PENDAHULUAN Sebagai salah satu komponen yang penting dan merupakan syarat kelangsungan hidup bagi makhluk maka

kebutuhan terhadap air serta segala keperluan makhluk hidup akan menjadi berhasil dan tuntas berkat adanya cairan yang dilambangkan dengan simbol H2O ini. Sebagai cairan yang mempunyai peran sangat penting dan memiliki urgensi yang vital bagi makhluk hidup maka cairan yang berlambang H2O ini tidak bisa kita sepelekan perannya. Dalam kehidupan sehari-hari segala aktifitas kita baik itu memasak, mencuci, minum maupun untuk membersihkan sesuatu selain memerlukan pembersih baik yang bersifat bubuk atau bersifat cairan tentunya pada proses akhir kita memerlukan air sebagai pembersih dari segala proses pertama yang telah kita lakukan. Sebagai makhluk yang selalu membutuhkan kepada segala sesuatu, kebutuhan manusia terhadap air merupakan kebutuhan yang sangat penting, jika dimasukkan ke dalam skala prioritas maka ia akan mendapat tempat pertama. Dikarenakan air adalah cairan yang menopang hampir 80% dari tubuh manusia. Karena sebagai cairan yang mendominasi tubuh kita maka kita wajib menjaga kandungan air dalam tubuh untuk senantiasia tercukupi dan terpenuhi. Untuk memenuhi dan mencukupi kandungan asupan air dalam tubuh maka kita harus rutin menkonsumsi air secara berkesinambungan dalam setiap harinya. Ini adalah sebuah contoh riil dalam kehidupan kita, lantas bagaimanakah jika terhadap lingkungan. Apakah lingkungan juga akan memberikan dampak yang sama atau mirip terhadap kita jika kandungan asupan air dalam tanah berkurang atau bagaimana jika air yang terkadung dalam tanah terjadi pencemaran ?, apakah dampak yang akan timbul akan menjadi seperti yang ditimbulkan oleh tubuh jika kekurangan air ?. Disadari atau tidak bahwa jika tubuh kekurangan air atau defisit asupan maka hal yang persispun akan terjadi juga pada lingkungan kita. Oleh karena itu sebagai makhluk yang diberi kelebihan berupa akal maka sewajarnya bahwa dalam pemanfaatan sumber daya alam yang diberikan oleh tuhan maka penjagaan teradap kelangsungan sumber tersebut untuk masa yang akan datangpun harus kita perhatikan. Jika manusia hanya bisa memanfaatkan saja tanpa bisa menjaganya maka sungguh ia termasuk orang yang egois.

1

PEMBAHASAN 1. Pengertian Pencemaran Air Keadaan air dimana air tersebut telah menyimpang dari keadaan normalnya. Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa air merupakan kebutuhan makhluk hidup, di samping sebagai kebutuhan air juga merupakan dipergunakan untuk minum, keperluan rumah tangga, industri, pertanian, peternakan dan lain sebagainya. 2. Penyebab Pencemaran Air I.Limbah Rumah Tangga Limbah rumah tangga merupakan pencemar air terbesar selain limbah-limbah industri, pertanian dan bahan pencemar lainnya. Limbah rumah tangga akan mencemari selokan, sumur, sungai, dan lingkungan sekitarnya. Semakin besar populasi manusia, semakin tinggi tingkat pencemarannya. Limbah rumah tangga dapat berupa padatan (kertas, plastik dll.) maupun cairan (air cucian, minyak goreng bekas, dll.). Di antara limbah tersebut ada yang mudah terurai yaitu sampah organik dan ada pula yang tidak dapat terurai. Limbah rumah tangga ada juga yang memiliki daya racun tinggi, misalnya sisa obat, baterai bekas, air aki. Limbah-limbah tersebut tergolong bahan berbahaya dan beracun (B3). Tinja, air cucian, limbah kamar mandi dapat mengandung bibit-bibit penyakit atau pencemar biologis (seperti bakteri, jamur, virus, dan sebagainya) yang akan mengikuti aliran air. II.Limbah Lalu Lintas Limbah lalu lintas berupa tumpahan oli, minyak tanah, tumpahan minyak dari kapal tangker. Tumpahan minyak akibat kecelakaan mobil-mobil tangki minyak dapat mengotori air tanah. Selain terjadi di darat, pencemaran lalu lintas juga sering terjadi di lautan. Semuanya sangat berbahaya bagi kehidupan. III.Limbah Pertanian Limbah pertanian berupa sisa, tumpahan ataupun penyemprotan yang berlebihan misalnya dari pestisida dan herbisida. Begitu juga pemupukan yang berlebihan. Limbah pestisida dan herbisida mempunyai sifat kimia yang stabil, yaitu tidak terurai di alam sehingga zat tersebut akan mengendap di dalam tanah, dasar sungai, danau serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme-organisme yang hidup di dalamnya. Pada pemakaian pupuk buatan yang berlebihan akan menyebabkan eutrofikasi pada badan air/perairan terbuka. 3. Cara Mengatasi Pencemaran Air Penanggulangan pencemaran air dapat dilakukan melalui: • Perubahan perilaku masyarakat • Pembuatan kolam/bak pengolahan limbah cair I.Perubahan Perilaku Masyarakat Secara alami, ekosistem air dapat melakukan “rehabilitasi” apabila terjadi pencemaran terhadap badan air. Kemampuan ini ada batasnya. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran air. Untuk mengatasi pencemaran air dapat dilakukan usaha preventif, misalnya dengan tidak membuang sampah dan limbah industri ke sungai. Kebiasaan membuang sampah ke sungai dan disembarang tempat hendaknya diberantas dengan memberlakukan peraturan-peraturan yang diterapkan di lingkungan masing-masing secara konsekuen. Sampah-sampah hendaknya dibuang

pada tempat yang telah ditentukan.Masyarakat di sekitar sungai perlu merubah perilaku tentang pemanfaatan sungai agar sungai tidak lagi dipergunakan sebagai tempat pembuangan sampah dan tempat mandi-cuci-kakus (MCK). Peraturan pembuangan limbah industri hendaknya dipantau pelaksanaannya dan pelanggarnya dijatuhi hukuman. Limbah industri hendaknya diproses dahulu dengan teknik pengolahan limbah, dan setelah memenuhi syarat baku mutu air buangan baru bisa dialirkan ke selokan-selokan atau sungai. Dengan demikian akan tercipta sungai yang bersih dan memiliki fungsi ekologis. Tindakan yang perlu dilakukan oleh masyarakat: 1. Tidak membuang sampah atau limbah cair ke sungai, danau, laut dll. 2. Tidak menggunakan sungai atau danau untuk tempat mencuci truk, mobil dan sepeda motor. 3. Tidak menggunakan sungai atau danau untuk wahana memandikan ternak dan sebagai tempat kakus. 4. Tidak minum air dari sungai, danau atau sumur tanpa dimasak dahulu. II.Pembuatan Kolam Pengolah Limbah Cair Saat ini mulai digalakkan pembuatan WC umum yang dilengkapi septic tank di daerah/lingkungan yang rata-rata penduduknya tidak memiliki WC. Setiap sepuluh rumah disediakan satu WC umum. Upaya demikian sangat bersahabat dengan lingkungan, murah dan sehat karena dapat menghindari pencemaran air sumur / air tanah. Selain itu, sudah saatnya diupayakan pembuatan kolam pengolahan air buangan (air cucian, air kamar mandi, dan lain-lain) secara kolektif, agar limbah tersebut tidak langsung dialirkan ke selokan atau sungai. Untuk limbah industri dilakukan dengan mengalirkan air yang tercemar ke dalam beberapa kolam kemudian dibersihkan, baik secara mekanis (pengadukan), kimiawi (diberi zat kimia tertentu) maupun biologis (diberi bakteri, ganggang atau tumbuhan air lainnya). Pada kolam terakhir dipelihara ikan untuk menguji kebersihan air dari polutan yang berbahaya. Reaksi ikan terhadap kemungkinan pengaruh polutan diteliti. Dengan demikian air yang boleh dialirkan keluar (selokan, sungai dll.) hanyalah air yang tidak tercemar. Salah satu contoh tahap-tahap proses pengolahan air buangan adalah sebagai berikut: a) Proses penanganan primer, yaitu memisahkan air buangan dari bahan-bahan padatan yang mengendap atau mengapung. b) Proses penanganan sekunder, yaitu proses dekomposisi bahan-bahan padatan secara biologis. c) Proses pengendapan tersier, yaitu menghilangkan komponen-komponen fosfor dan padatan tersuspensi, terlarut atau berwarna dan bau. Untuk itu bisa menggunakan beberapa metode bergantung pada komponen yang ingin dihilangkan. - Pengendapan, yaitu cara kimia penambahan kapur atau metal hidroksida untuk mengendapkan fosfor. - Adsorbsi, yaitu menghilangkan bahan-bahan organik terlarut, berwarna atau bau.

