Anda di halaman 1dari 120

1

PESAN DAKWAH USTADZ JEFRI AL-BUCKHARI


TENTANG GENERASI RABBANI DI TVONE

SKRIPSI
untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam


(KPI)

MOHAMAD SHOLEH
1105002/05121002

FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012

NOTA PEMBIMBING
Lamp : 5 (lima) eksemplar
Hal

: Persetujuan Naskah
Skripsi
Kepada
Yth. Bapak Dekan Fakultas Dakwah
IAIN Walisongo Semarang

Assalamualaikum Wr. Wb.


Setelah membaca, mengadakan koreksi dan perbaikan sebagaimana mestinya,
maka kami menyatakan bahwa skripsi saudari:
Nama

: Mohamad sholeh

NIM

: 1105002/05121102

Jurusan

: Dakwah /KPI

Judul Skripsi : PESAN DAKWAH USTADZ JEFRI AL-BUKHARI


TENTANG GENERASI RABBANI DI TVONE
Dengan ini telah saya setujui dan mohon agar segera diujikan. Demikian atas
perhatiannya diucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Semarang, 15 Juni 2012


Pembimbing,
Bidang Substansi Materi,

Bidang Metodologi & Tatatulis,

Dr. H. Moh Zuhri, M. Ag


NIP.19480515 1967091 001

Drs. H. Ahmad Hakim. MA., Ph.D


NIP. 19600131 1988031 001

ii

SKRIPSI
PESAN DAKWAH USTADZ JEFRI AL-BUKHARI TENTANG
GENERASI RABBANI DI TVONE
Disusun oleh

Mohamad Sholeh
1105002/05121102
telah dipertahankan di depan Dewan Penguji
pada tanggal: Juli 2012
dan dinyatakan telah lulus memenuhi sarat
Susunan Dewan Penguji,
Ketua Dewan Penguji/
Pembantu Dekan,

Penguji,
Penguji I,

Sekretaris Dewan Penguji/


Pembimbing,

Penguji II,

Pembimbing,
Bidang Substansi Materi,

Bidang Metodologi & Tatatulis,

Dr. H. Moh Zuhri, M. Ag.


NIP. 194805151 1967091 001

Drs. H. Ahmad Hakim. MA,.Ph.D


NIP. 19600131 1988031 001

iii

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya
sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk
memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi di lembaga
pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun
yang belum/tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan di dalam tulisan dan
daftar pustaka

Semarang, 15 Mei 2012

MOHAMAD SHOLEH
NIM: 1105002/05121102

iv

MOTTO

Tetap semangat adalah kunci kesuksesan


menjalani kehidupan

PERSEMBAHAN
Karya ini aku dedikasikan untuk orang-orang terkasih dalam lingkar
kehidupanku.
Pertama saya ucapkan puji syukur pada Allah, berkat rahmad dan izin-Nya
saya bisa selesaikan skripsi ini.
Orang tuaku tercinta yang selalu memberi nasehat dan memberikan
dukungan untuk melanjutkan study ini..
Keluarga besarku yang selalu mendoakan aku
Temen-temen di Wisma Bondet, terimakasih kalian adalah keluarga kedua
setelah keluarga besarku.
Para sahabatku, yang tidak dapat kusebutkan satu persatu, teman-teman
seperjuangan angkatan 2005 (khususnya KPI 2005).

Penulis

Mohamad sholeh
Nim: 05121102

vi

ABSTRAK
Dewasa ini ada seorang pemuda yang telah malang melintang dalam
kehidupan gemerlap, glamour dan sempat ketergantungan dengan barang
terlarang (narkotika) yaitu Jefri al-Bukhori merupakan salah satu ulama yang
menggunakan aktivitas hidupnya untuk berdakwah. Ia seorang ulama yang
mendapat penilaian publik sebagai da'i "gaul" yang mampu membaca situasi dan
kondisi mad'u. Dakwahnya dapat disimak di beberapa tempat di Jakarta, Masjid
Istiqlal, Masjid al-Ikhlas (Rawamangun), Masjid at-Taqwa (Grogol), Masjid anNuur (Proyek Senen), Masjid as-Syifa (Jalan Rumah Sakit Fatmawati), dan sering
medapat undangan untuk memberikan ceramah pada pengajian umum. Di
samping itu, ia juga memberikan ceramah yang ditayangkan oleh berbagai
statsiun televisi seperti TV One, RCTI, SCTV, Indosiar dan TPI. Di antara sekian
banyak pesan dakwahnya, maka pesan dakwah tentang generasi rabbani menjadi
obyek penelitian ini. Sebagai perumusan masalah adalah apakah isi pesan dakwah
Ustadz Jefri al-Bukhari tentang generasi rabbani di TV One?
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Data Primer, yaitu 1
keping CD/DVD dakwah Ustadz Jefri Al-Bukhori yang disiarkan oleh TV one,
dan hasil wawancara dengan Ustadz Jefri Al-Bukhori. Data Sekunder, yaitu bukubuku, penelitian terdahulu, jurnal, artikel, internet dan lain-lain yang mendukung
data primer. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dan wawancara
dengan Jefri Al-Bukhori baik langsung maupun tidak langsung mengenai pesan
dakwah yang disiarkan oleh TV one. Dalam analisis data ini penulis
menggunakan deskriptif analisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan dakwah ustadz Jepri alBukhari di TV One tentang generasi rabbani adalah generasi yang berketuhanan
dan beriman yang dalam kehidupannya mampu menjaga kemaluan, bersikap
tawakal, sabar, dan berpikir positif. Dalam kaitannya dengan pesan dakwah
tentang menjaga kemaluan, bahwa menurut Jefri al-Bukhari, fenomena
penyaluran hasrat seksual secara bebas di kalangan remaja disinyalir sangat besar.
Dalam kaitannya dengan pesan dakwah tentang tawakkal, bahwa dalam
percakapan sehari-hari sering terdengar perkataan tawakal yang tidak tepat
pemakaiannya, atau sama sekali "salah pasang". Dalam kaitannya dengan pesan
dakwah tentang sabar, bahwa kesabaran mengajari manusia ketekunan dalam
bekerja serta mengerahkan kemampuan untuk merealisasikan tujuan-tujuan
amaliah dan ilmiahnya. Dalam kaitannya dengan pesan dakwah tentang berpikir
positif, bahwa apabila meneliti konsep pengembangan diri menuju berpikir positif
dalam perspektif Islam, maka ajaran spiritual Islam sangat erat dengan
pengembangan diri menuju berpikir positif yang bermuara pada kesehatan jiwa.

vii

KATA PENGANTAR
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang
senantiasa telah menganugerahkan rahmat, dan hidayah-Nya kepada penulis
dalam rangka menyelesaikan karya skripsi dengan judul PESAN DAKWAH
USTAD Z JEFRI AL-BUCKHARI TENTANG GENERASI RABBANI DI
TVONE". Karya skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) bidang jurusan Bimbingan
Penyuluhan Islam di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Walisongo
Semarang. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang
mengikuti jejak perjuangannya.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis merasa bersyukur atas bantuan dan
dorongan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak yang telah membantu
terselesaikannya skripsi penulis dengan baik. Oleh karena itu penulis
menyampaikan banyak terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Rektor IAIN Walisongo, yang telah memimpin lembaga tersebut
dengan baik
2. Bapak Dr. Muhammad Sulthon, M. Ag. selaku Dekan Fakultas Dakwah IAIN
Walisongo Semarang.
3. Bapak Dr. H. Moh Zuhri, M. Ag selaku Dosen pembimbing I dan Bapak Drs.
H. Ahmad Hakim. MA., Ph.D selaku Dosen pembimbing II yang telah
berkenan membimbing dengan keikhlasan dan kebijaksanaannya meluangkan
waktu, waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan pengarahan-pengarahan
hingga terselesaikannya skripsi ini.
4. Seluruh dosen, staf dan karyawan di lingkungan civitas akademik Fakultas
Dakwah IAIN Walisongo Semarang yang telah memberikan pelayanan yang
baik serta membantu kelancaran penulisan skripsi ini.

5. Kepala perpustakaan IAIN Walisongo Semarang serta pengelola perpustakaan


Fakultas Dakwah yang telah memberikan pelayanan kepustakaan dengan baik.
6. Bapak dan Ibu yang tercinta, kakak dan adikku.
7. Teman-temanku mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, khususnya kepada
mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Terutama ditujukan
kepada teman-temanku di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.
Pada akhirnya penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini belum
mencapai kesempurnaan yang ideal dalam arti sebenarnya, namun penulis
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi para
pembaca pada umumnya.
Nasrun Minallah Wafathun Qorieb
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Penulis

viii

10

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................... i
HALAMAN NOTA PEMBIMBING.......................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN..................................................................... iv
HALAMAN MOTTO ................................................................................. v
HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................... vi
ABSTRAK .................................................................................................. vii
HALAMAN KATA PENGANTAR ........................................................... viii
HALAMAN DAFTAR ISI.......................................................................... x
BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah............................................................ 1
1.2. Perumusan Masalah .................................................................. 5
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian................................................. 6
1.4. Tinjauan Pustaka....................................................................... 6
1.5. Metodologi Penelitian ............................................................... .9
1.5.1. Jenis, Pendekatan, dan Spesifikasi...... 9
1.5.2. Definisi Konseptual.... 10
1.5.3. Sumber Data11
1.5.4. Metode Pengumpulan Data.... 11
1.5.5. Teknik Analisis Data.. 12
BAB II : DAKWAH DAN TELEVISI
2.1. Pengantar Dakwah Dan Dasar Hukumnya......13
2.2. Tujuan Dakwah........16
2.3. Subjek, Materi, Dan Media Dakwah...........................................19
2.4. Televisi Sebagai Media Dakwah...................................................32
BAB III: PESAN DAKWAH USTADZ JEFRI AL-BUKHARI
TENTANG GENERASI RABBANI DI TV ONE
3.1. Biografi.........................................................................................34
3.2. Pendidikan36

ix

11

3.3. Karya-Karya.................................................................................36
4.4. Pesan Dakwah Ustadz Jefri Al-Bukhari Tentang Generasi
Rabbani di TVONE..37
BAB IV: ANALISIS PESAN DAKWAH USTADZ JEFRI
AL-BUKHARI TENTANG GENERASI RABBANI DI TV ONE
4.1.Mampu Menjaga Kemaluan..67
4.2.Bersikap Tawakal..84
4.3.Bersikap Sabar...87
4.4.Bersikap Positif.90
BAB V : PENUTUP
5.1.Kesimpulan................................................................................ 96
5.2.Saran-Saran ............................................................................... 97
5.3.Penutup...................................................................................... 97

12

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah


Dalam pengertian yang integralistik, dakwah merupakan suatu proses

yang berkesinambungan yang ditangani oleh para pengemban dakwah untuk


mengubah sasaran dakwah agar bersedia masuk ke jalan Allah, dan secara
bertahap menuju peri kehidupan yang Islami.

Suatu proses yang

berkesinambungan adalah suatu proses yang bukan insidental atau kebetulan,


melainkan benar-benar direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara
terus menerus oleh para pengemban dakwah sesuai dengan tujuan-tujuan yang
telah dirumuskan. Oleh karena itu, sudah bukan waktunya lagi bahwa dakwah
dilakukan asal jalan, tanpa sebuah perencanaan yang matang, baik
menyangkut

materinya,

tenaga

pelaksananya,

ataupun

metode

yang

digunakan.
Berkaitan dengan keterangan tersebut, perlu dakwah Islam dengan
jalan menciptakan sebanyak mungkin sarana yang ada, disesuaikan dengan
situasi dan kondisi zaman serta perubahan sosial yang terjadi, baik dalam pola
pikir maupun pola kerja agar Islam tetap berkesan utuh, lengkap, dan
harmonis. Oleh karena itu sarana yang ada haruslah dibentuk sedemikian rupa
sehingga dapat dijadikan sebagai sarana dakwah (Ahmad, 1985: 194).
Dakwah seyogyanya melihat apa yang menjadi kebutuhan umat Islam.
Dakwah di tengah masyarakat intelektual dalam arti tingkat SDM nya cukup

tinggi maka dakwah harus bersifat rasional terlebih lagi bila mad'unya
berdiri di atas paham yang serba sekuler. Demikian pula dakwah di tengah
perkotaan akan berbeda dengan dakwah di kampung-kampung yang kebetulan
mad'unya kakek-kakek dan nenek dengan SDM yang lemah maka dakwah
sepantasnya tidak terlalu mengandalkan logika dan filosofis. Di tengah-tengah
masyarakat yang terbilang awam tentunya akan tepat jika dakwah berupa
kisah-kisah yang menarik dan tidak banyak membutuhkan rasio dalam
mencerna isi dakwah.
Pada dasarnya dakwah merupakan seruan agama, seruan tersebut
mempunyai maksud dan tujuan yaitu untuk mengubah masyarakat sasaran
dakwah ke arah lebih baik dan lebih sejahtera, lahiriah maupun batiniah baik
secara individu maupun kelompok. Agar tujuan tersebut tercapai secara
efektif, maka para penggerak dakwah harus mengorganisir segala komponen
dakwah secara tepat dan salah satu komponen itu adalah dari unsur medianya
(Syukir, 1983: 163).
Dalam memahami esensi dari makna dakwah, kegiatan dakwah sering
dipahami

sebagai

upaya

memberikan

pemecahan

masalah

dan

penyelesaiannya. Masalah tersebut mencakup seluruh aspek meliputi:


ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, sains, dan teknologi. Untuk itu
dakwah harus dikemas dengan cara atau metode yang pas, atau meminjam
istilah dari Yunan Yusuf bahwa dakwah harus dilakukan secara aktual, faktual
dan kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah yang kekinian yang
hangat di tengah masyarakat, faktual dalam arti konkrit yang nyata, serta

kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut problem yang sedang dihadapi
oleh masyarakat. (Suparta (Ed), 2003: xiii).
Sampai sekarang media dakwah terus mengalami perkembangan,
sejalan dengan teknologi yang semakin pesat, seperti munculnya internet,
televisi, vcd, mp3, selluler, radio, majalah, dan sebagainya, yang memberikan
kemudahan untuk menyampaikan sesuatu informasi dalam waktu yang singkat
dan jangkauannya yang luas, sehingga efektif dan efisien.
Hal inilah yang sekarang banyak dimanfaatkan oleh para ulama untuk
dijadikan sebagai media dakwah; dengan bertumpu pada azas efektifitas dan
efisiensi, di mana di dalam suatu aktivitas dakwah harus berusaha
menseimbangkan antara biaya waktu maupun tenaga yang dikeluarkan dengan
pencapaian hasilnya, bahkan kalau bisa waktu biaya dan tenaga sedikit dapat
memperoleh hasil yang semaksimal mungkin. (Sukir, 1983: 33).
Islam adalah agama yang rahmatan li al-alamin yang berpedoman
pada Al Quran dan Hadits. Untuk menyampaikannya ada beberapa macam
metode di antaranya bil hal dan bil lisan. Bil hal menitikberatkan pada
keteladanan dan tindakan, sedangakan bil lisan menitikberatkan pada
pengajaran, pendidikan melalui ucapan, baik lisan maupun tulisan; yang salah
satu bentuknya adalah metode ceramah.
Secara historis, dakwah sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad
SAW, setelah diturunkannya wahyu yang memerintahkan untuk berdakwah
secara terang-terangan. Di mana pada mulanya dakwah secara sembunyisembunyi hanya ditujukan untuk keluarga terdekatnya saja, lalu turun perintah

supaya dakwah dilakukan secara terang-terangan, hal ini terjadi tepatnya


setelah turun wahyu pada tahun ketiga kerasulannya. Al-Quran surat al-Hijr
(15) ayat 94 berbunyi:

94
Artinya: Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala
apa yang diperintahkan dan berpalinglah dari orang-orang
yang musyrik (Depag RI, 1986).

Periode dakwah dalam masa Rasulullah Saw. dibagi ke dalam Zaman


Makkah dan Zaman Madinah. Zaman Makkah disebut juga "periode
pembinaan Kerajaan Allah Swt. dalam hati manusia," sementara Zaman
Madinah disebut "periode pembinaan Kerajaan Allah Swt. dalam masyarakat
manusia (Saputra, 2011: 13)
Dakwah Islamiyah pada Zaman Madinah disebut juga periode
pembinaan Kerajaan Allah Swt. dalam masyarakat manusia. Dakwah
Islamiyah dalam zaman Madinah telah membuat sejarah yang tersendiri,
sebagai lanjutan dari zaman Makkah. Dalam zaman Madinah ini, dakwah
Islamiyah telah membentuk dirinya menjadi satu kekuatan nyata yang hebat
sekali, di mana kaum Muslimin di bawah pimpinan juru dakwah agung
Muhammad merupakan Ansarullah, tentara Allah Swt., yang melaksanakan
dakwah Islamiyah dalam arti seluas kata (Saputra, 2011: 18)
Dewasa ini ada seorang pemuda yang telah malang melintang dalam
kehidupan gemerlap, glamour dan sempat ketergantungan dengan barang
terlarang

(narkotika)

yaitu

Jefri

al-Bukhori

merupakan

salah

satu

dai/mubaligh yang menggunakan aktivitas hidupnya untuk berdakwah. Ia


seorang dai yang mendapat penilaian publik sebagai da'i "gaul" yang mampu
membaca situasi dan kondisi mad'u. Dakwahnya dapat disimak di beberapa
tempat di Jakarta, Masjid Istiqlal, Masjid al-Ikhlas (Rawamangun), Masjid atTaqwa (Grogol), Masjid an-Nuur (Proyek Senen), Masjid as-Syifa (Jalan
Rumah Sakit Fatmawati), dan sering medapat undangan untuk memberikan
ceramah pada pengajian umum. Di samping itu, ia juga memberikan ceramah
yang ditayangkan oleh berbagai statsiun televisi seperti TV One, RCTI,
SCTV, Indosiar dan TPI.
Di antara sekian banyak pesan dakwahnya, maka pesan dakwah
tentang generasi rabbani menjadi obyek penelitian ini. Adapun alasan peneliti
memilih permasalahan ini adalah karena secara khusus, peneliti belum mampu
menjadi generasi rabbani, dan umumnya masih banyak kaum muslimin yang
belum masuk katagori generasi rabbani.
Dari latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul "Pesan Dakwah Ustadz Jefri alBukhari tentang Generasi Rabbani
1.2.

Perumusan Masalah
Bertitik tolak pada latar belakang dan formulsi-formulasi di atas, maka

fokus permasalahan dalam studi ini adalah apakah isi pesan dakwah Ustadz
Jefri al-Bukhari tentang generasi rabbani?

1.3.

Tujuan dan Manfaat Penelitian


Tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1.3.1. Untuk mengetahui isi pesan dakwah Ustadz Jefri al-Bukhari tentang
generasi rabbani di TV One
1.3.2. Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah
secara teoritis berguna menambah khasanah keilmuan, utamanya
dibidang penelitian ilmu dakwah, secara khusus dibidang kajian
Komunikasi dan Penyiaran Islam. Secara praktis diharapkan penulis
mampu memberikan gambaran mengenai tentang pesan dakwah
Ustadz Jefri al-Bukhari tentang generasi rabbani di TV One

1.4.

Tinjauan Pustaka
Dengan melihat beberapa literatur yang ada di Fakultas dakwah,

beberapa di antaranya terdapat kaitanya dengan skripsi yang penulis angkat,


yaitu:
1.

Selamet Riyadi (NIM 1199071) tahun 2001 dengan judul:


Aktivitas Dakwah Muhammad Yunan Nasution Terhadap Perilaku
Munkart.

