-Syarh: 6)

Manusia hanyalah berusaha, manusia hanyalah berencana,


Allah lah yang menentukan, Allah lah yang memastikan segalanya
(Al-Maidany)

Apabila seorang pelajar ingin meraih kesempurnaan ilmu, hendaklah ia


menjauhi kemaksiatan dan senantiasa menundukkan pandangannya
dari hal-hal yang haram untuk dipandang. Karena yang demikian itu akan
membukakan pintu ilmu, sehingga cahaya Allah akan menyinari hatinya. Jika
hati telah bercahaya, maka akan jelas baginya kebenaran. Sebaliknya,
barangsiapa mengumbar pandangannya, maka akan keruhlah hatinya, dan
selanjutnya akan gelap dan tertutuplah baginya pintu ilmu
(Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah)

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini kepada:


Orang-orang yang sangat aku cintai,
dengan doa, cinta, bimbingan, dan kesabarannya
dalam menuntunku mencapai cita-cita dan harapanku

Terimakasih kuucapkan atas terselesaikannya karya ini kepada:


1. Ibu dan Bapak tercinta atas doa, kasih sayang, dan
pengorbanan yang tak akan pernah terhenti
2. Adikku tersayang, Dhimas Taufika Putra yang selalu
memberikan doa, perhatian, dan bantuannya
3. Seluruh keluarga besarku dan semua pihak yang telah
membantu terselesaikannya karya ini
4. Guru-guruku terhormat dan almamaterku tercinta

commit to user

vi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb.


Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT atas segala limpahan kasih sayang dan hidayah yang telah
Allah SWT berikan kepada penulis, sehingga penyusunan skripsi ini dapat
diselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa penulis haturkan kepada junjungan
kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, pengikut-pengikut beliau
yang setia, serta seluruh umat beliau yang istiqomah sampai akhir jaman, dan
semoga termasuk kita sekalian. Amin.
Terselesaikannya skripsi ini telah melibatkan beberapa pihak, oleh karena
itu, dengan penuh rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. AA. Subiyanto, dr. M.S., selaku Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta atas fasilitas dan kebijakan beliau.
2. Bapak Drs. Hardjono, M.Si., selaku Ketua Program Studi Psikologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta serta selaku penguji II atas
ijin dan juga semua bimbingan yang telah diberikan kepada penulis.
3. Bapak Drs. Thulus Hidayat, S.U., M.A., selaku pembimbing akademik serta
selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan kepada penulis.
4. Bapak Aditya Nanda Priyatama, S.Psi., M.Si., selaku pembimbing II atas
kesabaran beliau dalam memberikan bimbingan dan arahan bagi penulis/
5. Ibu Dra. Suci Murti Karini, M.Si., selaku penguji I yang telah bersedia
to user
memberikan kritik, saran, sertacommit
masukan
yang membangun

vii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

6. Bapak Drs. Rachmat Sutasman, M.Pd., selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 2
Surakarta dan Bapak Agus Budiarto, S.Pd., selaku Ketua Program Akselerasi
SMP Negeri 2 Surakarta atas segala informasi dan bantuannya.
7. Adik-adik siswa kelas VIII Program Akselerasi SMP Negeri 2 Surakarta yang
telah bersedia menjadi subjek penelitian.
8. Kedua orang tuaku tercinta Ibu Winarsih, B.A. dan Bapak Drs. Eko Sarimo,
atas semua kasih sayang, pengorbanan, nasihat, kesabaran, serta doa yang
terus dipanjatkan bagi penulis. Syukron Jazakumullahu Khoiron Katsiron.
9. Adikku tersayang, Dhimas Taufika Putra atas kasih sayang, perhatian, dan
bantuan yang telah diberikan. Semoga lancar dalam menjalankan perkuliahan.
10. Seluruh keluarga besar atas semangat, kasih sayang, doa, dan dukungannya.
11. Sahabat-sahabat terbaikku, Nopik, Ayuk, Aris, Retno, Cece, Krisna, Rofa,
yang selalu memberikan motivasi bagi penulis. Jazakillah Khoir.
12. Seluruh teman-teman mahasiswa Program Studi Psikologi FK UNS,
khususnya angkatan 2006 untuk semangat dan kebersamaannya.
13. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat penulis sebutkan.
Mudah-mudahan segala bantuan dan doa yang telah diberikan,
mendapatkan balasan dari Allah SWT dengan pahala yang berlimpah. Akhir kata,
semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua yang membaca. Amin.
Wassalamualaikum wr.wb.
Surakarta,

November 2010
Penulis,

commit to user

viii

Dhian Riskiana Putri

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN KOHESIVITAS KELOMPOK


TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA
KELAS VIII PROGRAM AKSELERASI DI
SMP NEGERI 2 SURAKARTA
Dhian Riskiana Putri
G 0106042
ABSTRAK
Program akselerasi adalah program khusus dalam dunia pendidikan yang
bertujuan memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai bagi anak berbakat
intelektual untuk dapat menyelesaikan pendidikan lebih awal dibandingkan
dengan siswa program reguler. Program akselerasi untuk siswa-siswi
berkemampuan tinggi merupakan salah satu topik penelitian terkemuka dalam
dunia pendidikan. Siswa program akselerasi biasanya memiliki permasalahan
penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial berperan penting bagi perkembangan
remaja agar dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Penyesuaian
sosial seorang remaja dipengaruhi oleh faktor internal, seperti konsep diri,
gambaran diri, body image, kepribadian, dan lain sebagainya, serta dipengaruhi
oleh faktor eksternal, seperti lingkungan keluarga dan masyarakat sosial,
pendidikan, kemampuan sosial, serta persahabatan atau kohesivitas kelompok
teman sebaya, dan lain-lain.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image
dan kohesivitas kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada siswa
kelas VIII program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta. Subjek penelitian ini
adalah siswa kelas VIII program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakata. Penelitian
ini menggunakan seluruh populasi sebagai subjek penelitian yang disebut sebagai
penelitian populasi, sehingga tidak menggunakan teknik pengambilan sampel.
Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan tiga skala, yaitu skala penyesuaian
sosial, skala body image, dan skala kohesivitas kelompok teman sebaya. Analisis
yang digunakan adalah analisis regresi dua prediktor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai F-test = 72,023, p 0,05, dan
nilai R = 0,878. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis
dalam penelitian ini dapat diterima, yaitu ada hubungan yang sgnifikan antara
body image dan kohesivitas kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial
pada siswa kelas VIII program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta. Nilai R2
dalam penelitian ini sebesar 0,770 atau 77%, sumbangan efektif body image
terhadap penyesuaian sosial sebesar 5,2668% dan sumbangan efektif kohesivitas
kelompok teman sebaya terhadap penyesuaian sosial sebesar 71,7332%.
Sumbangan relatif body image terhadap penyesuaian sosial sebesar 6,84% dan
sumbangan relatif kohesivitas kelompok teman sebaya terhadap penyesuaian
sosial sebesar 93,16%.
Kata kunci: penyesuaian sosial, body image, kohesivitas kelompok teman
commit to user
sebaya

ix

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

THE RELATIONSHIP BETWEEN BODY IMAGE AND PEER GROUP


COHESIVENESS WITH SOCIAL ADJUSTMENT ON THE EIGHT
GRADE STUDENTS OF ACCELERATION PROGRAM IN
SMP NEGERI 2 SURAKARTA
Dhian Riskiana Putri
G 0106042
ABSTRACT
Acceleration program is specially program in education world.
Acceleration programs aim is to give suitable service education for gifted
children to finished their education faster than students of regular program.
Acceleration program for gifted student is one of popular research topic in
education world. Students of acceleration program usually had social adjustment
problem. Social adjustment was instrumental for the development of adolescent so
that can establish good relationship with other. Social adjustment an adolescent
influenced by internal factor, such as self-concept, self-image, body-image,
personality, etc., and also influenced by external factor, such as social and family
environment, education, social ability, friendship or peer group cohesiveness, etc.
This researchs aim is to know the relation between body image and peer
group cohesiveness with sosial adjustment on the eight grade students of
acceleration program in SMP Negeri 2 Surakarta. This research subject is the eight
grade students of acceleration program in SMP Negeri 2 Surakarta. This research
used all population as research subject called population research, so this research
is not used sampling. The instruments of this research are social adjustment scale,
body image scale, and peer group cohesiveness scale. The analysis method of this
research is used two-predictor regression.
The result showed that the value of F-test = 72,023, p
0,05, and the
value of R = 0,878. The result could be concluded that the hypothesis of this
research was received, and there was a significant relationship between body
image and peer group cohesiveness with social adjustment on the eight grade
students of acceleration program in SMP Negeri 2 Surakarta. The value of R2 in
this research is 0,770 or 77%, the effective contribution of body image is 5,2668%
and the effective contribution of peer group cohesiveness is 71,7332%. The
relative contribution of body image is 6,84% and the relative contribution of peer
group cohesiveness is 93,16%.
Keywords: social adjustment, body image, peer group cohesiveness

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..

HALAMAN PERSETUJUAN .. ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN .. iv
MOTTO .. v
PERSEMBAHAN .. vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK .. ix
ABSTRACT ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL .. xv
DAFTAR LAMPIRAN xvii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah .. 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian . 11
BAB II. LANDASAN TEORI
A. Penyesuaian Sosial
1. Pengertian penyesuaian sosial .. 13
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial ... 14
commit to user

xi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

3. Aspek-aspek penyesuaian sosial .. 17


4. Bentuk-bentuk penyesuaian sosial ... 19
B. Body Image
1. Pengertian body image . 22
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi body image ... 23
3. Aspek-aspek body image .. 25
4. Body image pada remaja .. 26
C. Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya
1. Pengertian kohesivitas .. 27
2. Pengertian kelompok teman sebaya ..... 29
3. Pengertian kohesivitas kelompok teman sebaya ...... 31
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kohesivitas
kelompok teman sebaya ... 33
5. Aspek-aspek kohesivitas kelompok teman sebaya ...... 35
6. Pengelompokan kelompok teman sebaya ........ 36
7. Kelompok teman sebaya pada remaja ...... 38
D. Siswa Program Akselerasi
1. Pengertian program akselerasi ..... 40
2. Tujuan program akselerasi ... 41
3. Keunggulan dan kelemahan program akselerasi .. 42
E. Hubungan antara Body Image dan Kohesivitas Kelompok
Teman Sebaya dengan Penyesuaian Sosial pada Siswa
Program Akselerasi 44
commit to user

xii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

F. Kerangka Pikir ... 49


G. Hipotesis . 50
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel Penelitian .. 51
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 51
C. Populasi dan Sampel .. 53
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber data ...... 54
2. Metode pengumpulan data ... 55
E. Metode Analisis Data
1. Validitas instrumen penelitian .. 62
2. Reliabilitas instrumen penelitian .. 64
3. Uji hipotesis . 65
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Persiapan Penelitian
1. Orientasi kancah penelitian .. 67
2. Persiapan penelitian .. 73
3. Pelaksanaan uji coba . 79
4. Uji validitas dan reliabilitas .. 80
B. Pelaksanaan Penelitian
1. Penentuan subjek penelitian . 86
2. Pengumpulan data 87
3. Pelaksanaan skoring . 88
commit to user

xiii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

4. Penyusunan nomor aitem baru untuk penghitungan


analisis data . 89
C. Hasil Analisis Data dan Interpretasi
1. Uji asumsi dasar ... 91
2. Uji asumsi klasik .. 94
3. Uji hipotesis .. 99
4. Sumbangan relatif dan sumbangan efektif . 102
5. Uji korelasi ..... 103
6. Analisis deskriptif ... 105
D. Pembahasan .. 109
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 114
B. Saran . 115
DAFTAR PUSTAKA ... 119
LAMPIRAN .. 127

commit to user

xiv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Penilaian Pernyataan Favourable dan Unfavourable .. 57


Tabel 2. Blue Print Skala Body Image ... 58
Tabel 3. Blue Print Skala Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya 60
Tabel 4. Blue Print Skala Penyesuaian Sosial ... 61
Tabel 5. Penentuan Kriteria Indeks Reliabilitas 65
Tabel 6. Distribusi Aitem Skala Body Image 75
Tabel 7. Distribusi Aitem Skala Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya .... 77
Tabel 8. Distribusi Aitem Skala Penyesuaian Sosial .... 78
Tabel 9. Distribusi Aitem Valid dan Gugur Skala Body Image ... 82
Tabel 10. Distribusi Aitem Valid dan Gugur Skala Kohesivitas
Kelompok Teman Sebaya 83
Tabel 11. Distribusi Aitem Valid dan Gugur Skala Penyesusian Sosial 85
Tabel 12. Jumlah Siswa Kelas VIII Program Akselerasi SMP Negeri 2
Surakarta Tahun Pelajaran 2009/2010 . 86
Tabel 13. Tingkat Body Image Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin 87
Tabel 14. Distribusi Nomor Aitem Baru Skala Body Image 89
Tabel 15. Distribusi Nomor Aitem Baru Skala Kohesivitas Kelompok
Teman Sebaya .. 90
Tabel 16. Distribusi Nomor Aitem Baru Skala Penyesuaian Sosial .... 90
Tabel 17. Hasil Uji Normalitas .... 91
Tabel 18. Hasil Uji Linearitas antara Penyesuaian Sosial dengan Body Image ... 93
commit to user

xv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Tabel 19. Hasil Uji Linearitas antara Penyesuaian Sosial dengan Kohesivitas
Kelompok Teman Sebaya 93
Tabel 20. Hasil Uji Multikolinieritas ... 95
Tabel 21. Hasil Uji Heteroskedastisitas antara Penyesuaian Sosial dengan
Body Image .. 96
Tabel 22. Hasil Uji Heteroskedastisitas antara Penyesuaian Sosial dengan
Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya 97
Tabel 23. Hasil Uji Otokorelasi . 98
Tabel 24. Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi Ganda (R) . 100
Tabel 25. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda (Anova) .. 101
Tabel 26. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda (Model Summary) . 101
Tabel 27. Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi (r) . 103
Tabel 28. Korelasi Tiap-Tiap Variabel Bebas dengan Variabel Tergantung 104
Tabel 29. Deskripsi Data Empirik .. 105
Tabel 30. Deskripsi Data Penelitian ... 106
Tabel 31. Kriteria Kategori Skala Penyesuaian Sosial dan Distribusi
Skor Subjek .... 107
Tabel 32. Kriteria Kategori Skala Body Image dan Distribusi Skor Subjek .. 108
Tabel 33. Kriteria Kategori Skala Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya dan
Distribusi Skor Subjek .. 109

commit to user

xvi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Skala untuk Try Out dan Penelitian . 127


Lampiran B. Data Try Out . 140
Lampiran C. Uji Validitas dan Reliabilitas 159
Lampiran D. Data Penelitian .. 176
Lampiran E. Data Hasil Penelitian . 194
Lampiran F. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif . 197
Lampiran G. Data Kategorisasi .. 202
Lampiran H. Surat Ijin Penelitian dan Surat Tanda Bukti Penelitian 206
Lampiran I. Dokumentasi ... 209

commit to user

xvii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia, bahkan dapat
dikatakan sebagai suatu kebutuhan. Pelayanan pendidikan di Indonesia bagi
siswa-siswi berinteligensi tinggi semakin meningkat ditandai dengan munculnya
fenomena penyelenggaraan program percepatan belajar (kelas akselerasi) pada
tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.
Program akselerasi untuk siswa-siswi berkemampuan tinggi merupakan
salah satu topik penelitian terkemuka dalam dunia pendidikan (Neihart, 2007).
Menurut Hawadi (2004) akselerasi adalah kemajuan yang diperoleh dalam
program pengajaran pada waktu yang lebih cepat dan dalam usia yang lebih muda
daripada usia konvensional atau reguler. Tujuan dari program akselerasi adalah
memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai bagi anak berbakat intelektual
untuk dapat menyelesaikan pendidikan lebih awal.
Kelas akselerasi pada awalnya dianggap sebagai solusi terbaik untuk
memenuhi kebutuhan belajar bagi siswa dengan IQ tinggi, hal ini sesuai dengan
pendapat Terman (dalam Hawadi, 2004) yang menyatakan bahwa siswa dengan
IQ di atas normal memiliki keunggulan dalam hal kesehatan, penyesuiaan
sosial, dan sikap moral. Pendapat ini memunculkan mitos bahwa siswa dengan IQ
tinggi adalah anak

yang

berbahagia dan mudah menyesuaikan diri dengan

lingkungan sosial, namun sebagian kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa


commit to user
1

perpustakaan.uns.ac.id

2
digilib.uns.ac.id

kelas akselerasi tidak sebaik yang diharapkan serta ditengarai membawa dampak
negatif pada kehidupan sosial siswa. Siswa menjadi berkurang kesempatannya
untuk bergaul dan berinteraksi dengan teman sebaya.
Kurikulum program akselerasi menuntut siswa untuk dapat bekerja
keras, mandiri, disiplin, dan bertanggungjawab, karena beban siswa akselerasi
tidak sama bahkan jauh lebih berat dibandingkan dengan siswa pada program
reguler. Permasalahan ini sering kali membuat siswa akselerasi lebih banyak
menghabiskan waktu untuk belajar, sehingga waktu untuk bermain bersama teman
sebaya menjadi berkurang (Maimunah, 2009).
Para peneliti di bidang pendidikan memperkirakan bahwa sekitar 20-25%
dari anak-anak berbakat mengalami masalah-masalah sosial dan emosional.
Widodo (2006) mengungkapkan sebesar 15% siswa yang mengikuti program
akselerasi menjadi introvert, tidak mampu mengungkapkan gagasan dan pendapat,
serta mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial. Fakta tersebut
diperkuat oleh hasil penelitian berjudul Manajemen Sekolah Unggulan Program
Akselerasi di SD H. Isriati Baiturrahman Semarang yang dilakukan Endah
(dalam Maghviroh, 2009) bahwa anak berbakat siswa akselerasi memiliki
kesulitan penyesuaian sosial.
Masalah penyesuaian sosial anak berbakat juga disebabkan karena adanya
karakteristik anak berbakat yaitu kurang dapat bergaul, seperti dikemukakan
Munandar (dalam Rahmawati dan Hartati, 2007) bahwa anak berbakat
mempunyai ciri-ciri sosial diantaranya sukar bergaul dengan teman sebaya dan
sukar menyesuaikan diri dalam berbagai bidang. Hasil penelitian Iswinarti (2002)
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

3
digilib.uns.ac.id

menyebutkan bahwa sebagian anak dengan IQ tinggi akan mengalami kesulitan


dalam penyesuaian sosial, karena anak dengan IQ tinggi mempunyai pemahaman
yang lebih cepat dan cara berpikir yang lebih maju, sehingga sering tidak sepadan
dengan teman sebaya. Terdapat kcenderungan, anak berbakat hanya akan
berteman akrab dengan teman yang memiliki kepandaian setingkat. Bergaul
dengan teman yang mempunyai kepandaian setingkat, menyebabkan anak
berbakat merasa mendapatkan teman sepadan untuk berdiskusi sebagai sarana
memenuhi hasrat keingintahuan siswa akselerasi yang cukup besar.
Penelitian penyesuaian sosial siswa akselerasi dilakukan pada siswa kelas
VIII program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta karena beberapa alasan,
diantaranya ialah saat ini di Kota Surakarta hanya terdapat dua SMP yang
menyelenggarakan program akselerasi, yaitu SMP Negeri 2 Surakarta dan SMP
Negeri 9 Surakarta. Beberapa tahun yang lalu, SMP Negeri 1 Surakarta dan SMP
Negeri 4 Surakarta juga menyelenggarakan program akselerasi, namun saat ini
kedua SMP tersebut sudah beralih menyelenggarakan program pendidikan khusus
lainnya, yaitu program Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI).
Berdasarkan hasil survey, interview, dan observasi yang telah dilakukan peneliti,
dapat diketahui bahwa SMP Negeri 2 Surakarta belum pernah dipakai sebagai
tempat penelitian oleh peneliti lain dalam bidang akselerasi, sedangkan SMP
Negeri 9 Surakarta sudah pernah dijadikan tempat penelitian oleh peneliti
sebelumnya dalam bidang akselerasi. Berdasarkan beberapa alasan tersebut,
peneliti memutuskan SMP Negeri 2 Surakarta sebagai lokasi penelitian mengenai
penyesuaian sosial siswa akselerasi.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

4
digilib.uns.ac.id

Program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta dimulai pada tahun 2005


hingga saat ini masih berjalan. Sejak tahun 2005, program akselerasi di SMP
Negeri 2 Surakarta selalu menduduki peringkat pertama dalam pencapaian nilai
UAN tertinggi se-ekskaresidenan Surakarta. Berdasarkan hasil wawancara yang
dilakukan peneliti dengan salah satu guru pengampu kelas akselerasi yang juga
merupakan ketua program akselerasi SMP Negeri 2 Surakarta, dapat diketahui
bahwa siswa akselerasi lebih memiliki kemampuan berpikir dewasa serta
mempunyai tanggung jawab lebih besar jika dibandingkan dengan siswa reguler,
karena adanya tuntutan tugas yang berat bagi siwa akselerasi. Permasalahan yang
tampak pada siswa akselerasi biasanya kurang bisa bergaul dengan teman dan
terlihat kaku dalam pergaulan, sehingga memunculkan masalah dalam
penyesuaian sosial. Hal ini terjadi karena adanya tekanan akademik yang
menyebabkan siswa akselerasi sangat terpaku pada tugas-tugas yang diberikan.
Usia siswa-siswa SMP dapat dikategorikan ke dalam masa remaja awal,
yaitu berkisar antara umur 12-15 tahun (Monks dkk., 2004). Masa remaja secara
global berlangsung antara umur 12 sampai dengan umur 21 tahun, dengan
pembagian 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 15-18 tahun adalah masa
remaja pertengahan, dan 18-21 tahun adalah masa remaja akhir. Ali dan Asrori
(2004) mengungkapkan batasan usia pada masa remaja berlangsung sekitar umur
13 tahun sampai umur 18 tahun, yaitu masa ketika individu duduk di bangku
sekolah menengah. Masa ini biasanya dirasakan sebagai masa sulit, baik bagi
remaja itu sendiri, maupun bagi keluarga, ataupun juga bagi lingkungannya. Allan
dkk. (2005) menyatakan bahwa periode perkembangan remaja awal memberikan
commit to user

5
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

banyak pengalaman menarik bagi individu mengenai berbagai macam perubahan


yang dialami, diantaranya ialah perubahan biologis atau sering disebut dengan
pubertas, perubahan dalam hubungan sosial dengan keluarga dan teman sebaya
(peers), dan perubahan dalam bidang pendidikan yang biasanya terjadi pada saat
individu berada pada sekolah menengah.
Baker dkk. (1998) menjelaskan bahwa permasalahan yang banyak dialami
oleh siswa berbakat sering terjadi pada sekolah dasar tingkat akhir atau pada masa
sekolah menengah. Dilihat dari perspektif perkembangan sosial, anak pada usia
tersebut sangat mungkin melakukan perbandingan dengan orang lain dan
melakukan penilaian terhadap diri sendiri melalui proses perbandingan sosial.
Penolakan dan penerimaan teman sebaya menjadi hal yang penting pada usia
tersebut. Beberapa siswa berbakat memberikan perhatian yang lebih pada usaha
untuk dapat menyesuaikan diri dengan standar atau norma suatu kelompok agar
dapat diterima dalam kelompok tersebut. Dilihat dari perspektif ketrampilan
akademik, saat siswa duduk di sekolah dasar tingkat akhir atau sekolah menengah,
pihak sekolah telah memberikan beberapa tuntutan khusus yang harus mampu
dilakukan oleh siswa, seperti manajemen waktu, kemampuan dan ketrampilan
belajar efektif, ketrampilan memecahkan masalah, dan sebagainya, sehingga
remaja awal yang memiliki bakat dan kecerdasan istimewa sering mengalami
permasalahan klinis (berhubungan dengan kesehatan mental) dan permasalahan
sosial (berhubungan dengan individu lain dan lingkungan sosial).