3

- Elektrodialisis, yaitu menurunkan konsentrasi garam-garam terlarut dengan menggunakan tenaga listrik. - Osmosis, yaitu mengurangi kandungan garam-garam organik maupun mineral dari air. - Klorinasi, yaitu menghilangkan organisme penyebab penyakit. Tahapan proses pengolahan air buangan tidak selalu dilakukan seperti di atas, tetapi bergantung pada jenis limbah yang dihasilkan. Hasil akhir berupa air tak tercemar yang siap dialirkan ke badan air dan lumpur yang siap dikelola lebih lanjut. Berdasarkan penelitian, tanaman air seperti enceng gondok dapat dimanfaatkan untuk menyerap bahan pencemar di dalam air. 4. Dampak Yang Timbul Bagi Makhluk Hidup Pengolahan limbah buangan yang baik tentunya akan menjadikan buangan yang baik pula. Hal ini harus disadari baik dan penuh oleh produsen penghasil limbah sehingga limbah yang keluar dari proses pengolahan bisa meminimalisir dampak yang akan ditimbulkan di kemudian hari. Akan tetapi kita lihat kondisi sekarang ini maka kita akan mendapati bahwa limbah yang dihasilkan oleh industri-industri sang produsen dari suatu produk. Mereka membuang limbah yang dihasilkan dari produk yang diolah oleh mereka tanpa mengolahnya terlebih dahulu sehingga ditemukan banyak jenis zat-zat pencemar berbahaya di sungai-sungai. Diantarnya adalah merkuri atau air raksa (Hg). Penggunaan merkuri secara berlebihan banyak dilakukan oleh para penambang emas. Banyaknya para penambang yang berada di sekitar sungai menyebabkan penyebaran merkuri melalui laut atau sungai. Jika merkuri sudah tercampur dengan air maka ia akan mengalami metilasi oleh jasad renik menjadi monometilkuri yang sangat beracun. Monometilmerkuri larut dalam air dan mudah terserap oleh ikan dan dari ikan terakumulasi dalam tubuh manusia yang memakan ikan. Merkuri anorganik merusak ginjal dan hati. Metilmerkuri mengganggu fungsi otak dan metabolisme sistem saraf serta membentuk ikatan yang kuat dengan gugus sulfur dalam protein dan enzim sehingga mengganggu berbagai sistem enzim dan mekanisme sintetik. Keracunan berat oleh Hg dikenal dengan penyakit minamata. Gejala pada penderita ialah gangguan berat pada sistem saraf yang banyak berakhir dengan kematian. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa kesadaran masyarakat terhadap lngkungan sekitarnya merupakan salah satu kontribusi konkrit dari ke-proaktifan masyarakat terhadap pencemaran yang akan ditimbulkan oleh dirinya sendiri. Tindakan manusia dalam pemenuhan kegiatan sehari-hari, secara tidak sengaja telah menambah jumlah bahan anorganik pada perairan dan mencemari air. Misalnya, pembuangan detergen ke perairan dapat berakibat buruk terhadap organisme yang ada di perairan. Pemupukan tanah persawahan atau ladang dengan pupuk buatan, kemudian masuk ke perairan akan menyebabkan pertumbuhan tumbuhan air yang tidak terkendali yang disebut eutrofikasi atau blooming. Beberapa jenis tumbuhan seperti alga, paku air, dan eceng gondok akan tumbuh subur dan menutupi permukaan perairan sehingga cahaya matahari tidak menembus sampai dasar perairan. Akibatnya, tumbuhan yang ada di bawah permukaan tidak dapat berfotosintesis sehingga kadar oksigen yang terlarut di dalam air menjadi berkurang.

KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan : 1. Pembuangan limbah baik yang dihasilkan dari rutinitas kita terlebih-lebih dari industri akan menjadi sangat berbahaya dan menyebabkan gangguan ketidak seimbangan dalam ekosistem. 2. Pengolahan limbah baik yang dilakukan oleh masyarakat sendiri atau oleh pabrik-pabrik merupakan kontribusi konkrit yang riil dan secara tidak langsung merupakan sebuah kepedulian demi terciptanya komitmen untuk menjaga alam dari pengrusakan. 3. Perubahan perilaku pada masyarakat merupakan salah satu faktor keberhasilan bersama dalam menanggulangi pencemaran yang terjadi.

5

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful