Anda di halaman 1dari 121

PROBLEMATIKA PENGAJIAN TAFSIR

AL-QURAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA


DI DESA JATIMULYA KEC. SURADADI
KAB. TEGAL

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)

PARUKHI
061211017

FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)WALISONGO
SEMARANG
2012

ii

iii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya
sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk
memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi di lembaga pendidikan
lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun yang belum /
tidak diterbitkan, sumbernya dijelaskan di dalam tulisan dan daftar pustaka.

Semarang, 15 Juni 2012


Penulis

Parukhi
NIM: 061211017

iv

MOTTO

Al-Quran adalah kitab suci agama Islam untuk seluruh umat muslim di
seluruh dunia dari awal diturunkan hingga waktu penghabisan spesies
manusia di dunia.




Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu",
Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya tulis skripsi ini bagi mereka yang selalu


setia menemaniku di kala senang dan sedih.

Almamaterku
Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Tiada kata yang dapat
ku ucap selain terima kasih, dan skripsi ini sebagai wujud rasa terima
kasih untuk semuanya.

Ayahanda dan Ibunda


Tarmudi dan Murniati. Yang selalu mencurahkan kasih sayang,
perhatian yang tiada pernah henti, serta doa dan restu yang selalu
kami harapkan dalam segala hal.

Ketua Tamir Masjid Nurul Iman


Bpk. KH. Najamuddin, dan warga Tanjung Sari Utara RT/RW: 07/05

saya

ucapkan banyak terima kasih dan bila ada perilaku, uacapan

maupun yang lain kurang berkenan, saya mohon maaf yang sebesarbesarnya.

My Brother
Pasekhuddin, Parikhin dan Faridhotun Khasanah. Yang senantiasa
memberikan motifasi dan senyum kebahagiaan.

Sedulur-sedulur Sanggar WADAS


Yang telah menciptakan suasana keakraban sehingga sulit untuk
mengucapkan kata berpisah.

Teman-Temanku
Azwar, Albet, Agung, Hasyim, Arief, Imron, Yudha, Ajie, Zeero,
Faris, Rizal, Adib, Afif, Shina, Mizbah, Paung, Pak Jo. Thanks for
All, maaf saya selalu merepoti kalian.

vi

ABSTRAKSI
Skripsi ini berjudul Problematika Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa
Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal dan Upaya Pemecahannya. Tujuan yang
hendak dicapai dalam penelitian skripsi ini adalah untuk mengetahui gambaran
pelaksanaan, problem dan upaya pemecahannya di Desa Jatimulya Kec. Suradadi
Kab. Tegal, yang di dalamnya terdapat pelaksanaan pengajian yang dilakukan
setiap malam Selasa. Untuk mencapai tujuan tersebut metode yang digunakan
adalah penelitian lapangan yaitu dengan mengumpulkan data yang dilakukan
dengan penelitian di tempat pelaksanaan kegiatan yang diteliti. Jenis penelitian
dalam skripsi ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan mencari sumber
data dalam pengajian sedangkan spesifikasi penelitian yang digunakan adalah
deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: metode observasi,
metode interview (wawancara) dan metode dokumentasi. Adapun metode analisis
yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif,
yang bertujuan melukiskan secara sistematis fakta dan karakteristik bidang-bidang
tertentu secara faktual dan cermat dengan menggambarkan keadaan atau status
fenomena. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pengajian tafsir
al-Quran di desa Jatimulya di dalam beberapa problem dan upaya
pemecahannya.yang meliputi : Subyek atau dai dalam menyampaikan materi
pengajian tersebut belum bisa menyesuaikan dengan bahasa setempat upaya
pemecahannya harus menyesuaikan bahasa se tempat. Obyek bapak-bapak dan
ibu-ibu atau remaja Islam yang rata-rata pendidikannya masih rendah, dan factor
usia sehingga dalam mengikuti Tafsir Al- Ibriz kurang memahami apa yang telah
diterima belum dapat diamalkan dengan baik upaya pemecahannya menyadarkan
jamaahnya bahwa kehadiran dalam pengajian merupakan salah satu keberhasilan
dalam menerima materi. Materi dalam penjabarannya kurang detail sehingga
kurang sesuai dengan pemahaman madu yang rata-rata sebagai petani upaya
pemecahannya agar materi tersebut diuraikan secara lebih mendetail. Metode
ceramah dan tanya jawab serta menggunakan percakapan antar pribadi upaya
pemecahannya ditambah dengan metode bil hal. dan Media kurangnya fasilitas
yang memadai, seperti tempat jamaah kurang mencukupi, keterbatasan dana dan
lain-lain upaya pemecahannya menambah fasilitas seperti alat pengeras, papan
tulis, perluasan tempat pengajian, dengan iuran bersama, kas pengajian maupun
donatur dari masyarakat yang mampu.

vii

KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulillah mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang
telah melimpahkan rahmat, taufiq, hidayah serta inayahNya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas skripsi ini. Sholawat serta salam senantiasa penulis
curahkan kepada nabi Muhammad SAW yang memberikan cahaya terang bagi
umat Islam dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh
gelar sarjana srata satu (S1) pada jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.
Dalam perjalanan penulisan skripsi ini telah banyak hal yang dilalui oleh
penulis yang bersifat cobaan, godaan, tantangan, dan lain sebagainya yang sangat
menguras energi cukup lumayan banyak. Dan Alhamdulillah akhirnya dapat
membuahkan hasil selesainya skripsi ini dengan judul Problematika Pengajian
Tafsir Al-Quran

di Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal dan Upaya

Pemecahannya. Untuk itu tidak ada kata yang pantas penulis ucapkan kepada
pihak-pihak yang telah membantu proses pembuatan skripsi ini kecuali dengan
Jazakum Allah Ahsan al Jaza Jazaan Katsira. Terima kasih yang sebesarbesarnya kepada:
1. Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag., selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang.
2. Dr. M. Sulthon, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Dakwah beserta Pembantu
Dekan I, II dan III.
3. H. M. Al Fandi, M.Ag dan M. Chodzirin, M.Kom selaku pembimbing I dan II
yang selalu meluangkan

waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan

bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.


4. H. M. Al Fandi, M.Ag selaku dosen wali studi sejak saya masuk dan tercatat
sebagai mahasiswa Dakwah yang selalu memberikan motivasi, pengarahan
dan bimbingan kepada penulis.

viii

5. Kajur dan Sekjur Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN
Walisongo Semarang.
6. Dr. Ilyas Supena, M. Ag dan Dr. Moh. Zuhri, M. Ag selaku penguji 1 dan 2.
7. Para Dosen pengajar dan staf karyawan di lingkungan Fakultas Dakwah IAIN
Walisongo Semarang. Yang telah membantu dalam penyelesaian proses
perkuliahan, urusan birokrtasi dan lain sebagainya selama menuntut ilmu di
Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
8. Segenap Pengurus Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, terimakasih
yang tak terhingga atas bantuannya dalam penyusunan skripsi ini.
9. Ayahanda, Ibunda, serta Saudara-saudaraku yang senantiasa memberikan
motivasi dan mendoakan disetiap perjalanan penulis dalam menjalani hidup.
10. Dan semua saja yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini
yang tidak dapat penulis sebutkan dalam lembaran kertas kecil ini. Sekali lagi
penulis ucapkan: Jazakum Allah Ahsan al Jaza Jazaan Katsira.
Semoga kebaikan dan keikhlasan semua pihak yang telah membantu
dalam proses penyusunan skripsi ini mendapat balasan dari Allah SWT. Akhirnya
kepada Allah penulis berharap, semoga apa yang telah ada dalam skripsi ini bisa
bermanfaat bagi penulis secara pribadi dan para pembaca pada umumnya. Amin.

Semarang,

Juni 2012

Penulis

Parukhi

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ..............................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................

iii

HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................

iv

HALAMAN MOTTO .....................................................................................

PERSEMBAHAN ...........................................................................................

vi

ABSTRAKSI ..................................................................................................

vii

HALAMAN KATA PENGANTAR ...............................................................

viii

HALAMAN DAFTAR ISI ..............................................................................

DAFTAR TABEL ............................................................................................

xiv

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .............................................................................

1.2. Perumusan Masalah .....................................................................

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................

1.4. Tinjauan Pustaka ..........................................................................

1.5. Metode Penelitian .........................................................................

10

1.5.1. Jenis dan Pendekatan Penelitian .........................................

10

1.5.2. Definisi Operasional ...........................................................

10

1.5.3. Sumber Data .......................................................................

12

1.5.4. Pengumpulan Data ..............................................................

14

1.5.5. Analisis Data.......................................................................

15

1.6. Sistematika Penulisan Skripsi .......................................................

16

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Konsep Problematika Dakwah ....................................................

18

2.1.1. Pengertian Problematika Dakwah ...................................

18

2.1.2. Dasar Hukum Dakwah ....................................................

20

2.1.3. Problematika Dakwah .....................................................

23

2.2 Konsep Pengajian ........................................................................

28

2.2.1

Pengertian Pengajian .......................................................

28

2.2.2

Tujuan Pengajian.............................................................

29

2.2.3

Unsur-unsur Pengajian dan Problematikanya .................

31

2.2.4

Fungsi Pengajian .............................................................

37

2.3 Konsep Pemecahan Masalah Dakwah ........................................

37

2.3.1. Pengertian Pemecahan Masalah Dakwah .......................

37

2.3.2. Urgensi Pemecahan Masalah Dakwah ............................

43

2.3.3. Teknik Pemecahan Masalah Dakwah .............................

44

2.4 Konsep Masyarakat Pedesaan .....................................................

46

2.4.1. Pengertian Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan ............

46

2.4.2. Unsur-unsur Masyarakat Pedesaan .................................

49

2.4.3. Kharakteristik Masyarakat Pedesaan ..............................

50

2.4.4. Perbedaan Masyarakat Pedesaan dengan


Masyarakat Kota .............................................................

xi

54

BAB III GAMBARAN UMUM DESA, PELAKSANAAN, PROBLEMATIKA


PENGAJIAN

TAFSIR

AL-QURAN

DAN

UPAYA

PEMECAHANNYA DI DESA JATIMULYA KEC. SURADADI KAB.


TEGAL.
3.1. Profil Desa Jatimulya Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal ..............

58

3.1.1. Letak geografis .....................................................................

58

3.1.2. Keadaan demografis ..............................................................

59

3.1.3. Pendidikan .............................................................................

60

3.1.4. Keadaan Ekonomi .................................................................

61

3.1.5. Keadaan Keagamaan .............................................................

64

3.2. Tinjauan umum Tinjauan Umum Pelaksanaan Pengajian Tafsir


Al-Quran di Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal .............

65

3.2.1. Sejarah Berdirinya Tafsir Al-Quran ...................................

65

3.2.2. Tujuan Pengajian Tafsir Al-Quran Di Desa Jatimulya.......

68

3.2.3. Struktur Kepengurusan Pengajian Tafsir Al-Quran ...........

69

3.2.4. Pelaksanaan Pengajian Tafsir Al-Quran .............................

70

3.2.5. Materi Dalam Pengajian Tafsir Al-Quran ..........................

71

3.3. Problematika Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya


Kec. Suradadi Kab. Tegal ............................................................

73

3.4. Upaya pemecahan Problematika Pengajian Tafsir Al-Quran di


Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal ...................................

xii

79

BAB IV ANALISIS
QURAN

PROBLEMATIKA
DAN

UPAYA

PENGAJIAN

TAFSIR

PEMECAHANNYA

DI

ALDESA

JATIMULYA KEC. SURADADI KAB. TEGAL


4.1.Analisis Pelaksanaan Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya
Kec. Suradadi Kab. Tegal ...........................................................

86

4.2.Analisis Problematika Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya


Kec. Suradadi Kab. Tegal ...........................................................

87

4.3.Analisis Upaya Pemecahan Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa


Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal ...........................................

91

BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan ...............................................................................

98

5.2. Saran-saran ................................................................................

100

5.3. Kata Penutup .............................................................................

101

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

xiii

DAFTAR TABEL
TABLEL I. PERBEDAAN
MASYARAKAT
DESA
DAN
MASYARAKAT KOTA ............................................................

56

TABLEL II. LETAK DESA JATIMULYA KECAMATAN SURADADI


KABUPATEN TEGAL ..............................................................

58

TABLEL III. JUMLAH UMUR DAN JENIS KELAMN DI DESA


JATIMULYA KECAMATAN SURADADI KABUPATEN
TEGAL .......................................................................................

60

TABLEL IV. JUMLAH PENDUDUK MENURUT PENDIDIKAN DESA


JATIMULYA KECAMATAN SURADADI KABUPATEN
TEGAL ......................................................................................

61

TABLEL V. JUMLAH ORANG MENURUT MATA PENCAHARIAN


DESA
JATIMULYA
KECAMATAN
SURADADI
KABUPATEN TEGAL ..............................................................

62

TABLEL VI. JUMLAH KEYAKINAN AGAMA DESA JATIMULYA


KECAMATAN SURADADI KABUPATEN TEGAL ..............

65

xiv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Islam adalah agama dakwah, yang disebarluaskan dan diperkenalkan
kepada manusia melalui aktifitas dakwah, tidak melalui kekerasan,
pemaksaan atau kekuatan senjata. Islam tidak membenarkan pemelukpemeluknya melakukan pemaksaan terhadap umat manusia, agar mereka mau
memeluk agama Islam. Mengapa Islam tidak membenarkan pemaksaan
tersebut, Islam adalah agama yang benar dan dapat diuji kebenarannya secara
ilmiah, masuknya iman ke dalam kalbu setiap manusia merupakan hidayah
Allah SWT.
Al-Quranul karim adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad S.A.W., mengandumg hal-hal yang berhubungan denganm
keImanan, ilmu pengetahuan, kisah-kisah, filsafat, peraturan-peraturan yang
mengatur tingkah laku dan tata cara hidup manusia, baik sebagai makhluk
individu ataupun sebagai makhluk sosial, sehingga berbahagia hidup di dunia
dan di akhirat.
Al-quranul karim dalam menerangkan hal-hal tersebut di atas, ada
yang dikemukakan secara terperinci, seperti yang berhubungan dengan
hukum perkawinan, hukum warisan dan sebagainya,

dan ada pula yang

dikemukakan secara umum dan garis besarnya saja. Yang diterangkan secara
umum dan dan garis-garis besarnya ini, ada yang diperinci dan dijelaskan

hadits-hadits Nabi Muhammad S.A.W., dan ada yang di arahkan pada kaum
muslimin sendiri yang disebut ijtihad.
Begitu pula halnya tafsir al-Quran yang berkembang mengikuti irama
perkembangan masa dan memenuhi kebutuhan manusia dalam suatu generasi.
Tiap-tiap masa dan generasi menghasilkan tafsir-tafsir al-Quran yang sesuai
dengan kebutuhan dan keperluan generasi itu dengan tidak menyimpang dari
hukum-hukum agama.
Di Desa Jatimulya telah banyak dilakukan dakwah seperti dalam
bentuk pengajian-pengajian diantaranya pengajian ibu-ibu, pengajian bapakbapak, pengajian kultum setelah shalat tarawih dan witir, pengajian kuliah
subuh ramadhan dan pengajian tafsir Al-Quran.
Banyak problematika dakwah di desa Jatimulya salah satunya
kegiatan dakwah pengajian tafsir al- Qur an di mana masyarakat kurang bisa
menerima materi yang disampaikan karena menurut jamaah pengajian,
kajian materi yang disampaikan terkadang menggunakan bahasa yang
berbeda dengan bahasa asli Tegal karena pengajarnya ada yang berasal dari
Rembang. Banyak santri yang merasa kesulitan dalam membacanya karena
memakai tafsir yang belum ada harokatnya, materi yang diberikan mencakup
hal-hal yang sangat luas. Dari semua materi yang diberikan merupakan ajakan
agar setiap manusia menerima, memahami dan juga mengikuti ajaran
tersebut. Pokok dari materi yang disampaikan dalam pengajian ini adalah
merupakan isi dari kandungan Al-Quran. Faktor umur pun menjadi pengaruh
karena kebanyakan orang tua dan rata-rata banyak yang lulusan SD dan ilmu

tentang agama pun sangat kurang sehingga proses dakwah kurang bisa
berjalan dengan efisien dan efektif. Dengan problematika dakwah tersebut
jamaah kurang berkembang dan sampai sekarang masih berjalan dengan
baik, selain itu dai kurang bisa menerapkan metode dakwah yang sesuai
dengan kondisi masyarakat, karena bahasa yang berbeda. Selama ini metode
yang digunakan yaitu ceramah dan tanya jawab sedangkan pendekatan pada
madu sangat baik padahal dengan lingkungan masyarakat pedesaan harusnya
dai juga menggunakan metode bil hal.
Penulis mengamati adanya kegiatan pengajian tersebut belum
berfungsi secara efisien dan efektif. Kurang efisien dan efektifnya dalam
kegiatan pengajian karena belum dimanfaatkan secara maksimal dan banyak
permasalahan yang perlu dibenahi. Hal ini juga disebabkan karena dalam
pelaksanaan pengajian menurut pengamatan penulis karena adanya para
subyek dakwah yang baik memiliki pengetahuan dan metodologi dakwah
yang mencukupi, dalam mengisi pengajian kurang memahami permasalahan
yang sedang dihadapi oleh objeknya, karena kebanyakan masyarakatnya
tertutup dalam suatu permasalah. Materi Tafsir Al-Quran dan metode Tafsir
Al-Qurannya juga kurang mengena karena kurang efisien dan efektif , atau
terlalu tinggi dalam menyampaikannya serta adanya media dakwah yang
belum dimanfaatkan secara maksimal.
Adanya fenomena tersebut di atas menandakan adanya problematika
yang perlu diteliti dan dicarikan solusinya agar kegiatan dakwah atau
kegiatan pengajian dapat berfungsi sebagaimana yang menjadi tujuan dalam

kegiatan dakwah atau kegiatan pengajian tersebut. Maka dari itu penulis
tertarik untuk meneliti dan mencoba mencari jalan keluarnya dari adanya
problematika kegiatan dakwah atau pengajian di Desa Jatimulya Kec.
Suradadi Kab. Tegal dalam skripsi yang berjudul Problematika Pengajian
Tafsir Al-Quran dan Upaya Pemecahaanya di Desa Jatimulya Kec. Suradadi
Kab. Tegal.

