Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA KLINIK
PEMERIKSAAN KREATININ DARAH

DIBUAT OLEH:
NAMA

: BELA NINSIH ( 1101012 )

KELOMPOK: 4 A (genap)
DOSEN

: NOVRI HENDRI SANDY, M. Farm, Apt.

ASISTEN

: - EKA NUR FRAHESTI


- ERMA YUNI PUTRI

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
PEKANBARU
T.A 2014/2015

PEMERIKSAAN ENZIM TRANSAMINASE PADA


SERUM
I. TUJUAN

Untuk mengetahui adanya kreatinin dalam darah.

II. PRINSIP
Yang sering digunakan adalah metode jaffe, yaitu pembentukan kreatinin pikrat yang
berwarna merah, bila kreatinin di reaksikan dengan pikrat alkalis. Warna yang terbentuk di
ukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm. Kalkulasi di hitung dengan
membandingkan absorbance sampel dengan standar yang telah diketahui kadarnya.
Harga normal untuk metoda ini adalah 0,6-1,1 mg/100ml serum dengan 0,7-1,5 mg/1000
ml whole blood. Untuk pemeriksaan kreatinin harus dilakukan deproteinisasi yang
menggunakan Na Tungsat dan H2SO4. Filtrate disebut dengan filtrate bebas protein (FPB)
atau lebih popular dengan filtrate folin filtrate juga bias digunakan untuk pemeriksaan asam
urat.
III. TINJAUAN PUSTAKA
Ginjal merupakan organ berbentuk kacang, dengan ukuran kepalan tangan. Ginjal
berada di dekat bagian tengah punggung, tepat di bawah tulang rusuk, satu di setiap sisi
tulang belakang. Setiap hari, proses ginjal seseorang sekitar 200 liter darah untuk
menyaring sekitar 2 liter produk limbah dan air ekstra. Limbah dan air ekstra menjadi
urin, yang mengalir ke kandung kemih melalui tabung yang disebut ureter. Kandung
kemih menyimpan urin sampai melepaskannya melalui air seni (NIDDK, 2009).
Fungsi ginjal yaitu sebagai sistem penyaringan alami tubuh, melakukan banyak
fungsi penting. Fungsi ini termasuk menghilangkan bahan ampas sisa metabolisme dari
aliran darah, mengatur keseimbangan tingkat air dalam tubuh, dan menahan pH (tingkat
asam-basa) pada cairan tubuh. Kurang lebih 1,5 liter darah dialirkan melalui ginjal setiap
menit. Dalam ginjal, senyawa kimia sisa metabolisme disaring dan dihilangkan dari

tubuh (bersama dengan air berlebihan) sebagai air seni. Penyaringan ini dilakukan oleh
bagian ginjal yang disebut sebagai glomeruli. Selain mengeluarkan limbah, ginjal merilis
tiga hormon penting yaitu erythropoietin atau EPO, yang merangsang sumsum tulang
untuk membuat sel-sel darah merah; renin, yang mengatur tekanan darah; calcitriol,
bentuk aktif vitamin D, yang membantu mempertahankan kalsium untuk tulang dan
untuk keseimbangan kimia yang normal dalam tubuh (NIDDK, 2009).
Adanya kerusakan dapat memengaruhi kemampuan ginjal kita dalam melakukan
tugasnya. Beberapa dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal secara cepat (akut);
yang lain dapat menyebabkan penurunan yang lebih lamban (kronis). Keduanya
menghasilkan penumpukan bahan ampas yang toksik (racun) dalam darah. National
Kidney Foundation merekomendasikan tiga tes sederhana untuk skrining penyakit ginjal:
tekanan darah pengukuran, cek spot untuk protein atau albumin dalam urin, dan
perhitungan laju filtrasi glomerulus (GFR) berdasarkan pengukuran kreatinin serum.
Mengukur urea nitrogen dalam darah memberikan informasi tambahan (NIDDK, 2009).
Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati dan
terdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin
fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP
(adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah
menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Seiring
dengan pemakaian energi, sejumlah kecil diubah secara ireversibel menjadi kreatinin,
yang selanjutnya difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan dalam urin (Riswanto,
2010).
Banyaknya kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung
pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun
keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali
jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan
kerusakan masif pada otot (Riswanto, 2010). Ginjal mempertahankan kreatinin darah
dalam kisaran normal. Kreatinin telah ditemukan untuk menjadi indikator yang baik
untuk menguji fungsi ginjal (Siamak, 2009).

Pada orang yang mengalami kerusakan ginjal, tingkat kreatinin dalam darah akan
naik karena clearance/ pembersihan kratinin oleh ginjal rendah. Tingginya kreatinin
memperingatkan kemungkinan malfungsi atau kegagalan ginjal. Ini adalah alasan
memeriksa standar tes darah secara rutin untuk melihat jumlah kreatinin dalam darah. Hal
ini penting untuk mengenali apakah proses menuju ke disfungsi ginjal (gagal ginjal,
azotemia) akut atau kronik. Sebuah ukuran yang lebih tepat dari fungsi ginjal dapat
diestimasi dengan menghitung berapa banyak kreatinin dibersihkan dari tubuh oleh
ginjal, dan ini disebut kreatinin clearance (Siamak, 2009).
Klirens kreatinin adalah laju bersihan kreatinin menggambarkan volume plasma
darah yang dibersihkan dari kreatinin melalui filtrasi ginjal per menit. Bersihan kreatinin
biasanya dinyatakan dalam mililiter per menit. Karena kreatinin dieliminasi dari tubuh
terutama melalui filtrasi ginjal, maka menurunnya kinerja ginjal akan menyebabkan
peningkatan kreatinin serum akibat berkurangnya laju bersihan kreatinin.
1. Uji Kreatinin
Jenis sampel untuk uji kreatinin darah adalah serum atau plasma heparin.
Kumpulkan 3-5 ml sampel darah vena dalam tabung bertutup merah (plain tube) atau
tabung bertutup hijau (heparin). Lakukan sentrifugasi dan pisahkan serum/plasma-nya.
Catat jenis obat yang dikonsumsi oleh penderita yang dapt meningkatkan kadar kreatinin
serum. Tidak ada pembatasan asupan makanan atau minuman, namun sebaiknya pada
malam sebelum uji dilakukan, penderita dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi daging
merah.

Kadar

kreatinin

diukur

dengan

metode

kolorimetri

menggunakan

spektrofotometer, fotometer atau analyzer kimiawi (Riswanto, 2010).


Pengujian kreatinin dilakukan untuk mengevaluasi fungsi ginjal. Kreatinin
dikeluarkan dari tubuh sepenuhnya oleh ginjal. Jika fungsi ginjal normal, kadar kreatinin
akan meningkat dalam darah (karena kreatinin kurang dilepaskan melalui urin Anda).
Tingkat kreatinin juga bervariasi berdasarkan ukuran seseorang dan massa otot.
Kreatinin penting diketahui karena banyak obat yang dieliminasi oleh ginjal. Jika
fungsi ginjal pasien menurun, laju eliminasi obat untuk disekresikan di urin juga akan
menurun, disertai dengan peningkatan konsentrasi plasma. Peningkatan konsentrasi obat

dalam plasma yang signifikan dapat menyebabkan obat mencapai kadar toksiknya; oleh
karena itu, dosis mungkin perlu disesuaikan dengan berkurangnya eliminasi obat.
Kadar normal kreatinin berdasarkan umur yaitu sebagai berikut :
1. Kadar normal kreatinin pada orang dewasa adalah :
Laki-laki : 0,6-1,3 mg/dl.
Perempuan : 0,5-1,0 mg/dl
(Wanita sedikit lebih rendah karena massa otot yang lebih rendah dari pada
pria)
2. Kadar normal kreatinin pada anak adalah :
Bayi baru lahir : 0,8-1,4 mg/dl.
Bayi : 0,7-1,4 mg/dl.
Anak (2-6 tahun): 0,3-0,6 mg/dl.
Anak yang lebih tua: 0,4-1,2 mg/dl.
Kadar agak meningkat seiring dengan bertambahnya usia, akibat pertambahan
massa otot (Riswanto, 2010).
3. Kadar normal kreatinin pada lansia adalah :
Kadarnya mungkin berkurang akibat penurunan massa otot dan penurunan
produksi kreatinin (Riswanto, 2010).
2. Apabila kadar lebih tinggi, maka dapat menunjukkan:

