Anda di halaman 1dari 143

PENYELENGGARAAN MANASIK HAJI DI KEMENTERIAN

AGAMA KABUPATEN BOYOLALI PADA TAHUN 2010-2011


STUDI ANALISIS SWOT

SKRIPSI
Untuk memenuhi sebagian persyaratan
Mencapai derajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)
Jurusan Manajemen Dakwah (MD)

ZAENAL ARIFIN
071311008

FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO
SEMARANG
2011

ii

iii

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa sekripsi ini adalah hasil karya saya
sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk
memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi, di lembaga pendidikan
lainya. Pengetahuan yang peroleh dari hasil penerbitan maupun yang belum atau
tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan di dalam tulisan dan daftar pustaka.

Semarang,

Zaenal Arifin
071311008

iv

PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1.

ALLAH SWT yang selalu melindungi penulis dimanapun dan kapanpun


berada.

2.

Ayah Masruri dan Ibu Siti Zulaikhah yang selalu mendoakan, mendukung
baik moral maupun material dan selalu mencurahkan kasih sayang, perhatian
serta memberikan motivasi kepada penulis dalam sagala hal.

3.

Dr. H. Awaludin Pimay, Lc, M.Ag. dan Dra. Wafiah yang telah berkenan
meluangkan waktu dan fikirannya untuk membimbing penulis. Kesabaran
dan ketabahannya menjadi sumber inspirasi dan penyemangat penulis.
Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikan itu.

4.

Adik Nurul Hidayati dan Niswatus Sholikhah yang selalu membuatku


tersenyum.

5.

Istri Femia Wahyu Pramita yang selalu memberi semangat dan menemani
disaat suka duka serta senantiasa mendoakan sampai saat ini.

6.

Teman-teman keluarga besar MD (Manajemen Dakwah) 2007 Yang telah


memberi senyuman, menghibur penulis dan selalu memotifasi penulis.
Semoga perjuangan kita akan memberikan kesuksesan serta hubungan
silaturahmi tetap terjaga. Amin

7.

3 girl (Dwiek Mekarsari, Masruroh, Siti khafsoh) yang tidak henti-hentinya


memberikan semangat dukungan dan doa, serta memotivasi penulis dalam
segala hal. Kalian semua telah memberi warna baru dalam hidupku sehingga
aku tidak akan melupakan kalian.

8.

Pembaca yang budiman.

vi

MOTTO

Hendaklah kamu bersegera mengerjakan haji karena sesungguhnya seseorang


tidak akan menyadari suatu halangan yang akan merintanginya. (Riwayat
Ahmad)
Cinta sejati akan terbukti dalam 3 bentuk:
1. Lebih mengutamakan perkataan kekasihNya dari pada perkataan orang
lain.
2. Lebih mementingkan pertemuan dengan kekasihNya dari pada pertemuan
dengan orang lain.
3. Lebih membutuhkan keridloan kekasihNya dari pada keridloan orang
lain.
kau dapat kepintaran luar biasa, kau bisa hubungan, kau bisa memiliki
kesempatan terjun payung. Tetapi pada akhirnya kerja keras benar-benar menjadi
karakteristik abadi orang-orang sukses.(Marsh Johnson Evans)

vii

ABSTRAK
Ibadah haji adalah salah satu bentuk ibadah yang memiliki makna multi
aspek, ritual, individual, politik, psikologis dan sosial. Penyelenggaraan manasik
haji diatur dalam Undang-undang Nomor 13 tahun 2008 tentang penyelenggarann
haji, merupakan landasan umum dalam melaksanakan kegiatan pelayanan haji.
Salah satu instansi yang bisa menyelenggarakan manasik haji adalah Kementerian
Agama tingkat Kabupaten/Kota. Salah satu Kementerian Agama tingkat
Kabupaten/Kota adalah Kabupaten Boyolali. Oleh karena itu, penelitian ini
difokuskan di wilayah Kementerian Agama Kabupaten Boyolai. Latar belakang
penelitian ini adalah karena banyaknya masalah-masalah yang muncul dalam
penyelenggaraan manasik haji. Salah satu upaya untuk memilimalisir masalahmasalah tersebut, maka dilihat dari analisis SWOT, sehingga dalam
pelaksanaanya dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana penyelenggaraan
manasik haji di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011 serta
bagaimana analisis SWOT dalam penyelenggaraan manasik haji di Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011. Adapun tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011 serta untuk mengetahui analisis SWOT
dalam penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
tahun 2010-2011.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Dalam mengumpulkan data,
penulis menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang
terkumpul kemudian diolah dan dianalisis. Analisis data menggunakan analisis
deskriptif, yaitu menyajikan data dengan cara menggambarkan kenyataan sesuai
dengan data yang diperoleh dari hasil penelitian.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa, penyelenggaraan manasik haji
di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali mencakup rapat koordinasi yang
merupakan perencanaan, membuat susunan panitia yang merupakan organizing,
rapat evaluasi yang merupakan controling, actuating dalam hal ini melaksanakan
bimbingan dengan mengacu pada jadwal-jadwal yang sudah direncanakan
sebelumnya.
Secara umum penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011 dapat terealisasi dengan baik. Hanya saja
pada aspek-aspek pelayanan tertentu kurang optimalisasi, seperti sumber daya
manusia yang kurang memadai sehingga banyak pekerjaan yang tumpang tindih.
Kaitanya dengan SWOT berupa kekuatan, berupa dana yang sudah
tersedia dari anggaran pusat. Faktor kelemahan yaitu persoalan teknis seperti
kurangnya sarana dan prasarana untuk praktek manasik itu sendiri, serta etos kerja
dan kedisiplinan pegawai. Melihat peluang dalam penyelenggaraan manasik haji
sangat besar dikarnakan bimbingan manasik haji sudah menjadi tanggung jawab
pemerintah dibawah koordinasi Menteri Agama dalam hal ini Kementerian
Agama. Kaitan dengan ancaman adalah ketidak puasan calon jamaah haji dalam
pelaksanaan manasik itu sendiri.

viii

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang
telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah serta inayahNya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas skripsi ini. Sholawat serta salam senantiasa penulis
curahkan kepada nabi Muhammad SAW yang memberikan cahaya terang bagi
umat Islam dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh
gelar sarjana strata satu (S1) pada jurusa Manajemen Dakwah (MD) Fakultas
Dakwah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.
Dalam perjalanan penulisan skripsi ini telah banyak hal yang telah dilalui oleh
penulis yang bersifat cobaan, tantangan serta godaan dan lain sebagainya yang
sangat menguras energi yang cukup banyak. Dan Alhamdlillah akhirnya dapat
membuahkan hasil selesainya skripsi ini dengan judul Penyelenggaraan
Manasik Haji di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali Tahun 2010-2011
(Studi Analisis SWOT). Untuk itu tidak ada kata yang pantas penulis ucapkan
kepada pihak-pihak yang telah membantu proses pembuatan skripsi ini kecuali
Jazakum Allah Ahsan al Jaza Jazaan Katsira. Terimakasih yang sebesarbesarnya kepada:
1. Dr. Muhammad Sulton, M. Ag, selaku Dekan Fakultas Dakwah
IAIN Walisongo Semarang beserta Pembantu dekan I,II.III.

ix

2. Dr. H. Awaludin Pimay, Lc, M.Ag, selaku pembimbing I dan Dra.


Wafiah selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga
dan pikirannya untuk membimbing dan mengarahkan penulis sejak
awal penulisan hingga menyelesaikan skripsi ini dengan penuh
kesabaran.
3. Dr. Muh Fauzi Umma, M. Ag, selaku dosen wali studi yang telah
memberikan pengarahan yang begitu banyak.
4. Para Dosen dan staf-stafnya yang telah memberikan banyak ilmu
pengetahuan serta membantu dalam proses penyelesaian perkuliahan,
urusan birokrasi dan lain sebagainya selama menuntut ilmu di Fakultas
Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
5. Ayah, ibu, adik serta istri yang senantiasa memberikan motivasi dan
mendoakan disetiap perjalanan penulis dalam menjalani hidup.
6. Sahabat-sahabat keluarga besar MD (Manajemen Dakwah) 2007 yang
telah menghibur penulis dan selalu memotifasi penulis. Semoga
perjuangan kita akan memberikan kesuksesan.
7. Dan semua saja yang telah banyak membantu dalam penyelesaian
skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan dalam lembaran kertas
kecil ini. Sekali lagi penulis ucapkan terimakasih.
Dengan segala kerendahan hati dan juga puji syukur kepada Allah yang
telah memberikan rahmat dan hidayahnya, semoga amal Bapak dan Ibu beserta

para staf-stafnya dan juga semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu
persatu diterima semua amal shalehnya di sisi Allah SWT, Amin.
Akhirnya, skripsi ini dapat selesai, meskipun sangat sederhana dan masih
banyak kekurangan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi semua orang dan
khususnya bagi penulis sendiri.
Semarang, 18 Oktober 2011
Penulis
Zaenal Arifin

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..............................................................................

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................

iii

HALAMAN PERNYATAAN .................................................................

iv

PERSEMBAHAN ...................................................................................

MOTTO ................................................................................................

vii

ABSTRAK ............................................................................................

viii

KATA PENGANTAR ...........................................................................

ix

DAFTAR ISI .........................................................................................

xii

BAB I

PENDAHULUAN ..................................................................

1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................

1.2 Rumusan Masalah ............................................................

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian .........................................

1.4 Tinjauan Pustaka ..............................................................

1.5 Metode Penelitian ............................................................

11

1.6 Sistematika Penulisan ......................................................

16

BAB II

KONSEP DASAR ANALISIS SWOT DALAM


PENYELENGGARAAN MANASIK HAJI ...........................

19

2.1 Konsep Dasar Analisis SWOT .........................................

19

2.1.1 Pengertian Manajemen ............................................

20

xii

2.1.2 Unsur-Unsur Manajemen ........................................

22

2.1.3 Tahapan-Tahapan atau Fungsi Manajemen ..............

25

2.1.4 Pengertian Analisis SWOT ......................................

31

2.2 Penyelenggaraan Ibadah Haji ...........................................

37

2.3 Pengertian Manasik Haji ..................................................

39

2.4 Fiqih Haji ........................................................................

40

2.2.1 Pengertian Haji ..........................................................40


2.2.2 Dasar Ibadah Haji ..................................................... 43
2.2.3 Hukum Ibadah Haji .................................................

45

2.2.4 Syarat Rukun dan Wajib Haji ..................................

45

2.2.5 Macam-Macam Haji ................................................

48

2.2.6 Miqat ......................................................................

49

2.2.7 Pelaksanaan Haji .....................................................

50

BAB III PROFIL KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN


BOYOLALI DAN SWOT DALAM
PENYELENGGARAAN MANASIK HAJI TAHUN 2011 .....

56

3.1 Profil Kementerian Agama Kabupaten Boyolali ...............

56

3.1.1 Latar Belakang Berdirinya Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali ................................................

56

3.1.2 Dasar Kebijakan ......................................................

61

3.1.3 Identitas ..................................................................

62

3.1.4 Visi dan Misi ...........................................................

62

3.1.5 Tujuan dan Saran ....................................................

64

3.1.6 Program Kerja Kementerian Agama Kabupaten


Boyolali .................................................................

68

3.1.7 Tugas Pokok dan Fungsi Seksi Penyelenggaraan


Haji dan Umrah .......................................................

73

3.1.8 Struktur Kementerian Agama Kabupaten Boyolali ...

74

xiii

3.2 Penyelenggaraan Manasik Haji di Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali ...........................................................

78

3.3 SWOT Penyelenggaraan Manasik Haji di Kementerian


Agama Kabupaten Boyolali ...............................................

94

BAB IV ANALISIS SWOT PENYELENGGARAAN MANASIK


HAJI DI KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN
BOYOLALI TAHUN 2010 .....................................................

97

4.1 Analisis Penyelenggaraan Manasik Haji di Kementerian


Agama Kabupaten Boyolali ...............................................

97

4.2 Analisis SWOT Penyelenggaraan Manasik Haji di

BAB V

Kementerian Agama Kabupaten Boyolali ..........................

117

PENUTUP ..............................................................................

122

5.1 Kesimpulan ......................................................................

122

5.2 Saran-saran ......................................................................

124

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BIODATA PENULIS

xiv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan Negara dengan mayoritas penduduknya
beragama islam. Di dalam menjalankan kehidupan semestinya selalu
berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan syariat agama islam dengan
baik, sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam agama Islam.
Agama islam mengajarkan bahwa agama ini didasarkan kepada
lima dasar utama, atau yang dikenal dengan rukun Islam, rukun Islam ada
lima, yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji. Jadi haji merupakan
rukun Islam yang kelima, melaksanakan ibadah haji merupakan kewajiban
bagi setiap orang Islam yang memiliki kemampuan. Tidak semua umat
Islam wajib melaksanakan ibadah haji, karena ibadah haji memang
merupakan kewajiban yang menuntut kesehatan jasmani yang baik dan
memerlukan kemampuan finansial yang memadai (Aziz, 2003: 26).
Allah SWT berfirman,

Artinya: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat


beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di bakkah (Makkah) yang
diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat
tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqam ibrahim. Barang siapa
memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji
adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari
(kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali imran [3] : 96-97)

Proses perjalanan haji, apalagi dari negeri Indonesia, yang jauh dari tempat
pelaksanaan jamaah haji tersebut, yaitu kota suci Makkah, memang
menuntut pengorbanan yang cukup besar. Namun demikian, hal ini tidak
menyurutkan semangat orang Islam untuk berusaha sedapat mungkin
melengkapi pelaksanaan rukun Islam, paling tidak sekali seumur hidupnya.
Ibadah haji merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki
makna multi aspek, ritual, individual, politik, psikologis, dan sosial.
Makna aspek ritualnya. Karena termasuk salah satu dari rukun Islam
kelima yang wajib dilaksanakan setiap orang islam yang mampu,
pelaksanaannya diatur dengan jelas dalam al-Quran. Haji juga bisa
disebut sebagai ibadah individual, karena keberhasilanya sangat ditentukan
oleh kualitas individu tiap umat Islam dalam memahami tata cara serta
ketentuan dalam melaksanakan ibadah haji.
Ibadah haji juga bisa termasuk dalam bentuk ibadah yang
bersangkutan dengan politik, karena mulai dari persiapan hingga
pelaksanaanya masih memerlukan partisipasi dari pihak lain (pemerintah).
Sedangkan dari aspek psikologis ibadah haji adalah setiap individu harus
mempunyai kesiapan mental untuk menghadapi suhu, cuaca, budaya

daerah yang jauh berbeda dengan Indonesia. Ibadah haji juga mempunyai
makna sosial, yaitu bagaimana para jamaah haji memiliki pengetahuan
serta pemahaman untuk mengaplikasikan pesan-pesan ajaran Islam yang
ada dalam pelaksanaan ibadah haji ke dalam kehidupan bermasyarakat.
Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam,
otomatis banyak pula penduduk yang ingin menunaikan ibadah haji.
Akibatnya orang yang akan menunaikan ibadah haji harus mendaftarkan
terlebih dahulu. Untuk bisa berangkat mereka harus menunggu kurang
lebih 4 tahun bahkan lebih tergantung provinsinya. Apalagi sekarang ada
dana talangan yang biberikan oleh bank-bank tertentu sehingga
menjadikan lebih banyak orang yang mendaftarkan haji.
Dari

banyaknya

jamaah

haji

sekarang

ini,

menjadikan

penyelenggaraan ibadah haji selama ini kurang efektif dan efisien,


akibatnya mempengaruhi kualitas pemberian pelayanan dan perlindungan
kepada

jamaah

haji.

Selanjutnya

terjadi

penyimpangan

arah,

pengeksploitasian sikap ikhlas dan sabar jamaah haji. Dalam sejarah


penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia hingga saat ini senantiasa
diwarnai persoalan yang tak kunjung selesai. Penyelenggaraan haji di
Indonesia selalu dihadapkan pada masalah klasik, yaitu meningkatnya
jumlah jamaah dari tahun ke tahun namun kurang diimbangi dengan
peningkatan kualitas pelayanan. Persoalan-persoalan yang ada sering
terulang, mulai masalah katering, pemondokan, pendaftaran, penerbangan,

organisasi, aparatur, pembinaan dan keamanan di terowongan mina


maupun jamarat sehingga jamaah haji merasa sangat dirugikan.
Permasalahan

yang

paling

mendasar

dalam

rangkaian

penyelenggaraan haji saat ini adalah pembinaan kepada jamaah sebelum


dan setelah menunaikan ibadah haji. Secara kasatmata bisa dipastikan
pembinaan kepada jamaah sebelum menunaikan ibadah haji hanya materi
rukun, wajib, dan sunat berhaji. Pelajaran substansi, filosofis, dan makna
haji kerap terlewatkan. Untuk pembinaan pasca haji, sampai saat ini belum
ada pola yang baku. Setiap pihak melaksanakan sesuai keinginan. Karena
sampai saat ini tidak ada petunjuk pelaksanaan dari Kementerian Agama.
Melihat animo masyarakat untuk menunaikan ibadah haji dari
tahun ke tahun cenderung meningkat. Latar belakang jamaah haji selama
ini sebagian besar (lebih dari 60 %), berasal dari daerah pedesaan dengan
tingkat pendidikan rendah, sedangkan dari kalangan masyarakat kota,
seperti; tokoh-tokoh penting, pegawai negeri maupun swasta, militer,
pengusaha dan intelektual, mulai meningkat dalam menunaikan ibadah
haji. Masyarakat dengan pendidikan rendah kebanyakan belum mengenal
tatacara berhaji yang benar, sedangkan kalangan kota dan pegawai juga
dibilang

kurang

berpengalaman

dalam

masalah-masalah

berhaji.

Disebabkan kalau belum pernah berangkat haji juga tidak tahu kondisikondisi waktu haji. Dengan demikian perlu adanya bimbingan manasik
untuk para calon jamaan haji untuk bekal melaksanakan haji di Arab
Saudi.

Bagi masyarakat islam di Indonesia ibadah haji merupakan ibadah


yang membutuhkan kesiapan yang menyeluruh termasuk didalamnya
kesiapan penguasaan manasik haji, kesehatan fisik dan ketakwaan yang
prima. Hal ini sangat dimengerti mengingat letak geografis Indonesia dan
Arab Saudi relatif jauh dari posisi strategis.
Berdasarkan Undang-Undang No. 13 tahun 2008 tentang
penyelenggaraan ibadah Haji mengamanatkan bahwa kebijakan dan
pelaksanaan penyelenggaraan ibadah Haji merupakan tugas nasional dan
menjadi tanggung jawab pemerintah yang dikoordinasikan oleh Menteri
Agama dan bekerjasama dengan masyarakat, departemen dan instansi
terkait lainnya. Untuk memenuhi Undang-Undang diatas maka Pemerintah
berkewajiban melakukan pembinaan kepada jamaah haji dari persiapan
berangkat sampai pulang ke Indonesia. Sebagai upaya peningkatan
pelayanan ibadah haji dan demi keselamatan, kelancaran, ketertiban dan
kesejahteraan jamaah haji serta demi kesempurnaan ibadah haji, maka
Pemerintah

melalui

Kementerian

Agama

Kabupaten

Boyolali

berkewajiban melakukan pembinaan jamaah haji dengan mengadakan


manasik haji untuk para jamaah haji.
Berangkat dari latar belakang tersebut, penulis ingin melakukan
penelitian tentang PENYELENGGARAAN MANASIK HAJI DI
KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 20102011 (STUDI ANALISIS SWOT).

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah :
1. Bagaimana penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011?
2. Bagaimana analisis SWOT dalam penyelenggaraan manasik haji di
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011?

1.3

Tujuan Dan Manfaat Penelitian


A. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini
adalah:
1. Untuk mengetahui penyelenggaraan manasik haji di Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011.
2. Untuk mengetahui analisis SWOT dalam penyelenggaraan manasik
haji di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011.

B. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini mampu menambah khasanah keilmuan yang
berkaitan dengan manajemen dakwah (MD).
Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu serta
informasi tentang penyelenggaraan manasik haji dan diharapkan

dapat memberikan sumbangan analisis terhadap penyelenggaraan


manasik haji.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini berguna untuk memberikan
upaya-upaya perbaikan dalam penyelenggaraan manasik haji
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali pada khususnya dan di
Indonesia pada umumnya. Untuk menuju sistem manasik haji yang
lebih baik dan unggul dalam segala aspek.