Permasalahannya

yaitu

bagaimana

aktivitas

dakwah

Muhammad Yunan Nasution terhadap perilaku munkart. Metode


penelitian ini menggunakan semiotika. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Islam adalah satu agama yang mengandung ajaran-ajaran
kemasyarakatan, yang mengatur hubungan antara manusia dengan
manusia laksana "satu tubuh, jika sebagiannya menderita sakit, maka
seluruh tubuh akan merasakannya". Tidak cukup seorang Muslim menjadi

seorang yang baik saja, yang hanya hidup untuk kebahagiaan dan
kemanfaatan dirinya. Tapi, disamping itu ia harus memberikan
kebahagiaan dan manfaat kepada manusia yang lain, dengan jalan
menyuruh orang berbuat baik seperti kebaikan yang diperbuatnya sendiri
untuk dirinya. Tidak cukup seorang Muslim sekedar mencegah dirinya
sendiri tidak berbuat jahat, tapi dia harus pula melarang manusia yang lain
supaya jangan melakukan kejahatan. Inilah yang dimaksudkan dengan
keistimewaan doktrin Islam. Justru karena keistimewaan ajarannya yang
demikian, maka kaum Muslimin dikaruniakan oleh Tuhan kedudukan
yang paling baik di antara ummat-ummat dalam sejarah dari abad ke abad
2. Kasmiyati, program strata 1 Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang
tahun 1996 yang berjudul Pemikiran Dakwah Susuhunan Paku Buwono
IV (Studi Analisis Materi dan Metode Dakwah). Permasalahannya yaitu
bagaimana pemikiran dakwah susuhunan Paku Buwono IV ditinjau dari
analisis materi dan metode dakwah. Metode penelitian skripsi ini
menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah
yang dilakukan oleh Susuhunan Paku Buwono IV terbagi menjadi dua
besar permasalahan yaitu jalinan hubungan dengan Allah SWT dan jalinan
antara sesama manusia yang tercakup dalam materi-materi dakwah
tentang aspek keimanan, ibadah dan akhlaqul karimah. Sedangkan dalam
penerapan dakwahnya Susuhunan Paku Buwono IV menggunakan tiga
metode yaitu metode nasehat, metode keteladanan, metode persuasif
(Kasmiati, 1996: 72)

3. Sururi, program strata 1 Fakultas dakwah IAIN Walisongo Semarang


tahun 1999 yang berjudul Studi Pemikiran Dakwah Syafii Maarif.
Permasalannya yaitu bagaimana pemikiran dakwah Syafii Maarif.
Metode penelitian ini menggunakan studi tokoh. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemikiran dakwah Syafii Maarif bersumber pada
Al Quran dan Hadis. Serta pandangannya pada pemikir Islam pada amar
maruf nahi mungkar sebagai paradigma konsep dakwah. Aspek
dakwahnya menekankan relevansi antar Islam dan terciptanya tatanan
sosial yang ideal untuk tercapai suatu tujuan. Menurut peneliti kelebihan
pemikiran dakwah Syafii Maarif terletak pada sitematika yang secara
komprehensif berusaha membumikan nilai-nilai Islam dengan beberapa
aspek dakwah yang sesuai dengan tatanan sosial-politik sosial-kultur.
Kalau ditinjau dari segi kelemahan pemikiran Syafii Maarif terletak pada
dataran praktis konseptual yang hanya dikonsumsi oleh masyarakat
terpelajar intelektual. Maka perlu reinterpretasi lebih lanjut agar dapat
dipahami oleh masyarakat umum (Sururi, 1999: 81).
Dari beberapa penelitian di atas, memang ada kemiripan yang penulis
lakukan. Pada penelitian pertama hingga terakhir memiliki kesamaan pada
dataran konsep dakwah. Kesamaan tersebut berupa kesamaan dalam
melakukan penelitian terhadap dakwah yang dilakukan terhadap tokoh Islam.
Meski sama terhadap hal pemikiran terhadap konsep dakwah, tetapi penelitian
yang penulis lakukan ada perbedaan dengan penelitian di atas, yaitu dalam

masalah tokoh yang menjadi kajian, tokoh yang penulis kaji pada penelitian
ini adalah Jefri al-Bukhori
1.5.

Metodologi Penelitian

1.5.1. Jenis, Pendekatan, dan Spesifikasi Penelitian


Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yakni
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong,
1997: 3). Dalam meneliti data tidak diwujudkan dalam bentuk angka,
namun data-data tersebut diperoleh dengan penjelasan dan berbagai uraian
yang berbentuk tulisan.
Penelitian dengan model ini dengan meggunakan pendekatan
fenomenologis yang lebih menekankan pada aspek subyektif dari perilaku
orang lain. Yakni berusaha untuk memasukkan ke dalam dunia konseptual
para subyek yang diteliti sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana
suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa
dalam kehidupannya sehari-hari (Moleong, 1999: 9).
Dari definisi tersebut dapat dimengerti bahwa penelitian kualitatif
adalah penelitian yang menggunakan beberapa asumsi, deskripsi dan
interpretasi sebagai dasar teori dalam melakukan penelitian terhadap suatu
obyek kajiannya. Atau jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak
diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan (Anselm Strauss
dan Juliet Corbin, 2003: 4).

10

Spesifikasi penelitian ini adalah penelitian deskriptif analisis


karena pada penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak
menguji hipotesis atau membuat prediksi. Metode ini menguraikan dan
menjelaskan pesan dakwah Ustadz Jefri al-Bukhari tentang generasi
rabbani.
1.5.2. Definisi Operasional
Definisi konseptual ini merupakan upaya memperjelas ruang
lingkup penelitian. Dalam penulisan skripsi ini penulis akan menguraikan
beberapa batasan menyangkut definisi judul untuk menghindari
kesalahpahaman pemaknaan.
a. Pesan Dakwah
Pesan dakwah yang dimaksud dalam judul ini adalah adalah apa
saja yang disampaikan Jefry al-Bukhari terkait dengan tema ceramahnya
tentang generasi rabbani untuk mendorong (memotivasi) umat manusia
agar melaksanakan dan mengikuti petunjuk serta berbuat maruf dan
mencegah berbuat mungkar supaya memperoleh kebahagiaan dunia dan
akherat.
Dari pengertian di atas maka pesan dakwah adalah kegiatan untuk
mendorong atau memotivasi manusia untuk beramar ma'ruf nahi mungkar,
untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam penelitian ini
yang menjadi obyek penelitian adalah pesan dakwah Ustadz Jefri AlBukhori seorang ulama yang berkecimpung dalam bidang dakwah. Dalam
kegiatan dakwah ia dapat mengaharmonisasikan unsur-unsur dakwah

11

sehingga dapat tercapai tujuan dakwahnya, yang salah satunya tentang


metode dan media dakwah.
b. Generasi Rabbani
Generasi rabbani yang dimaksud dalam judul ini adalah generasi
berketuhanan dan beriman yang dalam kehidupannya mampu menjaga
kemaluan, bersikap tawakkal, sabar, dan berpikir positif. Penegasan ini ia
sampaikan dalam ceramahnya di TV One didukung hasil wawancara..
1.5.3. Sumber Data
a. Data primer:
Data primer dalam penelitian ini adalah bahan utama yang
dijadikan referensi. Dalam pembahasan ini sumber primernya adalah 1
buku-buku yang bernuansa dakwah Ustadz Jefri Al-Bukhori yang
disiarkan oleh TV one, dan hasil wawancara dengan Ustadz Jefri AlBukhori.
b. Data sekunder yaitu data yang menunjang data primer
Data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku, artikel,
makalah, tulisan dan lain-lainnya yang memiliki relevansi dengan
bidang kajian, sebagai bahan pendukung dalam pembahasan penelitian
ini.
1.5.4. Metode Pengumpulan Data
Menurut Sumadi Suryabrata, kualitas data ditentukan oleh kualitas
alat pengambil data atau alat pengukurnya (Suryabrata, 1998: 84).
Berpijak dari keterangan tersebut, peneliti menggunakan:

12

a. Dokumentasi atau studi dokumenter yang menurut Arikunto (2002:


206) yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,
lengger, agenda, dan sebagainya Yang dimaksud dokumentasi dalam
tulisan ini yaitu keping CD/DVD dakwah Ustadz Jefri Al-Bukhori
yang disiarkan oleh TV one .
b. Wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu
masalah tertentu, ini merupakan proses tanya jawab lisan antara
penulis dengan Jefri Al-Bukhori baik langsung maupun tidak langsung
mengenai pesan dakwah yang disiarkan oleh TV one.
1.5.5. Teknik Analisis Data
Analisis

data

adalah

kegiatan

mengatur,

mengurutkan,

mengelompokkan, memberi kode/tanda, dan mengkategorikan data


sehingga dapat ditemukan dan dirumuskan berdasarkan data tersebut
(Moleong, 1999: 10). Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini
menggunakan

teknik

deskriptif

analisis

yaitu

menguraikan

dan

menggambarkan pesan dakwah Ustadz Jefri al-Bukhari tentang generasi


Rabbani di TV One

13

BAB II
DAKWAH DAN GENERASI RABBANI

2.1. Pengertian Dakwah dan Dasar Hukumnya


a. Pengertian Dakwah
Kata dakwah berasal dari bahasa Arab dalam bentuk

masdar

(infinitif) dari kata kerja da' ( ) yad' ( ) di mana kata dakwah ini
sekarang sudah umum dipakai oleh pemakai bahasa Indonesia, sehingga
menambah perbendaharaan bahasa Indonesia (Munsyi, 1981: 11).
Kata da'wah ( ) secara harfiyah bisa diterjemahkan menjadi:
"seruan, ajakan, panggilan, undangan, pembelaan, permohonan (do'a)
(Pimay, 2005: 13). Sedangkan secara terminologi, banyak pendapat tentang
definisi dakwah, antara lain: Ya'qub (1973: 9), dakwah adalah mengajak
umat manusia dengan hikmah kebijaksanaan untuk mengikuti petunjuk
Allah dan RasulNya. Menurut Anshari (1993: 11), dakwah adalah semua
aktifitas manusia muslim di dalam berusaha merubah situasi kepada situasi
yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT dengan disertai kesadaran dan
tanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan terhadap Allah
SWT.
Dalam pengertian istilah, dakwah merupakan suatu proses yang
berkesinambungan yang ditangani oleh para pengemban dakwah untuk
mengubah sasaran dakwah agar bersedia masuk ke jalan Allah, dan secara

13

14

bertahap menuju perikehidupan yang Islami (Hafidhuddin, 2000: 77).


Dakwah adalah setiap usaha rekonstruksi masyarakat yang masih
mengandung unsur-unsur jahili agar menjadi masyarakat yang Islami (Rais,
1999: 25). Oleh karena itu Abu Zahrah menegaskan bahwa dakwah Islamiah
itu diawali dengan amar ma'rf dan nh munkar, maka tidak ada
penafsiran logis lain lagi mengenai makna amar ma'rf kecuali
mengesakan Allah secara sempurna, yakni mengesakan pada zat sifatNya
(Zahrah, 1994: 32). Lebih jauh dari itu, pada hakikatnya dakwah Islam
merupakan aktualisasi imani (teologis) yang dimanifestasikan dalam suatu
sistem kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang
dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir,
bersikap dan bertindak manusia pada dataran kenyataan individual dan sosio
kultural dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam
semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu (Achmad, 1983:
2).
Keaneka ragaman pendapat para ahli seperti tersebut di atas
meskipun terdapat kesamaan ataupun perbedaan-perbedaan namun bila
dikaji dan disimpulkan bahwa dakwah merupakan kegiatan yang dilakukan
secara ikhlas untuk meluruskan umat manusia menuju pada jalan yang
benar. Untuk dakwah diupayakan dapat berjalan sesuai dengan situasi dan
kondisi mad'u.
Adapun pijakan dasar pelaksanaan dakwah adalah al-Qur'an dan
Hadits. Di dalam dua landasan normatif tersebut terdapat dalil naqli yang

15

ditafsirkan sebagai bentuk perintah untuk berdakwah. Dalam al-Qur'an dan


Hadits juga berisi mengenai tata cara dan pelaksanaan kegiatan dakwah.
Perintah untuk berdakwah kali pertama ditunjukkan kepada utusan
Allah, kemudian kepada umatnya baik secara umum, kelompok atau
organisasi.
b. Dasar Hukum Dakwah
Dasar hukum pelaksanaan dakwah tersebut antara lain:
1) Perintah dakwah yang ditujukan kepada para utusan Allah tercantum
pada al-Quran Surat Al Maidah ayat 67:

Artinya: Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari


Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang
diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang kafir (Depag, 1978: 120).
2) Perintah dakwah yang ditunjukkan kepada umat Islam secara umum
tercantum dalam al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 125.

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan yang Tuhanmu dengan


hikmah dan pelajaran yang baik dan berbantahlah kepada
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang tersesat dari
jalannya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk (Depag, 1978: 282).

16

3) Perintah dakwah yang ditujukan kepada muslim yang sudah berupa


panduan praktis tercantum dalam hadits:

)
Artinya: Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka
hendaklah ia merubah dengan tangannya, apabila tidak
mampu (mencegah dengan tangan) maka hendaklah ia
merubah dengan lisannya, dan apabila (dengan lisan) tidak
mampu maka hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itu
adalah selemah-lemah iman.(HR. Muslim) (Muslim, t.th: 50).

2.2. Tujuan Dakwah


Menurut Arifin (2000: 4) tujuan program kegiatan dakwah dan
penerangan agama tidak lain adalah untuk menumbuhkan pengertian,
kesadaran, penghayatan dan pengalaman ajaran agama yang dibawakan oleh
aparat dakwah atau penerang agama. Pandangan lain dari A. Hasjmy (1984:
18) tujuan dakwah Islamiyah yaitu membentangkan jalan Allah di atas bumi
agar dilalui umat manusia. Ketika merumuskan pengertian dakwah,
Amrullah Ahmad menyinggung tujuan dakwah adalah untuk mempengaruhi
cara merasa, berpikir, bersikap, dan bertindak manusia pada dataran
individual dan sosiokultural dalam rangka terwujudnya ajaran Islam dalam
semua segi kehidupan (Ahmad, 1991: 2).
Barmawie Umary 198455) merumuskan tujuan dakwah adalah
memenuhi perintah Allah Swt dan melanjutkan tersiarnya syari'at Islam

17

secara merata. Dakwah bertujuan untuk mengubah sikap mental dan tingkah
laku manusia yang kurang baik menjadi lebih baik atau meningkatkan
kualitas iman dan Islam seseorang secara sadar dan timbul dari kemauannya
sendiri tanpa merasa terpaksa oleh apa dan siapa pun.
Salah satu tugas pokok dari Rasulullah adalah membawa amanah
suci berupa menyempurnakan akhlak yang mulia bagi manusia. Dan akhlak
yang dimaksudkan ini tidak lain adalah al-Qur'an itu sendiri sebab hanya
kepada al-Qur'an-lah setiap pribadi muslim itu akan berpedoman. Atas dasar
ini tujuan dakwah secara luas, dengan sendirinya adalah menegakkan ajaran
Islam kepada setiap insan baik individu maupun masyarakat, sehingga
ajaran tersebut mampu mendorong suatu perbuatan sesuai dengan ajaran
tersebut (Tasmara, 1997: 47).
Secara umum tujuan dakwah dalam al-Qur'an adalah: Aziz (2004:
68).
a. Dakwah bertujuan untuk menghidupkan hati yang mati.
Allah berfirman:

...
(14:

)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, patuhilah seruan Allah dan
seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu
yang memberi kehidupan kepada kamu ...". (QS. al Anfal: 24)
(Depag RI,1978: 264 ).

b. Agar manusia mendapat ampunan dan menghindarkan azab dari Allah.

(7 :

) ...

18

Artinya: Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada


iman) agar Engkau mengampuni mereka ... (QS Nuh: 7)
(Depag RI,1978: 978).
c. Untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

(36

)
Artinya: Orang-orang yang telah kami berikan kitab kepada mereka,
bergembira dengan kitab yang telah diturunkan kepadamu,
dan di antara golongan-golongan Yahudi Jang bersekutu ada
yang mengingkari sebagiannya. Katakanlah: "Sesungguhnya
aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak
mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Hanya kepada-Nya
aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali". (QS.
ar Ra'd: 36) (Depag RI,1978: 375).
d. Untuk menegakkan agama dan tidak terpecah-belah.

(13 :

)...
Artinya: Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu dan apa Jang telah Kami wasiatkan
kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi
orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka
kepadanya..." (QS Asy Syura: 13) (Depag RI,1978: 786).

e. Mengajak dan menuntun ke jalan yang lurus.

(73:

19

Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka ke jalan


yang lurus. (QS. al-Mukminun: 73) (Depag RI,1978: 534).
f. Untuk menghilangkan pagar penghalang sampainya ayat-ayat Allah ke
dalam lubuk hati masyarakat.

(87 :

)
Artinya: Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari
(menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu
diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan)
Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orangorang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. al-Qashshas: 87)
(Depag RI,1978: 612).

2.3. Subjek, Materi, dan Media Dakwah


Unsur-unsur dakwah adalah segala aspek yang ada sangkut pautnya
dengan proses pelaksanaan dakwah, dan sekaligus menyangkut tentang
kelangsungannya (Anshari, 1993: 103). Unsur-unsur tersebut adalah da'i
(pelaku dakwah), mad'u (obyek dakwah), materi dakwah/maddah, waslah
(media dakwah), tharqah (metode), dan atsar (efek dakwah).
Dalam skripsi ini yang penulis kemukakan hanya 3 unsur yang
merupakan bagian dari dakwah.
a. Subjek Dakwah
Subjek dakwah ialah orang yang melakukan dakwah, yaitu orang
yang berusaha mengubah situasi kepada situasi yang sesuai dengan
ketentuan-ketentuan Allah Swt, baik secara individu maupun berbentuk
kelompok (organisasi), sekaligus sebagai pemberi informasi dan
pembawa missi (Anshari, 1993: 105).

20

Kata da'i ini secara umum sering disebut dengan sebutan


mubaligh (orang yang menyampaikan ajaran Islam) namun sebenarnya
sebutan ini konotasinya sangat sempit karena masyarakat umum
cenderung mengartikan sebagai orang yang menyampaikan ajaran Islam
melalui lisan seperti penceramah agama, khatib (orang yang berkhutbah).
Sehubungan dengan hal tersebut terdapat pengertian para pakar
dalam bidang dakwah, yaitu:
1) Hasjmy, juru dakwah adalah para penasihat, para pemimpin dan
pemberi periingatan, yang memberi nasihat dengan baik, yang
mengarang dan berkhutbah, yang memusatkan kegiatan jiwa raganya
dalam wa'ad dan waid (berita pahala dan berita siksa) dan dalam
membicarakan tentang kampung akhirat untuk melepaskan orangorang yang karam dalam gelombang dunia (Hasjmy, 1984: 186).
2) M. Natsir, pembawa dakwah merupakan orang yang memperingatkan
atau memanggil supaya memilih, yaitu memilih jalan yang membawa
pada keuntungan (Natsir, tth: 119).
Dalam kegiatan dakwah peranan da'i sangatlah esensial, sebab
tanpa da'i ajaran Islam hanyalah ideologi yang tidak terwujud dalam
kehidupan masyarakat. "Biar bagaimanapun baiknya ideologi Islam yang
harus disebarkan di masyarakat, ia akan tetap sebagai ide, ia akan tetap
sebagai cita-cita yang tidak terwujud jika tidak ada manusia yang
menyebarkannya" (Ya'qub, 1981: 37).

21

Da'i merupakan orang yang melakukan dakwah, yaitu orang yang


berusaha mengubah situasi yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan
Allah SWT, baik secara individu maupun berbentuk kelompok
(organisasi). Sekaligus sebagai pemberi informasi dan missi. Pada
prinsipnya setiap muslim atau muslimat berkewajiban berdakwah,
melakukan amar maruf nahi munkar. Jadi mustinya setiap muslim itu
hendaknya pula menjadi dai karena sudah menjadi kewajiban baginya.
Sungguhpun demikian, sudah barang tentu tidak mudah
berdakwah dengan baik dan sempurna, karena pengetahuan dan
kesanggupan setiap orang berbeda-beda pula. Namun bagaimanapun,
mereka wajib berdakwah menurut ukuran kesanggupan dan pengetahuan
yang dimilikinya.
Sejalan dengan keterangan tersebut, yang berperan sebagai
muballigh dalam berdakwah dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Secara umum; adalah setiap muslim atau muslimat yang mukallaf,
dimana bagi mereka kewajiban dakwah merupakan suatu yang
melekat tidak terpisahkan dari missionnya sebagai penganut Islam.
2) Secara khusus; adalah mereka yang mengambil keahlian khusus
(mutakhassis) dalam bidang agama Islam yang dikenal dengan ulama
(Tasmara, 1997: 41-42)
Anwar Masy'ari (1993: 15-29) dalam bukunya yang berjudul:
"Butir-Butir Problematika Dakwah Islamiyah" menyatakan, syarat-syarat
seorang da'i harus memiliki keadaan khusus yang merupakan syarat

22

baginya agar dapat mencapai sasaran dan tujuan dakwah dengan sebaikbaiknya.
Syarat-syarat itu ialah:
Pertama, mempunyai pengetahuan agama secara mendalam,
berkemampuan

untuk

memberikan

bimbingan,

pengarahan

dan

keterangan yang memuaskan.


Syarat kedua, yaitu tampak .pada diri da'i keinginan/kegemaran
untuk melaksanakan tugas-tugas dakwah dan penyuluhan semata-mata
untuk mendapatkan keridaan Allah dan demi perjuangan di jalan yang
diridhainya.
Syarat ketiga, harus mempelajari bahasa penduduk dari suatu
negeri, kepada siapa dakwah itu akan dilancarkan. Sebabnya dakwah
baru akan berhasil bilamana da'i memahami dan menguasai prinsipprinsip ajaran Islam dan punya kemampuan untuk menyampaikannya
dengan bahasa lain yang diperlukan, sesuai dengan kemampuannya tadi.
Harus mempelajari jiwa penduduk dan alam lingkungan mereka,
agar kita dapat menggunakan susunan dan gaya bahasa yang dipahami
oleh mereka, dan dengan cara-cara yang berkenan di hati para pendengar.
Sudahlah jelas bahwa untuk setiap sikon ada kata-kata dan ucapan yang
sesuai untuk diucapkan; sebagaimana untuk setiap kala-kata dan ucapan
ada pula sikonnya yang pantas untuk tempat menggunakannya.

23

Syarat keempat, harus memiliki perilaku, tindak tanduk dan


perbuatan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan suri-teladan bagi
orang-orang lain.
Hamka, (1984: 228-233) mengingatkan kepada seorang da'i
tentang delapan perkara sebagai berikut :
1) Hendaklah seorang dai melihat dirinya sendiri apakah niatnya sudah
bulat dalam berdakwah. Kalau kepentingan dakwahnya adalah untuk
kepentingan diri sendiri, popularitas, untuk kemegahan dan pujian
orang, ketahuilah bahwa pekerjaannya itu akan berhenti di tengah
jalan. Karena sudah pasti bahwa di samping orang yang menyukai
akan banyak pula yang tidak menyenangi.
2) Hendaklah seorang dai mengerti benar soal yang akan diucapkannya.
3) Seorang dai harus mempunyai kepribadian yang kuat dan teguh, tidak
mudah terpengaruh oleh pandangan orang banyak ketika memuji,dan
tidak tergoncang, ketika orang-orang melotot karena tidak senang.
Jangan ada cacat pada perangai, meskipun ada cacat jasmani.
4) Pribadinya menarik, lembut tetapi bukan lemah, tawadhu tetapi bukan
rendah diri, pemaaf tetapi disegani.
5) Seorang dai harus mengerti pokok pegangan kita ialah Al Quran dan
As Sunnah, di samping itu pun harus mengerti ilmu jiwa (Ilmu Nafs),
dan mengerti adat-istiadat orang yang hendak didakwahi.

24

6) Jangan membawa sikap pertentangan, jauhkan dari sesuatu yang


membawa perdebatan, sebab hal itu akan membuka masalah
khilafiyah.
7) Haruslah diinsyafi bahwa contoh teladan dalam sikap hidup, jauh lebih
berkesan kepada jiwa umat daripada ucapan yang keluar dari mulut.
8) Hendaklah seorang da'i itu menjaga jangan sampai ada sifat
kekurangan yang akan mengurangi gengsinya dihadapan pengikutnya.
b. Materi Dakwah
Materi dakwah adalah pesan yang disampaikan oleh dai kepada
madu yang mengandung kebenaran dan kebaikan bagi manusia yang
bersumber al-Qur'an dan Hadis. Oleh karena itu membahas maddah
dakwah adalah membahas ajaran Islam itu sendiri, sebab semua ajaran
Islam yang sangat luas, bisa dijadikan sebagai maddah dakwah Islam
(Ali Aziz, 2004: 194)
Materi dakwah, tidak lain adalah al-Islam yang bersumber dari
al-Qur'an dan hadis sebagai sumber utama yang meliputi akidah,
syari'ah dan akhlak dengan berbagai macam cabang ilmu yang
diperoleh darinya (Wardi Bachtiar, 1997: 33). Maddah atau materi
dakwah dapat diklasifikasikan ke dalam tiga masalah pokok, yaitu
sebagai berikut (M.Daud Ali, 2000: 133-135, Asmuni Syukir, 1983: 6063):
1)

Masalah akidah

25

Akidah secara etimologi adalah ikatan, sangkutan. Disebut


demikian karena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan
segala sesuatu. Dalam pengertian teknisnya adalah iman atau
keyakinan. Karena itu akidah Islam ditautkan dengan rukun iman yang
menjadi azas seluruh ajaran Islam.
2)

Masalah syariah
Syariat dalam Islam erat hubunganya dengan amal lahir (nyata)

dalam rangka mentaati semua peraturan atau hukum Allah guna


mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan mengatur pergaulan
hidup manusia dengan manusia. Syariah dibagi menjadi dua bidang,
yaitu ibadah dan muamalah. Ibadah adalah cara manusia berhubungan
dengan Tuhan, sedangkan muamalah adalah ketetapan Allah yang
berlangsung dengan kehidupan sosial manusia. Seperti hukum warisan,
rumah tangga, jual beli, kepemimpinan dan amal-amal lainnya.
3)

Masalah akhlak
Akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang secara etimologi

berati budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Akhlak bisa
berarti positif dan bisa pula negatif. Yang termasuk positif adalah
akhlak yang sifatnya benar, amanah, sabar, dan sifat baik lainnya.
Sedangkan yang negatif adalah akhlak yang sifatnya buruk, seperti
sombong, dendam, dengki dan khianat.

26

Akhlak tidak hanya berhubungan dengan Sang Khalik namun


juga dengan makhluk hidup seperti dengan manusia, hewan dan
tumbuhan.
Sebagai kewajiban dan akhlaq manusia kepada Allah (Ya'qub,
2005: 141-142) ialah:
a. Beriman: Meyakini bahwa Dia sungguh-sungguh ada. Dia memiliki
segala sifat kesempurnaan dan sunyi dari segala sifat kelemahan.
Juga yakin bahwa la sendiri perintahkan untuk diimani, yakni:
Malaikat-Nya, Kitab yang diturunkan-Nya, Rasul dan Nabi-Nya,
Hari kemudian dan Qadla yang telah ditetapkan-Nya.
b. Tha'at: Melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi laranganlarangan-Nya, sebagaimana difirmankan:

(132 :

)
Artinya: Tha'atlah kepada (perintah) Allah dan (perintah) Rasul-Nya
supaya kalian mendapat rahmat. (Q.S. Ali Imran: 132).
Tha'at

ini

juga

dimaksudkan

sebagai

taqwa,

yakni

memelihara diri agar selalu berada pada garis dan jalan-Nya yang
lurus.
c. Ikhlash: Yakni kewajiban manusia beribadah hanya kepada Allah
swt. dengan ikhlash dan pasrah, tidak boleh beribadah kepada apa
dan siapa pun selain kepada-Nya:

(5 :

27

Artinya: Manusia tidak diperintah ibadah melainkan kepada Allah


dengan tulus ikhlash kebaktian semata-mata karena-Nya.
(Q.S. 98 al-Bayyinah: 5).
Dalam Beribadah kepada Allah, caranya wajiblah mengikuti
ketentuan-Nya sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh
Rasul-Nya.
d. Tadlarru' dan Khusyu: Dalam beribadah kepada Allah hendaklah
bersifat sungguh-sungguh, merendahkan diri serta khusyu kepadaNya:

(2-1 :

Artinya: Beruntunglah orang-orang yang beriman. Mereka yang


khusyu' dalam shalatnya. (Q.S. 23 al-Mu'minun: 1-2).

:
(55

)
Artinya: Bermohonlah Kepada Tuhan kalian dengan rendah hati
(tadlarru) dan dengan rahasia (suara hati) sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batas.
(Q.S. 7 al-Araf: 55).
e. Ar-Raja dan ad-Du'a: Manusia harus mempunyai pengharapan (arRaja'= optimisme) bahwa Allah akan memberikan rahmat
kepadanya:

(53 :

)
Artinya; Katakanlah! Hai hambaku yang telah lengah (gegabah) atas
dirinya, janganlah kalian putus harapan dari rahmat Allah.

28

Sesungguhnya Allah dapat mengampunkan semua dosa,


sesungguhnya la Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
(Q.S. 39 az-Zumar: 53).
Dengan sikap ar-Raja ini maka manusia memanjatkan do'a
pengharapan atas rahmat dan istighfar, permohonan diampuni segala
kesalahannya (Ya'qub, 2005: 142).
Akhlak terhadap manusia contohnya akhlak dengan Rasulullah,
orang tua, diri sendiri, keluarga, tetangga, dan masyarakat. (M.Daud
Ali, 1997: 357).
Akhlak terhadap Rasulullah antara lain
1) Mencintai Rasul secara tulus dengan mengikuti semua sunnahnya.
2) Menjadikan Rasul sebagai idola, suri tauladan dalam hidup dan
kehidupan
3) Menjalankan apa yang disuruhnya, tidak melakukan apa yang
dilarang
Akhlak terhadap orang tua antara lain :
1) Mencintai mereka melebihi cinta pada kerabat lainnya
2) Merendahkan diri kepada keduannya
3) Berkomunikasi dengan orang tua dengan hikmat
4) Berbuat baik kepada Bapak Ibu
5) Mendoakan keselamatan dan keampunan bagi mereka
Akhlak terhadap diri sendiri antara lain :
1) Memelihara kesucian diri
2). Menutup aurat

29

3). Jujur dalam perkataan dan perbuatan


4). Ikhlas
5). Sabar
6). Rendah diri
7). Malu melakukan perbuatan jahat
Akhlak terhadap keluarga antara lain:
1) Saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan
keluarga
2) Saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak
3) Berbakti kepada Ibu Bapak
4) Memelihara hubungan silaturahmi
Akhlak terhadap tetangga antara lain :
1) Saling menjunjung
2) Saling bantu diwaktu senang dan susah
3) Saling memberi
4) Saling menghormati
5) Menghindari pertengkaran dan permusuhan
Akhlak terhadap masyarakat antara lain :
1) Memuliakan tamu
2) Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat,
3) Saling menolong dalam melakukan kebajikan dan takwa
4) Menganjurkan anggota masyarakat termasuk diri sendiri berbuat baik
dan mencegah diri sendiri dan orang lain berbuat jahat/mungkar.

30

5) Memberi fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan


kehidupannya.
6) Bermusywarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.
7) Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang
diberikan seseorang atau masyarakat kepada kita.
8) Dan menepati janji.
Akhlak terhadap lingkungan hidup antara lain :
1) Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup
2) Menjaga dan memanfaatkan alam terutama flora dan fauna
3) Sayang pada sesama makhluk.
c. Media Dakwah
Arti istilah media bila ditinjau dari asal katanya (etimologi),
berasal dari bahasa Latin yaitu "median", yang berarti alat perantara.
Sedangkan kata media merupakan jamak daripada kata median tersebut.
Pengertian semantiknya media berarti segala sesuatu yang dapat
dijadikan sebagai alat (perantara) untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Dengan demikian media dakwah, yaitu segala sesuatu yang dapat
dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah
ditentukan (Syukir, 1983: 163).
Untuk menyampaikan ajaran Islam kepada umat, dakwah dapat
menggunakan berbagai wasilah. Ya'qub membagi wasilah dakwah
menjadi lima macam, yaitu lisan, tulisan, lukisan, audio visual, dan
akhlak:

31

1) Lisan, inilah wasilah dakwah yang paling sederhana yang


menggunakan lidah dan suara, dakwah dengan wasilah ini dapat
berbentuk pidato, ceramah, kuliah, bimbingan, penyuluhan, dan
sebagainya.
2) Tulisan, buku majalah, surat kabar, surat menyurat (korespondensi)
spanduk, flash-card, dan sebagainya.
3) Lukisan, gambar, karikatur, dan sebagainya.
4) Audio visual, yaitu alat dakwah yang merangsang indra pendengaran
atau penglihatan dan kedua-duanya, televisi, film, slide, ohap,
internet, dan sebagainya.
5) Akhlak, yaitu perbuatan-perbuatan nyata yang mencerminkan ajaran
Islam dapat dinikmati serta didengarkan oleh mad'u (Ya'qub, 1973:
42-43).
Pada dasarnya dakwah dapat menggunakan berbagai wasilah
yang dapat merangsang indra-indra manusia serta dapat menimbulkan
perhatian untuk menerima dakwah. Semakin tepat dan efektif wasilah
yang dipakai semakin efektif pula upaya pemahaman ajaran Islam pada
masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
Media (terutama media massa) telah meningkatkan intensitas,
kecepatan, dan jangkauan komunikasi dilakukan umat manusia begitu
luas sebelum adanya media massa seperti pers, radio, televisi, internet
dan sebagainya. Bahkan dapat dikatakan alat-alat tersebut telah melekat
tak terpisahkan dengan kehidupan manusia di abad ini.

32

2.4. Generasi Rabbani


Generasi rabbani adalah generasi yang berketuhanan dan bertauhid,
serta di antaranya memiliki sikap tawakkal, sabar dan berpikir positif.
Pengertian ini seringkali diucapkan oleh para dai, di antaranya oleh Jefry
al-Bukhari melalui berbagai media, di antaranya melalui tayangan film dan
televisi.
Jefry al-Bukhari menggunakan media TV dengan alasan lebih simpel
dan praktis. Sebagaimana film, media TV ini juga merupakan media yang
bersifat audiovisual, artinya bisa didengar sekaligus dilihat. Televisi
kebanyakan masyarakat Indonesia dijadikan arena hiburan dan dumber
informasi utama. Di beberapa daerah terutama di Indonesia masyarakat
banyak menghabiskan waktunya untuk melihat televisi. Kalau dakwah Islam
dapat memanfaatkan media ini dengan efektif, maka secara otomatis
jangkauan dakwah akan lebih luas dan kesan keagamaan yang ditimbulkan
akan lebih mendalam (Aziz, 2004: 153).
Sesungguhnya televisi ini adalah merupakan penggabungan antara
radio dan film, sebab media ini dapat meneruskan peristiwa dalam bentuk
gambar hidup dengan suara bahkan dengan warna, ketika peristiwa itu
berlangsung, oleh karena itu kekurangan dalam film mengenai aktualitasnya
dapat ditutupi. Pendek kata keunikan-keunikan pada radio dan film,
mengumpul seluruhnya dalam televisi dan sebaliknya kekurangankekurangan pada radio dan film, pada televisi sudah tidak dijumpai. Kecuali

33

kelebihan-kelebihan yang terdapat dalam surat kabar, atau barang cetak


lainnya, kita tidak dapat jumpai dalam televisi ini (Aziz, 2004: 153).
Saat ini tidak ada satu detik pun yang lewat tanpa tayangan televisi,
baik nasional dan internasional dengan berbagai alat-alat komunikasi yang
canggih, dan tidak ada satu wilayah pun yang bisa dikaver dengan media ini.
Sampai-sampai alat ini telah mengubah dunia yang luas ini menjadi dusun
besar (global village). Namun umat Islam terutama di negara kita belum
maksimal untuk memanfaatkan wasilah ini karena terbentur oleh high cost
yang harus diinventariskan (Aziz, 2004: 154).
2.5. Sabar
Sabar (al-shabru) menurut bahasa adalah menahan diri dari keluh
kesah. Bersabar artinya berupaya sabar. Ada pula al-shibru dengan mengkasrah-kan shad artinya obat yang pahit, yakni sari pepohonan yang pahit.
Menyabarkannya berarti menyuruhnya sabar. Bulan sabar, artinya bulan
puasa. Ada yang berpendapat, "Asal kalimat sabar adalah keras dan kuat. AlShibru tertuju pada obat yang terkenal sangat pahit dan sangat tak enak. Al
Ushmu'i mengatakan, "Jika seorang lelaki menghadapi kesulitan secara
bulat, artinya la menghadapi kesulitan itu secara sabar. Ada pula Al-Shubru
dengan men-dhamah-kan shad, tertuju pada tanah yang subur karena
kerasnya (Jauhari, 2006: 342).
Ada pula yang berpendapat, "Sabar itu diambil dari kata
mengumpulkan, memeluk, atau merangkul. Sebab, orang yang sabar itu
yang merangkul atau memeluk dirinya dari keluh-kesah. Ada pula kata

34

shabrah yang tertuju pada makanan. Pada dasarnya, dalam sabar itu ada tiga
arti, menahan, keras, mengumpulkan, atau merangkul, sedang lawan sabar
adalah keluh-kesah (Jauhari, 2006: 342).
Dari arti-arti yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kesabaran menuntut ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang sulit, berat,
dan pahit, yang harus diterima dan dihadapi dengan penuh tanggung jawab.
Berdasar kesimpulan tersebut, para agamawan menurut M. Quraish Shihab
(2007: 165-166) merumuskan pengertian sabar sebagai "menahan diri atau
membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau
lebih baik (luhur)"
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (2003: 206), sabar artinya
menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh
kesah; menahan anggota tubuh dari kekacauan. Menurut Achmad Mubarok
(2001: 73), pengertian sabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam
menghadapi godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam
rangka mencapai tujuan. Menurut Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari
(2006: 342) bahwa para ulama menyebutkan sejumlah definisi bagi sabar, di
antaranya:
a.
b.
c.
d.
e.

Meneguk cairan pahit tanpa muka mengerut


Diam terhadap musibah,
Berteguh hati atas aturan-aturan Al-Quran dan As-Sunnah,
Tak pernah mengadu,
Tidak ada perbedaan antara sedang nikmat dan sedang diuji meskipun
dua-duanya mengandung bahaya.

35

Dengan demikian menurut Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari,


(2006: 343) sabar adalah "Bertahan diri untuk menjalankan berbagai
ketaatan, menjauhi larangan dan menghadapi berbagai ujian dengan rela dan
pasrah. Ash Shabur (Yang Mahasabar) juga merupakan salah satu asma'ul
husna Allah SWT., yakni yang tak tergesa-gesa melakukan tindakan
sebelum waktunya".
Dalam agama, sabar merupakan satu di antara stasiun-stasiun
(maqamat) agama, dan satu anak tangga dari tangga seorang salik dalam
mendekatkan diri kepada Allah. Struktur maqamat agama terdiri dari (1)
Pengetahuan (ma'arif) yang dapat dimisalkan sebagai pohon, (2) sikap
(ahwal) yang dapat dimisalkan sebagai cabangnya, dan (3) perbuatan (amal)
yang dapat dimisalkan sebagai buahnya. Seseorang bisa bersabar jika dalam
dirinya sudah terstruktur maqamat itu. Sabar bisa bersifat fisik, bisa juga
bersifat psikis.
Karena sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, maka
nama sabar berbeda-beda tergantung obyeknya.
1. Ketabahan menghadapi musibah, disebut sabar, kebalikannya adalah
gelisah (jaza') dan keluh kesah (hala').
2. Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat disebut, mampu
menahan diri (dlobith an nafs), kebalikannya adalah tidak tahanan
(bathar).
3. Kesabaran dalam peperangan disebut pemberani, kebalikannya disebut
pengecut
4. Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya
disebut pemarah (tazammur).
5. Kesabaran dalam menghadapi bencana yang mencekam disebut
lapang dada, kebalikannya disebut sempit dadanya.
6. Kesabaran dalam mendengar gossip disebut mampu menyembunyikan
rahasia (katum),

36

7. Kesabaran terhadap kemewahan disebut zuhud, kebalikannya disebut


serakah, loba (al hirsh).
8. Kesabaran dalam menerima yang sedikit disebut kaya hati (qana'ah),
kebalikannya disebut tamak, rakus {syarahun) (Mubarok , 2001: 7374).

Terlepas dari beragam pandangan tentang maqam shabr, pada


dasarnya kesabaran adalah wujud dari konsistensi diri seseorang untuk
memegang prinsip yang telah dipegangi sebelumnya (Muhammad, 2002:
44). Atas dasar itu maka al-Quran mengajak kaum muslimin agar berhias
diri dengan kesabaran. Sebab, kesabaran mempunyai faedah yang besar
dalam membina jiwa, memantapkan kepribadian, meningkatkan kekuatan
manusia dalam menahan penderitaan, memperbaharui kekuatan manusia
dalam menghadapi berbagai problem hidup, beban hidup, musibah, dan
bencana, serta menggerakkan kesanggupannya untuk terus-menerus berjihad
dalam rangka meninggikan kalimah Allah .SWT
2.6. Berpikir Positif
Berpikir berarti meletakkan hubungan antarbagian pengetahuan yang
diperoleh manusia. Yang dimaksud pengetahuan di sini mencakup segala
konsep, gagasan, dan pengertian yang telah dimiliki atau diperoleh manusia
oleh manusia (Soemanto, 2006: 31). Dalam berpikir terlibat semua proses
yang disebut sensasi, persepsi dan memori (Rakhmat, 2009: 67).
Berpikir berhubungan dengan masalah akal, dalam al-Quran
terdapat 49 kata yang muncul secara variatif dari kata dasar aql. Yaitu
aqala sekali, taqilun 24 kali, naqilu sekali, yaqiluha sekali, dan yaqilun
22 kali (Bqy, 1981: 468-469). Pandangan yang sama dikemukakan

37

Qardhawi (2004: 19), materi aql dalam al-Qur'an terulang 49 kali. Kecuali
satu, semuanya datang dalam bentuk fi'il mudhri', terutama materi yang
bersambung dengan wawu jama'ah seperti bentuk ta'qilun atau ya'qilun.
Menurut Shihab (2003: 294-295), kata 'aql (akal) tidak ditemukan
dalam Al-Quran, yang ada adalah bentuk kata kerjamasa kini, dan
lampau. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti tali pengikat,
penghalang. Al-Quran menggunakannya bagi "sesuatu yang mengikat atau
menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa." Apakah
sesuatu itu? Al-Quran tidak menjelaskannya secara eksplisit, namun dari
konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata 'aql dapat dipahami bahwa
ia antara lain adalah:
a. Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firmanNya:

:
(43

)
"Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan
kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orangorang alim (berpengetahuan)".
b. Dorongan moral, seperti firman-Nya,

...
:
)
(151
"... dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik
yang nampak atau tersembunyi, dan jangan kamu membunuh jiwa
yang diharamkan Allah dengan sebab yang benar. Demikian itu
diwasiatkan Tuhan kepadamu, semoga kamu. memiliki dorongan
moral untuk meninggalkannya".

38

c. Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah


Bagaimanapun kata aqala mengandung arti mengerti, memahami
dan berpikir (Nasution, 2005: 7). Berangkat dari uraian di atas, menurut ElBahdal (2010: 41): Pikiran/berpikir positif adalah potensi dasar yang
mendorong manusia untuk berbuat dan bekerja dengan menginvestasikan
seluruh kemampuan kemanusiaannya. Berpikir positif akan membuat hidup
seseorang menjadi lebih baik. Itulah pikiran yang membantu seseorang
dalam mengembangkan akal, perasaan, dan perilakunya menjadi lebih baik.
Itulah pikiran yang dapat menyingkap kekuatan tersembunyi pada manusia
dan mengubah kehidupannya menjadi lebih berkualitas (El-Bahdal, 2010:
41).
Sebaliknya pikiran/berpikir negatif adalah sekumpulan pikiran salah
yang menghambat langkah kita menuju kondisi yang lebih baik dan
membuat perilaku kita tidak terarah. Pikiran negatif membuat kita menjadi
manusia-manusia yang tidak mampu: tidak mampu karena lemah atau tidak
mampu karena merasa tidak berhak untuk sukses (El-Bahdal, 2010: 42).
Menurut Abduh (2010: 1) berpikir positif adalah menggunakan
kinerja otak kita untuk memikirkan hal-hal yang positif. Langkah ini tak
ubahnya seperti "meng-install otak dengan file-file dan program-program
yang positif. Ketika ini sudah menjadi sebuah kebiasaan maka dengan
sendirinya otak akan menyuguhkan perintah, ide, dan renungan-renungan
positif atas segala sendi kehidupan yang kita jalani.

39

Dalam kitab al-Khawaathir (mind) karya Syaikh Mutawalli Sya'rawi


disebutkan bahwa pikiran adalah keistimewaan yang dipakai manusia untuk
memilih sesuatu dari beberapa alternatif dan menentukan pilihan pada hal
yang menguntungkan masa depan diri dan keluarganya. Dalam buku What
People Think Will be Acquired, James Alien menulis bahwa adanya
pemikiran pada manusia membuatnya mampu menentukan pilihan dalam
hidup. Dalam ilmu psikologi sosial, para ilmuwan sepakat bahwa
kemampuan berpikir yang ada pada manusia telah menjadikannya sebagai
makhluk paling spesial. Kemampuan itu sebagai pembeda antara manusia
dengan binatang, tumbuhan, dan benda mati. Kemampuan berpikir pula
yang membuat seseorang bisa membedakan mana yang berguna atau
merugikan dirinya, mana yang halal dan mana yang haram, dan mana yang
mungkin dicapai dan mana pula yang tak mungkin diraihnya. Dengan
adanya pikiran, manusia mampu memilih hal yang sesuai dengan dirinya
dan memungkinkan baginya untuk diraih (Al-Faqi, 2009: 1).
Lalu, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan hal-hal positif?
Secara teoritis banyak definisi yang bisa diajukan sebagai konsep terkait hal
positif. Namun, secara praktis, yang disebut dengan hal positif adalah setiap
pemikiran, ide, sikap, tindakan atau perbuatan yang mampu mengarahkan
dan mendekatkan diri kepada fitrah kemanusiaan kita yang suci. Melangkah
lebih dekat menuju realitas tertinggi (Allah Swt) dengan amalan-amalan
yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dari sinilah
terlihat jelas konsep kebermanfaatan manusia secara positif. Singkatnya,

40

setiap yang bermanfaat merupakan perwujudan dari gerak ide maupun


perbuatan positif (Abduh, 2010: 1).
Berpikir positif dengan sendirinya juga mengerdilkan untuk tidak
menyebut membunuh potensi keburukan yang ditimbulkan oleh bisikan
nafsu jahat manusia yang bisa menjurus pada fasad (kerusakan), baik dalam
skala makro maupun mikro.

41

BAB III
PESAN DAKWAH USTADZ JEFRI AL-BUKHORI
TENTANG GENERASI RABBANI DI TV ONE

3.1. Biografi
Ustadz Jefri al-Bukhori lahir di Jakarta, 12 April 1973, yang akrab
dipanggil "Uje". Ayahnya bernama H. Ismail Modal (alm) dan ibunya Ustz
Dra. Hj. Tatu Mulyana. Dia anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak
pertamanya bernama Ustd H. Abdullah Riyad (almarhum), kakak keduanya
bernama Ustd H. Aswan Faisal. Adik pertamanya adalah H. Decky Fajar,
dan adiknya yang kedua bernama Ustd H. Nona.
Pada tanggal 7 September 1999, ia menikah dengan Pipik Dian
Irawati. Dari pernikahannya itu, ia dikarunia dua orang anak yang bernama
Adiba Khanza Az-Zahra dan Mohammad Abizar Al-Ghifari. Sejak kecil ia
sudah belajar Al-Qur'an. Tidak mengherankan, ketika ia duduk di bangku
SD, ia telah memperoleh beberapa prestasi di dalam MTQ (Musabaqah
Tilawatil Qur'an). Meskipun demikian, sebenarnya ia pernah memiliki dua
sisi kepribadian yang berbeda. Di satu sisi, ia adalah seorang anak yang rajin
mengaji, di sisi lain seorang pemabuk dan pecandu narkoba yang menyukai
kehidupan malam (http://www. Ust. Jefri .com .my) Kemudian tahun 1991,
ia menjadi anggota dancer salah satu club malam. Pernah juga bermain di
dalam sebuah sinetron (Sayap Patah) di stasiun TVRI; yang membawanya
terpilih menjadi aktor terbaik di dalam sinetron tersebut.

41

42

Pengalaman baiknya menjadi muslim yang shaleh terjadi ketika


diajak umroh oleh ibu dan kakaknya. Setelah ia bertobat, ia diminta untuk
memberikan dakwah-dakwah di daerah Jakarta oleh ustd Abdulah Riyad
(kakaknya), yang kebetulan waktu itu dipercaya MUIS (Majelis Ugame
Islam Singapore) untuk menjadi Imam besar di Masjid Haji Mohammad
Soleh. Dari dakwah-dakwahnya itu, akhirnya ia dikenal oleh kalangan luas.
la sering disebut sebagai "Ustadz Gaul" karena sering menggunakan bahasabahasa gaul untuk menyapa anak muda, seperti halo choi, hallo friend, dan
sebagainya. la pandai melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an serta membuat
contoh-contoh kisah menarik yang aktual bagi kaum muda.
Meskipun tidak sempat menyelesaikan pendidikan perguruan
tingginya, ustadz muda yang sedang naik daun ini tidak pernah berhenti
"memperkaya diri" dengan ilmu-ilmu agama, karena baginya belajar adalah
sepanjang hayat masih dikandung badan. Bakat sebagai penceramah
mengalir deras dari ibunya ustazah Hj. Tatu Mulyana Ismail. Karenanya
ustadz muda yang sempat mencicipi 'nikmat semu' dunia narkoba ini
mencurahkan sebagian

besar waktunya untuk aktivitas dakwah, dalam

beberapa tahun belakangan ini. Tidak hanya menyampaikan ceramah di


berbagai majelis ta'lim, ia juga aktif

menyampaikan materi dakwah di

berbagai stasiun TV swasta, seperti ANTEVE, TPI, RCTI, TRANSTV,


LATIVI, dan lain-lain (http://www. Ust. Jefri .com .my).
Suami dari Pipik Dian Irawati ini lebih memfokuskan bidikan
dakwahnya untuk kalangan remaja. Karena dalam pandangan ayah dari

43

Adiba Khanza az-Zahra dan Mohammad Abidzar al-Ghifari ini, remaja


adalah generasi masa depan yang sangat berperan dalam mewujudkan maju
dan mundurnya bangsa ini (http://www. Ust. Jefri .com .my).
3.2. Pendidikan
Pendidikan Jefry di mulai dengan mengikuti sekolah dasar. Ketika
ia duduk di bangku SD, ia telah memperoleh beberapa prestasi di dalam
MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an). Pendidikan selanjutnya adalah Sekolah
Menengah Atas, sambil mondok di beberapa pesantren. Ia pernah pesantren
di Santi Asromo Majalengka yang dikelola oleh K.H. Abdul Khaer, cucu
K.H. Abdul Halim (Pendiri Santi Asromo) (Jawa Barat), Babakan
Ciwaringin Cirebon yang diasuh K.H. Fuad Amin, Pesantren Cipari Garut
yang dikelola K.H. Bunyamin Syamuddin (alumnus al-Azhar).
3.3. Karya-Karya
Puncak karier sang ustadz kondang ini memang cukup luar biasa.
Dalam waktu tidak terlalu lama, ustadz bernama lengkap Jeffi Al Buchori
telah menghiasi kaca televisi. Modal ini telah meluncurkan album berisi
lagu-lagu religius yang diberi tajuk Lahir Kembali. Sebelumnya, ia juga
meluncurkan paket album. Kali ini memang bukan berisi lagu-lagu dari
suaranya yang merdu, melainkan berisi kisah perjalanan hidupnya yang
sungguh dahsyat, penuh gejolak, dan tikungan tajam, serta proses pergulatan
yang luar biasa dialami sampai ia menemukan kembali kehidupan yang
tenang dan menenteramkan. Kisah hidupnya itu dikemas dalam paket

44

Perjalanan Hidup Jeffry Al Buchori, baik berupa kaset, CD, maupun VCD.
Masih ditambah sebuah VCD berupa tuntunan shalat bagi para pemula.
Sebelumnya memang sudah banyak yang memintanya untuk
menyinetronkan kisah hidupnya, tapi selama itu pula ia selalu menolak.
Setelah ada ajakan dari Akurama Record, baru ia tertarik untuk merekam
perjalanan hidupnya. Ia berharap bahwa dengan mengungkap kisah
perjalanan hidupnya bisa menjadi madrasah, bukan hanya untuk dirinya,
tetapi juga untuk mereka yang memang membeli kaset atau CD tersebut
bagi yang ingin mengetahui kisah hidupnya," tutur Jeffry. la sendiri
mengaku, sebetulnya tidak ingin lagi bercerita mengenai masa lalunya.
"Maklum, sangat kelam. Tapi kalau memang ada gunanya bagi pembaca, ia
tidak keberatan membaginya. Sekali lagi, semoga bisa menjadi madrasah
bagi siapa pun, demikian tutur ustadz Jefry. Bagi sang ustadz, masa lalunya
itu adalah madrasah baginya," tutur bapak dua anak itu. Jeffry lalu bercerita
panjang lebar mengenai masa lalunya dalam kaset atau VCD tersebut.
Beberapa karya tulis yang dipublikasikan di antaranya: Remaja
Mencari Tuhan; Senandung Cinta; Panduan Menjadi Remaja yang Berbudi
dan Berprestasi; Ada Apa dengan Wanita; Sekuntum Mawar Untuk Remaja.
3.4. Pesan Dakwah Ustadz Jefri al-Bukhari tentang Generasi Rabbani di TV
One
Di antara sekian banyak pesan dakwahnya, maka pesan dakwah
tentang generasi rabbani menjadi obyek penelitian ini. Dalam pandangan
Jefri bahwa generasi rabbani yaitu generasi berketuhanan dan beriman yang

45

dalam kehidupannya 1) mampu menjaga kemaluan; 2) bersikap tawakkal; 3)


sabar; 4) berpikir positif. Penegasan ini ia sampaikan dalam ceramahnya di
TV One didukung hasil wawancara.
a. Mampu Menjaga Kemaluan
Suami dari Pipik Dian Irawati ini lebih memfokuskan bidikan
dakwahnya untuk kalangan remaja. Karena dalam pandangan ayah dari
Adiba Khanza az-Zahra dan Mohammad Abidzar al-Ghifari ini, remaja
adalah generasi masa depan yang sangat berperan dalam mewujudkan maju
dan mundurnya bangsa ini. Karena itu tidak heran jika dalam dakwahnya
lebih banyak mengemukakan persoalan pergaulan remaja yang cenderung
mengarah pada seks bebas, hal itu dapat disimak antara lain dalam pesan
dakwahnya yang berjudul Generasi Rabbani
Menurut Jefri al-Bukhari salah satu perkembangan baru pada usia
remaja yang perlu diperhatikan adalah mulai timbulnya rasa senang atau
ketertarikan pada lawan jenis. Bahkan rasa ketertarikan itu tidak sebatas
senang memandang atau senang bercengkerama dengan lawan jenis
melainkan juga, seiring pertumbuhan fisik yang mulai sempurna dan organorgan seks mulai berfungsi, timbul keinginan pada remaja untuk melepaskan
hasrat seksual (CD/DVD dakwah Ustadz Jefri Al-Bukhori).
Berkait dengan organ seks yang mulai berfungsi dan keinginan
untuk melepaskan hasrat seksnya, remaja berada pada persimpangan jalan
yang berbahaya. Jika remaja tidak dapat mengendalikan emosinya, ia akan
terjebak pada penyaluran hasrat seks secara tidak benar. Akibatnya di

46

samping ia melakukan pelanggaran norma-norma agama dan etika, ia juga


menderita secara kejiwaan, bahkan ada sebagian harus meninggalkan
bangku sekolah. Pada kasus yang terakhir ini, tentu sangat merugikan masa
depannya.
Namun demikian menurut Jefri al-Bukhari, fenomena penyaluran
hasrat seksual secara bebas di kalangan remaja disinyalir sangat besar. Hal
ini sebagaimana laporan dari berbagai lembaga survei independen atau
beberapa kasus yang dapat disaksikan langsung. Misalnya hasil polling
yang dilakukan oleh "Sahabat Anak Remaja (Sahara) Indonesia
Foundation" menghasilkan sedikitnya 38.288 remaja di Kabupaten Bandung
diduga pernah berhubungan intim di luar nikah atau melakukan seks bebas.
Berdasarkan hasil polling lewat telefon sebetulnya 20% dari 1.000 remaja
pernah melakukan seks bebas. Hasil itu terjadi pada remaja di daerah
perkotaan seperti Soreang, Banjaran dan lain-lain. Setelah dikaitkan dengan
kenyataan dan bahkan banyak remaja yang tinggal di pedesaan diperkirakan
5% sampai 7% remaja di Kab. Bandung telah melakukan seks bebas.
Jumlah remaja di Kab. Bandung sebanyak 765.762, jadi remaja yang
melakukan seks bebas

antara 38.288 hingga 53.603 orang. Dari hasil

polling juga diketahui, dari sekitar 200 remaja yang melakukan seks bebas
50% atau 100 remaja itu

hamil (CD/DVD dakwah Ustadz Jefri Al-

Bukhori).
Kota Yogya juga pernah digegerkan hasil penelitian seks pranikah
suatu lembaga di kota itu yang menyatakan 97,05% mahasiswi dari 1.660

47

responden telah melakukan hubungan seks pranikah. Kemudian penelitian


Pusat Penelitian Kependudukan, UGM (1991) pada remaja berumur 14-24
tahun di Manado, mengungkapkan laki-laki 151

orang dan 146 orang

perempuan terbukti 26,6% melakukan perilaku seks pranikah. Penelitian


lain dilakukan oleh Lembaga Konselor Sahabat Remaja di Medan yang
melaporkan data tahun 1990 ada 80 remaja usia 14-24 tahun hamil sebelum
menikah.

Hasil penelitian ini sangat mengejutkan, kenapa remaja yang

hidup di negeri yang sangat agamis berperilaku seperti di negeri tanpa


agama? Apa sesungguhnya yang terjadi pada remaja? Padahal perzinahan
merupakan perbuatan yang sangat keji dan harus dihindari oleh setiap
muslim (al-Bukhori, 2007: 3) sebagaimana firman Allah:

(32 :

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (OS. AlIsra': 32) (Depag RI, 1989 : 430).
Larangan zina dalam ayat di atas sangat tegas, bahkan Allah
melarangnya dengan kalimat "janganlah kalian dekati zina". Larangan ini
menurut Jefri al-Bukhari mengandung arti, zina merupakan perbuatan yang
sangat keji dan akan mendatangkan madharat karena itu harus dijauhi
sejauh-jauhnya, tidak saja zinanya tetapi juga semua perbuatan yang
mengarah kepada zina. Sangat masuk akal, apabila larangan zina dengan
redaksi seperti itu, karena zina merupakan perbuatan yang sangat sulit
dijauhi apabila seseorang memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Mungkin orang bisa kuat untuk menahan dirinya agar tidak mencuri, tidak

48

menzalimi orang lain, tidak berkata dusta dan lain sebagainya. Tetapi untuk
tidak berzina manakala ia memiliki kesempatan adalah perjuangan yang
sangat keras. Karena itu, banyak orang-orang besar yang jatuh harga dirinya
disebabkan melakukan zina, padahal mereka dikenal masyarakat sebagai
orang yang sudah bagus keimanannya bahkan rukun Islam yang lima sudah
dijalani semua. Demikian juga banyak kalangan remaja yang semestinya
masih menekuni bangku sekolah, gagal di tengah jalan akibat perzinahan
(al-Bukhori, 2006: 4).
Hal ini terjadi karena zina sangat berkait dengan kebutuhan manusia
yang paling mendasar yang sudah berkolaborasi sangat kuat dengan nafsu
manusia. Padahal nafsu senantiasa mengajak manusia kepada kejelekan.
Allah SWT berfirman:

(53 :)
Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (OS. Yusuf:
53) (Depag RI, 1989 : 360).
Karena itu, Allah melarang zina tidak langsung pada perbuatannya,
tetapi justru melarang semua perbuatan yang dapat menyebabkan zina.
Secara logika dapat dikatakan jika perbuatan yang dapat mengarahkan
kepada zina saja dilarang apalagi perbuatan zinanya. Maka sangat tidak
berdasar orang-orang yang mengatakan, "Yang dilarang bukan zinanya,
tetapi perbuatan yang mendahului zina." Ungkapan ini diucapkan oleh

49

orang-orang yang mencari celah untuk melakukan perzinahan, hal tersebut


dapat dilihat dalam bukunya (al-Bukhori, 2006: 4).
Menurut Jefri al-Bukhari, Islam tidak hanya melarang perzinahan,
tetapi juga memberikan sangsi keras terhadap para pezina (al-Bukhori,
2006: 5). Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah berikut:

(2 :

)
Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah
tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah
belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk
(menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah,
dan ban akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka
disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (OS.
An-Nur: 2) (Depag RI, 1989: 543)
Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa hukuman bagi pezina baik
laki-laki maupun perempuan adalah dijilid 100 kali di hadapan orang
banyak. Dalam suatu hadis ditambahkan selain dijilid 100 kali, pezina juga
setelah dijilid harus diasingkan selama 1 tahun. Bahkan bagi pezina yang
sudah menikah hukumannya dirajam, yaitu setengah badannya dipendam
lalu dilempari batu sampai meninggal.
Demikian tegas larangan dan ancaman terhadap para pelaku zina
dalam Islam. Namun sayangnya masih banyak kalangan remaja yang tidak
mengindahkannya. Padahal akibat perzinahan sangat merugikan baik di
dunia maupun di akhirat.

50

Menurut Jefri al-Bukhari (2006: 6), ada beberapa sebab yang


menjadikan remaja sangat mudah terjebak dalam perzinahan, di antaranya:
1) Tidak memiliki pemikiran yang panjang
Dorongan seksual yang sedang bergolak di kalangan remaja
seringkali menyebabkan remaja tidak memiliki pemikiran yang panjang.
Remaja lebih memilih melampiaskan hasratnya ketimbang memikirkan
dampak negatifnya. Padahal akibat dari kenikmatan sesaat itu
menyebabkan dirinya menderita selama-lamanya, terutama pada remaja
perempuan apabila sampai hamil.
Derita remaja perempuan ketika hamil akibat seks bebas dua kali
lebih berat bahkan mungkin sepuluh kali lebih berat dibandingkan yang
dialami remaja laki-laki. Sebab remaja perempuan di samping harus
menanggung malu kepada keluarga dan masyarakatnya, kehilangan masa
depannya karena biasanya menyebabkan putus sekolah, kerepotan
mengurus anak pada umur yang masih belia tanpa adanya seorang ayah
di

sampingnya,

juga

ia

harus

tetap

mempertanggungjawabkan

perbuatannya di hadapan Allah di hari perhitungan nanti. Sedangkan


derita remaja laki-laki lebih bersifat ukhrawi, itupun kalau ia tidak
bertaubat.

Sebab

kaum

laki-laki

tidak

mengandung,

sehingga

sungguhpun telah melakukan zina tidak diketahui oleh masyarakat (alBukhori, 2006: 6).
Karena itu, seharusnya remaja puteri memiliki pemikiran yang
lebih panjang agar tidak terjerumus kepada seks bebas atau perzinaan.

51

Insya Allah jika remaja puteri dapat tahan terhadap godaan, maka
perzinahan tidak akan terjadi dan masa depan dapat terselamatkan.
Demikian juga remaja putera, jangan mentang-mentang karena tidak
memiliki risiko dunia, lalu dengan seenaknya mengumbar nafsu. Ingat
tidak semua taubat manusia diterima dan azab Allah di akhirat sangat
pedih.
2) Tidak merasa diawasi
Ketika sedang berduaan dengan sang kekasih biasanya remaja
merasa seakan dunia ini hanya milik berdua. Sehingga ia melakukan apa
saja yang disebutnya sebagai perwujudan kasih sayang kepada
kekasihnya. la tidak ingat saat sendirian, sebenarnya berduaan, saat
berdua sebenarnya bertiga, saat bertiga sebenarnya berempat, dan
seterusnya. Sebagaimana firman Allah: yang artinya: "Tidakkah kamu
perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga
orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan
antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula)
pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak,
melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada.
Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa
yang telah mereka kerjakan (al-Bukhori, 2006: 7). Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS. Al-Mujadilah: 7).