Akut tubular nekrosis


Dehidrasi
Diabetes nefropati
Eklamsia
Glomerulonefritis
Gagal ginjal
Penyakit otot menyusun
Preeklampsia
(kehamilan-

induced hipertensi)
Pielonefritis

ginjal Berkurangnya aliran


darah (syok, gagal jantung

kongestif)
Rhabdomyolysis
Obstruksi saluran kemih
Sedangkan bila lebih rendah
dari normal menunjukkan:
Muscular dystrophy (tahap
akhir) dan Myasthenia gravis

Beberapa factor yang bisa mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium

diantara adalah obat tertentu (lihat pengaruh obat) yang dapat meningkatkan kadar
kreatinin serum, kehamilan, aktivitas fisik yang berlebihan, dan konsumsi daging merah
dalam jumlah besar dapat mempengaruhi temuan laboratorium (Riswanto, 2010)
3. Metabolisme Kreatinin

Kreatinin terbuat dari zat yang disebut kreatin, yang dibentuk ketika

makanan berubah menjadi energi melalui proses yang disebut metabolisme. Sekitar 2%
dari kreatin tubuh diubah menjadi kreatinin setiap hari. Kreatinin diangkut melalui aliran
darah ke ginjal. Ginjal menyaring sebagian besar kreatinin dan membuangnya dalam
urin. Bila ginjal terganggu, kreatinin akan meningkat. Tingkat kreatinin abnormal tinggi
kemungkinan terjadi kerusakan atau kegagalan ginjal.
4. Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Kreatinin

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kreatinin dalam darah,

diantaranya adalah :
1) Perubahan massa otot.
2) Diet kaya daging meningkatkan kadar kreatinin sampai beberapa jam setelah
makan.
3) Aktifitas fisik yang berkebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin darah.
4) Obat obatan seperti sefalosporin, aldacton, aspirin dan co-trimexazole dapat
mengganggu sekresi kreatinin sehingga meninggikan kadar kreatinin darah.
5) Kenaikan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal.
6) Usia dan jenis kelamin pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada
orang muda, serta pada laki-laki kadar kreatinin lebih tinggi daripada wanita.
( Sukandar E, 1997 ).

IV. ALAT DAN BAHAN


a. Alat

Spektrofotometer UV-Vis
Tabung reaksi
Kuvet quarsa
Kuvet glass
Incubator

Tissue
Nesco alat cek cholesterol

b. Bahan
Reagen 1
Reagen 2
Lart. Sampel,
Lart. Standar
Lart. Trigliserida
Lart. Cholesterol.

V. CARA KERJA
a. Pemeriksaan Kolesterol dengan Alat Nessco cek
1) Pasang blood lancet pada alat suntik, kemudian pasang strip dan cip kolesterol ke
alat nesco.
2) Usap ujung jari menggunakan alcohol swab untuk mensterilkan permukaan yang
akan disuntikan. Biarkan kering.
3) Atur skala pada alat penusuk
4) Tusukkan alat suntik keujung jari yang telah dibersihkan, darah yang keluar pertama
kali dilap menggunakan tissue, kemudian darah yang kedua keluar dimasukan
kedalam strip kolesterol. Sesuai mengikuti arah panah pada strip.
5) Kemudian tunggu sampai angka yang keluar diam.

b. Pemeriksaan LDL/ HDL


1) Siapkan 2 kuvet masing-masing untuk standard an sampel.
2) Untuk kuvet standar masukkan R1 1200 l, tambahkan 16 l lart. Standar kemudian
kocok, inkubasi pada suhu 37C selama 5 menit, kemudian ukur absorban (Abs T1).
Tambahkan R2 kedalam kuvet, kocok, inkubasi suhu 37C selama 5 menit,
kemudian ukur absorban (Abs T2).
3) Untuk kuvet sampel masukkan R1 1200 l, tambahkan 16 l lart. Sampel kemudian
kocok, inkubasi pada suhu 37C selama 5 menit, kemudian ukur absorban (Abs T1).
Tambahkan R2 kedalam kuvet, kocok, inkubasi pada suhu 37C selama 5 menit,
kemudian ukur absorban (Abs T2).
4) Catat hasil yang didapat kemudian cari nilai HDL/ LDL

c. Pemeriksaan LDL/ HDL


1) Siapkan 2 kuvet masing-masing untuk standard an sampel.

2) Untuk kuvet Standar masukkan Reagen 1500 l

kedalam kuvet, kemudian

tambahkan lart. Standar 15 l, kocok, inkubasi pada suhu 37C selama 5 menit,
kemudian ukur absorban.
3) Lakukan hal yang sama untuk sampel seperti pada standar.

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN


a. HASIL

HDL

LDL

Ke

TR

KOLESTEROL

Ab

Ab

Ha

Ab

Ab

Ha

0,2

0,1

27

0,2

0,3

24

0,1

0,1

19

0,3

0,5

33

0,1

0,1

23

0,3

0,4

27

0,1

0,1

19

0,2

0,2

23

0,1

0,1

18

KELOMPOK

15

15

17

19

18

16

14

17

20

16

20

17

16

19

17

18

17

17

20

20

10

12

18

24

17

TOTAL LDL

LDL =

Abs 2 Abs 1

x Cst

Abst 2 Abst 1

0,282 - 0,011

x 53,4

0,307 - 0,029
=

0,271

x 53,4

= 1,48 mg/dl

0,278

NILAI TRIGLISERIDA

TRIGLISERIDA =

Abs S

x Cst =

0,138

x 200 =

190,410

Abs St

0,146

NILAI CHOLESTEROL

CHOLESTEROL =

Abs S

x Cst =

234,7

Abs St

0,219

0,257

x 200 =

b. Pembahasan

Dari percobaan yang telah diakukan tentang pemeriksaan keratinin yang

terdapat dalam darah yang pada praktikum ini bertujuan untuk menentukan ada atau
tidaknya kreatinin dalam darah dan agar mahasiswa memahami dan mengerti prinsip
pengerjaan analisa menggunakan menggunakan prinsip metode jaffe.

Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir


metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan
diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama.

Kreatinin disintesis dalam hati, pankreas, dan ginjal dari asam amino
arginin, glisin, dan metionin. Senyawa ini dihasilkan ketika terjadi kontraksi pada otot.
Dalam darah, kreatinin dihilangkan dengan proses filtrasi melalui glomerulus ginjal dan
disekresikan dalam bentuk urin. Ginjal yang sehat menghilangkan kreatinin dari darah
dan memasukkannya pada urin untuk dikeluarkan dari tubuh. Analisis kadar kreatinin
dalam tubuh merupakan indeks medis yang penting untuk mengetahui kondisi laju filtrasi
glomerulus, keadaan ginjal, dan berfungsinya kerja otot.

Pada praktikum ini dilakukan penentuan kadar kreatinin pada serum atau
plasma jernih dengan metode Jaffe. Prinsip dengan metode ini adalah reaksi antara
dengan asam pikrat dalam suasana basa akan membentuk kompleks kreatinin pikrat yang
berwarna kuning jingga yang kadarnya dapat diukur dengan spektrofotometer visibel
pada panjang gelombang 540 nm.

