Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

PELVIC INFLAMMATORY DISEASE (PID)


I. Konsep Dasar Penyakit
A. Definisi

Penyakit Radang Panggul (PID: Pelvic Inflammatory Disease) adalah


infeksi pada alat genital atas. Proses penyakitnya dapat meliputi
endometrium, tubafalopii, ovarium, miometrium, parametria, dan peritonium
panggul. PID adalah infeksi yang paling peting dan merupakan komplikasi
infeksi menular seksual yang paling biasa (Sarwono,2011). Pelvic
Inflamatory Disease adalah suatu kumpulan radang pada saluran genital
bagian atas oleh berbagai organisme, yang dapat menyerang endometrium,
tuba fallopi, ovarium maupun miometrium secara perkontinuitatum maupun
secara hematogen ataupun sebagai akibat hubungan seksual. (Yani,2009)
Pelvic Inflamatory Diseases (PID) adalah infeksi alat kandungan tinggi
dari uterus, tuba, ovarium, parametrium, peritoneum, yang tidak berkaitan
dengan pembedahan dan kehamilan. PID mencakup spektrum luas kelainan
inflamasi

alat

kandungan

tinggi

termasuk

kombinasi

endometritis,

salphingitis, abses tuba ovarian dan peritonitis pelvis. Biasanya mempunyai


morbiditas yang tinggi. Batas antara infeksi rendah dan tinggi ialah ostium
uteri internum (Marmi,2013)
B. Penyebab

Kebanyakan PID merupakan sekuele dari infeksi serviks karena penyakit


menular seksual yang terutama disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae dan
Chlamidia trachomatis. Selain kedua organisme ini, mikroorganisme yang
dapat menyebabkan terjadinya PID adalah:
1. Cytomegalovirus (CMV) : CMV ditemukan di saluran genital bagian atas
pada wanita yang mengalami PID, diduga merupakan penyebab yang
2.
3.
4.
5.
6.

penting untuk terjadinya PID


Mikroflora endogenic
Gardnerella vaginalis
Haemophilus influenza
Organisme enteric gram negative (E.coli)
Spesies peptococcus

7. Streptococcus agalactia
8. Bacteroides fragilis, yang dapat menyebabkan dekstruksi tuba dan epitel
(Marmi,2013)
C. Klasifikasi

Berdasarkan rekomendasi Infectious Disease Society for Obstetrics &


Gynecology, USA, Hager membagi derajat radang panggul menjadi :
1. Derajat I : Radang panggul tanpa penyulit (terbatas pada tuba dan
ovarium ), dengan atau tanpa pelvio peritonitis.
2. Derajat II : Radang panggul dengan penyulit (didapatkan masa radang,
atau abses pada kedua tuba ovarium) dengan atau tanpa

pelvio

peritonitis.
3. Derajat III : Radang panggul dengan penyebaran diluar organ-organ
pelvik, misal adanya abses tubo ovarial.
D. Tanda dan Gejala

Gejala pelvic inflamatory desease :


1. Tegang nyeri abdomen bagian bawah
2. Tegang nyeri adneksa unilateral dan bilateral
3. Tegang nyeri pada pergerakan servik
4. Temperatur di atas 38 o C
5. Pengeluaran cairan servik atau vagina abnormal
6. Peningkatan C reaktif protein
7. Pada pemeriksaan lendir servik dijumpai clamidia trachomatis atau
neisseria gonorhoe
8. Laju endap darah meningkat
Diagnosis banding penyakit radang panggul adalah :
1.
2.
3.
4.

Kehamilan ektopik yang pecah intak


Toxis kista ovarium
Appendicitis acuta
Pervorasi dan typus abdominalis

E. Patofisiologi dan Pathway

Terjadinya radang panggul dipengaruhi beberapa factor yang memegang


peranan, yaitu :

1. Tergangunya barier fisiologik. Secara fisiologik penyebaran kuman ke atas


ke dalam genetalia interna, akan mengalami hambatan :
a. Di ostium uteri eksternum.
b. Di kornu tuba.
c. Pada waktu haid, akibat adanya deskuamasi endometrium maka
kuman-kuman pada endometrium turut terbuang. Pada ostium uteri
eksternum, penyebaran asenden kuman-kuman dihambat secara :
mekanik, biokemik dan imunologik. Pada keadaan tertentu barier
fisiologik ini dapat terganggu, misalnya pada saat persalinan,
abortus, instrumentasi pada kanalis servikalis dan insersi alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
2. Adanya organisme yang berperan sebagai vektor. Trikomonas
vaginalis dapat menembus barier fisiologik dan bergerak sampai tuba
falopii. Kuman-kuman sebagai penyebab infeksi dapat melekat pada
trikomonas vaginalis yang berfungsi sebagai vektor dan terbawa
sampai tuba Falopii dan menimbulkan peradangan ditempat tersebut.
Sepermatozoa juga terbukti berperan sebagai vector untuk kumankuman N.gonore, Ureaplasma ureoltik, C.trakomatis dan banyak
kuman-kuman aerobik dan anaerobik lainnya.
3. Aktivitas seksual. Pada waktu koitus, bila wanita orgasme, maka akan
terjadi kontraksi uterus yang dapat menarik spermatozoa dan kumankuman memasuki kanilis servikalis.
4. Peristiwa haid. Radang panggul akibat N. gonore mempunyai
hubungan dengan siklus haid. Peristiwa haid yang siklik, berperan
penting dalam terjadinya radang panggul gonore. Periode yang paling
rawan terjadinya radang panggul adalah pada minggu pertama setelah
haid. Cairan haid dan jaringan nekrotik merupakan media yang sangat
baik untuk tumbuhannya kuman-kuman N. gonore. Pada saat itu
penderita akan mengalami gejala-gejala salpingitis akut disertai panas
badan. Oleh karena itu gejala ini sering juga disebut sebagai Febrile
Menses .

F.

Penatalaksanaan
Berdasar derajat radang panggul, maka pengobatan dibagi menjadi :
1. Pengobatan rawat jalan.
Pengobatan rawat inap dilakukan kepada penderita radang panggul derajat I.
Obat yang diberikan ialah :
Antibiotik : sesuai dengan Buku Pedoman Penggunaan Antibiotik.
-

Ampisilin 3.5 g/sekali p.o/ sehari selama 1 hari dan Probenesid 1 g sekali

p.o/sehari selama 1 hari. Dilanjutkan Ampisilin 4 x 500 mg/hari selama 7-10


hari, atau
-

Amoksilin 3 g p.o sekali/hari selama 1 hari dan Probenesid 1 g p.o sekali

sehari selama 1 hari. Dilanjutkan Amoxilin 3 x 500 mg/hari p.o selama 7 hari,
atau
-

Tiamfenikol 3,5 g/sekali sehari p.o selama 1 hari. Dilanjutkan 4 x 500

mg/hari p.o selama 7-10 hari, atau


-

Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari p.o selam 7-10 hari, atau

Doksisiklin 2 x 100 mg/hari p.o selama 7-10 hari, atau

Eritromisin 4 x 500 mg/hari p.o selama 7-10 hari.

Analgesik dan antipiretik.


-

Parasetamol 3 x 500 mg/hari atau

Metampiron 3 x 500 mg/hari.

2. Pengobatan rawat inap.


Pengobatan rawat inap dilakukan kepada penderita radang panggul derajat II
dan III.
Obat yang diberikan ialah :
Antibiotik : sesuai dengan Buku Pedoman Penggunaan Antibiotik.
-

Ampisilin 1g im/iv 4 x sehari selama 5-7 hari dan Gentamisin 1,5 mg

2,5 mg/kg BB im/iv, 2 x sehari slama 5-7 hari dan Metronidazol 1 g rek. Sup,
2 x sehari selama 5-7 hari atau,
-

Sefalosporin generasi III 1 gr/iv, 2-3 x sehari selama 5-7 hari dan

Metronidazol 1 g rek. Sup 2 x sehari selama 5-7 hari.


Analgesik dan antipiretik.

G.