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

6
digilib.uns.ac.id

Remaja awal adalah waktu ketika seorang individu mengalami banyak


perubahan. Biasanya pada tahap remaja awal, individu mulai meninggalkan masa
kecil dan mulai merasa nyaman pada kehidupan di sekolah menengah bersama
beberapa siswa dan guru. Remaja awal juga merupakan waktu ketika anak
berkembang secara mental, menentukan identitas diri, dan mengambil peran
dalam kehidupan sosial (Holcomb dan McCoy, 2005). Pengaruh teman sebaya
menurut pendapat Papalia dkk. (2009) paling kuat di saat masa remaja awal,
biasanya memuncak di usia 12-13 tahun serta menurun pada masa remaja
pertengahan dan masa remaja akhir.
Memasuki masa remaja, anak mulai melepaskan diri dari ikatan emosi
dengan orang tua dan menjalin hubungan yang akrab dengan teman-teman sebaya.
Havighurst (1972) menjelaskan beberapa tugas perkembangan remaja yang
berhubungan dengan perkembangan sosial emosional, yaitu menjalin hubungan
dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, mencapai suatu peran sosial,
melakukan perilaku sosial yang diharapkan, dan mencapai suatu kemandirian
sosial dari orang tua ataupun orang dewasa lainnya. Salah satu tugas
perkembangan pada masa remaja yang paling sulit ialah berhubungan dengan
penyesuaian sosial.
Peningkatan keintiman, keakraban, dan komitmen terhadap kelompok
teman sebaya tampak pada tahap remaja awal sampai dengan tahap remaja tengah
(Joronen, 2005). Selama masa remaja, individu berusaha meningkatkan kualitas
hubungan dengan lingkungan sosial. Remaja menjadi lebih kohesif, menjadi
anggota suatu kelompok, dan bergabung dalam suatu kelompok tertentu. Kualitas
commit to user

7
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

keakraban pertemanan memberikan pengaruh terhadap perilaku sosial remaja.


Huurre (2000) berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi
pada masa remaja menyebabkan remaja merasa perlu memiliki hubungan yang
baik dengan orang tua, saudara, sahabat, teman, dan personil sekolah. Teman
sebaya memainkan peran yang penting bagi remaja untuk mencapai kemandirian,
meningkatkan hubungan dengan kelompok teman sebaya, meningkatkan
keakraban, sebagai tempat berbagi pikiran ataupun perasaan sebagai dasar
pembentukan persahabatan.
Rabow

(dalam

Budiharto

dan

Koentjoro,

2004)

mendefinisikan

kohesivitas kelompok sebagai suatu pola hubungan persahabatan yang


mempunyai ikatan untuk saling tolong menolong antar anggota kelompok. Baron
dan Byrne (2005) mengartikan persahabatan sebagai suatu bentuk hubungan
antara dua individu atau lebih. Individu-individu tersebut menghabiskan waktu
bersama, berinteraksi dalam berbagai situasi, juga saling memberikan dukungan
emosional satu sama lain. Cassidy dkk. (2003) menjelaskan bahwa kesamaan
sikap dan nilai menjadi dasar penting bagi pembentukan persahabatan. Sears dkk.
(1991) mengemukakan bahwa apabila individu sebagai anggota suatu kelompok
saling menyukai satu sama lain dan dieratkan dalam ikatan persahabatan, maka
kohesivitas kelompok tersebut akan semakin tinggi.
Kohesivitas atau kebersamaan dalam lingkungan keluarga memberikan
pengaruh pada proses penyesuaian sosial dan pencarian identitas diri seorang
remaja (Schwartz, 2007). Dukungan dan kohesivitas kelompok teman sebaya
(peer group), dukungan dari guru, serta kondisi lingkungan sekolah juga
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

8
digilib.uns.ac.id

berpengaruh terhadap konsep diri dan sosialisasi pada remaja awal. Hasil
penelitian Tabassan dan Rafiq (1993) menyebutkan adanya perbedaan
penyesuaian sosial diantara individu yang memiliki kelompok pertemanan dengan
individu yang tidak memiliki kelompok pertemanan. Individu sebagai anggota
suatu kelompok pertemanan lebih mudah menyesuaikan diri, lebih percaya diri,
memiliki penyesuaian sosial dan emosional yang baik, serta mampu menjalankan
tugas perkembangan secara maksimal.
Remaja dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya, akan
memperhatikan karakteristik personal dan karakteristik sosial teman sebaya,
misalnya dari segi usia, tingkat kecerdasan, dan juga penampilan fisik (Cassidy
dkk., 2003). Remaja cenderung memilih teman atau sahabat yang serupa dalam
masalah gender, suku bangsa, sikap dan prestasi akademis (Papalia dkk., 2009).
Remaja mulai lebih mengandalkan teman dibanding dengan orang tua untuk
mendapatkan kedekatan dan dukungan secara sosial.
Havighurst (1972) berpendapat bahwa perubahan dan perkembangan fisik
yang pesat pada remaja membuat remaja menjadi lebih memperhatikan tubuh dan
penampilan fisik, yang juga berpengaruh terhadap interaksi remaja dengan orang
lain di lingkungan sekitar, terutama dengan teman sebaya. Pendapat ini diperkuat
oleh Blyth dkk. (1985) bahwa hubungan dan interaksi dengan orang lain
memungkinkan remaja melakukan perbandingan fisik dengan teman sebaya.
Salah satu aspek psikologis dari pertumbuhan fisik pada masa remaja
adalah remaja seringkali membangun citra sendiri mengenai tubuh. Perhatian
yang berlebihan terhadap citra tubuh atau sering disebut sebagai body image ini
commit to user

9
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

lebih mencolok selama masa pubertas, pada tahap remaja awal dibandingkan
dengan tahap remaja tengah atau akhir masa remaja (Santrock, 2007). Perhatian
terhadap body image seorang individu sangat kuat terjadi pada remaja yang
berusia 12 hingga 18 tahun, baik pada remaja perempuan maupun remaja lakilaki. Thompson (2000) mengungkapkan bahwa perkembangan pada masa
pubertas memberikan dampak dan perubahan fisik maupun psikologis bagi remaja
perempuan dan juga remaja laki-laki, terutama berkaitan dengan perkembangan
body image.
Body image telah menjadi permasalahan yang banyak dialami remaja lakilaki dan remaja perempuan berusia 11-24 tahun (Wade dkk., 2009). Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Fallon dan Rozin (dalam Prevos, 2005)
menyebutkan bahwa permasalahan body image dialami oleh remaja perempuan
dan juga remaja laki-laki. Sebesar 70% remaja perempuan merasa tidak puas
dengan bentuk tubuh, sedangkan sebesar 30% remaja laki-laki merasa bahwa
bentuk tubuh yang dimiliki sangat jauh dari gambaran tubuh ideal yang
didambakan. Fakta ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan Schur,
dkk. (dalam Skemp-Arlt & Mikat, 2007)

menunjukkan bahwa 52% remaja

perempuan dan 48% remaja laki-laki berusaha menurunkan berat badan, untuk
bisa memiliki bentuk tubuh yang sesuai dengan gambaran ideal. Thompson
(2000) menjelaskan hanya sebesar 28% remaja laki-laki dan 15% remaja
perempuan merasa puas terhadap seluruh bagian tubuh.

commit to user

10
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Remaja mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap penampilan fisik


(Monks dkk., 2004). Apabila remaja mampu menerima keadaan fisik dengan rasa
puas, remaja akan mampu melakukan penyesuaian dengan baik. Apabila remaja
mempunyai persepsi negatif mengenai bentuk tubuh, hal ini dapat mempengaruhi
proses sosialisasi pada individu tersebut. Hasil penelitian Ramirez dan Rosen
(2001) menyatakan adanya hubungan signifikan antara body image dengan
penyesuaian psikologis.
Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti tertarik untuk
mengadakan penelitian dengan judul: Hubungan antara Body Image dan
Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya dengan Penyesuaian Sosial pada Siswa
Kelas VIII Program Akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta.

B. Rumusan Masalah
Mengacu pada uraian di atas, maka rumusan masalah yang penulis ajukan
adalah sebagai berikut: Apakah ada hubungan antara body image dan kohesivitas
kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada siswa kelas VIII program
akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara body
image dan kohesivitas kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada
siswa kelas VIII program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta.
commit to user

11
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang akan didapat adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi mengenai
body image, kohesivitas kelompok teman sebaya, dan penyesuaian sosial
dalam pengembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi sosial, psikologi
pendidikan, dan psikologi perkembangan, atau studi psikologi pada umumnya.
2. Manfaat praktis
a. Bagi orang tua, dapat memberikan wawasan tentang body image dan
kohesivitas kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial, sehingga
dapat memberikan lingkungan yang sesuai bagi anak akselerasi agar
memiliki penyesuaian sosial yang baik.
b. Bagi guru, dapat memberikan masukan dalam rangka menerapkan metode
pendidikan yang sesuai pada siswa akselerasi serta memberikan masukan
sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi kekurangan dan
kelemahan program akselerasi yang selama ini diterapkan.
c. Bagi siswa, menambah pengetahuan tentang body image dan kohesivitas
kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial, sehingga dapat
menjadi pertimbangan untuk mengembangkan body image positif dan
menjalin hubungan persahabatan dengan kelompok teman sebaya agar
dapat melakukan penyesuaian sosial yang baik.

commit to user

12
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

d. Bagi peneliti lain, dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk


melakukan penelitian selanjutnya, khususnya penelitian mengenai
hubungan antara body image dan kohesivitas kelompok teman sebaya
dengan penyesuaian sosial pada siswa program akselerasi, dan dapat
dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam penelitian selanjutnya.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Penyesuaian Sosial
1. Pengertian penyesuaian sosial
Walgito (2004) berpendapat bahwa penyesuaian dalam arti luas yaitu
apabila individu dapat meleburkan diri dengan keadaan lingkungan sekitar,
atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan
diri individu. Fahmi (dalam Sobur, 2003) mengatakan bahwa penyesuaian
adalah suatu proses dinamik terus menerus yang bertujuan untuk mengubah
perilaku individu, demi terciptanya hubungan yang lebih serasi antara diri
dengan lingkungan.
Penyesuaian sosial sebagai kemampuan seseorang untuk beradaptasi
dan menyesuaikan diri terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap
kelompok pada khususnya (Hurlock, 2004). Penyesuaian sosial adalah
kesanggupan untuk bereaksi secara aktif dan harmonis terhadap realitas
ataupun situasi sosial, mampu mengadakan reaksi sosial yang sehat,
menghargai hak-hak sendiri dalam masyarakat, serta dapat bergaul dengan
orang lain di lingkungan sosial (Kartono, 2005). Penyesuaian sosial dapat
berlangsung karena adanya dorongan manusia untuk memenuhi kebutuhan
sosial, yaitu untuk mencapai keseimbangan antara tuntutan sosial dengan
harapan yang ada dalam diri individu.
commit to user
13

14
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Penyesuaian sosial

adalah kemampuan untuk mematuhi norma-

norma dan peraturan sosial kemasyarakatan (Mutadin, 2002). Setiap


masyarakat memiliki aturan dengan sejumlah ketentuan dan norma atau
nila-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok.
Pada saat proses penyesuaian sosial, individu mulai berkenalan dengan
kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut, kemudian mematuhinya.
Berdasarkan definisi yang telah diberikan oleh beberapa ahli di atas,
dapat dijelaskan bahwa penyesuaian sosial adalah kemampuan individu
untuk menyesuaikan diri dengan kelompok maupun lingkungan sosial,
mereaksi secara tepat terhadap realitas dan situasi sosial yang terjadi dengan
mematuhi norma-norma peraturan sosial kemasyarakatan, yang merupakan
kebutuhan kehidupan sosial tanpa menimbulkan konflik bagi diri sendiri
maupun lingkungan.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial


Schneiders (1985) berpendapat bahwa faktor lingkungan keluarga
dan sekolah dapat mempengaruhi penyesuaian sosial seseorang, dengan
penjelasan sebagai berikut:
a. Penyesuaian dalam keluarga atau rumah
1) Hubungan yang sehat di antara keluarga
Hubungan ini ditandai dengan adanya penyesuaian yang baik antara
anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga yang lainnya,
sehingga ada rasa kasih sayang antara anggota keluarga.
commit to user

15
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2) Kemampuan untuk menerima otoritas orang tua


Kemampuan untuk menerima otoritas orang tua perlu diterapkan
kepada anak, dan anak harus bisa menerima disiplin orang tua. Patuh
terhadap otoritas orang tua merupakan langkah penting menuju
penyesuaian yang baik di lingkungan masyarakat.
b. Penyesuaian sosial di sekolah
1) Hormat dan mau menerima otoritas yang ada di sekolah.
2) Menunjukkan rasa tebaik dan partisipasi dalam kegiatan sosial.
3) Menjalin hubungan yang baik dengan teman dan guru.
4) Mau menerima larangan dan tanggung jawab.
5) Membantu sekolah untuk melaksanakan tujuan sesuai dengan
fungsinya.
Menurut Ali dan Asrori (2004) faktor yang mempengaruhi proses
penyesuaian sosial pada remaja, yaitu:
a. Kondisi fisik, hal-hal yang berkaitan dengan kondisi fisik yang dapat
mempengaruhi penyesuaian sosial pada remaja adalah hereditas,
konstitusi fisik, sistem utama tubuh, serta kesehatan fisik.
b. Kepribadian,

kepribadian

yang

penting

pengaruhnya

terhadap

penyesuaian sosial adalah kemauan dan kemampuan untuk berubah,


pengaturan diri, realisasi diri, juga inteligensi.
c. Edukasi atau pendidikan, hal-hal terkait dengan edukasi atau pendidikan
yang dapat mempengaruhi penyesuaian sosial individu adalah belajar,
pengalaman, latihan, dan determinasi diri.
commit to user

16
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

d. Lingkungan, lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap


penyesuaian sosial remaja meliputi lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah, serta lingkungan masyarakat.
Hurlock (2004) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi
penyesuaian sosial, sebagai berikut:
a. Hal-hal yang dipengaruhi dari kelahiran; merupakan sifat dasar
seseorang, misalnya sifat pemalu, pendiam, yang melalui latihan atau
bimbingan teratur, lambat laun akan berubah.
b. Penyesuaian dan kebutuhan pribadi; artinya dalam proses penyesuaian,
masing-masing individu berbeda-beda, tergantung pada persepsi
individu terhadap kebutuhan-kebutuhan. Persepsi seseorang terhadap
penyesuaian dan kebutuhan pribadi akan mempengaruhi penyesuaian
individu dengan lingkungan sosial.
c. Penyesuaian dan pembentukan kebiasaan; individu yang terbiasa
terpenuhi keinginannya, akan selalu menuntut lingkungan untuk
memenuhi apa yang diinginkan. Hal inilah yang harus dilatih sedini
mungkin, agar individu dapat menyesuaikan diri dengan hal-hal baru
yang ada di luar diri individu tersebut.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat ditunjukkan bahwa
faktorfaktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial antara lain ialah
penyesuaian di rumah, penyesuaian di sekolah, kondisi fisik, kepribadian,
pendidikan,

lingkungan,

pembentukan kebiasaan.

faktor

kelahiran,

commit to user

kebutuhan

pribadi,

dan

perpustakaan.uns.ac.id

17
digilib.uns.ac.id

3. Aspek-aspek penyesuaian sosial


Hurlock (2004) mengemukakan aspek-aspek dalam penyesuaian
sosial sebagai berikut:
a. Penampilan nyata (overt performance), penampilan yang diperlihatkan
individu yang sesuai dengan norma yang berlaku di dalam kelompok.
Hal ini berarti individu tersebut mampu memenuhi harapan kelompok
dan diterima sebagai anggota suatu kelompok.
b. Penyesuaian diri terhadap berbagai kelompok, individu yang dapat
menyesuaikan diri dengan baik terhadap berbagai kelompok, baik
kelompok teman sebaya maupun kelompok orang dewasa, secara sosial
dapat dianggap sebagai individu yang mampu menyesuaikan diri.
c. Sikap sosial, individu mampu menunjukkan sikap yang menyenangkan
terhadap orang lain, ikut berpartisipasi sosial, serta menjalankan peran
dalam kelompok sosial.
d. Kepuasan pribadi, ditandai dengan adanya rasa puas dan perasaan
bahagia karena dapat ikut ambil bagian dalam aktivitas kelompok dan
mampu menerima diri sendiri apa adanya dalam situasi sosial.
Menurut Soekanto (2003) ada beberapa aspek yang dapat mendasari
penyesuaian sosial seseorang yaitu:
a. Imitasi atau meniru, imitasi tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi
ada aspek psikologis lain yang ikut berperan, yaitu sifat menerima dan
mengagumi terhadap apa yang sedang diimitasi.
b. Identifikasi, merupakan dorongan menjadi identik dengan orang lain.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

18
digilib.uns.ac.id

c. Simpati, simpati merupakan suatu proses yang diawali oleh suatu


perasaan tertarik pada pihak lain, sehingga aspek emosi memegang
peranan penting.
Kartono (2005) berpendapat bahwa aspek-aspek penyesuaian sosial
terdiri dari:
a. Memiliki perasaan atau afeksi yang kuat, harmonis, dan seimbang;
sehingga selalu merasa bahagia dan mampu bersikap hati-hati.
b. Memiliki kepribadian yang matang dan terintegrasi secara utuh; ditandai
dengan adanya kepercayaan terhadap diri sendiri maupun orang lain,
mempunyai sikap tanggung jawab, memahami orang lain, dan
kemampuan untuk mengontrol diri.
c. Mempunyai relasi sosial yang memuaskan, ditandai dengan kemampuan
bersosialisasi dengan baik dan ikut berpartisipasi dalam kelompok.
d. Mempunyai struktur sistem syaraf yang sehat dan memiliki ketahanan
psikis untuk mengadakan adaptasi.
e. Mempunyai kepribadian yang produktif, dapat merealisasikan diri
dengan melaksanakan perbuatan sosial.
Schneiders (1985) menyatakan bahwa aspek-aspek penyesuaian
sosial meliputi:
a. Keharmonisan diri pribadi, kemampuan individu untuk menerima
keadaan diri sendiri.
b. Kemampuan mengatasi ketegangan konflik dan frustrasi, kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan diri tanpa mengganggu kondisi emosi.
commit to user

19
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

c. Keharmonisan

dengan

lingkungan,

kemampuan

individu

untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungan.


Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa aspek-aspek
penyesuaian sosial yaitu penampilan nyata, penyesuaian diri terhadap
berbagai kelompok, sikap sosial, dan kepuasan pribadi.

4. Bentuk-bentuk penyesuaian sosial


Bentuk

penyesuaian sosial,

yakni

akomodasi

yang artinya

penyesuaian diri untuk bertindak sesuai dengan hal yang baru dalam
lingkungan,

dan

asimilasi

berarti

mendapatkan

kesan-kesan

baru

berdasarkan pada pola-pola penyesuaian yang sudah ada (Piaget dalam


Sears dkk., 1991). Meichati (1983) mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk
penyesuaian pada umumnya dapat dibagi menjadi dua yaitu penyesuaian
yang baik dan penyesuaian yang terganggu.
a. Penyesuaian sosial yang baik
Hurlock (2004) memberikan empat kriteria sebagai ciri
penyesuaian sosial yang baik, yaitu:
1) Melalui sikap dan tingkah laku nyata (overt performance) yang
diperlihatkan remaja. Apabila tingkah laku nyata seorang remaja
sesuai dengan norma kelompok, maka remaja mampu memenuhi
harapan kelompok dan diterima menjadi anggota kelompok tersebut.
2) Apabila remaja dapat menyesuaikan diri dengan setiap kelompok
yang dimasuki.

commit to user

20
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3) Pada penyesuaian diri yang baik, remaja memperlihatkan sikap yang


menyenangkan terhadap orang lain, memiliki keiginan untuk ikut
terlibat dan berpartisipasi sosial, serta mampu menjalankan peran
sebagai anggota kelompok.
4) Adanya rasa puas dan bahagia yang dimiliki individu karena dapat
turut serta mengambil bagian dalam aktivitas kelompok, teman
sebaya, ataupun orang dewasa lainnya.
Selanjutnya Hurlock (2004) berpendapat bahwa individu yang
dapat menyesuaikan diri dengan baik akan mampu mempelajari
ketrampilan-ketrampilan sosial yang dibutuhkan, ketrampilan menjalin
hubungan secara diplomatis dengan orang lain, baik teman maupun
orang yang tidak dikenal sehingga sikap individu terhadap orang lain
akan menyenangkan, misalnya kesediaan membantu orang lain meski
sedang mengalami kesulitan.
b. Penyesuaian sosial yang terganggu
Penyesuaian

sosial

yang

dilakukan

individu

terhadap

lingkungan sosial tidak selamanya berhasil dengan baik, terkadang juga


mengalami kesulitan atau gangguan. Manifestasi dari kesulitan
penyesuaian sosial akan mengganggu keseimbangan individu dalam
kehidupan sehari-hari. Semiun (2006) menjelaskan bahwa penyesuaian
yang baik diperoleh individu melalui proses belajar yang tidak terjadi
dengan sendirinya. Apabila terjadi hubungan yang kurang lancar dengan
orang lain, individu akan mengalami tekanan batin dan juga hambatancommit to user

21
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

hambatan dalam melakukan tugas-tugas perkembangan, seperti timbul


rasa kecewa, frustrasi, tidak dapat mengatasi masalah dengan baik,
bahkan sampai mengganggu kesehatan jiwa.
Hurlock (2004) menyatakan bahwa penyesuaian sosial yang
terganggu ditandai dengan adanya sifat egosentris, cenderung menutup
diri, tidak sosial atau anti sosial, mengalami hambatan dalam menjalin
hubungan dengan orang lain. Kondisi yang menyebabkan kesulitan
dalam penyesuaian sosial, antara lain:
1) Apabila pola perilaku yang buruk dikembangkan di lingkungan
rumah, mengakibatkan anak mengalami kesulitan penyesuaian di
luar rumah.
2) Apabila lingkungan rumah kurang memberikan model atau contoh
perilaku yang layak untuk ditiru anak, kemungkinan anak akan
mengalami hambatan serius dalam penyesuaian sosial diluar rumah.
3) Kurang memberikan motivasi kepada anak untuk belajar meletakkan
penyesuaian sosial yang baik, akibatnya anak tidak mendapatkan
bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar dari
individu yang lebih dewasa.

commit to user

22
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

B. Body Image
1. Pengertian body image
Chaplin (2005) mengartikan body image adalah ide seseorang
mengenai penampilan diri dihadapan orang lain dan bagi orang lain. Papalia
dkk. (2009) menyatakan bahwa body image merupakan gambaran dan
evaluasi individu tentang penampilan fisik diri sendiri. Thompson (2000)
mengungkapkan body image adalah evaluasi terhadap ukuran tubuh, berat
tubuh, ataupun aspek tubuh lainnya yang mengarah kepada penampilan fisik
seseorang. Menurut Eysenck dkk. (dalam Thompson, 2000) menyatakan
bahwa body image pada umumnya merupakan wadah pikiran mengenai
tubuh seseorang yang bersifat dinamis, senantiasa berubah menurut
informasi yang diterima dari lingkungan di sekitar individu.
Body image ialah persepsi mental seseorang terhadap tubuh yang
dimiliki, terutama mengenai ukuran dan bentuk tubuh (Sousa, 2008). Body
image adalah bagian dari konsep diri yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik
(Mappiare, 1982). Cash dan Pruzinsky (2002) menyebutkan bahwa body
image merupakan sikap seseorang terhadap tubuh yang dimiliki berupa
penilaian positif atau negatif. Naimah dan Rahardjo (2008) menjelaskan
body image sebagai sikap seseorang terhadap tubuh, persepsi mengenai
bentuk dan ukuran tubuh berdasarkan evaluasi individual dan pengalaman
sosial terhadap atribut fisik yang dimiliki, serta penilaian atau cara pandang
seseorang terhadap tubuh diri sendiri.
commit to user

23
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa


body image adalah gambaran mental, persepsi, pikiran, dan perasaan yang
dimiliki individu terhadap ukuran tubuh, bentuk tubuh, serta berat tubuh diri
sendiri, yang mengarah kepada penampilan fisik berupa penilaian positif
atau negatif.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi body image


Faktor-faktor yang mempengaruhi body image menurut Cash dan
Pruzinsky (2002) adalah:
a. Media massa, isi tayangan media massa sangat mempengaruhi body
image remaja, kerena media sering menggambarkan standar tubuh ideal.
b. Keluarga, orang tua merupakan model yang penting dalam proses
sosialisasi,

sehingga

mempengaruhi

body image anak melalui

permodelan, umpan balik, dan instruksi.


c. Hubungan interpersonal, hubungan interpersonal membuat individu
cenderung membandingkan diri sendiri dengan orang lain, umpan balik
yang diterima individu akan mempengaruhi konsep diri termasuk
perasaan diri terhadap penampilan fisik.
Blyth

dkk.