52

Menurut Jefri al-Bukhari, hilangnya perasaan "merasa diawasi"


inilah salah satu yang menyebabkan remaja sangat mudah melakukan
perzinahan. Padahal tidak ada ruang di dunia ini yang terlepas dari
pengawasan Allah SWT. Allah Maha Tahu dan Allah tidak pernah tidur
ataupun lengah dalam mengawasi apa yang terjadi pada alam semesta ini.
Karena itu, silakan berzina asal Allah tidak tahu (al-Bukhori, 2006: 7).
3) Pergaulan bebas
Pergaulan bebas antara remaja yang berlawanan jenis sangat
memicu terjadinya perzinahan. Bagaimana tidak, jika mereka selalu
dengan lawan jenisnya, terutama pada tempat-tempat yang tidak ada
pengawasan orang lain, tentu mereka akan melakukan perzinahan. Sebab
saat itu gelora nafsunya muncul dan suasananya memungkinkan untuk
melakukannya. Sementara mereka tidak memiliki pemikiran yang
panjang serta tidak memiliki perasaan merasa diawasi. Karena itu, Allah
melarang perbuatan yang dapat menyebabkan terjadinya zina. Pergaulan
bebas adalah tangga yang akan mengantarkan kepada perzinahan (alBukhori, 2006: 8).
Menurut Jefri al-Bukhari, seks sebenarnya anugerah yang
diberikan Allah pada makhluk-makhluk-Nya seperti binatang, tumbuhtumbuhan dan khususnya manusia. Karena itu amat wajar kalau manusia
memiliki gairah seksual dan ingin melampiaskan keinginan seksualnya.
Allah SWT sendiri tidak pernah melarang manusia untuk melampiaskan
keinginan seksualnya selama menempuh jalur yang dibenarkan, cara-cara

53

yang benar dan pada saat yang tidak terlarang. Ketentuan ini
diberlakukan untuk kepentingan manusia juga. Jalur yang dibenarkan
Allah bagi manusia untuk melampiaskan keinginan seksnya itu adalah
jalur pernikahan. Ini berarti orang yang belum menikah jangan coba-coba
melampiaskan keinginan seksualnya. Tapi keinginan atau hawa nafsu itu
tetap tidak boleh dibunuh, hanya harus dikendalikan agar manusia tidak
dikendalikan oleh hawa nafsunya sendiri.
Khususnya bagi remaja, gairah seksual yang mulai tumbuh dalam
dirinya harus dapat dikendalikan. Remaja harus mampu mendahulukan
kepentingan yang lebih berjangka panjang. Yaitu mempersiapkan diri
untuk

menghadapi

masa

depan.

Memang,

Allah

SWT

telah

mensyariatkan pernikahan sebagai jalan halal untuk melampiaskan hasrat


seksual, namun bagi remaja sebaiknya tidak terburu-buru untuk
melakukannya. Karena perkawinan tidak sekedar masalah seksualitas,
tetapi juga

pembinaan keluarga

yang menyangkut

penafkahan,

pemeliharaan anak dan lain-lain (al-Bukhori, 2006: 10).


Sementara kebanyakan remaja belum memiliki kemampuan untuk
memberikan nafkah dan kedewasaan untuk membina keluarga. Karena
itu, untuk mengatasi keinginan seksualitas yang mulai muncul pada
remaja, sebaiknya remaja disibukkan dengan berbagai kegiatan yang
menunjang masa depannya, seperti giat belajar, rajin mengikuti kegiatan
keagamaan, berolah raga, bermain musik, mengikuti kursus-kursus, dan

54

lain sebagainya. Dengan cara demikian seorang remaja akan mampu


mengatasi gejolak seksualnya.
Menurut Jefri al-Bukhari, istilah pacaran tidak bisa lepas dari
remaja, karena salah satu ciri remaja yang menonjol adalah adanya rasa
senang kepada lawan jenis disertai keinginan untuk memiliki. Pada masa
ini, seorang remaja biasanya mulai 'naksir' lawan jenisnya. Lalu ia
berupaya melakukan pendekatan untuk mendapatkan kesempatan
mengungkapkan isi hatinya. Setelah pendekatannya berhasil dan gayung
bersambut, lalu keduanya mulai berpacaran.
Pacaran dapat diartikan bermacam-macam, tetapi intinya adalah
jalinan cinta antara seorang remaja dengan lawan jenisnya. Praktik
pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar berkirim surat,
telepon, menjemput, mengantar atau menemani pergi ke suatu tempat,
apel, sampai ada yang layaknya pasangan suami istri.
Menurut Jefri al-Bukhari (2006: 12), di kalangan remaja sekarang
ini, pacaran menjadi identitas yang sangat dibanggakan. Biasanya
seorang remaja akan bangga dan percaya diri jika sudah memiliki pacar.
Sebaliknya remaja yang belum memiliki pacar dianggap kurang gaul.
Karena itu, mencari pacar di kalangan remaja tidak saja menjadi
kebutuhan biologis tetapi juga menjadi kebutuhan sosiologis. Maka tidak
heran, kalau sekarang mayoritas remaja sudah memiliki teman spesial
yang disebut "pacar". Lalu bagaimana pacaran dalam pandangan Islam?

55

Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Untuk


istilah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pranikah,
Islam mengenalkan istilah "khitbah" (meminang). Ketika seorang lakilaki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya
dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa
khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturanaturan

yang

telah

ditetapkan

oleh

Islam,

seperti

berduaan,

memperbincangkan aurat, menyentuh, mencium, memandangi dengan


nafsu, dan melakukan hubungan selayaknya suami istri.
Ada perbedaan yang mencolok antara pacaran dengan khitbah.
Pacaran tidak berkaitan dengan perencanaan pernikahan, sedangkan
khitbah merupakan tahapan untuk menuju pernikahan. Persamaannya
keduanya merupakan hubungan percintaan antara dua insan berlainan
jenis yang tidak dalam ikatan perkawinan.
Dari sisi persamaannya, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan
antara pacaran dan khitbah. Keduanya akan terkait dengan bagaimana
orang mempraktikkannya. Jika selama masa khitbah, pergaulan antara
laki-laki dan perempuan melanggar batas-batas yang telah ditentukan
Islam, maka itu pun haram. Demikian juga pacaran, jika orang dalam
berpacarannya melakukan hal-hal yang dilarang oleh Islam, maka hal itu
haram. Jadi sebenarnya yang menjadi pijakan adalah bagaimana
"pacarannya atau bagaimana dalam masa khitbahnya", bukan pada istilah
pacaran atau khitbahnya (al-Bukhori, 2006: 14).

56

Jika seseorang menyatakan cinta pada lawan jenisnya yang tidak


dimaksudkan untuk menikahinya saat itu atau dalam waktu dekat, apakah
hukumnya haram? Tentu tidak, karena rasa cinta adalah fitrah yang
diberikan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya berikut:

: )
(21
Artinya: Dan di antara. tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dan jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. ArRum: 21) (Depag RI, 1989: 647).
Allah telah menjadikan rasa cinta dalam diri manusia baik pada
laki-laki maupun perempuan. Dengan adanya rasa cinta, manusia bisa
hidup berpasang-pasangan. Adanya pernikahan tentu harus didahului rasa
cinta. Seandainya tidak ada cinta, pasti tidak ada orang yang mau
membangun rumah tangga. Seperti halnya hewan, mereka memiliki
instink seksualitas tetapi tidak memiliki rasa cinta, sehingga setiap kali
bisa berganti pasangan. Hewan tidak membangun rumah tangga.
Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan
syariat Islam. Karena tidak ada satu pun ayat atau hadis yang secara
eksplisit atau implisit melarangnya. Islam hanya memberikan batasanbatasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam hubungan laki-laki
dan perempuan yang bukan suami istri (al-Bukhori, 2006: 14).

57

Menurut Jefri al-Bukhari (2006: 14), di antara batasan-batasan


tersebut ialah:
1) Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada zina.
Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu
jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32) Maksud ayat ini, janganlah
kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskan
kamu pada perbuatan zina. Di antara perbuatan tersebut seperti
berdua-duaan dengan lawan jenis di tempat yang sepi, bersentuhan
termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.
2) Tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya.
Rasulullah SAW bersabda, "Lebih baik memegang besi yang
panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan
istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaanya)."
3) Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya
Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahram untuk
berdua-duan. Nabi S.A.W. bersabda, "Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian
dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena
yang ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad) Nabi juga bersabda,
"Jangan sekali-kali salah seorang di antaramu menyendiri dengan
seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya".

58

Dalam hal ini termasuk juga dengan ipar. Ada seorang


Anshar bertanya kepada Nabi, "Bagaimana pendapatmu tentang
ipar?" Nabi menjawab, "Bersendirian dengan ipar sama dengan
menjumpai mati." (HR. Bukhari)
4) Harus menjaga mata atau pandangan
Sebab mata itu kuncinya hati, dan pandangan itu pengutus
fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu
Allah berfirman, "Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah
mereka memalingkan pandangan mereka (dari yang haram) dan
menjaga kehormatan mereka....Dan katakanlah kepada kaum wanita
hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan
menjaga kehormatan mereka..." (OS. An-Nur: 30-31).
Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga
pandangan, tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi
memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu. Kita hanya
dibolehkan memandang lawan jenis seperlunya saja, tidak boleh
berlebihan. Rasulullah bersabda, "Hai Ali! Jangan sampai pandangan
yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada
pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh." (HR. Abu
Daud dan Tirmidzi). Pandangan liar kepada lawan jenis dianggap
Rasulullah sebagai perbuatan zina, "Dua mata itu bisa berzina, dan
berzinanya itu melihat." (HR. Bukhari) Dinamakan berzina karena

59

dalam memandangnya mendatangkan kesenangan seksualitas dengan


jalan yang tidak dibenarkan syari'ah.
5) Menutup aurat
Menurut Jefri al-Bukhari, diwajibkan kepada kaum wanita
untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang
mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam
Hadits dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan
berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak
wangi yang baunya semerbak, memakai make up dan sebagainya,
setiap langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki
yang memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari
kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya
surga (apa lagi masuk surga). Selagi batasan di atas tidak dilanggar,
maka pacaran hukumnya boleh. Tetapi persoalannya mungkinkah
pacaran tanpa berpandang-pandangan, berpegangan, bercanda ria,
berciuman dan lain sebagainya? Kalau mungkin silakan berpacaran,
tetapi kalau tidak mungkin maka jangan sekali-kali berpacaran
karena azab yang pedih siap menanti anda.
Salah satu pembicaraan yang tak kalah pentingnya di
kalangan remaja adalah persoalan romantis. Kata-kata romantis
sungguhpun milik semua kalangan, tetapi kesannya hanya miliki
para remaja. Karena, hampir pada setiap pembicaraan mereka
tentang percintaan, persoalan romantis tidak pernah lepas. Bagi

60

mereka, percintaan yang sukses adalah percintaan yang diiringin


romantisme. Semua remaja berharap percintaan mereka diiringi
romantisme (al-Bukhori, 2006: 17).
Romantis pada umumnya dipahami sebagai suasana yang
penuh kemesraan. Dalam hubungan antara dua insan berlainan jenis,
maka romantis berarti hubungan yang mesra. Di mata remaja,
kemesraan berarti keterpaduan emosional dengan hati sang kekasih
yang diwujudkan dengan berbagai ekspresi. Biasa romantisme
diwujudkan dalam kerinduan yang amat sangat, sanjungansanjungan, sikap sangat memperhatikan, helaian mesra, ciuman, dan
bahkan ada yang sampai melakukan hubungan laksana suami istri.
Remaja biasanya bangga jika pacarannya bisa mencapai
romantisme. Bahkan mereka biasanya mengecam temannya yang
tidak bisa romantis dalam berpacaran dengan mengatakan, "Payah
luh pacarannya kagak romantis, lihat gue dong!" Atau, "Lu pacaran
apa diskusi!" Dan berbagai ucapan lainnya. Seakan-akan kalau
pacaran tidak romantis itu kuno, ndeso dan ketinggalan zaman.
Karena pandangan ini, para remaja berusaha semaksimal mungkin
mencapai romantisme dalam berpacaran, sampai-sampai banyak
terjadi hamil di luar nikah dan aborsi (al-Bukhori, 2006: 18).
Benarkah demikian? Tentu tidak, karena romantisme
semacam itu hanya milik orang-orang yang sudah menjalin
hubungan suami istri. Bagi remaja, romantisme haruslah dipahami

61

sebagai suasana yang saling memberikan kontribusi positif antara


kedua belah pihak. Jika seorang remaja terlanjur sudah memiliki
seseorang yang disebutnya sebagai "kekasih atau pacar", maka
jadikanlah ia sebagai teman yang senantiasa memberikan motivasi
dalam mengejar prestasi dan kemajuan. Hindari banyak pertemuan
dengan sang kekasih apalagi berdua-duaan.
Kekasih atau pacar bagi remaja sebenarnya tidak perlu,
karena justru lebih banyak mendatangkan madharat (kerugian).
Banyak remaja stres karena cinta ditolak atau diputus, bahkan
sampai ada yang depresi dan bunuh diri. Karena kekasih pula banyak
remaja yang melalaikan tugas belajarnya. Mereka terpana dengan
kenikmatan berpacaran dan indahnya bercinta. Sehingga banyak
remaja yang gagal di tengah jalan akibat percintaan. Perjalanan yang
masih panjang disudahinya hanya disebabkan keterpanaan dengan
indahnya asmara (al-Bukhori, 2006: 18).
Mereka menderita kerugian dunia, padahal sebenarnya
mereka mempunyai peluang yang besar untuk memperoleh
keberuntungan dunia. Mereka juga mengalami kerugian akhirat,
karena telah terjerumus dalam kemaksiatan. Pujaannya terhadap
sang kekasih telah membuatnya lupa terhadap Kekasih yang
sesungguhnya. Kekasih yang telah memberikan kepadanya segalagalanya.

62

Menurut Jefri al-Bukhari (2006: 19), kalau kita lebih memilih


kekasih dunia, dan melupakan Kekasih yang sesungguhnya berarti
kita telah membeli dunia dengan akhirat. Padahal dunia harganya
sangat murah, sedangkan akhirat sangat mahal. Kita telah menjual
akhirat kita dengan harga yang sangat murah. Tentu kita tidak akan
beruntung. Allah SWT berfirman:

(86 :

)
Artinya; Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia
dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan
diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan
ditolong. (QS. al-Baqarah: 86) (Depag RI, 1989: 60).

(61 :

)
Artinya: Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan
petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka
dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (OS. AlBaqarah: 16) (Depag RI, 1989: 8).
Jika seorang remaja tidak ingin mengalami kerugian, maka
seharusnya tinggalkan saja kekasih dunianya dan lemparkan jauhjauh namanya pacaran, lalu berkonsentrasilah menata masa depan
dengan belajar giat dan mengembangkan potensi diri. Sebab masa
depan lebih baik dari masa kini. Jika masa kini kita bahagia, tapi di
masa yang akan datang kita bersedih berarti kita adalah orang yang
merugi (al-Bukhori, 2006: 20). Allah berfirman:

63

(4 :

)
Artinya: "Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu dari
permulaan." (OS. Adh-Dhuha: 4) (Depag RI, 1989: 1070).
Jadi sebagai remaja Islam, menurut Jefri al-Bukhari, harus
lebih mementingkan masa depan, karena masa depan lebih baik dari
sekarang. Baik masa depan di dunia maupun masa depan di akhirat.
Agar bisa selamat dari jebakan pacar atau kekasih dunia, maka
remaja harus mencari kekasih yang lain, kekasih yang lebih
memberikan kebahagiaan hakiki. Yaitu kekasih yang telah
menciptakan manusia, menghidupkannya, dan melimpahkan rezekiNya kepada manusia. Dia Allah Swt Tuhan semesta alam.
Menurut Jefri al-Bukhari (2006: 21), seorang remaja tidak
semestinya terlalu terpana dengan keindahan dunia. Justru pada usia
ini seharusnya remaja mendekatkan diri kepada sang Khalik, Tuhan
yang telah menciptakan dan mengatur masa depannya. Karena jika
remaja pada usianya sudah mendekatkan diri kepada Allah, segenap
permintaannya akan dikabulkan dan ia akan memiliki masa depan
yang gemilang. Ketika seorang remaja sudah mendekatkan diri
kepada Allah, maka keinginan-keinginan untuk mencari kekasih
dunia dapat ditahan, sehingga ia dapat berkonsentrasi terhadap
pelajaran sekolah serta kegiatan-kegiatan positif lainnya. Saat temantemannya berbicara mengenai romantisme berpacaran dengan
kekasih dunia, ia pun tidak kalah dapat bercerita tentang
romantismenya bercinta dengan Kekasih hakiki, Allah SWT.

64

Menurut Jefri al-Bukhari (2006: 21), barangkali ada di antara


kita yang meragukan, apakah mungkin bercinta dengan kekasih yang
tidak kasat mata, yang tidak bersama kita dan yang tidak bisa kita
kunjungi ? Sangat mungkin, karena justru bercinta dengan Kekasih
hakiki, kita akan senantiasa melihat-Nya dengan menyaksikan
segenap ciptaan-Nya yang agung, kita juga akan senantiasa bersamaNya, bahkan setiap saat kita bisa datang kepada-Nya tanpa melalui
perantara dan izin siapapun.
Allah telah berfirman:

(190 :

)
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal. (OS. Ali Imran: 190) (Depag
RI, 1989: 90).

(194 :

)
Artinya: Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah
beserta orang-orang yang bertakwa. (OS. Al-Baqarah: 194)
(Depag RI, 1989: 67).

(115 :

)
Artinya: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke
manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha
Mengetahui. (OS. Al-Baqarah: 115) (Depag RI, 1989: 54).

65

b. Bersikap Tawakkal
Seorang yang bertawakal, hatinya menjadi tenteram, karena yakin
akan keadilan dan rahmat-Nya, oleh karena itu, Islam menetapkan iman
harus diikuti dengan sifat tawakal sebagaimana Firman Allah:

(23 :

Artinya: Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kamu bertawakal, jika


kamu benar-benar orang yang beriman (QS. al-Maidah: 23)

(13 :

Artinya: Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang
mu'min bertawakkal kepada Allah saja. (QS. al-Taghabun/64: 13).
Menurut ajaran Islam, tawakal merupakan landasan atau tumpuan
terakhir dalam sesuatu usaha atau perjuangan, manusia harus berserah diri
kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar. Meskipun tawakal diartikan
sebagai penyerahan diri dan ikhtiar sepenuhnya kepada Allah SWT, namun
tidak berarti orang yang bertawakal harus meninggalkan semua usaha dan
ikhtiar. Keliru jika tawakal diartikan sebagai sikap pasrah kepada Allah
SWT tanpa diiringi dengan usaha maksimal.
Tawakal dalam pengertian di atas meliputi paling tidak dua unsur
yaitu berserah pada Allah Swt dan ikhtiar, inilah tawakal yang menjadi das
sollen (suatu keharusan).
Dalam al-Qur'an, Allah Swt menegaskan:

66

:
(159

Artinya: Dan bermusyawarahlah dengan mereka pada setiap urusan, apabila


engkau telah berketetapan hati, maka menyerah dirilah engkau
kepada Allah. (Q,S. Ali-Imran/3:159).

Orang yang bertawakal kepada Allah SWT tidak akan berkeluh


kesah dan gelisah. la akan selalu berada dalam ketenangan, ketenteraman,
dan kegembiraan. Jika memperoleh nikmat dan karunia dari Allah SWT, ia
akan bersyukur, dan jika tidak atau kemudian misalnya mendapat musibah,
ia akan bersabar. la menyerahkan semua keputusan, bahkan dirinya sendiri
kepada Allah SWT. Penyerahan diri itu dilakukan dengan sungguh-sungguh
dan semata-mata karena Allah Swt.
Keyakinan utama yang mendasari tawakal adalah keyakinan
sepenuhnya akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah SWT. Karena itulah
tawakal merupakan bukti nyata dari tauhid. Di dalam batin orang yang
bertawakal tertanam iman yang kuat bahwa segala sesuatu terletak di tangan
Allah Swt dan berlaku atas ketentuan-Nya. Tidak seorang pun dapat berbuat
dan menghasilkan sesuatu tanpa izin dan kehendak Allah SWT, baik berupa
hal-hal yang memberikan manfaat atau mudarat dan menggembirakan atau
mengecewakan.
Menurut para ulama kalam dan fikih, hikmah dan keutamaan
tawakal antara lain membuat seseorang penuh percaya diri, memiliki
keberanian dalam menghadapi setiap persoalan, memiliki ketenangan dan

67

ketenteraman jiwa, dekat dengan Allah SWT dan menjadi kekasih-Nya,


dipelihara, ditolong, dan dilindungi Allah SWT, diberikan rezeki yang
cukup, dan selalu berbakti dan taat kepada Allah SWT.
Orang yang tawakal akan mampu menerima dengan sabar segala
macam cobaan dan musibah. Berbagai musibah dan malapetaka yang
melanda Indonesia telah dirasakan masyarakat. Bagi orang yang tawakal
maka ia rela menerima kenyataan pahit, sementara yang menolak dan atau
tidak tawakal, ia gelisah dan protes dengan nasibnya yang kurang baik.
Realita fenomena di masyarakat terjadi suatu kesenjangan antara
teori yang mengharuskan ikhtiar maksimal dengan pasrah diri sepenuhnya
tanpa usaha. Dengan kata lain kenyataan menunjukkan bahwa persepsi yang
berkembang di sebagian masyarakat yaitu tawakal merupakan bentuk pasrah
diri pada Allah Swt namun tanpa ikhtiar. Persepsi yang keliru ini
mengakibatkan umat Islam berada dalam kemunduran dan tidak mampu
bersaing dengan dinamika zaman. Kenyataan ini dapat dijumpai dalam
kehidupan se hari-hari.
c. Bersikap Sabar
Setiap manusia dalam kehidupannya menghendaki dapat meraih
sukses, untuk meraih sukses tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan
intelektual. Dengan kata lain, dibutuhkan pula kecerdasan lain yang dapat
menopang keberhasilannya yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan
emosional diukur dari kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri.
Dalam Islam kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut

68

sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi kecerdasan
emosionalnya. Ia biasanya tabah menghadapi kesulitan. Ketika belajar
biasanya orang ini tekun. Ia biasanya berhasil mengatasi berbagai gangguan
dan tidak memperturutkan emosinya, ia dapat mengendalikan emosinya.
Allah SWT berfirman:

(157-155 :

{155}
{156}

Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan


sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buahbuahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa. musibah, mereka
mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah
yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan
mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. Al-Baqarah2: 155-157).