1.4

Tinjauan Pustaka
Untuk menghindari kesamaan penulisan dan plagiat dalam skripsi
ini, maka berikut ini penulis sampaikan beberapa hasil penelitian
sebelumnya yang memiliki relevansi dengan penelitian ini, antara lain
sebagai berikut:
Pertama, Skripsi yang telah disusun Adnin Mufattahah (2009):
Manajemen Penyelenggaraan Bimbingan Ibadah Haji Pada Kelompok
Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) NUKota Semarang. Skripsi ini
menjelaskan tentang Kelompok Bimbingan Ibadah Haji ( KBIH ) Nahdatul
Ulama Kota Semarang dalam menyelenggarakan bimbingan ibadah haji
baik bimbingan selama di tanah air sampai di tanah suci hingga bimbingan
pasca ibadah haji selalu menerapkan fungsi-fungsi manajemen didalam
pengelolaanya. Hal itu terbukti, KBIH NU Kota Semarang selalu membuat

perencanaan di setiap kegiatan, baik bimbingan di tanah air maupun


bimbingan di tanah suci.
Perencanaan yang telah dibuat, tidak hanya sekedar perencanaan
saja tetapi juga diaplikasikan atau diimplemasikan pengurus, sebagaimana
terlihat adanya susunan pengurus dengan dilengkapi pembagian kerja
disetiap kegiatan. Fungsi pengawasan juga sudah diterapkan oleh
pengurus, hal ini terbukti adanya penilaian dan evaluasi di setiap pasca
kegiatan

terhadap

program

yang

telah

direncanakan

dan

diimplementasikan. Salah satu bentuk adanya evaluasi yang dilakukan


oleh KBIH NU Kota Semarang adalah KBIH NU Kota Semarang selalu
membuat lapooran kegiatan kepada Kementerian Agama Wilayah Jawa
Tengah setelah ibadah haji selesai.
Kedua, Skripsi yang telah disusun oleh Siti Suhartatik (Tahun
2006) : Manajemen Manasik Haji Departemen Agama Kota Semarang
Tahun 2003-2005. Penelitian ini menguraikan tentang bagaimana
penyelenggaraan manasik haji Departeman Agama Kota Semarang tahun
2003-2005,kemudian sejauh mana penerapan fungsi-fungsi manajemen
dakwah dalam penyelenggaraan manasik haji Departemen Agama Kota
Semarang tahun 2003-2005. Jeneis penelitian ini adalah kualitatif yang
penelitianya lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan
deduktif dan induktif, dengan metode pengumpulan data kepustakaan
(Library Research) dan data lapangan (Field Research) yang meliputi
metode dokumentasi, observasi dan wawancara. Pada penelitian ini

metode analisis data yang digunakan oleh penulis adalah metode analisis
kualitatif deskriptif dengan beracuan pada pola pikir induktif. Hasil dari
penelitian ini bahwa, di dalam pelaksanaan penyelenggaraan bimbingan
haji Departemen Agama Kota Semarang dalam memanfaatkan dan
memperhatikan fungsi-fungsi manajemen diantaranya planing, organizing,
actuating, dan controling agar dapat mempermudah dalam pelayanan
bimbingan pada jamaah. Meskipun fungsi-fungsi manajemen telah
diterapkan dengan baik, tetapi dalam pelaksanaanya masih ditemukan
kendala-kendala selama proses bimbingan manasik haji. Adapun masalah
yang sering muncul adalah dalam hal pengelompokan kelompok
bimbingan yang dikarnakan sikap kurang disiplin dari jamaah haji dan
juga karena fasilitas yang kurang memadai.
Ketiga, Skripsi yang telah disusun oleh Sri Wahyuni (2010):
Strategi Dakwah M. Natsir Dalam Menghadapi Misionaris Kristen.
Yang melatar belakangi dari penelitian ini adalah pandangan M. Nasir
tentang dakwah, bahwa M. Nasir secara maksimal telah berupaya
menyampaikan materi dakwah. Dilihat dari segi isi dan sasaran
dakwahnya, M. Nasir terkesan memiliki kemampuan intelektual yang
utuh. Artinya, ada keseimbangan secara utuh pesan dakwah yang
disampaikan, baik dari dimensi spiritual maupun sosial. Dalam dimensi
spiritual, M. Nasir menggugah perasaan para objek dakwah dengan
berbagai tulisan dan karya-karya ilmiah keagamaan. Sedangkan, dalam
dimensi sosial, M. Nasir tidak ragu-ragu menyampaikan pesan dakwahnya

yang berisikan kepentingan sosial, termasuk politik, ekomoni, pendidikan,


dan lainya. Pada sisi lain, M. Nasir ingin menyadarkan umat bahwa Islam
itu meliputi ajaran spiritual dan sosial.
Pandangan M. Nasir tentang misionaris Kristen, bahwa pandangan
M. Nasir dalam menghadapi misionaris Kristen dikenal apa yang disebut
konsep modus vivendi. Menurut M. Nasir, modus vivendi adalah
menciptakan kehidupan bedampingan secara damai. Modus vivendi M.
Nasir tersebut dapat dipahami karena umat Islam di Indonesia
menginginkan hal-hal berikut. Pertama, antara pemeluk beragama di
Indonesia ini supaya hidup berdampingan. Kedua, agar semua agama di
Indonesia merasakan arti hidup antar umat beragama dengan pemerintah.
Ketiga, terwujudnya perdamaian antara masyarakat yang berbeda agama.
Keempat, menghindari terjadinya perang agama. Strategi dakwah M. Nasir
dalam menghadapi misionarisme Kristen. M. Nasir mengetengahkan tiga
strategi dakwah dalam mengimbangi berbagai upaya misionaris Kristen,
yaitu strategi pertama memperbanyak pembangunan masjid. Strategi kedua
yaitu pengiriman dai ke daerah terpencil dan desa-desa yang berpotensi
terpengaruh misionarisme Kristen. Strategi ketiga yaitu menerbitkan
berbagai media cetak.
Dari beberapa penelitian di atas, arah penelitian yang akan
dilakukan penulis sangat jelas berbeda. Agar penelitian ini membuahkan
hasil yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan kiilmiahanya,
penulis membatasi fokus penelitian ini pada pembahasan tentang

bagaimana penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011, serta realisasinya dari analisis
SWOT tersebut.

1.5

Metode Penelitian
Metode riset ilmiah merupakan salah satu alat pendekatan ilmiah
yang digunakan untuk mencari kebenaran atau untuk menemukan suatu
pengetahuan yang baru, menguji teori, menjawab suatu pertanyaan atau
untuk mencari pemecahan suatu masalah yang dihadapi. Oleh sebab itu,
untuk memperoleh hasil penelitian yang sesuai harapan, suatu penelitian
harus sisitematis, teliti, skeptis, logis dan objektif. Maka pendekatan dalam
proses pengumpulan data menjadi syarat utama dalam pelaksanaan sebuah
penelitian. (Sumarsono, 2004: 6)
A. Jenis Penelitian dan Spesifikasi Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field
research) yang bersifat kualitatif, yaitu prosedur penelitian lapangan
yang menghasilkan data deskriptif, yang berupa data-data tertulis atau
lisan dari orang-orang dan penelitian yang diamati (Moleong, 2004: 3).
Bogdan dan Taylor (1975: 5) menyatakan bahwa penelitian
kualitatif memfokuskan kajiannya terhadap fenomena secara holistif
dan tidak mereduksi fenomena itu ke dalam variabel-variabel

yang

kemudian dicari hubungannya secara parsial, akan tetapi fenomena


tersebut dilihat sebagai sebagian dari suatu keseluruhan. Spesifikasi

penelitian yang digunakan adalah kualitatif-diskriptif yang bertujuan


mengumpulkan informasi ataupun data untuk disusun, dijelaskan dan
dianalisis (Muhtadi dan Safei, 2003: 128).
Penelitian kualitatif deskriptif ini merupakan penelitian yang
dimaksudkan

untuk

menguji

hipotesis

tertentu

tetapi

hanya

menggambarkan apa adanya tentang sesuatu variabel, gejala atau


keadaan (Arikunto, 1993: 310)
B. Sumber dan Jenis Data
Sumber dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu primer
dan sekunder. Menurut Lexy J. Moleong, sumber data utama dalam
penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah
data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Moleong, 2004: 157).
Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan
data kepada pengumpul data (Saebani, 2008: 186). Yang menjadi
subyek penelitian adalah Kepala Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali, Kepala Bagian Biro Haji dan Umrah, semua staf yang saling
terkait, dan jamaah haji. Metode ini penulis gunakan untuk
mendapatkan informasi dan data-data tentang penyelenggaraan
manasik haji tahun 2010-2011 di Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali.
Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dari sumber
kedua atau sumber sekunder dari data yang kita butuhkan (Bungin,
2009: 122). Data sekunder berupa arsip, dokumentasi, visi dan misi,

UU tentang penyelenggaraan haji Indonesia dan semua informasi yang


berkaitan di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
C. Metode Pengumpulan Data
Metode

pengumpulan

data

adalah

bagian

instrumen

pengumpulan data yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu


penelitian (Bungin, 2009: 123). Untuk memperoleh data empiris
tentang penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali, peneliti menggunakan tekhnik pengumpulan data tersebut
melalui beberapa metode yaitu:
1. Observasi
Observasi adalah mengamati dan mendengar dalam rangka
memahami, mencari jawaban, mencari bukti terhadap fenomena
sosial keagamaan (perilaku, kejadian-kejadian, keadaan, benda, dan
simbol-simbol tertentu selama beberapa waktu tanpa mempengaruhi
fenomena yang diobservasi, dengan mencatat, merekam, memotret
fenomena tersebut guna penemuan data analisis (Suprayogo, 2001:
167). Dalam penelitian ini, obyek yang menjadi sasaran pengamatan
adalah seluruh jajaran pegawai Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali, khususnya pada bagian Biro Haji dan Umrah dalam
penyelenggaraan manasik haji.
2. Interview (Wawancara)
Metode interview atau wawancara adalah sebuah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya

jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden


atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan
pedoman (guide) wawancara (Bungin, 2009: 126).
Peneliti dalam hal ini berkedudukan sebagai interviewer,
mengajukan pertanyaan, menilai jawaban, meminta penjelasan,
mencatat dan menggali pertanyaan lebih dalam. Di pihak lain,
sumber informasi atau interview menjawab pertanyaan, memberi
penjelasan dan kadang-kadang juga membalas pertanyaan (Hadi,
2004: 218).
Metode ini digunakan untuk mendapatkan dan menggali
data tentang sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan
manasik haji Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 20102011. Dalam wawancara ini penulis menggunakan wawancara
terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu
pewawancara menyiapkan pedoman (guide) tertulis tentang apa
yang hendak ditanyakan kepada responden (Bungin, 2009: 127).
Semua responden yang diwawancarai diajukan pertanyaanpertanyaan yang sama, dengan kata-kata dan tata urutan secara
uniform. Di samping itu sebagai bentuk pertanyaan, digunakan
wawancara terbuka yaitu terdiri pertanyaan-pertanyaan yang
sedemikian rupa bentuknya sehingga responden diberi kebebasan
untuk menjawabnya. Adapun yang menjadi responden dalam
penelitian ini adalah semua staf pegawai Kementerian Agama

Kabupaten Boyolali, khususnya pada Gara Haji dan Umrah,


pembimbing manasik haji, serta calon jamaah haji.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah suatu penyelidikan terhadap
benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah dan dokumen
(Arikunto, 1998: 145). Peneliti menggunakan metode ini untuk
memperoleh

dokumen-dokumen

atau

arsip

yang

ada

di

Kementerian Agama Kabupaten Boyolali.


D. Teknis Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan
dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam suatu
kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis,
menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan
dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh
diri sendiri maupun orang lain (Saebani, 2008: 199). Setelah
memperoleh data dari observasi, interview, dan dokumentasi, langkah
selanjutnya adalah mengklasifikasikan sesuai dengan permasalahan
yang diteliti, kemudian data tersebut disusun dan dianalisis dengan
analisis data.
Metode yang digunakan untuk menganalisis data, penulis
menggunakan metode analisis deskriptif, yaitu gambaran atau lukisan
secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fenomena atau

hubungan antar fenomena yang diselidiki (Suprayogo, 2001 : 136).


Data yang dikumpulkan semat-mata bersifat deskriptif sehingga tidak
bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi
maupun mempelajari implikasi (Azwar, 1998: 6-7).
Metode

ini

digunakan

untuk

mendiskripsikan

tentang

bagaimana penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali, dan penghimpunan sampai pengelolaannya, serta
digunakan untuk memperoleh SWOT dari penyelenggaraan manasik
haji Kementerian Agama Kabupaten Boyolali, kemudian data akan
dianalisa serta menyimpulkannya dengan metode induktif.
Berfikir induktif adalah proses logika yang berangkat dari data
empirik lewat observasi menuju kepada suatu teori (Saifuddin Azwar,
2010: 40).

1.6

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi adalah merupakan hal yang penting,
karena menpunyai fungsi untuk menyatakan garis-garis besar dari masingmasing bab yang saling berkaitan dan berurutan. Hal ini dimaksudkan agar
tidak terjadi kekeliruan dalam penyusunanya, sehingga terhindar dari
kesalahan ketika penyajian pembahasan masalah. Adapun sistematika
penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I: Pada bab awal ini berisi tentang pendahuluan penulisan skripsi
yang terdiri dari latar belakang masalah, pokok permasalahan

yang akan diteliti, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan


pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II: Merupakan konsep dasar dan kerangka teoritik penelitian. Dalam
bab ini akan dibahas tentang penyelenggaraan ibadah haji,
manasik haji, fiqih haji, analisis SWOT.
BAB III: Bab tiga berisi tentang data yang diperoleh dari hasil penelitian
lapangan yang dilakukan di Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali. Data tersebut meliputi profil Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali, bab ini juga akan menyajikan tentang
penyelenggaran manasik haji Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali, dan SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman)
dari

penyelenggaraan

manasik

haji

Kementerian

Agama

Kabupaten Boyolali.
BAB IV: Merupakan inti dari proses penelitian itu sendiri. Yang berisi
tentang analisis dari data-data yang telah terkumpul dan tersaji
dalam

bab

tiga.

Didalamnya

berisi

analisis

tentang

penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama Kabupaten


Boyolali,

analisis

SWOT

penyelenggaraan

manasik

haji

Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 2010-2011.


BAB V: Merupakan bagian penutup. Di dalamnya berisi kesimpulan dan
saran-saran.

BAB II
KONSEP DASAR ANALISIS SWOT DALAM PENYELENGGARAAN
MANASIK HAJI

1.1 Konsep Dasar Analisis SWOT


Globalisasi merupakan suatu proses yang terkait dengan tiga faktor
yang saling berhubungan yaitu mengenai kedekatan, lokasi dan sikap.
Kedekatan memberikan penekanan pada ikatan dengan pelanggan, pesaing,
pemasok dan pemerintah yang jauh lebih banyak dan beragam. Secara umum,
penentuan strategi yang tepat bagi perusahaan dimulai dengan mengenali
peluang dan ancaman yang tekandung dalam lingkungan eksternal serta
memahami kekuatan dan kelemahan pada aspek internal perusahaan. Dengan
demikian, perusahaan mampu bersaing dan mencapai tujuan secara efektif dan
efisien.
Analisis SWOT mempunyai peranan penting dalam sebuah organisasi
atau lembaga yaitu untuk membantu para manajer untuk mengembangkan
suatu lembaga kearah tujuan yang diinginkan. Jika melihat berbagai hal yang
sudah dikemukakan di atas, maka keberadaan analisis SWOT mempunyai
peran penting yang sangat vital. Untuk dilaksanakan oleh organisasi atau
lembaga tak terkecuali Kementerian Agama sekalipun.
Sebelum membahas analisis SWOT alangkah baiknya menyajikan
dahulu mengenai pengertian manajemen. Karena analisis SWOT bagian dari
manajemen itu sendiri.

1.1.1 Pengertian Manajemen


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, manajemen adalah
penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005: 708). Secara etimologi kata
manajemen berasal dari kata manage atau manus yang berarti:
memimpin, menangani, mengatur atau membimbing (Ruslan, 1999:
1).
Sedang secara terminologi ada beberapa pengertian. Dalam
penelitian ini akan penulis sampaikan beberapa pengertian
manajemen yang diungkapkan oleh para tokoh dan ahli dalam
bidang manajemen. Adapun pengertian manajemen menurut para
ahli bidang manajemen di antaranya adalah sebagai berikut :
1. George R. Terry
George R. Terry

mendefinisikan manajemen sebagaimana

dikutip oleh Winardi dalam bukunya yang berjudul Azas-Azas


Manajemen adalah proses yang khas yang terdiri dari tindakantindakan planning, organizing, actuating atau controlling dimana
pada masing-masing bidang digunakan baik ilmu pengetahuan
maupun keahlian dan yang diikuti secara berurutan dalam
rangka usaha mencapai sasaran yang telah ditetapkan semula
(Winardi, 1971: 15).

2. Sediyono
Manajemen

adalah

segenap

perbuatan

menggerakkan

sekelompok orang dan mengarahkan segala fasilitas dalam suatu


usaha kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu (Sediyono,
1968: 13).
3. Richard L. Daft
Manajemen merupakan pencapaian tujuan organisasi dengan cara
yang efektif melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
dan pengendalian sumber daya organisasi (Richard, 2007: 6)
4. Munir dan Wahyu Ilaihi
Ada tiga dimensi penting yang terdapat dari pengertian
manajemen, yaitu: pertama, manajemen terjadi berkat kegiatan
yang dilakukan oleh seorang pengelola; kedua, kegiatan dilakukan
secara bersama-sama melalui orang lain untuk mencapai tujuan;
dan ketiga, manajemen itu dilaksanakan dalam organisasi sehingga
tujuan yang ingin dicapai adalah tujuan organisasi. (Munir, Ilaihi,
2006: 11).
5. S.P. Siagian
Manajemen sebagai kemampuan atau keterampilan untuk
memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui
kegiatan-kegiatan orang lain (Siagian, 2007: 16).
Berdasarkan definisi manajemen di atas walaupun satu
sama lain saling berbeda, tetapi terdapat unsur kesamaannya,

dan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa manajemen adalah


suatu proses
melakukan

yang terdiri dari tindakan-tindakan untuk


perencanaan,

pengorganisasian,

penyusunan,

memimpin dan pengawasan, di mana kegiatan-kegiatan tersebut


mempunyai tujuan tertentu yang akan dicapai oleh kelompok
yang bersangkutan.

1.1.2 Unsur-Unsur Manajemen


Adapun unsur-unsur manajemen yang dirumuskan oleh para
ahli manajemen (Aminullah, 2004 : 129) dengan istilah The six M
terdiri atas:
1. Man (manusia, tenaga kerja)
Titik pusat manajemen adalah manusia yang berhak sebagai
pelaksana, karena tidak ada manajemen tanpa manusia. Dengan
demikian faktor manusia merupakan unsur yang paling penting dan
menentukan dalam setiap bentuk kegiatan manajemen. Manusia
yang menentukan tujuan, yang menggunakan dan melaksanakan
proses kegiatan manajemen. Jadi, manusialah yang merencanakan,
mengorganisasikan, memimpin dan mengawasi setiap kerjasama
yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya.
Dalam hal haji, yang disebut Man disini berarti sumber
daya manusia berupa pembimbing haji.

2. Money (uang atau pembiayaan)


Unsur lain yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai
tujuan manajemen adalah uang. Pengaruh uang sangat besar, karena
uang dibutuhkan oleh setiap manusia, disamping sebagai alat tukar,
uang juga berfungsi sebagai alat pengukur nilai besar atau kecilnya
suatu kegiatan. Suatu perencanaan yang diprogramkan bila tanpa
ada unsur pendukung yang akan membiayai dari kegiatan tersebut
maka akan sia-sia.
Pembiayaan ini berarti dana haji yang akan dipergunakan untuk
bimbingan manasik haji yang bersumber dari Kementerian Agama.
3. Material (bahan-bahan atau perlengkapan)
Sebagai perlengkapan dari suatu yang dibutuhkan, maka adanya
bahan yang dapat diolah merupakan tindak lanjut dari sebuah
proses manajemen. Tanpa adanya material (bahan-bahan), manusia
tidak dapat berbuat banyak dalam mencapai tujuannya tanpa
adanya material yang akan diproses, tidak mungkin ada wujud dari
hasil yang diproses.
4. Machines (mesin-mesin)
Adalah alat pelengkap guna memudahkan suatu proses.
Selain itu, suatu kegiatan dapat dikatakan cepat dan mudah bila
disertai adanya alat sebagai pelengkap. Lebih dari itu, di zaman
yang lebih menonjol sisi-sisi kemutakhirannya ditengarai dengan
adanya sebuah mesin-mesin yang dianggap canggih sehingga hasil

yang diperolehnya dapat efektif dan efisien, seperti halnya


komputer, alat tulis menulis dan yang lainnya yang mendukung.
5. Method (metode, cara, sistem kerja)
Cara melaksanakan suatu pekerjaan guna pencapaian tujuan
yang tertentu, maka penggunaan metode tertentu pula yang akan
mengiringinya. Metode guna pencapaian sesuatu juga sebagai sarana
kelancaran dalam merampungkan tugas.
6. Market (pasar)
Sebagai hasil dari produktifitas maka akan berakhir juga
lingkup yang lebih luas, yaitu pasar. Karena, tanpa kita sadari tujuan
produktifitas adalah pemuasan konsumen terhadap barang yang kita
hasilkan (Hamzah, 1981: 31). Peran pasar sangat penting, yakni
sebagai tempat untuk memasarkan hasil produksi (barang) dari suatu
kegiatan usaha. Oleh karena itu, pemasaran dalam manajemen
ditetapkan sebagai unsur produksi manajemen. Baik buruknya suatu
kualitas atau besar kecilnya suatu laba yang akan diperoleh suatu
perusahaan dapat dikenal oleh masyarakat tergantung bagaimana
metode penguasaan pangsa pasar itu sendiri.
Dari uraian di atas, dapat kita pahami bahwa unsur-unsur
manajemen merupakan faktor mutlak yang harus ada pada setiap
kegiatan manajemen dan dalam bentuk manajemen apapun. Perlu
diketahui juga, bahwa ke-enam unsur manajemen tersebut biasanya
berlaku untuk kegiatan yang bersifat niaga atau perdagangan.

Sedangkan kegiatan yang bersifat non-niaga (jasa) biasanya hanya


menggunakan lima unsur manajemen, karena unsur market tidak
disertakan.
1.1.3 Tahapan-Tahapan atau Fungsi-Fungsi Manajemen
Dalam kelancaran proses kegiatan manajemen diperlukan
beberapa tahapan-tahapan yang dianggap penting. Tahapan-tahapan
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan tahapan pertama dari proses
manajemen. Rencana-rencana itu dibutuhkan untuk memberikan
kepada organisasi tujuan-tujuannya dan menetapkan prosedur
terbaik untuk mencapai tujuan-tujuan itu, dan perencanaan suatu
pendekatan yang terorganisir untuk menghadapi problemaproblema di masa yang akan datang (Sarwoto, 1978: 69).
Perencanaan adalah pemilihan dan menghubungkan fakta,
menggunakan asumsi- asumsi tentang masa depan dalam membuat
visualisasi dan perumusan kegiatan yang diusulkan dan memang
diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan (Terry, 2003:
46).
Perencanaan yang matang dan strategis (strategic planning)
serta pertimbangan masa depan (fore casting) secara tepat
merupakan salah satu modal suatu organisasi atau lembaga.
Perencanaan di sini dimaksudkan sebagai usaha untuk melakukan

penyusunan rangkaian kegiatan atau

program

yang

akan

dilaksanakan, sekaligus menentukan time schedule dan hal-hal


yang berkaitan dengan program atau kegiatan yang akan dilakukan.
Proses perencanaan menurut Abdul Rosyad Saleh dalam
bukunya Manajemen Dakwah Islam (Abdul, 1993: 54), terdiri dari
beberapa langkah, yaitu:
a. Perkiraan dan penghitungan masa depan (forecasting)
b. Penentuan dan perumusan sasaran dalam rangka mencapai
tujuan yang telah ditetapkan
c. Penetapan tindakan-tindakan dan prioritas pelaksanaannya
d. Penetapan metode
e. Penetapan penjadwalan waktu
f. Penempatan lokasi
g. Penetapan biaya, fasilitas dan faktor-faktor lainnya yang
diperlukan.
Perencanaan dirumuskan untuk memberikan acuan bagi
panitia penyelenggaraan bimbinga manasik haji. Perencanaan di
sini meliputi membuat rancangan penyelenggaraan bimbingan
manasik haji.