(1985)

menyebutkan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi body image antara lain:


a. Reaksi dari orang lain, individu berusaha menjalin interaksi dengan
orang lain agar dapat diterima oleh orang lain, sehingga individu akan
commit to user

24
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

memperhatikan

pendapat

atau

reaksi

yang

dikemukakan

oleh

lingkungan termasuk pendapat mengenai fisik atau tubuh.


b. Perbandingan dengan orang lain atau perbandingan dengan cultural
idea, remaja cenderung lebih peka terhadap penampilan fisik dan
seringkali membandingkan diri sendiri dengan orang lain, teman sebaya
ataupun lingkungan sekitar.
c. Identifikasi terhadap orang lain, beberapa individu merasa perlu
mengubah penampilan agar serupa atau mendekati idola yang dianut
untuk mendapatkan pengakuan dan peneriman lingkungan.
Thompson (2000) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi
body image ialah media massa, perbandingan sosial, dan jenis kelamin.
Hurlock (2004) berpendapat bahwa faktor peranan seseorang dapat
mempengaruhi body image. Tubuh bagi seorang individu berkaitan dengan
peranan yang dipegang dalam kehidupan, khususnya dalam pergaulan.
Terdapat suatu anggapan bahwa kedudukan atau peranan tertentu dalam
pergaulan, akan lebih mudah diraih oleh seseorang yang mempunyai daya
tarik fisik.
Berdasarkan teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi body image adalah faktor media massa,
keluarga, jenis kelamin, perbandingan sosial, identifikasi terhadap orang
lain, dan peranan yang dipegang individu dalam kehidupan.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

25
digilib.uns.ac.id

3. Aspek-aspek body image


Aspek-aspek body image menurut Cash dan Pruzinsky (2002)
adalah:
a. Evaluasi penampilan (Appearance Evaluation)
Penilaian terhadap tubuh, perasaan menarik atau tidak menarik,
kenyamanan dan ketidaknyamanan terhadap penampilan secara
keseluruhan.
b. Kepuasan terhadap bagian tubuh (body area satisfaction)
Kepuasan atau ketidakpuasan individu terhadap bagian tubuh tertentu,
seperti wajah, rambut, paha, pinggul, kaki, pinggang, perut, tampilan
otot, berat, ataupun tinggi badan, serta penampilan secara keseluruhan.
c. Kecemasan menjadi gemuk (overweight preocupation)
Menggambarkan kecemasan terhadap kegemukan dan kewaspadaan
akan berat badan yang ditampilkan melalui perilaku nyata dalam
aktivitas sehari-hari, seperti kecenderungan malakukan diet untuk
menurunkan berat badan, serta membatasi pola makan.
d. Pengkategorian ukuran tubuh (self-classified weight)
Bagaimana seseorang memandang, mempersepsi, dan menilai berat
badan mereka.
McCabe (dalam Naimah dan Rahardjo, 2008) menjelaskan aspek
body image terdiri dari:
a. Aspek kognisi dan afeksi terhadap tubuh, mengungkap pikiran dan
perasaan individu tentang kepuasan atau ketidakpuasan terhadap tubuh.
commit to user

26
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

b. Aspek perilaku, mengungkap perilaku individu yang mementingkan


bentuk tubuh dan penampilan melalui perilaku tertentu, seperti diet,
olahraga, dan perawatan tubuh.
c. Persepsi, mengungkap persepsi individu terhadap bagian tubuh tertentu.
Blyth (1985) menyatakan aspek-aspek body image melibatkan
aspek kognitif dan aspek afektif. Sousa (2008) menjelaskan bahwa body
image terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan perseptual. Thompson (2000)
menyebutkan aspek-aspek body image meliputi aspek perseptif, subjektif,
dan behavioral. Gerner dan Wilson (2005) mengungkapkan beberapa aspek
body image yaitu aspek perseptual, emosional atau subjektif, serta aspek
behavioral.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa aspek-aspek
body image yaitu evaluasi penampilan, kepuasan terhadap bagian tubuh,
kecemasan menjadi gemuk, dan pengkategorian ukuran tubuh.

4. Body image pada remaja


Perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja awal atau disebut
dengan masa pubertas, sering membuat remaja merasa aneh terhadap tubuh
yang dimiliki. Remaja menjadi sensitif dan sangat memperhatikan bentuk
tubuh atau penampilan fisik (Langone dan Glickman, 2004). Remaja akan
memiliki gambaran tubuh (body image) ideal berdasarkan persepsi diri
sendiri dan cenderung bersifat subjektif. Skemp-Arlt dan Mikat (2007)
commit to user

27
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

mengatakan bahwa permasalahan body image meningkat pada masa remaja


awal sekitar usia 13-15 tahun.
Gambaran tubuh atau body image pada remaja terbentuk
berdasarkan persepsi indvidual dan juga berdasarkan penilaian orang lain.
Havighurst (1972) menyebutkan salah satu tugas perkembangan remaja
ialah bahwa remaja harus mampu menerima keadaan fisik dan
memanfaatkan fisik secara optimal.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa body image pada
remaja menyebakan remaja memiliki perhatian cukup besar terhadap
penampilan fisik dan bentuk tubuh, hal ini terjadi karena adanya perubahan
fisik yang sangat cepat pada masa pubertas.

C. Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya


1. Pengertian kohesivitas
Rumusan asli istilah kohesivitas adalah dari disiplin fisika yaitu
kekuatan atau daya tarik menarik diantara molekul-molekul suatu benda.
Sebagaimana yang dikemukakan Kellerman (dalam Oktaviansyah, 2008)
dengan menggunakan analogi ilmu fisika dan biologi menjelaskan
kohesivitas sebagai suatu model proses sosial, yang menganggap kelompok
sebagai molekul, atom-atom pembentuknya adalah individu-individu
anggota kelompok, sedangkan kekuatan yang mengikat atom-atom terletak
pada daya tarik interpersonal yang ada di dalam kelompok tersebut,
commit to user

28
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

sehingga dapat dijelaskan bahwa kohesivitas merupakan daya tarik


interpersonal yang menarik anggota untuk tetap berada dalam kelompok.
Chaplin (2005) mengartikan kohesivitas sebagai rasa satu kesatuan
yang terikat dan saling mendukung sehingga menggambarkan adanya
kualitas ketergantungan di antara anggota kelompok. Sobur (2003)
menjelaskan bahwa kohesivitas bersifat subjektif, memberikan warna
emosional, dan juga memberikan arti pada anggota kelompok. Kohesivitas
adalah pola nyata dari suatu hubungan, mempertegas, dan memperkuat
hubungan. Kohesivitas merupakan derajat atau tingkat ketertarikan antar
anggota kelompok.
Festinger (dalam Baron dan Byrne, 2005) mengartikan kohesivitas
sebagai kekuatan yang mendorong anggota suatu kelompok untuk tetap
bertahan

dalam

kelompok,

saling

menyukai

antar

anggota,

dan

mempertahankan keinginan untuk saling memilki antar anggota kelompok.


Adebayo dan Ogunleye (2010) mengartikan kohesivitas sebagai rasa
kesatuan diantara anggota suatu kelompok. Wright dan Drewery (2006)
mengemukakan bahwa kohesivitas adalah kebersamaan antar anggota
kelompok yang terjadi karena adanya ketertarikan sosioemosional antar
anggota kelompok. Ming (2004) berpendapat bahwa kohesivitas ialah
karakteristik dalam suatu kelompok yang menyebabkan para anggota
kelompok merasa sebagai satu kesatuan karena adanya kemampuan,
harapan, dan tujuan yang sama, serta saling melakukan aktivitas kelompok
secara bersama-sama.

commit to user

29
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Sears dkk. (1991) mendefinisikan kohesivitas kelompok sebagai


kekompakan dan kesatuan yang dimiliki oleh setiap anggota dalam suatu
kelompok. Robins (dalam Oktaviansyah, 2008) menyebutkan bahwa
semakin kohesif suatu kelompok, para anggota kelompok akan semakin
mengarah ke tujuan. Kelompok dengan tingkat kohesivitas tinggi biasanya
memiliki tingkat ketertarikan yang kuat pada masing-masing anggota
kelompok. Tingkat kohesivitas yang tinggi akan berkembang menjadi usaha
memberikan yang terbaik bagi kelompok. Oktaviansyah (2008) menjelaskan
bahwa pada kelompok yang memiliki kohesivitas tinggi disertai adanya
penyesuaian yang tinggi pula terhadap kelompok dan anggota kelompok
tersebut.
Berdasarkan definisi yang telah diberikan oleh beberapa ahli di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa kohesivitas merupakan suatu kekuatan,
kebersamaan, dan kesatuan antar anggota suatu kelompok.

2. Pengertian kelompok teman sebaya


Teman sebaya (peer) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat
usia atau tingkat kedewasaan yang sama (Santrock, 2007). Teman sebaya
(peer)

adalah

sumber

afeksi,

simpati,

pengertian,

tempat

untuk

bereksperimen, serta tempat untuk membentuk hubungan yang mendalam


dengan orang lain (Mappiare, 1982). Lingkungan kelompok teman sebaya
(peer group) adalah lingkungan sosial pertama bagi remaja untuk belajar
hidup bersama orang lain di luar lingkungan keluarga, merupakan suatu
commit to user

30
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

kelompok baru dengan ciri, norma, dan kebiasaan yang berbeda dengan
lingkungan keluarga.
Horrock dan Benmoff (dalam Hurlock, 2004) mengungkapkan
bahwa kelompok teman sebaya merupakan dunia nyata para remaja yang
menyiapkan remaja untuk mampu melakukan penyesuaian dengan
lingkungan dan orang dewasa lainnya. Kelompok teman sebaya sebagai
tempat untuk melakukan sosialisasi melalui nilai-nilai yang berlaku pada
teman-teman sebaya. Pendapat tersebut diperkuat oleh Wibowo (2004)
bahwa kelompok teman sebaya merupakan tempat bagi remaja untuk belajar
mengembangkan ketrampilan-ketrampilan sosial, membangun hubungan
keakraban (intimacy), persahabatan, dan kerjasama.
Walgito (2004) menyebutkan bahwa kelompok teman sebaya (peer
group) merupakan kelompok primer dan juga kelompok informal.
Kelompok primer adalah kelompok dengan interaksi sosial yang cukup
intensif, cukup akrab, serta memiliki hubungan yang cukup baik diantara
para anggota kelompok, sedangkan kelompok informal biasanya memiliki
norma tidak tertulis.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
kelompok teman sebaya (peer group) adalah kelompok yang aggotanya
memiliki usia hampir sama, memiliki ciri, norma, kebiasaan tersendiri, serta
merupakan tempat awal bagi remaja untuk melakukan penyesuaian terhadap
lingkungan sosial.
commit to user

31
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3. Pengertian kohesivitas kelompok teman sebaya


Kohesivitas merupakan kekuatan interaksi dari anggota suatu
kelompok. Kohesivitas ditunjukkan dalam bentuk keramahtamahan antar
anggota kelompok yang bisanya senang untuk bersama-sama. Semua itu
menunjukkan adanya kesatuan, keeratan, dan saling ketertarikan antar
anggota kelompok

(Gitosudarmo dan Sudita dalam Budiharto dan

Koentjoro, 2004).

Berawal dari kohesivitas kelompok, akan muncul

kelompok-kelompok dalam remaja yang solid dengan tujuan, norma, dan


perilaku tertentu, yang mendukung tujuan dari kelompok tersebut.
Anggota dari kelompok yang kohesif biasanya mempunyai
kesamaan pendapat dan tindakan (Walgito, 2004). Adanya kohesivitas
dalam

suatu

kelompok

membuat

individu-individu

yang

menjadi

anggotanya akan bersedia melakukan kegiatan yang sama diantara anggota


kelompok (Monks dkk., 2004). Individu cenderung berperilaku sama atau
searah

dengan

anggota

lain

dalam

peer

group

yang

diminati.

Kecenderungan remaja untuk berperilaku searah dengan kelompok teman


sebaya tidak terlepas dari keinginan remaja untuk diterima sebagai bagian
dari kelompok, karena pada masa remaja terjadi dua pola pergerakan yaitu
menghindar dari orang tua dan menuju kelompok teman sebaya.
Pendapat tersebut diperkuat oleh Zulkifli (2006) yang menyatakan
bahwa remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik kepada kelompok
teman sebaya (peer group), sehingga sering kali orang tua dinomorduakan
sedangkan kelompok teman sebaya (peer group) dinomorsatukan. Remaja
commit to user

32
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

yang berhasil diterima di lingkungan kelompok teman sebaya (peer group)


akan berusaha untuk tetap masuk dalam lingkungan teman sebaya tersebut,
remaja akan berusaha mengikuti aturan atau kegiatan yang berlaku pada
kelompok yang diikuti. Remaja dalam kelompok teman sebaya memiliki
rasa ketergantungan yang kuat diantara anggota kelompok.
Pengaruh kuat kelompok teman sebaya (peer group) merupakan hal
penting yang tidak dapat diremehkan dalam masa remaja (Mappiare, 1982).
Remaja mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap kelompok mengenai
kode-kode tingkah laku yang ditetapkan sendiri. Remaja akan menghargai
dan mematuhi

norma-norma dalam kelompok yang diikuti. Setelah

menyesuaikan bakat, minat dan nilai yang ada dalam kelompok, maka akan
muncul rasa kohesif terhadap kelompok tempat remaja bergabung tersebut.
Kohesivitas dapat pula merupakan suatu bentuk hubungan persahabatan
yang mempunyai ikatan untuk saling membantu dan menolong antar
anggota. Remaja yang telah bergabung dengan suatu kelompok dan merasa
cocok, maka akan memunculkan kohesivitas yang kuat pada diri remaja,
sehingga remaja akan menjunjung tinggi norma-norma kelompok sesuai
dengan lingkungan yang ada pada kelompok tersebut.
Kuatnya pengaruh kelompok teman sebaya tidak terlepas dari
adanya ikatan yang terjalin kuat dalam kelompok teman sebaya (peer
group), bahkan terkadang mengarah pada fanatisme, sehingga setiap
anggota kelompok menyadari bahwa terdapat suatu kesatuan yang terkait
dan saling mendukung (Santrock, 2007). Pada remaja, penerimaan diri
commit to user

33
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

oleh teman sebaya merupakan aspek terpenting dalam kehidupan sosial.


Remaja akan melakukan apapun agar dapat dimasukkan dalam anggota
suatu kelompok yang diminati. Remaja yang tidak kohesif atau tidak dapat
mengikuti aturan kelompok, akan dikucilkan sehingga dapat menyebabkan
stres, frustrasi, serta kesedihan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa kohesivitas
kelompok teman sebaya adalah kekuatan dalam diri remaja sebagai bagian
dari anggota suatu kelompok teman sebaya, sehingga memunculkan
tindakan saling menjaga dan mempertahankan keutuhan kelompok, serta
mencegah anggota meninggalkan kelompok. Hal ini dapat diwujudkan
dalam bentuk persahabatan yang cukup erat.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kohesivitas kelompok teman sebaya


Menurut Gottman dan Parker (dalam Santrock, 2007) ada beberapa
faktor yang mempengaruhi kohesivitas kelompok teman sebaya, yaitu:
a. Kebersamaan, kelompok memberikan remaja teman akrab yang bersedia
menghabiskan waktu bersama-sama dalam setiap aktivitas.
b. Stimulasi, kelompok memberikan informasi-informasi yang menarik,
kegembiraan, dan hiburan.
c. Dukungan

fisik,

kelompok

memberikan

kemampuan, dan pertolongan pada para anggota.

commit to user

waktu,

kemampuan-

perpustakaan.uns.ac.id

34
digilib.uns.ac.id

d. Dukungan ego, kelompok menyediakan harapan dan juga umpan balik


yang dapat membantu remaja dalam menggambarkan diri sebagai
individu yang mampu, menarik, dan berharga.
e. Perbandingan sosial, kelompok menyediakan informasi tentang cara
berhubungan dengan orang lain, baik hubungan dengan teman sebaya
ataupun hubungan dengan orang dewasa lainnya.
f. Keakraban atau perhatian, kelompok memberikan hubungan yang
hangat, dekat, saling percaya antar anggota, hubungan yang berkaitan
dengan pengungkapan diri.
Baron dan Byrne (2005) rnengemukakan bahwa kohesivitas teman
sebaya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Adanya dukungan sosial, banyak penelitian menunjukkan apabila
seseorang berada di bawah tekanan kelompok, maka individu tersebut
cenderung akan menyetujui pendapat yang diberikan oleh kelompok,
tetapi dengan adanya dukungan sosial, akan banyak menolong
seseorang untuk mengumpulkan keberanian dalam menolak penilaian
dan pendapat yang diberikan oleh kelompok.
b. Ukuran kelompok, semakin sedikit jumlah anggota kelompok, maka
tingkat kohesivitas kelompok semakin tinggi.
c. Jenis kelamin, banyak penelitian menyimpulkan bahwa perempuan lebih
kohesif dalam menjalin hubungan pertemanan daripada laki-laki.
Monks dkk. (2004) menambahkan faktor yang mempengaruhi
kohesivitas teman sebaya, yakni usia anggota. Pada usia tertentu, individu
commit to user

35
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

lebih sering melakukan kohesivitas terhadap suatu kelompok, yaitu pada


masa remaja atau sekitar usia 12-21 tahun. Yessy (2003) menyebutkan
faktor yang mempengaruhi kedekatan persahabatan, yaitu faktor internal
seperti faktor biologis atau faktor temperamen, dan faktor eksternal, yaitu
faktor dari lingkungan, seperti kemiskinan, penyakit prenatal, dan
pengasuhan.
Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi kohesivitas kelompok teman sebaya (peer group) yaitu
kebersamaan, stimulasi, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan
sosial, keakraban atau perhatian, dukungan sosial, ukuran kelompok, jenis
kelamin, usia anggota, dan juga lingkungan.

5. Aspek-aspek kohesivitas kelompok teman sebaya


Shaw dan Costanzo (1989) berpendapat bahwa aspek-aspek
kohesivitas kelompok teman sebaya antara lain:
a. Interaksi, merupakan suatu hubungan dua individu atau lebih, saling
mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki perilaku antar individu
satu dengan individu yang lain.
b. Pengaruh sosial, kelompok yang kohesif akan terdorong untuk
menyesuaikan diri dengan norma kelompok sosial yang ada di
lingkungan sekitar.

commit to user

36
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

c. Produktivitas kelompok, individu dalam satu kelompok, lambat laun


akan lebih sadar, lebih mudah mengerti, memahami kebutuhan anggota,
serta lebih merasakan kebutuhan masing-masing anggota.
d. Kepuasan, kelompok dengan tingkat keeratan tinggi cenderung
memberikan rasa puas kepada anggota kelompok.
Festinger (dalam Yusuf 1989) berpendapat bahwa aspek yang
menjadi penentu suatu kohesivitas kelompok teman sebaya adalah daya
tarik individu (individual attraction) dan juga adanya rasa saling tertarik
antar anggota. Wibowo (2004) mengemukakan aspek kohesivitas kelompok
teman sebaya adalah aspek individuality yang diwakili oleh adanya
penegasan diri dan keberadaan diri, serta aspek connectedness diwakili oleh
kepekaan dan mutualitas.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
aspek-aspek kohesivitas kelompok teman sebaya yaitu interaksi, pengaruh
sosial, produktivitas kelompok, dan kepuasan.

6. Pengelompokan kelompok teman sebaya


Para ahli psikologi sepakat bahwa terdapat kelompok-kelompok
yang terbentuk dalam masa remaja, diantaranya dikemukakan oleh
Mappiare (1982) yaitu:
a. Kelompok Chums (sahabat karib), remaja bersahabat karib dengan
ikatan persahabatan yang sangat kuat. Anggota kelompok biasanya
commit to user

37
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

terdiri dari 2-3 remaja dengan jenis kelamin yang sama, memiliki minat,
kemampuan, dan kemamauan yang mirip.
b. Kelompok Cliques (kelompok sahabat), terdiri dari dua pasang sahabat
karib atau dua chums yang terjadi pada tahun-tahun pertama masa
remaja awal. Remaja melakukan kegiatan bersama-sama, seperti
menonton, rekreasi, pesta, dan lain-lain.
c. Kelompok Crowds (kelompok banyak remaja), terdiri dari banyak
remaja, karena besarnya kelompok, maka jarak emosi antar anggota
cenderung renggang. Terdapat jenis kelamin yang berbeda, keragaman
kemampuan, minat, dan kemauan diantara anggota crowds. Hal yang
sama dimiliki adakah rasa takut diabaikan atau tidak diterima oleh
teman-teman dalam crowdsnya.
d. Kelompok yang di organisir, kelompok yang sengaja dibentuk dan
diorganisir oleh orang dewasa, biasanya melalui lembaga-lembaga
tertentu, misalnya sekolah. Kelompok ini umumnya timbul atas dasar
kesadaran

orang

dewasa

bahwa

remaja

sangat

membutuhkan

penyesuaian pribadi dan sosial, penerimaan dan keikutsertaan dalam


kelompok-kelompok.
e. Kelompok Gangs, kelompok yang terbentuk dengan sendirinya, pada
umumnya merupakan akibat pelarian dari empat jenis kelompok
tersebut di atas, yaitu kelompok remaja yang merasa tidak terpenuhi
kebutuhan pribadi dan sosial mereka akibat penolakan teman sebaya
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

38
digilib.uns.ac.id

atau ketidakmampuan remaja dalam menyesuaikan diri dengan keempat


kelompok sebelumnya.
Hurlock (2004) mengemukakan pengelompokan sosial remaja yang
tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh Mappiare, yaitu terdiri
dari teman dekat (sahabat karib), kelompok kecil (kelompok teman dekat),
kelompok besar (beberapa kelompok teman dekat dan kelompok teman
kecil), kelompok yang terorganisasi (kelmpok yang dibina oleh orang
dewasa), dan kelompok gang (remaja yang tidak termasuk dalam keempat
kelompok sebelumnya).
Berdasarkan beberapa penjelasan yang diutarakan di atas dapat
diketahui bahwa pengelompokan teman sebaya terdiri dari kelompok
sahabat karib, kelompok teman dekat, kelompok teman dekat dan kelompok
teman kecil, kelompok yang dibina oleh orang dewasa, dan kelompok gang.