Kesabaran mengajari manusia ketekunan dalam bekerja serta


mengerahkan kemampuan untuk merealisasikan tujuan-tujuan amaliah dan
ilmiahnya. Sesungguhnya sebagian besar tujuan hidup manusia, baik di
bidang kehidupan praksis misalnya sosial, ekonomi, dan politik maupun
dalam bidang penelitian ilmiah, membutuhkan banyak waktu dan banyak
kesungguhan. Oleh sebab itu, ketekunan dalam mencurahkan kesungguhan
serta kesabaran dalam menghadapi kesulitan pekerjaan dan penelitian
merupakan karakter penting untuk meraih kesuksesan dan mewujudkan
tujuan-tujuan luhur.

69

Kesabaran menuntut ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang


sulit, berat, dan pahit, yang harus diterima dan dihadapi dengan penuh
tanggung

jawab.

Berdasar

kesimpulan

tersebut,

para

agamawan

merumuskan pengertian sabar sebagai menahan diri atau membatasi jiwa


dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik (luhur).
Sabar artinya menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan
lidah dari keluh kesah; menahan anggota tubuh dari kekacauan. Sabar
adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi godaan dan rintangan
dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan.
d. Berpikir Positif
Pikiran/berpikir positif adalah potensi dasar yang mendorong
manusia untuk berbuat dan bekerja dengan menginvestasikan seluruh
kemampuan kemanusiaannya. Berpikir positif akan membuat hidup
seseorang menjadi lebih baik. Itulah pikiran yang membantu seseorang
dalam mengembangkan akal, perasaan, dan perilakunya menjadi lebih baik.
Itulah pikiran yang dapat menyingkap kekuatan tersembunyi pada manusia
dan mengubah kehidupannya menjadi lebih berkualitas.
Sebaliknya pikiran/berpikir negatif adalah sekumpulan pikiran salah
yang menghambat langkah kita menuju kondisi yang lebih baik dan
membuat perilaku kita tidak terarah. Pikiran negatif membuat kita menjadi
manusia-manusia yang tidak mampu: tidak mampu karena lemah atau tidak
mampu karena merasa tidak berhak untuk sukses.

70

Berpikir positif adalah menggunakan kinerja otak kita untuk


memikirkan hal-hal yang positif. Langkah ini tak ubahnya seperti "menginstall otak dengan file-file dan program-program yang positif. Ketika ini
sudah menjadi sebuah kebiasaan maka dengan sendirinya otak akan
menyuguhkan perintah, ide, dan renungan-renungan positif atas segala sendi
kehidupan yang kita jalani.
Pikiran adalah keistimewaan yang dipakai manusia untuk memilih
sesuatu dari beberapa alternatif dan menentukan pilihan pada hal yang
menguntungkan masa depan diri dan keluarganya. Dalam buku What People
Think Will be Acquired, adanya pemikiran pada manusia membuatnya
mampu menentukan pilihan dalam hidup. Dalam ilmu psikologi sosial, para
ilmuwan sepakat bahwa kemampuan berpikir yang ada pada manusia telah
menjadikannya sebagai makhluk paling spesial. Kemampuan itu sebagai
pembeda antara manusia dengan binatang, tumbuhan, dan benda mati.
Kemampuan berpikir pula yang membuat seseorang bisa membedakan mana
yang berguna atau merugikan dirinya, mana yang halal dan mana yang
haram, dan mana yang mungkin dicapai dan mana pula yang tak mungkin
diraihnya. Dengan adanya pikiran, manusia mampu memilih hal yang sesuai
dengan dirinya dan memungkinkan baginya untuk diraih.
Lalu, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan hal-hal positif?
Secara teoritis banyak definisi yang bisa diajukan sebagai konsep terkait hal
positif. Namun, secara praktis, yang disebut dengan hal positif adalah setiap
pemikiran, ide, sikap, tindakan atau perbuatan yang mampu mengarahkan

71

dan mendekatkan diri kepada fitrah kemanusiaan kita yang suci. Melangkah
lebih dekat menuju realitas tertinggi (Allah Swt) dengan amalan-amalan
yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dari sinilah
terlihat jelas konsep kebermanfaatan manusia secara positif. Singkatnya,
setiap yang bermanfaat merupakan perwujudan dari gerak ide maupun
perbuatan positif.
Berpikir positif dengan sendirinya juga mengerdilkan untuk tidak
menyebut membunuh potensi keburukan yang ditimbulkan oleh bisikan
nafsu jahat manusia yang bisa menjurus pada fasad (kerusakan), baik dalam
skala makro maupun mikro. Apa alasan yang mendasari bahwa berpikir
positif sama halnya dengan "mengerdilkan" potensi kejahatan (negativisme)
dalam diri maupun jiwa manusia? Hal ini karena menurut beragam kajian
tentang kinerja otak manusia, salah satunya dikemukakan oleh Dr. Ibrahim
Elfiky, bahwa otak manusia tidak bisa digunakan untuk memikirkan dua hal
berlainan pada saat bersamaan. Jika seseorang memikirkan hal-hal positif
maka dengan sendirinya otak akan mengunci "pintu" bagi masuknya ide
atau ; pikiran negatif.
Masih dalam pengertian yang seirama, Allah Swt pun jauh-jauh hari
telah memberitahukan kepada manusia bahwa Dia tidak pernah membuat
dua ruang dalam satu hati. Artinya, sebagaimana kinerja otak, kinerja hati
pun tidak jauh berbeda. Mana yang paling dominan di antara dua hal yang
ada maka itulah yang akan menempati relung hati dan lorong otak
seseorang.

72

Oleh karenanya, dalam Islam dikenal sebuah istilah tazkiyatun nafsi


(penyucian diri). Langkah ini dilakukan sebagai titik tolak seseorang menuju
hidup yang suci dan bersih (positif). Segala hal yang negatif dikeluarkan dan
dibuang terlebih dahulu sebelum menggantinya dengan yang positif.
Mengapa? Karena sesungguhnya kebenaran tidak akan pernah bisa
bercampur dengan kejahatan. Allah swt berfirman,

(81 :

Artinya: Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang batil telah
lenyap dan sesungguhnya yang batil itu telah lenyap. "(QS.
Al-Isra' [17]: 81).
Dari ayat tersebut, apa yang bisa dambil sebagai poin terpenting?
Yaitu, untuk menghancurkan kebathilan (negativisme), manusia sebenarnya
tidak perlu terlalu fokus pada kebatilan itu sendiri karena hanya akan
menguras energi. Langkah tepat dan cerdas untuk mengantisipasinya adalah
gunakan daya positif luar biasa yang dimiliki. Ingatlah, manusia oleh Allah
dianugerahi kekuatan luar biasa yang konon menurut para pakar, kekuatan
itu lebih canggih dari kinerja semesta. Kekuatan apakah yang dimaksud?
Jawabnya adalah otak (akal pikiran).
Bagaimana cara menuju pikiran dan hidup yang positif? Rasulullah
saw menganjurkan agar seseorang melakukan keburukan, segeralah
menggantinya dengan amalan yang baik lalu beristiqamahlah dalam
kebaikan tersebut. Beliau saw bersabda, Dan ikutilah keburukan dengan
kebaikan, mudah-mudahan yang baik itu akan menghapusnya dan
pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji."

73

BAB IV
ANALISIS PESAN DAKWAH USTADZ JEFRI AL-BUKHARI
TENTANG GENERASI RABBANI DI TV ONE

Pesan dakwah tentang generasi rabbani menjadi obyek penelitian ini. Dalam
pandangan Jefri bahwa generasi rabbani yaitu generasi berketuhanan dan beriman
yang dalam kehidupannya mampu menjaga kemaluan, bersikap tawakkal, sabar,
dan berpikir positif. Penegasan ini ia sampaikan dalam ceramahnya di TV One
didukung hasil wawancara.
Untuk menganalisis pesan dakwah Jefri al-Bukhori tentang generasi rabbani,
maka hendak diketengahkan intisari pemikirannya sebagai berikut:
4.1. Mampu Menjaga Kemaluan
Menurut Jefri al-Bukhari, fenomena penyaluran hasrat seksual secara
bebas di kalangan remaja disinyalir sangat besar. Akibatnya di
samping ia melakukan pelanggaran norma-norma agama dan etika, ia
juga menderita secara kejiwaan, bahkan ada sebagian harus
meninggalkan bangku sekolah. Pada kasus yang terakhir ini, tentu
sangat merugikan masa depannya.
Remaja pada dasarnya sosok manusia yang sedang bergejolak dan berani
mencoba terhadap hal yang dilarang, termasuk melakukan seks bebas.
Remaja yang berani melakukan seks bebas apa pun keadaannya cepat atau
lambat akan dihantui rasa bersalah dan dosa. Apabila rasa bersalah dan dosa
itu berjangka panjang maka akan muncul kekacauan berpikir, ia hidup dalam

73

74

sauna yang penuh kecemasan dan gelisah. Keresahan ini akan berimbas pada
kesehatan mental. Dengan kata lain mentalnya bisa terganggu.
Keputus asaan dan tingkah laku yang salah akan terus menerus merusak masa
depannya. Karena itu di sini peranan orang tua atau keluarga menjadi sangat
penting untuk mencegah perilaku seks bebas.
Menurut Jefri al-Bukhari ada beberapa sebab yang menjadikan remaja
sangat mudah terjebak dalam perzinahan, di antaranya: 1. Tidak
memiliki pemikiran yang panjang; 2. Tidak merasa diawasi; 3.
Pergaulan bebas

Pemikiran Jefri al-Bukhari ada benarnya, bahwa remaja yang melakukan seks
bebas biasanya cenderung hanya karena ingin menikmati kenikmatan sesaat
dengan akibat yang panjang. Hal ini karena pemikiran yang pendek dan
kurang pertimbangan. Di samping itu, pengawasan yang kurang dari orang
tua atau keluarga menjadi salah satu pemicu seks bebas. Itulah sebabnya
keluarga memegang peranan penting dalam mengendalikan perilaku seks
bebas. Demikian pergaulan pengaruhnya sangat besar dalam mewarnai sepak
terjang remaja.
Menurut Jefri al-Bukhari untuk menanggulangi seks bebas yaitu:
a. Orang tua harus berusaha mengarahkan anak untuk membiasakan anak
remaja bergaul dengan orang yang baik;
b. Orang tua harus dapat menciptakan suasana rumah tangga yang
harmonis; orang tua berupaya memberi contoh yang baik; membangun
lingkungan yang kondusif, dengan pengawasan yang bijaksana.
c. Menanamkan pendidikan agama pada anak
d. Menanamkan pendidikan seks pada anak
e. Mengisi waktu luang dengan baik (wawancara dengan Jefri al-Bukhari)

75

Kelima butir pemikiran Jefri al-Bukhari untuk menanggulangi seks bebas ini
dapat dianalisis sebagai berikut:

a. membiasakan anak bergaul dengan orang baik


Jefri al-Bukhari menganggap perlunya orang tua memberi perhatian yang
besar terhadap pergaulan anaknya. Karena pergaulan sangat besar
pengaruhnya, sebab secara tidak disadari seseorang telah dibentuk oleh
lingkungan pergaulan. Seorang bergaul dengan orang jahat atau dengan orang
yang mempunyai kebiasaan melakukan penyimpangan seksual, maka lambat
laun ia belajar dari kawannya itu untuk berbuat yang sama. Kongkritnya akan
terjadi proses coba-coba dan meniru yang tidak berbeda dengan teori dan
konsep belajar. Dalam belajar ini sangat mudah terjadi proses peniruan. Hal
ini sebagaimana dikatakan Sardiman (1996: 24) bahwa interaksi dan
pergaulan mengandung proses belajar dan belajar boleh dikatakan juga
sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia (id ego super ego)
dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep
ataupun

teori.

Pendapat

ini

menandakan

bahwa

pergaulan

dapat

mengembangkan pola tingkah laku yang di dalam teori belajar ada istilah
modeling yaitu suatu bentuk belajar yang tak dapat disamakan dengan
classical conditioning maupun operant conditioning. Dalam modelling,
seseorang yang belajar mengikuti kelakuan orang lain sebagai model.

76

Tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modelling atau imitasi
daripada melalui pengajaran langsung (Ahmadi, 2004 : 219)
Modelling dapat terjadi baik dengan direct reinforcement maupun dengan
vicarious reinforcement. Bandura dalam penelitiannya terhadap tingkah laku
kelompok-kelompok anak dengan sebuah boneka plastik mengamati, bahwa
dalam situasi permainan, model rewarded group bereaksi lebih agresif
daripada model punished group.
Bandura membagi tingkah laku imitatif menjadi tiga macam:
1. Inhibitory-disinhibitory effect; kuat lemahnya tingkah laku oleh karena
pengalaman tak menyenangkan atau oleh Vicorious Reinforcement.
2. Eleciting effect; ditunjangnya suatu respons yang pernah terjadi dalam
diri, sehingga timbul respons serupa.
3. Modelling effect; pengembangan respons-respons baru melalui observasi
terhadap suatu model tingkah laku. Modelling dapat dipakai untuk
mengajarkan ketrampilan-ketrampilan akademis dan motorik (Ahmadi,
2004 : 219).
Sejalan dengan pendapat di atas, Gerungan (1991: 59) menegaskan bahwa di
lapangan pendidikan dan perkembangan kepribadian individu, imitasi itu
mempunyai peranan, sebab mengikuti suatu contoh yang baik itu dapat
merangsang perkembangan watak seseorang. Imitasi dapat mendorong
individu atau kelompok untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik.
Selanjutnya, apabila seorang telah dididik dalam suatu tradisi tertentu yang
melingkupi segala situasi sosial, maka orang itu memiliki suatu "kerangka

77

cara-cara tingkah laku dan sikap-sikap moral" yang dapat menjadi pokok
pangkal untuk memperluas perkembangannya dengan positif, dan dalam
didikan ke dalam suatu "tradisi" modern maupun kuno itu, imitasi memegang
peranan penting.
Dalam hubungannya dengan belajar, menurut teori behavioristik bahwa
manusia pada waktu dilahirkan sama. Menurut behaviorisme pendidikan
adalah maha kuasa, manusia hanya makhluk yang berkembang karena
kebiasaan-kebiasaan,

dan

pendidikan

dapat

mempengaruhi

refleks

sekehendak hatinya (Ahmadi, 1992: 28).


Menurut teori humanistik, bahwa manusia atau individu harus dipelajari
sebagai keseluruhan integral, khas, dan terorganisasi. Ia tidak bisa dipelajari
secara parsial (sebagian-sebagian). Manusia pada dasarnya memiliki karakter
jahat apabila tidak dikendalikan (Koswara, 1991: 115 117).
Dari teori-teori di atas jika dihubungkan dengan proses belajar seseorang
dengan kawannya dapat diambil kesimpulan bahwa pergaulan menjadi
penting bagi pembentukan pribadi dan perilaku.
Berpijak pada keterangan di atas maka bergaul dengan orang shaleh akan
memperoleh manfaat yang besar. Sesungguhnya pergaulan sangat besar
pengaruhnya terhadap perkembangan dan jati diri manusia. Hati semakin
berkarat kalau terus menerus berteman dengan sekutu syetan. Dalam alQuran dijelaskan:

78

(118:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman
kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, mereka tidak
henti-hentinya (menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka
menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari
mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah
lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat,
jika kamu memahaminya. (QS.Ali Imran : 118).
Pergaulan sangat mempengaruhi prilaku dan karakter seseorang, dengan
pergaulan bisa menjadi baik tapi juga bisa menjadi buruk, masalahnya
tergantung bergaul dengan siapa. Teman yang hanya berorientasi pada
kesenangan eksoteris (zahiri/lahiriah) akan menelurkan bibit penyakit jauh
dari Tuhan, sebaliknya sahabat yang lebih cenderung mengejar aspek esoteris
(batini) maka akan menggiring cinta pada Tuhan.
Menurut Hamka (1992: 1) bahwa budi pekerti jahat adalah penyakit jiwa,
penyakit batin, penyakit hati. Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit
jasmani. Orang yang ditimpa penyakit jiwa, akan kehilangan makna hidup
yang hakiki, hidup yang abadi. Ia lebih berbahaya dari penyakit badan.
Dokter mengobati penyakit jasmani, menuruti syarat-syarat kesehatan. Sakit
itu hanya kehilangan hidup yang fana. Oleh sebab itu hendaklah diutamakan
menjaga penyakit yang akan menimpa jiwa, penyakit yang akan
menghilangkan hidup yang kekal itu. Ilmu kedokteran yang telah maju harus
dipelajari oleh tiap-tiap orang yang berfikir karena tidak ada hati yang sunyi
dari penyakit yang berbahaya itu. Kalau dibiarkan saja dia akan tambah

79

menular, tertimpa penyakit atas penyakit. Penting sekali bagi seorang hamba
mempelajari sebab-sebab penyakit itu dan mengusahakan sembuhnya serta
memperbaiki jalanya kembali. Itulah yang dimaksud firman Tuhan (Hamka,
1992: 1).
Bergaul dengan seseorang memiliki pengaruh yang besar. Bergaul dengan
orang yang sudah terbiasa melakukan penyimpangan seksual dan rapuh
mentalnya maka niscaya kerapuhannya akan menular pada kawannya,
demikian pula sebaliknya pergaulan dengan orang baik maka kecenderungan
untuk menjadi baik merupakan sebuah kemungkinan yang sangat besar.
Masalah pergaulan ini tampaknya sederhana sehingga tanpa disadari banyak
orang yang mulanya baik tapi kemudian ia terperosok ke lembah nista adalah
karena pergaulan dengan orang yang rusak moralnya atau sakit jiwanya.
Kadang memang sulit untuk memilah-milah mana kawan yang budiman dan
mana yang akan menebarkan racun. Sebuah adagium yang sudah populer
bahwa bergaul dengan tukang minyak wangi akan terkena wanginya.
Di era modern ini sangat sulit untuk mendeteksi kawan yang budiman. Tidak
sedikit orang mendekat menjadi collega karena ada kepentingan dan pada
adanya kepentingan inilah batasannya kawan abadi. Berbagai faktor sangat
menunjang terbinanya persahabatan, tapi faktor kepentingan jualah yang
paling dominan. Karena itu untuk memilahnya adalah dengan memilih kawan
yang masih bersih pandangan dan pikirannya.

80

Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa bergaul dengan orang


shaleh membawa pengaruh yang besar terhadap karakter, emosi dan
kepribadian seseorang.
b. Orang tua harus dapat menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis.
Wujud cinta itu seperti; perhatian, pemberian, pengertian, sopan santun dan
saling mengunjungi (silaturahmi). Keluarga adalah kesatuan terkecil dari
elemen dalam sebuah negara, mereka terikat oleh batin dan aturan karena
pertalian darah dan pertalian perkawinan. Keluarga bahagia menjadi dambaan
setiap manusia, agar keluarga bahagia terbentuk maka unsur rasa cinta harus
ada di antara dua orang individu-individu yang ada dalam sebuah keluarga.
Keluarga harmonis tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat bagi
kehadirannya. Ia harus diperjuangkan, dan yang pertama lagi utama, adalah
menyiapkan hati yang bersih dan lapang. Keluarga harmonis bersumber dari
dalam kalbu, lalu terpancar ke luar dalam bentuk aktivitas. Tujuan pernikahan
adalah untuk menggapai kebahagiaan. Namun, itu bukan berarti bahwa setiap
pernikahan otomatis melahirkan keluarga yang harmonis.
Keluarga harmonis memiliki indikator sebagai berikut: pertama, setia dengan
pasangan hidup; kedua, menepati janji; ketiga, dapat memelihara nama baik;
saling pengertian; keempat berpegang teguh pada agama.
Keluarga atau rumah tangga, oleh siapapun dibentuk, pada dasarnya
merupakan upaya untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.
Keluarga dibentuk untuk menyalurkan nafsu seksual, karena tanpa tersalurkan

81

orang bisa merasa tidak bahagia. Keluarga dibentuk untuk memadukan rasa
kasih dan sayang di antara dua makhluk berlainan jenis, yang berlanjut untuk
menyebarkan rasa kasih dan sayang keibuan dan keayahan terhadap seluruh
anggota keluarga (anak keturunan). Seluruhnya jelas-jelas bermuara pada
keinginan manusia untuk hidup lebih bahagia dan lebih sejahtera.
Para orang tua mempunyai harapan agar anak-anak mereka tumbuh dan
berkembang menjadi anak yang baik, tahu membedakan apa yang baik dan
tidak baik. Tidak mudah terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang dapat
merugikan dirinya sendiri maupun merugikan orang lain. Harapan-harapan ini
akan lebih mudah terwujud apabila sejak awal, orang tua telah menyadari
peranan mereka sebagai orang tua yang besar pengaruhnya terhadap
perkembangan perilaku anak.
Orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak.
Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur
pendidikan tidak langsung yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam
pribadi anak yang sedang tumbuh. Karena itu orang tua dan anak adalah satu
ikatan dalam jiwa. Dalam keterpisahan raga, jiwa mereka bersatu dalam
ikatan keluarga.
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan stempel dan
fundamen utama bagi perkembangan anak. Tingkah laku orang tua yang tidak
wajar (patologis, abnormal) dari salah seorang anggota keluarga akan
memberikan pengaruh yang besar kepada anak, terutama kepada anak dalam
masa puber dan adolesens. Karena itu pola tingkah laku yang deviatif dari

82

orang tua, mudah ditiru oleh anak-anak remaja dan adolesens yang belum
memiliki jiwa stabil, dan mengalami banyak konflik batin.
Lingkungan sosial yang tidak sehat (sakit) juga memberikan pengaruh besar
kepada pembentukan kebiasaan buruk anak-anak, terutama para remajanya.
Pengaruh eksternal dapat memberikan dampak positif dan negatif dalam
membentuk perilaku anak-anak. Anak dapat mengembangkan pola kebiasaan
belajar yang tidak wajar atau "sakit", menirukan tingkah laku orang-orang
dewasa yang "tidak sehat" di sekitarnya. Sebagai akibat dari stimuli sosial
yang kurang baik, dan salah-ulah dalam proses belajar anak-anak, maka
muncul kemudian gejala kenakalan anak atau remaja di kota-kota besar.
Dasar kepribadian seseorang terbentuk, sebagai hasil perpaduan antara
warisan sifat-sifat, bakat-bakat orang tua dan lingkungan di mana ia berada
dan berkembang. Lingkungan pertama yang mula-mula memberikan
pengaruh yang mendalam adalah lingkungan keluarganya sendiri. Dari
anggota keluarganya itu, yaitu ayah, ibu dan saudara-saudaranya, si anak
memperoleh segala kemampuan dasar, baik intelektual maupun sosial,
bahkan penyaluran emosi banyak ditiru dan dipelajarinya dari anggotaanggota lain keluarganya. Sehingga dapat dikatakan, anak yang tidak pernah
merasakan kasih sayang, juga tidak dapat menyatakan kasih sayang terhadap
orang lain, maka sikap, pandangan, dan pendapat orang tua atau anggota
keluarga lainnya itu dijadikan model oleh si anak dan ini kemudian menjadi
sebagian dari tingkah laku anak itu sendiri.

