PENDAHULUAN Ketertiban dan keamanan dalam masyarakat akan terpelihara bilamana tiap-tiap anggota masyarakat mentaati peraturan

-peraturan (norma-norma) yang ada dalam masyarakat itu. Untuk dapat menciptakan kehidupan yang tertib dan aman maka kehidupan mereka perlu diatur dengan sebaik-baiknya. Aturan yang jelas dan pasti adalah salah satu dambaan manusia agar agar mereka tahu dan mengerti bahwa segala perbuatan yang postif maupun negatif akan mendapatkan balasan yang setimpal berupa ketertiban dalam hidup sehari-hari maupun keamanan yang dirasakan dalam segala aktifitas tanpa adanya rasa khawatir apalagi dihantui oleh ketidaknyamanan. Agar dapat terwujud kehidupan yang tertib dan aman maka perlu adanya hukum yang mengatur segala hal, mulai dari yang kecil sampai perkara yang besar. Selain sebagai pengatur untuk mewujudkan hal itu semua maka hukum juga bersifat memaksa bagi siapa saja agar segala sesuatu yang menjadi dambaan khalayak dapat terwujud. Sebagai pengatur dan pemaksa tentunya ia akan memberikan efek tidak mengenakkan (sanksi) bagi pelanggar dikarenakan sifatnya sebagai pemaksa dari sebuah peraturan yang berlaku di masyarakat. Dengan adanya sanksi yang merupakan akibat dari sebuah sebab (kausalitas) maka akan terjadi keseimbangan di tiap individu masyarakat. Sebagai hukum yang mengatur hubungan antar sesama maka hukum pidana juga merupakan salah satu jawaban bahwa selama manusia patuh dan tunduk pada peraturanperaturan yang berlaku baik itu yang tertulis maupun yang tidak tertulis kehidupan yang didamba dan dicita-citakan dapat terwujud sehingga tercipta harmoni yang indah dalam interkasi antar sesama.

1

A. DEFINISI PIDANA 1. Pengertian Hukum Pidana Hukum pidana ialah hukum yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan mana akan diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan. Dari definisi tadi kita ketahui bahwa hukum pidana bukan merupakan sebuah norma-norma yang baru dalam hukum, melainkan mengatur tentang sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap norma-norma hukum yang mengenai kepentingan umum. 2. Pembagian Hukum Pidana Berdasarkan definisi tersebut maka hukum pidana dapat dibagi menjadi : a) Hukum pidana obyektif : Semua peraturan yang mengandung keharusan atau larangan, terhadap pelanggaran mana, diancam dengan hukuman yang bersifat siksaan. b) Hukum pidana subyektif : Hak negara atau alat-alat untuk menghukum berdasarkan hukum pidana obyektif. c) Hukum pidana umum : Hukum pidana yang berlaku terhadap setiap penduduk (berlaku terhadap siapapun juga di seluruh Indonesia) kecuali anggota ketentaraan. d) Hukum pidana khusus : Hukum pidana yang yang berlakuu khusus untuk orang-orang yang tertentu. 3. Tujuan Hukum Pidana Sebagai salah satu dari ilmu pengetahuan hukum, hukum pidana ditinjau dari bahan-bahan (material)nya dilakukan dari sudut pertanggung jawaban manusia tentang “Perbuatan yang dapat dihukum”. Jika seseorang melakukan suatu kejahatan atau melanggar norma maka sebagai akibatnya orang tersebut harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sehingga ia dapat dikenakan sanksi (hukuman) dari perbuatan yang telah dilakukannya. Dengan kata lain maka hukum pidana bertujuan menjamin hak-hak tiap individu, disamping adanya tekanan psikologis yang muncul terhadap pelaku tindak kejahatan yaitu efek jera juga sebagai perbaikan terhadap si pelaku. Selain itu juga sebagai 2

penyelesaian atas konflik yang sedang terjadi bagi yang teraniaya dan sebagai penghilang rasa bersalah bagi sang pelaku tindak kejahatan. 4. Sumber-Sumber Hukum Pidana Berdasarkan sumbernya hukum pidana berasal dari : a) KUHP (beserta UU yang merubah dan yang menambahnya). b) UU Pidana di luar KUHP. c) Ketentuan Pidana dalam peraturan perundang-undangan non-pidana. 5. Asas-Asas Dalam Hukum Pidana Terdapat 5 asas dalam hukum pidana yang termaktub dalam KUHP : a) Asas legalitas (Principle of Legality) : Asas ini menentukan tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika tidak ditentukan terlebih dahulu dalam perundang-undangan, yang dalam bahasa Latin berbunyi : “Nullum delictum nulla poena sine praevia legi poenali”. b) Asas retroaktif (Hukum Transitoir) : Perberlakuan surut suatu produk legislasi. Dalam pasal 1 ayat 2 mencantumkan bahwa adanya pembatasan terhadap pasal 1 ayat 1 yang berbunyi : apabila perundang-undangan diubah setelah waktu perbuatan dilakukan, maka terhadap terdakwa digunakan ketentuan yang paling menguntungkan baginya. c) Asas tiada pidana tanpa kesalahan : Sebuah asas yang yang apabila terjadi pada seseorang yang melakukan pidana tanpa melakukan kesalahan misalnya ia melakukan perbuatan yang ia tidak tahu, bahkan tidak mungkin untuk mengetahuinya, maka ini akan mencoreng keadilan. Hendaknya ia diberi tau terlebih dahulu tidak langsung divonis telah melanggar hukum pidana. d) Asas-asas dalam ruang lingkup berlakunya peraturan pidana : Dalam asas-asas ruang lingkup berlakunya peraturan pidana asas ini terbagi dalam : I.Asas Teritorialitas : Hukum suatu daerah berlaku di wilayah daerah itu sendiri. Jadi jika suatu delik dilakukan maka disitulah diadili berdasarkan atas hukum yang berlaku di daerah itu 3

II.Asas Personal (Nasional Aktif) : Asas ini bertumpu pada kewarganegaraan pembuat delik. Hukum pidana Indonesia mengikuti warganegaranya dimanapun ia berada. Namun asas ini tidak mungkin lagi berlaku jika warga negara tersebut berada di wilayah negara lain yang kedudukannya gecoordineerd, artinya yang sama-sama berdaulat karena bertentangan dengan kedaulatan negara, apabila ada orang asing didalam wilayahnya tidak diadili menurut hukum negara itu. III.Asas Perlindungan (Nasional Pasif) : Hukum pidana suatu negara berlaku terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan diluar negeri. Jika, kepentingan tertentu dilanggar diluar wilayah kekuasaan negara itu. Asas ini tercantum dalam pasal 4 ayat 1, 2 dan 4 KUHP. Diperluas dengan UU No. 4 tahun 1976 tentang kejahatan penerbangan, juga oleh pasal 33 UU No. 7 tahun 1955 tentang tindak pidana ekonomi. Perlindungan disini adalah kepentingan nasional (umum), bukan untuk kepentingan individual seorang. IV.Asas Universal : Hukum pidana ini berlaku umum, melampaui negara yang bersangkutan. Perlindungan disini untuk kepentingan dunia. Jadi tiap-tiap negara berkewajiban untuk ikut melaksanakan tata hukum dunia. e) Asas Ni bis in idem : Asas ini adalah tidak ada pengulangan untuk hal yang sama atau tidak ada kedua kali pada hal yang sama. Sebagaimana tersebut dalam pasal 76 KUHP juga dalam pasal 14 ayat 3 UUDS. Hal ini mengandung makna bahwa putusan hakim terhadap suatu peristiwa tidak akan dirubah, kecuali dalam hal appel (revisi) atau kasasi. Jadi seseorang tidak akan dituntut pula terhadap perbuatan jika vonis sudah dijatuhkan.

4

B. GUGURNYA HAK MENUNTUT DAN MELAKSANAKAN PIDANA a) Hapusnya Hak Negara Untuk Menuntut Pidana Terhapusnya hak negara untuk menjalankan pidana bagi seorang terpidana sebagaimana diatur dalam KUHP : 1. Perbuatan yang diputus dengan putusan yang telah menjadi tetap : Ketentuan pasal 76 ayat (1) diletakkan suatu dasar yang disebut dengan asas “ne bis in idem” (bahasa latin) yang melarang negara untuk menuntut kedua kalinya terhadap si pembuat yang perbuatannya telah diputus oleh pengadilan dimana keputusan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum yang tidak dapat lagi dilawan dengan upaya hukum biasa (baning dan kasasi) sedangkan upaya hukum luar biasa yang disebut oleh pasal 76 ayat (1) dengan kalimat kecuali “kecuali dalam hal putusan hakim masih mungkin diulang” ialah apa yang dimaksud dengan istilah “peninjauan ulang” disingkat PK (pasal 263-269 KUHP). Demikian pula : kasasi untuk kepenntingan umum” termasuk juga upaya hukum luar biasa (pasal 259-262 KUHP). 2. Sebab meninggalnya pembuat : Dalam pasal 77 menentukan bahwa “ kewenangan menurut hukum pidana hapus jika terdakwa meninggal dunia “ ketentuan ini berlatar belakang pada sifat pribadi dari pertanggungjawabann pidana dan pembalasan dari suatu pidana, yang dengan demikian tidak diperlukannya lagi pidana bagi orang yang sudah meninggal. 3. Sebab telah lampau waktu atau kadaluarsa : Kewenangan menuntut pidana menjadi hapus karena lewatnya waktu (78 ayat 1). Dasar ketentuan ini sama dengan ketentuan pasal 7-6 ayat (1) tentang asas “ne bis in idem” ialah untuk kepastian hukum bagi kasus pidana, agar si pembuatnya tidak selama-lamanya ketentraman hidupnya diganggu tanpa batas waktu oleh ancaman penuntutan oleh negara, pada suatu waktu gangguan seperti itu harus diakhiri 4. Sebab penyelesaian di luar pengadilan : Pasal 82 memberikan kemungkinan suatu perkara pidana tertentu dengan cara tertentu dapat diselesaikan tanpa harus menyidangkan si pembuatnya dan menjatuhkan pidana kepadanya dan seterusnya Jaksa / Penuntut umum sebelum mulainya persidangan dapat menetapkan satu atau lebih 5

persyaratan (terutama disebutkan dalam bentuk pembayaran sejumlah uang tertentu) untuk mencegah atau mengakhiri diteruskannya penuntutan pidana karena suatu kejahatan. Dikecualikan dari kemungkinan demikian adalah tindak pidana (kejahatan) yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan diancam dengan pidana penjara lebih dari enam tahun atau tindak pelanggaran. 5. Sebab amnesti dan abolisi : Diluar KUHP, dasar-dasar yang dapat menyebabkan hapusnya kewenangan menuntut pidana terhadap pembuat tindak pidana, juga terdapat dalam pasal 14 ayat (2) UUD 1945 (setelah diamandemen), yang menyebutkan bahwa “Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat”. 6. Dalam hal tindak pidana aduan, pengaduannya ditarik kembali : Tindak pidana pengaduan (delik pidana) dapat dituntut apabila orang yang menderita itu tidak mengajukan pengaduan. Apabila pengaduan tersebut ditarik kembali maka hal ini sama dengan tidak ada pengaduan. b) Hapusnya Hak Negara Untuk Menjalankan Pidana Yang menjadi landasan hukum berlakunya penghapusan hak negara untuk menjalankan pidana sebagaimana tercantum dalam KUHP : 1. Oleh sebab meninggalnya terpidana : Dalam pasal 83 KUHP disebutkan bahwa “kewenangan menjalankan pidana hapus jika meninggal dunia”. Sama dengan sebab kematian sebagai dasar peniadaan penuntutan pidana, pada kematian sebagai dasar peniadaan pelaksanaan pidana berpijak pada sifat pribadi pertanggungan jawab dalam hukum pidana dan pembalasan dari suatu pidana. Orang yang harus menanggung akibat hukum dari tindak pidana yang dibuatnya adalah si pembuatnya sendiri, dan tidak pada orang lain. Setelah si pembuat yang harus memikul segala akibat itu meninggal dunia, maka secara praktis pidana tidak dapat dijalankan. 2. Oleh sebab kadaluarsa : Pasal 84 ayat (1) menyatakan bahwa : “kewenangan menjalankan pidana hapus karena kadaluarsa”, ketentan ini juga berarti kewajiban terpidana untuk menjalani atau melaksanakan pidana yang telah dijatuhkan kepadanya 6

menjadi hapus setelah lewatnya waktu tertentu. Ketentuan lewatnya waktu tertentu yang menyebabkan hapusnya kewenangan negara untuk menjalankan pidana ini berlatarbelakang pada kepastian hukum baik bagi terpidana maupun negara 3. Pemberian grasi : Ketentuan akan pemberian grasi oleh presiden kepada terpidana diatur dalam pasal 14 ayat (1) UUD 1945, yang rumusan lenkapnya (setelah amandemen) ialah “Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung”.

KESIMPULAN Dapat kita simpulkan bahwa penjelasan-penjelasan diatas menguraikan apa yang dimaksud dengan : 1. terminologi pidana, 2. pembagian hukum pidana, 3. tujuan-tujuan hukum pidana, 4. sumber-sumber hukum pidana yang berlaku di negara kita Indonesia serta 5. asas-asas yang berlaku baik ditinjau dari ilmu hukum Indonesia sendiri maupun ditinjau dari asas-asas yang berlaku di negara kita Indonesia. Di samping itu juga terdapat penjelasan bahwa seorang terpidana bisa terbebas dari vonis pidana jika memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang telah disebutkan diatas, tentunya hal ini harus sesuai dengan falsafah hukum kita Indonesia yang berlandaskan kepada pancasila dan undang-undang dasar republik Indonesia 1945.

7

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful