Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

Potensi dan Aktualisasl Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam Dosen Pengampu : Prof.Dr.H.Abd.Halim Soebahar, MA.

Islam Dosen Pengampu : Prof.Dr.H.Abd.Halim Soebahar, MA . Disusun Oleh: Muhammad Ilham Akbar (084142080)

Disusun Oleh:

Muhammad Ilham Akbar

(084142080)

Kunzita Nawang Sasi L.I

(084142049)

Ahmad Syaifudin Zuhri

(084142068)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN JURUSAN BAHASA ARAB PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB DESEMBER 2015

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala Puji bagi Allah yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik serta Inayahnya sehinggaa kita diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat menyelesaikan tugas ini. Shalawat serta salam mudah-mudahan tetap tercuahkan pada baginda Rasulullah SAW yang telah membawa kita dari zaman Jahiliah menuju zaman yang terang benderang yakni Ad-dinul Islam. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu pendidikan islam yang berjudul Petensi dan Aktualisasi Mamnusia dalam Perspektif Pendidikan Islam”. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Prof.Dr.H.Abd.Halim Soebahar, MA selaku dosen pembimbing yang telah membimbing kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik. Kami menyadari dalam makalah ini tentunya ada kekurangan atau kesalahan dalam penulisan, untuk itu kami mohon maaf. Kami bersedia menerima kritik dan saran yang membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Penyusun,

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

I

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan Masalah

2

C. Tujuan Masalah

2

BAB II PEMBAHASAN

3

A. Esensi Manusia

3

B. Potensi Manusia

7

C. Aktualisasi Potensi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam

 

10

BAB III PENUTUP

13

Kesimpulan dan Saran

13

DAFTAR PUSTAKA

14

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

II

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Apabila kita berbicara tentang hakikat pendidikan Islam, maka dapat terlepas dari pembicaraan tentang pengertian/definisi pendidikan Islam secara umum. Hal ini disebabkan dalam pengertian pendidikan Islam tercermin paradigma pendidikan Islam yang akan dibangun, dijabarkan, serta di- kembangkan ke arah pendidikan Islam dalam bentuk operasional. Dengan kata lain, proses/sistem dan model yang dipraktikkan oleh seorang pendidik banyak bergantung pada bagaimana memahami makna pendidikan Islam itu sendiri. Akan tetapi, para pakar pendidikan sampai saat ini belum ada kesepahaman dalam mendefinisikan pengertian pendidikan. Berikut ini akan penulis kutipkan tentang beberapa definisi pendidikan Islam menurut beberapa tokoh. Sayid Sabiq mendefinisikan pendidikan Islam sebagai suatu aktivitas yang mempunyai tujuan mempersiapkan anak didik dari segi jasmani, akal, dan rohaninya sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun ummatnya (masyarakatnya). 1 Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, mendefinisikan pendidikan Islam sebagai proses mengubah tingkah laku yang terjadi pada diri individu maupun masyarakat. 2 Muhammad S. A. Ibrahimi mengartikan pendidikan Islam sebagai suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam sehingga dapat dengan mudah untuk membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan ajaran Islam. Sepintas lalu dengan mencermati beberapa pengertian di atas, pendidikan Islam merupakan proses bukan aktivitas yang bersifat instant.

1 Sayyid Sabiq, Islamuna (Beirut: Darul Kitab, TT), hal. 237. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh M. Slamet Yahyan dalam jurnal pemikiran alternatif pendidikan “Pendidikan Islam dalam Pengembangan Potensi Manusia”. 2 Omar Muhammad al-Toumy as-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 134. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh M. Slamet Yahyan dalam jurnal pemikiran alternatif pendidikan Pendidikan Islam dalam Pengembangan Potensi Manusia”.

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

1

Dengan demikian, pendidikan Islam merupakan upaya untuk menyeimbangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan berdasarkan nilai-nilai luhur dan kehidupan mulia sehingga terbentuk pribadi yang sempurna, baik berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan. Beberapa uraian tersebut memberikan suatu gambaran bahwa keduanya merupakan satu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Di samping itu, pendidikan Islam juga mempunyai tujuan membentuk manusia yang pada akhirnya di samping mempunyai kualitas yang tinggi secara individual/personal (kesalehan individual) 3 juga mempunyai kualitas yang tinggi secara impersonal/sosial (kesalehan sosial).

B. Rumusan Masalah

1. Apa esensi manusia ?

2. Apa potensi manusia ?

3. Bagaimana mengaktualisasikan potensi manusia dalam perspektif pendidikan islam ?

C. Tujuan

1. Mengetahui esensi manusia

2. Mengetahi potensi manusia

3. Mengetahui aktualisasi potensi manusia dalam perspektif pendidikan islam

3 Lihat, Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hal. l0. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh M. Slamet Yahyan dalam jurnal pemikiran alternatif pendidikan Pendidikan Islam dalam Pengembangan Potensi Manusia”.

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Esensi Manusia Al Quran memperkenalkan tiga istilah kunci dasar (key term) yang mengacu paada makna pokok manusia, yaitu basyar, al insaan dan al naas. Ahli menambahkan istilah lain yang mengacu pada makna manusia yaitu Adam, representasi manusia. Penggunaan ketiga istilah itu jelas memiliki makna signifikan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi kerancuan semantik, kita harus memahami dalam konteks apa manusiadisebut basyar, dan dalam konteks apapula manusia disebut al insan dan al naas. 4

1. Basyar Kata basyar disebut dalam Al Quran sebanyak 35 kali yang dikatkan dengan dengan manusia sebanyak 25 kali dihubungkan dengan nabi rasul. Dalam seluruh ayat tersebut, kata basyar memberikan referensi manusia sebagai makhluk biologis. Lihatlah kasus kasmarannya Zulaikha kepada Nabi Yususf AS. Bukan saja Zulaikha, wanita wanita pembesar Mesir lainnya pun takjub ketika melihat ketampanan Nabi Yusuf. Mereka berkata :

َٰ٣١َٰ

ك َٰ

ي

م

َٰ

ر

ّ

َٰ

َ

ك ل لّ َٰ ه ن شَ ا ه

َٰ

إ

ا

َٰ ذ

َٰ

ّ

َٰ

إ ا

َٰ

ّ

ً

م َٰ

َٰ

ب

َٰ ذ

َٰ

َ

ا َٰ لِلّ َٰ ح

َٰ م َّٰ َٰش َٰ

"Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia" ( Yusuf/12:31). Konteks ayat tersebut tidak memandang Yusuf dari segi moralitas atau intelektualitasnyasehingga dikagumi oleh masyarakat dan pembesar Mesir - , tetapi lebih pada perawakannya yang tampan dan penampilannya yang mempesona. Wanita wanita dan pembesar itu takjub dan kagum terhadap ketampanan Nabi Yusuf, dan itu tidak lain adalah masalah biologis. Lihat pula jawaban Maryam kepada “laki- laki” (dalam Al – Quran dinyatakan malaikat) yang datang mendatanginya untuk membawa pesan Tuhan bahwa ia akan dikaruniai seorang anak. Ia berkata :

4 Muhammad Tholhah Hasan, hal. 125, Dinamika Kehidupan Religius

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

3

َٰ َٰ٤٧

ر

َٰ شَ َٰ

َٰ

ب

َٰن س

ّ

َٰ

ي م ل ل

م

َٰ

س

َٰ

َٰ

و َٰ

َٰ

و َٰ

َٰ

ّ

َٰ ل َٰ

نو ُ ك ُ

َٰ

ي نّ َٰ َٰ

أ

َ

“Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal aku belum pernah ‘disentuh’ basyar” ( Al – Imran/3:47). Maryam berkata begitu sebab dia tahu bahwa yang dapat “menyetuh” (baca: hubungan seksual) itu hanya manusia dalam arti biologis, dan anak adalah buah dari hubungan seksual antara laki laki dan perempuan. Nalar Maryam tidak menerima, bagaimana mungkin akan punya anak padahal dia tidak pernah berhubungan dengan laki laki. Dengan alasan yang sama dapat dimengerti mengapa suatu kaum yang diseru para nabi menolak ajarannya sebab mereka beranggapan bahwa nabi hanyalah basyar, manusia biasa “seperti kita” yang makan, minum, jalan – jalan di pasar dan aktivitas lain. Dalam ayat disebut bahwa nabi itu “seperti kamu” dan berasal dari komunitasmu sendiri. Karena itu, dalam pandangan mereka, ajakan nabi tidak harus dan mesti dipatuhi.

َٰ َٰ٣٣َٰ

نو ُ شَ

َٰ

ت ا َٰ ب شَ ي َٰ نمّ نو ل َٰ َٰ م مّ َٰ

َٰ م مّ

َٰ

َٰ

و

َٰ ه

َٰ

ك ا

َٰ

َٰ

ل

َ

ُ

ُ

ُ

ُ

أ ت

َ

ُ ُ

َٰ ك

بُو َٰ

أ

َٰ

َٰ

َٰ

ُ

ُ

ل

ب

َٰ

َ

إ

ا

َٰ ذ

َٰ

ّ

َٰ م

ي م ك َّٰ َٰ

ث شَ لّ َٰ ه

َٰ

َٰ

َٰ

ا

م

"(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum” (al

Mu’minun/23:33)

Keterjebakan orang kafir terletak pada pandangannya yang melihat seorang nabi hanya pada sisi biologis. Mereka tidak mempertimbangkan aspek lain dari kehadiran seorang utusan dari Tuhan, misalnya kapasitas, moralitas, kredibilitas kepribadiannya, atau akseptabilitasnya di mata umatnya. Mereka merujuk dari nabi nabi sebelumnya, Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk menegaskan bahwa secara biologis ia memang seperti manusia yang lain,

َٰ

َٰ ١١٠ َٰ

َ

ل

َٰ

ّ إ َٰ

َٰ

ى

حو م ك َٰ َٰ

ُ

ي َٰ

َٰ

ُ

ُ

ل

م ّ شَ ا ن ا م ن َ

ث

َٰ

ب

َٰ

َٰ

َٰ

َٰ

أ

إ ل َٰ

ّ

ق ُ

َٰ

Katakanlah (Muhammad kepada mereka) Sesungguhnya aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu, hanya saja aku diberi wahyu (oleh Allah dan diberi mandat untuk menyampaikan dakwah)” (Al – Kahfi/18:110).

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

4

Kelebihan dan letak perbedaan nabi dari manusia dalam komunitasnya bukan dari aspek biologisnya, tetapi keterutusannya dan penunjukkan langsung dari Tuhan untuk membawa risalah-Nya. Pada sisi inilah nabi dipandang sebagai “manusia luar biasa”. Beberapa ayat diatas dengan jelas menegaskan bahwa konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat sifat kebtuhan (biologis) manusia yang mempunyai bentuk/postur tubuh mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani.

.

2. Al Insan

Kata al insan disebut sebanyak 65 kali dalam al Quran. Hampir semua ayat yang menyebut manusia dengan menggunakan kata al insan, konteksnya selalu menampilkan manusia sebagai makhluk yang istimewa, secara moral maupun spritual. Makhluk yang memiliki keistimewaan dan keunggualan keunggulan yang tidak di miliki oleh mahkluk lain. Keunggulan manusia terletak pada wujud kejadiannya sebagai makhluk yang diciptakan dengan kualitas ahsanu taqwim sebaik baik penciptaan (al-

Tin/95:5) meskipun ia diciptakan dari segumpal darah atau tanah liat

قَل خ

َ

َ

قَل

ع

َ

ن م ن ٰنسَ ل ٱ

َ َ

ۡ

إ

إ

ۡ

“Allah menciptakan manusia dengan ‘alaq (segumpal darah)”.

Manusia juga disebut sebagai makhluk yang dipilih oleh Tuhan,

ُ هُّب

ر

َ

ُ ه َ ب َ ت

ج ٱ

ۡ

(Thaha/20:122).

Kata

ناٰنسَلاا

dipakai

untuk

menyebut

manusia

dalam

konteks

kedudukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan kelebihan. Pertama, manusia sebagai makhluk berfikir. Kedua, makhluk pembawa amanah. Ketiga, manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab pada semua yang diperbuat. Tiga hal itu merupakan keistimewaan manusia

yang hampir selalu disebut oeleh al Quran dengan menggunakan ناٰنسَلاا,

menunjukkan kualitas pemikiran rasional dan kesadaran yang khusus dimiliki

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

5

manusia. Dalam hubungan inilah, setelah Allah mengingatkan sifat al insan yang labil dan cenderung lupa driri.

3. Al Nas

Konsep al nas mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. Manusia dalam arti al- nas ini paling banyak disebut dalam Al Quran (240 kali). Bisa dilihat dalam seluruh ayat yang menggunakan kata, ya ayyuhan n- nas. Misalnya :

َٰ َٰ ١٣َٰ

را ع

َٰ ا َٰ و

َٰ

ف

َٰ

ُ

لِّ َٰ

ل ّ ئ َٰ

ُ

ا ب ق بُو و ع م َٰ

َٰ ك

َٰ

ا

ُ ُ

ش َٰ

ُ

ن ل ع ج ثن أ ر ك

َٰ

و َٰ

َٰ

و َٰ

َٰ

و

َٰ

ذ ن ّ َٰ ك َٰ

َٰ

ُ

َٰ م م ن ق ل

خ ا َٰ

َٰ

َ

ن سا َ

إ َٰ

ّ

ُ

لن ا ه ي ُّ

ٱَٰ

أ َٰ

ى

ي

Itulah masalah sosial,

اَّن

َ

ما ء َ

لُو ي

َ

ُ

ق

ن م

َ

سإ اَّنل ٱ

َ dan banyak sekali ayat

َ

م

و

ن

إ

lain selalu menunjukkan manusia dalam hubungan hubungan sosial. Menariknya, dalam mengungkapkan manusia sebagai makhluk sosial, Al Quran tidak pernah melakukan generalisasi. Penjelasan konsep ini dapat ditunjukkan dalam dua hal, Pertama banyak ayat yang menunjukkan kelompok kelompok sosial dengan karaktristiknya masing msing yaitu sama lain belum tentu sama. Ayat - ayat ini biasanya menggunakan ungkapan wa mina n-nas (dan diantara manusia). Memperhatikan ungkapan ini kita menemukan petunjuk Tuhan bahwa ada kelompok manusia yang menyatakan beriman padahal sebetulnya tidak

beriman,

اَّن

ما ء َ لُو ي ن م سإ اَّنل

َ

ُ

ق

َ

َ

ٱ

َ “ada sebagian orang yang menyatakan beriman

َ

م

و

ن

إ

padahal

tidak”

(Al

Baqarah/2:8), berarti bukan seluruh manusia

yang

mengambil sekutu sekutu selain Allah. Jika dikaitkan dengan hidayah Allah, penyebutan al nas menunjukkan bahwa sebagian besar masalah - masalah bimbingan agama diperuntukkan bagi manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai contoh adalah masalah perkawinan. Pada dasarnya bimbingan agama tidak mengatur tata cara hubungan seksual karena sebagai makhluk biologis semua manusia meskipun primitif bisa melakukannya. Justru yang perlu diatur oleh syari;ah adalah hubungan hubungan sosial setelah terjadinya perkawinan: hubungan suami-istri yang menyangkut hak, kewajiban dan tanggung jawab, serta

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

6

hubungan-hubungan yang terjadi setelah berkeluarga: pendidikan anak, kekerabatan, warisan dan masalah yang berkaitan dengan kekayaan. Terhadap masalah masalah ini Al Quran memberikan petunujuk yang rinci dan detail. Hal ini terjadi karena pada aspek aspek sosial inilah manusia sering kali kelewat batas dan tak terkendali. Begitu rumit dan banyaknya masalah yang menyangkut manusia sebagai makhluk sosial yang perlu bimbingan agama. Itulah sebabnya dalam Al Quran manusia disebut dengan basyar hanya 25 kali, al-insan 35 kali, tetapi al-nas sebanyak 240 kali.

B. Potensi Manusia

Manusia telah dilengkapi dengan alat-alat potensi dan potensi-potensi dasar atau disebut fitrah, yang harus diaktualkan dan atau ditumbuh kembangkan dalam kehidupan nyata di dunia ini melalui proses pendidikan, untuk selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-nya kelak di akhirat.

1. Alat-alat potensial manusia

Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang dianugrahkan oleh Allah kepada manusia untuk meraih ilmu pengetahuan, masing-masing alat itu saling berkaitan dan melengkapi dalam mencapai ilmu. Alat-alat tersebut adalah sebagai berikut. 5

a. Al-lans dan Al-syum (alat peraba dan alat penciuman/pembau ),

sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-An’am ayat 7 dan Q.S.Yusuf ayat

94.

b. Al-sam’u (alat pendengaran). Penyebutan alat ini dihubungkan

dengan penglihatan dan qolbu, yang menunjukkan adanya saling melengkapi antara berbagai alat itu untuk mencapai ilmu pengetahuan. sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 36, Al-Mu’minun ayat 38, Al-Sajadah ayat 9, Al-Mulk ayat 23, dan sebagainya.