Komplikasi
Komplikasinya antara lain :
1. Infertilitas
2. KET
3. Nyeri Pelvis kronik
4. Pada kehamilan: kelahiran Preterm, angka penyakit penyerta
maternal dan fetal
5. Neonatus: infeksi perinatal C. trachomatis atau N. gonorrhoeae
menyebabkan ophthalmia neonatorum

II. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian Keperawatan
1. Pengumpulan Data
a. Identitas pasien dan penanggung
b. Keluhan utama
c. Riwayat penyakit

d. Penyakit yang pernah diderita : KET, Abortus Septikus, Endometriosis.


e. Riwayat penyakit sekarang : Metroragia, Menoragia.
f. Pemeriksaan fisik
1. Suhu tinggi disertai takikardia
2. Nyeri suprasimfasis terasa lebih menonjol daripada nyeri di
kuadran atas abdomen. Rasa nyeri biasanya bilateral. Bila terasa
nyeri hanya uniteral, diagnosis radang panggul akan sulit
dirtegakkan.
3. Bila sudah terjadi iritasi peritoneum, maka akan terjadi reburn
tenderness, nyeri tekan dan kekakuan otot sebelah bawah.
4. Tergantung dari berat dan lamanya peradangan, radang panggul
dapat pula disertai gejala ileus paralitik.
5. Dapat disetai Manoragia, Metroragia.
g. Pemeriksaan penunjang
1. Periksa darah lengkap : Hb, Ht, dan jenisnya, LED.
2. Urinalisis
3. Tes kehamilan
4. USG panggul
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b/d agen cidera fisik
2. Hipertermia b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada
hipotalamus, perubahan pada reagulasi temperatur.
3. Ansietas berhubungan dengan proses penyakit, kurang pengetahuan
C. Rencana Keperawatan
No.
1

Diagnosa
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Keperawatan
Hasil
Nyeri akut b/d agens NOC
NIC
Pain control
Pain management
cidera biologis
Kriteria Hasil:
- Lakukan
pengkajian
- Mampu mengontrol
nyeri
secara
nyeri
komprehensif termasuk
lokasi,
karakteristik,
- Melaporkan
bahwa
durasi,
frekuensi,

nyeri
berkurang
dengan menggunakan
manajemen nyeri

kualitas, dan
presipitasi

faktor

- Observasi
reaksi
- Mampu
mengenali
nonverbal
dari
nyeri
(skala,
ketidaknyamanan
intensitas, frekuensi
- Gunakan
teknik
dan tanda nyeri)
komunikasi terapeutik
- Menyatakan
rasa
untuk
mengetahui
nyaman setelah nyeri
pengalaman
nyeri
berkurang
pasien
- Kontrol
lingkungan
yang
dapat
mempengaruhi
nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan,
kebisingan
- Pilih
dan
lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi, dan inter
personal)
- Kaji tipe dan sumber
nyeri
untuk
menentukan intervensi
- Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
- Berikan
untuk
nyeri

analgetik
mengurangi

- Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dam tindakan nyeri

tidak berhasil
Analgesic
administration
- Tentukan
lokasi,
karakteristik, kualitas
dan
derajat
nyeri
sebelum
pemberian
obat
- Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesic yang
diperlukan
atau
kombinasi
dari
analgesic
ketika
pemberian lebih dari
satu
- Tentukan
pilihan
analgesic
tergantung
tipe dan beratnya nyeri
- Tentukan
analgesic
pilihan, rute pemberian,
dan dosis optimal
- Pilih rute pemberian
secara IV, Im untuk
pengobatan
nyeri
secara teratur
- Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian
analgesic
pertama kali
- Berikan analgesic tepat
waktu terutama saat
nyeri hebat
- Evaluasi

efektivitas

analgesic,
gejala
2

Hipertermia b/d efek NOC :


Thermoregulation
langsung
dari
sirkulasi endotoksin Kriteria Hasil :
- Suhu tubuh dalam
pada hipotalamus,
rentang normal
perubahan
pada
Nadi dan RR
reagulasi temperatur.
dalam rentang
normal
-

Fever treatment
Monitor suhu
sesering mungkin
-

Monitor IWL

Monitor warna
dan suhu kulit

Monitor tekanan
darah, nadi dan RR

kulit dan tidak ada

Monitor
penurunan tingkat

pusing, merasa
nyaman

dan

NIC :

