P. 1
1553871218

1553871218

|Views: 695|Likes:
Dipublikasikan oleh srimeladia

More info:

Published by: srimeladia on May 05, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2011

pdf

text

original

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

LAPORAN PERJALANAN DINAS PENGUMPULAN DATA HAM DALAM RANGKA PENYUSUNAN PROFIL HAM DAN LAPORAN IMPLEMENTASI HAM DI PROVINSI JAWA TENGAH

SUB DIREKTORAT EVALUASI DAN PELAPORAN HAM DIREKTORAT INFORMASI HAM DIREKTORAT JENDERAL HAM

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

BAB I. PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Pasal 8 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Menyebutkan bahwa perlindungan, pemajuan, penghormatan dan penegakan hak asasi manusia adalah upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah hal ini sebagaimana yang diamanatkan dalam Berdasarkan bunyi ketentuan Pasal di atas, jelas bahwa hak asasi manusia harus dijunjung tinggi dan dihormati oleh semua eleman bangsa termasuk oleh pemerintah dan setiap orang. Konsekuensi dari bunyi Pasal-Pasal tersebut adalah bahwa semua elemen bangsa mempunyai tanggung jawab untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia di tanah air. Upaya Pemajuan HAM jelas melibatkan semua unsur yang ada di tanah air, meliputi pemerintah, swasta dan masyarakat. Upaya perlindungan, pemajuan, penghormatan dan penegakan hak asasi manusia dapat ditempuh salah satunya adalah melalui penyebaran informasi hak asasi manusia baik berupa penyebaran melalui media internet ataupun penyebaran buku profile hak asasi manusia. Buku Profile Hak Asasi Manusia merupakan hasil pendokumentasian

implementasi hak asasi manusia di wilayah Indonesia. Dari buku profil hak asasi manusia ini diketahui bagaimana pelaksanaan hak asasi manusia di daerah, apa kendala-kendala di ketemui dalam pelaksanaan hak asasi manusia di daerah, dengan demikian dapat diketahui bagaimana langkah yang harus di tempuh oleh pemerintah baik Pusat maupun daerah untuk mengatasi atau menaggulangi permasalahan hak asasi manusia di daerah, maupun di Pusat. Indonesia sebagai negara yang telah mengesahkan sejumlah instrumen hak asasi manusia internasional menjadi hukum nasional, yang dengan demikian mempunyai konsekuensi untuk membuat pelaporan kepada Dewan HAM PBB berkenaan dengan sejumlah instrumen hak asasi manusia yang telah disahkan menjadi hukum nasional tersebut. Pada tahun 2009 nanti Departemen Hukum dan HAM, cq. Direktorat Hak Asasi Manusia diberikan kewajiban untuk membuat laporan pelaksanaan hak asasi manusia ke Dewan HAM PBB yang sebelumnya diemban oleh Departemen Luar Negeri. Mengingat Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia cq. Direktorat Hak Asasi Manusia belum pernah membuat suatu laporan hak asasi manusia ke Dewan HAM

1

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

PBB, maka untuk menyusun bagaimana pembuatan pelaporan hak asasi manusia tersebut perlu dilakukan koordinasi antar instansi pemerintah maupun non pemerintah untuk menyamakan persepsi bagaimana format pelaporan yang harus dibuat, dan bagaimana koordinasi atau kerjasama yang harus dilakukan antar instansi pemerintah dan non pemerintah agar pelaporan yang disampaikan ke Dewan HAM PBB menjadi pelaporan yang baik. Terkait dengan itu, keberadaan Buku Profile Hak Asasi Manusia adalah sangat penting bagi Direktorat Hak Asasi Manusia untuk memudahkan dalam pembuatan pelaporan hak asasi manusia yang mana buku tersebut akan menjadi dokumen tentang implementasi hak asasi di Indonesia. Salah satu daerah yang menjadi tujuan kegiatan pengumpulan data dalam rangka penyusunan profil HAM ini adalah Provinsi Jawa Tengah. 2. Maksud dan Tujuan 2.1. Mencari dan data dan informasi tentang situasi dan kondisi hak asasi manusia di daerah, khususnya Provinsi Jawa Tengah, 2.2. Menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi dalam perumusan kebijakan dibidang HAM di Provinsi Jawa Tengah. 2.3. Sebagai data pendukung dalam penyusunan profil hak asasi manusia. 3. Dasar

Melaksanakan Surat Perintah Tugas Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia Nomor : HAM1- UM.03.02 - 225, tanggal 21 Oktober 2008, berdasarkan DIPA Direktorat Jenderal Hak Asasi Manusia Tahun Anggaran 2008 Nomor : 008.0/013090/-/2008, tanggal 31 Desember 2007

4. Pelaksana

No. 1.

NAMA / NIP Zuliansyah, S.H., M.Si. NIP. 040 074 218 Kepala HAM

Jabatan Seksi Pelaporan

Keterangan

2.

Agus Yulianto.Sos. NIP. 050 049 328

Kepala Seksi Publikasi

2

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

5.

Ruang Lingkup

Kegiatan dilakukan dalam bentuk pengumpulan data, baik berupa wawancara maupun pengumpulan data sekunder. Data tersebut nantinya dijadikan bahan untuk penyusunan profil HAM, yang berisi tentang kondisi HAM di Provinsi Jawa Tengah. Wawancara dilakukan dalam bentuk terbuka dengan nara sumber yang dianggap mampu dan menguasai permasalahan HAM. 6. Institusi yang dituju

Institusi yang dituju dalam kegiatan dimaksud adalah: Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Jawa Tengah, Sekretariat Panitia Pelaksana RANHAM Provinsi Jawa Tengah, Biro Hukum Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah, Polda Jawa Tengah, Polres Semarang, Dinas Kesehatan dan Pendidikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). 7. Waktu Pelaksanaan

Pengumpulan data dilaksanakan tanggal 28 Oktober s/d 31 Oktober 2008 8. Sumber Dana

Kegiatan Pengumpulan Data HAM Dalam Rangka Pembuatan Profil Hak Asasi Manusia di Jawa Tengah dibiayai dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Direktorat Jenderal Hak Asasi Manusia, Departemen Hukum dan Hak Asasi manusia Tahun Anggaran 2008.

3

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

BAB II. HASIL PENGUMPULAN DATA

1. PROFIL WILAYAH Luas wilayah Propinsi Jawa Tengah secara keseluruhan adalah 33.172 km2 yang terdiri dari beberapa Kabupaten dan Kota, yaitu: Kabupaten Banjarnegara (1.070 Km²), Kabupaten Banyumas (1.328 Km²), Kabupaten Batang (800 Km²), Kabupaten Blora (1.821 Km²), Kabupaten Boyolali (1.015 Km²), Kabupaten Brebes (1.658 Km²), Kabupaten Cilacap (2.143 Km²), Kabupaten Demak (897 Km²), Kabupaten Grobogan (1.976 Km²), Kabupaten Jepara (1.004 Km²), Karang Anyar (806 Km²), Kabupaten Kebumen (1.281 Km²), Kabupaten Kendal (1.002 Km²), Kabupaten Klaten (656 Km²), Kabupaten Kudus (451 Km²), Kabupaten Magelang (1.086 Km²), Kotamadya Magelang (18 Km²), Kabupaten Pati (1.491 Km²), Kabupaten Pekalongan (852 Km²), Kotamadya Pekalongan (15 Km²), Kabupaten Pemalang (1.012 Km²), Kabupaten Purbalingga (778 Km²), Kabupaten Purworejo (1.035 Km²), Kabupaten Rembang (1.014 Km²), Kotamadya Salatiga (18 Km²), Kabupaten Semarang (928 Km²), Kotamadya Semarang (574 Km²), Kabupaten Sragen (947 Km²), Kabupaten Sukoharjo (467 Km²), Kabupaten Surakarta (47 Km²), Kabupaten Tegal (879 Km²), Kotamadya Tegal (38 Km²), Kabupaten Temanggung (870 Km²), Kabupaten Wonogiri (1.822 Km²), Kabupaten Wonosobo (985 Km²). Sedangkan batas-batas wilayah Propinsi Jawa Tengah ini adalah, sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Indonesia, sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Jawa Barat, sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Timur. Adapun jumlah penduduk Propinsi Jawa Tengah secara keseluruhan adalah 32.315.263 jiwa, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 15.923.746 jiwa (49,81%) dan perempuan sebanyak 16.391.517 jiwa (50,19%). Komposisi pemeluk agama di wilayah ini sebagai berikut, agama Islam sebanyak 29.942.066 jiwa, agama Kristen Katolik sebanyak 373.601 jiwa, agama Kristen Protestan sebanyak 500.644 jiwa, agama Hindu sebanyak 27.297 jiwa dan agama Budha sebanyak 67.867 jiwa. Komposisi tamatan jenjang pendidikan formal pada Propinsi Jawa Tangah ini sebagai berikut, tamatan SD sebanyak 3.523.189 jiwa, SMP sebanyak 1.142.235 jiwa,

4

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

SMA sebanyak 766.568 jiwa, Diploma I/II/III sebanyak 238.479 jiwa, S-1/S-2/S-3 sebanyak 188.477 jiwa.

1.1. Kondisi Geografis Jawa Tengah secara administratif merupakan sebuah propinsi yang ditetapkan dengan Undang-undang No. 10/1950 tanggal 4 Juli 1950. Jawa Tengah sebagai salah satu Propinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua Propinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Letaknya 5o40' dan 8o30' Lintang Selatan dan antara 108 o30' dan 111o30' Bujur Timur (termasuk Pulau Karimun Jawa). Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 Km dan dari Utara ke Selatan 226 Km (tidak termasuk pulau Karimunjawa). Secara administratif Propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6 Kota. Luas Wilayah Jawa Tengah sebesar 3,25 juta hektar atau sekitar 25,04 persen dari luas pulau Jawa (1,70 persen luas Indonesia). Luas yang ada terdiri dari 1,00 juta hektar (30,80 persen) lahan sawah dan 2,25 juta hektar (69,20 persen) bukan lahan sawah. Menurut penggunaannya, luas lahan sawah terbesar berpengairan teknis (38,26 persen), selainnya berpengairan setengah teknis, tadah hujan dan lain-lain. Dengan teknik irigasi yang baik, potensi lahan sawah yang dapat ditanami padi lebih dari dua kali sebesar 69,56 persen. Berikutnya lahan kering yang dipakai untuk tegalan/kebun/ladang/huma sebesar 34,36 persen dari total bukan lahan sawah. Persentase tersebut merupakan yang terbesar, dibandingkan presentase penggunaan bukan lahan sawah yang lain. Menurut Stasiun Klimatologi Klas 1 Semarang, suhu udara rata-rata di Jawa Tengah berkisar antara 18oC sampai 28oC. Tempat-tempat yang letaknya dekat pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. Sementara itu, suhu rata-rata tanah berumput (kedalaman 5 Cm), berkisar antara 17 oC sampai 35oC. Rata-rata suhu air berkisar antara 21 oC sampai 28oC. Sedangkan untuk kelembaban udara rata-rata bervariasi, dari 73 persen samapai 94 persen. Curah hujan terbanyak terdapat di Stasiun Meteorologi Pertanian khusus batas Salatiga sebanyak 3.990 mm, dengan hari hujan 195 hari. 1.2. Kondisi Ekonomi

Propinsi Jawa Tengah dalam wilayah administrasi terdiri dari 6 Kotamadya dan 29 Kabupaten, 533 Kecamatan, meliputi 7932 desa dan 606 Kelurahan. Propinsi Jawa Tengah yang mempunyai luas wilayah sekitar 3,25 juta Ha dan berpenduduk sekitar 30.236.200 ( perkiraan s/d Pemilu 1999 ) mempunyai 639.000 perusahaan kecil dan

5

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

menengah yang menyerap 2,51 juta orang tenaga kerja. Dalam konteks inilah maka upaya penganekaragaman komoditi unggulan dengan memberdayakan secara optimal potensi yang dimiliki Jawa Tengah diharapkan akan mampu menjadi andalan dalam memacu pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Kelemahan yang ada selama ini adalah produk unggulan ditetapkan sendiri-sendiri oleh masing-masing sektor dan kadang kala berbeda satu dengan lainnya karena memiliki kriteria yang berlainan. Di bidang peternakan, daging ternak sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Tidak heran bila tiap daerah mengusahakan pemenuhan akan kebutuhan daging ternak tersebut. Setidaknya terdapat 13 jenis ternak yang dibudidayakan di Jawa Tegah, antara lain sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, kuda, domba, ayam, itik dan kelinci. Jenis ternak tersebut terbagi menjadi dua, yaitu ternak besar dan ternak kecil. Di bidang perkebunan, komoditas perkebunan yang menjadi unggulan Jawa Tengah antara lain karet, teh dan kopi. Perkebunan karet di Jawa Tengah terletak di Kabupaten Karangannyar, Jepara, Banyumas, Cilacap, dan Batang. Produksi karet Jawa Tengah pada tahun 2000 sebesar 22.720,12 ton, dengan lahan tanaman panen seluas 20.707,61 hektar. Produksi teh yang dihasilkan Jawa Tengah pada tahun yang sama sebesar 7,352,11 ton dengan lahan tanaman panen seluas 3.531,66 hektar. Perkebunan teh di Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Temanggung, Wonosobo, Batang, Karangannyar dan Kendal. Produksi kopi tahun 2000 sebesar 3.108,92 ton dengan lahan tanaman panen seluas 3,322,91 hektar. Perkebunan kopi di Jawa Tengah terletak di Kabupaten. Semarang, Temanggung, Kendal, dan Batang. Di bidang perikanan, Jawa Tengah sangat beruntung, karena posisinya yang strategis, selain berbatasan dengan propinsi lain, Jawa Tengah diapit oleh Laut Jawa di sebelah utara dan Samudra Indonesia disebelah selatan. Dengan memiliki panjang pantai 656,1 Km, maka tersedia peluang pengembangan usaha perikanan yang cukup besar serta potensi budidaya tambak yang cukup berarti. Di bidang pariwisata, Jawa Tengah dikenal sebagai daerah yang memiliki keindahan alam yang beraneka ragam, mulai dari keindahan pegunungan, peninggalan purbakala, serta keindahan pantainya. Jumlah obyek wisata pada tahun 2000 sebanyak 214 obyek dan tersebar merata diseluruh Jawa Tengah. Bahkan Jawa Tengah memiliki salah satu dari tujuh keajaiban dunia yaitu Candi Borobudur. Jenis dan peluang investasi yang terbuka bagi investor di bidang pariwisata adalah: Obyek wisata Karimun Jawa, Obyek wisata Rawa Pening, Obyek Wisata Nusa Kambangan, Obyek Wisata Sangiran.

6

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

1.3. Kondisi Sosial dan Budaya

Sejak abad VII, banyak terdapat pemerintahan kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah (Central Java), yaitu: Kerajaan Budha Kalingga, Jepara yang diperintaholeh Ratu Sima pada tahun 674. Menurut naskah/prasasti Canggah tahun 732, kerajaan Hindu lahir di Medang, Jawa Tengah dengan nama Raja Sanjaya atau Rakai Mataram. Dibawah pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, ia membangun Candi Rorojonggrang atau Candi Prambanan. Kerajaan Mataram Budha yang juga lahir di Jawa Tengah selama era pemerintahan Dinasti Syailendra, mereka membangun candi-candiseperi Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan dll. Pada abad 16 setelah runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, sejak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Setelah kerajaan Demak runtuh, Djoko Tingkir anak menantu Raja Demak (Sultan Trenggono) memindahkan kerajaan Demak ke Pajang (dekat Solo). Dan menyatakan diri sebagai Raja Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya. Selama pemerintahannya terjadi kerusuhan dan pemberontakan. Perang yang paling besar adalah antara Sultan Adiwijaya melawan Aryo Penangsang. Sultan Adiwijaya menugaskan Danang Sutowijaya untuk menumpas pemberontakan Aryo Penangsang dan berhasil membunuh Aryo Penangsang. Dikarenakan jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram kepada Sutowijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama di Jawa Tengah dan bergelar Panembahan Senopati. Di pertengahan abad 16 bangsa Portugis dan Spanyol datang ke Indonesia dalam usaha mencari rempah-rempah yang akan diperdagangkan di Eropa. Pada saat yang sama, bangsa Inggris dan kemudian bangsa Belanda datang ke Indonesia juga. Dengan VOC-nya bangsa Belanda menindas bangsa Indonesia termasuk rakyat Jawa Tengah baik dibidang politik maupun ekonomi. Di awal abad 18 Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Pakubuwono II, setelah beliau wafat muncul perselisihan diantara keluarga raja yang ingin memilih/menunjuk raja baru. Perselisihan bertambah keruh setelah adanya campur tangan pemerintah Kolonial Belanda pada perselisihan keluarga raja tersebut. Pertikaian ini akhirnya diselesaikan dengan Perjanjian Gianti tahun 1755. Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil yaitu Surakarta Hadiningrat atau Kraton Kasunanan di Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Kasultanan di Yogyakarta. Sampai sekarang daerah Jawa Tengah secara administratif merupakan sebuah propinsi yang ditetapkan dengan Undang-undang No. 10/1950 tanggal 4 Juli 1950.

7

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Sampai dengan tahun 1905 yaitu sebelum dikeluarkannya Decentralisatie Besluit, Indonesia waktu itu namanya Nederlands India atau Hindia Belanda yang dibagi dalam beberapa Gewesten (Wilayah) yang bersifat administratif yaitu: Semarang Gewest meliputi Regentschap (Kabupaten) Kendal, Demak, Kudus, Pati, Jepara dan Grobogan. Rembang Magelang, Wonosobo, Purworejo, Gewest meliputi Regentschap (Kabupaten) Rembang, Blora dan Bojonegoro. Kedu Gewest rneliputi Regentschap (Kabupaten) Kebumen dan Karanganyar. Banyumas Gewest

meliputi Regentschap (Kabupaten) Banyumas, Cilacap dan Banjarnegara. Pekalongan Gewest meliputi Regentschsap (Kabupaten) Brebes, Tegal, Pekalongan dan Batang. Setelah diberlakukannya Decentralisatie Besluit tahun 1905 maka Gewesten tersebut di atas diberi hak-hak otonomi dan dibentuk Dewan-dewan Daerah (GEWESTElIJKE RAADEN). Dengan demikian Daerah-daerah tersebut sejak tahun 1908 telah merupakan Daerah-daerah otonomi penuh. Berdasarkan Decentralisatie Besluit tersebut, dibentuk juga Gemeente (n) (Kotaparaja) yang otonom, antara lain Kota Pekalongan, Tegal, Semarang, Salatiga, dan Magelang. Dengan berlakunya Indische Staatsregeling (Undang-Undang Pemerintahan) dalam pasal 119 antara lain menetapkan bahwa Daerah Hindia Belanda dibagi dalam Provinsi-Provinsi, maka dikeluarkanlah Province Ordonantie yang mulai berlaku sejak 1 April 1925. Atas dasar Province Ordonantie tersebut dibentuklah Undang-Undang (Ordonantie) yang

membentuk Jawa Tengah sebagai Provinsi, yang mulai berlaku sejak 1 Januari 1930. Provinsi Jawa Tengah berdasarkan Ordonantie tersebut di atas adalah suatu Gewest (Daerah Otonom) dengan hak-hak otonom tertentu dan mempunyai Dewan Provinsi (Provincae Raad). Mengenai batas-batas wilayah Provinsi Jawa Tengah padaa saat itu dapat dilhat pada pembagian administratif yang tersebut dalam Staatsblad (Lembaran Negara) tahun 1933 No.251 car 335 yang kemudian diubah dengan staatblad tahun 1934 No.582. Provinsi Jawa Tengah sampai dengan tahun 1934 adalah sebagai berikut: Residentie Pekalongan meliputi Pekalongan, Batang, Brebes dan Tegal. Residentie Djeporo meliputi Kabupaten Jepara, Rembang, Pati, Blora dan Kudus. Residentie Semarang meliputi Kabupaten Semarang, Kendal, Demak, dan Banyumas meliputi Kabupaten Stadsgemeente Semarang Salatiga. Residentie

Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Karanganyar, dan Banjarnegara. Residentie Kedu meliputi Kabupaten Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen dan Stadsgemeente Magelang. Pada tahun 1934 diadakan penggabungan beberapa Kabupaten yaitu: Kabupaten Batang digabungkan dengan dengan Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Kutoarjo

Banyumas digabungkan

Kabupaten

Purwokerto.

Kabupaten

digabungkan dengan kabupaten Purworejo. Kabupaten Karanganyar digabungkan

8

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

dengan Kabupaten Kebumen. Pada masa pendudukan Jepang, diadakan perubahan Tata Pemerintahan Daerah dengan Undang-undang Jepang 2062). Menurut Undang-undang ini No : 27 Tahun 1942 (tahun Jawa kecuali Daerah

seluruh

Vorstenlanden dibagi atas Syuu (Karesidenan) Si (Kotapraja) Ken (Kabupaten) Gun (Distrik) Son (Onder Distrik) Ku (Kelurahan) Dengan kata lain, dengan Undang-Undang tersebut Provinsi ditiadakan. Dalam pada itu ada perubahan nama terhadap sebuah Karesidenan di Jawa Tengah, yaitu Karesidenan Jepara - Rembang, diganti namanya menjadi Pati Syuu. Pada tahun 1946 dikeluarkan Penetapan Pemerintah Nomor 16 SU yang membekukan Daerah Swapraja (Vorstenland) Kasunanan dan Mangkunegaran, kedua bekas Swapraja ini men-jadi Karesidenan. Berdasarkan Pasal 1 Undangundang Nomor. 22 tahun 1948 tentang Pokok Pemerintahan Daerah tersusun dalam tiga tingkat Pemerintahan yaitu Provinsi, Kabupaten dan Desa (Kota Kecil). Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 tahun 1948, dikeluarkanlah Undang-undang Nomor: 10 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Provinsi Jawa Tengah, yang berlaku mulai tanggal 4 Juli 1950, meliputi 6 Karesidenan, yaitu Karesidenan Pekalongan, Semarang, Pati, Kedu, Banyumas dan Surakarta. Jawa Tengah terdiri dari 3 (tiga) lingkungan budaya, yaitu Lingkungan budaya Pesisir, Lingkungan budaya Bagelan – Banyumas, dan Budaya Kraton, dengan pelestarian budaya antara lain Upacara: Tingkeban, Brokohan, Puputan, Selapanan, Tedhak Siten, Ruwatan, Bersih Desa, Siraman Pusaka, Nyadran, dan Sedekah Laut. Jawa Tengah memiliki peninggalan budaya antara lain : Candi Borobudur, Mendut dan Pawon, Dieng, Gedongsongo, Prambanan. Filsafat hidup masyarakat: Ojo dumeh, untuk mengendalikan diri agar tidak sombong misalnya ojo dumeh gek kuwoso (baru dikaruniai kekuasaan), ojo dumeh sugih (baru dikaruniai kekayaan), ojo dumeh wong pangkat (baru dikaruniai jabatan) dan sebagainya. Mulad Sariro Hangrosowani, manusia harus mau dan mampu untuk berinstropeksi diri agar dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari tidak keliru. Surodiro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti, semua kejahatan dan keburukan itu akan hancur oleh kebaikan. Alon-alon waton kelakon, semua yang akan dikerjakan harus diperhitungkan secara cermat dan berhatihati, tldak tergesa-gesa agar dapat sesuai dengan cita-cita dan rencana semula.

9

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

2. PETA PERMASALAHAN HAM

2.1. Hak Untuk Hidup

2.1.1. Hak Atas Lingkungan Hidup Yang Baik dan Sehat Keberlangsungan hidup sangat tergantung pada ketersediaan sumberdaya alam yang ada serta daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Jawa Tengah tetap diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara adil dan berkelanjutan yang diselaraskan dengan kemampuan anggaran pemerintah serta dinamika sosial ekonomi dan politik yang berkembang di mayarakat. Pengelolaan sumberdaya lahan melalui penataan ruang merupakan faktor kunci dalam mendukung keberhasilan pengelolaan lingkungan. Dari target luas kawasan lindung sebesar 19,93 % dari luas Jawa Tengah pada tahun 2018, saat ini sudah terpetakan seluas 9,13 %, terdiri dari Hutan Suaka Alam, Hutan Lindung, dan Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan (KLDKH). Namun kondisi sebagian besar KLDKH masih perlu dioptimalkan agar dapat berfungsi sebagaimana peruntukannya. Sebagai langkah awal, telah diinisiasi kerjasama pengelolaan dengan beberapa

kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Tekanan meningkatnya kebutuhan lahan menyebabkan eksplotasi lahan yang berlebihan. Akibatnya produktifitas lahan semakin merosot dan berpotensi menjadi lahan kritis. Lahan kritis di Jawa Tengah diperkirakan seluas 23% yang tersebar di kawasan Dieng, Sindoro-Sumbing, DAS Kaligarang, Rawapening, DAS Segara Anakan, dan Merapi – Merbabu. Upaya perbaikan lingkungan difokuskan pada peningkatan kualitas lingkungan pada kawasan tersebut, melalui pembuatan demplot dan pengembangan kawasan konservasi berdasarkan pendekatan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) terpadu dan pemberian ruang partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan. Upaya perbaikan lahan dilaksanakan secara sinergis dengan upaya konservasi sumberdaya air. Pengelolaan sumberdaya air diarahkan agar air hujan tidak segera mengalir ke hilir sehingga menimbulkan banjir. Penghjijauan daerah hulu dimaksudkan untuk melindungi permukaan tanah dari terpaan langsung air hujan guna mengurangi terjadinya erosi dan meningkatkan penyerapan air tanah. Sementara air permukaan dikelola dengan membangun saluran, bangunan terjunan dan pembuatan teras agar tidak menimbulkan banjir di kawasan hilir. Peningkatan penyerapan air tanah akan

10

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

memperbaiki kekeringan.

sistim

hidro-orologis

sehingga

mengurangi

ancaman

terjadinya

Upaya pengurangan laju erosi juga akan mengurangi laju sedimentasi di waduk sehingga akan memperpanjang usia waduk, memperbesar volume tampungan air sehingga akan memperbesar tingkat layanan suplai air. Saat ini, dari 38 waduk di Jawa Tengah, telah terdiidentifikasi beberapa waduk yang mengalami kerusakan akibat tingginya laju sedimentasi sebesar 778,93 ton/th (waduk Rawa Pening), 59.77 juta m³ (waduk Soedirman), dan waduk Gajah Mungkur 111 juta m³. Peningkatan layanan akan mengurangi beban pengambilan air bawah tanah, yang selama ini banyak dimanfaatkan untuk keperluan industri maupun rumah tangga dan budidaya pertanian, khususnya pada saat terjadi kekeringan. Potensi cadangan sebanyak 12.268.523.000 m3 dari 30 lokasi CAT perlu dilestarikan guna menghindari penurunan muka tanah dan terjadinya intrusi air laut. Seiring dengan peningkatan pertumbuhan industri di Jawa Tengah mengakibatkan meningkatnya jumlah limbah yang dikeluarkan dari sisa proses produksinya baik yang berupa limbah gas, limbah cair maupun limbah padat. Dari segi kualitas air sungai maupun waduk telah mengalami penurunan kualitas yang diindikasikan dari tingginya konsentrasi BOD, COD, TSS yang telah melebihi Baku Mutu Air untuk kelas II sesuai PP 82 tahun 2003 tentang Pengelolaan Kualitas air dan Pengendalian Pencemaran air. Upaya pengendalian dilakukan melalui penetapan klas sungai sehingga dapat diketahui jenis pemanfaatan air sungai dan upaya yang harus dilakukan untuk menaikkan kualitas air. Beberapa sungai yang sudah ditetapkan klas sungai antara lain Bengawan Solo, Serayu, Progo, dan Kaligung. Jumlah industri/kegiatan usaha di Jawa Tengah yang mengeluarkan limbah B3 sebanyak ± 1.160 buah. Dari jumlah tersebut menghasilkan limbah B3 berupa limbah cair sebanyak ± 49.546.006,33 m3/tahun sedang yang berupa limbah padat / sludge B3 sebanyak ± 783.362,83 ton/tahun. Dari jumlah limbah B3 tersebut di atas hanya ± 1,5 % yang dibuang ke Cileungsi karena biaya yang terlalu mahal, sedang selebihnya dibuang ke lingkungan sekitar pabrik. Di samping itu banyak industri yang berpotensi menghasilkan limbah B3 yang belum ditangani dengan baik antara lain industri logam di Kabupaten Klaten, Tegal, Juwana, industri kain tenun Troso di Kabupaten Jepara. Beberapa kegiatan penambang emas yang tersebar di Kabupaten Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo dan Wonogiri yang sebagian besar belum dilengkapi dengan bak tailing maupun alat penangkap debu merkuri yang berupa retort.

11

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Strategi pengendalian pencemaran dengan pendekatan teknologi proses saat ini mulai dikembangkan oleh dunia industri (sistem up of pipe) lebih efektif karena sifatnya mengurangi pencemaran dari sumbernya. Pendekatan teknologi proses saat ini dikenal dengan istilah Produksi Bersih atau Teknologi Ramah Lingkungan yang menitik beratkan pada upaya 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle). Pengelolaan sampah domestik merupakan kompetensi Pemerintah Kabupaten/Kota. Untuk itu, upaya pengendalian pencemaran sampah dilakukan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup melalui pelaksanaan Program Adipura guna mewujudkan lingkungan perkotaan yang bersih dan hijau/teduh. Dalam rangka menjaga ketersediaan air pada sumber air dan untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran air, di Provinsi Jawa Tengah telah menggunakan satu perangkat lunak yaitu Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Lintas Kab./Kota. Salah satu upaya pengendalian diantaranya melalui pentaatan terhadap perizinan bagi usaha/kegiatan dalam pembuangan air limbah ke sumber air lintas Kab/Kota. Secara umum, upaya pengendalian didasarkan pada Perda Nomor 5 tahun 2007 tentang Pengendalian Lingkungan Hidup di Jawa Tengah. Kondisi kualitas udara dibeberapa kota di Jawa Tengah cenderung mendekati nilai ambang batas Baku Mutu Udara yang ditetapkan disebabkan beban pencemar udara semakin meningkat yaitu sumber bergerak (kendaraan bermotor) dan sumber tidak bergerak (industri). Upaya pengendalian dampak pencemaran udara lebih banyak berupa pengamatan kualitas sebagai bahan sosialisasi dan fasilitasi kepada Kabupaten/Kota untuk memperluas hutan/taman kota atau pohon peneduh jalan. Penurunan kualitas lingkungan yang diakibatkan kerusakan sumberdaya lahan dan air serta kecenderungan meningkatnya pencemaran telah mengancam terjadinya penurunan keaneka-ragaman hayati (kehati). Beberapa flora dan fauna yang terancam punah akibat menurunnya luasan maupun kualitas habitat menjadi semakin terdesak. Upaya pengelolaan kehati diarahkan melalui tahapan identifikasi, perlindungan dan pemanfaatan. Sedangkan perlindungan habitat dilaksanakan melalui penetapan kawasan perlindungan seperti cagar alam maupun hutan lindung.

Permasalahan : 1) Banyaknya pemanfaatan kawasan yang tidak sesuai dengan peruntukannya, pengambilan air bawah tanah yang tidak terkendali, masih tingginya luasan kerusakan hutan dan lahan serta penurunan daya tampung sungai dan waduk sebagai akibat laju erosi dan sedimentasi yang tinggi.

12

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

2) Tingginya tingkat pencemaran udara pada kawasan kota akibat meningkatnya gas buang dari aktivitas industri dan kendaraan bermotor, serta berkurangnya ruang terbuka hijau. 3) Menurunnya kualitas lingkungan perairan (sungai, waduk, rawa, telaga, estuaria dan pantai) dan tanah sebagai akibat peningkatan pencemaran dan sedimentasi yang bersumber dari kegiatan industri, rumah tangga, hotel, rumah sakit serta kerusakan lingkungan (erosi) karena pengelolaan lahan. 4) Kendala pemulihan fungsi kawasan lindung diantaranya adalah faktor kepemilikan lahan serta belum adanya insentif untuk pemulihan fungsi lindung. 5) Semakin meningkatnya ancaman terhadap keanekaragaman hayati. 6) Keterbatasan data dan informasi tentang sumberdaya alam dan lingkungan. 7) Masih rendahnya efektivitas pelaksanaan pengendalian dan pengawasan pemulihan kerusakan lingkungan serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. 8) Masih rendahnya kapasitas aparat/petugas dan masih rendahnya kesadaran serta peran serta masyarakat/stakeholder dalam pemeliharaan, pengelolaan lingkungan hidup dan pemahaman penerapan konsepsi pengurangan resiko bencana. 9) Belum lengkapnya perangkat hukum dan rendahnya pemahaman masyarakat tentang aturan-aturan di bidang lingkungan serta belum optimalnya penegakan hukum di bidang lingkungan.

Indikasi Pelanggaran Hak Atas Lingkungan yang Baik dan Sehat di Jawa Tengah

Hak atas lingkungan yang baik dan sehat secara khusus terdapat dalam Pasal 28 G ayat 1 UUD 1945 yaitu : “ Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan” Ketentuan dalam amandemen UUD 1945 . merupakan penguatan atas pengakuan hak serupa dalam UU No. 23 tahun 1997, khususnya pasal 5 yang menyebutkan “ Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat” . Pengakuan atas hak lingkungan yang baik dan sehat merupakan perwujudan dari tanggung jawab Negara untuk menjamin warganya dari rasa aman dan nyaman untuk hidup. Berbagai pelanggaran hak atas lingkungan terjadi sebagai konsekuensi maraknya pembukaan kran industry yang mengakibatkan pencemaran, pembukaan hutan, pertambangan secara massal. Lebih jauh kran ekspor yang dibuka secara besar-besaran oleh Negara yang diwakili pemerintah membuat pengurasan sumber

13

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

daya alam semakin menjadi-jadi. Permasalahan ini dipicu oleh kuatnya persepsi harfiah atas Hak Menguasai Negara (HMN) sebagaimana yang dicantumkan dalam Pasal 33 UUD 45 “ bumi,air, dan kekayaan alam yang ada didalamnya dikuasai oleh Negara demi sebesarnya kemakmuran rakyat” Hak atas lingkungan hidup terjebak . dalam arus kekuasaan sepihak Negara dalam mengekspoitasi sumber daya alam untuk pembangunan. Jika dilihat dari aspek pelanggaran, negara dan modal menjadi pelaku pelanggaran hak atas lingkungan dan masyarakat marginal/miskin kerap menjadi korban. Dalam posisi ini masyarakat miskin/marginal harus dikuatkan untuk mendapatkan jaminan hak atas lingkungan yang baik dan sehat yang dapat diterapkan secara adil dan berkelanjutan.

Perbandingan Pelanggaran Hak Atas Lingkungan yang Baik dan Sehat Tahun 2006 dan 2007
80 70 60 50 40 30 20 10 0 SUTET 5 16 28 26 33 36 24 36

11 .
GALIAN C

.
TOWER BTS

.
PENCEMARAN

.
LAIN-LAIN

.

Sumber: Hasil Pemantauan dan Advokasi Divisi Lingkungan dan Masyarakat Pesisir YLBHI Jateng

2006

2007

Sedangkan tahun 2007, sepanjang bulan Januari s/d Desember terdapat 91. Berdasarkan hasil pemantauan dan advokasi Divisi Lingkungan dan

Masyarakat Pesisir LBH Semarang, sepanjang tahun 2007 ditemui 5 kasus SUTET, 24 kasus Penambangan Galian C, 26 kasus pendirian Tower BTS, dan 36 kasus pencemaran, baik pencemaran udara, air maupun tanah. Menurut hasil mereka Jika dibandingkan dengan tahun 2006 untuk kasus SUTET terjadi penurunan sejumlah 11 kasus, kasus pendirian tower BTS mengalami kenaikan dengan jumlah 15 kasus,

14

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

kasus pencemaran mengalami kenaikan 3 kasus, sedangkan kasus penambangan galian C tidak ada perubahan alias stabil. Dari kwantitasnya terdapat penurunan terhadap jenis kasus SUTET, namun bukan berarti kondisi lingkungan Jawa Tengah lebih baik dari tahun 2006. Hal ini dikarenakan pemantauan memisahkan kasus-kasus masyarakat pesisir, khususnya kasus lingkungan yang korbannya adalah komunitas nelayan. Berikut gambaran kasus-kasus lingkungan hidup 2007 hasil pemantauan dan advokasi Divisi Lingkungan dan Masyarakat Pesisir LBH Semarang.

a.

Kasus SUTET Jawa Tengah Kasus SUTET tahun 2007 mengalami penurunan hingga 11 kasus jika

dibandingkan tahun 2006. Sejumlah 5 kasus yang masuk dalam tahun 2007 adalah kasus SUTET yang proses ganti ruginya masih belum terselesaikan karena adanya pemotongan (pungli) oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Bahkan korban SUTET di Blimbing Kec.Sambirejo Kab.Sragen dipotong hingga 40%. Sedangkan 11 kasus dianggap selesai dalam konteks pemberian kompensasi ganti rugi. Salah satu kasus SUTET yang terselesaikan melalui kompensasi ganti rugi adalah kasus SUTET di Desa Adimulyo Kab.Kebumen. Kasus ini diselesaikan melalui mediasi oleh Komisi Ombudsman Nasional perwakilan Jawa Tengah dan DIY. Dalam mediasi tersebut PLN tetap harus memberikan uang kompensasi ganti rugi milik warga yang dipotong oknum yang tidak bertanggung jawab sebesar Rp 3.000/m dari ganti rugi yang diberikan oleh PLN sebesar Rp 5.000/m. Selain itu PLN juga harus membayar ganti rugi bagi bangunan, baik Permanen, Semi Permanen maupun sederhana. Untuk SUTET dasar hukum pemberian ganti rugi adalah: • Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi 01.P/MPE1992 tentang Ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). • Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 975/K/MPE/1999 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi 01.P/47/MPE1992 tentang Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). • • Undang-undang No.15 tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan. Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.975/K/MPE 1999, mengenai Pedoman Pemberian Kompensasi Tanah dan Bangunan untuk kegiatan SUTET menyatakan bahwa masyarakat yang mempunyai tanah di bawah jaringan

15

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

SUTET tidak akan dibebaskan tetapi diberikan ganti rugi. Sedangkan besaran mengenai ganti rugi adalah sebesar 10% dai Nilai Jual Obyek Tanah. Kelemahan dari aturan hukum ini adalah rendahnya kompensasi yang diberikan oleh PLN, karena dilihat dari segi geografis biasanya jaringan SUTET melintang di kawasan pedesaan atau pinggiran kota yang NJOP-nya sangat rendah. Proses penyelesaian kasus SUTET sampai saat ini terbatas pada persoalan ganti rugi, namun gangguan lingkungan yang tidak sehat, belum mendapatkan penyelesaian. Padahal jika melihat hasil penelitian Dr. Anies M.Kes PKK terhadap masyarakat yang berada di bawah jaringan SUTET di wilayah Tegal, Pemalang dan Pekalongan menemukan bahwa SUTET 500kv mempunyai potensi gangguan kesehatan berupa gejala-gejala sakit kepala, pening dan keletihan. Dengan demikian, sampai saat ini warga yang tinggal di wilayah SUTET belum mendapatkan haknya atas lingkungan yang baik dan sehat. b. Kasus Penambangan Galian C

Seperti halnya tahun 2006, mayoritas kasus penambangan tidak dilengkapi dengan SPID (Surat Penambangan Ijin Daerah). Kalaupun mengantongi SPID ijin ini sudah kadaluarsa. Penambangan Galian C menimbulkan: 1) Bahaya longsor, 2)Sedimentasi di Daerah Aliran Sungai, 3) Membahayakan para pengguna jalan lainnya, dan 4) Pencemaran udara (debu). Kasus Penambangan Galian C di Kota Semarang sudah beberapa kali di lakukan tindakan oleh Satpol PP berupa pemasangan pita kuning agar penambangan dihentikan. Namun hingga saat ini masih ada yang melakukan penambangan, dan Pemkot Semarang belum menggupayakan tindakan dengan mendayagunakan pasal pidana dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

c.

Pendirian Tower BTS Dari 26 kasus pendirian Tower BTS di Jawa Tengah, masyarakat menolak

pendirian tower dengan alasan: Lahan tempat berdirinya tower didasarkan pada perjanjjian sewa menyewa dengan pemilik lahan. Pemilik telephone seluler biasanya menyewa lahan milik tokoh masayarakat setempat, misalnya kepala desa atau orang yang cukup

16

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

penting di desa tersebut. Hal ini berpengaruh terhadap warga sekitar yang akhirnya segan dan menerima tower berdiri di dekat pemukiman masyarakat; Ketakutan akan radiasi dan kekhawatiran akan bahaya petir ataupun jika sewaktuwaktu roboh dan menimpa rumah milik warga; Prosedur perjanjian ataupun pada saat membangun tower belum mempunyai ijin yang lengkap, misalnya IMB, HO ataupun dokumen UKP/PL. Di Jawa Tengah sendiri, belum terdapat regulasi yang mengatur pendirian tower BTS. Regulasi yang digunakan adalah Undang-Undang Bangunan, ketika pihak perusahaan telephone seluler telah mendapatkan ijin IMB maka Pemkot memperbolehkan perusahaan mendirikan tower.

d.

Pencemaran, baik pencemaran udara, air, maupun tanah Dari 36 kasus pencemaran, umumnya adalah pencemaran terhadap udara,

baik pencemaran oleh cerobong asap perusahaan ataupun karena pengoperasionalan industry. Di Kota Semarang sepanjang tahun 2007, pencemaran udara diakibatkan oleh bahan baku operasional perusahaan, dalam hal ini adalah batubara. Hal ini terjadi pula di Karangkandri Kabupaten Cilacap. Dampak yang secara nyata terpantau adalah pemukiman warga yang kotor dan menimbulkan gangguan pernapasan seperti ISPA. Sedangkan dalam pencemaran terhadap air, bisa dikatakan tercemar apabila zat yang terkandung di dalamnya melebihi ambang batas minimum. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam pasasl 1 (11) Undang-Undang Lingkungan Hidup, zat atau energy atau komponen yang ada atau harus ada atau unsure tercemar ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Dengan ketentuan tersebut yang menjadi persoalan adalah ketika limbah yang ada tidak melebihi ambang batas yang sudah ditetapkan. Padahal air sungai yang tercampur limbah tetap digunakan oleh masyarakat, dan apabila digunakan terus menerus akan berdampak terhadap kesehatan. Dengan kondisi tersebut perlu terobosan dari pemerintah Jawa Tengah untuk melakukan upaya atau tindakan walaupun pencemaran air dinilai tidak melebihi ambang batas yang sudah ditentukan.

Indikasi Pelanggaran Hak-Hak Nelayan dan Masyarakat Pesisir Masyarakat nelayan dan pesisir yang sangat bergantung pada sumber daya pesisir dan masih mengalami kemiskinan yang semakin hari semakin meninkat. Hal ini disebabkan oleh: 1) Faktor alam, yaitu tingginga gelombang air laut dan menrunnya

17

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

daya dukung lingkungan hidup, dan 2) Kebijakan Negara yang tidak berpihak pada kepentingan nelayan dan masyarakat pesisir, seperti penataan ruang, pola pemasaran ikan. Pada tahun 2007, nasib nelayan semakin sulit dengan ketidak pastian akan akses atau sumber daya pesisir dan laut. Ini berkaitan dengan disahkannya UndangUndang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (PWP dan P2K). Pasal 1 UU PWP dan P2K menyatakan bahwa pengelolaan pesisir dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun pada faktanya persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat justru muncul karena kebijakan pemerintah dalam melakukan pengelolaan kawasan pesisir. Penataan ruang kawasan industry justru menjadi pemicu terjadi abrasi serta menurunnya daya dukung lingkungan di kawasan pesisir. Pencemaran yang terjadi di kawasan peseisir justru mengakibatkan kerugian bagi nelayan dan petani tambak. Selain disebabkan karena kebijakan, menurunya daya dukung kawasan pesisir disebabkan pula oleh ekploitasi sumber daya alam. Akses sumber daya kawasan pesisir justru diberikan kepada pemilik modal. Seperti reklamasi Pantai Marina oleh PT Indo Perkasa Usahatama, penambangan pasir laut, serta aktifitas industry lainnya justru mencerabut hak masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya pesisir. Ironisnya ekploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh pemilik modal dilegitimasi oleh UU PWP dan P2K. Amartya Sen dan diperjelas oleh Ostrom dan Schlager (1992) menyebutkan ada lima hak yang dapat dimiliki masyarakat atas sumber daya alam (SDA) yaitu: 1. Hak akses 2. Hak memanfaatkan 3. Hak mengelola 4. Hak ekslusivitas, dan 5. Hak mentransfer atau alienasi. Namun UU PWP dan P2K tidak memberikan jaminan akan hak-hak nelayan tersebut secara tegas dan eksplisit. Pasal 16 UU tersebut menyatakan bahwa pemanfaatan sumber daya pesisir diberikan dalam bentuk hak pengusahaan perairan pesisir (HP3). Ini bisa dibaca sebagai hanya mereka yang memiliki HP3lah yang berhak memanfaatkan sumber daya perairan pesisir. Pasal 18 menyebutkan HP3 diberikan kepada perseorangan Warga Negara Indonesia, badan hukum dan masyarakat adat. Secara prinsip, nelayan dapat memliki HP3 baik sebagai individu, badan hukum dan masyarakat adat. Namun

18

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

mengacu pasal 21 menentukan berbagai persyaratan untuk mendapatkan HP3, maka sangat disangsikan nelayan tradisional dapat memenuhinya. Persoalan lain adalah berkaitan dengan penataan ruang kawasan pesisir, penempatan kawasan industry di kawasan pesisir telah bertentangan dengan tujuan UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, yaitu keberlangsungan lingkungan yang berkelanjutan. Karena faktanyapenempatan kawasan industry di wilayah pesisir justru mengakibatkan degradasi lingkungan, abrasi dan pencemaran di kawasan pesisir telah mengakibatkan kerugian bagi masyarakat pesisir. Hal ini bisa dilihat dengan adanya pencemaran di Denasri Kabupaten Batang, Tangunrejo, Mangunharjo Kota Semarang, Kawasan Donan dan Kebon Baru Cilacap, serta kawasan pencemaran di kawasan pesisir lainnya. Degradsasi lingkungan dikawasan pesisir tersebut justru mengakibatkan terampasnya hak masyarakat atas lingkungan yang baik dan sehat. Pencemaran, banjir dan abrasi justru mengakibatkan lingkungan di kawasan pesisir Jawa Tengah mengalammi kerusakan. Kondisi ini secara tegas bertentangan dengan hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat. Berdasarkan hasil pemantauan Layar Nusantara dan LBH Semarang, telah terindikasi terjadinya sejumlah pelanggaran terhadap hak masyarakat pesisir, antara lain: abrasi, kecelakaan laut, konflik alat tangkap, banjir tata niaga perikanan, dan konflik area tangkap.

a.

Kerusakan lingkungan (Banjir, abrasi dan rob)

Laut Utara Jawa Tengah dan Laut Selatan Jawa Tengah mempunayi karakteristik yang berbeda. Secara umum gelombang laut di Selatan Jawa lebih besar jika dibandingkan dengan Laut Utara Jawa. Sehubungan dengan penataan ruang, wilayah utara jawa didominasi oleh industry, hal ini terjadi di Kabupaten Rembang, Kabupaten Demak, Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Perusahaan-perusahaan dengan skala kecil hamper ada disetiap wilayah peisir utara jawa. Mayoritas industry dengan skala kecil atau home industry adalah industry pengolahan hasil laut. Sedangkan wilayah pesisir selatan Jawa Tengah, hanya di Kabupaten Cilacap dijumpai Industri, seperti Pertamina dan Pusat Listrik Tenaga Uap di Karangkandri. Kondisi penataan ruang di wilayah Pesisir Utara dan Selatan Jawa merupakan salah satu factor menurunnya daya dukung lingkungan di kawasan pesisir. Berdasarkan monitoring di media surat kabar terpantau 3.759 hektar

19

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

tambak yang hilang akibat abrasi. Selain itu abrasi menyebabkan 1.782 KK kehilangan rumah, di Kecamatan Sayung Kabupaten Demak, ada 9 dusun yang menjadi korban akibat abrasi, 2 dusun diantaranya sudah tenggelam. Abrasi hamper terjadi di wilayah pesisir Utara Jawa Tengah, mulai Kabupaten, Muarareja, Suradadi, Warurejko Kabupaten Kendal, Bedono Kabupaten Demak, Mangunharjo, Tugurejo Kota Semarang, Rowosari, Cepiring Kabupaten Kendal, Kabupaten Jepara, Sayung Kabupaten Demak, Kecamatan Serang Kabupaten Rembang, serta Kecamatan Tayu Kabupaten Pati. Faktor-faktor penyebab terjadinya abrasi, yaitu: 1. 2. Berkurangnya hutan mangrove untuk perluasan kawasan industry; Eksploitasi sumber daya alam di wilayah pesisir, salah satu contohnya adalah penambangan pasir laut di Balong Kabupaten Jepara dan Patebon Kabupaten Kendal. Sedangkan di Kabupaten Jepara, pencurian karang laut telah menyebabkan berkurangnya habitat laut; 3. 4. 5. Perubahan arus gelombang laut Penataan ruang wilayah pesisir, penempatan kawasan industry di wilayah pesisir secara jelas berdampak terhadap lingkungan. Pembangunan dengan cara mereklamasi di wilayah pesisir menyebabkan hilangnya hutan mangrove dan tambak sebagai daerah tangkapan air.

b.

Konflik area tangkap Konflik area tangkap antara masyarakat pesisir dengan pemilik modal disebabkan karena adanya perebutan dalam mengakses sumber daya laut. Nelayan yang mengakses sumber daya laut dengan peralatan sedrhana dipaksa berhadapan dengan pemilik modal yang memiliki kekuatan ekonomi yang lebih besar. Konflik ini secara tidak langsung memaksa nelayan meniggalkan lading penghidupannya. Konflik area tangkap di Jawa Tengah b erdasarkan hasil pemantauan LBH Semarang dan Layar Nusantara tercatat ada 4 konflik yang terjadi pada tahun 2007, salah satunya terjadi di Kabupaten Jepara. Nelayan yang sudah lama mengakses sumber daya laut tergusur karena kepentingan pemilik modal yang mengeksploitasi sumber daya alam. Akibatnya 118 jaring nelayan rusak akibat terseret kapal milik PLN yang mengangkut batubara untuk bahan bakar PLTU. Selainitu penambangan pasir di Balong Jepara dan Patebon Kendal

20

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

telah menyebabkan kerusakan lingkungan, yaitu abrasi yang akhirnya menghilangkan tambak masyarakat.

c.

Keamanan laut Patroli laut Polairud dan TNI AL di perairan Jawa Tengah ternyata juga belum memberikan kepastian akan rasa aman bagi nelayan ketika sedang mencari ikan. Perampokan tidak hanya terjadi di wilayah darat, akan tetapi juga sering dialami oleh nelayan di tengah laut. Salah satu contohnya adalah yang dialami oleh nelayan di Kabupaten Tegal, yang terpaksa menyerahkan hasil tangkapan dan perbekalan senilai Rp. 50.000.000 kepada perampok. Akibatnya 15 buruh nelayan yang menjadi ABK terpaksa pulang tanpa membawa hasil. Ancaman terhadap nelayan ternyata tidak hanya karena perampokan hasil tangkapan, akan tetapi juga oleh factor lain seperti ditabrak perahu yang lebih besar, dan menabrak batu karang.

2.1.2. Hak Atas Pangan (Pertanian Perkebunan, Peternakan) 2.1.2.1. Pertanian Tanaman Pangan

Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 sebanyak 33.180.000 jiwa, memiliki kerentanan yang tinggi terhadap ketersediaan pangan beras. Oleh sebab itu, peningkatan produksi beras untuk memenuhi kebutuhan penduduk Jawa Tengah sekaligus memberikan kontribusi terhadap produksi beras tingkat nasional merupakan prioritas pembangunan pertanian Jawa Tengah. Luas panen padi rata – rata Jawa Tengah ( 2001 – 2006 ) seluas 1,6 juta Ha, dengan produksi rata – rata 8,3 juta ton GKG, dan produktivitas rata – rata 53,17 ku/ha GKG. Pada tahun 2007, pemerintah pusat mencanangkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), dengan target Jawa Tengah untuk meningkatkan produksi beras sebesar 500.000 ton, sehingga target produksi padi menjadi 9.102.272 ton GKG. Untuk mencapai sasaran produksi tersebut perlu adanya prioritas program dan kegiatan yang tepat sasaran dan tepat manfaat. Berdasarkan Angka Ramalan III tahun 2007 produksi padi 8.632.210 ton GKG atau 94,84% dibanding sasaran 2007. Belum tercapainya target peningkatan produksi tersebut karena : 1) sebagian besar bangunan irigasi sudah rusak; 2) turunnya daya dukung lahan pertanian; 3)

21

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

produktivitas yang melandai; 4) belum tersedianya varietas unggul baru yang mempunyai potensi produktivitas tinggi. Kondisi ketersediaan pangan secara agregat telah memenuhi standar kecukupan pangan, yaitu sebesar 3.296,93 Kkal/kap/hari, angka tersebut lebih besar dari angka kecukupan ketersediaan pangan sebesar 2.500 Kkal/kap/hari. Sedangkan konsumsi pangan penduduk di tingkat rumah tangga menurut Susenas Tahun 2002 adalah 1.885,5 Kkal/kap/hari, berarti lebih kecil dari angka kecukupan energi sebesar 2.200 Kkal/kap/hari. Namun demikian, dari sisi cadangan pangan yang tersedia pada masyarakat masih memerlukan pengawasan dalam sistem distribusi dan harga, meskipun sudah banyak cara yang ditempuh oleh pemerintah, misalnya melalui penyediaan dana talangan untuk pembelian gabah/beras hasip panen. Sedangkan pendapatan petani yang diukur dari Nilai Tukar Petani (NTP), sejak Tahun 2003 sampai 2007 rata-rata indek NTP Jawa Tengah berturut-turut sebagai berikut : 98,49 (2003), 92,20 (2004), 97,275 (2005), 102,543 (2006) dan 107,907 (2007). Kondisi ini menggambarkan tingkat fluktuatif dari pendapatan petani yang antara lain disebabkan oleh belum efektifnya tingkat distribusi dan jaminan harga hasil pertanian. 2.1.2.2. Perkebunan

Untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang semakin meningkat, pemerintah dan para pelaku agribisnis gula sepakat untuk melaksanakan Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional 2002 – 2007 dan dengan mengingat kondisi di lapangan saat ini, telah disepakati untuk memperpanjang program ini sampai tahun 2009. Peningkatan luas areal tebu dan peningkatan produksi tebu serta gula tersebut, karena animo petani menanam tebu dengan menggunakan varietas unggul baru mengalami peningkatan. Hal ini didorong oleh adanya perbaikan harga gula, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatan petani. Dukungan dana dan sarana yang diperlukan petani, didapatkan dari dana Bantuan Pinjaman Masyarakat (BPLM) yang pengelolaan sepenuhnya diserahkan kepada petani secara bergulir, sedangkan guna mendukung penglahan tanah pada kegiatan bongkar ratoon disediakan sarana traktor sejumlah 17 unit yang dikelola oleh UPJA (Unit Pelayanan Jasa Alat Mesin). Dukungan sumberdaya lahan untuk perkebunan, seluas 715.276,89 ha yang bertumpu pada perkebunan rakyat seluas 661.635,87 ha (92,50 %), perkebunan besar

22

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

(PBS dan PBN) seluas 53.641,02 ha (7,50 %), serta tenaga kerja yang terlibat langsung dalam pembangunan perkebunan sebanyak 3,25 juta KK dengan mengusahakan 67 komoditas, diantaranya 29 komoditas utama terdiri 20 jenis tanaman tahunan dan 9 jenis tanaman semusim. Sedangkan peningkatan kelembagaan diarahkan agar kelembagaan petani dapt tumbuh dan berkembang guna meningkatkan kehidupan petani pekebun, sehingga lembaga tersebut dapat berkembang dan mampu memenuhi kepentingan pengembangan usaha perkebunan. Fasilitasi yang dilaksanakan untuk penumbuhan dan peningkatan kelembagaan, meliputi Asosiasi Petani Komoditas Perkebunan, yang sejak tahun 2002 telah terbentuk 7 asosiasi, yaitu APCI, APTO, APTI, APKI, DPD APTRI, dan Pengusaha Agro Perkebunan; Asosiasi Komoditas Perkebunan Tingkat Kabupaten (11 Asosiasi); Penumbuhan CCDC (Comodity Cooperative Development Centre) sejumlah 7 buah; dan Penumbuhan Kelembagaan Pedagang Kecil Tembakau (P3KT) di Kabupaten Temanggung meliputi 13 kecamatan; serta Penumbuhan Koperasi berbadan hukum yang bergerak di bidang komoditas perkebunan di Jawa Tengah telah terbentuk di 25 Kabupaten/Kota sebanyak 131 buah. 2.1.2.3. Peternakan

Adapun hasil pembangunan peternakan sebagai berikut : 1) Populasi ternak di Jawa Tengah mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2005 sebesar 3.114.404,68 AU (Animal Unit), pada tahun 2006 sebesar 2.977.042,65 AU, dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 3.608.790,60 AU dari target 3.626.567,80 AU; 2) Produksi daging pada tahun 2005 sebesar 181.037.114 kg, pada tahun 2006 sebesar 212.597.638 kg, dan pada tahun 2007 sebesar 168.644.628 kg; 3) Produksi telur pada tahun 2005 sebesar 159.735.272 kg, pada tahun 2006 sebesar 191.636.859 kg, dan pada tahun 2007 sebesar 141.311.297 kg; 4) Produksi susu pada tahun 2005 sebesar 70.693.094 liter, pada tahun 2006 sebesar 71.375.710 liter, dan pada thaun 2007 sebesar 85.372.555 liter. Sedangkan konsumsi daging pada tahun 2006 sebesar 6,29 gram/kap/tahun, dan pada tahun 2007 sebesar 6,87 gram/kap/tahun dari target 8,24 kg/kap/tahun. Konsumsi telur pada tahun 2007 sebesar 4,27 kg/kap/tahun dari target sebesar 4,33 kg/kap/tahun. Konsumsi susu pada tahun 2006 sebesar 3,16 liter/kap/tahun, dan pada tahun 2007 sebesar 3,98 liter/kap/tahun dari target sebesar 4,84 liter/kap/tahun. Adapun konsumsi protein hewani pada tahun 2005 sebesar 4,53 gram/kap/hari, pada

23

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

tahun 2006 sebesar 4,73 gram/kap/hari dan pada tahun 2007 sebesar 4,93 gram/kap/hari dari target 5,94 gram/kap/hari. Revitalisasi pelayanan prima kepada publik khususnya masyarakat peternakan, dilakukan melalui pengembangan Balai-Balai yang ada, yaitu meliputi : 1) Balai Inseminasi Buatan (BIB) Sidomulyo – Ungaran yang menyediakan benih berupa semen beku sapi potong, sapi perah dan kambing PE yang berkualitas. 2) Balai Pelayanan Peternakan Terpadu (BPPT)untuk pelayanan kesehatan hewan. 3) Balai Perbibitan dan Budidaya Ternak (BPBT) untuk menyediakan bibit-bibit ternak yang berkualitas. 4) Balai Pengembangan Sumberdaya Masyarakat Perternakan (BPSMP) untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui penyelenggaraan pelatihan kepada masyarakat peternak maupun aparat bidang peternakan. Permasalahan : 1) Belum beragamnya konsumsi pangan masyarakat, yaitu masih mengandalkan ketergantungan pada beras, padahal di sisi lain terjadi pelandaian produktivitas padi. 2) Belum optimalnya pengolahan hasil pertanian menjadi produk pangan yang mempunyai daya saing dan mencerminkan ciri khas (kespesifikan) daerah. 3) Masih terbatasnya infrastruktur pendukung pertanian, dan semakin turunnya daya dukung sumber daya lahan, seiring dengan masih tingginya tingkat konversi lahan pertanian ke non pertanian. 4) Akses petani, nelayan, pembudidaya ikan, peternak dan masyarakat sekitar hutan pada sumberdaya produksi termasuk permodalan, layanan usaha, teknologi dan pasar masih sangat terbatas berakibat pada rendahnya produktivitas dan nilai tambah. 5) Para pelaku agribisnis cenderung menjual produk primer, belum memanfaatkan teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan hasil guna meningkatkan nilai tambah. 6) Belum optimalnya kemampuan produksi untuk mendukung ketersediaan bibit ternak yang berkualitas, serta masih rendahnya produktivitas ternak, terutama sapi potong sebagai penghasil daging dan sapi perah sebagai penghasil susu. 7) Kurang tersedianya bahan pangan asal hewan dan hasil olahan bahan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal, yang diidentifikasikan masih tingginya tingkat pelanggaran, seperti penjualan ayam bangkai, sapi glonggongan dan penyelundupan produk hasil ternak dari beberapa negara.

24

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

8) Masih rendahnya rendemen yang diperoleh petani tebu, mengakibatkan kemitraan antara petani dengan Pabrik Gula (PG) menjadi kurang harmonis, sehingga masih dijumpai pasokan tebu yang akan digiling ke luar daerah/provinsi.

2.1.3. Hak Atas Kelestarian Lingkungan Hidup (Kehutanan, Kalautan dan Perikanan)

2.1.3.1. Kehutanan Hutan di Propinsi Jawa Tengah saat ini luasnya 647.133,00 ha atau 19,88% dari luas daratan. Apabila termasuk hutan rakyat luas kawasan berfungsi hutan sebesar 992.955 ha (30,31%). Luas tersebut telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang menyatakan bahwa hutan dalam suatu wilayah akan berfungsi optimal apabila luasnya minimal 30% dari luas daratan. Namun demikian lahan kritis yang ada di Propinsi Jawa Tengah masih cukup luas yaitu 1.038.080,97 ha, terdiri dari lahan potensi kritis seluas 173.914,87 ha, agak kritis 209.369,33, kritis 640.126,87 ha dan sangat kritis 14.669,90 ha. Lahan kritis tersebut perlu direhabilitasi melalui pengelolaan lahan dan hutan berbasis DAS dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah kabupaten/ kota, agar dapat meningkatkan daya dukung lingkungan dan bermanfaat secara ekonomi. Disamping itu dalam pembangunan kehutanan perlu ada keseimbangan antara daerah hulu dan hilir serta kepastian hukum kawasan hutan, sehingga perlu penyiapan prakondisi yang mantap agar pengelolaan hutan ke depan dapat berdayaguna dan berhasil guna. Kawasan hutan negara di Jawa Tengah yang dikelola oleh Perum Perhutani tidak semuanya dalam kondisi optimal, sebab hutan tersebut mendapat gangguan yang sangat serius berupa pencurian kayu dan kebakaran hutan. Pada tahun 2006, pencurian kayu sebanyak 36.802 batang dengan nilai kerugian finasial sebesar Rp 7,375 milyar. Kerugian sebesar ini relatif lebih kecil atau menurun sebesar 49,85% dari tahun 2005. Namun angka kebakaran hutan mengalami kenaikan sebesar 80,47% dibanding tahun 2005, yaitu mencapai luas 10.194 ha dengan kerugian finansial sebesar Rp. 3,599 milyar. Akibat kerusakan hutan dapat menimbulkan gangguan keseimbangan tata air, kekeringan, banjir, dan lain-lain. Kebutuhan Bahan baku kayu untuk 3.567 unit industri kayu di Propinsi Jawa tengah sebanyak + 7,06 juta m3 per tahun. Di luar keperluan bahan baku industri untuk kebutuhan masyarakat diperlukan + 2,9 juta m3 per tahun. Produksi kayu bulat dari Perum Perhutani saat ini hanya + 2,4 ribu m3 per tahun dan produksi dari hutan

25

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

rakyat + 2,2 juta m3 per tahun sehingga masih kekurangan + 7,76 juta m3 per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan kayu tersebut disamping dipenuhi dari luar Pulau Jawa, juga telah dilakukan penanaman tanaman kayu-kayuan bantuan bibit sebanyak

982.665 batang atau setara dengan 2.456,67 ha dan memalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/GERHAN) seluas 201.670 ha. Dengan pelaksanaan otonomi daerah dimana pengurusan hutan yang sebelumnya menjadi kewenangan pusat telah menjadi kewenangan daerah, diperlukan kelembagaan kehutanan yang kuat yang didukung oleh sumberdaya manusia yang memadai dalam kualitas dan kuantitas serta sarana dan prasarana yang cukup. Disamping itu pembangunan kehutanan perlu dikoordinasikan dengan stakeholder kehutanan sehingga pembangunan kehutanan tepat sasaran. Adapun hasil yang dicapai pada tahun 2007 sebagai berikut : 1) Pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis dan lahan tidak produktif di 22 kabupaten melalui penanaman bibit pohon sebanyak 222.550 batang yang meliputi jenis tanaman jati unggul, suren, rambutan, kina, bambu dan jenis tanaman lainnya (jenis tanaman serbaguna/Multi Purpose Trees Species). Disamping itu telah dibangun hutan rakyat dengan pola kemitraan seluas 300 hektar. 2) Peningkatan hasil hutan non kayu dengan memanfaatkan lahan dibawah tegakan hutan, melalui penanaman porang, janggelan (cincau) dan kapulogo. Kegiatan ini sekaligus untuk memberdayakan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). 3) Penyusunan rencana pengelolaan zona penyangga Taman Nasional Merapi Merbabu. Sedangkan untuk memberdayakan masyarakat sekitar taman nasional telah dilaksanakan pelatihan dan bantuan alat pengolah biogas. 4) Pembangunan Gapura/Pintu Gerbang, Rumah Kaca, Pos Pengelolaan Tahura, Pembibitan dan fasilitas lainnya di Kebun Raya Baturaden dan Penangkaran Rusa di Tahura Ngargoyoso. Diharapkan Tahura Ngargoyoso dan Kebun Raya Baturaden menjadi sumber plasma nutfah dan daya tarik wisata Jawa Tengah.

Adapun pelaksanaan program dan kegiatan selama 5 tahun terakhir (tahun 2003–2007) antara lain : 1) Telah direhabilitasinya lahan kritis melalui penanaman bibit jati unggul dan tanaman MPTS (Multi Purpose Trees Species) sebanyak 982.665 batang atau setara 2.456 hektar melalui anggaran APBD dan 80.668.000 batang atau setara 201.670 hektar melalui kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/GERHAN) dari dana pusat.

26

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

2) Telah direhabilitasinya hutan mangrove di sepanjang Pantura Jawa Tengah dengan penanaman bakau seluas 5.147 hektar. 3) Telah ditanamnya bibit mahoni dan tanjung untuk turus jalan utama Jawa Tengah sepanjang 143 km sebanyak 56.332 batang (jalan Pantura 113 km dan jalan Jalur Selatan 30 km). Permasalahan :
1) Masih tingginya lahan kritis dan lahan tidak produktif di Jawa Tengah yang belum

dimanfaatkan secara optimal
2) Masih tingginya tingkat erosi dan sedimentasi yang diakibatkan oleh erosi tebing

sungai.
3) Keterbatasan modal dan informasi pasar para petani hutan rakyat di lahan kritis. 4) Daerah hulu (Catchment area) waduk dan bangunan strategis lainnya

belum

tertangani secara optimal.
5) Tingkat kerusakan hutan di wilayah Pantura yang mengancam kehidupan wilayah

pesisir.
6) Pengelolaan lahan wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis belum dilakukan

secara optimal.
7) Masih banyaknya gangguan keamanan dan perlindungan hutan sehingga

menyebabkan kerusakan hutan /berkurangnya fungsi hutan sebagai fungsi produksi, fungsi pengatur tata air, fungsi pelestarian flora dan fauna dan fungsi lainnya.
8) Fasilitas dan sarana penunjang kawasan konservasi Taman Nasional di Jawa

Tengah belum optimal.
9) Fasilitas dan sarana penunjang pelestarian alam Kebun Raya dan Taman Hutan

Raya belum optimal.
10) Partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan dan konservasi alam belum

optimal.
11) Kegiatan pengelolaan hutan Negara di Jawa Tengah dan pengusahaan hutan dan

hasil hutan di Jawa Tengah belum memberikan pendapatan Negara dari sumbersumber kehutanan yang optimal.
12) Beberapa industri perkayuan dikelola tidak efisien dan kebutuhan bahan baku

untuk industri perkayuan sudah melampaui ketersediaan bahan baku kayu yang berasal dari hutan Negara maupun hutan rakyat.
13) Belum tersedianya data dan informasi tentang kondisi fisik, biofisik, perkembangan

dan perubahan wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk memberikan informasi

27

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

cepat, akurat dan lengkap guna penyusunan perencanaan dan pengambilan kebijakan yang tepat.
14) Informasi potensi hutan lindung dan perubahan akibat kerusakan hutan

masih

kurang.
15) Beberapa kawasan hutan masih ada yang tumpang tindih dengan kawasan non

hutan

sehingga menghambat perencanaan kehutanan maupun pelaksanaan

pembangunan kehutanan.
16) Kurangnya data dan informasi kehutanan yang cepat dan akurat untuk bahan

penyusunan rencana kehutanan dan pengambilan kebijakan kehutanan.
17) Masih kurangnya informasi masyarakat di bidang kehutanan sehingga partisipasi

masyarakat dalam kegiatan-kegiatan pembangunan kehutanan masih kurang.

2.1.3.2.

Kelautan dan Perikanan

Provinsi Jawa Tengah mempunyai wilayah seluas 32.284,268 km2 atau sekitar 23,97 % dari luas wilayah Pulau Jawa, terletak pada koordinat antara 5°40′ - 8°30′ Lintang Selatan, 108°30′ - 111°30′ Bujur Timur, memiliki potensi pengembangan usaha perikanan laut yang sangat besar. Di Laut Jawa, kaya akan jenis-jenis ikan pelagis kecil (small pelagic) dan ikan demersial dengan potensinya sebesar 796.640,00 ton/tahun, sedang Samudera Indonesia kaya dengan potensi udang dan ikan-ikan pelagis besar seperti tuna, hiu dan lain sebagainya sebesar 1.076.890,00 ton/tahun. Provinsi Jawa Tengah yang diapit oleh tiga provinsi besar, yaitu Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mempunyai keuntungan tersendiri dari segi pemasaran, baik dalam bentuk ikan hidup atau segar, maupun pemasaran benih ikan. Disamping itu, memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan usaha budidaya perikanan air tawar, perairan pedalaman, air payau, maupun budidaya laut, yang keseluruhannya mencapai luasan 293.000 ha. Disamping itu, juga merupakan salah satu provinsi yang kaya dengan potensi perairan pedalaman, diperkirakan mencapai luas 44.328,46 ha, terdiri dari waduk (23.545,75 ha), sungai (15.876,20 ha), rawa (3.660,20 Ha), dan telaga (1.246,31 Ha). Untuk waduk saja, di Jawa Tengah terdapat 37 buah waduk, di antaranya terdapat wadukwaduk besar yang sangat potensial, yaitu Waduk Gajahmungkur (Kab. Wonogiri), Waduk Wadaslintang (Kab. Wonosobo), Waduk Mrica (Kab. Banjarnegara), dan Waduk Kedung Ombo (Kab. Sragen, Boyolali, dan Grobogan). Pada waduk-waduk besar tersebut telah berkembang pula budidaya ikan di karamba jaring apung dengan komoditas unggulan Nila Merah.

28

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Untuk mengakomodir usaha penangkapan ikan di laut, maka di Jawa Tengah terdapat 77 buah TPI (Tempat Pelelangan Ikan), dimana 67 buah di antaranya terdapat di Pantai Utara, sedang 10 buah TPI berada di Pantai Selatan. Dari 77 buah TPI yang ada, tiga buah TPI masuk dalam Unit Pelaksana Teknis Pusat yaitu PPNP (Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan), PPSC (Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap), dan Pelabuhan Basis Perikanan Karimunjawa. Dua buah TPI yang menjadi penghasil utama produksi perikanan laut di Jawa Tengah adalah PPNP Pekalongan dan PPI Bajomulyo Pati. Kegiatan usaha nelayan tidak dapat dipisahkan dari peran KUD Mina sebagai lembaga ekonomi nelayan. Dari 22 buah KUD Mina di Jawa Tengah, seluruhnya sudah mencapai predikat KUD Mandiri, bahkan KUD Makaryo Mino Pekalongan telah mendapatkan predikat KUD Mandiri Inti. Dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, 17 diantaranya terdapat di wilayah pesisir, yang terdiri dari 426 desa yang terbagi menjadi 331 desa di pantai utara dan 95 desa di pantai selatan. Secara geografis memiliki garis pantai sepanjang 791, 76 km yang terdiri dari pantai utara sepanjang 502,69 km dan pantai selatan sepanjang 289,07 km. Wilayah pantai Jawa Tengah terdapat berbagai potensi sumberdaya kelautan yang sangat bervariasi, baik jenis organisme laut ekonomis penting seperti ikan, udang, dan kerang, maupun ekosistem laut seperti terumbu karang, mangrove dan estuaria. Kecenderungan semakin besarnya gelombang akibat perubahan iklim global dan intensifnya pembangunan prasarana yang menjorok ke laut telah berdampak pada perubahan garis pantai karena abrasi atau akresi. Data dari Pem Kab/Kota menunjukkan abrasi di Pantura tahun 2004 mencapai 4.708 ha, yang sebagian besar berupa lahan tambak. Upaya pengendalian kerusakan abrasi dilakukan dengan pembangunan sabuk pantai di Kab Kendal dan penanaman mangrove di Jepara. Permasalahan : 1) Masih terbatasnya sarana dan prasarana untuk mendukung perikanan tangkap (seperti Pelabuhan Perikanan, Pusat Pendaratan Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan), perbenihan ikan dan udang, perikanan budidaya, pasca panen dan pengembangan kawasan agropolitan. 2) Belum seimbangnya ekploitasi sumberdaya perikanan dan kelautan antara wilayah Pantai Utara dan Pantai Selatan, yang mengakibatkan tekanan pada sumberdaya perikanan yang ada, serta usaha para nelayan menjadi kurang/tidak profitable. 3) Belum dimanfaatkannya teknologi ramah lingkungan dalam penangkapan dan pengolahan hasil perikanan dan kelautan.

29

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

4) Hambatan non-tariff barier, mengakibatkan banyaknya ekspor hasil perikanan ditolak atau ditahan oleh negara importir. 5) Lemahnya kelembagaan, posisi tawar dan sistem pemasaran yang belum berpihak pada petani nelayan dan pembudidaya ikan. 6) Menurunnya kualitas ekosistem pantai dengan indikasi kecenderungan meningkatnya pencemaran muara sungai dan terdapatnya endapan lumpur dan sampah akibat pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya daratan yang kurang terkontrol. 7) Meluasnya kerusakan terumbu karang dan hutan bakau akibat eksploitasi berlebihan, sehingga menurunkan luasan spawning ground dan nursery ground yang berdampak pada penurunan kualitas dan kuantitas biota laut. 8) Meningkatnya ancaman abrasi/akresi di wilayah pesisir. 2.1.4. Hak Untuk Meningkatkan Taraf Kehidupan (Perdagangan, Perindustrian, Transmigrasi)

2.1.4.1.

Perdagangan salah satu kegiatan ekonomi mempunyai

Sektor perdagangan merupakan

keterkaitan luas dengan sektor-sektor lainnya; yang diharapkan mampu berperan sebagai penggerak utama (prime mover) perekonomian nasional dan perekonomian daerah dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagai tolok ukur keberhasilan sektor perdagangan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat tersebut antara lain tersedianya lapangan kerja, berkurangnya kemiskinan dan pengangguran, berkurangnya kesenjangan antar wilayah, semakin berkembangnya sektor riil, peningkatan ekspor. Secara kumulatif jumlah unit usaha pedagang di Jawa Tengah sampai dengan tahun 2006 sebanyak 146.799 unit usaha yang terdiri pedagang skala kecil 139.125 unit usaha, skala menengah 6.589 unit usaha dan skala besar 1.085 unit usaha. Sedangkan jumlah kumulatif sarana pasar di Jawa Tengah sampai dengan tahun 2006 sebanyak 1.714 unit; yang terdiri atas Pasar Induk 26 unit, Pasar Tradisional 1.537 unit, Pasar Modern 44 unit dan Pasar Swalayan 107 unit. Sebagai upaya penciptaan harga komoditas hasil pertanian yang transparan, telah dikembangkan Pasar Lelang Forward dan Spot; dengan tujuan untuk membentuk sistem perdagangan/ rantai distribusi yang efektif dan efisien dengan jalan

memperpendek rantai distribusi dan pembentukan harga yang adil dalam rangka

30

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

meningkatkan kesejahteraan petani. Pasar Lelang ini merupakan pasar yang terorganisir sebagai sarana bertemunya pembeli (pedagang, eksportir dan pabrikan) dan penjual (petani, kelompok tani ) dengan aturan tertentu dan harga terbentuk

berdasarkan lelang/ harga penawaran tertinggi. Sejak tahun 2003 sampai dengan sekarang telah dilaksanakan sebanyak 23 kali Pasar Lelang Komoditas Agro di Jawa Tengah. Kegiatan ekspor Jawa Tengah periode 1997 – 2006 menunjukkan

kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahunnya. Pada tahun 1997 realisasi nilai ekspor Jawa Tengah sebesar 1,624.36 juta dolar, dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 2,768.52 juta dolar. Realisasi nilai ekspor tahun 2006 naik menjadi 3,156,60 juta dollar atau mengalami kenaikan sebesar 14,04% dari tahun 2005. Komoditi utama ekspor non migas Jawa Tengah Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), Mebel, Kayu Olahan, Plastik dan Produk Plastik, Kertas dan Produk Kertas, Elektronika, Barang dari Kayu, Barang Pecah Belah dan Gondorukem. Negara tujuan ekspor Jawa Tengah sebagian besar masih ditujukan ke Pasar Negara-negara tradisional seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Belanda, Perancis, Belgia, Inggris, Australia, Hongkong, Singapura dan Korea Selatan. Sementara untuk realisasi nilai impor pada periode 1997 – 2006 menunjukkan kecenderungan yang menurun. Pada tahun 1997 nilai impor Jawa Tengah sebesar 1,144.21 juta dolar dan pada tahun 2006 menurun sebesar 1,057,00 juta dolar.

Beberapa komoditas impor tersebut adalah kapas, mesin-mesin/ pesawat mekanik, gandum-ganduman, mesin/ peraltan listrik dan plastic atau barang dari plastik, Hasil-hasil pembangunan sektor perdagangan tersebut pada dasarnya tidak terlepas dari peranan dunia usaha; utamanya dalam memanfaatkan peluang usaha, dukungan sarana dan prasarana penunjang serta upaya-upaya intensif pemerintah yang mengarah pada penciptaan iklim usaha yang kondusif dan mendorong terciptanya keunggulan kompetitif untuk menembus pasar global. Dalam rangka mempertahankan kinerja sektor perdagangan di Jawa Tengah dan sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka secara berkelanjutan di pasar global melalui akses dan penetrasi perlu pasar, ditempuh berbagai upaya yang utamanya diarahkan untuk meningkatkan daya saing

mengembangkan pasar dengan penciptaan merek dagang yang dapat menerobos pasar lokal dan internasional, perkuatan kelembagaan usaha perdagangan serta peningkatan efisiensi dan efektifitas perdagangan dalam negeri.

31

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Permasalahan : 1) Persaingan Global yang semakin tajam terutama dengan negara China dan Vietnam; sehingga berpengaruh terhadap kinerja pelaku ekspor. 2) 3) Belum terintegrasinya networking akses suplai produk dan akses pasar yang disebabkan oleh terbatasnya informasi pasar bagi dunia usaha. Produktivitas dan daya saing (mutu dan sertifikasi) beberapa produk ekspor masih rendah. 4) 5) Penerapan standarisasi dan merek dagang atas produk berorientasi ekspor masih terbatas. Infrastruktur penunjang kegiatan ekspor kurang mendukung (pendangkalan pelabuhan, rob, bongkar muat tinggi) 6) 7) Terbatasnya networking para pelaku ekspor dalam pengembangan akses dan perluasan pasar luar negeri. Alokasi dana untuk program pengembangan ekspor dirasakan masih sangat terbatas; sehingga belum kegiatan yang lebih luas. 8) Pemahaman dan interpretasi atas Permendagri No. 13 Tahun 2006 sebagai dasar dalam pelaksanaan kegiatan APBD masih berbeda-beda sehingga menyulitkan dalam pelaksanaan kegiatan dilapangan. 9) Belum terintegrasinya kebijakan dan program pengembangan perdagangan antara Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota; 10) Adanya perbedaan persepsi terhadap kebijakan dan program pengembangan perdagangan; sehingga penjabaran program kegiatan pada masing-masing mencukupi untuk membiayai cakupan lokasi dan

daerah berbeda-beda dan tidak terfokus sehingga hasil-hasil pelaksanaan kegiatan perdagangan belum mencapai sasaran yang optimal. 11) Belum optimalnya jangkauan pelayanan kemetrologian yang disebabkan antara lain terbatasnya sarana mobilitas dan peralatan standar yang sebagian besar sudah tidak ekonomis untuk digunakan. 12) Berkembangnya usaha Ritel Modern yang dirasakan berpengaruh terhadap perkembangan usaha Dagang Kecil dan Menengah di Pasar Tradisional. 13) Terjadinya fluktuasi dan kesenjangan harga kebutuhan pokok masyarakat antar Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah dan kurang lancarnya distribusi barang dan jasa. 14) Rendahnya posisi tawar petani produsen komoditi hasil pertanian sehingga belum memperoleh harga yang layak dan menguntungkan.

32

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

15) Terbatasnya alokasi dana untuk pengembangan program perdagangan dalam negeri; sehingga belum secara keseluruhan mencakup kegiatan yang lebih luas. 16) Pemahaman dan interpretasi atas Permendagri No. 13 Tahun 2006 sebagai dasar dalam pelaksanaan kegiatan APBD masih berbeda-beda sehingga menyulitkan dalam pelaksanaan kegiatan dilapangan. 17) Rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh perempuan pelaku usaha di bidang perdagangan 18) Sebagian besar usaha perdagangan yang dikelola oleh perempuan merupakan usaha rumah tangga atau skala kecil. 19) Terbatasnya sarana usaha yang dimiliki oleh perempuan pelaku usaha di bidang perdagangan 20) Belum terintegrasinya program kegiatan pemberdayaan perempuan antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/ Kota. 21) Lemahnya akses pasar dan permodalan usaha

2.1.4.2.

Perindustrian

Industri merupakan salah satu motor penggerak perekonomian Jawa Tengah dalam menunjang pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Sampai dengan tahun 2007 potensi industri Jawa Tengah tercatat sebanyak 644.902 Unit Usaha, terdiri dari Industri Besar sebanyak 764 Unit Usaha dan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebanyak 644.138 Unit Usaha. Jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 3.287.468 orang, terdiri dari Industri Besar sebanyak 585.214 orang dan Industri Kecil dan Menengah sebanyak 2.702.254 orang, dengan nilai investasi sebesar Rp.14,005 triliun, terdiri dari Industri Besar sebesar Rp.12,52 triliun dan Industri Kecil dan Menengah sebesar Rp.1,49 triliun. Nilai produksi yang dihasilkan sebesar Rp.22,25 triliun terdiri dari Industri Besar sebesar Rp.16,79 triliun dan Industri kecil dan Menengah sebesar Rp. 5,46 triliun. Potensi yang besar tersebut ke depan diharapkan akan terus menjadi mesin penggerak pertumbuhan perekonomian Jawa Tengah. Dengan demikian upaya-upaya untuk meningkatkan nilai tambah dalam mata rantai yang sama antara industri hulu dan hilir, industri terkait dan pendukung maupun antara Industri Besar dengan Industri Kecil dan Menengah harus terus dipacu. Hal ini perlu dilakukan mengingat bahwa industri hilir akan semakin kompetitif di pasar global apabila industri-industri terkait dan pendukungnya juga memiliki keunggulan kompetitif di pasar global.

33

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Hasil yang dicapai pada tahun 2007 adalah penerapan pola perkuatan klaster untuk meningkatkan kualitas produk, daya saing dan efisiensi pada industri khususnya industri skala kecil dan menengah karena klaster merupakan aglomerasi ekonomi yang melibatkan para pelaku Industri dari hulu hingga hilir yang membentuk mata rantai nilai tambah sehingga terjadi sinergitas antara industri inti, industri terkait maupun pendukungnya. Disamping itu telah dilakukan pula peningkatan potensi agroindustri seperti industri makanan dan minuman, upaya pengembangannya telah ditempuh melalui

berbagai kegiatan antara lain; pelatihan dan penerapan GMP (Good Manufacturing Practices) atau cara berproduksi makanan dan minuman yang baik sehingga memenuhi syarat sanitasi dan higienis perusahaan, HACCP (Hazard Analysis

Critical Control Points) merupakan salah satu bentuk manajemen resiko yang diterapkan untuk menjamin keamanan pangan, bantuan mesin peralatan, pendampingan usaha, peningkatan penerapan teknologi tepat guna, serta peningkatan layanan di 6 UPT (Unit Pelayanan Teknis) bagi Industri skala kecil dan menengah. Sementara itu untuk meningkatkan kandungan lokal serta penggunaan produksi dalam negeri telah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan pelatihan, bantuan paket peralatan dan magang, serta pengenalan produk melalui even-even pameran seperti Inacraft, PPEI dan IKRA di Jakarta. Berbagai langkah dan upaya juga terus dilakukan agar produk-produk Industri skala kecil dan menengah orientasi ekspor semakin memenuhi persyaratan standar mutu yaitu dengan pendampingan dan pelatihan sistem Manajemen Mutu ISO-9000 bagi Industri skala kecil dan menengah, antara lain industri keramik, mebel, tekstil dan produk tekstil, makanan dan logam. Pengembangan Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) berbasis sutra juga terus dikembangkan melalui pelatihan teknologi produksi industri, magang IKM sutra bagi 20 IKM di makasar, Provinsi Sulawesi selatan. Untuk meningkatkan daya saing serta perlindungan hukum bagi IKM, telah diberikan bantuan pendaftaran merk bagi 45 IKM serta registrasi HKI bagi 150 Perajin Industri skala kecil dan menengah. Permasalahan : 1) Masih lemahnya struktur industri. 2) Ketergantungan terhadap bahan baku yang berbasis impor untuk produk – produk tertentu (30 – 60 %). 3) Kualitas SDM industri masih terbatas, utamanya dalam pengembangan desain, penguasaan teknologi proses dan teknologi informasi.

34

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

4) Persaingan yang kompetitif sebagai akibat terjadinya globalisasi. 5) Banyak produk IKM belum berorientasi pasar (market oriented) dan kegiatan produksinya belum mengarah pada spesialisasi produk. 6) Ketersediaan jaringan jaringan informasi pasar dalam dan luar negeri masih terbatas bagi produk IKM, belum menjangkau produk-produk unggulan lainnya. 7) Keterkaitan antara industri hulu dan hilir belum terbangun secara optimal. 8) Belum optimalnya keterpaduan program antar sektor dan antar wilayah dalam pengembangan industri dan masih berorientasi pada kepentingan masing-masing instansi/lembaga/sektor/daerah sebagai implikasi dari otonomi. 9) Terjadinya perubahan lingkungan strategis sektor industri di dalam negeri dan luar negeri (pelaksanaan otonomi daerah dan liberalisasi perdagangan dunia).

2.1.4.3.

Transmigrasi

Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di perkotaan pada umumnya jauh baik dibandingkan dengan mereka yang yang tinggal di perdesaan. Hal tersebut membawa konsekwensi banyaknya investasi ekonomi oleh swasta maupun pemerintah cenderung terkonsentrasi di daerah perkotaan. Di sisi lain kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan banyak yang tidak sinergis dengan kegiatan ekonomi di perdesaan. Hal tersebut berakibat peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan perdesaan justru memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan perdesaan. Di bidang ketransmigrasian animo masyarakat tahun 2007 tercatat sebesar 3.828 KK. Melalui program transmigrasi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup bagi penduduk miskin dan penganggur. Animo masyarakat untuk bertransmigrasi dirasa cukup besar, tercatat pada tahun 2007 yang telah mendaftakan diri sebesar 4.615 KK. Penyelenggaraan program transmigrasi sebagai salah satu upaya perluasan kesempatan kerja belum berjalan dengan optimal antara lain dikarenakan ketidaksiapan lahan/lokasi daerah penempatan, kurangnya informasi potensi daerah penempatan dan kesiapan dari calon transmigran. Pada tahun 2004 target penempatan transmigran dari Jawa Tengah sebanyak 1.279 KK, terealisir 906 KK (70,84 %), sedangkan pada tahun 2005 dari target penempatan transmigran sebanyak 1.113 KK terealisir 890 KK (79.96 %). Pada tahun 2006 dari target penempatan

sebesar 3.168 KK terealisasi 861 KK, dan tahun 2007 target penempatan sebesar 845 KK telah terealisir 136 KK. Belum tercapainya target pengiriman disebabkan karena

35

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

belum terbitnya Surat Pemberitahuan Pemberangkatan Transmigran (SPPT) dari Pemerintah Pusat berkenaan dengan kesiapan lahan/lokasi daerah penempatan calon transmigran dimaksud. Upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangka

meningkatkan pelaksanaan program transmigrasi adalah melalui peninjauan tempat tujuan penempatan transmigran untuk melihat persyaratan lokasi yang mencakup 2C dan 4 L, yakni : Clean and Clear untuk status tanahnya serta apakah lokasi tersebut Layak Usaha, Layak Huni, Layak Berkembang dan Layak Lingkungan. Selanjutnya untuk meningkatkan efektivitas pengiriman transmigran ke luar Pulau Jawa akan dilakukan kerjasama dengan 5 provinsi daerah penempatan dan MoU dengan 11 provinsi penempatan.

Permasalahan : 1) Rendahnya jalinan komunikasi antara daerah pengirim dan daerah penempatan transmigran sehingga banyak dijumpai berbagai hambatan baik aspek

ekonomi/sosial budaya. 2) Masih rendahnya skill, knowledge dan attitude bagi calon transmigran.

2.2. Dua Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan (Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera) Pada tahun 2006, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) adalah 6.168.889 PUS dan peserta KB sebanyak 4.681.482 pasang (75,89 %) dan bukan peserta sebanyak 1.487.407 (24,11%). Kondisi ini menjadi tatantangan yang cukup berat, karena harus menjaga agar peserta KB tidak droup out, dan melayanai peserta KB baru. Sebagian peserta KB isteri usia diatas 30 tahun, yaitu 4.126.220 orang (66,89 %) dan usia 20 – 30 tahun sebanyak 1.899.382 orang (30,79 %). Dalam penggunaan alat kontrasepsi, suntik sebanyak 2.560.039 orang (41,39%), pil sebanyak 862.307 orang (13,94%),dan IUD sebanyak 498.386 orang (8,06 %). Peserta KB baru sebanyak 709.250 orang. Pada tahun 2006 terdapat 377 kasus kegagalan dalam penggunaan alat kontrasepsi dan 509 kasus komplikasi. Kasus kegagalan IUD sebanayak 183 kasus (48,54 %), kegagalan implant 105 kasus (27,85%), komplikasi IUD 233 kasus (45,78%), dan komplikasi suntik 149 kasus (29,27%).

36

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Pengelolaan program KB di era otonomi daerah seperti komitmen politis dan operasional pemerintah daerah, penyiapan dukungan kelembagaan yang efektif, optimalisasi pendayagunaan personil/tenaga program KB, penyediaan sarana

prasarana dukungan manajemen dan pembiayaan. Di samping itu dengan diterbitkan Keputusan Presiden Nomor : 103 Tahun 2001, tentang penyerahan sebagian kewenangan di Bidang KB kepada Pemerintah Kabupaten/Kota menuntut adanya komitmen yang tinggi dari Pemerintah

Kabupaten/Kota guna mewujudkan kelestarian penyelenggaraan program KB. Perkembangan peserta Keluarga Berencana (KB) aktif pada tahun 2007 telah berhasil membina peserta KB aktif sebanyak 4.856.401 orang atau 77,71 % dari Pasangan Usia Subur (PUS) sebesar 6.249.653 orang. Meningkatnya cakupan mutu pelayanan KB dan kesehatan melalui pelayanan MOW sebanyak 12.946 orang, MOP 2.375 orang, dan penguatan kelembagaan pelayanan KB di 35 Kabupaten/Kota. Permasalahan : 1) Banyaknya jumlah penduduk miskin termasuk di dalamnya Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I. 2) Rendahnya akses, kualitas, cakupan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. 3) Masih banyaknya penduduk yang melangsungkan perkawinan pada usia remaja dan rendahnya pengetahuan remaja dalam hal Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS. 4) Jumlah penduduk senantiasa mengalami peningkatan dan struktur penduduk mengarah kepada penduduk Lanjut Usia (Lansia). 5) Menurunnya kualitas dan kuantitas pengelolaan program KB .

2.3. Hak Mengembangkan Diri

2.3.1. Hak Pendidikan Pendidikan merupakan bidang strategis dan sentral dalam upaya

membangun SDM yang berkualitas. Dalam kehidupan manusia, proses pendidikan berlangsung seumur hidup, dimulai sejak dini bahkan sejak dalam kandungan sampai pada akhir hayat. Sebagaimana diamanatkan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (setelah Perubahan) dalam Pasal 31 ayat (4) Negara memprioritaskan anggaran

37

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

pendidikan sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) persen dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Ketentuan 20 (dua puluh) persen sampai tahun 2007 ini baik secara nasional maupun di Pemkab. Grobogan (kurang lebih baru 16 %) sendiri belum mampu memenuhi amanat UUD Negara RI Tahun 1945 tersebut, disebabkan keterbatasan alokasi anggaran meskipun dari tahun ke tahun telah mengalami peningkatan yang signifikan. Bagi Kabupaten Grobogan permasalahan berkaitan dengan bidang

pendidikan, antara lain sebagai berikut : a) belum memadainya kualitas lulusan pendidikan ; b) belum memadainya peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan

pembangunan pendidikan ; c) belum memadainya sarana dan prasarana pendidikan ; d) belum meratanya pembangunan pendidikan bagi seluruh wilayah di Kabupaten Grobogan ; e) belum optimalnya sinkronisasi antara kebutuhan tenaga kerja dengan kualifikasi lulusan pendidikan ; Pembangunan Bidang Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan dalam kerangka pembangunan bidang pendidikan daerah dan nasional, yang terus diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Jawa Tengah yang cerdas, produktif dan berakhlak mulia mulalui upaya pengembangan dan penyesuaian pendidikan dengan tuntuan perkembangan iptek dan kebutuhan pasar tenga kerja. Upaya tersebut menunjukkan hasil positif, yang ditunjukkan melalui beberapa indikator bidang pendidikan. Sejalan dengan itu komitmen Provinsi Jawa Tengah tahun 2008 akan merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Sisdiknas. Beberapa indikator bidang pendidikan tersebut antara lain : Angka Partisipasi Kasar (APK) pada tahun ajaran 2005/2006, untuk SD/sederajat meningkat sebesar 0,80 persen dari tahun ajaran sebelumnya sebesar 105,67 persen sehingga telah melebihi standar ideal indikator pemerataan pendidikan. Tingkat SMP/sederajat sebesar 89,57 persen atau meningkat sebesar 3,36 persen dari tahun ajaran sebelumnya sebesar 86,21 persen dan SMA/sederajat tahun ajaran 2005/2006 sebesar 50,63 persen terjadi peningkatan sebesar 1,83 persen dari tahun ajaran sebelumnya sebesar 48,80 persen. Untuk pencapaian Angka Partisipasi Murni (APM), pada tahun ajaran 2005/2006 pada SD/sederajat sebesar 89,98 persen meningkat

38

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

sebesar 0,26 persen dari tahun ajaran sebelumnya, sedangkan untuk SMP/sederajat sebesar 69,01 persen atau meningkat sebesar 4,39 persen dari tahun ajaran sebelumnya sebesar 64,62 persen serta pada SMA/sederajat sebesar 39,56 persen atau meningkat sebesar 4,73 persen dari tahun ajaran sebelumnya. Indikator lain dari perkembangan pendidikan juga dapat dilihat dari Angka Putus Sekolah (APS) pada tahun ajaran 2005/2006 untuk SD/sederajat terjadi penurunan sebesar satu persen dari tahun ajaran sebelumnya sebesar 0,29 persen, sedangkan untuk SMP/sederajat 0,98 persen dibandingkan tahun anggaran

sebelumnya terjadi penurunan sebesar 0,05 persen, selanjutnya untuk SMA/sederajat terjadi penurunan sebesar 0,04 persen dari tahun ajaran sebelumnya sebesar sebesar 0,90 persen. Terkait dengan sarana prasarana bidang pendidikan, pada tahun ajaran 2005/2006 Jawa Tengah memiliki 23.832 unit SD/MI dengan jumlah guru sebanyak 212.420 orang dan sebanyak 3.888.779 siswa. Untuk tingkat SMP/MTs/sederajat terdapat 4.101 unit sekolah, dengan guru sebanyak 97.071 orang dan jumlah siswa sebanyak 1.508.517 orang. Tingkat SLTA/SMK terdapat 2.155 unit sekolah dengan guru sebanyak 63.661 orang dengan murid sebanyak 878.245 orang. Untuk gedung sekolah pada tahun 2006, terdapat 89.755 ruang kelas sekolah jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK yang rusak. Jumlah ruang kelas yang rusak ringan mencapai 67.175 (34,49 persen), rusak sedang mencapai 19.207 (9,86 persen) dan rusak berat mencapai 14.231 (7,31 persen) dari total ruang kelas sebesar 194.760. Tahun 2007 penuntasan Buta Aksara pada usia produktif sebanyak 294.090 warga belajar, sisa diluar usia produktif akan diselesaikan pada tahun 2008 yang merupakan program penuntasan pembinaan dan pelestarian. Dari aspek keberhasilan Program Pemberantasan Buta Aksara, Gubernur Jawa Tengah memperoleh Anugerah Aksara Tingkat Utama pada peringatan Hari Aksara Internasional ke-42 di Makassar pada bulan September 2007. Berkaitan dengan relevansi pendidikan, khususnya pendidikan menengah kejuruan, dari jumlah SMK yang ada sekitar 810 sekolah, 94,32% telah menerapkan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) melalui pemagangan di dunia kerja/industri. Hal tersebut menunjukkan adanya upaya dunia pendidikan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Aspek kualitas dan relevansi pendidikan sangat terkait dengan peningkatan mutu dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang berhubungan dengan input dan output proses pembelajaran. Sehubungan dengan itu, pada tahun 2007 Jawa Tengah keluar sebagai Juara Umum dalam kegiatan Pemilihan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional.

39

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Namun demikian, apabila dihadapkan dengan kondisi secara nasional dan global, pembangunan pendidikan di Jawa Tengah masih dihadapkan pada berbagai permasalahan, antara lain :
a) Kurangnya pemerataan pendidikan; b) Kurangnya kualitas pendidikan; c)

Kurangnya relevansi pendidikan;

d) Kurangnya efisiensi dan efektifitas pendidikan; e) Belum optimalnya manajemen dan kemandirian pendidikan.

2.3.2. Hak Mengembangkan dan Melestarikan Budaya

Keberagaman seni budaya yang ada di Jawa Tengah merupakan modal dasar pembangunan bagi pengembangan bidang pariwisata dan bidang kebudayaan itu sendiri. Potensi tersebut perlu digarap secara intensif sesuai dengan karakteristik daerah sehingga nantinya dapat memperkaya khasanah budaya daerah yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi serta mendukung pengembangan sektor pariwisata. Kondisi tersebut menjadikan kebudayaan (seni-budaya) memiliki peran yang strategis dalam membangun dan menggarap sisi nilai rohani, kemanusiaan serta interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat melaui berbagai forum dan kegiatan apresiasi dan pelestarian seni budaya daerah. Dalam rangka pembinaan budaya di tingkat sekolah, Jawa Tengah telah mencoba menerapkan kurikulum Bahasa Jawa sebagai Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal pada jenjang SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. Selain itu melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah nomor 434/83/2006 tentang Penggunaan Bahasa Jawa di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai komitmen untuk mendukung pelestarian bahasa/budaya daerah. Beberapa hal yang telah dicapai dalam bidang kebudayaan antara lain : pelestarian benda-benda cagar budaya, konservasi dan pembangunan kawasan situs, berkembangnya jumlah Perpustakaan Daerah maupun Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Permasalahan : 1) Masih belum optimalnya upaya penyelamatan dan pemanfaatan benda cagar budaya sebagai asset peninggalan sejarah; 2) Kurang optimalnya fasilitasi apresiasi dan pengembangan bahasa serta sastra daerah dan Indonesia;

40

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

3)

Kurangnya pendayagunaan dan pengembangan perpustakaan serta media pembelajaran pendidikan dan kebudayaan;

4) 5) 6)

Belum optimalnya apresiasi karya seni budaya daerah; Kurang optimalnya fasilitasi apresiasi dan pengembangan bahasa dan sastra daerah/ Indonesia; Kurang optimalnya upaya penyelamatan dan pemanfaatan benda cagar budaya sebagai asset peninggalan sejarah;

7) 8)

Belum optimalnya pendayagunaan dan pengembangan perpustakaan serta media penyiaran pendidikan dan kebudayaan; Masih rendahnya perhatian terhadap pelestarian budaya spiritual.

2.3.3. Hak Berkomunikasi dan Memperoleh Informasi Dalam rangka mendukung penyelenggaraan pemerintahan, sistem informasi manajemen pemerintah merupakan salah satu pendukung pelaksanaan fungsi adimistrasi pemerintahan, pelayanan publik dan administrasi pembangunan. Salah satu wujud nyata pelayanan publik yang lebih baik adalah adanya transparansi informasi kepada masyarakat melalui berbagai media tentang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, sehingga masyarakat dapat merespon kebijakan pemerintah daerah secara cepat. Terkait dengan peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan telah dilaksanakan pengembangan jaringan dn komunikasi untuk mendukung pelayanan informasi tentang Jawa Tengah dan mensosilaisasikan kebijakan serta hasil-hasil pembangunan pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah dilaksanakan dialog interaktif melalui media televisi dan radio, kegiatan lainnya dalam bentuk visualisasi video dan foto.

2.3.4. Hak Pengembangan Diri Secara Kolektif Untuk memberdayakan ekonomi rakyat, peran pemerintah masih sangat diperlukan khususnya pada upaya penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) dan pemberian kemudahan-kemudahan lainnya. Kinerja Pembangunan Koperasi selama Tahun 2007 secara kuantitatif

menunjukkan peningkatan yang cukup nyata apabila dilihat dari sejumlah indikator

41

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

seperti jumlah koperasi, jumlah anggota, penyerapan tenaga kerja, asset/permodalan dan volume usaha. Data yang ada menunjukkan bahwa jumlah koperasi meningkat dari 16.110 unit pada Tahun 2006 menjadi 16.752 unit pada Tahun 2007 ada kenaikan sebanyak 642 unit koperasi (meningkat sebesar 3,98%). Ditinjau dari aspek tenaga kerja di koperasi sebanyak 35.026orang pada Tahun 2006 menjadi 40.139 orang pada Tahun 2007, ada kenaikan jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 5.293 orang (15,11%). Kenaikan jumlah tenaga kerja ini menunjukkan bahwa koperasi mampu berperan dalam mengurangi angka pengangguran dan menurunkan tingkat kemiskinan, mendinamisasi sektor riil dan memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat.

Permasalahan : 1) 2) Diversifikasi usaha dan sistem distribusi KUMKM belum berkembang secara optimal Kebanyakan KUMKM memiliki keterbatasan dalam mengakses kepada sumber pembiayaan dan permodalan, disamping kebanyakan KUMKM masih

mengandalkan modal sendiri yang sangat terbatas jumlahnya, akibatnya kegiatan usahanya sulit memenuhi skala ekonomi dan tidak berjalan dengan baik bahkan cenderung menurun karena biaya yang tinggi 3) Kualitas SDM dan kelembagaan KUMKM rata-rata masih rendah, khususnya dalam bidang manajemen, organisasi, pemasaran, tekhnologi serta masih rendahnya jiwa dan semangat kewirausahaan KUMKM 4) Iklim usaha masih belum sepenuhnya kondusif, khususnya yang mencakup aspek legalitas usaha, praktek bisnis dan persaingan usaha yang tidak sehat, ketidakpastian lokasi usaha dan masih lemahnya koordinasi dan pemberdayaan KUMKM 5) Masih lemahnya KUMKM dalam penguasaaan teknologi khususnya dalam hal packaging, sanitasi higienitas produk makanan dan minuman, perlindungan hukum atas produk, informasi, sarana dan prasarana 6) Pengembangan komoditi unggulan daerah melalui kegiatan promosi, misi dagang, pameran, kemitraan dan sebagainya belum optimal dilaksanakan

2.3.5. Hak Mengembangkan Diri (Kepemudaan dan Olahraga)

42

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

2.3.5.1.

Kepemudaan

Besarnya jumlah pemuda merupakan salah satu modal dasar bagi pelaksanaan pembangunan. Guna mengoptimalkan modal dasar tersebut, berbagai program pembangunan kepemudaan telah dilaksanakan, antara lain melalui upaya pembinaan pemuda, pengembangan kegiatan sosial ekonomi produktif pemuda dan pembinaan lembaga / organisasi kepemudaan. Upaya-upaya tersebut walaupun belum diperoleh optimalisasi hasil, namun telah menunjukkan beberapa hasil yang positif. Generasi muda Indonesia di berbagai event telah menunjukan prestasi yang cukup membanggakan, antara lain melalui prestasi di bidang keolahragaan, seni-budaya, serta karya ilmiah baik di tingkat regional, nasional dan bahkan internasional. Beberapa penghargaan telah diperoleh generasi muda di Jawa Tengah, seperti : 1) Pemuda Pelopor Jawa Tengah mendapat Penghargaan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional (masing-masing Ahmad Failasuf untuk Bidang Kewirausahaan, Teguh Subroto untuk Bidang Pendidikan, Joko Istianto untuk Bidang Teknologi Tepa Guna dan Rianto Purnomi untuk Bidang Budaya dan Pariwisata); 2) Keikutsertaan dalam program Kapal Pemuda Nusantara dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (2 orang pemuda); 3) Partisipasi dalam Porgram Pertukaran Pemuda Antar Negara ASEAN-Jepang, Indonesia-Australia dan Indonesia-Kanada (3 orang pemuda). Namun kondisi positif ini dirasakan menjadi sedikit menurun karena perilaku sebagian masyarakat antara lain masih banyak dijumpai berbagai kasus kenakalan pemuda-pelajar seperti tawuran antar pelajar, keterlibatan dalam tindak kriminal dan pemakaian obat-obat terlarang. Kebijakan Program : Kebijakan-kebijakan pada urusan Kepemudaan tersebut dijabarkan dalam 3 (tiga) program pembangunan, yang terdiri dari 1) Peningkatan Pembinaan Pemuda Program ini bertujuan untuk melindungi segenap generasi muda dari

penyimpangan perilaku dan penyalahgunaan miras dan napza serta penyakit sosial masyarakat lainnya. 2) Pengembangan Kegiatan Sosial Ekonomi Produktif Pemuda

43

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Program

ini

bertujuan

untuk

mengembangkan

minat

dan

semangat

kewirausahaan di kalangan generasi muda yang berdaya saing, unggul dan mandiri. 3) Pembinaan Lembaga/ Organisasi Kepemudaan Program ini bertujuan untuk mengembangkan iklim yang kondusif bagi generasi muda dalam mengaktualisasikan segenap potensi, bakat dan minat dengan memberikan kesempatan dan kebebasan mengorganisasikan dirinya.

Permasalahan : 1) 2) 3) Meningkatnya kenakalan dan perilaku kriminal dikalangan pemuda; Belum berkembangnya kegiatan sosial ekonomi produktif dikalangan pemuda; Belum optimalnya peran serta lembaga/organisasi kepemudaan dalam

penanganan permasalahan generasi muda. 2.3.5.2. Olahraga

Selaras dengan terbitnya Undang-Undang nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, olahraga prestasi dikembangkan untuk mengoptimalkan potensi olahraga daerah sehingga dapat berperan dalam event nasional maupun intenasional. Sedangkan olahraga kemasyarakatan dikembangkan agar setiap anggota masyarakat menjadikan olahraga sebagai media rekreasi dan kesehatan, sehingga tercipta masyarakat sehat jasmani dan rohani. Melalui Peraturan Daerah nomor 1 Tahun 2006, pembangunan olahraga di Jawa Tengah diarahkan baik pembinaan olahraga prestasi maupun olahraga

kemasyarakatan. Upaya yang telah dilakukan dalam rangka pembangunan olahraga dewasa ini menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang cukup menggembirakan. Hal ini dapat diihat dari pencapaian prestasi olahraga baik di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Adapun prestasi yang diperoleh atlet olahraga Jawa Tengah pada tahun 2004 antara lain : 1) SEA Games Vietnam 11 emas, 8 perak dan 16 perunggu; 2) Pekan Olah Raga Mahasiswa Nasional (POMNAS) di Pakanbaru 18 emas, 10 perak dan 7 perunggu; 3) Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) di Ujungpandang 17 emas, 28 perak dan 28 perunggu; 4) POSPENAS di Palembang 12 emas, 6 perak dan 5 perunggu; serta 5) Kejurnas Olahraga Siswa SD di Jakarta sebagai juara umum 11 emas, 6 perak dan 5 perunggu.

44

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Tahun 2006, hal-hal yang telah dicapai antara lain : dilaksanakannya pembinaan 70 klub olah raga pelajar dan 180 pelatihan pembina olah raga, peningkatan prestasi olah raga Jawa Tengah di tingkat regional, nasional dan internasional, peningkatan perolehan jumlah medali dalam PON XVI di Sumatera Selatan. Pada pelaksanaan PON XVI di Palembang Sumatera Selatan, Jawa Tengah menempati peringkat IV. Walaupun belum memenuhi target sebagaimana yang diharapkan yaitu menempati peringkat III, namun dari perolehan medali meningkat cukup significan yaitu dari perolehan medali 42 emas, 62 perak dan 65 perunggu pada PON XV Surabaya menjadi 56 emas, 64 perak dan 64 perunggu. Kondisi positif ini tentu saja harus tetap dipertahankan melalui pembinaan, pembibitan dan pemanduan bakat yang terarah dan berkesimbungan yang disertai dengan penyediaan fasilitas sarana/ prasarana olahraga yang memadai dan peningkatan Di profesionalisme itu, manajemen organisasi olahraga olahraga daerah juga serta sudah peningkatan partisipasi masyarakat. samping perkembangan pemasyarakatan

menunjukkan kemajuan yang relatif menggembirakan. Hal ini terlihat dari tumbuhnya perkumpulan/kelompok olahraga masyarakat di berbagai tempat seperti fitnes, olahraga pernapasan, perkumpulan bersepeda dan sebagainya.

Permasalahan : 1) Belum terarahnya pola pembibitan, pembinaan dan pemanduan atlet olahraga; 2) Lemahnya kapasitas kelembagaan organisasi olahraga daerah; 3) Sarana dan prasarana olahraga yang kurang memadai; 4) Belum membudayanya kebutuhan olahraga sebagai bagian dari pola hidup sehat dikalangan masyarakat; serta 5) Pola pembinaan, pembibitan dan pemanduan bakat prestasi atlet olahraga belum / kurang terarah. 6) Belum terjaminnya tingkat kesejahteraan bagi atlit berprestasi.

2.4. Hak Atas Kebebasan Pribadi

2.4.1. Hak Atas Kebebasan Berkumpul, Berpendapat dan Berekspresi

Kebebasan

untuk

menyampaikan

pendapat

dimuka

umum

merupakan

perwujudan dari demokrasi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

45

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

bernegara. Ketentuan ini terdapat dalam Pasal 21 dan 22 Konvensi Hak-Hak SIpil dan Politik dan telah dijamin dalam Pasal 23 ayat 2 UU HAM yaitu “ setiap orang berhak untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya secara lisan dan atau tulisan” Hal ini diperjelas dan diperkuat didalam Pasal . 25 UU HAM, dijelaskan bahwa menyampaikan pendapat umum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur hak ini adalah UU No.9 tahun 1998, khususnya Pasal 10 yang mengatur bahwa penyampaian pendapat dimuka umum wajib diberitahukan kepada pihak Polri. Dan pihak kepolisian berkewajiban untuk memberikan SPPT setelah menerima surat pemberitahuan. Berikut kasus-kasus pelanggaran hak kebebasan berkumpul, berpendapat dan berekspresi di Jawa Tengah berdasarkan hasil moitoring LBH Semarang: a. Kasus Pembubaran Aksi Damai Falun Dafa

Pada tanggal 4 April 1997, Solidaritas Falun Gong telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada Kapolres Semarang Timur tentang rencana aksi damai pada tanggal 7 April 2007 dalam bentuk pawai. Aksi damai dimulai dari taman KB – Simpang Lima – Gajah Mada – Kranggan – Benteng – Ki Mangun Sarkoro – Tlogorejo – Simpang Lima (finish). Namun pihak kepolisian yang menerima surat pemberitahuan dari Falun Dafa, yaitu Polres Semarang Timur tidak memberikan Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP). Sebagaimana direncanakan, maka pada tanggal 7 April 2007, 100 pengikut Falon Gong melakukan pawai damai di Lapangan Pancasila Kawasan Simpang Lima. Namun aksi damai ini dibubarkan Polwiltabes karena dinilai tidak mendapatkan STTP –aksi tersebut dinilai tidak mendapat izin-. Sobagio al Liem Soe Hok sebagai pihak penanggung jawab ditangkap dan disangkat dengan Pasal 216 KUHP Jo Pasal 15 UU No.9 Tahun 1998 dan 510 KUHP. Padahal sesuai dengan ketentuan undang-undang, jika seseorang atau sekelompok orang akan melakukan penyampaian pendapat dimuka umum diminta untuk memberitahukan, dan sebaliknya kewajiban polisi untuk memberikan STTP kepada mereka yang menyampaikan pendapat dimuka umum. Ketentuan tersebut seperti tercantum didalam Pasal 13 ayat 1a yang menyatakan bahwa setelah menerima surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Polri wajib segera memberikan STTP.

46

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

b. Kasus Pembubaran Aktivis Papernas

Konferensi Daerah (Konferda) Papernas di Semarang dan Kendal dibubarkan dengan alasan tidak mendapatkan STTP, padahal pihak Papernas sudah

memberitahukan kegiatannya. Sedangkan di Solo dan Sukoharjo, Konferda dibubarkan oleh FPI, dan aparat Kepolisian membiarkan terjadinya pelanggaran hak tersebut. Atas penghambatan untuk melaksanakan hak untuk berkumpul, berserikat, berpendapat dan berekspresi, maka Papernas pada tanggal 23 April 2007 mengadukannya ke Panitia RANHAM Jawa Tengah. Panitia RANHAM memberikan respon melalui surat yang mempersilahkan Papernas untuk mengajukan gugatan secara hokum. Respon Panitia RANHAM sangkat mengecewakan dan tidak sesuai harapan. c. Kasus Pembubaran Seminar YAPHI.

Pada hari Kamis, 21 Juni 2007, di Aula Rumah Makan Taman Sari, Interaksi Solidaritas Antar Elemen Masyarakat (INSAN EMAS) bekerjasama dengan Lembaga Pengabdian Hukum YAPHI (LPH YAPHI) menyelenggarakan seminar nasional dengan tema : “ MEMPERKUAT KETAHANAN MASYARAKAT SIPIL TANPA KEKERASAN” . Pada seminar tersebut panitia mengundang sekitar 170 peserta yang antara lain terdiri dari: perwakilan Pemerintahan Kelurahan, perwakilan dari Kecamatan, Tokoh Ormas, Tokoh Agama,dll. Pembicara dalam seminar tersebut adalah Imam Aziz – mantan Direktur LIKS Yogyakarta yang menggantikan Dawam Raharda yang sakit-, Arie Sujito–Dosen FISIP universitas Gajah Mada – dan Abina Musthofa Kamil– Pengasuh/Pembina Pondok Pesantren Baitul Musthofa- dan sebagai moderator adalah Abdullah Faisol- Dewan Presidium Insan Emas-. Sehari sebelum pelaksanaan seminar, Sekretaris Panitia mendapatkan telepon dari orang yang tak dikenal dengan mengatas namakan LUIS (Laskar Umat Islam Surakarta) yang meminta seminar harus dibatalkan karena Dawam Raharjo diharamkan dan tidak boleh masuk Solo. Pihak panitia memberikan keterangan bahwa Dawam tak bias hadir karena sakit, selanjutnya penelepon menyatakan agar Dawam bertobat karena dia membawa islam ke liberal dan Islam tidak bisa diliberalkan. Pada pelaksanaan seminar, Kapolsek Colomadu Karanganyar mendatangi RM. Taman Sari, kepada pemilik rumah makan diminta supaya seminar dibatalkan

47

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

dan melarang makanan kecil dikeluarkan. Tetapi pemilik rumah makan menolak, namun Kapolsek marah dan menggebrak meja dengan keras sehingga pemilik rumah makan ketakutan dan meminta panitia segera dating. Selama itu pemilik rumah makan dan staf diancam polisi, bahkan dilarang memasuki dapur dan memasak makanan. Panitia memutuskan untuk tetap melangsungkan seminar. Namun terjadi tekanan dan ancaman bahwa seminar akan dihentikan. Maka terjadi keributan kecil di lantai bawah antara Yusuf Suramto SH (advokat, Koordinator PPHM-LPH YAPHI), Winarso dan aparat dari Polres Karanganyar. Akhirnya terjadi negosiasi bahwa seminar harus selesai ja, 10.30 tapi panitia menolak, akhirnya disepakati bersama jam 11.30. Namun aparat Polres Karanganyar melanggar kesepakatan dengan mendatangkan pasukan satu kijang penuh dan 2 truk lengkap dengan pentungan dan siap siaga di bawah ruang seminar. Sebagai akibatnya peserta seminar kurang nyaman terutama aparat birokrasi. Berdasarkan berbagai pertimbangan, maka panitia memutuskan seminar dihentikan dengan terpaksa. Setelah seminar selesai aparat kepolisian menceritakan bahwa aparat kepolisian Karanganyar ketakutan akan tekanan dari LUIS. d. Penolakan Pelaksanaan Rapat Akbar Petani FPPK.

Bahwa guna mendorong secara politik percepatan proses penyelesaian konflik agraria yang melibatkan basis-basis keanggotaan Organisasi Tani Jawa Tengah, khususnya yang berada di wilayah Kab. Kendal; menyediakan ruang demokrasi secara terbuka bagi elemen pergerakan tani untuk mengapresiasikan setiap tuntutannya menjadi program penyelesaian problema kaum tani di Jawa Tengah, serta membangun kesepahaman antar organisasi petani, pemerintah, legislatif dan elemen masyarakat lainnya di wilayah Jawa Tengah tentang Konsepsi Reforma Agraria Sejati secara utuh dan dapat menyelesaikan problema politik ekonomi, social budaya kaum tani Indonesia. Maka Forum Paseduluran Petani Kendal (FPPK) pada Kamis 28 Juni 2007 pukul 09.00 s/d 13.00 WIB di Lapangan Sepak Bola Desa Ngarianak, Kec. Singorejo Kab. Kendal Jawa Tengah

merencanakan penyelenggaraan RAPAT AKBAR FPPK. Namun rencana pelaksanaan Rapat Akbar tersebut mengalami hambatan. Bahwa pada 21 Juni 2007 atas nama Ketua Panitia Rapat Akbar FPPK, A. Zaenul Rohim, menyampaikan Proposal Pemberitahuan Kegiatan Rapat Akbar, yang ditujukan kepada Kapolres Kendal. Selanjutnya pada 26 Juni 2007 atas nama

48

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Kapolres Kendal, Wakil Kapolres Kendal mengeluarkan surat pemberitahuan penolakan rapat akbar yang diselenggarakan oleh FPPK. Penolakan ini didasarkan karena persyaratan yang diajukan FPPK dianggap masih kurang untuk

menyelengngarakan rapat akbar. Antara lain

pertama tidak adanya STTP

keberadaan Organisasi (STTPKO), kedua akte notaris pendirian organisasi, ketiga direkomendasikan untuk bisa melengkapi kekurangan syarat-syarat tersebut di atas. Penolakan kegiatan tersebut menimbulkan kegelisahan ditengah panitia rapat akbar tersebut. Apalagi FPPK sudah mencoba memenuhi ketentuan dalam UU NO.9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum. Akhirnya panitia memutuskan bahwa rapat akbar tersebut tetap dilaksanakan dengan menghadirkan perwakilan BPN Pusat, untuk menjelaskan kepada petani tentang keberadaan program PPAN. Rapat akbar ini akhirnya berhasil diselenggarakan, dihadiri 3000 petani laki-laki, perempuan dan anak. Tidak hanya sekedar dari Kab. Kendal namun juga perwakilan dari Kabupaten-kabupaten disekitarnya, termasuk dukungan beberapa elemen pro perjuangan petani. Meskipun dengan penjagaan aparat yang berlebihan baik dalam jumlah maupun peralatannya, rapat ini berhasil dengan sukses.

2.4.2. Hak Atas Status Kewarganegaraan/Hak Atas Identitas Diri

Jumlah penduduk Jawa Tengah hingga tahun 2006 sebanyak 33.179.062 jiwa, terdiri dari laki-laki 16.526.491 jiwa dan perempuan 16.712.657 jiwa dengan rata-rata kepadatan penduduk sebesar 1.011 jiwa/km2. Prediksi jumlah penduduk pada akhir tahun 2007 dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 0,67 % atau 33.186.292 jiwa. Sedangkan rata-rata kepadatan penduduk sebesar 1.020 jiwa/km2, dengan angka ketergantungan (dependency ratio) 49,01 % Penyelenggaraan pelayanan kependudukan dan catatan sipil dirasakan masih belum optimal. Karena Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berusaha terus meningkatkan pengelolaan administrasi kependudukan dan catatan sipil. Sampai tahun 2007, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melaksanakan pelatihan dan fasilitasi dalam rangka penerapan Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) secara terpadu di Kabupaten/Kota, penataan sistem Koneksi (Inter-Phase). Tahap Awal, Nomor Induk Kependudukan (NIK), koordinasi kebijakan kependudukan dan catatan sipil antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota, serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

49

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Sementara ini data kependudukan dan pencatatan sipil yang tersedia di Provinsi Jawa Tengah belum terintergrasi dalam suatu sistem data base yang mudah diakses untuk berbagai kepentingan. Pada tahun 2006 telah melaksanakan pelayanan pembuatan Akte Kelahiran secara gratis sebanyak 25 Kabupaten/Kota. Keberhasilan yang telah dicapai pada Tahun 2007 meningkat menjadi 32 kabupaten/kota untuk pelayanan pembuatan Akte Kelahiran secara gratis dan diharapkan pada tahun 2008 semua Kabupaten/Kota. Selanjutnya dalam rangka persiapan untuk mendukung pelaksanaan PILKADA Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berhasil membuat database Daftar Pendududuk Potensial Pemilih Pilkada (DP4) ke 35 Kabupaten/Kota. Permasalahan : 1) 2) 3) Data pendududuk kurang akurat Belum tersedianya data base penduduk; Belum optimal dan mantapnya pelayanan kependudukan dan catatan sipil, pengelolaan admnistrasi serta sistem informasi kependudukan.

2.5. Hak Atas Rasa Aman Ketertiban dan keamanan merupakan faktor yang sangat penting dalam pembangunan. Oleh karena itu, keteriban dan keamanan mempunyai andil yang cukup besar dalam proses menumbuhkan perekonomian menyelenggarakan suatu daerah. Berdasarkan tugasnya memelihara dan ketentraman

masyarakat dan ketertiban umum serta menegakkan Perda dan Peraturan atau keputusan Bupati. Dalam pelaksanaan tugas Operasi Yustisia, antara lain Miras, Operasi Operasi

Penertiban PKL, Penataan Lalu Lintas terpadu. Penataan PKL

dilakukan secara adil dan komprehensif, dengan sasaran kebijakan ini adalah untuk terciptanya usaha PKL sesuai dengan perencanaan tata ruang kota yang mendukung terciptanya kelestarian lingkungan hidup supaya bersih, indah, tertib dan lancarnya lalu lintas. Peredaran dan pemakai miras di Kab. Grobogan dari waktu ke waktu semakin meningkat, karena aparat kepolisian dan salpol PP diminta lebih giat memeranginya, agar peredaran miras yang kadarnya di atas 5 % dapat ditekan. Peredaran minuman

50

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

beralkohol, saat ini tidak hanya berada di tengah kota saja, namun menjalar di masyarakat pedesaan hingga ke pelosok hutan. Bahkan masih banyak warung-

warung yang menjualnya secara bebas. Hak Anak Disebutkan pemakai miras bukan saja hanya orang dewasa, tapi sudah merambah kepada anak-anak sekolah (pelajar). Padahal bagi pemakai miras, dampak negatifnya, bukan saja kepada dirinya saja, melainkan juga kepada orang lain maupun masyarakat disekitarnya. Banyak kejadian kriminalitas, mulai dari perkosaan, penganiayaan, dsb, karena pelakunya lebih dahulu mabok setelah menenggak miras. Pemusnahan barang bukti miras oleh Polres dan Satpol PP berlangsung di TPA Ngembak Kec. Purwodadi. Barang bukti tersebut sebagai sitaan dan hasil Operasi yang dilakukan beberapa bulan ini.

2.6. Hak Atas Kesejahteraan

2.6.1. Hak Atas Kesehatan Pembangunan dibidang kesehatan termasuk dalam prioritas dalam rencana strategis . Hal ini mengingat kesehatan masyarakat sangat berpengaruh dengan pelaksanaan program pembangunan bidang yang lain. Secara umum pelayanan publik terkait di bidang kesehatan pada tahun 2007 sudah mengalami peningkatan yang berarti, namun demikian bukan berarti tanpa hambatan dan masalah, antara lain masih tingginya angka kemiskinan dan angka kematian ibu melahirkan, kasus demam derdarah masih sering menjadi endemi ditengah-tengah masyarakat, masih dijumpai anak-anak berstatus gizi buruk/kekurangan gizi serta sarana dan prasarana yang masih perlu mendapatkan perhatian kita bersama. Adapun kegiatan/program terkait bidang kesehatan, antara lain meliputi Pelayanan Kesehatan Bagi Keluarga Penduduk Miskin, Pelayanan Kesehatan Bagi Ibu Hamil, Bayi Dan Anak. Berdasarkan SK Bupati Tahun 2007 penentuan pasien askes sebanyak 523.849 jiwa dilayani 4 (empat) Rumah Sakit, sedangkan kuota berdasarkan SK. Menteri Kesehatan sebanyak 547.557 jiwa, sementara sisanya dilayanai langsung oleh 30 Puskesmas yang menyediakan rawat inap. Pelayanan Kesehatan Bagi Gakin ini bertujuan untuk pemenuhan hak

pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin. Adapun target dalam satu tahun untuk rawat jalan 15 % dan rujukan 10 % dengan realisasi rawat jalan 20,6%, Rawat Inap

51

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

0,45 % dan rujukan 0,75 % Dalam pelaksanaan masih dijumpai kendala al.: masih ada keluarga non gakin yang mendapatkan kartu Askeskin, masih ada keluarga miskin yang belum tahu prosedur penggunaan haknya, guna mengatasi hal ini telah diambil langkah seperti sosialisasi terhadap perangkat desa, tokoh masyarakat tentang sasaran dan prosedur penggunaan Askeskin, sehingga diharapkan pada pelaksanaan pada tahun 2008 dapat lebih tepat sasaran yaitu pada keluarga miskin yang telah mempunyai askeskin. Sedangkan untuk Pelayanan Kesehatan bagi ibu hamil, bayi dan anak bertujuan untuk pemenuhan kesehatan dan hak-hak mendapatkan pelayanan kesehatan. Adapun target dalam 1 (satu) tahun, baik untuk ibu hamil, bayi, anak dan persalinan sebesar 90%, sedangkat relaisasinya untuk ibu hamil 78,2%, persalinan 78,2%, bayi 74,4%, anak 69%, adapun kendalanya belum semua sasaran mau

periksa sesuai dengan standart yang ada, solusi yang diambil sosialisasi kepada masyaratkat, peningkatan ketrampilan petugas kesehatan, dan memerintah kepada seluruh Kepala Puskesmas untuk proaktif. Sedangkan untuk kegiatan pemberantasan penyakit seperti DBD, untuk tahun 2007 ini tercatat 1.009 kasus DBD dan 19 orang diantaranya meninggal dunia. Salah satu upaya yang dilakukan Dinkes adalah meninggalkan ketergantungan kepada fogging (pengasapan) saja, namun lebih mengandalkan pada gerakan pencegahan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN), Jika pada tahun 2007 ini hanya beberapa puluh desa saja, tahun depan (2008) ditargetkan ada 100 desa/Kel untuk digiatkan gerakan PSN. Caranya dengan melibatkan kder pemantau jentik di desadesa. Rencana pemberlakuan biaya berobat di Puskesmas gratis pada tahun 2008, dengan target melayani 475 ribu pasien dalam setahun, mulai Bulan Januari 2008 sudah memprogramkan gratis biaya pengobatan di seluruh Puskesmas, sudah termasuk pemeriksanaan rawat jalan, obat, tindakan medis, dan pemeriksaan laborat. Kebijakan ini tidak berlaku bagi PNS, ataupun Askes Miskin, sebab mereka sudah disubsidi dari PT Askes atau Pemerintah Pusat. Wakil Bupati Icek Bakoro, SH. meminta kepada RSUD Raden Soejati membebaskan biaya perawatan/pengobatan pasien korban bencana alam, termasuk yang dirawat disejumlah Puskesmas yang ada di Grobogan. Pemerintah Kabupaten Grobogan telah memberikan bantuan, baik berupa bahan makanan (sembako), obat-obatan, dan juga sejumlah uang untuk memperbaiki rumah. Secara umum, pembangunan kesehatan di Jawa Tengah diarahkan pada tercapainya Visi “ JAWA TENGAH SEHAT 2010 YANG MANDIRI DAN BERTUMPU

52

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

PADA POTENSI DAERAH” Oleh karena itu, upaya peningkatan derajat kesehatan . masyarakat di Jawa Tengah dilakukan melalui peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan. Sedangkan untuk mewujudkan kemandirian masyarakat dibidang kesehatan, secara simultan dilaksanakan program-program yang

mempertinggi kesadaran masyarakat dalam mewujudkan lingkungan sehat, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Beberapa indikator yang menunjukan keberhasilan pembangunan bidang kesehatan antara lain : Umur Harapan Hidup (UHH), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI). Berdasarkan perhitungan UHH waktu lahir mengalami peningkatan dari 68,2 tahun pada tahun 2000 menjadi 70,6 tahun pada tahun 2005. AKB dari tahun ke tahun mengalami penurunan, dari 31 per 1000 kelahiran hidup (Tahun 2003), menjadi 33 per 1000 kelahiran hidup (Tahun 2004), 25 per 1000 kelahiran hidup (Tahun 2005), dan 14,23 per 1000 kelahiran hidup (Tahun 2006). Sedangkan AKI, mengalami penurunan dari 116,12 per 10.000 kelahiran hidup (tahun 2003), menjadi 101 per 10.000 kelahiran hidup (tahun 2006). Kondisi yang berkaitan dengan penyebaran penyakit menular seperti angka kesakitan (Incidence rate/IR) DBD, berfluktuasi, dari 2,61 per 10.000 penduduk pada tahun 2003 , meningkat menjadi 2,72 (tahun 2004), yang kemudian turun menjadi 2,00 (tahun 2005). Kasus penderita malaria mengalami penurunan yaitu pada tahun 2003 sebanyak 0,51/1.000 penduduk menjadi 0,15/1.000 penduduk tahun 2004 dan turun menjadi 0,05/1.000 penduduk. Jumlah penderita HIV dan AIDS, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dari 98 penderita HIV dan 3 penderita AIDS (98/3 penderita HIV/AIDS) pada tahun 2003, meningkat menjadi 130/19 (tahun 2004), 185/58 (tahun 2005), 287/135 (tahun 2006). Untuk angka kesembuhan penyakit TB Paru mengalami peningkatan dari 74 % pada tahun 2002 menjadi 85,83 % pada tahun 2005. Disamping itu terdapat penyakit menular tertentu yang berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) seperi Flu Burung. Di Jawa Tengah pada tahun 2006 ditemui kasus Flu Burung pada manusia sebanyak 3 kasus yaitu di Kabupaten Boyolali, Semarang dan Banjarnegara. Prevalensi penyakit tidak menular, beberapa diantaranya cenderung mengalami peningkatan. Tahun 2004 prevalensi penyakit jantung coroner 0,8/1.000 penduduk, penyakit kencing manis 4,3/1.000 penduduk, neoplasma 0,3/1.000 penduduk. Status Gizi Balita, berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG), Tahun 2002, Balita gizi buruk di Jawa tengah sebesar 1,3 %, turun menjadi 1,15 % pada tahun 2003, yang kemudian meningkat menjadi 1,76 pada tahun 2004. Sedangkan

53

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

untuk Balita gizi kurang, tahun 2002 sebesar 13,88 %, tahun 2003 turun menjadi 11,78 %, dan tahun 2004 meningkat menjadi 14,79% . Untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan yang sesuai kompetensi dalam pelayanan kesehatan, di Jawa Tengah terdapat 109 institusi pendidikan tenaga kesehatan baik negeri maupun swasta pada tahun 2003 dan meningkat menjadi 119 institusi pada tahun 2004. Dari jumlah tersebut pada tahun 2003 terakreditasi 79 Institusi (72%), dan pada tahun 2004 telah terakreditasi 84 institusi (70%). Namun jumlah lulusan yang ada dan cukup banyak belum termanfaatkan dan didayagunakan secara optimal. Tahun 2004 ada 40 RSU Pemerintah dan 7 RS khusus pemerintah; RSU swasta dari 89 pada tahun 2003 menjadi 96 pada tahun 2004. RS Khusus swasta ada 50 pada tahun 2004 yang terdaftar di Provinsi. Untuk Puskesmas pada tahun 2004 ada 845 Puskesmas, dan munculnya berbagai bentuk pelayanan kesehatan swasta di seluruh kabupaten/kota. Mengacu pada kebijakan pemerintah Provinsi dalam rangka pembangunan kesehatan di pedesaan, Polindes sebanyak 4322 yang semula hanya memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak, dikembangkan fungsinya dengan memberikan pelayanan kesehatan dasar lainnya dengan nama Poliklinik Kesehatan Desa (PKD). Untuk tahun 2004 dan 2005 dikembangkan 2000 PKD, dan akan diteruskan sampai dengan tahun 2008 untuk seluruh Polindes. Disamping itu mulai tahun 2006 dalam rangka tersedianya obat-obatan di pedesaan, akan dikembangkan Warung Obat Desa (WOD) yang keberadaannya melekat pada PKD. Selain itu pemenuhan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin juga menjadi prioritas. Kualitas pelayanan kesehatan baik pemerintah dan swasta masih belum optimal, dan harus terus diupayakan. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan pencapaian akreditasi rumah sakit baik pemerintah maupun swasta. Rumah sakit umum pemerintah yang lulus akreditasi sebanyak 38 RSU dengan rincian 5 RSU lulus akreditasi 5 standar, 20 RSU lulus akreditasi 12 standar dan 3 RSU lulus akreditasi 16 standar. Rumah Sakit Khusus pemerintah yang lulus akreditasi 5 standar sebanyak 5 RSU walaupun pada tahun 2005 ini sudah habis masa berlakunya. Rumah sakit umum swasta yang lulus akreditasi sebanyak 37 RSU dengan rincian 21 RSU lulus 5 standar, 15 RSU lulus 12 standar dan 1 RSU lulus 16 standar, sedangkan yang belum lulus akreditasi sebanyak 59 RSU. Untuk ketersediaan dan perlindungan masyarakat terhadap sediaan farmasi dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan bagi kesehatan dirasakan belum optimal. Obat asli Indonesia (OAI) merupakan potensi di Jawa

54

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Tengah, dan telah mulai dikembangkan untuk lebih berkualitas dan lebih dimanfaatkan, dimana pada tahun 2004 dan 2005 dibentuk 3 pusat kajian pengembangan OAI yang masih perlu dilanjutkan pada tahun berikutnya. Tahun 2004, tingkat pemanfaatan air bersih mencapai 77%, pemanfaatan jamban 61%, cakupan rumah sehat 69,77%, cakupan SPAL 40%. Berdasarkan hasil survey PHBS yang dilakukan, strata PHBS tatanan rumah tangga tahun 2004 sebesar sehat 65,3 % yang meningkat menjadi 75,95% pada tahun 2006. Tahun 2006, beberapa keberhasilan yang telah dicapai dalam bidang kesehatan antara lain adalah: (1) Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat ditandai dengan peningkatan usia harapan hidup waktu lahir, menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) dan menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) per kelahiran hidup; (2) Dikembangkannya fungsi Polindes dari 4322 menjadi Poliklinik Kesehatan Desa

(PKD) sebanyak 3000 unit dan akan diteruskan sampai tahun 2008; (3) Berkembangnya sarana pelayanan kesehatan khususnya pelayanan rujukan; (4) Telah dicapainya angka penemuan kasus AFP yang ditargetkan > 1 per 100.000 anak hal tersebut karena adanya peningkatan kualitas Surveilans yang terpadu dengan RS, pelatihan tenaga dan adanya SO; (5) Meningkatnya angka kesembuhan penderita TB. paru; (6) Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat dengan target 65% pada tahun 2010 ditahun 2005 telah mencapai 65,30%; (7) Produksi dan distribusi sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan termasuk makanan dan minuman berkembang pesat; (8) Berkembangnya industri obat tradisional dan industri kecil obat tradisional sebesar 27%.

Permasalahan : 1) Belum mantapnya kebijakan dan manajemen kesehatan, terutama dalam hal keterpaduan lintas program dan lintas sektoral. 2) Pembangunan berwawasan kesehatan belum sepenuhnya menjadi pertimbangan dalam pembangunan secara keseluruhan. 3) Dalam upaya mendapatkan pelayanan kesehatan, masyarakat lebih berorientasi pada aspek kuratif. Aspek promotif dan preventif belum dianggap sebagai kebutuhan, sehingga cakupan penerapan PHBS masih rendah. 4) Masih banyak daerah yang sulit dijangkau oleh sarana pelayanan kesehatan yang berkualitas sebagai akibat dari faktor geografis. 5) Kecenderungan meningkatnya beberapa penyakit menular tertentu dan penyakit tidak menular dan penyakit degeratif. 6) Masih banyak ditemukan balita gizi buruk.

55

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

7) KLB DBD masih sering terjadi. 8) Meningkatnya jumlah bencana yang teradi, baik dalam skala kecil, menengah, maupun besar. 9) Jumlah Penderita HIV/AIDS meningkat secara sangat signifikan.

2.6.2. Hak Milik Bersama Atas Sarana dan Prasarana Umum

Salah

satu

urusan

wajib

yang

menjadi

kewenangan

Pemerintah

Kabupaten Grobogan adalah penyediaan sarana dan prasarana umum. Dalam hal ini adalah prasarana jalan dan jembatan yang merupakan infrastruktur yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Mengingat kondisi alam Kab. Grobogan, banyak jalan dan jembatan yang rusak, disebabkan daya dukung tanah rendah. Sehubungan dengan kondisi di atas Pemerintah Kabupaten berkomitmen bahwa untuk tahun 2007 dicanangkan Tahun Kualitas. Adapun kegiatan/program antara lain Program Pembangunan Jalan dan jembatan, Pembangunan talud/bronjong, Rehab/pemeliharaan jalan & jembatan, Peningkatan Sapras Kebinamargaan, Pembangunan Infrastruktur Perdesaan & Perkotaan. Sampai dengan Semeter II tahun 2007 untuk kegiatan fisik secara

umum telah dapat terselesaikan / 100 %, namun ada 11 (sebelas) Rekanan yang terlambat menyelesaikan pekerjaan, dan terhadap ke –11 rekanan tersebut telah dikenai sanksi berupa denda sebesar seperseribu kali nilai kontrak per hari, besarnya denda bervariasi antara Rp. 100 ribu hingga Rp. 40 juta dan sudah disetorkan ke Kas daerah. 2.6.3. Hak Bekerja dan Hak Atas Pekerjaan

Di Provinsi Jawa Tengah bahwa masih ketenagakerjaan yang belum

banyak

permasalahan

dapat diselesaikan secara tuntas, misalnya

perlindungan tenaga kerja di luar negeri maupun dalam negeri, penyampaian informasi pasarkerja belum optimal, serta pelatihan bagi tenaga kerja belum dapat dilaksanakan secara maksimal dan lain sebagainya. Masalah dan tantangan yang dihadapi, antara lain : rendahnya kualitas ketrampilan naker ; rendahnya kualitas perlindungan terhadap naker ; lapangan kerja yang tersedia belum seimbang dengan jumlah angkatan kerja ; dan rendahnya ketrampilan calon transmigran. Guna mengatasi masalah tersebut, program yang

56

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

akan dan telah dilaksanakan adalah Program peningkatan ketrampilan Naker, Pembinaan dan Perlindungan Naker, dan program peningkatan transmigrasi. Perusahaan yang merealisasikan UMK 2007 baru sekitar 30%, bahwa belum banyak pengusaha atau pelaku usaha yang membayar gaji karyawan berdasarkan UMK 2007, yang ditetapkan sebesar Rp. 502.000 per / bulan / karyawan, masih banyak yang melanggar. “ Belum semua perusahaan membayar karyawan sesuai dengan UMK. Sosialisasi dan pengarahan sudah dilakukan, melibatkan 250 (dua ratus lima puluh) orang namun kondisi kemampuan perusahaan masih kurang memadai dan hal ini dimaklumi oleh karyawan. Data di Disnakertrans Pemkab. Grobogan menyebutkan sampai dengan Bulan September tahun 2007 ini Grobogan memberangkatkan tidak kurang 1.477 orang calon TKI diberangkatkan ke LN, mayoritas dari mereka adalah perempuan yang masih produktif. Negara tujuan paling banyak sekitar 85 % Arab Saudi jadi tenaga kerja informal tau PRT., Namun diluar data tersebut masih banyak TKI Grobogan yang ke LN tanpa sepengetahuan Dinas alias non prosedural. Padahal ketentuan tersebut jelas melanggar UU 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan perlindungan TKI Di LN, disamping pengawasannya sangat menyulitkan Dinas. Dibenarkan, jika beberapa kasus TKI yang meninggal dunia di LN rata-rata tidak prosedural. Pada Tahun 2007 ini tidak kurang sudah ada 5 (lima) kasus, terakhir awal november lalu, Safaah, TKI asal Dukuh Krajan, Brabo, Kec. Tanggungharjo yang meninggal dunia di Yordania. Pihak dinas tidak menyangkal, jika masih banyak TKI LN semata-mata karena alasan ekonomi.Pekerjaan di Desa yang hanya jadi buruh kasar dan petani kecil dianggapnya kurang menguntungkan. Disamping sulitnya mencari pekerjaan saat ini. Namun pemikiran pemikiran masyarakat saat ini sudah bergeser, dulu banyak ke Arab Saudi, sekarang ke Taiwan. Sebab di Taiwan gajinya lebih besar, walau harus bayar Rp.2 juta waktu berangkat.. “ Pemicunya soal ekonomi atau nikah terlalu muda. Padahal mereka belum punya bekal yang matang, jelas sumber tersebut sembari menyorot jika pemerintah atau Pemkab dapat meyediakan lapangan pekerjaan idealnya tidak ada TKI luar negeri lagi. Kondisi ketenagakerjaan dan di Jawa Tengah memperlihatkan bahwa jumlah penduduk 10 tahun ke atas senantiasa mengalami fluktuasi yaitu dari 26.627.570 orang pada tahun 2004, meningkat menjadi 27.323.479 orang pada tahun 2005 dan meningkat kembali menjadi 27.041.083 orang pada tahun 2006. Pada kurun waktu yang sama jumlah angkatan kerja mengalami fluktuasi yaitu dari 15.974.670 orang (59.99 %) naik menjadi 16.634.255 orang (60.88 %) turun menjadi 16.408.175 orang (60,68 %).

57

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Jumlah penduduk yang bekerja juga mengalami fluktuasi yaitu dari 14.930.097 orang atau 94.34 % dari jumlah angkatan kerja, naik menjadi 15.655.303 orang (94.12 %) turun menjadi 15.210.931 orang (92,70 %) . Sedangkan jumlah penduduk yang mencari pekerjaan (penganggur terbuka) mengalami fluktuasi yaitu dari 1.044.573 orang (6.54 %) turun menjadi 978.952 orang (5.88 %) naik menjadi 1.197.244 orang (7,30 %). Dari jumlah penduduk yang bekerja tersebut terdapat penduduk dengan katagori setengah penganggur yaitu penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu yang jumlahnya mengalami penurunan. Pada tahun 2004, jumlah setengah penganggur tercatat sebanyak 5.394.865 orang (36,13%) (33,28 %). Selanjutnya dilihat dari lapangan pekerjaan terlihat bahwa sebagian besar penduduk bekerja pada sektor pertanian, disusul kemudian sektor perdagangan, industri, jasa dan selebihnya bekerja pada sektor yang lain seperti konstruksi, angkutan dan komunikasi, keuangan, pertambangan, listrik, air dan gas. Secara rinci dapat diuraikan bahwa prosentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian mengalami penurunan dari tahun 2004 sebesar 41,81 %, turun menjadi 37,53 % pada tahun 2005 dan turun menjadi 36,57 pada tahun 2006. Kemudian pada kurun waktu yang sama untuk sektor perdagangan mengalami fluktuasi yaitu berturut-turut menunjukkan angka 20,13 %, 21,91% dan 20,54 %. Pada sektor industri mengalami kenaikan yaitu 16,03 %, 16,58 % dan 17,92%. Kondisi ini berlaku pada sektor jasa yang mengalami kenaikan yaitu berturut-turut menunjukkan angka 10,32 %, 11,17 % dan 11,59 %. Dilihat dari pendidikan tertinggi yang ditamatkan pencari kerja (penganggur terbuka) prosentase terbesar adalah tamat SMTA. Tercatat pada tahun 2005 berturutturut tamat SD sebesar 8,88 %, tamat SMTP 9,75 %, tamat SMTA 60,36 %, tamat sarjana muda 8,93 % dan tamat sarjana 12.08 %. Pada tahun 2006 tamat SD sebesar 3,73 %, tamat SMTP 9,57 %, tamat SMTA 61,45 %, tamat sarjana muda 8,21 % dan tamat sarjana 12.08 %. Kondisi lain yang dijumpai adalah masih banyaknya TKI illegal yang mengindikasikan masih lemahnya pemahaman dan kesadaran pekerja dan turun menjadi 5.185.409 orang (33,12%) pada tahun 2005 dan naik menjadi 5.062.062 orang

perusahaan pengguna jasa pekerja terhadap ketentuan dan peraturan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Meskipun upaya untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja telah dilakukan, tetapi secara umum kondisi kesejahteraan pekerja belum memadai. Salah satunya dilihat dari penetapan upah minimum yang masih di bawah Kebutuhan Hidup Minimum

58

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

(KHM). Rata-rata Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Jawa Tengah pada tahun 2005 sebesar 98,47 % dari KHM tahun 2005 dan pada tahun 2006 turun menjadi 83,67 % dari KHL tahun 2006. Nilai rata-rata Upah Minimum Jawa Tengah mengalami kenaikan Kabupaten/Kota (UMK) di

pada tahun 2005 sebesar Rp. 422.575,68,- dan

pada tahun 2006 meningkat menjadi Rp 491.552,70,-. Jumlah perusahaan yang mengajukan permohonan penangguhan penerapan upah minimum pada tahun 2006 relatif kecil yaitu sebanyak 40 perusahaan. Dari jumlah tersebut sebanyak 29 perusahaan disetujui, 4 perusahaan ditolak dan 7 perusahaan mencabut permohonannya. Hubungan industrial juga dirasakan belum berjalan harmonis. Hal ini terlihat dari banyaknya kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan Pemutusan Hubungan Industrial (PHI). Pada tahun 2006, kasus PHK sebanyak 295 kasus melibatkan 3.121 orang tenaga kerja, kasus PHI sebanyak 43 kasus melibatkan 219 orang tenaga kerja. Hasil yang telah dicapai pada tahun 2007 bidang ketenagakerjaan, meskipun jumlah penganggur dan setengah penganggur di Jawa Tengah pada tahun 2007 masih cukup tinggi, namun demikian di bidang ketenagakerjaan beberapa hasil yang telah dicapai antara lain perluasan lapangan kerja dan usaha baik di dalam maupun di luar negeri antara lain meliputi : a) kesempatan bekerja dan berusaha bagi 12.720 orang melalui kegiatan perluasan kesempatan kerja, fasilitasi penempatan TKI ke Malaysia, pengawasan

penempatan TKI; b) penempatan TKI sebanyak 21.895 orang c) penyelenggaraan Job Marker Fair dan tercatat sebanyak 10.000 orang mendapat informasi lowongan kerja di 70 perusahaan; d) pembinaan dan pengembangan kewirausahaan melalui CBT, Usman, SI, UEP dan TKS; e) perluasan kesempatan kerja melalui mekanisme Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) sebanyak 3.741, mekanisme Antar Kerja Antar Negara (AKAN) sebanyak 21.895; Disamping itu peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja juga telah dirasakan berkat dari pelaksanaan kegiatan seperti :
a) pelatihan kerja bagi penganggur sebanyak 743 orang; b) pelatihan dan pemberdayaan Penca; c)

pelatihan kerja bagi CTKI;

d) pemagangan bagi calon tenaga kerja di perusahaan; e) penyiapan pemagangan ke Jepang.

59

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Di bidang ekonomi, pendekatan ekonomi kerakyatan seperti yang tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 33 belum tercermin jelas dalam kebijakan, program, dan kegiatan. Kenyataan menunjukkan, sektor informal terutama usaha

mikro, yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan lapangan kerja dan menopang kelangsungan hidup sebagian besar keluarga di Jawa Tengah, belum mendapatkan perhatian proporsional. Berbagai atribut melekat pada mereka, seperti terbatasnya ketrampilan SDM sektor informal dan usaha mikro(terutama ketrampilan manajemen berusaha dan penguasaan teknologi), bermodal kecil karena akses untuk mendapatkan modal sangat sulit; kecilnya akses pada informasi terutama informasi pasar; keterbatasan pasar; keterbatasan sarana dan prasarana pendukung; dan belum adanya perlindungan bagi keberlangsungan usaha mereka. Pada bagian lain, mereka harus berhadapan dengan para pemodal dan pemilik usaha besar, yang lebih banyak memperoleh kemudahan dalam akses permodalan, sarana dan prasarana pendukung, serta informasi pasar. Usaha yang dilakukan untuk mengoptimalkan Informasi Pasar kerja (IPK) dan Bursa Kerja dilakukan melalui pelatihan 10 orang sebagai pengelola BKO dan dapat terinformasikan sebanyak 2.500 lowongan. Hubungan industrial antara pekerja, buruh dan pengusaha terdapat kecenderungan menuju harmonis. Kasus Pemutusan Hubungan Industrial (PHI) tahun 2006 sebanyak 43 kasus dengan melibatkan tenaga kerja sebanyak 219 orang dan 295 kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan melibatkan tenaga kerja sebanyak 3.121 orang. Kasus Pemutusan Hubungan Industrial (PHI) tahun 2007 sebanyak 14 kasus melibatkan tenaga kerja sebanyak 59 orang dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terdapat 59 kasus dengan melibatkan tenaga kerja sebanyak 1.630 orang. Kesejahteraan tenaga kerja juga meningkat, salah satunya adalah dengan ditetapkannya upah pekerja yang mengarah kepada Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Rata-rata Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) mengalami kenaikan pada tahun 2006 sebesar Rp. 491.552,- naik menjadi Rp. 548.729,73,- pada tahun 2007. UMK tertinggi di Kota Semarang (Rp. 650.000,-) dan terendah Kab. Purworejo dan Kab. Wonogiri (Rp. 500.000,-). Untuk melakukan perlindungan dan pengembangan hubungan industrial antara lain dilaksanakan melalui : a. pengawasan upah minimum; b. pemberdayaan pengurus organisasi pekerja; c. penyusunan Raperda Kesejahteraan Kerja Purna Kerja

60

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

d. fasilitasi kesejahteraan pekerja dan penyandang cacat, kegiatan K3 dan lingkungan kerja; e. fasilitasi penyelesaian kasus pelanggaran norma kerja dan jamsostek; f. perlindungan hak tenaga kerja perempuan. Untuk meningkatkan peran dan fungsi lembaga ketenagakerjaan telah berhasil dilaksanakan kegiatan, seperti : a. Uji kompetensi dan sertifikasi; b. Penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) di Lembaga Pelatihan Kerja terhadap 75 orang tenaga pelatih; c. Penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI); d. Pengadaan sarana prasarana pelatihan.

Permasalahan : 1) Banyaknya jumlah penganggur dan setengah penganggur. 2) Belum mantapnya Perencanaan Tenaga Kerja Daerah (PTKD). 3) Belum optimalnya Informasi Pasar Kerja (IPK) dan Bursa Kerja. 4) Belum mantapnya pelayanan penempatan tenaga kerja baik dalam maupun luar negeri. 5) Rendahnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja dan belum sepenuhnya kegiatan pelatihan berorientasi pada kebutuhan pasar kerja. 6) Kurangnya sumber daya pelatihan pada Balai Latihan Kerja Pemerintah maupun Swasta. 7) Relatif rendahnya kesejahteraan dan perlindungan tenaga kerja. 8) Belum harmonisnya hubungan industrial dan masih banyaknya kasus Pemutusan Hubungan Industrial / Pemutusan Hubungan Kerja (PHI/PHK). 9) Masih kurangnya peran dan fungsi Lembaga Ketenagakerjaan.

Indikasi Pelanggaran Terhadap Hak Bekerja Dari hasil pemantauan dan monitoring LBH Semarang, sepanjang tahun 2007 terpantau 68 kasus pelanggaran hak bekerja di 23 Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah yang menimpa PKL, yang berarti tidak kurang dari 9.828 orang kehilangan sumber penghasilan. Bentuk penyelesaian penggusauran sendiri terdapat 4 pola yaitu: 1) Tidak ada/belum ada penyelesaian; 2) Relokasi dan penataan ulang; 3) Toleransi;dan 4) Penyelesaian lain-lain.

61

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Dari pola penyelesaian di atas, relokasi dan tata ulang menjadi pola penyelesaian yang umumnya dipilih. Namun pola relokasi ini dalam pelaksanaannya tidak melibatkan PKL sejak tahap awal perencanaan seperti pemilihan lokasi. Relokasi cenderung memindahkan persoalan dan tidak memikirkan kelangsungan hidup PKL sendiri. Hal ini Nampak dari infrastruktur penujang lokasi relokasi, seperti akses jalan, dan akses transportasi. Dan penyelesaian kedua yang umumnya adalah tidak ada penyelesaian, pemerintah kota menggusur PKL tanpa memberikan solusi untuk mengatasi akibat penggusuran tersebut. Untuk toleransi sebagai penyelesaian merupakan win-win solusion yang memadukan kepentingan pemkot akan kebersihan dan ketertiban di sisi lain dan kepentingan PKL untuk mencari nafkah di sisi lainnya. Namun besarnya kasus yang tidak ada penyelesaiannya memperlihatkan bahwa pemerintah kota kurang memiliki peremcanaan yang baik.

2.6.4. Hak Jaminan Sosial Serta Hak Atas Kesediaan dan Ketersediaan Pangan

Pelaksanaan

Program Raskin tahun 2007 selama 11 (sebelas)

bulan

didasarkan pada alokasi pagu Raskin dari Gubernur Jawa Tengah dengan Daftar penerima manfaat (DPM) sebanyak 139.325 KK, masing-masing KK mendapat 10 Kg dengan harga per Kg Rp. 1.000. Adapun penentuan DPM mekanismenya

diserahkan pada masing-masing Desa melalui Musyawarah Desa. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, melalui upaya-upaya perlindungan bagi masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), yang perlu perhatian untuk dapat diupayakan pemecahannya. Pembangunan dan perlindungan kesejahteraan sosial pada PMKS di Jawa Tengah ditujukan dalam rangka mencegah timbulnya dampak sosial negatif seperti : terjadinya disintegrasi sosial, melemahnya potensi sosial dan identitas diri serta lemahnya ketahanan sosial. Dengan diterapkannya otonomi daerah telah membawa perubahan di dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Meskipun demikian mengingat kompleksitasnya pembangunan kesejahteraan sosial upaya penanganan PMKS harus tetap dilakukan, sehingga masih perlu dikembangkan keterlibatan Potensi Sumber Kesejahteraan sosial dan dunia usaha. Panti sosial yang dimiliki oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebanyak 52 Panti, Panti sosial milik Departemen Sosial RI di Jawa Tengah sebanyak 5 panti, panti sosial milik masyarakat (swasta) sebanyak 388 panti. Secara umum sarana dan

62

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

prasarana yang dimiliki panti sosial khususnya yang milik pemerintah daerah dan milik masyarakat ( swasta) relatif masih kurang memadai. Berdasarkan data terakhir pada tahun 2006 tercatat kejadian bencana meliputi bencana alam banjir 101 kali, angin topan 76 kali, tanah longsor 106 kali, kebakaran 113 kali, gempa bumi 11 kali dan pada tahun 2006 terjadi bencana tsunami di Kab. Cilacap, Kebumen dan Purworejo serta bencana lainnya yang dalam kurun waktu dua tahun terakhir frekuensinya semakin meningkat dan diperlukan upaya tindak lanjut untuk penanggulangannya baik pada waktu sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana melalui tindakan yang bersifat prefentif, represif maupun rehabilitatif Untuk sarana dan prasarana penanggulangan bencana/ bencana alam yang dimiliki saat ini meliputi : perahu jukung 1 unit, perahu karet 13unit, mesin tempel 15 unit, pelampung / rompi 85, dayung 36, tenda 4, mobil truk 5. Sampai dengan tahun 2007 keberhasilan pembangunan di bidang kesejahteraan sosial adalah meningkatnya kesejahteraan sosial bagi masyarakat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial melalui pelayanan Kesejahteraan Sosial Keluarga Rawan Sosial Ekonomi bagi 500 KK, meningkatnya kualitas sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan sosial melalui penyempurnaan prasarana 7 panti sosial dari 52 panti milik Provinsi Jawa Tengah, meningkatnya potensi dan sumber kesejahteraan sosial bagi aparatur pemerintah dan infra struktur masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial serta meningkatnya manajemen pelayanan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) melalui UEP bagi orsos, bimbingan penumbuhan paguyuban PSM (350 orang), bimbingan dan pelatihan profesi pekerja sosial bagi tenaga kesejahteraan sosial di panti Swasta (545 orang).

Permasalahan : 1) Rendahnya peranserta masyarakat dalam penanganan permasalahan yang dihadapi PMKS 2) Kurangnya perhatian pemerintah terhadap pejuang dan keluarganya 3) Kurangnya kemandirian Orsos/LSM sehingga selalu mengharapkan bantuan dari pemerintah 4) Masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan potensi dalam kegiatan UKS 5) Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap masalahnya karena didukung faktor ekonomi dan pengaruh lingkungan 6) Kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah dalam penanganan anak jalanan,anak terlantar serta lanjut usia

63

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

7) Belum efektifnya penanganan bencana-bencana alam baik yang bersifat preventif, represif/ tanggap darurat maupun rehabilitasi

2.6.5. Hak Milik Atas Tanah/Pertanahan Kegiatan pembangunan pertanahan di Jawa Tengah dikembangkan melalui penataan pertanahan antara lain melalui kegiatan-kegiatan pengaturan penguasaan dan penatagunaan tanah yang diikuti dengan pemberian kepastian hukum hak-hak atas tanah melalui peningkatan peran serta masyarakat. Kegiatan yang telah dilakukan dalam bidang pertanahan adalah melakukan inventarisasi tanah Hak Guna Usaha (HGU) di seluruh Provinsi Jawa tengah. Sampai dengan tahun 2006 ini telah terinventarisasi tanah HGU sebanyak 127 HGU pada 38 lokasi. Kegiatan inventarisasi dan evaluasi perubahan penggunaan tanah sawah irigasi dan produktif di 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah telah selesai seluruhnya pada tahun 2005 tetapi belum dapat implementatif langsung dilaksanakan karena belum “ disepakati” oleh Kabupaten/kota dan berketetapan hukum dengan Peraturan Daerah Sawah Lestari. Secara umum monitoring terhadap penguasaan dan pemilikan tanah sangat rendah, yaitu rata-rata 6 % per tahun dengan capaian hanya 8 Kabupaten/Kota dari 31 Kabupaten/Kota sasaran. Hal yang sama juga terjadi pada identifikasi dan inventarisasi tanah timbul, dimana sasaran tidak sesuai dengan hasil yang dicapai, yaitu hanya 6 lokasi dengan sasaran 168 bidang. Penyelesaian kasus pertanahan melalui fasilitasi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Kasus-kasus pertanahan sebagian besar diselesaikan melalui pengadilan, dengan sendirinya membutuhkan waktu penyelesaian yang relatif lama. Untuk menunjang kegiatan pembangunan pertanahan di Provinsi Jawa Tengah, kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2007 adalah : Optimalisasi pengendalian lahan kawasan lindung di Jawa Tengah; Penyusunan penggunaan lahan dan peta rekomendasi program pengelolaan zona rawan bencana di kawasan lindung; Evaluasi paduserasi TGH dengan Rencana Tata Ruang Kabupaten; Penyempurnaan dokumen pengukuhan dan Peningkatan koordinasi bidang pertanahan dan peta wilayah.

Permasalahan : 1) Belum secara keseluruhan identifikasi dan inventarisasi tanah HGU, HGB, HPL dan tanah timbul dapat dilaksanakan;

64

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

2) Belum terintegrasinya data tanah HGU, HGB, HPL dan tanah timbul dalam satu sistem; 3) Masih adanya konflik dalam pemilihan atau penggunaan tanah serta penentuan batas administrasi antar wilayah; 4) Terbatasnya data pertanahan, sarana dan prasarana untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas bidang pertanahan di Jawa Tengah dalam rangka mewujudkan sistem informasi pertanahan secara lengkap. 5) Belum adanya data faktual pemanfaatan lahan kawasan lindung di Jawa Tengah oleh masyarakat setempat, baik mengenai luasan maupun sebarannya; 6) Beberapa Kabupaten/Kota belum memiliki Perda kawasan Lindung; 7) Belum finalnya kesepakatan antara Gubernur dengan Kepala Daerah Kab/kota mengenai sawah yang harus dipertahankan dan yang boleh dialihfungsikan di masing-masing Kab/Kota di Prop. Jateng;

2.7. Hak Turut Serta Dalam Pemerintahan (Hak Memilih dalam Pemilu) Pembangunan politik di daerah sebagai bagian pembangunan politik nasional memiliki keterkaitan yang erat terhadap keberhasilan bidang lainnya. Pencapaian iklim politik yang kondusif di daerah merupakan prasarat untuk mewujudkan cita-cita yang diinginkan bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

dalam kerangka Negara Kesataun Republik Indonesia. Pembangunan politik di Indonesia menorehkan sejarah baru, dengan adanya perkembangan sistem demokrasi di Indonesia, yaitu dengan dilaksanakannya Pemilihan Pimpinan secara langsung baik di tingkat nasional (Presiden / Wakil Presiden) maupun Daerah (Gubernur dan Bupati / Walikota). Di Jawa Tengah telah dilaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung, umum dan demokratis di berbagai Kabupaten/Kota. Sampai dengan Tahun 2007 telah berhasil dilaksanakan pemilihan Bupati/Walikota secara langsung di 28 Kabupaten/Kota dengan hasil sebagian Bupati/Walikota menjabat kembali untuk jabatan periode yang kedua. Pada Tahun 2008 ada 4 Kabupaten yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah yaitu Kabupaten Banyumas, Kudus, Temanggung dan Karanganyar. Dan pada waktu yang sama akan dilaksanakan pemilihan gubernur secara langsung untuk pertama kalinya. Terkait dengan tuntutan masyarakat tersebut terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, salah satunya adalah belum optimalnya aspirasi politik rakyat;

65

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Dalam bidang politik, realitas menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik masih rendah, demikian pula pada ranah politik praktis di mana keterlibatan masyarakat belum pada tahap kesadaran tentang hak untuk dipilih dan memilih. Pada bagian lain, kelembagaan-kelembagaan yang berbasis masyarakat belum sepenuhnya mampu mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat dan kondisinya pun belum berdaya. Dalam era otonomi, partisipasi pada proses pengambilan keputusan merupakan manifestasi terpenting dari kekuasaan, sedangkan kekuasaan merupakan wacana penting dalam keberdayaan masyarakat. Selain itu, fungsi kontrol masyarakat dalam pelaksanaan kebijakan dan program juga masih rendah.

2.8. Hak Perempuan Berdasarkan data yang diperoleh dari LRC-KJHAM (Legal Resources CenterKeadilan Jender dan HAM, selama November 2006 hingga Oktober 2007 telah melakukan monitoring terhadap kasus-kasus kekerasan berbasis jender di Jawa Tengah, baik itu kasus yang didampingi oleh LRC-KJHAM maupun kasus yang diambil dari pemberitaan di 5 (lima) media massa yaitu Suara Merdeka, Wawasan, KOMPAS, Jawa Pos-Radar Semarang, diketahui beberapa permasalahan atau kasus-kasus hak perempuan sebabagi berikut:

2.8.1. Perlindungan Hak Perempuan

2.8.1.1. Kasus Perkosaan Sepanjang tahun 2007 berdasarkan data yang dihimpun dari Legal Resources Center-Keadilan Jender dan HAM (LRC-KJHAM), tercatat 170 kasus perkosaan yang terjadi di Jawa Tengah yang tersebar di 35 Kab/Kota. Kota Semarang merupakan daerah dengan kasus perkosaan paling tinggi dengan 30 kasus, kemudian Kab. Purworejo 14 kasus dan Kota Surakarta dengan 13 kasus. Berikut daerah sebaran kasus perkosaan di Jawa Tengah :

66

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Daerah Sebaran Terjadinya Kasus Perkosaan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 28 29 30 31 32 Kabupaten /Kota Kota Semarang Kab. Semarang Kota Salatiga Kab. Demak Kab. Kendal Kab. Grobogan Kab. Kudus Kab. Pati Kab. Rembang Kab. Jepara Kab. Blora Kab. Batang Kab. Pekalongan Kota Pekalongan Kab. Pemalang Kota Tegal Kab. Tegal Kab. Brebes Kab. Banjarnegara Kab. Purbalingga Kab. Banyumas Kab. Cilacap Kab. Kebumen Kab. Purworejo Kab. Wonosobo Kab. Temanggung Kab. Magelang Kota Magelang Kab. Boyolali Kota Surakarta Kab. Sukoharjo Kab. Klaten Kab. Sragen Jumlah Kasus 30 6 5 5 7 5 7 2 1 3 1 3 7 4 1 4 1 2 3 1 7 2 14 5 4 2 4 13 2 3 6

67

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

33 34

Kab. Karanganyar Kab. Wonogiri Jumlah

7 7 174 Kasus

Berdasarkan data yang dihimpun dari Legal Resources Center-Keadilan Jender dan HAM (LRC-KJHAM) Dari tabel di atas, tercatat di PN Surakarta terdapat kasus perkosaan dengan korban masih anak-anak, tetapi JPU tidak menggunakan UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak melainkan dengan Pasal 290 KUHP tentang Pencabulan, sehingga vonis hakim sangat rendah yaitu 6 bulan. Ada perbedaan tradisi penggolongan perkosaan antara aparat yang menggunakan KUHP dan UU No.23 Tahun 2002. Aparat penegak hukum yang menggunakan KUHP akan menggolongkan perkosaan dengan korban anak kedalam Pasal 290 tentang pencabulan, sedangkan jika memakai UU No.23 Tahun 2002 tetap dikategorikan sebagai perkosaan. Selain kasus perkosaan dimana korban/orang tua korban memilih jalur hukum atau melaporkan ke kepolisian, juga terdapat penyelesaian melalui kekeluargaan dan kedinasan yaitu pelaku bersedia menikahi korban. Dengan bersedianya pelaku menikahi korban, umumnya korban/keluarganya akan mencabut pengaduan di kepolisian sehingga proses hukumnya dihentikan. 2.8.1.2. Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

Kasus kekerasan dalam rumah tangga yang LRC-KJHAM monitoring lebih pada kasus kekerasan kepada isteri. Adapun Kasus-Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga di Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2007 dengan sebaran daerah sebagai berikut : Daerah Sebaran Kasus KDRT No 1 2 3 4 5 6 Kabupaten /Kota Kota Semarang Kab. Semarang Kota Salatiga Kab. Demak Kab. Kendal Kab. Grobogan Jumlah Kasus 66 6 7 6 4 4

68

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 28 29 30 31 32 33 34

Kab. Kudus Kab. Pati Kab. Rembang Kab. Jepara Kab. Blora Kab. Batang Kab. Pekalongan Kota Pekalongan Kab. Pemalang Kota Tegal Kab. Tegal Kab. Brebes Kab. Banjarnegara Kab. Purbalingga Kab. Banyumas Kab. Cilacap Kab. Kebumen Kab. Purworejo Kab. Wonosobo Kab. Temanggung Kab. Magelang Kota Magelang Kab. Boyolali Kota Surakarta Kab. Sukoharjo Kab. Klaten Kab. Sragen Kab. Karanganyar Kab. Wonogiri Jumlah

4 1 1 2 1 3 1 1 1 1 4 2 1 2 3 1 1 3 1 4 4 4 3 3 146 Kasus

Berdasarkan data yang dihimpun dari Legal Resources Center-Keadilan Jender dan HAM (LRC-KJHAM) Sedangkan bentuk-bentuk KDRT sepanjang tahun 2007 yang paling banyak terjadi adalah perselingkuhan dengan 78 kasus. Disamping itu juga terdapat 10 perempuan

69

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

meninggal akibat penganiayaan/kekerasan yang dialami korban, 8 perempuan dibunuh/dianiaya dan 2 bunuh diri sebab tidak tahan dengan perlakuan suaminya. Selain itu juga terdapat 1 kasus di Kab. Semarang dimana istrinya dipaksa menjadi pelacur/dilacurkan di Bandungan. 2.8.1.3. Kekerasan terhadap Perempuan Prostitute

Kekerasan/pelanggaran terhadap hak-hak perempuan prostitute pada tahun 2007 tercatat 77 kasus dengan 655 korban. Kekerasan tersebut dapat dilakukan oleh aparat saat melakukan razia atau juga dapat dilakukan oleh masyarakat umum (bukan aparat pemerintah).

2.8.1.4.

Kekerasan terhadap Buruh Migran Perempuan

Sebaran Kasus Kekerasan/Pelanggaran Hak-hak Buruh Migran Perempuan/TKW di Jawa Tengah Tahun 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Kabupaten /Kota Kota Semarang Kab. Semarang Kab. Demak Kab. Kendal Kab. Grobogan Kab. Kudus Kab. Pati Kab. Pekalongan Kab. Pemalang Kab. Tegal Kab. Brebes Kab. Banjarnegara Kab. Purbalingga Kab. Banyumas Kab. Cilacap Kab. Kebumen Kab. Purworejo Kab. Wonosobo Kasus 1 2 1 1 2 1 2 1 1 2 4 4 1 8 1 1 1 2 Korban 2 5 1 1 2 1 2 1 1 2 4 4 1 12 1 1 1 2

70

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

19 20 21

Kab. Boyolali Kota Surakarta Kab. Sragen Jumlah

1 2 2 41 Kasus

1 4 2 51 Korban

Berdasarkan data yang dihimpun dari Legal Resources Center-Keadilan Jender dan HAM (LRC-KJHAM) Bentuk-Bentuk Kekerasan terhadap Buruh Migran Perempuan (TKW) di JawaTengah

BENTUK-BENTUK KEKERASAN TERHADAP BURUH MIGRAN PEREMPUAN (TKW) DI JAWA TENGAH No Jenis kekerasan Asal daerah Pelaku Jumlah korban dan usia 1. Korban jatuh dari tangga apartemen majikan dan korban meninggal Banjarnegara Majikan di Singapura PJTKI PT. Intamarajasa, Jakarta 2. Korban jatuh dari lantai 14 rumah majikan dan korban meninggal 3. • Tidak diberi gaji selama bekerja 14 tahun 7 bulan • Ditipu disuruh menandatangani cek kosong untuk bukti majikan telah memberi gaji pada korban 4. • Dianiaya, dipukul, ditendang, dijambak • Pagi bekerja sebagai cleaning service, malam sbg PRT dirumah majikan 5. • Korban ditipu 1 juta • Dipenampungan diperlakukan tidakmanusiawi Kudus • Calo TKI • PJTKI PT. Laguna 1 orang Purwokerto Majikan di Malaysia PJTKI PT. Nusa Sinar Perkasa 1 orang (19) Cilacap Banyumas Majikan si Singapura PTKIS Luhur Asa Prima Tangerang Penyalur Majikan di Malaysia 1 orang (33) 1 orang (25) 1 orang (19)

71

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

• Minta pulang, disuruh membayar 1,5j juta dari 22 juta 6. • Disiksa • Tidak digaji Purwokerto • PT Bina Karya Wilastri, Cilacap • Ny Buyung (penyalur TKW) • PT Bantar Laguna Tanjung, Pwkt 7. Meninggal karena keracunan Kebumen PJTKI PT Yosnindo Intra Pratama Majika di Malaysia 8. Berangkat pamit menjadi TKW dan hilang tidak ada di penampungan 9. Kecelakaan kerja hingga tangan mati rasa dan cacat Dikembalikan ke Indonesia dan tidak diperjakan lagi 10 Salah minum obat di klinik tempat bekerja hingga meninggal Kendal PJTKI PT Ekoristi Berkarya, Kaliwungu, Kendal 11 Disiksa hingga badan bengkak Kedua kakinya terdapat bekas luka Pandangan matanya kabur 12 Dipukul dengan kayu Ditendang hingga jatuh ke lantai Dipulangkan ke Indonesia dengan diberi uang Rp.300rb dan 10 ringgit. Diperjanjikan 450 ringgit/bulan 13 Tidak boleh berhubungan dengan pihak luar dan tidak diperbolehkan keluar rumah 6 tahun tidak ada kabar Purwokerto • Calo • Majikan di Malaysia 1 orang (31) Banyumas Purworejo PJTKI PT Bughsan Labrindo, Jak Tim Majikan di Arab Saudi PT Megah Utama Kriya Nugraha perwakilan Purbalingga Majikan di Malaysia 1 orang (20) 1 orang (30) 1 orang (37) Purwokerto PT HKT Snd Bhd 1 orang (36) Sragen Ny. Marsono (calo TKW) 1 orang (15) 1 orang (19) 5 orang

72

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

14

Jatuh dari tangga hingga meninggal Jenazah tidak bisa langsung dipulangkan karena majikan tidak mau bertanggungjawab

Banyumas

PT Bidar Timur RS King Abdul Aziz Majikan di Arab Saudi

1 orang (30)

15

Jatuh dari lantai empat hingga meninggal 6 bulan bekerja idak pernah memberi uang

Sragen

PJTKI PT Wahana Karya Suplaindo, Wates Kulon, Yogyakarta

1 orang (26)

16

Disiram air panas oleh tetangga majikan korban

Pati

PT Hikmah Suryajaya Surabaya Tetangga majikan korban

1 orang (30)

17

Meninggal karena gantung diri Ada bekas jahitan di dada dan kepala bagian samping Selama 2 tahun 7 bulan tidak mendapat gaji

Wonosobo

Majikan di Malaysia

1 orang (31)

18

Selama 5 tahun tidak mendapat gaji Dihamili anak majikan hingga melahirkan anak laki-laki Melaporkan pelaku ke polisi, malah dipenjara 2 tahun karena terbukti tidak mempunyai akta kelahiran anak

Pabelan, Kab. Semarang

PT Kemuning Bunga Sejati, Jakarta Kepolisian Abu Dhai Emirat Arab Majikan Anak majikan

1 orang (38)

19

Meninggal karena sakit Jenazah sulit dipulangkan karena rumitnya prosedur

Grobogan

PT Intersolusi Indonesia, Surakarta Agency Taisu

1 orang (41)

20

Korban meninggal karena sakit, tubuhnya menggigil dan bengkak2 Korban masih berumur 18 tahun

Purwokerto

PT Irfan Jaya Saputra

1 orang (18)

21

Di penampungan selama 4 bulan

Solo

PJTKI PT Bina

2 orang

73

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Saat di penampungan dilarang berhubungan dengan pihak luar terutama keluarga 22 Melarikan diri karena disiksa Melarikan diri dan jatuh dari lantai 3 karena dikekang majikan 23 Bekerja selama 4,5th seharusnya masa kontrak habis 2th Korban sulit diajak berkomunikasi dan dirawat di RS Bhayangkari 24 Takut pada majikan laki-laki dan pernah sembunyi di dalam lemari sampai majikan perempuan datang 25 Berangkat pamit menjadi TKW di Singapura dan pernah mengirim surat saat di penampungan merasa tidak nyaman. Selama 4 tahun tidak ada berita 26 Bekerja selama 4,5 bulan Keluarga tidak dikabari saat sakit Atas kematian korban keluarga korban dikabari korban meninggal dan penjelasan kematian korban baru diterima bersamaan dengan kedatangan jenazah 27 Korban dianiaya majikan dan meninggal Brebes Brebes Banjarnegara Brebes Kota Semarang

Kerja Cemerlang

Lai Brothers Agency 2 majikan di Malaysia

2 orang (27 dan 26)

PT Damin Harapan Abadi, Jak Tim Majikan di Arab Saudi

1 orang (18)

Banjarnegara PJTKI PT Amri Brothers Jakarta Majikan di Arab Saudi

1 orang (28)

1 orang

Majikan di Malaysia

1 orang (40)

Malaysia

1 orang a.n. Ceriyati

28

Selama 4 tahun tidak diberi gaji dan jarang diberi makan Sering disiksa ke-2 majikan

Paserean, Kec. Pagerbarang

Majikan laki-laki dan perempuan di Aran Saudi

1 orang (25)

74

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Korban hilang

Tegal

PJTKI PT Alfindo Mas Buana Jak Tim

29

Selama 6 bulan tidak pernah digaji Sering disiksa dan membekas ditubuh korban Bangun pukul 4 pagi, mengepel dan memasak, dilarang memakai mesin cuci Diberi makan seharu dengan cara kasar, dengan cara menyiramkan ke rambut korban dulu Tidak diperbolehkan tidur di dalam rumah namun tidur di dekat limbah Korban minta pulang, tidak diperbolehkan dan majikan bilang sudah dibeli 4 tahun

Boyolali

PJTI Koperasi Bakti Mandiri Majikan perempuan di Malaysia

1 orang (38)

30

Jatuh dari mobil angkutan di Malaysia hingga meninggal Diberangkatkan illegal

Banjarnegara

PJTKI PT Mutiara Putra Utama Cabang Wonosobo

1 orang

31

Meninggal karena kecelakaan di jalan raya Korban dikubur di Malaysia

Pemalang

PT Tegana Sejahtera Batam

1 orang (20)

32

Dianiaya, disiksa Dijambak dan dihantam dengan batu dan kunci mobil Dicambuk dan disuruh berlari naik turun tangga Tidak pernah diberi gaji Tidak diberi makan dengan alasan hukuman Melarikan diri

Brebes

PJTKI PT Bina Insani Majikan di Malaysia

1 orang (23)

33

Korban mengalami tekanan batin

Kab. Tegal

Majikan di Arab

1 orang

75

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

hingga korban meninggal 34 Disiksa majikan hingga meninggal Pati

Saudi PT Alifindo Mas Buana Cabang Cluwak, Pati Majikan di Arab Saudi 1 orang

35 36

Korban ditipu 5-20 juta Selama 4 tahun tidak ada kabar Sang majikan mengirim keluarga korban uang melalui Western Union, ketika akan diambil dikantor pos dinyatakan belum sampai

Solo Purbalingga

Sponsor PJTKI PJTKI PT Graha Indrawahana Perkasa Agency Lapindo Consultant and Employment Agung Majikan di Malaysia

2 orang 1 orang (23)

37

Disiksa, dipukul, ditendang, disabet dengan rotan Muka dan perut ditonjok dan kaki ditendang dan dipukuli memakai rotan Disiksa hingga bibirnya bengkak Melarikan diri

Wonosobo

PT Luki Mitra Abadi, Jakarta Majikan di Malaysia

1 orang (17)

38

Korban ditemukan meninggal di rumah majikannya dengan sekujur tubuh korban penuh luka, bag wajah lebam dan satu giginya tanggal. Tangan, leher dan tubuh bagian belakang juga penuh luka

Demak

Majikan laki-laki dan perempuan korban

1 orang (24)

39

Disekap dalam kamar, tidak diperbolehkan pulang Dijanjikan bekerja sebagai PRT di Malaysia

Kab. Semarang

Sponsor PJTKI PT Bijak di Colomadu

4 orang (22,25,35 dan 30)

40

Hamil saat bekerja

Kab. Pekalongan

1 orang (34) PJTKI di Mangkang 1 orang

41

Tidak digaji

Kab.

76

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Beban kerja berlebihan Mengalami gangguan kejiwaan (sempat dirawat di RSJ) Jumlah

Grobogan

51 Korban Berdasarkan data yang dihimpun dari Legal Resources Center-Keadilan

Jender dan HAM (LRC-KJHAM)

2.8.1.5. Kasus Perdagangan Perempuan

Sebaran Kasus Trafiking di Jawa Tengah Tahun 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kabupaten /Kota Kota Semarang Kab Semarang Kab Demak Kab Kendal Kab Grobogan Kab Pati Kab Jepara Kab Pekalongan Kab Temanggung Kota Surakarta Kab Klaten Kab Banyumas Kab Purworejo Jumlah Kasus Jumlah Kasus 4 6 3 11 3 6 4 3 3 2 1 1 1 48 kasus

Berdasarkan data yang dihimpun dari Legal Resources Center-Keadilan Jender dan HAM (LRC-KJHAM) Daerah /Negara Tujuan Kasus Trafiking di Jawa Tengah Negara /Daerah No Tujuan Trafiking 1 Malaysia Dijadikan sebagai Pembantu Rumah Tangga 27 kasus 50 korban Tujuan Eksploitasi Kasus Kasus Korban

77

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

(Tanpa gaji & Mendapatkan Kekerasan) Dijadikan sebagai Pelayan Toko/Restoran (Tanpa gaji & Mendapatkan Kekerasan) Dijadikan sebagai Pelacur /Prostitut 2 Jordania Dijadikan sebagai Pembantu Rumah Tangga (Tanpa gaji & Mendapatkan Kekerasan) 3 Dubai Dijadikan sebagai Pembantu Rumah Tangga (Tanpa gaji & Mendapatkan Kekerasan) 4 5 6 7 8 9 Riau Medan Kalimantan Banyumas Kota Semarang Kab Semarang (Bandungan) 10 Kota Surakarta Dijadikan sebagai Pelacur /Prostitut 2 kasus 3 korban 99 korban Dijadikan sebagai Pelacur /Prostitut Dijadikan sebagai Pelacur /Prostitut Dijadikan sebagai Pelacur /Prostitut Dijadikan sebagai Pelacur /Prostitut Dijadikan sebagai Pelacur /Prostitut Dijadikan sebagai Pelacur /Prostitut 1 kasus 1 kasus 3 kasus 1 kasus 3 kasus 2 kasus 13 korban 1 korban 3 korban 4 korban 38 korban 2 korban 1 kasus 1 korban 4 kasus 1 kasus 4 korban 1 korban 2 kasus 2 korban

Jumlah 48 kasus

Berdasarkan data yang dihimpun dari Legal Resources Center-Keadilan Jender dan HAM (LRC-KJHAM) Bentuk Kekerasan yang dialami Korban Trafiking di Jawa Tengah No Jenis Kekerasan 1 Fisik Disiksa, dipukul, disuruh tidur di dapur, diberi makan tanpa lauk, sakit dan tidak diperbolehkan berobat, kepala dibenturbenturkan tembok, rambut digunduli, disiram dengan air 2 Psikologis Dilarang keluar rumah, dimarahi dan diancam akan dibunuh, Bentuk Kekerasan

78

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

memaki, membentak, dilarang berhubungan/berkomunikasi dengan keluarga/oranglain, disekap di ruang gelap 3 Seksual Diperkosa (majikan/keluarga majikan, calo, agen, sesama TKI), dipaksa telanjang (dengan alasan medical check), difoto telanjang, dipaksa menjadi pelacur, dipegang/diremas pantat dan payudara oleh majikan, dipeluk dan dicium paksa 4 Ekonomi Tiddak diberi gaji, gaji diambil agen, bekerja tidak sesuai kontrak (job order), diperas PJTKI/calo

Rekapitulasi Sebaran Kasus Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2007 di Jawa Tengah Perkosaan 30 6 5 5 7 5 7 2 1 3 1 3 7 Plchn Sek 4 1 Prp Prostitute 18 2 2 6 1 4 3 2 4 3 1 2 1 1 2 2 2 1 TKW Traffic -king 4 6 3 11 3 6 4 3

No

Kab/Kota

KDRT

KDP

Jml

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Kota Semarang Kab. Semarang Kota Salatiga Kab. Demak Kab. Kendal Kab. Grobogan Kab. Kudus Kab. Pati Kab. Rembang Kab Jepara Kab. Blora Kab. Batang Kab. Pekalongan

66 6 7 6 4 4 4 1 1 2

27 4 3 1 5 2 3 2 1 -

150 26 17 21 26 23 18 15 2 11 1 8 16

14

Kota Pekalongan

4

1

-

-

-

-

-

5

15 16 17 18

Kab. Pemalang Kota Tegal Kab. Tegal Kab. Brebes

1 4 1 2

3 1 1 1

1 1 2

-

3 2 -

1 2 4

-

9 8 4 9

79

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

19

Kab. Banjarnegara

3

1

1

-

1

4

-

10

20

Kab. Purbalingga

1

4

1

1

-

1

-

8

21 22 23 24 25 26

Kab. Banyumas Kab. Cilacap Kab. Kebumen Kab. Purworejo Kab. Wonosobo Kab. Temanggung

7 2 14 5 4

2 1 2 3 1 1

4 4 1

1 2 2

3 1 1 2 3 -

8 1 1 1 2 -

1 1 3

26 3 6 21 17 11

27 28 29 30 31 32 33 34

Kota Magelang Kab. Magelang Kab. Boyolali Kota Surakarta Kab. Sukoharjo Kab. Klaten Kab. Sragen Kab. Karanganyar

2 4 13 2 3 6 7

3 1 4 4 4 3

6 1 3 2 4

1 1 -

10 3 2 -

1 2 2 -

2 1 -

5 6 38 6 13 14 14

35

Kab. Wonogiri

7

3

3

-

1

-

-

14

Berdasarkan data yang dihimpun dari Legal Resources Center-Keadilan Jender dan HAM (LRC-KJHAM)

2.8.2.

Pemberdayaan Perempuan Kebijakan pembangunan yang dirancang oleh pemerintah tidak lepas dari

berbagai kepentingan politik, ekonomi, hukum, dan sosial budaya, mulai dari tingkat pusat maupun daerah. Selama ini, kebijakan dan berbagai program pembangunan dirancang untuk semua orang dengan harapan semua sumber daya pembangunan dapat diakses oleh perempuan dan laki-laki. Dalam kaitan ini perempuan diharapkan dapat berpartisipasi yang sama dengan laki-laki dalam pengambilan keputusan, sehingga mempunyai dampak yang sama pula bagi perempuan dan laki-laki di semua kelas, ras, dan etnis. Namun, seringkali tidak disadari bahwa kebijakan dan program pembangunan ternyata membawa dampak dan manfaat yang berbeda bagi
80

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

perempuan dan laki-laki. Keadaan kenyataannya, laki-laki lebih banyak mendapat peran dan manfaat dalam kegiatan pembangunan. Padahal penduduk perempuan lebih besar jumlahnya dibanding penduduk laki-laki (laki-laki 49,81 % dan perempuan 50,19 %). Bahkan dijumpai pula perempuan yang menjadi kepala keluarga sebesar 11,52 % dari total rumah tangga di Jawa Tengah dan 50 % di antaranya berpendidikan rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). Hal itu dapat dilihat dari berbagai bidang pembangunan, yang tercermin dari 12 isu kritis perempuan, seperti pendidikan, kesehatan, politik, hukum dan HAM, ekonomi dan ketenagakerjaan, lingkungan hidup, dan lain-lain. Di bidang pendidikan, menunjukkan angka melek huruf perempuan lebih rendah dibanding laki-laki (perempuan 84,85 % dan laki-laki 92,63 %). Akses perempuan pada pendidikan SD dan SMA lebih rendah dibanding laki-laki (jenjang SD, laki-laki 94,23 % dan pempuan 91,77 %; jenjang SMA, laki-laki 53,49 % dan perempuan 50,70 %). Pada jenjang SMP, akses laki-laki sebanding dengan perempuan. Angka putus sekolah perempuan pada jenjang SD dan SMA lebih rendah (Jenjang SD laki-laki 0,65 % dan perempuan 0,56 %; Jenjang SMA : laki-laki 1,43 % dan perempuan 0,54 %), sedangkan pada jenjang SMP, angka putus sekolah perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki (laki-laki 0,37 % dan perempuan 0,88 %). Penduduk perempuan yang berhasil menamatkan pendidikan SMP lebih rendah dibanding laki-laki (laki-laki 17,69 % dan perempuan 15,47 %). Pada bidang ekonomi dan ketenagakerjaan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan lebih rendah dibanding laki-laki, yaitu 92,30 % untuk laki-laki dan 87,43 % untuk perempuan, sedangkan untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) laki-laki sebesar 4,85 % dan perempuan 6,57 % (perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki) . Rata-rata jam kerja perempuan per minggu lebih rendah dibanding laki-laki (36,45 : 41,91), disamping itu upah perempuan lebih kecil dibandingkan lakilaki. Secara umum, meskipun peraturan ketenagakerjaan melarang adanya

diskriminasi dalam jabatan maupun upah, namun kenyataan menunjukkan bahwa persoalan upah dan jabatan masih dijumpai adanya berbagai bentuk diskriminasi. Selain itu, akses perempuan usaha mikro pada sumber daya produktif (modal, informasi pasar, ketrampilan, kemampuan manajerial, dan penguasaan teknologi) relatif kecil. Di sisi lain, perempuan bekerja masih harus dibebani pekerjaan-pekerjaan domestik (dalam rumah tangga), sehingga beban kerja lebih tinggi dibanding laki-laki. Di bidang politik, partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan publik dan keterwakilan perempuan dalam lembaga pengambilan keputusan masih sangat rendah, termasuk dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan. Hal itu antara lain

81

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

dapat dilihat dari persentase perempuan yang berada pada Badan Perwakilan Desa (BPD) hanya sebesar 4,66 %, sebagai Kepala Desa sebesar 2,29 % dan DPRD Provinsi sebesar 15 %. Di bidang hukum dan perlindungan HAM, berdasarkan identifikasi yang dilaksanakan di 35 Kab/kota selama tahun 2006 terdapat sejumlah kasus kekerasan berbasis gender dan anak yang ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) di kab/kota yaitu 142 kasus kekerasan fisik, 23 kasus kekerasan psikis, 44 kasus perkosaan, 51 kasus pencabulan, dan 17 kasus kekerasan dalam rumah tangga. Hingga tahun 2006 telah 26 kab/kota yang membentuk Sistem Pelayanan Terpadu untuk korban kekerasan. Namun di sisi lain dalam sistem pelayanan terpadu untuk penanganan kekerasan terhadap perempuan belum dilengkapi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Di bidang kesehatan, Angka Kematian Ibu pada tahun 2006 tercatat sebesar 117 per 100.000 kelahiran hidup. Beberapa penyebab terjadinya AKI antara lain pendarahan, eklamsia, infeksi dan kecenderungan masih cukup tingginya persalinan yang dibantu oleh tenaga non-medis. Demikian pula angka anemia Wanita Usia Subur (WUS) juga menjadi persoalan tersendiri. Selain itu, di berbagai daerah di Jawa Tengah masih banyak praktek-praktek budaya yang membahayakan bagi kesehatan reproduksi perempuan, seperti perawatan pasca persalinan secara tradisional. Kondisi ini diperburuk dengan masih rendahnya akses suami istri pada informasi tentang kesehatan reproduksi dan rendahnya kualitas pelayanan kesehatan reproduksi. Menyikapi berbagai persoalan perempuan yang muncul, pemerintah telah melakukan banyak hal untuk memajukan kaum perempuan melalui berbagai kebijakan dan program. Berbagai kebijakan dan program yang dirancang untuk perempuan pada awalnya dibuat untuk meningkatkan peran perempuan tanpa meninggalkan peran domestiknya dan lebih banyak memenuhi kebutuhan praktis perempuan. Kebijakan dan program tersebut tidak terlalu memperhatikan persoalan diskriminasi gender yang dihadapi perempuan yang disebabkan oleh sosial budaya. Oleh karena itu, melalui Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, diinstruksikan bahwa setiap kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang dirancang oleh pemerintah termasuk pemerintah Provinsi, harus mengintegrasikan permasalahan, aspirasi, pengalaman, dan kebutuhan perempuan dan laki-laki dalam setiap tahapan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, dengan memperhatikan kebutuhan praktis dan strategis gender. Instruksi Presiden tersebut selanjutnya dijabarkan dalam

82

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132 tahun 2003 tentang Implementasi Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Daerah. Upaya untuk mengimplementasikan Inpres 9 tahun 2000 bukanlah hal yang mudah karena tidak banyak pengelola pembangunan yang memahami

Pengarusutamaan Gender sebagai sebuah strategi pembangunan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menjabarkan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 ke dalam kebijakan dan program yang dikemas dalam bentuk khusus sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas perempuan dan pelembagaan pengarusutamaan gender. Melalui program tersebut diharapkan mampu mewujudkan pemenuhan kebutuhan praktis perempuan sekaligus juga mengintegrasikan perspektif gender dalam setiap program dinas/instansi. Keberhasilan yang telah dicapai pada tahun 2007 antara lain : tersusunnya Draft rancangan Pengarusutamaan Gender di Jawa Tengah ( Grand Design ) tahun 20082012 yang diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh SKPD dalam mengintegrasikan perspektif gender dalam pembagunan, terbentuknya sistem pelayanan terpadu di 26 Kab/Kota serta menurunnya jumlah kasus kekerasan yang terlaporkan, meliputi 17 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), 44 kasus perkosaan, 23 kasus kekerasan psikis dan sebagai komitmen Pemerintah Daerah Jawa Tengah dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan, maka dibentuklah Komisi

Perlindungan Perempuan Dan Anak Provinsi Jawa Tengah dengan diterbitkannya Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 76 Tahun 2006 dan draft rencana strategis perlindungan perempuan dan anak . Selanjutnya pemerintah Provinsi Jawa Tengah sedang mempersiapkan rancangan Peraturan Daerah yang diharapkan dapat mengatur tentang Penyelenggaraan dan Penangganan bagi korban kekerasan berbasis gender dan anak, serta peraturan pendukungnya untuk mengatur Standar Operasional Prosedur (SOP) penyelenggaraan dan penanganan bagi korban kekerasan.

Permasalahan : 1) Belum semua Pemerintah Kabupaten/Kota peduli dan memiliki komitmen dalam mengembangkan pemberdayaan masyarakat yang berperspektif gender; 2) 3) Belum tersedianya sistem informasi dan data pilah gender untuk mendukung pelaksanaan Pengarusutamaan Gender; Belum semua aparatur pemerintah dan pengambil kebijakan memahami dan memiliki pengetahuan tentang PUG;

83

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

4)

Belum adanya model penanggulangan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak sekolah;

5)

Masih ada 9 Kabupaten/Kota yang belum memiliki sistem pelayanan terpadu kekerasan terhadap perempuan dan anak;

6) 7)

Belum semua pelayanan terpadu yang sudah terbentuk (26 Kabupaten/Kota) bekerja sesuai yang diharapkan; Belum semua Pemerintah Kabupaten/Kota peduli dan memiliki komitmen untuk penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak;

8) 9)

Belum adanya standar pelayanan minimal dalam penanganan terhadap korban tindak kekerasan membuat pelayanan yang diberikan belum optimal; Rendahnya kapasitas, peran dan partisipasi perempuan dalam bidang ekonomi, politik, pariwisata, lingkungan hidup, kewirausahaan;

10) 11)

Masih adanya diskriminasi, perlakuan yang berbeda antara pekerja laki-laki dan perempuan; Sulitnya mengembangkan model kerjasama antar daerah dalam penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak karena setiap kabupaten/kota mempunyai model penanganan yang berbeda dengan standar dan mekanisme yang berbeda pula;

12)

Sulitnya mengungkap kasus perdagangan orang karena aturan hukumnya belum tersedia;

13) 14)

Implementasi GSI di Kabupaten/Kota dan masyarakat kurang optimal; Koordinasi dalam pelaksanaan GSI kurang optimal.

TELAHAAN a. Substansi Hukum

Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU No.23 tahun 2004) sudah tiga tahun berjalan. Melihat substansi UU PKDRT ada catatan penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Kasus yang banyak terjadi adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh majikan terhadap Pekerja Rumah Tangga (PRT). Karakteristik kasus perkosaan adalah minim saksi dan barang bukti yang lemah. UU PKDRT diharapkan mampu menjawab dengan aturan khususnya seperti satu saksi ditambah satu alat bukti sah cukup untuk memproses kasus pidananya. Maka dalam kasus tersebut Polisi kesulitan untuk memakai aturan KUHP dan KUHAP. Dan lebih mudah memakai dasar UU PKDRT.

84

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Namun dalam kasus ini ketika PRT yang menjadi korban setiap hari tidak tinggal di rumah majikan, pengenaan pasalnya menemui kendalanya kata “ menetap” pada pasal 8 huruf (a) yang lengkapnya berbunyi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga. Secara filosofi sejarah lahirnya undang-undang ini tentu tidak ada niatan untuk melakukan pembedaan bagi PRT yang tinggal atau tidak tinggal di rumah majikan. Namun dengan adanya kata “ menetap”tersebut menimbulkan resiko undang-undang ini dimaknai sempit hanya melindungi PRT atau setiap orang yang tinggal bersama pelaku. Padahal berdasarkan filosofi dan sejarah lahirnya undang-undang ini, kata “ menetap” tidak mutlak diartikan bertempat tinggal. Namun bisa lebih luas seperti pekerjaannya menetap, tidak berpindah-pindah, ada intensitas saling bertemu. Untuk kasus ini, PRT yang tidak tinggal bersama termasuk objek yang dimaksud oleh pasal 8 huruf (a). b. Struktur Hukum

Pada tahun 2007 Polri menambah komitmennya terhadap perlindungan perempuan dan anak dengan menstrukturkan Ruang Pelayanan Kusus (RPK) menjadi Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). Kekurangannya Unit PPA hanya sampai pada tingkat Polres. Padahal faktanya kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) sering terjadi pada masyarakat yang jangkauannya lebih dekat dengan Polsek. Bukan hanya belum ada unit PPA, di Polsek juga tidak ada polisi wanita atau Polwan. Polisi laki-laki atau Polkinya pun banyak yang belum mengerti tentang hak perempuan dan hak anak. Padahal dengan sudah adanya UU PKDRT akan mendorong pada masyarakat untuk mempidanakan kasus KTP. Dan Polsek adalah tingkatan yang terdekat dengan lingkungan masyarakat. Artinya Polsek adalah ujung tombak yang seharusnya menjadi organ yang paling sensitif jika terjadi tindak pidana KTP. Namun hal ini belum berjalan maksimal pada Polsek karena terbatasnya pengetahuan dan kemampuan anggota polisi. Meskipun sudah ada Unit PPA, jika masyarakat akan melaporkan tindak pidana KTP yang dialaminya tetap melalui SPK. Ada sisi kekurangan dari mekanisme ini. Menurut pengalaman LBH APIK Semarang, untuk kasus KTP terutama KDRT akan terjadi gagal melapor karena sikap Polki SPK yang menurut kami tidak seharusnya demikian. Contohnya saran-saran yang cenderung menakut-nakuti sehingga

menggugah kebimbangan korban yang ingin melapor. Seperti “ sudah, diselesaikan

85

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

baik-baik saja, nanti suami kamu malah dendam dan apa kamu siap? Itu kan masalah internal rumah tangga” Itu sedikit contoh yang biasa dilakukan oleh polki SPK. . Seharusnya ketika masyarakat atau perempuan korban ingin melaporkan dan sudah sampai pada kantor polisi berarti memang mereka sedang mengalami masalah secara serius. Seharusnya SPK tetap merespon laporan itu dan diteruskan di unit PPA. Karena korban yang datang melapor ke kantor polisi minimal berharap pihak polisi memanggil pelaku agar para pelaku mengerti bahwa yang dilakukan adalah sebuah pelanggaran hukum. Ketika perempuan korban tidak direspon oleh SPK biasanya akan semakin larut dalam kekerasan karena tidak ada yang membantu mengingatkan pelaku yang telah bertindak melawan hukum. Selain itu jika mengingat sejarah dibentuknya unit PPA adalah agar perempuan dan anak mendapatkan pelayanan khusus, dengan polisi yang lebih sensitif dan berperspektif HAP dan Hak anak, namun jika pintu utama melapor ada pada SPK dengan tetap memakai polisi yang cara berpikir dan bersikap masih tidak berperspektif HAP dan Hak Anak maka penegakan hukum untuk kasus KTP tetap akan kurang maksimal.

c.

Kultur hukum Pada tahun 2007 dalam sejarah pelaksanaan Undang-Undang PKDRT

khususnya di Jawa Tengah mencatat satu hal baru. Kekerasan Psikis yang dulu tidak pernah dipidanakan, melalui UU PKDRT hal tersebut bisa dipidanakan. Tahun 2007 Pengadilan Negeri Semarang menyidangkan kasus kekerasan psikis dengan menjerat terdakwa memakai UU PKDRT pasal 5, pasal 7 dan dinyatakan terbukti melanggar pasal 45 ayat 2 dengan hukuman kurungan 3 bulan. Meskipun hukumannya ringan namun hal ini diharapkan mampu memotivasi polisi untuk memproses kasus kekerasan psikis. Sebenarnya pada kasus kekerasan psikis tersebut, korban juga mengalami kekerasan fisik, juga mempersoalkan perzinahan yang dilakukan suaminya. Proses di kepolisian cukup lama dengan berbagai kendala kultur internal Polri. Yang masih belum bisa berjalan adalah pengenaan pasal secara berlapis. Dalam kasus tersebut, kekerasan fisik dan laporan perzinahan diabaikan meski perkara tetap lanjut namun hanya dengan penjeratan pasal kekerasan psikis. Begitu pula pada kasus KTP yang lain. Korban KDRT tidak hanya mengalami kekerasan fisik, pula mengalami depresi dan ditelantarkan secara ekonomi. Namun seringkali yang dipersoalkan hanya kekerasan fisik saja, untuk kekerasan psikis dan penelantaran ekonomi.diabaikan oleh

86

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

polisi. Selama ini yang terjadi polisi hanya memproses satu tindak pidananya saja padahal yang terjadi korban mengalami lebih dari satu tindak pidana kekerasan. Jika kekerasan psikis yang diatur UU PKDRT pada pasal 7 sudah pernah terlaksana maka sebaliknya pasal 9 pasal 1 dan 2 tentang penelantaran ekonomi dalam UU PKDRT masih sulit terlaksana. Meskipun angka KDRT penelantaran ekonomi tahun 2007 cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan kebanyakan pelaku penelantaran adalah tidak cukup mampu secara ekonomi dan belum pernah Aparat Penegak Hukum menggunakan pasal dengan alasan kesulitan membuktikan. UU PKDRT memang banyak memunculkan hal baru, seperti konsep perlindungan bagi korban kekerasan terhadap perempuan (KTP). Hal tersebut diatur secara rinci pada pasal 16, pasal 28 sampai pasal 38. Namun sudah 3 tahun usia UU PKDRT ini, Aparat Penegak Hukum (APH) kita terbiasa belum berani melaksanakan hal-hal baru tersebut. Padahal pada kenyataannya korban KTP benar-benar merasakan rasa keterancaman yang luar biasa. Ketika APH belum pernah melaksankan perihal perlindungan yang telah secara rinci diatur dalam UU PKDRT tersebut maka korban KTP akan mengakibatkan banyak yang tidak berani mengungkap dan melaporkan kekerasan yang dialaminya. Selama ini langkah perlindungan hanya sebatas mengakseskan rumah amn bagi korban. Namun hal tersebut memiliki keterbatasan. Karena rumah aman melindungi dengan cara menyembunyikan korban, artinya gerak dan langkah korban sangat terbatas. Padahal tidak semua korban adalah ibu rumah tangga. Banyak juga yang beraktifitas bekerja dan biasanya pekerjan itulah yang menjadi sumber penghidupan mereka. Sehingga satu hal yang tidak mungkin membatasi gerak perempuan yang mempunyai tanggung jawab bekerja. Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan belum bisa dikatakan menurun jumlahnya. Meskipun telah mulai meningkat perempuan yang bersedia menyuarakan tentang kekerasan yang dialaminya. Namun ketika APH belum maksimal

melaksanakan perintah Undang-undang, ini akan menyebabkan tidak maksimalnya penghapusan tindak KTP. Proses membutuhkan waktu, namun layaknya bayi yang belajar, harapannya bertambah hari bertambah baik. Dari kekurangan yang terkuak di analisis, harapannya ada respon perbaikan untuk kemudian hari. Masing-masing pihak bisa menjalin komunikasi dan memperkuat komitmen untuk melindungi dan menghapus kekerasan terhadap perempuan. Dengan cara maksimal dalam malaksanakan Undang-undang yang sudah ada.

87

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Kehidupan yang didominasi oleh kultur patriarkhi telah memposisikan perempuan jauh menjadi tidak setara dengan laki-laki. Hubungan yang seharusnya setara menjadi sub ordinat. Hal tersebut berdampak pada perlakuan sewenangwenang terhadap kaum perempuan. Bahkan terjadi di rumah sendiri padahal semestinya rumah adalah tempat yang paling aman untuk semua orang. Namun kenyataannya tidak demikian bagi perempuan. Seiring dengan makin gencarnya dunia menyuarakan penghormatan Hak Asasi Manusia demikian juga saat yang tepat untuk mengingatkan tentang hak perempuan yang makin parah telah terkebiri. Ketika manusia banyak yang terlanggar HAM nya lebih-lebih manusia perempuan. Maka dari fakta tersebut diatas banyak langkah afirmasi yang coba dilakukan. Seperti secara khusus muncul istilah HAP. Dunia mendorong kesetaran yang jauh meninggalkan perempuan dengan CEDAW. Negara kita melahirkan banyak aturan untuk perlindungan terhadap perempuan. Peraturan baru ada artinya jika dilaksanakan.

2.9.

Hak Anak

2.9.1. Hak Kesehatan Anak

Jumlah anak balita yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk di Kabupaten Ngawi masih tinggi dan tersebar di seluruh kecamatan. Mayoritas para penderita ini berasal dari keluarga miskin. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Rabu (2/4), jumlah penderita gizi kurang dan gizi buruk pada tahun 2007 mencapai 1.000 anak balita. Sementara sampai Maret 2008, jumlah penderitanya masih 938 anak balita. Adapun total anak balita di seluruh Ngawi sebanyak 53.291 anak balita. Kecamatan dengan jumlah terbanyak anak balita yang menderita kurang gizi atau gizi buruk adalah Paron dengan jumlah 205 anak balita dan Widodaren sebanyak 89 anak balita. Pada tahun 2007, Paron juga menjadi salah satu kecamatan dengan jumlah terbanyak anak balita yang menderita gizi buruk dengan jumlah 140 anak balita. Staf Seksi Gizi, Sub Dinas Kesehatan Keluarga, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Hadi Murbiyanto, mengatakan, mayoritas dari penderita gizi buruk dan kurang gizi itu berasal dari keluarga miskin yang karena keterbatasan dana tidak mampu memberikan gizi yang baik kepada anaknya.

88

o

m

w
w

w
w

PD

H F-XC A N GE

PD

H F-XC A N GE

O W !

N

y

bu

to

k

lic

C

m

C

lic

k

to

bu

y

N
.c

O W !
w
.d o

w

o

.d o

c u-tr a c k

c u-tr a c k

.c

Sementara 242 anak balita lainnya yang menderita gizi buruk atau kurang gizi di antaranya disebabkan pola asuh orangtua yang salah karena minimnya pengetahuan mereka tentang pemberian gizi kepada anak balita. "Selain itu, kurangnya kepedulian orangtua terhadap anaknya. Sebagai contoh, kalau membeli makanan bergizi untuk anak balita lebih sulit dibandingkan membeli barang-barang non-pangan, seperti rokok," tuturnya. (Sumber: Kompas, 3 April 2008)

Jakarta, November 2008

89

o

m

w
w

w
w

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->