c. Al-Abshar (penglihatan ), banyak ayat Al-Qur’an yang menyeru

manusia untuk melihat dan merenungkan apa yang dilihatnya, sehingga dapat

5 Abdul Fattah Jalal (1977, hlm. 103-110), min al-ushul al-tarbawiyah al-islamiyah.

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

7

mencapai hakikatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S.Al-a’raf ayat 185, Yunus ayat 101, Al-Sajadah ayat 27, dan sebagainya. d. Al-‘Aql (akal atau daya berpikir). Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan akal dalam berpikir, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Imran ayat 191. Al-Qur’an menjelaskan bahwa islam tegak diatas pemikiran, sebagaimana firmannya dalam Q.S.Al-An’am ayat 50. Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa penggunaan akal memungkinkan diri manusia untuk terus ingat (dzikir) dan memikirkan /merenungkan ciptaannya, sebagaimana firmannya dalam Q.S Al-ra’d ayat 19. Dan penggunaan akal memungkinkan manusia mengetahui tanda-tanda (kebesaran/keagungan) Allah serta mengambil pelajaran daripadanya. Dalam beberapa ayat, kata Al-Nuha digunakan sebagai makna Al-‘uql sebagaimana firmannya dalam Q.S Toha ayat 53-54, dan sebagainya. e. Al-Qalb ( kalbu). Hal ini termasuk alat ma’rifah yang digunakan manusia untuk dapat mencapai ilmu, sebagaimana firmannya dalam Q.S Al- Hajj ayat 46, Q.S Muhammad ayat 24 dan sebagainya. Kalbu ini mempunyai kedudukan khusus dalam ma’rifah ilahiyah, dengan kalbu manusia dapat meraih berbagai ilmu serta ma’rifah yang diserap dari sumber ialahi. Dan wahyu itu sendiri diturunkan ke dalam kalbu Nabi Muhammad SAW sebagaimana firmannya dalam Q.S Al-Syu’araa’ ayat 192-194.

Demikian uniknya alat-alat potensial dengan berbagai daya dan kemampuannya yang dimiliki oleh manusia itu dan merupakan nikmat Allah yang patut disyukuri. Karena itu, dalam beberapa ayat yang disebutkan di atas diakhiri dengan kalimat la’allakum tasykurun (supaya kamu bersyukur) atau qalilan ma tasykurun (amat sedikitlah kamu bersyukur). Menurut Muhammad Abduh, bahwa yang dinamakan syukur itu, menggunakan nikmat anugerah sesuai dengan fungsinya, dan sesuai dengan kehendak yang menganugerahkannya (yaitu Allah Swt).

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

8

2. Potensi-potensi dasar atau fitrah manusia

Ditinjau dari segi bahasa, fitrah berarti: “ciptaan, sifat tertentu yang mana setiap yang maujud disifati dengannya pada awal masa penciptaannya, sifat pembawaan manusia (yang ada sejak lahir), agama, as-sunnah.”

Menurut Hasan Langgulung, ketika Allah menghembuskan /meniupkan ruh pada diri manusia (pada proses kejadian manusia secara nonfisik/immateri) maka pada saat itu pula manusia (dalam bentuknya yang sempurna) mempunyai sebagian sifat-sifat ketuhana sebagaimana yang tertuang dalam al-asma’ al-Husna, hanya saja kalau Allah serba Maha, sedangkan manusia hanya diberi sebagiannya. Sebagian sifat-sifat ketuhanan yang menancap pada diri manusia dan dibawanya sejak lahir itulah yang disebut fitrah. Misalnya al-‘Aliim (Maha Mengetahui), manusia juga diberi kemampuan /potensi untuk mengetahui sesuatu; Al-Rahman (Maha Pengasih) dan Al-Rahiim (Maha Penyayang), manusia juga diberi kemampuan untuk mengasihi dan menyayangi orang lain, demikian seterusnya.

Sebagian sifat-sifat ketuhanan (potensi/fitrah) itu harus ditumbuh kembangkan secara terpadu oleh manusia dan diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu maupun sosialnya, karena kemuliaan seseorang di sisi Allah lebih ditentukan oleh sejauh mana kualitasnya dalam mengembangkan sifat-sifat ketuhanan tersebut yang ada pada dirinya, bukan dilihat dari aspek materi, fisik dan jasadi. Islam sangat menentang paham materialisme, paham atau pandangan yang berlebih- lebihan dalam mencintai materi karena pandangan semacam itu akan bisa merusak bagi pengembangan sebagian sifat-sifat ketuhanan (fitrah manusia) tersebut serta dapat menghalangi kemampuan seseorang dalam menangkap kebenaran ilahiyah yang bersifat immateri.

3. Implikasi potensi dasar manusia terhadap pendidikan

Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuh kembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberi kebebasan/

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

9

kemerdekaan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau fitrah manusia tersebut. Namun demikian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari adanya batas- batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, hukum yang menguasai benda-benda maupun masyarakat manusia sendiri, yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung pada kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut dengan taqdir (“keharusan Universal” atau “kepastian umum” sebagai batas akhir dari ikhtiar manusia dalam kehidupannya di dunia).

Di samping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor hereditas, lingkungan alam dan geografis, lingkungan sosiokultural, sejarah dan faktor- faktor temporal. Dalam ilmu pendidikan, faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pelaksanaan pendidikan itu ada 5 (lima) macam, yang saling berkaitan dan berpengaruh antara satu faktor dengan faktor lainnya, yaitu faktor tujuan, pendidikan, peserta didik, alat pendidikan, dan milieu/ lingkungan. Karena itulah maka minat, bakat dan kemampuan, skill dan sikap manusia yang diwujudkan dalam kegiatan ikhtiarnya dan hasil yang dicapai dari kegiatan ikhtiarnya tersebut bermacam-macam.

C. Aktualisasi Potensi Manusia dalam Prespektif Pendidikan Islam

Pendidikan Islam, seperti dikemukakan merupakan proses yang membantu pertumbuhan seluruh unsur kepribadian manusia baik fisik, ‘aql, maupun qalb-nya. 6 Untuk pengembangan potensi tersebut, al-qur’an dan al- hadist, konsep pendidikan para ulama dan ilmuwan Islam telah menyebutkan beberapa pendekatan. Pertama, pengembangan atau ragawi, agar kesehatan dan keselamatan fisik terjaga, sehingga mampu menangani berbagai macam kegiatan, jauh dari penyakit dan cacat fisik. Ada empat langkah yang bisa dilakukan: (a) menjaga kebersihan (al-muhafadzah ‘ala an-nadzafah) baik

6 Abd.Halim Soebahar, Matriks Pendidikan Islam, hal 19, Konsep Manusia dalam Pendidikan Islam

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

10

tubuh, pakaian, mupun lingkungannya. Al-qur’an dan al-hadist banyak memberikan acuan agar umatnya selalu hidup dan budaya bersih, (b) makanan yang halal dan sehat(at-thayyibat minar rizki). Semua makanan bergizi dan sehat, seperti: biji-bijian (al-hubub), buah-buahan(fawakib), daging(labm), sayur-sayuran(qadlba), air bersih(ma’) dan susu(laban), (c) olahraga (ar-riyadlah). Al-qur’an dan al-hadist menyebut pentingnya olah raga khususnya atletik, renang, beladiri, dan berkuda. Aisyah mengatakan bahwa beliau bersama Rasulullah SAW sering jalan bersama waktu pagi, dan beliau semula daapat mendahului Nabi Saw, tetapi kemudian beliau selalu dikalahkan oleh Nabi Saw, yakni setelah berat badanya bertambah. Nabi Saw bersabda: “kelembananmu itu karena dagingmu” (HR.Ahmad dan Abu Dawud), dan (d) Pengobatan (al-‘ilaj), sehingga Nabi Saw memerintahkan: “ berobatlah kalian karena sesungguhnya Allah SWT itu selain menurunkan penyakit yang tidak diobati, yakni penyakit tua” (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Kedua, pengembangan ‘aql, agar dapat manusia mampu berpikir, sanggup melakukan penelitian dan menguasai ilmu pengetahuan, menyerap informasi dan mengembangkan kreativitasnya, meskipun manusia diberi potensi untuk menerima pengetahuan, namun al-qur’an menyatakan bhwa pada dasarnya manusia dilahirkan masih hampa pengetahuan, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl:78). Ada tiga upaya yang ditunjuk al-quran dan al-hadist untuk pengembangan ‘aql, yakni: (a) mengembangkan budaya membaca sebagai budaya intelektual, sehingga pada zaman sahabat, mereka yang pandai-pandai disebut “al-qurra”. Bahkan ayat pertama dari wahyupun dimulai dengan perintah membaca (iqra’), (b) mengadakan banyak observasi(as-sairu fil ardl) dengan penjelajahan-penjelajahan dimungkinkan lebih banyak menemukan realitas lingkungan bio-fisik, lingkungan sosio- kultural maupun lingkungan psikologis, dan akan memberikan kekayaan informasi yang diperlukan untuk memperluas horizon pemikiran manusia, seperti tercermin dalam beberapa surat al-qur’an, antara lain: surat Yunus (101), Al-Imran(190), al-hajj(46), dan al-Ankabut(19-20), dan (c)

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

11

mengadakan penelitian dan perenungan (an-nadzar wat-ta’ammul) untuk menemukan rahasia-rahasia ciptaan Tuhan dan menambah ketajaman nalar.