83

Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang terdiri dari suami, istri
beserta anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga, lazimnya juga disebut
rumah tangga, yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai wadah
dan proses pergaulan hidup (Soekanto, 2004: 1). Keluarga merupakan
kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia, tempat ia belajar
dan menyatakan diri sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi
dengan kelompoknya (Gerungan, 1978: 180). Keluarga mempunyai peranan
penting untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani anak serta
menciptakan kesehatan jasmani dan rohani yang baik (Ramayulis, 1990: 79).
Keluarga merupakan kelembagaan (institusi) primer yang sangat penting
dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat
(Suhendi dan Wahyu, 2001: 5). Sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang
tidak hanya terbatas selaku penerus keturunan saja. Dalam bidang pendidikan,
keluarga merupakan sumber pendidikan utama, karena segala pengetahuan
dan kecerdasan intelektual manusia diperoleh pertama-tama dari orang tua
dan anggota keluarganya (Gunarsa, 1986: 1). Lima ciri khas yang dimiliki
keluarga, yaitu (1) adanya hubungan berpasangan antara kedua jenis kelamin;
(2) adanya perkawinan yang mengokohkan hubungan tersebut; (3) pengakuan
terhadap keturunan, (4) kehidupan ekonomi bersama; dan (5) kehidupan
berumah tangga .
Apa yang diidam-idamkan, apa yang ideal, apa yang seharusnya, dalam
kenyataan tidak senantiasa berjalan sebagaimana mestinya. Kebahagiaan

84

yang diharapkan dapat diraup dari kehidupan berumah tangga, kerap kali
hilang kandas tak berbekas, yang menonjol justru derita dan nestapa.
Problem-problem pernikahan dan keluarga amat banyak sekali, dari yang
kecil-kecil sampai yang besar-besar. Dari sekedar pertengkaran kecil sampai
ke perceraian dan keruntuhan kehidupan rumah tangga yang menyebabkan
timbulnya "broken home".
Penyebabnya bisa terjadi dari kesalahan awal pembentukan rumah tangga,
pada masa-masa sebelum dan menjelang pernikahan, bisa juga muncul di
saat-saat mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga. Dengan kata lain,
ada banyak faktor yang menyebabkan pernikahan dan pembinaan kehidupan
berumah tangga atau berkeluarga itu tidak baik, tidak seperti diharapkan,
tidak dilimpahi "mawaddah wa rahmah," tidak menjadi keluarga "harmonis."
Pernikahan sebagai perbuatan hukum antara suami dan isteri, bukan saja
bermakna untuk merealisasikan ibadah kepada-Nya, tetapi sekaligus
menimbulkan akibat hukum keperdataan di antara keduanya. Namun
demikian karena tujuan perkawinan yang begitu mulia, yaitu membina
keluarga bahagia, kekal, abadi berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa maka
perlu diatur hak dan kewajiban suami dan istri masing-masing. Apabila hak
dan kewajiban masing-masing suami dan isteri terpenuhi, maka dambaan
suami isteri dalam bahtera rumah tangganya akan dapat terwujud, didasari
rasa cinta dan kasih sayang (Rofiq, 2000: 181).

85

Suami dan istri adalah sama-sama bertanggung jawab atas segala sesuatu
dalam hidup bersama. Kebahagiaan bagi salah satu dari keduanya adalah juga
kebahagiaan bagi yang lain, dan kesusahan bagi salah satunya adalah pula
kesusahan bagi yang lain. Hendaknya kerjasama antara keduanya dibangun di
atas dasar cinta kasih yang tulus. Mereka berdua bagaikan satu jiwa di dalam
dua tubuh. Masing-masing mereka berusaha untuk membuat kehidupan yang
lain menjadi indah dan mencintainya sampai pada taraf ia merasakan bahagia
apabila yang lain merasa bahagia, merasa gembira apabila ia berhasil
mendatangkan kegembiraan bagi yang lainnya. Inilah dasar kehidupan suami
isteri yang berhasil dan bahagia dan juga dasar dari keluarga yang intim yang
juga merupakan suasana di mana putera-puteri dapat dibina dengan budi
pekerti yang mulia (al-Arusy, 1994: 160).
Antara suami isteri dalam membina rumah tangganya agar terjalin cinta yang
lestari, maka antara keduannya itu perlu menerapkan sistem keseimbangan
peranan, maksudnya peranannya sebagai suami dan peranan sebagai isteri di
samping juga menjalankan peranan-peranan lain sebagai tugas hidup seharihari (Rasyid, 1989: 75). Dengan berpijak dari keterangan tersebut, jika suami
isteri menerapkan aturan sebagaimana diterangkan di atas, maka bukan tidak
mungkin dapat terbentuknya keluarga harmonis, setidak-tidaknya bisa
mendekati ke arah itu..
Keluarga harmonis adalah keluarga yang penuh dengan kecintaan dan rahmat
Allah. Tidak ada satupun pasangan suami isteri yang tidak mendambakan
keluarganya bahagia. Namun, tidak sedikit pasangan yang menemui

86

kegagalan dalam perkawinan atau rumah tangganya, karena diterpa oleh ujian
dan cobaan yang silih berganti. Padahal adanya keluarga bahagia atau
keluarga berantakan sangat tergantung pada pasangan itu sendiri. Mereka
mampu untuk membangun rumah tangga yang penuh cinta kasih dan
kemesraan atau tidak. Untuk itu, keduanya harus mempunyai landasan yang
kuat dalam hal ini pemahaman terhadap ajaran Islam.
Adapun faktor-faktor yang diperlukan untuk membentuk keluarga harmonis
adalah pertama, terpenuhinya kebutuhan ekonomi; kedua, terpenuhinya
kebutuhan seksual; ketiga, saling pengertian, dapat memahami perbedaan dan
berpegang teguh pada agama.
Al-Qur'an dan hadis telah memberi petunjuk dalam membangun keluarga
yang harmonis serta memberi petunjuk tentang tanggung jawab orang tua
terhadap anak yang di dalamnya meliputi, kasih sayang, nafkah hidup dan
sebagainya.
Di dalam Islam kewajiban timbal balik antara suami dan isteri telah diberikan
tuntunan yang sebaik-baiknya, contoh: suami-isteri berkewajiban mendidik
anak-anak mereka secara Islam; mereka perlu selalu menjaga kehormatan
keluarga; mempercantik dan melindungi isteri dan senantiasa pula
mengupayakan sesuatu yang terbaik bagi keluarga. Agar pelaksanaan
kewajiban timbal balik tersebut dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya
maka kerukunan, kedamaian, saling maaf-memaafkan, bantu-membantu
dalam kebaikan dan ketaqwaan, lapang dada dan penuh pengertian tentang
kewajiban hidup berumah tangga (Basri, 2004: 31).

87

Setelah kedua orang tua menunaikan hak dan kewajibannya secara timbal
balik, maka di antara kewajiban-kewajiban terpenting orang tua terhadap
anak-anaknya adalah sebagai berikut:
1) la memilih nama yang baik bagi anaknya, terutama jika ia seorang lelaki.
Sebab nama baik itu mempunyai pengaruh positif atas kepribadian tingkah
laku, cita-cita dan angan-angannya.
2) Memperbaiki adab dan pengajaran anak-anaknya dan menolong mereka
membina aqidah yang betul dan agama yang kukuh. Begitu juga dengan
menerangkan kepada mereka prinsip-prinsip dan hukum-hukum agama
dan melaksanakan upacara-upacara agama dalam waktunya yang tepat
dengan cara yang betul. Juga ia hams menyiapkan peluang dan suasana
praktis untuk mengamalkan nilai-nilai agama dan akhlak dalam kehidupan.
Sebagaimana ia mengawinkan anak-anaknya yang sudah baligh untuk
menjaga kehormatan dan akhlaknya.
3) Orang tua harus memuliakan anak-anaknya berbuat adil dan kebaikan di
antara mereka. Begitu juga orang tua haruslah membolehkan anakanaknya mengerjakan kegiatan-kegiatan yang diingini yang berfaedah bagi
pertumbuhannya di dalam dan di luar rumah.
4) Orang tua bekerja sama dengan lembaga-lembaga dalam masyarakat yang
berusaha menyadarkan dan memelihara kesehatan, akhlak, dan sosial
mereka. Juga melindungi mereka dari segala yang membahayakan badan
dan akalnya.

88

5) Supaya orang tua memberikan contoh yang baik dan teladan yang saleh
atas segala yang diajarkannya. Juga mereka hams menyediakan suasana
rumah tangga yang saleh, penuh dengan perangsang-perangsang budaya
dan perasaan kemanusiaan yang mulia, bebas dari kerisauan, pertentangan
dan pertarungan keluarga dalam soal-soal pendidikan anak. (Ramayulis,
2001: 60 62).
c. Menanamkan pendidikan agama pada anak
Orang yang tidak pernah mendapatkan didikan agama, tidak akan mengetahui
nilai moral yang dipatuhinya dengan sukarela dan mungkin tidak akan
merasakan apa pentingnya mematuhi nilai moral yang pasti dan dipatuhi
dengan ikhlas. Apabila agama masuk dalam pembinaan pribadi seseorang,
maka dengan sendirinya segala sikap, tindakan, perbuatan dan perkataannya
akan dikendalikan oleh pribadi, yang terbina di dalamnya nilai agama, yang
akan jadi pengendali bagi moralnya.
Yang dimaksud dengan didikan agama bukanlah pelajaran agama yang
diberikan secara sengaja dan teratur oleh guru sekolah saja akan tetapi yang
terpenting adalah penanaman jiwa agama yang dimulai dari rumah tangga,
sejak si anak masih kecil dengan jalan membiasakan si anak kepada sifat-sifat
dan kebiasaan yang baik, misalnya dibiasakan menghargai hak milik orang
lain, dibiasakan berkata terus terang, benar dan jujur, diajari mengatasi
kesukaran-kesukaran yang ringan dengan tenang, diperlakukan adil dan baik,
diajari suka menolong, mau memaafkan kesalahan orang, ditanamkan rasa
kasih sayang sesama saudara dan sebagainya.

89

d. Menanamkan pendidikan seks pada anak


Betapa pun seorang remaja mampu mengendalikan syahwatnya tapi jika tidak
mengetahui negatifnya seks di luar nikah maka ia akan mencoba-coba untuk
berbuat menyimpang dengan melakukan hubungan seks di luar nikah.
Pendidikan seks sangat penting disampaikan kepada anak-anak untuk
menjamin kebahagiaan hidup mereka setelah menikah. Pendidikan seks juga
penting demi kestabilan situasi psikis saat mereka menjelang baligh.
Umumnya para remaja membutuhkan penjelasan seks yang Islami sebelum
mereka menikah, serta pembekalan tentang kaidah-kaidah seks yang mereka
butuhkan dalam kehidupan rumah tangga di masa depan. Tidak akan pernah
cukup jika individu dibiasakan berdasarkan pemahaman seks selama masa
kanak-kanak dan dibiarkan begitu saja tanpa pendidikan seks yang sesuai
dengan watak perubahan masa remaja.
e. Mengisi waktu luang dengan baik
Sesungguhnya cara pengisian waktu terluang itu sangat mempengaruhi
kelakuan anak-anak. Dalam masyarakat kita, jarang diperhatikan cara yang
baik untuk mengisi waktu terluang bagi anak-anak. Bahkan ada orang tua
yang menyangka, bahwa seluruh waktu si anak harus diisi dengan sesuatu
yang bermanfaat misalnya belajar, atau kerja menolong orang tua dan
sebagainya. Sedangkan rekreasi dianggap sesuatu yang tidak bermanfaat.
Padahal rekreasi pun penting untuk menghilangkan kejenuhan anak dalam
memperjuangkan kehidupannya. Yang lebih parah, jika anak dibiarkan tanpa
aktifitas, hal ini akan menimbulkan dampak negatif pada pemikiran dan

90

kepribadiannya. Sehingga ia menjadi remaja yang tidak mampu menghargai


waktu, maka tidak heran jika remaja itu dalam berpacaran berani menabrak
rambu-rambu agama dan kaidah-kaidah sosial.
4.2. Bersikap Tawakal
Menurut analisis penulis bahwa dalam percakapan sehari-hari sering
terdengar perkataan tawakal yang tidak tepat pemakaiannya, atau sama sekali
"salah pasang". Ini menunjukkan masih banyak juga orang-orang yang
mengaburkan pengertiannya terhadap tujuan perkataan tersebut. Pada
umumnya, orang mempergunakan perkataan itu dalam peristiwa yang
menyangkut dengan diri dan keadaan seseorang, seumpama: sakit, kehilangan
rezeki, kesukaran yang bertimpa-timpa dan lain-lain sebagainya.
Sekedar untuk melukiskan hal-hal itu, penulis mengemukakan beberapa
contoh, di antaranya:
a. Seorang laki-laki jatuh sakit bertahun-tahun lamanya. Dia telah
berobat dari dokter yang satu kedokter yang lain, dari tabib ke dukun
dan lain-lain. Sudah bermacam-macam obat yang dipakainya. Ada
obat luar negeri, buatan dalam negeri, ramuan akar-akar kayu dan
lain-lain. Akhirnya, karena tidak sembuh juga maka timbullah kesal
hati dan terus berkata kepada dirinya sendiri dan keluarganya:
Sudahlah! Sekarang kita "tawakal" saja kepada Allah. Jika Tuhan
hendak menyembuhkan, tanpa diobati pun akan sembuh sendiri;
Kalau Tuhan belum hendak menyembuhkannya, biarpun dicari

91

obatnya ke seluruh penjuru dunia, toh tidak akan berhasil (Dumaiji,


2000: 23).
b. Seorang laki-laki yang berdagang selalu rugi saja. Sudah berkali-kali
dia menukar sifat dan macam dagangannya, tapi tetap saja tidak
untung bahkan sekedar modal pun tidak kembali. Tidak pernah dia
mendapat untung dan rezeki. Akhirnya, dia pun menarik kesimpulan
: Saya tawakal saja, sebab toh semua makhluk ini termasuk
manusia-sudah diatur dan ditentukan Tuhan rezekinya. Diam-diam
saja pun di rumah tidak akan mati kelaparan. Untuk menghibur
hatinya, dia berkata kepada dirinya sendiri: Sedangkan nyamuk,
matinya hanyalah karena kekenyangan, bukan sebab kelaparan.
Terlalu kenyang menghisap darah manusia, maka ditampar oleh
orang yang bersangkutan sampai nyamuk tersebut mati. Saya tidak
mau susah-susah lagi mencari rezeki. Saya akan tawakal apapun yang
akan terjadi (Dumaiji, 2000: 23).
c. Seorang yang ditimpa kesukaran bertubi-tubi dan timpa menimpa.
Selesai satu kesukaran, datang pula kesukaran yang lain. Karena
terus-menerus mengalami kesulitan itu, maka akhirnya dia pun
menarik kesimpulan : Silahkan, hai raksasa kesulitan. Saya bukakan
pintu luas-luas; kalau kesulitan yang datang itu hilang sendiri,
syukur; jika kesulitan tersebut tidak mau pergi, ya masa bodoh. Saya
tawakal saja (Dumaiji, 2000: 23).

92

Tiga macam pengertian tawakal yang dilukiskan di atas adalah paham yang
salah, keliru dan hanya menyesatkan saja. Tidaklah demikian pengertian
tawakal menurut ajaran Nabi SAW.
Pengertian tawakal yang sebenarnya itu dilukiskan oleh Rasulullah saw,
dalam suatu Hadist yang berbunyi:

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Abu Khafsin Amru


bin Ali dari Yahya bin Said al-Qathan dari al-Mughirah bin
Abi Qurrah al-Sadusyi berkata saya telah mendengar Anas
bin Malik r.a berkata: Telah datang kepada Rasulullah Saw.
seorang laki-laki yang hendak meninggalkan onta yang
dikendarainya terlepas begitu saja di pintu masjid, tanpa.
ditambatkannya lebih dahulu. Dia bertanya: Ya, Rasulullah!
Apakah onta itu saya tambatkan lebih dahulu, kemudian
baru saya tawakal; atau saya lepaskan saja dan sesudah itu
saya tawakal ? Rasulullah Saw. menjawab: "Tambatkan
lebih dahulu, dan tawakallah. (riwayat Tirmidzi). (CD
program)
Dari Hadist tersebut dapat dipahamkan, bahwa Rasulullah memerintahkan
kepada laki-laki itu untuk mengikatkan ontanya lebih dahulu, sebagai satu
ikhtiar, supaya onta itu jangan lari. Tidak boleh menyerah begitu saja kepada
nasib dan keadaan, tapi harus ada usaha.

93

Dalam riwayat diterangkan, bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah


menjumpai satu kaum yang tidak mau berusaha mencari penghidupan,
sehingga mereka menjadi satu kaum yang malas dan lemah. Khalifah Umar
bin Khattab bertanya kepada. kaum tersebut;
"Kenapakah kamu tidak berusaha?
"Kami tawakal kepada Allah!" sahut mereka.
Mendengar jawaban yang fatalistis (menyerah saja kepada
taqdir) itu, maka Khalifah Umar bin Khattab berkata:
"Kamu semua bohong. Kamu bukan masuk golongan orang yang tawakal.
Yang dinamakan orang tawakal itu ialah orang-orang yang menemukan
keinginannya dalam kehidupan di dunia ini, kemudian baru dia tawakal
kepada Allah".
4.3. Bersikap Sabar
Apabila dianalisis pesan dakwah Jefri al-Bukhari tentang bersikap sabar,
maka kesabaran mengajari manusia ketekunan dalam bekerja serta
mengerahkan kemampuan untuk merealisasikan tujuan-tujuan amaliah dan
ilmiahnya. Sesungguhnya sebagian besar tujuan hidup manusia, baik di
bidang kehidupan praksis misalnya sosial, ekonomi, dan politik maupun dl
bidang penelitian ilmiah, membutuhkan banyak waktu dan banyak
kesungguhan. Oleh sebab itu, ketekunan dalam mencurahkan kesungguhan
serta kesabaran dalam menghadapi kesulitan pekerjaan dan penelitian

94

merupakan karakter penting untuk meraih kesuksesan dan mewujudkan


tujuan-tujuan luhur (Najati,, 2000: 467, 471).
Sifat sabar dalam Islam menempati posisi yang istimewa. Al-Qur'an
mengaitkan sifat sabar dengan bermacam-macam sifat mulia lainnya. Antara
lain dikaitkan dengan keyakinan (QS. As-Sajdah 32: 24), syukur (QS.
Ibrahim 14:5), tawakkal (QS. An-Nahl 16:41-42) dan taqwa (QS. Ali 'Imran
3:15-17). Mengaitkan satu sifat dengan banyak sifat mulia lainnya
menunjukkan betapa istimewanya sifat itu. Karena sabar merupakan sifat
mulia yang istimewa, tentu dengan sendirinya orang-orang yang sabar Juga
menempati posisi yang istimewa. Misalnya dalam menyebutkan orang-orang
beriman yang akan mendapat surga dan keridhaan Allah SWT, orang-orang
yang sabar ditempatkan dalam urutan pertama sebelum yang lain-lainnya.
Perhatikan firman Allah berikut ini:

(17-15 :

{15}
{16}

Artinya: "Katakanlah" "Inginkan aku kabarkan kepadamu apa yang lebih


baik dari yang demikian itu". Untuk orang-orang yang bertaqwa,
pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan ada pula
pasangan-pasangan yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan
Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Yaitu orang-orang
yang berdo'a: "Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami telah
beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah

95

kami dari siksa neraka. Yaitu orang-orang yang sahar, yang


benar, yang tetap ta'at, yang menafkahkan hartanya (di jalan
Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur." (QS. Ali
'Imran 3:15-17).
Di samping itu, setelah menyebutkan dua belas sifat hamba-hamba yang akan
mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT (dalam Surat Al-Furqan 25: 6374), Allah SWT menyatakan bahwa mereka akan mendapatkan balasan surga
karena kesabaran mereka. Artinya untuk dapat memenuhi dua belas sifat-sifat
tersebut diperlukan kesabaran.