Tidak ada
perubahan warna

tanda

kesadaran
-

Monitor WBC,
Hb, dan Hct

Monitor intake
dan output

Berikan anti
piretik

Berikan
pengobatan untuk
mengatasi penyebab
demam

Selimuti pasien

Lakukan tapid
sponge

Berikan cairan
intravena

Kompres pasien
pada lipat paha dan
aksila

Tingkatkan
sirkulasi udara

Berikan
pengobatan untuk
mencegah terjadinya
menggigil

Temperature regulation
Monitor suhu
minimal tiap 2 jam
-

Rencanakan
monitoring suhu
secara kontinyu

Monitor TD,
nadi, dan RR

Monitor warna
dan suhu kulit

Monitor tandatanda hipertermi dan


hipotermi

Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi

Selimuti pasien
untuk mencegah
hilangnya
kehangatan tubuh

Ajarkan pada
pasien cara
mencegah keletihan
akibat panas

Diskusikan
tentang pentingnya
pengaturan suhu dan

kemungkinan efek
negatif dari
kedinginan
-

Beritahukan
tentang indikasi
terjadinya keletihan
dan penanganan
emergency yang
diperlukan

Ajarkan indikasi
dari hipotermi dan
penanganan yang
diperlukan

Vital sign Monitoring


Monitor TD,
nadi, suhu, dan RR
-

Catat adanya
fluktuasi tekanan
darah

Monitor VS saat
pasien berbaring,
duduk, atau berdiri

Auskultasi TD
pada kedua lengan
dan bandingkan

Monitor TD,
nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah
aktivitas

Monitor kualitas
dari nadi

Monitor frekuensi

dan irama
pernapasan
-

Monitor suara
paru

Monitor pola
pernapasan abnormal

Monitor suhu,
warna, dan
kelembaban kulit

Monitor sianosis
perifer

Monitor adanya
cushing triad
(tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)

Identifikasi
penyebab dari

Ansietas

perubahan vital sign


NIC

NOC

berhubungan dengan - Anxiety self-control

Anxiety Reduction

proses

- Lakukan

penyakit, - Anxiety level

kurang pengetahuan

- Coping

yang menenangkan

Kriteria Hasil:
- Klien

- Nyatakan dengan jelas


mampu

mengidentifikasi dan
mengungkapkan
gejala cemas
mengungkapkan dan
menujukkan

harapan

terhadap

perilaku pasien
- Jelaskan

semua

prosedur dan apa yang

- Mengidentifikasi,

untuk

pendekatan

dirasakan
prosedur

teknik - Pahami

mengontrol

selama
perspektif

pasien terhadap situasi

cemas

stres

- Vital sign dalam batas - Temani pasien untuk


normal
- Postur tubuh, ekspresi

memberikan keamanan
dan mengurangi takut

wajah, bahasa tubuh, - Dorong keluarga untuk


dan tingkat aktivitas

menemani pasien

menunjukkan

- Lakukan back/neck rub

berkurangnya

- Dengarkan

kecemasan

dengan

penuh perhatian
- Identifikasi

tingkat

kecemasan
- Bantu pasien mengenal
situasi

yang

menimbulkan
kecemasan
- Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan,

ketakutan,

dan persepsi
- Instruksikan

pasien

melakukan

teknik

relaksasi
- Berikan

obat

untuk

mengurangi kecemasan

DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, Ida Ayu Chandranita, dkk. 2009. Memahani Kesehatan Reproduksi
Wanita. EGC: Jakarta
Marmi. 2013. Kesehatan Reproduksi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Sarwono. 2011. Ilmu Kandungan.Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: Jakarta
Widyastuti,Yani dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Fitramaya: Yogyakarta
Dewi Risqi Hajar. 2012. Askep Infeksi Pelvis. Dalam
(http://www.scribd.com/doc/30381581/Askep-Infeksi-Pelvis) di akses
pada tanggal 28 Januari 2016
Wangke Jessica. 2012. Pelviv Inflammatory Disease. Dalam
(http://www.scribd.com/doc/68490266/Pelvic-Inflammatory-Disease-e) di
akses pada tanggal 28 Januari 2016

Anda mungkin juga menyukai