Manfaat perencanaan bagi keberhasilan aktivitas dakwah:


(Munir, Ilaihi, 2006: 105)
a. Dapat memberikan batasan tujuan (sasaran dan target dakwah)
sehingga mampu mengarahkan para dai secara tepat dan
maksimal.
b. Menghindari penggunaan secara sporadis sumber daya insani
dan menghindari pula benturan diantara aktivitas dakwah yang
tumpang-tindih.
c. Dapat melakukan prediksi dan antisipasi mengenai berbagai
problema dan merupakan sebuah persiapan dini untuk
memecahkan masalah dakwah.
d. Merupakan usaha untuk menyiapkan kader dai dan mengenai
fasilitas, potensi dan kemampuan umat.
e. Dapat melakukan pengorganisasian dan penghematan waktu
dan pengelolaannya secara baik.
f. Menghemat fasilitas dan kemampuan insani serta materiil yang
ada.
g. Dapat dilakukan pengawasan sesuai dengan ukuran-ukuran
objektif dan tertentu.
h. Merangkai dan mengurutkan tahapan-tahapan pelaksanaan
sehingga akan menghasilkan program yang terpadu dan
sempurna.

Sedangkan, adanya perencanaan diperlukan karena: (Munir,


Ilaihi, 2006: 105)
a. Perencanaan dapat memberikan arah kemana dakwah itu harus
dibawa.
b. Dapat mengurangi dampak dari perubahan yang tidak
diinginkan.
c. Dapat meminimalisir suatu pemborosan dan kelebihan.
d. Dapat menentukan standar dalam pengendalian dakwah.
2. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian

didefinisikan

sebagai

penataan

sekumpulan tugas ke dalam unit-unit yang dapat dikelola dan


penetapan hubungan formal diantara orang-orang yang diserahi
berbagai tugas (Sukiswa, 1978: 29). Pengorganisasian terjadi
karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat
ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan
tenaga-tenaga bantu.
Dalam
diorganisasikan

rangka
dengan

pelaksanaan
baik,

program-program

artinya

pengelompokan

harus
dan

pengaturan antara berbagai komponen yang ada maupun kegiatan


digerakkan sebagai satu kesatuan sesuai dengan perencanaan yang
ada. Setiap bidang yang ada dalam organisasi merupakan
komponen yang membentuk satu sistem yang saling berhubungan

baik secara vertikal maupun horizontal yang bermuara ke satu arah


untuk mencapai suatu tujuan.
Dalam

proses

pengorganisasian diperlukan

berbagai

rangkaian kegiatan, yaitu :


a. Perumusan Tujuan
b. Penetapan tugas pokok
c. Perincian kegiatan
d. Pengelompokan kegiatan kegiatan dalam fungsi fungsi
e. Departementasi
f. Pelimpahan wewenang
g. Staffing
h. Fasilitas
Kekuatan suatu organisasi terletak pada kemampuan untuk
menyusun berbagai sumber dayanya, dalam mencapai suatu tujuan.
Semakin terkoordinir dan terintegrasi kerja organisasi, semakin
efektif pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Adapun tujuan
organisasi ialah untuk membimbing manusia-manusia bekerjasama
secara efektif (Sarwoto, 1978: 7).
Pengorganisasian

dalam

penyelenggaraan

bimbingan

manasik haji meliputi pembagian tugas. Setelah pembagian tugas


selesai kemudian dilanjutkan dengan penempatan orang atau
petugas pada masing-masing unit untuk melaksanakan dan
bertanggung jawab terhadap tugas tersebut.

3. Penggerakan (actuating)
Penggerakan merupakan bagian terpenting daripada proses
manajemen, bahkan manajer praktis beranggapan bahwa pelaksanaan
merupakan intisari daripada manajemen. Pelaksanaan bimbingan
manasik haji dilaksanakan oleh panitia yang dibentuk Kementerian
Agama Kabupaten Buyolali.
4. Pengawasan (controlling)
Lembaga sesuai dengan prinsip pembagian tugas dan
pemberian wewenang dan tanggung jawab harus selalu memberikan
kontrol atau mengendalikan setiap kegiatan yang dilakukan. Dengan
demikian akan dapat dihindari adanya penyimpangan-penyimpangan
yang dapat berakibat fatal bagi mekanisme organisasi, sehingga dapat
mengganggu pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Oleh sebab itu, lembaga harus selalu memonitor dan
mengawasi setiap kegiatan atau pelaksanaan program, sehingga
masalah-masalah yang dapat mengganggu jalannya roda organisasi
dapat sedini mungkin diketahui, agar dapat segera diambil langkahlangkah perbaikan untuk mencapai tujuan yang ada. Di samping itu,
dengan tindakan-tindakan monitoring tersebut lembaga juga dapat
segera mengadakan evaluasi terhadap seluruh kegiatan yang telah
dilanjutkan

sesuai

dengan

pengembangan selanjutnya.

program

kerja

guna

kepentingan

Pengawasan dapat

dilaksanakan dan dilakukan dengan

menggunakan 2 (dua) teknik, yaitu teknik langsung dan pengawasan


tidak langsung. Pengawasan langsung adalah pengawasan yang
dilakukan oleh manajer pada waktu kegiatan-kegiatan sedang berjalan,
sedangkan pengawasan tidak langsung adalah pengawasan dari jarak
jauh melalui laporan yang disampaikan oleh bawahan (Sarwoto, 1978:
103).
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kegiatan pengawasan
baik internal maupun eksternal, memiliki tujuan: (Kayo, 2007 : 38-39)
a. Mempertebal rasa tanggung jawab terhadap seseorang yang
diserahi tugas dalam melaksanakan kegiatan dakwah.
b. Mendidik agar kegiatan dakwah dapat dilaksanakan sesuai dengan
prosedur dan mekanisme yang telah ditentukan.
c. Mencegah terjadinya kelalaian atau kesalahan dalam melaksanakan
kegiatan dakwah.
d. Memperbaiki kesalahan yang terjadi agar tidak terulang lagi di
masa yang akan datang, sehingga kegiatan dakwah dapat berjalan
lebih aktif dan profesional.
1.1.4 Pengertian Analisis SWOT
SWOT

merupakan akronim untuk kata-kata

Strengths,

(kekuatan), Weaknesses, (kelemahan), Oportunities, (peluang) dan


Threats (ancaman). Faktor kekuatan dan kelemahan terdapat dalam
tubuh suatu organisasi termasuk satuan bisnis tertentu sedangkan

peluang dan ancaman merupakan faktor-faktor lingkungan yang


dihadapi oleh organisasi atau perusahaan dalam suatu bisnis yang
bersangkutan.
Strengths (kekuatan) yang dimaksud dengan faktor-faktor
kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan termasuk satuan-satuan bisnis
di dalamnya adalah antara lain kompetensi khusus yang terdapat dalam
organisasi yang berakibat pada kemilikan keunggulan komparatif oleh
unit usaha di pasaran. Dikatakan demikian karena satuan bisnis
memiliki sumber, ketrampilan, produk andalan dan sebagainya yang
membuatnya lebih kuat dari para pesaing dalam memuaskan
kebutuhan pasar yang sudah direncanakan akan dilayani oleh satuan
usaha yang bersangkutan. Contoh-contoh bidang keunggulan itu antara
lain kekuatan pada sumber keuangan, citra positif, keunggulan
kedudukan di pasar, hubungan dengan pemasok, loyalitas pengguna
dan kepercayaan berbagai pihak yang berkepentingan.
Weaknesses
kelemahan

(kelemahan)

jika

orang

berbicara

tentang

yang kekurangan dalam hal sunber, ketrampilan dan

kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan kinerja


organisasi yang memuaskan. Dalam praktek, berbagai keterbatasan dan
kekurangan kemampuan tersebut bisa terlihat pada sarana dan
prasarana yang dimiliki atau tidak dimiliki, kemampuan manajerial
yang rendah, ketrampilan pemasaran yang tidak sesuai dengan tuntutan
pasar, produk yang tidak atau kurang diminati oleh para pengguna atau

calon pengguna dan tingkat perolehan keuntungan yang kurang


memadai.
Oportunities (peluang) definisi sederhana tentang peluang ialah
bebagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi suatu satuan
bisnis. Yang dimaksud berbagai situasi tersebut antara lain:
a) Kecenderungan penting yang terjadi di kalangan pengguna produk,
b) Identifikasi suatu segmen pasar yang belum mendapat perhatian,
c) Perubahan dalam kondisi persaingan,
d) Perubahan dalam peraturan perundangan yang membuka berbagai
kesempatan baru dalam kegiatan berusaha,
e) Hubungan dengan para pembeli yang akrab, dan
f) Hubungan dengan pemasok yang harmonis. (Siagian, 2008: 173)
Threats (ancaman) pengertian ancaman merupakan kebalikan
pengertian peluang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ancaman
adalah faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan suatu
satuan bisnis. Jika tidak diatasi, ancaman akan menjadi ganjalan bagi
satuan bisnis yang bersangkutan baik untuk masa sekarang maupun di
masa depan. Berbagai contohnya antara lain:
a) Masuknya pesaing baru di pasar yang sudah dilayani oleh satuan
bisnis,
b) Pertumbuhan pasar yang lamban,
c) Meningkatnya posisi tawar pembeli produk yang dihasilkan,

d) Menguatnya posisi tawar pemasok bahan mentah atau bahan baku


yang diperlukan untuk diproses lebih lanjut menjadi produk
tertentu,
e) Perkembangan dan perubahan teknologi yang belum dikuasai,
f) Perubahan dalam peraturan perundang-undangan yang sifatnya
restriktif. (Siagian, 2008: 174)
Jika dikatakan bahwa analisis SWOT dapat merupakan
instrumen yang ampuh dalam melakukan analisis stratejik, keampuhan
tersebut terletak pada kemampuan para penentu strategi perusahaan
untuk memaksimalkan peranan faktor kekuatan dan kemanfaatan
peluang sehingga sekaligus berperan sebagai alat untuk minimalisasi
kelemahan yang ada dalam tubuh organisasi dan menekan dampak
ancaman yang timbul dan harus dihadapi. Jika para penentu strategi
perusahaan mampu melakukan kedua hal tersebut dengan tepat,
biasanya upaya untuk memilih dan menentukan strategi yang efektif
(Siagian, 2008: 172)
Penting pula untuk menyadari bahwa berbagai faktor kekuatan
dan kelemahan yang sifatnya kritikal berperan sangat penting dalam
membatasi usaha pencarian berbagai alternatif dan pilihan stratejik
untuk digunakan. Dengan perkataan lain, dengan analisis SWOT
kompetensi khusus yang dimiliki dan kelemahan yan menonjol dapat
dinilai dan dikaitkan dengan berbagai faktor penentu keberhasilan
suatu usaha.

Pengalaman banyak perusahaan menunjukkan bahwa analisis


SWOT dapat diterapkan dalam paling sedikit tiga bentuk untuk
membuat keputusan sifatnya strategik pula. Pertama analisis SWOT
memungkinkan para

pengambil keputusan kunci dalam suatu

perusahaan menggunakan kerangka berfikir

yang logis

dalam

pembahasan yang mereka lakukan yang menyangkut situasi dalam


mana organisasi berada, identifikasi dan analisis berbagai alternatif
yang layak untuk dipertimbangkan dan akhirnya menjatuhkan pilihan
pada alternatif yang diperkirakan paling ampuh.
Kedua penerapan kedua dari analisis SWOT adalah dengan
pembandingan secara sistematik antara peluang dan ancaman eksternal
disatu pihak dan kekuatan dan kelemahan internal di lain pihak.
Maksud

utama

penerapan

pendekatan

ini

ialah

untuk

mengidentifiasikan dan mengenali satu dari tempat pola yang bersifat


khas dalam keselarasan situasi internal dan eksternal yang dihadapi
oleh satuan bisnis yang bersangkutan
Ketiga setiap orang yang sudah memahami dan pernah
menggunkan analisis SWOT pasti menyadari bahwa tantangan utama
dalam penerapan analisis SWOT terletak pada identifikasi dari posisi
sebernarnya dari suatu satuan bisnis. Dikatakan demikian karena tidak
mustahil suatu satuan bisnis yang menghadapi berbagai peluang juga
harus berupaya menghilangkan berbagai ancaman. Mungkin pula
terjadi bahwa satuan bisnis mempunyai berbagai kelemahan, tetapi

juga berbagai faktor kekuatan dalam menghadapi pesaing. Karena itu


penting untuk menyadari nilai analisis SWOT tidak terletak hanya
pada penempatan satuan bisnis pada sel tertentu akan tetapi
memungkinkan para penentu strategi perusahaan untuk melihat posisi
satuan bisnis yang sedang diteliti tersebut secara menyeluruh disoroti
khusus dari sudut produk yang dihasilkan dan pasar yang dilayani.
Dari sekian banyak pertanyaan yang dapat dijawab dengan
penerapan analisis SWOT, pertanyaan utama yang menjadi fokus
perhatian penggunaanya ditunjukkan pada penemuan jawaban terhadap
satu pertanyaan mendasar, yaitu: karena sasaran akhir analisis SWOT
adalah penetuan strategi dasar, apa sesungguhnya maksud utama
strategi dasar tersebut? Dinyatakan dengan cara lain, hasil analisis
SWOT harus merupakan masukan bagi teknik penilaian strategi dasar
tertentu. (Siagian, 2008: 177)
Untuk mengalalisa SWOT para manajer menggunakan empat
langkah strategi. Empat strategi itu meliputi:
Pertama, strategi SO (Strengths-Opportunities) adalah strategi
yang

digunakan

perusahaan

dengan

memanfaatkan

atau

mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan berbagai


peluang.
Kedua,

strategi

WO

(Weaknesses-Opportunities)

adalah

strategi yang digunakan dengan seoptimal mungkin meminimalisir


kelemahan yang ada untuk memanfaatkan berbagai peluang.

Ketiga ST (Strengths-Threats) adalah strategi yang digunakan


perusahaan dengan memanfaatkan atau mengoptimalkan kekuatan
untuk mengurangi berbagai ancaman.
Keempat, strategi WT (Weaknesses-Threats) adalah strategi
yang

digunakan

untuk

mengurangi

kelemahan

dalam

rangka

meminimalisir atau menghindari ancaman.(Purwanto, 2008:132)

1.2 Penyelenggaraan Ibadah Haji


Penyelenggaraan ibadah haji merupakan tugas negara melalui
Kementerian Agama. Sebagai penyelenggaraan ibadah haji Kementerian
Agama dituntut profesional. Penyelenggaraan ibadah haji setiap tahunnya
selalu menuai pujian sekaligus kritikan dari berbagai kalangan, yang
disampaikan secara lisan maupun tertulis. Wacana yang selalu muncul
kepermukaan adalah ketidakpuasan terhadap manajemen penyelenggaraan haji
dan pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah. Di sisi lain pemerintah selalu
berusaha mengadakan inovasi dan penyempurnaan, baik aspek manajerial,
sumber daya manusia, pola operasional, diversifikasi angkutan, pemondokan
dan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk
berperan serta dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Pengaturan pelaksanaan haji melibatkan banyak lembaga pemerintah
dan non pemerintah yang bertugas sesuai dengan fungsi dan peran masingmasing, sehingga tidak mungkin ditangani oleh satu lembaga saja. Di dalam
negeri jamaah haji, khususnya di Indonesia, masalah haji ditangani oleh

Kementerian Agama dengan melibatkan Kementerian yang lain dan unsur


masyarakat seperti Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia,
Departemen Kesehatan, Departemen Perhubungan, Departeman Dalam
Negeri, perusahaan penerbangan, biro perjalanan umum serta unsur
masyarakat lainya. Sedangkan di Arab Saudi ditangani oleh negara dengan
melibatkan Kementerian Haji Arab Saudi.
Karena melibatkan hubungan antar pemerintah dan banyak pihak serta
lembaga yang secara intitusional mempunyai wewenang terhadap pelaksanaan
haji, maka diperlukan suatu sistem untuk menangani masalah haji, dan dalam
kaitan inilah organisasi pelaksanaan haji berperan dalam mengurus,
mengelola, menatalaksana, dan mengatur pelaksanaan haji. (Ahmad Nidjam,
2008:23)
Berdasarkan

Undang-Undang

No.

17

Tahun

1999

tentang

Penyelenggaraan Ibadah Haji, bahwa penyelenggaraan ibadah haji merupakan


tugas nasional dan menjadi tanggung jawab pemerintah, dibawah koordinasi
Menteri Agama. Untuk memenuhi keinginan dan harapan umat islam tesebut,
maka pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan, dan
perlindungan dengan menyediakan fasilitas kemudahan, keamanan dan
kenyamanan yang diperlukan oleh setiap warga negara yang menuaikan
ibadah haji(Depag RI,2003: 1).
Dalam penyelenggaraan ibadah haji, seperti dijelaskan dalam pasal 5
dan 9 Undang-Undang No. 13 tahun 2008, disebutkan bahwa warga negara
harus mendaftarkan diri kepada panitia penyelenggara ibadah haji di

Kementerian Agama kabupaten atau kota setempat, membayar Biaya


Penyelenggaraan Ibadah Haji serta

harus

memenuhi dan

mematuhi

persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam penyelenggaraan ibadah haji.


Selain itu, dijelaskan bahwa penyelenggaraan ibadah haji dikoordinasi oleh
menteri tingkat pusat, gurbenur di tingkat provinsi, bupati atau walikota di
tingkat kabupaten atau kota dan kepala perwakilan Republik Indonesia untuk
Kerajaan Arab Saudi.
Melihat ketentuan dalam undang-undang diatas, dapat dipahami bahwa
penyelenggaraan manasik haji merupakan tugas Kementerian Agama dalam
membina jamaah haji untuk mempersiapkan haji di Arab Saudi.

1.3 Pengertian Manasik Haji


Istilah manasik berasal dari kata manasik secara etimologi atau
bahasa berasal dari akar kata

yang artinya ibadah (Al-

Munawar, 1984: 1414 ). Berarti manasik haji adalah ibadah haji. Jadi manasik
haji itu berarti ibadah haji itu sendiri yang didalamnya terdiri dari rukun,
wajib, sunah haji dan lain-lain (Rochim, 1992: 312).
Ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan bagi kaum muslim yang
mampu secara material, fisik, maupun keilmuan dengan berkunjung ke
beberapa tempat di Arab Saudi dan melaksanakan beberapa kegiatan pada satu
waktu yang telah ditentukan yaitu pada bulan Dzulhijjah (http://berumrahberhaji.blogspot.com/2009/09/pengertian-haji-dan-umroh.html).

Pemakaian istilah manasik pada ibadah haji saja dan tidak digunakan
pada ibadah-ibadah yang lain. Bimbingan manasik haji adalah petunjuk atau
penjelasan cara mengerjakan dan sebagai tuntunan hal-hal yang berhubungan
dengan rukun, wajib, dan sunah haji dengan menggunakan miniatur Kabah
dan dilaksanaknn sebelum berangkat ke tanah suci. (Depdikbud, 2009:624)
Melihat definisi di atas, menurut penulis penyelenggaraan manasik haji
adalah suatu kegiatan ibadah haji yang dikerjakan para jamaah haji sebelum
berangkat menunaikan haji di Arab Saudi sebagai latihan atau pembekalan
yang menjadi tugas Kementerian Agama.
Tujuan diadakanya manasik haji adalah untuk mempermudah cara
jamaah haji dalam memahami tentang ibadah haji baik secara teoritis maupun
praktis sehingga diharapkan menjadi calon jamaah haji yang mandiri serta
dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik dan benar.
1.4 Fiqih Haji
1.2.1 Pengertian Haji
Kata haji berasal dari akar kata - yang artinya
menuju tempat tertentu, secara bahasa haji berarti mengunjungi
Baitullah untuk melaksanakan amalan tertentu meliputi wukuf, sai,
dan amalan lainya ( Depag RI, 2004: 4 ).
Menurut ahmad zacky haji secara harfiah berarti sengaja
melakukan sesuatu (al-Qashdu).

Sedangkan menurut istilah haji adalah:


Dalam kamus besar bahasa Indonesia haji adalah rukun Islam yang
kelima ( kewajiban ibadah ) yang harus dilakukan oleh orang islam
yang mampu dengan mengunjungi Kabah pada bulan haji dan
mengerjakan amalan haji seperti ihram, thowaf, sai, dan wukuf (
KBBI, 1990: 146 ).
Haji adalah perjalanan menuju makkah dengan tujuan untuk
melaksanakan thowaf, sai, wukuf ( bermalam ) di Arofah dan
beberapa ibadah yang lain sebagai bentuk pemenuhan atas perintah
Allah SWT ( Sabiq, 2008: 2).
Menurut Fathurahman, haji adalah berkunjung ke Baitullah (
Kabah ) untuk menunaikan atau menyengajakan serangkaian ibadah
yang sudah ditentukan syara pada waktu atau tempat dan dengan caracara tertentu ( Fathurahman, 2004: 1 ).
Menurut Dr. H. Awwaludin Pimay, haji adalah berkunjung ke
Baitullah ( Kabah ) untuk melakukan beberapa amalan-amalan antara
lain: ihram, wukuf, thowaf, sai, tahallul dan amalan-amalan lainya
dengan syarat demi memenuhi panggilan Allah dan mengharap ridho
dari Allah SWT ( Pimay, 2005: 1 ).
Menurut H. A. Mahfud Anwar, haji adalah menuju tanah suci
makkah ( Kabah ) karena menjalankan ibadah kepada Allah SWT
pada waktu tertentu dengan cara tertentu ( Anwar, 2004: 5 ).

Menurut

H. Sulaiman Rasyid, haji adalah menyengaja

mengunjungi Kabah untuk melakukan beberapa amalan ibadah,


dengan syarat-syarat tertentu ( Rasyid, 1986: 4 ).
Yang dimaksudkan mengunjungi itu adalah mendatangi,
kemudian tempat tertentu itu adalah kabah dan arofah. Sedangkan
waktu tertentu itu adalah setiap bulan bulan haji yaitu tanggal 8
sampai 13 Dzulhijjah setiap tahun. Sedangkan perbuatan tertentu itu
meliputi berihram, wukuf di Arofah, mabit di musdalifah, mabit di
mina, melempar jumrah, thowaf dan sai.
Yang dimaksud mampu (istitaah) adalah sehat jasmani
maupun rohani untuk menempuh perjalanan ke Arab Saudi, serta
memiliki bekal yang cukup untuk membiayai dirinya guna membayar
biaya pelaksanaan ibadah haji dan bekal keluarga yang ditinggalkan.
Dengan mengerjakan haji seseorang akan dapat mengambil
berbagai manfaat baik yang bersifat materi maupun hal-hal yang
bersifat maknawi (Depag,2004:7-8).
Firman Allah SWT dalam surat Al-Hajj 28



Artinya : Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka
dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah
ditentukan.

1.2.2 Dasar ibadah haji

1. Dalam Al-Quran
A. Ali Imran: 96-97

Artinya: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun


untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di
bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi
semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata,
(diantaranya) maqam ibrahim. Barang siapa memasukinya
(Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah
kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa
mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha
Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali
imran [3] : 96-97)
B. Al Baqorah: 196

Artinya: 196. dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah


karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau
karena sakit), Maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat,
dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai
di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit
atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka
wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah
atau berkorban. apabila kamu telah (merasa) aman, Maka bagi
siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam
bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah
didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau
tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji
dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah
sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban
membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak
berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan
penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
2. Hadist Rasulullah SAW

:
:
) (
Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata: saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa mengerjakan haji sematamata karena Allah, tidak berkata keji dan tidak melakukan
perbuatan jahat orang itu kembali seumpama baru dilahirkan
ibunya (tidak berdosa). (HR. Bukhari dan Muslim) (Hanidy, dkk,
1970:172)

1.2.3 Hukum Ibadah Haji

Ibadah haji hukumnya wajib bagi orang Islam yang telah


memenuhi syarat-syaratnya. Kewajiban ini hanya berlaku satu kali
seumur hidup. Selanjutnya, baik yang kedua atau yang seterusnya
hukumnya sunnah, terkecuali bagi yang bernadzar. Jika ini terjadi,
maka wajib hukumnya untuk melaksanakan(Zacky,2011:20).

1.2.4 Syarat, Rukun, dan Wajib Haji


1. Syarat Haji
Syarat haji ada 5 macam:
a.

Islam

b.

Baligh (dewasa)

c.

Aqil (berakal sehat)

d.

Merdeka (bukan hamba sahaya)

e.

Isthithaah (mampu)
Makna isthithaah (mampu) dalam syarat haji di atas

mencakup 4 hal yaitu :


Jasmani
Tidak terlalu tua, tidak sakit lumpuh, tidak dalam keadaan sakit
berat/cacat fisik yang sulit untuk melaksanakan rangkaian
ibadah.
Rohani
Mengetahui hukum dan manasik haji/umrah. Berakal sehat dan
memiliki

kesiapan

mental

untuk

haji/umrah dengan perjalanan jauh.

melaksanakan

ibadah

Ekonomi
Mampu membayar Ongkos Naik Haji (ONH) dengan uang yang
halal bukan hasil pinjaman, bukan hasil penjualan murah asetasetnya.

Memiliki

biaya

hidup

bagi

keluarga

pada

waktu

melaksanakan

yang

ditinggalkanya.
Keamanan
Aman

diperjalanan

haji/umrah serta keamanan keluarga


ditinggalkan.

Juga

tidak

dan harta
terhalang

ibadah
yang
oleh

pencekalan.(Zacky,2011:21)
2. Rukun Haji
Rukun haji adalah rangkaian amalan yang harus dilakukan
dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain,
walaupun dengan dam. Jika ditinggalkan, maka hajinya tidak sah.
Rukun haji ada 6 macam
a. Ihram (niat)
b. Wukuf di Arofah
c. Tawaf ifadah
d. Sai
e. Tahallul (cukur)
f. Tertib
(Depag RI, 2003:18)
Penjelasan

Ihram (niat) adalah penyataan mulai mengerjakan ibadah haji


atau umrah dengan memakai pakaian ihram disertai niat haji
atau umrah di miqat.
Wukuf di Arafah adalah berdiam diri dan berdoa di Arafah pada
tanggal 9 Dzulhijjah.
Tawaf ifadhah adalah mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali,
dilakukan setelah melontar jumrah aqobah pada tanggal 10
Dzulhijjah.
Sai adalah berjalan atau berlari-lari antara bukit Shafa dan
Marwah sebanyak 7 kali dilakukan setelah tawaf ifadah.
Tahallul atau cukur adalah bercukur atau menggunting rambut
setelah melaksanakan sai.
Tertib artinya mengerjakan kegiatan sesuai dengan urutan dan
tidak ada yang tertinggal.
3. Wajib Haji
Wajib haji adalah rangkaian amalan yabg dekerjakan dalam
ibadah haji, bila tidak dikerjakan sah hajinya akan tetapi harus
membayar Dam. Berdosa jika sengaja meninggalkan dengan tidak
ada uzur syari.

Wajib haji ada 5 macam


a. Ihram, yakni niat berhaji dari miqat.
b. Mabit di Musdzalifah.

c. Mabit di Mina.
d. Melontar jumra Ula,Wustha dan Aqobah.
e. Tawaf wada ( bagi yang akan meminggalkan Makkah).
(Zacky, 2011:22)
1.2.5 Macam Macam Haji
Ada 3 macam haji, yakni haji tamattu, haji ifrad, dan haji
qiran
1. Haji Tamattu
Mengerjakan umrah terlebih dahulu baru mengerjakan haji.
2. Haji Ifrad
Mengerjakan haji terlebih dahulu baru mengerjakan umrah dan
diselingi tahallul.
3. Haji Qiran
Mengerjakan haji dan umrah bersama-sama tanpa diselingi
tahallul.
1.2.6 Miqat
Miqat adalah batas waktu atau tempat mulai niat ihram haji
atau umrah.

Miqat dibagi menjadi 2, yaitu:


1. Miqat Zamani adalah batas waktu untuk memulai ihram haji, yaitu
dari tanggal 1 Syawal sampai terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijjah.

2. Miqat makani adalah yakni batas tempat mulai ihram haji atau
umrah
Miqat makani jamaah haji
a. Juhfah (187 km dari Makkah), tapi sekarang pindah ke Rabigh
(204 km dari Makkah) dari arah Mesir, Suriah, Maroko.
b. Bier Ali (Dzulhulaifah), 12 km dari Madinah atau 450 km dari
Makkah, dari arah Madinah.
c. Dzatu irqin 94 km di sebelah utara Makkah, dari arah Irak.
d. Qarnul munazil 94 km sebelah timur Makkah, dari arah Najed,
Kuwait, Riyadh.
e. Yalamlam, sebuah bukit di sebelah selatan 54 km dari Makkah,
dari arah yaman, termasuk Indonesia.
Hasil Keputusan Komisi Fatwa MUI tanggal 28 Maret 1980
yang dikukuhkan kembali tanggal 9 September 1981 yaitu miqat
Makani jamaah haji Indonesia gelombang 1 yang langsung

ke

Madinah adalah Dzulhulailah (Bier Ali). Bagi jamaah haji gelombang


2 adalah di Bandara King Abdul Aziz International Airport.(Mulyono,
2010:17-18).
1.2.7 Pelaksanaan Haji
Rangkaian pelaksanaan Ibadah haji Tamattu, yaitu
1. Pelaksanaan Umrah
Jamaah

gelombang

pertama

dari

bandara

langsung

berangkat ke Madinah untuk Ziarah ke masjid Nabawi serta

melaksanakan Arbain (sholat 40 waktu) di sana. Setelah bermukim


di sana 8 hari jamaah berangkat menuju ke Makkah untuk
melakukan Umrah.
Sedangkan jamaah gelombang kedua akan langsung
menuju ke Makkah untuk melaksanakan umrah.
Sebelum melakukan niat umrah, jamaah diharapakn untuk
menjalankan sunah-sunah ihram terlebih dahulu, seperti memotong
kuku, mandi, wudlu, sholat sunat 2 rakaat dan lainya. Ihram di
Miqat yaitu berniat melakukan umrah dari Miqat. Niat melakukan
ibadah umrah adalah sebagai berikut:


Artinya:Aku berniat melakukan ibadah umrah dalam keadaan
berihram kepada Allah SWT.
Niat juga bisa dengan lafal


Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah.
Jamaah haji naik kendaraan menuju Makkah. Selama
dalam perjalanan, mereka disunahkan memperbanyak membaca
talbiyah, sholawat, doa sampai hendak melakukan tawaf.
Memasuki Masjidil Haram boleh melalui pintu manapun,
dan melihat Kabah yang semuanya disunahkan berdoa.

Artinya: Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi


amalan dia.
Tawaf dilakukan sebanyak 7 kali putaran. Tawaf dimulai
dan berakhir dirukun Aswad. Setelah tawaf, berdoa di Multazam,
sholat sunah dan berdoa di Maqom Ibrahim atau Hijir Ismail.
Setelah itu melaksanakan Sai dan sunah-sunahnya, Sai
selesai dilanjutkan tahallul (ditandai dengan memotong rambut),
umrah selesai.
2. Pelaksanaan Haji
Sebelum melakukan niat haji, jamaah diharapakn untuk
menjalankan sunah-sunah ihram terlebih dahulu, seperti memotong
kuku, mandi, wudlu, sholat sunat 2 rakaat dan lainya. Ihram di
Miqat yaitu berniat melakukan haji dari Miqat. Niat melakukan
ibadah haji adalah sebagai berikut:


Artinya:Aku berniat melakukan ibadah haji dalam keadaan
berihram kepada Allah SWT.

Niat juga bisa dengan lafal


Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.

Berangkat menuju Arafah untuk melaksanakan wuquf.


Wuquf sendiri artinya berada di suatu tempat tertentu beberapa

saat lamanya ditempat tertentu. Yang penting dalam wukuf Arofah


adalah keberadaan seseorang beberapa saat lamanya di areal
Arofah. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi SAW.


Artinya:haji itu meliputi wukuf di Arofah

Masuk ke Arofah dengan memperbanyak bacaan talbiyah,


solawat, dzikir, istighfar, tahlil serta membaca Alquran untuk
menunggu waktu wukuf.
Tanggal

Dzulhijah

dimulai

setelah

tergelincirnya

matahari, melaksanakan kegiatan sebagai berikut:


1. Mendengarkan khotbah wukuf.
2. Sholat Dhuhur dan Ashar dengan jama taqdim qosor dan
dilanjutka dengan melaksanakan wukuf.
3. Selama wukuf hendaknya memperbanyak membaca talbiyah,
zikir, dan membaca Al-Quran.
4. Wukuf diakhiri dengan sholat Magrib dan Isya jama taqdim
dan qosor dan selanjutnya menuju Muzdalifah.
(Depag RI, 2008:63-64)
Muzdalifah adalah antara Arafah dan Mina. Mabit di
Muzdalifah adalah bermalam (menginap), atau menginjakkan kaki
di Area Muzdalifah.

Selama mabit di Muzdalifah (yakni pada

malam tanggal 10 Dzulhjah) jamaah haji melakukan kegiatan:


1. Memperbanyak bacaan talbiyah dzikir dan doa.

2. Mabid di Muzdalifah cukup berada disana walaupun sejenak.


3. Mencari dan mengambil kerikil.
4. Setelah tengah malam meninggalkan Muzdalifah menuju
Mina.
Firman Allah SWT.

Artinya:Maka apabila kamu telah bertolak dari Arofah, berzikirlah


kepada Allah di Masyaril Haram (bukit Quzzah di Muzdalifah),
dan berzikirlah menyebut Allah sebagaimana yang ditunjukkanNya kepadamu. (QS. Al-Baqarah: 198)

Mabit di Mina pada tanggal 10-12 atau 13 Dzulhijjah (3-4


hari). Di sana yang dilakukan oleh jamaah haji adalah
Hari ke 1 (disebut juga Hari Nahr, tanggal 10 Dzulhijjah)
1. Melontar jumrah Aqobah dengan 7 krikil.
2. Menyembelih kambing (dam) atau kurban sunah.
3. Menggunting sebagian rambut atau digundul bagi jamaah haji
pria (tahallul awal), dan sudah deperbolehkan menggunakan
pakaian biasa.
4. Ke Makkah untuk thawaf ifadah dan sai.
5. Kembali ke Mina untuk mabit.
6. Bila tidak memungkinkan ke Makkah untuk tawaf ifadah dan
sai, maka dapat dilakukan setelah selesai mabithari ketiga atau
keempat.

Hari ke 2 (tanggal 11 Dzulhijah)


1. Melontar 3 jumrah (Ula, Wustha, Aqobah) masing-masing 7
batu kerikil.
Hari ke 3 (tanggal 12 Dzulhijah)
1. Melontar jumrah seperti hari ke 2 (jumlah 21 batu kerikil).
Bagi yang mau nafar awal (hanya 2 hari melontar jumrah yang
ke 3), maka harus meninggalkan Mina sebelum Mahgrib.
2. Bagi yang belum tawaf ifadah dan sai, maka ke Makkah
untuk melaksanakanya.
3. Sebelum meninggalkan Makkah untuk pulang ke Tanah air,
maka lakukanlah tawaf Wada ( tawaf perpisahan).
4. Pulang ke Tanah air menuju Jeddah bagi jamaah haji
gelombang pertama. Bagi jamaah haji gelombang dua pergi
ke Madinah untuk melakukan Ziarah ke masjid Nabawi.
Setelah Arbain pergi ke Jeddah untuk pulang ke Tanah air
Hari ke 4 (tangga 13 Dzulhijah)
1. Melontar jumrah seperti pada hari ke 3 (jumlah 21 batu
kerikil) bagi yang mengambil nafar tsani.
2. Bagi yang belum tawaf ifadah dan sai, maka ke Makkah
untuk melaksanakanya.
3. Sebelum meninggalkan Makkah untuk pulang ke Tanah air
maka lakukanlah tawaf Wada(tawaf perpisahan).

4. Pulang ke Tanah air menuju Jeddah bagi jamaah haji


gelombang pertama. Bagi jamaah haji gelombang ke dua
pergi ke Madinah untuk melakukan Ziarah ke Masjid
Nabawi. Setelah Arbain pergi ke Jeddah pulang ke Tanah air.
(Muhammad sum, 2009:56-58)

BAB III
PROFIL KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BOYOLALI DAN
SWOT DALAM PENYELENGGARAAN MANASIK HAJI TAHUN 2011

3.1 Profil Kementerian Agama Kabupaten Boyolali


1.1.1 Latar Belakang Berdirinya Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Hal tersebut
tercermin baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam
kehidupan bernegara. Di lingkungan masyarakat, terlihat terus
meningkat kesemarakan dan kekhidmatan kegiatan keagamaan baik
dalam bentuk ritual, maupun dalam bentuk sosial keagamaan.
Semangat keagamaan tersebut, tercermin pula dalam kehidupan
bernegara yang dapat dijumpai dalam dokumen-dokumen kenegaraan
tentang falsafah negara Pancasila, UUD 1945, GBHN, dan buku
Repelita serta memberi jiwa dan warna pada pidato-pidato kenegaraan.
Dalam

pelaksanaan

pembangunan

nasional

semangat

keagamaan tersebut menjadi lebih kuat dengan ditetapkannya asas


keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa sebagai salah
satu asas pembangunan. Hal ini berarti bahwa segala usaha dan
kegiatan pembangunan nasional dijiwai, digerakkan dan dikendalikan
oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai

nilai luhur yang menjadi landasan spiritual, moral dan etik


pembangunan.
Adapun yang melatar belakangi pembentukan Kementerian
Agama pada waktu pertama kali diantaranya sebagai berikut:
1. Faktor Historis
Dalam sejarah pertumbuhan masyarakat bangsa Indonesia
sudah tercatat dalam kerajaan yang sudah pernah ada di Indonesia
sebelum merdeka peri kehidupan beragama menjadi perhatian
kerajaan, bahkan kerajaan itu sendiri merupakan suatu kerajaan
beragama. Hal ini menyebabkan kenapa pemerintah jajahan
Belanda yang sekuler dan jepang tetap mengurus masalah Agama
pada waktu awal kemerdekaan pengurusan kehidupan beragama itu
terdapat oula berbagai Kementerian. Kementerian Agama dibentuk
agar semua urusan Agama diurus dalam suatu Kementerian.
(Dokumen lap. Penyelenggaraan haji Kemenag Kabupaten
Boyolali).
2. Faktor filosofi
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menganut berbagai
Agama. Agama sudah menjadi pedoman kehidupan beragama
seperti menjadi nilai-nilai luhur Pancasila. Kementerian Agama
dibentuk karena tuntutan pengembangan peri kehidupan beragama
bagi masing-masing pemeluk Agama, untuk mewadahi seluruh
Agama bagi rakyat Indonesia.

3. Faktor Sosio Politis


Bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dengan berbagai
nilai budaya yang sangat dijiwai oleh Agama. Tatanan kehidupan
sosial budaya berlainan dengan nilai-nilai Agama. Pergerakan
kebangsaan banyak sekali dimotivasi oleh Agama. Oleh karena itu,
kegiatan politik bangsa Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari
Agama. Kementerian Agama dibentuk agar menjadikan kekuatan
sosial politik.
4. Faktor Yuridis
Pancasila dengan sila ketuhanan Yang Maha Esa yang
menjiwai empat sila lainya dan UUD 1945 dengan pembukaan dan
batang tubuh serta penjelasanya mencerminkan aspek peri
kehidupan beragama. Dengan Kementerian Agama agar segi-segi
tersebut bisa termanifestasi dalam setiap lembaga Negara.
(Dokumen lap. Penyelenggaraan haji Kemenag Kabupaten
Boyolali).
Berdasarkan latar belakang tersebut, lebih lanjut ada dua hal
penting yang telah mendahului kelahiran Kementerian Agama yang
dapat membedakan dengan Kementerian yang lainnya. Beberapa
consensus Nasional yang menjadi pertimbangan dan pendukung
lahirnya Kementerian Agama diantaranya adalah:
1.

Ditetapkanya Piagam Jakarta menjadi pembukaan UUD 1945.

2.

Sila ke-Tuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila yang


menjiwai menjadi dasar bagi sila-sila yang lainya.
Keberadaan

Kementerian

Agama

dalam

jajaran

pemerintahan Negara RI sejak kabinet RI kedua, yaitu kabinet


Syahrir T. bukan tanpa perjuangan. Perjuangan umat Islam dalam
melawan penjajahan Belanda yang menganut sistem diskriminasi
dibidang Agama. Menumbuhkan keinginan mereka untuk memiliki
Kementerian Agama dalam sistem pemerintahan Indonesia.
Keinginan itu mulai diusulkan oleh tokoh-tokoh pergerakan
Islam pada bulan April 1941 sehubungan dengan memorandum
tentang susunan kenegaraan Indinesia berparlemen yang disetujui
oleh GAPI, KH. A. Wahid Hasyim, KH. Mas Mansur, Dkk. Ketika
itu menyampaikan usul agar dibentuk Kementerian urusan Islam
khusus memorandum tersebut tidak ditanggapi oleh Belanda.
Pemerintah

militer

jepang

menggantikan

kekuasaan

Belanda tahun 1942, sikap pemerintah jepang memberi kesempatan


bagi para pemimpin berpartisipasi dalam sistem pemerintah militer
Jepang. Hal itu dimanfaatkan untuk meningkatkan perjuangan
bangsa. Gagasan untuk dibentuknya Kementerian Agama oleh para
pemimpin Islam yang didalam Badan Penyelidik Usaha-usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), seperti KH. A.
Wahid Hasyim, KH. Mas Mansur, Dkk tetap dilanjutkan, mereka
berjuang melalui Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat

(BPKNIP) agar di negara RI yang sudah merdeka ini, urusan


Agama diurus secara khusus oleh suatu Departemen yaitu
Departemen Agama. Akhirnya usaha tersebut berhasil keluarlah
penetapan pemerintah tahun 1946 tentang pendirian Departemen
Agama. (Dokumen lap. Penyelenggaraan haji Kemenag Kabupaten
Boyolali).
Departemen Agama pada 3 Januari 1946, sekitar lima bulan
setelah proklamasi kemerdekaan berakar dari sifat dasar dan
karakteristik bangsa Indonesia tersebut di atas juga sekaligus
sebagai realisasi dan penjabaran ideologi Pancasila dan UUD 1945.
Ketentuan juridis tentang agama tertuang dalam UUD 1945 BAB E
pasal 29 tentang Agama ayat 1 dan 2:
1.

Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa;

2.

Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk


memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut
agamanya dan kepercayaannya itu.Dengan demikian agama
telah menjadi bagian dari sistem kenegaraan sebagai hasil
konsensus nasional dan konvensi dalam_praktek kenegaraan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD
1945.
Pada tahun 2010, melalui Peraturan Presiden No. 47 Tahun

2009 yang merupakan implementasi dari UU No. 39 TAhun 2008,


nama semua Departemen berubah menjadi Kementerian. Begitu

juga dengan Departemen Agama Republik Indonesia, berubah


menjadi

Kementerian

Agama

Republik

Indonesia,

maka

Departemen Agama Kabupaten Boyolali juga berubah menjadi


Kementerian Agama Kabupaten Boyolali.
Gara Haji dan umrah merupakan salah satu seksi
dilingkungan Kementerian Agama dan tentunya latar belakang
berdirinya Gara Haji dan umrah sama dengan latar belakang
berdirinya Kementerian Agama. (Dokumen lap. Penyelenggaraan
haji Kemenag Kabupaten Boyolali).

1.1.2 Dasar Kebijakan


Dasar kebijakan untuk melaksanakan program kerja kantor
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali mengacu pada dasar-dasar:
a. Tap MPR RI Nomor : IV tahun 1999 tentang Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN) di bidang pembangunan kehidupan
bernegara.
b. KMA Nomor 373 tahun 2002 tentang organisasi dan tata kerja
Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi dan Kantor
Kementerian Agama Kabupaten/Kota.
c. KMA Nomor : 308 A 2004 tentang pengesahan keputusan rapat
kerja pejabat Kementerian Agama dan Daerah tahun 2004 dan
penetapanya sabagai pedoman pelaksanaan tugas tahun 2005.
d. Rancangan Rapenas bidang Agama tahun 2006-2010
e. Hasil rapat kerja Kementerian Agama.

1.1.3 Identitas
Nama Kantor

: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali

Alamat

: Jalan Perintis Kemerdekaan No. 3 Boyolali


57311

Nomor Telepon

: (0276) 321025, Fax : (0276) 321025

E-mail

: Boyolali@jateng.depag.go.id

1.1.4 Visi dan Misi


a. Visi dan Misi
1. Visi Kementerian Agama RI (KMA Nomor 2 Thaun 2010)
Terwujudnya masyarakat Indonesia yang beragama,
rukun, cerdas, mandiri, dan sejahtera lahir batin
Misi Kementerian Agama RI
1). Meningkatkan kualitas kehidupan beragama.
2). Meningkatkan kerukunan umat beragama.
3). Meningkatkan kualitas RA, Madrasah, PTA, Pendidikan
Agama dan Pendidikan Keagamaan.
4). Meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji.
5). Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan
berwibawa.
2. Visi Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah
Terwujudnya masyarakat Jawa Tengah yang taat
beragama, rukun, cerdas, mandiri, sejahtera lahir dan batin.

Misi Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah


1). Meningkatkan kualitas kehidupan beragama.
2). Menignkatkan kualitas kerukunan umat beragama.
3). Meningkatkan kualitas pendidikan agama dan pendidikan
keagamaan.
4). Meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji.
5). Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang bersih dan
berwibawa.

3.

Visi Kementerian Agama Kabupaten Boyolali


Terciptanya pelayanan yang cepat dan tepat dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsi untuk menjadikan
masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa serta berakhlak mulia.
Misi Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
1). Melaksanakan tugas-tugas di bidang agama.
2). Melaksanakan tuags dan koordinasi secara vertikal dan
lintas sektoral.
3). Meningkatkan peran dan fungsi serta keikutsertaan lembaga
pendidikan agama dan keagamaan.
4). Melaksanakan pembinaan kualitas kehidupan beragama dan
kerukunan hidup umat bergama.
5). Meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji.

1.1.5 Tujuan dan Sasaran


A. Tujuan dan Sasaran
a. Tujuan
Dalam melaksanakan misi Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali merumuskan tujuan sebagai berikut :
1. Menciptakan penerapan kepemerintahan yang baik.
2. Meningkatkan pelayanan kehidupan beragama.
3. Meningkatkan pemahaman, penghayatan, pengalaman dan
pengembangan nilai-nilai keagamaan.
4. Meningkatkan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan
Tahun.
5. Meningkatkan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan.
6. Meningkatkan Manajemen Pelayanan Pendidikan.
7. Meningkatkan

Pendidikan

Agama

dan

Pendidikan

Keagamaan.
b. Sasaran
Adapun sasaran dari tujuan tersebut diatas yaitu :
1. Terbayarnya gaji/ honor/ tunjangan pegawai.
2. Tersedianya pakaian satpam.
3. Tersedianya jamuan tamu.
4. Terselenggaranya Perpustakaan/ Kearsipan/ dokumentasi.
5. Terawatnya gedung Kantor.
6. Terawatnya inventaris peralatan Kantor.

7. Terlaksananya pengadaan perlengkapan kantor.


8. Terawatnya kendaraan bermotor roda 4.
9. terpeliharanya kendaraan bermotor roda 2.
10. Tersedianya jasa langganan daya dan jasa.
11. Tersedianya jasa keamanan/ kebersihan.
12. Tersedianya biaya pengiriman surat dinas.
13. Terlaksananya opersional perkantoran dan pimpinan.
14. Terselenggaranya Pembinaan administrasi Pegawai.
15. Tersedianya biaya Pembinaan/ koordinasi dan konsultasi
Pengawasan.
16. Tersedianya

percetakan/

penerbitan/

penggandaan/

laminasi.
17. Terpeliharanya Sofware/ hardware komputer.
18. Terbinanya Pengelolaan dan Pengembangan Administrasi
Keuangan
19. Terlenggaranya Penyusunan RKAKL.
20. Terlenggaranya Pembinaan Mental Agama.
21. Terlenggaranya Pembinaan/ Koordinasi dan Konsultasi
Pengawasan.
22. Terlaksananya rapat koordinasi.
23. Terlaksananya kerjasama antar instansi Pemerintah/ swasta/
lembaga terkait.
24. Terselenggaranya Lomba KUA Teladan.

10

25. Tersertifikasinya Tanah Wakaf.


26. Tersedianya bahan Cetakan Pengadaan dan Penjilidan/
Laminasi.
27. Terselenggaranya bimbingan produk halal.
28. Terlenggaranya pembinaan ibadah sosial.
29. Terselenggaranya Bimbingan dan Pembinaan Kemitraan
Umat.
30. Terlaksananya Pembinaan dan bimbingan lembaga zakat.
31. Terlaksananya Bimbingan dan Pembinaan Haji, Umroh,
dan Petugas Haji.
32. Terlenggaranya pelayanan ibadah haji.
33. Terselenggaranya pembinaan keluarga sakinah.
34. Tersedianya biaya pendataan tanah wakaf.
35. Terlaksananya pengelolaan PNPB.
36. Tersedianya kantor KUA yang presentatif.
37. Terlaksananya operasional KUA untuk pelayanan NR.
38. Terbinanya penyuluh Agama.
39. Tersedianya biaya operasional satker baru.
40. Terlaksananya monitoring.
41. Tersedianya bantuan siswa miskin.
42. Tersedianya tunjangan funsgional guru Non PNS (S1)
43. Tersedianya tunjangan funsgional guru Non PNS (belum
S1)

11

44. Tersedianya bnatuan tunjangan funsgional guru MIS/ MTsS


Non PNS.
45. Terbayarnya gaji/ lembur/ Tunjangan Pegawai.
46. Terselenggaranya

Pembinaan

Mental

dan

Agama/

Perguruan/ Jurusan Agama.


47. Terselenggaranya Pembinaan/ Koordinasi dan Konsultasi
Pengawasan.
48. Terlenggaranya Rapat Koordinasi.
49. Terselenggaranya kerjasama antar instansi Pemerintah/
lembaga terkait/ swasta.
50. Terselenggaranya bimbingan kelembagaan dan Sarana.
51. Terselenggaranya usaha peningkatan mutu pendidikan.
52. Tersedianya penggandaan dan percetakan.
53. Terselenggaranya pembinaan pendidikan salafiyah dan
pengembangan santri.
54. Terselenggaranya pembinaan dan pendataan madrasah
swasta.
55. Terselenggaranya pembinaan pendidikan agama Islam pada
sekolah umum.
56. Terselenggaranya Pembinaan dan Pelayanan Pontren
57. Terselenggaranya Pembinaan Penyuluh Agama
58. Terselenggaranya

Pendidikan

Penyelenggaraan MTQ

12

Al-Quran

dan

59. Terselenggaranya Pembinaan Evaluasi dan Supervisi


60. Terlaksanannya Monev dan Pelaporan
61. Terlaksanannya

Pengembangan

sistem

informasi

pendidikan
62. Tersediannya workshop
63. Tersedianya meubelair
64. Tersedianya Komputer
65. Terselenggaranya

rakor

pengembangan

kelembagaan

(profil lembaga, data base kesiswaan dan ketenagaan)


66. Terlaksanannya

pembinaan

guna

peningkatan

mutu

pendidikan
67. Tersedianya alat pengolah data
68. Tersedianya bantuan social yang memadai
69. Tersedianya bantuan kepada MGMP MI/MTS

B. Cara mencapai tujuan dan sasaran


Untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan,
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali membuat
kebijakan, program dan kegiatan yang merupakan penjabaran dari
tujuan dan sasaran yang ada.
a.

Kebijakan
1) Peningkatan analisis dan koordinasi
2) Restrukturisasi organisasi

13

3) Pengkajian ketatalaksanaan
4) Peningkatan kinerja organisasi
b.

Program
1) Analisis dan koodinasi
2) Pembentukan satuan organisasi
3) Penyusunan pedoman/juklak/juknis
4) Evaluasi dan koordinasi

1.1.6 Program Kerja Kementerian Agama Kabupaten Boyolali


Rencana kinerja meliputi sasaran, program, dan kegiatan.
Dalam uraian sasaran dan kegiatan telah ditetapkan pula indikator
keberhasilannya

sebagai

alat

ukur

untuk

mengukur

tingkat

keberhasilan/kegagalan sasaran dan kegiatan yang telah direncanakan.


Kegiatannya meliputi:
1) Membayar gaji/ honor/ tunjangan pegawai.
2) Menyediakan pakaian satpam.
3) Menyediakan jamuan tamu.
4) Menyelenggarakan perpustakaan/ Kearsipan/ Dokumentasi.
5) Merawat gedung kantor.
6) Merawat inventaris peralatan kantor.
7) Melaksanakan pengadaan perlengkapan kantor.
8) Merawat kendaraan bermotor roda 4.
9) Memelihara kendaraan bermotor roda 2.
10) Menyediakan biaya jasa langganan daya dan jasa.

14

11) Menyediakan biaya pengiriman surat dinas.


12) Melaksanakan operasional perkantoran dan pimpinan.
13) Menyelenggarakan pembinaan administrasi pegawai.
14) Menyediakan biaya pembinaan/ koordinasi dan konsultasi
pengawasan.
15) Menyediakan percetakan/ penerbitan/ penggandaan/ laminasi.
16) Memelihara Software/ hardware komputer.
17) Membina

pengelolaan

dan

pengembangan

administrasi

keuangan.
18) Menyelenggarakan penyusunan RKAKL.
19) Menyelenggarakan pembinaan mental agama.
20) Menyelenggarakan

pembinaan/

koordinasi

dan

konsultasi

pengawasan.
21) Melaksanakan rapat koordinasi.
22) Melaksanakan kerjasama antar instansi Pemerintah/ swasta/
lembaga terkait.
23) Menyelenggarakan lomba KUA teladan.
24) Mensertifikatkan tanah wakaf.
25) Menyediakan bahan cetakan pengadaan dan penjilidan/ laminasi.
26) Menyelenggarakan Bimbingan Produk Halal.
27) Menyelenggarakan Pembinaan Ibadah Sosial.
28) Menyelenggarakan Bimbingan Dan Pembinaan Kemitraan Umat.
29) Menyelenggarakan Pembinaan Dan Bimbingan Lembaga Zakat.

15

30) Melaksanakan Bimbingan Dan Pembinaan Haji, Umroh, dan


Petugas Haji.
31) Menyelenggarakan Pelayanan Ibadah Haji.
32) Menyelenggarakan Pembinaan Keluarga Sakinah.
33) Menyediakan biaya Pendataan Tanah Wakaf.
34) Melaksanakan pengelolaan PNBP.
35) Menyediakan kantor KUA yang presentatif.
36) Melaksanakan operasional KUA untuk Pelayanan NR.
37) membina penyuluh agama.
38) Menyediakan Biaya Operasional Satker Baru.
39) Melaksanakan Monitoring.
40) Menyediakan Bantuan Siswa Miskin.
41) Menyediakan Tunjangan Funsgional guru Non PNS (S1).
42) Menyediakan Tunjangan Funsgional guru Non PNS (belum S1).
43) Menyediakan Bantuan Tunjangan Fungsional Guru MIS/ MTsS
Non PNS.
44) Membayar gaji/ lembur/ Tunjangan Pegawai.
45) Menyelenggarakan Pembinaan Mental dan agama/ Perguruan/
Jurusan Agama.
46) Menyelenggarakan Pembinaan/ Koordinasi Dan Konsultasi
Pengawasan.
47) Menyelenggarakan Rapat Koordinasi.

16

48) Menyelenggarakan

Kerjasama

Antar

Instansi

Pemerintah/

Lembaga Terkait/ Swasta.


49) Menyelenggarakan Bimbingan Kelembagaan Dan Sarana.
50) Menyelenggarakan Usaha Peningkatan Mutu Pendidikan.
51) Menyediakan Penggandaan dan Percetakan.
52) Menyelenggarakan

Pembinaan

Pendidikan

Salafiyah

dan

Pengembangan Santri.
53) Menyelenggarakan Pembinaan dan Pendataan Madrasah Swasta.
54) Menyelenggarakan Pembinaan Pendidikan Agam Islam pada
Sekolah Umum.
55) Menyelenggarakan Pembinaan dan Pelayanan Pontren.
56) Menyelenggarakan Pembinaan Penyuluh Agama.
57) Menyelenggarakan Pendidikan Al-Quran dan Supervisi.
58) Melaksanakan Money dan Pelaporan.
59) Melaksanakan Pengembangan Sistem Informasi Pendidikan.
60) Menyediakan Workshop.
61) Menyediakan meubelair.
62) Menyediakan Komputer.
63) Melaksanakan rakor pengembagan kelembagaan (profil lembaga,
data base kesiswaan dan ketenagaan).
64) Melaksanakan pembinaan guna meningkatkan muut pendidikan.
65) Menyediakan alat pengolah data.
66) Menyediakan bantuan sosial yang memadai.

17

67) Menyediakan bantuan kepada MGMP MI/ MTs.

1.1.7 Tugas Pokok dan Fungsi Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah
A. Tugas
Merencanakan dan melaksanakan pemberian bimbingan dan
pelayanan kepada masyarakat di bidang
Haji

serta

pelaksanaan

mengawasi,
tugas

sesuai

Bimbingan

mengevaluasi,
dengan

dan

kebijakan

Urusan
melaporkan

teknis

Kepala

Kantor Kementerian Agama Kabupaten dan Peraturan perundangundangan yang berlaku.


B. Fungsi

1. Pelaksana tugas di lingkungan Seksi Gara Haji dan Umroh.


2. Membagi

tugas,

menggerakkan,

membimbing

dan

mengkoordinasikan pelaksanaan tugas.


3. seksi Gara Haji dan Umroh.
4. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas
bawahan.
5. Melakukan bimbingan dan pelayanan teknis di lingkungan seksi
Gara Haji dan Umroh.
6. Mempelajari dari nilai/mengoreksi laporan/hasil kerja tugas
bawahan.
7. Kerjasama dengan unit kerja terkait.

18

8. Melakukan pemecahan dan penyelesaian masalah yang timbul di


lingkungan seksi Gara Haji dan Umroh.
9. Melakukan usaha pengembangan dan peningkatan sistem/teknis
pelaksanaan tugas.

1.1.8 Struktur Kementerian Agama Kabupaten Boyolali


Struktur organisasi Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
secara umum digambarkan sebagai berikut:

19

20

Bagan struktur datas merupakan struktur umum Kementerian


Agama Kabupaten Boyolali. Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan
Kementerian Agama masing-masing seksi memiliki struktur sendirisendiri, sedangkan nama yang tercantum dalam struktur umum
merupakan koordinator seksi. Dalam skripsi ini penulis hanya meneliti
seksi penyelenggaraan haji dan umrah, bagan struktur penyelenggaraan
haji dan umrah meliputi:

21

22

STRUKTUR PENYELENGGARAAN HAJI

Kasi Penyelenggaraan Haji


dan Umroh Drs. H. MUH
MUALIM
NIP. 19681008 199403 1
003
Staf

Staf

Staf

Staf

Hj. SRI HARYATI, S.Pdi

MUH YASIN

MUH. ADI SURAWA

MUBASIR

NIP. 19610707 200604


NIP. 19600103 198603 2
NIP. 19801124 200910 1
Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
003
002

23

NIP. 197003002 200901 1


006

3.2 Penyelenggaraan Manasik Haji di Kementerian Agama Kabupaten


Boyolali
Dalam penyelenggaraan manasik haji rencana strategis digunakan
dalam pencapaian tujuan yang ingin dicapai. Rencana strategis merupakan
suatu preses sistemik

yang disepakati organisasi dalam membangun

keterlibatan di antara stakeholder utama tentang prioritas yang hakikibagi


misinya dan tanggap lingkungan operasi, maka dalam hal itu rencana strategis
selalu dibutuhkan dalam setiap tindakan, tanpa adanya rencana strategis
tujauan akan sulit didapat.
Untuk rencana strategis Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun
2011 sebagai berikut:
No
1

Bulan
26 Juli 2011

Jenis Kegiatan

Keterangan

Bimbingan masal meliputi : kebijakan Gedung Haji


pemerintah, penjelasan umum tentang Boyolali
perhajian, Bimbingan Ibadah Haji dan
Umrah, keselamatan penerbangan.

27 Juli 2011

Bimbingan masal meliputi : Bimbingan Gedung Haji


perjalanan haji dibandara, Bimbingan Boyolali
kesehatan haji, Akhlak dan Adat Istiadat
bangsa
pemutaran

Arab,

Bimbingan

Ziarah,

manasik,

layanan

Vidio

perjalanan haji dari daerah keembarkasi.


3

28 Juli 2011

Bimbingan masal meliputi : Praktek Gedung Haji


lapangan, peragaan pakaian ihram, hak Boyolali
dan kewajiban jamaah.

Agustus

Perkiraan pelunasan

24

Agustus

Cheking kesehatan

Di puskesmas
Kecamatan
masing-masing

13

September Bimbingan masal meliputi pemantapan Gedung Haji

2011

penyusunan

kloter,

karom,

karu, Boyolali

pemantapan pelaksanaan manasik haji


pengarahan

pemberangkatan

dan

pemulangan.
7

Akhir

Perkiraan pemberangkatan jamaah kloter PPIH

September

pertama

Oktober

Pelepasan /jamaah haji calon haji kab. Pendopo

Ponohudan

Boyolali tahun 2011


9

Awal Desember

Pemulangan

jamaah

kabupaten
haji

dan Pendopo

mengayubagyo haji 2011

Kabupaten

Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali


Untuk mempermudah rencana strategis dalam penyelenggaraan
manasik haji Kementerian Agama Kabupaten Boyolali juga mengangkat
beberapa kepanitiaanya meliputi:

SUSUNAN PANITIA PELAKSANA BIMBINGAN MANASIK HAJI


TAHUN 1432 H 2011 M KABUPATEN BOYOLALI

NO

NAMA

JABATAN DINAS

JABATAN /
TUGAS

1.

Taqrir Edi Permadi, SE

Kabag Kesra Setda Kab. Boyolali

Pengarah

2.

Drs. H. Hasan Kamal, M.PdI

Kepala Kankemenag Kab.

Penanggungjawab

Boyolali

3.

Drs. H. Sauman, M.Ag

Kasubbag TU

Ketua

4.

Drs. Muh Mualim, M.PdI

Kasi Garahajum

Sekretaris

25

5.

Hj. Sri Haryati, S.PdI

Staf Garahajum

Bendahara

6.

Drs. H. Heru Wardhono

IPHI Kab. Boyolali

Anggota

7.

Indriyati Aisyiyah, SE

Bendahara Kanmenag

Anggota

8.

Nuryadi, S.Sos

Kasubbag Agama dan Sos Setda

Anggota

9.

Hj. Siti Mahmudah, S.Ag

Garazawa

Anggota

10.

H. Sriyono

IPHI Kab. Boyolali

Anggota

11.

Mubasyir

Staf Garahajum

Anggota

12.

Muh. Yasin

Staf Garahajum

Anggota

13.

Muh. Adi Surawan

Staf Garahajum

Anggota

14.

Anis Prihono

Staf Garahajum

Anggota

15.

H. Iwan Khafidh, SHI

Penyuluh Agama Islam

Anggota

16.

H. Damiri, S.Ag

KBIH Al Kautsar

Anggota

17.

Drs. H. Mudzakir

KBIH Arofah

Anggota

Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali


Dalam pelaksanaan manasik haji Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali, yang dalam hal ini di pegang oleh seksi penyelenggaraan haji dan
umrah. Melaksanakan rapat koordinasi dan evaluasi sangat penting dalam
sebuah kegiatan. Sebagai materi koordinasi dan sistem evaluasi Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali sebagai berikut:
Tabel Bahan Rakor dan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 1432 H/2011 seksi
penyelenggaraan haji dan umroh

26

27

No
A

Kegiatan
Pelayanan

Uraian/Kegiatan
-

pendaftaran haji

Penjelasan persyaratan

Keluaran
-

Calhaj

Permasalahan

memahami pendaftaran

Banyaknya

pendaftaran haji

prosedur

Pemberian nomor SPPH

dengan baik

Penerimaan lembar porsi

kesehatannya

Pengolahan data calon haji

terganggu
-

Solusi

calhaj -

Perlu

adanya

yang sudah lanjut

seleksi kesehatan

usia

haji

Pendidikan

dan

calhaj

rendah
B

Pelaksanaan fungsi -

Rapat persiapan haji dan

koordinasi dengan

pembagian tugas

instansi/unit terkait

Terbentuknya

panitia -

Kurang memahami -

Memberikan

penyelenggara

ibadah

fungsi dan tugas

sosialisasi fungsi

haji

tingkat

(PPIH)

dan

kabupaten
C

Pelayanan

Pemeriksanaan kesehatan

Calhaj

masing-masing
mengetahui -

kesehatan haji di

calhaj tingkat kecamatan

kesehatannya

daerah

dan ting kabupaten

dini

secara

Terdapatnya

biaya -

pemeriksaan
kesehatan

yang

bervariasi

karena

tidak

adanya

apa saja yang harus


diperiksa.

Ditentukannya
indikator

ketentuan indikator

28

tugas

pemeriksaan.

Pelayanan

pembinaan manasik

Pembelajaran bimbingan

manasik

calon haji

Calhaj

Banyaknya

calon -

Pembimbing

memahami/dapat

haji

sudah

memeriksa

melaksanakan manasik

lanjut usia

yang

penjelasan secara

secara mandiri
E

Pelayanan
penyuluhan

haji

Rakor KUA, kyai dan

tokoh masyarakat.

pada masyarakat

continue

Ka KUA, kyai dan -

SDM

masyarakat -

masyarakat memahami

rendah,

perhajian

memahami

tidak

Penyuluhan
terus-menerus

perhajian.
F

Pelayanan

Penyediaan sarana

Calhaj

dan

koper

Adanya

tempat -

Selektif

dalam
sarana

pemberangkatan

transportasi baik untuk

sampai di Embarkasi

duduk dalam bus

mencari

dan

calon haji maupun koper

lebih awal

yang

transportasi

pemulangan

jamaah haji

kurang

memadai untuk satu


rombongan/45
orang
-

Calhaj

dan

sampai

koper

kabupaten

dengan selamat, aman


dan nyaman.

29

Pelayanan jam haji -

Penyediaan petugas yang

di tanah suci

handal

Jamaah

haji

melaksanakan

dapat haji

yang

dengan baik.
Rekruitasi

dan -

pembinaan petugas

Seleksi petugas dan

pembinaan

Banyaknya

calhaj -

lansia

dan

Pelayanan terusmenerus

SDM rendah

Mendapatkan

petugas -

yang handal

Masa

rekruitasi -

mendesak

Masa

rekruitasi

diperpanjang

haji
Bimbingan manasik -

Bimbingan manasik pada

haji

calhaj

oleh

Calhaj

memahami -

manasik secara mandiri

Kurang

koordinasi -

dengan Depag

masyarakat (KBIH)
Kegiatan-kegiatan

Koordinasi
sebelumnya
manasik

Pelatihan karu-karom

lain

Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 2011

30

Minimnya dana dan -

Tercukupinya

sarana

dana dan sarana

Penyelenggaraan manasik haji sudah menjadi tanggung jawab


Pemerintah melalui Kementerian Agama. Dengan dasar itu Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali menyelenggarakan manasik haji setiap tahunya
sudah menjadi kewajiban dan hak bagi jamaah haji yang akan berangkat haji
ke Arab Saudi.
Jamaah haji Kabupaten Boyolali pada tahun 2011 berjumlah 751.
Kesemuanya itu dibagi 3 kloter yang meliputi: kloter 73 berjumlah 205 calon
jamaah haji, kloter 74 berjumlah 370 calon jamaah haji, kloter 75 berjumlah
176 calon jamaah haji.
Adapun waktu pelaksanaan bimbingan manasik haji Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali yang diberikan kepada calon jemaah haji adalah
sebanyak 15 kali pertemuan, terdiri dari 11 kali pertemuan yang bersifat
kelompok dilaksanakan di tingkat Kecamatan sedangkan 4 kali pertemuan
secara massal dilaksanakan di tingkat Kabupaten dengan materi terdiri:
a. Kebijakan perhajian
b. Bimbingan manasik haji
c. Bimbingan kesehatan dalam beribadah
d. Mengenal adat istiadat bangsa arab
e. Hikmah haji
f. Tata cara beribadah selama melaksanakan ibadah haji
g. Perjalanan ibadah haji.
Bahwa pelaksanaan bimbingan manasik haji yang dilaksanakan oleh
masing-masing KUA Kecamatan adalah dalam upaya memberikan bekal ilmu

31

manasik haji kepada calon jemaah haji sejak dini agar pengetahuan tentang
perhajian lebih awal difahami oleh mereka sebagai bekal untuk pelaksanaan
ibadah haji nantinya di Tanah suci Mekkah.
Kegiatan manasik kelompok dilaksanakan 11 kali, yaitu untuk
membimbing dan memperdalaman manasik haji bagi calon jamaah haji. Hal
ini dilaksanakan agar calon jamaah haji memahami betul syarat dan rukun
ibadah haji dan umrah dengan khusu.
Sesuai dengan ketentuan tersebut, kemudian membuat

jadwal

pelaksanaan manasik haji kelompok dan menunjuk para pembimbing. Adapun


jadwal dan nama-nama para pembimbing serta petugas terdapat pada tabel
dibawah ini:

32

JADWAL BIMBINGAN MANASIK HAJI KELOMPOK TAHUN 1432 H / 2011 KECAMATAN


NO

HARI/
TANGGAL

1. Jumat Pon,

WAKTU
13.30-15.00

6 Robuil Akhir 1432 H


11 Maret 2011 M

15.00-16.30

2. Jumat Kliwon,
13 Robuil Akhir 1432
H
18 Maret 2011 M

3. Jumat Pahing,
20 Robuil Akhir 1432
H
25 Maret 2011 M
4. Jumat Wage,
27 Robuil Akhir 1432
H
1 April 2011 M

13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15

MATERI

TUTOR

1. Upacara Pembukaan
Pembukaan
Bacaan ayat suci Al Quran
Laporan Panitia
Sambutan
- Camat Cepogo
- Kemenag Boyolali
Doa
2. Pengertian Haji, Umroh dan
penjelasan bimbingan haji
Toharoh (bersuci, tayamum)
Istirahat
Sholat shafar, fii safar, jamak, jamak
qosor
Informasi-informasi
Macam-macam haji, rukun haji
Istirahat
Wajib dan sunat haji dan umroh
Informasi-informasi
Perjalanan haji / umroh dari
pemberangkatan sampai pulang
Istirahat
Permasalahan administrasi di
embarkasi Solo, pemeriksaan di

33

Panitia
H. Muroqib, S.Ag
Hj. Sri Lestari
Kep. KUA

MODERATOR
Panitia

TEMPAT
Gedung
IPHI
Cepogo

Camat Boyolali
Ka. Kemenag
Drs. H. Choiri
Drs. H. Masruri
H. Imam Kuseri, S.Ag

H. Mardi Utomo, S.Pd


Gedung

IPHI
Cepogo

H. Ali Mahfudh
Panitia
Drs. H. Masruri
Drs. H. Choiri
Panitia
H. Muroqib, S.Ag

H. Syaiful Anwar

H. Syaiful Anwar

H. Muh
S.Pd

Gedung
IPHI
Cepogo

Nayiri, Gedung

IPHI
Cepogo

NO

HARI/
TANGGAL

WAKTU

16.15-16.30

5. Jumat Legi,
4 Jumadil Awal 1432
H
8 April 2011 M
6. Jumat Pon,
11 Jumadi Awal 1432
H
15 April 2011 M

7. Jumat Kliwon
18 Jumadil Awal 1432
H
22 April 2011 M
8. Jumat Pahing,
25 Jumadil Awal 1432
H
29 April 2011

9. Jumat Wage,
2 Jumadil Akhir 1432
H
6 Mei 2011 M

13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30

MATERI

TUTOR

Jeddah, dan pemeriksaan waktu


pemulangan
Informasi-informasi
Thowaf dan doa-doanya
Istirahat
Sai dan doa-doanya
Informasi-informasi
Wukuf dan amalan di Arofah
Istirahat
Mabid di Muzdalifah, Mina dan
lempar Jumroh
Informasi-informasi
Bimbingan Kesehatan
Istirahat
Fiqih wanita dan permasalahannya
Informasi-informasi
Ibadah harian dan hidup di Mekkah,
Medinah, Arbain
Istirahat
Bimbingan kewanitaan
Informasi-informasi
Adat istiadat bangsa Arab dan bahasa
Arab harian
Istirahat
Pengalaman / kondisi terkini di Mekah
Informasi-informasi

34

MODERATOR

TEMPAT

Panitia
H. Mardi Utomo, S.Pd

H. Nurkholis

H. Mundiri
Panitia
H. Maskuri, S.Pd

Gedung
IPHI
Cepogo

H. Syaiful Anwar

Gedung
IPHI
Cepogo

H. Ali Mahsufh
Panitia
Hj. Paryati
Hj. Zaenab Habib
Panitia
H. Marsudi

Hj. Sri Lestari, S.Pd


Panitia
H. Syaiful Anwar

Drs. H. Choiri
Panitia

Hj. Siti Mahmudah, S.Ag


Gedung

IPHI
Cepogo
H. Muh
S.Pd

Nayiri, Gedung

IPHI
Cepogo

H. Mardi Utomo, Gedung


S.Pd
IPHI

Cepogo

NO

HARI/
TANGGAL

10. Jumat Legi,


9 Jumadil Akhir 1432
H
13 Mei 2011 M

11. Jumat Pon,


16 Jumadil Akhir 1432
H
20 Mei 2011 M
12. Jumat Kliwon
23 Jumadil Akhir 1432
H
27 Mei 2011 M

13. Ahad Pahing,


25 Jumadil Akhir 1432
H
29 Mei 2011 M

WAKTU
13.30-15.00

MATERI

TUTOR

MODERATOR

TEMPAT

Slamet Santoso

Gedung
IPHI
Cepogo

16.15-16.30

Larangan-larangan ihrom dan DAM


H. Munawir
(denda)
Istirahat
Ziarah dan fadilahnya / tempat-tempat H. Marsudi
Mustajabah
Informasi-informasi
Panitia

13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15

Tahalul dan doa tahalul


Istirahat
Doa-doa haji dan umroh
Informasi-informasi
Ringkasan haji dan umroh
Istirahat
Praktik pakaian ihrom

H. Munawir

H. Syaiful Anwar

H. Mardi Utomo, S.Pd


Panitia
Drs. H. Masruri

Gedung
IPHI
Cepogo

H. Sugeng, S.Pd

16.15-16.30
07.00
selesai

Informasi-informasi
Praktik Bimbingan Ibadah Haji dan
Umro

H. Muh Nayiri /
Hj. Umayah
Panitia
Semua Tutor dan
Panitia

Gedung
IPHI
Cepogo

Semua Tutor dan Gedung


Panitia
IPHI

15.00-15.15
15.15-16.15

Cepogo

35

Setelah melaksanakan bimbingan manasik haji secara materi, jamaah


haji dibimbing untuk melaksanakan bimbingan manasik haji secara praktek.
Di bawah ini adalah daftar pemandu praktek manasik haji kelompok atau
kecamatan pada tahun 2011
DAFTAR PEMANDU PRAKTIK MANASIK HAJI TAHUN 2011
KECAMATAN
No
A

Pemandu
Penasehat

Penanggung
Jawab

Koordinator
Pemandu
Regu I

Regu II

Regu III

Regu IV

Pakaian Ihrom

Publikasi /
Humas
Pembantu
Umum
Pemasang
Kabah, Jamarot

E
F

Nama
1. Kepala KUA Cepogo
2. Kepala KUA Selo
3. KH. Marsudi
1. Drs. H. Masruri
2. H. Mardi Utomo
3. H. Munawir
H. Maskuri
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.

H. Mundiri
H. Muh Nayiri
Dra. Hj. Umayah
H. Maskuri
KH. Ali Mahfud
Hj. Duriah Khusni
H. Muroqip SR
H. Slamet Santoso
Hj. Istiqomah
H. Mardi Utomo
H. Munawir
Hj. Sri Lestari
H. Nurkholis
H. Sugiyarto Effendi
H. Khoiri
H. Sunarno
H. Darmanto

Haji Angkatan 2010


Koordinator Drs. H. Khori
1. H. Supriyanto
2. H. Sunarno
3. H. Muslih
4. H. Darmanto
5. H. Ahmadi
6. H. Sehono
7. H. Mulyono
8. H. Farkan
9. H. Abdul Karim

36

Kendaraan

1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.

H. Ahmadi
H. Muh. Nayiri
H. Abdul Ghoni
H. Maskuri
H. Dul Kalim
Arkani
H. Murokip
Sutarto

1. H. Mardi Utomo
2. H. Munawir
3. Junaedi

H. Supriyanto

Keterangan

Keterangan :
1. Praktik dimulai jam 07.30 s.d selesai
2. Pemandu berpakaian putih
3. Tempat
a. Maktab
: Gedung IPHI Cepogo
b. Makkah
: Lapangan Selo
c. Arofah (Wukuf)
: Lap Cabenkunti
d. Musdzalifah (ambil krikil)
: Lap. Mliwis (timur Tegalsari)
e. Mina (lempar jamarot) : Lap. Kota Cepogo
Sumber : Kantor Urusan Agama Kecamatan Cepogo

Pelaksanaan manasik haji di tingkat Kabupaten, Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali melaksanakan di bawah koordinator Gara Haji dan
Umrah. Pelaksanaan manasik haji di tingkat Kabupaten dinamakan bimbingan
haji massal, penyelenggaraannya dilakukan di gedung haji Kabupaten. Sesuai
dengan ketentuan tersebut, kemudian membuat jadwal pelaksanaan manasik
massal dan menunjuk para pembimbing. Adapun jadwal dan nama-nama para
pembimbing serta petugas terdapat pada tabel dibawah ini

37

JADWAL BIMBINGAN MANASIK MASSAL TAHUN 1432 H / 2011 M


KABUPATEN BOYOLALI
HARI /
TANGGAL
SELASA
26-07-2011

WAKTU

MATERI

07.00 08.00 Pendaftaran Peserta


08.00 08.30 Persiapan
Upacara
Pembukaan
08.30 09.50 1.
Pembukaan
2.
Pembacaan Ayat Suci
Al Quran
3.
Laporan
Panitia
Penyelenggara
4.
Sambutansambutan:
a.
Ketua IPHI Kab.
Boyolali
b.
Bupati
Boyolali
dilanjutkan membuka secara
rersmi Bimbingan Manasik
Haji Tahun 1431 H / 2010 M.
5. Doa / Penutup
09.50 10.00 Persiapan Penyajian Materi
10.00 10.45 Kebijakan Pemenintah di
bidang Perhajian UU No.
17/1999 Jo UU No. 13/2008
10.45 11.30 Penjelasan Umum tentang
Perhajian di Kantor Kemenag
Kab. Boyolali
11.30 13.00 Bimbingan Ibadah Haji dan
Umroh
13.00 14.00 ISHOMA
14.00 14.45 Bimbingan Perjalanan Haji di
Embarkasi
dan
Bandara
Indonesia
14.45 15.00 Keselamatan Penerbangan

38

PETUGAS /
TUTOR
Panitia
Panitia
Paniria
Slameto
Kepala
Kankemenag
Kab. Boyolali
K.H. Habib Ihsanudin
Bupati Boyolali

K.H. Muslim
Panitia
Kakanwil
Kemenag
Prov.
Jateng
Drs. H. Hasan Kamal
M.PdI.
K.H. Drs. Matyoto F
Panitia
Drs. H. Ali Muhson,
M.Ag.
Drs. H. Sauman, M.Ag

HARI /
TANGGAL
RABU
27-07-2011

PETUGAS /
TUTOR
08.30 09.15 Bimbingan Perjalanan Haji di Drs. H. Mudzakir
Bandara Saudi Arabia dan
Madinah
09.15 10.00 Bimbingan Kesehatan Haji
Dinas Kesehatan Kab.
Boyolali
10.00 10.45 Akhlak dan Adat Istiadat Drs. H. Sorofudin, LC
Bangsa Arab
10.45 11.15 Bimbingan Ziarah
Drs. KH. Muslim Khoiri
Drs. H. Asikin, M.Ag
11.15 13.00 Pemutaran Video Manasik H. Paryadi, MM, dkk
Haji
13.00 13.45 ISHOMA
Panitia
13.45 14.30 Layanan perjaianan haji dan Drs. Muh. Mualim,
daerah ke embarkasi
M.PdI
KAMIS
07.30 08.30 Persiapan Praktik Lapangan
H.
Sriyono
28072011
H. Arif Ridho, SH
H. Marjito
08.30 09.00 Peragaan pakean ihrom
Drs.H. Abidurrahman
H. Yahya
09.00 12.00 Lokasi Masjidil Haram Drs. K.H. Muslim
(Thowaf dan Sai)
H. Damiri, S.Ag.
Lokasi Arofah (Wukuf)
Drs. H. Mujiyono
Drs. H. Mudzakir
Lokasi Muzdatifah (mabit) Drs. H. Heru Wardhono
Drs. H. Zarkasi, M.PdI.
Lokasi Mina ( Melempar K H. Asikin, M.Ag. H.
jamarot)
Kamid, M.PdI.
12.00 13.00 ISHOMA
Panitia
13.00 14.50 Hak dan Kewajiban Jamaah Team Penyaji
(Tanya Jawab)
14.15 15.00 Acara Penutupan
Panitia
Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
WAKTU

MATERI

39

JADWAL BIMBINGAN MANASIK MASSAL


TAHUN 1432H / 2011 M KABUPATEN BOYOLALI
No
1

Waktu
08.00 09.30

2.

09.30 10.15

3.

10.15 12.00

Materi
Pembukaan dan Sambutan
Pengarahan
Pembinaan
Pelayanan Haji Tahun
1432 H
Pemantapan Penyusunan
Kloter, Karu dan Karom

Nara sumber
Keterangan
Drs. H. Hasan Kamal, Kakankemenag
M.PdI.
Kab. Boyolali

Drs. Muh. Mualim, Kasi


M.Pdl
Garahajum
Kemenag Kab.
Boyolali
Drs. K. H. Matyoto Ketua Daerah
Fahruri
IPHI
Kab.
Boyouali
Drs.
H.
Sauman, Kasubbag TU
M.Ag.
Kemenag Kab.
Boyolali

Pemantapan Pelaksanaan
Manasik Haji Tahun 1432
H / 2011 M.
4.
12.00 12.45 Pengarahan
Pemberangkatan
dan
Pemulangan Jamaah dan
Daerah Ke Embarkasi (
PP)
5.
12.45 13.00 Penutupan
Panitia
Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
3.3 SWOT

Penyelenggaraan

Manasik

Haji

di

Kementerian

Team Panitia

Agama

Kabupaten Boyolali
3.3.1 Strength (kekuatan)
Kaitanya dengan faktor dari dalam tubuh Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali yang berupa kekuatan, dalam hal ini
berupa sumber daya manusia yang unggul. Faktor lain berupa dana
yang sudah tersedia dari anggaran pusat. Selain itu Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali juga mempunyai mitra yaitu KBIH dan
IPHI dalam melaksanakan manasik haji. IPHI itu sendiri merupakan

40

ikatan persaudaraan haji indonesia. Selain itu juga adanya landasan


hukum bagi Kementerian Agama untuk menyelenggaraan pelayanan
haji dan umrah. Undang-undang Nomor 13 tahun 2008 tentang
penyelenggarann haji, merupakan landasan umum Kementerian
Agama dalam melaksanakan kegiatan pelayanan haji. Undang-undang
ini merupakan upaya penyempurnaan sistem dan manajemen
penyelenggaraan ibadah haji agar pelaksanaan ibadah haji berjalan
aman, tertib, dan lancar dengan menjunjung tinggi semangat keadilan,
transparansi, dan akuntabilitas publik.
3.3.2 Weakness (kelemahan)
Faktor kelemahan juga terdapat dalam tubuh organisasi itu
sendiri. Melihat kelemahan yang berada di Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali dalam melaksanakan bimbingan manasik haji.
Kendala-kendala yang dihadapi Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali ada dua faktor yaitu faktor pegawai dan calon jamaah haji.
Secara umum, kelemahan yang dihadapi adalah persoalan teknis
seperti kurangnya sarana dan prasarana untuk praktek manasik itu
sendiri, serta etos kerja dan kedisiplinan pegawai. Sedangkan secara
khusus

faktor

kelemahan

penyelenggaraan

manasik

haji

di

Kementerian Agama Kabupaten Boyolali ada 2 yaitu pertama, calon


jamaah haji. Jamaah haji banyak yang sudah lanjut usia, oleh sebab itu
kurang memahami tentang prosedur berhaji. Kedua, pegawai
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali. Dalam hal ini adalah

41

pembagian job description yang tumpang tindih menjadi salah satu


faktor kelemahan penyelenggaraan manasik haji. Satu pegawai kadang
bisa mengemban tugas lebih dari satu, sementara mereka harus
menghadapi ratusan jamaah. Sehingga calon jamaah haji kurang
mendapatkan pelayanan yang memuaskan.
3.3.3 Opportunity (peluang)
Dalam hal kaitanya dengan faktor lingkungan faktor peluang
sangat diperhatikan dalam sebuah organisasi. Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali melihat peluang dalam penyelenggaraan manasik
haji sangat besar dikarnakan bimbingan manasik haji sudah menjadi
tanggung jawab pemerintah dibawah koordinasi Menteri Agama
dalam hal ini Kementerian Agama.

Oleh sebab itu semua calon

jamaah haji mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan manasik


haji.
3.3.4 Threats (ancaman)
Faktor lingkungan yang kedua adalah ancaman, kaitan
dengan ancaman dalam penyelenggaraan manasik haji. Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali mempunyai ancaman yaitu ketidak
puasan jamaah haji terhadap penyelenggaraan manasik haji itu sendiri.
Ini merupakan faktor yang sangat penting, karena dengan tidak
puasnya jamaah haji otomatis penyelenggaraan manasik haji tidak
berjalan dengan baik atau tidak berhasil.

42

BAB IV
ANALISIS SWOT PENYELENGGARAAN MANASIK HAJI DI
KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2011

1.1 Analisis Penyelenggaraan Manasik Haji di Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali
Dalam melaksanakan kegiatan penyelenggaraan manasik haji, jika
menginginkan hasil maksimal dan tepat sasaran sesuai tujuan akhir. Maka
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali sudah mempersiapkan rancangan
sedemikian rupa dari jauh hari dalam melaksanakan bimbingan manasik haji
Jamaah haji dikelompokkan sesuai dengan tempat tinggal jamah haji
(kecamatan). Tetapi kalau ada jamaah haji yang mempunyai muhrim atau
keluarga di lain tempat (kecamatan/kota) dapat meminta kepada Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali menjadi satu regu atau rombongan dengan
mengajukan surat permohonan penggabungan atau pengelompokkan.
Seperti yang telah disajikan dalam bab 3, pelaksanaan bimbingan
manasik haji Kementerian Agama Kabupaten Boyolali yang diberikan
kepada calon jemaah haji adalah minimal sebanyak 15 kali pertemuan,
terdiri dari 11 kali pertemuan yang bersifat kelompok dilaksanakan di tingkat
Kecamatan sedangkan 4 kali pertemuan secara massal dilaksanakan di
tingkat Kabupaten.
Pelaksanaan manasik haji di tingkat Kecamatan, Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali memberikan tugas kepada KUA dengan dilaksanakan

oleh IPHI cabang yang dinamakan bimbingan manasik haji kelompok.


Penyelenggaraan manasik haji kelompok dilaksanakan di gedung atau aula
IPHI cabang.
Dalam kelancaran proses kegiatan penyelenggaraan bimbingan
manasik haji di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali diperlukan
beberapa tahapan-tahapan yang dianggap penting. Tahapan-tahapan tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan tahapan pertama dari proses manajemen.
Rencana-rencana itu dibutuhkan untuk memberikan kepada organisasi
tujuan-tujuannya dan menetapkan prosedur terbaik untuk mencapai
tujuan-tujuan itu, dan perencanaan suatu pendekatan yang terorganisir
untuk menghadapi problema-problema di masa yang akan datang
(Sarwoto, 1978: 69).
Perencanaan dirumuskan untuk memberikan acuan bagi panitia
penyelenggaraan

bimbingan

manasik

haji.

Kementerian

Agama

Kabupaten Boyolali membuat rancangan sebagai berikut:


No
1

Bulan

Jenis Kegiatan

26 Juli 2011 Bimbingan


kebijakan

masal
pemerintah,

Keterangan

meliputi

: Gedung Haji

penjelasan Boyolali

umum tentang perhajian, Bimbingan


Ibadah Haji dan Umrah, keselamatan
penerbangan.
2

27 Juli 2011 Bimbingan


Bimbingan

masal

meliputi

perjalanan

: Gedung Haji
haji Boyolali

dibandara,
haji,

Bimbingan

Akhlak dan

kesehatan

Adat

Istiadat

bangsa Arab, Bimbingan Ziarah,


pemutaran Vidio manasik, layanan
perjalanan

haji

dari

daerah

keembarkasi.
3

28 Juli 2011 Bimbingan masal meliputi : Praktek Gedung Haji


lapangan, peragaan pakaian ihram, Boyolali
hak dan kewajiban jamaah.

Agustus

Perkiraan pelunasan

Agustus

Cheking kesehatan

Di puskesmas
Kecamatan
masing-masing

13

Bimbingan

September

pemantapan

2011

karom,

masal

meliputi Gedung Haji

penyusunan
karu,

kloter, Boyolali

pemantapan

pelaksanaan

manasik

haji

pengarahan

pemberangkatan

dan

pemulangan.
7

Akhir

Perkiraan pemberangkatan jamaah PPIH Ponohudan

September

kloter pertama

Oktober

Pelepasan /jamaah haji calon haji Pendopo


kab. Boyolali tahun 2011

Awal

Pemulangan

jamaah

Desember

mengayubagyo haji 2011

kabupaten
haji

dan Pendopo
Kabupaten

Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali


Perencanaan yang matang merupakan salah satu modal
suatu organisasi atau lembaga. Perencanaan di sini dimaksudkan sebagai
usaha untuk melakukan penyusunan rangkaian kegiatan atau program

yang akan dilaksanakan, sekaligus menentukan time schedule dan hal-hal


yang berkaitan dengan program atau kegiatan yang akan dilakukan.
Dalam hal ini dilakukan oleh Kepala beserta Kasi haji dan umrah
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali untuk membuat rancangan
tersebut. Untuk semua rancangan yang telah disusun dikoordinasikan
kepada pegawai serta instansi terkait, sehingga rencana bisa lebih efektif
dan efisien.
2. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian didefinisikan sebagai penataan sekumpulan
tugas ke dalam unit-unit yang dapat dikelola dan penetapan hubungan
formal diantara orang-orang yang diserahi berbagai tugas (Sukiswa, 1978:
29). Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan
itu terlalu berat ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian
diperlukan tenaga-tenaga bantu.
Pengorganisasian dalam penyelenggaraan manasik haji dilakukan
dengan cara melakukan pembagian tugas, disini Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali dalam melaksanakan bimbingan manasik haji
menunjuk kepada pegawai-pegawai untuk melakukan beberapa tugas.
Sehingga dibentuklah susunan panitia pelaksana bimbingan manasik haji
sebagai berikut:

SUSUNAN PANITIA PELAKSANA BIMBINGAN MANASIK HAJI


TAHUN 1432 H 2011 M KABUPATEN BOYOLALI
NO

NAMA

JABATAN DINAS

JABATAN /
TUGAS

1.

Taqrir Edi Permadi, SE

Kabag Kesra Setda Kab. Boyolali

Pengarah

2.

Drs. H. Hasan Kamal, M.PdI

Kepala Kankemenag Kab. Boyolali

Penanggungjawab

3.

Drs. H. Sauman, M.Ag

Kasubbag TU

Ketua

4.

Drs. Muh Mualim, M.PdI

Kasi Garahajum

Sekretaris

1.

Hj. Sri Haryati, S.PdI

Staf Garahajum

Bendahara

2.

Drs. H. Heru Wardhono

IPHI Kab. Boyolali

Anggota

3.

Indriyati Aisyiyah, SE

Bendahara Kanmenag

Anggota

4.

Nuryadi, S.Sos

Kasubbag Agama dan Sos Setda

Anggota

5.

Hj. Siti Mahmudah, S.Ag

Garazawa

Anggota

6.

H. Sriyono

IPHI Kab. Boyolali

Anggota

7.

Mubasyir

Staf Garahajum

Anggota

8.

Muh. Yasin

Staf Garahajum

Anggota

9.

Muh. Adi Surawan

Staf Garahajum

Anggota

10.

Anis Prihono

Staf Garahajum

Anggota

11.

H. Iwan Khafidh, SHI

Penyuluh Agama Islam

Anggota

12.

H. Damiri, S.Ag

KBIH Al Kautsar

Anggota

13.

Drs. H. Mudzakir

KBIH Arofah

Anggota

Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali


Dalam

hal

ini

Kementerian Agama

Kabupaten Boyolali

melaksanaan program-program yang harus diorganisasikan sudah baik,


melihat sudah terbentuknya susunan kepanitiaan yg komplit. Artinya
pengelompokan dan pengaturan antara berbagai komponen yang ada
maupun kegiatan digerakkan sebagai satu kesatuan sesuai dengan
perencanaan yang ada. Setiap bidang yang ada dalam organisasi
merupakan komponen yang membentuk satu sistem yang saling

berhubungan baik secara vertikal maupun horizontal yang bermuara ke


satu arah untuk mencapai suatu tujuan.
3. Penggerakan (actuating)
Penggerakan merupakan bagian terpenting daripada proses
manajemen, bahkan manajer praktis beranggapan bahwa pelaksanaan
merupakan intisari daripada manajemen. Pelaksanaan bimbingan manasik
haji

dilaksanakan

berdasarkan

rencana

yang

sudah

ditetapkan

sebelumnya. Kementerian Agama Kabupaten Boyolali melaksanakan


bimbingan manasik haji dengan jadwal sebagai berikut:
JADWAL BIMBINGAN MANASIK MASSAL TAHUN 1432 H / 2011 M
KABUPATEN BOYOLALI
HARI /
TANGGAL
SELASA
26-07-2011

WAKTU

MATERI

07.00 08.00 Pendaftaran Peserta


08.00 08.30 Persiapan Upacara Pembukaan
08.30 09.50 1.
Pembukaan
2.
Pembacaan Ayat Suci Al
Quran
3.
Laporan
Panitia
Penyelenggara
4.
Sambutansambutan:
a.
Ketua
IPHI
Kab.
Boyolali
b.
Bupati
Boyolali
dilanjutkan membuka secara
rersmi Bimbingan Manasik Haji
Tahun 1431 H / 2010 M.
5. Doa / Penutup

PETUGAS /
TUTOR
Panitia
Panitia
Paniria
Slameto
Kepala
Kankemenag Kab.
Boyolali
K.H.
Habib
Ihsanudin Bupati
Boyolali

K.H. Muslim

HARI /
TANGGAL

PETUGAS /
TUTOR
09.50 10.00 Persiapan Penyajian Materi
Panitia
10.00 10.45 Kebijakan Pemenintah di bidang Kakanwil
Perhajian UU No. 17/1999 Jo Kemenag
Prov.
UU No. 13/2008
Jateng
WAKTU

MATERI

10.45 11.30 Penjelasan


Umum
tentang
Perhajian di Kantor Kemenag
Kab. Boyolali
11.30 13.00 Bimbingan Ibadah Haji dan
Umroh
13.00 14.00 ISHOMA
14.00 14.45 Bimbingan Perjalanan Haji di
Embarkasi
dan
Bandara
Indonesia
14.45 15.00 Keselamatan Penerbangan
RABU
27-07-2011

08.30 09.15

09.15 10.00
10.00 10.45
10.45 11.15

11.15 13.00
13.00 13.45
13.45 14.30
KAMIS
28072011

07.30 08.30

Drs. H. Hasan
Kamal M.PdI.
K.H. Drs. Matyoto
F
Panitia
Drs.
H.
Ali
Muhson, M.Ag.

Drs. H. Sauman,
M.Ag
Bimbingan Perjalanan Haji di Drs. H. Mudzakir
Bandara Saudi Arabia dan
Madinah
Bimbingan Kesehatan Haji
Dinas Kesehatan
Kab. Boyolali
Akhlak dan Adat Istiadat Bangsa Drs. H. Sorofudin,
Arab
LC
Bimbingan Ziarah
Drs. KH. Muslim
Khoiri
Drs. H. Asikin,
M.Ag
Pemutaran Video Manasik Haji H. Paryadi, MM,
dkk
ISHOMA
Panitia
Layanan perjaianan haji dan Drs.
Muh.
daerah ke embarkasi
Mualim, M.PdI
Persiapan Praktik Lapangan
H.
Sriyono
H. Arif Ridho, SH

HARI /
TANGGAL

PETUGAS /
TUTOR
H. Marjito
08.30 09.00 Peragaan pakean ihrom
Drs.H.
Abidurrahman
H. Yahya
09.00 12.00 Lokasi
Masjidil
Haram Drs. K.H. Muslim
(Thowaf dan Sai)
H. Damiri, S.Ag.
Lokasi Arofah (Wukuf)
Drs. H. Mujiyono
Drs. H. Mudzakir
Lokasi Muzdatifah (mabit)
Drs. H. Heru
Wardhono
Drs. H. Zarkasi,
M.PdI.
Lokasi Mina ( Melempar K H. Asikin,
jamarot)
M.Ag. H. Kamid,
M.PdI.
12.00 13.00 ISHOMA
Panitia
13.00 14.50 Hak dan Kewajiban Jamaah Team Penyaji
(Tanya Jawab)
14.15 15.00 Acara Penutupan
Panitia
Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
WAKTU

MATERI

JADWAL BIMBINGAN MANASIK MASSAL


TAHUN 1432H / 2011 M KABUPATEN BOYOLALI
NO

WAKTU

08.00 09.30

2.

09.30 10.15

3.

10.15 12.00

MATERI

NARA
KETERANGAN
SUMBER
Pembukaan dan Sambutan Drs. H. Hasan Kakankemenag
Pengarahan
Pembinaan Kamal, M.PdI.
Kab. Boyolali
Pelayanan Haji Tahun
1432 H
Pemantapan Penyusunan Drs.
Muh. Kasi
Garahajum
Kloter, Karu dan Karom
Mualim, M.Pdl Kemenag
Kab.
Boyolali
Pemantapan Pelaksanaan Drs.
K.
H. Ketua Daerah IPHI
Manasik Haji Tahun 1432 Matyoto Fahruri Kab. Boyouali

4.

12.00 12.45

5.

12.45 13.00

H / 2011 M.
Pengarahan
Drs. H. Sauman, Kasubbag
Pemberangkatan
dan M.Ag.
Kemenag
Pemulangan Jamaah dan
Boyolali
Daerah Ke Embarkasi (
PP)
Penutupan
Panitia
Team Panitia

Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali

TU
Kab.

JADWAL BIMBINGAN MANASIK HAJI KELOMPOK TAHUN 1432 H / 2011 KECAMATAN


NO

1.

HARI/
TANGGAL
Jumat Pon,
6 Robuil Akhir
1432 H
11 Maret 2011
M

WAKTU
13.30-15.00

15.00-16.30

2.

3.

4.

Jumat Kliwon,
13 Robuil Akhir
1432 H
18 Maret 2011
M
Jumat Pahing,
20 Robuil Akhir
1432 H
25 Maret 2011
M
Jumat Wage,
27 Robuil Akhir
1432 H

13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15

MATERI

TUTOR

1. Upacara Pembukaan
Pembukaan
Bacaan ayat suci Al
Quran
Laporan Panitia
Sambutan
- Camat Cepogo
- Kemenag Boyolali
Doa
2. Pengertian Haji, Umroh dan
penjelasan bimbingan haji
Toharoh (bersuci, tayamum)
Istirahat
Sholat shafar, fii safar, jamak,
jamak qosor
Informasi-informasi
Macam-macam haji, rukun haji
Istirahat
Wajib dan sunat haji dan umroh
Informasi-informasi

Panitia
H. Muroqib, S.Ag
Hj. Sri Lestari
Kep. KUA

Perjalanan haji / umroh dari


pemberangkatan sampai pulang
Istirahat

H. Muroqib, S.Ag

MODERATOR
Panitia

TEMPAT
Gedung IPHI
Cepogo

Camat Boyolali
Ka. Kemenag
Drs. H. Choiri
Drs. H. Masruri

H. Imam Kuseri, S.Ag

H. Mardi Utomo, S.Pd Gedung IPHI

Cepogo
H. Ali Mahfudh
Panitia
Drs. H. Masruri

H. Syaiful Anwar

Gedung IPHI
Cepogo

H. Muh Nayiri, S.Pd

Gedung IPHI
Cepogo

Drs. H. Choiri
Panitia

NO

HARI/
TANGGAL
1 April 2011 M

MATERI

15.15-16.15

Permasalahan administrasi di
embarkasi Solo, pemeriksaan di
Jeddah, dan pemeriksaan waktu
pemulangan
Informasi-informasi
Thowaf dan doa-doanya
Istirahat
Sai dan doa-doanya
Informasi-informasi
Wukuf dan amalan di Arofah
Istirahat
Mabid di Muzdalifah, Mina dan
lempar Jumroh
Informasi-informasi
Bimbingan Kesehatan
Istirahat
Fiqih wanita dan permasalahannya
Informasi-informasi

H. Syaiful Anwar

Ibadah harian dan hidup di


Mekkah, Medinah, Arbain
Istirahat
Bimbingan kewanitaan
Informasi-informasi
Adat istiadat bangsa Arab dan
bahasa Arab harian

H. Marsudi

H. Muh Nayiri, S.Pd

Hj. Sri Lestari, S.Pd


Panitia
H. Syaiful Anwar

H. Mardi Utomo, S.Pd Gedung IPHI

16.15-16.30

5.

6.

7.

8.

9.

Jumat Legi,
4 Jumadil Awal
1432 H
8 April 2011 M
Jumat Pon,
11 Jumadi Awal
1432 H
15 April 2011
M
Jumat Kliwon
18
Jumadil
Awal 1432 H
22 April 2011
M
Jumat Pahing,
25
Jumadil
Awal 1432 H
29 April 2011
Jumat Wage,
2 Jumadil Akhir

13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00

TUTOR

MODERATOR

TEMPAT

WAKTU

Panitia
H. Mardi Utomo, S.Pd

H. Nurkholis

Gedung IPHI
Cepogo

H. Mundiri
Panitia
H. Maskuri, S.Pd

H. Syaiful Anwar

Gedung IPHI
Cepogo

H. Ali Mahsufh
Panitia
Hj. Paryati

Hj. Siti Mahmudah, S.Ag


Gedung IPHI

Cepogo
Hj. Zaenab Habib
Panitia

Gedung IPHI
Cepogo

Cepogo

NO

10.

11.

12.

13.

HARI/
TANGGAL

WAKTU

1432 H
6 Mei 2011 M

15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30

Jumat Legi,
9 Jumadil Akhir
1432 H
13 Mei 2011 M

13.30-15.00

Jumat Pon,
16
Jumadil
Akhir 1432 H
20 Mei 2011 M
Jumat Kliwon
23
Jumadil
Akhir 1432 H
27 Mei 2011 M
Ahad Pahing,
25
Jumadil
Akhir 1432 H
29 Mei 2011 M

MATERI

16.15-16.30

Istirahat
Pengalaman / kondisi terkini di
Mekah
Informasi-informasi
Larangan-larangan ihrom dan
DAM (denda)
Istirahat
Ziarah dan fadilahnya / tempattempat Mustajabah
Informasi-informasi

13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15
16.15-16.30
13.30-15.00
15.00-15.15
15.15-16.15

Tahalul dan doa tahalul


Istirahat
Doa-doa haji dan umroh
Informasi-informasi
Ringkasan haji dan umroh
Istirahat
Praktik pakaian ihrom

15.00-15.15
15.15-16.15

16.15-16.30
07.00
selesai

TUTOR

MODERATOR

TEMPAT

Drs. H. Choiri
Panitia
H. Munawir

Slamet Santoso

Gedung IPHI
Cepogo

H. Munawir

H. Syaiful Anwar

Gedung IPHI
Cepogo

H. Mardi Utomo, S.Pd


Panitia
Drs. H. Masruri

H. Sugeng, S.Pd

Gedung IPHI
Cepogo

H. Marsudi
Panitia

H. Muh Nayiri /
Hj. Umayah
Informasi-informasi
Panitia
Praktik Bimbingan Ibadah Haji dan Semua Tutor dan
Umroh
Panitia

Semua
Panitia

Tutor

dan Gedung IPHI

Cepogo

Melihat pelaksanaan bimbingan manasik haji Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali melalui jadwal yang tersaji diatas, memang sudah
cukup baik. Sudah mencakup hal-hal kesemuanya yang terdapat dalam
pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi. Materi-materi datas memang
sudah ada panduan dari Kementerian Agama pusat. Cuma kadang
pelaksanaannya yang terdapat kendala-kendala.
4. Pengawasan (controlling)
Pengawasan

dapat

dilaksanakan

dan

dilakukan

dengan

menggunakan 2 (dua) teknik, yaitu teknik langsung dan pengawasan tidak


langsung. Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilakukan oleh
manajer pada waktu kegiatan-kegiatan sedang berjalan, sedangkan
pengawasan tidak langsung adalah pengawasan dari jarak jauh melalui
laporan yang disampaikan oleh bawahan (Sarwoto, 1978: 103).
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali dalam melaksanakan
pengawasan untuk penyelenggaraan bimbingan manasik haji dengan rapat
koordinasi dan rapat evaluasi dalam setiap kegiatan.
Tabel Bahan Rakor dan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji
Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 1432 H/2011 seksi
penyelenggaraan haji dan umroh

No
A

Kegiatan
Pelayanan

Uraian/Kegiatan
-

pendaftaran haji

Penjelasan

Keluaran
-

Calhaj

Permasalahan

memahami -

Banyaknya calhaj yang -

Perlu

adanya

persyaratan

prosedur

sudah lanjut usia dan

seleksi

pendaftaran haji

pendaftaran dengan

kesehatannya terganggu

kesehatan haji

Pemberian nomor

baik

SPPH
-

Solusi

Pendidikan

calhaj

rendah

Penerimaan lembar
porsi

Pengolahan data
calon haji

Pelaksanaan

Rapat persiapan haji -

Terbentuknya

fungsi koordinasi

dan pembagian

panitia

dengan

tugas

penyelenggara

fungsi

instansi/unit

ibadah haji (PPIH)

tugas masing-

terkait

tingkat kabupaten

masing

Pelayanan

Pemeriksanaan

Kurang

memahami -

fungsi dan tugas

Calhaj mengetahui -

Terdapatnya

Memberikan
sosialisasi

biaya -

dan

Ditentukannya

kesehatan haji di

kesehatan calhaj

kesehatannya secara

pemeriksaan kesehatan

indikator

daerah

tingkat kecamatan

dini

yang bervariasi karena

pemeriksaan.

dan ting kabupaten

tidak adanya ketentuan

indikator apa saja yang


harus diperiksa.
D

Pelayanan

pembinaan
manasik

Pembelajaran

bimbingan manasik

Calhaj

memahami/dapat

calon

Banyaknya calon haji -

Pembimbing

yang sudah lanjut usia

memeriksa

melaksanakan

haji

manasik

penjelasan
secara

secara

mandiri
E

Pelayanan
penyuluhan

haji

pada masyarakat

Rakor KUA, kyai

continue

Ka KUA, kyai dan -

SDM

masyarakat -

dan tokoh

masyarakat

rendah, tidak memahami

masyarakat.

memahami

perhajian.