Dari hasil pemeriksaan, diperoleh kadar kretinin sebesar 1,48 mg%. Nilai
normal kadar kreatinin adalah 0,5-1,1 mg %. Dilihat dari nilai normal kreatinin
serum/plasma, nilai kreatinin serum di atas nilai normal. Nilai kadar kreatinin pasien
lebih besar dari nilai normal ini menandakan kemungkinan adanya gangguan pada fungsi
ginjal. Tinggi rendahnya kadar kreatinin darah juga memberi gambaran tentang berat
ringannya gangguan fungsi ginjal (Sodeman, 1995). Peningkatan dua kali lipat kadar
kreatinin serum mengindikasikan adanya penurunan fungsi ginjal sebesar 50 %, demikian
juga peningkatan kadar kreatinin tiga kali lipat mengisyaratkan penurunan fungsi ginjal
sebesar 75 %. (Soeparman,dkk.,2001). Hemodialisa perlu dilakukan pada gangguan
fungsi ginjal yang berat yaitu jika kadar kreatinin lebih dari 7 mg/dl serum. Namun,
dianjurkan bahwa sebaiknya hemodialisa dilakukan sedini mungkin untuk menghambat
progresifitas penyakit (Anonim,2012).

Menggunakan metode Jaffe, Reaksi Jaffe merupakan reaksi yang

sederhana dan mudah dimana metode ini merupakan salah satu pengembangan metode
kolorimetri berdasarkan reaksi antara kreatinin dengan pikrat dalam suasana basa,
membentuk kompleks kreatinin pikrat berwarna jingga yang dapat diukur menggunakan
spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 540 nm. Metode ini didasarkan pada
pembentukan senyawa berwarna merahoranye yang terjadi antara asam pikrat dengan
kreatinin dalam suasana basa.

Akurasi atau tidaknya hasil pemeriksaan kadar kreatinin darah juga sangat
tergantung dari ketepatan perlakuan pada pengambilan sampel, ketepatan reagen,
ketepatan waktu dan suhu inkubasi, pencatatan hasil pemeriksaa dan pelaporan hasil.

Kesalahan data yang terjadi dapat diakibatkan karna kurang telitinya


mahasiswa dalam mengerjakan praktikum dan keakurannya dalam melihat meneteskan
reagen yang digunakan, kurang kuat dalam proses pengocokan, serta kurang teliti dalam
pemipetan larutan reagen yang digunakan. Oleh karena itu pentingnya ketelitian dalam
praktikum agar hasil yang di dapat sesuai dengan yang di harapkan.

VII.

KESIMPULAN

1. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot
yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan diekskresi dalam urin
dengan kecepatan yang sama.
2. Dari hasil pemeriksaan, diperoleh kadar kretinin sebesar 1,48 mg%. Nilai normal
kadar kreatinin adalah 0,5-1,1 mg %.
3. Nilai kadar kreatinin pasien lebih besar dari nilai normal ini menandakan
kemungkinan adanya gangguan pada fungsi ginjal. Tinggi rendahnya kadar kreatinin
darah juga memberi gambaran tentang berat ringannya gangguan fungsi ginjal.
4. Akurasi atau tidaknya hasil pemeriksaan kadar kreatinin darah juga sangat tergantung
dari ketepatan perlakuan pada pengambilan sampel, ketepatan reagen, ketepatan
waktu dan suhu inkubasi, pencatatan hasil pemeriksaa dan pelaporan hasil.
VIII.

DAFTAR PUSTAKA

Baron, D.N, 1990, Patologi Klinik, Ed IV, Terj. Andrianto P dan Gunakan J,

Penerbit EGC, Jakarta.

Terjemahan Adji Dharma et al.,E.G.C., Jakarta.

Poedjia

di, Supriyanti, 2007, Dasr-Dasar Biokimia, Bandung, UI Press


Toha, 2001, Biokimia, Metabolisme Biomolekul, Bandung,
Alfabeta
Ganong, W.F. 2001. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Pearce, C.E. 1991. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis.
Jakarta: PT. Gramedia

Pustaka Utama.