Ketiga, pengembangan qalb, dengan maksud agar potensi qalb ini mampu berfungsi sebagai instrument spiritual yang cenderung pada kebaikan, terlatih dalam keluhuran akhlaq, mampu menangkal pengaruh hawa nafsu, dan memiliki lematangan emosional. Nabi Muhammad SAW menyatakan:” manusia itu seperti tambang emas dan perak, yakni mempunyai nilai tinggi , namun memerlukan pengolahan-pengolahan, maka tidak memberikan nilai tambah seperti apa yang diharapkan”. Dalam hal ini, islam menunjukkan beberapa langkah pengembangan qalb, yakni: (a) membimbing dan membiasakan kearh kebaikan(at-tawjib wal mu’awadab ‘ala al kbair). Hal ini memerlukan sikap yang partisipatif, bukan sekedar indoktrinitif, (b) keteladanan lingkungan sosial (al-qudwah al-basanah), mulai dari kelurga, teman sepermainan, kolega kerja sampai kelompok masyarakat. Nabi Muhammad Saw bersabda: “seseorang itu dipengaruhi cara hidup temannya, oleh karena itu perhatikan siapa orang yang akan kalian jadikan teman”(HR. Abu Dawud dan Turmudzi), “setiap anak yang dilahirkan itu dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR.Tabrani dan Baihaqi), (c) kekuatan beribadah, keseluruhan perintah ibadh dalam Islam dimaksudkan untuk membentuk pribadi yang bersih, beriman, dan berihsn, dan (d) pembudayan etika sosial (at-taballi bil fadla’il), dapat disimak bagaiman al-qur’an menganjurkan hal ini, seperti : melalui narasi Nabi Ibrahim As dengan putranya , Nabi Ismail As, Luqman al-Hakim putranya, dan cerita-cerita lainnya.

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

12

A.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam memandang manusia mempunyai posisi sentral (central position) karena manusia dipandang sebagai subjek juga objek. Sebagai subjek manusia menentukan corak dan arah pendidikan, sedangkan sebagai objek, manusia menjadi fokus perhatian segala aktivitas pendidikan.

Dalam al-Qur’an ada tiga istilah kunci yang digunakan untuk menyebut manusia, yaitu basyar, insan, dan al-nas. Kata basyar, memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis-fisiologis. Kata insan, digunakan untuk menunjuk manusia sebagai totalitasnya insan sebagai pemikul amanah/khalifah, dihubungkan dengan predisposisi ncgatif manusia serta insan yang dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Seluruh kategori merujuk kepada sifat- sifat psikologis atau spritual atau menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan insani. Sementara an-Nas menunjuk kepada pengertian bahwa manusia sebagai makhluk sosial.

Manusia lahir ke dunia dalam keadaan fithrah (membawa potensi dasar) yang meliputi; qalb, ruh, nafs, dan akal, dan masing-masing potensi tersebut harus dikembangkan melalui pendidikan dengan seimbang dalam rangka mewujudkan insan kamil. Pendidikan dalam islam, antara lain berusaha untuk mengembangkan alat-alat potensial dari manusia tersebut seoptimal mungkin untuk dapat difungsikan sebagai sarana bagi pemecahan masalah-masalah hidup dan kehidupan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya manusia, dan pengembangan sikap iman dan takwa kepada Allah Swt.

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

13

DAFTAR PUSTAKA

Soebahar , A.H. Matriks Pendidikan Islam. Yogyakarta : Pustaka Marwa,

2009.

Hasan, Muhammad Tholchah. Dinamika Kehidupan Religius. Jakarta :

Listafariska Putra, 2007. M.A, Muhaimin Dkk. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung : Remaja Rosda Karya, 2012.

Potensi dan Aktualisasi Manusia dalam Perspektif Pendidikan Islam [Date]

14