Penyuluhan
terus-menerus

perhajian
F

Pelayanan

Penyediaan sarana

Calhaj dan koper -

Adanya tempat duduk -

Selektif dalam

dalam bus yang kurang

mencari

memadai

sarana

pemberangkatan

transportasi baik

sampai

dan pemulangan

untuk calon haji

Embarkasi

jamaah haji

maupun koper

awal
-

di
lebih

untuk

rombongan/45 orang

Calhaj dan koper


sampai

kabupaten

dengan

selamat,

aman dan nyaman.

satu

transportasi

Pelayanan

jam -

haji di tanah suci

Penyediaan petugas

yang handal

Jamaah haji dapat -

Banyaknya calhaj yang -

Pelayanan

melaksanakan

lansia dan SDM rendah

terus-menerus

Masa

Masa

haji

dengan baik.
Rekruitasi

dan -

pembinaan

Seleksi petugas dan

pembinaan

Mendapatkan

petugas yang handal

rekruitasi -

mendesak

rekruitasi

petugas haji
Bimbingan

diperpanjang
-

manasik haji oleh

Bimbingan manasik
pada calhaj

masyarakat

Calhaj

memahami -

manasik

secara

Kurang

koordinasi -

dengan Depag

Koordinasi
sebelumnya

mandiri

manasik

(KBIH)
Kegiatankegiatan lain

Pelatihan karukarom

Minimnya
sarana

dana

dan -

Tercukupinya
dana
sarana

Sumber : Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali tahun 2011

dan

Dalam hal ini Kementerian Agama Kabupaten Boyolali sudah


melakukan pengawasan dengan baik, rapat koordinasi dan evaluasi. Jadi
mangetahui dan bisa menghindari adanya penyimpangan-penyimpangan
yang dapat berakibat fatal bagi mekanisme organisasi. Sehingga dapat
mengganggu pencapaian yang telah ditetapkan. Dan bisa memberikan
kontrol atau mengendalikan setiap kegiatan yang dilakukan.
Sebagaimana dijelaskan dalam konsep pelaksanaan haji dan
umrah, Kementerian Agama Kabupaten Boyolali melalui seksi gara haji
dan umrah melaksanakan bimbingan haji. Kegiatan bimbingan yang telah
direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Bimbingan haji yang lain
meliputi:
a. Bimbingan massal
Bimbingan massal dilaksanakan 4 kali yaitu bulan juli dan
september 2011. Dalam pelaksanaan bimbingan massal tidak menemui
kendala serius yang berarti. Persoalan yang sering terjadi dalam
kegiatan bimbingan adalah sulitnya mengumpulkan para jamaah calon
haji. Dikarnakan sangat jauhnya antar Kecamatan di Boyolali sehingga
sering terlambat.
b. Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok dilaksanakan 11 kali tetapi kebanyakan
Kecamatan

memberikan

15

kali

dengan

alasan

memberikan

pemahaman lebih bagi para calon jamaah haji. Dalam pelaksanaan


bimbingan kelompok juga tertata dengan baik sesuai rencana. Dengan

mencakup satu Kecamatan menjadikan para jamaah calon haji mudah


untuk dikumpulkan untuk melaksanakan bimbingan manasik.
c. Pelatihan ketua Regu dan Rombongan (Karu dan Karom)
Pelatiahan ketua Regu dan Rombongan biasanya dilaksanakan
sehari mulai pagi sampai selesai. Dan dilaksanakan di masing-masing
Kabupaten atau Kota. Dalam pelatihan itu meliputi materi sebagai
berikut:
1. Kebijakan pemerintah dalam operasional penyelenggaraan ibadah
haji
2. Tugas pokok, fungsi dan uraian tugas ketua Regu dan tugas ketua
Rombongan
3. Bimbingan manasik haji
4. Bimbingan kesehatan
d. Pelatihan petugas haji
Petugas haji yang menyertai calon jamaah haji memiliki peran
yang sangat penting dalam membina, melayani dan melindungi para
calon jamaah haji selama proses perjalanan haji. Oleh sebab itu, upaya
untuk memberikan pemahaman mereka menyangkut tugas pokok
dalam pelayanan haji. Pelaksanaan pelatihan sepenuhnya merupakan
tanggung jawab panitia pusat. Materi pelatihan para petugas haji
meliputi:
1. Kebijakan penyelenggaraan ibadah haji
2. Uraian tugas petugas operasional menyertai colon jamaah haji

3. Uraian tugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab


Saudi
4. Pengelolaan pelayanan kesehatan jamaah haji
5. Penanganan kasus-kasus operasional jamaah haji di Arab Saudi
6. Bimbingan manasik haji, umrah dan ziarah bagi petugas haji
e. Pembinaan pasca pulang dari Arab Saudi
Tujuan penyelenggaraan pembinaan pasca pulang dari Arab
Saudi atau pelaksanaan haji adalah untuk menjaga kemabruran yang
diperoleh jamaah setelah menunaikan ibadah haji. Kemabruran disini
diartikan dengan senantiasa memperbanyak ibadah, meningkatkan
amal sholih, menjaga larangan Allah SWT, dan memperbanyak
silaturahmi.
Pada kenyataanya pemerintah (Kementerian Agama) sudah
melakukan pembinaan pasca haji sebagaimana halnya saat proses
manasik haji. Dengan membebankan kepada mitra Kementerian
Agama yaitu Organisasi keagamaan yang berkompeten dalam
pembinaan haji adalah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) yang
memiliki struktur di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan
Kecamatan. Pembinaan jamaah haji dari masing-masing Kabupaten
menjadi cakupan kerja IPHI tingkat Kabupaten/Kota. Namun
eksistensi IPHI juga kurang maksimal karena setelah satu tahun para
jamaah haji banyak yang sudah tidak ikut IPHI dengan alasan-alasan
tertentu. Para jamaah haji justru lebih efektif dalam memanfaatkan

ikatan rombonganya dan melestarikannya sampai di rumah setelah


haji. Adapun bentuk kegiatan pembinaan pasca haji melalui
rombongan antara lain meliputi: kegiatan pengajian keliling di rumahrumah jamaah haji satu bulan sekali dan melakukan arisan.
Penyelenggaraan ibadah Haji diletakkan pada prinsip-prinsip
yaitu,

mengedepankan kepentingan jama`ah,

memberikan rasa

keadilan dan kepastian, efisiensi dan efektivitas serta transparansi dan


akuntabel dengan didorong oleh profesionalitas, prinsip-prinsip
tersebut

direfleksikan

dalam

semua

kegiatan

terkait

dengan

peyelengaraan Haji, baik dalam bentuk pembinaan, pelayanan maupun


perlindungan.

1.2 Analisis SWOT Penyelenggaraan Manasik Haji di Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali
Misi utama penyelenggaraan bimbingan manasik haji adalah
memberikan pemahaman tentang ibadah haji kepada calon jamaah haji dalam
bekal untuk melaksanakan ibadah haji di Arab Saudi secara baik dan khitmad.
Pelaksanaan bimbingan manasik haji bagi jamaah haji akan ditentukan oleh
seberapa jauh sumber daya pelaksana dan sistem bimbingan bisa memenuhi
kebutuhan jamaah saat pelaksanaan ibadah dan sejauh mana mampu
memberikan solusi bagi permasalahan yang dialami oleh para jamaah.
Seperti yang telah dijelaskan dalam kerangka teorotik bahwa,
menganalisis analis SWOT ada 4 langkah strategi. (Purwanto, 2008:132)

Supaya dalam mengatasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam


suatu organisasi bisa terpenuhi. Begitu juga dengan analisis SWOT
penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
tahun 2011.

Empat langkah strategi tersebut adalah sebagai berikut:


1. Strategi SO (Strengths-Opportunities)
Strategi

pertama

ini

strategi

yang

digunakan

dengan

memanfaatkan atau mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki untuk


memanfaatkan berbagai peluang. Dalam hal ini Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya
manusia yang unggul untuk bisa dijadikan peluang dalam menarik para
jamaah dalam melaksanakan bimbingan ibadah haji.
Tidak itu juga faktor dana juga harus dimanfaatkan Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali sebagai peluang untuk menarik jamaah calon
haji dalam melakukan bimbingan manasik haji. Dikarnakan dana yang
sudah dianggarkan oleh Kementerian Agama pusat untuk bimbingan
manasik haji. Oleh sebab itu para jamaah calon haji tidak usah membayar
untuk

mengikuti

bimbingan

manasik

Kementerian Agama Kabupaten Boyolali.


2. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities)

haji

yang

diselenggarakan

Strategi kedua ini strategi yang digunakan dengan seoptimal


mungkin meminimalisir kelemahan yang ada untuk memanfaatkan
berbagai peluang. Dalam hal ini Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
mempunyai kelemahan seperti faktor pegawai dan calon jamaah haji.
Secara umum, kelemahan yang dihadapi adalah persoalan teknis seperti
kurangnya sarana dan prasarana untuk praktek manasik itu sendiri, serta
etos kerja dan kedisiplinan pegawai. Sedangkan secara khusus faktor
kelemahan penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali ada 2 yaitu pertama, calon jamaah haji. Jamaah haji
banyak yang sudah lanjut usia, oleh sebab itu kurang memahami tentang
prosedur berhaji. Kedua, pegawai Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali. Dalam hal ini adalah pembagian job description yang tumpang
tindih menjadi salah satu faktor kelemahan penyelenggaraan manasik haji.
Satu pegawai kadang bisa mengemban tugas lebih dari satu, sementara
mereka harus menghadapi ratusan jamaah. Sehingga calon jamaah haji
kurang mendapatkan pelayanan yang memuaskan.
Melihat kelemahan seperti itu, Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali seharusnya memanfaatkan peluangnya dengan sudah adanya
peraturan Menteri Agama nomor 371 tahun 2002 masalah bimbingan
manasik haji sudah menjadi tanggung jawab pemerintah dibawah
koordinasi Menteri Agama dalam hal ini Kementerian Agama.

Oleh

sebab itu semua calon jamaah haji mempunyai hak untuk mendapatkan
bimbingan manasik haji. Dari sinilah Kementerian Agama Kabupaten

Boyolali harus bisa memanfaatkan peluangnya untuk menutupi sisi


kelemahanya. Karena secara otomatis jamaah calon haji meminta haknya
untuk bimbingan manasik haji kepada Kementerian Agama Kabupaten
Boyolali.
3. Strategi ST (Strengths-Threats)
Strategi ketiga ini strategi yang digunakan dengan memanfaatkan
kekuatan

untuk

mengurangi

berbagai

ancaman.

Dalam

hal

ini

Kementerian Agama Kabupaten Boyolali seharusnya bisa memaksimalkan


kekuatan itu berupa dana yang sudah tersedia, sumber daya manusia yang
unggul dll. untuk mengurangi berbagai ancaman. Dikarnakan semua yang
berurusan dengan bimbingan manasik haji adalah tanggung jawab
Kementerian Agama, maka IPHI dan KBIH itu juga dirangkul sedemikian
rupa sehingga bisa bekerja sama dengan baik. Walaupun Kementerian
Agama Kabupaten Boyolali mempunyai ancaman berupa tidak puasnya
jamaah calon haji dalam pelaksanaan manasik haji. Tetapi dengan
mempunyai kekuatan itu bisa dimaksimalkan untuk menanggulangi
ancaman itu. Dengan adanya mitra IPHI dan KBIH juga bisa
dimaksimalkan untuk memuaskan calon jamaah haji.
4. Strategi WT (Weaknesses-Threats)
Strategi keempat ini strategi yang digunakan untuk mengurangi
kelemahan dalam rangka meminimalisir atau menghindari ancaman.
Dalam kaitan dengan hal itu Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
seharusnya terus berusaha mengurangi kelemahan dengan menambah

sarana dan prasarana praktek manasik dikit demi sedikit, memberikan


pelatihan-pelatihan bagi pegawai agar etos kerja dan kedisiplinan pegawai
bisa tumbuh lebih baik. Kalau masalah jamaah calon haji yang sudah
lanjut usia itu memang tidak mudah, tetapi masih biasa diminimalisir
dengan ditambahnya bimbingan bagi calon jamaah haji yang usia lanjut.
Kalau masalah pembagian job description yang tumpang tindih adalah
dengan membagi wilayah tugas yang sesuai dengan keahlianya agar tidak
lagi tumpang tindih. Dengan demikian tugas-tugas bisa dapat dilaksanakan
denga baik. Problem itu sebenarnya terjadi karena beberapa hal
diantaranya adalah kurangnya sumber-sumber daya manusia yang betulbetul menguasai tentang perhajian dan masih kurangnya kedisiplinan bagi
pegawai. Dengan hal itu sudah dilaksanakan kemungkinan ancaman bisa
lebih berkurang.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Ibadah haji merupakan ibadah yang istimewa bagi seluruh umat
islam. Pelaksanaan ibadah haji ini membutuhkan kesiapan fisik, mental dan
material yang cukup. Ibadah haji mengharuskan terpenuhinya syarat dan
rukun tertentu yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji. Berdasarkan
olahan fakta dan data yang ditemukan, maka dapat diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1. Penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
yang diberikan kepada calon jemaah haji adalah sebanyak 15 kali
pertemuan, terdiri dari 11 kali pertemuan yang bersifat kelompok
dilaksanakan di tingkat Kecamatan sedangkan 4 kali pertemuan secara
massal dilaksanakan di tingkat Kabupaten atau Kota dengan materi
terdiri:
a. Kebijakan perhajian
b. Bimbingan manasik haji
c. Bimbingan kesehatan dalam beribadah
d. Mengenal adat istiadat bangsa arab
e. Hikmah haji
f. Tata cara beribadah selama melaksanakan ibadah haji
g. Perjalanan ibadah haji.

Kegiatan manasik massal juga dilaksanakan 4 kali, yaitu untuk


membimbing dan memperdalaman manasik haji bagi calon jamaah haji. Hal
ini dilaksanakan agar calon jamaah haji memahami betul syarat dan rukun
ibadah haji dan umrah.
2. Secara umum penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali tahun 2011 dapat terealisasi dengan baik. Karena
dengan melihat bagaimana rumusan itu dilaksanakan sesuai dengan waktu
dan prosedur yang telah ditetapkan. Hanya saja pada aspek-aspek
pelayanan tertentu perlu optimalisasi.
3. Analisis SWOT penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali meliputi: Kekuatan, sumber daya manusia yang
unggul, dana yang sudah tersedia dari anggaran pusat. Selain itu juga
adanya

landasan

hukum

bagi

Kementerian

Agama

untuk

menyelenggaraan pelayanan haji dan umrah. Serta Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali juga mempunyai mitra yaitu KBIH dan IPHI dalam
melaksanakan manasik haji. Kelemahan, Secara umum kelemahan yang
dihadapi adalah persoalan teknis seperti kurangnya sarana dan prasarana
untuk praktek manasik, serta etos kerja dan kedisiplinan pegawai.
Sedangkan secara khusus ada 2 yaitu pertama, Jamaah haji banyak yang
sudah lanjut usia. Kedua, pembagian job description yang tumpang
tindih. Peluang, bimbingan manasik haji sudah menjadi tanggung jawab
pemerintah dibawah koordinasi Menteri Agama dalam hal ini
Kementerian Agama. Ancaman, Kementerian Agama Kabupaten Boyolali

hampir tidak menemui ancaman apapun dari lingkungan luar atau pihak
lain.

5.2 Saran-Saran
Berdasarkan latar belakang problematika dan analisis terhadap
penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali,
maka

penelitian

ini

merekomendasikan

beberapa

hal

yang

dapat

ditindaklanjuti oleh para pengambil keputusan, sebagai langkah untuk


meningkatkan kualitas penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama
Kota atau Kabupaten. Adapun rekomendasi yang dapat diusulkan kepada
Kementerian Agama Kota atau Kabupaten adalah sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan upaya tanya jawab kepada calon jamaah haji untuk bisa
mengetahui apakah tujuan penyelenggaraan manasik haji berjalan dengan
baik dan tepat sasaran.
2. Perlu dilakukan pelatihan bagi para pegawai-pegawai agar lebih
menguasai tentang kehajian supaya pembagian tugas berjalan lancar dan
tidak merangkap tugas.
3. Kementerian Agama Kabupaten Boyolali perlu meningkatkan efektifitas
pemantauan dan pengawasan terhadap praktek pelayanan KBIH kepada
calon jamaah haji. Hal ini untuk mencegah terjadinya persaingan yang
tidak sehat antar KBIH dalam menawarkan jasa bimbingan,selain itu agar
calon jamaah haji tidak membayar terlalu mahal untuk bimbingan di
KBIH.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Ibadah haji merupakan ibadah yang istimewa bagi seluruh umat
islam. Pelaksanaan ibadah haji ini membutuhkan kesiapan fisik, mental dan
material yang cukup. Ibadah haji mengharuskan terpenuhinya syarat dan
rukun tertentu yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji. Berdasarkan
olahan fakta dan data yang ditemukan, maka dapat diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1. Penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama Kabupaten Boyolali
yang diberikan kepada calon jemaah haji adalah sebanyak 15 kali
pertemuan, terdiri dari 11 kali pertemuan yang bersifat kelompok
dilaksanakan di tingkat Kecamatan sedangkan 4 kali pertemuan secara
massal dilaksanakan di tingkat Kabupaten atau Kota dengan materi
terdiri:
a. Kebijakan perhajian
b. Bimbingan manasik haji
c. Bimbingan kesehatan dalam beribadah
d. Mengenal adat istiadat bangsa arab
e. Hikmah haji
f. Tata cara beribadah selama melaksanakan ibadah haji
g. Perjalanan ibadah haji.

Kegiatan manasik massal juga dilaksanakan 4 kali, yaitu untuk


membimbing dan memperdalaman manasik haji bagi calon jamaah haji. Hal
ini dilaksanakan agar calon jamaah haji memahami betul syarat dan rukun
ibadah haji dan umrah.
2. Secara umum penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali tahun 2011 dapat terealisasi dengan baik. Karena
dengan melihat bagaimana rumusan itu dilaksanakan sesuai dengan waktu
dan prosedur yang telah ditetapkan. Hanya saja pada aspek-aspek
pelayanan tertentu perlu optimalisasi.
3. Analisis SWOT penyelenggaraan manasik haji Kementerian Agama
Kabupaten Boyolali meliputi: Kekuatan, sumber daya manusia yang
unggul, dana yang sudah tersedia dari anggaran pusat. Selain itu juga
adanya

landasan

hukum

bagi

Kementerian

Agama

untuk

menyelenggaraan pelayanan haji dan umrah. Serta Kementerian Agama


Kabupaten Boyolali juga mempunyai mitra yaitu KBIH dan IPHI dalam
melaksanakan manasik haji. Kelemahan, Secara umum kelemahan yang
dihadapi adalah persoalan teknis seperti kurangnya sarana dan prasarana
untuk praktek manasik, serta etos kerja dan kedisiplinan pegawai.
Sedangkan secara khusus ada 2 yaitu pertama, Jamaah haji banyak yang
sudah lanjut usia. Kedua, pembagian job description yang tumpang
tindih. Peluang, bimbingan manasik haji sudah menjadi tanggung jawab
pemerintah dibawah koordinasi Menteri Agama dalam hal ini
Kementerian Agama. Ancaman, Kementerian Agama Kabupaten Boyolali

hampir tidak menemui ancaman apapun dari lingkungan luar atau pihak
lain.

5.2 Saran-Saran
Berdasarkan latar belakang problematika dan analisis terhadap
penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama Kabupaten Boyolali,
maka

penelitian

ini

merekomendasikan

beberapa

hal

yang

dapat

ditindaklanjuti oleh para pengambil keputusan, sebagai langkah untuk


meningkatkan kualitas penyelenggaraan manasik haji di Kementerian Agama
Kota atau Kabupaten. Adapun rekomendasi yang dapat diusulkan kepada
Kementerian Agama Kota atau Kabupaten adalah sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan upaya tanya jawab kepada calon jamaah haji untuk bisa
mengetahui apakah tujuan penyelenggaraan manasik haji berjalan dengan
baik dan tepat sasaran.
2. Perlu dilakukan pelatihan bagi para pegawai-pegawai agar lebih
menguasai tentang kehajian supaya pembagian tugas berjalan lancar dan
tidak merangkap tugas.
3. Kementerian Agama Kabupaten Boyolali perlu meningkatkan efektifitas
pemantauan dan pengawasan terhadap praktek pelayanan KBIH kepada
calon jamaah haji. Hal ini untuk mencegah terjadinya persaingan yang
tidak sehat antar KBIH dalam menawarkan jasa bimbingan,selain itu agar
calon jamaah haji tidak membayar terlalu mahal untuk bimbingan di
KBIH.

DAFTAR PUSTAKA

Al Munawir, Warsono Ahmad, 1984, Kamus Bahasa Indonesia, Yogyakarta: Al


Munawar.
Amrullah dan Budiono, Haris, 2004, Pengantar Managemen, Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Anwar A, Mahfudz, 2004, Tuntunan Ibadah Haji dan Umroh, Bandung : Sinar
Baru Algesindo.
Arikunto, Suharsini, 1993, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta : Rineka Cipta.
Aziz, Syaikh Abdul bin Abdullah, 2003, Tanya Jawab tentang Rukun Islam,
Medan : IAIN Sumatra Utara.
Bungin, Burhan, 2009, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Jakarta : Kencana
Daft, Richard, 2007, Management, Jakarta : Salemba Empat.
Depag, RI, 2004, Tuntutan Keselamatan, doa dan Dzikir Ibadah Haji, Jakarta :
Departemen Agama.
Faturrahman, M, 2004, Petunjuk Singkat Manasik Haji Kelompok Bimbingan
Ibadah Haji (KBHI), Kendal: KBHI Al-Toyibah.
Hadi, Sutrisno, 2004, Metode Research, Yogyakarta, BPEE, Edisi 2
http:// berumrah Berhaji Blog Spot.com/2009/09/Pengertian Haji dan
Umrah.html.
KBBI, 194, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.
KBRI, 1994, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, Edisi 2.
Kustini, Abdul Aziz, 2007
Muffatakhah, Adnin, 2009, Managemen Penyelenggaraan Ibadah Haji pada
Kelompok Bimbingan Ibadah Haji KBIH NU Kota Semarang, Skripsi
Fakultas Dakwah : IAIN Walisongo Semarang.
Muhtadi, Asep, Saiful dan Safei, Agus Ahmad. 2003. Metode Penelitian Dakwah,
Bandung : Pustaka Setia.

Moleong, Lexij, 2004, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : Rosda Karya.


Setiawan, Agus, Sistem Perencanaan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota
Semarang tahun 2005-2010 dalam Bidang Sosialisasi Keagamaan
(Studi Kasus di RS. Roemani), Skripsi Fakultas Dakwah IAIN
Walisongo Semarang.
Rasyid, Sulaeman, 1986, Fiqih Islam, Bandung : Sinar Baru.
Pimay, Awaludin, 2005, Manasik Haji Dan Manasik Umroh.
Wahyuni, Sri, 2010, Strategi Dakwah M. Natsir Dalam Menghadapi Misionaris
Kristen, Skripsi Fakultas Dakwah : IAIN Walisongo Semarang.
Purwanto, Iwan, 2006, Managemen Strategi, Bandung : Yiama Widya.
Minner, B. Jhon dan George Astainer, 1998, Kebijakan dan Strategi Manajemen,
Jilid II, Jakarta : Erlangga.
Munir, M dan Wahyu Illahi, 2009, Manajemen Dakwah, Jakarta : Kencana
Prenada Media Group.
Sabiq, Sayyid, Fiqih Sunnah Tiga, Jakarta : Cakrawala Publising.
Sumarsono, Sony, 2004, Metode Riset Sumber Daya Manusia, Yogyakarta :
Graha Ilmu.
Saebani, Beni, Ahmad, 2008, Metode Penelitian, Bandung : Pustaka Setia.
Suprayogo, Imam, 2001, Metodologi Penelitian Sosial, Bandung : PJ. Remaja
Rosda Karya.