Anda di halaman 1dari 18

Laboratorium Ilmu Tanaman

Jurusan Budidaya Pertanian


Fakultas Pertanian UGM

PETUNJUK PRAKTIKUM

DASAR-DASAR
FISIOLOGI TUMBUHAN

2013

TATA TERTIB PRAKTIKUM

PETUNJUK PRAKTIKUM
1.

2.

DASAR-DASAR
FISIOLOGI TUMBUHAN
(PNA 2200)

3.

4.
5.
6.

7.

Laboratorium Ilmu Tanaman


Jurusan Budidaya Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2013
Lab.Ilmu Tanaman

8.

Praktikan harus sudah siap 15 menit sebelum praktikum mulai.


Praktikan yang datang terlambat tidak diperkenankan
mengikuti praktikum. Sebelum waktu praktikum praktikan tidak
diperbolehkan masuk ke dalam laboratorium.
Praktikan yang tidak dapat hadir harus memberikan
keterangan sah secara tertulis. Praktikan yang 2 kali berturutturut tidak hadir tanpa memberikan keterangan yang sah, tidak
diperkenankan mengikuti acara praktikum selanjutnya.
Praktikan harus sudah mempelajari hal-hal yang berhubungan
dengan acara praktikum yang akan dilakukan, dan sebelum
praktikum diadakan tes. Nilai praktikum berdasarkan nilai tes,
nilai pelaksanaan, dan nilai laporan.
Setiap kelompok harus menulis nomor kelompok dan
golongannya pada laporan praktikum.
Setelah selesai praktikum, alat-alat harus dikembalikan pada
tempatnya dalam keadaan bersih. Praktikan bertanggung
jawab akan kerusakan alat-alat praktikum yang digunakan.
Pada akhir setiap acara praktikum, praktikan harus membuat :
a.
Laporan sementara yang disahkan Ko.Assisten jaga.
Laporan sementara berisi tentang data pengamatan
b.
Laporan akhir ditulis dengan rapi. Laporan akhir harus
diserahkan satu minggu sesudah acara praktikum yang
bersangkutan berakhir sesuai jadwal yang ditentukan.
c.
Laporan perbaikan, apabila laporan yang diserahkan
masih ada kekurangan atau kesalahan, diserahkan
sesuai dengan tanggal yang dicantumkan di dalam
laporan
Pada saat menyerahkan laporan, praktikan wajib meminta
tanda tangan penerima pada kartu laporan.
Mahasiswa berpakaian rapi (berkerah) dan mengenakan
sepatu.

Lab.Ilmu Tanaman

PEDOMAN PEMBUATAN LAPORAN


DAFTAR ISI
(Halaman depan/cover)
Acara
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR FISIOLOGI TUMBUHAN
(PNA 2200)
Acara praktikum
Nama
NIM
Gol / kelompok
Nama rekan

:
:
:
:
:

1.
2.
3.

Acara 1.
Acara 2.
Acara 3.
Acara 4.
Acara 5.
Acara 6.
Acara 7.
Acara 8.

Halaman
Pengaruh faktor lingkungan terhadap laju fotosintesis ...........
Pengaruh suhu terhadap laju respirasi aerob .......................
Potensial osmotik sel ...........................................................
Pengukuran kehijauan dan kandungan klorofil daun .............
Pengaruh faktor lingkungan terhadap laju transpirasi ............
Pengukuran kandungan air nisbi ..........................................
Mengamati densitas dan lebar stomata ................................
Mengamati penampang melintang bagian-bagian tanamn .....

Hari/Tgl Praktikum :
Ko.Assisten
:
(Halaman 2 dan seterusnya)

Jadwal Praktikum

1. Tujuan acara praktikum


2. Tinjauan pustaka (singkat dan berhubungan dengan acara
praktikum yang dilakukan)
3. Metode Pelaksanaan Praktikum
4. Hasil dan Pembahasan (grafik berdasarkan data matang)
5. Kesimpulan
6. Daftar Pustaka
7. Lampiran (data mentah dan perhitungan)

Minggu 1
Minggu 2
Minggu 3
Minggu 4
Minggu 5

:
:
:
:
:

Yogyakarta,
Ko.Assisten

Praktikan

Tanda Tangan
(Nama Terang)

Tanda Tangan
(Nama Terang)

Lab.Ilmu Tanaman

Lab.Ilmu Tanaman

Acara 1
Acara 2 dan 3
Acara 4 dan 8
Acara 5
Acara 6 dan 7

1
10
14
17
20
23
25
27

1
ACARA 1
PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP LAJU
FOTOSINTESIS
Tujuan : Mengetahui pengaruh faktor lingkungan antara lain
intensitas cahaya, warna, cahaya, dan suhu terhadap laju
fotosintesis
Latar belakang
Fotosintesis adalah sebuah proses anabolisme yang terjadi
pada semua organisme fotoautotrof. Pada proses fotosintesis
terjadi proses penangkapan energi radiasi matahari dan diubah
menjadi energi kimia dalam bentuk karbohidrat. Proses
fotosintesis dapat diukur dengan menggunakan banyak cara.
Fotosintesis merupakan gabungan dari banyak reaksi-reaksi antara,
meskipun demikian secara keseluruhan reaksi fotosintesis tersebut
dapat diringkas menjadi persamaan reaksi yang sederhana sebagai
berikut (perhatikan tanda panah):

Oksigen yang diproduksi dalam proses fotosintesis serta


pengetahuan mengenai anatomi daun dapat digunakan sebagai
dasar untuk menciptakan sebuah metode yang sederhana yang
dapat dipergunakan untuk menginvestigasi beberapa variabel
fotosintetis. Pada struktur anatomi daun, banyak dijumpai ruang
antar sel. Ruang antar sel tersebut secara normal akan diisi dengan
gas untuk tujuan pertukaran (gas exchange). Kondisi inilah yang
menjadi penyebab mengapungnya daun pada permukaan badan air
pada saat daun tersebut dicelupkan. Akan tetapi, apa yang akan
terjadi pada daun jika semua udara yang mengisi ruang antar sel
ditarik keluar dari ruang udara di dalam daun? Apakah yang akan
terjadi selanjutnya pada daun?
Apabila kebutuhan dasar untuk fotosintesis dipenuhi
semuanya, oksigen yang diproduksi oleh daun akan membentuk
gelembung-gelembung gas dan daun akan terapung kembali. Pada
praktikum yang akan dilakukan, pengukuran laju fotosintesis
Lab.Ilmu Tanaman