(75 :

)
Artinya: "Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi
(dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut
dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya". (QS.
Al-Furqan/25: 75).

Di samping segala keistimewaan itu, sifat sabar memang sangat dibutuhkan


sekali untuk mencapai kesuksesan dunia dan Akhirat. Seorang mahasiswa
tidak akan dapat berhasil mencapai gelar kesarjanaan tanpa sifat sabar dalam
belajar. Seorang peneliti tidak akan dapat menemukan penemuan-penemuan
ilmiah tanpa ada sifat sabar dalam penelitiannya. Demikianlah seterusnya
dalam seluruh aspek kehidupan.
Lawan dari sifat sabar adalah al-jaza'u yang berarti gelisah, sedih, keluh
kesah, cemas dan putus asa, sebagaimana dalam firman Allah SWT:

(21 :

96

Artinya: "...Sama saja bagi kita, mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali


kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." (QS.
Ibrahim/14: 21).

{20}
(20 -19 :

{19}
{21}

Artinya: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi


kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan
apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang
yang mengerjakan shalat." (QS. Al-Ma'arij/70: 19-22).
Ketidaksabaran dengan segala bentuknya adalah sifat yang tercela. Orang
yang dihinggapi sifat ini, bila menghadapi hambatan dan mengalami
kegagalan akan mudah goyah, berputus asa dan mundur dari medan
perjuangan. Sebaliknya apabila mendapatkan keberhasilan juga cepat lupa
diri. Menurut ayat di atas, kalau ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, kalau
mendapat kebaikan ia amat kikir. Semestinyalah setiap Muslim dan
Muslimah menjauhi sifat yang tercela ini.
4.4. Berpikir Positif
Apabila meneliti konsep pengembangan diri menuju berpikir positif dalam
perspektif Islam, maka ajaran spiritual Islam sangat erat dengan
pengembangan diri menuju berpikir positif yang bermuara pada kesehatan
jiwa. Spiritualitas Islam dan kesehatan jiwa sama-sama berhubungan erat
dengan soal kejiwaan, akhlak dan kebahagiaan manusia. Dalam kaitan ini
hendak diuraikan secara konseptual pandangan Islam terhadap bimbingan
pengembangan diri menuju kesehatan jiwa dan pikiran positif.

97

Konsep-konsep Islam tersebut antara lain:


a. Al-Qur'an dengan tegas menyatakan dirinya sebagai mau'izah dan syifa
bagi jiwa, yakni obat bagi segala penyakit hari yang terdapat dalam diri.
Dalam surat Yunus: 57, Allah berfirman:

(57 :)
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dan Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakitpenyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang yang beriman (QS. Yunus: 57).
Ayat ini menggambarkan bahwa agama berisikan terapi bagi pikiran
negatif dan gangguan jiwa. Bukankah penderita batin biasanya akan
menyesakkan dada seperti tersirat di dalam surat di atas? Banyak sekali
ayat-ayat yang lain yang sejalan dengan ayat di atas. Diantaranya al-Isra': 82
dan Fushilat: 44.
b. Agama Islam memberikan tugas dan tujuan bagi kehidupan, manusia di
dunia dan di akhirat. Misalnya, tugas dan tujuan hidup manusia di dunia
ditegaskan al-Qur'an sebagai beribadah (dalam arti luas) kepada Allah
SWT (QS. Al-Zariyat: 56) dan menjadi khalifahnya di bumi (QS. AlBaqarah: 30). Dengan melaksanakan konsep ibadah dan kekhalifahan,
maka orang dapat menumbuhkan dan mengembangkan potensi pikiran
positif dan memperoleh kesehatan pikirannya.
c. Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya berlaku sabar dan
menjalankan salat, dalam menghadapi musibah dan cobaan (QS. Al-

98

Baqarah: 153). Dengan bantuan sabar dan salat orang dapat menghadapi
kesulitan hidupnya dengan jiwa dan pikiran tenang serta lapang.
d. Ajaran Islam menganjurkan agar manusia selalu berdzikir kepada Allah,
karena dengan dzikir itu hati akan tenang dan damai. Dengan metode
berdzikir

atau

bermeditasi,

segala

persoalan-persoalan

duniawi

disandarkan kepada Allah, Zat yang mengatasi segalanya.


e. Ajaran Islam memberikan pedoman dalam urusan duniawi (harta-bendakekayaan) supaya manusia selalu melihat ke bawah, tidak ke atas. Karena
tidak sedikit penyakit jiwa dan pikiran negatif itu muncul dari tuntutan
duniawi yang selalu ingin lebih. Dengan melihat ke bawah ia akan merasa
cukup dan bersyukur kepada Allah dengan apa yang telah dimilikinya.
f. Allah tidak memandang manusia itu hanya dari sudut fisik semata, tetapi
lebih pada hatinya dan pikirannya. Sehingga Islam menganjurkan agar
selalu hidup bersih, berbaik hati, dan menghindari perbuatan-perbuatan
yang bisa mengotori hati dan pikiran.
g. Ajaran Islam membantu-orang dalam menumbuhkan dan membina
pribadinya, yakni melalui penghayatan nilai-nilai ketaqwaan dan
keteladanan yang diberikan Muhammad SAW.
h. Ajaran Islam memberikan tuntunan kepada akal agar benar dalam berpikir,
yakni melalui wahyu.
i. Ajaran Islam memberikan tuntunan bagi manusia dalam mengadakan
hubungan baik, baik hubungan dengan orang lain, dengan alam dan

99

lingkungan, seperti ajaran yang terdapat dalam syari'at, aqidah dan akhlak,
serta hubungan dengan Allah dan dirinya sendiri.
j. Ajaran Islam berperan dalam mendorong orang untuk berbuat baik dan
taat, serta mencegahnya dari berbuat jahat dan maksiat.
k. Menurut Islam, hakekat manusia sesungguhnya bukan terletak pada
pemenuhan

kebutuhan

jasmaninya,

melainkan

kebutuhan

rohani

(spiritualnya). Kebutuhan jasmani dipenuhi sebagai sarana menunjang


tercapainya kebutuhan rohani.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa pandangan Islam dapat membantu
orang dalam membimbing pengembangan diri dan mencegahnya dari
gangguan pikiran yang negatif serta membina kondisi kesehatan mental.
Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran Islam orang dapat memperoleh
kebahagiaan dan kesejahteraan jiwa serta pikirannya. Sehingga dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa ajaran Islam berhubungan erat dengan
soal-soal bimbingan pengembangan diri sebagaimana diungkapkan Peale.
Ajaran Islam adalah seutama-utamanya jalan bagi bimbingan pengembangan
diri menuju berpikir positif, kreatif dan humanis, serta membina dan
mengembangkan kehidupan jiwa manusia, karena Islam adalah fitrah dan
dimensi kehidupan spiritual manusia yang teramat

penting dalam

membimbing pengembangan diri menyangkut potensi pikiran manusia.


Manusia dalam berpikir bisa dipilah menjadi dua, positif dan negatif. Berpikir
positif berpangkal pada nafsu ruhaniyyah, yaitu nafsu muthma'innah (nafsu
yang tenang) dan mardhiyyah (nafsu yang diridhai Tuhan). Nafsu

100

muthma'innah, yaitu nafsu yang telah mencapai ketenangan, nafsu yang dapat
dikendalikan oleh akal yang sehat. la telah menginsafi bahwa tidak semua
keinginannya dapat dilaksanakan. Sebelum melaksanakan suatu keinginan
selalu dikonsultasikan kepada akalnya. Ia mampu melahirkan perbuatan yang
normal sesuai dengan ketentuan umum yang berlaku di tengah-tengah
masyarakat

maupun

agama

sehingga

menimbulkan

kebahagiaan,

ketenteraman dan kesejahteraan, lahir dan batin. Nafsu ini telah dibekali iman
dan takwa, buahnya dapat melawan segala godaan yang menjurus kepada
kejahatan. Ia ibarat kendaraan yang dapat dikuasai oleh pengendalinya untuk
mengantar kepada kesejahteraan hidup, sebagaimana difirmankan Allah Swt:

(30-27 :

{28}

{29}

Artinya: "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan


hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam
jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku."
(QS. al-Fajr [89]: 27-30).
Termasuk dalam ayat tersebut adalah nafsu keempat, yaitu nafsu mardhiyyah
(diridhai Tuhan) (Syukur dan Usman, 2008: 113).
Sedang pikiran negatif berpangkal pada nafsu jasmaniyyah, yaitu nafsu
ammarah dan lawwamah. Inilah dalam dunia tasawuf sering dikatakan
sebagai hawa nafsu. Masing-masing nafsu tadi mempunyai ciri-ciri. Nafsu
ammarah bercirikan berkeinginan yang berlebih-lebihan, belum mengenal
batas dan pendidikan, tidak bisa membedakan antara yang baik dan tidak
baik, antara yang benar dan yang salah, antara yang indah dan tidak indah,

101

tidak meminta pertimbangan akal dan nurani, ia sebagai sumber kejahatan.


(QS. Yusuf [12]; 53).

(53 :)
Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku, karena sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu
yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS.Yusuf [12]:53)

Sedang ciri lawwamah ialah lebih tinggi sedikit daripada ammarah,


menyesali apa yang telah dilakukan, tetapi muncul kembali apabila ada
rangsangan atau ketika ia lupa, sudah pandai menengok ke kanan dan ke kiri,
namun bukan sebagai falsafah hidupnya, ia bersikap munafiq dan hawa nafsu
ini masih dekat dengan ammarah. Oleh al-Ghazali nafsu-nafsu ini lebih jauh
dikembangkan dengan istilah hawa nafsu, yakni bahimiyyah (kebinatangan),
yang mempunyai watak rakus, tidak mempunyai rasa malu (perselingkuhan,
perzinaan) dan sebagainya. Sabu'iyyah (kebuasan), yakni suka marah dan
sebagainya. Syaithaniyyah (kesetanan) seperti suka menggoda orang lain dan
sebagainya dan rububiyyah (ketuhanan), yakni merasa hebat, unggul dan
sebagainya, seperti Fir'aun yang pernah mengaku dirinya sebagai Tuhan
(Syukur dan Usman, 2008: 113).

102

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari bab satu sampai dengan bab empat sebelumnya, maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Pesan dakwah ustadz Jefri al-Bukhari di TV One tentang generasi rabbani
adalah generasi yang berketuhanan dan beriman yang dalam kehidupannya
mampu menjaga kemaluan, bersikap tawakal, sabar, dan berpikir positif.
Dalam kaitannya dengan pesan dakwah tentang menjaga kemaluan, bahwa
menurut Jefri al-Bukhari, fenomena penyaluran hasrat seksual secara bebas di
kalangan remaja disinyalir sangat besar. Akibatnya di samping ia melakukan
pelanggaran norma-norma agama dan etika, ia juga menderita secara
kejiwaan, bahkan ada sebagian harus meninggalkan bangku sekolah. Pada
kasus yang terakhir ini, tentu sangat merugikan masa depannya.
Dalam kaitannya dengan pesan dakwah tentang tawakkal, bahwa dalam
percakapan sehari-hari sering terdengar perkataan tawakal yang tidak tepat
pemakaiannya, atau sama sekali "salah pasang". Ini menunjukkan masih
banyak juga orang-orang yang kabur pengertiannya tentang perkataan
tersebut. Pada umumnya, orang mempergunakan perkataan itu dalam
peristiwa yang menyangkut dengan diri dan keadaan seseorang, seumpama:

102

103

sakit, kehilangan rezeki, kesukaran yang bertimpa-timpa dan lain-lain


sebagainya.
Dalam kaitannya dengan pesan dakwah tentang sabar, bahwa kesabaran
mengajari manusia ketekunan dalam bekerja serta mengerahkan kemampuan
untuk merealisasikan tujuan-tujuan amaliah dan ilmiahnya. Sesungguhnya
sebagian besar tujuan hidup manusia, baik di bidang kehidupan praksis
misalnya sosial, ekonomi, dan politik maupun dl bidang penelitian ilmiah,
membutuhkan banyak waktu dan banyak kesungguhan.
Dalam kaitannya dengan pesan dakwah tentang berpikir positif, bahwa apabila
meneliti konsep pengembangan diri menuju berpikir positif dalam perspektif
Islam, maka ajaran spiritual Islam sangat erat dengan pengembangan diri
menuju berpikir positif yang bermuara pada kesehatan jiwa. Spiritualitas
Islam dan kesehatan jiwa sama-sama berhubungan erat dengan soal kejiwaan,
akhlak dan kebahagiaan manusia.
5.2 Saran-saran
Remaja merupakan sosok manusia yang penuh gejolak dan sebagai
generasi yang menentukan hari depan kehidupan bangsa dan agama. Apabila
moralnya runtuh maka sulit diharapkan melahirkan remaja yang bermasa
depan. Untuk itu aktivitas dakwah Jefri al-Bukhori yang sering mengambil
tema sentral masalah remaja merupakan salah satu bagian partisipasi dalam
mengurangi dekadensi moral. Atas dasar itu aktivitas dakwah Jefri al-Bukhori
perlu didukung masyarakat, ulama dan pemerintah.

104

5.3 Penutup
Seiring dengan karunia dan limpahan rahmat yang diberikan kepada
segenap makhluk manusia, maka tiada puji dan puja yang patut
dipersembahkan melainkan hanya kepada Allah SWT. Dengan hidayahnya
pula tulisan sederhana ini dapat diangkat dalam skripsi yang tidak luput dari
kekurangan dan kekeliruan. Menyadari akan hal itu, bukan suatu kepurapuraan bila penulis mengharap kritik dan saran menuju kesempurnaan tulisan
ini.

105

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Amrullah. 1983. Dakwah Islam dan Perubahan Sosial. Yogyakarta:
Primaduta.
Ahmad Mustaf Al-Marg, 1394 H/1974 M. Tafsr al-Marg, Mesir: Mustafa
Al-Babi Al-Halabi.
Ahmadi, Abu dan Ahmad Rohani. 1991. Bimbingan dan Konseling di Sekolah,
Jakarta: Rineka Cipta.
Anshari, Hafi. 1993. Pemahaman dan Pengamalan Dakwah. Surabaya: al-Ikhlas.
Arifin, M. 2000. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Arusy, Abdul Aziz. 1994. Menuju Islam Yang Benar, terj. Agil Husain alMunawwar dan Badri hasan, Semarang: Toha Putra
Aziz, Moh. Ali. 2004. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana.
Basri, Hasan. 2004. Keluarga sakinah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Bukhry, Imam. Sahh al-Bukhar, Beirut: Dr al-Fikr, 1410 H/1990 M,
Chasanah, Nur. 1986. Pengaruh Lagu "Wajib Belajar" Puput Novel Terhadap
Perilaku: Keagamaan Anak-Anak Di Kodya Magelang, (Skripsi),
Semarang: Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
Cholid, Nur G.A. 1991. Aspek Dakwah Dalam Lagu-Lagu Kantata Takwa,
(Skripsi). Semarang: Fakultas Dakwah LAIN Walisongo Semarang.
Dumaiji, Abdullah Bin Umar 2000. Rahasia Tawakal Sebab Akibat. Terj.
Kamaluddin, Jakarta: Pustaka Azzam
http://www. Ust. Jefri .com .my
Hafidhuddin, Didin. 2000. Dakwah Aktual. Jakarta: Gema Insani.
Hamka, 1999. Tafsir Al Azhar, Jilid 21, Jakarta: PT Pustaka Panji Mas.
Hasyimi, A. 1974. Dustur dakwah Menurut Al-Qur'an. Jakarta: Bulan Bintang.
Ism'l ibn Kasr al-Qurasy al-Dimasyq, 2003. Tafsr al-Quran al-Azm, Terj.
Bahrun Abu Bakar, Bandung: Sinar Baru Algensindo
Gerungan, W.A., 1978. Psikologi Sosial, Bandung: PT.al-Maarif.
Gunarsa, Ny.Singgih D., 1986. Psikologi Keluarga, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

106

Karjadi. 1981. Kepemimpinan (Leadership). Bogor: Politeia.


Kartono, Kartini. 1981. Psikhologi Sosial Perusahaan dan Industri, Jakarta:
Rajawali.
Koswara, E., 1991. Teori-Teori Kepribadian, Bandung: PT Eresco.
Lathief, HMS. Nasaruddin, tth, Teori dan Praktek Dakwah. Jakarta: Firma Dara.
M. Arifin. 2000. Psikologi Dakwah Suatu Pengantar, Jakarta: Bulan Bintang
Mahmuddin, 2004, Manajemen Dakwah Rasulullah (Suatu Telaah Historis
Kritis), Jakarta: Restu Ilahi.

Mar'at. 1983. Pemimpin dan Kepemimpinan. Bandung: Ghalia


Indonesia.
Munsyi, Abdul Kadir. 1981. Metode Diskusi Dalam Dakwah. Surabaya: al-Ikhlas.
Muslim, Imam. Sahh Muslim, Tijariah Kubra, Mesir, tth.
Najati, Muhammad Ustman, 1985, Al-Quran dan Ilmu Jiwa, Bandung: Pustaka.
Natsir, M. tth. Fiqhud Dakwah. Jakarta: Dengan Islamiah Indonesia.
Nurhayati, Titi. 1997. Pesan Dakwah Dalam Syair Lagu Neno Warisman.
(Skripsi), Semarang: Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang

Panglaykim, dan Hazil Tanzil. tth. Manajemen Suatu Pengantar,


Jakarta: Balai Aksara.
Pimay, Awaludin. 2005. Paradigma Dakwah Humanis. Semarang: Rasail.
R.Terry, George. 1977. Principles of Management, Richard D. Irwin, INC.
Homewood, Irwin-Dorsey Limited Georgetown, Ontario L7G 4B3.
Rais, Amien. 1999. Cakrawala Islam Antara Cita dan Fakta. Bandung: Mizan.
Ramayulis, 1990. Pendidikan Islam dalam Rumah Tangga, Jakarta: Kalam Mulia.
Rasyid, Ibnu M., 1989, Mahligai Perkawinan, Batang Pekalongan: CV.Bahagia
Riyana, Erry dan Hardjapamekas. 2000. Esensi Kepemimpinan Mewujudkan Visi
Menjadi Aksi. Jakarta: Gramedia.

107

Rofiq, Ahmad, 2000. Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo


Persada.
Sanusi, Shalahuddin. t.th. Pembahasan Sekitar Prinsip-Prinsip Dakwah Islam.
Semarang: CV Ramadhani.
Saputra, Wahidin. 2011. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Shaleh, Abdul Rosyad. 1993. Manajemen Dakwah Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Shiddiqi, Nourouzzaman. 1997. Fiqh Indonesia: Penggagas dan Gagasannya,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Siagian, Sondang P. 1984. Filsafat Administrasi. Jakarta: Gunung Agung.
Soekanto, Soerjono, 2004, Sosiologi Keluarga tentang hal Ikhwal Keluarga,
Remaja dan Anak, Jakarta: Rineka Cipta.
Suhendi, Hendi dan Ramdani Wahyu, 2001. Pengantar Studi Sosiologi Keluarga,
Bandung: Pustaka Setia.
Sulthon, Muhammad. 2003. Desain Ilmu dakwah, Kajian
Epistimologis dan Aksiologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ontologis,

Syukir, Asmuni. 1983. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam. Surabaya: al-Ikhlas.


Tasmara, Toto. 1997. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pertama.
Thoha, Miftah. 1995. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Raja frafindo
Persada.
Umar, Toha Yahya. 1985. Ilmu Dakwah. Jakarta: Wijaya.
Umary, Barmawie. 1980. Azas-Azas Ilmu Dakwah. Semarang: CV Ramadhani.
W.A.Gerungan, 1978, Psikologi Sosial, Bandung: PT.al-Maarif

Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial Suatu Pengantar,


Yogyakarta: Andi.
Winardi. 1990. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: Rineka Cipta.
Ya'qub, Hamzah. 1973. Publisistik Islam, Seni dan Teknik Dakwah. Bandung: CV
Diponegoro.

108

-----------. 2005. Etika Islam Pembinaan Ahlaq al-Karimah (Suatu Pengantar),


Bandung: CV. Diponegoro.
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Quran. 1986. Al-Qur'an dan
Terjemahnya. Jakarta: Depag RI.
Zahrah, Abu. 1994. Dakwah Islamiah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Zainuddin, Muhadi dan Abd. Mustaqim. 2005. Studi


Kepemimpinan Islam Telaah Normatif & Historis,
Semarang: Putra Mediatama Press.

109

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Mohamad sholeh

Tempat Tanggal Lahir

: Grobogan, 23 Mei 1987

Alamat Asal

: Desa Tunggulrejo Kec.Gabus Kab. Grobogan

Alamat Sekarang

: Wisma Bondet, Tanjungsari Selatan, Ngalian,


Jawa tengah.

Pendidikan

: SDN Tunggulrejo 04 lulus tahun 1999


MTs Nurul Ikhsan Banjarejo lulus tahun 2002
MA Fathul Ulum pandan harum lulus tahun 2005
Fakultas Dakwah IAIN Walisongo masuk tahun
2005.

Demikian Daftar Riwayat pendidikan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Semarang 15 juni 2012

Mohamad sholeh