1.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kegiatan Pengajian Tafsir Al-Quran yang ada di Desa
Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal?
2. Bagaimana problematika kegiatan Tafsir Al-Quran yang meliputi
problematika Dai, madu, materi, metode dan media Tafsir Al-Quran di
Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal?
3. Bagaimana upaya pemecahan terhadap problematika Tafsir Al-Quran di
Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kegiatan
dakwah dan problematika dakwah yang meliputi problematika subyek, objek,
materi, metode dan media dakwah.
Dalam konsep pemikiran yang praktis, Prof. Dr. H. M. Amien
Rais,MA. dalam bukunya Moralitas Politik Muhammadiyah, menawarkan

lima Pekerjaan Rumah yang perlu diselesaikan, agar dakwah Islam di era
informasi sekarang tetap relevan, efektif, dan produktif.
Pertama, perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi
juru-juru dakwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka
tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula
berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling
mutakhir.
Kedua, setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas
dakwah perlu membangun laboratorium dakwah. Dari hasil Labda ini akan
dapat diketahui masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan
dilakukan.
Ketiga, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah billisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan),
bil-hikmah (dalam arti politik), bil iqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya.
Keempat, media massa cetak dan terutama media elektronik harus
dipikirkan sekarang juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau
sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa
depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan
Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi
peningkatan dakwah Islam di tanah air.
Kelima, merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka
panjang. Anak-anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai.
Mereka wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat

invasi nilai-nilai non Islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di


Indonesia. Bila anak-anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh (alhususn al-hamidiyyah) dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini,
insya Allah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.
Mengingat potensi umat Islam yang potensial masih sangat terbatas,
sementara kita harus mengakomodir segenap permasalahan dan tantangan
yang muncul, maka ada baiknya kita coba memilih dan memilah mana yang
tepat untuk diberikan skala prioritas dalam penanganannya, sehingga dana,
tenaga, dan fikiran dapat lebih ter arah, efektif, dan produktif dalam
penggunaanya. (http://eprints.umm.ac.id/972/) (12 Juli 2012).
Adapun penelitian ini dapat bermanfaat untuk:
1. Secara teoritis, diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah khasanah
dalam bidang dakwah khususnya problematika dakwah pada saat ini.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan
bagi para pelaku dakwah (dai) dan peneliti lainya sehingga mampu
menjadi panduan penelitian dalam bentuk skripsi untuk mencapai hasil
yang lebih baik.

1.4. Tinjauan Pustaka


Untuk menghindari kesamaan penulisan dan plagiatisme, maka
berikut ini penulis sampaikan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang
memiliki relevansi dengan penelitian ini, antara lain sebagai berikut;

Pertama, Skripsi yang disusun oleh saudari Catur Styorini (1996),


Problematika Dakwah Islam di Kecamatan Selometro Kabupaten Wonosobo
dan Upaya Pemecahanya. Problematika dalam skripsi ini adalah tentang
percampuran antara nilai-nilai budaya tradisional dan kebudayaan barat.
Sehingga tampak tradisi-tradisi yang melekat pada masyarakat Islam
pedesaan itu bukan hanya tidak memperlihatkan identitas Islam, melainkan
banyak yang kontradiksi dengan ajaran Islam.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian
kualitatif dengan metode koperatif yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis, lisan dan perilaku yang diamati, sedangkan pendekatan
yang digunakan adalah pendekatan sosiologis. dalam hal ini perlu ditindak
lanjuti dengan kegiatan-kegiatan dakwah yang lebih luas cakupannya.
Pembahasan dalam penelitian ini adalah tentang percampuran antara
budaya tradisonal pedesaan dengan budaya barat yang mulai terpengaruh
dengan budaya barat dan bagaimana untuk mengantisipasi hilangnya nilainilai budaya tradisional pedesaan supaya masih dalam ajaran Islam baik
dalam perilaku maupun perbuatan.
Kedua, Skripsi yang disusun oleh Ramadhono Widayat Raharjo
(1997), Problema Dakwah Islam di Kec. Gajahmungkur Semarang.
Problematika dakwahnya belum menyentuh hati masyarakat atau
audiennya (obyek). Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan
dakwahnya agar dapat menyelesaikan problem dakwah di kec. Gajahmungkur
perlu melibatkan semua pihak yang terkait. Keberlangsungan dakwah

Islamiyah pada masyarakat Islam Kec. Gajahmungkur ternyata lebih banyak


bersifat lisan dengan kata lain.

Metode yang digunakan adalah metode

analisis kualitatif dengan pola pikir induktif, yaitu dengan mengemukakan


hal-hal atau pendapat-pendapat yang bersifat khusus, kemudian menarik
generalisasi yang bersifat umum.
Skripsi ini menjelaskan tentang bagaimana untuk mengatasi faktor
penghambat kegiatan dakwah di Gajahmungkur agar terus terjaga.
Ketiga, Skripsi yang disusun oleh Khusenul Kumaidah (1997),
Problematika Dakwah Di Masyarakat Kec. Banyumanik Semarang.
Problematika yang muncul di daerah Kec. Banyumanik menyangkut
kuantitas dan kualitas umat Islam itu sendiri. Dari segi kuantitas di Kec.
Banyumanik masih jauh di bawah jumlah rata-rata prosentase umat Islam di
Indonesia di mana hanya mencapai 76%. Sedangkan dari segi kualitas
menyangkut pemerataan di segala bidang, seperti pendidikan, keagamaan dan
sosial budaya. Demikian juga secara Intern pelaksanaan dakwah di Kec.
Banyumanik

masih

kurang

koordinasi

antara

para

dainya

dan

pelaksanaannya masih berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya koordinasi yang


baik. Sikap orang tua untuk menyekolahkan anak di lembaga pendidikan
Islam masih kurang.
Penelitian ini bersifat deskriptif, di mana data yang diperoleh melalui
observasi, penyebaran angket dan melalui wawancara dan responden yang
menjadi obyek penelitian. Pelaksanaan dakwah Islamiyah mayoritas masih

menggunakan metode dakwah ceramah dalam menyampaikan pesan-pesan


dakwah Islam kepada masyarakat.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam memecahkan permasalahan
tersebut adalah dengan menyempurnakan praktek pelaksanaan dakwah yang
telah ada dengan lebih memfungsikan lembaga-lembaga keagamaan dan
meningkatkan kualitas Dai.
Skripsi ini menjelaskan tentang bagaimana untuk mengetahui
problematika dakwah yang terjadi pada masyarakat Islam di Kec.
Banyumanik Semarang, dan untuk mengetahui langkah-langkah yang
dilakukan oleh pengemban dakwah pada masyarakat Islam di Kec.
Banyumanik semarang.
Berdasarkan

penelitian-penelitian

tersebut

meskipun

sedikit

banyaknya ada kesamaan dengan penelitian sebelumnya, namun pendekatan


penelitian yang disusun saat ini memiliki perbedaan. Dalam hal ini peneliti
lebih difokuskan pada persoalan problematika Pengajian Tafsir al-Quran di
Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal yaitu pada subyek, obyek, materi,
metode, dan media dakwah yang kurang mengena karena kurang efektif dan
efisien. Sedangkan penelitian yang pertama fokus pembahasannya pada
persoalan obyek, kegiatan-kegiatan dan pemanfaatan lembada dakwah.
Penelitian yang kedua fokus pembahasannya hanya pada kegiatan serta
penyampaian dakwahnya yang terlalu sempit. Sedangkan penelitian yang
ketiga menfokuskan pada kualitas dan kuantitas subyek serta obyeknya. Dari
ketiga penelitian di atas, jelas memiliki perbedaan dengan penelitian yang

10

akan di susun saat ini, karena penelitian yang akan disusun saat ini fokus pada
problematika Tafsir Al-Quran di desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal
yang lebih memfokuskan pada subyek, obyek, materi, metode, dan Tafsir AlQurannya.

1.5. Metode Penelitian


1.5.1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian kualitatif,
yang dimaksud adalah sebagai jenis penelitian yang temuantemuannya dideskripsikan dan dianalisis dengan kata-kata atau
kalimat. Pendekatan ini menggunakan pendekatan Problematika
dakwah, sedangkan spesifikasi penelitian yang digunakan adalah
kualitatif deskriptif yang bertujuan mengumpulkan informasi ataupun
data untuk disusun, dijelaskan dan dianalisis (Muhtadi dan Safei,
2003: 128), dan penelitian kualitatif deskriptif ini merupakan
penelitian yang tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu
tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang sesuatu variabel,
gejala atau keadaan (Arikunto, 1993: 310).

1.5.2. Definisi Operasional


Untuk

menghindari

salah

pengertian,

penulis

perlu

memberikan penjelasan definisi batasan penelitian yang akan penulis


laksanakan dalam skripsi ini dari judul Problematika pengajian tafsir

11

al- Quran di Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal beberapa hal
yang perlu mendapat penjelasan antara lain:
Problematika

yang

artinya

masalah

atau

persoalan.

problematika disini penulis artikan sebagai masalah atau hal yang


belum dapat dipecahkan. Oleh karena itu dalam menyusun proposal
skripsi penulis berusaha untuk mencari solusi pemecahan masalah
yang ada dalam kegiatan dakwah di desa Jatimulya Kecamatan
Suradadi Kabupaten Tegal.
Pengajian bisa diartikan kita menuju kepada pembinaan
masyarakat melalui jalur agama.
Desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial,
ekonomi, politik, dan kultural serta hubungannya dan pengaruhnya
secara timbal-balik dengan daerah lain. Usaha melakukan inovasi
dalam berdakwah dilakukan dengan berbagai macam jalan dan cara
adalah merupakan salah satu aspek dakwah yang sangat penting.
Agama Islam yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW. yang disiarkan dengan dakwah ke seluruh penjuru
dunia, adalah memberikan pertanda bahwa Islam diperuntukkan bagi
semua manusia yang berada di muka bumi. Kesempurnaan,
keuniversalan dan kecocokan ajaran Islam dalam kehidupan manusia,
baik kehidupan masa lalu, sekarang maupun masa yang akan datang,
jelas memberikan pandangan yang luas kepada manusia bahwa Islam
mempunyai konsepsi yang matang, ter arah dan sesuai dengan

12

perkembangan zaman yang sebagian besar ditandai akselerasi


peradaban, rekayasa dan industri dan teknologi.
Desa Jatimulya merupakan Desa yang berada di Kecamatan
Suradadi Kabupaten Tegal mempunyai jumlah penduduk 9.868 orang,
jumlah kepala keluarga 2.700 KK., adapun luas desa Jatimulya
seluruhnya adalah 564.235 hektar yang terdiri dari tanah persawahan,
tanah perkebunan, tanah pekarangan dan tanah pemukiman. Sedang
daerah desa Jatimulya dibatasi oleh :
a. Sebelah utara berbatasan dengan desa Suradadi.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Harjasari.
c. Sebelah barat berbatasan dengan desa Jatibogor.
d. Sebelah timur berbatasan dengan desa Kertasari.
Yang keseluruhan penduduknya beragama Islam. Mata
pencarian penduduk Desa Jatimulya kebanyakan adalah sebagai
petani.
Penulis berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan
problematika dalam kegiatan dakwah Islam di Desa Jatimulya.
Problematika dakwah Islam tersebut meliputi; problematika subyek
dakwah, obyek dakwah, materi dakwah, metode dakwah, media
dakwah.

1.5.3. Sumber Data


Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu
data primer dan data sekunder, menurut Lexy J. Moleong sumber data

13

utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan,


selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lainnya
(Moleong, 2004: 157).
a. Data primer
Data secara tertulis atau lisan yang diperoleh secara
langsung dari responden dengan menggunakan alat pengukuran
atau alat pengambilan data langsung pada responden sebagai
sumber informasi yang dicari (Azwar, 2007: 91), dengan
menggunakan teknik wawancara. Teknik wawancara digunakan
sebagai teknik utama dalam mengumpulkan data. Dalam hal ini
data yang diperoleh berupa data dari responden dalam bentuk
catatan lapangan yang diperoleh berupa transkip wawancara.
Karena penulis menggunakan wawancara bebas terpimpin,
maka diperlukan adanya penetapan interview guide yang berfungsi
sebagai kriterium pengontrol dalam penyusunan data laporan,
dengan penyusunan instrumen meliputi perumusan pertanyaan dan
penetapan obyek penelitian sampel populasi. Interview guide
berfungsi

membimbing

pokok

pertanyaan

dengan

adanya

Pengembangan jawaban dari obyek.


b. Data sekunder
Data yang diambil secara tidak langsung dari sumbernya
(Azwar, 2005: 91). Sumber data sekundernya adalah bubu-buku,

14

artikel, jurnal dan bahan-bahan kepustakaan lain yang ada


relevannya dengan penelitian ini.

1.5.4. Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data menggunakan
beberapa metode, diantaranya sebagai berikut:
1. Metode Wawancara
Wawancara yaitu percakapan atau tanya jawab lisan antara
dua orang atau lebih, yang pertanyaannya diajukan oleh peneliti
kepada subyek atau kelompok subyek penelitian untuk dijawab
(Danim, 2002: 130).
Sedangkan wawancara yang digunakan dalam penelitian
ini adalah jenis wawancara yang menggunakan pendekatan
petunjuk umum wawancara artinya pewawancara membuat
kerangka dan garis besar poko-pokok yang ditanyakan dalam
proses wawancara.
Metode wawancara ini digunakan untuk memperoleh datadata tentang gambaran umum desa, gambaran umum tentang
kegiatan dakwah dan keadaan tentang subyek, obyek, metode dan
media dakwah yang ada di Desa Jatimulya.
2. Metode Observasi (Pengamatan)
Alasan

menggunakan

metode

pengamatan

secara

metodologis adalah karena metode pengamatan mengoptimalkan


kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perilaku tak

15

sadar, kebiasaan dan sebagainya. Pengamatan memungkinkan


pengamat untuk melihat dunia sebagai yang dilihat oleh subyek
penelitian, hidup pada saat itu, menangkap arti fenomena dari segi
pengertian subyek pada keadaan waktu itu. Pengamatan
memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan
dihayati oleh subyek sehingga memungkinkan pembentukan
pengetahuan yang diketahui bersama, baik dari pihaknya maupun
dari pihak subyek (Moleong, 1995 : 126).
3. Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis ataupun film lain
dari record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan
seorang penyidik (Moleong, 1995: 135). Metode dokumentasi ini
penulis

gunakan

untuk

melengkapi

data-data

dari

hasil

wawancara, seperti data monografi desa, data keadaan pendidikan,


data

keadaan

ekonomi,

keadaan

keagamaan

dan

sarana

peribadatan yang ada.

1.5.5. Analisis Data


Analisis data merupakan proses penyusunan transkip interview
serta material lain yang telah terkumpul, tujuannya agar penulis dapat
menyempurnakan pemahaman terhadap data tersebut untuk kemudian
penyajiannya lebih jelas (Danim, 2002: 198). Analisis data dilakukan
setelah adanya data terkumpul dari hasil pengumpulan data, analisis

16

data sering disebut sebagai pengolahan data. Ada yang menyebut data
preparation ada pula data analisis (Arikunto, 2002 : 209).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis diskriptif,
yaitu gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fenomena atau hubungan antar fenomena yang diselidiki
(Suprayogo, 2001: 136).

1.6. Sistematika Penulisan Skripsi


Sistematika penulisan skripsi adalah merupakan hal yang penting
karena mempunyai fungsi untuk menyatakan garis-garis besar dari masingmasing bab yang saling berkaitan dan berurutan. Hal ini dimaksudkan agar
tidak terjadi kekeliruan dalam penyusunannya.
Untuk mempermudah penulisan skripsi ini, penulis membagi skripsi
ini menjadi 5 bab, yaitu:
BAB I

: Sebagai pintu gerbang pembuka dalam pembahasan

skripsi ini, sekaligus sebagai pendahuluan. Di sini akan diuraikan tentang


latar belakang masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka,
metode penelitian dan dilanjutkan dengan sistematika penulisan skripsi.
BAB II
mencakup

: Landasan teori yang mendeskripsikan secara teoritik

Problematika

Pengajian

Tafsir

Al-Quran

dan

Upaya

Pemecahannya di Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal di dalamnya


penulis akan menguraikan tentang konsep problematika dakwah,konsep
Pengajian, konsep pemecahan masalah dakwah, konsep masyarakat pedesaan.

17

BAB III : Menguraikan tentang problematika pengajian dan


pelaksanaan Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya Kec. Suradadi
Kab. Tegal, yang meliputi tinjauan umum masyarakat, pelaksanaan Pengajian
Tafsir Al-Quran, dan problematika Pengajian Tafsir Al-Quran pada
masyarakat Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal.
BAB IV : Analisis data yang berisi tentang analisis dakwah dengan
mendeskripsikan tentang problematika Pengajian Tafsir Al-Quran yang
meliputi subyek Pengajian, obyek Pengajian, materi Pengajian, metode
Pengajian dan media Pengajian yang terjadi pada masyarakat Desa Jatimulya
Kec. Suradadi Kab. Tegal.
BAB V
saran-saran.

: Penutup, pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan

18

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Konsep Problematika Dakwah


2.1.1. Pengertian Problematika Dakwah
a. Pengertian Problematika
Arti kata problematika menurut beberapa tokoh antara lain:
1) Problematika berasal dari kata problem yang artinya masalah
atau

persoalan.

Jadi

problematika

adalah

hal

yang

menimbulkan masalah atau hal yang belum dapat dipecahkan.


(Depdiknas, 2005: 896).
2) Problematika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
diartikan dengan hal yang menimbulkan masalah, hal yang
belum dipecahkan, permasalahan (Depdikbud, RI., 1990 :
701).
3) Prof. Dr. Soerjono Soekamto SH, MA. mengatakan bahwa
problematika adalah suatu halangan yang terjadi pada
kelangsungan suatu proses atau masalah (Sukamto, 1985: 394).
b. Pengertian dakwah
Dakwah dari segi bahasa merupakan bentuk masdar dari
kata yadu (fiil mudhari) dan daa (fiil madli) yang artinya
adalah

memanggil,

mengundang,

mengajak,

mendorong, dan memohon (Pimay, 2006: 2).

menyeru,

19

Sedangkan dari segi istilah, banyak pendapat tentang


definisi dakwah. Diantara pendapat itu adalah sebagai berikut:
a. Syeikh Ali Mahfudz
Syeikh

Ali

Mahfudz

dalam

kitabnya

Hidayatul

Mursyidin memberikan definisi dakwah sebagai berikut:

Artinya:

"Mendorong manusia agar memperbuat kebaikan


dan menurut petunjuk, menyeru mereka berbuat
kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan
mungkar agar mereka mendapat kebahagiaan di
dunia dan akhirat".
b. Muhammad Natsir
Muhammad Natsir dalam tulisannya yang berjudul
Fungsi

Dakwah

Islam

dalam

Rangka

Perjuangan,

mendefinisikan dakwah sebagai usaha-usaha menyerukan dan


menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat
konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di
dunia ini, yang meliputi amar maruf nahi mungkar, dengan
berbagai macam media dan cara yang diperbolehkan akhlak
dan

membimbing

pengalamannya

dalam

perikehidupan

perseorangan, perikehidupan berumah tangga, perikehidupan


bermasyarakat dan perikehidupan bernegara (Shaleh, 1977: 8).
c. H.S.M. Nasaruddin Latif
Nasaruddin Latif dalam bukunya Teori dan Praktek
Dakwah Islamiyah, mendefinisikan dakwah sebagai setiap

20

usaha atau aktivitas dengan lisan atau tulisan dan lainnya, yang
bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya
untuk beriman dan mentaati Allah SWT, sesuai dengan garisgaris aqidah dan syariat serta akhlak Islamiyah (Pimay, 2006:
6).
Berdasarkan definisi-definisi di atas problematika dan
dakwah

maka

penulis

simpulkan

bahwa

suatu

hal

permasalahan atau yang menimbulkan masalah dalam dakwah


baik seruan, ajakan, panggilan yang belum bisa dipecahkan.
Maka dari itu bagaimana caranya supaya penulis bisa mencari
permasalanya terutama dalam penelitian di desa Jatimulya.

2.1.2. Dasar Hukum Dakwah


Karena pentingnya dakwah, maka dakwah bukanlah pekerjaan
dipikirkan dan dikerjakan sambil lalu saja melainkan suatu pekerjaan
yang telah diwajibkan bagi setiap pengikutnya. Dalam al- Quran dan
sunah-sunah-Nya

terdapat

banyak

ayat

yang

secara

implicit

menunjukan suatu kewajiban melaksanakan dakwah.


Allah SWT berfirman:

21

Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),


sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan
yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia
telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang
tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui (QS. Al Baqarah, 2 : 256) (Depag RI, 1994:
63).
Dakwah secara umum merupakan suatu ilmu pengetahuan
berisi cara-cara dan tuntunan bagaimana seharusnya menarik
perhatian manusia untuk menganut, menyetujui, dan melaksanakan
suatu ideologi. Sedangkan menurut agama Islam adalah mengajak
manusia dengan bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan
perintah Allah untuk kemaslahatan dan kebahagiaan umat di dunia
dan akhirat (Oemar, 1997 : 1). Hal tersebut seperti yang dijelaskan
dalam surat An-Nahl ayat 125, firman Allah yang berbunyi :




Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk. (Q.S. An-Nahl: 125). (Depag RI, 1994: 421).
Dari Ibnu Masud RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

.. . .

22

. .
. .
) .
).
Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus oleh Allah sebelumku
kepada suatu umat melainkan dia punya pengikut-pengikut setia dan
dan juga para sahabat dari umatnya yang mengikuti Sunahnya dan
mengerjakan perintahnya. Kemudian sesudah mereka akan muncul
orang-orang yang suka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan,
dan menngerjakan yang tidak diperitahkan kepada mereka. Maka
barang siapa memerangi mereka dengan tanganya, berarti dia seorang
mukmin, dan barang siapa memerangi mereka dengan hatinya maka
dia pun seorang mukmin, dan barang siapa memerangi mereka
lidahnya, maka dia termasuk orang mukmin. Dan setelah itu tidak lagi
iman meski hanya sebesar biji sawi (HR. Muslim). (Syarah Riyadush
Shalihin, 2005: 471).
Jadi hadits di atas mengandung arti; sesungguhnya Allah yang
Maha Suci dan lagi Maha Tinggi mempermudah bagi para Nabi
melalui hadirnya orang-orang yang akan mengemban risalah Allah
setelah mereka. Barang siapa dari umat ini yang menginginkan
keselamatan maka dia harus mengikuti manhaj (jalan) para Nabi
dalam berdakwah di jalan Allah sebab selain jalan mereka adalah
kebinasaan atau kesesatan dan jalan keselamatan itu adalah jalan para
Nabi menuju Allah yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW
dan telah diterangkan rambu-rambuya. Perintah untuk memerangi
orang-orang yang menentang syariat baik dengan ucapan maupun
perbuatan. Sebaik-baik umat setelah para Nabi adalah sahabat mereka,
lalu orang-orang yang hidup setelahnya, lalu orang-orang yang datang

23

sesudah mereka. Diharamkan bagi seseorang untuk mengatakan apa


yang tidak dikerjakan atau mengerjakan yang tidak diperintahkannya.



Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah
lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka
dalam urusan itu. (QS. Ali Imran : 159)
2.1.3. Problematika Dakwah
Islam sebagai agama rahmat, salah satunya berarti bahwa konsepkonsep yang Islami mampu menjawab berbagai permasalahan yang
dihadapi umat manusia, Islam sebagai pembahagia dan pemecah
persoalan. Suatu identifikasi kecenderungan perkembangan umat dan
bangsa sebagai kaibat makin majunya peradaban perlu dilakukan
dalam rangka mengembangkan dan merencanakan kegiatan dakwah
Islamiyyah yang memadai. Sebab kecenderungan perkembangan ini
akan memberikan dampak seperti permasalahan dakwah atau tantangan
dakwah.
Permasalahan dakwah dalam kehidupan manusia dewasa ini
menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia yaitu aspek-aspek
social-budaya, ekonomi, politik, nilai dan sebagainya.

24

Pimpinan Pusat Majlis Tabligh Muhammadiyah mengidentifikasi


permasalahan-permasalahan dakwah pada umumnya di Indonesia
sebagai berikut :
A. Kecenderungan Sosial Budaya
1. Reifikasi
Kecenderungan manusia akan menilai, menikamati
sesuatu hanya dengan ukuran-ukuran yang bersifat lahiriah
semata (pragmatis). Sesuatu dapat dikatakan baik atau buruk
semata-mata hanya di ukur dengan indicator yang dapat
diindra. Kenikmatan hidup hanya dapat dipenuhi oleh sesuatu
yang bersifat kebendaan atau lahiriah saja. Fenomena
ritualisme ini tercermin pada sebagian orang Islam yang
beragama hanya pada permukaan saja atau bahkan secara
formal saja. Kenyataan semacam ini merupakan salah satu
manifestasi dari gejala pendangkalan akidah.
2. Objektivikasi
Terperangkapnya manusia dalam kerangka system
budaya dan teknologi sedemikian rupa sehingga dirinya
menjadi komponen yang amat tergantung pada system tersebut.
3. Manipulasi
Efek samping lain dari makin dipadatinya kehidupan
manusia oleh teknologi. Dunia periklanan yang pada saat ini
telah menjurus pada menciptakan kebutuhan artifisial

25

manusia adalah contoh proses manipulasi. Contoh lain yang


lebih berat misalnya adalah proses perekayasaan sosial yang
konon sudah terbiasa di negara yang cenderung atheistik.
4. Fragmentasi
Kehidupan dalam masyarakat yang makin maju
merupakan akibat tidak langsung dari iklim profesionalisme
dan pembagian kerja yang menyertai kehidupan modern.
Manusia terkotak-kotak oleh jabatan, status atau profesinya
sehingga dalam masyarakat hubungan manusiawi (silaturrahmi
antar insan) sudah tidak ada lagi dan sebagai gantinya
hubungan profesi, hubungan status, hubungan kepentingan dan
sebagainya.
B. Kecenderungan Pergeseran Nilai
1. Individualisme
Dalam makna egoisme merupakan akibat langsung dari
variabel

perkembangan

di

atas.

Perkembangan

individualisme pada sisi lain yaitu kecendrungan individualistik


(egoistik), yang hanya mementingkan keuntungan (kebutuhan,
keenakan dan lain-lain) diri sendiri saja juga merupakan efek
samping yang timbul.
2. Rasionalisme dan Materialisme
Akibat alnjut dari reifikasi dan objektivikasi manusia di
atas adalah terjadinya kecenderungan pemikiranrasionalistik

26

dan materialistik. Penilaian atas baik buruknya yang sematamata disadarkan pada ukuran nalar (rasio) belaka, secara tidak
disadari telah membudaya dalam masyarakat kita, terutama
masyarakat intelektual.
3. Sekularisme
Proses objetivitas di atas, yang pada gilirannya juga
akan menumbuhkan paham sekularisme. Sekularistik memang
cenderung untuk meniadakan peran agama, sekalipun ada
kemungkinan bahwa agama diberi tempat atau diberi kotak
yaitu berupa proses spatialisasi.
4. Nativisme
Pada sisi lain akan menumbuhkan kecenderungan
makin berkembangnya pemikiran spiritualisme nativistik.
Fenomena di negara Barat dan kecenderungan pertuyulan,
mistisme dan sejenisnya adalah contoh konkret reaksi
spiritualisme-nativistik tersebut.
C. Kecenderungan Ekonomi
Keterbatasan lapangan kerja di pedesaan mengakibatkan
meningkatnya urbanisasi secara besar-besaran, yang bukan saja
menambah pengangguran di kota dan di desa, tetapi juga timbulnya
dampak sosial yang negatif.

27

Permasalahan ekonomi yang dimaksud adalah sebagai


berikut:
1. Ketimpangan kaya miskin
Gejala ini terlihat jelas dalam kehidupan, khususnya di
kota-kota besar. Membengkaknya jurang antara yang kaya
dengan yang miskin memang makin terasa. Meminjam istilah
politik-ekonomi, seolah dua lingkaran setan tetap berlangsung,
yaitu lingkaran setan kemiskinan dan lingkaran setan
keberadaan.
2. Pengangguran
Sebab kalau pengangguran ini tidak terpecahkan akan
dapat

menimbulkan

berbagai

akibat

buruk

bagi

para

penganggur seperti kriminalitas, penyimpangan tingkah laku


sosial yang akan dapat merugikan masyarakat, dan ini dilihat
dari kacamata pap pun tidak menguntungkan.
3. Kriminalitas dan Penyimpangan Tingkah Laku Sosial
Perbedaan kaya miskin, tekanan ekonomi yang sangat
berat sementara tidak memiliki ketahanan mental yang kuat,
keinginan untuk hidup mewah seperti orang-orang Barat, tetapi
tidak

memiliki

kemampuan

untuk

memperoleh

syarat-

syaratnya secara wajar, atau dengan kata lain timbulnya


kriminalitas itu ialah adanya

faktor-faktor dari dalam diri

manusia dan dari diri luar manusia.

28

D. Kecenderungan Sosial Politik


Proses modernisasi yang dibarengi industrialisasi, urbanisasi,
sekularisasi,

dan

masuknya

modal

asing

(multi

national

corporation) secara besar-besaran dengan segala dampak sosio


politiknya, telah menyebabkan makin cairnya pandangan ideologis
umat. Dalam era baru peran politik Islam menjadi makin lemah dan
dengan makin kuatnya korporatisme tidak saja umat Islam, tetapi
juga sektor sipil pada umumnya tidak lagi mempunyai peranan
dalam proses pengambilan keputusan di Indonesia.
E. Masalah

DeIslamisasi

(pendangkalan

Akidah

dan

Pemurtadan)
Upaya deIslamisasi juga dilakukan melalui pembentukan
opini masyarakat melalui berbagai jalur, baik media massa, forumforum maupun mekanisme khusus. Proses distorsi informasi
mengenai Islam dan umat Islam melalui media massa memang
merupakan yang paling intens dilakukan, apalagi jika yang
menguasai media massa pembentuk opini nasional dari kalangan
yang tidak menyenangi Islam.(Amin, 2009 : 290-304).

2.2. Konsep Pengajian


2.2.1 .Pengertian Pengajian
Pengajian berasal dari kata kaji yang berarti meneliti atau
mempelajari ilmu-ilmu agama (Poerwadarminta, 1985: 431). Pengajian
bisa diartikan kita menuju kepada pembinaan masyarakat melalui jalur

29

agama. Pengajian kepada masyarakat ini biasanya khusus mengkaji


bidang-bidang agama seperti aqidah, fiqih, dan kitab-kitab lain yang
berhubungan dengan agama Islam. Bimbingan kepada masyarakat ini
bisa dikatakan sebagai dakwah, karena dakwah merupakan usaha
peningkatan pemahaman keagamaan untuk mengubah pandangan
hidup, sikap batin dan perilaku umat yang tidak sesuai dengan ajaran
Islam menjadi sesuai dengan tuntutan syariat untuk memperoleh
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (Munir dan Ilaihi, 2006: 21).
Sedangkan Departemen Agama RI mengartikan pengajian
sebagai organisasi yang mengelola pendidikan non formal dalam
agama Islam, khususnya pendidikan al-Quran (Depag RI, 1995: 10).
Maksud dari pengertian pengajian di atas adalah untuk membimbing
umat Islam agar tingkat keberagamaannya semakin kuat dan mendapat
kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan dasar keridhoan Allah.
Pengajian di sini merupakan suatu kegiatan yang bergerak
dibidang dakwah. Karena pengertian dakwah itu sendiri mencakup
semua aspek kehidupan sosial masyarakat, hampir semua organisasi
Islam dikategorikan sebagai lembaga dakwah.

2.2.2 .Tujuan Pengajian


Pengajian merupakan salah satu pokok dalam syiar dan
pengembangan agama Islam. Pengajian ini sering juga dinamakan
dakwah

Islamiyyah.

Dakwah

Islamiyyah

terwujudnya agama semua segi kehidupan.

diusahakan

untuk

30

Menurut H. A. Soelaiman menjelaskan bahwa tujuan pengajian


terbagi menjadi dua tujuan utama yaitu :
1. Tujuan Kurikuler
Mengadung konsep teoritis untuk mencapai target sasaran
dakwah secara bertahap sampai batas final. Tujuan ini mengandung
dua sub yaitu :
a. Menghidupkan

fitrah

hati

manusia

dari

kemungkinan

kelumpuhan dan kematiannya akibat polusi mental yang


merayapi dan merusak dirinya, sehingga fitrah dan hati itu
kembali memiliki daya tangkap yang benar dalam membedakan
mana yang hak dan yang batil maruf dan munkar.
b. Amar maruf nahi munkar
- Mengembangkan manusia yang sudah berada pada posisi
maruf supaya lebih meningkat niali-nilai marufnya dan
menjaga serta melindunginya jangan sampai bergeser pada
posisi yang munkar.
- Membawa lingkup hidup manusia berada pada posisi yang
maruf.
- Meyakinkan mereka yang ragu-ragu betapa yang maruf itu
dengan segala pengaruhnya yang konstrukstif dan yang
mungkar itu dengan segala pengaruhnya yang destruktif.

31

2. Tujuan Final
Merupakan akhir yang akan dicapai, yaitu ajaran Islam akan
menjadi sikap sehari-hari dalam kehidupan pemeluknya yang
dilandasi oleh iman yang kokoh dan dilatarbelakangi oleh harapan
mendapatkan keridhaan Allah.(Muchtar, 2005:176-177).

2.2.3 .Unsur-unsur Pengajian dan Problematikanya


Dalam proses pelaksanaan pengajian terdapat beberapa unsur
yang perlu diperhatikan oleh para pelaksana pengajian agar dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, diantaranya yaitu subyek
pengajian (dai), obyek pengajian (madu), materi pengajian (maddah),
metode pengajian (thariqah) dan media pengajian (wasilah).
1. Subyek Pengajian (Dai)
Subyek pengajian atau dai merupakan orang yang
melaksanakan suatu proses kegiatan untuk menyeru kepada sesama
umat manusia. Pada prinsipnya umat muslim wajib untuk
melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Tapi karena pengetahuan
yang berbeda-beda tidak semua muslim bisa berdakwah. Subyek
dakwah ini merupakan unsur terpenting dalam pelaksanaan
dakwah, karena dai merupakan seorang pemimpin yang memberi
keteladanan bagi orang lain. Di antara sifat-sifat yang perlu
dimiliki oleh seorang dai atau mubaligh adalah:
-

Mengetahui tentang al-Qur'an dan Sunnah Rasul sebagai pokok


agama Islam.

32

Memiliki pengetahuan Islam seperti tafsir, ilmu hadits, sejarah


kebudayaan Islam dan lain-lainnya.

Memiliki pengetahuan yang menjadi alat kelengkapan dakwah


seperti teknik dakwah, sejarah, perbandingan agama dan
sebagainya.

Memahami bahasa umat yang akan diajak kejalan yang diridhoi


Allah.

Penyantun dan lapang dada.

Berani kepada siapa saja dalam menyatakan, membela dan


mempertahankan kebenaran.

Memberi contoh dalam setiap medan kebajikan.

Berakhlak baik sebagai seorang Muslim.

Memiliki ketahanan mental yang kuat (kesabaran), keras


kemauan, optimis walaupun menghadapi berbagai rintangan
dan kesulitan.

Mencintai tugas kewajibannya sebagai dai dan tidak gampang


meninggalkan

tugas

tersebut

karena

pengaruh-pengaruh

keduniaan (Ya'qub, 1992: 38)


Apabila seorang dai memiliki sifat-sifat tersebut di atas
maka akan mempermudah bagi dai untuk memberikan materinya
kepada mad'u, dan juga apabila terdapat suatu halangan dalam
penyampaian materi dakwah maka akan segera mudah untuk
diatasi dalam pelaksanaannya.

33

2. Obyek Pengajian (Mad'u)


Seluruh umat manusia merupakan penerima dakwah tanpa
kecuali dan tidak membedakan status sosial, umur, pekerjaan, asal
daerah, dan ukuran biologis baik itu pria maupun wanita.
Sesuai dengan firman Allah QS. Saba 28:



Artinya : Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat
manusia seluruhnya sebagai pembawa berita dan sebagai
pembawa peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui. (Q.S. Saba : 28. Depag RI, 1994 : 689).
Al-Quran mengenalkan kepada kita beberapa tipe madu.
Secara umum madu dibagi menjadi tiga, yaitu: mukmin, kafir,
munafik. Dan dari tiga klasifikasi besar ini madu masih bisa
dibagi lagi dalam berbagai macam pengelompokan. Orang mukmin
umpamanya bisa dibagi menjadi tiga, yaitu: dzalim linafsih,
muqtashid dan sabiqun bilkhairat. Kafir bisa dibagi menjadi kafir
zimmi dan kafir harbi. (Aziz, 2004 : 90).
Jadi obyek di sini merupakan sasaran dai untuk
melakukan dakwahnya. Muhammad Abduh membagi madu
menjadi tiga golongan, yaitu:
-

Golongan cerdik cendekiawan yang cinta kebenaran, dan


berfikir secara kritis dan cepat menangkap persoalan.

34

Golongan awam, yaitu orang kebanyakan yang belum dapat


berfikir secara kritis dan mendalam, serta belum dapat
menangkap pengertian-pengertian yang tinggi.

Golongan yang berbeda dengan kedua golongan tersebut.


Mereka senang membahas sesuatu tetapi hanya dalam batas
tertentu saja, dan tidak mampu membahas secara mendalam
(Munir dan Ilaihi, 2006: 23)

3. Materi Pengajian (Maddah)


Materi merupakan bahan yang dipergunakan dai untuk
disampaikan kepada madu. Materi tersebut menekankan pada
materi agama atau ajaran Islam, yaitu al-Quran dan Sunnah rasul.
Ajaran mengenai aqidah ini merupakan tujuan utama Rasul
diutus ke dunia, yang mana hal ini dinyatakan dalam Al-Quran,
yang berbunyi:



Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum
kamu (Muhammad) melainkan Kami wahyukan
kepadanya, bahwasanya tiada Tuhan (yang hak)
melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan
Aku (Q.S. Al-Anbiya: 25) (Depag RI, 2005: 325).
Adapun pokok-pokok materi dalam dakwah atau ajaran
Islam antara lain:
-

Aqidah Islam, tauhid dan keimanan.

35

Pembentukan pribadi yang sempurna.

Pembangunan masyarakat yang adil dan makmur.

Kemakmuran dan kesejahteraan dunia dan akhirat (Yaqub,


1992: 30)

4. Metode Pengajian (Thariqah)


Metode pengajian adalah jalan atau cara yang dipakai juru
dakwah untuk menyampaikan ajaran materi dakwah Islam. Dalam
menyampaikan suatu pesan dakwah, metode sangat penting
peranannya, karena suatu pesan walaupun baik, tetapi disampaikan
lewat metode yang tidak benar, maka pesan itu bisa saja ditolak
oleh si penerima pesan. Adapun metode ini terdiri dari, yaitu:
-

Bi al-Hikmah, yaitu berdakwah dengan memperhatikan situasi


dan kondisi sasaran dakwah dengan menitikberatkan pada
kemampuan madu, sehingga madu tidak merasa terpaksa atau
keberatan dalam menerima materi serta menjalankan ajaranajaran Islam.

Mauizatul Hasanah, yaitu berdakwah dengan memberikan


nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan
rasa kasih sayang, sehingga apa yang disampaikan dapat
menyentuh hati mereka.

Mujadalah Billati Hiya Ahsan, yaitu berdakwah dengan cara


bertukar pikiran dan membantah dengan cara yang sebaikbaiknya dengan tidak memberikan tekanan-tekanan yang

36

memberatkan pada komunitas yang menjadi sasaran dakwah


(Munir & Ilaihi, 2006: 34).
5. Media Pengajian (Wasilah)
Media pengajian adalah alat yang digunakan untuk
menyampaikan materi dakwah kepada madu. Hamzah Yakub
membagi media dakwah menjadi lima macam, yaitu:
-

Lisan adalah media dakwah yang paling sederhana yang


menggunakan lidah dan suara, dakwah dengan media ini dapat
berbentuk pidato, ceramah, kuliah, bimbingan, penyuluhan, dan
sebagainya.

Tulisan adalah media dakwah melalui tulisan, buku, majalah,


surat kabar, surat-menyurat, spanduk, dan sebagainya.

Lukisan adalah media dakwah melalui gambar, karikatur, dan


sebagainya.

Audiovisual adalah media dakwah yang dapat merangsang


indra pendengaran, penglihatan atau kedua-duanya, seperti
televise, film slide, OHP, internet, dan sebagainya.

Akhlak, yaitu media dakwah melalui perbuatan-perbuatan


nyata yang mencerminkan ajaran Islam yang secara langsung
dapat dilihat dan didengarkan oleh madu (Munir & Ilaihi,
2006: 32).

37

2.2.4 .Fungsi Pengajian


Fungsi pengajian sebagai lembaga dakwah maupun lembagalembaga lainnya adalah menggerakkan masyarakat untuk melakukan
tindakan perubahan dari kondisi yang ada menjadi kondisi yang lebih
baik menurut tuntunan agama Islam. Fungsi ini merupakan
serangkaian hasil akhir yang ingin dicapai oleh keseluruhan tindakan
pengajian.
Dengan demikian antara fungsi pengajian dengan tujuan utama
dakwah mempunyai kesimpulan yang sama yaitu dengan melakukan
perubahan dalam diri mereka dengan menjauhi laranganNya dan
menjalankan perintahNya, maka kondisi dari mad'u akan lebih baik,
yaitu mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan tujuan
utama dakwah itu sendiri adalah mendapatkan hasil akhir yang ingin
dicapai oleh keseluruhan tindakan dakwah yaitu kebahagiaan dunia
dan akhirat (Shaleh, 1977: 21).

2.3. Konsep Pemecahan Masalah Dakwah


2.3.1. Pengertian Pemecahan Masalah Dakwah
a. Pemecahan adalah jalan keluar atau lepas, penanggulangan,
penyelesaian,resolusi, solusi.(Tesaurus B.I.-2007 : 458).
b. Masalah adalah kasus, kejadian, pasal perkara, soal, urusan.
(Tesaurus B.I.-2007 : 406).
Jadi pemecahan masalah adalah mencari perkara, soal atau
urusan untuk dicari jalan keluarnya atau menanggulangi suatu perkara.

38

Untuk mengatasi permasalahan dalam dakwah ada beberapa hal


yang harus dimiliki dalam unsur-unsur dakwah yaitu:
Dai
DaI adalah orang yang menyampaikan pesan.
a. Memahami al-quran, sunnah dan sejarah kehidupan rosul,
serta Khulafaurrasyidin.
b. Memahami keadaan masyarakat yang akan dihadapi.
c. Berani dalam mengungkapkan kebenaran kapan pun dan
dimanapun.
d. Ikhlas dalam melaksanakan tugas dakwah tanpa tergiur oleh
nikmat materi yang hanya sementara.
e. Satu kata dengan perbuatan.
f. Terjauh dari hal-hal yang menjatuhkan harga diri.
Adapun

strategi

yang

bijak

dalam

berdakwah

adalah

sebagaimana berikut:
1. Memperhatikan

waktu

kosong

maupun

waktu

sibuk

dan

mengetahui tingkat kebutuhan masyarakat, sehingga diharapkan


mereka tidak merasa bosan untuk mendengarkan dakwah, di
samping mereka akan merasa bahwa nasehat dan apa yang
diajarkan itu bermanfaat dan amat berharga bagi mereka.
2. Meninggalkan

hal-hal

yang

jika

ditinggalkan

tidak

akan

meninggalkan mudharat dan dosa demi menjaga timbulnya fitnah.

39

Dalam riwayat lain dikatakan, Sesungguhnya kaummu


tidak mampu untuk menanggung biayanya. Aku katakan:
mengapa pintu Kabah tersebut menjadi tinggi? Rasul S.A.W.
bersabda, Hal yang itu disengaja oleh kaummu, yang bertujuan
untuk memberi jalan masuk kepada siapa yang mereka kehendaki.
Jika sekiranya tidak jauh jaraknya dengan masa kejahiliyahannya,
yang hal itu menyebabkanku khawatir bahwa hati mereka menolak
bilamana aku masukkan dinding ke dalam Baitullah dan aku
dekatkan pintu Kabah ke bumi.
Hal ini menunjukan kepada seorang dai bahwa apabila ada
pertentangan antara kemaslahatan yang satu dengan kemaslahatan
lainnya tidak bisa dikompromikan, maka yang harus dilakukan
adalah mengambil hal yang lebih penting.
3. Seorang dai bagaikan seorang dokter yang ingin mengobati suatu
penyakit, kemudian ia memberikan pengobatan berdasarkan jenis
penyakit tersebut
4. Mengedepankan sikap maaf disaat harus melakukan balas dendam.
5. Seorang dai tidak menyebut orangnya secara langsung ketika ia
ingin memberikan pendidikan dan larangan kepadanya, jika
sekiranya menyebutkannya secara umum masih bisa.
6. Memberikan perantara-perantara sebagai gambaran yang bisa
menyampaikannya. Seperti dalam sabda Rasul S.A.W. Barang

40

siapa menunjukan kepada kebajikan, maka baginya pahala seperti


orang yang mengerjakannya.
7. Hendaklah

seorang

dai

memberikan

jawaban

terhadap

permasalahan tertentu dengan sebuah jawaban yang juga mencakup


permasalahan lainnya, sehingga apa yang ia jawab itu menjadi
kaedah yang umum bagi orang yang bertanya dan bagi yang
lainnya.
8. Banyak memberikan perumpamaan. (Al-Qathani, 2005 : 69-78).
Dengan demikian bahwa seorang dai harus memiliki sikap
seperti yang dijelaskan di atas seperti memiliki sifat bijak, amar
makruf nahi munkar dan suri taudan yang baik.
Madu
Madu yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah yang
menerima dakwah. Di samping dari semua golongan madu ada lagi
golongan madu yaitu:
a. Golongan simpati aktif, yaitu madu yang menaruh simpati dan
secara aktif memberi dukungan moril dan materiil terhadap
kesuksesan dakwah. Mereka juga mengatasi hal-hal yang
dianggapnya merintangi jalannya dakwah dan bahkan mereka
bersedia berkorban segalanya untuk kepentingan Allah SWT.
b. Golongan pasif, yaitu madu yang masa bodoh terhadap dakwah,
tidak merintangi dakwah.

41

c. Golongan antipati, yaitu madu yang tidak rela atau tidak suka
akan terlaksananya dakwah. Mereka berusaha dengan berbagai
cara untuk merintangi atau meninggalkan dakwah.
Maddah (materi dakwah)
Maddah atau materi dakwah adalah isi pesan atau materi atau
ajaran Islam itu sendiri, sebab ajaran Islam yang sangat luas itu bisa
dijadikan maddah dakwah Islam.
Aktivitas

dakwah

harus

terlebih

dahulu

mengetahui

problematika yang dihadapi penerima dakwah:


-

Aktivitas dakwah harus mengetahui adat dan tradisi penerima


dakwah.

Aktivitas dakwah harus mampu menyesuaikan materi dakwah


dengan masalah kontemporer yang dapat mempengaruhi pola
hidup masyarakat.

Aktivitas dakwah harus meninggalkan materi yang bersifat


emosional dan penamaan fanatisme golongan.

Aktivitas dakwah harus mengabaikan budaya golongan.

Aktivitas dakwah harus mampu menghayati ajaran Islam dengan


seluruh pesannya dengan cara yang amat dalam dan cerdas serta
menguasai masalah-masalah yang berkembang dalam masyarakat
agar antara ajaran agama normative dan ideal dan masalahmasalah empiris yang aktual dapat dikaitkan.

42

Aktivitas dakwah harus menyesuaikan tingkah lakunya dengan


materi dakwah yang disampaikannya, karena ia merupakan
penentuan bagi penerima dakwah.

Wasilah (media dakwah)


Dari segi pesan penyampaian dakwah dibagi tiga golongan
yaitu:
-

The Spoken Words (yang berbentuk ucapan)


Kategori ini ialah alat yang dapat mengeluarkan bunyi.
Karena hanya dapat ditangkap oleh telinga disebut juga dengan
the audial media yang biasa dipergunakan sehari-hari seperti
telepon, radio dan sejenisnya.

The Printed Writing (yang berbentuk tulisan)


Yang termasuk di dalamnya adalah barang-barang tercetak,
gambar-gambar tercetak, lukisan-lukisan, buku, surat kabar,
majalah, brosur, pamfhlet, dan sebagainya.

The Audio Visual (yang berbentuk gambar hidup)


Yaitu merupakan penggabungan di atas, yang termasuk ini
adalah televise, video, dan sebagainya.

Thariqah (Metode Dakwah)


Yaitu alat-alat yang dipakai untuk mengoperkan atau
menyampaikan ajaran Islam maka thariqah adalah metode yang
digunakan dalam dakwah. Seorang dai harus bisa menggunakan
metode dengan baik dan benar yang sesuai dengan perintah Allah

43

dan

Rasul-Nya.

Sebab

metodelah

yang

dapat

menentukan

keberhasiln dakwahnya. (Ali Aziz, 2004: 81-121)

2.3.2. Urgensi Pemecahan Masalah Dakwah


a. Dakwah adalah ucapan dan perbuatan yang terbaik. Firman-Nya
dalam surah Fushilat: 33,
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
menyeru keada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata,
Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
(Fushilat: 33).
b. Dakwah adalah tugas mulia yang dilakukan para Rasul dan Nabi
Allah. Firman-Nya dalam surah An-Nahl: 36,
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat
(untuk menyerukan), sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut
itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk
oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti
kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan
perhtikanlah bagaimana kemudian orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul). (an-Nahl: 36)
c. Dakwah yang dilakukan dengan baik dan berjamaah, akan
mengundang rahmat dan pertolongan Allah swt.. Firman-Nya
dalam (Surah al-Hajj: 40-41),
(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman
mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata:
"Tuhan Kami hanyalah Allah". dan Sekiranya Allah tiada menolak
(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain,
tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja,
rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di
dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti
menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya
Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, (yaitu) orangorang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi
niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat,
menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang

44

mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (al-Hajj:


40-41.)
d. Dakwah

yang

dilakukan

terus-menerus

akan

melahirkan

kebahagiaan dan akan menumbuhkan kemuliaan bagi umat Islam.


e. Jika umat Islam enggan berdakwah, maka kepemimpinan akan
dikuasasi oleh orang-orang yang buruk, dan doa umat Islam yang
baik akan tetapi pasif akan ditolak oleh Allah swt.. perhatikan
hadits Nabi riwayat Imam Bazzar,
Sesungguh kalian akan memerintahkan kepada kebaikan dan
mencegah kemungkaran atau (jika tidak), maka Allah akan
memberikan kekuasaan kepada orang-orang jahat di antara kalian
(untuk menguasai kalian). Maka (jika) orang-orang baik di antara
kalian berdoa, niscaya Allah tidak akan menjawab (doa) mereka.
(HR. al- Bazzar). (Hafidhuddin, 2003: 195-196)

2.3.3. Teknik Pemecahan Masalah Dakwah


Karena luasnya ajaran Islam maka setiap dai harus selalu
berusaha dan terus-menerus mempelajari dan menggali ajaran Islam
serta mencermati tentang situasi dan kondisi sosial madunya,
sehingga dalam cara mengajarnya dapat diterima oleh madunya
dengan baik. Adapun hal-hal yang harus dipegang dai sebagai
berikut :

45

a) Lakukanlah dakwah dengan hikmah, cara yang baik, nasihat


yang menyentuh hati dan argumentasi dari dalil-dalil yang sharih
atau jelas.
b) Lakukanlah dakwah dengan materi yang sesuai dengan
kemampuan masyarakat sasaran dakwah, sebagaimana sabda
Rasulullah saw. yaitu,
Aku diperintahkan (Rasulullah) untuk berdakwah kepada
manusia, sesuai dengan akal kemampuan mereka
c) Lakukanlah dakwah secara bertahap dan berkesinambungan,
sampai terjadi perubahan perilaku dari sasaran dakwah.
Perhatikan surat Ibrahim: 1,
(Supaya kamu) mengeluarkan manusia dari gelap gulita
kepada cahaya yang terang benderang (QS. Ibrahim: 1 ).
d) Dakwah hendaknya tidak sekedar dengan lisan, tetapi juga
dengan tulisan, bahkan dengan perbuatan yang merupakan
contoh dan suri teladan. Perhatikan firman Allah pada surah alAhzab: 21,



Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah, (QS. AlAhzab: 21). (Hafidhuddin, 2003, 198-199).

46

2.4. Konsep Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan


2.4.1. Pengertian Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
a. Arti Definisi / Pengertian Masyarakat.
-

Hasan shadly M. A.
Yaitu golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, yang
dengan sendirinya bertalian secara golongan dan mempengaruhi
satu sama lain.

Prof. M. M. Djojodigoena S.H


Masyarakat mempunyai arti ialah arti sempit dan arti luas.
Arti sempit masyarakat ialah yang terdiri dari satu golongan
saja, missal masyarakat India, Arab dan Cina.
Arti luas masyarakat ialah kebulatan dari semua perubungan
yang mungkin dalam masyarakat, jadi meliputi semua golongan.
Missal masyarakat Surabaya, terdiri dari masyarakat Hindia, Arab,
Cina dan Pelajar.

Prof. Dr. P.J Bouman


Masyarakat ialah pergaulan hidup yang akrab antara
manusia, disatukan dengan cara tertentu oleh hasrat-hasrat
kemasyarakatan mereka.

Dr. A. Lysen
Masyarakat adalah hubungan antara kekuatan-kekuatan dari
bentuk-bentuk

masyarakat

dan

individu.(Mansyur, Stock 2010 : 21-22).

dengan

kehidupan

47

b. Pengertian Masyarakat Pedesaan


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai
berikut :
Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluasluasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap
sama. (Depdiknas, 2005 : 721).
Pedesaan adalah daerah pemukiman penduduk yang sangat
dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim dan air sebagai syarat
penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di
tempat itu. (Depdiknas, 2005 : 256).
c. Masyarakat Perkotaan
Masyarakat kota sering disebut juga urban comunity.
Pengertian

masyarakat

lebih

ditekankan

pada

sifat-sifat

kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda.


Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota,
yaitu :

1. Pengaruh alam terhadap masyarakat kota kecil


2. Mata pencahariannya sangat beragam sesuai dengan keahlian
dan ketrampilannya.
3. Corak kehidupan sosialnya bersifat gessel schaft (patembayan),
lebih individual dan kompetitif.
4. Keadaan penduduk dari status sosialnya sangat heterogen

48

5. Stratifikasi dan diferensiasi sosial sangat mencolok. Dasar


stratifikasi adalah pendidikan, kekuasaan, kekayaan, prestasi,
dll.
6. Interaksi sosial kurang akrab dan kurang peduli terhadap
lingkungannya. Dasar hubungannya adalah kepentingan.
7. Keterikatan terhadap tradisi sangat kecil
8. Masyarakat kota umumnya berpendidikan lebih tinggi,
rasional, menghargai waktu, kerja keras, dan kebebasan
9. Jumlah warga kota lebih banyak, padat, dan heterogen
10. Pembagian dan spesialisasi kerja lebih banyak dan nyata
11. Kehidupan sosial ekonomi, politik dan budaya amat dinamis,
sehingga perkembangannya sangat cepat
12. Masyarkatnya

terbuka,

demokratis,

kritis,

dan

mudah

menerima unsur-unsur pembaharuan.


13. Pranata sosialnya bersifat formal sesuai dengan undang-undang
dan peraturan yang berlaku.
14. Memiliki sarana prasarana dan fasilitas kehidupan yang
sangat anyak.(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/06/ciriciri-dan-karateristik-masyarakat-kota-dan-masyarkat-desa/(09Juli-2012).

Dari beberapa pengertian tentang desa di atas, penulis bisa


menyimpulkan bahwa Desa adalah sebuah wilayah yang ditempati
sejumlah penduduk yang daerahnya masih jauh dari perkotaan, dan

49

kekerabatan di antara penduduknya sangat erat di mana


penduduknya memiliki sistem pemerintahan sendiri. dan bahwa
masyarakat kota tidak pengaruh dengan alam dalam mata
pencahariannya, snagat beragam dalam penghasilannya Interaksi
sosial kurang akrab dan kurang peduli terhadap lingkungannya,
berpendidikan lebih tinggi,tradisi sangat kecilwarga kota lebih
banyak, padat, dan heterogen.

2.4.2. Unsur-unsur Masyarakat Pedesaan


Unsur unsur masyarakat Desa :
Daerah
Tanah yang produktif, lokasi, luas dan batasyang merupakan
lingkungan geografis.
Penduduk
Jumlah penduduk, pertambahan penduduk, pertambahan penduduk,
persebaran penduduk dan mata pencaharian penduduk.
Tata Kehidupan
Pola tata pergaulan dan ikatan ikatan pergaulan warga desa
termasuk seluk beluk kehidupan masyarakat desa.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/12/tugas-ilmu-sosialmasyarakat-perkotaan-masyarakat-pedesaan/ (09-Juli-2012).

50

2.4.3. Kharakteristik Masyarakat Pedesaan


Masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup
bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian
mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat
digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun
demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan
era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut
sudah tidak berlaku. Berikut ini disampaikan sejumlah karakteristik
masyarakat desa, yang terkait dengan etika dan budaya mereka, yang
bersifat umum yang selama ini masih sering ditemui. Setidaknya, ini
menjadi salah satu wacana bagi kita yang akan bersama-sama hidup di
lingkungan pedesaan.
1. Sederhana
Sebagian

besar

masyarakat

desa

hidup

dalam

kesederhanaan. Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal:


a. Secara ekonomi memang tidak mampu.
b. Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri.
2. Mudah curiga
Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada:
a. Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya.
b. Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap
asing

51

3. Menjunjung tinggi unggah-ungguh


Sebagai orang Timur, orang desa sangat menjunjung
tinggi kesopanan atau unggah-ungguh apabila:
a. Bertemu dengan tetangga.
b. Berhadapan dengan pejabat.
c. Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan.
d. Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi.
e. Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya.
4. Guyub, Kekeluargaan
Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa
bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah mendarahdaging dalam hati sanubari mereka.
5. Lugas
Berbicara apa adanya, itulah ciri khas lain yang dimiliki
masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya
menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka
tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang
mereka miliki.
6. Tertutup dalam hal keuangan
Biasanya masyarakat desa akan menutup diri manakala ada
orang yang bertanya tentang sisi kemampuan ekonomi keluarga.
Apalagi jika orang tersebut belum begitu dikenalnya. Katakanlah,
mahasiswa yang sedang melakukan tugas penelitian survei pasti

52

akan sulit mendapatkan informasi tentang jumlah pendapatan dan


pengeluaran mereka.
7. Perasaan minder terhadap orang kota
Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa,
baik

secara

langsung

ataupun

tidak

langsung

ketika

bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya


yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak
banyak omong.
8. Menghargai (ngajeni) orang lain
Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan
orang lain yang pernah diterimanya sebagai patokan untuk
membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam
wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau
dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan ngajeni.
9. Jika diberi janji, akan selalu diingat
Bagi masyarakat desa, janji yang pernah diucapkan
seseorang/komunitas tertentu akan sangat diingat oleh mereka
terlebih berkaitan dengan kebutuhan mereka. Hal ini didasari oleh
pengalaman/trauma yang selama ini sering mereka alami,
khususnya

terhadap

janji-janji

terkait

dengan

program

pembangunan di daerahnya.
Sebaliknya bila janji itu tidak ditepati, bagi mereka akan
menjadi luka dalam yang begitu membekas di hati dan sulit

53

menghapuskannya.

Contoh

kecil:

mahasiswa

menjanjikan

pertemuan di Balai Desa jam 19.00. Dengan tepat waktu, mereka


telah standby namun mahasiswa baru datang jam 20.00. Mereka
akan sangat kecewa dan selalu mengingat pengalaman itu.
10. Suka gotong-royong
Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir
seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam
masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah sambatan.
Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka
akan nyengkuyung atau bahu-membahu meringankan beban
tetangganya yang sedang punya gawe atau hajatan. Mereka tidak
memperhitungkan kerugian materiil yang dikeluarkan untuk
membantu orang lain. Prinsip mereka: rugi sathak, bathi sanak.
Yang kurang lebih artinya: lebih baik kehilangan materi tetapi
mendapat keuntungan bertambah saudara.
11. Demokratis
Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa,
pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan
selalu dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat.
Dalam hal ini peran BPD (Badan Perwakilan Desa) sangat penting
dalam mengakomodasi pendapat/input dari warga.

54

12. Religius
Masyarakat pedesaan dikenal sangat religius. Artinya, dalam
keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya. Secara
kolektif, mereka juga mengaktualisasi diri ke dalam kegiatan
budaya yang bernuansa keagamaan. Misalnya: tahlilan, rajaban,
Jumat Kliwonan, dan lain-lain.
(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/karakteristikmasyarakat-desa/(07 April 2012)

2.4.4. Perbedaan Masyarakat Pedesaan dengan Masyarakat Kota


Dengan melihat perbedaan- perbedaan yang ada maka dapat kita
simpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
Masyarakat Desa
Masyarakat desa memiliki hubungan yang lebih erat dan
lebih mendalam dibanding masyarakat kota. Biasanya mereka
hidup berkelompok dan mayoritas bermata pencaharian petani.
Pekerjaan di luar pertanian hanya sekedar sampingan, meskipun
ada pula sebagian kecil yang berstatus pegawai negeri, TNI,
POLRI, maupun karyawan swasta, namun persentasenya relatif
kecil.
Kepala desa, tokoh masyarakat dan golongan kaum tua
lebih dominant berpengaruh dan memegang peranan penting sera
menjadi tokoh panutan bagi warga setempat, keputusannya sangat

55

mengikat bahkan telah dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari


hari dan menjadi adat setempat.
Rasa persatuan sangat kuat yang menimbulkan saling kenal
mengenal dan saling tolong menolong atau gotong royong dalam
segala hal. Alat komunikasi sangat kurang sehingga komunikasi
yang berkembang cenderung sangat sederhana bahkan desas
desus, kasak kusuk masih menjadi kebiasaan dan sangat cepat
diterima oleh masyarakat, meskipun hal itu biasanya dilakukan
pada hal-hal yang mengarah negatif.
Masyarakat Kota
Kehidupan

masyarakat

kota,

cenderung

mengarah

individual dan kurang mengenal antara warga yang satu dengan


lainnya meskipun tempat tinggalnya berdekatan. Rasa persatuan
tolong menolong dan gotong royong mulai pudar dan kepedulian
social cenderung berkurang.
Perbedaan masyarakat kota dengan masyarakat desa
adalah sebagai berikut :
Masyarakat kota memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Terdapat spesialisasi dari variasi pekerjaan.
b. Penduduknya padat dan bersifat heterogen.
c. Norma-norma yang berlaku tidak terlalu mengikat.

56

d. Kurangnya kontrol sosial dari masyarakat karena sifat


gotong royong mulai menrun.
Masyarakat desa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Jumlah penduduk tidak terlalu padat dan bersifat homogen.
b. Kontrol sosial masih tinggi.
c. Sifat gotong royong masih kuat dan
d. Sifat kekeluargaannya masih ada.

Perbedaan masyarakat kota dengan masyarakat di desa,


misalnya ketika membuat rumah di desa dilakukan dengan
gotong royong sedang di kota pada umumnya dilakukan
dengan membayar tukang. Hubungan sosial kemasyarakatan di
desa dalam satu desa antara satu RT atau RW terjadi saling
mengenal, sedangkan di kota sudah mulai hilang hubungan
sosial kemasyarakatannya misalnya antara satu RT dengan RT
yang lainnya pada umumnya tidak saling mengenal.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/12/tugas-ilmu-sosialmasyarakat-perkotaan-masyarakat-pedesaan/ (09-Juli-2012).
Perbedaan masyarakat pedesaan dan perkotaan :
Tabel I
Desa
- Mempunyai

pergaulan

Kota
hidup - Dalam

saling mengenal antara ribuan

masyarakatnya

kehidupan
jarang

57

Jiwa.

bergantung kepada orang lain,


keluarga

sukar

dipersatukan

sebab perbedaan kepentingan.


- Kesukaan / ke biasaan yang - Kebiasaan
sama dalam kehidupan.

misalnya

dalam
seorang

berteman

dengan

pergaulan
pegawai
rekan-

rekannya.
- Perekonomian
berpengaruh

sangat - Dalam
dengan

alam

seperti : iklim, keadaan, alam.

kehidupan

perekonomian lebih ke arah


keduniawain,

dibandingkan

dengan akherat.

Dari tabel I di atas menyimpulkan bahwa perbedaan


masyarakat Desa dengan Kota sangat berbeda baik dari pergaulan,
perekonomian maupun dalam soal politiknya.

58

BAB III
GAMBARAN UMUM DESA, PELAKSANAAN, PROBLEMATIKA
PENGAJIAN TAFSIR AL-QURAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA
DI DESA JATIMULYA KEC. SURADADI KAB. TEGAL

3.1. Profil Desa Jatimulya Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal


3.1.1 Letak Geografis
Desa Jatimulya berada di wilayah kecamatan Suradadi
kabupaten Tegal Propinsi Jawa Tengah.
Letak desa Jatimulya termasuk pada dataran rendah yang
ketinggiannya dari permukaan laut kurang lebih 4 meter, dengan curah
hujan 3000 mm/tahun dan suhunya rata-rata 20 sampai 30 derajat
celcius yang menyelubungi atmosfir di desa Jatimulya.
Jarak desa dengan pusat pemerintahan dapat di lihat pada tabel 1
sebagai berikut:
TABEL II
No.

Pusat Pemerintahan

Jarak

1.

Kota Kecamatan

5 km

2.

Kota Kabupaten

36 km

3.

Kota Propinsi

160 km

4.

Ibu Kota

500 km

Sumber : Monografi Desa Jatimulya tahun 2011


Dari tabel II dapat dijelaskan bahwa jarak desa dengan pusat
pemerintahan agak lumayan jauh, tapi jarak tersebut dapat ditempuh

59

dengan cepat karena jalan yang menuju pusat telah diaspal dengan baik
bahkan dengan aspal hotmik jalan raya, sehingga masalah jarak tersebut
dapat ditempuh dengan cepat.
Adapun luas desa Jatimulya seluruhnya adalah 470.331 hektar
yang terdiri dari tanah persawahan, tanah perkebunan, tanah
pekarangan, tanah pemukiman.
Sedang daerah desa Jatimulya dibatasi oleh :
-

Sebelah Utara berbatasan dengan desa Suradadi.

Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Harjasari.

Sebelah Timur berbatasan dengan desa Kertasari.

Sebelah Barat berbatasan dengan desa Jatibogor.

3.1.2 Keadaan Demografis


Gambaran umum tentang penduduk desa Jatimulya kecamatan
Suradadi kabupaten Tegal menurut data yang diperoleh adalah
berjumlah total 9.868 orang, dengan jumlah laki-laki 4.999 orang dan
jumlah perempuan 4.869 orang sedangkan dihitung menurut jumlah
banyaknya Kepala Keluarga (KK) yaitu 2.700.
Untuk mengetahui jumlah pendidikan penduduk desa Jatimulya
secara terperinci dapat di lihat pada tabel 2 berikut ini :

60

TABEL III
No. Kelompok

Jenis Kelamin Laki-laki Jumlah

umur

dan Perempuan

Orang

1.

0 12 bulan

87

2.

1 10 tahun

1.162

1.162 orang

3.

11 20 tahun

1.945

1.945 orang

4.

21 30 tahun

1.917

1.917 orang

5.

31 40 tahun

1.847

1.847 orang

6.

41 50 tahun

1.636

1.636 orang

7.

51 58 tahun

1.150

1.150 orang

8.

Lebih

dari

59

124

87 orang

124 orang

tahun
Jumlah

9.868

9.868 orang

Dari tabel III di atas menjelaskan tentang jumlah penduduk dari


mulai umur bayi sampai orang tua yang paling banyak yaitu umur 1120 tahun kalau dilihat dari keterangan buku monografi desa Jatimulya
tahun 2011.

3.1.3 Pendidikan
Jumlah penduduk menurut pendidikan masyarakat atau tingkat
pendidikan penduduk sebagai berikut tabel IV :

61

TABEL IV
No.

Tingkat Pendidikan

Jumlah
Orang

1.

Jumlah penduduk buta huruf

64

2.

Jumlah penduduk tidak tamat SD / Sederajat

2.460

3.

Jumlah penduduk tamat SD / Sederajat

2.870

4.

Jumlah penduduk tamat SLTP / Sederajat

687

5.

Jumlah penduduk tamat SLTA / Sederajat

412

6.

Jumlah penduduk tamat D-1

20

7.

Jumlah penduduk tamat D-2

8.

Jumlah penduduk tamat D-3

9.

Jumlah penduduk tamat S-1

42

10.

Jumlah penduduk tamat S-2

11.

Jumlah penduduk tamat S-3

Sumber : Monografi Desa Jatimulya tahun 2011


Dari tabel IV di atas dapat dijelaskan bahwa penduduk desa
Jatimulya secara keseluruhan jumlah lulusan SD lebih banyak
dibandingkan dengan lulusan SLTA sampai tingkat Perguruan Tinggi.
Itulah keadaan jumlah penduduk kalau dilihat dari tingkat pendidikan di
desa Jatimulya kecamatan Suradadi kabupaten Tegal.

3.1.4 Keadaan Ekonomi


Mengenai gambaran keadaan ekonomi penduduk desa Jatimulya
akan dibatasi atau sebagai patokannya adalah dari mata pencaharian

62

penduduk yang dijadikan sebagai sumber pendapatan mereka dalam


mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
Adapun mata pencaharian penduduk desa Jatimulya adalah ratarata sebagai petani baik itu petani pemilik tanah sendiri ataupun petani
yang hanya sebagai pekerja atau buruh tani. Dan untuk lebih jelasnya
mengenai jumlah penduduk menurut mata pencahariannya dapat di lihat
pada tabel 4 sebagai berikut :
TABEL V
No.

Mata Pencaharian

Jumlah

1.

Petani

1560 orang

2.

Buruh Tani

2610 orang

3.

Buruh / Swasta

1410 orang

4.

Pegawai Negeri

32 orang

5.

Pengrajin

18 orang

6.

Pedagang

360 orang

7.

Peternak

90 orang

8.

Nelayan

30 orang

9.

Montir

6 orang

10.

Bidan

1 orang

11.

Perawat / kesehatan

1 orang

12.

Dukun bayi

5 orang

13.

Penjahit

12 orang

Sumber : Monografi Desa Jatimulya 2011

63

Data dari tabel 5 tersebut melihatkan bahwa proporsi terbanyak


dari penduduk desa Jatimulya menurut mata pencahariannya yaitu 1560
orang adalah sebagai petani kemudian disusul sebanyak 2610 sebagai
buruh tani dan disusul lagi sebanyak 1410 sebagai buruh / swasta. Jadi
dapat dijelaskan bahwa penduduk desa Jatimulya sebagian besar mata
pencahariannya adalah sebagai petani baik sebagai petani sendiri, buruh
tani maupun sebagai buruh / swasta. Dari adanya mayoritas penduduk
desa Jatimulya yang mata pencahariannya sebagai petani, baik sebagai
petani pemilik sawah sendiri, buruh tani maupun buruh / swasta akan
mempengaruhi suasana kehidupan masyarakat di desa Jatimulya. Di
mana suasana kehidupan desa masih sangat kental dengan suasana
gotong-royong dan kehidupan yang penuh dengan kekeluargaan.
Adanya bermacam-macam mata pencaharian penduduk yang
ada di desa Jatimulya menunjukan bahwa penduduk desa Jatumulya
dalam memenuhi kebutuhan ekonominya sudah mulai terpengaruh
dengan adanya dunia yang semakin modern dan adanya dunia industri
di mana pengaruh tersebut nampak dengan banyaknya penduduk desa
Jatimulya yang mulai terjun dalam usaha perdagangan. Mereka
mengadakan urbanisasi ke kota-kota besar seperti ke Jakarta untuk
bekerja baik sebagai karyawan pabrik maupun berdagang baik sebagai
pedagang nasi (WARTEG) dan buah-buahan (rujak).

64

Dari adanya fenomena para penduduk desa Jatimulya yang


berurbanisasi untuk mencari penghasilan dan mereka menetap untuk
jangka waktu tertentu kemudian pulang ke kampung (mudik).
Banyaknya penduduk yang merantau disebabkan karena ada
salah seorang penduduk desa Jatimulya yang berhasil, sehingga
mempengaruhi penduduk yang lain untuk ikut berhasil dalam
memperoleh penghasilan. Dari adanya penduduk yang merantau
tersebut yang semakin bertambah banyak, maka mereka mengadakan
perkumpulan yang disebut : Paguyuban para penduduk pedagang bubur
dan buah (PANDU PRABU), dan Arisan Mingguan yang dipimpin
Bpk. Tomo dan diselingi degan tahlilan yang dilakukan seminggu
sekali, tempatnya berpindah-pindah ke tempat orang yang mendapatkan
giliran arisan tersebut selain bisa bersilaturrahmi juga bisa membantu
yang sedang membutuhkan buwat modal usaha atau kebutuhan yang
lain. Selain itu

pemuda desa Jatimulya juga melakukukan arisan

tahunan untuk mengadakan dakwah Islam di kampungnya yaitu Halal


Bihalal Remaja Perantau untuk membangun masyakat desa Jatimulya
yang Islami.

3.1.5 Keadaan Keagamaan


Adapun gambaran mengenai keadaan keagamaan di desa
Jatimulya akan dapat diketahui dengan adanya pemeluk agama
penduduk desa Jatimulya. Untuk mengetahui jumlah pemeluk agama

65

penduduk desa Jatimulya secara jelas dapat di lihat dalam tabel 5


sebagai berikut :
TABEL VI
Jumlah Agama Penduduk di Desa Jatimulya
No.

Jenis Agama

Jumlah

1.

Islam

9.868

2.

Kristen

3.

Katolik

4.

Hindu

5.

Budha

6.

Aliran kepercayaan

Jumlah

9.868

Dari tabel VI di atas menjelaskan tentang ke agamaan yang ada


di desa Jatimulya bahwa tidak ada satupun yang memeluk agama selain
agama Islam, di desa Jatimulya seluruhnya beragama Islam.

3.2. Tinjauan Umum Pelaksanaan Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa


Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal
3.2.1

Sejarah Berdirinya Pengajian Tafsir Al-Quran


Pengajian ini dilaksanakan setiap malam selasa, berdiri mulai
bulan Maret tahun 2011. Pada awalnya pengajian ini mengajak
beberapa jamaah untuk membaca Al-Quran yang disimak oleh
Samsul Maarif, S. Pd.,I, yang biasa disebut dengan ngaji model

66

Pesantrenan yang dilakukan di rumah yang menyimak. Kemudian


pengajian itu lama-lama jamaahnya semakin banyak. Yang mengikuti
terutama warga kampung atau masyarakat sekitar sehingga mereka
tertarik untuk ikut mendengarkan serta mengikuti pengajian Tafsir AlQuran tersebut.
Bapak Samsul Maarif, S. Pd.,I mempunyai pemikiran harus
ada waktu khusus untuk masyarakat dalam pengajian tafsir Al-Quran,
dalam membagi kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain, karena
tidak ingin pinter sendiri dalam masalah Al-Quran, cara menjelaskan
materi juga berbeda karena yang diajari rata-rata bapak-bapak dan
ibu-ibu rumah tangga, di samping itu mereka juga jarang yang lulusan
pesantren. Kemudian cara belajar Al-Qurannya pun berbeda, biasanya
satu persatu suruh membaca supaya bisa tau keslahannya untuk
dibenarkan. Jamaah biasanya disuruh belajar sendiri di rumah setelah
pengajian selesai, nanti pada waktu mengaji lagi mempertanyakan
yang belum paham.
Pengajian Tafsir Al-Quran pada mulanya hanya diikuti sekitar
5

sampai 10 orang. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu

banyak masyarakat yang tertarik untuk mengikuti pengajian tersebut,


jamaah pengajian semakin bertambah banyak kurang lebih sekarang
mencapai 100 orang.
Pengajian malam selasanan ini dilaksanakan setelah pembacaan
asmaul husna dan doa belajar, setelah itu baru dimulai pengajian

67

dengan kitab Al-Ibriz sebagai bahan kajiannya. Kitab Al-Ibriz ini berisi
tentang isi kandungan Al-Quran, Pemilihan Kitab Al-Ibriz sebagai
kitab panduan dalam pengajian bertujuan untuk mengenalkan isi
kandungan Al-Quran kepada jamaah yang mengikuti pengajian.
Pelaksanaan pengajian ini dihadiri atau diikuti oleh kalangan
bapak-bapak dan ibu-ibu rumah tangga dan ada juga para remaja.
Mereka berasal dari daerah desa Jatimulya, mereka hadir biasanya jam
19:30.
Menurut Bapak Samsul Maarif, S. Pd.,I, selaku ketua
pengajian malam selasanan mengatakan bahwa pengajian ini adalah
suatu kegiatan yang sangat baik sekali, untuk menambah ilmu tentang
ke Islaman dan mengisi waktu, dari pada hanya duduk di rumah lebih
baik mengaji untuk menambah ilmu keagamaan, apalagi pengajiannya
menerangkan tentang isi kandungan Al-Quran, yang menjadi
pedoman umat Islam, apabila kita tahu tentang isi Al-Quran tentunya
kita lebih cinta dan selalu membacanya dengan harapan bisa
memberikan ketengan hati dan menambah keyakinan kepada Allah
SWT.
Pengajian malam selasanan ini diawali dengan pembacaan
asmaul husna sebelum pengajian dimulai yang dibacakan oleh para
jamah. Kemudian dilanjutkan doa belajar yang langsung dipimpin
oleh Ustadzah Tsani Rahmawati atau yang lain karena sistim

68

mengajarnya bergiliran. Berikut adalah urutan acara pengajian setiap


malam Selasanan, yaitu :

3.2.2

Asmaul husna

Doa awal belajar

Pengajian kitab Al-Ibriz

Diskusi atau tanya jawab

Tujuan Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya


Salah satu kegiatan dakwah yang ada di desa Jatimulya adalah
pengajian Tafsir Al-Quran. Pengajian ini dinamakan kegiatan dakwah
karena dalam pengajian tersebut bertujuan untuk mengajak orang lain
agar mengerti dan memahami yang akhirnya mau mengamalkan ajaran
agama Islam terutama pengajian Tafsir Al-Quran yang telah
disampaikan dalam pengajian tersebut.
Adapun tujuan didirikannya pengajian Tafsir Al-Quran adalah
sebagai berikut :
1. Untuk mengenalkan kepada masyarakat luas tentang makna isi
kandungan Al-Quran yang merupakan kitab pegangan umat Islam.
2. Untuk membina masyarakat luas agar selalu menjadi insan yang
baik dalam kehidupan yang Islami dan berakhlaqul karimah.
3. Untuk mempererat tali persaudaraan, dan menjalin kokohnya
kesatuan dan persatuan umat.
Pengajian merupakan salah satu pokok dalam syiar dan
pengembangan agama Islam. Pengajian ini sering juga dinamakan

69

dakwah

Islamiyyah.

Dakwah

Islamiyyah

diusahakan

untuk

terwujudnya agama semua segi kehidupan.


3.2.3

Struktur Kepengurusan Pengajian Tafsir Al- Quran


Untuk menjalankan suatu organisasi dibutuhkan struktur
kepengurusan. Begitu halnya dengan kegiatan pengajian Tafsir AlQuran

juga

membutuhkan

stuktur

kepungurusan

dalam

menjalankannya. Adapun struktur kepengurusan kegiatan pengajian


Tafsir Al-Quran adalah sebagai berikut :
Susunan Kepengurusan Pengajian Tafsir Al-Quran
Pengasuh

: Kyai Syaripin

Ketua

: Bapak Samsul Maarif, S. Pd.,I

Sekretaris

: Ibu Siti Muzayana

Bendahara

: Ibu Tsani Rahmawati, S. Pd.,I

Anggota

: Bapak Dukih
Ibu Amanah

Adapun pembagian tugas pengurus pelaksanaan pengajian


malam Selasanan adalah sebagai berikut :
1. Ketua
- Memimpin dan mengadakan rapat.
- Membagi tugas pelaksanaan pengajian kepada anggota.
- Memantau tugas para anggota.
- Mempertanggungjawabkan pelaksanaan program kerja kepada
pengasuh.

70

2. Sekretaris
- Mewakili ketua sepanjang mandat yang diterima.
- Mempersiapkan bahan rapat.
- Memimpin tugas kesekretariatan.
- Mengatur pembukuan bersama bendahara mengenai keuangan.
- Bertanggung jawab kepada ketua.
3. Bendahara
- Mengatur pemasukan dan pengeluaran.
- Membuat dan mempertanggungjawabkan pembukuan keuangan.
- Bertanggung jawab kepada pengasuh maupun ketua.
4. Anggota
- Melaksanakan tugas dengan sepengetahuan pengasuh atau ketua.
- Mempersiapkan fasilitas dan alat-alat yang diperlukan dalam
Spelaksanaan pengajian (Wawancara dengan Bapak Samsul
Maarif, S. Pd.I, 19 april 2012).

3.2.4

Pelaksanaan Pengajian Tafsir Al-Quran


Pengajian Tafsir Al-Quran menggunakan kitab Al-Ibriz
sebagai bahan untuk mengaji dengan tujuan mengenalkan isi
kandungan Al-Quran. Proses pelaksanaan pengajian Tafsir Al-Quran
dimulai dari jam 20:00-21:30, proses pengajiannya seperti pengajian
kitab biasa yaitu dengan membaca dan menerangkan dan diskusi mulai
dari bacaan surat yang sedang dikaji. Ayat demi ayat dibaca dan
diterangkan tetapi sebatas kelas pemikiran audien (samiin). Setiap

71

malam Selasa kadang-kadang dapat 5 sampai 10 ayat secara terus


menerus. Pengajian ini belum pernah khatam satu Al-Quran karena
kurang lebih berjalan baru 1 tahun dari bulan Maret 2011sampai
sekarang. Sebelum pengajian dimulai jamaah terlebih dahulu diajak
untuk membaca asmaul husna dan doa.
Madu atau obyek pengajian malam Selasanan adalah
masyarakat desa Jatimulya. Obyek pengajian pada jamaah pengajian
malam Selasanan terdapat bermacam-macam golongan, baik dari
golongan mampu maupun kurag mampu, golongan awam maupun
golongan yang berpendidikan, serta tidak memandang status sosial,
umur, pekerjaan, asal daerah, jamaah ini untuk umum baik kalangan
pria maupun wanita. Jamaah pengajian Tafsir Al-Quran terdiri dari
daerah desa Jatimulya. Jumlah dari jamaah yang mengikuti pengajian
tersebut hingga sekarang sudah mencapai kurang lebih 100 orang. Dari
kurang lebih 100 orang tersebut memiliki sifat, karakteristik dan
kemampuan yang berbeda-beda, sehingga dalam penyampaian materi
pada pengajian ini di arahkan pada madu atau jamaah pengajian yang
disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan jamaah tersebut.

3.2.5

Materi Dalam Pengajian Tafsir Al- Quran


Materi dalam pengajian Tafsir Al-Quran mencakup hal-hal
yang sangat luas. Dalam prakteknya materi yang disampaikan dalam
pengajian adalah seputar aqidah, syariah dan akhlak. Dari semua

72

materi yang diberikan merupakan ajakan agar setiap manusia


menerima, memahami dan menjalankan ajaran tersebut.
Dalam menyampaikan materi dakwah pasti ada sumber yang
digunakan, pengajian Tafsir Al-Quran menggunkan kitab Al-Ibriz
sebagai bahan untuk dikaji serta merupakan materi yang mampu
diserap oleh madu dengan berbagai perbedaan, contohnya seperti
aqidah atau keimanan seseorang, sosial kemasyarakatan, pentingnya
menjalankan sholat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya. Dai yang
telah dipilih ini diharapkan mampu memberikan pemahaman dan
penjelasan tentang materi yang diberikan, serta harus disesuaikan
dengan kemampuan madu dalam menerima materi.
Dari beberapa jamaah yang penulis wawancarai, mereka
mengatakan kurang puas dengan penjelasan materi yang disampaikan
dai dalam pengajian Tafsir Al-Quran karena bahasa yang berbeda, di
samping itu tempatnya kurang luas sehingga jamaah sampai di luar
ruangan. Dalam pengajian tidak menggunakan alat pengeras karena
faktor biaya untuk membeli misalnya seperti alat pengeras, sound dan
lain sebagainya. Dari salah satu jamaah yaitu Ibu Tarini, mengatakan
bahwa Samsul Maarif dalam menyampaikan materi pengajian
sebenarnya sudah terlalu detail dan dalam penyampaiannya santai
sehingga mempermudah jamaah untuk memahami materi dalam
pengajian, beliau tahu siapa jamaah pengajiannya sehingga dalam
penyampaian materi disesuaikan dengan tingkat pemahaman jamaah,

73

sehingga jamaah paham tentang materi yang disampaikan baik


masalah aqidah, syariah, muamalah dan akhlaq karena materi tersebut
terangkum dalam Al-Quran, dari hal itulah yang membuat banyak
masyarakat tertarik dengan dakwah yang disampaikan dalam pengajian
tafsir Al-Quran tersebut.
Penyampaian materi dalam berdakwah perlu disesuaikan
dengan kadar kemampuan jamaah, dan pengajian Tafsir Al-Quran
juga harus menerapakan hal tersebut, dengan cara demikian maka
materi yang diberikan kepada jamaah akan lebih diterima dan
dipahami.

3.3. Problematika Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya Kec.


Suradadi Kabupaten Tegal
a. Problematika Subyek Pengajian Tafsir Al-Quran
Subyek dakwah adalah para penceramah yang menyampaikan
materi dakwah atau pengajian kepada obyek yang menjadi sasarannya.
Agar kegiatan pengajian dapat berhasil, efisien dan efektif, maka dai
harus memiliki syarat-syarat sebagai seorang dai, harus sesuai dengan
kondisi jamaah dalam dakwahnnya.
Dalam kegiatan di sini pengajian masih bersifat lisan atau ceramah.
Para ustadz atau ustadzah dalam pengajian tafsir Al-Quran yang
dilakukan setiap malam Selasa adalah berasal dari para alim ulama atau
tokoh ulama dari desa setempat dan ada juga yang dari luar kota yang
memiliki perbedaan bahasa yaitu bahasa Rembang, ini yang merupakan

74

kendala dalam proses pengajian tafsir Al-Quran. Hal ini terlihat ketika
ada seorang ustadz yang mengisi belum bisa menyesuaikan bahasa
setempat, karena kalau orang kampung diceramahi dengan bahasa
Indonesia belum tentu faham

dalam penyampaiannya. Jadi, dai atau

subyek yang menjadikan problem dalam kegiatan pengajian tersebut


adalah karena adanya salah seorang ustadz yang berbeda bahasanya dan
belum bisa menyesuaikan dengan bahasa setempat. Sehingga menjadi
penghambat dalam proses pengajian tafsir Al-Quran tersebut.
b. Problematika Obyek Pengajian Tafsir Al-Quran
Problematika Obyek dakwah di sini adalah madu atau sasaran
dakwah yaitu masyarakat para bapak-bapak, ibu-ibu dan para remaja Islam
yang ada di desa Jatimuya. Kegiatan pengajian tafsir Al-Quran yang
dilaksanakan setiap malam Selasa, para madu dalam menghadiri
pengajian sangat antusias tapi karena faktor ekonomi yang membuat
kendala, misalkan kalau lagi musim panen jamaahnya akan berkurang
karena banyak yang bekerja baik mereka sebagai buruh tani maupun yang
punya persawahan. Faktor pulang malam pun menjadi kendala karena
seharian bekerja untuk menacari nafkah, biasanya pulang bekerja sampai
magrib dan rata-rata banyak yang tidak hadir karena kecapaian. Faktor
usia orang tua, remaja dan pendidikan pun menjadi kendala karena ratarata lulusan Sekolah Dasar bahkan ada yang tidak lulus sekolah. Mengenai
problematika dakwah Islam yang terjadi dalam kehidupan masyarakat desa

75

Jatimulya yaitu meliputi berbagai faktor dari kehidupan manusia, baik


dalam pendidikan, keagamaan, sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan.
Mereka dalam mengikuti tafsir Al-Ibriz kurang memahami dalam
mempersepsi apa yang telah diterima dalam pengajian tersebut, sehingga
apa yang telah diterima belum dapat diamalkan dengan baik, masih pada
dataran pengetahuan semata dan belum termanifestasi dalam kehidupan
sehari-hari. (Bapak Hukih, 20 mei 2012).
c. Problematika Materi Pengajian Tafsir Al-Quran
Materi yang diberikan dalam pengajian tafsir Al-Quan adalah dari
kitab tafsir Al-Ibriz. Tafsir Al-Ibriz adalah sebuah kitab Al-Quran yang
memakai bahasa Jawa. Dalam pengajian ini materi dakwah sudah cukup
bagus untuk kalangan mereka. Sedangkan materi pengajian tafsir

Al-

Quran adalah meliputi semua aspek-aspek ajaran Islam yang terdiri dari
masalah aqidah, ibadah dan akhlak.
Dalam kitabnya menggunakan bahasa Jawa, belum ada harakatnya
ini adalah sebuah kendala pada jamaah karena mereka jarang yang
berpengalaman dalam pendidikan model pondok pesantren.
Materi atau pesan dakwah yang disampaikan dalam pengajian
tersebut sudah cukup mengena untuk kalangan mereka tapi karena faktor
usia terutama yang berusia 40 tahun ke atas sering lupa dengan pesanpesan yang telah disampaikan, pendidikannya banyak yang masih rendah,
rata-rata tamatan SD. Bapak-bapak dan ibu-ibu atau usia lanjut dalam
penyampaiannya

mau

tidak

mau

harus

beruang-ulang

untuk

76

mengingatkannya seperti bimbingan membaca Al-Quran dan diskusi


pengajian. Tapi materi yang ada sudah disusun secara praktis dan
terprogram dengan baik karena menggunakan tafsir Al-Ibriz yang tinggal
mengharakati dan membaca karena jarang yang pernah menimba ilmu di
pondok pesantren lah yang menjadi terhambat dalam mengharakati dan
pemahamannya.
Pengajian Tafsir Al-Quran yang diajarkan oleh dai seharusnya
tidak hanya tentang akhirat saja yang dibahas, karena hidup di dunia juga
harus mempunyai bekal, keseimbangan antara dunia dan akhirat, ada yang
mengatakan kemiskinan dekat dengan kekufuran. Sedangkan dari madu
sendiri menghendaki dakwah yang langsung menyentuh akan nilai-nilai
dakwah dalam hal keduniawian, seperti membuka lapangan kerja,
membantu yang lemah misalnya penarikan iuran seiklasnya untuk
membantu apabila ada orang meninggal untuk disumbangkanya, membuat
keorganisasian berbasis keIslaman dan sebagainya. Kegiatan di sini juga
belum

menerapkan

adanya

latihan

usaha

kecil-kecilan

misalnya

menerapkan ketrampilan, kerajinan tangan dan hasilnya bisa diperjual


belikan untuk mengurangi kemiskinan yang seharusnya diterapkan oleh
sang dai untuk masyarakat sekitar desa Jatimulya.
Dalam penjabaran atau penyampaian materi terkadang tidak
dibarengi dengan hadits-hadis atau sunah yang lebih banyak secara luas
supaya lebih faham dengan inti yang sedang dikaji. Akhirnya tujuan
pengajian kurang efektif dan efisien. (Bapa Dukih, 19 Mei 2012).

77

d. Problematika Metode Pengajian Tafsir Al-Quran


Metode yang digunakan dalam pengajian tafsir Al-Ibriz ialah
menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Metode ceramah yang
digunakan dalam Pengajian Tafsir Al-Ibriz tersebut belum efektif karena
sekedar ceramah dan cerita yang diambil dari kitab tersebut.
Agar materi pengajian tersebut yang akan disampaikan efektif dan
efisien ini perlu pemikiran dari para ahli dakwah untuk mencarikan
solusiya. Dai sekaligus menjadi pendidik ke arah pendidikan Islam yaitu
pendekatan manusia pada tingkat kesempurnaan, juga harusnya diimbangi
dengan hadits-hadits dan sunah-sunah Rasul atau penyampain materi yang
lebih luas, menyesuaikan kondisi madunya dan menyesuaikan teknologi
yang sekarang berkembang secara cepat.
Dalam menghadapi perkembangan sosiokultural masyarakat
modern munculah gerakan-gerakan dakwah gaya baru dalam kegiatan
dakwah Islam. Di antaranya yaitu dakwah bil hal, yakni dakwah yang
tidak hanya menyapaikan melalui lisan saja, tetapi juga dengan
keteladanan perbuatan nyata.
Dalam dakwah bil hal problematika yang terjadi di antara orang
kaya dan miskin di masyarakat adanya sekatan-sekatan dalam hal klas
sosial, yang kaya memandang rendah yang miskin,

Oleh karena itu

apabila dalam era pembangunan dewasa ini ditetapkan dalam dakwah bil

78

hal sebagai prioritas utama untuk menghadapi sosiokultural pada


masyarakat desa Jatimulya.
e. Problematika Media Pengajian Tafsir Al-Quran
Media pengajian adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan
sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media
dakwah atau sebagai perantara yang digunakan untuk menyampaikan
materi dakwah kepada obyek dakwah atau sasaran dakwahnya dalam
Pengajian Tafsir Al-Quran.
Dalam Pengajian Tafsir Al-Quran. atau Tafsir Al-Ibriz, media
yang dipakai adalah perkumpulan para anggota pengajian tersebut, artinya
perkumpulan para anggota pengajian itu dijadikan sebagai perantara untuk
menyampaikan materi pengajian kepada jamaah Pengajian Tafsir AlQuran.
Problem dakwah yang muncul atau sering terjadi karena organisasi
perkumpulan pengajian belum dikelola dengan baik dan sistematis. Belum
adanya fasilitas yang lengkap misalnya papan tulis yang memadai, alat
pengeras sehingga dalam pengajian mengalami pemahaman yang berdedabeda dengan orang yang mendengarkan lebih dekat antara yang duduknya
berjauhan, yang lebih dekat duduknya dengan pencerahan tentu lebih
faham dengan yang berjauhan duduknya. Dengan proses semacam itulah
yang menjadikan problem dalam pengajian tersebut karena kurang jelas
dalam penyampaiannya akhirnya timbul pemahaman yang berbeda-beda.
(Ibu Taruni, 18 Mei 2012).

79

3.4. Upaya Pemecahan Problematika Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa


Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal.
a. Upaya Pemecahan Problematika Subyek Pengajian Tafsir Al-Quran
Subyek dakwah atau para dai adalah yang mengisi dalam kegiatan
Pengajian Tafsir Al-Quran.di Desa Jatimulya. Dalam ajaran Islam,
mengarahkan manusia kepada amar makruf dan nahi mungkar itu adalah
kewajiban setiap umat muslim, maka setiap muslim mempunyai
kewajiban. Dari sini lah seorang dai harus bisa menularkan pada
masyarakat dengan sikap dan pandangan bijak, nasehat yang baik dan
argument yang kuat.
Untuk menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat maka
seorang juru dakwah harus mempunyai bekal misalnya suri tauladan yang
baik, berwawasan luas, menyesuaikan apa yang sesuai dengan kondisi
madunya.
Apabila seorang dai berjalan dengan cara-cara yang bijaksana
dalam menjalankan dakwahnya, maka atas izin Allah, hal tersebut sangat
berpengaruh bagi kesuksesan dakwahnya, pencapaian hikmahnya dan akan
menyampaikannya pada tujuan yang dikehendaki.
Dengan demikian bahwa seorang dai harus memiliki sikap seperti
yang dijelaskan di atas seperti memiliki sifat bijak, amar makruf nahi
munkar dan suri taudan yang baik, menyesuaikan dengan madunya.

80

Untuk mencapai tujuan dakwah secara maksimal, maka perlu


dukungan oleh para juru dakwah yang handal, meliputi kualitas, keahlian
yang seharusnya dimiliki oleh seorang juru dakwah yang sesuai dengan
tujuan pengajian trsebut.
b. Upaya Pemecahan Problematika Obyek Pengajian Tafsir Al-Quran
Madu yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah yang
menerima dakwah.

Dalam upaya pemecahan obyek pengajian yaitu

memberi motivasi yang mengandung kekuatan untuk melawan rasa


kantuk, malas dan lelah karena seharian mereka bekerja yang rata-rata
sebagai petani. Menumbuhkan semangat dan kesungguhan jamaah harus
menyesuaikan dengan kondisi jamaahnya.
Dengan mengenal madu menyesuaikan dan mengenal kondisinya,
maka dakwah akan berjalan efektif. Ibarat seorang dokter yang akan
mengobati

pasiennya

yang

sedang

sakit

maka

dokter

sebelum

mengobatinya harus tahu dulu sebelum mengobatinya. Seperti apa yang


pas

model

penyampaian

mempertimbangkan

siapa

maupun
madunya,

perilaku

dakwahnya.

apa

kecenderungan

Harus
dan

permasalahan yang dialami atau mensurve kondisi lingkungan dan


masyarakatnya.
c. Upaya Pemecahan Problematika Materi Pengajian Tafsir Al-Quran
Maddah atau materi dakwah adalah isi pesan atau materi atau
ajaran Islam itu sendiri, sebab ajaran Islam yang sangat luas itu bisa
dijadikan maddah dakwah Islam.

81

Materi demikian luas maka dengan memperhatikan situasi dan


kondisi kemasyarakatan yang ada serta menempuh bermacam-macam
metode pendekatan, misalnya pendekatan substansial, situasional dan
kondisional, kontekstual, disamping itu karena pesan-pesan dakwah ini
haruslah manusiawi yang diharapkan dapat membentuk pengalaman
sehari-harinya menurut tatanan agama, maka materi dakwah pun harus
meningkatkan kemampuan dan akomodasi manusia dalam kehidupannya.
Aktivitas dakwah harus terlebih dahulu mengetahui problematika
yang dihadapi penerima dakwah:
- Aktivitas dakwah harus mengetahui adat dan tradisi penerima dakwah.
- Aktivitas dakwah harus mampu menyesuaikan materi dakwah dengan
masalah kontemporer yang dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat.
- Aktivitas dakwah harus meninggalkan materi yang bersifat emosional
dan penamaan fanatisme golongan.
- Aktivitas dakwah harus mengabaikan budaya golongan.
- Aktivitas dakwah harus mampu menghayati ajaran Islam dengan seluruh
pesannya dengan cara yang amat dalam dan cerdas serta menguasai
masalah-masalah yang berkembang dalam masyarakat agar antara ajaran
agama normative dan ideal dan masalah-masalah empiris yang aktual
dapat dikaitkan.
- Aktivitas dakwah harus menyesuaikan tingkah lakunya dengan materi
dakwah yang disampaikannya, karena ia merupakan penentuan bagi
penerima dakwah.

82

- Dengan demikian materi secara global dapat disimpulkan itu dibagi


menjadi tiga kelompok yang pertama masalah keimanan (aqidah) yaitu
mencakup masalah-masalah yang erat hubungannya dengan rukun iman.
Kedua masalah keIslaman (syariah) yaitu yang berhubungan erat dengan
mentaati semua peraturan hukum Allah guna mengatur hubungannya
dengan Tuhannya dan antar sesama manusia. Ketiga masalah budi
pekerti (akhlakul karimah) yaitu membicarakan tentang akhlak keImanan
dan keIslaman seseorang.
d. Upaya Pemecahan Problematika Metode Pengajian Tafsir Al-Quran
Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir dengan baikbaik untuk mencapai suatu maksud. Dakwah dinilai sukses tidaknya sering
kali dinilai dari segi metode yang digunakan. Sebab metodelah yang
menentukan berhasil tidaknya dakwah dan cara menyajikan dakwah.
Metode adalah cara untuk penyampaian dalam kegiatan pengajian
yang menentukan berhasil dan tidaknya suatu dakwah, maka jangan
sampai menggunakan metode manapun yang bertentangan dengan perintah
Allah dan Rasul-Nya atau merusak kepentingan dakwah tersebut.
Untuk

menjawab

tantangan

dunia

global,

maka

perlu

dikembangkan metode yaitu menjadikan pribadi dan keluarga sebagai


sendi utama dalam aktivitas dakwah. Usaha membentuk masyarakat yang
dicirikan oleh Islam harus berawal dari pembinaan pribadi dan keluarga
yang Islami, sebab lingkungan keluarga merupakan elemen sosial yang

83

amat strategis dan member corak paling dominan bagi pengembangan


masyarakat secara luas.
Agar metode Pengajian Tafsir Al-Quran. terutama dalam
penyampaiannya harus memiliki seni ceramah atau penyampaian yang
sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang. Dalam pengajian tersebut
harus memiliki seni penyampaian yang efektif dan efisien.
e. Upaya Pemecahan Problematika Media Pengajian Tafsir Al-Quran
Media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan
sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan.
Dalam upaya memecahkan problematika pengajian atau dakwah
dalam segi medianya, karena media adalah alat obyektif yang menjadi
penyalur penghubung ide dengan umat, suatu elemen yang vital dan
merupakan alat dakwah.
Upaya pemecahan dakwah yang sesuai dengan masyarakat Islam di
desa Jatimulya seperti :
Adapun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam dakwah
pada media lingkungan keluarga agar bisa berjalan dengan baik adalah :
1. Prinsip keterbukaan
Saling keterbuakaan baik orang tua maupun anak dalam suatu
masalah untuk dicari jalan keluarnya, dalam suatu permasalahan pasti
ada jalan keluarnya. Karena dengan keterbuakaan bisa tau apa yang
harus dipecahkan dalam suatu permasalahan.

84

2. Prinsip saling melengkapi


Dalam suatu adaptasi atau aktivitas dalam pengajian, lingkungan
masyarakat, maupun keluarga untuk saling melengkapi untuk perbuatan
menuju kebaikan dalam suatu perilaku maupun perbuatan.
3. Prinsip pendidikan seumur hidup
Belajar itu sangat penting karena dengan belajar kita bisa buka
jendela dunia, apa lagi sekarang zaman yang serba kilat terutama
dengan kemajuan teknologi misalnya telpon, internet, tivi, radio, koran,
surat kabar dan lain sebagainya. Kejadian di luar negeri bisa tahu dalam
hitungan detik, maka dari itu belajar kebaikan bisa lewat apa saja untuk
kebaikan, misalkan mencari web tentang dakwah di internet maupun
media yang lain. Dan dalam belajar tidak pandang umur mulai dari
orang tua sampai anak-anak karena orang yang berilmu itu lebih mulia
kalau diamalkan dengan baik.
Dengan demikian maka tepatlah jika organisasi Islam dijadikan
sebagai media dalam aktivitas dakwah. Ada beberapa kelebihan
organisasi Islam sebagai media dakwah yaitu :
1. Dakwah adalah tujuan organisasi Islam.
2. Organisasi dapat bergerak ke dalam maupun ke luar.
3. Anggota yang berpengalaman dapat mempengaruhi anggota yang
lain dalam pengalaman.

85

4. Kebesaran

organisasi

yang

menunjukan

kebesaran

Islam

berpengaruh kepada agama Islam.


Dengan demikian upaya untuk mengatasi problematika yang
ada di desa Jatimulya dalam dalam dakwah perlu dikembangkan suatu
kegiatan yang banyak manfaatnya terutama dalam acara pengajianpengajian yang berkaitan dengan Islam, alat pengeras juga sangat
diperlukan karena unntuk mengeraskan suara agar jamaahnya bisa
mendengarkan semua baik yang di dalam ruangan maupun di luar
ruangan. Menggunakan alat teknologi yang sedang berkembang sesuai
dengan perkembangan zaman.

86

BAB IV
ANALISIS PROBLEMATIKA PENGAJIAN TAFSIR AL-QURAN DAN
UPAYA PEMECAHANNYA DI DESA JATIMULYA KEC.
SURADADI KAB. TEGAL
4.1. Analisis Pelaksanaan Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya Kec.
Suradadi Kab. Tegal
Dakwah pastilah bertujuan untuk menyebarkan agama Islam secara
keseluruhan. Oleh karena itu sebagai lembaga non formal, Pengajian Tafsir
Al-Quran sebagai wadah untuk menyebarkan agama Islam mengadakan
suatu kegiatan Pengajian Tafsir Al-Quran yaitu dengan menggunakan tafsir
al-Ibriz yang dilaksanakan setiap malam selasa. Kegiatan yang diikuti oleh
masyarakat sekitar desa Jatimulya tersebut mendapatkan respon baik dari
mereka. Karena pada dasarnya pengajian ini bertujuan untuk mengarahkan
mereka ke arah yang lebih baik. Dengan diadakannya pengajian ini
diharapkan agar nantinya mereka aktif dalam Pengajian Tafsir Al-Quran
tersebut berjalan dengan baik.
Pengajian setiap malam selasa ini merupakan salah satu program
kegiatan yang ditujukan kepada masyarakat desa Jatimulya. Pengajian ini
dulunya hanya pengajian biasa saja yang diikuti oleh masyarakat di sekitar
tempat pengajian saja. Lama kelamaan pengajian ini menyebar ke seluruh
masyarakat desa Jatimulya, dan akhirnya jamaah pengajian ini semakin
banyak dan diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat desa Jatimulya.

87

Pelaksanaan Pengajian Tafsir Al-Quran yang diselenggarakan di


rumah Kyai Syaripin yang diikuti dari berbagai kalangan ini membawa
pengaruh baik bagi masyarakat luas maupun masyarakat sekitar serta
masyarakat desa Jatimulya. Masyarakat sekitar desa Jatimulya sangat
merasakan pengaruh dengan diadakannya Pengajian Tafsir Al-Quran,
terutama dalam hal perekonomian dan hubungan masyarakat, mereka
merasa terbantu sekali dengan pelaksanaan pengajian tersebut, karena di
samping mendapatkan banyak teman juga mendapatkan ilmu yang
bermanfaat untuk bekal di akhirat nanti.
Pengajian yang dihadiri dari berbagai kalangan seperti petani,
pejabat, orang tua, muda, kaya dan miskin ini berbaur menjadi satu. Para
jamaah yang hadir tidak dibeda-bedakan antara jamaah satu dengan
lainnya, baik dari fasilitas tempat duduk mereka pun sama, karena
menggunakan tikar atau lesehan.
4.2. Analisis Problematika Pengajian Tafsir Al-Quran Di Desa Jatimulya
Kec. Suradadi Kab. Tegal
Aktivitas dakwah atau pengajian dapat dilakukan dengan berbagai
cara atau metode dan direncanakan dengan tujuan mencari kebahagiaan hidup
dengan dasar keridhaan Allah S.W.T. Pengajian adalah usaha peningkatan
pemahaman keagamaan untuk mengubah pandangan hidup, sikap bathin dan
perilaku umat yang tidak sesuai menjadi sesuai dengan tuntunan
syariat untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dai harus mempunyai pemahaman yang mendalam bukan saja menganggap

88

bahwa pengajian dalam frame amar maruf nahi mungkar, sekedar


menyampaikan saja melainkan harus memenuhi beberapa syarat, yakni
mencari materi yang cocok, mengetahui psikologis objek dakwah, memilih
metode yang representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan
sebagainya.
Adapun macam-macam problematika dalam Pengajian Tafsir AlQuran di Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal yaitu :
a) Problematika Subyek Pengajian Tafsir Al-Quran
Dalam kegiatan dakwah di sini pengajian masih bersifat lisan atau
ceramah. Para ustadz atau ustadzah dalam pengajian tafsir Al-Quran
yang dilakukan setiap malam selasa adalah berasal dari para alim ulama
atau tokoh ulama dari desa setempat dan ada juga yang dari luar kota yang
memiliki perbedaan bahasa yaitu bahasa Rembang, ini yang merupakan
kendala dalam proses pengajian tafsir Al-Quran. Ada seorang ustadz
yang mengisi dalam pengajian belum bisa menyesuaikan bahasa setempat.
Faktor usia dan pendidikan pun menjadi kendala karena mereka rata-rata
lulusan Sekolah Dasar bahkan ada yang tidak lulus sekolah. Jadi, dai atau
subyek yang menjadikan problem dalam kegiatan pengajian tersebut
adalah karena adanya salah seorang ustadz yang berbeda bahasanya dan
belum bisa menyesuaikan dengan bahasa setempat, faktor usia dan
pendidikan dari madunya. Sehingga menjadi penghambat dalam proses
pengajian tafsir Al-Quran tersebut.

89

b) Problematika Obyek Pengajian Tafsir Al-Quran


Kegiatan pengajian tafsir Al-Quran yang dilaksanakan setiap
malam selasa, para madu dalam menghadiri pengajian sangat antusias
tapi karena faktor ekonomi yang membuat kendala, misalkan kalau lagi
musim panen jamaahnya akan berkurang karena banyak yang bekerja
baik mereka sebagai buruh tani maupun yang punya persawahan. Faktor
pulang malam pun menjadi kendala karena seharian bekerja untuk
mencari nafkah, biasanya pulang bekerja sampai magrib dan rata-rata
banyak yang tidak hadir karena kecapaian. Mengenai problematika
dakwah Islam yang terjadi dalam kehidupan masyarakat desa Jatimulya
yaitu meliputi berbagai faktor dari kehidupan manusia, baik dalam
pendidikan, keagamaan, sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan.
Mereka dalam mengikuti tafsir al-Ibriz kurang memahami dalam
mempersepsi apa yang telah diterima dalam pengajian tersebut, sehingga
apa yang telah diterima belum dapat diamalkan dengan baik, masih pada
dataran pengetahuan semata dan belum termanifestasi dalam kehidupan
sehari-hari.
c) Problematika Materi Pengajian Tafsir Al-Quran
Materi yang diberikan dalam pengajian tafsir Al-Quan adalah dari
kitab tafsir al-Ibriz. Tafsir al-Ibriz adalah sebuah kitab Al-Quran yang
memakai bahasa Jawa. Dalam pengajian ini materi dakwah sudah cukup
bagus untuk kalangan mereka. Sedangkan materi pengajian tafsir AlQuran adalah meliputi semua aspek-aspek ajaran Islam yang terdiri dari

90

masalah aqidah, ibadah dan akhlak. Dalam kitabnya menggunakan bahasa


Jawa, belum ada harakatnya ini adalah sebuah kendala pada jamaah
karena mereka jarang yang berpengalaman dalam pendidikan model
pondok pesantren.
d) Problematika Metode Pengajian Tafsir Al-Quran
Metode yang digunakan dalam pengajian tafsir al-Ibriz ialah
menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Metode ceramah yang
digunakan dalam pengajian tafsir al-Ibriz tersebut belum efektif karena
sekedar ceramah dan cerita yang diambil dari kitab tersebut. Meskipun
tidak dapat dipungkiri bahwa metode lisan merupakan salah satu metode
dakwah namun hendaknya para dai tidak menjadikan dakwah dengan
metode ceramah sebagai hal yang efektif dalam dakwah.
e) Problematika Media Pengajian Tafsir Al-Quran
Media pengajian adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan
sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media
dakwah atau sebagai perantara yang digunakan untuk menyampaikan
materi dakwah kepada obyek dakwah atau sasaran dakwahnya dalam
pengajian tafsir Al-Quran. Dalam pengajian tafsir Al-Quran atau tafsir
al-Ibriz, media yang dipakai adalah perkumpulan para anggota pengajian
tersebut, artinya perkumpulan para anggota pengajian itu dijadikan
sebagai perantara untuk menyampaikan materi pengajian kepada jamaah
pengajian tafsir Al-Quran. Problem dakwah yang muncul atau sering

91

terjadi karena organisasi perkumpulan pengajian belum dikelola dengan


baik dan sistematis.
Faktor penghambat dalam pelaksanaan pengajian Pengajian Tafsir AlQuran di Desa Jatimulya, diantaranya yaitu:
1. Kurangnya fasilitas yang memadai, seperti tempat untuk para jamaah
dalam mengikuti pengajian.
2. Kurangnya kedisiplinan dari para jamaah dalam mengikuti pengajian,
seperti kedatangan sebagian para jamaah kurang tepat waktu.
3. Keterbatasan dana, sehingga dalam hal peralatan yang dibutuhkan saat
pengajian berlangsung kurang memadai.
4. Tingkat kecerdasan dan pengetahuan diantara jamaah tidak sama, maka
tingkat pengertian dan penghayatan juga tidak sama.
Demikian pembahasan mengenai analisis pelaksanaan Pengajian
Tafsir Al-Quran dan problematika dakwah dalam Pengajian Tafsir AlQuran di Desa Jatimulya Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal,

4.3. Analisis Upaya Pemecahan Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa


Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal
Suatu aktivitas dakwah dalam mencapai hasil yang memuaskan maka
diperlukan suatu kerjasama yang sungguh-sungguh. Apabila aktivitas
dakwah tersebut mempunyai tujuan dalam menyiarkan agama Islam, yang
berlandaskan pada Al-Quran dan Hadits untuk meningkatkan sumber daya
manusia dalam beragama, maka dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan
aturan dan pelaksanaan yang baik, di mana aktivitas dakwah tersebut harus

92

berjalan secara teratur dan terarah. Oleh karena itu penerapan cara dan
pelaksanaan yang baik sangat diperlukan dalam suatu kegiatan.
Pengajian Tafsir Al-Quran di rumah Bpk. Kyai Syaripin sebagai
suatu aktivitas dakwah yang mempunyai tujuan dalam menyiarkan agama
Islam berlandaskan Al-Quran dan Hadits ini tentu tidak bisa lepas dari
keberadaan strategi penyampaian seorang daI supaya berhasil dakwahnya.
Penerapan strtegi dakwah dalam Pengajian Tafsir Al-Quran mempunyai
ciri khusus pada sistem program acaranya, yaitu dengan membaca asmaul
husna secara bersama-sama yang di pimpin oleh Kyai Samsul Maarif,
dilanjutkan pengkajian kitab tafsir Al-Ibriz sebagai bahan yang dikaji dalam
Pengajian Tafsir Al-Quran, dan kegiatan tersebut diakhiri dengan doa
penutup. Sehingga pengajian tersebut mempunyai keistimewaan tersendiri
serta banyak masyarakat yang tertarik terhadap Pengajian Tafsir Al-Quran
itu.
Untuk mengatasi permasalahan yang di atas maka penulis coba untuk
memecahkan permasalahan dalam Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa
Jatimulya Kec. Suradadi kab. Tegal, yaitu:
a) Upaya Pemecahan Problematika Subyek Pengajian Tafsir Al-Quran
Subyek dakwah atau para dai adalah yang mengisi dalam
kegiatan pengajian tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya. Dalam ajaran
Islam, mengarahkan manusia kepada amar makruf dan nahi mungkar itu
adalah kewajiban setiap umat muslim, maka setiap muslim mempunyai
kewajiban. Dari sini lah seorang dai harus bisa menularkan pada

93

masyarakat dengan sikap dan pandangan bijak, nasehat yang baik dan
argument yang kuat.
Untuk menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat maka
seorang juru dakwah harus mempunyai bekal misalnya suri tauladan
yang baik, berwawasan luas, menyesuaikan apa yang sesuai dengan
kondisi madunya, memanfaatkan teknologi yang sekarang sedang
berkembang.
Apabila seorang dai berjalan dengan cara-cara yang bijaksana
dalam menjalankan dakwahnya, maka atas izin Allah, hal tersebut sangat
berpengaruh bagi kesuksesan dakwahnya, pencapaian hikmahnya dan
akan menyampaikannya pada tujuan yang dikehendaki.
Dengan demikian bahwa seorang dai harus memiliki sikap
seperti yang dijelaskan di atas seperti memiliki sifat bijak, amar makruf
nahi munkar dan suri taudan yang baik, menyesuaikan dengan madunya
dan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang pada zaman
sekarang.
Untuk mencapai tujuan dakwah secara maksimal, maka perlu
dukungan oleh para juru dakwah yang handal, meliputi kualitas, keahlian
yang seharusnya dimiliki oleh seorang juru dakwah yang sesuai dengan
tujuan pengajian tersebut.
b) Upaya Pemecahan Problematika Obyek Pengajian Tafsir Al-Quran
Madu yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah yang
menerima dakwah.

Dalam upaya pemechan obyek pengajian yaitu

94

memberi motivasi yang mengandung kekuatan untuk melawan rasa


kantuk, malas dan lelah karena seharian mereka bekerja yang rata-rata
sebagai petani. Menumbuhkan semangat dan kesungguhan jamaah
harus menyesuaikan dengan kondisi jamaahnya.
Dengan

mengenal

madu

menyesuaikan

dan

mengenal

kondisinya, maka dakwah akan berjalan efektif. Ibarat seorang dokter


yang akan mengobati pasiennya yang sedang sakit maka dokter sebelum
mengobatinya harus tahu dulu sebelum mengobatinya. Seperti apa yang
pas

model

penyampaian

mempertimbangkan

siapa

maupun

perilaku

madunya,

apa

dakwahnya.

Harus

kecenderungan

dan

permasalahan yang dialami atau mensurve kondisi lingkungan dan


masyarakatnya.
c) Upaya Pemecahan Problematika Materi Pengajian Tafsir Al-Quran
Maddah atau materi dakwah adalah isi pesan atau materi atau
ajaran Islam itu sendiri, sebab ajaran Islam yang sangat luas itu bisa
dijadikan maddah dakwah Islam.
Materi demikian luas maka dengan memperhatikan situasi dan
kondisi kemasyarakatan yang ada serta menempuh bermacam-macam
metode pendekatan, misalnya pendekatan substansial, situasional dan
kondisional, kontekstual, disamping itu karena pesan-pesan dakwah ini
haruslah manusiawi yang diharapkan dapat membentuk pengalaman
sehari-harinya menurut tatanan agama, maka materi dakwah pun harus

95

meningkatkan

kemampuan

dan

akomodasi

manusia

dalam

kehidupannya.
Aktivitas dakwah harus terlebih dahulu mengetahui problematika
yang dihadapi penerima dakwah.
- Aktivitas dakwah harus mengetahui adat dan tradisi penerima dakwah.
- Aktivitas dakwah harus mampu menyesuaikan materi dakwah dengan
masalah

kontemporer

yang

dapat

mempengaruhi

pola

hidup

masyarakat.
- Aktivitas dakwah harus meninggalkan materi yang bersifat emosional
dan penamaan fanatisme golongan.
- Aktivitas dakwah harus mengabaikan budaya golongan.
- Aktivitas dakwah harus mampu menghayati ajaran Islam dengan
seluruh pesannya dengan cara yang amat dalam dan cerdas serta
menguasai masalah-masalah yang berkembang dalam masyarakat agar
antara ajaran agama normative dan ideal dan masalah-masalah empiris
yang aktual dapat dikaitkan.
- Aktivitas dakwah harus menyesuaikan tingkah lakunya dengan materi
dakwah yang disampaikannya, karena ia merupakan penentuan bagi
penerima dakwah.
Dengan demikian materi secara global dapat disimpulkan itu
dibagi menjadi tiga kelompok yang pertama masalah keimanan (aqidah)
yaitu mencakup masalah-masalah yang erat hubungannya dengan rukun
iman. Kedua masalah keIslaman (syariah) yaitu yang berhubungan erat

96

dengan mentaati semua peraturan hukum Allah guna mengatur


hubungannya dengan Tuhannya dan antar sesama manusia. Ketiga
masalah budi pekerti (akhlakul karimah) yaitu membicarakan tentang
akhlak keImanan dan keIslaman seseorang.
d) Upaya Pemecahan Problematika Metode Pengajian Tafsir Al-Quran
Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir dengan baikbaik untuk mencapai suatu maksud. Dakwah dinilai sukses tidaknya
sering kali dinilai dari segi metode yang digunakan. Sebab metodelah
yang menentukan berhasil tidaknya dakwah dan cara menyajikan
dakwah.
Metode adalah cara untuk penyampaian dalam kegiatan
pengajian yang menentukan berhasil dan tidaknya suatu dakwah, maka
jangan sampai menggunakan metode manapun yang bertentangan
dengan perintah Allah dan Rasul-Nya atau merusak kepentingan dakwah
tersebut.
Untuk

menjawab

tantangan

dunia

global,

maka

perlu

dikembangkan metode yaitu menjadikan pribadi dan keluarga sebagai


sendi utama dalam aktivitas dakwah. Usaha membentuk masyarakat
yang dicirikan oleh Islam harus berawal dari pembinaan pribadi dan
keluarga yang Islami, sebab lingkungan keluarga merupakan elemen
sosial yang amat strategis dan member corak paling dominan bagi
pengembangan masyarakat secara luas.

97

Agar metode pengajian tafsir Al-Quran terutama dalam


penyampaiannya harus memiliki seni ceramah atau penyampaian yang
sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang. Dalam pengajian tersebut
harus memiliki seni penyampaian yang efektif dan efisien.
e) Upaya Pemecahan Problematika Media Pengajian Tafsir Al-Quran
Media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan
sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan.
Upaya pemecahan dakwah yang sesuai dengan masyarakat Islam
di desa Jatimulya seperti : menambah fasilitas yang memadai misalnya
pelebaran tempat Pengajian,alat pengeras, papan tulis, alat tulis dengan
cara iuran maupun dari donatur orang yang mampu.

98

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Setelah penulis mengadakan penelitian terhadap kegiatan dakwah serta
Problematika Pengajian Tafsir Al-Quran dan Upaya Pemecahannya di Desa
Jatimulya Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal. Maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengajian Tafsir Al-Quran di desa Jatimulya dilaksanakan setiap
malam Selasa, pengajian tersebut diberi nama Pengajian Tafsir AlQuran karena yang dikaji adalah isi ayat-ayat Al-Quran. Kegiatan
pengajian tafsir tersebut diikuti oleh masyarakat desa Jatimulya kurang
lebih 100 orang.
2. Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya Kec. Suradadi Kab. Tegal
terdapat beberapa problematika di antaranya yaitu :
pertama, Subyek dakwah atau dai dalam menyampaikan materi
pengajian tersebut adalah karena adanya salah seorang ustadz yang
berbeda bahasanya dan belum bisa menyesuaikan dengan bahasa
setempat sehingga menjadi penghambat dalam proses pengajian tersebut.
Untuk menyelesaikan permasalahan ini hendaknya dai tersebut bisa
menyesuaikan dengan bahasa setempat.
Kedua, Obyek dakwah atau orang yang menerima pesan adalah
bapak-bapak dan ibu-ibu atau remaja Islam yang rata-rata pendidikannya
masih rendah, sehingga dalam mengikuti Tafsir Al- Ibriz kurang

99

memahami apa yang telah diterima dalam pengajian tersebut, sehingga


apa yang telah diterima belum dapat diamalkan dengan baik. Dan
kurangnya kedisiplinan dari para jamaah dalam mengikuti pengajian.
Untuk menyadarkan jamaahnya bahwa kehadiran dalam pengajian
merupakan salah satu keberhasilan dalam menerima materi Pengajia
Tafsir Al- Quran.
Ketiga, materi dakwah yang disampaikan sangat jelas tetapi
terlalu singkat dan padat serta tidak dijabarkan secara detail sehingga
kurang sesuai dengan pemahaman madu yang rata-rata sebagai petani.
Di sini materi dibagi menjadi tiga kelompok yang pertama masalah
keimanan (aqidah) yaitu mencakup masalah-masalah yang erat
hubungannya dengan rukun iman. Kedua masalah keIslaman (syariah)
yaitu yang berhubungan erat dengan mentaati semua peraturan hukum
Allah guna mengatur hubungannya dengan Tuhannya dan antar sesama
manusia. Ketiga masalah budi pekerti (akhlakul karimah) yaitu
membicarakan tentang akhlak keImanan dan keIslaman seseorang.
Upaya pemecahannya agar materi tersebut diuraikan secara lebih
mendetail.
Keempat, metode dakwah yang digunakan dalam kegiatan
pengajian tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya pada umumnya
menggunakan metode ceramah dan tanya jawab serta menggunakan
percakapan antar pribadi. Metode tersebut belum memenuhi syarat untuk
mencapai tujuan dakwah, dan perlu metode lain agar dakwah tersebut

100

dapat tercapai dengan baik. Untuk mengetahui problem ini penulis


mengusulkan agar diberi praktek misalnya praktek sholat, wudlu dan
lain sebagainya.
Kelima, media dakwah yang dipergunakan dalam kegiatan
pengajian tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya seperti: organisasiorganisasi Islam, lembaga pendidikan, lingkungan keluarga, hari-hari
besar Islam. Kurangnya fasilitas yang memadai, seperti tempat untuk
para jamaah dalam mengikuti pengajian. Keterbatasan dana, sehingga
dalam hal peralatan yang dibutuhkan saat pengajian berlangsung kurang
memadai. Upaya pemecahannya menambah fasilitas seperti alat
pengeras, papan tulis, perluasan tempat pengajian, dengan iuran
bersama, kas pengajian maupun donatur dari masyarakat yang mampu.

5.2. Saran-saran
Sehubungan dengan telah selesainya penulisan skripsi ini, ada
beberapa

hal

yang

hendak

penulis

sarankan

dalam

pelaksanaan

penyelenggaraan pengajian tafsir al- Quran di desa Jatimulya. Secara umum


pengajian tafsir al- Quran sudah berjalan dengan baik dan lancar, namun
masih ada yang perlu diperhatikan, diantaranya;
1. Untuk panitia pengajian
- Dalam proses pelaksanaan pengajian tafsir al- Quran hendaknya lebih
ditingkatkan dalam pengelolaan dan penyampaiannya.
- Kaitannya dengan fasilitas, hendaknya pengurus memberikan fasilitas
tempat yang lebih layak serta audio yang lebih baik.

101

2. Untuk jamaah pengajian hendaknya lebih disiplin dan teratur dalam


mengikuti pengajian tafsir al- Quran, serta lebih fokus lagi dalam
mengikuti pengajian supaya apa yang telah disampaikan dapat lebih
dihayati dan dipahami.
3. Materi yang disampaikan harus disesuaikan dengan kemampuan dan
keadaan para jamaah. Sehingga para jamaah mampu menerima,
memahami dan menghayati apa yang telah disampaikan.

5.3. Penutup
Dengan rasa syukur yang tak terhingga saya ucapkan alhamdulillah
penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala
rahmat, taufiq, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas, yaitu penulisan skripsi walaupun dalam penulisan
skripsi ini belum mencapai hasil yang sempurna.
Akhirnya kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangsih
baik berupa pikiran, tenaga maupun doa, penulis mengucapkan terima kasih
dan penulis berharap semoga skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat
bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir, 2009, Ilmu Dakwah, Jakarta, Amzah.
Ali Aziz, Moh, 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Rosda Karya.
Al-Qhatani. Said, 2005, Menjadi Dai Yang Sukses, Jakarta: Qisthi Press.
Amin, M. Mansyhur, 1980, Metoda Dakwah Islam, Yogyakarta: Penerbit
Sumbangsih.
Arikunto, Suharmisi, 2002, Prosedur Penelitian ; Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, MA. Syaefuddin, 2007, Metodologi Penelitian, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Bahreisy H Salim dan H Said Bahreisy, 1988, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu
Katsir Jilid IV, Surabaya, PT. Bina Ilmu.
Bakri, H. Oemar, 1966, Tafsir Rahmat, Bandung: Mutiara Angkasa.
Cholil Mansyur, Muhammad, Stock 2010, Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa,
Surabaya, Penerbit: USAHA NASIONAL.
Depag, RI, 1994, Al-Quran Dan Terjemahnya, Semarang: PT. Kumudasmoro
Grafindo.
Depag, RI. 2005, Ilmu dan Teknologi dalam Islam, Jakarta: Departemen Agama
RI..
Depdikbud, RI.,1990, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Endarmoko, Eko. 2007. Tesaurus Bahasa Indonesia, PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Hafidhuddin, Didin, 2003, Islam Aplikatif, Jakarta: Gema Insane Press.
Kafie, Jamaluddin, 1993, Psikologi Dakwah, Surabaya: Offset INDAH.
Moleong, J. Lexy, M.A., 1995, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Rosda Karya.
Munir dan Ilaihi Wahyu, 2006, Manajemen Dakwah, Jakarta : Kencana.

Purwodarminto, W.J.S. 1985, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai


Pustaka.
Salim, Syaikh Bin Ied Al- Hilali, 2005 Syarah Riyadush Shalihin, Jakarta: Rosda
Karya.
Shaleh, Rosyad, 1977, Manajemen Dakwah Islam, Jakarta : Bulan Bintang.
Subagyo, Joko, 1991, Metodologi Penelitian dalam Teori dan Praktek, Jakarta:
Rineka Cipta.
Sukamto, Soerdjono, Prof. Dr. SH, MA., 1985 Kamus Sosiologi, Jakarta:
Rajawali.
Tasmara, Toto, 1997, Komunikasi Dakwah, Jakarta: Media Pratama.
Yaqub, Hamzah, 1992, Publistik Islam, Bandung : CV. Diponegoro.
Syukir Asmuni, 1983, Dasar-Dasar Dakwah Strategi Islam, Surabaya : Al Ikhlas.
Abdul, Rosad Shaleh, 1977, Manajemen Dakwah Islam, Bulan Bintang, Jakarta.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/12/tugas-ilmu-sosial-masyarakatperkotaan-masyarakat-pedesaan/ (09-Juli-2012).
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/karakteristik-masyarakat-desa/. (07
April 2012).
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/12/tugas-ilmu-sosial-masyarakatperkotaan-masyarakat-pedesaan/ (09-Juli-2012).
http://eprints.umm.ac.id/972/ (12 Juli 2012).

DRAF WAWANCARA

PENGAJIAN TAFSIR AL-QURAN DI DESA JATIMULYA SURADADI


TEGAL
1. Bagaimana sejarah berdirinya Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa
Jatimulya?
2. Apakah visi, misi dan tujuan didirikannya Pengajian Tafsir Al-Quran di
Desa Jatimulya?
3. Bagaimana proses pelaksanaan kegiatan Pengajian Tafsir Al-Quran di
Desa Jatimulya?
4. Bagaimana problematika Pengajian Tafsir Al-Quran di Desa Jatimulya?
-

Bagaimana dan apa saja problematika subyek pengajian?

Bagaimana dan apa saja problematika obyek pengajian?

Bagaimana dan apa saja problematika materi pengajian?

Bagaimana dan apa saja problematika metode pengajian?

Bagaimana dan apa saja problematika media pengajian?

5. Bagaimana upaya pemecahan problematika Pengajian Tafsir Al-Quran


di Desa Jatimulya?
-

Bagaimana upaya pemecahan problematika subyek pengajian?

Bagaimana upaya pemecahan problematika obyek pengajian?

Bagaimana upaya pemecahan problematika materi pengajian?

Bagaimana upaya pemecahan problematika metode pengajian?

Bagaimana upaya pemecahan problematika media pengajian?

KEGIATAN PENGAJIAN TAFSIR AL-QURAN DI DESA JATIMULYA


KEC. SURADADI KAB. TEGAL

Kyai Syamsul Maarif


muqodimah sebelum kegiatan mengajar

Jamaah sedang mendengarkan Pengajian Tafsir al-Quran

Jamaah sedang menyimak dalam Pengajian Tafsir al-Quran

Jamaah sedang mendengarkan penjelasan pengajian Tafsir al-Ibriz

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama

: Parukhi

NIM

: 061211017

Tempat / Tgl. Lahir : Tegal, 27 Juli 1984


Alamat Asal

: Ds. Jatimulya RT 03 RW 04 Kec. Suradadi, Kab. Tegal

Jenjang Pendidikan:
1. SDN 1 Jatmulya, Kec. Suradadi, Kab. Tegal, Lulus Tahun 1998
2. MTs Al-Anwar Blendung Kec. Suradadi, Kab. Tegal, Lulus Tahun 2001
3. SMA At- Thohiriyyah, Pedurungan Lor, Semarang, Lulus Tahun 2004
4. Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN
Walisongo Semarang Angkatan 2006
Pengalaman Organisasi:
1. Anggota UKMF KSK WADAS Tahun 2006-2012
2. Anggota UKMF Kordais Tahun 2006
3. Anggota FOTKAS (Forum Teater Kampus Semarang) Tahun 2007
Demikian daftar riwayat hidup saya buat dengan sebenar-benarnya,
mohon maklum adanya.

Semarang, Desember 2012


Penulis

Parukhi
NIM: 061211017