2
mendasarkan kepada metode eksperimen. Pada metode ini,
potongan-potongan kecil dari daun akan digunakan sebagai
pengganti daun keseluruhan untuk melakukan piringan daun
mengambang/floating leaf disk assay (FLDA). Metode FLDA dapat
dipergunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan, termasuk di
dalamnya adalah: bagaimana pengaruh variasi intensitas cahaya,
panjang gelombang atau konsentrasi CO2 terhadap laju fotosintesis?
Salah satu masalah yang akan timbul pada saat mengukur laju
fotosintesis dengan metode FLDA adalah berlangsungnya sebuah
proses yang menjadi kompetitor dari fotosintesis pada waktu yang
bersamaan, yaitu respirasi seluler, sebuah proses yang
mengkonsumsi oksigen. Metode FLDA secara aktual akan
mengukur laju fotosintesis mendasarkan kepada jumlah oksigen
yang diproduksi dalam fotosintesis dikurangi dengan jumlah oksigen
yang dipergunakan dalam respirasi selama periode yang sama.
Metode FLDA mengukur laju fotosintesis bersih, yaitu
keuntungan energi yang dibuat oleh tumbuhan. Aktivitas
fotosintesis aktual pada kenyataannya lebih besar jika
dibandingkan dengan yang terukur pada FLDA, dan biasanya
disebut sebagai laju fotosintesis kotor. Apabila laju respirasi
seluler dapat diukur secara terpisah, sebuah teknik perhitungan
sederhana dapat digunakan untuk menentukan fotosintesis kotor.
Bahan dan Alat
Bahan
Alat

: Sodium Bikarbonat(Baking Soda/Na2CO3), sabun cair,


daun bayam (Amaranthus spp.), dan lain-lain
: plastik jarum suntik (10 ml atau lebih besar, jarumnya
dibuang), perforator, erlenmeyer, timer, sumber
cahaya, dan lain-lain

Metode Pelaksanaan Praktikum:


1. Sodium bikarbonat berfungsi sebagai sumber karbon
dioksida yang akan digunakan dalam fotosintesis. Disiapkan
0,2% larutan sodium bikarbonat. Cara menyiapkan larutan
sodium bikarbonat adalah sebagai berikut: sebanyak 1/8
sendok teh sodium bikarbonat dilarutkan dalam 300 ml air,
aduk hingga larutan homogen.
Lab.Ilmu Tanaman

2. Tambahkan satu tetes sabun cair (encer) ke dalam larutan


sodium bikarbonat. Sabun tersebut berfungsi untuk
membasahi permukaan hidrofobik dari daun sehingga larutan
sodium bikarbonat akan mampu ditarik oleh daun. Pada saat
meneteskan larutan sabun cair, lakukan dengan hati-hati,
hindarilah terbentuknya busa. Jika larutan membentuk busa,
larutan perlu diencerkan dengan menambahkan lebih banyak
larutan sodium bikarbonat.
3. Siapkan 10 atau lebih piringan daun yang seragam untuk
setiap percobaan. Pembuatan piringan daun dilakukan
dengan menggunakan perforator.
4. Pilihlah jenis daun yang akan digunakan dalam praktikum.
Tidak semua daun cocok untuk diukur laju fotosintesisnya
dengan menggunakan metode FLDA. Tipe/jenis daun yang
akan digunakan merupakan aspek kritis dari keakuratan
metode FLDA. Permukaan daun harus halus dan jangan
terlalu tebal. Jangan pergunakan daun yang permukaannya
banyak mengandung bulu (trikomata). Dari sekian banyak
jenis daun, bayam adalah jenis yang paling memungkinkan
untuk diukur laju fotosintesisnya dengan FLDA. Hindarilah
juga daun-daun yang banyak mengandung urat-urat daun
primer.
5. Infiltrasi larutan sodium bikarbonat ke dalam piringan daun,
caranya:
a. Lepaskan piston dari tabung jarum suntik dan masukkan
piringan daun ke dalam tabung jarum suntik
b. Posisikan kembali piston seperti pada posisi semula secara
hati-hati jangan sampai merusak piringan daun. Doronglah
piston sampai dengan volume tabung jarum suntik
mencapai < 10% dari total volume, dan piringan daun
dibiarkan tetap berada dalam tabung jarum suntik
c. Tariklah beberapa ml larutan sodium bikarbonat ke dalam
tabung jarum suntik, tepuklah tabung jarum suntik supaya
piringan daun masuk ke dalam larutan sodium bikarbonat
d. Tutuplah lubang pada bagian ujung tabung jarum suntik
dengan menggunakan jari tangan, tarik kembali piston untuk
menciptakan kondisi vakum di dalam tabung jarum suntik.
Biarkan tetap dalam kondisi vakum selama kurang lebih 10
detik. Sambil menciptakan kondisi vakum di dalam tabung,

tabung ditepuk-tepuk untuk mencampurkan piringan daun


dengan larutan
Hentikan proses pemvakuman. Larutan sodium bikarbonat
akan berinfiltrasi ke dalam ruang udara dalam jaringan daun
sehingga menyebabkan piringan daun tenggelam.
Praktikan mungkin harus mengulangi prosedur ini sebanyak
23 kali untuk menjadikan piringan daun tenggelam. Jika
praktikan kesulitan untuk menjadikan piringan daunnya
tenggelam sesudah proses pemvakuman dilakukan
sebanyak 3 kali, hal ini kemungkinan disebabkan oleh
kurangnya sabun cair dalam larutan sodium bikarbonat.
Tambahkan lagi satu tetes sabun cair.
Tuanglah piringan daun beserta larutan sodium bikarbonat
ke dalam sebuah erlenmeyer. Tambahkan lagi larutan
sodium bikarbonat ke dalam erlenmeyer hingga kedalaman
larutan mencapai 3 cm. Pergunakanlah tingkat kedalaman
larutan yang sama untuk setiap percobaan.
Erlenmeyer beserta piringan daun dan larutan sodium
bikarbonat di tempatkan di bawah sumber cahaya dan
hidupkan timer. Pada setiap akhir menit, hitunglah jumlah
piringan daun yang tenggelam dan catat. Aduklah larutan
sodium bikarbonat dalam cangkir platik bening untuk
mencegah melekatnya piringan daun di bagian tepi cangkir.
Lanjutkan hingga semua piringan daun terapung.

Lab.Ilmu Tanaman

e.
f.

6.

7.

Perlakuan:
Sub acara A. : Pengaruh Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya terbagi dalam 5 aras perlakuan yaitu 100%,
75%, 50%, 25%, dan 0%. Masing-masing perlakuan
menggunakan plastik naungan dengan penerusan cahaya
berbeda sesuai angka yang tertulis pada alat. Kemudian
tempatkan erlenmeyer yang telah berisi piringan daun dan
larutan sodium bikarbonat di bawah sumber cahaya, yang mana
diantara sumber cahaya dan erlenmeyer ditempatkan plastik
penaung dengan kemampuan penerusan cahaya bervariasi
sesuai dengan perlakuan. Lanjutkan kerja sesuai dengan
petunjuk umum acara fotosintesis.

Lab.Ilmu Tanaman

Sub acara B : Pengaruh Warna Cahaya


Warna cahaya terbagi dalam 5 perlakuan warna yaitu bening,
merah, kuning, hijau, dan biru. Masing-masing perlakuan ditutup
menggunakan plastik penutup, satu warna penutup untuk setiap
perlakuan. Tempatkan erlenmeyer yang telah berisi piringan
daun dan larutan sodium bikarbonat di bawah sumber cahaya.
Pada saat erlenmeyer berisi piringan daun dan larutan sodium
bikarbonat terpapar pada sumber cahaya, masing-masing
cangkir tersebut ditutup dengan plastik penutup yang warnanya
disesuaikan dengan perlakuan yang akan dikenakan pada
cangkir tersebut. Lanjutkan kerja sesuai dengan petunjuk umum
acara fotosintesis.

kembali. Catat waktu yang diperlukan untuk mencapai 50%


piringan daun tenggelam kembali.
Catat semua data waktu (dalam menit) pada tabel pengamatan
yang telah disiapkan.

Sub acara C : Pengaruh Suhu


Pengaruh suhu terbagi dalam 5 aras yaitu 5oC, 15oC, 25oC,
o
35 C, dan 45oC. Untuk membuat suhu yang sesuai dengan
perlakuan maka pada larutan sodium bikarbonat dalam
erlenmeyer perlu penambahan es untuk mendapatkan suhu
rendah dan untuk mendapatkan suhu yang tinggi dibutuhkan
pemanasan. Pengukuran suhu menggunakan termometer pada
larutan di dalam erlenmeyer. Setelah mendapatkan suhu yang
sesuai dengan perlakuan maka lanjutkan kerja sesuai dengan
petunjuk umum acara fotosintesis.
Petunjuk Umum:
1.
2.
3.
4.

Tempatkan erlemeyer di bawah sumber cahaya (untuk semua


perlakuan)
Catatlah waktu yang dibutuhkan untuk 50% (Effective
Time/ET50) piringan daun yang tadinya tenggelam mengapung
dipermukaan larutan.
Tunggu hingga semua piringan daun terapung di permukaan
larutan
Setelah semua piringan daun mengapung dipermukaan larutan
(catat waktu yang diperlukan untuk mencapai 100% piringan
daun terapung), matikan sumber cahaya dan tutuplah semua
erlenmeyer (untuk semua perlakuan) dengan menggunakan
plastik penutup berwarna gelap. Setiap menit setelah ditutup
plastik gelap, hitung jumlah piringan daun yang tenggelam

Lab.Ilmu Tanaman

5.

Tabel Pengamatan:
Sub acara A. : Pengaruh Intensitas Cahaya

Perlakuan
(%)

50% piringan daun terapung


setelah
terpapar
pada
sumber
cahaya,
waktu
dihitung dari sejak sumber
cahaya dihidupkan (menit)
Ulangan 1
Ulangan 2

50% piringan daun tenggelam


setelah
sumber
cahaya
dimatikan, waktu dihitung dari
sejak
sumber
cahaya
dimatikan (menit)
Ulangan 1
Ulangan 2

0
25
50
75
100

Sub acara B : Pengaruh Warna Cahaya

Perlakuan

50% piringan daun terapung


setelah terpapar pada sumber
cahaya, waktu dihitung dari
sejak
sumber
cahaya
dihidupkan (menit)
Ulangan 1
Ulangan 2

Bening
Merah
Kuning
Hijau
Biru

Lab.Ilmu Tanaman

50% piringan daun tenggelam


setelah
sumber
cahaya
dimatikan, waktu dihitung dari
sejak
sumber
cahaya
dimatikan (menit)
Ulangan 1
Ulangan 2

7
=

Sub acara C : Pengaruh Suhu

Perlakuan
(oC)

50% piringan daun terapung


setelah terpapar pada sumber
cahaya, waktu dihitung dari
sejak
sumber
cahaya
dihidupkan (menit)
Ulangan 1
Ulangan 2

50% piringan daun tenggelam


setelah
sumber
cahaya
dimatikan, waktu dihitung dari
sejak
sumber
cahaya
dimatikan (menit)
Ulangan 1
Ulangan 2

5
15
25
35
45

Perhitungan:
Waktu yang dibutuhkan untuk 50% piringan daun bergerak dari
dasar ke permukaan disebut ET50. ET singkatan dari Effective Time.
Data hasil pengamatan merupakan nilai ET 50 yang merupakan
inversi (kebalikan) dari laju fotosintesis. Hal tersebut dapat
ditunjukkan jika dibuat grafik, maka garis ET 50 akan turun seiring
nilai x (peubah dalam hal ini intensitas cahaya dan suhu) bertambah.
Garis tersebut memilki pola turun akibat peubah tersebut dinaikkan
nilainya sehingga jelas waktu (nilai y) yang dibutuhkan untuk daun
menuju ke permukaan akan semakin cepat sehingga nilai y akan
turun seiring bertambahnya nilai x. Dengan demikian agar nilai y
dapat menggambarkan laju fotosintesis, maka perlu dilakukan
inversi yaitu 1/ ET50. Dengan demikian, laju fotosintesis akan naik
seiring bertambahnya nilai x (intensitas cahaya dan suhu).
Untuk menghitung laju fotosintesis kotor, maka yang harus dihitung
adalah laju respirasi dan laju fotosintesis bersih. Laju respirasi
didapat dari waktu yang dibutuhkan untuk 50% piringan daun
tenggelam kembali. Laju fotosintesis bersih didapat dari waktu yang
dibutuhkan untuk 50% piringan daun ke permukaan.Laju fotosintesis
kotor dihitung dari penjumlahan laju respirasi ditambah laju
fotosintesis bersih. Perhitungan tersebut dengan demikian sebagai
berikut:

Lab.Ilmu Tanaman

8
1
50

50
1
1
=
+
50 50

: =
50
Rasio fotosintesis kotor:respirasi menunjukkan perbandingan
karbohidrat yang dihasilkan dengan yang dipakai untuk respirasi.
Jika rasio tersebut bernilai > 1, maka terdapat surplus karbohidrat.
Setelah dihitung laju fotosintesis bersih, maka dibuat regresi per sub
acara. Regresi yang dilakukan adalah regresi laju fotosintesis kotor
ke nilai peubahnya berupa perlakuan masing-masing perlakuan sub
acara (intensitas cahaya, suhu, dan warna cahaya). Dengan
demikian, terdapat tiga grafik regresi.
Untuk perlakuan warna cahaya, analisislah data menggunakan
rancangan acak lengkap serta buat histogram laju fotosintesis untuk
tiap warna cahaya
Laju fotosintesis (m-1)

Intensitas cahaya (fc)


Gambar 1a.Laju fotosintesis
daun bayam pada beberapa
intensitas cahaya

Lab.Ilmu Tanaman

Laju fotosintesis ( )

Warna Cahaya (nm)


Gambar 1.b. Laju fotosintesis
daun bayam pada beberapa
warna cahaya

10

9
Laju fotosintesis (m-1)

ACARA 2
PENGARUH SUHU TERHADAP LAJU RESPIRASI AEROB
Tujuan :

Suhu (oC)
Gambar 1.c. Laju fotosintesis daun
bayam pada beberapa tingkatan
suhu

Mengetahui pengaruh suhu lingkungan terhadap laju


respirasi aerob kecambah kacang hijau

Latar belakang
Laju respirasi sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Suhu
kardinal untuk respirasi adalah suhu minimum 0oC, optimum 30oC,
dan maksimum 45oC. Suhu antara optimum dan maksimum dapat
meningkatkan laju respirasi pada tahap awal, tetapi kemudian akan
menurunkan laju proses ini.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu larutan NaOH 0,2 N, larutan
BaCl2, larutan HCl 0,1 N, larutan indikator phenolptalein, kecambah
kacang hijau dan kain kelambu serta tali.
Alat yang diperlukan yaitu 8 botol volume 250 ml dengan
tutup karet, 4 termometer, erlenmeyer 125 ml, buret dan lemari es
Metode Pelaksanaan Praktikum
Suhu yang digunakan terdiri dari 4 aras yaitu suhu 0oC, 15oC,
suhu kamar (lab) dan suhu rumah kaca. Masing-masing perlakuan
suhu terdiri dari 2 botol yang berisi 50 ml larutan NaOH 0,2 N. Satu
botol diberi kecambah dan satu botol lagi tanpa pemberian
kecambah.
Kecambah yang digunakan seberat 5 gram, kemudian
kecambah dibungkus dengan kain kelambu dan diikat dengan tali.
Masukan kecambah tersebut ke dalam botol dan diatur agar
kecambah tersebut tidak menyentuh NaOH.
Tutup semua botol dan diberi selotip agar kedap udara atau
udara dari luar tidak dapat masuk ke dalam botol.
Letakan pasangan botol (botol dengan kecambah dan botol
tanpa kecambah) pada masing-masing kondisi suhu perlakuan. Ukur
suhu awal pada kondisi tersebut dengan menggunakan termometer.

Lab.Ilmu Tanaman

Lab.Ilmu Tanaman

11
Setelah 24 jam keluarkan kecambah dari masing-masing
botol, dan tutup kembali dengan cepat. Tentukan jumlah CO 2 yang
dibebaskan dari respirasi dengan cara titrasi. Pipet 10 ml larutan dari
tiap botol dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Tambah dengan 5
ml BaCl2 dan 3 tetes phenolptalein, larutan akan berwarna merah
jambu. Titer dengan HCl 0,1 sampai warnanya hilang. lakukan titrasi
dengan cara yang sama untuk semua perlakuan termasuk kontrol.
Ulangi 2-3 kali, hitung rata-ratanya.
Tabel 2. Jumlah HCl yang digunakan untuk titrasi
Jumlah HCl (ml)
No. Suhu
Tanpa Kecambah
Dengan Kecambah
1
2
3
1
2
3
1
2
3
4

Reaksi
1. 2 NaOH + CO2

Na2CO3 + H2O

2. Na2CO3 + BaCl2

BaCO3 + 2 NaCl

3. NaOH (sisa) + HCl

Lab.Ilmu Tanaman

NaCl + H2O

12
Perhitungan
Misalnya NaOH mula-mula = M mol
I. Diambil 10 ml NaOH dari botol kontrol, misalnya untuk
titrasi diperlukan X ml Hl 0,1 N; maka HCl 0,1 N untuk
titrasi = 0,1 X mgrek.
dari reaksi 3) NaOH sisa 0,1 X mgrek HCl
jadi NaOH yang mengikat CO2 udara = (M-0,1 X) mgrek
karena NaOH bervalensi 1 = (M-0,1 X) mgrl
dari reaksi 1) CO2 = (M-0,1 X) mgrl
II. Diambil 10 ml NaOH dari botol perlakuan, misalnya HCl 0,1
N= Y ml = 0,1 Y mgrek HCl
NaOH sisa 0,1 Y mgrek HCl (reaksi 3)
NaOH yang mengikat CO2 udara = (M-0,1 Y) mgrek
= (M-0,1 Y) mgrl
Dari reaksi 1)
CO2 (udara + respirasi) = (M 0,1 Y) mgrl
Dari I dan II CO2 respirasi
= CO2 (udara + respirasi) CO2 udara
= (M-0,1 Y) (M-0,1 X) mgrl
= (M-0,1 Y M+0,1 X) mgrl
CO2 respirasi = (0,1 X 0,1 Y) mgrl
(untuk 10 ml NaOH)
untuk 50 ml NAOH =
50/10 x x 0,1 (X-Y) mgrl= 50/10 x x 0,1 x 44 (X - Y) mg
= 11 (X - Y) mg

Lab.Ilmu Tanaman

13

14

Pertanyaan
Bagaimana kaitan antara kadar CO 2 hasil respirasi dengan
suhu, apakah hal tersebut berpengaruh terhadap proses lain
dalam tubuh tanaman?

Buat persamaan regresi hubungan suhu dengan jumlah CO 2


hasil respirasi. Buatlah kesimpulan dari analisis data tersebut.
Laju respirasi (mg/g/jam)

Suhu (oC)

Gambar .2

Laju respirasi kecambah kacang hijau pada


beberapa suhu lingkungan

ACARA 3
POTENSIAL OSMOTIK SEL
Tujuan : Menghitung potensial osmotik sel
Latar Belakang
Salah satu cara untuk menentukan potensial osmotik (s) sel
adalah dengan mengamati proses plasmolisis. Proses ini mudah
diamati di bawah mikroskop pada sel yang mengandung zat warna.
Bila sel yang diamati ditempatkan pada suatu seri larutan yang
mempunyai sifat mulai dari yang hipotonik terhadap cairan sel
sampai dengan yang bersifat hipertonik, maka akan terjadi proses
osmosis.
Pada sel yang terdapat di dalam larutan yang hipotonik maka
akan terjadi osmosis dari larutan ke dalam sel, sehingga sel
menggembung. Sebaliknya pada sel yang terdapat di larutan yang
bersifat hipertonik, maka cairan sel akan keluar sehingga sel
mengalami plasmolisis. Akibat terjadinya plasmolisis dapat diamati
dengan terlepasnya membran plasma dari dinding sel yang tampak
sebagai hilangnya zat warna dari dalam sel. Sel yang terdapat di
dalam larutan yang bersifat isotonik akan mengalami plasmolisis
batas (incipient plasmolysis). Dalam keadaan ini potensial tekanan
(p) sel = 0 , sehingga potensial osmotik (s) sel sama dengan
potensial air ( w) sel. Karena terjadi keseimbangan dinamis maka
w sel = w larutan, sehingga s sel = s larutan.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu daun Rhoeo discolor dan gula
pasir. Alat yang digunakan yaitu beaker glass, pinset, alat
penghitung (hand counter), object glass dan mikroskop.
Metode Pelaksanaan Praktikum
Sel yang akan diamati potensialnya didapat dari tanaman
yang telah diperlakukan dengan penyiraman yang berbeda sehingga
diharapkan memiliki potensial air sel yang berbeda pula. Perlakuan
tersebut terdiri dari 3 kondisi tanaman yang berbeda yaitu tanaman

Lab.Ilmu Tanaman

Lab.Ilmu Tanaman

15

16

cukup air (disiram setiap hari), tanaman yang agak kering (disiram
tiga hari sekali) dan tanaman yang dikondisikan kering (disiram
semunggu sekali).

Pertanyaan
Setelah melakukan percobaan ini, apakah ada sel yang tidak
mengalami plasmolisis? apa penyebabnya? Jelaskan salah satu
praktek di lapangan yang berkaitan dengan potensial osmotik sel!

Dari setiap tanaman tersebut diambil jaringan bagian bawah


daun yang berwarna merah kemudian diletakkan di atas object
glass. Stelah itu diamati jumlah sel pada jaringan tersebut di bawah
mikroskop.
Setelah jumlah sel didapatkan maka jarigan tersebut
dimasukkan ke dalam beaker glass yang berisi larutan sukrosa
dengan molalitas 0 m; 0,1 m; 0,2 m dan 0,3 m. Masukkan sayatan
tersebut ke dalam tabung reaksi sampai benar-benar terendam.
Cara membuat larutan tersebut yaitu dengan menyiapkan lebih
kurang 100 ml larutan sukrosa 1 M dengan melarutkan 36 g gula
pasir ke dalam 100 ml air. Encerkan sesuai dengan perlakuan
menggunakan persamaan m1v1 = m2v2 dimana m = molalitas dan v
= volume
Setelah 30 menit periksalah jaringan tadi dengan mikroskop
dan hitunglah jumlah sel yang tersisa. Dengan mengitung jumlah sel
yang tersisa maka kita dapat mengetahui jumlah sel yang
mengalami plasmolisis yaitu mengurangi jumlah sel awal dengan sel
yang tersisa.
Larutan sukrosa yang menyebabkan separuh jumlah sel utuh
yang direndam mengalami plasmolisis dianggap mempunyai
potensial osmotik sama dengan potensial osmotik sel. Potensial
osmotik larutan dapat dihitung sebagai berikut :

Tabel 3. Persentase sel yang mengalami plasmolisis pada beberapa


potensial osmotik larutan perendam
No.

Molalitas
larutan
(ml)

1
2
3
4

0,3
0,2
0,1
0

Potensial
osmotik
larutan (bar)

Jumlah sel
utuh mulamula

Jumlah sel
yang
mengalami
plasmolisis

Persentase sel
yang
mengalami
plasmolisis

Buatlah grafik dengan potensial osmotik sebagai absis dan p


ersentase sel yang mengalami plasmolisis sebagai ordinat .

Sel yang mengalami plasmolisis (%)


100
80
60

s = - miRT
s = potensial osmotik larutan
m = molalitas larutan (mol/1000 ml H 2O)
i = tetapan ionisasi, untuk sukrose = 1
R = tetapan gas = 22,7/273 = 0,0831
T = suhu Kelvin = (273+ t oC)

40
20
0
0,1

0,2

0,3

molalitas

Gambar 3. Persentase sel yang mengalami plasmolisis pada beberapa


potensial osmotik larutan perendam
Lab.Ilmu Tanaman

Lab.Ilmu Tanaman

18

17

ACARA 4
PENGUKURAN KEHIJAUAN DAN KANDUNGAN
KLOROFIL DAUN
Tujuan : 1. Mengetahui cara mengukur kehijauan dan kandungan
klorofil dari daun tumbuhan
2. Mengetahui hubungan antara kehijauan dengan
kandungan klorofil daun
Latar belakang
Daun merupakan organ tumbuhan yang penting kerana
berfungsi sebagai tempat berlangsungnya aktifitas fotosintesis.
Daun tumbuhan mampu menjalankan aktifitas fotosintesis karena
mengandung organela kloroplas yang di dalamnya terdapat pigmen
klorofil. Pigmen klorofil akan menangkap radiasi matahari dan
kemudian menggunakannya untuk menjalankan aktifitas fotosintesis.
Oleh karena itu, kandungan klorofil di dalam daun tumbuhan
menentukan aktifitas fotosintesis tumbuhan tersebut.
Kandungan klorofil di dalam daun tumbuhan berkorelasi positif
dengan kehijauan daun, dengan pola kecenderungan linier. Artinya,
semakin tinggi kandungan klorofil di dalam daun maka warna daun
tersebut akan semakin hijau. Oleh karena itu, dengan melihat warna
daun sebetulnya dapat menggambarkan kandungan klorofil di dalam
daun. Terdapat beberapa metode praktis untuk mengukur kehijauan
daun tumbuhan yaitu dengan menggunakan alat SPAD 502 maupun
Bagan Warna Daun (BWD).
Bahan dan Alat
Bahan yang diperlukan yaitu beberapa helai daun tanama
kangkung dan aceton 80%. Alat yang dibutuhkan yaitu mortir,
timbangan, kertas saring, erlenmeyer, pipet ukuran 1 ml dan 10 ml,
spectronic 21D, BWD, dan SPAD 502.