7. Kelompok teman sebaya pada remaja


Kelompok pertemanan pada remaja menyebabkan remaja merasa
dihargai, dicintai, dan dimengerti oleh teman sebaya. Remaja berusaha
menerima nilai, norma, dan peraturan yang ada dalam kelompok (Yessy,
2003). Remaja akan menyesuaikan diri dengan kelompok teman sebaya,
sehingga tingkah laku, minat, sikap dan pikiran remaja banyak dipengaruhi
oleh

kelompok teman sebaya. Kelompok teman sebaya (peer group)

memberikan pengaruh yang kuat terhadap pikiran, sikap, perasaan,


perbuatan, dan penyesuaian diri remaja.
commit to user

39
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Kelompok teman sebaya (peer group) pada remaja dapat


memberikan manfaat positif yang dihubungkan dengan kedekatan atau
keintiman hubungan antar pribadi, persahabatan, afeksi, komunikasi, dan
cinta. Kelompok teman sebaya juga memberikan berbagai tipe perhatian
kepada remaja dalam bentuk penghargaaan, pengakuan, status, dan
sebagainya (Zulkifli, 2006). Kelompok teman sebaya mampu memenuhi
kebutuhan remaja, misalnya kebutuhan untuk dimengerti, kebutuhan
diperhatikan, kebutuhan harga diri, kebutuhan rasa aman, dan sebagainya.
Pendapat yang sama diungkapkan oleh Papalia dkk. (2009) bahwa
remaja mendapatkan sumber afeksi, simpati, pengertian, dan bimbingan
moral dari teman sebaya. Kelompok teman sebaya menyediakan rasa aman
bagi remaja untuk menyatakan pendapat, mengakui kelemahan, dan mencari
bantuan untuk menyelesaikan masalah.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat ditunjukkan bahwa
kelompok teman sebaya (peer group) dalam kehidupan remaja memiliki
pengaruh yang kuat baik menyangkut tingkah laku, minat, sikap, maupun
pikiran remaja. Kelompok teman sebaya mampu memenuhi kebutuhan
remaja, memberikan rasa aman, dukungan afeksi, emosi, moral dan juga
dukungan sosial pada seorang remaja.

commit to user

40
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

D.

Siswa Program Akselerasi

1. Pengertian program akselerasi


Hawadi (2004) menjelaskan program akselerasi merupakan program
pembelajaran yang diikuti oleh siswa dengan kecerdasan luar biasa,
sehingga diharapkan kelas akselerasi ini mampu memenuhi kebutuhan
layanan pendidikan khusus bagi siswa cerdas berbakat istimewa. Menurut
Nulhakim (2007) bahwa program percepatan belajar atau akselerasi
merupakan program kebijakan pendidikan untuk memberikan layanan
khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan
keberbakatan akademik istimewa.
Program percepatan belajar atau program akselerasi merupakan
program layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa yang memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk dapat menyelesaikan masa
belajarnya lebih cepat dari siswa lain pada kelas reguler (Putri dkk., 2005).
Program akselerasi menurut Brody dan Mills (2005) merupakan program
pendidikan khusus bagi anak-anak yang memiliki kecerdasan luar biasa agar
dapat lulus lebih cepat dibandingkan anak-anak reguler.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa program
akselerasi adalah suatu program pendidikan yang memberikan layanan
pendidikan khusus bagi anak cerdas berbakat istimewa agar dapat
menyelesaikan pendidikan dalam waktu yang lebih cepat.

commit to user

41
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2. Tujuan program akselerasi


Hawadi (2004) menyebutkan bahwa penyelenggaraan program
akselerasi mempunyai dua tujuan, yaitu:
a. Tujuan umum
1) Memberikan pelayanan terhadap peserta didik (akseleran) yang
mempunyai karakteristik khusus dari aspek kognitif dan afektif.
2) Memenuhi hak asasi peserta didik sesuai dengan kebutuhan
pendidikan yang dibutuhkan.
3) Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta
didik.
4) Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin masa depan.

b. Tujuan khusus
1) Menghargai peserta didik yang mempunyai kecerdasan luar biasa
untuk dapat menyelesaikan pendidkan lebih cepat.
2) Memacu kualitas atau mutu peserta didik dalam meningkatkan
kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional secara berimbang.
3) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Menurut Nulhakim (2007) tujuan dari program akselerasi adalah
untuk memberikan perlakuan dan pelayanan pendidikan bagi siswa yang
mempunyai

kemampuan

dan

kecerdasan

luar

biasa

mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan secara optimal.


commit to user

agar

dapat

42
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Berdasarkan dari uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa tujuan dari


program akselerasi adalah sebagai sarana untuk memberikan layanan secara
khusus bagi mereka yang mempunyai bakat dan kecerdasan istimewa.
Adanya program akselerasi dapat memacu kualitas serta mutu peserta didik
dalam aspek spiritual, emosional, intelektual secara berimbang.

3. Keunggulan dan kelemahan program akselerasi


Neihart (2007) menyatakan bahwa program akselerasi memberikan
beberapa manfaat, diantaranya siswa dapat lebih awal memasuki dunia
sekolah, lebih awal masuk ke universitas, dan dapat mempercepat
kelulusan, akan tetapi program akselerasi juga memberikan konsekuensi
negatif terhadap aspek sosial dan emosional pada siswa akselerasi.
Tawil

(2010)

menyebutkan

beberapa

keunggulan

program

akselerasi, antara lain:


a. Lebih memberikan tantangan jika dibandingkan dengan kelas reguler.
b. Memberi kesempatan untuk belajar sesuai dengan kemampuan.
c. Siswa akan terstimulasi oleh lingkungan sosial karena berada dalam satu
kelas dengan siswa lain yang memiliki kemampuan intelektual
sebanding, sehingga tidak memungkinkan siswa untuk bermalasmalasan dalam belajar.
d. Dapat lulus pada waktu yang lebih cepat.
Keunggulan tersebut didukung dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Gross (1993) menemukan bahwa sebagian siswa cerdas
commit to user

43
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

kelas akselerasi merasakan dampak positif, diantaranya materi pelajaran


yang menantang, meningkatkan minat baca, sehingga kemajuan belajar juga
menjadi lebih cepat.
Tawil (2010) juga menyebutkan kelemahan program akselerasi,
antara lain:
a. Kesempatan siswa untuk bersosialisasi dengan teman sebaya berkurang,
sehingga memunculkan permasalahan sosial dan emosional.
b. Beban tugas yang terlalu banyak dapat menjadi tekanan bagi siswa dan
mengganggu kesehatan mental siswa berbakat.
c. Akselerasi atau percepatan pada bidang intelektual, belum dan kurang
diikuti dengan percepatan pada aspek lain.
Kelemahan kelas akselerasi tersebut didukung dengan hasil
penelitian oleh Gross (1994) mengatakan bahwa program akselerasi
cenderung menimbulkan masalah sosial emosional pada siswa akselerasi.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dijelaskan bahwa program
akelerasi memiliki beberapa keunggulan, yaitu mempercepat kelulusan,
memberikan tantangan pada siswa cerdas berbakat istimewa, dan
memberikan lingkungan yang sesuai bagi anak berbakat, sedangkan
kelemahan

program

akselerasi,

pada

umumnya

berkaitan

permasalahan penyesuaian sosial dan emosional siswa akselerasi.

commit to user

dengan

44
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

E.

Hubungan antara Body Image dan Kohesivitas Kelompok Teman


Sebaya dengan Penyesuaian Sosial
Individu terkadang kurang begitu memperhatikan permasalahan
interaksi dan penyesuaian sosial. Terutama pada siswa akselerasi yang
terkesan hanya mementingkan aspek akademis saja, padahal sebagai
makhluk sosial, anak cerdas berbakat istimewa juga mengalami
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat,
pemikiran, sikap, dan juga aktivitas dari anggota masyarakat lainnya
(Neihart, 2007).
Tawil (2010) menjelaskan bahwa berada dalam kelas akselerasi
menyebabkan anak menjadi jauh dari lingkungan sosial, serta menjadikan
siswa akselerasi sebagai suatu kelompok khusus. Kurangnya pergaulan
yang luas dan bervariasi dapat menyebabkan siswa akselerasi merasa
sebagai anggota masyarakat dengan tingkatan tersendiri sehingga sulit
melakukan penyesuaian dengan lingkungan sosial sekitar. Kartika (dalam
Maghviroh,

2009)

menjelaskan

hasil

penelitiannya

dengan

judul

Manajemen Pendidikan Program Akselerasi Studi Kasus di SMP Negeri 2


Semarang bahwa masalah yang biasa dihadapi oleh siswa akselerasi, di
antaranya adalah masalah dengan teman sebaya, masalah sosial, masalah
dengan guru dan orang tua, serta masalah kerja sama, dan perasaan sosial.
Crown (2001) mengungkapkan bahwa siswa berbakat memiliki
kesulitan dalam masalah komunikasi dan cenderung memilih kelompok
teman sebaya sebagai tempat berbagi masalah. Baker dkk. (1998)
commit to user

45
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

menyebutkan bahwa lingkungan sosial siswa berbakat termasuk teman


sebaya, dapat memberikan pengaruh pada tingkat prestasi siswa berbakat.
Kelekatan dan persahabatan teman sebaya pada sekolah menengah pertama
ataupun pada sekolah menengah atas, mampu memberikan pandangan
positif terhadap permasalahan yang dialami oleh siswa berbakat.
Pendapat ini diperkuat oleh hasil penelitian Chen dkk. (2008) yang
mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara penerimaan kelompok
teman sebaya dengan hubungan sosial remaja. Penerimaan teman sebaya
memberikan dampak positif bagi pencapaian prestasi akademik dan juga
berpengaruh terhadap kompetensi sosial seseorang.
Hasil

penelitian

yang

berfokus

pada

kemampuan

sosial

menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas kelompok teman sebaya


dengan kemampuan sosialisisasi seseorang. Aktivitas kelompok teman
sebaya misalnya responsivitas, otonomi, kohesivitas, dan juga kelekatan
antara individu dengan kelompok teman sebaya (Engels dan Rutger, 2002).
Fakta ini diperkuat dengan pendapat yang dikemukakan oleh Papalia dkk.
(2009) bahwa kapasitas untuk membangun kedekatan dan keakraban
dengan kelompok teman sebaya (peer group) berhubungan dengan
penyesuaian diri psikologis dan kompetensi sosial. Fotti dkk. (2006)
mengungkapkan bahwa kedekatan hubungan dengan teman sebaya (peers)
dan penerimaan sosial berpengaruh terhadap penyesuaian psikologis
remaja.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

46
digilib.uns.ac.id

Hasil penelitian Tarrant (2002) menunjukkan bahwa remaja pada


usia 14-15 tahun seringkali melakuakan perbandingan sosial dengan orang
lain, khususnya teman sebaya. Kelompok teman sebaya merupakan tempat
awal bagi remaja untuk mempelajari proses sosial yang akan digunakan
remaja sebagai bekal untuk merealisasikan hubungan sosial dalam
masyarakat di masa depan.
Solichatun (2004) menyebutkan bahwa kedekatan remaja yang
tinggi dengan kelompok teman sebaya dan kuatnya frekuensi kontak fisik
dan emosional dengan suatu kelompok, biasanya dirasakan remaja sebagai
kondisi yang memberikan rasa aman dalam menjalankan hubungan sosial.
Kontak remaja dengan kelompok teman sebaya memungkinkan remaja
memperoleh berbagai informasi dan pengalaman sosial yang dibutuhkan
untuk memenuhi kepuasan personal dalam mengembangkan hubungan
sosial dengan orang lain di luar lingkungan keluarga.
Remaja awal yaitu berkisar antara usia 12-13 tahun merupakan
masa yang ideal bagi individu untuk belajar membangun hubungan sosial
(Roseth dkk., 2008). Usia tersebut adalah saat terjadinya perubahan fisik
yang sangat cepat atau sering disebut sebagai masa pubertas. Remaja awal
mulai memberikan perhatian lebih terhadap anatomi tubuh, teman sebaya
(peers), serta penerimaan sosial. Santrock (2002) menjelaskan bahwa
remaja sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan
masa dewasa yang mencakup perubahan sosial emosional, kognitif, dan
biologis. Perubahan sosial emosional meliputi perubahan dalam hubungan
commit to user

47
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

individu dengan manusia lain, perubahan emosi, serta perubahan peran


dalam konteks sosial. Perubahan sosial yang dialami remaja menyebabkan
remaja harus menyesuaikan diri dengan teman sebaya dan orang dewasa
lainnya. Perubahan kognitif meliputi perubahan dalam pikiran, inteligensi,
dan bahasa tubuh, sedangkan perubahan biologis mencakup perubahanperubahan dalam hakikat fisik individu.
Remaja dalam melakukan perbandingan sosial dengan orang lain,
khususnya teman sebaya, seringkali melihat dan membandingkan tubuh
yang dimiliki dengan tubuh orang lain (Suprapto dan Aditomo, 2007).
Menurut Naimah dan Rahardjo (2008) bahwa pada masa remaja, terutama
masa remaja awal, individu selalu disibukkan dengan tubuh dan
penampilan fisik. Individu merasa perlu mengembangkan citra individual
mengenai gambaran tubuh. Citra tubuh atau sering disebut sebagai body
image merupakan gambaran mental remaja dalam menilai bentuk tubuh
dan penampilan fisik yang dimiliki.
Hurlock (2004) mengemukakan bahwa body image adalah evaluasi
dan persepsi terhadap keadaan fisik individu. Perkembangan biologis pada
remaja terlihat jelas dari perubahan tinggi badan, berkembangnya otot-otot
tubuh, dan sebagainya. Hal tersebut membuat remaja menjadi sensitif
terhadap gambaran fisik dan bentuk tubuh. Moore dan Smolak (2002)
menyatakan bahwa body image berkaitan erat dengan kesehatan psikis
seorang individu.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

48
digilib.uns.ac.id

Penampilan fisik yang menarik mempunyai arti penting dalam suatu


hubungan sosial pada remaja (Rice dan Dolgin, 2002). Daya tarik fisik
mempengaruhi perkembangan kepribadian, hubungan sosial, penerimaan
teman sebaya, dan juga perilaku sosial seorang remaja. Gerner dan Wilson
(2005) mengatakan bahwa penampilan fisik berhubungan dengan tingkat
penerimaan teman sebaya, perolehan dukungan sosial, serta keakraban
pertemanan. Papalia dkk. (2009) menjelaskan bahwa remaja yang sedang
mengalami perubahan fisik, merasa nyaman saat menjalin hubungan
dengan teman sebaya yang juga sedang mengalami perubahan serupa.
Hurlock (2004) mengungkapkan bahwa individu dalam interaksi
dengan teman sebaya mempunyai peluang yang sama untuk dapat
mempelajari ketrampilan sosial dan berpartisipasi dalam kelompok,
sehingga akan mampu melakukan penyesuaian sosial yang baik. Apabila
remaja memiliki body image positif, remaja akan merasa percaya diri dan
mampu melakukan social adjusment atau penyesuaian sosial dengan baik.
Remaja dengan body image negatif, akan selalu merasa tidak puas dengan
bentuk tubuh dan cenderung mengalami social maladjustment atau
permasalahan penyesuaian sosial.
Program akselerasi dibuat bukan untuk membatasi pergaulan dan
sosialisasi para siswa, namun dengan adanya pemadatan jadwal pelajaran
dan singkatnya waktu yang diberikan, cenderung mengakibatkan proses
sosialisasi dan penyesuaian sosial siswa akselerasi menjadi sangat
berkurang. Terkecuali pada beberapa siswa tertentu yang mampu merespon
commit to user

49
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

tugas dengan baik, sehingga terkadang siswa akselerasi masih memiliki


kesempatan untuk dapat bermain dengan teman-teman sebaya dari kelas
reguler (Zuhdi, 2006).
Berdasarkan uraian di atas, semakin tinggi body image dan
kohesivitas peer group pada siswa program akselerasi maka akan
mempengaruhi bagaimana penyesuaian sosial siswa akselerasi, baik di
lingkungan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat. Kemampuan
mengembangkan body image yang positif dan membina hubungan
persahabatan yang kohesif dengan kelompok teman sebaya (peer group)
akan meningkatkan kemampuan siswa akselerasi dalam melakukan
penyesuaian sosial.

F.

Kerangka Pikir

Body image

Penyesuaian sosial

Kohesivitas kelompok
teman sebaya
Gambar 1. Kerangka Pikir

commit to user

50
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Berdasarkan teori yang telah dipaparkan, dapat diketahui bahwa body image
dan kohesivitas kelompok teman sebaya, masing-masing memiliki hubungan
dengan penyesuaian sosial pada seorang remaja. Hubungan yang terjadi adalah
hubungan positif, yaitu apabila remaja memiliki body image positif dan
kohesivitas teman sebaya yang kuat, maka akan memiliki penyesuaian sosial
yang baik. Sebaliknya, apabila remaja memiliki body image negatif dan
kohesivitas teman sebaya yang tidak kuat, maka remaja tersebut akan
mengalami gangguan atau hambatan dalam penyesuaian sosial.

G.

Hipotesis

Berdasarkan teori yang telah diuraikan tersebut, maka hipotesis dalam


penelitian ini adalah: Ada hubungan positif antara body image dan kohesivitas
peer group dengan penyesuaian sosial pada siswa kelas VIII Program
Akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian


Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel tergantung

: Penyesuaian sosial

2.

: a. Body image

Variabel bebas

b. Kohesivitas kelompok teman sebaya

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian


Maksud definisi operasional yaitu untuk mengubah konsep-konsep pada
variabel penelitian yang masih bersifat teoritik atau abstrak menjadi konsep yang
dapat diukur secara empirik (Azwar, 2003). Variabel-variabel dalam penelitian ini
adalah:
1. Penyesuaian sosial
Penyesuaian sosial adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan
diri dengan kelompok maupun lingkungan sosial, mereaksi secara tepat
terhadap realitas dan situasi sosial yang terjadi dengan mematuhi normanorma peraturan sosial kemasyarakatan, yang merupakan kebutuhan
kehidupan sosial tanpa menimbulkan konflik bagi diri sendiri maupun
lingkungan.
Penyesuaian sosial dalam penelitian ini diungkap menggunakan skala
penyesuaian sosial yang disusun oleh peneliti sendiri berdasarkan aspek-aspek
commit to user
51

52
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

penyesuaian sosial yang dikemukakan oleh Hurlock (2004), yaitu aspek


penampilan nyata, penyesuaian diri terhadap kelompok, sikap sosial, dan
kepuasan pribadi. Seberapa tinggi penyesuaian sosial akan ditunjukkan
oleh skor yang diperoleh subjek melalui alat ukur skala model Likert.
Semakin tinggi skor skala penyesuaian yang diperoleh subjek menunjukkan
semakin tinggi penyesuaian sosial subjek, dan sebaliknya.

2. Body image
Body image adalah gambaran mental, persepsi, pikiran, dan perasaan
yang dimiliki individu terhadap ukuran tubuh, bentuk tubuh, serta berat tubuh
diri sendiri, yang mengarah kepada penampilan fisik berupa penilaian positif
atau negatif.
Body image dalam penelitian ini diungkap menggunakan skala body
image yang disusun oleh Yustisi (2009) berdasarkan aspek-aspek body image
dari MBSRQ-AS (Multidimensional Body Self-Relation QuestionnaireAppearance Scales)

yang dikemukakan oleh Cash dan Pruzinsky (2002),

yaitu aspek evaluasi penampilan, kepuasan terhadap bagian tubuh, kecemasan


menjadi gemuk, dan pengkategorian ukuran tubuh. Seberapa tinggi body
image akan ditunjukkan oleh skor yang diperoleh subjek melalui alat ukur
skala model Likert. Semakin tinggi skor skala body image yang diperoleh
subjek menunjukkan semakin tinggi body image subjek, dan sebaliknya.

commit to user

53
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3. Kohesivitas kelompok teman sebaya


Kohesivitas kelompok teman sebaya adalah kekuatan dalam diri
remaja sebagai bagian dari anggota suatu kelompok teman sebaya, sehingga
memunculkan tindakan saling menjaga dan mempertahankan keutuhan
kelompok, serta mencegah anggota meninggalkan kelompok. Hal ini dapat
diwujudkan dalam bentuk persahabatan yang cukup erat.
Kohesivitas kelompok teman sebaya dalam penelitian ini diungkap
menggunakan skala kohesivitas kelompok teman sebaya yang disusun oleh
Sakti (2008) berdasarkan aspek-aspek kohesivitas kelompok teman sebaya
yang dikemukakan oleh Shaw dan Costanzo (1989), yaitu aspek interaksi,
pengaruh sosial, produktivitas kelompok, dan kepuasan. Seberapa tinggi
kohesivitas kelompok teman sebaya akan ditunjukkan oleh skor yang
diperoleh subjek melalui alat ukur skala model Likert. Semakin tinggi skor
skala kohesivitas kelompok teman sebaya yang diperoleh subjek menunjukkan
semakin tinggi kohesivitas kelompok teman sebaya subjek, dan sebaliknya.

C. Populasi dan Sampel


Populasi adalah keseluruhan individu yang diselidiki paling sedikit
mempunyai sifat atau arti sama (Hadi, 2004). Populasi merupakan sejumlah
individu yang akan digeneralisasikan dari penelitian terhadap sampel penelitian.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII program akselerasi SMP
commit to user

54
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Negeri 2 Surakarta. Adapun jumlah populasi siswa kelas VIII program akselerasi
SMP Negeri 2 Surakarta tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 46 siswa.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diselidiki untuk menarik
kesimpulan atau merumuskan generalisasi. Sampel merupakan contoh dari objek
yang dipandang menggambarkan keadaan populasi (Hadi, 2004). Pada penelitian
ini digunakan seluruh populasi sebagai sampel, karena jumlah siswa kelas VIII
program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta yang sedikit, sehingga dalam
penelitian ini menggunakan seluruh populasi sebagai subjek penelitian yang
disebut sebagai penelitian populasi.

D. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang dipakai peneliti untuk
memperoleh data yang diselidiki (Suryabrata, 2004). Kualitas data ditentukan oleh
kualitas metode pengumpulan data dan alat ukur pengukuran, yaitu antara lain:
1. Sumber data
a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari subjek
penelitian dan merupakan data utama dalam penelitian. Data penelitian
tersebut diperoleh dari skala psikologi yang digunakan dalam penelitian,
yaitu skala penyesuaian sosial, skala body image, dan skala kohesivitas
kelompok teman sebaya.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

55
digilib.uns.ac.id

b. Data sekunder
Data sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari
tempat penelitian, berupa pengumpulan data dan informasi tentang profil
sekolah, jumlah pelajaran, daftar presensi siswa, surat keterangan sudah
melakukan penelitian, serta dokumentasi. Data sekunder diperoleh dengan
cara observasi dan interview kepada pihak-pihak yang terkait, seperti:
kepala sekolah, ketua program akselerasi, dan juga siswa akselerasi yang
menjadi subjek penelitian.

2. Metode pengumpulan data


Metode pengumpulan data adalah cara yang digunakan untuk
memperoleh data dalam penelitian. Baik dan buruknya hasil suatu penelitian,
bergantung pada teknik pengumpulan data, kualitas data, serta alat
pengukuran data (Suryabrata, 2004).
a. Data primer
Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari alat pengumpulan
data berupa skala. Skala yang digunakan dalam penelitian ini meliputi
skala penyesuaian sosial, skala body image, dan skala kohesivitas
kelompok teman sebaya.
Skala yang digunakan dalam penelitian ini dibuat dan berpedoman
pada skala model Likert yang telah dimodifikasi, yaitu menghilangkan
pilihan ragu-ragu, sehingga subjek akan memilih jawaban yang pasti ke
arah yang sesuai atau tidak sesuai dengan diri subjek. Menurut Hadi
commit to user

56
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

(1995) bahwa modifikasi skala model Likert dengan meniadakan kategori


jawaban yang di tengah, berdasarkan beberapa alasan yaitu:
1) Kategori undecided mempunyai arti ganda, dapat diartikan belum
mempunyai jawaban, atau belum memberikan keputusan, bisa juga
diartikan netral, setuju, tidak setuju, atau bahkan ragu-ragu. Kategori
jawaban ganda (multi interpretable) ini tentu saja tidak diharapkan
dalam suatu instrumen.
2) Tersedianya

jawaban

yang

di

tengah

dapat

menimbulkan

kecenderungan jawaban ke tengah (central tendency effect), terutama


bagi subjek yang ragu-ragu atas arah kecenderungan jawaban ke arah
setuju ataukah ke arah tidak setuju.
3) Maksud kategori jawaban Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, dan
Sangat Tidak Setuju terutama untuk melihat kecenderungan pendapat
subjek ke arah setuju atau ke arah tidak setuju. Jika disediakan kategori
jawaban tengah, akan menghilangkan banyak data penelitian sehingga
dapat mengurangi sejumlah informasi yang dapat dijaring dari subjek.
Hal

senada

juga

diungkapkan

oleh

Arikunto

(2007)

bahwa

kemungkinan jawaban di tengah sedapat mungkin dihindari. Pada penelitian


ini subjek diminta untuk memilih salah satu dari empat alternatif jawaban
yang sesuai dengan keadaan diri subjek.
Penyusunan aitem dalam skala ini dikelompokkan menjadi aitem
favourable dan aitem unfavourable dibuat dalam empat alternatif jawaban.
Cara penyekorannya adalah sebagai berikut:
commit to user

57
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 1.
Penilaian Pernyataan Favourable dan Unfavourable
Kategori Jawaban
Sangat Setuju (SS)
Setuju (S)
Tidak Setuju (TS)
Sangat Tidak Setuju (STS)

Penilaian Aitem
Favourable (F)
Unfavourable (UF)
4
1
3
2
2
3
1
4

a) Skala body image


Body image dalam penelitian ini diungkap menggunakan skala
body image yang disusun oleh Yustisi (2009) berdasarkan aspek-aspek
body image dari MBSRQ-AS (Multidimensional Body Self-Relation
Questionnaire-Appearance Scales)

yang dikemukakan oleh Cash dan

Pruzinsky (2002), yaitu aspek evaluasi penampilan, kepuasan terhadap


bagian tubuh, kecemasan menjadi gemuk, dan pengkategorian ukuran
tubuh. Jumlah aitem total skala body image ini sebanyak 60 aitem yang
terdiri dari 30 aitem favourable dan 30 aitem unfavourable.
Skala body image ini memiliki koefisien validitas bergerak dari
0,325 sampai dengan 0,768 dengan p < 0,05 dan memiliki koefisien
reliabilitas sebesar 0,960. Skala body image ini dimodifikasi oleh peneliti
dengan memperbaiki tata bahasa ataupun makna aitem-aitem, serta dengan
mengurangi jumlah aitem skala pada penelitian sebelumnya. Perbaikan
aitem dimaksudkan agar sesuai dengan kondisi subjek penelitian. Skala
body image ini merupakan skala model Likert, terdiri atas pernyataanpernyataan dengan menggunakan empat pilihan jawaban, yaitu sangat
commit
to user
setuju (SS), setuju (S), tidak
setuju
(TS), dan sangat tidak setuju (STS).

58
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Penilaian aitem favourable bergerak dari skor 4 (sangat setuju), 3 (setuju),


2 (tidak setuju), 1 (sangat tidak setuju). Penilaian aitem unfavourable
bergerak dari skor 1 (sangat setuju), 2 (setuju), 3 (tidak setuju), 4 (sangat
tidak setuju). Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek, maka semakin
tinggi pula penyesuaian sosial subjek tersebut, dan sebaliknya.

Tabel 2.
Blue Print Skala Body Image
No.
1.

2.

3.

Aspek

Indikator Perilaku

Evaluasi
Penampilan

1. Evaluasi terhadap
penampilan dari
diri pribadi dan
dari orang lain

Kepuasan
1. Kepuasan terhadap
terhadap Bagian
wajah dan kulit
Tubuh
2. Kepuasan terhadap
tubuh bagian
bawah/tengah/atas
Kecemasan
1. Ketakutan atau
Menjadi Gemuk
kewaspadaan
individu terhadap
kegemukan dan
berat badan
2. Kecenderungan
melakukan diet dan
membatasi pola
makan

4.

Pengkategorian
Ukuran Tubuh

1. Berat badan

2. Tinggi badan
Jumlah
(Persen)

commit to user

Nomor Aitem
F
UF
3, 7, 10,
11, 18, 20,
30, 36, 37,
39, 56

1, 4, 5, 13,
16, 25, 32,
48, 51, 50,
52, 58

42, 55

12, 22, 35

Jumlah
(Persen)

23
(38,33%)

11
(18,33%)
40, 41, 45

19, 31, 33

2, 6, 8, 17

44, 60
12
(20%)

9, 27, 54

15, 34, 46

14, 43, 53,


57
47, 49, 59
30
(50%)

21, 23, 26,


29
24, 28, 38
30
(50%)

14
(23,33%)
60
(100%)

59
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

b) Skala kohesivitas kelompok teman sebaya


Kohesivitas kelompok teman sebaya dalam penelitian ini diungkap
menggunakan skala kohesivitas kelompok teman sebaya yang disusun oleh
Sakti (2008) berdasarkan aspek-aspek kohesivitas kelompok teman sebaya
yang dikemukakan oleh Shaw dan Costanzo (1989), yaitu aspek interaksi,
pengaruh sosial, produktivitas kelompok, dan kepuasan. Jumlah aitem
total skala kohesivitas kelompok teman sebaya ini sebanyak 60 aitem yang
terdiri dari 32 aitem favourable dan 28 aitem unfavourable.
Skala kohesivitas kelompok teman sebaya ini memiliki koefisien
validitas bergerak dari 0,260 sampai dengan 0,868 dengan p < 0,05 dan
memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,963. Skala kohesivitas kelompok
teman sebaya ini dimodifikasi oleh peneliti dengan memperbaiki tata
bahasa ataupun makna aitem-aitem, serta dengan menambah jumlah aitem
skala pada penelitian sebelumnya. Perbaikan aitem juga dimaksudkan agar
sesuai dengan kondisi subjek penelitian. Skala kohesivitas kelompok
teman sebaya ini merupakan skala model Likert, terdiri atas pernyataanpernyataan dengan menggunakan empat pilihan jawaban, yaitu sangat
setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS).
Penilaian aitem favourable bergerak dari skor 4 (sangat setuju), 3 (setuju),
2 (tidak setuju), 1 (sangat tidak setuju), sedangkan penilaian aitem
unfavourable bergerak dari skor 1 (sangat setuju), 2 (setuju), 3 (tidak
setuju), 4 (sangat tidak setuju). Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek,
commit to user

60
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

semakin tinggi pula kohesivitas kelompok teman sebaya subjek tersebut,


dan sebaliknya.
Tabel 3.
Blue Print Skala Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya
No.
1.

2.

Aspek

Nomor Aitem
F
UF

Indikator Perilaku

Interaksi

Aktivitas saling
mempengaruhi antardua
individu atau lebih

Pengaruh
Sosial

Penyesuaian dan
penerimaan dengan
kondisi sosial

3.

Produktivitas
Kelompok

Kuantitas dan kualitas


aktivitas suatu kelompok

4.

Kepuasan

Perasaan puas dan


bangga terhadap
kelompok
Jumlah
(Persen)

Jumlah
(Persen)

1, 2, 3, 4,
5, 41, 42,
57

6, 7, 8, 9,
10, 43, 44

15
(25%)

21, 22, 23,


24, 25, 49,
50, 58

26, 27, 28,


29, 30, 51,
52

15
(25%)

11, 12, 13,


14, 15, 45,
46, 59

16, 17, 18,


19, 20, 47,
48

15
(25%)

31, 32, 33,


34, 35, 53,
54, 60

36, 37, 38,


39, 40, 55,
56

15
(25%)

32
(53,33%)

28
(46,67%)

60
(100%)

c) Skala penyesuaian sosial


Penyesuaian sosial dalam penelitian ini diungkapkan menggunakan
skala penyesuaian sosial yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan
aspek-aspek penyesuaian sosial yang dikemukakan oleh Hurlock (2004),
yaitu aspek penampilan nyata, penyesuaian diri terhadap kelompok, sikap
sosial, dan kepuasan pribadi. Jumlah aitem total skala penyesuaian sosial
ini sebanyak 60 aitem yang terdiri dari 32 aitem favourable dan 28 aitem
unfavourable.
commit to user

61
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Skala penyesuaian sosial ini merupakan skala model Likert, terdiri


atas pernyataan-pernyataan dengan menggunakan empat pilihan jawaban,
yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak
setuju (STS). Penilaian aitem favourable bergerak dari skor 4 (sangat
setuju), 3 (setuju), 2 (tidak setuju), 1 (sangat tidak setuju), sedangkan
penilaian aitem unfavourable bergerak dari skor

1 (sangat setuju), 2

(setuju), 3 (tidak setuju), 4 (sangat tidak setuju). Semakin tinggi skor yang
diperoleh subjek, maka semakin tinggi pula penyesuaian sosial subjek
tersebut dan sebaliknya.
Tabel 4.
Blue print Skala Penyesuaian Sosial
No.
1.

2.

3.

Aspek
Penampilan
Nyata

Tingkah laku yang


memenuhi harapan
kelompok

Penyesuaian
Diri terhadap
Kelompok

Kemampuan
menyesuaiakan diri
secara baik dengan
setiap kelompok yang
dimasuki, baik
kelompok teman
sebaya ataupun
kelompok orang
dewasa lainnya

Sikap Sosial

Nomor Aitem
F
UF

Indikator Perilaku

Sikap menyenangkan
orang lain serta
berpartisipasi
menjalankan peran
dengan baik dalam
kegiatan sosial

Jumlah
(Persen)

1, 9, 17,
25, 28, 31,
49

5, 13, 21,
37, 41, 45,
50

14
(23,33%)

2, 10, 18,
26, 29, 32,
38, 51, 57

6, 14, 22,
42, 46, 52,
58

16
(26,67%)

3, 11, 19,
27, 30, 33,
53

7, 15, 23,
39, 43, 47,
54

14
(23,33%)

commit to user

62
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.

Kepuasan
Pribadi

Kepuasan ikut ambil


bagian dalam aktivitas
kelompok serta mampu
menerima diri sendri
apa adanya
Jumlah
(Persen)

4, 12, 20,
24, 35, 36,
48, 55, 59

8, 16, 34,
40, 44, 56,
60

16
(26,67%)

32
(53,33%)

28
(46,67%)

60
(100%)

b. Data sekunder
Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan melalui
observasi dan interview kepada kepala sekolah SMP Negeri 2 Surakarta
mengenai orientasi kancah dan gambaran umum tentang profil SMP
Negeri 2 Surakarta. Interview juga dilaksanakan terhadap ketua program
akselerasi SMP Negeri 2 Surakarta untuk mengetahui dan mengumpulkan
informasi tentang siswa akselerasi yang merupakan subjek penelitian.
Selain itu, data sekunder yang dikumpulkan berupa dokumentasi tentang
lokasi dan pelaksanaan penelitian, serta data lainnya yang dapat
mendukung kelengkapan ataupun kesempurnaan penelitian ini.

E. Metode Analisis Data


Metode analisis data merupakan suatu metode yang digunakan untuk
menganalisis data hasil penelitian dalam rangka menguji kebenaran hipotesis dan
selanjutnya memberikan kesimpulan dari hasil yang diperoleh (Hadi, 2004).
Penelitian ini menggunakan metode statistik dalam menganalisis data yang
diperoleh, artinya bahwa metode ini memakai cara ilmiah untuk pengumpulan
commit to user

63
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

data, penyusunan, penyajian, serta menganalisis data penyelidikan yang berbentuk


angka-angka. Keseluruhan perhitungan dalam penelitian ini meliputi uji validitas,
uji reliabilitas, dan analisis data dilakukan dengan

bantuan komputer

menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 16.
Metode statistik menurut Hadi (2004) mempunyai tiga ciri pokok, yaitu:
1. Bekerja dengan angka-angka yang mempunyai dua arti yaitu sebagai jumlah
dan nilai.
2. Bersifat objektif, sehingga unsur-unsur subjektif dapat dihindari.
3. Bersifat universal, dalam arti dapat digunakan hampir dalam semua bidang
penelitian.

1. Validitas instrumen penelitian


Validitas adalah tingkat kemampuan instrumen dalam mengukur
atribut yang seharusnya diukur (Azwar, 2003). Uji validitas didasarkan pada
validitas isi, yakni telaah dan revisi butir pernyataan berdasarkan pendapat
profesional (professional judgement), yaitu pembimbing. Langkah selanjutnya
adalah mencari korelasi antara tiap-tiap skor aitem dengan skor total aitemnya
yang disebut dengan model uji validitas internal (Suryabrata, 2004).
Validitas internal adalah prosedur seleksi aitem berdasarkan data
empiris dengan melakukan analisis kuantitatif terhadap parameter-parameter
aitem.

Pada

tahap

ini

dilakukan

seleksi

aitem

berdasarkan

daya

diskriminasinya. Daya diskriminasi aitem adalah tingkat kemampuan aitem


dalam membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki
commit to user

64
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

dan yang tidak memiliki atribut yang diukur. Indeks daya diskriminasi aitem
merupakan indikator keselarasan atau konsistensi antara fungsi aitem dengan
fungsi skala secara keseluruhan yang dikenal dengan istilah konsistensi aitem
total (Azwar, 2003).
Pengujian daya diskriminasi aitem dilakukan dengan komputasi
koefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan suatu kriteria yang
relevan yaitu distribusi skor skala itu sendiri. Komputasi ini menghasilkan
koefisien korelasi aitem total yang dikenal pula dengan sebutan parameter
daya beda aitem. Semakin tinggi nilai koefisien korelasi yang bernilai positif
antara skor aitem dengan skor skala, berarti semakin tinggi konsistensi antara
aitem tersebut dengan skala secara keseluruhan yang berarti makin tiggi daya
bedanya. Apabila koefisien korelasi rendah mendekati nol, berarti fungsi aitem
tersebut tidak cocok dengan fungsi ukur skala dan daya bedanya tidak baik.
Apabila koefisien korelasi yang dimaksud ternyata berharga negatif, artinya
terdapat cacat serius pada aitem yang bersangkutan.
Uji validitas internal dalam penelitian ini menggunakan teknik
Bivariate Pearson atau sering disebut sebagai korelasi Product Moment
Pearson, yaitu dengan cara mengkorelasikan masing-masing skor aitem
dengan skor total (Priyatno, 2009). Pengujian validitas internal menggunakan
uji dua sisi dengan taraf signifikansi 0,05. Kriteria pengujian adalah sebagai
berikut:
a. Jika r hitung

r tabel (uji 2 sisi dengan signifikansi 0,05), maka aitem

tersebut berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid).


commit to user

65
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

b. Jika r hitung

r tabel (uji 2 sisi dengan signifikansi 0,05), maka aitem

tersebut tidak berkorelsi signifikan terhadap skor total (dinyatakan tidak


valid).
Guna mempermudah perhitungan,

digunakan program Statistical

Product and Sevice Solution (SPSS) versi 16.

2. Reliabilitas instrumen penelitian


Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali
pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil
yang relatif sama selama aspek yang diukur dalam diri subjek belum berubah.
Uji reliabilitas digunakan untuk menguji tingkat kestabilan hasil suatu
pengukuran. Reliabilitas mengacu pada konsistensi atau keterpercayaan hasil
ukur yang mengandung makna kecermatan pengukuran. Reliabilitas
dinyatakan dengan koefisien reliabilitas yang angkanya berada dalam rentang
0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka
1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas, sebaliknya koefisien reliabilitas yang
semakin rendah mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitas (Azwar,
2003). Batasan lain mengenai besarnya nilai koefisien reliabilitas yakni
apabila nilai koefisien reliabilitas kurang dari 0,6 adalah kurang baik,
sedangkan 0,7 dapat diterima, dan di atas 0,8 adalah baik (Priyatno, 2009).
Penelitian ini menggunakan batasan reliabilitas menurut Arikunto (2007)
commit to user

66
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

bahwa reliabilitas suatu skala dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbachs
Alpha

0,6. Penentuan kriteria indeks reliabilitas sebagai berikut:


Tabel. 5
Penentuan Kriteria Indeks Reliabilitas
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Interval
0,200
0,200 0,399
0,400 0,599
0,600 0,799
0,800 1,000

Kriteria
Sangat Rendah
Rendah
Cukup
Tinggi
Sangat Tinggi

Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan formula Alpha


Cronbach yaitu dengan membelah aitem-aitem sebanyak dua atau tiga bagian,
sehingga setiap belahan berisi aitem dengan

jumlah yang sama banyak

(Azwar, 2005). Teknik Alpha yang dikembangkan Cronbach dipilih untuk


mengukur

reliabilitas

antaraitem,

karena

teknik

ini

dinilai mampu

menunjukkan indeks konsistensi yang cukup sempurna. Guna mempermudah


perhitungan digunakan program Statistical Product and Service Solution
(SPSS) versi 16.

3. Uji hipotesis
Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis yaitu untuk
mengetahui hubungan antara body image dan kohesivitas peer group dengan
penyesuaian sosial pada siswa kelas VIII program akselerasi SMP Negeri 2
Surakarta dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda atau
disebut juga analisis regresi dua prediktor, dengan alasan karena penelitian ini
commit to user

67
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

terdiri atas dua variabel bebas yaitu body image dan kohesivitas peer group,
serta satu variabel tergantung yaitu penyesuaian sosial.
Uji hipotesis menggunakan analisis regresi linear berganda untuk
mengetahui hubungan antara variabel bebas satu dan variabel bebas lainnya
secara bersama-sama dengan variabel tergantung (Hadi, 2004). Guna
mempermudah perhitungan digunakan program Statistical Product and
Service Solution (SPSS) versi 16.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Persiapan Penelitian
1. Orientasi kancah penelitian
Nama Sekolah

: SMP Negeri 2 Surakarta

Alamat Sekolah : Jalan Apel 3, Jajar, Laweyan, Surakarta, 57144


No. Telepon

: (0271) 712942

Status Sekolah

: Negeri

Akreditasi

:A

Visi Sekolah

: Unggul dalam Prestasi Berwawasan Imtaq dan Iptek

Misi Sekolah

a. Melaksanakan pembelajaran dan pembinaan secara efektif dalam


meningkatkan prestasi ujian nasional dan ujian sekolah.
b. Melaksanakan pembelajaran secara efektif dalam meningkatkan
prestasi ulangan umum bagi siswa kelas VII dan VIII.
c. Melaksanakan pembinaan kepada siswa untuk meningkatkan prestasi
olahraga, kreatifitas, dan seni.
d. Melaksanakan pembinaan kepada siswa dalam bidang keagamaan,
pengetahuan, kepribadian, dan budi pekerti luhur.
e. Melaksanakan pembinaan kepada siswa dalam bidang ketrampilan
teknologi elektronika, sesuai dengan tuntutan jaman.
commit to user
68

69
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Selain menyelenggarakan program reguler, pada tahun 2005, SMP Negeri


2 Surakarta juga mulai membuka program khusus, yaitu program akselerasi.
Peneliti memilih SMP Negeri 2 Surakarta sebagai lokasi penelitian terhadap siswa
akselerasi, karena saat ini di Kota Surakarta hanya terdapat dua SMP yang
menyelenggarakan program akselerasi, yaitu salah satu diantaranya ialah SMP
Negeri 2 Surakarta. Sebelum melakukan penelitiian, terlebih dahulu dilakukan
survey awal untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan subjek penelitian.
Orientasi awal dilakukan peneliti pada bulan April 2010 dengan
menanyakan kepada pihak sekolah mengenai jadwal akademik pembelajaran
siswa kelas VIII program akselerasi agar tidak mengganggu jalannya kegiatan
belajar mengajar siswa kelas VIII program akselerasi sebagai subjek penelitian.
SMP Negeri 2 Surakarta terletak di Jalan Apel nomor 3, Kelurahan Jajar,
Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. Berdasarkan hasil survey awal tersebut,
peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian di SMP Negeri 2 Surakarta.
Pemilihan SMP Negeri 2 Surakarta sebagai lokasi penelitian didasarkan
pada beberapa pertimbangan, yaitu sebagai berikut:
a. Penelitian terhadap siswa program akselerasi, khususnya penelitian
mengenai body image dan kohesivitas kelompok teman sebaya dengan
penyesuaian sosial pada siswa kelas VIII program akselerasi di SMP
Negeri 2 Surakarta belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
b. Jumlah siswa kelas VIII program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta
memenuhi syarat untuk dilaksakannya suatu penelitian.
commit to user

70
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

c. Adanya ijin dari pihak SMP Negeri 2 Surakarta yang diperoleh peneliti
untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut.
Berdasarkan

Panduan

Akselerasi

(2009)

menjelaskan

bahwa

kurikulum program akselerasi apabila dilihat dari tata urutan penyajian,


satuan pelajaran, analisis program, serta jumlah jam pelajaran adalah sama
seperti yang diterapkan pada program reguler. Perbedaannya ialah bahwa
pada program reguler, satu semester ditempuh selama enam bulan, sedangkan
pada program akselerasi, satu semester harus diselesaikan dalam waktu empat
bulan. Waktu tiga tahun pada program reguler akan diselesaikan selama dua
tahun pada program akselerasi. Kurikulum program akselerasi dikembangkan
secara berdiferensiasi. Isi pelajaran berupa konsep dan proses kognitif tingkat
tinggi, strategi instruksional yang akomodatif dengan gaya belajar anak
berbakat, dan rencana yang memfasilitasi kinerja siswa. Komponen
kurikulum berdiferensiasi meliputi:
a. Materi pengalaman belajar yang menumbuhkan kreativitas.
b. Pengembangan dinamisasi mental dan tindakan kreatif.
c. Berorientasi pada proses, kegiatan aktif, penerapan tugas, serta memberi
peluang kepada siswa untuk memilih sendiri kegiatan belajar yang sesuai
dengan minat dan kemampuan siswa.
d. Komponen teknis, seperti: fasilitas, komposisi guru, pendekatan proses
belajar mengajar, dan penggunaan metode mengajar yang bervariasi.
Berdasarkan Panduan Akselerasi (2009) menyebutkan bahwa program
akselerasi dibuka untuk memberikan kesempatan kepada siswa berbakat agar
commit to user

71
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

dapat menyelesaikan pedidikan dalam waktu yang lebih cepat daripada


program reguler. Tujuan dibukanya program akselerasi di SMP Negeri 2
Surakarta adalah sebagai berikut:
a. Memenuhi kebutuhan siswa yang memiliki karakteristik spesifik dari segi
perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor.
b. Memenuhi hak asasi siswa berbakat sesuai dengan kebutuhan pendidikan
yang dibutuhkan.
c. Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan siswa.
d. Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri siswa.
e. Menimbang peran siswa sebagai aset masyarakat dan kebutuhan
masyarakat untuk pengisian peran.
f. Memberikan

penghargaan

kepada

siswa

berbakat

untuk

dapat

menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat.


g. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran bagi siswa berbakat.
h. Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung
berkembangnya potensi keunggulan siswa berbakat.
i. Memacu mutu siswa berbakat untuk meningkatkan kecerdasan spiritual,
intelektual, dan emosional, emosional secara seimbang.
SMP Negeri 2 Surakarta memiliki kondisi fisik yang cukup baik
dilengkapi dengan sarana prasarana yang menunjang keberlangsungan sistem
belajar mengajar. Fasilitas-fasilitas yang tersedia di SMP Negeri 2 Surakarta
antara lain:
commit to user

72
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

a. Fasilitas administrasi, satu ruang kepala sekolah, satu ruang wakil kepala
sekolah, satu ruang guru, dan satu ruang tata usaha.
b. Fasilitas untuk kegiatan belajar mengajar, 25 ruang kelas, satu
perpustakaan, satu laboratorium IPA, satu laboratorium IPS, satu
laboratorium bahasa, satu laboratorium komputer, satu ruang ketrampilan,
25 unit laptop, 25 buah LCD, dan komputer sebanyak 40 unit.
c. Fasilitas penunjang pendidikan, satu ruang OSIS, satu ruang koperasi, satu
ruang kegiatan ekstrakurikuler, satu ruang Bimbingan Konseling (BK),
satu ruang fotokopi, dan satu ruang UKS.
d. Fasilitas penunjang lainnya, satu masjid, satu ruang aula, satu lapangan
basket, satu lapangan voli, area hotspot, dua gardu satpam, tiga kantin
sekolah, satu ruang gudang, satu rumah penjaga, serta sepuluh toilet.
Siswa program reguler ataupun siswa program akselerasi mempunyai
kesempatan yang sama dalam penggunaan fasilitas sekolah. Fasilitas khusus
yang disediakan bagi siswa program akselerasi ialah ruang multimedia,
internet, AC, LCD, laptop, TV, VCD, dan kipas angin.
Tenaga pendidik yang disediakan untuk siswa program akselerasi di
SMP Negeri 2 Surakarta diwajibkan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Berpendidikan minimal S1.
b. Mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki.
c. Memiliki pengalaman mengajar pada program reguler sekurang-kurangnya
tiga tahun dengan prestasi yang baik.
commit to user

73
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

d. Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang anak berkemampuan


khusus serta memahami mengenai program akselerasi.
Kriteria siswa yang berhak mengikuti program akselerasi di SMP
Negeri 2 Surakarta antara lain:
a. Memiliki kemampuan intelektual umum dengan IQ 125, ditunjang adanya
kreativitas terhadap tugas, dan memiliki kecerdasan tinggi.
b. Memiliki nilai rapor Sekolah Dasar (SD) minimal 7,0 untuk semua mata
pelajaran.
c. Lulus Tes Kemampuan Akademik Tertulis, khusus bidang matematika,
bahasa indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan
Sosial (IPS) dengan nilai sekurang-kurangnya 7,0.
d. Lulus Tes Psikologi yang dilaksanakan oleh tim psikolog yang ditunjuk
panitia, meliputi: Tes Inteligensi Umum, Tes Kreativitas, Tes Inventori
Ketertarikan Terhadap Tugas, serta Tes Potensi Akademik.
e. Lulus Tes Kesehatan yang dilaksanakan oleh dokter yang ditunjuk panitia.
f. Lulus Tes Wawancara yang dilaksanakan oleh panitia.
g. Informasi data subjek yang diperoleh dari calon siswa, orang tua, dan
teman sebaya.
h. Kesediaan calon siswa dan persetujuan orang tua.
Standar kompetensi lulusan program akselerasi di SMP Negeri 2
Surakarta, yaitu siswa diharapkan memiliki:
a. Kualifikasi

perilaku

kognitif,

daya

tangkap

menyelesaikan setiap masalah yang dimiliki.


commit to user

cepat,

kritis,

cepat

74
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

b. Kualifikasi perilaku kreatif, rasa ingin tahu, imajinatif, suka akan


tantangan, berani mengambil resiko.
c. Kualifikasi perilaku kecerdasan emosi, pemahaman diri sendiri dan orang
lain, pengendalian diri, kemandirian, penyesuaian diri, harkat diri, budi
pekerti luhur.
d. Kualifikasi perilaku kecerdasan spiritual, pemahaman apa yang harus
dilakukan untuk mencapai kebahagiaan.
2. Persiapan penelitian
Persiapan penelitian dilakukan agar penelitian berjalan lancar dan
terarah. Hal-hal yang dipersiapkan adalah berkaitan dengan perijinan dan
penyusunan alat ukur yang digunakan dalam penelitian.
a. Persiapan administrasi
Persiapan administrasi penelitian meliputi segala urusan perijinan
yang diajukan pada pihak yang terkait dengan pelaksanaan penelitian.
Peneliti meminta surat pengantar dari Program Studi Psikologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta yang ditujukan kepada
kepala

sekolah

SMP

Negeri

Surakata

dengan

nomor

786/H27.1.17.3/TU/2010 agar dapat melaksanakan penelitian di SMP


Negeri 2 Surakarta. Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah,
peneliti baru bisa melakukan penelitian sesuai dengan jadwal yang telah
ditentukan.
b. Persiapan alat ukur
commit to user

75
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Penelitian ini menggunakan tiga skala psikologi, yaitu skala body


image, skala kohesivitas kelompok teman sebaya, dan skala penyesuaian
sosial. Diperlukan persiapan yang matang agar alat ukur dalam penelitian
ini layak dan siap untuk digunakan. Alat ukur yang digunakan dalam
penelitian ini telah melalui prosedur validitas alat ukur yaitu melalui
pengujian validitas isi. Pengujian validitas isi dilakukan dengan melihat
kesesuaian antara butir-butir aitem dalam alat ukur dengan blue print yang
telah ditentukan sebelumnya. Selain itu pengujian validitas isi juga melihat
kesesuaian antara aitem-aitem dengan definisi operasional yang hendak
diungkap. Pengujian validitas isi dilakukan secara rasional oleh
professional judgement, yaitu pembimbing.
1. Skala body image
Skala body image dalam penelitian ini dimodifikasi dari skala
body image yang disusun oleh Yustisi (2009) berdasarkan aspek-aspek
body image dari MBSRQ-AS (Multidimensional Body Self-Relation
Questionnaire-Appearance Scales) yang dikemukakan oleh Cash dan
Pruzinsky (2002), yaitu aspek evaluasi penampilan, kepuasan terhadap
bagian tubuh, kecemasan menjadi gemuk, dan pengkategorian ukuran
tubuh. Jumlah aitem total skala body image ini sebanyak 60 aitem yang
terdiri dari 30 aitem favourable dan 30 aitem unfavourable.
Skala body image ini merupakan skala model Likert, terdiri
atas pernyataan-pernyataan dengan menggunakan empat pilihan
jawaban, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan
commit to user

76
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

sangat tidak setuju (STS). Penilaian aitem favourable bergerak dari


skor 4 (sangat setuju), 3 (setuju), 2 (tidak setuju), 1 (sangat tidak
setuju). Penilaian aitem unfavourable bergerak dari skor 1 (sangat
setuju), 2 (setuju), 3 (tidak setuju), 4 (sangat tidak setuju). Semakin
tinggi skor yang diperoleh subjek, maka semakin tinggi pula
penyesuaian sosial subjek tersebut, dan sebaliknya.
Tabel 6.
Distribusi Aitem Skala Body Image
No.
1.

2.

3.

Aspek

Indikator Perilaku

Evaluasi
Penampilan

2. Evaluasi terhadap
penampilan dari
diri pribadi dan
dari orang lain

Kepuasan
3. Kepuasan terhadap
terhadap Bagian
wajah dan kulit
Tubuh
4. Kepuasan terhadap
tubuh bagian
bawah/tengah/atas
Kecemasan
3.
Ketakutan
Menjadi Gemuk
atau kewaspadaan
individu terhadap
kegemukan dan
berat badan
4.

4.

Pengkategorian
Ukuran Tubuh

Kecenderunga
n melakukan diet
dan membatasi
pola makan

2. Berat badan

2. Tinggi badan
Jumlah
(Persen)

commit to user

Nomor Aitem
F
UF
3, 7, 10,
11, 18,
20, 30,
36, 37,
39, 56

1, 4, 5,
13, 16,
25, 32 48,
51, 50,
52, , 58

42, 55

12, 22, 35

Jumlah
(Persen)

23
(38,33%)

11
(18,33%)
40, 41, 45

19, 31, 33

2, 6, 8, 17

44, 60
12
(20%)

9, 27, 54

15, 34, 46

14, 43,
53, 57
47, 49, 59
30
(50%)

21, 23,
26, 29
24, 28, 38
30
(50%)

14
(23,33%)
60
(100%)

77
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3. Skala kohesivitas kelompok teman sebaya


Skala kohesivitas kelompok teman sebaya dalam penelitian ini
dimodifikasi dari skala kohesivitas kelompok teman sebaya yang
disusun oleh Sakti (2008) berdasarkan aspek-aspek kohesivitas
kelompok teman sebaya yang dikemukakan oleh Shaw dan Costanzo
(1989),

yaitu aspek interaksi, pengaruh sosial, produktivitas

kelompok, dan kepuasan. Jumlah aitem total skala kohesivitas


kelompok teman sebaya ini sebanyak 60 aitem yang terdiri dari 32
aitem favourable dan 28 aitem unfavourable.
Skala kohesivitas kelompok teman sebaya ini merupakan skala
model Likert, terdiri atas pernyataan-pernyataan dengan menggunakan
empat pilihan jawaban, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak
setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Penilaian aitem favourable
bergerak dari skor 4 (sangat setuju), 3 (setuju), 2 (tidak setuju), 1
(sangat tidak setuju), sedangkan penilaian aitem unfavourable
bergerak dari skor 1 (sangat setuju), 2 (setuju), 3 (tidak setuju), 4
(sangat tidak setuju). Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek,
semakin tinggi pula kohesivitas kelompok teman sebaya subjek
tersebut, dan sebaliknya.
Tabel 7.
Distribusi Aitem Skala Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya
No.
1.

Aspek
Interaksi

Nomor Aitem
F
UF
Aktivitas saling
1, 2, 3, 4,
6, 7, 8, 9,
mempengaruhi
5, 41, 42,
10,
43, 44
commitatau
to user 57
antardua individu
Indikator Perilaku

Jumlah
(Persen)
15
(25%)

78
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

lebih
2.

3.

4.

Pengaruh
Sosial

Penyesuaian dan
penerimaan dengan
kondisi sosial

Produktivitas
Kelompok

Kuantitas dan kualitas


aktivitas suatu
kelompok

Kepuasan

Perasaan puas dan


bangga terhadap
kelompok
Jumlah
(Persen)

21, 22, 23,


24, 25, 49,
50, 58

26, 27, 28,


29, 30, 51,
52

15
(25%)

11, 12, 13,


14, 15, 45,
46, 59

16, 17, 18,


19, 20, 47,
48

15
(25%)

31, 32, 33,


34, 35, 53,
54, 60

36, 37, 38,


39, 40, 55,
56

15
(25%)

32
(53,33%)

28
(46,67%)

60
(100%)

4. Skala penyesuaian sosial


Skala penyesuaian sosial dalam penelitian ini disusun sendiri
oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek penyesuaian sosial yang
dikemukakan oleh Hurlock (2004), yaitu aspek penampilan nyata,
penyesuaian diri terhadap kelompok, sikap sosial, dan kepuasan
pribadi. Jumlah aitem total skala penyesuaian sosial ini sebanyak 60
aitem yang terdiri dari 32 aitem favourable dan 28 aitem
unfavourable.Skala penyesuaian sosial ini merupakan skala model
Likert, terdiri atas pernyataan-pernyataan dengan menggunakan empat
pilihan jawaban, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS),
dan sangat tidak setuju (STS). Penilaian aitem favourable bergerak
dari skor 4 (sangat setuju), 3 (setuju), 2 (tidak setuju), 1 (sangat tidak
setuju), sedangkan penilaian aitem unfavourable bergerak dari skor 1
(sangat setuju), 2 (setuju), 3 (tidak setuju), 4 (sangat tidak setuju).
commit to user

79
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek, maka semakin tinggi pula
penyesuaian sosial subjek tersebut, dan sebaliknya
Tabel 8.
Distribusi Aitem Skala Penyesuaian Sosial
No.
1.

2.

3.

4.

Aspek

Indikator Perilaku

Penampilan
Nyata

Tingkah laku yang


memenuhi harapan
kelompok

Penyesuaian
Diri terhadap
Kelompok

Kemampuan
menyesuaiakan diri
secara baik dengan
setiap kelompok
yang dimasuki, baik
kelompok teman
sebaya ataupun
kelompok orang
dewasa lainnya

Sikap Sosial

Kepuasan
Pribadi

Sikap menyenangkan
orang lain serta
berpartisipasi
menjalankan peran
dengan baik dalam
kegiatan sosial
Kepuasan ikut ambil
bagian dalam
aktivitas kelompok
serta mampu
menerima diri sendri
apa adanya

Jumlah
(Persen)

Nomor Aitem
F
UF

Jumlah
(Persen)

1, 9, 17,
25, 28, 31,
49

5, 13, 21,
37, 41, 45,
50

14
(23,33%)

2, 10, 18,
26, 29, 32,
38, 51, 57

6, 14, 22,
42, 46, 52,
58

16
(26,67%)

3, 11, 19,
27, 30, 33,
53

7, 15, 23,
39, 43, 47,
54

14
(23,33%)

4, 12, 20,
24, 35, 36,
48, 55, 59

8, 16, 34,
40, 44, 56,
60

16
(26,67%)

32
(53,33%)

28
(46,67%)

60
(100%)

3. Pelaksanaan uji coba


Skala yang digunakan dalam penelitian harus dilakukan uji coba
commit to user
terlebih dahulu agar memenuhi syarat-syarat sebagai alat ukur yang baik, yakni

80
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

valid dan reliabel. Uji coba dilaksanakan hari Senin, tanggal 20 September
2010 pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB dengan memberikan
skala body image, skala kohesivitas kelompok teman sebaya, dan skala
penyesuaian sosial kepada 46 siswa kelas VIII Program Akselerasi di SMP
Negeri 2 Surakarta. Penelitian ini menggunakan try out terpakai, sehingga
pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan satu kali, yaitu pada saat
pelaksanaan uji coba (try out). Data yang diperoleh pada saat pelaksanaan uji
coba akan digunakan untuk penghitungan uji validitas dan reliabilitas, yang
selanjutnya langsung digunakan untuk penghitungan analisis data (uji
hipotesisi).
Sebanyak 46 eksemplar skala yang dibagikan, kesemuanya dapat
terkumpul kembali dan memenuhi syarat untuk diberikan skor serta dianalisis.
Data skoring kemudian ditabulasikan untuk dilakukan uji validitas dan
reliabilitas. Pengujian validitas dan reliabilitas ketiga skala dilakukan dengan
bantuan komputer program Statistical Product and Service Solution (SPSS)
versi 16. Pengujian validitas dimaksudkan untuk mengetahui aitem-aitem valid
dan aitem-aitem gugur. Setelah diketahui aitem-aitem valid, selanjutnya
dilakukan penyusunan kembali nomor aitem baru. Data skoring dari aitemaitem valid inilah yang akan digunakan dalam penghitungan analisis data dan
interpretasi.

4. Uji validitas dan reliabilitas


commit to user

81
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Setelah dilakukan pemberian skor pada hasil pengisian skala,


selanjutnya dilakukan seleksi aitem skala psikologi untuk mendapatkan aitem
valid dari masing-masing skala yang akan dipergunakan dalam proses analisis
data. Data yang diperoleh kemudian ditabulasikan dan dianalisis untuk
mengetahui indeks daya beda aitem dan reliabilitas alat ukur. Uji validitas
internal dalam penelitian ini menggunakan teknik Bivariate Pearson atau
sering disebut sebagai korelasi Product Moment Pearson, yaitu dengan cara
mengkorelasikan masing-masing skor aitem dengan skor total. Pengujian
validitas internal menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi 0,05.
Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:
c. Jika r hitung

r tabel (uji 2 sisi dengan signifikansi 0,05) maka aitem

tersebut berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid).


d. Jika r hitung

r tabel (uji 2 sisi dengan signifikansi 0,05) maka aitem

tersebut tidak berkorelsi signifikan terhadap skor total (dinyatakan tidak


valid).
Uji reliabilitas digunakan untuk menguji tingkat kestabilan hasil suatu
pengukuran. Reliabilitas dinyatakan dengan koefisien reliabilitas yang
angkanya berada dalam rentang 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi
koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas,
sebaliknya koefisien reliabilitas yang semakin rendah mendekati 0 berarti
semakin rendah reliabilitas (Azwar, 2003). Penelitian ini menggunakan batasan
reliabilitas menurut Arikunto (2007) bahwa reliabilitas suatu skala dikatakan
baik jika memiliki nilai Cronbachs Alpha 0,6.
commit to user

82
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

1. Skala body image


Berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai korelasi antara skor aitem
dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel.
Pada taraf signifikansi 0,05 dan N = 46 diperoleh nilai r tabel sebesar 0,291.
Hasil uji validitas skala body image dapat diketahui bahwa dari 60 aitem,
terdapat 27 aitem yang dinyatakan gugur, yaitu aitem 1, 3, 4, 5, 11, 12, 13,
16, 24, 25, 28, 30, 32, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 45, 48, 49, 50, 54, 56, 58 dan
60. Adapun aitem yang dinyatakan valid sebanyak 33 aitem dengan indeks
daya beda berkisar antara 0,301 sampai dengan 0,676 yaitu aitem 2, 6, 7, 8,
9, 10, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 26, 27, 29, 31, 33, 34, 35, 42, 43,
44, 46, 47, 52, 52, 53, 55, 57, dan 59. Rincian distribusi aitem valid dan
gugur skala body image dapat dilihat pada tabel 9. Indeks daya beda
masing-masing aitem skala body image terlampir.
Tabel 9.
Distribusi Aitem Valid dan Gugur Skala Body Image
No.
1.

2.

3.

4.

Aspek
Evaluasi
Penampilan

Kepuasan
terhadap Bagian
Tubuh
Kecemasan
Menjadi Gemuk
Pengkategorian
Ukuran Tubuh
Jumlah

Favourable
Valid Gugur
7, 10,
18, 20

3, 11,
30, 36,
56, 37,
39

42, 55

40,41,
45

2, 6, 8,
9, 17,
54
27
14, 43,
47, 53,
49
57, 59
commit
to12user
18

Unfavourable
Valid Gugur
1, 4, 5,
13, 16,
51, 52 25, 32,
48, 50,
58

Jumlah Aitem
Valid Gugur

17

19, 22,
31, 33,
35

12

15, 34,
44, 46

60

21, 23,
26, 29

24, 28,
38

10

15

15

33

27

83
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil uji reliabilitas skala body image menunjukkan koefisien


reliabilitas sebesar 0,828. Hal ini berarti bahwa koefisien reliabilitas skala
body image termasuk dalam kaegori sangat tinggi, sehingga skala body
image dianggap cukup handal untuk digunakan sebagai alat ukur suatu
penelitian. Penghitungan dan perincian selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran.

2. Skala kohesivitas kelompok teman sebaya


Berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai korelasi antara skor aitem
dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel.
Pada taraf signifikansi 0,05 dan N = 46 diperoleh nilai r tabel sebesar 0,291.
Hasil uji validitas skala kohesivitas kelompok teman sebaya dapat diketahui
bahwa dari 60 aitem, terdapat 16 aitem yang dinyatakan gugur, yaitu aitem
10, 12, 13, 16, 17, 18, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 36, 42, 46, dan 48. Adapun
aitem yang dinyatakan valid sebanyak 44 aitem dengan indeks daya beda
berkisar antara 0,292 sampai dengan 0,710 yaitu aitem 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8,
9, 11, 14, 15, 19, 20, 21, 23, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 39, 40, 41,
43, 44, 45, 47, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, dan 60. Rincian
distribusi aitem valid dan gugur skala kohesivitas kelompok teman sebaya
dapat dilihat pada tabel 10. Indeks daya beda masing-masing aitem skala
kohesivitas kelompok teman sebaya.

commit to user

84
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 10.
Distribusi Aitem Valid dan Gugur Skala Kohesivitas Kelompok
Teman Sebaya
No.
1.

2.

3.

4.

Aspek
Interaksi

Pengaruh
Sosial
Produktivitas
Kelompok
Kepuasan

Jumlah

Favourable
Valid Gugur
1, 2, 3,
4, 5,
42
41, 57
21, 23,
22, 24,
49, 50,
25
58
11, 14,
12, 13,
15, 45,
46
59
31, 32,
33, 34,
35, 53,
54, 60
25
7

Unfavourable
Valid Gugur
6, 7, 8,
9, 43,
10
44

Jumlah Aitem
Valid Gugur
13

29, 30,
51, 52

26, 27,
28

19, 20,
47

16, 17,
18, 48

37, 38,
39, 40,
55, 56

36

14

19

44

16

Hasil uji reliabilitas skala kohesivitas kelompok teman sebaya


menunjukkan koefisien reliabilitas sebesar 0,890. Hal ini berarti bahwa
koefisien reliabilitas skala kohesivitas kelompok teman sebaya termasuk
dalam kategori sangat tinggi sehingga skala kohesivitas kelompok teman
sebaya dianggap cukup handal untuk dipergunakan sebagai alat ukur suatu
penelitian. Penghitungan dan perincian selengkapnya dapat dilihat pada
lampiran.

3. Skala penyesuaian sosial


Berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai korelasi antara skor aitem
dengan skor total. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai r tabel.
Pada taraf signifikansi 0,05 dan N = 46 diperoleh nilai r tabel sebesar 0,291.
commit to user
Hasil uji validitas skala penyesuaian
sosial dapat diketahui bahwa dari 60

85
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

aitem, terdapat 15 aitem yang dinyatakan gugur, yaitu aitem 3, 5, 6, 7, 14,


25, 41, 42, 46, 50, 52, 54, 55, 56, dan 57. Adapun aitem yang dinyatakan
valid sebanyak 45 aitem dengan indeks daya beda berkisar antara 0,306
sampai dengan 0,636 yaitu aitem 1, 2, 4, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 15, 16, 17, 18,
19, 20, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39,
40, 43, 44, 45, 47, 48, 49, 51, 53, 58, 59, dan 60. Rincian distribusi aitem
valid dan gugur skala penyesuaian sosial dapat dilihat pada tabel 11. Indeks
daya beda masing-masing aitem skala penyesuaian sosial terlampir.
Tabel 11.
Distribusi Aitem Valid dan Gugur Skala Penyesuaian Sosial
No.
1.

2.

3.

4.

Aspek
Penampilan
Nyata
Penyesuaian
Diri terhadap
Kelompok
Sikap Sosial

Kepuasan
Pribadi

Jumlah

Favourable
Valid Gugur
1, 9,
17, 28,
25
31, 49
2, 10,
18, 26,
57
29, 32,
38, 51
11, 19,
27, 30,
3
33, 53
4, 12,
20, 24,
55
35, 36,
48, 59
28
4

Unfavourable
Valid Gugur

Jumlah Aitem
Valid Gugur

13, 21,
37, 45

5, 41,
50

10

22, 58

6, 14,
42, 46,
52

10

15, 23,
39, 43,
47

7, 54

11

8, 16,
34, 40,
44, 60

56

14

17

11

45

15

Hasil uji reliabilitas skala penyesuaian sosial menunjukkan koefisien


reliabilitas sebesar 0,914. Hal ini berarti bahwa koefisien reliabilitas skala
penyesuaian sosial termasuk dalam kategoori sangat tinggi, sehingga skala
penyesuaian sosial dianggap cukup handal dipergunakan sebagai alat ukur
commit to user

86
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

suatu penelitian. Penghitungan dan perincian selengkapnya dapat dilihat


pada lampiran.
B. Pelaksanaan Penelitian
1. Penentuan subjek penelitian
Populasi

dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII program

akselerasi SMP Negeri 2 Surakarta. Jumlah populasi siswa kelas VIII


program akselerasi SMP Negeri 2 Surakarta tahun ajaran 2010/2011 sebanyak
46 siswa. Pada penelitian ini digunakan seluruh populasi sebagai sampel,
karena jumlah siswa kelas VIII program akselerasi di SMP Negeri 2
Surakarta yang sedikit, sehingga dalam penelitian ini menggunakan seluruh
populasi sebagai subjek penelitian yang disebut sebagai penelitian populasi.
Alasan penggunaan subjek siswa SMP kelas VIII karena siswa SMP kelas
VIII pada umumnya berada pada rentang usia antara 13-15 tahun dan
dimasukkan dalam kelompok remaja awal.
Tabel 12.
Jumlah Siswa Kelas VIII Program Akselerasi SMP Negeri 2 Surakarta
Tahun Pelajaran 2009/2010
Kelas
VIII Akselerasi 1
VIII Akselerasi 2
Jumlah

Jenis Kelamin
Putra
Putri
10
12
5
19
15
31

Jumlah
22
24
46

Penelitian ini menggunakan seluruh populasi sebagai subjek penelitian


yang disebut sebagai penelitian populasi, sehingga dalam penelitian ini tidak
menggunakan teknik pengambilan sampel (sampling). Penelitian ini
commit to user
menggunakan try out terpakai, yaitu pengambilan dan pengumpulan data

87
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

dilakukan satu kali, yakni pada saat pelaksanaan uji coba (try out). Data yang
terkumpul digunakan untuk dua kepentingan atau dua uji, yakni penghitungan
uji validitas dan reliabilitas seluruh aitem pada masing-masnig skala
psikologi, serta digunakan untuk penghitungan alaisis data (uji hipotesis).
Tabel 13.
Tingkat Body Image Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Tingkat Body Image


Tinggi
Rendah
Jumlah

Subjek Penelitian
Frekuensi
Persentase
Putra
Putri
Putra
Putri
8
13
53,333%
41,935%
7
18
46,667%
58,065%
15
31
100%
100%

2. Pengumpulan data
Pengumpulan data penelitian dilakukan pada saat yang sama dengan
pelaksanaan uji coba (try out) yaitu pada hari Senin, tanggal 20 September
2010, karena dalam penelitian ini menggunakan try out terpakai, artinya
pengambilan dan pengumpulan data dilakukan satu kali dan digunakan untuk
dua kepentingan atau dua uji, yakni penghitungan uji validitas dan reliabilitas
seluruh aitem pada tiap-tiap skala psikologi, serta digunakan untuk
penghitungan alaisis data (uji hipotesis).
Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menggunakan alat
ukur berupa skala body image yang terdiri dari 60 aitem, skala kohesivitas
kelompok teman sebaya yang terdiri dari 60 aitem, dan skala penyesuaian
sosial yang terdiri dari 60 aitem. Pembagian dan pengisian skala dilakukan
secara klasikal dengan menggunakan dua jam pelajaran setelah mendapatkan
commit to user
ijin dan tercapainya kesepakatan antara ketua program akselerasi, guru

perpustakaan.uns.ac.id

88
digilib.uns.ac.id

pengampu mata pelajaran, serta peneliti. Pengumpulan data dilaksanakan di


kelas VIII Akselerasi 2 pada pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 10.00
WIB. Dilanjutkan pengumpulan data di kelas VIII Akselerasi 1 pada pukul
10.00 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB.
Sebelum siswa mengerjakan skala penelitian yang diberikan, peneliti
terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangan
serta tujuan kegiatan yang akan dilakukan. Setelah subjek penelitian
menyatakan kesediaan untuk membantu, kemudian peneliti menjelaskan
tentang tata cara dan petunjuk pengisian skala serta memberikan contoh cara
mengerjakan skala tersebut. Selama subjek mengerjakan skala penelitian,
peneliti tetap berada di dalam kelas sampai subjek selesai mengerjakan, dan
mengumpulkan kembali skala yang telah diisi kepada peneliti. Pengambilan
skala dilakukan pada saat itu juga setelah skala selesai diisi oleh subjek. Skala
yang dibagikan sebanyak 46 eksemplar yang kesemuanya dapat kembali
kepada peneliti dan memenuhi syarat untuk diskor dan dianalisis.

3. Pelaksanaan skoring
Setelah data terkumpul, kemudian dilanjutkan dengan pemberian skor
pada hasil pengisian skala untuk keperluan analisis data. Ketiga skala
menggunakan sistem penilaian dengan kategori Sangat Setuju (SS), Setuju
(S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Aitem-aitem dalam
ketiga skala ini terdiri dari aitem favourable dan aitem unfavourable. Skor
setiap aitem valid yang diperoleh subjek penelitian dijumlahkan untuk
commit to user

89
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

masing-masing skala. Skor total setiap aitem valid dari masing-masing skala
inilah yang akan digunakan dalam penghitungan analisis data.

4. Penyusunan nomor aitem baru untuk penghitungan analisis data


Setelah melakukan uji validitas dan reliabilitas, langkah selanjutnya
adalah menyusun kembali aitem-aitem valid yang digunakan untuk
penghitungan analisis data dan interpretasi.
Tabel 14.
Distribusi Nomor Aitem Baru Skala Body Image
No.

Aspek

1.

Penampilan Nyata

2.

Penyesuaian Diri
terhadap Kelompok

3.

4.

Sikap Sosial

Kepuasan Pribadi

Jumlah

Nomor Aitem Valid


Favourable
Unfavourable
7(3), 10(6),
51(28), 52(29)
18(10), 20(12)
19(11), 22(14),
42(23), 55(31) 31(19), 33(20),
35(22)
2(1), 6(2),
15(8), 34(21),
8(4), 9(5),
44(25), 46(26)
17(9), 27(17)
14(7), 43(24),
21(13), 23(15),
47(27), 53(30),
26(16), 29(18)
57(32), 59(33)
18
15

Jumlah

Keterangan: nomor dalam tanda kurung ( ) adalah nomor aitem baru untuk
penghitungan analisis data dan interpretasi.

commit to user

6
8

10
33

90
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 15.
Distribusi Nomor Aitem Baru Skala Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya
No.
1.

2.

3.

4.

Aspek
Interaksi

Pengaruh Sosial

Produktivitas
Kelompok
Kepuasan

Jumlah

Nomor Aitem
Favourable
Unfavourable
1(1), 2(2), 3(3), 6(6), 7(7), 8(8),
4(4), 5(5),
9(9), 43(29),
41(28), 57(41)
44(30)
21(15), 23(16),
29(17), 30(18),
49(33), 50(34),
51(35), 52(36)
58(42)
11(10), 14(11),
19(13), 20(14),
15(12), 45(31),
47(32)
59(43)
31(19), 32(20),
37(24), 38(25),
33(21), 34(22),
39(26), 40(27),
35(23), 53(37),
55(39), 56(40)
54(38), 60(44)
25
19

Jumlah

13

14
44

Keterangan: nomor dalam tanda kurung ( ) adalah nomor aitem baru untuk
penghitungan analisis data dan interpretasi.

Tabel 16.
Distribusi Nomor Aitem Baru Skala Penyesuaian Sosial
No.
1.

2.

3.

4.

Aspek
Penampilan
Nyata
Penyesuaian
Diri terhadap
Kelompok
Sikap Sosial

Kepuasan
Pribadi

Jumlah

Nomor Aitem
Favourable
Unfavourable
1(1), 9(5),
13(9), 21(16),
17(12), 28(22),
37(31), 45(37)
31(25), 49(40)
2(2), 10(6),
18(13), 26(20),
22(17), 58(43)
29(23), 32(26),
38(32), 51(41)
11(7), 19(14),
15(10), 23(18),
27(21), 30(24),
39(33), 43(35),
33(27), 53(42)
47(38)
4(3), 12(8),
8(4), 16(11),
20(15), 24(19),
34(28), 40(34),
35(29), 36(30),
44(36), 60(45)
48(39), 59(44)
28
17

Jumlah

10

10

11

14
45

Keterangan: nomor dalam tanda kurung ( ) adalah nomor aitem baru untuk
penghitungan analisis data dan interpretasi.

commit to user

91
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

B. Hasil Analisis Data dan Interpretasi


Penghitungan analisis data dilakukan setelah uji asumsi dasar, yang
meliputi uji normalitas dan uji linieritas, serta uji asumsi klasik, yang meliputi uji
multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Penghitungan
analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan komputer program
Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 16.
1. Uji asumsi dasar
a. Uji normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data
berdistribusi normal atau tidak. Jika analisis menggunakan metode
parametrik, maka persyaratan normalitas harus terpenuhi, sehingga hasil
penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi (Priyatno, 2009). Uji
normalitas

dalam

penelitian

ini

menggunakan

uji

One

Sample

Kolmogorov-Smirnov dengan taraf signifikansi 0,05. Data dinyatakan


berdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih besar 5% atau 0,05.
Tabel 17.
Hasil Uji Normalitas
Tests of Normality
a

Kolmogorov-Smirnov
Statistic
Penyesuaian Sosial

.122

df

Shapiro-Wilk

Sig.

Statistic

df

Sig.

46

.084

.934

46

.012

.965

46

.184

.978

46

.511

Body Image

.104

46

.200

Kohesivitas KTS

.089

46

.200

a. Lilliefors Significance Correction


*. This is a lower bound of the true significance.

commit to user

92
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Berdasarkan

hasil di

atas,

dapat dilihat

pada

kolom

Kolmogorov-Smirnov dan dapat diketahui bahwa nilai signifikansi


penyesuaian sosial sebesar 0,084
sebesar 0,200

0,05 ; nilai signifikansi body image

0,05 ; serta nilai signifikansi kohesivitas kelompok teman

sebaya sebesar 0,200

0,05. Karena nilai signifikansi untuk seluruh

variable lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data pada
variabel penyesuaian sosial, body image, dan kohesivitas kelompok teman
sebaya berdistribusi normal. Angka statistik menunjukkan semakin kecil
nilainya, maka distribusi data semakin normal.

b.

Uji linearitas
Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel
mempunyai hubungan yang linier atau tidak secara signifikan. Uji
linieritas biasanya digunakan sebagai prasyarat dalam analisis korelasi atau
regresi linier. Pengujian pada program Statistical Product and Service
Solution (SPSS) versi 16 menggunakan Test for Linearity dengan taraf
signifikansi 0,05. Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang
linier bila nilai signifikansi (Linearity) kurang dari 0,05 (Priyatno, 2009).

commit to user

93
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 18.
Hasil Uji Linearitas antara Penyesuaian Sosial dengan Body Image
ANOVA Table
Sum of

Mean

Squares
Penyesuaian Between Groups (Combined)
Sosial * Body

Linearity

df

Square

Sig.

6233.942

30

207.798

1.723

.133

670.615

670.615

5.562

.032

5563.327

29

191.839

1.591

.173

1808.667

15

120.578

8042.609

45

Image
Deviation
from Linearity
Within Groups
Total

Tabel 19.
Hasil Uji Linearitas antara Penyesuaian Sosial dengan Kohesivitas
Kelompok Teman Sebaya
ANOVA Table

Sum of
Squares
Penyesuaian Between Groups (Combined)
Sosial *

Linearity

7360.275
5929.762

Mean
df

Square

262.867

6.549

.000

1 5929.762

147.737

.000

1.320

.279

28

Sig.

Kohesivitas
Deviation

KTS

from

1430.513

27

52.982

682.333

17

40.137

8042.609

45

Linearity
Within Groups
Total

commit to user

94
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara body image dengan


penyesuaian sosial menghasilkan nilai signifikansi pada Linearity sebesar
0,032. Karena nilai signifikansi yang dihasilkan kurang dari 0,05 maka dapat
disimpulkan bahwa antara variabel body image dengan penyesuaian sosial
terdapat hubungan yang linear.

Selain itu, diantara kohesivitas kelompok

teman sebaya dengan penyesuaian sosial juga menghasilkan nilai signifikansi


pada Linearity sebesar 0,000. Karena nilai signifikansi yang dihasilkan kurang
dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa antara kohesivitas kelompok teman
sebaya dengan penyesuaian sosial juga terdapat hubungan yang linier.

2. Uji asumsi klasik


a. Uji multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya
hubungan linier antara variabel independen dalam model regresi.
Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya
multikolinearitas. Pada pembahasan ini uji multikolinearitas dilakukan
dengan melihat nilai inflation factor (VIF) pada model regresi. Pada
umumnya, apabila nilai VIF lebih besar dari 5, maka suatu variabel bebas
mempunyai persoalan multikolinearitas dengan variabel bebas yang lain
(Priyatno, 2009).

commit to user

95
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 20.
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficients

Model
1

Unstandardized

Standardized

Collinearity

Coefficients

Coefficients

Statistics

B
(Constant)
Body Image
Kohesivitas
KTS

Std. Error

Beta

6.583

11.849

.189

.076

.183

.859

.076

Sig.

Tolerance

VIF

.556

.581

2.478

.017

.984 1.016

.835 11.334

.000

.984 1.016

a. Dependent Variable: Penyesuaian


Sosial

Berdasarkan hasil penghitungan di atas, dapat diketahui bahwa


nilai variance inflation factor (VIF) kedua variabel bebas, yaitu variabel
body image dan kohesivitas kelompok teman sebaya adalah 1,016. Hal
tersebut menunjukkan bahwa antarvariabel independen tidak terdapat
persoalan multikolinearitas, karena nilai VIF yang didapat kurang dari 5.

b. Uji heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya penyimpangan asumsi klasik heterosedastisitas, yaitu adanya
ketidaksamaan

varian dari

residual untuk semua pengamatan pada

model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi


adalah

tidak adanya gejala

heteroskedastisitas (Priyatno, 2009).

Metode pengujian untuk uji heteroskedastisitas pada penelitian ini


commit to user

96
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

menggunakan

uji Park, yaitu

nilai residual (Lnei2)

meregresikan

dengan masing-masing variabel independen (LnX1 dan LnX2). Kriteria


pengujian adalah sebagai berikut:
1.

Ho

: tidak ada gejala heteroskedastisitas

2.

Ha

: ada gejala heteroskedastisitas

3.

Ho diterima apabila t tabel

t hitung

t tabel yang berarti tidak

terdapat heteroskedastisitas dan Ho ditolak apabila t hitung


atau t hitung

t tabel

t tabel, yang berarti terdapat heteroskedastisitas.

Tabel 21.
Hasil Uji Heteroskedastisitas antara Penyesuaian Sosial
dengan Body Image
Coefficients

Model
1

Unstandardized

Standardized

Coefficients

Coefficients

B
(Constant)

Std. Error
2.368

13.338

-.035

2.954

Beta

Sig.
.178

.860

-.012

.991

lnx1

a. Dependent Variable: lnei2

commit to user

-.002

97
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 22.
Hasil Uji Heteroskedastisitas antara Penyesuaian Sosial dengan
Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya
Coefficients

Unstandardized

Standardized

Coefficients

Coefficients

Model

(Constant)

Std. Error

-26.007

21.272

5.736

4.323

Beta

Sig.

-1.223

.228

1.327

.191

lnx2

.196

a. Dependent Variable: lnei2

Hasil penghitungan di atas menunjukkan bahwa nilai t hitung


adalah -0,012 dan 1,327. Nilai t tabel dapat dicari dengan df = n 2 atau
df = 46 2 = 44 pada pengujian dua sisi (signifikansi 0,025), didapat
nilai tabel sebesar 2,015. Karena t hitung (-0,012 dan 1,327) berada pada
t tabel

t hitung

t tabel, sehingga -2,015

-0,012 dan 1,327

2,015

maka Ho diterima, artinya pengujian antara Lnei2 dengan LnX1 dan


Lnei2 dengan LnX2 tidak ada gejala heteroskedastisitas. Berdasarkan
penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ditemukan masalah
heteroskedastisitas pada model regresi dalam penelitian ini.

commit to user

98
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

c. Uji otokorelasi
Uji otokorelasi digunakan untuk mendeteksi apakah variabel
dependen tidak berkorelasi dengan dirinya sendiri, baik nilai periode
sebelumnya atau nilai periode sesudahnya. Prasyarat yang harus terpenuhi
adalah tidak adanya autokorelasi dalam model regresi. Pengujian
otokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji DW (Durbin-Watson).
Cara membaca hasil analisis yaitu dengan kriteria pengambilan jika nilai
DW = 2, maka tidak terjadi otokorelasi sempurna sebagai rule of tumb
(aturan ringkas). Jika nilai DW diantara 1,5 sampai dengan 2,5 maka data
tidak mengalami otokorelasi. Apabila nilai DW
otokorelasi positif, dan apabila nilai DW

1,5 disebut memiliki

2,5 sampai dengan 4 disebut

otokorelasi negatif (Priyatno, 2009).


Tabel 23.
Hasil Uji Otokorelasi
b

Model Summary

Model
1

R
.878

R Square
a

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate

.770

.759

Durbin-Watson

6.55728

2.261

a. Predictors: (Constant), Kohesivitas KTS, Body Image


b. Dependent Variable: Penyesuaian Sosial

Hasil penghitungan menunjukkan bahwa nilai DW sebesar 2,216.


Hasil tersebut menjelaskan bahwa tidak terdapat masalah otokorelasi
dalam penelitian ini, karena nilai DW sebesar 2,216 berada diantara 1,5
sampai dengan 2,5 maka data tidak mengalami otokorelasi.
commit to user

99
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3. Uji hipotesis
Setelah dilakukan uji asumsi dasar dan uji asumsi klasik, langkah
selanjutnya adalah melakukan penghitungan untuk menguji hipotesisi yang
diajukan dengan teknik analisis regresi linear berganda atau analisis dua
prediktor. Pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan F-test yang bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara variabel independen terhadap variabel
dependen secara simultan (bersama-sama).
Hasil F-test menunjukkan variabel independen secara bersama-sama
berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen jika nilai p-value
(pada kolom Sig.) lebih kecil dari

level of significant

yang

ditentukan,

yaitu taraf signifikansi 0,05 atau nilai F hitung (pada kolom F) lebih besar
dari nilai F tabel. Signifikan berarti hubungan yang terjadi dapat berlaku
untuk populasi, atau dengan kata lain dapat digeneralisasikan. Hasil F-test
dari output program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi
16 dapat dilihat pada tabel Anova.
Nilai koefisien korelasi ganda (R) pada Model Summary digunakan
untuk mengetahui hubungan antara dua variabel independen terhadap variabel
dependen secara serentak. Koefisien ini menunjukkan seberapa besar
hubungan yang terjadi antara variabel independen (X1 dan X2) secara
serentak terhadap variabel dependen (Y).

commit to user

100
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Nilai R berkisar antara 0 sampai dengan 1. Apabila nilai R semakin


mendekati 1 berarti hubungan yang terjadi semakin kuat, sebaliknya apabila
nilai r semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah
(Priyatno, 2009). Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi
ganda, adalah sebagai berikut:
Tabel 24.
Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi Ganda (R)
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Interval Nilai R
0,000 0,199
0,200 0,399
0,400 0,599
0,600 0,799
0,800 1,000

Interpretasi
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat Kuat

Pada Model Summary juga didapatkan nilai koefisien determinasi (R2)


untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel independen (X1
dan X2) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). apabila nilai R2
sama dengan 0, maka tidak ada sedikitpun persentase sumbangan pengaruh
yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen, sebaliknya
apabila nilai R2 sama dengan 1, maka persentase sumbangan pengaruh yang
diberikan variabel independen terhadap variabel dependen adalah sempurna.

commit to user

101
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 25.
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
b

ANOVA
Sum of
Model
1

Squares

Df

Mean Square

Regression

6193.698

3096.849

Residual

1848.911

43

42.998

Total

8042.609

45

F
72.023

Sig.
.000

a. Predictors: (Constant), Kohesivitas KTS, Body Image


b. Dependent Variable: Penyesuaian Sosial

Tabel 26.
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
b

Model Summary

Model
1

R
.878

R Square
a

Adjusted R

Std. Error of

Square

the Estimate

.770

.759

6.55728

a. Predictors: (Constant), Kohesivitas KTS, Body Image


b. Dependent Variable: Penyesuaian Sosial

Berdasarkan hasil penghitungan di atas, didapatkan nilai p-value (pada


kolom Sig.) sebesar 0,000

dari nilai taraf signifikansi 0,05 sedangkan nilai

F hitung sebesar 72,023

dari nilai F tabel sebesar 3,124. Hal ini berarti

bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima, yaitu
terdapat hubungan yang signifikan antara body image dan kohesivitas
kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial.

commit to user

102
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Nilai koefisien korelasi ganda (R) yang dihasilkan sebesar 0,878


menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sangat kuat antara body image
dan kohesivitas kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial. Hasil
penghitungan tersebut juga menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2).
Nilai ini digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh
variabel independen (X1 dan X2) secara serentak terhadap variabel dependen
(Y). Nilai R2

(R Square) sebesar 0,770 atau 77%, yang berari bahwa

persentase sumbangan pengaruh variabel independen yakni body image dan


kohesivitas kelompok teman sebaya terhadap variabel dependen yakni
penyesuaian sosial sebesar 77%. Sisanya sebesar 23% dipengaruhi atau
dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.

4. Sumbangan relatif dan sumbangan efektif


Sumbangan relatif dan sumbangan efektif memberikan informasi
tentang besarnya sumbangan pengaruh masing-masing variabel independen
atau prediktor terhadap variabel dependen dalam model regresi. Perbedaan
antara sumbangan relatif dengan sumbangan efektif yaitu sumbangan relatif
menunjukkan ukuran besarnya sumbangan suatu variabel independen
terhadap junlah kuadrat regresi, sedangkan sumbangan efektif menunjukkan
besarnya sumbangan suatu variabel independen terhadap keseluruhan
efektifitas garis regresi yang digunakan sebagai dasar prediksi. Hasil
penghitungan menunjukkan:
commit to user

103
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

a. Sumbangan relatif body image terhadap penyesuaian sosial sebesar 6,84%


dan sumbangan relatif

kohesivitas kelompok teman sebaya terhadap

penyesuaian sosial sebesar 93,16%.


b. Sumbangan efektif body image

terhadap penyesuaian sosial sebesar

5,2668% dan sumbangan efektif kohesivitas kelompok teman sebaya


terhadap penyesuaian sosial sebesar 71,7332%. Total sumbangan efektif
body image dan kohesivitas kelompok teman sebaya terhadap
penyesuaian sosial ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi (R2)
sebesar 0,770 atau 77%.

5. Uji korelasi
Uji

korelasi

dilakukan

untuk

mengetahui

besarnya

korelasi

antarvariabel dan untuk menguji keeratan (kekuatan) hubungan antara dua


variabel (Priyatno, 2009). Keeratan hubungan dinyatakan dalam bentuk
koefisien korelasi (r). Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien
korelasi ganda, adalah sebagai berikut:
Tabel 27.
Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi (r)
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Interval Koefisien
Korelasi (r)
0,000 0,199
0,200 0,399
0,400 0,599
0,600 0,799
0,800 1,000

commit to user

Interpretasi
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat Kuat

104
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 28.
Korelasi Tiap-Tiap Variabel Bebas dengan Variabel Tergantung
Correlations

Penyesuaian

Body

Kohesivitas

Sosial

Image

KTS

Penyesuaian Sosial Pearson Correlation

Sig. (2-tailed)

**

.000

46

46

46

Pearson Correlation

.289

.127

Sig. (2-tailed)

.052

N
Kohesivitas KTS

.859

.052

N
Body Image

.289

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)

.400

46

46

46

**

.127

.000

.400

46

46

.859

46

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan penghitungan didapatkan hasil sebagai berikut:


a. Nilai korelasi antara body image dengan penyesuaian sosial adalah sebesar
0,289 dengan tingkat signifikansi p = 0,052 (p

0,05) menunjukkan

hubungan yang kurang signifikan artinya ada hubungan yang rendah


antara body image dengan penyesuaian sosial. Arah hubungan yang
terjadi adalah positif, karena nilai r positif, artinya semakin tinggi body
image maka akan semakin meningkatkan penyesuaian sosial.

b. Nilai korelasi antara kohesivitas kelompok teman sebaya dengan


penyesuaian sosial sebesar 0,859 dengan tingkat signifikansi p = 0,000 (p
commit to user

105
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

0,05) menunjukkan hubungan yang signifikan artinya ada hubungan


yang sangat kuat antara kohesivitas kelompok teman sebaya dengan
penyesuaian sosial. Arah hubungan yang terjadi adalah positif, karena
nilai r positif, artinya semakin tinggi kohesivitas kelompok teman sebaya
maka akan semakin meningkatkan penyesuaian sosial.

6. Analisis deskriptif
Analisis deskriptif dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum
mengenai kondisi body image, kohesivitas kelompok teman sebaya, dan
penyesuaian sosial pada subjek yang diteliti.
Tabel 29.
Deskripsi Data Empirik
Descriptive Statistics
Std.
N

Minimum Maximum

Penyesuaian Sosial

46

123.00

Body Image

46

68.00

Kohesivitas KTS

46

114.00

Valid N (listwise)

46

Mean

Deviation

178.00 1.4217E2

13.36879

124.00

92.0217

12.91079

171.00 1.3757E2

13.00026

commit to user

106
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 30.
Deskripsi Data Penelitian
Data
Skala

Jml
Sbjk

Data

Hipotetik
Skor
Min

Skor
Maks

Empirik

SD

Skor
Min

Skor
Maks

M
SD

PS

46

45

180

112,5

22,5

123

178

142,1739

13,36879

BI

46

44

132

82,5

16,5

68

124

137,5652

12,91079

Koh
KTS

46

33

176

110

22

114

171

92,0217

13,00026

Keterangan:
Jml Sbjk
Min
Maks
M
SD

: Jumlah Subjek
: Minimal
: Maksimal
: Rerata
: Standar Deviasi

a. Kategorisasi tingkat penyesuaian sosial berdasarkan nilai subjek


Skala penyesuaian sosial akan dikategorikan untuk mengetahui tinggi
rendahnya nilai subjek. Kategorisasi yang dilakukan adalah dengan
mengasumsikan bahwa skor populasi subjek terdistribusi secara normal,
sehingga skor hipotetik didistribusi menurut model normal (Azwar, 2003).
Skor minimal yang diperoleh subjek adalah 45 x 1 = 45 dan skor maksimal
yang dapat diperoleh subjek adalah 45 x 4 = 180. Maka jarak sebarannya
adalah 180 45 = 135 dan setiap satuan deviasi standarnya bernilai 135 : 6 =
22,5 sedangkan rerata hipotetiknya adalah 45 x 2,5 = 112,5. Apabila subjek
digolongkan dalam lima kategorisasi, maka akan didapat kategorisasi serta
distribusi skor subjek seperti pada tabel 31.
commit to user

107
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 31.
Kriteria Kategori Skala Penyesuaian Sosial dan Distribusi Skor Subjek
Subjek
Standar Deviasi

(MH-3SD)

(MH-1,8SD)

Skor

Kategorisasi

Frek
(N)

Persentase

45

72

Sangat
Rendah

(MH-1,8SD)

(MH-0,6SD)

72

99

Rendah

(MH-0,6SD)

(MH+0,6SD)

99

126

Sedang

4,35

(MH+0,6SD)

(MH+1,8SD)

126

153

Tinggi

33

71,74

(MH+3SD)

153

180

Sangat Tinggi

11

23,91

46

100

(MH+1,8SD)

Jumlah

Rerata
Empirik

142,1739

Berdasarkan kategorisasi skala penyesuaian sosial seperti yang terlihat


pada tabel, dapat diketahui bahwa subjek secara umum memiliki tingkat
penyesuaian sosial yang tinggi.

b. Kategorisasi tingkat body image berdasarkan nilai subjek


Skala body image akan dikategorikan untuk mengetahui tinggi
rendahnya nilai subjek. Kategorisasi yang dilakukan adalah dengan
mengasumsikan bahwa skor populasi subjek terdistribusi secara normal,
sehingga skor hipotetik didistribusi menurut model normal (Azwar, 2003).
Skor minimal yang diperoleh subjek adalah 33 x 1 = 33 dan skor maksimal
yang dapat diperoleh subjek adalah 33 x 4 = 132. Maka jarak sebarannya
adalah 132 33 = 99 dan setiap satuan deviasi standarnya bernilai 99 : 6 = 16,5
sedangkan rerata hipotetiknya adalah 33 x 2,5 =
commit to user

82,5. Apabila subjek

108
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

digolongkan dalam lima kategorisasi, maka akan didapat kategorisasi serta


distribusi skor subjek seperti pada tabel 32.

Tabel 32.
Kriteria Kategori Skala Body Image dan Distribusi Skor Subjek
Subjek
Standar Deviasi

(MH-3SD)

(MH-1,8SD)

Skor

33

Kategorisasi

52,8

Frek
(N)

Persentase

Sangat
Rendah

(MH-1,8SD)

(MH-0,6SD)

52,8

72,6

Rendah

4,35

(MH-0,6SD)

(MH+0,6SD)

72,6

92,4

Sedang

23

50

(MH+0,6SD)

(MH+1,8SD)

92,4

112,2

Tinggi

18

39,13

132

Sangat Tinggi

6,52

46

100

(MH+1,8SD)

(MH+3SD)

Jumlah

112,2

Rerata
Empirik

92,0217

Berdasarkan kategorisasi skala body image seperti yang terlihat pada


tabel, dapat diketahui bahwa subjek secara umum memiliki tingkat body
image yang sedang.

c. Kategorisasi tingkat kohesivitas kelompok teman sebaya berdasarkan


nilai subjek
Skala kohesivitas kelompok teman sebaya akan dikategorikan untuk
mengetahui tinggi rendahnya nilai subjek. Kategorisasi yang dilakukan adalah
dengan mengasumsikan bahwa skor populasi subjek terdistribusi secara
normal, sehingga skor hipotetik didistribusi menurut model normal (Azwar,
2003). Skor minimal yang diperoleh subjek adalah 44 x 1 = 44 dan skor
commit to user

109
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

maksimal yang dapat diperoleh subjek adalah 44 x 4 = 176. Maka jarak


sebarannya adalah 176 44 = 132 dan setiap satuan deviasi standarnya
bernilai 132 : 6 = 22 sedangkan rerata hipotetiknya adalah 44 x 2,5 = 110.
Apabila subjek digolongkan dalam lima kategorisasi, maka akan didapat
kategorisasi serta distribusi skor subjek seperti pada tabel 33.
Tabel 33.
Kriteria Kategori Skala Kohesivitas Kelompok Teman Sebaya dan Distribusi
Skor Subjek
Subjek
Standar Deviasi

(MH-3SD)

(MH-1,8SD)

Skor

44

Kategorisasi

70,4

Frek
(N)

Persentase

Sangat
Rendah

(MH-1,8SD)

(MH-0,6SD)

70,4

96,8

Rendah

(MH-0,6SD)

(MH+0,6SD)

96,8

123,2

Sedang

10,87

(MH+0,6SD)

(MH+1,8SD)

123,2

149,6

Tinggi

33

71,74

176

Sangat Tinggi

17,39

46

100

(MH+1,8SD)

(MH+3SD)

149,6

Jumlah

Rerata
Empirik

137,5652

Berdasarkan kategorisasi skala kohesivitas kelompok teman sebaya seperti


yang terlihat pada tabel, dapat diketahui bahwa subjek secara umum memiliki
tingkat penyesuaian sosial yang tinggi.

C. Pembahasan
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini dapat diterima, yaitu ada hubungan yang signifikan antara body
image dan kohesivitas kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada
commit to user
siswa kelas VIII program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta. Hal tersebut

110
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

berdasarkan hasil output program Statistical Product and Service Solution


(SPSS) versi 16 dengan menggunakan penghitungan analisis regresi linier
berganda, yakni nilai p-value sebesar 0,000
sedangkan nilai F hitung sebesar 72,023

dari nilai taraf signifikansi 0,05

dari nilai F tabel sebesar 3,124 serta

nilai koefisien korelasi ganda (R) yang dihasilkan sebesar 0,878.


Nilai R Square sebesar 0,770 menunjukkan bahwa sumbangan pengaruh
dari body image dan kohesivitas kelompok teman sebaya secara bersama-sama
terhadap penyesuaian sosial pada siswa kelas VIII program akselerasi di SMP
Negeri 2 Surakarta yaitu sebesar 77%. Nilai R Square yang didapat juga
merupakan hasil penjumlahan dari sumbangan efektif. Sumbangan efektif dari
body image terhadap penyesuaian sosial sebesar 5,2668% sedangkan sumbangan
efektif dari kohesivitas kelompok teman sebaya terhadap penyesuaian sosial
sebesar 71,7332%. Terlihat bahwa kohesivitas kelompok teman sebaya
memberikan pengaruh yang lebih besar daripada pengaruh yang diberikan body
image terhadap penyesuaian sosial pada siswa kelas VIII program akselerasi di
SMP Negeri 2 Surakarta.
Berdasarkan hasil kategorisasi skala penyesuaian sosial, diketahui bahwa
subjek penelitian memiliki tingkat penyesuaian sosial yang tinggi dengan nilai
mean empirik sebesar 142,1739 berada pada rentang nilai antara 126 153. Hal
ini diasumsikan karena subjek telah mengenal lingkungan sekolah dan teman
sebaya selama kurang lebih satu tahun di kelas VII, serta dapat di terima oleh
lingkungan, sehingga penyesuaian sosial dapat terbentuk dengan baik.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

111
digilib.uns.ac.id

Sesuai dengan pendapat Hurlock (2004) bahwa penyesuaian dikatakan


baik apabila lingkungan di sekitar individu berada, dapat menerima individu
tersebut dengan baik pula. Selain itu, kenyataaan di lapangan menunjukkan bahwa
subjek penelitian yaitu siswa program akselerasi, pada umumnya merupakan
anak-anak yang berada di kelas sosial ekonomi atas atau menengah ke atas,
sehingga kemungkinan besar tidak memiliki permasalahan penyesuaian sosial.
Sebagaimana pendapat yang diungkapkan Zulkifli (2006) bahwa individu dengan
tingkat ekonomi rendah cenderung memilki permasalahan penyesuaian sosial.
Hasil koefisien korelasi antara body image dan penyesuaian sosial yakni
sebesar 0,289 dengan tingkat signifikansi p = 0,052 (p

0,05) menunjukkan

hubungan yang kurang signifikan artinya ada hubungan yang rendah antara body
image dengan penyesuaian sosial. Tingkat body image pada subjek penelitian
termasuk dalam kategori sedang dengan nilai mean empirik sebesar 92,0217
berada pada rentang nilai antara 72,6 92,4 artinya sebagian subjek memiliki
body image positif, dan sebagian yang lain memiliki body image negatif.
Meskipun tingkat body image subjek dalam penelitian ini berada dalam kategori
sedang, namun tingkat penyesuaian sosial subjek berada dalam kategori tinggi.
Hal ini kemungkinan disebabkan karena subjek mampu menerima keadaan
diri dan tubuh apa adanya, sehingga subjek memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Kepercayaan diri yang tinggi akan membentuk konsep diri positif yang mampu
mangarahkan individu untuk berpikir optimis dalam pergaulan, mampu
mengekspresikan seluruh potensi dihadapan teman-teman sebaya, sehingga
individu tersebut tidak akan menemukan kesulitan dalam penyesuaian sosial.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

112
digilib.uns.ac.id

Sesuai dengan pendapat Hurlock (2004) bahwa salah satu faktor yang turut
mempengaruhi penyesuaian sosial adalah konsep diri, yaitu cara pandang dan
penilaian individu pada diri sendiri yang akan berpengaruh pada kehidupan sosial
individu, terutama pada proses penyesuaian sosial yang dialami individu tersebut.
Body image adalah bagian dari konsep diri yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik
(Mappiare, 1982). Pendapat ini dibuktikan melalui hasil dari suatu penelitian yang
dilakukan oleh Ary (2005) yang mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang
positif dan signifikan antara konsep diri dengan penyesuaian sosial.
Nilai korelasi antara kohesivitas kelompok teman sebaya dengan
penyesuaian sosial sebesar 0,859 dengan tingkat signifikansi p = 0,000 (p

0,05)

menunjukkan hubungan yang signifikan artinya ada hubungan yang sangat kuat
antara kohesivitas kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial. Tingkat
kohesivitas kelompok teman sebaya yang dimiliki subjek termasuk dalam kategori
tinggi, dengan nilai mean empirik sebesar 137,5652 berada pada rentang nilai
antara 123,2 149,6 begitu juga dengan tingkat penyesuaian sosial yang diperoleh
subjek dapat digolongkan dalam kategori tinggi.
Hal tersebut membuktikan bahwa individu yang mampu menyesuaikan diri
dalam suatu kelompok sosial, cenderung memiliki penyesuaian sosial yang positif
serta dapat menjalin relasi sosial pada lingkungan yang lebih luas. Sebagaimana
yang dijelaskan oleh Hurlock (2004) bahwa penyesuaian sosial merupakan
kemampuan yang dimiliki individu untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri
terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap kelompok pada khususnya.
Individu dengan teman yang sesuai taraf perkembangan dan usia relatif sama,
commit to user

113
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

mampu melakukan penyesuaian yang baik karena individu tersebut memiliki


peluang yang sama untuk mempelajari berbagai ketrampilan sosial dan
berpartisipasi dalam kelompok. Penelitian yang dilakukan oleh Green dan
Wentzel (dalam Sawitri dkk., 2005) menemukan bahwa ada hubungan positif
antara penerimaan sosial teman sebaya dengan penyesuaian sosial.
Total sumbangan efektif dalam penelitian ini adalah sebesar 77%, sisanya
sebesar 23% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan
dalam penelitian ini. Pada dasarnya, banyak faktor yang turut mempengaruhi
penyesuaian sosial seperti yang diungkapkan oleh Schneiders (1985), antara lain
yakni faktor internal; meliputi emosi, rasa aman, penerimaan diri, ciri pribadi,
inteligensi, jenis kelamin, dan karakteristik individu dalam merespon pengalaman
hidup, serta faktor eksternal; meliputi keluarga, teman sebaya, lingkungan
masyarakat, dan budaya. Selain itu, masih terdapat banyak faktor menurut para
ahli lainnya yang dapat mempengaruhi penyesuaian sosial seorang individu.
Secara umum, hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara body image dan kohesivitas kelompok teman sebaya dengan
penyesuaian sosial pada siswa kelas VIII program akselerasi di SMP Negeri 2
Surakarta. Penelitian ini memiliki kelemahan dan keterbatasan, antara lain hanya
dapat digeneralisasikan secara terbatas pada populasi penelitian saja, sedangkan
penerapan penelitian untuk populasi yang lebih luas dengan karakteristik yang
berbeda, memerlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan atau
menambah variabel-variabel lain yang belum disertakan dalam penelitian ini.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada hubungan positif yang signifikan antara body image dan kohesivitas
kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada siswa kelas VIII
program akselerasi di SMP Negeri 2 Surakarta. Hal ini dibuktikan dengan hasil
analisis regresi linier berganda, yaitu diperoleh nilai p-value sebesar 0,000
dari nilai taraf signifikansi 0,05 sedangkan nilai F hitung sebesar 72,023

dari

nilai F tabel sebesar 3,124 serta nilai koefisien korelasi ganda (R) yang
dihasilkan sebesar 0,878.
2. Sumbangan relatif body image terhadap penyesuaian sosial sebesar 6,84% dan
sumbangan relatif kohesivitas kelompok teman sebaya terhadap penyesuaian
sosial sebesar 93,16%. Sumbangan efektif body image terhadap penyesuaian
sosial sebesar 5,2668% dan sumbangan efektif kohesivitas kelompok teman
sebaya terhadap penyesuaian sosial sebesar 71,7332%. Total sumbangan
efektif body image dan kohesivitas kelompok teman sebaya terhadap
penyesuaian sosial ditunjukkan oleh nilai koefisien dterminasi (R2) sebesar
0,770 atau 77%.

commit to user
114

115
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3. Hasil koefisien korelasi antara body image dengan penyesuaian sosial sebesar
0,289 dengan tingkat signifikansi p = 0,052 (p

0,05) menunjukkan hubungan

yang rendah antara body image dengan penyesuaian sosial. Hasil koefisien
korelasi antara kohesivitas kelompok teman sebaya dengan penyesuaian sosial
sebesar 0,859 dengan tingkat signifikansi p = 0,000 (p

0,05) menunjukkan

hubungan yang sangat kuat antara kohesivitas kelompok teman sebaya dengan
penyesuaian sosial.
4. Tingkat penyesuaian sosial pada subjek penelitian termasuk dalam kategori
tinggi (mean = 142,1739), sedangkan tingkat body image pada subjek
penelitian termasuk dalam kategori sedang (mean = 92,0217), serta tingkat
kohesivitas kelompok teman sebaya pada subjek penelitian termasuk dalam
kategori tinggi (mean = 137,5652).

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat dikemukakan
saran-saran sebagai berikut:
e. Bagi orang tua
Lingkungan keluarga terutama orang tua memiliki kontribusi besar
dalam pencapaian penyesuaian sosial yang baik bagi anak, dalam penelitian ini
adalah bagi siswa akselerasi. Orang tua diharapkan berupaya membangun
kemampuan penyesuaian sosial siswa akselerasi serta menciptakan lingkungan
psikologis yang dapat mempertahankan terwujudnya penyesuaian sosial yang
commit to user
baik, yakni dengan memberikan penghargaan kepada siswa akselerasi terhadap

116
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

kerja keras dan prestasi yang telah diraih oleh siswa akselerasi. Orang tua
diharapkan tidak terlalu memberikan penekanan dan tuntutan berlebihan
kepada siswa akselerasi, justru sebaliknya orang tua diharapkan untuk terus
memberikan dukungan dan motivasi kepada siswa akselerasi dalam menjalin
hubungan sosial dengan teman sebaya, masyarakat, dan lingkungan sekitar,
sehingga di samping memiliki prestasi tinggi dalam bidang akademik, siswa
akselerasi juga mampu melakukan penyesuaian sosial yang baik di lingkungan
sekitar.

f. Bagi lembaga pendidikan dan guru


Guru atau pendidik diharapkan dapat mempertahankan atau bahkan
mengembangkan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa
akselerasi dan melakukan evaluasi berkala terhadap kekurangan atau
kelemahan program akselerasi yang telah diterapkan, agar tercapai tujuan
pembelajaran yang lebih sempurna. Guru diharapkan tetap memberikan
pengarahan dan penjelasan kepada siswa akselerasi, karena meskipun memiliki
kapasitas intelektual yang tinggi, namun siswa akselerasi tetap membutuhkan
bimbingan guru dalam proses perkembangan sosial yang sedang dialami.
Melihat pengaruh program akselerasi terhadap aspek perkembangan sosial
siswa berbakat, maka diperlukan pembimbingan dan pendampingan bagi siswa
akselerasi oleh guru bimbingan konseling atau psikolog untuk memberikan
arahan yang berkaitan dengan aspek perkembangan sosial remaja.
commit to user

117
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Upaya peningkatan penyesuaian sosial bagi siswa akselerasi, dapat


dilakukan oleh

pihak sekolah atau lembaga pendidikan dan guru dengan

mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat menyatukan siswa akselerasi


dengan siswa reguler, sehingga proses sosialisasi siswa akselerasi dengan siswa
reguler tetap dapat berlangsung dengan baik. Misalnya kegiatan keagamaan,
pengajian, olahraga bersama, bakti sosial, bazaar, ajang kreativitas dan bakat,
perlombaan majalah dinding, pentas seni, dan lain sebagainya.
Belajar bergaul dan menyesuaikan diri dengan teman sebaya merupakan
suatu usaha untuk membangkitkan rasa sosial atau usaha memperoleh nilainilai sosial. Sehubungan dengan usaha kearah itu, pihak sekolah atau lembaga
pendidikan hendaknya secara eksplisit ikut menanamkan paham rasa sosial
yang demokratis. Guru memegang peranan penting dalam memahami
kehidupan sosial siswa baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat luas.
Berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, guru diharapkan dapat membantu
siswa yang mempunyai kesulitan dalam pergaulan dengan teman sebaya
ataupun kesulitan dalam penyesuaian sosial lainnya.

g. Bagi siswa
Siswa akselerasi diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri
yang tinggi, menerima keadaan tubuh dan fisik secara positif, serta
mengembangkan body image positif agar mampu mempertahankan hubungan
persahabatan yang erat dengan kelompok teman sebaya, sehingga dapat
melakukan penyesuaian sosial dengan baik di lingkungan masyarakat yang
commit to user

118
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

lebih luas. Siswa akselerasi dapat mempertahankan penyesuaian sosial yang


baik dengan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah
ataupun kegiatan sosial lainya di lingkungan rumah.
h. Bagi peneliti lain
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk lebih menyempurnakan
penelitian ini. Penelitian ini hanya meninjau sebagian hubungan saja, sehingga
bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mengadakan penelitian sejenis
atau penelitian dengan topik yang sama, diharapkan dapat memperhatikan
faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian sosial, seperti kondisi fisik,
pola asuh, perkembangan, kematangan intelektual, sosial, moral, serta emosi.
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperluas populasi dan
memperbanyak sampel, agar ruang lingkup dan generalisasi penelitian menjadi
lebih luas, serta mampu mencapai proporsi yang seimbang, sehingga
kesimpulan yang diperoleh akan lebih komprehensif. Penelitian berulang-ulang
disertai perubahan dan penyempurnaan dalam teknik pengukuran, pemakaian
alat ukur, prosedur penelitian, maupun perluasan ruang lingkup populasi
penelitian, diharapkan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih baik.

commit to user