Metode Pelaksanaan Praktikum


Pengukuran kehijauan daun dilakukan pada tanaman yang
telah diberi perlakuan pemupukan N yang berbeda yaitu N0 (tanpa
diberi pupuk urea), N1/2 (diberi dosis urea yang dianjurkan) dan
N1 (dipupuk urea dengan dosis yang dianjurkan.
Dari setiap kondisi tanaman tersebut maka diamati kehijauan
daun dengan menggunakan BWD dan SPAD 502. Pengukuran
kehijauan
daun
menggunakan
BWD
dilakukan
dengan
membandingkan warna daun terhadap warna masing-masing skor
kehijauan yang ada pada BWD. Tentukan warna pada BWD yang
paling sesuai dengan warna daun kemudian catatlah skor
kehijauannya. Setiap helai daun kangkung yang telah diukur
menggunakan BWD selanjutnya diulangi lagi pengukuran kehijauan
daunnya menggunakan SPAD 502. Pengukuran kehijauan daun
menggunakan SPAD 502 dilakukan dengan cara menjepit daun
menggunakan alat tersebut, kemudian secara otomatis pada alat
akan muncul skor kehijauannya.
Pengukuran Kandungan Klorofil Daun dilakukan dengan cara
daun kangkung sebanyak 1 g ditumbuk dengan mortir. Setelah
lumat, ke dalam tumbukan dituangkan 20 ml aceton 80 %.
Campuran aseton dan tumbukan daun disaring dengan kertas
saring yang diletakkan di dalam corong yang dimasukkan ke dalam
erlenmeyer. Larutan ini mengandung klorofil a, klorofil b, dan
karotenoid. Spectronic 21D dinyalakan, didiamkan selama 10 menit.
Larutan aseton 80 % (murni) dimasukkan ke dalam cuvet hingga
batas sebagai standar blangklo. Tombol pengatur diatur pada
panjang gelombang 645 nm, kemudian absorbance diatur menunjuk
pada angka nol. Sampel larutan pigmen dituangkan ke dalam cuvet
yang lain hingga batas, dicatat berapa absorbancenya. Hal yang
sama dilakukan pula pada panjang gelombang 663 nm. Diulangi
sekali lagi untuk masing-masing panjang gelombang, kemudian hasil
pengukuran dirata-ratakan. Kemudian dihitung kadar klorofil total
dengan rumus sebagai berikut : (satuan: mg/g berat segar daun)
(20,2 x A645 + 8,02 x A663 ) x

A645
A663
Lab.Ilmu Tanaman

20 ml
1000 x 1 gram

= absorbance pada panjang gelombang 645 nm.


= absorbance pada panjang gelombang 663 nm.

Lab.Ilmu Tanaman

19
Pertanyaan
1. Menurut Anda, bagaimana hubungan antara kehijauan dan
kandungan klorofil daun dengan aktifitas fotosintesis tumbuhan?
2. Apa yang akan terjadi pada tumbuhan apabila daunnya
berwarna pucat (kandungan klorofilnya rendah)?
3. Apakah pertumbuhan tumbuhan akan terpengaruh oleh daun
yang kandungan klorofilnya rendah (berwarna pucat)?

Dari data yang diperoleh maka tentukan Hubungan antara


Kehijauan dengan Kandungan Klorofil Daun (Menggunakan Grafik
Regresi dengan Absis Kehijauan Daun dan Ordinat Kandungan
Klorofil Daun).
Kandungan Klorofil Daun

Kandungan Klorofil Daun

Kehijauan Daun (BWD)

Kehijauan Daun (SPAD)

20
ACARA 5
PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP LAJU
TRANSPIRASI
Tujuan :

Mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap laju


transpirasi

Latar belakang
Transpirasi adalah proses hilangnya air dari tubuh tanaman
dalam bentuk uap. Jalan utama difusi uap air ke udara ini adalah
melewati stomata.
Transpirasi sangat dipengaruhi faktor lingkungan antara lain
anasir iklim mikro tempat tanaman tumbuh. Pada siang hari di
tempat terbuka, tanaman akan menerima sinar matahari dalam
jumlah yang lebih banyak dibanding di bawah naungan. Karena
sinar matahari merupakan sumber energi utama untuk transpirasi,
maka pada faktor lingkungan lain yang tetap, semakin banyak
energi matahari yang diterima, transpirasi dapat semakin besar.
Selain itu suhu yang lebih tinggi, kelembaban relatif udara yang
lebih rendah, kecepatan angin yang lebih tinggi ditambah dengan
stomata yang membuka lebih lebar ditempat terbuka, akan dapat
memacu transpirasi menjadi lebih cepat.
Pengukuran laju transpirasi dilakukan dengan pendekatan
menggunakan waktu yang diperlukan untuk mengubah kertas kobal
klorid dari biru menjadi merah jambu (Akunda dan Kumar, 1981).
Kertas kobal klorid yang kering akan berubah warna menjadi merah
jambu bila terkena uap air, termasuk yang berasal dari transpirasi.
Semakin cepat laju transpirasi, semakin pendek waktu yang
diperlukan untuk berubah warna.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan yaitu tanaman kedelai, kertas saring
wathman, larutan kobal klorid 10%. Sedangkan alat yang diperlukan
yaitu oven, plastik, penjepit kertas, termometer maksimum minimum,
higrometer, dan lightmeter.

Lab.Ilmu Tanaman

Lab.Ilmu Tanaman

21
Metode Pelaksanaan Praktikum
Laju transpirasi diukur pada tanaman kedelai yang
dikondisikan dengan perlakuan cukup air (disiram setiap hari),
tanaman yang agak kering (disiram tiga hari sekali) dan tanaman
yang dikondisikan kering (disiram semunggu sekali). Setiap
perlakuan kondisi tanaman diamati kadar lengas dan laju transpirasi.
Laju transpirasi menggunakan kertas kobal klorid dan dengan
metode gravimetri.
Kadar lengas tanah diukur dengan mengambil 10 gram tanah
kemudian dikeringkan dalam or\ven sampai berat kering stabil.
Kemudian dihitung selisih antara berat awal dengan berat akhir
sehingga didapatkan kadar lengas tanah untuk setiap kondisi tanah
pada masing-masing perlakuan.
Untuk membuat kertas kobal klorid digunakan kertas saring
Whatman no. 1. Ukuran 2 x 2 cm yang direndam dalam larutan
kobal klorid 10%. Kertas dikeringkan di dalam oven suhu 50OC
sampai diperoleh warna biru merata. Kertas diletakkan dalam
kantung plastik yang berisi silika gel.
Pengukuran dilakukan pada daun ke 2-4 yang telah membuka
penuh pada tajuk bagian luar. Kertas diletakkan di bawah plastik
transparan keras tebal berukuran 3 x 3 cm pada bagian bawah
daun, dijepit dengan penjepit kertas. Dicatat waktu yang diperlukan
untuk mengubah warna kertas kobal klorid dari biru menjadi merah
jambu sama dengan standar. Lakukan pengamatan yang sama
pada tajuk bagian dalam. Amati suhu, intensitas cahaya, dan
kelembaban di kedua tempat tersebut. Hitung dan bandingkan laju
transpirasi pada keadaan yang berbeda tersebut.

22
Metode gravimetri dilakukan oleh masing-masing kelompok
mengambil satu pot tanaman untuk perlakuan cukup air, agak kering
dan kering. Setelah itu pot ditutup dengan plastik hingga ke batang
tanaman kemudian ditimbang (A). Dibiarkan hingga 24 jam
kemudian ditimbang kembali (B). Jumlah air yang ditranspirasikan
adalah A-B
Tabel 5.
Perlakuan

Banyaknya air yang ditranspirasikan (gram)


Kadar
Lengas

Kadar
Lengas

Suhu
(oC)

RH
(%)

Intensitas
cahaya

Air yang
ditranspirasikan

Buatlah grafik hubungan kadar lengas tanah dengan air yang


ditranspirasikan. Regresikan air yang ditranspirasikan ke kadar
lengas tanah dan buatlah kesimpulan dari hasil analisis tersebut.
Pertanyaan
1. Menurut Anda, bagaimana hubungan antara laju transpirasi
dengan kadar lengas dalam tanah?
2. Apa yang akan terjadi pada tumbuhan apabila kadar lengas
tanah berkurang?

Intensitas
Lama
cahaya
Transpirasi

Cukup air
Agak
Kering
Kering

Lab.Ilmu Tanaman

RH
(%)

Cukup air
Agak
kering
Kering

Tabel 4. Lama transpirasi tanaman............... (menit)

Perlakuan

Suhu
(oC)

Lab.Ilmu Tanaman

23
ACARA 6
PENGUKURAN KADAR AIR NISBI
Tujuan : Menghitung kadar air nisbi daun suatu tanaman

Latar Belakang
Air memiliki fungsi yang sangat penting bagi tumbuhan. Air
berfungsi sebagai : penyusun tubuh tanaman (70%-90%); Pelarut
dan medium reaksi biokimia, Medium transpor senyawa;
Memberikan turgor bagi sel (penting untuk pembelahan sel dan
pembesaran sel); Bahan baku fotosintesis serta menjaga suhu
tanaman supaya konstan. Air dapat mengganggu pertumbuhan
tanaman bila dalam keadaan berlebih atau kekurangan sehingga
menimbulkan cekaman. Tanaman yang mengalami cekaman
kekeringan akan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar air
nisbi pada daun.
Bahan dan alat:
Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah daun
tanaman, air. Sedagkan alat yang diperlukan yaitu plastik dan
timbangan.
Metode Pelaksanaan Praktikum
Daun yang digunakan untuk percobaan ini adalah daun yang
diperlakukan pada kondisi lengas yang berbeda yaitu kondisi lengas
cukup air, kondisi lengas agak kering dan kondisi lengas kering.
Daun tanaman dari masing-masing perlakuan tersebut dirompes,
kemudian ditimbang masing-masing sebagai bobot segar (BS).
Kemudian daun tersebut masing-masing dimasukkan ke dalam
plastik yang berisi air dan didiamkan selama 24 jam. Daun yang
telah disimpan dalam air kemudian diambil dan dikibaskan sebanyak
3 kali kibasan kemudian ditimbang sebagai (BJ*). Hasil
penimbangan BJ* dimasukkan ke dalam persamaan regresi bobot
daun basah untuk mendapatkan bobot jenuh air (BJ). Daun yang
telah ditimbang kemudian dioven hingga bobotnya konstan (BK).
Kandungan air nisbi dihitung dengan cara :

24
Buatlah grafik hubungan kadar lengas tanah dengan kadar air
nisbi. Regresikan kadar air nisbi ke kadar lengas tanah dan buatlah
kesimpulan dari hasil analisis tersebut.
Catatan :
Untuk pembuatan persamaan regresi bobot daun basah,
diperlukan daun tanaman dari varietas yang sama dengan
perlakuan. Seluruh daun tanaman dirompes dan ditimbang dengan
interval bobot tertentu misal : 5g,10g, 15g, 20g, 25g (A). Masingmasing daun yang telah ditimbang tersebut dicelupkan ke dalam air
hingga basah, kemudian diambil dan dikibaskan sebanyak tiga kali.
Daun yang telah dikibaskan tersebut ditimbang kembali (pada
permukaan daun ini masih terdapat air yang menempel (B)). Bobot
daun yang diperoleh yaitu A dan B dihubungkan dalam bentuk kurva
sebagai absis dan ordinat serta dibuat persamaan regresinya.
Persamaan ini dipergunakan untuk menera bobot sebenarnya tanpa
air yang menempel di permukaan daun, digunakan pada
perhitungan kandungan air nisbi (untuk mencari BJ).
Data penimbangan daun :
A (g)
5
10
15
20
25

B (g)
6,5
14,2
18,4
24,3
26

(BJ BK )

Lab.Ilmu Tanaman

25

y = 4,91x + 3,15

Series2

20
15

Linear
(Series2)

10
5
0
5

10

15

20

25

Persamaan untuk praktikum diberikan kemudian.

(BS BK)
KAN :

30

X 100%
Lab.Ilmu Tanaman

25
ACARA 7
PENGAMATAN STOMATA
Tujuan : Mengamati kerapatan dan lebar bukaan stomata
Latar Belakang :
Stomata merupakan lubang kecil yang terletak diantara dua
sel penjaga. Stomata berfungsi sebagai jalur utama difusi gas dan
uap air dari jaringan ke lingkungan, begitu juga sebaliknya.
Pengambilan CO2 dan pengeluaran O2 pada tanaman terjadi melalui
stomata, demikian pula halnya dengan proses transpirasi pada
tanaman. Stomata kebanyakan berada pada epidermis daun bagian
bawah. Membuka dan menutupnya stomata dipengaruhi oleh
tekanan turgor tanaman. Terdapat beberapa teori mengenai
mekanisme membuka dan menutupnya stomata antara lain adalah
teori perubahan pati dan gula, teori pengangkutan proton K +, serta
teori bukaan stomata pada tanaman sukulen.

26
dengan mikrometer berbentuk pagar perbesaran 420 X.
Buatlah grafik hubungan kadar lengas tanah dengan lebar
bukaan stomata dan densitas stomata. Regresikan lebar bukaan
stomata dan densitas stomata ke kadar lengas tanah dan buatlah
kesimpulan dari hasil analisis tersebut.

Pertanyaan
Bagaimana hubungan antara tekanan turgor dengan proses
membuka dan menutupnya stomata?

Bahan dan alat


Bahan yang diperlukan yaitu daun tanaman, cat kuku bening,
dan selotip. Alat yang digunakan yaitu object glass, cover glass,
mikroskop, micrometer okuler pagar dan micrometer okuler jaring.
Metode Pelaksanaan Praktikum
Pengamatan stomata dilakukan pada tanaman yang diberi
perlakuan dengan kondisi cukup air, agak kering dan kering.
Pengamatan stomata meliputi kerapatan dan lebar bukaan stomata.
Pengamatan dilakukan pada daun nomor dua pada tunas yang
terbentuk, pada permukaan daun sebelah bawah.
Pengamatan dilakukan pada siang hari dengan jalan
mengoleskan cat kuku bening pada permukaan daun bagian bawah.
Setelah kering cat kuku dilepas dengan menempelkan selotip
bening dan mengangkatnya. Cetakan stomata dari cat kuku tersebut
dilekatkan pada gelas benda dan diamati di bawah mikroskop.
Untuk kerapatan stomata diamati dengan okuler yang
dilengkapi mikrometer berbentuk jaring menggunakan perbesaran
100 X, sedangkan untuk lebar bukaan stomata menggunakan okuler
Lab.Ilmu Tanaman

Lab.Ilmu Tanaman

27
ACARA 8
MENGAMATI PENAMPANG MELINTANG BAGIAN-BAGIAN
TANAMAN
Tujuan : Membuat dan mengamati penampang nelintang bagianbagian tanaman.
Latar Belakang:
Pengamatan penampang baik melintang maupun membujur
organ tanaman diperlukan untuk mengamati bagian-bagian
penyusun organ tersebut.
Secara umum struktur anatomi akar tersusun atas jaringan
epidermis, sistem jaringan dasar berupa korteks, endodermis, dan
empulur, serta sistem berkas pembuluh. Pada akar sistem berkas
pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang tersusun berselangseling. Struktur anatomi akar tumbuhan monokotil dan dikotil
berbeda.
Secara umum batang tersusun atas epidermis yang
berkutikula dan kadang terdapat stomata, sistem jaringan dasar
berupa korteks dan empulur, dan system berkas pembuluh yang
terdiri atas xilem dan floem.
Daun tumbuhan tersusun atas epidermis yang berkutikula dan
terdapat stomata atau trikoma. Sistem jaringan dasar pada daun
monokotil dan dikotil dapat dibedakan atas jaringan pagar dan
jaringan bunga karang, tidak demikian halnya pada monokotil
khususnya famili Graminae. Sistem berkas pembuluh terdiri atas
xilem dan floem yang terdapat pada tulang daun.
Pengamatan melintang dapat dilakukan dengan pemotongan
preparat segar maupun awetan menggunakan alat berupa
microtome.
Alat
: rotary microtome
Bahan : organ tanaman (akar, batang atau daun)
Cara kerja
a. Preparat penampang melintang segar.
Organ yang akan dipotong melintang diletakkan di rotary
microtome kemudian dipotong dengan ketebalan tertentu yang
dapat diatur pada alat microtome. Objek yang telah dipotong
diletakkan pada gelas benda dan diamati di bawah mikroskop.
Lab.Ilmu Tanaman

28
b. Preparat penampang dengan embeddig (menggunakan paraffin)
Hari ke-1
Fiksasi menggunakan FAA:
Formalin
Asam asetat glasial
Alkohol 70%
Kemudian didiamkan selama 24 jam

5 bagian
5 bagian
90 bagian

Hari ke-2
Pencucian dan Dehidrasi
Dibuang diganti berturut-turut
Alkohol 70%
30 menit
Alkohol 80%
30 menit
Alkohol 95%
30 menit
Alkohol 100%
30 menit
Alkohol 100%
30 menit
Dealkoholisasi
Alkohol/Xilol 3:1
30 menit
Alkohol/Xilol 1:1
30 menit
Alkohol/Xilol 1:3
30 menit
Xilol
30 menit
Xilol
30 menit
Campuran xilol/paraffin 1:9 dengan temperature 57C selama
24 jam
Hari ke-3
Infiltrasi: campuran xilol/paraffin 1:9 dibuang, diganti dengan
paraffin murni. Temperature tetap 57C selama 24 jam.
Hari ke-4
Penyelubungan: paraffin dituang diganti dengan paraffin yang
baru. Setelah 1 jam dibuat blok.
Hari ke-5
Pengirisan: dibuat irisan-irisan dengan rotary microtome
Diletakkan pada gelas benda dan diawetkan menggunakan
canada balsam.

Lab.Ilmu Tanaman

29
Daftar Pustaka

Gardner, F.B., R.B. Pearce and R.L. Mitchel. 1985. Physiology


of Crop Plant. Iowa State University Press. Ames
Pandey, S.N and B.K Sinha. 1972. Plant Physiology. Vikas
Publishing House. New Delhi
Ross, C.W. 1974. Plant Physiology Laboratory Manual.
Wadsworth. California
Sutikno. 2004. Petunjuk Praktikum Mikroteknik Tumbuhan.
Fakultas Biologi UGM.
Taiz, L. and E. Zeiger. 1998. Plant Physiology. Sinauer
Associates. Inc. Publisher. Massachusetts

Lab.Ilmu Tanaman

Lab.Ilmu Tanaman